Senin, 02 Juli 2018

02.41 -

Pertobatan sejati

Masa Prapaskah adalah masa Retret Agung, masa berahmat untuk mengolah batin, masa pembaharuan diri selama 40 hari mempersiapkan diri untuk merayakan Kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus pada hari Minggu Paskah. Selama 40 hari, kita diajak untuk introspeksi diri: mengolah pikiran, hati, dan tindakan kita agar lebih pantas untuk menyongsong kebangkitan-Nya. 

Masa Prapaskah dimulai Rabu Abu sampai dengan Sabtu Paskah. Hari Minggu tidak dihitung karena hari Minggu adalah hari Tuhan (Neh 8:9-10). 

Mengapa? Pada hari Minggu kita wajib merayakan Kebangkitan Kristus. Pada hari Jumat-lah kita mengenang wafat-Nya demi menebus dosa-dosa kita. Jadi, hari Minggu sepanjang tahun adalah hari-hari pesta dan hari Jumat sepanjang tahun adalah hari-hari tobat. 

Menurut ajaran Gereja yang sekarang, puasa 40 hari kita didasarkan pada puasa Yesus selama 40 hari sesudah pembaptisan-Nya (KGK 538-540; 2043). "Oleh masa puasa selama 40 hari setiap tahun, Gereja mempersatukan diri dengan misteri Yesus di padang gurun" (KGK 540). 

Hendaknya kita selalu mengingat bahwa semangat dasar Prapaskah yang harus diperjuangkan adalah pertobatan. Namun perlu diingat bahwa pertobatan itu tidak boleh dibatasi hanya pada aspek individual dan rohani saja. 

Jika pertobatan dibatasi hanya pada dimensi rohani saja, maka penghayatan iman kita juga menjadi kerdil. Hal ini bertentangan dengan iman kita bahwa Kerajaan Allah yang diwartakan dan dikerjakan oleh Yesus Kristus mencakup seluruh dimensi kehidupan manusia. 

Pertobatan mempunyai aspek sosial, sehingga pertobatan yang rohani itu harus diwujudkan dalam tindakan-tindakan yang membangun sisi positif dari hidup bersama dan memperbaiki akibat-akibat negatif dari dosa manusia. 

Pertobatan juga mempunyai aspek ekologis, sehingga perlu diwujudkan dalam kaitan dengan lingkungan alam di sekitar kita. 

Aspek sosial dan ekologis pertobatan akan nampak lebih jelas jika kita melihat dampak dari dosa manusia pertama. Dalam imbauan Apostolik pasca-sinode Reconciliatio et Paenitentia, Paus Yohanes Paulus II mengajarkan bahwa perbuatan dosa manusia melukai bukan hanya relasi manusia dengan Allah, tetapi juga mengenai relasi dengan diri sendiri, relasi manusia dan sesama manusia, dan dengan alam semesta. 

Konsekuensinya, jika pertobatan dimengerti sebagai pemulihan kembali kerusakan-kerusakan yang disebabkan oleh dosa, maka pertobatan ini harus diwujudkan dalam relasi dengan Allah, diri sendiri, sesama manusia dan alam semesta. 

Inilah rekonsiliasi rangkap empat yang harus dilakukan manusia. Keempat rekonsiliasi itu saling terkait satu sama lain. 

(1) Rekonsiliasi antara Allah dan manusia (Rm 5:10-11; 2 Kor 5:18-20; Kol 1:19-23; Ef 2:14-18) berarti memulihkan kembali keretakan relasi manusia dengan Allah. 

Apakah relasi kita dengan Allah sudah benar? Jika pikiran dan hati kita lebih banyak tertuju pada dunia, mencintai dunia dari pada Tuhan, maka kesudahan kita adalah kebinasaan (Flp 3:19; 2 Tim 4:10; Mat 6:21). 

Dosa adalah terutama penghinaan terhadap Allah dan pemutusan persekutuan dengan Dia. Serentak pula ia merugikan persekutuan dengan Gereja. Karena itu, pertobatan mendatangkan secara serentak pengampunan Allah dan perdamaian dengan Gereja (KGK 1440). 

Sebagaimana yang terjadi ketika Ekaristi pada saat konsekrasi, Tuhan Yesus “meminjam pita suara” imam pada saat Sakramen Tobat, sehingga kata-kata absolusi atau pengampunan yang diucapkan oleh imam, sebenarnya merupakan ucapan Yesus sendiri. 

Sakramen Tobat hendaknya dipandang bukan sebagai sarana untuk mencuci jiwa kita dari dosa melainkan sebagai bentuk sesal kita apabila kita telah melukai Tuhan. Jadi, pengakuan dosa mengandaikan adanya "relasi pribadi dengan Tuhan". 

Bagaimana kita tahu kalau kita melukai hati Tuhan? Berkat Sakramen Baptis, maka Roh Kudus berdiam di hati kita. Ia yang akan membimbing kita kepada seluruh kebenaran. Tidak mungkin Roh Kudus menolak untuk memberitahu dosa-dosa kita, jikalau kita memang berniat mengakuinya dengan tulus. 

Dalam pemeriksaan batin, kita menyerahkan hati nurani pada Roh Kudus karena "Di lubuk hati nuraninya manusia menemukan hukum, yang tidak diterimanya dari dirinya sendiri, tetapi harus ditaatinya. Suara hati itu selalu menyerukan kepadanya untuk mencintai dan melaksanakan apa yang baik, dan untuk menghindari apa yang jahat. 

Bilamana perlu, suara itu menggemakan dalam lubuk hatinya: jauhkanlah ini, elakkanlah itu. Sebab dalam hatinya manusia menemukan hukum yang ditulis oleh Allah. Martabatnya ialah mematuhi hukum itu,... Hati nurani ialah inti manusia yang paling rahasia, sanggar sucinya; di situ ia seorang diri bersama Allah, yang sapaan-Nya menggema dalam batinnya" (GS 16) (KGK 1776). 

Sesuatu yang indah dalam Gereja Katolik adalah bahwa keseluruhan keberadaan kita sebagai manusia, yaitu jiwa dan raga kita, dapat terlibat dalam karya penyelamatan Allah lewat Sakramen. Inilah pertobatan rohani yang sering kali kita lakukan selama masa Prapaskah. Tetapi ini bukan satu-satunya wujud pertobatan. 

(2) Rekonsiliasi dengan diri sendiri 

Sudahkah kita memandang dan memperlakukan diri sendiri dengan baik dan adil? Jika kita sudah bersahabat dengan jiwa kita, maka jiwa kita tidak akan memberontak, mengeluh atau menghakimi orang lain. 

Sering-seringlah keluar rumah dan mengunjungi tempat-tempat terindah. Kagumi keindahan alam dan masukkanlah keindahan alam ke dalam jiwa, pikiran, perasaan dan ego kita. Alam selalu bisa membuat kita segar, muda, bertenaga dan berakumulasi di dalam keindahan. Karena alam memiliki energi positif yang luar biasa.

Bagaimana caranya dapat membangun relasi yang baik dengan diri sendiri? Kita harus hidup dalam komunitas. Di dalam komunitas kita memperdalam iman melalui pengajaran-pengajaran Gereja. Di sinilah kita disadarkan untuk saling memperhatikan kepentingan orang lain (Flp 2:4), saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik (Ibr 10:24), saling berbagi dan memberi kesaksian (Kis 2:41-47). 

Di sini juga terjadi persahabatan antara orang-orang yang tidak menyembunyikan kegembiraan dan penderitaan mereka, tetapi membiarkannya terbuka bagi sesama dalam sikap berpengharapan. 

Selain itu kita akan beroleh kesempatan untuk (1) mengenal diri sendiri dengan baik dari segi jasmani dan rohani. (2) menerima diri kita dengan baik, sebagai mana adanya. (3) mengembangkan diri kita sebaik mungkin karena kita telah menerima pengajaran dari Gereja. 

Contoh: Yesus hidup dalam 2 komunitas: (1) Komunitas para Rasul, dimana Dia sebagai guru (Mat 26:18). (2) Komunitas kecil keluarga Betania (Lazarus, Marta dan Maria - Yoh 11:5). 

Ketika Yesus mengalami kelelahan sesudah melayani orang banyak (Mrk 6:31), Dia pergi ke rumah sahabat-Nya yang berada di Betania untuk berbagi suka duka. Di sana Dia merasa aman, bernilai, dihargai, dipahami dan dicintai karena mereka menaruh kasih pada-Nya setiap waktu (Ams 17:17). 


Ketika kebutuhan dasar psykis manusia sudah terpenuhi maka dia akan mampu menerima dirinya sendiri dengan iklas apapun yang telah dan akan terjadi akan dapat diterimanya dengan iklas, bentuk keiklasan ini akan lebih mendekatkan diri kita kepada Tuhan, dan akan lebih lapang dan santai dalam menjalani kehidupan. 

Dalam keluarga Allah, kita mengalami kehadiran Allah yang mempersatukan. Sebagai putra-putri Allah, kita disatukan oleh Kristus dalam Gereja-Nya. Jadi, kita harus mencintai Kristus dengan mencintai Gereja-Nya yang satu, kudus, Katolik dan apostolik. 

Sebagai komunitas yang memiliki ikatan ilahi hendaknya diwujudkan secara nyata dengan (Ef 4:2): 

1. Rendah hati: menempatkan orang lain menjadi yang utama dan menempatkan diri sendiri sebagai pelayan. 

2. Lemah lembut: baik hati, pengampun, mudah memahami dan menerima orang lain, tidak pemarah, tidak mudah menceka, tidak mudah menghakimi. 

3. Sabar: tahan menghadapi tantangan, tidak mudah putus asa, selalu penuh harapan, tenang dalam sikap dan tidak reaktif, setia dalam karya, tidak mutungan (patah hati sehingga tidak mau melanjutkan hubungan). 

4. Menunjukan kasih dengan saling membantu: selalu bersedia menolong yang membutuhkan, peka dan tanggap terhadap kesulitan, penderitaan dan kesusahan orang lain. 

(3) Rekonsiliasi dengan sesama manusia 

Sebagai makhluk sosial, kita tidak bisa hidup tanpa manusia lain. Dan dalam sebuah hubungan, akan selalu ada gesekan (Ams 27:17), jika kita menjauhkan diri dari kasih karunia Allah (Ibr 12:15). Untuk ini, kita sangat membutuhkan yang namanya rekonsiliasi. 

Gesekan ini akibat dari kelemahan-kelemahan kita dan orang lain yang berhubungan dengan kita, yang akan mengakibatkan perseteruan, permusuhan, kebencian, rasa jengkel, kesal, dan emosi negatif lain. 

Rekonsiliasi adalah tindakan yang dihasilkan dari keputusan secara sadar oleh kita yang menghendaki pemulihan dalam hubungan yang kita jalin dengan siapapun, dimanapun dan kapanpun. Rekonsiliasi adalah tanda bahwa kita memilih untuk hidup menurut Roh bukan menurut daging. 

Bagaimana cara melakukan rekonsiliasi? 

(1) Berdoa, mintalah kekuatan dari Tuhan untuk memampukan kita memaafkan/mengampuni orang yang bersalah kepada kita secara nyata. Teruslah berdoa melepaskan pengampunan, katakan: “Tuhan aku mau mengampuni A, aku mau melepaskan pengampunan kepadanya.” 

(2) Bertindak. Jika Tuhan memberikan kesempatan atau waktu yang tepat/baik, berbicaralah 4 mata dengan orang yang membuat hubungan kita dengannya menjadi tidak baik, secara baik-baik. 

Hasil dari rekonsiliasi adalah "hubungan yang buruk menjadi baik kembali" dan "berkat Tuhan mengalir" secara jasmani dan rohani. Dalam hubungan yang baik, pasti ada kesehatan, kesembuhan dari sakit penyakit, hati yang penuh damai sejahtera dan sukacita (Mzm 133). 

Rekonsiliasi dengan sesama tidak dibatasi dalam lingkup Gereja, tetapi juga mencakup seluruh umat manusia. Pemulihan ini mengembalikan pengakuan akan nilai transenden dari manusia (GS 76), yang bisa diwujudkan antara lain dalam bidang politis, sosial dan ekonomi. 

Pertobatan inilah yang diwujudkan dalam hubungan dengan umat beragama lain, misalnya dalam bentuk dialog dengan umat beragama lain, bakti sosial bersama, membela hak asasi manusia, menggalakkan kesatuan dalam masyarakat, dll (GS 40-43). 

(4) Rekonsiliasi dengan alam semesta 

Dunia ini diciptakan Allah baik adanya (1 Tim 4:4). Setiap ciptaan saling berhubungan. Contoh: manusia membutuhkan makanan yang bersumber dari tumbuhan dan hewan. Hewan pun membutuhkan tumbuhan sebagai makanan. Untuk hidup, tumbuhan membutuhkan manusia dan hewan. 

Allah menghendaki manusia dengan segenap akal budi dan kehendak bebasnya, melestarikan dan menjaga berlangsungnya rantai kehidupan. 

Namun saat ini situasi "baik adanya" bertolak belakang dengan yang ditetapkan oleh Allah, alam mengalami masa-masa kritis dan menuju kehancuran karena dalam diri manusia tidak berfungsi dengan benar. Manusia hidup bukan lagi untuk kemuliaan Allah melainkan untuk kepentingan diri sendiri yang bersifat merusak dan menghancurkan. 

Seperti hilangnya sumber daya alam, perubahan iklim, munculnya berbagai macam penyakit, bencana alam yang kerap kali terjadi, dan perubahan sosial budaya dalam masyarakat kita: sikap individual, sikap konsumtif, dan sikap instant (menghalalkan segala cara) yang mengakibatkan penderitaan pada seluruh isi alam semesta, termasuk manusia. Secara khusus penderitaan manusia tampak pada adanya kesenjangan/jurang pemisah antara kaya dan miskin. 

Hal ini terjadi karena kita telah memperlakukan alam semesta ini dengan semena-mena sehingga alam kita telah terluka oleh dosa dan kesalahan kita. 

Hanya ada satu jalan untuk memperbaiki semua ini, yaitu dengan mengizinkan Allah memperbarui gambar-Nya di dalam diri kita oleh karya penyelamatan Yesus, melalui Pertobatan Ekologis. 

Melalui Pertobatan Ekologis, manusia sebagai mitra Allah harus ikut ambil bagian dan peduli dalam karya penciptaan, antara lain: pembudidayaan alam semesta dan pelestariannya. Sikap peduli inilah yang merupakan bukti cinta manusia, baik secara vertikal maupun horizontal. 

Untuk itu diperlukan sikap yang benar dalam hidup sehari-hari agar kita bisa menjaga kelestarian lingkungan secara total, yaitu: 

1. Kesederhanaan. Sikap ini membimbing manusia pada pemahaman akan batasan-batasan tertentu, sehingga diri manusia dituntun menjadi pribadi yang tahu hemat atau sesuai dengan kebutuhan. Sehingga sumber alam yang tersedia tidak habis terkuras. 

2. Keadilan. Sikap ini menjauhkan manusia dari keserakahan dan mau menang sendiri, sehingga tidak tanggap terhadap lingkungannya. Dengan keadilan, manusia membangun kesejahteraan bersama. 

3. Pengendalian diri. Sikap ini membantu manusia dalam mengerti dan tidak memaksakan kehendaknya dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang berlebihan. 

4. Disiplin. Sikap ini sangat berkaitan erat dengan sikap tanggungjawab. 

Jadi, sebagai pengikut Kristus, kita harus meninggalkan cara-cara hidup lama yang melukai alam semesta. Kita beralih kepada cara hidup baru yang menjaga dan mencintai alam semesta yang dianugerahkan Tuhan kepada kita. 

Dimensi sosial dan ekologis dari iman juga nampak jelas jika kita mengingat bahwa dalam Kerajaan Allah kelak, kesempurnaan keselamatan meliputi juga pemulihan kembali relasi manusia rangkap di atas. 

Kesempurnaan Kerajaan Allah berarti datangnya langit dan bumi yang baru. Inilah pemulihan seluruh alam semesta. Pemulihan inilah yang juga menjadi bagian dari tugas misioner Gereja. Pemulihan inilah yang menjadi bagian integral dari pertobatan selama masa Prapaskah. 

Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan (1 Yoh 1:9). 

Dengan semangat pertobatan, boleh saja kita berpantang setiap hari selama masa Prapaskah, yaitu 40 hari. Praksis yang demikian, akan melatih kita untuk berdisiplin menyerahkan diri kepada Tuhan. 

Kemajuan rohani dituntut askese dan mengembangkan keutamaan-keutamaan/kebajikan. 

[Baca juga: 7 Pilar dasar kehidupan Kristiani]. 

Askese adalah tindakan matiraga yang disokong oleh rahmat untuk mengejar kesempurnaan diri secara Kristiani dengan mengikuti teladan Kristus supaya semakin serupa dengan pribadi Kristus. 

(1) Matiraga dengan puasa dan pantang merupakan salah satu ungkapan pertobatan kita untuk "mematikan" dan mengurangi kesenangan ragawi sebagai wujud pertobatan demi memperoleh pengampunan dari Allah dan mendekatkan diri kita pada Tuhan dan sesama. 

Jadi, dengan puasa dan pantang kita mengorbankan kenikmatan dan kesenangan pribadi, untuk menjadi lebih "lapar" akan Tuhan sehingga kita lebih peka dan terbuka pada kuasa Tuhan yang membebaskan dari ketertarikan pada nafsu berbuat dosa, memperkuat sikap tegas kita melawan nafsu-nafsu tersebut dan menyembuhkan luka-luka dosa kita. 

Ungkapan tobat lainnya yaitu: (2) mendengarkan Sabda Tuhan dan berdoa. Hal ini meliputi antara lain, mengikuti perayaan Ekaristi, membaca Kitab Suci, mengikuti lectio divina, mendoakan ibadat Jalan Salib, doa rosario, mengikuti rekoleksi, retret, dll. 

Mendekatkan diri pada Sabda Allah dan menambah doa selama masa Prapaskah, membuat kita semakin mengenal kekudusan dan cinta Allah dan juga keburukan dosa. Maka, kita akan semakin tertarik untuk membalas kasih Allah dan sekaligus "menolak dosa sebagai penghinaan terhadap Allah" (SC 109). 

Pertobatan adalah langkah awal di mana seseorang menyadari kesalahan dan pelanggarannya, lalu berpaling dari dosa-dosanya dan meninggalkannya.

Sebelum hidup dalam pertobatan, apa yang ada dalam pikiran, hati dan kehendak kita semata-mata dikuasai segala hal yang bersifat duniawi, sehingga yang dihasilkan pun adalah perbuatan-perbuatan daging. 

Pertobatan kita "hendaknya jangan hanya bersifat batin dan perseorangan, melainkan hendaknya bersifat lahir dan sosial-kemasyarakatan (SC 110). Artinya pertobatan itu perlu dibuktikan dengan secara khusus meluangkan waktu untuk berdoa, menjalankan karya kesalehan dan amal kasih, menyangkal diri sendiri dengan melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara lebih setia (KHK 1249). 

Pertobatan mempunyai aspek sosial, sehingga pertobatan yang rohani itu harus diwujudkan dalam tindakan-tindakan yang membangun sisi positif dari hidup bersama dan memperbaiki akibat-akibat negatif dari dosa manusia. 

Ungkapan Nabi Yesaya sungguh kaya dalam hal ini (Yes 58:6-7), berpuasa yang dikehendaki-Nya yaitu: membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! 

Puasa yang mampu membawa pada kekekalan (Yoh 16:22 hatimu akan bergembira dan tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu; Mat 6:20 - ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya), yaitu: 1. Kasih 2. Sukacita 3. Damai sejahtera 4. Kesabaran 5. Kemurahan 6. Kebaikan 7. Kesetiaan 8. Kelemahlembutan 9. Penguasaan diri 10. Kerendahan Hati 11. Kesederhanaan 12. Kemurnian (KGK 1832 - Buah Roh menurut Tradisi Gereja). 

Sebelum pertobatan, pikiran kita semata-mata tertuju kepada perkara duniawi (Flp 3:19), kita tidak menyukai Tuhan atau hal-hal yang suci. Pertobatan menyebabkan seseorang ingin melakukan apa yang benar. 

Banyak kelemahan mungkin ada dalam diri orang yang telah bertobat, namun kedagingan atau keduniawian tidak dapat mendominasi hidupnya. Hal ini terjadi karena ada kerinduan mencari kehendak Tuhan dan melakukan hal yang benar. 

Orang yang benar-benar bertobat memiliki pikiran dan perasaan Kristus (Flp 2:5; 1 Kor 2:16). Ketika kita menaruh pikiran yang terdapat juga dalam Kristus maka pikiran kita akan senantiasa diperbaharui dan semakin selaras dengan kehendak-Nya (Rm 12:2). 

Pikiran adalah medan peperangan dalam kehidupan manusia. Apa yang kita pikirkan itulah yang akan membentuk setiap tindakan kita. Jika yang kita pikirkan adalah hal-hal yang berasal dari daging, maka kita akan berjalan dalam daging dan perbuatan kita pun akan semakin jauh dari kebenaran. 

Hati (perasaan) juga memiliki peranan besar terhadap perilaku lahiriah kita. "... dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang." (Mrk 7:21-23). 

Maka dari itu "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Ams 4:23). Hati yang senantiasa terjaga bersih dan murni akan berdampak positif pula terhadap setiap perkataan dan tindakannya. 

Bagaimana menjaga hati kita supaya tetap bersih dan murni? Kita harus mengizinkan Roh Kudus untuk menyelidiki dan memperbarui hati kita (Mzm 51:12). Pikiran dan hati yang telah diperbaharui oleh firman Tuhan akan mempengaruhi kehendak kita. 

Itu membutuhkan proses yang tidak instan tapi secara bertahap dan terus-menerus seumur hidup kita, hingga kita memiliki kehidupan yang sesuai dengan standar yang dikehendaki Tuhan. 

Dengan menyangkal diri dan melakukan silih, roh kita akan semakin peka akan kehendak Allah, dan semakin dikuatkan untuk melakukan hanya apa yang Allah kehendaki, bukan yang kita kehendaki. 

Silih dapat dilakukan dengan bermacam cara: dengan perbuatan, dengan doa silih, dengan berkurban, dengan pantang dan puasa. 

Apakah kita bisa melakukan pertobatan sejati dengan kekuatan diri sendiri? Tidak! Karena seringkali kita melakukan suatu dosa tanpa sadar. Hal ini terjadi karena kita diikat dan dijerat oleh Iblis pada kehendaknya, yaitu agar kita selalu kembali untuk melakukan dosa. 

Bagaimana caranya agar kita bisa terlepas dari ikatan dan jeratan Iblis tersebut? Dengan pertolongan Tuhan melalui doa sesama kita dan tuntunan-Nya sehingga kita mengenal kebenaran (2 Tim 2:24-26). 

Seseorang yang memiliki pertobatan yang sejati imannya tetap teguh untuk hidup seturut dengan kehendak Tuhan, apa pun yang terjadi dan di mana pun berada. 

Marilah kita belajar dari Zakheus (Luk 19:1-10): 

[1-4] Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. (1A) Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Maka (1B) berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu (1C) memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ. 

» Zakheus berarti “suci". Dia memang suci, karena dimurnikan sendiri oleh Yesus Kristus. Dia seorang pendosa yang diubah oleh Yesus menjadi seorang kudus. 

(1ABC) Ketika hati Zakheus digerakkan oleh Tuhan, dia berjuang mengubah sikapnya dengan melepaskan harga dirinya dan tidak menyerah karena keterbatasannya. 

[5-6] Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: (2) "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu." Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. 

» Semua orang memanggil Zakheus dengan sebutan “pemungut cukai”. (2) Zakheus merasakan sejuknya kasih yang melimpah dari Yesus, yang mau menyapa dan tinggal bersamanya, yang mau menerima dia apa adanya. Kasih inilah yang menjadi suatu kekuatan baru untuk mengubah apa yang tidak dapat dia ubah sebelumnya. 

[7- 8] Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa." Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: (3) "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat." 

» Kasih dari Yesus mendorong Zakheus untuk melakukan sesuatu yang melebihi hukum yang berlaku, melebihi tingkat keadilan (Kel 22:1), dengan mengatakan (3). Zakheus melakukan silih atas segala dosa-dosanya dan berjuang untuk menghasilkan buah-buah yang sesuai dengan pertobatan (Luk 3:8, 11, 13-14). 

[9-10] Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." 

» Pertobatan yang benar selalu akan menghasilkan keselamatan. Zakheus yang mengalami kasih Tuhan, dan kemudian bertobat dan melakukan silih atas dosa-dosanya, akhirnya mendapatkan sesuatu yang paling berharga, yaitu mendapatkan keselamatan. 

Sudahkah kita mengalami pertobatan sejati? Pertobatan sejati pasti menghasilkan buah Roh dan itu akan berdampak bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. 

(Sumber: Renungan KPI TL Tgl 15 & 22 Februari 2018, 1 Maret 2018, Dra Yovita Baskoro, MM). 


Banyak orang yang bertobat, tetapi pertobatannya tidak efektif karena dia motivasinya tidak kuat. Akhirnya tobat ... kumat.... tobat ... kumat ... 

Pertobatan bukanlah sekedar perbaikan hidup, tetapi pembaruan hidup secara radikal dalam mengikuti Yesus. Dengan cara merefleksikan terhadap hal-hal yang mendasar dan berani melihat apa yang Yesus minta di dalam kehidupan; mengolah konflik batin sehingga dapat berbalik ke jalan Tuhan (metanoia). Ini bukan suatu himbauan tetapi merupakan perintah Tuhan. 

Pertobatan harus diperjuangkan seumur hidup kita. Pertobatan tidak akan berkenan dihadapan Tuhan jika segala sesuatunya selalu menyalahkan orang lain (Kej 3:12-13 – manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang ...”; Jawab perempuan itu: “Ular itu yang memperdaya ku...”)

Masa Prapaska adalah masa pembaruan relasi dengan ...

1. Diri sendiri - kita harus bisa melakukan penyangkalan diri melalui mata dan mulut. 

Apakah kita sudah dapat bersahabat dengan tubuh - memperhatikan kesehatan: pola makan/tidur; 

jiwa - mengendalikan emosi negatif, mampu bersyukur atas apa yang kita punyai dan apa yang kita alami; 

pikiran - kalau kita memiliki pikiran yang luas dan terbuka, maka akan mudah untuk pembaruan diri.

2. Sesama - kita harus menyadari bahwa setiap orang punya kekuatan dan kelemahan. Jadi, kita harus belajar mengerti dan menerima apa adanya, agar tidak terjadi konflik. Karena orang lainpun juga bergulat dengan dirinya sendiri. 

Di dalam relasi dengan sesama kita membutuhkan:

* Komunikasi yang jujur. Emosi negatif harus disalurkan dengan cara berbicara. Jika tidak disalurkan akan berbahaya seperti gunung berapi. Jadi, jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat (Mat 5:37 ). 

Jika emosi negatif 

- tidak dapat disalurkan ~ dapat menyakiti orang lain dan membunuh karakter/ harapan/semangat orang lain melalui kata-kata. 

- tidak diolah ~ dapat menyebabkan berbagai macam penyakit, mengenai diri kita sendiri.

* Belas kasih dan pengampunan.

* Kasih sayang.

* kepercayaan

3. Alam (lingkungan hidup) - kita harus peka terhadap lingkungan hidup. Jika tidak, akan terjadi global warning. Seorang mistikus mempunyai kepekaan terhadap lingkungan hidup. 

Misalnya: jika melihat sebuah pohon besar, dia melihat Tuhan luar biasa dalam menciptakan pohon itu. Sedangkan seorang pengusaha melihat peluang untuk memiliki uang banyak.

4. Allah - relasi dengan Allah akan terganggu jika manusia menjadikan dunia sebagai pusat hidupnya.

Untuk kemajuan rohani, kita dituntut perjuangan rohani (penyangkalan diri). Penyangkalan ini dapat dipakai sebagai salah satu silih atas dosa-dosa kita. 

Jadi, tujuan dari pantang dan puasa adalah melatih kita untuk melakukan penyangkalan diri dalam banyak hal. 

Misalnya: berderma, melakukan semangat kemiskinan, melakukan banyak kesabaran, melihat penderitaan dengan bersyukur, melakukan banyak kebajikan dll.

Jika kita memiliki motivasi yang benar, maka akan mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Dan juga akan terjadi transformasi di dalam kehidupan kita - memiliki karakter ilahi/karakter serupa Yesus (menjadi manusia baru). 

Jadi, lakukanlah segala sesuatu dengan hati yang tulus tanpa beban apa pun juga. Meskipun dunia tidak berterima kasih, bersyukurlah karena kebaikan dan kesalehan jiwa yang sudah ditabur di surga tidak dapat dimiliki oleh siapa pun ... ngengat dan karat pun tidak dapat merusaknya.

Tetapi jika kita melakukannya sebagai kewajiban/sesuatu yang biasa-biasa saja/dengan motivasi yang tidak benar maka hasilnya adalah kesombongan – hidup kita tidak terjadi perubahan.

Kumpulkanlah bagimu harta di surga; di surga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar dan mencurinya. Hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu darimu (Mat 6:19-20; Yoh 16:22)

Agar pertobatan kita dapat berkenan pada Tuhan, marilah kita belajar dari Zakheus yang merubah sikap hidupnya (Luk 19:1-10)

Zakheus berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu 

» Zakheus membuka hatinya untuk menerima karunia Allah. Ini adalah pemberian Allah, bukan hasil usaha manusia (Ef 2:8).

Berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon untuk melihat Yesus 

» Ketika hatinya digerakan oleh suara Roh Kudus yang halus, dia langsung bertindak. Tanpa memperdulikan statusnya, dia meninggalkan apa yang menjadi kebanggaannya (mengalahkan egonya) untuk melihat Tuhan. Ini adalah suatu perjuangan yang luar biasa.

Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita 

» Tuhan Yesus tahu orang yang sungguh-sungguh mencari-Nya, sehingga Dia menoleh.

Semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: “Ia menumpang di rumah orang berdosa.” 

» Tanpa memperdulikan kata orang, Zakheus mengambil langkah untuk berbalik ke jalan Tuhan.

Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” 

» Zakheus bersedia menerima hukuman atas dosa-dosanya, sehingga dia mampu masuk ke dalam pertobatan yang sejati. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 71/III/2010 » Renungan KPI TL tgl 18 Februari 2010, Dra Yovita Baskoro, MM).

01.20 -

Dapatkah kita menjadi Kristen tanpa percaya pada kebangkitan Kristus?

Tidak. “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami” (1 Kor 15:14 (KGK 631, 638, 651). 

Para murid, yang sebelumnya kehilangan semua harapan, berkat karya Roh Kudus percaya akan kebangkitan Yesus karena mereka melihat Dia dalam keadaan yang berbeda setelah kematian-Nya, berbicara dengan Dia, dan mengalami Dia hidup (KGK 640-644, 656). 

Peristiwa Paskah yang berlangsung di Yerusalem pada tahun ke 30 bukanlah cerita yang dibuat-buat. Setelah kematian Yesus, sebagian murid melarikan diri, yang lain mengurung diri di belakang pintu-pintu yang terkunci. 

Berkat Roh Kudus dan dalam perjumpaan mereka dengan Kristus yang telah bangkitlah yang membebaskan mereka dari kelumpuhan dan menumbuhkan iman akan Yesus Kristus sebagai Tuhan atas kehidupan dan kematian. 

(Sumber: Warta KPI TL No.156/IV/2018 » Youcat 104).

Minggu, 01 Juli 2018

Brother Lawrence



Kita memiliki Allah yang kebaikan-Nya tak terbatas, dan mengetahui semua keinginan kita. Ia akan datang pada waktu-Nya sendiri pada saat kita tidak menduganya. Berharaplah kepada Dia lebih dari sebelumnya, bersyukurlah kepada-Nya untuk kemurahan yang Ia lakukan kepada kita, khususnya untuk ketabahan dan kesabaran yang Ia berikan kepada kita dalam penderitaan: ini adalah tanda dari pemeliharaan-Nya. 

Penderitaan yang telah diizinkan Allah akan menjadi obat yang bermanfaat dan membuat kita melihat ke dalam diri kita sendiri bahwa kecelakaanlah yang membuat kita menaruh kepercayaan di dalam Dia, yang menyertai kita di mana-mana. 

Manusia di dunia tidak mengerti kebenaran ini ataupun memikirkannya karena mereka menderita seperti apa adanya mereka dan bukan seperti orang Kristen: mereka menganggap penyakit sebagai rasa sakit yang dialami dan bukan sebagai kemurahan dari Allah; dan karena hanya melihatnya dari pengertian itu, mereka tidak menemukan apa pun di dalamnya selain duka dan penderitaan. 

Tapi mereka yang menganggap penyakit sebagai sesuatu yang datang dari tangan Allah, sebagai efek dari belas kasihan-Nya, dan sebagai alat yang Ia pakai untuk keselamatan mereka, biasanya menemukan kemanisan dan penghiburan yang pantas. 

Aku berharap kita dapat meyakinkan diri kita bahwa Allah seringkali lebih dekat dan lebih nyata bersama kita dalam keadaan sakit daripada dalam keadaan sehat. Jangan bergantung kepada dokter mana pun, karena menurut pengertianku, Ia menyediakan kesembuhan bagi kita. 

Taruhlah seluruh kepercayaan kita di dalam Dia, dan kita akan dengan segera menemukan pengaruhnya dalam pemulihan kita, yang mana kita sering memperlambatnya karena lebih menaruh kepercayaan kepada dokter daripada kepada Allah. 

Obat apa pun yang kita pakai, itu akan berhasil hanya sejauh izin dari-Nya. Ketika rasa sakit berasal dari Allah, hanya Dia yang dapat menyembuhkan kita. Ia sering mengirim penyakit tubuh untuk menyembuhkan jiwa. Hiburkanlah diri kita dengan Dokter yang berdaulat terhadap jiwa maupun tubuh. 

Jika kita telah terbiasa dalam mempraktikkan hadirat Allah, semua penyakit fisik akan semakin berkurang. Allah sering mengizinkan sedikit penderitaan untuk memurnikan jiwa kita dan mengharuskan kita untuk terus bersekutu dengan-Nya. 

Berbesar hatilah, berikan rasa sakit kita kepada-Nya dengan tidak berkeputusan, berdoalah kepada-Nya meminta kekuatan untuk menanggungnya. Di atas segalanya, bangunlah kebiasaan untuk sering bersama Allah dan terus mengingat Dia sebisa mungkin. 

Pujilah Dia dalam kelemahan kita, berikan dirimu kepada-Nya setiap waktu; dan dalam penderitaan kita, carilah Dia dengan rendah hati dan penuh kasih sayang (seperti seorang anak kepada ayahnya) untuk membuatmu menjadi serupa dengan kehendak kudus-Nya. 

Allah memiliki banyak cara untuk menarik kita kepada-Nya. Ia terkadang menyembunyikan diri-Nya sendiri dari kita; tapi iman sajalah yang tidak akan gagal pada saat dibutuhkan, ini harus menjadi pendukung kita dan dasar dari keyakinan kita, yaitu hanya di dalam Tuhan. 

Jadi, ketika berada dalam kesulitan, kita perlu mengarahkan diri kita kepada Yesus Kristus dan memohon anugerah-Nya, di mana dengan-Nya segala sesuatu menjadi lebih mudah. 

Kita harus membedakan antara tindakan yang berasal dari pengertian dan tindakan yang berasal dari kehendak; yang pertama memiliki nilai yang lebih kecil dari yang lain. Jadi, satu-satunya pekerjaan kita adalah mengasihi dan bersuka di dalam Tuhan. 

Ketika kita masuk ke dalam hal-hal yang rohani, kita harus memeriksa diri kita dengan seksama. Dan kemudian kita harus menempatkan diri kita jauh dari segala kejijikan dan hal-hal yang merusak kekristenan, yaitu menjadi korban kesedihan dan kecelakaan yang mengganggu kita, dan menyebabkan perubahan terus-menerus dalam kesehatan dan kebahagiaan kita, di dalam pengaturan internal dan eksternak kita: intinya, menjadi orang yang akan dibentuk Allah melalui banyak rasa sakit dan kerja keras. 

Setelah ini, kita seharusnya tidak berpikir bahwa masalah, godaan, pertentangan, dan perbantahan terjadi kepada kita karena manusia. Sebaliknya, kita harus menyerahkan diri kita kepada mereka dan menanggungnya selama yang Allah kehendaki dan menganggapnya sebagai segala sesuatu yang sangat bermanfaat bagi kita. 

Dalam kesempurnaan yang lebih besar setelah melewati itu semua, kita akan semakin bergantung kepada anugerah ilahi. 

Segala sesuatu adalah mungkin bagi orang yang percaya, bahwa segala sesuatu tidak akan terlalu sulit bagi orang yang berharap, segalanya menjadi lebih mudah bagi mereka yang mengasihi, dan mudah bagi orang yang bertekun dalam mempraktikkan ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan, dan kasih. Pada akhirnya kita harus memberi diri kita untuk menjadi penyembah Allah yang paling sempurna sebisa mungkin sampai pada kekekalan. 

Di kehidupan rohani, kita harus setia mengerjakan tugas kita dan menyangkali diri kita sendiri. Semua penyangkalan diri yang didasarkan dengan pikiran adalah perbuatan sia-sia, tidak dapat menghapuskan satu dosa pun, tidak akan membawa kepada Allah. 

Jadi, tidak diperlukan seni atau ilmu pengetahuan untuk menghampiri Allah, tapi hanya diperlukan sebuah hati yang dengan tegas bertekad untuk menyerahkan diri hanya kepada Dia, atau demi Dia, atau hanya mengasihi Dia. Sedikit ingatan akan Allah, satu tindakan penyembahan dari hati, pedang di tangan, adalah doa-doa - walaupun pendek sangat berkenan kepada Allah. Allah akan memberikan pencerahan kepada mereka yang benar-benar rindu untuk melayani-Nya. 

Ketika kita mengalami kesatuan dengan Allah oleh kasih, maka kita akan menemukan cara tercepat untuk menghampiri-Nya dengan tindakan kasih yang terus-menerus, dan melakukan segala sesuatu demi Dia. 

Namun banyak orang tidak mengalami kemajuan dalam kekristenan karena mereka menekankan penebusan dosa dan perbuatan tertentu, sementara mereka melalaikan kasih Allah, yang adalah hal penting. Ini semua terlihat jelas dengan pekerjaan mereka, dan adalah alasan mengapa kita sangat sedikit melihat kebaikan yang tulus. 

Kita harus menumbuhkan dan memelihara jiwa kita dengan pikiran Allah; di mana pengabdian ini akan memberikan sukacita besar. 

Jalan iman adalah semangat Gereja, dan iman cukup untuk membawa kita ketingkat kesempurnaan yang tinggi. 

Kita harus memberi diri kita kepada Allah, baik dalam hal duniawi maupun dalam hal rohani, dan mencari kepuasan kita hanya dalam melakukan kehendak-Nya, terlepas apakah Ia memimpin kita dengan penderitaan atau penghiburan, keduanya sama saja bagi jiwa yang benar-benar menyerahkan dirinya. 

Diperlukan adanya kesetiaan dalam masa-masa kekeringan, ketidaksanggupan, dan kejenuhan dalam doa, di mana lewat semuanya itu Allah menguji kasih kita kepada-Nya. Itu adalah masa bagi kita untuk membuat tindakan penyerahan demi mengalami kemajuan dalam kerohanian kita. 

Jadi, pengudusan kita tidak tergantung dari mengubah pekerjaan kita, tapi tergantung dari melakukannya demi Allah, yang biasanya kita kerjakan untuk diri kita sendiri. Sangat menyedihkan melihat begitu banyak orang tidak mengerti hal ini, mereka menyibukkan diri pada pekerjaan tertentu, yang mereka kerjakan dengan sangat tidak sempurna, dengan alasan manusiawi atau keegoisan mereka. 

Cara paling sempurna untuk menghampiri Allah adalah dengan mengerjakan semua urusan kita tanpa keinginan untuk menyenangkan manusia (Gal 1:19; Ef 6:5,6) tapi (sebisa mungkin) karena kasih kita kepada Allah. 

Artikel ini disadur dari percakapan dan surat-surat Brother Lawrence 

Brother Lawrence dari Kebangkitan hidup dalam generasi yang tidak beragama dan di tengah orang-orang yang skeptis. Allah telah memberinya kemurahan dalam pertobatannya di usia delapan belas tahun. 

Ia telah menjadi pelayan M. Fieubert, namun ia sangat menginginkan untuk diterima dalam sebuah biara. Pikirnya, jika berada di sana ia akan menjadi lebih pandai. Kekikukan dan kesalahan yang sering dilakukannya dapat diubahkan, sehingga ia dapat mempersembahkan hidup dan kesenangan duniawinya kepada Allah. 

Sejak kedatangannya di biara, ia menganggap Allah sebagai akhir dari pemikiran dan keinginannya, sebagai tanda di mana ia harus mengejarnya, dan mematikan segala keinginan dan pemikirannya. Tapi Allah telah mengecewakannya, karena ia tidak mendapatkan kepuasan apa pun di dalamnya. 

Ia merasa tidak suka ketika dikirim ke Burgundi untuk membeli persediaan anggur. Tugas ini tidak menyenangkan baginya karena itu bukan tugasnya dan kakinya timpang sehingga tidak dapat naik perahu. 

Ia berkata kepada Allah bahwa ia hanya mengerjakan tugas dari-Nya, dan setelah ia selesai mengerjakannya, ia mendapati bahwa tugas itu telah dikerjakannya dengan baik. 

Demikian juga dalam pekerjaannya di dapur (di mana ini adalah sesuatu yang sangat tidak ia sukai), ia membiasakan dirinya untuk mengerjakan tugasnya di sana demi kasih-Nya kepada Allah, dan dengan doa di setiap waktu, meminta anugerah-Nya agar ia dapat mengerjakan tugasnya dengan baik. Ia telah mendapati segalanya menjadi mudah selama bekerja di sana. 

Ia sangat senang dengan tugasnya sekarang ini; tapi ia berkata bahwa ia telah siap untuk berhenti seperti pekerjaannya terdahulu, karena ia selalu menikmati pekerjaannya dalam setiap keadaan, dengan melakukan hal-hal kecil demi kasihnya kepada Allah. 

Bagi dia, waktu-waktu doanya tidak berbeda dengan waktu-waktu lainnya: ia tidak mengasingkan diri ke suatu tempat untuk berdoa menurut arahan Tuhannya, ataupun meminta Allah menghentikannya bekerja untuk berdoa, karena ia tahu bahwa pekerjaannya tidak akan mengalihkannya dari Allah. 

Ia mengetahui kewajibannya untuk mengasihi Allah dalam segala hal, dan ketika ia berusaha keras untuk melakukannya, ia tidak memerlukan orang lain untuk menasehatinya, tapi ia membutuhkan pengakuan iman untuk memerdekakannya. 

Ia sangat sadar dengan kesalahannya, tapi tidak dikecewakan dengan kesalahan-kesalahan itu; ia mengakui kesalahan-kesalahannya kepada Allah dan tidak meminta-Nya untuk membenarkan perbuatannya. Ketika ia melakukannya, ia mengalami pemulihan dalam penyembahan dan kasihnya kepada Allah. 

Walaupun ada banyak hal yang dipikirkannya, ia tidak menceritakannya kepada siapa pun, tapi menyadari bahwa hanya dengan cahaya iman yang diberikan Allah kepadanya, ia memenuhi dirinya dengan mengarahkan segala tindakannya kepada Dia, yaitu melakukannya dengan kerinduan untuk menyenangkan Dia, apa pun hasilnya. 

Di awal masa pentobatannya, ia menghabiskan waktu berjam-jam dalam doa pribadi untuk memikirkan Allah, juga untuk meyakinkan pikirannya dan memasukkan ke dalam hatinya keberadaan ilahi, daripada sekedar perasaan, dan menundukkan dirinya kepada cahaya iman, lalu merenungkan firman dan bermeditasi. 

Di mana dengan cara itu, ia melatih dirinya dalam pengenalan dan kasih kepada Allah, berketetapan menggunakan segenap kekuatannya untuk hidup dalam hadirat-Nya terus-menerus, dan j

Pada awal-awal persekutuannya dengan Tuhan, ia telah sering melewatkan waktunya untuk berdoa, menolak pemikiran yang mengembara. Ia tidak pernah dapat mengatur saat teduhnya dengan metode tertentu seperti orang-orang lainnya. 

Ketika ia telah memenuhi pikirannya dengan Allah dalam doa, ia bekerja di dapur (ia memasak untuk biara itu); di sana ia melakukan pekerjaan yang ditugaskan kepadanya, dan ketika segalanya telah selesai, ia menggunakan waktu-waktu luangnya untuk berdoa. 

Ketika ia memulai pekerjaannya, ia berkata kepada Allah, dengan kepercayaan penuh di dalam Dia, "Oh Tuhanku, karena Engkau besertaku, sekarang aku harus menggunakan pikiranku untuk mengerjakan hal-hal ini dengan ketaatan terhadap perintah-Mu, aku mohon kepada-Mu agar Engkau memberiku anugerah untuk terus berada dalam hadirat-Mu; dan aku mohon pertolongan-Mu untuk mengerjakan semua pekerjaanku, terimalah semua pekerjaanku dan terimalah semua kasih sayangku." 

Sementara ia terus bekerja, ia meneruskan percakapannya dengan sang Pencipta, meminta anugerah-Nya, dan menyerahkan seluruh pekerjaannya kepada Dia. 

Ketika ia telah selesai bekerja, ia memeriksa dirinya bagaimana ia telah menyelesaikan tugasnya. Jika ia telah mengerjakan dengan baik, ia kembali mengucap syukur kepada Allah. Jika sebaliknya, ia meminta pengampunan. Dan tanpa berkecil hati, ia menyelaraskan pikirannya kembali dan meneruskan latihannya dalam hadirat Allah, seolah-olah ia tidak pernah menyimpang dari-Nya. 

"Jadi," katanya, "dengan bangkit setelah kejatuhanku, dan secara terus-menerus memperbaharui tindakan iman dan kasih, aku masuk dalam satu keadaan, di mana akan sangat sulit bagiku untuk tidak memikirkan Allah, karena aku telah membiarkan diriku dengan hadirat-Nya." 

Ketika Brother Lawrence telah menemukan manfaat seperti itu saat berjalan dalam hadirat Allah, adalah mudah baginya untuk menyarankan kepada orang lain. 

Teladannya adalah contoh yang paling kuat daripada perkataan yang dapat ia katakan. Wajahnya membawa kebaikan; terlihat manis dan tenang, dapat mempengaruhi semua yang melihatnya. 

Dan telah diamati, bahwa dalam pekerjaannya yang sibuk di dapur, ia masih mempertahankan pikirannya yang dipenuhi dengan sorga. Ia tidak pernah terburu-buru dan tergesa-gesa, tapi mengerjakan setiap hal sesuai waktunya, dengan roh yang tenang dan tidak terganggu. 

"Waktu kerja," katanya, "tidak berbeda dengan waktu doa; dalam kegaduhan dan kekacauan di dapur, sementara beberapa orang pada saat yang sama berteriak-teriak meminta sesuatu, saya memiliki Allah dalam ketenangan seolah-olah saya sedang berlutut di hadapan-Nya." 

Doa menumbuhkan semangat hidup yang semakin terarah kepada Allah. Semangat hidup yang terarah kepada Allah memancarkan penghayatan iman, harapan dan kasih yang memerdekakan. 

Pada saat musim dingin, aku melihat daun-daun berjatuhan dari sebuah pohon, aku merenungkan bahwa dalam waktu singkat, dedaunan itu akan diperbarui, dan setelah itu bunga-bunga dan buah akan muncul (menerima pewahyuan akan pemeliharaan dan kuasa Allah yang belum pernah muncul dalam jiwa). Cara pandang ini telah memisahkan diriku dari dunia ini dan mengobarkan kasihku kepada Allah. 

Selama empat tahun, aku sangat menderita karena terganggu dengan pikiran bahwa aku seharusnya dihukum. 

Aku berkata, "Aku tidak terlibat dalam kehidupan agamawi, tetapi terlibat dalam kasih Allah, dan aku telah berusaha keras untuk bertindak hanya untuk-Nya; apa pun hasil akhirnya, apakah aku akan terhilang atau diselamatkan, aku akan selalu bertindak sepenuhnya demi kasih Allah. Aku akan melakukannya, dan sampai mati aku akan melakukan apa pun untuk mengasihi Dia." 

Sejak aku terbebas dari pikiran itu, aku menjalani hidupku dalam kebebasan yang sempurna dan sukacita terus-menerus. Aku telah menempatkan dosa-dosaku di antara aku dan Allah, dan mengatakan kepada-Nya bahwa aku tidak layak menerima kemurahan-Nya, tapi Allah masih terus-menerus memberikannya dengan melimpah. 

Begitu banyaknya buku-buku yang menulis berbagai cara untuk datang kepada Allah, dan bagaimana praktik yang berbeda dalam kehidupan rohani, aku merasa bahwa ini akan membingungkanku daripada membantu apa yang aku cari, yaitu hanya ingin mengetahui bagaimana sepenuhnya menjadi milik Allah. Jadi, aku tidak mencari kehidupan doaku dalam buku-buku. 

Dalam suatu percakapanku dengan seorang yang takut akan Tuhan, ia memberitahuku bahwa kehidupan rohani adalah kehidupan anugerah, yang dimulai dengan sikap merendahkan diri, yang ditingkatkan dengan pengharapan akan kehidupan kekal, dan dibakar oleh kasih yang murni. Aku tidak mengikuti semua cara-cara itu. Sebaliknya, dalam naluriku, aku merasa cara-cara itu mengecilkan hatiku. 

Inilah alasanku mengapa aku menerima Kristus, aku berketetapan untuk menyerahkan diriku kepada Allah, sebagai hal yang terbaik untuk menebus dosa-dosaku, dan demi kasih-Nya meninggalkan semua di belakang. 

Hal ini telah menjadi latihanku sejak aku menerima Kristus; dan meskipun aku telah melakukannya dengan sangat tidak sempurna, namun aku telah mendapati manfaat yang besar dengan melatih diri seperti ini. 

Latihan-latihan ini, aku yakin, akan menghubungkanku dengan kemurahan dan kebaikan Allah, karena kita tidak dapat melakukan apa pun tanpa Dia; dan aku masih jauh dari sempurna. 

Latihan ini tidak melelahkan tubuh; namun terkadang malah menghilangkan kelelahan, tetapi juga seringkali ini merupakan kesenangan-kesenangan yang tidak berdosa dan diperbolehkan: karena Allah tidak akan mengizinkan satu jiwa yang ingin menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya memiliki kesenangan lain selain daripada-Nya. 

Ketika kita terus setia untuk tetap berada dalam hadirat-Nya yang kudus, dan selalu menomorsatukan Dia, ini tidak hanya akan menghindari kita untuk mendukakan Dia dan melakukan segala sesuatu yang tidak menyenangkan Dia, tapi ini juga akan memunculkan kebebasan kudus di dalam diri kita, yaitu mengenal Allah. Intinya, dengan sering melakukan tindakan ini, mereka akan menjadi kebiasaan, dan hadirat Allah akan menjadi sangat alami bagi kita. 

Selama tahun-tahun pertama, biasanya aku menggunakan waktu-waktu saat teduh, dengan pikiran tentang kematian, penghakiman, neraka, sorga, dan dosa-dosaku. Jadi aku terus melanjutkan selama beberapa tahun menggunakan pikiranku dengan seksama untuk merenungkan semua itu sepanjang hari, dan bahkan di tengah-tengah pekerjaan, di hadapan Allah, yang kuanggap selalu bersamaku. 

Kadangkala aku secara tidak sengaja melakukan hal yang sama selama waktu-waktu doaku, di mana ini membuatku merasa senang dan terhibur. Tindakan ini menghasilkan kepercayaan yang tinggi kepada Allah, di mana iman saja sudah cukup untuk memuaskanku pada saat itu. 

Aku telah dipengaruhi oleh kasih, tanpa keegoisan dan aku berketetapan untuk membuat kasih Allah sebagai tujuan dari semua perbuatanku, aku telah menemukan alasan untuk dipuaskan dengan caraku berdoa. Aku sangat senang ketika aku dapat menerima kasih Allah, hanya mencari-Nya, bahkan tidak mencari karunia-karunia-Nya. 

Dasar dari kehidupan rohaniku adalah percaya dan menghargai Allah dalam iman; yang mana ketika aku pernah menerimanya, pada awalnya aku tidak peduli, tapi dengan setia menolak setiap pikiran lainnya sehingga aku dapat melakukan perbuatannya demi kasih Allah. 

Kadang-kadang aku tidak memikirkan Allah dalam beberapa waktu yang lama, aku tidak mendiamkan diriku sendiri; tapi setelah menyadari kejahatanku kepada Allah, aku kembali kepada-Nya dengan kepercayaan yang jauh lebih besar, oleh karena aku mendapati diriku lebih jahat karena telah melupakan Dia. 

Kepercayaan yang kita taruh di dalam Tuhan sangat memuliakan-Nya, dan menarik turun kasih karunia-Nya yang besar. 

Merupakan hal yang tidak mungkin untuk menipu Allah, tapi biarlah kita menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada Dia dan berketetapan untuk menanggung segala sesuatu demi Dia. 

Aku telah seringkali mengalami pertolongan kasih karunia ilahi dalam segala sesuatu, di mana dari pengalaman yang sama itu, ketika aku memiliki pekerjaan untuk dilakukan, aku tidak memikirkan sebelumnya; tapi ketika sudah tiba saatnya untuk dikerjakan, aku menemukan di dalam Tuhan - seperti dalam cermin yang jelas - semua cocok bagiku untuk dikerjakan. Allah selalu memberi kita terang dalam keraguan kita, ketika kita tidak memiliki agenda lain selain menyenangkan Dia. 

Ketika urusan di luar mengalihkanku sedikit dari pikiran tentang Allah, ingatan yang segar datang dari Allah memasuki jiwaku, dan sangat menggelora dan menggugahku sehingga sulit bagiku untuk menahan diriku. 

Aku merasa lebih menyatu dengan Allah dalam tugas-tugasku daripada ketika aku berada dalam perenungan di tempat terpencil. 

Aku berharap sesudah ini aku akan mengalami rasa sakit yang besar pada tubuh atau pikiranku; bahwa hal terburuk yang dapat terjadi padaku adalah kehilangan rasa terhadap Allah, yang telah aku nikmati. 

Kebaikan Allah menjaminku bahwa Ia tidak akan meninggalkanku, dan Ia akan memberiku kekuatan untuk menanggung hal-hal buruk apa pun yang Ia izinkan terjadi padaku ; dan karena itu aku tidak takut pada apa pun, dan tidak memiliki alasan untuk berkonsultasi kepada siapa pun tentang keadaan ini. 

Ketika aku telah mencoba untuk melakukannya, aku selalu menjadi semakin bingung; dan karena aku sangat sadar pada kesiapanku untuk menyerahkan nyawaku demi kasih Allah, aku tidak takut dengan bahaya. 

Penyerahan diri yang sempurna kepada Allah adalah jalan yang pasti menuju sorga, sebuah jalan di mana kita selalu memiliki cahaya yang cukup untuk perbuatan kita. 

Ketika ada kesempatan untuk melakukan beberapa kebaikan, aku menyerahkan diriku kepada Allah dengan berkata, "Tuhan, aku tidak dapat melakukan ini kecuali Engkau memampukanku"; dan kemudian aku menerima kekuatan lebih dari cukup. 

Ketika aku gagal dalam melakukan tugasku, aku hanya mengakui kesalahanku dengan berkata kepada Allah, "Aku tidak akan pernah melakukan yang sebaliknya, jika Engkau meninggalkanku; Engkau harus menghalangi kegagalanku, dan memperbaiki apa yang salah." Setelah itu, aku tidak merasa gelisah lagi mengenai hal itu. 

Kita harus bersikap sederhana dengan Tuhan, berbicara dengan-Nya secara jujur dan terus terang, dan memohon dengan sangat untuk bantuan-Nya dalam berbagai kejadian ketika itu terjadi. Allah tidak pernah gagal memberikan pertolongan-Nya. 

Selama sepuluh tahun pertama, aku sangat menderita dengan pemahaman bahwa aku tidak bertekun kepada Allah sesuai seperti yang kuharapkan, dosa-dosa masa laluku selalu muncul dipikiranku, dan ketidaklayakan atas kemurahan Allah yang diberikan oleh-Nya adalah masalah dan sumber penderitaanku. 

Selama waktu-waktu ini, aku sering jatuh bangun. Tampak bagiku bahwa semua makhluk, pikiran, dan Allah sendiri menentang aku. Hanya iman saja yang aku miliki. 

Aku terkadang sangat terganggu dengan pemikiran di mana aku percaya bahwa alasan aku telah menerima kemurahan seperti itu adalah efek dari anggapanku, di mana aku menganggap diriku telah menerimanya dengan sekaligus, sementara yang lainnya menerima dengan kesulitan; di waktu-waktu lainnya aku menganggap bahwa itu adalah khayalan yang disengaja, dan bahwa tidak ada keselamatan bagiku. 

Ketika aku hanya memikirkan untuk mengakhiri hari-hariku dalam masalah-masalah ini (di mana ini sama sekali tidak mengurangi kepercayaanku kepada Allah, dan hanya membuat imanku semakin meningkat), aku mendapati diriku berubah secara tiba-tiba; dan jiwaku, yang sampai saat itu masih terganggu, merasakan damai sejahtera, seolah-olah ia ada di tempat perhentian. 

Sejak saat itu aku berjalan di hadapan Allah hanya dengan iman, dengan kerendahan hati dan dengan kasih; aku membuat diriku tidak melakukan atau memikirkan hal-hal yang tidak menyenangkan Dia. Aku berharap ketika aku telah melakukannya semampuku, Ia akan membentukku sesuai kehendak-Nya. 

Untuk apa yang telah terjadi padaku di masa sekarang, aku tidak merasa menderita atau kesulitan terhadap keadaanku, karena aku tidak memiliki keinginan lain selain hanya menginginkan Allah saja, di mana aku berusaha untuk mencapainya dalam segala hal, dan melepaskan segala sesuatu di mana aku tidak akan melawan kehendak-Nya, atau memiliki motivasi lain selain mengasihi-Nya. 

Aku telah berhenti melakukan segala bentuk perenungan dan cara doa, tapi hanya melakukan apa yang diharuskan oleh keadaanku. Dan aku berusaha untuk bertekun dalam hadirat-Nya yang kudus, di mana aku melakukannya dengan sederhana dan dengan rasa hormat kepada Allah, di mana aku menyebutnya sebagai hadirat Allah yang sebenarnya; atau sebutan yang lebih baiknya: percakapan hening dan rahasia bersama Allah yang sering membuatku bersukacita dan gembira di dalam batin, dan terkadang juga aku rasakan di luar, begitu besarnya perasaan sukacita itu sehingga aku harus berusaha untuk menutupinya dan menghalanginya terlihat orang lain. 

Dalam percakapan dengan Allah ini, kita juga terlibat dalam pujian, pemujaan, dan mengasihi Dia dengan tiada henti, karena kebaikan dan kesempurnaan-Nya yang tak terbatas. 

Intinya, aku sangat yakin melampaui segala keraguan bahwa jiwaku telah bersama dengan Allah selama tiga puluh tahun ini. 

Sikapku di hadapan Allah, yang kuanggap sebagai Rajaku. Aku menganggap diriku sebagai manusia yang paling jahat, penuh luka dan kecurangan, dan yang telah melakukan segala bentuk kejahatan melawan Rajanya. 

Setelah dijamah dengan penyesalan, aku mengakui semua kejahatanku kepada-Nya, aku meminta pengampunan, aku menyerahkan diriku ke tangan-Nya agar Ia dapat melakukan apa pun yang dikehendaki-Nya. 

Raja ini penuh dengan belas kasihan dan kebaikan, sama sekali tidak menghukumku, tapi menyambutku dengan kasih, membuatkan bagiku makanan di meja-Nya, melayaniku dengan tangan-Nya sendiri, memberiku kunci ke dalam tempat perbendaharaan-Nya; Ia menyenangkan diri-Nya denganku terus-menerus, dengan ribuan cara, dan memperlakukanku dengan segala hormat sebagai kesayangan-Nya. Karena itulah aku ingin berada dalam hadirat-Nya yang kudus setiap saat. 

Cara yang paling sering kupakai adalah perhatian sederhana ini dan kegairahan terhadap Allah, yang kepadanya aku seringkali mendapati diriku melekat dengan kebaikan-Nya yang lebih besar daripada seorang anak di dada ibunya: sehingga jika aku berani menggunakan ekspresi ini, aku seharusnya memilih untuk menyebut keadaan ini sebagai dadanya Allah, karena kebaikan yang tidak dapat dijelaskan yang kurasakan dan kualami di sana. 

Jika terkadang pikiranku mengembara dari-Nya karena sengaja atau dalam kelemahan, aku dipanggil kembali oleh gerakan di dalam diriku, begitu menarik dan menyenangkan. 

Kadang-kadang aku menganggap diriku seperti sebuah batu di hadapan seorang pemahat yang akan membuat sebuah patung. Aku menyerahkan diriku di hadapan Allah, aku rindu Ia memahat gambar-Nya yang sempurna dalam jiwaku, dan membuatku menjadi seperti Dia 

Terkadang, ketika aku sedang berdoa, aku merasa seluruh roh dan jiwaku terangkat sendiri tanpa usaha; dan itu berlanjut sementara terfokus kepada Allah, seperti dalam pusat tempat perhentian-Nya. 

Aku tahu bahwa beberapa orang menganggap keadaan ini sebagai suatu aktifitas yang pasif, berkhayal, dan mengasihi diri: aku mengakui bahwa itu adalah kepasifan kudus, dan dapat menjadi mengasihi diri yang bahagia, jika jiwa dalam keadaan itu mampu melakukannya. 

Aku tidak menerima jika ini disebut berkhayal; karena jiwa yang menikmati Allah tidak menginginkan apa pun selain Dia. 

Jika ini adalah khayalanku, maka adalah bagian Allah untuk memperbaikinya. Biarkan Dia melakukan apa yang Ia inginkan terhadapku; Aku hanya menginginkan Dia dan sepenuhnya setia kepada-Nya. 

Jika kita ingin memiliki anugerah dan pertolongan Allah, kita tidak boleh mengalihkan pandangan kita dari-Nya walau sedetikpun. Buatlah ketetapan yang kudus dan tegas dengan segera untuk tidak akan pernah lagi melupakan Dia, dan untuk meluangkan sepanjang sisa harimu di dalam hadirat-Nya yang kudus, menikmati kasih-Nya. 

Selama kira-kira tiga puluh tahun, jiwaku telah dipenuhi dengan sukacita terus-menerus, dan terkadang sangat besar sehingga aku terpaksa menahan dan menyembunyikannya untuk menghindari kemunculan sukacita itu dari luar. 

Marilah kita mulai mendedikasikan diri kita kepada-Nya dengan kesungguhan dengan memikirkan Dia terus-menerus, menaruh semua kepercayaan kita kepada diri-Nya. 

Jika kita berusaha melakukannya sebisa kita, kita akan segera melihat perubahan terjadi di dalam kita seperti yang kita rindukan, kita akan segera menerima anugerah-Nya yang melimpah, yang dengannya kita dapat melakukan segala hal, dan tanpa-Nya kita tidak dapat melakukan apapun selain dosa. Marilah kita berdoa satu sama lain.

Allah meminta kita untuk menjadi “penjaga” bagi saudara dan saudari kita untuk memperhatikan satu sama lain (Paus Benedictus XVI)

(Sumber: Warta KPI TL No.157/V/2018 » Menjalani hidup di dalam hadirat Tuhan, Brother Lawrence). 

19.47 -

Sains bukanlah musuh iman, melainkan bukti kehebatan Tuhan



Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya (Mzm 19:1).

Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih (Rm 1:20).

Kekeliruan yang kebanyakan orang miliki adalah: Sains merupakan musuh dari Iman. Padahal sesungguhnya, Sains bukanlah lawan dari iman, melainkan sains adalah bukti dari kemuliaan Tuhan. 

Mungkin kebanyakan orang berpikir bahwa saya adalah seseorang yang mengambil kuliah jurusan teologi; tetapi padahal, saya adalah seseorang yang mengambil kuliah jurusan sains. Selama empat tahun, saya belajar banyak hal tentang biologi, kimia, dan fisika. Namun, pembelajaran saya akan sains tidak membuat saya menjadi kesulitan percaya kepada Tuhan, melainkan sebaliknya, pembelajaran saya akan sains malah membuat saya semakin percaya dengan kehebatan Tuhan. 

Alkitab mengatakan bahwa alam semesta beserta segala ciptaan di dalamnya merupakan bukti dari kekuatan Tuhan - saya pun sangat setuju. 

Apakah kalian pernah berpikir tentang fotosintesis? Fotosintesis adalah sebuah proses dimana tumbuhan menyerap karbon dioksida yang merupakan racun bagi tubuh kita dan mengeluarkan oksigen yang merupakan kebutuhan utama kita untuk hidup. Sangat luar biasa bukan? 

Mari kita lanjut dengan berpikir tentang respirasi. Kita menghirup oksigen yang diproduksi oleh tumbuhan, sehingga di dalam tubuh kita terjadi respirasi yang menghasilkan energi untuk tubuh kita dapat berfungsi dengan baik. Ini merupakan sesuatu yang sangat luar biasa juga bukan? (Saya dapat membahas lebih banyak lagi soal glikolisis, siklus krebs, fosforilasi oksidasi, dan hal-hal lainnya di dalam respirasi—namun sepertinya lebih baik kita tetap melekat pada fokus utama kita soal sains dan iman).

Bagaimana dengan keseluruhan tubuh kita? Setiap hari jantung kita memompa darah ke seluruh bagian tubuh kita, pencernaan kita mengolah makanan yang kita konsumsi untuk menjadi energi kita, dan paru-paru kita mengolah oksigen yang tubuh kita butuhkan menjadi karbon dioksida yang nantinya kita buang. Dan itu semua beroperasi dengan sempurna tanpa usaha kita sama sekali, bahkan ketika kita sedang tertidur. Apakah ini merupakan sebuah desain yang terjadi secara kebetulan dan begitu saja? Ataukah ini merupakan sebuah desain sempurna yang diciptakan oleh seseorang?

Orang-orang seringkali berargumen bahwa Tuhan tidak ada karena Dia tidak terlihat. Namun, tidak terlihat tidaklah membuktikan bahwa sesuatu itu tidak ada. 

Contohnya, kita tidak dapat melihat udara - tetapi kita dapat merasakan kuasanya yang berhembus melewati kita. Sangat bodoh bukan jika ada seseorang yang mengatakan angin tidak ada hanya karena orang itu tidak dapat melihat angin tersebut? 

Contoh lainnya, jika kita ke museum dan melihat sebuah lukisan menakjubkan tanpa pelukisnya di sebelahnya, apakah kita dapat mengatakan pelukisnya tidaklah nyata? Tentu saja tidak! Tentu saja ada seorang pelukis di balik lukisan menakjubkan tersebut. Bukankah sangat bodoh jika kita mengatakan lukisan itu tercipta begitu saja? Jadi, hanya karena kita tidak dapat melihat sesuatu tersebut, bukan berarti sesuatu tersebut sesungguhnya tidak ada. 

Albert Einstein pernah mengatakan, “Hanya ada dua cara dalam menjalani hidupmu: dengan seakan-akan tidak ada yang namanya keajaiban, atau dengan seakan-akan segalanya adalah keajaiban.” 

Apa yang Albert Einstein katakan ini adalah sesuatu yang sangat benar; ketika kita melihat alam semesta dan juga sains yang berada di dalamnya, kita memiliki pilihan - untuk melihatnya sebagai keajaiban dari sang pencipta, atau menganggap semuanya terjadi secara kebetulan tanpa seorang pencipta.

Mari saya ceritakan bagaimana sains dapat menjelaskan akan betapa luar biasanya Tuhan kita beroperasi di dunia ini. 

Teori Relativitas Einstein mengatakan bahwa waktu dan kecepatan adalah relatif dengan objek yang mengukurnya. Sekarang coba bayangkan saya sedang berada di depan kalian dan saya sedang berdiri diam. Menurutmu, berapa kecepatan saya? 

Tentu saja kamu akan mengatakan nol mil per jam, karena saya kelihatannya seperti tidak bergerak. Tetapi jika kamu mengerti seberapa kencangnya bumi kita berputar, kamu akan sadar bahwa diriku dan dirimu sedang tidak berdiri diam, melainkan kita sedang berputar dengan kecepatan dua juta mil per jam.

Einstein mengatakan bahwa semakin cepat kita bergerak, waktu akan menjadi semakin lambat; dan pada kecepatan cahaya, waktu akan berhenti dan jarak akan menyusut menjadi tidak ada. Kebenarannya, waktu dan ruang tidaklah konstan dan universal, melainkan fleksibel dan personal kepada pengamatnya. Einstein mengatakan bahwa permasalahannya tidak terletak pada relativitas, melainkan pada anggapan bahwa akal sehat kita mewakili kenyataan. 

Kebenarannnya, Tuhan beroperasi dalam wawasan yang berbeda dari kita. Pemikiran-Nya berbeda dengan pemikiran kita, dan jalan-Nya melebihi jalan kita. Seperti langit dengan bumi, itulah perbedaan pemikiran-Nya dengan pemikiran kita dan jalan-Nya dengan jalan kita.

“Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh.” (Roma 1:21-22)

Menyadari atau tidak menyadari Tuhan sebagai pencipta dunia ini bukanlah ditentukan berdasarkan kepintaran seseorang, melainkan kerendahan hati seseorang. Orang-orang yang rendah hati akan mampu melihat kemuliaan Tuhan di dalam alam semesta dan sains. Tetapi orang-orang yang sombong akan kesulitan untuk melihat kemuliaan Tuhan di dalam alam dan sains. 

Artikel ini bukan dituliskan untuk menyerang para Ateis dengan mengatakan bahwa mereka semua adalah orang-orang keliru yang sombong, melainkan dituliskan untuk mengajak kita semua untuk mempertimbangkan alam semesta dan sains sekali lagi - apakah mungkin, dunia kita yang begitu luar biasa ini bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan dan begitu saja, melainkan sesuatu yang diciptakan oleh seorang Seniman yang maha kuasa?

(Sumber: Grace Depth).