Selasa, 06 September 2016

06.16 -

Doa penyembuhan

Kalau kita meneliti pelayanan Yesus semasa hidup-Nya di dunia ini, dapat kita saksikan, bahwa penyembuhan merupakan bagian integral dari pelayanan-Nya. Di manapun Ia mewartakan, Ia juga sekaligus menyembuhkan orang (Mat 4:23; 12:28 dll). 

Demikian juga Gereja melanjutkan karya Yesus – mewartakan Injil dan memberi kuasa pada para murid untuk menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan-setan (Mat 10:1, 7-8; Mrk 16:17-19; Yoh 14:12).


Penyembuhan Kristiani bukanlah semata-mata untuk menyembuhkan tubuh orang, biarpun itu yang paling menyolok. 

Namun lewat tanda-tanda itu Tuhan ingin mengatakan, betapa Ia mengasihi manusia dan agar supaya manusia dengan percaya itu memperoleh keselamatan, yang sesungguhnya adalah penyembuhan rohani yang terdalam.

Maka tiap penyembuhan yang sejati mengungkapkan: 
Kasih dan keterlibatan Allah dengan manusia yang menderita. 
Tanda kehadiran Allah dan bahwa Allah sungguh hidup dan mengasihi kita. 

Penyembuhan fisik harus mengarah kepada penyembuhan rohani. 

Sebelum kita berdoa harus lebih dulu tahu jenis penyakit apa yang dideritanya, karena cara doanya berbeda yang satu dengan yang lain. 

Penyembuhan dapat dibagi 4 golongan (Francis MacNutt ): 

1. Penyakit rohani – memerlukan pertobatan dan pengampunan dosa. 

2. Gangguan emosional – kita mengundang Yesus untuk kembali ke masa lampau serta menyembuhkan luka-luka batin tersebut. 

3. Penyakit fisik. 

4. Gangguan roh jahat yang meliputi bidang rohani, emosional dan fisik – kita membebaskannya berdasarkan kuasa Tuhan Yesus sendiri yang diberikanNya kepada Gereja. Dibutuhkan discerment yang teliti sebelum bertindak, serta membedakan apakah orang itu sungguh diganggu roh jahat, ataukah hanya luka batin saja. 

Langkah-langkah menuju doa penyembuhan:

1. Iman yang hidup – kunci untuk berhasilnya doa penyembuhan.

Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya (Mrk 9:23).

Apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu (Mrk 11:24).

Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu (Yoh 14:12).

2. Menyalurkan kasih Allah

Penyembuhan lebih merupakan manifestasi kasih Allah yang begitu mencintai umat-Nya. Karena itu setiap doa harus dilakukan dalam kasih dan dengan kasih. Bila hal itu ditaati, tidak ada doa yang akan merugikan orang, sekalipun orang yang didoakan itu tidak sembuh, bahkan meninggal. 

Para pendoa harus menyalurkan kasih Allah ke dalam diri orang yang didoakan. Maka pendoa yang ideal ialah orang yang penuh kasih, yang tidak merasa perlu membuktikan sesuatu atau mengkorfimasikan dirinya sendiri.

3. Bersatu dengan Allah

Karena doa penyembuhan adalah manifestasi kasih Allah, jelaslah, bahwa orang yang mendoakan harus berusaha bersatu dengan Allah. Semakin bersatu dengan Allah, semakin doanya dikabulkan (Yoh 15:7-8).

4. Kapan harus berdoa?

Kita dapat berdoa: 
Bila diminta oleh orang yang sakit atau keluarganya, tetapi si sakit sendiri harus mau. 
Kita bisa juga berdoa bila ada dorongan dari Tuhan, tetapi hal ini harus kita uji, apakah dorongan itu dari Tuhan atau bukan. 
Kita dapat berdoa di mana saja, sesuai dengan situasi dan kondisinya. Doa dapat di lakukan di mana saja, tidak harus di suatu tempat tertentu. 

Dalam Injil Yesus memakai pelbagai macam cara berdoa dan tidak terikat pada salah satu cara saja, misalnya:

Memegang tangan (Mrk 1:31).
Menjamah (Mrk 1:41).
Memberi perintah (Mrk 2:11).
Memasukkan jari, meraba lidah, meludah (Mrk 7:33-34).
Membuat lumpur dengan ludah (Yoh 9:6).

Langkah-langkah tertentu yang harus kita ikuti supaya doa-doa kita efektif:

1. Mendengarkan 

Mendengarkan orang yang bersangkutan: bertanya kepadanya, apa yang menjadi keluhannya dan apa permintaannya. Kalau kita tahu apa sakitnya, kita dapat berdoa lebih khusus, bukan hanya secara umum.

Mendengar Tuhan: selain mendengarkan orang yang bersangkutan, kita hendaknya terbuka terhadap apa yang mungkin dinyatakan Tuhan kepada kita lewat inspirasi, dorongan dll. 

Ada 3 tahap untuk menerima bimbingan Allah.

1. Proses pertimbangan: memikirkan/menimbang alternatif sampai pada konklusi.

2. Proses intituitif: semacam rasa yang memberikan keyakinan tentang apa yang dikehendaki Allah.

3. Bimbingan langsung - kesan batin yang mendalam, sabda, penglihatan, dll.

2. Diagnosa

Setelah mendengarkan, kita akan sampai pada suatu kesimpulan tentang diagnosanya: apakah orang itu memerlukan penyembuhan rohani, fisik atau pembebasan, atau mungkin beberapa jenis penyembuhan sekaligus. 

Dalam hal ini perlu disadari, bahwa diagnosa kita tidak bersifat mutlak, tidak kebal salah, jadi masih dapat keliru. Karenanya kita tidak boleh memutlakkan pandangan kita.

Sewaktu berdoa kita perlu pula memperhatikan manifestasi pada diri orang yang didoakan. Ini untuk membantu kita mengerti apa yang terjadi.

Jenis-jenis doa penyembuhan:

1. Doa permohonan biasa

Berdasarkan iman akan kebaikan Allah dan bahwa Ia mau menyembuhkan, kita dengan penuh keyakinan dapat memohon kepada-Nya supaya menyembuhkan orang tersebut.

2. Doa perintah

Suatu kesadaran baru dalam doa penyembuhan ialah adanya doa perintah. 

Doa perintah secara umum

Kita dapat memerintahkan penyakit-penyakit untuk lenyap dan orang menjadi sembuh. Misalnya: flu, sakit kepala dll. Dan bila imannya kuat, bahkan penyakit yang paling berat pun dapat. Kita dapat memerintahkan organ-organ tertentu untuk menjadi baru, bergerak, dll (Mrk 11:23 – beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut). Semakin berkembang iman dan keyakinan seseorang, semakin doa ini menghasilkan buah.

Iman yang tanggap (Mrk 3:5 – ulurkanlah tanganmu! Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah...).

Perpanjangan tangan dan kaki

Salah satu aplekasi doa perintah ialah untuk memanjangkan tangan dan kaki yang mempunyai dampak besar dalam pelayanan penyembuhan. Banyak sekali orang dewasa yang sakit punggung dan hal ini kebanyakan disebabkan oleh pergerakan tangan dan kaki.

Bila orang memperoleh karunia yang khusus (karunia iman), doa-doanya menjadi mantap, baik itu doa permohonan dan pasti itu akan terjadi.

(Sumber: Warta KPI TL No. 58/II/2009 » Doa penyembuhan, Vacare Deo edisi Maret & Mei/Tahun V/2003).

05.52 -

Fenomena kesembuhan

Dalam Kitab Suci, kesehatan lahir dan batin dipandang sebagai berkat Tuhan yang paling berharga bagi seorang manusia (Sir 30:14-17: Yes 65:19-20).

“Penyakit” membuat keadaan baik seseorang menjadi buruk, sehingga ia “kehilangan kebahagiaan” karena “menderita sengsara” (Bdk. Mat 15:22; 17:15; Mrk 5:25).

Proses penyembuhan suatu penyakit lazim mensyaratkan empat hal: 

1. Kemauan sembuh. 

Maukah engkau sembuh? (Yoh 5:6).

Apakah yang kamu kehendaki supaya Aku perbuat bagimu? (Mat 20:32).

Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku! (Mrk 1:40). 

2. Iman kepercayaan. 

Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya? Ya Tuhan, kami percaya. Jadilah kepadamu menurut imanmu! (Mat 9:28-29). 

3. Permohonan spesifik. 

Tuhan, supaya mata kami dapat melihat! (Mat 20:33) 

4. Usaha pengobatan. 

Untuk menyembuhkan “seorang buta sejak lahirnya”, Yesus meludah ke tanah, dan mengaduk ludah-Nya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi. Kemudian menyuruh dia untuk membasuh dirinya dalam kolam Siloam (Yoh 9:1, 6-7).

Perempuan itu “sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan”... ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya. Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh! Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakit (Mrk 5:25-29).

Kisah tentang penyembuhan seorang buta di Betsaida (Mrk 8:22-26).

(Sumber: Warta KPI TL No. 58/II/2009 » Fenomena penyembuhan dalam Kitab Suci, P. Hendrik Njiolah, Pr).

05.36 -

Yesus sang penyembuh

Gereja melihat gejala-gejala yang tidak sehat pada umatnya. Karena sebagian umatnya ada yang lebih percaya pada dukun/paranormal/kuasa-kuasa okultisme. 

Jika mereka sakit datang ke dokter (secara medis), tetapi juga menginginkan kesembuhan secara instant melalui dukun/paranormal. 

Hal ini adalah tanda krisis iman – di mana orang lebih percaya pada kuasa-kuasa dukun/paranormal bahkan kuasa kegelapan; kuasa Tuhan seolah-olah tidak ada.


Penyembuhan yang dilakukan oleh dukun/paranormal – hanya menyembuhkan secara fisik, tetapi secara batin/roh tidak; tidak membuat semakin dekat dengan Allah; ada harga yang harus dibayar mahal (Yak 1:17).


Penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus – tidak hanya menyembuhkan secara fisik, tetapi juga menyembuhkan secara rohani dan jiwa, membuat semakin dekat dengan Allah; tidak ada harga yang harus dibayar (gratis).

Jadi, seharusnya jika kita sakit datang ke dokter dan juga datang ke Yesus mohon kuasa penyembuhan – penyembuhan Kristiani tidak bertentangan dengan medis, seringkali saling mendukung satu sama lain.

Ada seorang hamba Tuhan yang sakit usus buntu. Dia tidak datang ke dokter untuk dioperasi tetapi dia hanya berdoa saja mengharapkan penyembuhan dari Tuhan. Akhirnya usus buntunya pecah dan dia meninggal - mempunyai iman yang salah.

Ada seorang bapak di Australia yang menderita sakit jantung, harus melakukan by pass. Sebelum dioperasi, dokter memperlihatkan bagaimana proses operasi. Dia menyetujui menjalankan operasi itu. Dia minta dukungan doa dari teman-teman sekomunitasnya. Operasi itu berjalan dengan baik. 

Dokternya berkata: “Terima kasih, anda telah percaya pada saya, sehingga saya dapat mengoperasi anda dengan mudah. Karena jika orang tidak percaya dioperasi dokternya, seringkali begitu otot jantung ditarik, biasanya akan mengadakan perlawanan (tegang/kaku).” 

Dalam hati bapak ini berkata: “Melalui kuasa doa, saya percaya bahwa Tuhan memakai tangan dokter itu untuk kesembuhan saya.”

Marilah kita belajar dari Mrk 9:14-27; 1:40-45; Mat 8:1-2:

Ada seorang ayah meminta kepada murid-murid Yesus, supaya mereka mengusir roh yang membuat anaknya bisu. Tetapi mereka tidak dapat. Lalu mereka membawanya kepada Yesus. Lalu Yesus bertanya: “Sudah berapa lama ia mengalami ini?” Jawabnya: “... Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” 

» Seringkali iman kita runtuh. Jika Engkau dapat berbuat sesuatu, kalau nggak saya akan mencari dukun/paranormal.

Jawab Yesus: “Katamu: Jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang percaya!” segera ayah anak itu berteriak: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” 

» Tuhan meminta kerjasama kita. Pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat bagi orang yang percaya.

... orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Maka datanglah seorang sakit kusta kepada-Nya ... ia memohon bantuan-Nya, katanya: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” 

» Meskipun orang kusta itu mengalami sakit fisik dan batin, dia tidak berhenti pada sakitnya. Karena imannya, orang kusta ini datang kepada Yesus, tanpa memperdulikan reaksi orang banyak.

Pada zaman Yesus, penyakit kusta merupakan suatu penyakit yang mengerikan, bahkan seringkali dianggap sebagai kutukan dari Tuhan, juga mengalami perlakuan yang tidak enak (Im 13:45 - harus berpakaian yang cabik-cabik, rambutnya terurai, harus menutupi mukanya sambil berseru-eru: “Najis! Najis!”; harus tinggal terasing, di luar kemah kediamannya). 

Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” 

» Yesus menyebuhkan secara integral (tubuh, jiwa dan roh).

Dalam situasi apa pun dalam hidup kita, sakit penyakit kita, baik secara fisik/mental/batin/rohani (jatuh dalam dosa) kita dapat datang pada Yesus sang penyembuh. 

Marilah kita mohon kuasa Roh Kudus, agar Roh Kudus membuka hati kita untuk jamahan dan kuasa Tuhan. Dan kita berani percaya dan mengimani Dia sebagai Tuhan yang menyembuhkan, menyelamatkan dan membebaskan kita. Karena Yesus yang sama juga hadir pada saat ini. Dia tetap Allah yang hidup dahulu, sekarang dan selama-lamanya. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 58/II/2009 » Renungan KPI TL Tgl 12 Februari 2009, Bpk Effendy T).

Perjumpaan dengan Yesus mengubah hidup

Pada tanggal 6-8 Desember 2008, Romo Lulus sebagai romo untuk anak-anak muda di paroki St. Matius Kuala Kapuas mengundang saya dan teman-teman untuk membimbing pujian penyembahan dalam acara jumpa orang muda Katolik di sana. Acara itu dihadiri oleh anak-anak muda dari 2 keuskupan, Kalimantan Tengah dan Selatan.


Begitu para peserta turun dari bis, mereka diantar ke paroki dan diberi makan dulu. Setelah itu para peserta diantar ke rumah umat untuk istirahat/mandi. Sebelum acara dimulai mereka dijemput lagi oleh Rm Lulus dibantu oleh bapa ibu di sana.

Paroki ini ini sangat sederhana, terletak persis di depan sungai (lebar sungai 1 km), segalanya serba susah di sana. Apalagi ada pabrik karet di seberang sungai. Jika pabrik itu bekerja, baunya sampai di gereja.

Dalam setiap pelayanan yang saya ikuti, para peserta pasti dipungut biaya akomodasi/makan. Tetapi acara kemarin itu, tidak sepeser pun dipungut biaya dari peserta. Meskipun para peserta tidak dipungut biaya apapun, panitianya begitu solid dan kompak dalam melayani, tidak ada satupun yang mengeluh atau ada yang iri hati diantara mereka. Bahkan di waktu senggangpun mereka selalu bertanya apa yang bisa saya bantu/perbuat. Semangat untuk melayani sesama dan hidup berkomunitas sangat menonjol di paroki ini. Sungguh suatu pengalaman yang jarang saya jumpai. 

Saya bertanya pada mereka: “Apa yang membuat mereka itu begitu bersemangat untuk melayani para peserta?” Jawabnya: “Kami menjumpai Yesus di dalam camping dan adorani di Tumpang. Jadi kami ingin bagikan itu untuk sesama kami.”

Tantangan yang dihadapi pada waktu persiapan acara ini sungguh berat, karena mereka lagi menghadapi ujian. Meskipun demikian, mereka tetap bersemangat. Begitu selesai ujian, mereka pulang ganti baju langsung ke pastoran, persiapan. 

Meskipun peserta begitu banyak, tempatnya selalu bersih, tidak ada satu sampah pun. Karena begitu ada sampah yang tercecer, ada team yang memunguti sampah. Begitu acara selesai ada team penyapu dan pengepel.

Pada waktu acara terakhir, Romo Lulus minta perwakilan dari masing-masing paroki untuk menceritakan pengalamannya. Ternyata mayoritas mereka bercerita bahwa “dalam parokinya ribut terus, anak-anak mudanya lemes/loyo, kegiatannya hanya olah raga, makan-makan.” 

Akhirnya Romo Lulus minta para peserta untuk memilih salah satu dari 60 anak Paroki Kapuas untuk bercerita. 

Ceritanya: “Kegiatan kami di sini: 
Setiap hari kami mengikuti misa harian. 
Berpuasa sederhana, jam 12 malam sampai jam 12 siang. 
Doa Koronka Kerahiman Ilahi setiap jam 3 sore, mengunjungi Sakramen Mahakudus. 
Mengunjungi orang sakit. Mengantar romo atau suster, jika ada yang membutuhkan komuni. Umat yang sakit, rumahnya kotor, kami bersihkan. 
Melakukan PD seminggu 2 x. Setiap Sabtu, ada PD besar; satu kali dalam seminggu, kelompok sel mengadakan PD juga. Kami memimpinnya secara bergiliran. 
Pada saat Romo Lulus memberikan retret di suatu tempat lain, kami secara bergantian berdoa di Sakramen Mahakudus. 
Kami menabung, agar dapat pergi ke Tumpang untuk mengadakan retret sendiri.” 

Romo Lulus dipuji-puji oleh para peserta. Jawabnya: “Apa artinya seorang Romo Lulus.” Ada peserta yang bertanya: “Apa rahasianya, sehingga Romo bisa membimbing anak-anak muda yang penuh semangat untuk melayani sesama tanpa memikirkan dirinya sendiri.”

Jawabnya: “Saya sebagai pastor yang tugas di paroki Kapuas ini bersyukur diberi anak-anak yang mempunyai kehidupan doa yang kuat. Sehingga mereka tidak pernah membuat masalah dengan orang tua atau guru. Dengan sendirinya mereka tidak ada yang terbawa arus pergaulan bebas atau terlibat narkoba. Saya tidak menginstruksikan apa pun kepada mereka. Saya hanya memberikan gambaran tugas begini-begitu, mereka menjalankannya. 

Acara ini dapat berjalan dengan sukses karena saya selalu mengajarkan pada mereka bahwa dalam hidup ini kita harus selalu mempunyai harapan. 

Mulailah dari yang ada (misalnya: dalam membentuk sel persekutuan doa, meskipun hanya ada tiga orang, lakukan. Biar Tuhan yang menambahkannya - Kis 2:47). Jika ada silih sengketa, selesaikanlah. Itu adalah permintaan Yesus (Mat 5:23-24 – jika engkau mempersembahkan persembahanmu ... dan teringat akan sesuatu yang ada di dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu... pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali). 

Meskipun mereka itu masih SMP, SMA dan satu orang yang sudah bekerja, semangat untuk melayani sesama sungguh luar biasa. Saya yakin dengan semangat mereka yang ada, akan menjadi kekuatan tersendiri untuk perkembangan gereja Katolik ke depan. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 57/I/2009).




Senin, 05 September 2016

23.59 -

Kamulah bangsa terpilih

Di suatu kota kecil ada seorang pendeta yang fanatik sekali. Semua orang di sana dipaksa untuk menerima Yesus dan dibaptis selam. Ketika ada seorang ibu yang tidak mau dibaptis selam, beberapa orang yang tegap membawa ibu tadi ke sungai dan dibaptis. Waktu diselam ibu itu ditanya: “Kamu percaya atau tidak?” Karena menjawab “tidak”, ibu tersebut diselam lagi. Namun, ketika ditanya lagi: “Kamu percaya atau tidak?”, ia tetap menjawab “tidak”. Maka, untuk ketiga kalinya ia diselam lagi dengan lebih lama, sampai ia tidak bisa bernafas. 

Lalu pendetanya bertanya: “Kamu percaya atau tidak?” Ibu itu pun menjawab: “Percaya.” Pendeta bertanya lagi: “Percaya apa?” Ibu tadi menjawab: “Percaya bahwa kamu gila!”



Kita menjadi murid, setelah kita percaya kepada Yesus dan dibaptis. Pembaptisan adalah ungkapan/pernyataan dari iman dan kepercayaan kita bahwa kita menerima Yesus; merupakan suatu penyerahan kepada Tuhan Yesus. 



Oleh karena itu syarat pertama untuk dibaptis adalah percaya. Jadi sekedar dibaptis saja tidak ada artinya, karena yang menguduskan dalam pembaptisan bukan airnya atau caranya, tetapi imannya.

Kita masing-masing dipanggil oleh Allah untuk menjadi murid Kristus, bukan menjadi murid Lucifer (kepala iblis). Kita dipanggil, dikeluarkan dari kuasa kegelapan, untuk masuk ke dalam kerajaan Allah.

Apa sih untungnya kalau mau menjadi murid Kristus?

* Menjadi anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus (Gal 3:26).

* Mewarisi kerajaan imam dan bangsa yang kudus (Kel 19:6). Kita adalah Israel rohani. Karena hati Tuhan terpikat ... (Ul 7:7).

* Kita memperoleh suatu kehidupan yang baru, menjadi bangsa yang baru (1 Ptr 2:9 – kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib).

* Kita adalah imam karena kita mengambil bagian dalam imamat Yesus Kristus sendiri (imamat umum), artinya: kita bisa menjadi pengantara antara Allah dan manusia (berdoa kepada Allah untuk orang lain, maupun untuk diri kita sendiri).

* Menjadi bangsa yang terpilih, supaya kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya (Ef 1:4). Ini adalah suatu panggilan dan kalau Allah memanggil maka Dia juga akan memberikan kemampuan dan sarana untuk dapat melaksanakan apa yang diminta-Nya. 

Untuk itu Ia mengutus Roh Kudus-Nya. Karena kita menjadi murid-murid Yesus, maka Yesus juga akan menjaga dan melindungi kita secara istimewa (Yoh 10:29). Hanya satu yang dapat memisahkan kita dari Allah, tetapi yang satu ini tergantung dari keputusan/persetujuan kita sendiri, yaitu: dosa.

* Sejak di dunia ini, kita boleh mengambil bagian dalam kemuliaan Kristus, walaupun belum sempurna – karena martabat kita.

* Kita mengambil bagian dalam sukacita Yesus sendiri: “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh (Yoh 15:11). 

Jika kita betul-betul mengikuti Yesus, kita tidak akan kehilangan sukacita itu, apa pun yang terjadi: pencobaan-pencobaan, tantangan-tantangan, hambatan-hambatan, kesukaran-kesukaran (Mat 5: 12 – bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga).

Jika kita dalam kesukaran, terimalah itu dan persembahkanlah pada Tuhan: jangan mengeluh, menolak, dan memberontak, tetapi betul-betul mempersembahkannya kepada Tuhan: “Tuhan, kupersembahkan bebanku ini, biarlah rencana-Mu yang terjadi!” 

Kalau kita dihina orang, jangan marah lalu dendam, tetapi doakanlah dia dan kita akan mengalami bahwa penghinaan tadi membuat kita bersukacita. 

Sebaliknya, kalau kita marah, dendam. Kita pasti terus tersiksa dan kita tidak bisa tidur. Akan tetapi, begitu kita mendoakan dan mengampuni dia, ini pasti menjadi sumber sukacita dalam diri kita. semakin dalam kita mengampuni, semakin besar sukacita yang kita alami.

* Memperoleh hidup yang kekal (Yoh 17:3, 24 – mengenal Allah yang benar dan mengenal Yesus Kristus yang telah diutus-Nya; di mana pun kita berada, Yesus pun berada bersama-sama kita). Sehingga tidak seorang pun yang bisa merampas damai yang Dia berikan (Yoh 14:27). 

Cara memperoleh hidup yang kekal (Luk 10:25, 27): Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Sebelum kebangkitan, Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya: “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Allah sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit, bangkitkanlah orang mati, tahirkanlah orang kusta, usirlah setan-setan.” (Mat 10:7-8), lalu sesudah kebangkitan-Nya dan sebelum naik ke sorga Yesus masih berpesan: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman (Mat 28:19-20).

Jadi kita semua, yang percaya kepada nama Yesus Kristus, dipanggil menjadi murid Yesus. Seringkali kita tidak bangga menjadi murid Yesus, karena hanya menjadi penonton dari luar.

Kalau seorang seniman melihat sebatang kayu, dalam hatinya berkata: “Kayu ini akan menjadi patung yang bagus dan tinggi sekali nilainya.” Akan tetapi, kalau kita yang melihat kayu itu, mungkin menurut kita kayu itu hanya bisa dibuang atau dibakar. Allah adalah Sang Seniman yang Maha-agung. Ketika Dia melihat kita, Dia mempunyai rencana: “Akan Saya jadikan indah.” 

Sang Seniman Sorgawi kadang-kadang potong sana, potong sini, pahat itu, pahat ini, dan karena “kayu/bahan” ini hidup, maka baru saja disentuh sudah berteriak, “Aduh, sakit! Jangan keras-keras, Tuhan! 

“Proses pemahatan” ini sulit bagi kita karena selama dalam proses kita belum melihat apa-apa dan kita tidak melihat bentuk kita sendiri. Hanya Sang Seniman yang sudah melihat sebelumnya, bagaimana keseluruhannya dan bagaimana kita masing-masing. Tuhan adalah seniman yang luar biasa lihainya. 

Allah bisa memakai bermacam-macam bahan untuk memotong/memoles kita. kadang-kadang Dia membiarkan kesukaran, masalah, tantangan, godaan, kekecewaan dsb. Supaya kita tumbuh dalam iman, harapan dan kasih. 

Misalnya: jika kita mengalami kesukaran, lalu Tuhan, melepaskan kita dari kesukaran itu, maka kita menjadi bersyukur dan menyadari kuasa Tuhan. ini bukan berarti Tuhan merencanakan yang tidak baik dan mau mencobai kita.

Allah tidak mencobai siapa pun. Tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya (Yak 1:13-14)

Yesus berkata: “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu (Mat 6:33).

“Mencari Kerajaan Allah” itu artinya apa? Menomer satukan Allah di atas segala-galanya tanpa meninggalkan profesi yang halal (harus mengikuti norma-norma Injil). 

Memang ada orang-orang tertentu, orang-orang khusus yang diminta oleh Allah untuk meninggalkan segala-galanya. Akan tetapi, pada umumnya kita dipanggil untuk tetap menjalankan profesi kita masing-masing dengan semangat iman dan dalam persatuan dengan Kristus, maka berkat Tuhan akan turun atas kita masing-masing.

Sehingga sudah sejak di dunia ini, kita akan mengalami hidup kekal, damai, sukacita dan kebahagiaan, serta nanti masih ada bonus tambahannya lagi. Inilah berkat-berkat dan janji Tuhan kepada kita bila kita menjadi murid-murid-Nya.

(Sumber: Warta KPI TL No. 57/I/2009 » HDR September-Desember 2008 Tahun XII).

22.08 -

Kasih itu rela berkorban

Ada dua bersaudara kembar yang bernama Arman dan Arnold. Tetapi mereka memiliki karakter yang sangat berbeda jauh. 

Arman, seorang yang penuh kasih dalam hidupnya, jujur dan setia. Profesinya sebagai hakim. Sedangkan Arnold, seorang pemarah, pendendam, malas, mabuk-mabukan dan suka nongkrong sana-sini, hidupnya tak jelas. Akhirnya berprofesi sebagai penggangguran.



Pada suatu hari Arnold terlibat tindak kriminal, perampokan sampai suatu pembunuhan yang keji. Akhirnya dia ditangkap polisi, melewati proses penyelidikan sampailah pada pengadilan. Tidak disangka dan diduga, hakimnya adalah Arman.


Arman mengalami suatu dilema, di satu sisi dia sebagai hakim yang jujur dan adil harus menegakkan suatu keadilan, tetapi di satu sisi Arnold adalah saudara kembarnya.

Di dalam penjara Arnold merenungkan nasibnya. Ketika Arnold merenungkan nasibnya, tiba-tiba terdengar tapak kaki melangkah mendatanginya. Ketika dia melihat Arman, Arnold langsung membuang muka. Dengan suara yang keras dan berat dia berkata: “Bagaimana saudara saya bisa berbuat keji terhadap saya! Hai Bapa hakim! Untuk apa kamu masuk ke sini! Apakah kamu tidak puas dengan putusan yang dijatuhkan pada saya?”

Dengan bijaksana Arman berkata: “Saudaraku, kamu jangan salah sangka. Aku datang ke sini untuk menggantikan posisimu.” Mendengar itu Arnold terheran-heran dan bertanya: “Apa maksudmu?” Jawab Arman: “Saudaraku, aku akan menduduki posisimu. Bukankah raut wajahmu mirip dengan aku. Pasti tak satupun yang bisa mencurigakan. Karena itu sekarang tanggalkan pakaianmu dan kenakan pakaianku. Setelah itu kamu ke luar dari penjara ini. Orang tidak akan curiga padamu.” Dengan keheranan Arnold bertanya: “ Mengapa kamu berani melakukan perbuatan ini?” Jawab Arman: “Karena aku mengasihimu.”

Akhirnya Arman menggantikan posisi Arnold, dieksekusi di hadapan regu tembak keesokan harinya.

Kasih yang sejati, menuntut sebuah pengorbanan, rela untuk mengalami penderitaan demi yang dicintainya.

Marilah kita belajar dari orang Samaria yang murah hati (Luk 10:25-37): 

Ada seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi juga memukulnya dan sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati

» Jalan dari Yerusalem ke Yerikho berkelok-kelok, terjal, berbatu-batu dan sangat sempit. Di sini tumbuh subur para penyamun/perampok. Sehingga jalan ini disebut The Bloody Way/jalan berdarah. Setiap orang yang melakukan ziarah dan melewati jalan itu harus memberi jaminan pada pemerintah, supaya keamanan bisa terjamin.

Para perampok selalu melakukan aksinya dalam kelompok, mereka mempunyai suatu strategi. Mereka menjadikan salah satu dari mereka untuk berperan sebagai korban yang dirampok, dipukul babak belur lalu ditinggal di jalan. Ketika ada seseorang yang murah hati menolongnya, kawanan perampok itu menghadang dan merampoknya.

Kebetulan ada seorang imam turun melewati jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan

» Ketika seorang imam dan seorang Lewi lewat di sarang penyamun itu, mereka takut membantu, karena mereka tahu strategi yang dipakai para perampok itu. Selain itu mereka juga takut melanggar hukum (Bil 19:11 – orang yang kena kepada mayat, ia najis tujuh hari lamanya). 

Barangkali mereka takut kehilangan kesalehan hidupnya dan belum sampai pada mengasihi Allah, mengasihi Allah secara nyata melalui sesama yang kelihatan (1 Yoh 4:20).

Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan ...

» Meskipun orang Samaria dianggap tidak dekat dengan Allah, tidak mengenal hukum-hukum Allah, tetapi dialah yang melaksanakan hukum Allah. 

Kasih itu bukan kata dan kalimat sayang yang indah dan bagus. Tetapi ia akan menjadi lebih indah dan bermakna ketika dihidupi dalam pengalaman hidup yang nyata, sederhana dan kecil. Karena semua dari kita mempunyai potensi untuk mencapai kekudusan.

Marilah kita meneladani kehidupan St Theresia Lisieux, santa pelindung KPI TL ini. Dengan cara membuka hati kita, membiarkan diri kita selalu dijiwai oleh Roh Allah.

(Sumber: Renungan KPI TL tgl 18 Desember 2008, Romo Iron Risdianto, SVD)

22.02 -

Allah itu baik



Sejak penciptaan Allah selalu mendatangkan kebaikan (Kej 1:3,10, 12, 18, 21, 25). Lebih-lebih manusia, diciptakan sungguh amat baik (Kej 1:31). Tetapi kenyataannya kita tidak baik. Mengapa? 

Karena kita lepas dari kodrat kita, tidak mengikuti rencana-Nya, yaitu: kita tidak mengasihi Allah (Yoh 14:15); kita tidak memuji dan menyembah Allah dalam Roh dan kebenaran (Mzm 148, 150; Yoh 4:23-24).

Seringkali kita pergi ke gereja, tetapi pulang dari gereja tidak mengalami perubahan apa pun dalam kehidupan kita. Itu karena kesalahan kita. 

Kita tidak mempersiapkan hati dengan nyanyian syukur dan puji-pujian (Mzm 100:4). Meskipun kita sudah makan hosti yang sudah dikonseklir, Yesus berjalan terus di tengah gereja ... langsung ke luar meninggalkan kita, Yesus tidak mau bertemu dengan kita. Pada waktu pastor homili, kita juga tidak mau kalah, kita juga ikut homili. 

Dulu sebelum/sesudah Misa, generasi yang tua selalu rajin berdoa rosario, Santa Maria; sekarang berubah menjadi Santa Nokia – nggak ada hati lagi di sana. 

Sesuatu yang keluar dari fungsinya, tidak akan mendatangkan kebaikan, maka nilainya menjadi berkurang, bahkan mendatangkan kerusakan. 

Fungsi mic untuk menguatkan suara ketika berbicara. Tetapi jika mic yang berharga dua juta dipakai untuk ngulek lombok, maka akan sama nilainya dengan ulek-elek yang harganya lima ribu. Selain itu tidak berfungsi lagi. 

Pria diciptakan untuk menjadi kepala (Ef 5:23); wanita diciptakan untuk menjadi penolong/sebagai tiang doa (Kej 2:18). Jika pria/wanita keluar dari kodratnya, maka akan merusak dirinya dan anak-anaknya. 

Jika kita lepas dari kodrat kita, maka rencana Allah yang mendatangkan kebaikan tidak akan terjadi.

Mengasihi Allah bukan karena rajin setiap hari ke gereja, rajin mengikuti kegiatan rohani, siang malam mengurusi PD dll. tetapi menuruti segala perintah Allah (Yoh 14:15). Misalnya: melayani, mengampuni dll. Karena Yesus telah menetapkan kita untuk pergi dan menghasilkan buah dan buah itu tetap (Yoh 15:16).


Seringkali kita salah menyebut buah Roh (1 Kor 12:4; Gal 5:22-23 – kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri) menjadi buah-buah Roh 

Bedanya: 

Buah-buah – dalam satu keranjang ada jeruk, apel, duku (bermacam-macam buah). Jika kita nggak suka jeruk, bisa pilih apel; jika kita nggak suka apel bisa pilih duku. 

Buah - dalam satu keranjang hanya ada satu macam buah. Misalnya hanya apel. Apel itu ada yang rasanya manis, ada yang asam, ada yang segar (rasanya macam-macam), tidak bisa pilih. 

Sudahkah kita berbuah? Jika belum, ingatlah bahwa Yesus menetapkan kita untuk pergi dan menghasilkan buah dan buah itu tetap (Yoh 15:16). 

Artinya: kita harus keluar dari kenyamanan kita, harus berlari. Jika kita sudah bertemu Yesus, harus bertobat (ada perubahan cara pandang) dan ikut melayani. 

Mulailah berbuah, tinggalkan kebiasaan yang bertentangan dengan perintah-perintah-Nya (korupsi, gosip, terikat dengan TV dll.), pakailah paradigma baru. Maka janji Tuhan akan tergenapi.

Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Rm 8:28).

Marilah kita belajar dari Zakheus (Luk 19:1-10): 

Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Di situ ada seorang bernama (1) Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. 

(2) Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ.

Ketika Yesus sampai ke tempat itu, (3) Ia melihat ke atas dan berkata:  "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu." Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa."

Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: (4) "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat."

Kata Yesus kepadanya: (5) "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."

» (1) Zakheus berarti "murni". Dia memang murni karena dimurnikan oleh Yesus Kristus. Dia seorang pendosa yang diubah oleh Yesus menjadi seorang kudus.

Zakheus seorang Yahudi, dianggap sebagai pengkhianat terhadap bangsanya sendiri, karena ia bekerja pada pemerintah Roma, bangsa penjajah. Dan amatlah umum pada masa itu, pemungut pajak, biasanya menarik pajak lebih dari yang ditentukan pemerintah Roma. Dengan kebiasaan itu, maka pemungut pajak sangat dibenci rakyat.

(2) Setelah mendengar dari orang banyak bahwa Yesus begitu baik, menyembuhkan, mengampuni orang berdosa. Maka ia menyadari perlunya berjumpa dengan Yesus. Maka Zakheus memutuskan untuk berlari mendahului orang banyak. Dengan bajunya yang mewah ia memanjat pohon, menunggu Yesus di posisi yang tidak enak. 

(3) Yesus dikelilingi banyak orang berdosa (ada yang pura-pura sok akrab, ada yang merangkul, ada yang pegang tangan-Nya, ada yang bertabrakan tubuhnya), tetapi Yesus diam saja. Ketika Dia merasakan ada hati yang rindu untuk datang pada-Nya, maka Dia berhenti berjalan dan mau menumpang di rumah Zakheus. 

Semua orang memandang rendah pada Zakheus, namun Yesus memandangnya dengan tatapan kasih. Semua orang memanggilnya dengan sebutan "pemungut cukai", namun Yesus menyapanya dengan sapaan kasih, memanggil namanya. 

(4) Secara hukum dengan menggantikan empat kali lipat sudahlah lebih dari cukup. Berkat sapaan kasih, Zakheus bertobat dengan melakukan silih, yaitu: melakukan yang melebihi hukum yang berlaku, lebih dari tingkat keadilan. 

(5) Setelah mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Yesus, Zakheus mengalami perubahan dan menghasilkan buah. Pertobatan yang sejati selalu menghasilkan keselamatan.

(Sumber: Warta KPI TL No. 57/I/2009 » Renungan KPI TL tgl 15 Januari 2009, Bapak Mikael Djatmiko).