Tampilkan postingan dengan label *Salib*. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *Salib*. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Desember 2019

19.49 -

3 macam salib



1. Salib hitam (godaan dari setan supaya manusia jatuh) » penderitaan karena kesalahan sendiri

[Luk 4:1-13] Yesus dicobai Iblis. ... Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik. [1 Ptr 5:8] Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya

[Yak 1:13-15] Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: "Pencobaan ini datang dari Allah!" Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut. 

[Kej 3:6] Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya. 

[Pkh 5:9] Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya

[Ams 23:3] Jangan ingin akan makanannya yang lezat, itu adalah hidangan yang menipu

2. Salib putih (cobaan: di-ijinkan Tuhan untuk membuktikan kemurnian iman – 1 Ptr1:7) » penderitaan karena ujian

[Ayb 1:12] Firman Tuhan kepada Iblis: "Nah, segala yang dipunyainya ada dalam kuasamu; hanya janganlah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya." 

3. Salib merah » penderitaan karena mengikuti ajaran Yesus, menjadi pelaku firman (Yak 1:22). 

[Luk 9:23] Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 176/XII/2019 » youtube Rm Eko Wahyu OSC).

Sabtu, 23 Maret 2019

04.13 -

Rela memikul salib



Ada sebuah ungkapan yang beredar di masyarakat berbunyi demikian: Muda, foya-foya; tua, kaya raya; mati, masuk surga. Sebuah ungkapan modern yang menginginkan kebahagiaan terus-menerus, tanpa derita dan kekalahan, tanpa sakit dan kecemasan.

Justru Gereja Katolik memperingati “Hati Bunda Maria yang berduka” setiap tanggal 15 September. Melalui peringatan ini Bunda Maria mengajarkan pada kita bahwa kecemasan, kesengsaraan atau penderitaan, bukanlah hal yang harus kita hindari, tetapi harus kita hadapi. Santa Teresa dari Kalkuta mendapatkan ispirasi dari Bunda Maria yang selalu tersentuh oleh belas kasihan saat orang lain berada dalam kecemasan dan penderitaan.

Marilah kita belajar dari Yoh 19:25-27:

Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: (1) "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: (2) "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.

» Ketika Maria mengikuti jalan salib Putranya, nubuat Simeon terbukti (Luk 2:35 - suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri). Maria tentu menangis dan sangat menderita melihat anaknya yang tak bersalah dijadikan bersalah.

(1, 2) Sejak saat itu Maria menjadi Bunda bagi umat manusia. Umat manusia pun menghormatinya sebagai bundanya. Maria tetap menderita hingga saat ini ketika manusia masih jatuh dalam dosa. Meskipun demikian Bunda Maria tetap mendoakan umat manusia (Santa Maria Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati). Kedewasaan imannya menjadikan Bunda Maria selalu ingin berbela rasa dengan orang yang menghadapi masalah dalam hidupnya.

Bapa Suci Fransiskus mengatakan bahwa tidak ada keluarga yang sempurna. Tidak ada ayah yang sempurna, tidak ada ibu yang sempurna dan tidak ada anak yang sempurna. Situasi itu seringkali menimbulkan kesedihan mendalam, terutama ibu-ibu. 

Banyak ibu di dalam keluarga-keluarga saat ini mengalami duka akibat perbuatan anak dan suami. Mereka merasa disakiti dan dilecehkan. Tetapi kita tidak boleh punah dalam harapan. Kita harus rela untuk memanggul salib seperti teladan Bunda Maria. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 166/II/2019 » Bersama Bunda Maria, menjadi semakin dewasa dalam iman, Pendalaman iman bulan Rosario 2018).

Senin, 10 Oktober 2016

20.29 -

Mengapa kita membuat tanda salib?

Yesus taat kepada Allah Bapa untuk menyelamatkan umat manusia, sehingga dengan sukarela dan rendah hati Dia memilih jalan penderitaan yang paling rendah (dihina, disiksa dan kesepian), bahkan mati di kayu salib. 

Pada saat Yesus dimuliakan (Yoh 12:23b), salib berubah maknanya bagi umat Kristen, sebagai tanda kemenangan, tanda harapan akan kebangkitan, tanda kesetiaan dan tanda kasih Allah kepada umat-Nya (Yoh 3:16). 

Oleh karena itu, peristiwa jalan salib Yesus menjadi bagian yang sangat penting dalam Injil Perjanjian Baru. Jadi, sejak saat itu salib bukan lagi sebagai alat penghinaan tetapi merupakan alat kemenangan, alat kebanggaan dan alat pengenangan akan kematian Tuhan Yesus. Untuk itu, Yesus ingin agar orang-orang di dunia mau mengikuti dan menerima ajakan masuk ke jalan salib (Luk 9:23; 14:27; Yoh 12:26).

Untuk mengenang dan mengimani peristiwa itu kita membuat tanda salib sebagai tanda pernyataan syukur dan terima kasih atas pengambilalihan dosa-dosa kita.

Memperlihatkan bahwa kita adalah pengikut-pengikut Tuhan Yesus Kristus, identitas dari orang Katolik.

Mengingatkan kembali pada waktu kita dibaptis.

Dengan menyebut Allah Tritunggal: Bapa dan Putra dan Roh Kudus, berarti kita memuliakan Allah Tritunggal Yang Mahakudus dan juga memberkati diri kita sendiri

Ini bukan merupakan ajaran sesat, malahan kita diberkati karena telah mewartakan Injil, yaitu sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus

Seringkali kita menggunakan kekuatan sendiri dalam memikul salib, kita takut untuk berserah diri kepada Tuhan, takut menjadi terlantar atau menjadi miskin. 

Sikap ini atau pikiran ini menghambat Tuhan Yesus untuk berkarya dalam diri kita. Seharusnya, sebagai pengikut Kristus kita menerima salib, menerima segala penderitaan dengan mengucap syukur, bahwa kita boleh mengalami sedikit penderitaan Yesus. 

Itu adalah suatu rahmat dari Tuhan Allah Bapa kita, bahwa kita boleh mengalaminya. Dengan kata lain, kita mengatakan “ya” dengan membuat tanda salib, dan mulai dengan hidup baru!

Hidup sebagai seteru salib Yesuskesudahannya ialah kebinasaan Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi (Flp 3:17-21)

(Sumber: Warta KPI TL No. 78/X/2010 » Mengapa Kita Membuat Tanda Salib?, Evert P. Kalumata). 

19.32 -

Arti salib dalam kehidupan kita

Di pegunungan Himalaya, ada seorang pertapa bernama Asita. Sewaktu bermeditasi diberitahukan oleh para dewa dari alam Tavatimsa bahwa seorang bayi telah lahir yang kelak akan menjadi Budha. Pada hari itu juga pertapa itu berkunjung ke istana Raja Suddhodana untuk melihat bayi tersebut.

Setelah melihat bayi, dia mengatakan bahwa Pangeran kecil itu kelak tidak boleh melihat empat peristiwa, yaitu: 1. Orang tua. 2. Orang sakit. 3. Orang mati. 4. Pertapa suci. 


Kalau Pangeran kelak melihat empat peristiwa tersebut, maka dia segera akan meninggalkan istana dan bertapa untuk menjadi Budha. 

Karena itu, Raja memerintahkan pengawal-pengawalnya agar Pangeran dijaga jangan sampai melihat empat peristiwa tentang kehidupan. 

Apabila ada dayangnya yang sakit, maka dayang itu segera disingkirkannya. Semua dayang dan pengawalnya adalah orang-orang muda belia. Selanjutnya Raja membuatkan tiga buah istana yang besar dan indah, satu istana untuk musim dingin, satu untuk istana musim panas, dan satu lagi istana musim hujan. 

Sekeliling istana dan kebun dibuatkan tembok, dan pintu-pintu yang kokoh dan kuat, dan dijaga siang dan malam oleh orang-orang kepercayaan Raja.

Kemudian Raja mengirim undangan kepada orang tua yang mempunyai anak gadis untuk mengirimkan anak gadisnya ke pesta, di mana Pangeran akan memilih seorang gadis untuk dijadikan istrinya. Dengan pernikahannya ini, Raja berharap Pangeran akan lebih diikat kepada hal-hal duniawi. 

Dengan demikian Pangeran Siddattha dan Putri Yasodhara memadu cinta di tiga istananya yang mewah sekali dan selalu dikelilingi oleh penari-penari dan dayang-dayang yang cantik-cantik.

Raja merasa puas dengan apa yang telah dikerjakannya dan berharap bahwa Pangeran kelak dapat menggantikannya sebagai Raja negara Sakya.

Pangeran tidak bahagia dengan cara hidup yang dianggap seperti orang tawanan dan terpisah sama sekali dari dunia luar.

Pada suatu hari Pangeran mengunjungi ayahnya dan berkata: “Ayah, perkenankanlah aku berjalan-jalan ke luar istana untuk melihat tata cara kehidupan penduduk yang kelak akan kuperintah.”

Karena permohonan itu wajar, maka Raja berkata: “Baik, anakku, engkau boleh ke luar dari istana untuk melihat bagaimana penduduk hidup di kota. 

Tetapi sebelumnya aku harus membuat persiapan sehingga segala sesuatunya baik dan patut untuk menerima kedatangan anakku.”

Sewaktu pangeran sedang berjalan-jalan di kota, dengan tiba-tiba seorang tua ke luar dari sebuah gubuk kecil. Rambut orang itu panjang dan sudah putih semua, kulit mukanya kering dan keriput, matanya sudah hampir buta, pakaiannya compang-camping dan kotor sekali. Giginya sudah ompong, badannya kurus kering dan dengan susah payah serta terbungkuk-bungkuk ditopang oleh sebuah tongkat berjalan tanpa menghiraukan orang-orang di sekelilingnya yang sedang bergembira. 

Dengan suara lemah dan perlahan sekali ia meminta-minta makanan dan mengatakan kalau tidak diberi makanan, ia pasti akan mati hari itu juga karena ia lapar sekali dan beberapa hari tidak makan.

Melihat peristiwa itu, Pangeran sedih sekali dan peristiwa itu direnungkannya dengan lebih dalam. Meskipun diselenggarakan sebuah pesta besar untuk menghibur Pangeran, pikirannya masih tetap terganggu oleh peristiwa itu.

Berselang beberapa hari, Pangeran kembali mohon kepada Raja agar diperkenankan melihat-lihat kota Kapilavatthu, tetapi sekarang tanpa terlebih dulu memberitahukannya kepada para penduduk.

Dengan berat hati Raja memberikan izinnya karena dia tahu, tidak ada gunanya melarang sebab hal itu tentu akan membuat Pangeran sangat sedih.

Hari itu pemandangan kota berlainan sekali. Tidak ada penduduk berkumpul untuk mengelu-elukannya, tidak ada bendera-bendera, bunga-bunga, dan penduduk berpakaian rapi. Tetapi hari itu, Pangeran dapat melihat penduduk yang sedang sibuk bekerja. 

Pangeran memperhatikan orang-orang kecil yang sederhana dan semua orang kelihatan sibuk sekali, bahagia dan senang dengan pekerjaannya. 

Tetapi tiba-tiba Pangeran melihat seorang yang sedang merintih-rintih dan berguling di tanah dengan kedua tangannya memegang perut. Di mukanya terdapat bercak-bercak berwarna ungu, matanya berputar-putar dan nafasnya megap-megap.

Untuk kedua kalinya dalam hidupnya, Pangeran melihat sesuatu yang membuat dia sedih. Sejak kanak-kanak, Pangeran terkenal sebagai anak yang penuh kasih sayang terhadap sesama makhluk hidup. Begitu melihat peristiwa itu, maka dihampirinya orang itu dan kepala orang itu diletakkan kepangkuannya dan dihiburnya.

Berselang beberapa hari, Pangeran kembali mohon kepada Raja agar diperkenankan melihat-lihat kota Kapilavatthu. Raja menyetujuinya karena beranggapan tidak ada gunanya lagi sekarang untuk melarang.

Tidak lama kemudian dia berpapasan dengan serombongan orang yang sedang menangis mengikuti sebuah usungan yang dipikul oleh empat orang. Di atas usungan itu berbaring seorang yang sudah kurus sekali dalam keadaan tidak bergerak. Kemudian rombongan membawa usungan itu ke tepi sungai dan meletakkannya di atas tumpukan kayu yang kemudian dinyalakan api. Orang itu tetap diam saja dan tidak bergerak meskipun api telah membakarnya dari semua sudut.

Pangeran heran dan kaget melihat peristiwa itu. Pikirnya: “Sangat mengerikan keadaan yang disebut mati itu, semua orang akan mengalaminya. Apakah benar tidak ada jalan untuk menghentikannya? Tetapi aku rasa pasti ada cara untuk menghentikannya. Aku harus mencarinya dan menolong dunia ini.”

Sewaktu Pangeran mengunjungi Kapilavatthu untuk keempat kalinya, di sebuah taman, Pangeran berhenti dan duduk beristirahat di bawah pohon jambu. 

Tiba-tiba Pangeran melihat seorang pertapa berjubah kuning dengan membawa mangkok di tangan menghampirinya. Pangeran memberi salam kepada pertapa tersebut dan menanyakan kegunaan mangkuk yang sedang dipegangnya. 

Pertapa itu menjawab: “Pangeran yang mulia, aku ini seorang pertapa. Aku menjauhkan diri dari keduniawian, meninggalkan sanak keluarga untuk mencari obat agar orang tidak menjadi tua, sakit dan mati. 

Mangkuk ini aku bawa untuk mengharapkan makanan dari mereka yang berbelas-kasih. Selain dari itu, aku tidak menginginkan hal-hal dan barang duniawi.

Pangeran terkejut karena ternyata pertapa ini mempunyai pikiran dan cita-cita yang sama dengannya. Kata Pangeran: “Oh, Petapa suci, di manakah obat itu harus dicari?” 

Jawabnya: “Pangeran yang mulia, aku mencarinya dalam ketenangan dan kesunyian hutan-hutan yang lebat, jauh dari keramaian dunia. Sekarang maafkan, aku harus meneruskan perjalanan. Penerangan dan kebahagiaan sedang menunggu.”

*
Ada seseorang yang berpikir bahwa dia yang “paling menderita di dunia” sehingga dia berkata: “Tuhan, ambillah salib-salibku. Salibku terlalu berat.” 

Akhirnya Tuhan mengutus malaikat-Nya untuk memperlihatkan berbagai macam sikap orang memikul salib, ada yang memikul salib dengan terseok-seok karena menderitanya, tetapi ada juga orang yang memikul salib sambil berlari-lari. 

Dia juga dibawa malaikat ke gudang salib, kata malaikat: “Di gudang ini ada berbagai macam ukuran salib, silahkan mengambil mana yang cocok untukmu. Dalam setiap salib, dibaliknya ada nama pemiliknya.” 

Dalam gudang yang gelap itu dia meraba-raba untuk mencari-cari salib yang cocok untuknya. Akhirnya dia memilih salib yang paling kecil. Setelah ke luar dari gudang itu, dia menyerahkan salib itu pada malaikat, kata malaikat: “Coba lihat nama dibalik salib itu.” Ternyata dia melihat namanya sendiri.

Dari kisah di atas, kita dapat mengetahui bahwa 

Tuhan mempunyai rancangan yang indah terhadap setiap manusia, tetapi Tuhan juga memberikan kehendak bebas pada setiap manusia.

Manusia mempunyai dua kecenderungan, yaitu: 

1. Selalu ingin memuaskan keinginannya. Laksana minum air garam, semakin diminum semakin haus (sifat dari dosa)... akhirnya menuju kebinasaan. 

2. Takut menderita. Hal inilah yang menghalangi menuju kekudusan. 

Darimana asalnya penderitaan? Penderitaan/salib mulai masuk dalam hidup manusia ketika manusia jatuh di dalam dosa (dosa asal) sehingga manusia mengalami penderitaan dan kematian.

Lebih banyak teologi yang berbicara tentang kemakmuran dari pada berbicara tentang salib. Karena secara manusiawi yang terkait dengan salib itu selalu tidak mengenakkan, membuat takut

Buktinya: ketika Yesus mengatakan tentang penderitaan-Nya (Luk 9:22-27 - Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga; Luk 9: 43-48 - Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia), para murid-Nya tidak mengerti perkataan itu, tidak dapat memahaminya, tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya. Mereka tidak mendengarkan perkataan Yesus tentang pemberitaan salib, tetapi mereka bertengkar tentang siapakah yang terbesar diantara mereka.

Mengapa ini bisa terjadi? Karena bagi dunia, “salib” adalah suatu batu sandungan atau suatu kebodohan, tetapi bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya, salib adalah suatu pembelajaran untuk melihat bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan, karena dibalik salib itu ada kekuatan Allah dan hikmat Allah (1 Kor 1: 22-23; Rm 8:28). 

Maka, Tuhan mengutus putra-Nya ke dunia untuk menjelaskan tentang arti salib.

Yesus adalah 100% manusia dan 100% Allah. Secara manusiawi, pada saat disalib Yesus pun sangat ketakutan sehingga Dia berkata: “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku ... ; peluhnya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah (Luk 22:42, 44). 

Tetapi Dia menyadari panggilan hidupnya, sehingga Dia berkata: “...tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” 

Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepadaNya (Luk 22:42-43).

Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikuti Aku (Luk 9:23)

Menyangkal diri ~ berani berkata tidak pada diri sendiri terhadap keinginan-keinginan yang tidak teratur, yang dapat membawa kepada dosa

Memikul salib setiap hari ~ seharusnya kita mempersembahkan kurban-kurban melalui salib dengan menghayati panggilan kita (umum/awam - imam, nabi dan raja; khusus - imam, biarawan-biarawati). 

Berat/ringannya salib tergantung bagaimana sikap orang itu memikul salib, bukan tergantung dari besar dan kecilnya salib. 

Yesus yang bangkit telah menempuh jalan salib. Jika kita memikul salib bersama Yesus, maka salib yang berat akan terasa ringan, karena Yesus yang memikul salib melalui kita, ini adalah kurban-kurban yang berkenan kepada Allah.

Marilah kita belajar dari Paulus:

Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati (Flp 3:10-11)

» kerinduan Paulus untuk mengenal Kristus melalui jalan salib.

Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku di dera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkantung-kantung di tengah laut.

Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjur dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota; bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu.

Aku banyak berjerih lelah dan bekerja; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian ... , urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat (2 Kor 11:21-27)

» penderitaan-penderitaan yang ditanggung Paulus

Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus (Kol 1:24)

» ketika penderitaannya disatukan dengan penderitaan Kristus, maka dia tetap dapat bersukacita meskipun menderita.

Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman (2 Tim 4:7)

» jalan menuju kesempurnaan.

(Sumber: Warta KPI TL No. 78/X/2010 » Renungan KPI TL tgl 23 September 2010, Bapak Effendy; Riwayat Hidup Budda Gotama, S.Widyadharma).

Minggu, 01 November 2015

21.31 -

Memuliakan Salib

Ada seorang gadis kecil yang mulai belajar aritmatika. Ia menyukai pelajaran itu dan pikirannya penuh dengan berbagai tanda: tanda plus, tanda minus, tanda pembagi, dan sebagainya.

Pada suatu pagi ia diajak ayahnya pergi ke gereja. Gadis itu melihat salib kecil di atas altar. Ia berbisik kepada ayahnya: “Papa, untuk apa tanda plus itu di atas altar?” Gadis itu sedikit bingung melihat tanda plus sendirian di atas altar. Namun dalam pengertian yang mendalam gadis itu benar. Salib adalah “tanda plus”.

Penebusan yang disimbolkan dengan salib telah memberikan sebuahtanda plus yang besarke dalam hidup kita - karena salib menyimbolkan apa yang telah diperbuat Yesus bagi kita.

Tuhan Yesus mengidentifikasikan diri dengan yang tersingkir, yang tertindas, dan yang terlupakan. Kalau sikap Yesus demikian, seharusnya begitu juga sikap para murid-Nya. Identifikasi diri dengan yang tersingkir dan berbagi hidup dengan mereka merupakan cara hidup yang Injili.

Yesus telah menghampakan diri menjadi seorang hamba dan mati bergantung di kayu salib. Namun Allah memuliakan Dia.

Kerendahan dan ketaatan Yesus merupakan prasyarat bagi kemuliaan yang kemudian Ia terima dari Bapa, dan kita mendapat tambahan hidup abadi berkat salib suci.


Memuliakan salib tidak berarti bahwa setiap hari kita mencium salib, melainkan bahwa kita harus memanggul salib dan mengakui bahwa penderitaan adalah bagian dari konsekuensi mengikuti Yesus.


(Sumber: Warta KPI TL No. 37/V/2007; Memuliakan Salib, Vacare Deo Edisi II/IX/2007).

20.48 -

Kemanisan Salib



Setahun yang lalu Bapak Melati ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara. Beberapa bulan kemudian Ibunya meninggal dunia karena tak kuat menanggung sakit dan sedih. Terngiang di telinga Melati makian tetangganya yang menagih hutang “Cepat bayar hutangmu, anak kurus!” Apa yang harus ku-jual untuk membayar hutang? Karena sudah lama adikku sakit, belum sembuh-sembuh juga.

“Oh Yesus, aku tak punya apa-apa lagi, aku tak punya siapa-siapa lagi. Yang kumiliki kini hanyalah salib kehidupan ..., yang kumiliki kini hanyalah Engkau...”

Penderitaan, pencobaan, kekecewaan, kadang melanda hidup bertubi-tubi, seolah tak memberi kesempatan kepada kita untuk sedikit membenahi diri. Kehilangan kasih dari orang yang kita cintai, kehilangan kepercayaan dari orang yang kita hargai, tiada pengampunan dari orang yang kita lukai, semua itu membuat hidup bagai di atas bara api, menghempas diri ke tengah lautan duka yang tak bertepi.

Itulah salib-salib kehidupan, yang mau tak mau dialami oleh setiap orang di dunia ini. Jika kita lari dari masalah, masalah itulah yang akan mengejar-ngejar kita. Kita akan menjadi gelisah dan dihantui oleh masalah yang belum selesai tersebut. Kita tidak akan menjadi bebas, tetapi bahkan menjadi tawanan dari masalah itu.

Mengeluh tak akan membuat salib itu ringan, justru terasa bertambah berat. Lari meninggalkan salib tak akan menyelesaikan persoalan, justru masalah bertambah lekat. Menyesali kehidupan tak akan menghantar jiwa pada kekudusan, justru dosa di hati bertambah padat.



Salib bukan untuk dikeluhkan, bukan untuk ditinggalkan, bukan untuk disesalkan. Sebaliknya, salib merupakan pegangan yang kuat untuk terus menjalani kehidupan. Bayangannya memberikan kesejukan dalam gersangnya dunia, dan kelurusannya menjamin kita untuk tidak tersesat dalam pengembaraan menuju rumah Bapa.

Barangsiapa melarikan diri dari salib adalah seorang tahanan dan musuh kemerdekaan. Barang siapa berlindung pada salib tak pernah akan sesat di jalan. Kekuasaan Agung yang memberi kebahagiaan, yang tidak dapat menjadi tempat kejahatan (St Teresa Avila).

Sungguh suatu rahmat tak terkatakan bila Yesus mengundang kita untuk memasuki pengalaman ini, mencicipi sedikit saja dari apa yang pernah dialami-Nya. Salib adalah suatu rahmat, suatu tanda cinta Tuhan kepada kita.

Lewat saliblah Yesus mempersatukan kita dengan diri-Nya. Kita diajak untuk lepas bebas dari segala yang duniawi, dan melekat kepada Yesus saja.

Jika kita mempersatukan setiap salib kita dengan salib Kristus, maka hidup kita pun akan menjadi berkat bagi orang lain.

Segala kurban-kurban kecil dan sederhana, kalau kita persembahkan dengan penuh cinta-kasih kepada Kristus akan memberikan nilai yang besar dan berarti bagi sesama. Semua itu akan membantu melahirkan semakin banyak orang bagi Kerajaan Allah.
  
Salib melepaskan kita dari banyak hal.

- Ketika uang yang telah kita kumpulkan selama bertahun-tahun tiba-tiba hilang dicuri orang, kita dibebaskan dari kelekatan terhadap uang kita.

- Ketika suatu peristiwa menjatuhkan nama baik dan membuat kita menjadi malu, kita dibebaskan dari kelekatan terhadap nama baik dan harga diri.

- Ketika fitnah seseorang tiba-tiba menerjang perjalanan karir kita dan memporak-porandakannya, kita dibebaskan dari kelekatan terhadap haus kuasa dan jabatan.

Semua itu mengajak hati kita untuk lepas bebas dari segala sesuatu yang duniawi, dan hanya terarah kepada Tuhan saja.

(Sumber: Warta KPI TL No. 37/V/2007 Kemanisan Salib, Vacare Deo Edisi II/IX/2007).

Sabtu, 24 Oktober 2015

22.01 -

Rahasia Tanda Salib



Tanda salib adalah cara resmi Gereja Katolik memulai dan menutup doa-doa dan peribadatannya

Tanda Salib itu merupakan doa yang singkat, padat dan jelas – tanda salib pada saat jari diletakkan di dahipercaya akan Tuhan dengan budinya; pada saat jari diletakkan di dadamencintai Tuhan dengan hati; pada saat jari diletakkan di dekat bahu kiri dan kananmenghayati sebagai tugas dan tanggungjawab



Sebagai ungkapan iman - ungkapan misteri Allah Tritunggal Mahakudus.

Sebelum Injil dibacakan imam berkata “Inilah Injil Tuhan”, dan umat menjawab “terpujilah Kristus” dengan membuat tanda salib di dahi, di mulut dan di hati - menerima firman Tuhan dengan pikiran, perkataan serta perbuatan kita sehari-hari.

Imam memberkati anak-anak dengan membuat tanda salib pada dahi sebagai tanda cinta Allah Tritunggal bagi anak-anak, sebagai pengganti ciuman Allah di dahi anak-anak.

Imam membuat tanda salib didahi dengan abu pada Hari Rabu Abusebagai tanda pertobatan dalam Allah Tritunggal Mahakudus.

Imam memberkati benda-benda Rohani dengan tanda salibsebagai penyaluran berkat Tritunggal Mahakudus.

Uskup memberkati dengan tanda salib tiga kali – sebagai ungkapan berkat yang teramat agung.

Kalau orang berhasilsebagai ungkapan syukur.

Pada saat mengalami kesulitansebagai doa permohonan.

Pada saat orang merasa takutsebagai doa memohon perlindungan.

Pada saat orang memasuki tempat-tempat kudussebagai tanda penghormatan dalam doa.

Pada saat bangun pagi – sebagai doa syukur.

Sebelum tidursebagai doa permohonan pemeliharaan sewaktu beristirahat pada malam hari.

(Sumber: Warta KPI TL No. 25/V/2006; Rahasia Tanda Salib, Percikan Hati Vol. 4, No.7 Maret 2006).

22.01 -

Rahasia Tanda Salib



Tanda salib adalah cara resmi Gereja Katolik memulai dan menutup doa-doa dan peribadatannya


Tanda Salib itu merupakan doa yang singkat, padat dan jelas – tanda salib pada saat jari diletakkan di dahipercaya akan Tuhan dengan budinya; pada saat jari diletakkan di dadamencintai Tuhan dengan hati; pada saat jari diletakkan di dekat bahu kiri dan kananmenghayati sebagai tugas dan tanggungjawab



Sebagai ungkapan iman - ungkapan misteri Allah Tritunggal Mahakudus.

Sebelum Injil dibacakan imam berkata “Inilah Injil Tuhan”, dan umat menjawab “terpujilah Kristus” dengan membuat tanda salib di dahi, di mulut dan di hati - menerima firman Tuhan dengan pikiran, perkataan serta perbuatan kita sehari-hari.

Imam memberkati anak-anak dengan membuat tanda salib pada dahi sebagai tanda cinta Allah Tritunggal bagi anak-anak, sebagai pengganti ciuman Allah di dahi anak-anak.

Imam membuat tanda salib didahi dengan abu pada Hari Rabu Abusebagai tanda pertobatan dalam Allah Tritunggal Mahakudus.

Imam memberkati benda-benda Rohani dengan tanda salibsebagai penyaluran berkat Tritunggal Mahakudus.

Uskup memberkati dengan tanda salib tiga kali – sebagai ungkapan berkat yang teramat agung.

Kalau orang berhasilsebagai ungkapan syukur.

Pada saat mengalami kesulitansebagai doa permohonan.

Pada saat orang merasa takutsebagai doa memohon perlindungan.

Pada saat orang memasuki tempat-tempat kudussebagai tanda penghormatan dalam doa.

Pada saat bangun pagi – sebagai doa syukur.

Sebelum tidursebagai doa permohonan pemeliharaan sewaktu beristirahat pada malam hari.

(Sumber: Warta KPI TL No. 25/V/2006; Rahasia Tanda Salib, Percikan Hati Vol. 4, No.7 Maret 2006).