Senin, 05 September 2016

15.42 -

Penanggalan Liturgi







Adven awal tahun liturgi

Kalender yang kita gunakan disebut kalender Masehi. Peletakan awal tahun liturgi Gereja pada masa Adven mengikuti sebuah teologi yang bertujuan mengajak seluruh anggota Gereja untuk menghidupi kembali masa penantian akan kedatangan penebus, seperti yang dialami oleh umat Israel.

Masa penantian ini dijiwai dengan semangat pertobatan untuk menyambut kedatangan Penebus. Dengan demikian, tahun liturgi mengikuti proses penebusan, yang mulai dengan Inkarnasi sampai kemudian berpuncak pada misteri Paskah kebangkitan.

Pusat iman kita adalah kebangkitan. Tetapi tidak perlu tahun liturgi dimulai dengan kebangkitan, karena pengaturan yang sekarang ini kebih tepat, yaitu kebangkitan dijadikan sebagai titik puncak (klimaks) perjalanan liturgis sepanjang tahun. Kebangkitan inikah yang kemudian mewarnai seluruh perayaan liturgi sepanjang tahun.

Jika tahun diturgi demulai dengan kebangkitan, maka masa penantian menjadi seperti anti-klimaks.

Dengan mudah kita semua dapat menentukan bahwa hari Natal pasti selalu jatuh pada tanggal 25 Desember. Namun, kebanyakan dari kita akan kesulitan menentukan kapan jatuhnya hari Paskah, hari Rabu Abu, ataupan hari pertama masa Adven. 

Kesulitan itu terjadi karena hari-hari tersebut tidak jatuh pada tanggal yang selalu sama setiap tahunnya pada penanggakan Masehi. 

Dalam hal ini Gereja Katolik memiliki sistem penanggalan sendiri yang disebut Penanggalan Liturgi. Penanggalan ini dipakai oleh Gereja terutama untuk keperluan Liturgi, maka juga disebut penanggakan liturgi. Seperti apakah itu?

Penanggalan liturgi adalah daftar tentang rumus dia dan bacaan Ekaristi, ibadat harian (brevir), warna pakaian liturgi, upacara-upacara khusus, dan sebagainya. Daftar yang juga sering disebut kalendarium liturgi ini disusun secara teratur untuk satu tahun.

Secara internasional penanggalan liturgi ditentukan oleh sebuah panitia khusus Gereja Katolik di Roma. Di Indonesia penanggalan liturgi tersebut disusun dan disesuaikan oleh Komisi Liturgi KWI dan setiap tahun diterbitkan oleh Penerbit Kanisius Yogyakarta.

Penanggalan Masehi dimulai dengan tanggal 1 Januari, namun penanggalan liturgi dimulai dengan hari Minggu pertama masa Adven (sekitar akhir November penanggalan Masehi).

Dalam satu tahun terdapat 3 lingkaran masa, yaitu Natal, Paskah, dan Biasa.

Lingkaran Natal dimulai dengan Minggu pertama masa Adven dan berakhir pada Pesta Pembaptisan Tuhan Yesus.

Lingkaran Paskah dimulai dengan Rabu Abu dan berakhir pada perayaan Pentekosta.

Lingkaran Biasa berakhir pada Minggu ke 34 pada Hari Raya Kristus Raja Alam Semesta. Setelah masa Biasa habis, lingkaran liturgi mulai lagi dengan lingkaran Natal yang didahului dengan Adven, dan begitu seterusnya.

Tahun A/B/C dan Tahun I/II

Panitia khusus di Roma telah menyusun tahun liturgi agar seluruh Kitab Suci dibaca dan direnungkan dalam parayaan Ekaristi selama kurang lebih 3 tahun.

Jadi, bila kita mengikuti perayaan Ekaristi setiap hari selama 3 tahun, kita akan mendengar hampir seluruh kutipan Kitab Suci. Untuk itu dibuat dua klasifikasi: Tahun A/B/C dan Tahun I/II.

Tahun A/B/C yakni klasifikasi untuk bacaan hari Minggu, yaitu Tahun A (disebut juga Tahun Matius karena bacaan Injil diambil dari Injil Matius), Tahun B (disebut juga Tahun Markus karena bacaan Injil diambil dari Injil Markus. Tahun C (disebut juga Tahun Lukas karena bacaan Injil diambil dari Injil Lukas). Injil Yohanes dibacakan pada hari-hari Minggu selama masa Adven, Paskah, dan minggu-minggu tertentu dalam tahun B

Tahun I/II yakni klasifikasi untuk bacaan harian, yaitu Tahun I dan Tahun II.

Misalnya, semenjak 30 November 1997 penanggalan liturgi yang dipakai iakah Tahun C/II. Demi mudahnya, kita bisa mengatakan bahwa sebagian besar tahun 1998 (dari Januari hingga November) adalah Tahun C/II.

Artinya, bacaan Ekaristi pada hari-hari Minggu diambil dari kelompok Tahun C dan bacaan Ekaristi pada hari-hari Biasa diambil dari kelompok Tahun II.

Oleh karena itu kita dapat menentukan bahwa

Tahun 1998 (sejak Adven tahun 1997) adalah Tahun C/II
Tahun 1999 (sejak Adven tahun 1998) adalah Tahun A/I
Tahun 2000 (sejak Adven tahun 1999) adalah Tahun B/II
Tahun 2001 (sejak Adven tahun 2000) adalah Tahun C/I, dst.

Cara membaca Penanggalan Liturgi 1997 pada tanggal 30 November 1997.

Data penanggalan tersebut memberikan informasi tentang apa saja yang perlu disiapkan untuk Ekaristi atau ibadat.

1. "30 Mg Hari Minggu Adven I" artinya tanggal 30 November adalah hari Minggu pertama dalam masa Adven.

2. "Pekan I Adven" artinya mulai hari Minggu, 30 November 1997, hingga hari Sabtu 1997, kita masuk pekan pertama dalam masa Adven.

3. "(U)" maksudnya warna liturgi pada hari itu adalah ungu, maka perlu dipersiapkan kasula dan stola berwarna ungu. Ungu lambang tobat.

4. "E, Syah Pref Adven" maksudnya dalam Ekaristi, syahadat harus diucapkan dan orefasi (pendahuluan Doa Syukur Agung) yang dipakai ialah prefasi Adven.

5. "Bc E Yer 33:14-16" maksudnya bacaan pertama Ekaristi diambil dari kitab Yeremia bab 33 ayat 14 sampai 16.

"Mzm 25: 4bc-5ab, 8-9, 10, 14" maksudnya petikan mazmur antar bacaan diambil dari Mazmur bab 25 ayat 4bc sampai 5ab, ayat 8 sampai 9, ayat 10 dan 14. Mazmur antar bacaan bisa didaraskan, bisa juga diganti dengan nyanyian.

"1 Tes 3:12 - 4:2" maksudnya bacaan kedua diambil dari surat pertama Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika bab 3 ayat 12 sampai bab 4 ayat 2.

"Luk 21:25-28, 34-36" maksudnya bacaan ketiga diambil dari Injil Lukas bab 21 ayat 25 sampai 28 dan ayat 34 sampai 36.

Tanda O (ofisi) atau BcO (bacaan ofisi) dipakai sebagai panduan dalam mendoakan ibadat harian atau ofisi, maka terutama perlu diperhatikan oleh mereka yang biasa mendaraskan ibadat hatian (brevir).

Makna Penanggalan Liturgi

Penanggalan liturgi merupakan usaha Gereja untuk mengenangkan karya penyelamatan Allah yang telah terlaksana dalam diri Yesus Kristus. 

Usaha Gereja ini bertujuan agar umat dalam mengikuti kegiatan-kegiatan liturgi (misalnya penerimaan sakramen-sakramen sungguh-sungguh dapat mengalami karya Allah lewat Yesus Kristus, yakni dengan senantiasa mendengarkan sabda-Nya (Kitab Suci). Usaha ini berlangsung terus-menerus sepanjang tahun.

Apa sebenarnya yang dikenangkan? Yang dikenangkan adalah 

1. Karya penciptaan Tuhan yang agung, termasuk penciptaan diri kita,

2. Karya penyelamatan bangsa Israel yang memuncak pada Yesus Kristus.

3. Tuhan yang senantiasa mau mendekati dan mengasihi kita.

Karena semua itulah, kita mengungkapkan rasa kagum dan syukur mendalam. Itulah "doa syukur agung" yang mestinya menjiwai hidup kita.

Sarana untuk mengenangkan adalah Kitab Suci. Kitab Suci adalah pengungkapan iman tentang karya penyelamatan Allah. Di dalamnya ditampilkan hidup dan karya Yesus Kristus. Kitab Suci dibaca dan direnungkan bersama dalam perayaan-perayaan liturgi. Itulah yang kita lakukan.

Pengenangan karya penyelamatan Allah itu mempunyai unsur-unsur: mengingat, mengakui, menghadirkan dan melaksanakan.

Oleh karena itu, kita tidak sekedar mengingat-ingat sejarah masa lampau saja, melainkan juga mengakui dan membuat yang lampau tersebut bermakna untuk zaman sekarang ini. Agar bermakna, kita perlu memahami lalu melaksanakannya dalam hidup sehari-hari.

(Sumber: Dari Adven sampai Natal, Dr. Petrus Maria Handoko, CM; Mengenal tahun liturgi, I Marsana Windhu).

15.02 -

Penanggalam Masehi




Tanggal berapakah hari ini? Kita tengok saja kalender. Kalau kalender di ruangan kita menunjukkan bahwa hari ini, misalnya saja adalah tanggal 26 Januari 2017, berarti kalender kita tersebut merupakan penanggalan Masehi. Artinya sekarang adalah hari ke-26 bulan ke-1 dari tahun ke-2017 Masehi.

Sesungguhnya penanggalan Masehi didasarkan pada perhitungan waktu edar bumi mengelilingi matahari. Untuk satu kali mengedari matahari, bumi membutuhkan waktu satu tahun atau 365 ¼ hari. Dalam satu putaran mengelilingi matahari itu, bumi dikitari oleh bulan sebanyak 12 kali. Oleh karena itu, hari-hari dalam setahun yang jumlahnya 365 itu dibagi ke dalam 12 bulan. Sisanya yang ¼ hari setiap 4 tahun (tahun kabisat ditambahkan sebagai tanggal 29 Februari. Penanggalan ini berlaku secara internasional.

Kata Masehi berasal dari kata Arab Al-Masseh atau Almasih yang sama artinya dengan Mesias dalam bahasa Ibrani, atau Cristus dalam bahasa Latin (semua kata itu berarti 'yang diurapi'). Jadi menurut penanggalan Masehi, Yesus Kristus itu dilahirkan pada tahun 1.

Pada waktu Yesus dilahirkan di Betlehem, kalender yang digunakan bukanlah Tahun Masehi, tetapi tahun UC (Urbis Conditae, sejak pendirian kota Roma) artinya perhitungan berdasarkan saat pendirian kota Roma.

Tahun Masehi baru berlaku pada tahun 533 M, yaitu ketika Paus Yohanes I menugaskan rahib diakon Dionisius untuk menghitung penetapan Tahun Masehi berdasarkan data biblis yang ada.

Dengan memperhatikan data biblis "dalam tahun kelimabelas dari pemerintahan Kaisar Tiberius" (Luk 3:1), yaitu tahun 783 UC dan "ketika memulai pekerjaan-Nya, Ia berumur kira-kira tigapuluh tahun" (Luk 3:23), Dionisius menyimpulkan bahwa Yesus dilahirkan pada tahun 753 UC. Maka ditetapkan bahwa tahun 754 UC adalah tahun 1 M (Masehi). Tahun penetapan ini ialah tahun 1287 UC atau tahun 533 M.

Tahun Masehi seringkali juga disingkat AD (Anno Domini) artinya Tahun Tuhan atau sesudah kelahiran Kristus. Sedangkan sebelum Kristus disingkat SM (sebelum Masehi) atau BC (Before Christ).

Kalender Masehi itu dengan cepat diterima di Italia dan Perancis. Di Spanyol penerimaan kalender Masehi ini mengalami proses panjang, yaitu di Catalonia tahun 1180, di Aragon mulai tahun 1350, di Valencia tahun 1358, di Castille tahun 1383. Bahkan di Portugis diterima tahun 1422.

Perhitungan Dionisius itu ternyata kurang tepat karena dia tidak mempertimbangkan data dari Injil Matius. Dikatakan bahwa Yesus dilahirkan "pada jaman raja Herodes (2:1),

Menurut data sejarah, Herodes meninggal tahun 750 UC atau 4 SM. Dengan memperhitungkan data sejarah bahwa Herodes pergi ke Kaliroe untuk berobat pada tahun 5 SM dan baru kemudian Herodes bertemu dengan para majus, maka para ahli menyimpulkan bahwa sebenarnya kelahiran Yesus ialah tahun 7 SM.

Kesalahan perhitungan Dionisius ini tidak menyebabkan pengubahan tahun Masehi, sebab hal itu akan membuat banyak kerumitan yang tidak perlu.

Misalnya: Indonesia merdeka bukan tahun 1945 tapi tahun 1952. Pengeboman WTC bukan terjadi tahun 2002 tetapi tahun 2008. Tentu perubahan-perubahan ini akan cukup mengacaukan tetapi kurang membawa manfaat.

Jadi, meskipun kurang tepat, penanggalan perhitungan Dionisius tetap dipakai sampai sekarang karena penggunaannya sudah sangat meluas.


(Sumber: Warta KPI TL No.141/I/2017 » Dari Adven sampai Natal, Dr Petrus Maria Handoko, CM).

Belajar menjadi sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga

Ada sebutir telur burung rajawali dierami seekor induk ayam. Ketika sudah menetas, anak rajawali itu hidup bersama anak-anak ayam yang lain. Anak rajawali itu tidak tidak pernah berlatih terbang, karena dia berpikir dirinya ayam.


Sedangkan anak-anak rajawali yang ditetaskan oleh induknya; justru pada saat badai ditinggalkan induknya, agar kelak mereka mempunyai kekuatan, menjadi rajawali-rajawali muda yang gagah berani dan militan dalam menghadapi badai sebesar apa pun.


Penderitaan/pergumulan hidup yang kita alami, seharusnya membuat manusia roh kita bertumbuh dan berkembang, menunjukkan kualitasnya. Kalau Bapa mengijinkan penderitaan apa pun di dalam kehidupan kita, itu adalah bukti betapa besar sayangnya Bapa di dalam kehidupan kita. Agar kelak kita mempunyai kekuatan dalam menghadapi badai sebesar apa pun. 

Tapi seringkali orang tidak mengerti, bahwa Bapa sedang menguji sebesar apa iman yang kita miliki, sehingga mereka semakin jauh dari Allah. 

Contoh: Allah menuntun bangsa Israel berputar melalui jalan di padang gurun menuju ke Laut Teberau, meskipun ada jalan yang dekat. Karena Allah tahu, bahwa suatu saat mereka akan menghadapi jalan buntu – menoleh ke belakang, orang Mesir mengejar dan menyusul mereka; melihat ke depan Laut Teberau, yang mustahil diseberangi. Ketika mereka berseru-seru pada-Nya, Allah menyatakan kuasanya – angkatlah tongkatmu (Musa) dan ulurkanlah tanganmu ke atas laut dan belahlah airnya, sehingga orang Israel akan berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering (Kel 13:17-18; 14:15-31).

Mungkin saat ini kita juga mengalami keadaan yang sama (pergumulan begitu besar, seolah-olah berjalan di padang gurun/dihadapkan pada tembok yang begitu besar, mengalami jalan buntu). Tapi ingatlah Allah mempunyai rancangan yang begitu sempurna buat kita. Dia mendidik kita, karena kita diakuiNya sebagai anak (Ibr 12:5-8; Rm 8:14). 

Ketika Allah menyatakan kuasa-Nya, pasti kita akan sampai pada tanah kebahagian yang Allah janjikan. Maka mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan berkenan kepada Allah. Oleh pembaharuan budi kita, sehingga kita dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Rm 12:1-2 - ibadah yang sejati).

Orang Kristen yang dewasa rohaninya mampu memanifestasikan 9 buah Roh di dalam hidupnya, dia mampu menjalankan firman Allah dan mengasihi Allah secara benar sehingga mampu hidup dalam kekudusan, karena hidupnya dikontrol oleh Roh Kudus (Yoh 14:21; Ef 5:18) – menjadi kudus dengan usaha sendiri tidak bisa, harus mendapatkan rahmat Allah.

Seberapa cepat roh kita bertumbuh, tergantung pada berapa lama kita mempelajari prinsip-prinsip hikmat pengetahuan akan Allah yang terdapat dalam firmanNya, dengan melakukannya di dalam kehidupan kita.

Maka Gereja Katolik tidak pernah memberikan gelar kudus pada seseorang, waktu orang itu masih hidup. Karena sekudus-kudusnya manusia, ketika dia masih bernafas, suatu saat dia bisa jatuh ke jurang yang paling dalam dosa yang paling besar dalam kehidupannya.

Meskipun sekarang ini jaman instant, tidak ada jalan pintas kearah kedewasaan secara jasmani maupun secara rohani. Semuanya itu tergantung dari dari jenis makanan yang kita makan. 

Tubuh - makanannya terbatas; lewat mulut.

Jiwa – selama kita sadar, jiwa yang paling sering mendapat makanan, melalui mata dan telinga (pikiran, perasaan, keinginan). Sehingga kita menjadi orang jiwai, sangat egois, sehingga sulit melakukan penyangkalan diri.

Roh – makanannya hanya firman Tuhan. Pertumbuhan rohani merupakan akibat dari bertumbuh dalam rahmat Allah dan pengetahuan akan Tuhan melalui mempelajari sabdaNya. Tuhan memberi rahmat kepada kita dan kita harus menanggapi rahmat yang Tuhan mau berikan. Semua itu bisa kita lakukan, kalau relasi yang kita bangun dengan Allah adalah relasi kasih bukan relasi kebutuhan. Untuk mengasihi Allah membutuhkan waktu, cara berpikir harus diubah. Kalau tidak rohaninya akan kurang gizi dan lama-kelamaan akan mati.

Untuk menyerupai Kristus, kita perlu:
1. Rahmat dari Allah.
2. Harus mampu menanggapi rahmat itu dengan baik – harus ada kerja sama dengan rahmat.
3. Setiap kali dengar sabda Allah, kita harus belajar untuk menelaahnya (dikunyah-kunyah). 

(Sumber: Warta KPI TL No. 56/XII/2008 » Renungan KPI TL 27 November 2008 , Dra Yovita Baskoro, MM).

Badai pasti berlalu



Pada saat badai terjadi (hujan disertai angin ribut), justru induk rajawali terbang meninggalkan anak-anaknya. Tetapi dia tetap mengawasi dari kejauhan dengan sorotan matanya yang tajam. Bukan karena dia tidak sayang pada anak-anaknya, tetapi melatih anak-anaknya agar kelak mereka mempunyai kekuatan, menjadi rajawali-rajawali muda yang gagah berani dan militan dalam menghadapi badai sebesar apa pun. Selesai badai biasanya induk rajawali akan kembali sambil membawa makanan kesukaan anak-anaknya. 

Demikian juga dengan kita. Banyak badai-badai dalam kehidupan kita (ekonomi, rumah tangga, sakit penyakit dll). Tuhan mengizinkan hal itu terjadi untuk melatih iman percaya kita kepada-Nya, agar kita boleh survive di dalam segala kondisi kehidupan ini. 

Tuhan ingin melatih kita, agar kita bertumbuh menjadi prajurit-prajurit Kristus yang gagah berani dan militan. Bukan yang cengeng atau hanya tahu meminta dan meminta. 

Banyak orang kristen tidak mengalami mukjizat dalam kehidupannya karena mereka hanya duduk dengan setia di bangku gereja/persekutuan doa dan mendengarkan kotbah yang bagus-bagus, bahkan menangis ketika mendengarkan kotbah dan berdoa: “Tuhan, aku percaya. Aku sungguh percaya pada-Mu.” 

Mereka melekat di perahu keraguan/pergumulan, tidak berani melompat ke luar untuk mendapatkan Tuhan. Akhirnya mereka menyerah pada nasib/takdir (menerimanya seakan-akan itu keputusan sorga), meyakini bahwa itu sebagai kehendak Allah, tidak berniat untuk mengubahnya – iman seperti itu bukan iman kristen. 

Ingatlah iman itu menentang nasib! Berani melompat ke luar dari gelap kepada terang. Jadi Tuhan tidak bisa dinalar, Dia memerintahkan yang tidak mungkin dan membuatnya menjadi mungkin. 

Iman adalah sebuah anugerah Tuhan (1 Kor 12:9). Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibr 11:1). Jadi, mukjizat akan terjadi jika kita mendengarkan firman Tuhan, mempercayainya, dan berani melakukannya. 

Percayalah bahwa melalui kebangkitan-Nya, Yesus telah menunjukkan bahwa Dia mampu mengubah dunia, dapat mengalahkan badai/menang atas iblis, mampu mengubah pemandangan di panggung kehidupan kita. 

Simon telah bekerja sepanjang malam bekerja keras dan tidak menangkap apa-apa, tetapi Yesus tetap memerintahkan menebarkan jala juga. Mereka melakukannya, sehingga mereka menangkap sejumlah besar ikan (Luk 5:1-11). 

Perkawinan di Kana, ketika kehabisan anggur, ibu Yesus berkata: “Mereka kehabisan anggur.” Kata Yesus kepadanya: “Mau apakah engkau dari padaKu, ibu? SaatKu belum tiba.” Meskipun ditolak ibu Yesus tetap berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu.” (pesan Bunda Maria yang pertama). Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air. Mereka pun mengisinya sampai penuh – inilah iman yang luar biasa dari ibu Yesus dan pelayan-pelayan. Setelah pemimpin pesta mengecap air, yang telah menjadi anggur... (Yoh 2:1-11). 

Sebagai orang yang bergantung pada Tuhan, kita harus percaya bahwa di tengah badai itu ada kuasa sorgawi yang siap mengangkat kita, memberikan banyak pertolongan supaya kita selamat. Ketika badai datang, diperlukan iman yang teguh. 

Tuhan tidak pernah mempersoalkan badai itu berasal dari mana (karena kesalahan kita - Mzm 107:17 atau karena kehendak-Nya - 1 Ptr 4:19). Yang penting bagi Dia, ketika kita berteriak memohon pertolongan-Nya, Dia selalu mengulurkan tangan-Nya untuk membantu. 

Allah tidak menjamin selama mengarungi laut selamanya akan tenang. Janji-Nya: “Aku menyertai engkau sampai akhir zaman.” 

Marilah kita belajar dari Petrus (Mat 14:22-33; Mrk 6:45-52) 

[Mat 14:22-24] Yesus memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang... Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai. diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal 

» Banyak orang berpikir bahwa jika melakukan kehendak Allah akan bebas dari segala masalah. Tidak! Kadangkala Allah mengizinkan terjadinya suatu penderitaan karena Dia hendak menguji seberapa dalamnya iman kita kepada-Nya. 

Tetapi bukan berarti setiap penderitaan atas kehendak-Nya (Yak 1:14 – Tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya). Misalnya: masuk penjara karena korupsi. 

[Mrk 6:48] Ketika (1) Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka (2) kira-kira jam tiga malam (3) Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan (4) Ia hendak melewati mereka. 

» (1) Pada saat Yesus berada di bukit, Dia mengawasi murid-murid-Nya yang sedang berjuang menghadapi angin sakal. Allah punya penglihatan yang sangat baik, Allah peduli pada setiap pergumulan kita. 

(2) Ketika waktunya sudah tiba, Yesus datang hendak menolong mereka. Tetapi seringkali kita tidak sabar menunggu waktunya Tuhan menolong (2 Ptr 3:8 – di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari). Yesus hadir dan menyatakan kuasanya dengan berjalan di atas air. 

(3) Kejadian ini menggambarkan bahwa di tengah badai yang membuat orang ketakutan, di sana Tuhan hadir menyatakan kuasanya. 

(4) Yesus tahu di mana murid-muridnya berada, karena Dia yang menempatkan mereka di sana. Yesus membiarkan badai itu terjadi sebentar, tujuannya ialah Dia ingin melihat reaksi para murid-Nya “apakah mereka bisa bereaksi dengan tepat dan mempunyai kepercayaan aktif terhadap-Nya”. 

[Mrk 6:49] Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: “Itu hantu!”, lalu berteriak-teriak karena takut 

» Ketika Allah ingin menyatakan kasih-Nya, mereka ketakutan. Hal ini terjadi karena mereka belum memiliki relasi yang akrab dengan-Nya, padahal setiap hari mereka selalu bersama-sama dengan Yesus. 

[Mrk 6:50] Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: (5) “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” 

» Meskipun semua murid-murid-Nya mendengar perkataan Yesus (5), tetapi hanya Petrus saja yang mendengarkan-Nya (menanggapinya secara pribadi). 

Tindakan Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air ini bukan sekedar reaksi spontan saja tetapi ada juga sebuah kekuatan dari dalam dirinya (jiwanya merasa tenang ketika mendengarkan perkataan Yesus; semangatnya bangkit sehingga mampu menanggalkan kekuatirannya), karena dia percaya bahwa Yesus sanggup mengubah keadaan. 

[Mat 14:28] Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: “Tuhan, apakah Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” 

» Meskipun mengenal Yesus, Petrus tidak percaya pada sembarang roh/pengalaman supranatural. Petrus mengatakan sesuatu yang bersifat pribadi. 

Cara membedakan roh – simbol kasih Kalvari tidak ada pada roh-roh yang palsu dan mereka tidak mampu melibatkan siapa pun dari rasa bersalah/kuasa dosa (pasti tidak membawa kedamaian). 

[Mat 14:29] Kata Yesus: “Datanglah! Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. 

» Ketika mendengarkan Sang Sabda berbicara, Petrus mengerti bahwa dia ditantang untuk bangkit. Meskipun masih ada badai, Petrus mengeluarkan potensi yang dari dalam (langsung turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus). 

Ketika Petrus ke luar melompat dari perahu. Dia menggoncangkan perahu itu dan melihat Tuhan bekerja. Sikap ini membuat murid-murid yang lain terheran-heran. Petrus mengalami mukjizat karena matanya tertuju pada sumber mujizat (mendengar, percaya dan bertindak dalam ketaatan). 

[Mat 14:30] Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!” 

» Berjalan di atas air, Petrus merasa seperti berjalan di atas batu keras. Tetapi ketika dia mulai sadar, memalingkan pendengarannya/berhenti percaya, maka mujizat pun berhenti. 

Ketika hidup kita terfokus pada Tuhan, maka kita mampu melewati badai kehidupan ini. Tetapi ketika kita memalingkan sedikit saja dari Tuhan, maka seluruh permasalahan dunia akan masuk dan menguasai hidup kita … akhirnya segala kekuatiran muncul di dalam hati. 

Memiliki iman adalah sebuah keharusan, iman percaya kita kepada Allah harus lebih dari pada perasaan atau pengertian kita. Jika kita ingin melewati badai kehidupan, memohonlah karunia iman pada Tuhan. 

[Mat 14:31] Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang. 

»  Danau Galilea terletak 211 m dibawah permukaan laut; danau itu berada di tengah lembah Yordan dan dikelilingi bukit-bukit, membuatnya beroleh angin kering yang meniup turun dan badai dapat datang secara tiba-tiba. 

Angin badai di danau Galilea adalah bagian utama dari keajaiban yang dialami Petrus – harus ada angin badai, agar Petrus dapat berjalan di atas air. 

Yesus sudah memberikan otoritas untuk menghadapi badai kehidupan (Mrk 16:17-18), tetapi kadang-kadang kita kurang percaya dengan kuasa yang telah diberikan-Nya sehingga kita tidak dapat mengatasi gelombang kehidupan dan mengubah dunia. 

Marilah kita belajar dari anak kecil, meskipun dia tidak mengerti tentang definisi iman, tetapi dia telah mempraktekkannya. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 56/XII/2008 » Renungan KPI TL Tgl 16 Oktober 2008 & Warta KPI TL No. 94/II/2012 » Renungan KPI TL Tgl 26 Januari 2012, Dra Yovita Baskoro, MM).

Minggu, 04 September 2016

Prakata pendiri KPI TL

Pertama-tama saya mengucapkan selamat atas terbitnya blog "pengagumataupengikut.blogspot.com"

Saya bersyukur kepada Tuhan karena Ia telah memberikan komunitas "Kelompok Pendalaman Iman Theresia Lisieux" (KPI TL) dalam kehidupan kita sehingga kita selalu bertumbuh dalam iman dari hari ke hari.



Visi: hidup kudus dan sempurna di hadapan Tuhan.



Misi:
  1. Menjadikan Sabda Allah sebagai pedoman hidup sehari-hari.
  2. Mengambil bagian secara aktif dalam hidup menggereja.
  3. Membangun kehidupan rohani dan membuka diri untuk dibentuk Tuhan bersama keluarga.
  4. Mencintai Yesus yang ada dalam diri sesama.
Untuk mewujudkan visi misi tersebut, maka komunitas ini memperdalam iman dengan belajar Kitab Suci dan pengajaran-pengajaran Gereja, saling berbagi dan memberi kesaksian.

Selama kurun waktu 16 tahun ini banyak hal yang sudah Tuhan lakukan buat komunitas kecil ini. Masing-masing anggota terjadi persahabatan dengan tidak menyembunyikan kegembiraan dan penderitaan mereka, tetapi membiarkannya terbuka bagi sesama dalam sikap berpengharapan.

Terbitnya blog "pengagumataupengikut.blogspot.com" ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Dan secara khusus saya menghaturkan banyak terima kasih kepada Ibu Suliani untuk segala jerih payahnya, karena tanpa dia blog "pengagumataupengikut.blogspot.com" tidak akan pernah terbit. Semoga Tuhan membalas segala kebaikanmu.


Ucapan terima kasih juga secara khusus saya sampaikan kepada Pater Gregorius Kaha, SVD (moderator KPI TL ketika beliau masih bertugas pastoral di Gereja Roh Kudus) dan Pater Stefanus I Kadek Adi Subratha, SVD sebagai moderator pembimbing bagi komunitas kecil kami yang senantiasa memberikan dukungannya, kami berdoa semoga Tuhan membalas segala kebaikan Pater.



Semoga blog "pengagumataupengikut.blogspot.com" ini dapat memberikan sumbangan pemikiran sebagai bacaan pengembangan iman.



Salam, 
Yovita Baskoro

Sakramentali



Sakramentalia adalah kegiatan atau barang, yang berkaitan dengan sakramen (mirip, menunjang, menyiapkan, atau melanjutkan sakramen), yang digunakan Gereja untuk memohon hal-hal khusus yang bermanfaat untuk kehidupan jemaat.

Ada tiga jenis Sakramentalia: Upacara Pemberkatan (benedictio, misalnya: rumah, sawah ladang, anak dll.); Pengikhraran Kaul-Kaul (consecratio); Pengusiran Setan (exorcitio).

(Sumber: Warta KPI TL No. 54/X/2008 » Puji Syukur )


Umat Katolik sering memintakan berkat imam atas benda-benda religius, seperti rosario, salib/crucifix, Kitab Suci, ataupun benda-benda lainnya, bahkan rumah dan tempat usaha.

Ini termasuk golongan sakramentali, yang merupakan tanda suci yang diberikan untuk memohonkan hasil/akibat yang baik terutama secara rohani, yang diperoleh berkat permohonan Gereja.

Berikut ini adalah ketentuan dari Kitab Hukum Kanonik dan Katekismus Gereja Katolik tentang sakramentali:

Sakramentali ialah tanda suci yang dengan cara yang mirip sakramen menandakan hasil-hasil, terlebih yang rohani, yang diperoleh berkat doa permohonan Gereja (KHK 1166).

Pelayan sakramentali ialah klerikus yang dibekali dengan kuasa yang perlu untuk itu; beberapa sakramentali sesuai norma buku-buku liturgi, menurut penilaian Ordinaris wilayah, dapat juga dilayani oleh orang awam yang memiliki kualitas yang sesuai (KHK 1168).

“Selain itu Bunda Gereja kudus telah mengadakan sakramentali, yakni tanda-tanda suci, yang memiliki kemiripan dengan Sakramen-sakramen. Sakramentali itu menandakan karunia-karunia, terutama yang bersifat rohani, dan yang diperoleh berkat doa permohonan Gereja.

Melalui sakramentali hati manusia disiapkan untuk menerima buah utama Sakramen-sakramen, dan pelbagai situasi hidup disucikan” (SC 60, Bdk. KHK, can. 1166; CCEO, can. 867.) (KGK 1667).

Gereja mengadakan sakramentali untuk menguduskan jabatan-jabatan gerejani tertentu, status hidup tertentu, aneka ragam keadaan hidup Kristen serta penggunaan benda-benda yang bermanfaat bagi manusia.

Sesuai dengan keputusan pastoral para Uskup, mereka juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kebudayaan serta sejarah khusus umat Kristen suatu wilayah atau zaman.

Mereka selalu mempunyai doa yang sering diiringi dengan tanda tertentu, misalnya penumpangan tangan, tanda salib, atau pemercikan dengan air berkat, yang mengingatkan kepada Pembaptisan (KGK 1668).

Sakramentali termasuk wewenang imamat semua orang yang dibaptis: setiap orang yang dibaptis dipanggil untuk menjadi “berkat” (Bdk. Kej 12:2) dan untuk memberkati (Bdk. Luk 6:28; Rm 12:14; 1Ptr 3:9).

Karena itu, kaum awam dapat melayani pemberkatan-pemberkatan tertentu (Bdk. SC 79; KHK, can. 1168). Semakin satu pemberkatan menyangkut kehidupan Gereja dan sakramental, semakin pelaksanaannya dikhususkan untuk jabatan tertahbis (Uskup, imam, dan diaken) (Bdk. Ben 16; 18) (KGK 1669).

Sakramentali tidak memberi rahmat Roh Kudus seperti dibuat Sakramen, tetapi hanya mempersiapkan oleh doa Gereja, supaya menerima rahmat dan bekerja sama dengannya. 

“Dengan demikian berkat liturgi Sakramen-sakramen dan sakramentali bagi kaum beriman yang hatinya sungguh siap hampir setiap peristiwa hidup dikuduskan dengan rahmat ilahi yang mengalir dari Misteri Paska sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus. Dari misteri itulah semua Sakramen dan sakramentali menerima daya kekuatannya. 

Dan bila manusia menggunakan benda-benda dengan pantas, boleh dikatakan tidak ada satu pun yang tak dapat dimanfaatkan untuk menguduskan manusia dan memuliakan Allah” (SC 61) (KHK 1670).

(Sumber: Sakramentali, katolisitas.org).

Kamis, 01 September 2016

Prakata ketua KPI TL

Syalom


Sungguh suatu anugerah bagi kita bahwa ada wadah baru di mana kita dapat semakin tahu dan semakin mengenal Alkitab serta ajaran-ajaran Gereja Katolik sehingga kita dapat mencari jawab atas pertanyaan-pertanyaan kita seputar iman.



Saya begitu bahagia menyaksikan saudara kita Suliani, yang setelah mengalami perjumpaan pribadi dengan Allah Bapa, beliau mengalami pertumbuhan iman yang dahsyat. Dari pribadi sederhana, yang merasa bukan siapa-siapa kini beliau begitu menggebu-gebu untuk menjangkau setiap orang agar mengalami kebaikan dan penyertaan Allah Bapa dalam setiap langkah kehidupan.

Sebagai pengikut Kristus yang sejati, kita harus terus berjuang untuk bertumbuh dalam iman. Mari kita manfaatkan blog "pengagumataupengikut.blogspot.com" ini sebaik-baiknya sehingga wadah ini bisa menjadi berkat bagi kita dan kita pun bisa menjadi berkat bagi sesama sesuai dengan panggilah hidup kita.

Salam,
Laksmi