Tampilkan postingan dengan label *Tipologi*. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *Tipologi*. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Januari 2020

20.32 -

Persahabatan sejati



Apa yang menyebabkan terjadinya persahabatan yang dinamis antara anak Saul dengan anak Isai? Meskipun sebenarnya ada jurang sosial di antara mereka (Daud hanyalah seorang gembala dan Yonatan seorang pangeran). 


Keduanya adalah orang yang berkenan kepada Allah, hatinya melekat dengan Allah. Masing-masing memiliki hubungan yang dinamis dengan Allah. Dan ketika jiwa mereka berpadu menjadi satu, maka ikatan hubungan yang terjadi bukanlah sekedar ikatan hubungan antar manusia saja. Hubungan tersebut juga melibatkan Allah sebagai pusat


Mereka mengenal Allah secara pribadi dan mengerti akan kebesaran-Nya, memiliki pemahaman yang jelas akan kasih Allah dan janji-Nya kepada bangsa Israel. Keduanya mengerti tanpa keraguan sedikitpun, bahwa mereka berperang dalam peperangan Allah, bukan peperangan mereka sendiri. Karena dengan kekuatan mereka sendiri, sama sekali tidak akan ada kemungkinan untuk menang. 

Allah menciptakan kita sebagai makhluk sosial, dan tanpa teman, berarti cawan kehidupan kita hanya setengah terisi. 

Hubungan antara Daud dan Yonatan merupakan nubuatan. Di dalam Kristus, saudara-saudari Kristen memiliki potensi untuk menjalin persahabatan sejati dan langgeng yang tidak pernah ada bandingannya di muka bumi ini. 

Benar, semua manusia dapat mengalami "persahabatan" karena kita diciptakan sesuai dengan gambar Allah. Namun, hanya orang Kristenlah yang mempunyai potensi untuk memiliki kualitas persahabatan yang sama dengan yang terjadi antara Daud dan Yonatan. 

Alasannya ialah karena persahabatan ini berpusat pada Allah dan manusia. Dan di dalam Kristus, kita dapat mengalami komitmen (janji) yang sama mendalamnya satu terhadap yang lain. 

PL: Hubungan Daud dengan Yonatan PB: Hubungan di dalam Tubuh Kristus 

PL: [1 Sam 18:1] Ketika Daud habis berbicara dengan Saul, berpadulah jiwa Yonatan dengan jiwa Daud; dan Yonatan mengasihi dia seperti jiwanya sendiri. 

PB: [Rm 12:10] Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. 

PL: Yonatan adalah seorang penengah yang setia (1 Sam 19:4-7). Ia mengagumi Daud, melayani dan berbuat segala yang ia mampu untuk menolong Daud membangun kembali hubungannya dengan Saul (1 Sam 20:4). 

PB: [Rm 12:10] Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. [Gal 5:13] Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. [1 Kor 12:26] Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. 

PL: Yonatan tetap setia kepada Daud dengan tidak mempedulikan nasibnya sendiri. Hidupnya dalam bencana ketika ia mencoba membela Daud (1 Sam 20:30-31). 

PB: [1 Yoh 3:16] Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. 


(Sumber: Warta KPI TL No. 177/I/2020 » Apakah anda merasa sebagai seorang yang gagal? Belajarlah dari Daud, Gene A. Getz).

Senin, 26 Desember 2016

19.58 -

Tipologi

Sudah sejak zaman para Rasul (Bdk. 1Kor 10:6,11; Ibr 10:1; 1Ptr 3:21) dan juga dalam seluruh tradisi, kesatuan rencana ilahi dalam kedua Perjanjian itu dijelaskan oleh Gereja melalui tipologi

Penafsiran macam ini menemukan dalam karya Tuhan dalam Perjanjian Lama "Prabentuk" (tipologi) dari apa yang dilaksanakan Tuhan dalam kepenuhan waktu dalam pribadi Sabda-Nya yang menjadi manusia (KGK 128).

Jadi umat Kristen membaca Perjanjian Lama dalam terang Kristus yang telah wafat dan bangkit. Pembacaan tipologis ini menyingkapkan kekayaan Perjanjian Lama yang tidak terbatas. Tetapi tidak boleh dilupakan, bahwa Perjanjian Lama memiliki nilai wahyu tersendiri yang Tuhan kita sendiri telah nyatakan tentangnya (Bdk. Mrk 12:29-31). Selain itu Perjanjian Baru juga perlu dibaca dalam cahaya Perjanjian Lama. Katekese perdana Kristen selalu menggunakan Perjanjian Lama (Bdk. 1 Kor 5:6- 8; 10:1-11). Sesuai dengan sebuah semboyan lama Perjanjian Baru terselubung dalam Perjanjian Lama, sedangkan Perjanjian Lama tersingkap dalam Perjanjian Baru: "Novum in Vetere latet et in Novo Vetus patet" (Agustinus, Hept. 2,73) Bdk. DV 16.(KGK 129). 

Tipologi berarti adanya perkembangan rencana ilahi ke arah pemenuhannya, sampai akhirnya "Allah menjadi semua di dalam semua" (1 Kor 15:28). Umpamanya panggilan para bapa bangsa dan keluaran dari Mesir tidak kehilangan nilai sendiri dalam rencana Allah, karena mereka juga merupakan tahap-tahap sementara di dalam rencana itu (KGK 130).


Tipologi adalah studi mengenai gambaran/prototipe. Cara untuk menafsirkan pristiwa, pribadi, dan barang sebagai "tipe", yang menandakan "antitipe" PB yang memuat kepenuhan wahyu dan keselamatan.

Dalam pemikiran ini Adam dan Meklisedek adalah tipe-tipe bagi Kristus (Rm 5:14; Ibr 6:20 - 7:28).

Kisah pembebasan umat Allah dari Mesir melambangkan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh orang-orang Kristiani dan sakramen-sakramen yang mereka terima (1 Kor 10:1-11). Air bah menandakan baptisan (1 Ptr 3:20-21) dan manna di padang gurun melambangkan "roti kehidupan" (Yoh 6:48-51).

St. Irenius (130-200) dan kemudian sekolah Aleksandria amat senang dengan cara mengartikan Kitab Suci seperti ini, dan kemudian Origenes (185-254) mengembangkannya ke arah penafsiran alegoris.

Di Barat penafsiran tipologis dipakai oleh St. Ambrosius (339-397) dan kemudian oleh St. Agustinus dari Hippo (354-430) dan diteruskan sampai abad pertengahan.

Alegori adalah berbicara dengan samaran sesuatu yang lain, penafsiran atau pengartian atas semua unsur yang terdapat dalam kisah, satu demi satu, dan lebih jauh daripada yang dimaksudkan oleh kisah itu sendiri.

Penafsiran ini dilakukan untuk menemukan hubungan yang lebih dalam dan lebih jauh dengan kenyataan (misalnya: alegori mengenai anggur dalam Yes 5:1-7; Mzm 80:9-17).

Dalam beberapa teks, St. Paulus mengikuti tafsir Yahudi yang lazim pada zamannya dengan menafsirkan PL secara alegoris (misalnya: Gal 4:21-31).

Berbeda kalau dibandingkan dengan para penulis Antiokhia, Origenes (185-254) dan sekolah Aleksandria seringkali lebih memilih makna alegoris daripada makna literal dari kisah-kisah PL. Seperti halnya Bapa-bapa Gereja Latin yang lain, St. Agustinus (354-430) menerima baik makna literal maupun alegoris.

(Sumber: Kamus Teologi, Gerald O'Collins, SJ; Edward G. Farrugia SJ).


Minggu, 18 Desember 2016

00.53 -

Tipologi » Adven - Natal

Yusuf anak Yakub ~ Yusuf ayah Yesus

Kisah Yusuf Perjanjian Baru (suami Maria) yang menerima wahyu dalam mimpi dan pergi ke Mesir, menggemakan kembali Yusuf Perjanjian Lama (anak Yakub) yang mengartikan mimpi dan pergi ke Mesir.

Yusuf Perjanjian Lama menyelamatkan Israel atau keturunan Yakub (Kej 45:5; 59:20), sedangkan Yusuf Perjanjian Baru menyelamatkan Yesus, Israel Baru.

Musa ~ Yesus

Kisah Yusuf Perjanjian Baru menggemakan kembali kisah Musa yang luput dari pembunuhan anak-anak lelaki oleh Firaun dan kembali setelah mereka yang hendak membunuhnya mati (Kel 2:1-10; 4:19).

Yusuf Perjanjian Baru meluputkan kanak-kanak Yesus dari pembunuhan oleh raja Herodes dan membawa kembali ke Palestina setelah mereka yang hendak membunuhnya mati.

Matius menunjukkan bahwa Yesus adalah Musa baru yang membawa pembebasan. Paralelisme Yesus dan Musa berlanjut pada pengganti Musa yang menyelesaikan karyanya dengan membawa kembali bangsa terpilih ke tanah terjanji, juga dinamai Yesus (Yosua).

Yesus berarti "keselamatan dari Tuhan". Baik Musa maupun Yesus adalah "penyelamat umat" mereka.

Matius menunjukkan bahwa cakupan nama Yesus lebih luas daripada Musa. Musa menyelamatkan hanya bangsa Ibrani dari perbudakan mereka di Mesir. Sedangkan Yesus menyelamatkan segala bangsa (Mat 28:19), bukan dari perbudakan Mesir tetapi dari perbudakan dosa.

Bileam ~ Orang-orang Majus

Istilah "orang-orang majus" pada masa Perjanjian Baru mempunyai cakupan makna yang luas, misalnya kaum astronom (peramal nasib berdasarkan bintang), peramal-peramal nasib, imam-imam peramal dan dukun-dukun.

Orang-orang Majus dalam Injil ini hendak dibandingkan oleh Matius dengan Bileam dari Perjanjian Lama, yaitu seorang peramal gaib yang dikisahkan dalam Bil 22-24. Dengan menggunakan analogi dari kisah orang Majus dan kisah Bileam, Matius hendak menyampaikan pesan Injilnya.

Jadi, kisah orang-orang Majus bukanlah tambahan atau bumbu yang tidak penting, tetapi justru menampilkan kabar gembira secara mini.

Untuk mengerti pesan utama Matius, baiklah kita membanding tokoh-tokoh dari kedua kisah di atas.

Tokoh utama Matius ialah orang-orang Majus, yang dibandingkan dengan Bileam. Kemiripan tokoh utama ini ialah mereka mendapatkan warta tentang akan lahirnya Raja yang memerintah banyak bangsa.

Penglihatan Bileam dilukiskan dalam Bil 24:7-17 yang merujuk pada munculnya kerajaan Daud, sedangkan penglihatan orang-orang Majus dikisahkan dalam Mat 2:2 yang merujuk pada Yesus Sang Mesias.

Sebagaimana Bileam telah melihat terbitnya bintang Daud, juga orang-orang Majus dalam Injil Matius telah melihat bintang dari Raja orang Yahudi pada saat terbitnya.

Raja Herodes ~ Balak

Pribadi raja Herodes dalam Matius dibandingkan dengan Balak, raja Moab. Keduanya berusaha menghancurkan pemimpin yang diramalkan.

Dengan menggunakan perbandingan di atas, Matius menggambarkan bagaimana kabar gembira disampaikan kepada orang Yahudi dan orang bukan Yahudi, kemudian dilanjutkan dengan dua macam tanggapan, yaitu menerima atau menolak.

Seperti kita ketahui, orang-orang Majus mewakili orang bukan-Yahudi, yaitu orang tidak pernah mendapatkan wahyu yang begitu jelas seperti orang Yahudi., tetapi mendapatkan wahyu melalui alam semesta (Rm 1:19-20;.2:14-15).

Dalam hal ini, bintang yang mereka lihat melalui astrologi itulah pewahyuan yang tidak sempurna. Pewahyuan yang sempurna menyingkapkan wahyu yang tidak sempurna, seperti dikatakan dalam Kitab Suci (Mat 2:2-6).

Reaksi orang bukan Yahudi ini ialah percaya dan datang menyembah, sedangkan orang Yahudi yang memiliki wahyu sempurna itu justru menolak untuk datang dan menyembah Raja yang baru lahir.

Di lain pihak, berhadapan dengan kabar gembira tentang kelahiran Sang Mesias, terjadi persekongkolan antara penguasa duniawi, imam-imam kepala dan para ahli Taurat, yaitu untuk menolak Yesus.

Hal yang sama akan terulang ketika Yesus memberitakan kabar keselamatan, yaitu bahwa Allah telah menghadirkan diri-Nya di tengah kita (Immanuel), yaitu dalam pribadi Yesus, Putra-Nya.

Dalam arti ini bisa dikatakan bahwa kisah masa kanak-kanak Yesus menurut Matius tidak hanya mewartakan kelahiran Yesus, tetapi juga menyajikan kisah Injil dalam bentuk mini.

Orang-orang Majus mewakili orang-orang yang mempunyai mata untuk melihat, yang tekun mencari Tuhan, dan kemudian sesudah mendapatkan petunjuk, datang dan menyembah Yesus yang bangkit.

Dalam Injil Matius tidak ada kisah tentang gembala, karena perwakilan itu sudah ditempati oleh orang-orang Majus.

Masing-masing kelompok dituntun oleh wahyu ilahi untuk datang ke Betlehem: orang Majus oleh bintang, para gembala oleh malaikat.

Sesudah menemukan anak itu dengan orang tua-Nya, para Majus memberi hormat dan hadiah, sedangkan para gembala memuji Allah. Kemudia mereka kembali ke tempat asal mereka masing-masing.

(Sumber: Dari Adven sampai Natal, Dr. Petrus Maria Handoko, CM).




Jumat, 04 Maret 2016

02.43 -

Kita [Kej 1:26] ~ Allah Tritunggal

Dalam kisah penciptaan dunia dalam Kitab Kejadian, Nabi Musa menggunakan kata “Kita” sebagai kata ganti Allah. 

“Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita….” (Kej 1:26).

Penggunaan kata “Kita” di ayat ini menimbulkan pertanyaan, dan yang paling umum ditanyakan adalah apakah ini mengacu kepada banyak Allah? Tentu tidak, sebab kita semua mengetahui bahwa Nabi Musa yang sama, di ayat-ayat lainnya dalam kitab-kitab yang ditulisnya, mengajarkan bahwa hanya ada satu Allah, dan tidak ada allah yang lain (Kel 20:3; Ul 5:7; 6:4; lih. Kel 32). 

Juga berkali-kali Musa menuliskan bahwa Allah berkata, “Akulah, Tuhan, (bukan Kami-lah Tuhan”… ” (Kel 6:6-7; Im 11:45;19:34,36;22:33;25:38;26:13, dst). Maka, bagaimana mengartikan ayat Kej 1:26-27 ini?

Sejumlah orang memperkirakan bahwa perkataan “Kita/we” di sini adalah kata ganti yang umum dipakai untuk menjadi kata ganti orang pertama/orang yang bicara, pada pembicaraan resmi, seperti di hadapan raja - seperti halnya yang juga ada pada gaya bahasa resmi dalam bahasa Indonesia sekarang. 

Namun nyatanya, kita tidak menemukan bukti tentang hal ini pada tulisan-tulisan yang se-zaman dengan kitab Pentateuch/ kitab-kitab Musa tersebut.[1] Oleh karena itu, pandangan macam ini tidak didukung oleh bukti yang kuat.

Ada sejumlah orang yang lain, yang mengambil interpretasi Yahudi, yang percaya bahwa pada ayat-ayat tersebut (Kej 1:26-27), Allah berbicara dengan para malaikat-Nya, yang sudah diciptakan-Nya sebelum menciptakan manusia. 

Namun pandangan ini tidak masuk akal, karena jika demikian, maka malaikat juga ikut serta menciptakan manusia. 

Padahal di ayat-ayat Kitab Suci yang lain, dikatakan bahwa hanya ada satu Allah yang menciptakan langit dan bumi/alam semesta dan segala isinya (Kej 1:1; 14:22; Mzm 8:4; 1 Kor 8:4,6; 2 Mak 7:28). Maka, paham ini tidak sesuai dengan ayat-ayat lainnya dalam Kitab Suci.

Maka yang paling masuk akal adalah pandangan berikut ini. Adalah suatu fakta, bahwa dalam Kitab Suci, kata Elohim, yaitu kata benda plural/jamak yang mengacu kepada sebutan Allah, dituliskan sebanyak sekitar 2500 kali, yang diikuti dengan kata kerja maupun kata sifat yang sifatnya singular/ tunggal. 

Fakta ini mengakibatkan ada banyak ahli Kitab Suci mengatakan bahwa hal ini menunjukkan adanya penggambaran ‘uniplurality’ dalam diri Allah. Hal ini tentu bukan kebetulan ataupun ketidaksengajaan, sebab diulangi sampai ribuan kali. 

Bahwa dalam kitab-kitab Perjanjian Lama, artinya belum sepenuhnya dinyatakan, namun dalam Perjanjian Baru, Allah kemudian menyingkapkan maksudnya. Yaitu bahwa penggambaran ini mengacu kepada adanya Tiga Pribadi dalam diri Allah yang Satu, yang kemudian dikenal dengan “Trinitas” atau “Allah Tritunggal”. 

Pewahyuan ini secara bertahap disingkapkan oleh Kristus Sang Putera Allah, sebagaimana disampaikan oleh para Rasul-Nya. 

Injil Yohanes menyatakan hal ini dalam Yoh 1:1-14, dengan mengatakan bahwa: 1) pada mulanya adalah Firman, Firman itu ada bersama Allah, dan Firman itu adalah Allah; 2) oleh Firman segala sesuatu dijadikan/diciptakan; 3) Dan Firman itu kemudian menjelma menjadi manusia dalam diri Kristus

Maka Yoh 1:1-14 ini menjelaskan dan menggenapi makna ayat-ayat tentang penciptaan yang telah dituliskan oleh Nabi Musa dalam kitab Kejadian, yang memang menyebutkan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu melalui firman-Nya. Sebab dikatakan di sana, “Berfirmanlah Allah, ….” (Kej 1:3,6,11,14,20,24,26,29). 

Demikian pula, dengan disebutkannya bahwa “Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air” (Kej 1:2) di awal mula penciptaan dunia, ini merupakan gambaran samar-samar akan penggenapannya di dalam Perjanjian Baru, yaitu saat kita diciptakan secara baru di dalam Kristus saat Pembaptisan, yaitu saat kita dilahirkan kembali dalam air dan Roh (Yoh 3:5).

Ajaran menginterpretasikan Kitab Suci dengan melihat hubungan tipologi antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, diajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri (Luk 24:13-35). 

Demikianlah pula, para penerus Rasul mengajarkannya kepada kita, bahwa ayat Kej 1:26-27 tersebut adalah ayat-ayat yang menggambarkan tentang Allah Trinitas. 

Demikianlah ajaran mereka:

1. St. Barnabas (74):

“Sebab Kitab Suci berbicara tentang kita, ketika Ia [Allah] berkata kepada Putera-Nya, “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita” (Lih. St. Barnabas, Epistle of Barnabas, Ch. VI). Di abad ke-1 ini, St. Barnabas telah mengajarkan bahwa kita manusia, diciptakan menurut gambar dan rupa Allah; sebagaimana yang dikatakan oleh Allah kepada Putera-Nya.

2. St. Yustinus Martir (150):

Berbicara kepada para teolog Yahudi, St. Yustinus mengatakan bahwa perkataan, “Baiklah Kita menjadikan…” kita dapat dengan tiada ragu mengetahui bahwa Allah bercakap dengan Seseorang Pribadi yang lain… Dan Allah mengatakan, “Berfirmanlah TUHAN Allah: “Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita… (Kej 3:22), Musa menyatakan bahwa terdapat sejumlah Pribadi yang saling berhubungan, bahwa minimal ada dua Pribadi…. [Pribadi ini] lahir dari Bapa, dan telah ada bersama dengan Bapa sebelum segala ciptaan lain-Nya, dan Bapa bersekutu dengan-Nya sebagaimana dikatakan dengan jelas dalam Kitab Suci oleh Salomo, bahwa Ia yang disebutkan Salomo sebagai Kebijaksanaan, telah lahir sejak awal mula sebelum semua ciptaan-Nya…” (St. Justin Martyr, Dialogue with Trypho, a Jew: Ch. LXII)

3. St. Irenaeus (180):

“Maka bukan para malaikat, yang menciptakan kita, ataupun membentuk kita, juga para malaikat tidak mempunyai kuasa untuk membuat/mencipta sebuah gambar rupa Allah. Tidak seorangpun, tidak ada kuasa apapun yang terpisah dari Bapa segala sesuatu, selain daripada Sang Firman Allah [yang mencipta]. Sebab Allah tidak memerlukan para malaikat ini, untuk menyelesaikan apa yang telah ditentukan-Nya sejak semula, seolah Ia tidak memiliki tangan-Nya sendiri. Sebab pada-Nya selalu hadir Sang Firman dan Kebijaksanaan, Sang Putera dan Roh Kudus, yang dengan Keduanya dan di dalam Keduanya.. Ia [Allah] menciptakan segala sesuatu; yang kepada Keduanya Ia berkata, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita.” (Kej 1:26) (St. Irenaeus, Against Heresies, 4:20:1).

4. Tertullian (200)

Tertullian mengatakan bahwa pemilihan kata jamak “Kita” pada Kej 1:26, mempunyai maksud menggambarkan adanya pluralitas dalam ketunggalan Allah, sebab tidak mungkin Allah bermaksud menipu ataupun membuat kita bingung, jika sebenarnya Ia hanya punya Pribadi yang Tunggal. Juga bukan maksud Allah mengatakan bahwa Ia sedang berbicara kepada para malaikat, seperti yang diinterpretasikan oleh orang-orang Yahudi, sebab mereka tidak mengenali Sang Putera Allah.

– Sebab Allah telah mempunyai Putera-Nya di samping-Nya, dan Pribadi ke-tiga juga…, sehingga Ia dengan sengaja mengambil kata jamak, “Biarlah Kita menjadikan…” “menurut rupa Kita”; “dan menjadi salah satu dari Kita.” (Tertullian, Against Praxeas, Ch. XII.)

– “Maka sebab ia [manusia] adalah gambaran Penciptanya (sebab Ia, ketika melihat kepada Kristus Sang Firman-Nya, yang akan menjadi manusia, bersabda, “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambaran dan rupa Kita”), bagaimana mungkin saya mempunyai kepala lain selain Dia yang menurut gambaran-Nya saya diciptakan? Sebab kalau saya adalah gambaran Pencipta, maka tidak ada ruang dalam diriku bagi kepala yang lain” (Tertullian, Book V, Elucidations, Ch VIII.)

5. Origen (w 254):

“Adalah kepada Dia [Kristus] Allah berkata mengenai penciptaan manusia, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita.” (Origen, Against Celsus, Book V, Ch. XXXVII)

6. Novatian (w 258):

“Sebab siapa yang tidak mengenali bahwa Pribadi Sang Putera adalah Pribadi yang kedua setelah Bapa, ketika ia membaca apa yang dikatakan oleh Bapa kepada Sang Putera, “Baiklah Kita membuat manusia menurut gambar dan rupa Kita;” dan setelah ini, maka hubungannya adalah, “Dan Allah menciptakan manusia, dan Allah menciptakannya menurut gambar-Nya?” (Novatian, A Treatise Concerning the Trinity, Ch XXVI.)

Tulisan-tulisan ini merupakan beberapa bukti dari ajaran Bapa Gereja sebelum abad ke-4, yang menunjukkan bahwa Gereja sejak awal mengartikan Kej 1:26 sebagai salah satu ayat yang mengajarkan tentang Allah Trinitas dalam kitab Perjanjian Lama. 

Maka ajaran tentang Trinitas itu sudah menjadi keyakinan Gereja sejak zaman para Rasul, dan bukan baru diyakini di abad ke-4 sebagaimana disangka oleh sejumlah orang. 

Bahwa ajaran itu baru dirumuskan pada Konsili Nicea (325) yang kemudian disempurnakan dalam Konsili Konstantinopel (381), itu disebabkan karena di abad tersebut berkembang ajaran sesat Arianisme yang menentang ajaran tentang Trinitas, sehingga Gereja merumuskan ajaran tentang Trinitas ini secara definitif, untuk meluruskan paham yang sesat ini.

Kesimpulannya, jika ditanya, mengapa Musa menggunakan kata “Kita” dalam Kej 1:26? Maka jawaban yang paling masuk akal adalah, karena Allah memang mewahyukannya demikian kepada Musa. Musa hanya menuliskannya dengan setia, suatu frasa yang mungkin belum sepenuhnya dipahami pada saat itu. 

Namun Allah sendiri kemudian menyatakan maksudnya dalam Perjanjian Baru. Yaitu setelah Ia sendiri mengutus Yesus Putera-Nya dan Roh Kudus-Nya yang menginspirasikan para penulis Injil dan surat-surat para Rasul lainnya, yang menjelaskan tentang adanya ketiga Pribadi Allah ini dalam ke-esaan Allah.

(Sumber: Mengapa Musa menggunakan kata “Kita” (Kej 1:26), katolisitas.org).


Selasa, 23 Februari 2016

23.43 -

Sunat ~ Pembaptisan

Ada pertanyaan yang menarik. Kalau Yesus disunat, mengapa kemudian sunat tidak menjadi keharusan bagi pengikut-Nya? 

Dari definisinya, sunat (circumcisio) mengacu kepada ‘pemotongan’, yaitu secara khusus pada pemotongan kulit penis. 

Jika kita mempelajari tulisan ahli sejarah Herodotus maka kita ketahui bahwa bukan hanya bangsa Yahudi saja yang mengenal tradisi sunat ini, melainkan juga bangsa Mesir, Kolkian dan Etiopian, dan kemudian kita ketahui bahwa tradisi ini menjadi bagian dari tradisi kaum muslim.

Namun bagi kita, umat Kristiani, kitapun perlu mengetahui makna “sunat” ini, agar kita semakin dapat menghayati iman kita:

1. Sunat dalam Perjanjian Lama

Dalam Perjanjian Lama (PL), kita mengetahui sunat pertama kali disyaratkan oleh Allah kepada Abraham sebagai tanda perjanjian antara Allah dengan Abraham dan keturunannya, sehingga sunat dilakukan terhadap semua anak laki-laki pada saat anak tersebut berusia 8 hari (lih. Kej 17:11-12). 

Tradisi sunat ini dilanjutkan di jaman Nabi Musa (lih. Im 12:3, Kel 12:48), Yoshua (Yos 5:2) dan tradisi ini dilaksanakan seterusnya sampai pada jaman Yudas Makabe (167-160 BC) meskipun di tengah tekanan para penguasa (lih. 2 Mak 6:10); dan sampai juga ke jaman Yesus Kristus. 

Alkitab mencatat bahwa ketika Yesus genap berumur 8 hari, Bunda Maria dan St. Yusuf membawa-Nya ke Bait Allah untuk disunat dan diberi nama Yesus (lih. Luk 2:21).

2. Makna Yesus disunat

Maka kita melihat dengan obyektif di sini bahwa Yesus disunat karena pengaruh tradisi Yahudi, sebab Ia dilahirkan sebagai seorang Yahudi. Ia dilahirkan oleh seorang perempuan, dilahirkan dari yang takluk kepada hukum Taurat, untuk membebaskan mereka yang takluk kepada hukum Taurat, sehingga kita dapat diangkat menjadi anak-anak Allah.

St. Thomas dalam ST, III, q.37, a. 1 menjabarkan bahwa dengan disunat, Kristus ingin membuktikan bahwa Dia sungguh-sungguh mempunyai kodrat manusia. 

Alasan kedua adalah untuk memberikan persetujuan bahwa tanda perjanjian yang diberikan oleh Allah dalam Perjanjian Lama adalah sah. 

Kristus sebagai keturunan Abraham – yang telah menerima perintah Tuhan bahwa sunat adalah tanda perjanjian dan ungkapan iman (lih. Kej 17:10) – juga disunat. karena 

- Kristus disunat, maka bangsa Yahudi tidak mempunyai alasan untuk tidak menerima Kristus. 

- Kristus juga menunjukkan bahwa ketaatan untuk menjalankan perintah Tuhan sesungguhnya sangatlah penting, sehingga Dia disunat pada hari ke-delapan (lih. Luk 2:21; bdk. Im 12:3) 

Dengan mengambil dan menjalankan sunat, maka Kristus dapat membebaskan manusia dari hukum ini dan memberikan hukum yang lebih sempurna (Gal 4:4-5) – yaitu sunat secara rohani. St. Athanasius dalam komentarnya tentang Luk 2:23, menuliskan hal ini dengan begitu indahnya, 

“Karena Anak Allah menjadi manusia, dan disunat di dalam daging, bukan untuk kepentingan diri-Nya sendiri, namun agar Dia dapat menjadikan kita [anak-anak] Allah melalui rahmat, dan agar kita dapat disunat secara rohani; dengan demikian, sekali lagi, untuk kepentingan kita Dia dipersembahkan kepada Allah, sehingga kita dapat belajar untuk mempersembahkan diri kita kepada Tuhan.”[1]

Sunat rohani, yang menandai kita menjadi anak-anak Allah melalui rahmat-Nya, terjadi pada saat Pembaptisan, di mana melaluinya kita “dilahirkan kembali dalam air dan Roh” (Yoh 3:5). 

Kelahiran kembali ini ditandai dengan “menanggalkan manusia lama berserta segala hawa nafsunya …dan mengenakan manusia baru di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” (Ef 4:22-24). 

Maka inilah makna “sunat” yang baru, yang tidak lagi berupa penanggalan/pemotongan kulit lahiriah, tetapi penanggalan hawa nafsu dan dosa dan mengenakan hidup yang baru di dalam Roh Kudus.

3. Yang ditekankan Yesus: sunat rohani

Jadi sebenarnya yang ingin ditekankan Yesus adalah dimensi spiritual dari “sunat” seperti yang sebelumnya telah diajarkan dalam PL, bahwa yang terlebih utama adalah sunat hati/rohani (Ul 10:16 dan 30:6, Yer 4:4, 9:25-26). 

Seperti juga Yesus mengajarkan bahwa yang terpenting bukan apa yang terlihat dari luar, tetapi yang ada di dalam hati; bukan menerapkan hukum supaya terlihat baik dari luar, namun agar kita melakukan keadilan, belas kasihan dan kesetiaan (lih. Mat 23:5, 23)

Maka Rasul Paulus mengajarkan:

“Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.” (Rom 2:29).

“Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati.” (Kol 2:12)

Maka di sini “sunat lahiriah” tidak menjadi hukum utama bagi seseorang untuk menjadi anggota bangsa pilihan Allah, tetapi “sunat rohaniah” yang adalah Pembaptisan berdasarkan iman akan Allah Tritunggal yang telah mengutus Yesus Kristus Putera-Nya untuk menyelamatkan manusia.

4. Para rasul mengikuti ajaran Yesus, juga mengajarkan sunat rohani

Para Rasul mengajarkan berdasarkan pengajaran Tuhan Yesus sendiri adalah: bahwa yang terpenting adalah sunat rohani, dan bukanlah sunat badani. 

Oleh sunat rohani, yaitu iman akan Yesus Kristus inilah, maka seseorang diselamatkan, dan bukan karena memenuhi hukum sunat lahiriah menurut hukum Taurat. Rasul Paulus mengajarkan:

“Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: “tidak ada seorangpun yang dibenarkan” oleh karena melakukan hukum Taurat.” (Gal 2:16)

5. Sunat menurut Bapa Gereja

Berikut ini beberapa kutipan ajaran Bapa Gereja abad-abad awal tentang sunat yang merupakan tanda akan penggenapannya dalam Baptisan, yang dilestarikan oleh Gereja Katolik:

1. St. Yustinus Martir (155)

“Karena itu, bejana pertobatan dan pengetahuan akan Tuhan ini yang ditetapkan karena pelanggaran umat Tuhan, sebagaimana diserukan oleh Nabi Yesaya, telah kita imani dan saksikan bahwa Baptisan yang diwartakan-Nya itulah saja yang dapat memurnikan orang-orang yang telah bertobat; dan ini adalah air kehidupan….. 

Sebab apakah gunanya baptisan itu [sunat] yang hanya membersihkan daging dan tubuh saja? Baptislah jiwa dari kemarahan dan dari dengki dan iri hati, dan dari kebencian; dan lihatlah! Tubuh menjadi murni…. Tapi kamu telah memahami segala sesuatunya secara jasmani, dan kamu pikir itu adalah kesalehan jika kamu berbuat demikian, sementara jiwamu dipenuhi dengan tipu daya dan singkatnya, dalam setiap kejahatan….” (Dialogue with Trypho, ch. 14).

“Dan Nabi Musa menyatakan bahwa Tuhan sendiri bersabda: “Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk…” (Ul 10:16, lih. Im 26:40-41). 

Sebab sunat jasmani sejak Nabi Abraham, diberikan sebagai sebuah tanda; bahwa kamu dipisahkan dari bangsa-bangsa lain, dan dari kami; dan bahwa kamu sendiri dapat menderita menanggung apa yang sekarang secara adil kamu tanggung … dan bahwa tak seorangpun dari kamu dapat pergi ke Yerusalem…. * Semua ini terjadi atasmu dengan setimpal dan adil, sebab kamu telah menganiaya Sang Keadilan, dan para nabi-Nya sebelumnya; dan sekarang kamu menolak mereka yang berharap kepada-Nya dan di dalam Dia yang mengutus-Nya – yaitu Tuhan yang Mahabesar Pencipta segala sesuatu - dengan mengutuk di dalam sinagoga-sinagoga, mereka yang percaya kepada Kristus. Sebab kamu tidak punya kuasa untuk melukai kami … (Dialogue with Trypho, ch. 16).

Catatan *: Lihat Apology, I, 47. Orang-orang Yahudi -menurut Hadrian’s edict, dengan hukum melarang orang-orang Yahudi untuk memasuki Yerusalem, dengan ancaman hukuman mati. St. Yustinus melihat dalam hal sunat, hukuman bagi mereka sendiri.

“Maka basuhlah, dan menjadi bersihlah dan jauhkan segala kejahatan dari jiwamu, sebagaimana Tuhan menghendaki kamu dibasuh dalam bejana ini, dan disunatlah dengan sunat yang sejati. Sebab kami juga akan melakukan sunat jasmani dan Sabat, dan semua perayaan-perayaan, kalau seandainya kami tidak tahu alasan mangapa hal-hal itu diajarkan kepada kamu, yaitu karena pelanggaranmu dan ketegaran hatimu. Sebab jika kami dengan sabar menanggung semua hal yang dirancangkan terhadap kami oleh mereka yang jahat…, supaya bahkan di tengah-tengah kekejaman yang tak terkatakan, kematian dan penganiayaan, kami berdoa untuk belas kasihan kepada mereka yang menganiaya kami ... mengapakah Trypho, bahwa kami tidak akan melakukan ritus-ritus itu yang tidak mencelakakan kami – yang kumaksud tentang sunat, Sabat dan berbagai perayaan Yahudi? (Dialogue with Trypho, ch. 18).

“Bahkan kamu yang disunat menurut daging, membutuhkan sunat kami [menurut rohani]; tetapi kami, yang telah memiliki hal yang kedua [sunat rohani], tidak membutuhkan hal yang pertama [sunat jasmani]. Sebab jika itu keharusan, seperti anggapanmu, Tuhan tak akan menciptakan Adam tidak disunat. Ia tak mungkin menghormati persembahan Habel yang tidak disunat saat mempersembahkan kurban, dan tak mungkin berkenan kepada Henokh yang tidak disunat… Lot yang tidak disunat diselamatkan dari Sodom dan Gomora…. Nuh, permulaan suku kita, meskipun tidak disunat, masuk ke dalam bahtera. Melkisedek, imam dari Yang Mahatinggi, tidak disunat… Maka untuk kamu sendiri sunat diperlukan; supaya bangsa tersebut menjadi bukan bangsa apapun; sebagaimana dikatakan oleh Nabi Hosea…. (Dialogue with Trypho, ch. 19).

2. Tertullian (160-220)

“Biarlah ia yang berusaha keras mempertahankan bahwa Sabat tetap harus dilakukan sebagai obat keselamatan dan sunat di hari kedelapan…. mengajarkan kita bahwa pada masa lalu, orang-orang benar melakukan hari Sabat dan sunat, dan karena itu mereka disebut ‘para sahabat Allah’. Sebab jika sunat memurnikan manusia, karena Tuhan menciptakan Adam tidak disunat, mengapa Ia tidak menyunatkan dia bahkan setelah ia berdosa, jika sunat itu memurnikan? … Maka, karena Tuhan pada mulanya menciptakan Adam tidak bersunat dan tidak melakukan Sabat, konsekuensinya keturunannya, Habel mempersembahkan kurban, yang tidak bersunat dan tidak melakukan Sabat, dipuji oleh-Nya (Kej 4:1-7, Ibr 11:4). Nuh juga tidak bersunat- ya, dan tidak melakukan Sabat- Tuhan membebaskan dari air bah. Sebab Henokh juga, orang yang paling benar, tidak bersunat dan tidak melakukan Sabat, ia diangkat dari dunia ini, yang pertama tidak mengalami kematian sehingga, menjadi kandidat bagi kehidupan kekal, ia menunjukkan kepada kita bahwa kita juga dapat, tanpa menanggung beban hukum Musa, menyenangkan Tuhan” (An Answer to the Jews, 2 [A.D. 203]).

3. Eusebius dari Kaisarea (260-339)

“Mereka [para orang kudus pertama di Perjanjian Lama] tidak memperhatikan sunat jasmani, demikian juga kita [orang-orang Kristen]. Mereka tidak melakukan Sabat, demikian juga kita. Mereka juga tidak menghindari jenis-jenis makanan tertentu, maupun pembedaan-pembedaan lain yang dikeluarkan oleh Musa kepada keturunannya untuk dilakukan sebagai simbol-simbol; demikian juga umat Kristen di zaman ini melakukan hal-hal itu” (Church History 1:4:8 [A.D. 312]).

4. St. Yohanes Krisostomus (347-407)

“Ritus sunat dulu sangat dihormati menurut adat Yahudi …. Ini dipandang sebagai lebih mulia dari Sabat, sebagai yang tidak dihapuskan pada waktu tertentu. Ketika kemudian ini [sunat] tidak dilakukan lagi, terlebih lagi [tidak dilakukan] adalah hukum Sabat.” (Homilies on Philippians 10 [A.D. 402]).

5. St. Agustinus (354-430)

“Apakah ada di dalam ke sepuluh perintah Allah, selain penerapan hari Sabat, yang tidak harus ditaati oleh seorang Kristen…. Yang mana dari perintah-perintah ini [sepuluh perintah Allah], yang dikatakan orang bahwa umat Kristen tak harus melakukannya? Adalah mungkin untuk menegaskan bahwa bukanlah hukum yang tertulis di kedua loh batu yang dijabarkan oleh Rasul [Paulus] sebagai ‘hukum yang tertulis mematikan’ (2Kor 3:6), tetapi hukum sunat dan ritus-ritus sakral lainnya yang kini dihapuskan” (The Spirit and the Letter 24 [A.D. 412]).

6. Paus Gregorius I (540-604)

“Telah sampai ke telingaku bahwa orang-orang tertentu dengan semangat yang menyimpang telah menabur di antara kamu sesuatu yang salah dan bertentangan dengan iman yang kudus, sehingga melarang pekerjaan apapun yang dilakukan pada hari Sabat. Adakah yang lain yang dapat kukatakan selain menyebut orang-orang ini sebagai pengkhotbah Antikristus, yang ketika ia datang akan menyebabkan hari Sabat seperti hari Tuhan, untuk dijadikan hari yang bebas dari semua pekerjaan…. Sebab inilah yang dikatakan nabi, “Apabila kamu sungguh-sungguh mendengarkan Aku, demikianlah firman TUHAN, dan tidak membawa masuk barang-barang melalui pintu-pintu gerbang kota ini pada hari Sabat, tetapi menguduskan hari Sabat dan tidak melakukan sesuatu pekerjaan pada hari itu…” (Yer 17:24) dapat dipegang sepanjang itu sesuai dengan hukum untuk dilakukan menurut hukum yang tertulis. Tetapi setelah rahmat Tuhan yang Mahakuasa itu, Tuhan kita Yesus Kristus, telah muncul, perintah-perintah hukum yang telah dikatakan secara figuratif tidak dapat dilaksanakan menurut hukum yang tertulis. Sebab siapapun yang mengatakan bahwa ini adalah tentang Sabat yang harus dilaksanakan, ia harus perlu juga mengatakan bahwa kurban-kurban jasmani [kurban hewan-hewan] harus dipersembahkan. Ia harus juga mengatakan bahwa perintah tentang sunat jasmani adalah untuk dipertahankan. Tetapi biarlah ia mendengar apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus yang berkata menentang dia: “…jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu” (Gal 5:2).

5. Apakah yang diajarkan oleh Gereja Katolik?

Gereja Katolik, berpegang kepada Kitab Suci, mengajarkan bahwa hukum sunat jasmani dalam Perjanjian Lama merupakan tanda dan persiapan bagi penggenapannya dalam sunat rohani, yaitu Baptisan dalam Perjanjian Baru.

KGK 527 Penyunatan Yesus, pada hari kedelapan sesudah kelahiran-Nya (Bdk. Luk 2:21), adalah suatu bukti bahwa Ia termasuk dalam keturunan Abraham dalam bangsa perjanjian, bahwa Ia takluk kepada hukum (Bdk. Gal 4:4) dan ditugaskan untuk ibadah Israel, yang dalamnya Ia akan mengambil bagian sepanjang hidup-Nya. Ia adalah pratanda “penyunatan yang diberikan Kristus”: “Pembaptisan” (Kol 2:11-12).

KGK 1150 Tanda-tanda perjanjian. Bangsa terpilih menerima dari Allah tanda-tanda dan lambang-lambang khusus, yang menandakan kehidupan liturginya. Mereka bukan lagi hanya gambaran tentang peraturan dalam kosmos dan bukan lagi hanya isyarat-isyarat sosial, melainkan tanda-tanda perjanjian dan lambang karya agung Allah untuk umat-Nya. Penyunatan, pengurapan, dan penahbisan para raja dan para imam, peletakan tangan, persembahan, dan terutama Paska, termasuk tanda-tanda liturgis Perjanjian Lama ini. Gereja melihat di dalam tanda-tanda ini pratanda Sakramen-sakramen Perjanjian Baru.

Oleh karena itu, setelah digenapi dalam Baptisan, Gereja tidak lagi kembali kepada hukum yang lama. Hukum sunat jasmani itu tidak untuk dianggap batal ataupun tidak ada, sebaliknya, tetap diakui sebagai gambaran Baptisan, namun pelaksanaannya disempurnakan. Prinsip dasar sunat, yaitu untuk meninggalkan kedagingan manusia yang lama, tetap disyaratkan, namun perwujudannya tidak secara jasmani, tetapi secara rohani, sebagaimana sejak awal direncanakan Allah (Ul 10:16). 

Setelah maksud sunat rohani tersebut, yaitu pertobatan, telah dipahami oleh umat-Nya, maka sunat jasmani tidak lagi disyaratkan. 

Keselamatan tidak diperoleh melalui sesuatu yang sifatnya jasmani semata, tetapi oleh sesuatu yang rohani. 

Sebab makna Baptisan itu tidak saja mencakup pertobatan, tetapi juga karunia kehidupan baru yang ilahi di dalam Kristus, yang menghantar kepada keselamatan kekal. 

Dan jika makna yang sempurna ini telah diperoleh di dalam Kristus, maka Gereja tidak dapat kembali ke makna samar-samar di zaman Perjanjian Lama saat penggenapannya di dalam Kristus belum terjadi. 

Hal yang serupa adalah pemaknaan Hari Tuhan, yang merupakan penggenapan makna hari Sabat pada Perjanjian Lama.

6. Jadi bagaimana sekarang, perlukah kita disunat?

“Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah.” (1 Kor 7:19). Dengan mengetahui bahwa yang terpenting adalah sunat rohani, maka sekarang tidaklah menjadi penting, sunat atau tidak bersunat, asalkan kita melakukan hukum-hukum Allah terutama hukum kasih. 

Maka jika seseorang Katolik tidak disunat, itu disebabkan karena itu sudah bukan keharusan bagi kita sebagai pengikut Kristus, sebab keselamatan kita tidak diperoleh dari sunat/hukum Taurat tetapi oleh iman akan Kristus Tuhan.

Dengan demikian, seperti telah disampaikan di atas, “sunat” dalam Perjanjian Lama adalah persiapan/ gambaran dari Pembaptisan di Perjanjian Baru. 

Yesus memperbaharui dan menggenapi hukum Taurat dengan memberikan hukum yang baru; Yesus tidak membatalkannya, namun menyempurnakannya dan memberikan arti yang lebih penuh terhadap apa yang ditentukan dalam hukum Taurat Musa. 

Bahwa kekudusan tidak hanya sesuatu yang terlihat dari luar namun lebih kepada apa yang ada di dalam hati. Dan kekudusan yang sejati inilah yang menghantar kita kepada keselamatan kekal.

Di sinilah kita melihat kesinambungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. 

St. Thomas Aquinas pernah mengajarkan tentang 3 jenis hukum yang ada dalam Perjanjian Lama, dan bagaimana Yesus menggenapinya dalam Perjanjian Baru (lih. Hukum Taurat » “Kamus”). 

CATATAN KAKI:

St. Athanasius, on Lk. 2:23; dikutip oleh St. Thomas dalam ST, III, q. 37, a. 3, ad 2. [↩]

(Sumber: Mengapa Yesus disunat, kita tidak?, katolisitas.org)