Tampilkan postingan dengan label *Gereja*. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *Gereja*. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Desember 2019

02.01 -

Tradisi Gereja dalam mengakhiri dan mengawali tahun



Gereja Katolik memiliki tradisi yang khas dalam mengakhiri dan mengawali tahun.

Dalam dokumen ENCHIRIDION INDULGENTIARUM, Gereja mengajak umat beriman untuk memadahkan "Te Deum" pada akhir tahun, dan "Veni Creator Spiritus" pada awal tahun.

Madah Te Deum pada hari terakhir dalam tahun dimadahkan sebagai ucapan syukur atas tahun yang telah lewat.

Sedangkan, madah Veni Creator Spiritus pada hari pertama dalam tahun dimadahkan sebagai permohonan penyelenggaraan ilahi atas tahun yang akan datang.

Indulgensi penuh diberikan kepada umat beriman yang di gereja atau tempat doa, secara tekun secara publik/meriah menyanyikan atau mendaraskan madah-madah ini.

Bagi yang tidak dapat memadahkannya secara publik, dapat memadahkannya secara pribadi dengan memperoleh indulgensi sebagian.

Madah Te Deum terdapat pada Madah Bakti no. 491 dan Puji Syukur no. 669. Sedangkan untuk Veni Creator Spiritus terdapat pada Puji Syukur no. 565/566. 


Kamis, 21 November 2019

19.34 -

Tanggungjawab di dalam hidup menggereja



Ada banyak umat Katolik yang hanya pergi ke Gereja pada hari Minggu saja, katanya: “Di dalam Gereja kami tidak menemukan apa-apa, tetapi di tempat lain kami menemukan Tuhan.” Akhirnya mereka pindah gereja atau pindah agama. 

Kalau sampai mereka menjadi demikian, itu salah siapa? Bukankah para gembala yang harus memikul tanggung jawabnya, karena tidak mampu membawa domba-dombanya kepada “pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhan” (Flp 3:8). 

Namun di sisi lain, gembala-gembala tersebut juga tidak dapat dipersalahkan, karena mungkin sekali mereka sendiri belum pernah tersentuh oleh pengalaman itu (tidak seorang pun dapat memberikan apa yang tidak dimilikinya). Jadi, saat ini Gereja sangat membutuhkan para imam dan religius yang penuh dengan Roh Kudus, yang sungguh mengalami bahwa Allah itu hidup, sehingga dapat menjadi saksi-saksi Kristus yang meyakinkan. 

Demikian pula mereka harus menguasai teologi yang kuat dan sehat, tidak asal teologi saja, namun juga menguasai liku-liku hidup rohani yang mendalam, sehingga mampu memberikan bimbingan kepada orang lain juga. Pendek kata dibutuhkan insan-insan Allah yang diresapi Sabda Allah dan menguasai teologi yang sejati. Namun mampukan Gereja melahirkannya? Ini suatu tantangan. 

Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau (Ayb 42:5).

Marilah kita belajar dari Mat 25:14-30 

"Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, (1) masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. 

Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. Hamba yang menerima dua talenta itu pun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya. Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. 

Hamba yang (2A) menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. 

Lalu datanglah hamba yang (2B) menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta. Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. 

Kini datanglah juga hamba yang (3) menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam. Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan! 

Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya. 

Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi." 

» (1) Kata talenta dalam perumpamaan ini, tidak ada kaitannya sama sekali dengan bakat. Talenta adalah ukuran jumlah uang yang sangat besar nilainya, yaitu 6.000 dinar, kira-kira upah 15 tahun bekerja. Allah tidak mempercayakan lebih kepada seseorang hanya karena orang itu memiliki bakat yang lebih dari yang lain. 

Bakat seseorang tidak selalu menjadi hal yang berguna dalam menjalankan pekerjaan Allah. Malahan bisa menjadi penghambat jika bakat tersebut menumbuhkan kesombongan pada orang itu. Jadi, bakat seseorang tidak diperhitungkan dalam peperangan rohani. Misalnya: seseorang mempunyai suara merdu, tetapi tidak ada kuasa Allah dalam dirinya, maka nyanyian itu akan terasa hampa. Sedangkan seseorang yang suaranya biasa-biasa saja tetapi kuasa Allah terwujud dalam diri orang tersebut maka hati para pendengarnya terasa ditarik naik ke sorga. Contoh: Paulus, pandai dan berbakat, baik dalam hal manajemen maupun dalam hal memahami Kitab Suci dan pekara-pekara rohani. Karena keunggulannya ini Allah memberi duri dalam dagingnya agar dia tetap rendah hati. Paulus menyadari bahwa dalam kelemahanlah kuasa Tuhan menjadi sempurna (2 Kor 12:7-10). 

Dalam perumpamaan ini Yesus memberikan penekanan bahwa menantikan kedatangan sang tuan adalah penantian di dalam sebuah tanggung jawab. Mereka tidak menantikan tuan mereka di dalam keadaan menganggur. Ketiga orang itu diberi kepercayaan, diangkat sebagai wakil tuannya untuk mengembangkan hartanya. 

(2AB) Kedua hamba ini menyadari penghormatan yang diberikan oleh tuannya, maka mereka mengerjakan bagian mereka dengan setia. (3) Hamba ini tidak mengerjakan apa-apa tetapi menghakimi, dia tidak peduli dengan anugerah, dan tidak menaruh hormat sama sekali kepada tuan yang telah menghormatinya dengan kedudukan sebagai pengusaha atas uang tuan itu. [Baca juga: Talenta yang tidak dikembangkan tidak akan berguna.

[Baca Warta KPI TL No. 75/VII/2010] 

Sejak dibaptis, kita pun mendapat modal yang sama (Kis 11:17), maksudnya: kita menerima Roh yang sama, iman yang sama, Injil yang sama dan gereja yang sama (1 Kor 12:4; 2 Ptr 1:1; Gal 1:6-10). Kita juga telah diberikan kuasa untuk mengelola milik-Nya (Mzm 24:1; Kej 2:28). Tuhan membagikan talenta kepada para hamba-Nya tidak didasari oleh kemampuan jasmani dan duniawi dari orang tersebut. Setiap orang mendapatkan talentanya berdasarkan kuasa dan kemampuan rohaninya Jadi, kita tidak akan mempercayakan kuasa kepada orang yang kita pandang tidak akan mampu mengelola kuasa itu. Kuasa datang dari iman (Ef 6:10; Flp 4:13). Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah (1 Ptr 4:10). 

(Sumber: Renungan KPI TL Tgl 17 Oktober 2019, Dra Yovita Baskoro, MM).

Senin, 04 November 2019

20.44 -

Siapakah yang mendirikan gereja?



Secara historis, Yesus tidak mendirikan Gereja. Yang dilakukan Yesus adalah mengumpulkan pria dan wanita, mengikutsertakan mereka dalam pelayanan-Nya, menunjuk dua belas orang menjadi rasul, memberi tahu mereka untuk meneruskan apa yang diajarkan-Nya serta memberi kuasa untuk melengkapi karya kerasulannya.

Pentakosta menjadi peristiwa penting bagi lahirnya Gereja. dalam Pentakosta, para murid Yesus berkumpul, menerima Roh Kudus dan kemudian dengan penuh keberanian mewartakan iman akan Yesus Kristus. Pewartaan para rasul membawa buah yang ditandai dengan banyaknya orang yang memberikan diri dibaptis.

Dengan perkembangan jumlah orang yang dibaptis, jemaat itu tahap demi tahap mengembangkan struktur kelembagaan dan pelayanan yang akan menjamin kesetiannya kepada asal usul dan perutusannya. Semua itu dibawah bimbingan Roh yang dicurahkan oleh Yesus yang sudah bangkit.

Jadi walaupun secara historis tidak mendirikan Gereja, tetapi secara tidak langsung Yesus mendirikan Gereja, sebab seluruh sabda, karya dan Pribadi-Nya mengarah kepada terbentuknya Gereja, terbentuknya umat Allah yang baru yang menggantikan Umat Allah yang lama, yaitu bangsa Israel. Secara langsung, Gereja terbentuk sejak hari Pentakosta, saat turunnya Roh Kudus.


Minggu, 29 September 2019

19.39 -

Protestantisme: Sola Fide, Sola Scriptura, Sola Gratia, dan Predestinasi



Protestantisme awalnya merupakan suatu gerakan pembaharuan Gereja yang dilakukan oleh Martin Luther. Luther adalah seorang pastur Katolik dari ordo Santo Agustinus dan mengajar Kitab Suci di universitas Witenberg-Jerman. Ia seorang imam yang bersemangat dan saleh. Luther mendalami karya Agustinus terutama mengenai Teologi Rahmat. 

Puncak pencariannya akan Allah akhirnya sampai pada apa yang disebutnya sebagai “pengalaman menara.” Ia memprotes Simonisme (penjualan harta rohani yaitu sakramen pengakuan) yang dilakukan Gereja pada waktu itu untuk pembangunan Basilika St. Petrus di Roma. Gagasan terkenal waktu itu adalah “sekeping uang yang diletakan pada kotak persembahan maka satu jiwa diselamatkan.” 

Puncak protes Luther ketika ia menempelkan 95 dalil di depan pintu masuk universitas Witenberg. Protes Luther terhadap Gereja didukung oleh raja-raja di Jerman waktu itu yang tidak begitu senang terhadap Gereja Katolik. 

Gerakan pembaharuan ini akhirnya mengarah kepada perpisahan antara Gereja Katolik dan pengikut Luther yang melahirkan gereja-gereja Protestan. Gerakan ini dilanjutkan oleh tokoh-tokoh seperti John Calvin, Zwingli, Wesley, dan lain-lain. 

Ada empat pokok penting dalam teologi Luther yaitu: Sola Fide, Sola Scriptura, Sola Gratia dan ajaran tentang Predestinasi.

Sola Fide berarti “hanya iman.” Artinya manusia hanya bisa selamat melulu karena iman kepada Yesus Kristus, bukan karena perbuatan-perbuatannya sendiri. Dasar Kitab Suci dari gagasan ini terdapat dalam Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma 4:5; 5:1; 9:32; 11:6-7. Iman itu sendiri pada gilirannya adalah semata-mata kasih karunia Allah (Sola Gratia). Lalu ungkapan Sola Scriptura yang berarti “hanya Alkitab” mau mengatakan bahwa Alkitab adalah satu-satunya sumber penghayatan dan pengajaran iman

Ketiga ajaran ini mencerminkan perbedaan ajaran Protestan dan Katolik.

Menurut iman Katolik, kita memang dibenarkan Allah melulu karena iman bukan perbuatan kita, iman adalah anugerah semataNamun begitu orang dibenarkan karena iman, orang juga dituntut untuk hidup sesuai dengan martabat KristianinyaOrang Kristiani harus menghayati imannya dalam perbuatan atau tindakan yang nyata. 

Santo Yakobus mengatakan: “Iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati.” Lagi “iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong.” “Iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan iman menjadi sempurna” (Yak 2:21-22).

Akan tetapi di lain pihak perbuatan tanpa iman hanyalah kosong belaka. Setiap perbuatan orang Kristiani akan memiliki nilai kalau dilakukan dalam iman. Paulus juga mengatakan: “kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar" (Flp 2:12). 

Jadi, keselamatan manusia merupakan hasil kerja sama antara Allah dan manusia meskipun pada awal mulanya Allah yang memulai keselamatan dalam diri kita

Singkatnya dapat dikatakan bahwa meskipun Gereja Katolik mengakui iman adalah anugerah dari Allah, namun usaha (perbuatan) menusia sangat penting. 

Luther juga berpendapat bahwa kodrat manusia sama sekali telah dirusak oleh dosa asal, sehingga apa saja yang dilakukan manusia hanya dosa dan kebusukan belaka dan dengan demikian tidak memiliki nilai keselamatan.

Mengenai Sola Scriptura ajaran Katolik mengatakan bahwa selain Kitab Suci, Tradisi Suci juga merupakan sumber iman. Tradisi Suci merupakan bentuk Sabda Allah yang tidak dituliskan dalam kata-kata melainkan dihayati (sejak zaman para rasul hingga sekarang), dalam ibadat, ajaran, dan cara hidup Kristiani. 

Tradisi Suci tidak tertulis dalam Kitab Suci tetapi dihidupi dalam keseharian dalam penghayatan iman sebagai orang Kristiani.

Selain ketiga sola di atas perbedaan yang cukup tajam antara Protestan dan Katolik adalah mengenai ajaran “predestinasi.” 

Predestinasi berarti manusia sudah ditentukan untuk selamat atau dihukum (Misal: Yoh 17:12, Rm 8:28). 

Ajaran ini dianut oleh Luther, bagi dia jemaat Gereja adalah orang-orang pilihan Tuhan untuk diselamatkanSebaliknya orang lain yang tidak dipilih Tuhan akan binasa. (ajaran ini membuat pengikut Luther tidak kenal kompromi dengan agama lain).

Ajaran predestinasi memiliki konsekuesi yang cukup besar terhadap perbuatan manusia. Apapun yang dilakukan manusia, walaupun itu baik tidak mendatangkan keselamatan kalau ia bukan orang pilihan Allah. 

Demikian juga sebaliknya perbuatan jahat yang dilakukan oleh orang pilihan Allah tidak membatalkan keselamatan sebab sejak awal ia ditentukan untuk diselamatkan. Itu semua bertentangan dengan iman Gereja Katolik.

(Sumber : carmelia.net)

19.16 -

Apologetika



Apologetika atau apologetics adalah pembelaan keyakinan Kristiani mengenai Allah, Kristus, Gereja dan tujuan hidup umat manusia

Pembelaan ini dapat ditujukan kepada pemeluk agama lain, anggota komunitas Kristiani yang lain, warga komunitas sendiri yang ragu-ragu atau kepada orang beriman biasa yang ingin mengerti bahwa iman mereka dapat dipertanggungjawabkan.

Santo Petrus dalam suratnya yang pertama mengatakan: “Siap sedialah pada segala waktu untuk memberikan pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab tentang pengharapan yang ada padamu” (1Ptr 3:15). 

Dengan demikian apologetika berkaitan dengan teologi dasar, yaitu mengenai dasar-dasar iman Kristiani. 

Teologi Apologetika banyak dipakai oleh para bapa Gereja (abad II – abad VIII) untuk membela iman Kristiani terhadap serangan dari pihak bidat-bidat sesat pada zaman itu.

Tidak sedikit terjadi bahwa umat Katolik kita dewasa ini tidak mampu memberikan pertanggungan jawab terhadap berbagai persoalan iman yang sering ditanyakan baik oleh agama lain, Gereja lain, maupun oleh kalangan anggota Gereja sendiri. 

Selain itu, umat Katolik banyak diombang-ambing oleh berbagai ajaran bidat yang sebenarnya bukan ajaran Kristiani yang benar. 

Maka tujuan utama apologetika adalah memberi pertanggungan jawab dan membela ajaran Kristiani yang benar yang didasarkan pada Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium.

(Sumber : carmelia.net)

Sabtu, 28 September 2019

15.43 -

Keikutsertaan awam dalam jabatan Kristus

[KGK 897] "Yang dimaksudkan dengan awam di sini adalah semua orang beriman kristiani kecuali mereka yang termasuk golongan imam atau status religius yang diakui dalam Gereja. Jadi kaum beriman kristiani, yang berkat Baptis telah menjadi anggota Tubuh Kristus, terhimpun menjadi Umat Allah, dengan cara mereka sendiri ikut mengemban tugas imamat, kenabian, dan rajawi Kristus, dan dengan demikian sesuai dengan kemampuan mereka melaksanakan perutusan segenap umat kristiani dalam Gereja dan dunia" (LG 31).



[KGK 898] "Berdasarkan panggilan mereka yang khas, kaum awam wajib mencari Kerajaan Allah, dengan mengurus hal-hal yang fana dan mengaturnya seturut kehendak Allah. Tugas mereka yang istimewa yakni: menyinari dan mengatur semua hal fana, yang erat-erat melibatkan mereka, sedemikian rupa, sehingga itu semua selalu terlaksana dan berkembang menurut kehendak Kristus, demi kemuliaan Sang Pencipta dan Penebus" (LG 31).

[KGK 899] Prakarsa para awam Kristen sangat dibutuhkan dalam usaha mencari sarana dan jalan, untuk meresapi keadaan-keadaan kemasyarakatan, politik, dan sosial ekonomi dengan tuntutan iman dan kehidupan Kristen. Tentu usaha ini termasuk kehidupan Gereja:

"Umat beriman atau lebih tepat lagi kaum awam, berdiri di garis terdepan kehidupan Gereja; melalui mereka Gereja adalah unsur kehidupan bagi masyarakat manusiawi. Oleh karena itu mereka, dan justru mereka, harus memiliki suatu keyakinan yang makin dalam, bahwa mereka tidak hanya termasuk dalam Gereja, tetapi merupakan Gereja, artinya, persekutuan kaum beriman di dunia di bawah bimbingan Paus sebagai kepala dan para Uskup yang bersatu dengan dia. Mereka adalah Gereja (Pius XII, Wejangan 20 Pebruari 1946, dikutip dalam CL 9).

[KGK 900] Kaum awam, seperti juga semua umat beriman, telah menerima dari Allah tugas kerasulan berkat Pembaptisan dan Penguatan; karena itu mereka mempunyai hak dan kewajiban, baik sendiri-sendiri maupun dalam persekutuan dengan orang lain, untuk berusaha supaya semua manusia di seluruh dunia mengenal dan menerima berita keselamatan ilahi. Kewajiban ini lebih mendesak lagi, apabila orang tertentu hanya melalui mereka dapat menerima Injil dan mengenal Kristus. Dalam persekutuan gerejani kegiatan mereka sekian penting, sehingga kerasulan pastor sering tidak dapat berkembang sepenuhnya tanpa mereka.

Keikutsertaan awam dalam jabatan Kristus sebagai imam

[KGK 901] Kaum awam sebagai "orang yang menyerahkan diri kepada Kristus dan diurapi dengan Roh Kudus, secara ajaib dipanggil dan disiapkan, supaya secara makin limpah menghasilkan buah Roh dalam diri mereka. Sebab semua karya, doa-doa dan usaha kerasulan mereka, hidup mereka selaku suami isteri dan dalam keluarga, jerih payah mereka sehari-hari, istirahat bagi jiwa dan badan mereka, bila dijalankan dalam Roh, bahkan beban-beban hidup bila ditanggung dengan sabar, menjadi kurban rohani, yang dengan perantaraan Yesus Kristus berkenan kepada Allah. Kurban itu dalam perayaan Ekaristi, bersama dengan persembahan tubuh Tuhan, penuh khidmat dipersembahkan kepada Bapa. Demikianlah para awam pun sebagai penyembah Allah, yang di mana-mana hidup dengan suci, membaktikan dunia kepada Allah" (LG 34) (Bdk. LG 10).

[KGK 902] Secara khusus orang-tua mengambil bagian dalam pelayanan pengudusan, "dengan hidup berkeluarga dalam semangat kristiani serta mengusahakan pendidikan kristiani anak-anak mereka" (CIC, can. 835 § 4).

[KGK 903] Kalau memenuhi semua persyaratan, para awam dapat dilantik untuk pelayanan tetap sebagai lektor atau akolit (Bdk. CIC, can. 230 §1). "Di mana kebutuhan Gereja memintanya, dan bila tidak ada pelayan-pelayan rohani, juga kaum awam meskipun bukan lektor atau akolit, dapat menjalankan beberapa tugas, yakni melakukan pelayanan sabda, memimpin doa-doa liturgis, memberikan permandian, dan membagikan Komuni Suci, menurut ketentuan-ketentuan hukum" (CIC, can. 230 § 3).

Keikutsertaan awam dalam jabatan Kristus sebagai nabi

[KGK 904] "Kristus Nabi Agung telah memaklumkan Kerajaan Bapa dengan kesaksian hidup maupun kekuatan sabda-Nya. Ia menunaikan tugas kenabian-Nya hingga penampakan kemuliaan sepenuhnya bukan saja melalui hierarki ... melainkan juga melalui para awam"(LG35).

"Pelajaran yang membawa pertobatan kepada iman ... dapat menjadi tugas setiap pengkotbah, malahan setiap orang beriman" (Tomas Aqu., s.th. 3,71,4, ad 3).

[KGK 905] Kaum awam melaksanakan tugasnya sebagai nabi juga melalui penginjilan, "yakni pewartaan Kristus, yang disampaikan dengan kesaksian hidup dan kata kata". Pewartaan yang dijalankan oleh kaum awam ini "memperoleh ciri yang khas dan daya guna yang istimewa justru karena dijalankan dalam keadaan-keadaan biasa dunia ini" (LG 35).

"Kerasulan semacam itu tidak hanya terdiri dari kesaksian hidup saja. Rasul yang sejati mencari kesempatan-kesempatan untuk mewartakan Kristus dengan kata-kata baik kepada mereka yang tidak beriman ... maupun kepada kaum beriman" (AA 6) (Bdk. AG 15).

[KGK 906] Awam beriman, yang mampu dan yang berpendidikan khusus, dapat juga turut bekerja dalam pelajaran katekese (Bdk. CIC, cann. 774; 776; 780), ilmu pengetahuan teologi, (Bdk. CIC, can. 229) demikian juga dalam kerasulan media komunikasi (Bdk. CIC, can. 823 §1).

[KGK 907] "Sesuai dengan pengetahuan, kompetensi, dan kedudukannya, mereka mempunyai hak, bahkan kadang-kadang juga kewajiban untuk menyampaikan kepada para gembala rohani pendapat mereka tentang hal-hal yang termasuk kesejahteraan Gereja dan untuk memberitahukannya kepada kaum beriman kristiani lainnya, tanpa mengurangi keutuhan iman serta kesusilaan dan sikap hormat terhadap para gembala, dan dengan memperhatikan manfaat umum serta martabat pribadi orang" (CIC, can. 212 §3).

Keikutsertaan awam dalam jabatan Kristus sebagai raja

[KGK 908] Oleh ketaatan-Nya sampai mati, (Bdk. Flp 2:8-9) Kristus telah memberi kepada murid-murid-Nya anugerah kebebasan rajawi, supaya mereka "dengan mengingkari diri serta hidup suci mengalahkan Kerajaan dosa dalam diri mereka sendiri" (LG 36).

"Barang siapa menaklukkan tubuhnya dan menjadi tuan atas jiwanya, tanpa membiarkan diri dibanjiri oleh nafsu-nafsu, ia dapat disebut raja, karena ia dapat menguasai pribadinya. Ia bebas dan tidak bergantung dan tidak membiarkan diri dikuasai oleh perhambaan dosa" (Ambrosius, psal. 118, 14,30).

[KGK 909] "Selain itu hendaklah kaum awam dengan kerjasama yang erat menyehatkan lembaga-lembaga dan kondisi-kondisi masyarakat, bila ada yang merangsang untuk berbuat dosa. Maksudnya yakni supaya itu semua disesuaikan dengan norma-norma keadilan, dan menunjang pengamalan keutamaan-keutamaan, bukan malahan merintanginya. Dengan demikian mereka meresapi kebudayaan dan kegiatan manusia dengan nilai moral" (LG 36).

[KGK 910] "Kaum awam dapat juga merasa dirinya terpanggil atau dapat dipanggil, untuk bekeja sama dengan para gembala mereka dalam melayani persekutuan gerejani, demi pertumbuhan dan kehidupan persekutuan itu. Dalam pada itu mereka dapat mengambil alih pelayanan yang sangat berbeda-beda, sesuai dengan rahmat dan karisma yang Tuhan anugerahkan kepada mereka (EN 73).

[KGK 911) Di dalam Gereja "orang-orang beriman kristiani awam dapat diikut-sertakan [dalam pelaksanaan kuasa yurisdiksi] menurut hukum" (CIC, can. 129 § 2). Misalnya mereka dapat mengambil bagian dalam konsili lokal (CIC, can. 443 § 4) dan sinode diosesan, (CIC, can. 463 §§ 1.2) menjadi anggota dewan pastoral, (CIC, cann. 511; 536) dapat turut serta dalam suatu tim pastoral paroki, CIC, can. 517 § 2) dapat turut bekerja dalam dewan keuangan (CIC, cann. 492 § 1; 536) dan menjadi anggota pengadilan gerejani (CIC, can. 1421 § 2).

[KGK 912] "Demi terlaksananya tata-keselamatan hendaklah kaum beriman belajar membedakan dengan cermat antara hak-hak dan kewajiban-kewajiban mereka selaku anggota Gereja, dan hak-hak serta kewajiban-kewajiban mereka sebagai anggota masyarakat manusia. Hendaklah mereka berusaha memperpadukan keduanya secara selaras, dengan mengingat, bahwa dalam perkara duniawi mana pun mereka wajib menganut suara hati kristiani. Sebab tiada tindakan manusiawi satu pun, juga dalam urusan-urusan duniawi, yang dapat dilepaskan dari kedaulatan Allah" (LG 36).

[KGK 913] "Demikianlah setiap orang awam, karena karunia-karunia yang diterimanya, menjadi saksi dan sarana hidup perutusan Gereja sendiri menurut ukuran anugerah Kristus (Ef4:7)" (LG 33).

(Sumber: Warta KPI TL No. 173/IX/2019 » KGK 897-913).

15.38 -

Amanat Agung



Kerinduan Allah akan dunia ini: setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh 3:16; Yoh 17:3 » Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus). 

Oleh karena itu Juruselamat memerintahkan kita untuk menjalankan “Amanat Agung-Nya” (Mrk 16:15-20; Mat 28:19-20 » Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil ... jadikanlah semua bangsa murid-Ku ... ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. ... Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman dan Ia turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya). Misi adalah perintah bukan pilihan

Kegagalan untuk pergi melakukan misi adalah sama dengan kegagalan untuk taat. Kita tidak dituntut untuk bisa/mampu melainkan untuk pergi dengan rela, karena Dia sendiri (melalui Roh Kudus) akan memperlengkapi dan juga menyertai kita sampai akhir jaman

Kamu dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya (Kol 1:21-23). Jadi, kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus (1 Ptr 1:18-19). 

Oleh karena itu kamu telah berhutang pada-Nya (Rm 13:8 » berhutang kasih). Artinya hutang terbesar orang percaya adalah menyatakan kasih terhadap sesama), maka memberitakan Injil adalah keharusan (1 Kor 9:16), untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya (Rm 1:1, 5). 

Jadi, tidak ada hal lain yang lebih besar untuk ‘membalas’ kebaikan Allah selain melaksanakan pekabaran Injil sehingga orang lain juga dapat mengalami keselamatan yang sama. Tidak ada pelayanan yang terlalu kecil atau pengorbanan yang terlalu besar apabila dilakukan untuk kemuliaan Tuhan. 

Dalam pengalaman penginjilan yang dilakukan oleh Paulus, ia berkata bahwa kasih Kristuslah yang menguasai dan mendorongnya untuk memberitakan Injil, sehingga ia rela mengorbankan miliknya bahkan memberikan dirinya bagi mereka yang dilayaninya (2 Kor 5:14; 12:15). 

Kasih Kristus terhadap orang-orang berdosa adalah kasih yang memberi diri demi keselamatan orang yang dikasihi (Yohanes 15:13). Jadi, jika kita mengasihi Allah dan kasihnya tinggal di dalam kita, pastilah kita juga terdorong untuk menyatakan kasih yang sama kepada orang-orang terhilang. 

Satu jiwa yang bisa kita persembahkan kepada Tuhanbaunya seperti wangi-wangian dupa narwastu

Krisis orang berdosa (perikop di bawah ini berbicara tentang dosa kelalaian) yang mendorong kita untuk pergi kepada mereka dan menceritakan Kabar Baik padanya agar mereka tidak kehilangan nyawanya untuk selamanya. Jadi, krisis dalam hidup saat ini ada kaitannya dengan kehidupan yang akan datang

Sebagai gambaran: Jika kita melihat orang yang terjebak dalam bahaya dan butuh pertolongan dan kita dapat memberi pertolongan, maka kita tidak perlu lagi bertanya mengapa harus pergi, melainkan kita harus bergegas untuk pergi memberikan pertolongan. 

[Luk 16:19-31] "Ada (1A) seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Dan ada (2A) seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. 

Kemudian (2Bmatilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. (1BOrang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan (2C) Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab (1C) aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.

Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa (1Dengkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan (2DLazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. 

Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini. 

Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu. Jawab orang itu: Tidak, Bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. 

Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati." 


» (1A-D; 2A-D) Kisah tentang orang kaya dan Lazarus memberikan gambaran keadaan manusia sesudah kematian. Jiwa manusia dihakimi Allah untuk segala perbuatannya.

(1A-D) Orang kaya ini melakukan dosa kelalaian, hatinya begitu tertutup pada hartanya sampai-sampai ia buta untuk menunjukkan belas kasih pada orang menderita.

[Kis 8:26-38] Kemudian berkatalah seorang malaikat Tuhan kepada Filipus, katanya: "Bangunlah dan berangkatlah ke sebelah selatan, menurut jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza." Jalan itu jalan yang sunyi. Lalu berangkatlah Filipus. Adalah seorang Etiopia, seorang sida-sida, pembesar dan kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, yang pergi ke Yerusalem untuk beribadah. Sekarang orang itu sedang dalam perjalanan pulang dan duduk dalam keretanya sambil membaca kitab nabi Yesaya

Lalu kata Roh kepada Filipus: "Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu!" Filipus segera ke situ dan mendengar sida-sida itu sedang membaca kitab nabi Yesaya. Kata Filipus: "Mengertikah tuan apa yang tuan baca itu?" Jawabnya: "Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?" Lalu ia meminta Filipus naik dan duduk di sampingnya. 

Nas yang dibacanya itu berbunyi seperti berikut: Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya. Dalam kehinaan-Nya berlangsunglah hukuman-Nya; siapakah yang akan menceriterakan asal usul-Nya? Sebab nyawa-Nya diambil dari bumi. 

Maka kata sida-sida itu kepada Filipus: "Aku bertanya kepadamu, tentang siapakah nabi berkata demikian? Tentang dirinya sendiri atau tentang orang lain?" Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya

Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: "Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?" [Sahut Filipus: "Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh." Jawabnya: "Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah."]. Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia. 

» Mengajar adalah menjelaskan kepada mereka apa yang terkandung dalam Alkitab, yakni: berita keselamatan bagi orang yang akan binasa karena dosaAllah menugaskan seseorang yang akan menuntun atau mengajar orang-orang terhilang tentang kebenaran dari firman Allah, yakni bagaimana caranya untuk diselamatkan

Bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nyajika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Diajika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Diajika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nyajika mereka tidak diutusSeperti ada tertulis: "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!" (Rm 10:14-15). 

Gereja tidak akan bertumbuh dan berkembang jika tidak menjadi gereja yang misionaris. Jadi, untuk merealisasikan tugas memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus, gereja harus mengirim misionaris ke berbagai penjuru dunia dan harus merubah caranya dalam pewartaan, yaitu melalui kotbah yang menarik. 

Kaum awam, semua umat beriman, telah menerima dari Allah tugas kerasulan berkat Pembaptisan dan Penguatan; karena itu mereka mempunyai hak dan kewajiban, baik sendiri-sendiri maupun dalam persekutuan dengan orang lain, untuk berusaha supaya semua manusia di seluruh dunia mengenal dan menerima berita keselamatan ilahi. Kewajiban ini lebih mendesak lagi, apabila orang tertentu hanya melalui mereka dapat menerima Injil dan mengenal Kristus. Dalam persekutuan gerejani kegiatan mereka demikian penting, sehingga kerasulan pastor sering tidak dapat berkembang sepenuhnya tanpa mereka (KGK 900). 

Jadi, orang-orang beriman harus bersaksi di mana pun Allah telah menempatkannya, baik secara pribadi (non lembaga - tidak ada penugasan formal dari gereja) maupun secara lembaga misi

Memiliki keberanian dan semangat untuk bersaksi adalah baik, tetapi jika tidak didukung dengan cara hidup yang baik dan benar maka hal itu menjadi tidak berarti. Bagaimana mungkin mereka percaya dengan kesaksian kita jika cara hidup kita berbeda atau bertolak-belakang dengan apa yang kita katakan dan yakini. Dalam tugas menjadi saksi bagi mereka yang terhilang, kita harus menunjukkan kepada mereka bahwa kita mengetahui jalan keselamatan. Dua hal diatas harus berjalan berdampingan atau berjalan dengan keseimbangan.

(Sumber: Warta KPI TL No. 173/IX/2019).

Minggu, 25 Agustus 2019

23.25 -

Ketika agama kehilangan Tuhan



Dulu agama menghancurkan berhala. Kini agama jadi berhala. Tak kenal Tuhannya, yang penting agamanya.

Dulu orang berhenti membunuh karena agama. Sekarang orang _saling membunuh karena agama.

Dulu orang saling mengasihi karena beragama. Kini orang saling membenci karena beragama.

Agama tak pernah berubah ajarannya dari dulu, Tuhannya pun tak pernah berubah dari dulu. Lalu yang berubah apanya? Manusianya?

Dulu orang belajar agama sebagai modal untuk mempelajari ilmu lainnya. Sekarang orang malas belajar ilmu lainnya, maunya belajar agama saja.

Dulu pemimpin agama dipilih berdasarkan kepintarannya, yang paling cerdas diantara orang-orang lainnya. Sekarang orang yang paling dungu yang tidak bisa bersaing dengan orang-orang lainnya, dikirim untuk belajar jadi pemimpin agama.

Dulu para siswa diajarkan untuk harus belajar giat dan berdoa untuk bisa menempuh ujian. Sekarang siswa malas belajar, tapi sesaat sebelum ujian berdoa paling kencang, karena diajarkan pemimpin agamanya untuk berdoa supaya lulus.

Dulu agama mempererat hubungan manusia dengan Tuhan. Sekarang manusia jauh dari Tuhan karena terlalu sibuk dengan urusan-urusan agama.

Dulu agama ditempuh untuk mencari wajah Tuhan. Sekarang agama ditempuh untuk cari muka di hadapan Tuhan.

Esensi beragama telah dilupakan. Agama kini hanya komoditi yang menguntungkan pelaku bisnis berbasis agama, karena semua yang berbau agama telah didewa-dewakan, takkan pernah dianggap salah, tak pernah ditolak, dan jadi keperluan pokok melebihi sandang, pangan, papan. Agama jadi hobi, tren, dan bahkan pelarian karena tak tahu lagi mesti mengerjakan apa.

Agama kini diperTuhankan, sedang Tuhan itu sendiri dikesampingkan. Agama dulu memuja Tuhan. Agama kini menghujat Tuhan. Nama Tuhan dijual, diperdagangkan, dijaminkan, dijadikan murahan, oleh orang-orang yang merusak, membunuh, sambil meneriakkan nama Tuhan.

Tuhan mana yang mengajarkan untuk membunuh? Tuhan mana yang mengajarkan untuk membenci? Tapi manusia membunuh, membenci, mengintimidasi, merusak, sambil dengan bangga meneriakkan nama Tuhan, berpikir bahwa Tuhan sedang disenangkan ketika ia menumpahkan darah manusia lainnya.

Agama dijadikan senjata untuk menghabisi manusia lainnya. Dan tanpa disadari manusia sedang merusak reputasi Tuhan, dan sedang mengubur Tuhan dalam-dalam di balik gundukan ayat-ayat dan aturan agama.

(Gus Mus)

Selasa, 15 Januari 2019

18.39 -

Anda Kristen?



Orang Kristen diibaratkan seperti ikan di dalam aquarium. Mengapa? Sebab segala perbuatan orang Kristen itu dilihat dan dirasakan oleh dunia, tanpa sesuatu yang tersembunyi

Penilaian orang dunia terhadap kita, bukan dilihat dari banyaknya harta yg kita miliki, pintar atau panjangnya gelar berderet di belakang nama kita, tetapi bagaimana kita mempertontonkan gambar Kristus di dalam hidup kita sehari-hari. Sudahkah hidupmu menggambarkan kehidupan Kristus? Renungkan dan jadilah bijak. 

Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat ... sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen (Kis 11:26).

(Sumber: Warta KPI TL No. 165/I/2019).

Kamis, 13 September 2018

18.46 -

Gereja Katolik Roma



Gereja Katolik, yang secara luas sering juga disebut Gereja Katolik Roma, adalah Gereja Kristen terbesar di dunia, dan diperkirakan memiliki 1,3 milyar jemaat, yakni kira-kira setengah dari seluruh umat Kristiani dan seperenam dari populasi dunia

Gereja Katolik adalah sebuah komuni (persekutuan) dari Gereja Katolik Ritus Barat (Gereja Katolik Roma) dan 23 Gereja Katolik Timur, yang membentuk 2.795 keuskupan pada 2008. Ke-24 Gereja-Gereja ini disebut sebagai gereja-gereja partikular). 

Gereja Partikular dengan jumlah umat terbesar dalam Gereja Katolik adalah Gereja Katolik Ritus Barat/Ritus Latin/Gereja Katolik Roma. Gereja Partikular dengan jumlah umat ke-2 terbesar dalam Gereja Katolik adalah Gereja Katolik-Yunani Ukraina.

Otoritas duniawi tertinggi Gereja ini dalam perkara iman, moral dan pemerintahannya adalah Sri Paus, saat ini Paus Fransiskus, yang memegang otoritas tertinggi bersama-sama Dewan Uskup, yang diketuainya. 

Komunitas Katolik terdiri atas seorang pelayan-umat tertahbis (rohaniwan) dan umat awam; baik rohaniwan maupun umat awam dapat pula menjadi anggota dari komunitas-komunitas religius.

Gereja ini mendefinisikan bahwa misinya adalah memberitakan Injil Yesus Kristus, memberikan pelayanan sakramen-sakramen dan melakukan karya amal

Gereja ini menjalankan program-program dan lembaga-lembaga sosial di seluruh dunia, termasuk juga sekolah-sekolah, universitas-universitas, rumah-rumah sakit, misi-misi dan perumahan, serta organisasi-organisasi seperti Catholic Relief Services, Caritas Internationalis dan Catholic Charities yang membantu kaum papa, keluarga-keluarga, orang-orang jompo, dan orang-orang sakit.

Melalui suksesi apostolik, Gereja ini percaya bahwa dirinya merupakan kelanjutan dari komunitas Kristiani yang didirikan oleh Yesus dengan mentahbiskan Santo Petrus, sebuah pandangan yang juga dianut oleh banyak sejarawan.

Gereja ini menetapkan doktrin-doktrinnya melalui berbagai konsili ekumenis, meneladani para rasul pertama dalam Konsili Yerusalem.

Atas dasar janji-janji Yesus pada rasul-rasul-Nya yang tertera dalam Injil, Gereja ini percaya bahwa dia dituntun oleh Roh Kudus dan oleh karena itu terlindungi dari terjadinya kesalahan doktrin.

Keyakinan-keyakinan Katolik didasarkan atas deposit iman (mencakup baik Kitab Suci maupun Tradisi Suci) yang diwarisi dari zaman Rasul-Rasul, dan yang diinterpretasi oleh Otoritas Pengajaran Gereja. Keyakinan-keyakinan tersebut terangkum dalam Kredo Nicea, dan secara resmi dirinci dalam Katekismus Gereja Katolik

Peribadatan Katolik yang formal, yang disebut liturgi, diatur oleh otoritas Gereja. Ekaristi, salah satu dari tujuh sakramen Gereja dan bagian penting dari setiap Misa Katolik atau Liturgi Suci Katolik Timur, adalah pusat dari peribadatan Katolik.

Dengan sejarah yang membentang sepanjang dua ribu tahun, Gereja ini adalah salah satu lembaga tertua di dunia dan telah berperan penting dalam sejarah peradaban Barat sekurang-kurangnya sejak abad ke-4.

Pada abad ke-11, sebuah perpecahan besar, yang kadang-kadang disebut Skisma Akbar, terjadi antara Kristianitas Timur dan Barat yang terutama diakibatkan oleh ketidak sepahaman mengenai primasi kepausan. 

Gereja-Gereja Timur yang tetap maupun yang kelak kembali menjalin persekutuan dengan Uskup Roma, Sri Paus, membentuk Gereja-Gereja Katolik Timur, dan Gereja-Gereja yang tetap berada di luar otoritas kepausan biasanya dikenal sebagai Gereja-Gereja Ortodoks Timur. 

Pada abad ke-16, juga sebagai tanggapan atas bangkitnya Reformasi Protestan di Eropa Barat, Gereja ini menyelenggarakan proses reformasi dan renovasi internal, yang dikenal sebagai Kontra-Reformasi.

Meskipun Gereja ini menyatakan bahwa dialah "Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik," didirikan oleh Yesus Kristus, tempat orang dapat menemukan kepenuhan sarana keselamatan, Gereja ini pun mengakui bahwa Roh Kudus dapat menggunakan komunitas-komunitas Kristiani lainnya untuk membawa orang menuju keselamatan.

Gereja ini percaya bahwa dia dipanggil oleh Roh Kudus untuk mengupayakan kesatuan antar segenap umat Kristiani, sebuah gerakan yang dikenal sebagai ekumenisme.

Tantangan-tantangan modern yang dihadapi Gereja ini mencakup bangkitnya sekularisme dan penentangan terhadap sikapnya mengenai aborsi, euthanasia, kontrasepsi, dan moralitas seksual.

Asal usul dan sejarah

Gereja Katolik didirikan oleh Yesus dan Keduabelas Rasul, dilanjutkan oleh para uskup sebagai penerus para rasul umumnya, dan Sri Paus sebagai penerus Santo Petrus khususnya.

Istilah "Gereja Katolik" diketahui pertama kali digunakan dalam surat dari Ignatius dari Antiokhia pada tahun 107, yang menulis bahwa: "Di mana ada uskup, hendaknya umat hadir di situ, sama seperti di mana ada Yesus Kristus, Gereja Katolik hadir di situ."

Selain itu, para penulis Katolik memberikan daftar sejumlah kutipan dari para Bapa Gereja terdahulu yang mendukung bahwasanya Tahta Keuskupan Roma memiliki otoritas yurisdiksional atau primasi atas gereja-gereja lain, di lain pihak para penulis Ortodoks menolak klaim tersebut yang merupakan salah satu dari pokok permasalahan di balik skisma Timur-Barat, dengan secara historis memandang Sri Paus sebagai primus inter pares (yang pertama di antara yang sederajat).

Di pusat doktrin-doktrin Gereja Katolik ada Suksesi Apostolik, yakni keyakinan bahwa para uskup adalah para penerus spiritual dari Keduabelas Rasul mula-mula, melalui rantai konsekrasi yang tak terputus secara historis. 

Perjanjian Baru berisi peringatan-peringatan terhadap ajaran-ajaran yang sekadar bertopengkan Kekristenan, dan menunjukkan bahwa para pimpinan Gereja diberi kehormatan untuk memutuskan manakah yang merupakan ajaran yang benar. 

Gereja Katolik mengajarkan bahwa Gereja Katolik adalah keberlanjutan dari orang-orang tetap setia pada kepemimpinan apostolik (rasuli) dan episkopal (Keuskupan) serta menolak ajaran-ajaran palsu.

Pra Abad-Pertengahan

Sesudah melewati suatu periode awal yang diwarnai penganiayaan secara sporadik namun intens, Kekristenan menjadi legal pada abad ke-4, ketika Kaisar Konstantinus I mengeluarkan Edicta Milano (Edik Milano) pada tahun 313. 

Konstantinus berperan penting dalam penyelenggaraan Konsili Nicea Pertama yang merupakan konsili para uskup Gereja Katolik pada tahun 325, yang ditujukan untuk melawan bidaah Arianisme dan merumuskan Kredo Nicea yang digunakan oleh Gereja Katolik, Ortodoksi Timur, dan berbagai Gereja Protestan. 

Pada tanggal 27 Februari 380, Kaisar Teodosius I memberlakukan sebuah hukum yang menetapkan Kekristenan Katolik sebagai agama resmi Kekaisaran Romawi dan memerintahkan untuk menyebut yang lain daripada itu sebagai bidaah.


Setelah runtuhnya Kekaisaran Romawi, Gereja Katolik melewati suatu masa kegiatan dan ekspansi misi. Selama Abad Pertengahan Katolisisme menyebar di antara bangsa Jerman (pada awalnya bersaing dengan Arianisme), Viking, Polandia, Kroasia, Ceko, Slowakia, Hungaria, Lithuania, Latvia, Finlandia dan Estonia

Keberhasilan kehidupan monastik menumbuhkan berbagai pusat pembelajaran, teristimewa yang paling masyhur di Irlandia dan Gallia, serta berkontribusi bagi Abad Pencerahan Dinasti Carolingian (Carolingian Renaissance). 

Di kemudian hari yakni pada kurun waktu Abad Pertengahan, Sekolah-sekolah Katedral berkembang menjadi universitas-universitas (Universitas Paris, Universitas Oxford, dan Universitas Bologna), cikal bakal dari lembaga-lembaga pembelajaran Barat modern.

Skisma akbar

Dalam abad ke-11, melalui serentetan proses selama beberapa abad, Gereja mengalami skisma akbar di mana Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks Timur terbelah akibat isu-isu administrasi, liturgi, dan doktrin, khususnya masalah klausa Filioque dan primasi jurisdiksi kepausan. 

Secara konvensional skisma ini berpenanggalan tahun 1054, ketika Patriark Konstantinopel dan Sri Paus mengeluarkan pernyataan saling mengucilkan. Baik Konsili Lyons II tahun 1274 maupun Konsili Baseltahun 1439 berusaha menyatukan kembali kedua Gereja, namun pihak Ortodoks menolak kedua konsili itu. 

Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks Timur masih dalam keadaan skisma hingga hari ini, meskipun demikian dalam deklarasi bersama Katolik-Ortodoks tahun 1965 pernyataan pengucilan tersebut ditarik kembali baik oleh Roma maupun Konstantinopel, dan upaya-upaya mengakhiri skisma terus berlanjut. 

Beberapa Gereja Timur telah bersatu kembali dengan Gereja Katolik dengan menerima primasi kepausan, dan beberapa Gereja Timur lainnya mengaku tidak pernah keluar dari persekutuan dengan Sri Paus.

Perang Salib

Perang Salib adalah serangkaian perang militer sejak tahun 1092 di Tanah Suci dan tempat-tempat lain, direstui oleh kepausan, dimulai pada masa kepausan Urbanus II sebagai tanggapan terhadap permintaan bantuan dari Kaisar Byzantium melawan ekspansi Turki. 

Perang Salib ini serta perang-perang Salib selanjutnya akhirnya gagal meredakan agresi orang-orang Turki dan bahkan menimbulkan rasa benci antar umat Kristiani akibat penjarahan dan pendudukan kota Konstantinopel selama Perang Salib ke-4.

Inkuisisi

Sejak sekitar tahun 1184, dan berlanjut selama Reformasi Protestan, terjadi sejumlah kegiatan historis yang melibatkan Gereja Katolik, dan yang dikenal luas sebagai Inkuisisi, ditujukan untuk menyelamatkan kesatuan religius dan doktrinal dalam Kekristenan melalui pentobatan, dan kadang kala penganiayaan, orang-orang yang didakwa bidaah. 

Terbukti bidaah, yang dipandang sebagai pengkhianatan terhadap dunia Kristen, dapat mengakibatkan penerimaan hukuman yang berkisar dari hukuman ringan sampai hukuman mati (antara lain dibakar hidup-hidup) yang dilaksanakan oleh negara. 

Contoh dari langkanya pelaksanaan hukuman mati tersebut adalah, sejak tahun 1540 sampai 1700 dari semua perkara yang diajukan kepada Inkuisisi Spanyol hanya 2-3% yang berakhir dengan eksekusi mati, lebih rendah daripada peradilan sekuler manapun secara virtual pada masa itu.

Menurut para sejarawan, Inkuisisi Abad Pertengahan, Inkuisisi Spanyol, Inkuisisi Roma, dan Inkuisisi Portugis adalah peristiwa-peristiwa historis yang berbeda. Cakupan dari aktivitas Inkuisisi, dan khususnya angka kematian yang tepat, telah menjadi bahan propaganda di kemudian hari.

Reformasi

Keretakan kedua dalam sejarah Kekristenan terjadi saat Reformasi Protestan, yang dimulai di Jerman pada abad ke-16. Selama kurun waktu tersebut pelbagai kelompok masyarakat, seringkali dengan dukungan pemerintah lokal, menolak primasi Sri Paus, kewajiban selibat bagi para imam, serta berbagai doktrin dan praktik Katolik lainnya, sekaligus penyelewengan-penyelewengan (semisal praktik simoni/praktik pembelian jabatan gerejawi) yang umum terjadi pada masa itu. 

Para reformator dalam Gereja Katolik meluncurkan Kontra-Reformasi atau Reformasi Katolik, suatu periode klarifikasi doktrin, perbaikan imamat dan liturgi, dan re-evangelisasi yang dimulai dengan Konsili Trento.

Konsili Trento dan perbaikan-perbaikannya menghasilkan tema sentral untuk 300 tahun ke depan dari sejarah Katolik. Periode tersebut menitikberatkan karya katekese dan misi, bidang yang menjadi keunggulan bagi ordo Yesuit dan Fransiskan

Katolisisme menyebar ke seluruh dunia, seiring dengan kolonialisme bangsa Eropa: ke Amerika, Asia, Afrika, dan Oseania.

Zaman Modern

Gereja pada abad ke-18 dan ke-19 tidak hanya harus berhadapan dengan ajaran-ajaran Protestantisme, namun juga dengan ajaran-ajaran Pencerahan dan Modernisme mengenai hakikat pribadi manusia, negara, dan moralitas. 

Dengan terjadinya Revolusi Industri, dan meningkatnya keprihatinan akan kondisi-kondisi para buruh urban, Paus-Paus abad ke-19 dan ke-20 mengeluarkan ensiklik-ensiklik (teristimewa Rerum Novarum) yang memaparkan Ajaran Sosial Katolik.

Konsili Vatikan Pertama (1869–1870) menegaskan doktrin infabilitas kepausan yang diyakini umat Katolik sebagai kontinuitas dengan sejarah Supremasi Petrus dalam Gereja.

Reformasi Konsili Vatikan Kedua




Gereja Katolik melakukan salah satu dari perubahan-perubahan paling menyeluruh dalam sejarahnya selama Konsili Vatikan II (1962-1965) dan dasawarsa sesudahnya. 

Gereja Katolik, lebih daripada sebelumnya, menekankan apa yang dipandangnya positif ketimbang apa yang dipandangnya negatif dalam komunitas-komunitas Kristiani lain, dalam agama-agama lain, dan dalam aspirasi-aspirasi umat manusia pada umumnya. 

Gereja mendorong pembaharuan yang mutakhir atas kehidupan religius. Dan Gereja memberi wewenang kepada konferensi-konferensi waligereja untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian dalam disiplin-disiplin misalnya berpantang daging pada hari Jumat.

Konsili Vatikan II (1962–1965) yang diperhimpunkan oleh Paus Yohanes XXIII, terutama sebagai suatu konsili pastoral namun otoritatif, untuk membuat ajaran-ajaran historis Gereja Katolik menjadi jelas bagi dunia modern. 

Konsili ini mengeluarkan dokumen-dokumen mengenai sejumlah topik, termasuk hakikat Gereja, misi awam, dan kebebasan beragama. 

Konsili ini juga mengeluarkan pengarahan-pengarahan bagi revisi liturgi, termasuk izin bagi ritus liturgi Latin untuk menggunakan bahasa setempat di samping Bahasa Latin dalam Misa dan sakramen-sakramen lainnya.[67]

Doktrin Gereja Dan ilmu pengetahuan

Para ahli sejarah ilmu pengetahuan, termasuk yang bukan beragama Katolik seperti J.L. Heilbron,[79] Alistair Cameron Crombie, David C Lindberg,[80] Edward Grant, Thomas Goldstein,[81] dan Ted Davis, berpendapat bahwa Gereja Katolik memiliki pengaruh positif yang penting terhadap perkembangan peradaban. 

Mereka yakin bahwa, bukan saja para biarawanlah yang menyelamatkan dan membudidayakan sisa-sisa dari peradaban kuno selama invasi-invasi kaum barbar, melainkan juga bahwasanya Gereja Katoliklah yang mendorong pembelajaran dan ilmu pengetahuan melalui dukungannya terhadap banyak universitas yang, di bawah kepemimpinannya, bertumbuh cepat di Eropa pada abad ke-11 dan ke-12. 

St. Thomas Aquinas, "teolog model" Gereja Katolik, tidak saja berpendapat bahwa akal budi itu bersesuaian dengan iman, dia bahkan mengakui bahwa akal budi dapat berkontribusi bagi pemahaman wahyu Illahi, dan dengan demikian mendorong perkembangan intelektual.

Para imam-ilmuwan Gereja Katolik, yang kebanyakan adalah para Yesuit, dan yang merupakan para pelopor dalam ilmu astronomi, genetika, geomagnetisme, meteorologi, seismologi, and fisika matahari, menjadi "bapak-bapak" ilmu-ilmu pengetahuan tersebut. Perlu kiranya untuk disebutkan di sini, nama-nama para rohaniwan Katolik semisal Abbas Ordo St. Agustinus Gregor Mendel (pelopor dalam studi genetika) dan pastur Belgia Georges LemaƮtre (orang pertama yang mengedepankan teori Big Bang).


Sebuah peta universitas-universitas abad pertengahan memperlihatkan universitas-universitas yang didirikan Gereja Katolik di Eropa.

Kenyataan ini merupakan suatu kebalikan dari pandangan yang dipertahankan oleh beberapa filsuf abad pencerahan, bahwa doktrin-doktrin Gereja Katolik bersifat tahayul dan menghalang-halangi kemajuan peradaban.

Salah satu contoh terkenal yang diajukan oleh para kritikus tersebut adalah Galileo Galilei, yang pada tahun 1633, dikutuk karena berpegang teguh pada ajaran jagad raya yang heliosentris (jagad raya berpusat pada matahari), teori yang pertama kali dicetuskan oleh Nicolaus Copernicus, seorang imam Katolik. 

Setelah bertahun-tahun diinvestigasi, berkonsultasi dengan Paus, berjanji kemudian dilanggar oleh Galileo sendiri, dan akhirnya suatu pengadilan oleh Tribunal Inkuisisi Romawi dan Universal, Galileo didapati "dituduh sebagai bidaah" - bukan bidaah, sebagaimana yang seringkali secara keliru disebut-sebut. 

Meskipun ilmu pengetahuan modern membuktikan bahwa dua dari empat thesis ilmiah yang dikedepankan oleh Galileo sebenarnya keliru, yakni bahwasanya Matahari adalah pusat jagad raya, dan bahwasanya Bumi mengitari Matahari dalam orbit berbentuk lingkaran sempurna, Paus Yohanes Paulus II secara terbuka mengungkapkan penyesalan atas tindakan-tindakan orang-orang Katolik yang memperlakukan Galileo dengan buruk dalam pengadilan pada tanggal 31 Oktober 1992.

Sebuah abstraksi dari tindakan-tindakan dalam proses pengadilan terhadap Galileo dapat dijumpai di Arsip Rahasia Vatikan (Vatican Secret Archives), yang mereproduksi sebagian arsip tersebut dalam situs web-nya. 

Kardinal John Henry Newman, pada abad ke-19, berkata bahwa orang-orang yang menyerang Gereja Katolik hanya mampu menunjukkan kasus Galileo, yang bagi banyak sejarawan tidaklah membuktikan adanya oposisi Gereja terhadap ilmu pengetahuan karena justru banyak rohaniwan Katolik pada masa itu yang didorong oleh Gereja untuk meneruskan penelitian mereka.

Saat ini, Gereja Katolik telah dikritik karena ajarannya bahwa penelitian sel induk embrio manusia (embryonic stem cell research) merupakan suatu bentuk dari eksperimentasi pada manusia, dan mengakibatkan pembunuhan seorang manusia, dengan alasan bahwa ajaran ini menghalangi penelitian ilmiah. 

Gereja Katolik sebaliknya berpendapat bahwa kemajuan dalam ilmu pengobatan dapat terjadi tanpa perlu ada penghancuran manusia (yang masih dalam tahap kehidupan embrio); misalnya, dengan menggunakan sel induk dewasa (adult stem cell) atau sel induk tali pusat (umbilical stem cell) sebagai ganti sel induk embrio.

Gereja, seni, dan karya sastra

Beberapa ahli sejarah menilai Gereja Katolik berjasa atas kegemilangan dan keagungan seni Barat. Mereka mengacu pada perlawanan gereja terhadap ikonoklasme (suatu gerakan yang menentang penggambaran visual dari yang ilahi), kegigihan Gereja dalam membangun gedung-gedung yang mendukung peribadatan, kutipan ayat Alkitab oleh Agustinus dari Hippo - dari Kitab Kebijaksanaan 11:20 (Allah "menyuruh segala sesuatu diukur, dihitung, dan ditimbang") yang menuntun kepada konstruksi-konstruksi geometris dari arsitektur Gothik, sistem-sistem ilmiah yang koheren dari kaum Skolastik yang disebut Summa Theologiae yang memengaruhi tulisan-tulisan yang konsisten secara ilmiah dari Dante Alighieri, teologi penciptaan dan sakramental Gereja yang telah mengembangkan suatu imajinasi Katolik yang memengaruhi para penulis seperti J. R. R. Tolkien, C.S. Lewis, dan William Shakespeare, dan akhirnya, perlindungan yang diberikan para paus pada masa Renaissance bagi karya-karya agung para seniman Katolik seperti Michelangelo, Raphael, Bernini, Borromini, dan Leonardo da Vinci.

Gereja dan perkembangan ekonomi

Francisco de Vitoria, seorang murid dari Thomas Aquinas dan seorang pemikir Katolik yang mempelajari hal-hal seputar hak-hak asasi manusia dari rakyat pribumi jajahan, diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai seorang Bapak hukum internasional, dan kini juga diakui oleh para ahli sejarah ekonomi dan demokrasi sebagai cahaya terdepan bagi demokrasi Barat dan percepatan ekonomi.

Joseph Schumpeter, seorang ahli ekonomi dari abad ke-20, menunjuk pada kaum skolastik, ketika menulis bahwa, "merekalah yang paling layak lebih dari kelompok manapun juga untuk disebut sebagai ‘pendiri’ ilmu ekonomi yang ilmiah."

Ahli-ahli ekonomi dan sejarah lainnya, seperti Raymond de Roover, Marjorie Grice-Hutchinson, dan Alejandro Chafuen, juga telah mengeluarkan pernyataan serupa. 

Sejarawan Paul Legutko dari Universitas Stanford mengatakan bahwa Gereja Katolik "berada pada pusat perkembangan nilai-nilai, gagasan-gagasan, ilmu pengetahuan, hukum, dan lembaga-lembaga yang membentuk apa yang kita sebut peradaban Barat."

Keadilan sosial, keperawatan, dan sistem rumah sakit


Ahli sejarah rumah sakit, Guenter Risse, berujar bahwa Gereja Katolik mempelopori perkembangan suatu sistem rumah sakit yang ditujukan bagi kaum tersisih.

Menurut ahli sejarah rumah sakit, Guenter Risse, Gereja Katolik telah memberi sumbangsih bagi masyarakat melalui doktrin sosialnya (ajaran sosial Gereja) yang telah menuntun para pemimpin untuk mempromosikan keadilan sosial dan dengan membentuk sistem rumah sakit di Eropa abad pertengahan, yakni suatu sistem yang berbeda dengan keramah-tamahan dari masyarakat Yunani dan kewajiban-kewajiban berasaskan keluarga dari masyarakat Romawi. 

Rumah-rumah sakit tersebut didirikan untuk menyediakan pelayanan bagi kelompok masyarakat tertentu yang tersisihkan akibat kemiskinan, penyakit, dan usia lanjut."[90]

James Joseph Walsh menulis tentang kontribusi Gereja Katolik bagi sistem rumah sakit, sebagai berikut:

Selama abad ke-13 sejumlah besar rumah-rumah sakit [ini] didirikan. Kota-kota Italia merupakan pemimpin-pemimpin dari gerakan itu. Milan memiliki tidak kurang dari selusin rumah sakit dan Florence sebelum akhir abad ke-14 memiliki sekitar 30 rumah sakit. Beberapa diantaranya merupakan bangunan-bangunan yang sangat indah. 

Di Milan sebagian dari bangunan rumah sakit umum dirancang oleh Donato Bramante dan sebagiannya lagi dirancang oleh Michelangelo. Rumah sakit kaum tak berdosa di Florence untuk menampung anak-anak terlantar merupakan sebuah permata arsitektur. 

Rumah sakit di Sienna, yang didirikan sebagai penghormatan kepada Santa Katarina dari Siena, sejak semula sudah tersohor. Di seluruh Eropa gerakan rumah sakit ini menyebar di mana-mana. 

Virchow, Pathologis besar dari Jerman, dalam sebuah artikel mengenai rumah-rumah sakit, menunjukkan bahwa tiap kota di Jerman yang berpenduduk 5000 jiwa memiliki rumah sakit. Ia menelusuri gerakan rumah sakit ini sampai kepada Paus Innosentius III, dan meskipun bukan seorang pendukung kepausan, 

Virchow tanpa ragu-ragu memberikan pujian tertinggi bagi Paus tersebut untuk segala sesuatu yang telah dilakukannya demi kebaikan anak-anak dan umat manusia yang menderita.

Keindahan dan efisiensi rumah-rumah sakit Italia bahkan mengilhami sebagian orang yang justru mengkritik Gereja Katolik. 

Sejarawan Jerman Ludwig von Pastor mengutip kembali kata-kata Martin Luther yang, tatkala melakukan perjalanan ke Roma saat musim dingin tahun 1510-1511, berkesempatan mengunjungi beberapa dari rumah-rumah sakit tersebut:

Di Italia, menurutnya, rumah-rumah sakit didirikan dengan megah, dan sungguh mengagumkan bahwa rumah-rumah sakit itu diperlengkapi dengan makanan dan minuman yang sangat baik, perhatian yang saksama dan tabib-tabib yang terpelajar. Tempat-tempat tidur dan perlengkapan tempat tidurnya bersih, dan dinding-dinding ditutupi dengan lukisan-lukisan. 

Bilamana seorang pasien dibawa masuk, pakaian-pakaiannya dilepaskan di hadapan seorang notaris yang menginventarisirnya dengan cermat, kemudian pakaian-pakaian itu disimpan dengan aman. Sehelai smock (jubah pasien) putih dikenakan padanya dan ia dibaringkan di atas sebuah dipan yang nyaman, dialasi linen yang bersih. Ada dua orang dokter yang mendatanginya, dan para pelayan membawakannya makanan dan minuman dalam gelas-gelas yang bersih, yang memperlihatkan padanya segala perhatian yang dapat diberikan.

Gereja Katolik sebagai opus proprium, sebut Benediktus XVI dalam Deus Caritas Est, telah melaksanakan selama berabad-abad sejak awal mulanya dan terus melaksanakan berbagai pelayanan kasih — antara lain, rumah-rumah-sakit, sekolah-sekolah, dan program-program pemberantasan kemiskinan.

(Sumber: Wikipedia).