Senin, 05 September 2016

Dialog pohon

Di dalam sebuah rimba tumbuh sebatang pohon ek di pinggir sebuah sungai. Di samping pohon ek tumbuh serumpun buluh muda.

Rumpun buluh selalu menunduk penuh hormat setiap kali angin bertiup menerpanya. Pohon ek tidak setuju dengan kebiasaan buluh itu. P

ada suatu hari pohon ek berkata kepada rumpun buluh: “Kamu buluh, mengapa kamu selalu menunduk setiap kali angin bertiup? Berdiri tegaklah betapa pun kencangnya angin bertiup! 

“Oh pohon ek yang perkasa”, jawab rumpun buluh dengan rendah hati, “Kami ini hanya kecil semampai, dan bila kami harus melawan angin, kami harus menanggung akibatnya.”

“Jangan pernah kalah!” tegas pohon ek dengan sikap dingin dan kembali sibuk dengan urusannya. Jelas rumpun buluh tidak mau mendengar nasehatnya. 

Pada suatu malam datanglah badai besar. Angin bertiup kencang, menggoyangkan buluh hampir sampai di tanah, dan rumpun buluh itu tidak marah. 

Akan tetapi, pohon ek berjuang keras melawan angin, meskipun kali ini angin terlalu keras baginya. Dengan sekejap pohon ek berderak-derak patah. Ia tergeletak di tanah dalam keadaan menyedihkan, sementara rumpun buluh terus tunduk kepada angin dan tidak patah.

Pagi harinya, ketika badai telah berhenti, keadaan rumpun buluh baik seperti semula. Akan tetapi pohon ek yang dahulu kokoh dan rimbun kini tinggal sebatang kayu hutan yang patah dan mati.

Lebih bijaksana bersikap rendah hati dan berserah dengan sepenuh hati, daripada berkeras kepala tetapi akhirnya hancur bila mendapat kesulitan (Cosmas Fernandez, SVD).

(Sumber: Warta KPI TL No. 57/I/2009 » Vacare Deo edisi No 43/November/2001)




Pencari Tuhan



Seorang pencari Tuhan adalah seorang murid. Seorang yang mau memusatkan perhatian pada Tuhan dan mau memberi tempat untuk Tuhan berkarya, percaya sepenuh hati bahwa ada tangan Tuhan yang bekerja.

Jika kita merasa kelompok elit, kita dapat terjebak setan. Sadarilah bahwa kita adalah pencari Tuhan, sehingga kita tidak tenggelam dalam jebakannya.



Seorang pencari Tuhan yang sejati harus menjaga mata, bibir, tangan, dan kaki.


Seringkali melalui perkataan, kita membuat seseorang marah. Tanpa disadari, tangan dan kaki kita pun berbuat dosa. Hal ini memberi kesempatan pada Iblis untuk berkarya (Ef 4:26-27; 1 Sam 18:8-10, 19:9-10). 

Pencari Tuhan harus memiliki iman, harapan dan kasih yang tak pernah padam

Ciri-ciri pencari Tuhan adalah: 
Mau berlari penuh semangat. Keselamatan itu sudah ada. Hanya bagaimana sikap hati kita mencari Tuhan/menolak Tuhan. 

Berani meninggalkan kerumunan. Belajar memberi tempat untuk Tuhan, bukan ilmu mem-bebek. Misalnya: ada penampakan/penyembuhan di suatu tempat, kita ke sana. 

Memandang ke atas. Mengarahkan hati kita ke tempat yang tinggi. 

Setelah mencari Tuhan dan kita ditemukan Tuhan (harus ada kerja sama), maka akan terjadi perubahan dalam hidup, menjadi manusia baru. Buahnya adalah perubahan cara pandang yang positif. 

Halangan/belenggu pencari Tuhan: 
Malas (bantalnya setan). 
Egoisme diri. 
Kesombongan (selimutnya setan). 
Masa lalu yang suram, misalnya: saya pendosa dll. 
Kemiskinan - bukan harta saja, tapi juga pengetahuan akan iman. 
Iri hati, dendam dll. 

Marilah kita belajar pada Zakheus (Luk 19:1-10):

Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya.

Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Maka berlarilah ia (» penuh semangat) mendahului orang banyak (» berani meninggalkan kerumunan), lalu memanjat pohon ara (» memandang ke atas) untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ.

Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu."

» Zakheus mencari Tuhan, ternyata Tuhanlah yang mencari lebih dulu. 

Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.
Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa."

Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat."

» terjadi perubahan dalam hidupnya

Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham.
10. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."

(Sumber: Warta KPI TL No. 57/I/2009 » Renungan KPI TL tgl 11 Desember 2008, Romo Lulus Widodo Pr.)




20.13 -

Kisah empat lilin

Ada empat lilin yang menyala, sedikit demi sedikit habis meleleh. Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka.

Yang pertama berkata: “Aku adalah damai. Namun manusia tak mampu menjagaku, maka lebih baik aku mematikan diriku saja!”  Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin padam.


Yang kedua berkata: “Aku adalah iman. Sayang aku tak berguna lagi. Manusia tak mau mengenalku. Jadi tak ada lagi gunanya aku tetap menyala.” Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.

Dengan sedih giliran lilin ketiga bicara: “Aku adalah cinta. Aku tak mampu lagi untuk tetap menyala. Manusia tidak lagi memandang dan menganggapku berguna. Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya.” Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah lilin ketiga.

Tanpa terduga...

Seorang anak kecil masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga lilin telah padam. Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata: “Eh apa yang terjadi?! Kalian harus tetap menyala, aku takut akan kegelapan!” Lalu ia menangis tersedu-sedu.

Dengan terharu lilin keempat berkata: “Jangan takut. Janganlah menangis, selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga lilin lainnya. Akulah harapan.”

Dengan mata bersinar, sang anak mengambil lilin harapan, lalu menyalakan kembali ketiga lilin lainnya.

Berdasarkan survey, 
Orang tidak makan dapat bertahan 20 hari. 
Orang tidak minum dapat bertahan 7 hari. 
Orang tidak menghirup udara dapat bertahan 7 menit. 
Orang tidak punya harapan dapat bertahan 4 detik (naik kursi, pasang tali, tali di pasang di leher, meloncat – langsung mati). 

Di dalam situasi seberat/sesulit apa pun, yang namanya harapan tidak boleh mati. Misalnya: suami/istri/anak-anak/sahabat tidak mengerti kita; suami pergi tidak pulang-pulang, mengancam cerai; anak yang tidak menghormati orang tua; anak semakin...

Dengan harapan itu kita yakin ada sesuatu yang berubah menjadi baik kembali.

Inilah kekuatan iman dan doa – percaya ada tangan Tuhan yang bekerja.

Masing-masing kita adalah alat, seperti anak kecil tersebut, yang dalam situasi apapun mampu menghidupkan kembali budaya organisasi yang penuh iman, damai, cinta dan harapan.

Tugas kita adalah tetap memberi cahaya, sekecil apapun dengan memberikan teladan hidup dalam segala hal seperti lilin-lilin kecil.

(Sumber: Warta KPI TL No. 57/I/2009 » Renungan KPI TL tgl 11 Desember 2008, Romo Lulus Widodo Pr.)

20.02 -

Lima kebutuhan dasar psykis manusia

Agar manusia bisa bertumbuh dan berkembang, setiap saat dan di mana saja membutuhkan untuk: aman, bernilai, dihargai, dipahami, dicintai.

Seorang anak (A)/remaja (R)/dewasa (D) bila merasa tidak aman. 



A: kurang perhatian ortu, konflik dalam rumah tangga.


Akibatnya: cemas & gelisah, menjadi takut, menangis.

Solusinya: perlu kasih sayang dan perhatian yang cukup. 

R: kurang perhatian ortu, lingkungan negatif, ortu pilih kasih.

Akibatnya: menjadi bandel, putus asa, tidak percaya diri, menyendiri, pendiam, terjerumus narkoba, agresif, emosional.

Solusinya: perlu kasih sayang, perhatian dan penghargaan.

D: tekanan ekonomi, banyak hutang, konflik keluarga, konflik ortu.

Akibatnya: menjadi pemarah, brutal, agresif, tidak kontrol diri.

Solusinya: perlu perhatian, penghargaan, sikap religius.

Seorang anak (A)/remaja (R)/dewasa (D) bila merasa tidak bernilai.

A: kurang perhatian; keinginan kurang ok.

Akibatnya: menangis, menyendiri.

Solusinya: perlu kasih sayang, perhatian yang cukup, memberi pujian.

R: keinginan tidak ok; lingkungan negatif.

Akibatnya: menyendiri, tidak mau komunikasi, lari dari rumah, tidak percaya diri, suka bertindak negatif.

Solusinya: perlu kasih sayang, perhatian, penghargaan.

D: kurang penghargaan, ada tekanan keluarga, tidak bisa mengontrol diri.

Akibatnya: acuh-tak acuh, iri hati, cepat emosi.

Solusinya: perlu perhatian, saling menghargai.

Seorang anak (A)/remaja (R)/dewasa (D) bila merasa tidak dihargai.

A: tidak didengar/dipuji.

Akibatnya: kecewa, malu, minder, pendiam, pembangkang, sedih, membandel.

Solusinya: ungkapkan pendapat, dialog kasih.

R: tidak dilibatkan, selalu dimarahi, diomeli terus.

Akibatnya: tidak puas, acuh tak acuh, pasif dan stress, cari tempat pelarian, lari dari rumah.

Solusinya: memotivasi, memuji, komunikasi.

D: kurang penghargaan, ada tekanan keluarga, tidak bisa mengontrol diri.

Akibatnya: mabuk-mabukan, pesimis, cepat emosi.

Solusinya: perlu perhatian, saling menghargai.

Seorang anak (A)/remaja (R)/dewasa (D) bila merasa tidak dipahami.

A: kurang perhatian, didiamkan

Akibatnya: kecewa, menangis, kesepian, mogok belajar.

Solusinya: mendengarkan, komunikasi.

R: permintaan berlebih, disalahkan, dipojokkan terus.

Akibatnya: tidak puas, acuh tak acuh, pasif dan stress, kecewa, memberontak, merokok, mabuk, mogok belajar.

Solusinya: mendengarkankan, adil, terbuka.

D: jumlah anak banyak, adat & budaya, saling curiga.

Akibatnya: bertengkar dalam rumah tangga, kurang PD, emosi, acuh tak acuh, selingkuh, saling mencurigai.

Solusinya: saling menghargai dan mengasihi.

Apa yang berasal dari hati selalu menyentuh hati

(Sumber: (Sumber: Warta KPI TL No. 57/I/2009 » Renungan KPI TL tgl 11 Desember 2008, Romo Lulus Widodo Pr.)

Kasus roti hangus



Seorang ahli pendidikan (AP) bertanya pada tiga orang ibu yang ditunjuk dari para peserta sebuah pelatihan.



AP: “Misalkan suatu pagi anda sedang menyiapkan roti bakar untuk sarapan suami anda, tiba-tiba telepon berdering, anak anda menangis, dan roti bakar jadi hangus suami anda berkomentar: ‘Kapan kamu akan belajar memanggang roti tanpa menghanguskannya?’ (tipe orang mengejek/melecehkan). Kira-kira, bagaimana reaksi anda?”


Ibu Pertama: “Langsung saya lemparkan roti itu ke mukanya!” – tipe orang kasar.

Ibu Kedua: “Saya akan katakan padanya, “Bangun dan bakar sendiri rotinya!” – tipe orang cuek.

Ibu Ketiga: “Saya rasa saya akan menangis.” – tipe orang melankolis.

AP: “Lalu bagaimana perasaan anda terhadap suami anda?” 

Semua: “Marah, benci, dan merasa dianiaya.”

AP: “Mudahkah bagi anda untuk menyiapkan roti bakar lagi pagi itu?”

Semua: “Tentu saja tidak.”

AP: “Dan jika suami anda pergi bekerja, akan mudahkah bagi anda untuk membereskan rumah dan belanja kebutuhan sehari-hari dengan lapang dada?”

Ibu Pertama: “Tidak, Saya akan merasa sumpek sekali sepanjang hari.”

Ibu Kedua: “Saya tidak membeli apapun untuk keperluan rumah hari itu.”

AP: “Katakanlah bahwa roti itu memang hangus. Tetapi suami anda mengatakan kepada anda, ‘Tampaknya pagi ini kamu lelah ya... sayang, telepon berdering, anak kita menangis, dan sekarang roti hangus’ Kira-kira apa reaksi anda?” (tipe orang yang tidak pemarah).

Ibu Pertama: “Saya tidak percaya bahwa yang berbicara itu adalah suami saya.”

AP: “Mengapa anda gembira? Bukankah anak tetap menangis, telepon berdering, dan roti sudah hangus...?”

Semua: “Kami tidak akan peduli dengan semua itu.”

AP: :Lalu apa yang berbeda kali ini?”

Ibu Pertama: “Saya merasa suami saya baik sekali, karena tidak menyalahkan saya, melainkan memahami pada saya, bukan memusuhi saya.”

AP: “Jika suami anda pergi bekerja, akan mudahkah bagi anda untuk melakukan tugas-tugas rumah tangga?”

Ibu Kedua: “Saya melaksanakan tugas-tugas saya dengan senang hati.”

AP: “Sekarang, mari kita bicara tentang suami tipe ketiga. Setelah roti itu hangus, ia memandang istrinya sambil mengatakan, ‘Nih, saya ajari kamu cara membakar roti!” (tipe orang yang menggurui).

Semua: “Tidak. Suami macam itu lebih buruk lagi dari yang pertama, sebab ia menganggap saya dungu.”

Saat itu, AP itu mengatakan: “Bagaimana kalau apa yang suami anda lakukan kepada anda itu, anda lakukan kepada anak-anak anda dan anak-didik anda?”

Ibu Pertama: “Sekarang saya mengerti tujuan anda membuka dialog ini. Saya memang selalu mengkritik anak-anak saya, anak-didik saya, tanpa saya sadari. Saya selalu mengatakan, ‘Kamu sudah dewasa, sudah harus tahu bahwa apa yang harus kamu lakukan itu salah.’ Saya sekarang tahu mengapa mereka marah dengan kata-kata saya.”

Ibu Kedua: “Saya juga selalu mengatakan kepada anak-anak saya, anak-didik saya ‘Biar saya tunjukkan padamu cara melakukan ini dan itu.’ Dan sering kali mereka marah saat mendengarnya.”

Ibu Ketiga: “Saya sering mengkritik anak-anak saya, anak-didik saya. Hal itu menjadi hal yang biasa bagi saya. Dan saya sering mengulang-ulang kalimat yang dulu diucapkan orang tua dan guru saya kepada saya. Dulu, saya juga sangat tidak suka mendengar mereka mengatakannya.”

Setelah sampai pada yang dituju, AP itu mengatakan: “Sekarang anda semua mengerti bahwa apa yang anda ingini dari suami anda, itulah yang diingini pula oleh anak-anak kita, anak-didik kita, suami kita, istri kita, dan rekan-rekan kita dari kita, yakni: pengertian dan empati.”

Empati artinya mendengar dengan hati, dengan penuh kasih. Hingga memahami orang lain seperti apa adanya: apa yang dipikirkannya, apa yang dirasakannya dan mengapa dia bertindak demikian – orang bijak.

Beda halnya bila mendengar dengan pikiran: menganalisa, mencari kelemahan, membantah, menilai dan akhirnya ingin membuktikan bahwa yang lain salah, dan pendapatnya yang benar – orang pintar.

Apa yang tidak kausukai sendiri, janganlah kauperbuat kepada siapapun (Tob 4:15)

Marilah kita berhati-hati dalam sikap/cara kita menyampaikan pendapat, agar hubungan bertahun-tahun antara suami dengan istri/anak dengan orang tua/dalam persekutuan tidak rusak, gara-gara satu kalimat. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 57/I/2009 » Renungan KPI TL tgl 11 Desember 2008, Romo Lulus Widodo Pr.) 

Manusia tidak dapat menyelami segala pekerjaan Allah

Di Cikanere, setahun yang lalu saya berkenalan (hanya sekedar tahu) dengan seorang frater dari ordo baru di Indonesia, yaitu: ordo “Agustinus tidak bersepatu”, pada saat perjalanan setelah Misa.

Pada Hari Raya Idul Fitri, dia SMS minta tolong dicarikan tiket kereta api ke Semarang dan saya disuruhnya menjemput di Juanda. Saya telpon ke stasiun Pasar Turi, ternyata nggak bisa pesan. Harus pesan di tempat, harga tiket KA Agrobromo ke Semarang = harga tiket ke Jakarta Rp. 450.000,-

Saya merenung ‘duit nggak punya, disuruh carikan tiket kereta api; mobil nggak punya, disuruh jemput di Juanda. Frater itu baru saya kenal sebentar, bisa saja saya cari alasan untuk menolaknya’. Tetapi saya mempersembahkan kesukaran itu pada Tuhan: “Tuhan, kalau Engkau mengijinkan ... berilah jalan.”

Saya menghubungi beberapa teman saya untuk pinjam mobil, tapi nggak ada yang memberi pinjaman. Ternyata ada seorang yatim piatu di luar paroki GYB yang memberi informasi antar jemput Surabaya Semarang. Akhirnya saya telpon travel tersebut dan dia memberi informasi harga tiketnya Rp 120.000 + Rp 15.000 (alamatnya di luar areal antar jemput).

Setelah melayani frater itu saya doa: “Tuhan, apa maksud dari semua pelayanan ini.” Di sinilah Tuhan mencelikkan saya: “Firman itu harus hidup. Kalau engkau percaya dan mengasihi Aku, engkau pasti bisa melakuannya. Masihkan engkau memiliki kasih seperti orang Samaria yang murah hati (Luk 10:25-37); ingatkah engkau pada janda yang memberi dari kekurangannya (Luk 21:1-4)?” Akhirnya saya sadar dan memohon ampun pada Tuhan.

Pada suatu hari, ketika istri saya sedang menyapu di ruang tamu, tiba-tiba enternitnya ambrol. Saya berdoa: “Tuhan, terima kasih Engkau telah menyelamatkan istriku, dia tidak kena kepalanya tetapi hanya kena tangannya.” Apa pun yang terjadi dalam kehidupan, saya selalu belajar mengucap syukur.

Ternyata Allah kita itu sungguh luar biasa. Saya memberkati frater hanya dengan Rp 135.000, tetapi saya mengalami mukjizat 10 x lebih sehingga dapat memperbaiki enternit yang rusak.

(Sumber: Warta KPI TL No. 56/XII/2008).

18.59 -

Bagaimana mencapai target yang Tuhan tetapkan?



Setiap orang diberi talenta/potensi yang berbeda-beda, masing-masing menurut kesanggupannya (Mat 25:15). Maka kita harus betul-betul mengetahui visi yang Tuhan berikan, sehingga kita tidak salah mengerjakannya.

Agar kita dapat mencapai target yang telah Tuhan tetapkan dalam hidup kita, Tuhan telah memberikan dua perlengkapan, yaitu:

1. Firman Tuhan

Saat Iblis menyerang, lawanlah dengan firman Tuhan (Mat 4:1-10). Sebagai firman Tuhan yang hidup, melalui ayat-ayat firman tersebut kita akan mudah dibentuk sehingga kita dapat mengatasi kelemahan-kelemahan kita dalam menghadapi serangan musuh.

Tetapi seringkali manusia menggunakan senjata ini dengan tidak benar, mereka menggunakannya hanya sebagai ilmu pengetahuan, biasanya dipakai untuk perang ayat antara pelayan Tuhan atau anak-anak Tuhan.

Meskipun sudah membaca firman Tuhan, kadangkala kita sulit untuk mencapai target, menghasilkan buah yang tetap (Yoh 15:16; KGK 1832). Kenapa? Karena manusia mempunyai kehendak bebas, tidak mau mengikuti bimbingan Roh Kudus sehingga potensinya tidak dapat ke luar (Gal 5:18).

Iblis tahu bahwa di dalam manusia ada potensi yang luar biasa. Maka seringkali tanpa sadar kita terjebak oleh iblis sehingga kita memakai kekuatan pikiran sendiri tanpa meminta rahmat Allah (Bdk. Yer 17:5). Ini adalah jebakan Iblis yang paling halus dalam bentuk mengasihani diri sendiri: tersinggung, minder, marah, membela hak, menuntut. Jadi, kita harus tahu bentuk jebakan ini agar kita tidak terjerat dan mengalami kejatuhan.

2. Roh Kudus – memberi petunjuk dan pimpinan dalam hidup kita. 

Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepada kita dan akan mengingatkan kita akan semua yang telah Yesus katakan kepada kita. Dia juga akan memberitahukan kepada kita hal-hal yang akan datang (Yoh 14:26; 16:13).

Jika kita selalu memohon penyertaan Roh Kudus, maka kita masuk dalam sekolah Tuhan sepanjang hidup kita sehingga kelemahan-kelemahan kita (7 dosa dasar - sombong, kikir, cabul, gelojoh, iri hati, marah, malas) dapat kita sadari.

Target yang kita capai bisa turun dan naik. Jika turunnya target disebabkan karena kelemahan daging, maka turunnya sedikit. Tetapi jika disebabkan karena mencuri kemuliaan Tuhan (kesalahan dalam roh), maka turunnya banyak, bahkan bisa sampai tingkat yang paling bawah; ini adalah suatu kesalahan yang paling berat dan seringkali tanpa kita sadari (Mat 7:21-23).

Jadi, belajarlah peka terhadap pimpinan Roh Kudus sehingga kita tahu cara kerja-Nya. Ingatlah! Buah Roh berasal dari kelemahan kita. Misalnya: buah roh sabar berasal dari watak tidak sabar; buah roh murah hati berasal dari watak “tamak”.

Proses untuk menghasilkan buah Roh:

1. Sadari bahwa kita mempunyai kelemahan-kelemahan tertentu. Misalnya: gampang marah, gampang menghakimi, kurang sabar, pendendam dll. 

Akui dan bawa kelemahan itu di hadapan Tuhan, katakanlah: “Tuhan, aku tidak mampu mengatasi kelemahan ini. Tolong berikan rahmat-Mu.” Dan tanamkanlah pada jiwa perkataan Rasul Paulus ini: “Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” (Gal 2:20). Jadi, ada kerjasama antara Tuhan dan manusia. 

2. Berjuang menyangkal diri dengan perkataan firman Tuhan (Mat 16:24), harus diperkatakan terus menerus pada jiwa kita. (Gal 2:20 – Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Artinya kita harus mati bagi keinginan diri kita sendiri).

Misalnya: waktu kita marah, ingatlah ayat Mzm 37:8 (berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan); kalau kita suka gosip, ingatlah Mat 12:36-37 (setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum).

Perjuangan untuk menyangkal diri ini harus diusahakan. Kalau sering dilakukan, lama-lama menjadi kebiasaan. Kalau sudah menjadi kebiasaan, lama-lama menjadi kesukaan. Kalau sudah menjadi kesukaan... akhirnya berbuah Roh.

Jika kita mencapai target-Nya, janji Tuhan adalah:

1. Jemaat Efesus: diberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah.

2. Jemaat Smirna: dikaruniakan mahkota kehidupan.

3. Jemaat Pergamus: diberi manna yang tersembunyi dan dikaruniakan batu putih, yang di atasnya tertulis nama baru, yang tidak diketahui oleh siapa pun, selain oleh yang menerimanya.

4. Jemaat Tiatira: dikaruniakan kuasa atas bangsa-bangsa dan bintang timur.

5. Jemaat Sardis: dikenakan pakaian putih (menjadi mempelai).

6. Jemaat Filadelfia: dijadikan soko guru di dalam Bait Suci Allah.

7. Jemaat Laodikia: duduk bersama-sama Tuhan di takhta-Nya.

Pilar Hidup Rohani:

1. Doa

2. Hidup di Hadirat Allah

3. Jalan Cinta Kasih

4. Keterbukaan terhadap bimbingan Roh Kudus

Tiga syarat utama menjadi pengikut Kristus

1. Menaklukkan diri sendiri, yaitu dengan selalu mendahulukan kehendak-Nya di atas kepentingan pribadi

2. Meneladani-Nya dan menjadikan hidup-Nya sebagai hidup kita

3. Memikul salib kehidupan dengan tabah dan setia



(Edisi Revisi: Sumber: Warta KPI TL No. 56/XII/2008 » Renungan KPI TL Tgl 20 November 2008, Dra Yovita Baskoro, MM; Warta KPI TL No. 92/XII/2011 » Renungan KPI TL tgl 18 Agustus 2011, Dra Yovita Baskoro, MM).