Tampilkan postingan dengan label *Luka Batin*. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *Luka Batin*. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Oktober 2017

18.51 -

Beda orang bebal dan orang bodoh



Umumnya orang berpikir bahwa orang bebal adalah orang bodoh. Bukan! ORANG BEBAL PASTI BODOH, malas dan tidak bertanggungjawab, tetapi ORANG BODOH, orang malas, orang tidak bertanggungjawab TIDAK SELALU BEBAL.

Dua orang jatuh ke dalam lubang. Yang pertama seorang ANAK KECIL yang BELUM BISA MEMBACA tanda peringatan tentang lubang tersebut. Yang satunya lagi seorang DEWASA, yang SUDAH MEMBACA tanda peringatan, tetapi memilih untuk MENGABAIKANNYA.

Apakah perbedaan keduanya?

Si ANAK KECIL celaka karena BODOH, TIDAK TAHU. Seandainya tahu, dia tidak akan melakukan hal itu. Orang-orang semacam ini masih bisa diajar, ditegur dan diarahkan. Dengan demikian dia memiliki pengharapan untuk berubah.

Tetapi si ORANG DEWASA celaka karena keBEBALan, TIDAK MAU MENGERTI. Yang pertama bisa kita maklumi, yang kedua tidak.

Orang bebal dan orang tak berpengalaman sama-sama melakukan berbagai kebodohan. Perbedaannya adalah pada sikap hati. Orang bodoh tidak tahu, orang bebal tidak mau mengerti.

Orang bebal adalah orang paling menjengkelkan di dunia ini. Mereka kurang ajar, susah diajar, selalu mencari alasan dan selalu menyalahkan orang lain.

Sungguh, BODOHlah umat-Ku itu, mereka TIDAK MENGENAL AKU! Mereka adalah anak-anak tolol, dan tidak mempunyai pengertian! Mereka pintar untuk berbuat jahat, tetapi untuk berbuat baik mereka tidak tahu (Yer 4:22).

Sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap (Rm 1:21).

Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada Tuhan, dan untuk menyanyikan mazmur bagi nama-Mu, ya Yang Mahatinggi, untuk memberitakan kasih setia-Mu di waktu pagi dan kesetiaan-Mu di waktu malam,

Sebab telah Kaubuat aku bersukacita, ya Tuhan, dengan pekerjaan-Mu, karena perbuatan tangan-Mu aku akan bersorak-sorai. Betapa besarnya pekerjaan-pekerjaan-Mu, ya Tuhan, dan sangat dalamnya rancangan-rancangan-Mu.

Orang yang tak berpengalaman (simple minded = pikirannya sederhana) percaya kepada setiap perkataan (Ams 14:15). Orang bodoh tidak akan mengetahui, dan orang bebal tidak akan mengerti hal itu (Mzm 92:2-6).

ORANG BODOH - mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya (Mat 7:26); tidak percaya segala sesuatu (Luk 24:25); menolak didikan (Ams 15:5); tidak berpengetahuan (Yer 10:14; 51:17); Orang yang tak berpengalaman mendapat kebodohan (Ams 14:18).

Kebodohan menyesatkan jalan orang, lalu gusarlah hatinya terhadap Tuhan (Ams 19:3). Jalan orang bodoh lurus dalam anggapannya sendiri (Ams 12:15).

Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan (Ef 5:17). Buanglah kebodohan, maka kamu akan hidup, dan ikutilah jalan pengertian (Ams 9:6).

Kebodohan adalah kesukaan bagi yang tidak berakal budi (Ams 15:21), orang bodoh mati karena kurang akal budi (Ams 10:21).

Akal budi adalah sumber kehidupan bagi yang mempunyainya, tetapi siksaan bagi orang bodoh ialah kebodohannya (Ams 16:22).

Orang bodoh menghina hikmat dan didikan (Ams 1:7), tidak mengetahui jalan Tuhan, hukum Allah (Yer 5:4), tidak mengikuti perintah Tuhan (1 Sam 13:13). Karena kebodohannya tersesat (Ams 5:23).

ORANG BEBAL sibuk dengan kebodohan (Ams 15:14), membeberkan dan mencurahkan kebodohannya (Ams 13:16; 15:2), melampiaskan nafsunya dan merasa aman (Ams 14:16),

Orang bebal benci kepada pengetahuan (Ams 1:22), tidak berakal budi (Ams 17:16), tidak suka kepada pengertian, hanya suka membeberkan isi hatinya (Ams 18:2), menyeru-nyerukan kebodohan (Ams 12:23: 15:2), melampiaskan seluruh amarahnya (Ams 29:11), dibinasakan oleh mulutnya, bibirnya adalah jerat bagi nyawanya (Ams 18:7),

Hikmat tidak dikenal di dalam hatinya (Ams 14:33), percaya kepada hatinya sendiri (Ams 28:26; Yeh 13:3), sangat tidak berpengalaman ia, dan tidak tahu malu (Ams 9:13), tidak jujur (Ams 15:7), dia ditipu oleh kebodohannya (Ams 14:8), akan dibinasakan oleh kelalaiannya (Ams 1:32). Orang bebal tidak akan disebutkan lagi orang yang berbudi luhur (Yes 32:5).

Sebab orang bebal mengatakan kebebalan, dan hatinya merencanakan yang jahat, yaitu bermaksud murtad dan mengatakan yang menyesatkan tentang Tuhan, membiarkan kosong perut orang lapar dan orang haus kekurangan minuman (Yes 32:6).

Orang bebal berkata dalam hatinya: "Tidak ada Allah." (Mzm 14:1; 53:1).

Mahkota orang bebal adalah kebodohannya (Ams 14:24). Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia (Ams 26:4).

Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh (Mzm 119:130).

[Baca juga: Otak orang bebal]

(Sumber: Ayat emas Kitab Suci).

18.30 -

Otak orang bebal



Anda orang bebal? Anda memiliki kebiasaan buruk dan menyadari sepenuhnya bahwa itu kebiasaan buruk. Anda ingin mengubah kebiasaan itu akan tetapi walaupun telah berusaha mengubahnya, namun anda tidak kunjung berubah. Anda lupa! SETIAP KALI MELAKUKAN HAL ITU, anda LUPA MENGUBAH CARANYA.

Setelah melakukannya, ketika dikecam, ketika ditegur, anda baru menyadari, bahwa anda belum berubah. Bila termasuk orang demikian, maka anda termasuk kelompok orang bebal.

Ada ungkapan, "Rata-rata manusia hanya menggunakan 5% dari kemampuan otaknya." Itu berarti, bila anda meningkatkannya menjadi 10% maka anda akan menjadi orang jenius. Ungkapan tersebut salah.

UNGKAPAN YANG BENAR adalah, "Rata-rata manusia, di dalam melakukan aktifitasnya, hanya 5% yang dilakukan dengan berpikir, 95% lainnya dilakukan secara reflek."

Anda pernah berurusan dengan orang bebal? Anda orang paling beruntung di dunia, bila tidak pernah berhubungan dengan orang bebal. Mudah-mudahan anda sendiri bukan orang bebal.

Umumnya orang berpikir bahwa orang bebal adalah orang bodoh. BUKAN! ORANG BEBAL PASTI BODOH, malas dan tidak bertanggungjawab, tetapi ORANG BODOH, orang malas, orang tidak bertanggungjawab TIDAK SELALU BEBAL.

Tokoh Oneng dalam sinetron Bajai Bajuri adalah orang bodoh, namun dia bukan orang bebal. Tokoh Emak dan Ucup adalah orang bebal, anda dengan mudah dapat menemukan tokoh bebal lainnya.

Orang bebal adalah orang paling menjengkelkan di dunia ini. Mereka kurang ajar, susah diajar, selalu mencari alasan dan selalu menyalahkan orang lain.

ORANG BEBAL adalah orang Always Blame Somebody Else, ORANG YANG SELALU MENYALAHKAN ORANG LAIN. Apabila anda menangkap seorang maling yang bebal, lalu anda gebukin sampe babak belur, maka dijamin dia akan menyalahkan anda.

Dia akan bilang, "Saya memang maling, karena sedang sial maka tertangkap, tetapi nggak boleh digebukin dong!"

Saya banyak berurusan dengan orang-orang bebal dengan berbagai tingkat kebebalan yang berbeda. Kalau boleh memilih, maka beberapa di antaranya sudah kumasukan dalam mesin blender untuk diblender sampai hancur lebur berantakan. Bila jadi diktator, maka yang pertama kulakukan adalah memblender semua orang bebal di dunia ini.

Karena sadar tidak mungkin untuk tidak berurusan dengan orang bebal dalam hidup ini, maka lima tahun terakhir ini aku coba untuk mempelajari kehidupan orang-orang bebal itu dengan harapan dapat memahami mereka lalu menolong mereka.

Inilah TEORIku TENTANG ORANG BEBAL.

Seorang anak kecil terbentur meja, karena rasa sakit dia lalu menangis. Untuk mendiamkannya dan menghiburnya, maka orang dewasa di sekitarnya lalu memukul meja tersebut sambil berkata, "Cup cup cup, jangan nangis. Mejanya nakal ya? Nah, mejanya sudah dipukul!" ANAK TERBENTUR MEJA, MEJANYA YANG SALAH dan dimarahi bahkan dipukul.

Anak yang dibesarkan dengan cara seperti itu AKAN TUMBUH MENJADI SEORANG DEWASA ABS, Always Blame Somebody Else, Selalu menyalahkan orang lain.

Anak yang dibesarkan dengan cara demikian akan terlatih untuk SECARA REFLEK MENCARI KAMBING HITAM seumur hidupnya, ketika menghadapi kemalangan maupun berbuat salah.

Banyak orang tua yang menilai anaknya tidak sepandai yang diharapkan, UNTUK MEMOTIVASINYA, mereka lalu MEMBANDINGKAN anaknya dengan temannya, "Masa kamu kalah dibanding si Aliong?"

Seiring bertumbuhnya si anak, maka kalimat yang digunakan semakin kasar, "Heran, kamu bodoh sekali, adik kamu lebih pintar."

Orang tua melakukannya untuk memotivasi, sang ANAK MENERIMANYA SEBAGAI PELECEHAN DAN PENGHINAAN.

Kebanyakan orang tua cenderung menyangka motivasi seperti itu lebih efektif bila DILAKUKAN DI DEPAN UMUM, bagi sang anak, ITU JAUH LEBIH MENYAKITKAN.

KETIKA MENGHADAPI PELECEHAN, anak-anak SECARA NALURI AKAN MENCARI CARA UNTUK MENGHINDARINYA, bila tidak mampu melakukannya, maka mereka akan mencari cara paling nyaman untuk menghadapinya.

Karena pelecehan dan penghinaan selalu dilakukan ketika belajar, maka si anakpun membenci kegiatan belajar. Ketika disuruh belajar, dia akan mencari alasan untuk tidak belajar atau bertingkah agar bisa menghindari kegiatan belajar.

Jadilah dia si anak nakal yang malas belajar. Setiap kali disuruh belajar, dia secara reflek akan berlaku nakal. Ketika disalahkan si anak akan mencari alasan, mencari kambing hitam untuk alasan kegagalannya atau ketidak mampuannya. Bahkan dalam putus asa si anak akan berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa dia memang bodoh dan layak dihina.

BERDASARKAN PENELITIAN, para ilmuwan menyimpulkan bahwa MANUSIA MEMILIKI 2 BUAH OTAK,

satu otak terletak di bagian depan kepala (OTAK DEPAN), gunanya untuk berpikir,

satu lagi terletak di belakang kepala (OTAK BELAKANG), gunanya untuk menerima semua rangsangan yang diterima oleh panca indera dan memerintah tubuh untuk melakukan sesuatu. Apa yang diperintahkan oleh otak belakang untuk dilakukan tubuh tanpa meminta pertimbangan dari otak depan disebut gerak reflek.

Ketika makan, anda tidak berpikir tentang bagaimana cara memegang sendok, menyuap makanan ke mulut, mengunyah makanan dan menelannya. Ketika makan, anda melakukannya dengan reflek.

Di dalam otak belakang telah tertanam sebuah perintah, “Always use this procedure to solve this problem,” selalu gunakan cara ini untuk menyelesaikan tugas ini.

Sejak kecil saya diajarkan untuk makan dengan santun. Makan dengan santun yang diajarkan padaku adalah, makan dengan rapih, tidak berdecap ketika mengunyah dan makanan tidak acak-acakan.

Setiap kali melihat orang makan acak-acakan, saya akan menilainya kurang sopan, setiap kali mendengar orang makan sambil berdecap-decap, selera makan saya langsung hilang. Saya selalu menegur teman makan yang makan acak-acakan apalagi makan berdecap.

Ketika anda menegur seseorang yang makan berdecap-decap, maka secara otomatis otak belakangnya bereaksi, pertama-tama otak belakang akan mencari arsip kasus ditegur orang lalu beraksi sesuai arsip itu.

Apabila yang anda TEGUR adalah seorang yang BIJAKSANA, maka otak belakangnya akan menemukan arsip beritahu otak depan untuk mempertimbangkannya. Ketika ditegur orang karena makan berdecap, maka otak belakang akan segera memberitahu otak depan, "orang menegur cara makan kita yang berdecap, apa yang harus dilakukan?" OTAK DEPAN, ketika mendapat pemberitahuan tersebut AKAN MEMPERTIMBANGKANNYA.

Apabila otak depan menyimpulkan bahwa makan berdecap memang bermasalah, maka dia akan memikirkan sebuah cara untuk makan tidak berdecap lalu memberi tahu otak belakang untuk memerintahkan agar mulut makan dengan cara tertentu agar tidak berdecap.

Apabila otak depan tidak mampu menemukan cara tersebut, maka dia akan memberitahu otak belakang untuk memerintahkan mulut untuk bertanya kepada orang yang menegur tersebut, "Bagaimana cara makan tidak berdecap?"

Setelah otak belakang mendapat jawaban melalui saraf telinga, maka dia akan memberitahukannya ke otak depan. Otak depan setelah mempertimbangkannya akan memberi tahu otak belakang untuk memerintahkan mulut makan sesuai cara yang diajarkan.

Sekali otak depan memberi tahu otak belakang untuk selalu memerintahkan mulut makan dengan cara tertentu agar tidak berdecap. Maka setiap kali makan, otak belakang secara otomatis (reflek) akan memerintahkan mulut untuk makan dengan cara tertentu agar tidak berdecap.

Apabila otak depan tidak memberikan perintah tesebut, maka lain kali, ketika akan makan, otak belakang akan mengirim pesan ke otak depan, "Ada dua cara makan, berdecap dan tanpa decap, mana yang harus dipilih?"

Otak depan akan mempertimbangkannya lalu memberitahu otak belakang cara makan yang harus dilakukan. Apabila otak depan selalu memberitahu otak belakang untuk makan dengan cara tertentu agar tidak berdecap, maka akhirnya secara reflek orang tersebut akan makan tanpa decap.

Di dalam ilmu komputer inilah yang dikatakan: Always use this program to solve this problem (selalu gunakan cara ini untuk menghadapi kasus ini).

Apabila yang anda TEGUR adalah seorang BEBAL, maka OTAK BELAKANGNYA TIDAK AKAN MEMBERITAHU OTAK DEPAN tentang teguran itu, tetapi LANGSUNG MENCARI ALASAN DAN KAMBING HITAM.

Setelah menemukan arsip alasan dan kambing hitam yang cocok, maka otak belakang memerintahkan mulut untuk mengatakan alasan dan kambing hitam tersebut. Apabila otak belakang tidak menemukan alasan dan kambing hitam yang cocok, maka dia akan meminta otak depan untuk mencari alasan dan kambing hitam yang cocok.

Setelah menemukan alasan dan kambing hitam yang cocok, maka otak depan memberitahu otak belakang, otak belakang segera memerintahkan mulut untuk mengatakannya.

“Makan berdecap adalah cara makan yang paling nikmat. Saya orang desa, sudah biasa makan berdecap.” Adalah contoh alasan dan kambing hitam yang biasa dipakai.

Bila tidak menemukan alasan yang tepat, orang bebal di dalam hatinya akan menyalahkan penegurnya sok ikut campur, sok sopan santun.

ORANG BIJAKSANA MUDAH SEKALI MENGOREKSI KEBIASAAN-KEBIASAAN BURUKNYA. Ketika DITEGUR tentang cara makan berdecapnya, orang bijaksana TIDAK MENGANGGAP HAL ITU SEBAGAI SEBUAH SERANGAN. Alih-alih membela diri, dia justru mengakui kenyataan bahwa cara makannya salah dan mencari cara untuk memperbaikinya.

Setelah menemukan cara makan yang benar, maka pada saat bersamaan diberikan 3 perintah kepada otak belakang.

Pertama, cara makan berdecap itu salah sehingga tidak boleh dilakukan lagi.
Kedua, cara makan yang benar tidak boleh berdecap, itu yang harus selalu dilakukan.
Ketiga, setiap kali makan harus memperhatikan cara makannya, sopan atau tidak.

Dengan kondisi seperti itu, maka orang bijaksana dengan mudah mengembangkan teknik makannya dari hari ke hari. DENGAN POLA PIKIR DEMIKIANLAH SEORANG BIJAKSANA SENANTIASA MENGEJAR KESEMPURNAAN.

ORANG BEBAL TIDAK MAMPU MENGOREKSI KEBIASAAN-KEBIASAAN BURUKNYA. Ketika ditegur tentang cara makan berdecapnya, orang bebal, walaupun di dalam hatinya mengakui kesalahannya, namun MENGANGGAP TEGURAN itu SEBAGAI SEBUAH SERANGAN. Bukannya mencari cara untuk memperbaiki diri, dia justru membela diri membabi buta, dengan mencari alasan untuk membenarkan cara makan berdecapnya, bahkan melakukan serangan balik kepada penegurnya.

Melalui tindakan tersebut, orang bebal pada saat yang bersamaan memberikan 3 perintah kepada otak belakangnya.

Pertama, cara makan berdecap itu tidak salah.
Kedua, setiap kali di tegur, langsung bela diri, kalau perlu lakukan serangan balik.
Ketiga, semua orang yang menegur adalah musuh yang harus dilawan.

DENGAN POLA PIKIR DEMIKIAN SEORANG BEBAL MEMPERTAHANKAN KEBEBALANNYA. Dalam kasus makan berdecap, maka semakin ditegur orang bebal akan makan makin berdecap. Hal itu terjadi, karena semakin ditegur, dia akan semakin meyakinkan diri bahwa cara makan berdecap itulah yang paling benar.

Suatu hari, KETIKA PIKIRANNYA JERNIH dan SUASANA HATINYA NYAMAN, seorang bebal MENYADARI, bahwa cara makan mendecap itu tidak sopan dan kampungan, ia LALU MENETAPKAN HATI UNTUK MENGUBAH cara makannya, BAHKAN BERDOA AGAR TUHAN MEMBANTUNYA.

WALAUPUN telah menyadari dan bertekad untuk mengubah cara makannya, NAMUN orang tersebut menemukan kenyataan bahwa cara makannya tetap berdecap.

Setiap kali ada orang yang menegurnya, dia membela diri, namun menyadari bahwa dia lupa untuk makan tidak berdecap.

Apa yang terjadi, kenapa walaupun bertekad untuk makan tidak berdecap, namun setiap kali makan dia lupa dan tetap makan berdecap? Sebenarnya orang tersebut tidak lupa.

Lupa adalah ketika kita melakukan tindakan mengingat atau mencari sebuah arsip di dalam otak, namun tidak dapat menemukannya. Ketika orang BEBAL itu makan, dia TIDAK MELAKUKAN TINDAKAN MENGINGAT, dia melakukan tindakan makan secara reflek dan cara makan refleknya adalah makan berdecap.

Berikut ini adalah KISAH TENTANG KEBEBALAN yang pernah saya teliti:

Ada seseorang alergi terhadap mecin, ketika memasak mie instan, orang tersebut hanya menuangkan bumbunya ¼ atau ½ bungkus. Makan mie instan dengan bumbu 1 bungkus penuh, akan menyebabkan orang tersebut merasa haus dan meriang sepanjang hari atau harus minum hingga 6 liter air. Istrinya mengetahui hal itu, namun setiap kali memasak mie instan untuk orang tersebut , dia (Istri) selalu memasukan semua bumbunya.

Setiap kali di tegur, dia (Istri) selalu membela diri, bahwa dia lupa atau dia pikir mie yang dimasak dengan bumbu separuh rasanya pasti tidak enak.

Untuk menghindari keributan karena masalah kecil, maka orang tersebut meminta istrinya untuk berhenti memasak mie untuk orang tersebut. Namun hal itu tidak berhasil, dia (Istri) tetap memasak mie untuk sarapan orang tersebut dengan bumbu penuh.

Untuk membantunya mengingat, orang tersebut menempelkan resep yang ditulis pada kertas ukuran A4 di dinding dapur, sehingga, setiap kali Istrinya hendak masak mie, dia akan melihatnya.

Aneh bin ajaib, istri orang tersebut tetap masak mie dengan bumbu penuh dan setiap kali orang tersebut (Suaminya) tegor dia menyatakan bahwa dia lupa atau dia pikir pake bumbu separuh mana enak? Akhirnya orang tersebut sadar sekarang, istrinya adalah seorang yang memang bebal.

#

Suatu hari seorang teman bercerita bahwa dia baru saja ditegur oleh managernya. Dia memang melakukan kesalahan, namun merasa kesal sekali karena teguran tersebut.

Dia sudah menelepon mantan anak buah managernya dan mereka setuju dengannya, bahwa managernya memang keterlaluan ketika menegur anak buah. Menurut temanku itu, dia sendiri menyadari kesalahannya, jadi tidak perlu dimahari lagi.

Untuk memuaskan kekesalannya temanku itu lalu menceritakan semua borok managernya padaku. Ketika temanku minta pendapatku, aku hanya bilang padanya, “Just do what you must!”

Orang bebal memang menyebalkan, tetapi sesungguhnya mereka patut dikasihani. ORANG BEBAL BUKAN ORANG YANG BERBAHAGIA, ketika membuat orang lain jengkel, mereka juga membuat diri sendiri kesal luar biasa.

KEBANYAKAN ORANG BEBAL MAU BELAJAR, namun sayangnya, PROGRAM BEBAL YANG TERTANAM DI DALAM OTAKNYA MEMBUAT MEREKA SULIT SEKALI UNTUK DIAJAR.

Banyak orang mengira, cara terbaik untuk mengajar seorang bebal adalah dengan menghajarnya habis-habisan, dengan menelanjangi kesalahannya habis-habisan, dengan mempermalukannya habis-habisan, dengan konfrontasi habis-habisan untuk memaksa dia mengakui kesalahannya.

Namun pengalaman menunjukkan bahwa CARA TERSEBUT selain KEJAM juga TIDAK MEMBERIKAN HASIL YANG BAIK.

Ketika seorang bebal tidak menemukan alasan dan kambing hitam, maka dia akan membenarkan diri dengan mengasihani diri sendiri. "Betapa malangnya diriku!"

Orang bebal disamakan dengan orang bodoh. KEBODOHAN TERBESAR DARI ORANG BEBAL adalah: ia berpikir dirinya pandai, bahkan ketika seorang bijaksana bicara dengan orang bebal, maka ada dua orang bebal yang sedang berbicara.

Artinya orang yang bijak tidak ada untungnya untuk bercakap-cakap dengan orang bebal apalagi berdebat dengannya. Yang lebih buruk dari orang bebal adalah kesombongannya. Ia terlalu sombong untuk mendengarkan orang lain bahkan teguran atas dosanya, karena ia selalu merasa dan berpikir bahwa dirinyalah yang benar.

Jadi sebenarnya, orang BEBAL bukan hanya sekedar BODOH tetapi orang yang TIDAK MAU DITEGUR atau TIDAK MAU MENERIMA AJARAN YANG BENAR

Ia adalah orang yang sombong dengan kebodohannya, dan dalam kebodohannya itu, ia merasa diri pandai. Sungguh sangat menyedihkan orang yang seperti itu.

Ayat 4 dan 5 mengandung paradoks yang menarik dalam kitab Amsal 26, yang mengatakan: “Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya” dan “jawablah orang bebal menurut kebodohannya”.

Kalau kita tidak menjawab, kita tidak mempunyai resiko jadi sama seperti dia, tetapi kalau kita menjawab, kita akan menghalangi orang bebal merasa dirinya pandai.

Mungkin pelajaran disini adalah bagaimanapun kita bertindak menghadapi orang yang bebal, tidak akan ada untungnya bagi kita.

Lebih lanjut dituliskan bahwa jika kita meminta tolong kepada orang bebal untuk menyampaikan pesan atau berita (Ayat 6), maka dikatakan, kita seperti “mematahkan kaki kita sendiri” karena dengan meminta tolong kepada orang bebal pasti menemui kesulitan ataupun kegagalan. Hanya orang yang bijaksana dan bertanggungjawab yang dapat dipercaya untuk menyampaikan suatu pesan atau berita.

Orang bebal selalu mengulangi kebodohan yang sama. Ia tetap tinggal pada kebiasaan dan kepercayaannya yang buruk, sehingga Amsal mengatakan bahwa orang bebal, “Seperti anjing kembali ke muntahnya” (Ams 26:11).

Anda SULIT BERKEMBANG mungkin karena anda TIDAK PERNAH MERASA SALAH!

[Baca juga: Beda orang bodoh dan orang bebal]

(Sumber: Jangan Menjadi Orang Bebal, hati-gembira-itoe-obat.blogspot.co.id)

Rabu, 12 April 2017

20.32 -

Si perfeksionis kelelahan

Sikap perfeksionis biasanya menghalangi terajutnya jalinan kerjasama yang baik dalam tim kerja.

Si perfeksionis kurang bisa mempercayai hasil pekerjaan orang lain.

Positifnya, Ia memang sangat percaya tetapi negatifnya adalah ia sering merendahkan hasil pekerjaan orang lain, mencela sana sini hasil pekerjaan orang lain yang tentunya tidak bisa persis dengan hasil pekerjaannya. Semuanya bagi si perfeksionis harus serba sempurna menurut pandangannya.

Hasil dari pandangan yang demikian adalah kelelahan fisik dan mental bagi si perfeksionis ,saat ia harus memandang hasil pekerjaan orang lain sembari emosi dan cemberut.

Percaya kepada orang lain dan membuat tim kerja akan mengurangi banyak sekali kelelahan yang tidak perlu.

Memang tidak mudah ketika kita biasa melakukan tugas ini itu sendirian sambil menahan kelelahan mental dan fisik. Lalu, saat ini kita harus berbagi pekerjaan kita dengan orang lain.

Kita harus mulai mempercayai orang lain dan membuat tim kerja yang dapat saling meringankan pekerjaan.

Pada awalnya pasti sulit tetapi jika kita bersediaA, selanjutnya tim kerja tersebut akan membuat kehidupan kita jauh lebih efektif.

Senin, 27 Maret 2017

04.28 -

Ciri-ciri membenarkan diri sendiri

- Ketika datang cobaan, kita sulit menerima hal itu bisa terjadi.

- Menghakimi Allah, mulai menuding Allah tidak adil, padahal Allah memiliki sifat Maha Besar walaupun tindakan-Nya tidak dapat dijangkau dengan pikiran manusia.

- Menolak didikan Allah. 

Ketika ada orang lain berkotbah selalu merasa bahwa itu ditujukan bukan pada kita. Padahal Allah bisa memakai segala keadaan dan semua orang disekeliling kita untuk menegur.

(Sumber: Warta KPI TL No. 01/V/2004).

Jumat, 27 Januari 2017

06.44 -

Kepahitan



Kita sering membicarakan bahwa si “A” tidak dewasa atau dewasa rohaninya. Padahal seharusnya manusia tidak pernah berhenti menuju kedewasaan. Dinamika perkembangan menapak dalam proses pengungkapan diri dan pengembangan diri. 

Sebaliknya, ciri ketidakdewasaan tampak dalam gejala pemusatan perhatian dalam diri sendiri

Pemusatan diri seperti itu dapat merusak keseimbangan diri melalui bermacam-macam cara: rasa bersalah, kecurigaan, kekecewaan diri, pikiran yang emosional, rendah diri yang berlebihan, terlalu memperhatikan pendapat orang lain tentang diri, kecemasan, ketergantungan pada orang tua yang berlebihan, sikap memberontak atau marah, membual atau pemaksaan diri, kemarahan yang membabi buta, penolakan terhadap kritik yang membangun, menunda-nunda, terlalu permisif terhadap diri, guyon-guyon yang merendahkan orang lain, kepura-puraan, dll.

Mengapa seseorang hanya terobsesi pada dirinya sendiri? Hal ini terjadi akibat kesepian, frustasi, kehausan emosional dan spiritual

Bagaimanapun juga akar kepahitan itu berasal dari kegagalan cinta. Masalah yang paling mendasar dari kepahitan adalah bahwa kepahitan tersebut akan menyedot seluruh perhatian kita dan akan menghambat kemampuan mencintai orang lain.

Dunia ini adalah dunia yang penuh kepahitan. Kepahitan yang tersimpan rapat dalam hati kita jauh berbeda dari rasa sakit yang ditimbulkan oleh sakit gigi. Kepahitan itu selalu kita bawa ke mana pun kita pergi, ketika bangun di pagi hari atau tidur di malam hari.

Kita cenderung menilai orang lain berdasarkan tindakan atau apa yang tampak. Jarang sekali kita dapat melihat jauh ke dalam menembus kepura-puraan yang menutupi hati yang tidak aman dan terluka. 

Akibatnya kita sering berusaha menghancurkan benteng kepura-puraan mereka dengan kritik atau sindiran yang membabi buta. Kita lupa bahwa benteng tersebut mereka kenakan hanya ketika mereka terancam. Hanya penerimaan dan pengertian yang dapat memancing mereka keluar dari benteng pertahanan.

Apakah kita benar-benar menginginkan kebahagiaan dan kepenuhan orang lain? Dapatkah kita menuntut bukan apa yang dapat diberikan orang lain pada kita melainkan apa yang dapat kita berikan? Bila kita benar-benar mau mencintai, kita harus bertanya pada diri kita sendiri dengan pertanyaan-pertanyasan tersebut. 

(Sumber: Warta KPI TL No.103/XI/2012 » Through Seasons of the Heart, John Powell SJ).


Menyembuhkan hati yang tertolak

Siapa pun dan apa pun alasannya, penolakan itu menyakitkan. Penolakan dapat menyebabkan luka yang tertanam dalam emosi dan proses pemikiran kita.

98% penolakan berakar dari ucapan yang menyakitkan hati (menyalahkan/menuduh/mencemooh). Ketika seseorang menolak kita, semua yang dia lakukan dan katakan akan membawa reaksi negatif pada kita.

Perkataan pemfitnah seperti sedap-sedapan, yang masuk ke lubuk hati (Ams 18:8)
Rasa tertolak adalah suasana atau sikap batiniah yang mencekam, yang mencerminkan keadaan dari suatu hubungan, atau lebih tepat, yang menunjukkan kegagalan dalam membina hubungan tersebut.

Contoh: kurang disenangi atau diusir/dikucilkan; atau perasaan kurang dihargai atau tidak masuk hitungan; atau merasa diperlakukan bukan sebagai sesama warga, melainkan seperti orang luar yang boleh melihat ke dalam, tetapi tidak boleh masuk.

Ada tiga hal yang dapat menimbulkan luka rohani itu.

1. Ibu-ibu yang hamil yang tidak menginginkan anak lagi karena mereka dihinggapi perasaan kuatir memikirkan bagaimana harus memberi makan semua anak yang sudah ada.

Tanpa sadar, di dalam batin ibu-ibu itu takut menantikan kelahiran anaknya, dan bayi itu akhirnya dilahirkan dengan rasa tertolak yang melukai batinnya.

2. Anak-anak yang menjadi besar tanpa merasakan kasih sayang dari orang tua, terutama ayahnya. Anak yang tidak cukup banyak dipeluk dan dicium cenderung menjadi orang yang kurang percaya diri dan menjadi orang yang merasa tertolak setelah dewasa.

3. Seringkali terjadi di dalam keluarga yang anaknya lebih dari satu tetapi salah satu anak mendapat perhatian yang berlebihan. Tentu saja anak yang lain itu akan merasa tertolak.

Kadangkala orang tua memperhatikan anaknya secara khusus karena anak tersebut mengalami sakit-penyakit atau mengalami suatu masalah yang berat. Ada juga anak sulung yang merasa terbeban karena harus mengurusi/mengalah pada adik-adiknya.

Tidak seorang pun manusia yang sanggup mengekspresikan atau menyatakan kasih sayang, kecuali ia sendiri sudah pernah menerima dan merasakan kasih sayang. (Bdk 1 Yoh 4:19)

Ada tiga macam reaksi atau sikap yang berkembang apabila seseorang menderita penolakan:

1. Sikap mengalah

Orang ini berkata dalam hatinya: “Aduh sakitnya. Tetapi apa boleh buat.” Karena menyerah kalah, terjadilah suatu rentetan perasaan yang kurang baik di dalam hati:

Penolakan menimbulkan rasa kesepian. Kesepian menimbulkan kesedihan. Kesedihan menimbulkan rasa mengasihani diri. Mengasihani diri menimbulkan depresi. Depresi menimbulkan rasa putus asa. Putus asa menimbulkan keinginan mati/bunuh diri.

2. Sikap untuk mengabaikan sakit yang dirasakan

Orang ini berkata dalam hatinya: “Cukuplah sekali ini saja aku terluka, tetapi sekarang tak akan kuberi kesempatan kepada orang lain untuk melukaiku lagi. Aku tidak akan mempercayai siapa pun lagi, sebab mungkin akan melukai aku.”

Orang yang dihinggapi rasa tertolak itu seolah-olah bersikap tidak peduli (cuek) terhadap lingkungannya. Ia berlagak gembira, tetapi kegembiraannya bersifat semu.

Di dalam masyarakat modern dewasa ini orang-orang yang seperti itu sudah mencapai ribuan jumlahnya.

3. Sikap melawan

Menurut Alkitab, roh atau sikap pemberontakan adalah saudara kembarnya dosa perdukunan. Karena itu, tidaklah mengherankan bahwa dengan sikap pemberontakan demikian pada akhirnya orang mulai bermain apidengan setan (okultisme, ilmu hitam, kuasa gelap).

Rentetan perasaan yang kurang baik di dalam hati:

Penolakan menimbulkan kekesalan. Kekesalan menimbulkan kebencian. Kebencian menimbulkan pemberontakan. Pemberontakan menjurus ke perbuatan atau praktek sihir/okultisme.

Reaksi terhadap penolakan itu ketiga-tiganya mempunyai suatu persamaan. Pada dasarnya orang itu bersifat defensif (membangun tembok pertahanan diri, jaga jarak), karena itu ia membela diri dan berupaya untuk menyembunyikan kepedihan yang dirasakannya. Sebenarnya mengatasi penolakan dengan cara-cara seperti itu tidak ada gunanya.

Beberapa orang merasa bahwa menyembuhkan luka akibat penolakan ini memerlukan waktu lama, atau bahkan tidak dapat disembuhkan sama sekali.

Memang sulit bagi orang-orang yang luka hati dan tertolak untuk merasakan bahwa mereka telah diterima, bahkan oleh Bapa di sorga sendiri.

Agar suatu penyakit dapat disembuhkan, terlebih dahulu kita harus berani mengakui bahwa kita juga menderita penyakit tersebut. Jika kita mau mengakui penyakit tersebut dan memakai obat yang ditawarkan Allah, ada harapan untuk sembuh.

Sebab hanya Allah saja yang mempunyai satu-satunya obat penawar yang dapat menyembuhkannya

Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat. Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya (Ams 15:13; 18:14)

Obat mujarab Allah untuk menyembuhkan rasa tertolak (penolakan) itu adalah kematian Yesus di kayu salib atas nama (mewakili) seluruh umat manusia.

Pada kayu salib terjadi suatu transaksi tukar-menukar yang dari semula telah ditetapkan Allah. Di kayu salib itu Yesus telah menggantikan kedudukan kita. Ia telah menanggung semua aib dan kejahatan manusia, agar kita dapat memperoleh segala hal baik yang dimiliki Yesus (Yes 53:4-6).

- Yesus telah menjalani hukuman untuk dosa-dosa kita, supaya kita dapat menerima pengampunan.

- Ia telah ditulari semua sakit-penyakit kita, agar kita dapat disembuhkan.

- Ia telah dijadikan dosa dan memikul tanggung jawab atas semua dosa kita, supaya kita dapat dikuduskan oleh kekudusan-Nya.
- Ia telah dijadikan kutuk, agar kita boleh menerima berkat.

- Ia telah mati bagi kita, agar kita dapat menerima kehidupan-Nya.

Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani ... supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya ... (Ef 1:3-6)

Ada empat hal yang perlu dilakukan agar dapat diterima baik oleh Allah.

1. Ampunilah semua orang yang telah menolak atau menyakitimu (Mrk 11:25), terutama orang tuamu, karena sikapmu yang selanjutnya terhadap orang tua akan sangat menentukan nasibmu. Allah menuntut agar ayah dan ibu dihormati, supaya kita sejahtera dan panjang umur di bumi ini (Ef 6:2-3).

2. Kita harus mengeluarkan dan membuang jauh-jauh sikap yang pernah masuk di hati kita akibat rasa tertolak tersebut, yaitu hal-hal seperti kekesalan, kebencian, dan pemberontakan. Sikap atau suasana hati seperti itu adalah racun kehidupan. Apabila kita tetap menyimpannya di hati, itu akan meracuni seluruh hidup kita. Hal itu dapat mengakibatklan bermacam-macam problem emosional, bahkan juga penyakit. 

Semua sikap demikian tidak boleh dipendam di dalam hati. Ambillah suatu keputusan yang tegas untuk menyingkirkan hal-hal itu dari kehidupan kita. Katakanlah dengan tegas: “Saya mengusir keluar segala kekesalan, kebencian dan pemberontakan dari kehidupan saya.”

3. Kita harus bertindak dengan iman. Percayalah bahwa di dalam Kristus, kita sudah diterima baik oleh Tuhan (Bdk. Ef 1:6).

4. Terimalah diri sendiri apa adanya. Kita selalu teringat akan kegagalan yang telah berulang kali kita alami, sehingga harus mulai lagi dari awal. Ketika kita datang kepada Allah di dalam Yesus, kita sudah menjadi suatu ciptaan yang baru (Ef 2:10).

Ia yang menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka mereka (Mzm 147:3).

Ketika kita menjadi orang Kristen, kita tidak boleh lagi hidup untuk diri sendiri, karena secara bersama-sama semua orang Kristen membentuk suatu “tubuh”, dan masing-masing kita adalah anggota atau bagian dari “tubuh” tersebut (Rm 12:4-5; 1 Kor 12:14-16, 21-23).

Oleh karena itu, tidak seorang pun di antara kita dapat berkata kepada sesama saudara seimannya: “Saya tidak membutuhkanmu.” Semuanya saling membutuhkan. Kita harus mencari tahu di mana tempat kedudukan kita di dalam tubuh itu. Setelah menemukan di mana tempat kedudukan kita, maka perasaan bahwa kita telah diterima akan mulai terwujud dalam kehidupan sehari-hari.

Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan mencemarkan orang banyak (Ibr 12:15).

(Sumber: Warta KPI TL No. 83/III/2011» Rasa Tertolak, Bagaimana mengatasinya?, Derek Prince).






Kamis, 03 November 2016

22.00 -

Dipulihkan untuk memulihkan

Setelah dibaptis, status kita adalah anak-anak Allah

Tetapi seringkali tutur kata dan perbuatan kita bukan sebagai anak-anak Allah. Mengapa ini bisa terjadi? Karena kita kurang mempunyai relasi kasih dengan Allah

Yang ada hanyalah relasi kebutuhan, kita bertindak sebagai bos” dengan memaksa Allah meng-amin-kan dengan segala rancangan kita. 

Ketika proposal kita belum dikabulkan maka kita mengalami kekecewaan sehingga kita lupa bahwa kita adalah milik-Nya, alias “hamba”-Nya.



Bagaimana kita bisa bangkit dan mengalami suatu pemulihan? Sadarilah kehadiran Allah dalam setiap langkah hidup kita (



lih. warta No. 87/VII/2011 – Hidup di Hadirat Allah) dan jadikanlah Yesus sebagai jurumudinya (lih warta No. 37/V/2007 – Menyerahkan Kemudi Kehidupan di Tangan Tuhan).

Jika kita menyadari status kita sebagai hamba-Nya maka dalam setiap doa kita mengajukan proposal, tetapi kita juga hening untuk mendengarkan suara-Nya

Roh Kudus-lah yang akan memberitahukan hal-hal yang akan datang kepada kita (Yoh 6:13) sehingga rancangan damai sejahtera untuk memberikan hari depan yang penuh harapan (Yer 29:11) tergenapi dalam kehidupan kita.

Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan hatinya menjauh dari Tuhan! (Yer 17:5)

Marilah kita belajar dari dua murid Yesus di jalan ke Emaus (Luk 24:13-35)

Pada hari itu juga dua orang murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang terjadi 

» Yesus melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa (Kis 1:4-5). Mereka tidak taat, karena perjumpaan mereka dengan Yesus hanya berdasarkan relasi kebutuhan, bukan berdasarkan relasi kasih. 

Jadi mereka berjalan dari Yerusalem (= syalom, damai) pergi ke Emaus (= mata air yang panas).

Ketika mereka bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia 

» keinginan mereka memperoleh suatu pengharapan yang pasti (hidupnya dipulihkan) tetapi mereka menghadapi realita yang berbeda sehingga mereka kecewa dan putus asa dan mereka dibutakan oleh ilah-ilah jaman (kekuatiran, ketakutan, ketidak percayaan dll). 

Akibatnya mereka melakukan kesalahan fatal, yaitu tidak mampu mengenal Yesus yang hadir selama bercakap-cakap dan bertukar pikiran.

Yesus berkata kepada mereka: “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?” Maka berhentilah mereka dengan muka muram … kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel, tetapi … 

» orang yang kecewa mukanya muram, mudah tersinggung dan mudah marah, akibatnya bisa membunuh orang lain (Bdk. Kej 4:23).

Ia berkata kepada mereka : “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! 

» Tidak mendengarkan perkataan Tuhan.

Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan 

» Yesus melakukan hal ini karena Dia rindu diundang.

Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: “Tinggallah bersama-sama kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.” Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. 

» Tuhan mau kita dengan rela menerima-Nya, bukan dengan terpaksa

Setelah kita dipulihkan dari masalah kita, seharusnya kita juga memulihkan sesama kita seperti Lazarus (Yoh 11:1-44). Dengan cara mengikuti Yesus dan membagikan pengalaman hidup kita kepada setiap orang yang kita jumpai sehingga mereka juga mengalami kasih Allah seperti kita. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 88/VIII/2011 » Renungan KPI TL tgl 5 Mei 2011, Dra Yovita Baskoro, MM).

Selasa, 04 Oktober 2016

04.07 -

Hipnoterapi ala Yesus



Sejak Lazarus dibangkitkan, kemana saja Yesus pergi, dia selalu ikut untuk bersaksi. Sehingga banyak orang percaya pada Yesus. Jadi, hidup Lazarus dan Yesus bagaikan mata uang dengan dua sisi, yang tak mungkin dipisahkan. Sehingga imam-imam kepala bermufakat untuk membunuh Lazarus juga (Yoh 12:9-11). 

Ketika kita dibangkitkan oleh Tuhan dari keterpurukan hidup, kita juga harus menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan Yesus, suka atau tidak suka. Hal ini tidak banyak dimengerti oleh orang Kristen.

Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka (2 Kor 5:15)

Ketika kita dalam keadaan begitu menderita, Tuhan Yesuspun ikut merasakan penderitaan kita. Hal ini dikarenakan Dia sangat mengasihi kita. Tetapi kadangkala Allah mengizinkan kita mengalami semua penderitaan itu agar kita belajar proses kehidupan, agar kita menjadi pemenang. 

Ketika Yesus melihat Maria menangis, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu. Maka menangislah Yesus (Yoh 11:33-35) 

Cara Yesus memulihkan hidup kita seperti mata kapak yang jatuh ke dalam air. Jika kita ingin mendapatkan mata kapak itu kembali, maka kita harus mencari di mana jatuhnya (2 Raj 6:1-7). 

Artinya: Tuhan mengajak kita kembali ke peristiwa masa lalu yang traumatik, kembali ke semua memory yang pernah kita alami secara detail. Dan Dia ada di sana menyertai kita. Itulah yang memulihkan hidup kita. 

Janganlah kita seperti murid-murid Yesus, mau lari dari kenyataan atau menghindari sesuatu yang dulu pernah membuat kita hampir hancur. Jika hal ini terjadi, kita tidak akan pernah menjadi orang yang merdeka, tidak memperoleh kekuatan dari Tuhan dan tidak mengalami pertobatan. Karena kita berjalan di kegelapan, bukan berjalan di dalam terang (Yoh 11:8-10). 

Ada bahayanya jika kita melakukan penyembuhan luka batin sendiri: karena bukan pemulihan yang didapat tetapi luka batinnya bisa bertambah parah. Jadi harus ada pembimbingnya atau ikut dalam retret luka batin agar tidak salah jalan. 

Hipnoterapi di luar Yesus: ditarik ke masa lalu yang penuh trauma dan dibawa ke masa sekarang dengan 100 % kepandaian/kekuatan manusia. Jika salah menggali/salah prosesnya, maka hal ini sama dengan cuci otak (Brain Wash). 

Marilah kita belajar dari Simon (Yoh 21:1-19) 

# Yesus menampakkan diri di pantai danau Tiberias (Yoh 21:1) ~ Yesus berdiri di pantai danau Genesaret (Luk 5:1).

Danau di wilayah Galilea. Dalam PL disebut danau Kineret (Bil 34:11), atau Kinerot (Yos 12:3) dan dalam PB disebut ‘Genesaret’ atau ‘Tiberias’. 

# Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa (Yoh 21:3) ~ Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa (Luk 5:5). 

# Kata Yesus kepada mereka: "Tebarkanlah jalamu ... maka akan kamu peroleh." (Yoh 21:6) ~ Yesus berkata kepada Simon: “... tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan (Luk 5:4). 

# Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau (Yoh 21:7) ~ Datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air ... lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Kata Yesus: “Datanglah!” Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus (Mat 14:29). 


# Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak (Yoh 21:11) ~ Setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak (Luk 5:6) 

Jala tidak koyak - ketika diberkati secara luar biasa dan sudah diproses sedemikian rupa oleh Tuhan, maka jalanya tidak koyak. Jala mulai koyak - ketika diberkati secara luar biasa dan belum diproses sedemikian rupa oleh Tuhan, maka jalanya mulai koyak. 
# Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti (Yoh 21:9) ~ di tengah-tengah halaman rumah itu orang memasang api dan mereka duduk mengelilinginya. Petrus juga duduk di tengah-tengah mereka (Luk 22:55). 

# Kata Yesus kepada mereka: "Marilah dan sarapanlah." (Yoh 21:12) ~ Yesus berkata kepada mereka: “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Jawab mereka: “Yang ada pada pada kami hanya lima roti dan dua ikan.” (Mat 14:16-17). 

[Yoh 21:15-17] Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka itu?” (sudahkah engkau mengasihi-Ku tanpa syarat?). 

Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” 

Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku...” ~ berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya: “Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku. Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedih (Luk 22:61-62) 

» Suasana itu mengembalikan ingatan Petrus ke titik di mana dia pernah jatuh. 

Mengapa Yesus memanggil Simon, anak Yohanes bukan Simon Petrus? Karena Yesus sangat mengerti kejiwaan seseorang, Dia ingin mengingatkan Simon akan siapa jati dirinya. Dia juga sudah memaafkan penyangkalan Petrus

Jadi, Dia tidak ingin Simon bertambah menderita dan tertunduk malu seperti buluh yang patah terkulai. Meskipun Simon seperti buluh yang patah terkulai, dia diangkat hidupnya dan dipercayai oleh-Nya untuk menggembalakan domba-domba-Nya. Ini adalah anugerah yang luar biasa yang diberikan pada Simon. 

Pada saat Pentakosta, Roh Kudus dicurahkan padanya, sehingga dia bangkit dan dia menjadi Petrus, batu karang yang tak tergoyahkan. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 67/XI/2009 » Renungan KPI TL Tgl 17 Oktober 2009, Dra Yovita Baskoro, MM).

Selasa, 20 September 2016

07.29 -

Jangan tawar hati




Orang hebat atau orang yang terkuat sekalipun akan lemah dan tidak berdaya di dalam menanggung hidupnya kalau mereka tidak mendapatkan kekuatan anugerah Allah.



Jika saat ini engkau tawar hati, bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan, janganlah meninggalkan kasih yang semula (Why 2:1-7). Timbalah kekuatan dengan mengenal Allah secara pribadi melalui doa dan pembacaan firman-Nya.



Seorang pelayan sejati akan tetap setia, rela membagi Injil Allah dan hidupnya, baik atau tidak baik waktunya (2 Tes 2:8; 2 Tim 4:2). Mereka melakukan pelayanan kasih untuk kemuliaan Tuhan (2 Kor 8:19), memberitakan firman Tuhan dengan maksud baik (Flp 1:15).



Karena tahu kepada siapa percaya dan yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya hingga pada hari Tuhan (2 Tim 1:12).

Marilah kita belajar dari Paulus (2 Kor 4:1, 16)

Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati. Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.

» Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat (2 Kor 9:23-28).

Setiap hari mengalami tekanan, uniknya Paulus tidak tawar hati. Apa rahasianya sehingga dia tetap setia memberitakan firman meskipun badai kehidupan datang silih berganti?

Paulus tidak peduli dengan pikiran atau perkataan orang lain tentang penderitaan yang dialaminya, baginya lebih penting untuk melaksanakan kehendak Allah, dengan selalu menyerahkan jiwanya dengan berbuat baik kepada Pencipta yang setia (1 Ptr 4:19). 

Tidak ada yang kebetulan dalam kehidupan ini, Tuhan mampu mengubah air mata dukacita menjadi air mata sukacita sehingga timbul pengharapan (Rm 8:28; Yoh 16:20).

Dia kuat di dalam Tuhan, dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis karena dia telah mengalami kasih Allah secara pribadi dan dia telah mengetahui misi yang dikehendaki Allah bagi hidupnya.

» Aku (Paulus) adalah orang Yahudi, lahir di Tarsus di tanah Kilikia, tetapi dibesarkan di kota ini; dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel dalam hukum nenek moyang kita, sehingga aku menjadi seorang yang giat bekerja bagi Allah sama seperti kamu semua pada waktu ini.

Dan aku telah menganiaya pengikut-pengikut Jalan Tuhan sampai mereka mati; laki-laki dan perempuan kutangkap dan kuserahkan ke dalam penjara.

Tentang hal itu baik Imam Besar maupun Majelis Tua-Tua dapat memberi kesaksian. Dari mereka aku telah membawa surat-surat untuk saudara-saudara di Damsyik dan aku telah pergi ke sana untuk menangkap penganut-penganut Jalan Tuhan, yang terdapat juga di situ dan membawa mereka ke Yerusalem untuk dihukum.

Tetapi dalam perjalananku ke sana, ketika aku sudah dekat Damsyik, yaitu waktu tengah hari, tiba-tiba memancarlah cahaya yang menyilaukan dari langit mengelilingi aku. Maka rebahlah aku ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang berkata kepadaku: Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku? Jawabku: Siapakah Engkau, Tuhan? Kata-Nya: Akulah Yesus, orang Nazaret, yang kauaniaya itu.

Dan mereka yang menyertai aku, memang melihat cahaya itu, tetapi suara Dia, yang berkata kepadaku, tidak mereka dengar.

Maka kataku: Tuhan, apakah yang harus kuperbuat? Kata Tuhan kepadaku: Bangkitlah dan pergilah ke Damsyik. Di sana akan diberitahukan kepadamu segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu.

Dan karena aku tidak dapat melihat oleh karena cahaya yang menyilaukan mata itu, maka kawan-kawan seperjalananku memegang tanganku dan menuntun aku ke Damsyik.

Di situ ada seorang bernama Ananias, seorang saleh yang menurut hukum Taurat dan terkenal baik di antara semua orang Yahudi yang ada di situ. Ia datang berdiri di dekatku dan berkata: Saulus, saudaraku, bukalah matamu dan melihatlah! Dan seketika itu juga aku melihat kembali dan menatap dia. Lalu katanya: Allah nenek moyang kita telah menetapkan engkau untuk mengetahui kehendak-Nya, untuk melihat Yang Benar dan untuk mendengar suara yang keluar dari mulut-Nya (Kis 22:1-14).

» Firman Tuhan kepada Ananias: “Orang ini (Paulus) adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.” (Kis 9:15-16).

Inilah ungkapan isi hati Paulus ketika berjalan dengan Allah.

Aku telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus (Flp 3:12-14).

Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya

Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan. 

Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya (Flp 3:7-10).

Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku (Gal 2:20).

Berapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, ia melampaui segala pengetahuan. Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita (Ef 3:18-20).

Tanpa Kristus, tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dunia (Ef 2:12).

Dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan (Flp 2:1).

Ia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus (Flp 1:6).

Dengan pertolongan Allah kita, kami beroleh keberanian untuk memberitakan Injil Allah kepada kamu dalam perjuangan yang berat (1 Tes 2:1).

Harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami (2 Kor 4:7) » anugerah Tuhan-lah yang memberi kekuatan, yang menopang setiap kehidupan kita.

Penderitaan itu begitu besar dan begitu berat. Hal itu terjadi, supaya jangan menaruh kepercayaan pada diri sendiri, tetapi hanya kepada Allah (2 Kor 1:8-9).

Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku (Flp 4:13).

Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya (1 Kor 10:13). 

Dalam menghadapi pergumulan hidup ini, bagian kita adalah menyangkal diri dan memikul salib setiap hari dengan percaya dan mempercayakan seluruh kehidupan kita ke dalam tangan kasih Tuhan (Luk 9:23; Ibr 11:1). Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban (2 Tim 1:7). Kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah (2 Kor 3:5).

Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia (Flp 2:13-15).

Aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat (2 Kor 12:10).

Aku suka mengorbankan milikku, bahkan mengorbankan diriku untuk kamu (2 Kor 12:15).

Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat (Kol 1:24).

Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai. Untuk itulah Ia telah memanggil kamu oleh Injil yang kami beritakan, sehingga kamu boleh memperoleh kemuliaan Yesus Kristus, Tuhan kita (2 Tes 2:13-14).

Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia. Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus (Gal 1:11-12).

Karena berita Injil (Perkataan sehat, yakni perkataan Tuhan kita Yesus Kristus (1 Tim 6:3), turut menjadi ahli-ahli waris (Ef 3:6), maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah (Rm 8:17). 

Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa, yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.

» Kitab Suci telah mengurung segala sesuatu di bawah kekuasaan dosa, supaya oleh karena iman dalam Yesus Kristus janji itu diberikan kepada mereka yang percaya (Gal 3:22).

Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita, oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita (2 Kor 1:14).

(Sumber: Warta KPI TL No.137/IX/2016 » Renungan KPI TL tgl 1 September 2016, Dra Yovita Baskoro, MM).