Tampilkan postingan dengan label *Teologi*. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *Teologi*. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Januari 2017

20.18 -

Teologi tubuh



Ketika belum genap berusia enam belas tahun, saya (Deshi Ramadhani, SJ) meninggalkan keluarga dan kota kelahiran saya untuk menjalani pembinaan dalam sebuah Seminari Menengah. Empat tahun kemudian, saya bergabung dengan Ordo Serikat Yesus. Pada akhir masa novisiat, saya mengucapkan kaul untuk hidup miskin, murni, dan taat selamanya di dalam Serikat Yesus.



Meskipun secara umum saya menemukan kebahagiaan dalam hidup panggilan selibat, tetapi jauh di dalam lubuk hati saya ada sebuah suara yang penuh kegelisahan. Suara itu kadang meledak menjadi suara protes yang sangat keras kepada Tuhan. 

Ledakan suara protes itu seolah ingin berteriak kepada Tuhan: "Mengapa Engkau memanggil aku untuk hidup selibat? Tuhan, mengapa Engkau memanggil aku untuk hidup tanpa bisa menikmati seks?"

Pencarian jawab atas suara protes saya itu mengalami titik balik pada bulan Juli 2008. Saya mendapat kesempatan istimewa untuk ikut serta dalam World Youth Day di Sidney. 

Dalam hari-hari penuh doa dan perayaan orang muda itulah saya berkesempatan untuk menghadiri sebuah ceramah yang diberikan oleh Christopher West. Ia adalah seorang dari Gereja Katolik Roma yang membaktikan hidupnya bagi sebuah misi khusus untuk memperkenalkan "Teologi Tubuh" yang diajarkan oleh almarhum Paus Yohanes Paulus II (Sejak 5 September 1979, selama kurang lebih lima tahun Paus berbicara tentang Teologi Tubuh (129 x) dalam audiensi umum hari Rabu bagi orang-orang yang berkumpul di Vatikan). 

Kalian sedang salah jalan! Mengapa? Dunia telah ditipu habis-habisan oleh banyak konsep dan keyakinan keliru tentang seks

Segala macam gejolak dunia seputar seks tidak lain adalah gejolak yang timbul karena manusia terus-menerus mencari arti tubuh manusia yang sebenarnya, dan telah sekian lama pula jawaban yang ditemukan dan disebarkan adalah jawaban yang keliru

Kalau dunia dan semua manusia tidak secara serius mengerti dan melihat tubuh manusia secara benar, akan semakin banyak persoalan di dunia ini yang tak akan pernah bisa diselesaikan! (Santo Yohanes Paulus II)

Tubuh manusia adalah sebuah teologi yang membuka pintu bagi banyak jawaban atas persoalan zaman ini.

Ajaran Teologi Tubuh digambarkan sebagai perjamuan kawin (Why 19:9) oleh Christopher West. 

Mereka yang dipanggil hidup dalam perkawinan seringkali terlalu kenyang oleh hidangan pembuka sehingga tidak memiliki nafsu makan lagi ketika hidangan utama disajikan

Sedangkan mereka yang dipanggil hidup selibat dengan sadar dan bebas tidak mengambil sedikit pun hidangan pembuka karena ingin sungguh-sungguh menikmati hidangan utama yang diyakininya akan jauh lebih lezat dan memuaskan daripada segala hidangan pembuka itu

Meskipun demikian, ini tidak menutup kemungkinan adanya "rasa sakit dan kesepian" dalam pemenuhan arti nupsial pada saat kebangkitan kelak.

Orang yang hidup dalam Roh secara benar akan menghayati tubuhnya secara benar.

Paulus mengajak kita untuk bersikap realistis (1 Kor 7:24-40):

Hidup Perkawinan: memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, harus siap untuk menanggung "kesusahan badani" dan "kekuatiran", seseorang tidak lagi bisa mengambil keputusan sendiri begitu saja.

Hidup Selibat: memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, supaya tubuh dan jiwanya kudus, melakukan apa yang baik dan benar, dan melayani Tuhan tanpa gangguan

Orang yang hidup selibat ingin merayakan perkawinan sorgawi itu sejak di dunia ini. Hidup tanpa perkawinan selama di bumi ini ingin menjadi tanda bagi dunia bahwa seperti itulah kelak hidup setelah kebangkitan (Mat 22:30 - tidak kawin dan tidak dikawinkan). Hal ini tidak mudah dipahami. Jadi, hidup selibat harus memiliki dua ciri: sukarela dan adikodrati.

Ukuran "baik" dan "lebih baik" dipandang dari hubungan pribadi yang bersangkutan dengan arti nupsial tubuhnya sendiri yang tidak terpisahkan dari kerinduannya akan penebusan tubuh dalam kebangkitan.

Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Muliakanlah Allah dengan tubuhmu! (1 Kor 6:8-20).

Marilah kita belajar dari Efesus 5:22-33, 21

22a Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suamimu adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat 

» (1*) Kristus adalah kepala jemaat. Kepala tidak pernah bisa dipisahkan dari tubuh. Bila jemaat, Gereja, kita semua, terpisah dari Kristus, yang ada hanya satu kemungkinan: kematian

(2*) Kepala menjadi ukuran identitas

Di tempat-tempat rekreasi umum kadang ada tokoh yang digambarkan dengan tubuhnya. Anda bisa menempatkan diri pada posisi yang telah disiapkan sehingga ketika hasil foto dicetak akan terlihat "seolah-olah" anda sendirilah yang memiliki tubuh seperti itu. 

Itu semua memperlihatkan bahwa identitas seseorang dikenali lewat wajahnya, artinya lewat wajahnya yang melekat tak terpisahkan dari kepalanya. 

Tanda pengenal bagi kita semua, bagi Gereja-Nya, tidak lain adalah Kristus sendiri. 

Ubahlah wajah pada kepala itu, dan segera orang akan mengidentifikasi tubuh yang ada secara berbeda. 

Dengan kata lain, Kristus itu sangat menentukan bagi identitas jemaat. Tanpa Kristus, sekumpulan orang itu bukanlah jemaat, bukanlah Gereja; hanyalah segerombolan manusia belaka, tidak lebih dari itu

(1#) Suami adalah kepala istri, ada kesatuan yang tak terpisahkan antara kepala dan tubuh

(2#) Kesatuan antara suami dan istri sangat menentukan bagi identitas mereka yang tidak lagi dua melainkan satu

Seruan itu adalah seruan bagi para istri agar sungguh mengusahakan hidup yang tak terpisahkan dari para suami mereka. 

Dalam seruan kepada istri itu, sebenarnya terkandung seruan, bahkan tuntutan keras, bagi para suami untuk sungguh berusaha keras menjadi sama seperti Kristus sendiri.

22b Dialah yang menyelamatkan tubuh. 23 Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah istri kepada suami dalam segala sesuatu 

» Kristus sebagai kepala menyelamatkan jemaat dengan menyerahkan Diri hingga wafat di kayu salib. 

Demikian pula halnya, suami terhadap istri harus sampai pada kesediaan untuk mengorbankan dirinya demi hidup sang istri. 

Kristus itulah yang menyelamatkan jemaat. Bila jemaat tidak tunduk kepada Kristus, jemaat justru kehilangan kesempatan untuk menerima pemberian Diri Kristus yang ingin menyelamatkan. 

Terhadap suami yang menyerupai Kristus itu, bila para istri tidak tunduk, para istri akan kehilangan kesempatan untuk menerima pemberian diri para suami yang ingin menyelamatkan istri mereka. 

Ketiga ayat di atas harus dibaca sebagai kesatuan yang tidak boleh dipisahkan sendiri-sendiri

Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskan, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman

Supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela 

» Tujuan paling akhir dari tindakan Kristus terhadap jemaat adalah adanya terjaga kekudusan dan kecermerlangan umat

Demikian pula halnya seluruh gerak dan tindakan suami terhadap istri! Suami harus mengusahakan agar istrinya tetap kudus dan cemerlang, tanpa cacat, kerut dan cela

Kekudusan bukanlah sesuatu yang melulu merupakan rangkaian tindakan yang harus dikerjakan dan diusahakan sekuat tenaga oleh jemaat. Unsur itu memang ada dan tetap penting. 

Namun demikian, bila jemaat melupakan tindakan dasar untuk "menerima" proses pengudusan itu justru tidak akan terjadi. 

Kekudusan dalam arti ini adalah keadaan di mana manusia bersedia menjadi pihak yang menerima pemberian Tuhan. Lelaki adalah pihak yang memberi, sedangkan perempuan adalah pihak yang menerima. Istri menerima pengudusan yang dilakukan oleh suaminya.

Demikian juga suami harus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi istrinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatnya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya 

» Dalam sebuah hubungan cinta, kedua pihak berperan sebagai subyek yang saling memberi izin bagi yang lain untuk menembus masuk ke dalam diri sendiri

Ini yang terjadi dalam hubungan antara Kristus dan Gereja-Nya. Kedua pihak, sebagai subyek menembus masuk. Bukan dengan paksaan atau sebuah manipulasi, melainkan dengan izin yang diberikan secara bebas. 

Bila suami tidak mengasihi tubuhnya sendiri, ia telah menyangkal identitas dirinya sendiri. Maka, bila suami tidak mengasihi istrinya, ia pun sebenarnya telah menyangkal identitas dirinya sendiri. Adalah mutlak bagi seorang suami untuk mengasihi istrinya, karena dengan itulah ia memperlihatkan identitasnya secara utuh. 

Mengasihi istri bukanlah sebuah pilihan yang boleh diambil boleh tidak. Mengasihi istri adalah soal mempertahankan identitas suami, sama halnya dengan Kristus yang mempertahankan identitas-Nya sebagai Kristus dalam bentuk tindakan yang mengasuh dan merawat tubuh-Nya, kita semua.

Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat 

» Bersatunya tubuh lelaki dan tubuh perempuan menjadi satu daging dalam tindakan persetubuhan antara suami dan istri yang sah hanya bisa dipahami dalam terang hubungan antara Kristus dan Gereja-Nya

Pada saat seorang lelaki bersatu menjadi satu daging dengan istrinya, sebagian dari tubuh lelaki itu masuk ke dalam tubuh perempuan. Tidak bisa sebaliknya. Persatuan ini membuat adanya pihak ketiga, yakni anak mereka sendiri

Jadi, lelaki menjadi pihak yang "memberi", perempuan menjadi pihak yang "membuka dan menerima". 

Gambaran tentang suami yang mengasihi istri dan istri yang menghormati suami tidak lain adalah gambaran tentang Allah yang memberi dan manusia yang menerima

Ini misteri mahaagung tentang Kristus yang memberikan diri, dan kita sendiri yang menerima pemberian Diri-Nya yang menyelamatkan dan menguduskan kita.

Yang terlibat dalam peristiwa "menjadi satu" itu bukan hanya tubuh melainkan juga jiwa; bukan hanya hukum alam melainkan juga pribadi; bukan hanya yang sekedar bersifat biologis melainkan juga yang non-biologis. 

Tegasnya, persatuan seksual bukanlah sebuah kenyataan biologis belaka, melainkan juga kenyataan teologis.

Penggunaan kontrasepsi menjadikan dirinya sendiri bukan lagi sebuah subyek, melainkan sebuah obyek untuk sebuah manipulasi. Dalam terang Teologi Tubuh, tindakan itu adalah pelanggaran yang tidak bermoral yang langsung menyerang kebenaran dasar hakikat persatuan antara suami dan istri, merendahkan martabat lelaki dan perempuan, menjadikan manusia kembali sebagai bagian dari dunia animalia

Hal ini bertentangan dengan keyakinan iman di dalam Gereja Katolik Roma. Dalam bahasa Teologi Tubuh pelanggaran ini berarti pelanggaran terhadap kebenaran dasar yang sebenarnya senantiasa disuarakan oleh tubuh manusia, lelaki dan perempuan, suami dan istri, ketika keduanya menjadi satu daging. 

Gereja telah mengajarkan cara ber-KB secara alamiah, yaitu Metode Ovulasi. Untuk menjalankan metode ini dibutuhkan kepekaan, dan terutama ketaatan, untuk membaca tanda-tanda yang sudah secara kodrati menjadi bagian dari tubuh manusia. 

Jadi, Allah telah secara bijaksana mengatur hukum-hukum kodrati dan saat-saat kesuburan, supaya dengan bekerjanya hukum-hukum tersebut tercipta jarak antara satu kelahiran dan yang berikutnya.

Penguasaan diri bukanlah sesuatu yang mudah. Satu alasan jelas adalah bahwa kita mencoba melakukan itu dalam tubuh kita yang masih membutuhkan penuntasan pembebasannya agar bisa kembali membaca bahasa-dalam-tubuh secara benar. 

Dengan berpantang dari seks sebagai ungkapan pengendalian diri, manusia justru dilatih untuk mengarahkan gairah pada garis perkembangan yang tepat. 

Pada saat yang sama, ia juga semakin mampu mengarahkan emosi agar semakin mendalam dan intensif berakar dalam batinnya. Dari sanalah akan tumbuh sebuah cinta yang murni dan tanpa pamrih.

Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah istrimu seperti dirimu sendiri dan istri hendaklah menghormati suaminya 

» Seruan bagi kita semua untuk hidup sungguh secara penuh sebagai manusia yang senantiasa siap "menerima" di hadapan Allah yang senantiasa siap "memberi". 

Tidak semua orang siap melakukan ini, karena tidak semua orang sungguh siap percaya bahwa Allah sungguh-sungguh ingin memberi

Tidak semua orang siap melakukan ini, karena sudah begitu terbiasa dengan logika yang berbeda sejak dosa pertama, yaitu logika untuk "mengambil" (lih. [Kej 1:27; 2:7, 16-25; 3:1-11] Misteri penciptaan).

Rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus 

» Cinta adalah penyatuan kehendak. Suami dan istri saling merendahkan diri, bukan demi salah satu atau demi mereka berdua, melainkan demi Kristus sendiri

Bersama-sama mereka menyatukan kehendak dengan Kristus sendiri, karena sungguh sadar bahwa kehendak Kristus tidak lain adalah untuk memberikan Diri-Nya secara penuh terus-menerus kepada mereka.

Tubuh tidak lagi memperlakukan orang lain sebagai subyek yang berada dalam tubuhnya, melainkan melulu sebagai obyek. Tubuh semacam inilah yang ditebus Kristus.

Marilah kita meneladan "cinta kuat seperti maut" dari doa Tobia dan Sara (Tob 8:4-8)

Tobia berkata kepada Sara: "Bangunlah adinda, mari kita berdoa dan mohon kepada Tuhan kita, semoga dianugerahkan-Nya belas kasihan serta perlindungan." 

» Kisah Tobia dan Sara yang berdoa sebelum persetubuhan mereka pada malam pertama memperlihatkan bahwa persatuan suami dan istri menjadi "satu daging" adalah sebuah bentuk keikutsertaan manusia secara nyata di dalam seluruh karya Allah Pencipta sejak awal mula.

Mereka angkat doa sebagai berikut: "Terpujilah Engkau, ya Allah nenek moyang kami, dan terpujilah nama-Mu ... Engkaulah yang telah menjadikan Adam dan baginya telah Kaubuat Hawa istrinya sebagai pembantu dan penopang; dari mereka berdua lahirlah umat manusia seluruhnya. Engkaupun bersabda pula: Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja, mari Kita menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia 

» dalam doa ini banyak hal dari seluruh pembicaraan dalam kerangka Teologi Tubuh seolah dipadatkan. 

Kisah penciptaan Adam dan Hawa menggemakan secara istimewa dalam konteks cinta Tobia dan Sara apa yang dialami oleh pasangan pertama sebagai "kesendirian asali". 

Di sana juga secara implisit digemakan pengalaman akan "kebersamaan asali", yang merupakan penegasan akan bahasa-dalam - tubuh (the language of the body).

Bukan karena nafsu birahi sekarang kuambil saudariku ini, melainkan dengan hati yang benar ..." 

» pernyataan "bukan karena nafsu birahi" adalah gema pasangan pertama akan "ketelanjangan asali". 

Ketika itu, mereka masih sungguh mampu untuk saling membaca dengan benar "bahasa-dalam-tubuh" pasangannya sebagai pribadi, sebagai subyek, sebagai tuan atas diri sendiri. 

Tobia mendekati Sara "dengan hati yang benar. Ini adalah sebuah keadaan ideal ketika manusia sungguh-sungguh dengan sadar mampu menghindar dari godaan untuk "mengambil" untuk memandang dengan tatapan yang memperlihatkan sebuah "perzinahan dalam hati".

Sebagaimana terlihat dalam seluruh kerangka Teologi Tubuh, panggilan ke arah perkawinan adalah panggilan yang diberikan kepada sebagian besar umat manusia. Hanya sekelompok kecil yang dipanggil untuk selibat. Kedua panggilan ini saling melengkapi.

Manusia menjadi gambar Allah tidak hanya melalui kemanusiaannya, melainkan juga melalui persatuan antarpribadi (communio personarum), yang sejak awal mula dibentuk oleh lelaki dan perempuan. Manusia menjadi sebuah gambar Allah baik dalam saat-saat kesendirian, maupun dalam saat persatuan (Santo Yohanes Paulus II)

(Sumber: Warta KPI TL No.106/II/2013 » Lihatlah Tubuhku, Deshi Ramadhani, SJ).




Kamis, 03 November 2016

18.29 -

Teologi mistik

Teologi adalah pembicaraan tentang Allah, tidak terbatas sebagai salah satu bidang ilmu akademis. Gereja Timur memberikan gelar teolog bukan hanya kepada orang yang lulus kuliah teologi secara akademis, melainkan juga kepada para suci (santo-santa) yang tahu berbicara tentang Allah dari pengalaman hidupnya.



Teologi mistik adalah 

* mengenal Allah lewat pengalaman yang didapat dari pelukan cinta yang menyatukan (Jean Gerson – seorang penulis mistisisme). 

* Rahasia kebijaksanaan Allah; untuk mencapai persatuan dengan Allah, tentu saja intelek harus membutakan dirinya akan semua jalan yang dapat dilaluinya (St. Yohanes Salib).

Hidup mistik dapat dijelaskan sebagai suatu persatuan yang begitu dekat antara Allah dan hakikat kita sebagai manusia lemah, bahwa yang ilahi tak lagi tersembunyi di balik yang manusiawi, tetapi menyemburat keluar bagai cahaya agung.

Allah yang dialami itu didapatkan atas prakarsa-Nya serta terungkap dalam suatu pengalaman direngkuh oleh Sang Cinta, yakni Allah itu sendiri.

Allahlah yang menganugerahkan diri-Nya untuk dialami oleh manusia. Ia membuka selubung misteri yang menyelimuti-Nya agar manusia dapat mengalami kehadiran-Nya (Beato Titus Brandsma).

Manusia tidak dapat memahami Allah, ia tidak mampu bercakap-cakap dengan Allah karena bahasa manusia dan “bahasa” Allah berbeda jauh. Untuk itu Roh Kudus menjembati ini semua.

Jadi, jika kita berbicara tentang menjadi mistik, kita tidak sedang membicarakan bagaimana mengetahui banyak tentang Allah karena seorang atheis pun bisa melakukan hal ini.

Tapi, yang kita bicarakan adalah bagaimana kita belajar mencari Allah dan mengalami hadirat-Nya yang kudus dan penuh cinta. Pengalaman ini didapatkan terutama melalui doa.

Untuk itu, kita juga perlu belajar dari pengalaman para kudus karena dari merekalah kita mengenal pengalaman yang asli tentang Allah.

Orang Kristiani dalam masa mendatang harus menjadi mistikus atau tidak menjadi Kristiani sama sekali. (Karl Rahner – seorang teolg besar abad lalu)

Membahas pengalaman tentang Allah memang tidak mudah. Contoh: dalam seminar “pisang goreng” diundang dua orang pembicara; yang satu ibu sederhana penjual pisang goreng dan yang lain seorang filsuf dari Chicago.

* Ibu penjual pisang goreng (contoh orang yang mengalami Allah; seorang Kristen yang sungguh mengimani Yesus) 

Pembicaraannya akan sangat hidup karena ibu ini berbicara dari pengalamannya. Dengan lancar dia berbicara detil tentang pisang goreng, dari bagaimana harus memilih pisang, menakar tepung, mencampur air, memotong pisang, menggorengnya, kadar panas apinya, dan kapan pisang itu harus diangkat dari penggorengan, serta sampai kapan pisang goreng itu dapat bertahan.

* Sang filsuf dari Amerika (contoh orang yang tahu tentang Allah dari teori; seorang atheis yang menjadi dosen Kristologi).

Pembicaraannya panjang lebar meninjau dari berbagai sudut filosofis: bahwa ke-pisang-an itu yang memungkinkan pisang bereksistensi dan atribut “goreng” hanya melekat pada pisang itu pada permukaan jati diri pisang tanpa mengubah hakikat ke-pisangan-nya; bahwa atribut “goreng” pada pisang bukanlah satu-satunya atribut karena ada atribut yang lain misalnya: kekuningan, kehijauan, kemanisan: jadi pisang goreng memberikan contoh salah satu atribut yang dapat melekat pada pisang yang membuat ke-pisang-an itu menjadi nyata berada.

Penjelasan filosofi ini hanya akan membuat orang mengantuk karena ia berbicara teori dan buku tentang pisang goreng, sedangkan pisang gorengnya sendiri belum pernah ia lihat atau makan, apalagi memasaknya.

Salah satu cara yang paling klasik untuk menilai keaslian pengalaman itu adalah melihat buah Roh dalam kehidupan orang itu (Gal 5:22-23 - kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri).

Jadi, pengalaman boleh tinggi ngawang, tapi jika tidak berbuah konkret dan nyata dalam sikap hidup keseharian, pengalaman itu bisa disebut palsu karena jika Allah sungguh hadir, Ia akan mengubah dan membawa kebaikan yang semakin lebih bagi orang yang mengalaminya dan juga bagi orang lain.

Pengalaman akan Allah dalam doa bisa menjadi pengalaman yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.

Maka, sering para mistik tersebut mengungkapkannya dengan perumpamaan (analogi/metafora/simbol) atau puisi atau diam sama sekali

St. Teresa Avila

* Perjalanan hidup rohani dibagi menjadi tiga bagian besar - metaforabagaimana cara mendapatkan air”: 

Via negativa/purgativa: jalan penolakan/pembersihan, di mana kita harus banyak berusaha menolak dosa dan mengatasi kelemahan-kelemahan diri serta banyak berlatih dalam doa. Matiraga dan disiplin diri di dalam tahap awal ini menjadi amat penting. 

Kita harus menimba air dari sumur dengan tangan kita, kita harus bekerja keras menimba air itu untuk mengairi taman bunga. 

Via illuminativa: jalan pencerahan. Kita lebih kurang berusaha dan Allah lebih banyak berinisiatif dan melakukan ini dan itu. 

Kita tetap harus menimba air, tapi sudah ada alat bantu timba dan pipa-pipa air yang membuat pekerjaan kita menjadi ringan. 

Via unitiva: jalan persatuan. Di sini kita diam pasif dan Allah yang aktif berkarya dalam diri kita. 

Kita berhenti menimba, tugas kita hanya mengarahkan pipa ke mana air harus mengaliri taman. Kita tak bekerja keras, air datang dari sumber mata air atau dari sungai.

Akhirnya, kita menjadi sama sekali pasif karena air datang dari hujan dan hujan ini akan menyuburkan taman bunga kita.

Bahasa atau metafora yang digunakan para mistikus yang lahir dari pengalaman mereka biasanya sangat sederhana, tetapi makna dan penjelasan yang ada dibaliknya sungguh amat dalam.

Pengalaman ini bisa didapatkan di mana saja, jika Allah menghendaki, namun tempat yang wajar adalah dalam doa.

* Tahap-tahap hidup rohani - analogi sebuah perjalanan memasuki sebuah puri yang mempunyai banyak ruang untuk dapat sampai ke ruang tengah puri itu (lih. Ziarah ke pulau Puri Batin).

St. Yohanes Salib

* Allah Roh Kuduspuisi Nyala Api Cinta

NCA ini adalah Roh Sang Pengantin, yakni Roh Kudus. Jiwa merasakannya di dalamnya bukan saja sebagai api yang melahap dan mengubahkan, melainkan juga sebagai api yang membakar dan bernyala di dalamnya. ... Dan api itu, setiap kali ia menyala, membasuh jiwa dalam kemuliaan dan menyegarkannya dengan kualitas hidup ilahi.

* Perjalanan menuju Allah - analogi Mendaki Gunung Karmel.

Doa adalah karya Roh Kudus dalam diri kita dan dalam hidup kita; karya Roh Kudus, bukan karya manusia. Dialah yang berkata-kata apabila kita tidak mampu berkata-kata (Rm 8:26).

Ia membimbing kita kepada persatuan dengan seluruh Gereja dan membantu kita untuk memperdalam pengalaman kita akan Allah.

Roh Kudus adalah pemberian terbesar dari Allah. Dalam Roh-Nya Allah selalu memberikan diri-Nya kepada manusia.

Dalam arti ini Allah selalu mengawali setiap komunikasi, percakapan, hubungan dengan manusia. Dari pihak kita manusia yang diminta dan diperlukan adalah sikap keterbukaan.

Roh Kudus sebagai Sang Pemberi Hidup berada dalam hati manusia (1 Kor 3:16). Ia adalah mata air yang terus menerus memancar sampai pada kehidupan kekal (Yoh 4:14).

Analogi tentang seberapa banyak dan sejauh apa usaha manusia itu dalam hidup doa. Kita hanyalah pembantu koki yang memotong semua daging dan sayur, menyiapkan semua bumbu, dan Allahlah Sang Koki, Ia yang memasak bahan-bahan mentah itu menjadi masakan yang nikmat dan lezat. Kalau mau dimengerti lebih dalam lagi, Allah jugalah yang menciptakan bahan-bahan makanan itu.

Jadi, singkatnya Allah menciptakan bahan makanan, manusia menyiapkan bahan tersebut untuk dimasak, dan akhirnya Allah jugalah yang memasaknya menjadi makanan yang lezat

(Sumber: Warta KPI TL No. 88/VIII/2011 » Berkobar-kobar Bagi Allah, Benny Phang , O. Carm).

Rabu, 24 Februari 2016

03.32 -

Teologi Kemakmuran

Berikan sumbangan, maka engkau akan menerima kembali berlipat ganda.

Seruan untuk memberikan sumbangan finansial kepada misi evangelisasi dengan iming-iming untuk mendapatkan kembali apa yang diberikan secara berlipat ganda, seperti yang sering didengungkan oleh para televangelists yaitu para evangelis yang melakukan pewartaan melalui media televisi.

Di satu sisi, mendukung misi evangelisasi adalah baik, namun kalau dilakukan dengan motivasi untuk mendapatkan kembali berlipat ganda apa yang akan diberikan, maka motivasi ini keliru.

Dalam hal ini, seolah-olah sumbangan dilakukan bukan dengan alasan kasih, namun menjadi suatu urusan bisnis, yang dilihat dari segi untung dan rugi.

Pemikiran seperti ini adalah suatu gambaran akan maraknya teologi kemakmuran.

Dalam artikel ini, kita akan melihat latar belakang dari teologi kemakmuran, pengaruh materialisme pada teologi kemakmuran.

Lebih lanjut kita akan menelaah bahwa teologi seperti ini justru bertentangan dengan: 1) Alkitab, 2) jemaat perdana, 3) kehidupan para santa-santo, 4) akal sehat, 5) dimensi eskatologi.

Dan pada akhirnya, kita akan melihat tentang apakah sebenarnya yang dimaksud dengan “hidup berkelimpahan”, yang sering didengung-dengungkan oleh banyak orang, terutama oleh penganut teologi kemakmuran.

Dengan memahami makna  “hidup berkelimpahan” secara benar, maka kita dapat menempatkan nilai-nilai Kekristenan dan semangat Injil di tempat yang semestinya.
Yaitu,  hidup berkelimpahan ini terutama menyangkut hal spiritual dan mengarah pada tujuan akhir manusia, yaitu persatuan abadi dengan Allah di dalam Kerajaan Sorga, tanpa melihat apakah orang tersebut kaya maupun miskin secara jasmani.

I. Definisi dan sejarah teologi kemakmuran

1. Latar belakang teologi kemakmuran

Teologi kemakmuran mulai dipopulerkan di Amerika pada waktu belakangan ini, terutama dengan menjamurnya televangelist yang cukup populer, dengan gaya penginjilan yang khas dan berapi-api.
Secara prinsip, teologi kemakmuran mengajarkan bahwa Tuhan tidak hanya memberikan berkat spiritual, namun terutama adalah berkat kesehatan dan kekayaan.

Dan kerap kali kesehatan dan kekayaan dapat diterima sebagai akibat dari tindakan menabur (seeding), yaitu dengan memberikan perpuluhan.

Bahkan dikatakan bahwa kekayaan adalah suatu tanda bahwa akan kasih Tuhan kepada umat-Nya.

Kita dapat melihat akan beberapa pernyataan dari beberapa televangelist maupun pendeta-pendeta terkenal, salah satunya adalah Joel Osteen yang mengatakan di salah satu kotbahnya:

“Bagaimana untuk hidup dalam kemenangan total? Yesus yang mati, telah bangkit pada hari ke-tiga. Yesus berkata “karena saya hidup, maka engkau juga akan memperoleh kehidupan.”

Diinterpretasikan bahwa Yesus menginginkan kita semua untuk mendapatkan hidup yang berkelimpahan: hidup yang bukan dipenuhi dengan kebiasaan buruk, bukan hidup yang biasa-biasa saja. Bukan kemenangan setengah-setengah, di mana kita mempunyai keluarga yang baik, kesehatan yang baik, namun senantiasa mempunyai masalah dengan masalah keuangan. Ini bukanlah kemenangan yang total. Kalau Tuhan melakukan sesuatu di satu area, Dia akan melakukan juga di area yang lain.

Orang yang mengalami masalah kesehatan dan menerimanya sebagai sebuah salib, adalah tidak benar, karena Yesus telah membayar semuanya, sehingga kita dapat bebas secara total – yang berarti bebas dari kebiasaan buruk maupun kecanduan, bebas dari ketakutan dan kekuatiran, bebas dari kemiskinan dan kekurangan, bebas dari kerendahan diri.

Karena Yesus telah membayar harga agar kita bebas, maka kita harus bebas secara total.

Untuk dapat bebas, maka kita harus tahu siapa diri kita, yang adalah anak-anak Allah, yang bukan orang-orang yang biasa, telah direncanakan oleh Allah sebagai pemenang, yang mempunyai kesehatan yang baik, dan juga banyak uang untuk membayar tagihan-tagihan, …”

Kalimat-kalimat di atas adalah merupakan gambaran tentang teologi kemakmuran, yang ingin mengedepankan kesuksesan dan kemakmuran di dunia ini, seperti: relasi sesama yang baik, keluarga yang baik, punya harga diri yang baik, kesehatan yang baik, dan juga mempunyai kekayaan – sebagai manifestasi dari kebebasan yang total, yang seolah-olah ditawarkan oleh Yesus, karena Yesus telah membayar lunas seluruhnya.
Dikatakan, dengan pengorbanan Kristus, maka seluruh umat Allah harus hidup dalam kelimpahan, termasuk dalam urusan kesehatan dan kekayaan. Namun, apakah benar bahwa pesan ini adalah sesuai dengan semangat Injil?

2. Pengaruh materialisme terhadap teologi kemakmuran

Kalau kita melihat secara lebih cermat, maka kita dapat melihat bahwa materialisme yang melanda dunia ini mempengaruhi teologi kemakmuran. Dunia yang dilanda materialisme – paham di mana kesuksesan, kehormatan dan kemampuan seseorang menjadi parameter apakah seseorang menjadi berharga atau tidak, masuk ke dalam teologi kemakmuran.
Hal ini dapat dibuktikan dengan perkembangan teologi kemakmuran yang baru marak di abad ke-20 ini, di mana materialisme melanda dunia dalam segala bidang.

Materialisme – paham yang percaya bahwa yang benar-benar ada adalah sesuatu yang bersifat materi – memberikan pengaruh kepada teologi kemakmuran.

Rahmat Allah yang terbesar – yaitu janji akan kebahagiaan Sorgawidireduksi menjadi kebahagiaan yang bersifat duniawi dan bersifat material, seperti rumah, kesehatan, kekayaan.

 Dengan demikian, efek dari pengorbanan Kristus di kayu salib direduksi menjadi kebahagian semu yang ada di dunia ini.

Alasan untuk mendapatkan kebahagiaan material yang dibayar dengan pengorbanan Kristus, rasanya menjadi terlalu murah dan terlihat menjadi kesia-siaan, karena memang Kristus bukan datang ke dunia untuk memberikan kebahagiaan duniawi namun kebahagiaan sorgawi. Mari kita membandingkan teologi kemakmuran dengan prinsip-prinsip Alkitab.

II. Teologi kemakmuran salah dalam menangkap pesan Alkitab dan tidak didukung oleh kesaksian jemaat perdana

1. Teologi kemakmuran bertentangan dengan Alkitab

a.   Memang ada bagian di Alkitab yang menyatakan bahwa Tuhan akan memberikan kemakmuran bagi orang-orang pilihan-Nya.

Dikatakan “Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini.” (Ul 8:18).

Kita juga melihat bagaimana kitab Amsal mengatakan “Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.” (Ams 10:22).

b)   Namun di satu sisi, Alkitab juga mengatakan bahwa penderitaankurangnya kekayaan dan kesehatanbukan sebagai bukti bahwa Allah tidak mengasihi umat-Nya.

Kita melihat di kitab Ayub, di mana diceritakan bahwa Ayub yang saleh dan jujur serta takut akan Tuhan (lih. Ayb. 1:1), tertimpa bencana. Dia kehilangan semua yang dimilikinya, termasuk kekayaannya, ternaknya, termasuk keluarganya, dan juga kesehatannya. 

Dan teman-teman Ayub mempergunakan teologi kemakmuran, dengan mengatakan “Camkanlah ini: siapa binasa dengan tidak bersalah dan di manakah orang yang jujur dipunahkan?  Yang telah kulihat ialah bahwa orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusahan, ia menuainya juga.” (Ay. 4:7-8). Teman-teman Ayub melihat bahwa kesengsaraan Ayub adalah sebagai akibat dari dosa-dosanya, karena dalam pemikiran mereka, Allah akan memberikan kelimpahan materi, kesehatan yang baik, serta kehidupan keluarga yang baik, bagi orang-orang yang menjalankan perintah Allah. Namun, pemikiran ini tidak dibenarkan oleh Allah (lih. Ayb 42:7).

Dari kitab Ayub ini, kita sebetulnya melihat dimensi lain dari penderitaan, yang bukan sebagai hukuman atas dosa, namun sebagai penderitaan yang innocent, yang selayaknya diterima sebagai suatu misteri.[1]

Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklik Salvific Doloris, menyingkapkan penderitaan sebagai kesempatan untuk pertobatan, yang membangun kebaikan dari orang yang mengalaminya.[2]

Dengan demikian, pengajaran teologi kemakmuran, yang melihat bahwa penderitaan fisik (jasmani maupun kemiskinan) sebagai sesuatu yang salah, seolah menutup adanya rahmat Allah yang dapat bekerja secara istimewa kepada orang-orang yang sedang mengalami penderitaan fisik.

Walaupun Kristus mengatakan “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mt 6:33), yang sering menjadi ayat andalan dari teologi kemakmuran, namun di ayat-ayat yang lain, Kristus juga memperingatkan para murid untuk berhati-hati terhadap bujukan mamon. Dikatakan “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Mt 6:24).

Bahkan ditegaskan sekali lagi “Sebab lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (Lk 18:25).

Dengan demikian, penekanan bahwa Tuhan pasti akan memberikan berkat-berkat material sebagai tanda kasih-Nya kepada umat manusia, tidaklah menyampaikan kebenaran penuh akan pesan Kristus.
Hal ini  bahkan dapat menyesatkan, terutama jika Kristus kemudian seolah digambarkan sebagai tokoh semacam ‘sinterklas’ yang membagi-bagi hadiah.

2. Teologi kemakmuran bertentangan dengan kehidupan jemaat perdana

Kalau kita menganalisa sejarah kekristenan, maka kita akan dapat melihat bahwa pada masa awal kekristenan, bukan kekayaan materi dan kesehatan yang baik, yang mereka dapatkan, namun justru dikejar-kejar oleh penguasa.

Kita dapat melihat contoh mulai dari Yesus yang akhirnya meninggal di kayu salib, para rasul yang juga menderita dan mati dalam penganiayaan, para jemaat perdana yang juga menderita dan banyak yang meninggal dalam mempertahankan iman mereka.

Tubuh mereka bukannya mendapat kesehatan yang baik, namun sering berakhir pada perut singa-singa yang buas.

Mereka inilah yang dengan setia memegang dan menjalankan pengajaran Kristus sampai pada titik mengorbankan diri mereka. Mereka mencintai kebenaran yang diwartakan oleh Kristus lebih daripada harta kekayaan mereka, melebihi tubuh mereka dan melebihi nyawa mereka. Bahkan dikatakan bahwa Gereja dibangun di atas darah para martir.

3. Teologi kemakmuran bertentangan dengan kehidupan para santa-santo

Kalau kita mempelajari kehidupan para santa-santo, maka kita melihat bahwa mereka adalah orang-orang yang dipakai oleh Tuhan dengan begitu luar biasa. Mereka senantiasa bekerjasama dengan rahmat Tuhan, sehingga menghasilkan buah-buah yang limpah, dalam membawa banyak orang kepada Tuhan, melalui doa- doa dan  karya kerasulan mereka.

Namun, apakah mereka mempunyai kesehatan yang baik serta kekayaan yang berlimpah? Mayoritas dari kehidupan para santa-santo diwarnai dengan begitu banyak penderitaan.

Namun demikian mereka tetap memiliki keberanian untuk mengasihi Kristus dalam kondisi tersulit apapun.

Kita melihat Santo Fransiskus dari Asisi, yang meninggalkan kekayaannya demi untuk mengikuti Kristus secara lebih total. Dia menjadi santo yang besar dalam sejarah Gereja, bukan karena kekayaannya, namun karena keberaniannya dalam mengikuti Kristus, termasuk dalam hal kemiskinan, kemurnian dan ketaatan.

Lihatlah kehidupan Santo Thomas Moore dari Inggris, yang memilih kehilangan keluarga, kekayaan dan jiwanya untuk tetap setia pada Kristus dengan setia terhadap pengajaran Gereja Katolik.

4. Teologi kemakmuran bertentangan dengan akal sehat

Kalau kasih Kristus kepada umat-Nya diukur dari seberapa banyak umat-Nya menerima berkat finansial, maka sungguh sangat disayangkan, dan bahkan tidak sesuai dengan akal sehat.

Bayangkan nasib dari begitu banyak penduduk miskin di dunia. Menurut data tahun 2001, ada 1,1 milyar orang masuk dalam garis kemiskinan yang ekstrim dan 2,7 milyar masuk dalam garis kemiskinan, yang hidup kurang dari US$ 2 (Rp 18,000) per hari.

Ini berarti ada sekitar 40% dari populasi dunia berada di bawah garis kemiskinan. Bahkan dikatakan bahwa 6 juta anak-anak meninggal setiap tahun atau sekitar 17,000 meninggal setiap hari.

Kalau kekayaan material adalah identik dengan kasih Tuhan, maka bagaimana mungkin, kita dapat mengatakan bahwa Tuhan tidak mengasihi orang-orang miskin dan anak-anak yang meninggal setiap hari karena kemiskinan?

Bagaimana mungkin bahwa Tuhan pilih kasih dan memberikan hukuman kepada mereka yang hidup dalam kemiskinan, dan sebagian bukanlah akibat kesalahan mereka sendiri…

5. Teologi kemakmuran menghilangkan dimensi eskatologi

Dengan memberikan penekanan pada kemakmuran material di dunia ini, maka teologi kemakmuran secara tidak langsung mengaburkan dimensi eskatologi – yaitu yang berhubungan dengan akhir zaman.

Penekanan yang terlalu banyak akan kebahagiaan material dari teologi kemakmuran membuat seseorang berfokus pada apa yang terjadi di dunia ini dan mengaburkan apa yang menjadi tujuan akhir dari seorang Kristen, yaitu berkumpul bersama dengan Allah untuk selamanya di dalam Kerajaan Sorga.

Kita tahu bahwa seorang Kristen hidup di dunia ini, namun bukan dari dunia ini. Seorang Kristen harus mempunyai kesadaran bahwa apa yang dialami di dunia ini hanyalah bersifat sementara, karena pada saatnya nanti ketika kemah kita di dunia ini dibongkar, maka Allah telah menyediakan tempat kediaman abadi di Sorga (lih. 2 Kor 5:1).

Seorang Kristen harus tahu bahwa kebahagiaan sejati bukanlah kebahagiaan material, namun kebahagiaan spiritual, yang akan diterima dan dialami secara penuh pada saat kita masuk dalam Kerajaan Sorga.

III. Arti yang sesungguhnya darihidup berkelimpahan

Kalau teologi kemakmuran menekankan kemakmuran material, maka sebenarnya tidak ada yang salah dengan kata “kemakmuran“, namun yang menjadi masalah adalah penekanan kemakmuran pada hal-hal yang bersifat material.

Berjuang untuk memperbaiki taraf hidup, tentu merupakan sesuatu yang baik. Namun tentang hasilnya, apakah kita menjadi kelimpahan atau tidak secara duniawi, bukanlah yang menjadi fokus utama dalam kehidupan umat beriman.

Sebab bukan itu yang menjadi janji Tuhan yang terutama. Kalau Tuhan memberi rejeki duniawi berkelimpahan, puji Tuhan. Kalau tidak, juga tetap puji Tuhan! Tuhan mengetahui yang terbaik bagi kita.

Tuhan memang tidak melarang, bahkan mengajarkan kita untuk memohon rejeki/makanan secukupnya setiap hari, dan ini kita ucapkan dalam Doa Bapa Kami.
Janji inilah yang ditepati-Nya pada orang-orang yang percaya kepada-Nya. Namun Tuhan tidak menjanjikan kelimpahan materi kepada setiap orang.

Memang Yesus mengatakan “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yoh 10:10).

Rasul Paulus juga menekankan hidup yang berkelimpahan, namun bukan berkelimpahan dari sisi material, namun berkelimpahan dalam kasih karunia (lih. Rm 5:20; Ef 2:7) dan oleh kekuatan Roh Kudus, kita dapat hidup berlimpah-limpah dalam pengharapan (lih. Rm 15:13), serta kelimpahan akan iman, kebajikan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih (lih. 2 Pet 1:6-8).

Dengan demikian, kita melihat bahwa kasih karunia Allah dicurahkan secara melimpah kepada umat yang terus bekerjasama dengan rahmat Allah. Namun, Yesus sendiri tidak pernah menjanjikan kelimpahan material, walaupun Dia juga akan memberikan rejeki kepada orang-orang yang mencari Kerajaan Allah dan bertanggung jawab terhadap panggilan hidupnya.

Dia mengatakan kepada para murid yang telah meninggalkan segala sesuatu untuk mengikuti Yesus “Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.” (Mt 19:29).

Apakah “seratus kali lipat” adalah merupakan janji untuk mendapatkan sesuatu yang bersifat material (harta, kedudukan, kesehatan, dll) ataukah sesuatu yang bersifat spiritual?
Untuk melihat ini, maka kita dapat melihat apa yang terjadi pada para rasul. Apakah para rasul mendapatkan kekayaan? Tidak sama sekali. Bahkan, semua rasul mendapatkan penderitaan dan kematian karena mengikuti dan mengajarkan kebenaran Kristus.

Namun, di tengah-tengah penderitaan mereka, mereka tetap menerima rahmat yang berkelimpahan, yaitu rahmat spiritualkegembiraan dalam menghadapi penderitaan dan rahmat pengharapan yang tak pernah surut, karena percaya akan janji Kristus.

Dengan demikian, makna dari hidup berkelimpahan sebagai rahmat yang mengalir sebagai orang yang percaya dan senantiasa bekerjasama dengan rahmat Allah adalah senantiasa bermakna spiritual, entah orang tersebut kaya maupun miskin.

Atau kita harus menyetujui bahwa rahmat spiritual adalah lebih penting daripada rahmat material, karena spiritual adalah lebih utama dan kekal daripada material yang bersifat hanya sementara.

Dengan demikian, hidup berkelimpahan terbuka bagi siapa saja, baik bagi yang kaya maupun yang miskin, yang berarti Tuhan memberikan kesempatan yang sama bagi semua orang.

Bahkan orang-orang yang miskin mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk mendapatkan hidup yang berkelimpahan, karena mereka adalah orang-orang yang senantiasa mengandalkan belas kasih Tuhan.

Dikatakan “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Mt 5:3).

Dengan memberikan penekanan bahwa keutamaan hidup berkelimpahan adalah sesuatu yang bersifat spiritual, maka umat Allah akan senantiasa berfokus pada sesuatu yang spiritual dan mengarahkan pandangan pada tujuan akhir, yaitu persatuan abadi dengan Allah di dalam Kerajaan Sorga tanpa juga melupakan kebaikan badan yang harus dipenuhi selama kita berada di dunia ini.

Kesimpulan:

Dari pemaparan di atas, maka terlihat bahwa teologi kemakmuran adalah teologi yang berfokus pada sesuatu yang bersifat material dan sementara, yang bertentangan dengan pesan Kristus sendiri – yang senantiasa mengutamakan rahmat spiritual dan tujuan akhir dari manusia, yaitu persekutuan abadi dengan Allah di dalam Kerajaan Sorga.

Dengan demikian, teologi kemakmuran terlalu menyederhanakan – mungkin lebih tepatnya membelokkanpesan Injil.

Teologi kemakmuran menjadi sangat berbahaya di tengah-tengah kehidupan yang didominasi oleh materialisme, karena seolah-olah mereka mendapatkan pembenaran dari orientasi mereka ke hal-hal yang bersifat material.

Para Bapa Gereja dan jemaat Kristen awal, tidak pernah mengajarkan tentang penekanan terhadap kemakmuran jasmani. Sebaliknya, yang diajarkan mereka adalah untuk menunjukkan kasih kita kepada Tuhan sampai ke titik darah penghabisan: menyebarkan Injil meski di dalam keadaan kekurangan dan penganiayaan, dan bahkan berani menyerahkan nyawa demi mempertahankan iman.

Sesuatu yang perlu direnungkan adalah buah-buah dari pengajaran Teologi sukses itu. Apakah umat jadi mau prihatin dan lebih berbelas kasih kepada sesama, atau malah cenderung menjadi sombong, dan menganggap bahwa orang miskin itu ‘layak’ miskin karena dosa mereka, sehingga mereka tidak diberkati? Bukankah ini namanya menghakimi? Hubungannya dengan Tuhan bisa seperti hubungan ‘dagang’, seolah mau memberi sekian persen penghasilan dengan harapan menerima berlipat ganda dari Tuhan, semacam investasi saja.

Belum lagi kalau Teologi ini membuat umat menjadi terikat dengan kenikmatan materi, dan ini sudah pasti tidak sesuai dengan ajaran Kitab Suci, sebab malah dikatakan bahwa cinta uang adalah akar dari segala kejahatan (1 Tim 6:10); atau bahkan Tuhan Yesus mengajarkan agar menjadi sempurna seseorang dipanggil untuk memberikan semua harta miliknya kepada orang miskin dan kemudian mengikuti Dia (Mat 19:21).

Selayaknya kita mengingat bahwa Tuhan Yesus sendiri memilih untuk lahir sebagai orang miskin, untuk mengajarkan kepada kita untuk hidup ‘miskin di hadapan Allah’ (Mat 5:3). Semoga kita sebagai murid- murid Kristus dapat diberi kebijaksanaan untuk menilai mana ajaran yang berasal dari Tuhan, dan mana yang bukan.

Dan agar jangan sampai kita memilih-milih ajaran, yang mudah dan enak didengar kita terima, tetapi yang sulit kita tolak.

Kita harus berdoa agar kita dimampukan oleh Tuhan untuk melaksanakan “segala sesuatu yang diperintahkan oleh-Nya” (lih, Mat 28:20) dan bukan untuk memilih-milih ajaran sesuai dengan kehendak sendiri.

CATATAN KAKI:
Paus Yohanes Paulus II, Salvifici Doloris, 11 []
ibid, 13 []



(Sumber: Teologi kemakmuran: ajaran gampang tapi salah!, katolisitas.org).