Senin, 26 Desember 2016

19.58 -

Tipologi

Sudah sejak zaman para Rasul (Bdk. 1Kor 10:6,11; Ibr 10:1; 1Ptr 3:21) dan juga dalam seluruh tradisi, kesatuan rencana ilahi dalam kedua Perjanjian itu dijelaskan oleh Gereja melalui tipologi

Penafsiran macam ini menemukan dalam karya Tuhan dalam Perjanjian Lama "Prabentuk" (tipologi) dari apa yang dilaksanakan Tuhan dalam kepenuhan waktu dalam pribadi Sabda-Nya yang menjadi manusia (KGK 128).

Jadi umat Kristen membaca Perjanjian Lama dalam terang Kristus yang telah wafat dan bangkit. Pembacaan tipologis ini menyingkapkan kekayaan Perjanjian Lama yang tidak terbatas. Tetapi tidak boleh dilupakan, bahwa Perjanjian Lama memiliki nilai wahyu tersendiri yang Tuhan kita sendiri telah nyatakan tentangnya (Bdk. Mrk 12:29-31). Selain itu Perjanjian Baru juga perlu dibaca dalam cahaya Perjanjian Lama. Katekese perdana Kristen selalu menggunakan Perjanjian Lama (Bdk. 1 Kor 5:6- 8; 10:1-11). Sesuai dengan sebuah semboyan lama Perjanjian Baru terselubung dalam Perjanjian Lama, sedangkan Perjanjian Lama tersingkap dalam Perjanjian Baru: "Novum in Vetere latet et in Novo Vetus patet" (Agustinus, Hept. 2,73) Bdk. DV 16.(KGK 129). 

Tipologi berarti adanya perkembangan rencana ilahi ke arah pemenuhannya, sampai akhirnya "Allah menjadi semua di dalam semua" (1 Kor 15:28). Umpamanya panggilan para bapa bangsa dan keluaran dari Mesir tidak kehilangan nilai sendiri dalam rencana Allah, karena mereka juga merupakan tahap-tahap sementara di dalam rencana itu (KGK 130).


Tipologi adalah studi mengenai gambaran/prototipe. Cara untuk menafsirkan pristiwa, pribadi, dan barang sebagai "tipe", yang menandakan "antitipe" PB yang memuat kepenuhan wahyu dan keselamatan.

Dalam pemikiran ini Adam dan Meklisedek adalah tipe-tipe bagi Kristus (Rm 5:14; Ibr 6:20 - 7:28).

Kisah pembebasan umat Allah dari Mesir melambangkan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh orang-orang Kristiani dan sakramen-sakramen yang mereka terima (1 Kor 10:1-11). Air bah menandakan baptisan (1 Ptr 3:20-21) dan manna di padang gurun melambangkan "roti kehidupan" (Yoh 6:48-51).

St. Irenius (130-200) dan kemudian sekolah Aleksandria amat senang dengan cara mengartikan Kitab Suci seperti ini, dan kemudian Origenes (185-254) mengembangkannya ke arah penafsiran alegoris.

Di Barat penafsiran tipologis dipakai oleh St. Ambrosius (339-397) dan kemudian oleh St. Agustinus dari Hippo (354-430) dan diteruskan sampai abad pertengahan.

Alegori adalah berbicara dengan samaran sesuatu yang lain, penafsiran atau pengartian atas semua unsur yang terdapat dalam kisah, satu demi satu, dan lebih jauh daripada yang dimaksudkan oleh kisah itu sendiri.

Penafsiran ini dilakukan untuk menemukan hubungan yang lebih dalam dan lebih jauh dengan kenyataan (misalnya: alegori mengenai anggur dalam Yes 5:1-7; Mzm 80:9-17).

Dalam beberapa teks, St. Paulus mengikuti tafsir Yahudi yang lazim pada zamannya dengan menafsirkan PL secara alegoris (misalnya: Gal 4:21-31).

Berbeda kalau dibandingkan dengan para penulis Antiokhia, Origenes (185-254) dan sekolah Aleksandria seringkali lebih memilih makna alegoris daripada makna literal dari kisah-kisah PL. Seperti halnya Bapa-bapa Gereja Latin yang lain, St. Agustinus (354-430) menerima baik makna literal maupun alegoris.

(Sumber: Kamus Teologi, Gerald O'Collins, SJ; Edward G. Farrugia SJ).


19.52 -

Bapa-bapa Gereja

Nama umum bagi orang-orang Kristiani awal yang menulis dalam bahasa Yunani, Latin, Siria, dan Armenia, yang ajaran serta kesucian pribadinya secara umum diakui dalam Gereja.

"Masing-masing dengan cara yang berbeda dan tingkatan yang berbeda 'menghasilkan' karya klasik dalam kebudayaan Kristiani" (Instruksi yang dikeluarkan oleh Kongregasi Urusan Pendidikan Katolik, 1989).

Dalam perselisihan teologis, orang sering merujuk pada Bapa-bapa Timur dan Barat. Kesamaan pendapat mereka dipandang sebagai argumen yang menentukan (DS 271; 510-520; 2856; 3541).

Di Barat masa Bapa-bapa Gereja berakhir dengan St. Isidorus dari Sevilla (560-636) dan di Timur dengan St. Yohanes dari Damaskus (675-749).

Patristik

Studi mengenai teologi para Bapa Gereja. Istilah ini seringkali secara tidak tepat disamakan dengan patrologi.

Patrologi

Istilah yang muncul pada abad ke 17 untuk menamakan studi mengenai para Bapa Gereja. Instruksi yang dikeluarkan pada tahun 1989 tentang studi mengenai para Bapa Gereja (dikeluarkan oleh Kongregasi Urusan Pendidikan Katolik) membedakan patrologi yang adalah studi mengenai pemikiran-pemikiran teologis mereka.


(Sumber: Kamus Teologi, Gerald O'Collins, SJ; Edward G. Farrugia SJ).

Kamis, 22 Desember 2016

19.02 -

Karunia



Anugerah (kata Sansekerta) = Karunia (kata Indonesia) = Rahmat (kata Arab) adalah bantuan yang Allah berikan kepada kita, supaya kita dapat menjawab panggilan kita menjadi anak angkat-Nya. Ia mengantar kita masuk ke dalam kehidupan Tritunggal yang paling dalam (KGK 2021; Kamus Teologi). 









Roh Kudus memberikan karunia-karunia untuk pelayananKehadiran Roh Kudus yang aktif dan menguasai hidup kitaakan menghasilkan buah Roh Kudus (Gal 5:22-23) untuk pelayanan bagi jemaat

Karunia-karunia diberikan secara melimpah oleh Tuhan melalui perantara Roh Kudushikmat, pengetahuan, iman, menyembuhkkan, mengadakan mujizat, bernubuat, membedakan bermacam-macam roh, berkata-kata dalam bahasa roh, menafsirkan bahasa roh (1 Kor 12:1-11).

Bakat dapat berkembang bila ada ketekunan dan percaya diriDan akan layu bila ada keragu-raguantidak bisa menerima dirinya seperti apa adanya (percaya Allah mencintai dirinya, menerima dirinya seperti apa adanya; merupakan syarat untuk dapat menerima orang lain seperti apa adanya), selalu melihat dirinya serba negatif dan selalu risau akan penilaian orang terhadap dirinya (membuat orang kehilangan kedamaian hati, kebebasan batin dan kegembiraan hidup). 





kirimkan ke
pengagum.pengikut.blogspot.com



Panggilan Allah


Jika kamu ingin melayani Allah, persiapkanlah hatimu bukan untuk makanan, bukan untuk minuman, bukan untuk istirahat, bukan untuk kemudahan, tetapi untuk penderitaan, sehingga kamu dapat menanggung semua godaan, kesusahan, dan kesedihan (St. Sergius dari Radonezh).












Dapatkah engkau minum cawan itu?














Pelayanan yang tulus hanya bisa lahir dari pengalaman iman.Semangatnya berkobar-kobar untuk melayani bersumber dari pengalamannya akan Allah yang telah mengubah dan menyembuhkannya (St Theresia Lisieux).

Melayani hanya karena kewajiban saja pada saat menghadapi tantangan dalam pelayanannyamereka mundur secara teratur dengan berbagai macam alasan

Selain itu dalam pelayanannya tidak ada tanda kekudusan dalam hidup mereka (kebenarandamai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus). 

Jika kita melayani sesuatu demi kemuliaan Allahmaka pelayanan itu akan menjadi dahsyatKita bisa akan menjadi surat Kristus sehingga kita dapat memperkenalkan Bapa kepada dunia

Marilah kita merindukan dan menyibukkan diri dalam doa bukan demi pemuasan diri kita, melainkan agar kita mendapatkan kekuatan untuk melayani (St. Teresa Avila).





kirimkan ke


pengagum.pengikut.blogspot.com


Kehendak Allah





Bunda Maria

Mengikuti seluruh ajaran dan kehendak Tuhan