Selasa, 04 Oktober 2016

00.39 -

Doa dan pengampunan

Suatu hari istri saya menerima telpon dari anak perempuan saya yang ada di Jakarta, katanya: “Mami, Raquel barusan mengalami kecelakaan. Dia luka serius di leher, kena rantai pada waktu main ayunan. Tolong doakan. Kalau bisa segera ke sini.” Istri saya langsung mengajak saya segera berangkat ke Jakarta. 


Pada waktu itu saya sudah bertobat. Jadi, ketika diajak segera berangkat ke Jakarta saya tidak mau. Lalu saya segera berdoa, berlutut dan menangis dihadapan Tuhan: “Tuhan, ketika pagi aku serahkan semua keluargaku ke dalam tangan-Mu. Di waktu pagi aku percayakan semua kepada-Mu. Kalau ini boleh terjadi, Engkau tahu peristiwa ini. Dan hal ini Engkau izinkan terjadi. Aku tahu Tuhan, bagiku ini sesuatu yang berat, cucuku menderita. Tapi aku tahu Engkau ada di situ dan Engkau pasti akan menyelamatkannya. Amin.”


Anak saya telpon lagi: “Mami, ini serius sekali!” Tak ketinggalan juga dokter jaga ikut menelpon saya, katanya: “Pak Lauren, boleh nggak kami mengambil tindakan untuk melakukan sesuatu?” Jawab saya: “Jangan dulu!”

Saya berdoa lagi: “Tuhan, tunjukkan pada saya, apa yang harus saya lakukan. Dan berikan kepada kami mata iman.”

Anak saya telpon lagi: “Papi, Mami bisa datang segera apa tidak?”

Mendengar itu istri saya mengajak segera berangkat, tetapi saya tetap tidak mau. Kami segera berdoa, berlutut dan menangis dihadapan Tuhan: “Tuhan, aku nggak tahu apa yang Engkau rencanakan bagiku. Tetapi aku tahu rancangan-Mu baik bagiku. Engkau nggak pernah bohong, Engkau tidak pernah kecewakan orang yang berdoa kepada-Mu. Berilah tanda padaku, bagaimana aku harus bertindak. Engkau Tuhan yang memberi, Engkau pula yang berhak untuk mengambil. Kalau itu memang kehendak-Mu. Tapi Engkau tidak pernah mengecewakan kami. Amin.”

Anak saya telpon lagi: “Papi, ini gimana papi, ini keadaan sudah gawat, serius papi. Papi bagaimana?” Dokter syarafnyapun ikut menelpon saya, katanya: “Dr Lauren, saya mau minta izin, pendarahannya cukup luas, berbahaya kalau dibiarkan.” Jawab saya: “Tunggu, nanti akan kuberitahu.” 

Saya berdoa lagi: “Tuhan, aku nggak tahu lagi. Aku mau serahkan masalah ini sepenuhnya kepadaMu. Amin”

Dokter specialis anakpun menelpon saya, katanya: “Pak Lauren, operasi saja. Pak Lauren kan tahu itu berbahaya.” Jawab saya: “Tunggu dulu.”

Keesokan harinya kami berangkat ke Jakarta. Pada saat berangkat, kondisi kesehatan kami tidak bagus, karena sepanjang malam kami berdoa. 

Setelah sampai di rumah sakit, saya melihat penderitaan cucu saya yang luar biasa, matanya ke luar, tulang mata dan pelipis masuk ke dalam. Meskipun sudah diberi obat pemati rasa, cucu saya masih merintih kesakitan.

Di rumah sakit anak saya bercerita: “Kemarin saya mengantar Raquel ke sekolah lebih awal dari biasanya. Sebelum dia naik ke atas ayunan besar (dapat untuk empat orang), dia didorong oleh temannya, sehingga besi ayunan yang besar itu menghantamnya. 

Pada saat jatuh, dia menangis. Setelah berhenti menangis, gurunya membawanya ke kelas untuk mengikuti pelajaran agama selama satu jam. 

Di dalam kelas, gurunya bingung ketika melihat Raquel mukanya pucat dan dia hanya menundukkan kepala saja. Lalu guru Raquel bertanya “Kenapa Raquel?” Jawabnya “Pusing” Setelah di CT Scan, ternyata ada pendarahan di kepala, tulang sekitar mata kanan hancur 5 keping; tulang sekitar mata kiri hancur 2 keping.” 

Hari ke dua kami berdoa semalam suntuk lagi: “Tuhan beri kami pertanda. Apakah cucu saya boleh operasi apa nggak. Amin”

Hari ketiga di CT Scan lagi, pendarahan semakin meluas. Dr bedahnya berkata: “Pak Lauren, kalau ini anda tidak izinkan. Saya nggak mau tanggung jawab untuk ini. Pada saat operasipun saya tidak mau tanggung jawab. Karena ini sudah sangat riskan, resikonya tinggi.” Jawab saya: “Tunggu dulu aku belum beri izin.”

Meskipun para dokter berkata bahwa kondisi tambah jelek dan jika sembuhpun anak ini akan bodoh atau cacat, tetapi kami berdua diberi Tuhan satu mata iman, melihat bahwa kondisi anak ini bertambah bagus.

Hari ke 4 saya pulang ke Surabaya karena pelayanan saya banyak. Saya berdoa lagi: “Tuhan, aku tidak bisa melakukan sesuatu di sini yang lebih baik dari Engkau. Aku serahkan sepenuhnya cucuku ke dalam tangan-Mu. Bukan dokter yang menyembuhkannya, tetapi Engkaulah, Tuhan Yesus. Aku percaya. Amin”

Hari ke 6 pagi, istri saya telpon: “Pi, pulang beberapa hari lagi ya?.” Jawab saya: “Tidak! Kamu juga punya tanggung jawab kerjaanmu. Kamu tetap pulang. Kalau kita mau pasrah sepenuhnya kepada-Nya, jangan digondeli (ditahan, tidak boleh pulang). Bukankah firman Tuhan katakan “Semua dapat kutanggung dalam Dia yang memberi kekuatan padaku.” Akhirnya, sore hari ke 6 istri saya pulang. 

Pada hari ke 6, ternyata cucu saya boleh pulang tanpa operasi. Semuanya heran, termasuk dokter-dokternya karena hal itu tidak masuk diakal.

Dua minggu kemudian, Raquel ikut lomba gambar, dia memperoleh runner up. Bahkan IQ nya ditest, ternyata 140. 

Pada saat anak saya mau melakukan MRI lagi, saya menegurnya: “Sekali Tuhan bekerja/menyembuhkan, jangan macam-macam! Jangan MRI lagi untuk melihat sembuh atau tidak. Percayalah, Tuhan telah menyembuhkannya secara tuntas.” Sekarang sudah lewat lima tahun, tidak ada satu lukapun yang Tuhan izinkan.

Dari peristiwa ini saya mengerti bahwa Tuhan punya rencana yang indah dalam keluarga saya. Dari peristiwa ini menantu saya bertobat, dia benar-benar datang kepada Tuhan melalui Bunda Maria sehingga terjadi mujizat kesembuhan pada anaknya. 

Padahal berpuluh-puluh tahun dia menjadi orang Katolik, dia tidak bisa berdoa rosario. Dalam hal ini saya tidak berani memutuskan dengan kekuatan sendiri, karena jika terjadi apa-apa pada cucu saya yang baru berusia lima tahun (meninggal di meja operasi/terjadi kelumpuhan), pasti anak saya akan mempersalahkan saya atau saya dituntut oleh hati nurani saya. 

Jadi, saya benar-benar percaya dan mempercayakan peristiwa ini pada satu oknum yang sangat bisa dipercaya, yaitu: Tuhan Yesus.

Selalu ada satu hari yang baik yang Tuhan berikan kepada kita, sekalipun saat ini kita dalam penderitaan. Bonum Future ardum posibile (Thomas Aquino; Bdk Yak 1:2-4)

Dalam keadaan biasa, kita bisa berdoa dengan baik. Tetapi ketika badai sungguh-sungguh menerjang ... seringkali kita merasa seolah-olah doa-doa kita tidak didengarkan oleh Tuhan. Sehingga kita mengalami kebingungan, frustasi, stres, kehilangan arah. Dan akhirnya kita kepahitan. Jika kepahitan ini tidak kita kuasai, berarti kita telah membuka celah sehingga Iblis bisa masuk.

Jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu. Jadi, engkau harus berkuasa atasnya (Kej 4:4-7)

Ketika doa kita seolah-olah tidak dijawab oleh Tuhan, kita harus memegang dua prinsip di bawah ini

1. Rancangan Tuhan bukan rancangan kecelakaan tapi rancangan damai sejahtera untuk memberikan hari depan yang penuh harapan (Yer 29:11).

2. Kita tidak pernah mengerti rancangan Tuhan, karena otak kita tidak cukup untuk mengerti rancangan-Nya yang setinggi langit (Yes 55:8-9).

Agar doa kita didengarkan oleh Tuhan, kita harus:

1. Doa dengan penuh iman.

Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang. Orang yang demikian tidak akan menerima sesuatu dari Tuhan (Yak 1:67).

Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya (Yak 5:16).

2. Doa seturut kehendak Allah.

Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu (Yak 4:15). 

3. Mengadakan pemberesan dengan Tuhan.

Yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu ialah segala dosamu (Yes 59:1-2).

4. Mengadakan pemberesan dengan sesama.

Jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan teringat akan sesuatu yang ada di dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu (Mat 5:23-24).

Jika kamu berdoa, ampunilah sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu (Mrk 11:25).

Marilah kita belajar dari Hana (1 Sam 1:1-20)

Elkana mempunyai dua istri: yang bernama Penina (artinya mutiara) mempunyai anak dan Hana (artinya cantik) tidak mempunyai anak 

» Pada saat itu, merupakan aib besar jika seseorang tidak bisa melahirkan anak, dia akan dipermalukan, dikucilkan dan menjadi pergunjingan orang-orang (penderitaan Hana yang pertama). Bagi laki-laki yang mempunyai istri lebih dari satu, awalnya enak, ujung-ujungnya bermasalah. 

Dari tahun ke tahun Elkana pergi meninggalkan kotanya untuk sujud menyembah dan mempersembahkan korban kepada Tuhan di Silo. 

Pada hari Elkana mempersembahkan korban, diberikannyalah kepada Penina, istrinya, dan kepada semua anaknya yang laki-laki dan perempuan masing-masing sebagian. 

Meskipun ia mengasihi Hana, ia memberikan kepada Hana hanya satu bagian (a double portion = dua bagian) sebab Tuhan telah menutup kandungannya 

» Kadangkala terjemahan Alkitab dalam bahasa Indonesia kurang tepat karena keterbatasan kosa kata, sehingga menimbulkan salah pengertian bagi pembacanya; terjemahan Alkitab bahasa Inggris lebih mendekati tepat bahasa aslinya.

Madunya selalu menyakiti hati Hana supaya ia gusar... Demikianlah terjadi dari tahun ke tahun; setiap kali Hana ke rumah Tuhan, Penina menyakiti hati Hana, sehingga ia menangis dan tidak mau makan 

» Meskipun Hana disakiti hatinya (penderitaan yang kedua), dia tidak pernah marah. 

Pada suatu kali, setelah mereka habis makan dan minum di Silo, berdirilah Hana dan dengan hati pedih ia berdoa kepada Tuhan sambil menangis tersedu-sedu 

» Bertahun-tahun doanya tidak didengarkan Tuhan (penderitaan yang ketiga).

Hana berkata-kata dalam hatinya dan hanya bibirnya saja bergerak-gerak, tetapi suaranya tidak kedengaran (mencurahkan isi hatinya di hadapan Tuhan) Lalu keluarlah perempuan itu, ia mau makan dan mukanya tidak muram lagi 

» Hana berdoa dengan iman. Karena dia mengerti bahwa ada satu oknum yang sangat mengasihi dia, yaitu: Tuhan.

Ketika Hana berdoa, imam Eli sering mencemohohkannya, namun ketika Hana ke luar dari bait suci Tuhan, Eli berkata: “Pergilah dengan selamat, dan Allah Israel akan memberikanmu apa yang engkau minta dari pada-Nya.” 

» Hana mendapatkan doa berkat dari imam Eli. Meskipun imam Eli bukan seorang yang baik, doa berkat itu tetap terjadi. 

Demikian pula dengan kita, doa berkat yang diberikan oleh seorang imam pada saat hendak pulang Misa, sangat besar kuasanya. Jadi, berkat itu tidak tergantung pada imam, karena berkat itu berasal dari Tuhan. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 67/XI/2009 » Renungan KPI TL tgl 3 September 2009, dr Laurensius Suladi)

Senin, 03 Oktober 2016

23.49 -

Sikap yang benar di hadapan Allah

Banyak orang yang menerima visi/janji Tuhan, menunggu dan menunggu, tidak kunjung tiba sehingga pernyataan Allah di dalam hidupnya makin lama makin redup dan makin tidak jelas, akhirnya pengharapannya hampir mati dan dia mengundurkan diri. 

Hal ini terjadi karena pengaruh dunia yang begitu besar sehingga dia sulit untuk dapat mengerti kasih Allah. Karena cara berpikir Allah berbeda dengan cara berpikir kita. Ingatlah bahwa Allah selalu menyertai kita (Imanuel – Mat 1:23), Dia selalu hadir dalam setiap peristiwa kita. 


Dia rindu kita mengenal-Nya secara pribadi dan membalas seluruh kasih-Nya. Dia juga rindu kita percaya dan mempercayakan seluruh hidup kita kepada-Nya. Memang hal ini tidak gampang karena akal budi kita tidak dapat menerimanya.

Jika hari ini kita bisa berbuat baik, janganlah mengeluarkan penghakiman terhadap orang lain, baik di dalam hati maupun melalui mulut. Karena Tuhanlah yang memampukan kita. Besokpun, mungkin kita dapat jatuh pada hal yang sama (Bdk. Ayb 1:10). 

Seperti seorang anak kecil yang belajar berjalan. Kadang Tuhan memegang tangan kita, kadang Dia membiarkan kita jatuh, asal tidak berbahaya. Dia memberikan kita kehendak bebas, agar kita dewasa di dalamNya. 

Marilah kita belajar dari Yairus (Mrk 5:21-23) dan Maria (Yoh 11:1-44)

Ketika Yairus (kepala rumah ibadat) melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan memohon dengan sangat kepada-Nya: “Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup.” Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. 

Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya. Di situ ada seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya pendarahan. Katanya: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh. Seketika itu juga sembuhlah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya.

Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: “Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?” 

Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: “Jangan takut, percaya saja!”... Dia masuk ke kamar anak itu. Lalu dipegangnya tangan anak itu, kata-Nya: “Talita kum,” yang artinya: “Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!” Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan ... makan. 

» Kadangkala kita sulit untuk mengerti cara kerja Tuhan. Yang dalam keadaan kritis Dia tunda, sedangkan yang bisa ditunda justru diprioritaskan. 

Jika kita berpikir dengan cara berpikir manusia, maka kita akan kecewa karena menganggap Allah tidak adil. Tuhan menunda datang ke rumah Yairus karena Dia mau melakukan sesuatu agar orang bisa percaya kepada-Nya.

Karena iman, taat ketika dipanggil; menanti-nantikan yang direncanakan oleh Allah; beroleh kekuatan dan menganggap Dia yang memberikan janji itu setia (Ibr 11:8-11)

Yesus sangat mengasihi Maria, Marta dan Lazarus. Namun setelah didengarnya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi. Ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur.

Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah. 

» Maria mengalami sesuatu akan Tuhannya (Yoh 11:2) dan dia juga mengerti segala sesuatu ada waktunya (Pkh 3). Jadi dia menunggu dipanggil. Jika seseorang dekat dengan Tuhannya, pasti dia mempunyai penguasan diri yang baik.

Marta pergi memanggil saudaranya Maria dan berbisik kepadanya: “Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau.” Mendengar itu Maria segera bangkit lalu pergi mendapatkan Yesus 

» ini adalah sikap yang sangat bijaksana.

Sikap hati berbeda, membuat reaksi Allah juga berbeda

* Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Kata Marta kepada Yesus: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.”

Kata Yesus kepada Marta: “Saudaramu akan bangkit.” Kata Marta kepada-Nya: “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.” 

Jawab Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?” 

Jawab Marta: “Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia. 

» Marta datang ke Yesus langsung mengungkapkan isi hatinya. Proses cepat ini hanya menghasilkan dialog, Tuhan belum melakukan apa-apa.

* Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.”

Ketika Yesus melihat Maria menangis, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata: “Di manakah dia kamu baringkan?” Jawab mereka: “Tuhan, mari dan lihatlah! Maka menangislah Yesus ... berserulah Ia dengan suara keras: “Lazarus, marilah keluar!” Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: “Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi.” 

» Maria adalah orang yang dapat menempatkan dirinya (tersungkur di bawah kaki-Nya) baru mengungkapkan isi hatinya. Proses yang kelihatan lambat ini, membuahkan hasil yang lebih cepat. Sikap yang ditunjukkan dengan kerendahan hati itulah yang membuat Yesus menangis dan Dia bertindak.

Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah (Yoh 11:40)

(Sumber: Warta KPI TL No. 67/XI/2009 » Renungan KPI TL tgl 8 Oktober 2009, Dra Yovita Baskoro, MM).


Hidup secara otentik

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. 

Beranikah kita hidup secara otentik, menampilkan diri dan hidup kita apa adanya? Beranikah kita menjadi diri sendiri seperti yang Tuhan inginkan, bukan menjadi seperti orang lain katakan atau inginkan? Suatu tantangan!


Proses menjadi dan tampil secara otentik membutuhkan keberanian untuk menanggung resiko ditinggalkan, ditolak, diolok-olok dan menjadi bahan gosip.



Hidup secara otentik hanya mungkin terjadi di dalam semangat kerendahan hati dan kesederhanaan hidup.

(Sumber: Warta KPI TL No. 67/XI/2009 » I Like It: Dunia Lain, Edi Prasetyo CM).

Indahnya hidup berkomunitas

Ketika mengantar keponakan saya ke dokter kandungan, saya pun ingin pap smear Karena tahun ini saya terlambat untuk periksa pap smear.


Beberapa hari kemudian, saya ditelp dokternya, katanya: “Ibu, apakah ibu bisa datang ke sini hari ini? Karena hasilnya kurang bagus.” 

Pulang dari kantor saya langsung ke dokter tersebut. Tanpa persiapan apa-apa, di sana saya langsung dibiopsi (diambil dagingnya sedikit untuk diperiksakan ke Lab).

Beberapa hari kemudian, saya ditelpon kembali oleh dokter tersebut, katanya: “Ibu, apakah ibu bisa datang ke sini hari ini? Karena hasil biopsinya kurang bagus.” Saya pulang ke rumah dan dokter tersebut telpon lagi, katanya: “Persiapkan saja puasa, ketemu saya di Rumah Sakit Darmo.”

Saya datang jam sembilan dalam keadaan puasa, diterangkan hasilnya, ternyata hasil biopsinya jelek dan harus dilakukan operasi kecil di leher rahim.

Hasil dari conisasi dokter berkata: “Kandungan ibu diangkat saja karena di salah satu sisi ada sedikit sel yang jelek, lebih baik seluruh kandungan diangkat saja.”

Dari hasil Lab tersebut, saya konsultasi ke dokter yang lainnya. Hasilnya ... empat dokter mengharuskan saya operasi dan hanya satu dokter yang mengejutkan saya, karena dia mengatakan hasilnya jelek dan dia menyarankan untuk dikemo saja Saya begitu stres menghadapi masalah demi masalah ini. Rasanya kok nggak ada selesai-selesainya. 

Saya menyimpan pergumulan ini. Yang tahu penyakit saya hanya suami, anak-anak dan satu kakak perempuan saya. Suami dan anak-anak saya protes: “Kenapa mami, kok kami nggak boleh bilang pada saudara-saudara dan teman-teman?” Tetapi jawab saya: “Tidak! Saya percaya pada lima dokter! Dan kita berdoa sendiri saja.”

Pada suatu hari, saat pulang dari persekutuan, di dalam mobil Titiek bercerita bahwa teman anaknya, Raymond sudah tiga hari tidak pulang rumah. Dan pada saat Titiek turun dari mobil dia berkata: “San, tolong doakan Raymond ya?” Jawab saya: “Tik, kamu ini temen anakmu tiga hari nggak pulang aja kok semua orang dititipi doa.” 

Meskipun Tuhan sudah menyadarkan saya, bahwa dukungan doa sangat penting, tetapi saya masih menegarkan hati untuk tidak menceritakan pergumulan saya pada orang lain.

Pada saat persekutuan minggu berikutnya, saya berbisik pada Titiek: “Tik, aku ini punya masalah ... tolong bawakan ke doa syafaat. Tapi jangan beritahu siapapun. Hanya kamu saja yang tahu pergumulanku.” Jawab Titiek: “Nggak bisa San, harus menyebut namamu!” Tanya saya lagi: “Yo wes, kalau gitu aku akan datang ke doa syafaat.” 

Akhirnya saya datang ke doa syafaat. Di sana saya dapat mensyaringkan pergumulan saya dengan bebas. Di sana saya mendapatkan suatu kelegaan yang luar biasa. 

Pada waktu didoakan Bapa Kami, saya merasakan kesemutan dari kepala sampai ujung kaki saya, badan saya kaku, saya sangat takut pingsan dan saya berusaha melemaskan badan ... akhirnya tangis sayapun meledak.

Di rumah saya menceritakan pada suami dan anak-anak saya bahwa saya telah berani menceritakan pergumulan saya di doa syafaat. Mendengar hal itu mereka sangat senang dan merekapun berani menceritakan pada semua saudara dan teman-temannya.

Sungguh luar biasa ... setiap hari telpon dan sms terus berbunyi memberi dukungan doa. Ada juga teman-teman yang datang ke rumah menceritakan penyakitnya yang lebih berat, dan ternyata sampai sekarang mereka sehat walafiat tanpa kekurangan suatu apa pun. Itulah yang memberi kekuatan pada saya.

Sebelum menjalani operasi, teman-teman di doa syafaat datang memberi dukungan saya. Saya masuk kamar operasi mulai jam dua siang dan pemulihan sampai jam delapan lebih seper-empat malam. Pada saat mulai operasi, saya bersikeras memegang rosario, meskipun dokter melarangnya. 

Seminggu di rumah sakit, saya masih mengalami kekuatiran dengan penyakit saya. Jadi saya hanya berdoa “Bapa Kami” sejumlah usia saya, sesuai dengan pengajaran yang pernah saya dapat dari Ibu Yovita.

Seminggu kemudian, pada waktu menyerahkan hasil operasi, saya berkata: “Dokter, jangan cerita hasilnya, baik atau buruk. Saya nggak mau dengar dulu hasilnya, saya nggak kuat. Ceritakanlah pada suami saya saja.” Pada saat dokternya membaca hasil lab, saya nggak berani melihat ekspresi mukanya, saya hanya berdoa “Bapa Kami”.

Akhirnya dokter tersebut berkata: “Puji Tuhan Susan, hasilnya baik. Tidak ada sedikitpun sel yang ada di kiri dan kanan kandunganmu. Semuanya sudah bersih.” Semakin hari saya merasakan semakin kuat badan saya.

Di sinilah saya merasakan kekuatan doa dan perbedaan dalam kehidupan saya. Dulu, ketika saya menyimpan pergumulan saya sendiri, saya merasa stres berat. 

Tetapi setelah saya berani terbuka pada komunitas saya, saya mendapatkan kekuatan dalam menghadapi pergumulan saya. Karena saya mendapat dukungan doa, saran-saran dan lain-lainnya. 

Sekarang saya bersyukur, karena Tuhan telah memberi roh keberanian, sehingga saya berani terbuka terhadap pergumulan. 

Inilah indahnya hidup berkomunitas, jika ada yang mengalami pergumulan, sesama anggota komunitas ikut mencarikan solusinya dengan kekuatan Allah secara bersama-sama.

(Sumber: Warta KPI TL No. 66/X/2009).






Boleh enak, jangan seenaknya

Hidup ini enak. Betapa tidak, semua disediakan oleh Tuhan. Pekerjaan kita hanyalah mencari dan menemukan yang kita butuhkan. Kalau seseorang tidak mendapatkannya, salah satu faktornya ialah tidak tahu atau tidak mau.

Betapa banyak orang – dengan pelbagai alasan – membenarkan sikap malas, sikap tidak disiplin, tidak mau kerja keras. Mereka itu kerja tak teratur, makan tak teratur, tidur tak teratur. Mereka ingin merasakan enaknya hidup ini dengan enak-enak. Ternyata dengan selalu enak-enak, hidup kita justru tidak enak. 


Hidup ini laksana roda yang berputar. Kadang di bawah, ada kalanya di atas. Yang mau enak-enak dan santai sekarang, kelak atau suatu saat pasti akan susah alias tidak enak. 

Yang mau susah sekarang, kelak bakal senang. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

Untuk mempersiapkan masa depan, kita tidak perlu tegang. Hidup ini bisa dijalani dengan sersan (serius tapi santai). Bekerjalah dengan enak, tapi jangan seenaknya. Yang seenaknya, bakal tak enak. Pokoknya, kalau mau enak jangan enak-enak apalagi seenaknya. Enak aja! Keenakan.

(Sumber: Warta KPI TL No. 66/X/2009 » Mutiara Kehidupan, Albertus Herwanta, O. Carm).

21.39 -

Sikap hati yang benar dalam doa

Seringkali dalam doa kita mengimani dan mengklaim apa yang kita inginkan (kanak-kanak rohani - tingkat kebijaksanaannya belum cukup). Pada saat masa ini Bapa memberikan segala keinginan kita, asal tidak membahayakan kehidupan kita. 


Tetapi ketika sudah dewasa rohaninya, kita diajar bukan saja sekedar percaya tetapi berani mempercayakan seluruh jalan hidup kepada Allah. 



Ingatlah! Allah selalu peduli dengan kebutuhan anak-anak-Nya, meskipun kita tidak mengucapkannya; selera-Nya jauh lebih baik dan jauh lebih tinggi dari pada selera kita. 



Ada orang yang salah mengerti hal ini, sehingga dia berkata: “Kalau gitu saya tidak perlu berdoa, Tuhan kan Maha Tahu. Jadi mbatin saja sudah cukup.” 

Kita semua pernah mengalami penolakan Tuhan terhadap apa yang kita minta, karena Tuhan merindukan kita selalu hadir di hadirat-Nya sehingga kita tahu rancangan yang terbaik buat kita. 

Kedewasaan rohani tidak dapat dilihat dari umur. Jadi, iman dan doa bukan sarana untuk mengatur Tuhan. 

Doa merupakan penyerah diri kita secara mutlak kepada Tuhan, dan tidak lagi menangani masalah dengan kekuatan dan upaya kita sendiri.

Doa mempunyai perbatasan. Memang, melalui penebusan Yesus, kita bisa langsung ke takhta Allah. Tetapi melalui penebusan itu, kita tidak diberi kuasa untuk mendikte Tuhan. Tetapi seringkali anak-anak Tuhan beranggapan bahwa doa sebagai sarana untuk mengklaim Tuhan, seolah-olah kehendaknya sedemikian hebat sehingga Tuhan harus tunduk pada kehendak kita. Ingatlah, Dia Pencipta, kita hanyalah ciptaan-Nya. 

Akibat dari sikap hati yang salah ini, seringkali kita mengalami kekecewaan, selalu merasa kuatir dan stres sehingga tidak ada sukacita pada saat mengalami penderitaan dalam menghadapi gelombang kehidupan ini.

Sehingga mereka berkata: “Untuk apa kita percaya pada Allah” dan “Untuk apa kita berdoa.” - akal sehat kita belum bisa menangkapnya.

Doa menghantar kita pada batas sejauh yang dapat kita tempuh. Kalau kita mempercayakan diri pada Tuhan sehingga kedaulatan-Nya tidak kita abaikan, maka Tuhan yang memilik-i seluruh kebijaksanaan akan menjawab semua yang kita inginkan sesuai dengan kebijaksanaan-Nya di dalam hidup kita.

Setiap orang percaya tidak akan pernah merasa kecewa pada Tuhan, jika mereka mengetahui makna sebenarnya dari doa:

Memberikan pengharapan bahwa sesuatu yang terbaik akan datang ~ berani memandang kehidupan ini dari sudut pandang Allah bukan dari sudut pandang manusia. Jadi mampu menyiapkan hati atas segala kemungkinan yang terburuk tanpa hancur terpuruk di dalamnya.

Pengakuan bahwa pemilihan terbaik tetap pada Tuhan, sebab putusan apapun yang diambil oleh Sang Pencipta tidak akan pernah membuat kita kecewa, melainkan kita selalu akan bersyukur kepada-Nya.

Maka sangat penting mengetahui kebenaran firman Tuhan di bawah ini, agar kita mengerti rancangan Tuhan buat kita.

Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan (Yer 29:11).

Betapa besarnya pekerjaan-Mu, ya Tuhan, dan sangat dalamnya rancangan-rancangan-Mu. Orang bodoh tidak dapat mengetahui, dan orang bebal tidak akan mengerti hal itu (Mzm 92:6-7).

Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu (Yes 55:8-9).

Sikap hati yang benar di dalam doa adalah faktor yang amat penting di dalam pertumbuhan rohani kita.

Marilah kita belajar berdoa secara Alkitabiah

Ketika Allah hendak menghancurkan kota Sodom karena sangat berat dosanya, Allah tidak menyembunyikan hal itu pada sahabat-Nya (Yak 2:23).

Abraham datang mendekat dan berkata: “Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik? Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah Engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidakkah Engkau mengampuninya karena kelima puluh orang benar yang ada di dalamnya. ... Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?” Tuhan berfirman: “Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka.” 

Abraham menyahut: “Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan, walaupun aku debu dan abu. Sekiranya kurang lima orang dari kelima puluh orang benar itu, apakah Engkau akan memusnahkan seluruh kota itu karena yang lima itu?” Firman-Nya: “Aku tidak memusnahkannya, jika kudapati empat puluh lima di sana.”

Kata Abraham: “Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati di sana?” Firman-Nya: “Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu.”

» Abraham begitu gigih dalam doa syafaatnya. Tetapi dia sadar bahwa tidak bisa bergerak terus untuk memaksakan kehendaknya sendiri. Karena dia begitu mengasihi dan menghormati Tuhan, dia tahu hati dan perasaan sahabat-Nya, lebih-lebih dia mengerti kedaulatan Tuhan (disebut beriman). Allah tahu sikap hati Abraham. Maka, kerinduan yang tak terucapkan itu dipedulikan oleh sahabat-Nya dengan cara: mengutus malaikat-malaikat-Nya untuk menyelamatkan keluarga Lot, keponakannya (Kej 18:16 - 19:29).

Pada waktu petang, ketika Daud bangun dari pembaringannya, lalu berjalan-jalan di atas sotoh istana, tampak kepadanya dari atas sontoh itu seorang perempuan sedang mandi; perempuan itu sangat elok rupanya.

Lalu Daud menyuruh orang mengambil dia. Perempuan itu datang kepadanya, lalu Daud tidur dengan dia. Lalu mengandunglah perempuan itu.

Berkatalah Natan kepada Daud: “... mengapa engkau menghina Tuhan dengan melakukan apa yang jahat di mata-Nya? Uria, orang Het itu, kaubiarkan tewas dengan pedang; istrinya kauambil menjadi istrimu...” Lalu berkatalah Daud kepada Natan: “Aku sudah berdosa kepada Tuhan.” 

Natan berkata kepada Daud: “Tuhan telah menjauhkan dosamu itu; engkau tidak akan mati. Walaupun demikian, karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista Tuhan, pastilah anak yang lahir bagimu akan mati.”

Kemudian Tuhan menulahi anak yang dilahirkan bekas istri Uria bagi Daud, sehingga sakit. Daud memohon kepada Allah oleh karena anak itu, ia berpuasa tujuh hari tujuh malam, berbaring di tanah, pikirnya: “Siapa tahu Tuhan mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup.” (2 Sam 12:22).

Ketika mengetahui anaknya telah mati, ia bangun dari lantai, ia mandi berurap dan bertukar pakaian; ia masuk ke dalam rumah Tuhan dan sujud menyembah. Sesudah itu pulanglah ia ke rumahnya, dan atas permintaannya dihidangkan kepadanya roti, lalu ia makan. 

Kemudian Daud menghibur hati Batsyeba, istrinya; ia menghampiri perempuan itu dan tidur dengan dia, dan perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki, lalu Daud memberi nama Salomo kepada anak itu

» Daud memakai berbagai macam metode doa, tetapi dia mengerti kedaulatan Tuhan, maka dia menyerahkan keputusan terakhir pada Tuhan. Meskipun keputusan Tuhan tidak sesuai dengan harapannya, dia mampu bersyukur dan memuji Tuhan.

Sikap doa yang benar inilah yang membuat Tuhan menghargai Daud, bahkan sejak saat itulah Tuhan lebih mengasihi Daud (Bdk. 1 Sam 13:14).

Dari rahim yang samalah Tuhan memberikan seorang anak laki-laki sebagai gantinya. Yang kelak anak itu menjadi raja menggantikan ayahnya, Daud; dia mempunyai hikmat yang luar biasa dan yang membangun Bait Suci untuk Tuhan (2 Sam 11-12).

Yunus berseru: “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan.”

Orang Niniwe percaya kepada Allah lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung.

Setelah sampai kabar itu kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu. Lalu atas perintah raja dan para pembesarnya orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian: “Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air. Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya.

Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya sehingga kita tidak binasa.” (Yun 3:9).

Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak melakukannya (Yun 3:4-10)

» Tuhanlah yang mempunyai seluruh kebijaksanaan. Ketika melihat pertobatan yang luar biasa itu, menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka.

Supaya Paulus tidak meninggikan diri karena pernyataan-pernyataan yang luar biasa itu, maka dia diberi suatu duri di dalam dagingnya. Meskipun dia sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, jawab Tuhan: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat (2 Kor 12:7-10)

» Paulus seorang pengkotbah yang luar biasa, segala karunia ada padanya. Tuhan tahu segala kelemahan Paulus, maka Tuhan tidak mengabulkan doanya.

Meskipun doanya tidak dikabulkan, Paulus tidak merasa kecewa karena dia mengerti adanya kedaulatan Tuhan yang tidak mungkin diterobosnya. Iman Paulus menembus batas iman kebanyakan orang Kristen; bukan sekedar percaya tetapi mempercayakan diri sepenuhnya kepada Allah.

Tujuan ilahinya: agar dia tidak sombong dan tidak jatuh tersandung menuju kebinasaan. Dengan imannya, dia dapat mengakhiri pertandingan dengan baik dan dapat mencapai garis akhir seperti apa yang Tuhan kehendaki (2 Tim 4:7).

Ketika Paulus mengerti bahwa itu kehendak Allah, maka dia berhenti meminta. Keluhannya berubah menjadi ucapan syukur, bahkan meledak dengan sukacita yang luar biasa.

Apa yang dulu dirasanya sebagai gangguan, ternyata sekarang merupakan berkat yang luar biasa di dalam hidupnya. Apa yang dirasakannya sebagai kelemahan, sekarang dilihatnya sebagai gerbang aliran kuasa Kristus yang dahsyat bagi kehidupannya.

Kesesakannya adalah kesesakan yang melegakan. Penderitaannya adalah penderitaan yang memberikan penghiburan. Kesusahannya adalah kesusahan yang membawa sukacita yang besar. Ania yang dialaminya adalah ania yang dijalani dengan rela

Yesus berlutut dan berdoa, kata=Nya: “Ya, Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”

Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya (Luk 22:41-43)

» Yesus 100% manusia dan 100% Allah. Meskipun Yesus adalah Anak Allah, Dia tidak pernah mendikte Bapa-Nya. Penolakan Bapa-Nya, bukanlah suatu kekejaman/kesewenangan. Justru melalui penolakan itu, Bapa hendak memperlihatkan pada kita bahwa itulah karunia kasih yang terbesar buat semua manusia (Yoh 3:16).

Dalam doa Gereja Katolik selalu memakai kata “semoga”, yang berarti memberikan kedaulatan penuh kepada Allah. Kalau Allah memberikan bersyukur, kalau tidak memberikan ya nggak apa-apa.

Tetapi banyak orang Katolik yang kurang mengerti, sehingga merasa kurang yakin menggunakan kata tersebut. Lalu mulai ikut-ikutan cara orang lain berdoa.

Marilah kita belajar berdoa secara Alkitabiah sehingga kata-kata kita tidak menyakitklan hati Allah. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 66/X/2009 » Renungan KPI TL tgl 1 Oktober 2009, Dra Yovita Baskoro, MM).

21.29 -

Yakub bergulat dengan Allah dan manusia




Ishak berencana memberi berkat kesulungan bagi Esau. Tetapi ketika Ribka mendengar rencana Ishak atas Esau, dia berencana merebut berkat kesulungan itu bagi Yakub, meskipun dia tahu bahwa anak sulunglah yang berhak atas berkat itu (hak atas warisan dan hak atas kepemimpinan dalam keluarga atau suku).

Mengapa Ribka melakukan hal itu? Karena dia tahu rencana Tuhan bagi anak-anaknya (Dua bangsa ada dalam kandunganmu, dan dua suku bangsa akan berpencar dari dalam rahimmu; suku bangsa yang satu akan lebih kuat dari yang lain, dan anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda - Kej 25:21-23). 

Selain itu Esau memandang ringan hak kesulungan, tanpa paksaan dia menjualnya pada Yakub dengan menukarnya dengan roti dan masakan kacang merah (lambang kenikmatan duniawi – Kej 25:34).

Ribka membuat rencana sedemikian rupa dan dia berani menanggung segala resikonya agar nubuatan Tuhan tergenapi (Akulah yang menanggung kutuk itu, anakku; dengarkan saja perkataanku, pergilah...- Kej 27:13) 

» Pada waktu menghadapi sakratul maut, dia menanggung kerinduan yang luar biasa terhadap anak yang disayanginya. Inilah harga yang harus dibayar oleh Ribka. 

Akhirnya Yakub berhasil melaksanakan rencana ibunya dan memperoleh berkat kesulungan dari Ishak, ayahnya (Allah akan memberikan kepadamu embun yang dari langit dan tanah-tanah gemuk di bumi dan gandum serta anggur berlimpah-limpah. Bangsa-bangsa akan takluk kepadamu, dan suku-suku bangsa akan sujud kepadamu; jadilah tuan atas saudara-saudaramu, dan anak-anak ibumu akan sujud kepadamu. Siapa yang mengutuk engkau, terkutuklah ia, dan siapa memberkati engkau, diberkati ia – Kej 27:28-29).

Ishak tersadar bahwa dirinya telah tertipu. Demikian pula ketika Esau tersadar bahwa ia telah kehilangan berkat kesulungan, maka ia meminta (cadangan) berkat yang lain. Ishak memberkatinya (Sesungguhnya tempat kediamanmu akan jauh dari tanah-tanah gemuk di bumi dan jauh dari embun dari langit di atas. Engkau akan hidup dari pedangmu dan engkau akan menjadi hamba adikmu. Tetapi akan terjadi kelak, apabila engkau berusaha sungguh-sungguh, maka engkau akan melemparkan kuk itu dari tengkukmu – Kej 27:39-40).

Hikmahnya bagi kita:

* Allah bebas mempergunakan cara-Nya sendiri untuk melaksanakan rencana keselamatan-Nya. Tidak jarang cara Allah melaksanakan rencana-Nya sulit kita pahami.

* Sebagai orang beriman, semestinya kita memberi ruang seluas-luasnya dalam kehidupan ini bagi Allah untuk berkarya sesuai dengan rencana-Nya.

* Janganlah memandang ringan hak kesulungan (anugerah keselamatan) yang telah diberikan kepada kita melalui Sakramen Baptis.

* Dalam melaksanakan kehendak-Nya, Tuhan tidak pernah menghalalkan cara apapun. Ingatlah! Maksud baik, cara salah, maka hasilnya tidak baik. Jadi, jika kita melaksanakan kehendak-Nya dengan menghalalkan segala cara, ada harga yang harus kita bayar.

Mengapa Ribka melakukan kehendak Allah menurut caranya sendiri (menipu)? Mungkin, di dalam rumah tangga tersebut kurang adanya komunikasi yang baik. Dia tidak memberitahu suaminya tentang nubuatan yang didapatkannya pada saat anak-anaknya masih di dalam rahimnya. 

Mata Ishak telah kabur, tidak dapat melihat lagi. Mengapa dia mudah tertipu? Karena kepekaannya kurang tajam, tidak pernah diasah. Hal ini disebabkan karena dia tidak sengsara mendapatkan berkat-berkatnya (menabur mendapatkan hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati Tuhan – Kej 26:12; menggali kembali sumur-sumur yang digali zaman Abraham, ayahnya - Kej 26:18). 

Marilah kita memohon agar Tuhan memberi semangat juang yang tak kenal menyerah sehingga kita berani memilih kehendak-Nya daripada kehendak kita sendiri.


Untuk menghindari kemarahan Esau, Ribka berkata kepada Ishak: “Aku telah jemu hidup karena perempuan-perempuan Het itu; jikalau Yakub juga mengambil seorang istri dari antara perempuan negeri ini, semacam perempuan Het itu, apa gunanya aku hidup lagi?”

Kemudian Ishak memanggil Yakub, lalu memberkati dia serta memesankan kepadanya, katanya: “Janganlah mengambil istri dari perempuan Kanaaan. Bersiaplah, pergilah ke Padan-Aran, ke rumah Betuel, ayah ibumu, dan ambillah dari situ seorang istri dari anak-anak Laban. Moga-moga Allah Yang Mahakuasa memberkati engkau ...”

Yakub melarikan diri dari Esau. Dalam perjalanan dari Bersyeba ke Haran, Yakub terpaksa menginap di suatu tempat karena kelelahan. Ia lalu mengambil sebuah batu yang terletak di tempat itu dan dipakainya sebagai alas kepala, lalu membaringkan dirinya di tempat itu. Maka bermimpilah ia 

* Di bumi ada didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit dan tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu 

» tangga permanen, bukanlah tangga yang bisa dipindah-pindahkan.

* Berdirilah Tuhan di sampingnya dan berfirman: “Akulah Tuhan, Allah Abraham dan Allah Ishak; tanah tempat engkau berbaring ini akan Kuberikan kepadamu dan keturunanmu. Keturunanmu akan menjadi seperti debu tanah banyaknya, dan engkau akan mengembang ke sebelah timur, barat, utara dan selatan, dan olehmu serta keturunanmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat. Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke manapun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu.” 

» Tuhan memperkenalkan diri sebagai Allah Abraham dan Ishak. Janji Allah kepada Abraham diulangi lagi. Janji Tuhan Allah yang pernah diucapkan kepada Abraham menjadi penegasan bahwa “penipuan” yang ia lakukan tidak akan mendatangkan kutuk karena hal itu sesuai dengan kehendak Allah sendiri.

Ketika Yakub bangun dari tidurnya, berkatalah ia: “Sesungguhnya Tuhan ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya.” Ia takut dan berkata: “Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang sorga.” Keesokan harinya pagi-pagi Yakub mengambil batu yang dipakainya sebagai alas kepala dan mendirikan itu menjadi tugu dan menuang minyak ke atasnya. 

Lalu bernazarlah Yakub: “Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini ... sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka Tuhan akan menjadi Allahku. Dan batu yang kudirikan ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepadaMu.” (Kej 28:10-22).

Hikmahnya bagi kita:

* Allah hadir dalam obyek/barang yang kudus. Allah hadir di suatu tempat khusus di mana Dia sudah menampakkan diri kepada seseorang. Dan biasanya tempat itu ditandai dengan sebuah monumen dalam bentuk sebuah altar/kenisah.

* Tempat Allah tinggal secara tetap ada di sorga, karena itu harus ada tangga ke sana, sehingga bisa terjadi komunikasi antara sorga dan bumi.

* Ternyata Allah ada di mana-mana dan dapat dijumpai kapan saja. Waktu berdoa kita dapat berjumpa dengan Tuhan, tetapi saat kita bekerja atau beraktivitas Allah pun dapat kita jumpai.

* Allah tidak selamanya “tersembunyi” dan membiarkan manusia berjuang sendiri untuk mengubah struktur yang tidak adil. Dia juga akan menampakkan diri pada waktunya untuk meneguhkan orang-orang yang dipilih-Nya sehingga rencana-Nya bisa terlaksana di dunia.

* Allah dapat menggunakan apa atau siapa pun untuk menyapa kita. Yang kita butuhkan adalah ketajaman rasa dan hati untuk menemukan-Nya.

* Manusialah yang bernazar. Allah tidak membutuhkannya, karena semuanya adalah kepunyaan-Nya.

Marilah kita berjuang menjawab panggilan Allah dengan mengasah rasa dan hati kita untuk menemukan dan memahami kehendak-Nya lewat pengalaman hidup sehari-hari, agar hidup kita dapat menjadi berkat bagi orang lain.


Kemudian berangkatlah Yakub dari situ dan pergi ke Haran, rumah pamannya, Laban.

Berkatalah Laban kepada Yakub: “Masakan karena engkau adalah sanak saudaraku, engkau bekerja padaku dengan cuma-cuma? Katakanlah kepadaku apa yang patut menjadi upahmu? 

Yakub cinta kepada Rahel, sebab itu Yakub berkata: “Aku mau bekerja padamu tujuh tahun lamanya untuk mendapatkan Rahel, anakmu yang lebih muda itu.”

Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapatkan Rahel, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel (Kej 29:20) 

» Itulah cinta sejati, rela berkorban.

Sesudah tujuh tahun bekerja, berkatalah Yakub kepada Laban: “Berikanlah kepadaku bakal istriku, sebab jangka waktunya telah genap, supaya aku akan kawin dengan dia.” Lalu Laban mengundang semua orang di tempat itu dan mengadakan perjamuan. 

Tetapi pada waktu malam diambilnya Lea, anaknya, lalu dibawanya kepada Yakub. Maka Yakubpun menghampiri dia ... tetapi pada waktu pagi tampaklah itu Lea! 

Lalu berkatalah Yakub kepada Laban: “Apakah yang kau perbuat terhadap aku ini? Bukankah untuk mendapat Rahel aku bekerja padamu? Mengapa engkau menipu aku?” 

Jawab Laban: “Tidak biasa orang berbuat demikian di tempat kami ini, mengawinkan adiknya lebih dahulu dari pada kakaknya. Genapilah dahulu tujuh hari perkawinanmu dengan anakku ini; kemudian anakku yang lainnyapun akan diberikan kepadamu sebagai upah, asal engkau bekerja pula padaku tujuh tahun lagi.” 

Maka Yakub menggenapi ketujuh hari perkawinannya dengan Lea, kemudian Laban memberikan kepadanya Rahel, anaknya itu, menjadi istrinya 

» Inilah harga yang harus dibayar oleh Yakub. Dahulu Yakub bisa memperdaya Esau, kakaknya dengan sepotong roti dan masakan kacang merah (Kej 26:33-34). Ia pun mengelabui Ishak, bapanya, yang telah menjadi tua dan buta dengan bulu domba. Sekarang “sang penipu” kena batunya, “tertipu”. Dulu dia menipu hak kesulungan, sekarang diapun ditipu berkaitan dengan hak kesulungannya juga.

Ketika Tuhan melihat, bahwa Lea tidak dicintai, dibukaka-Nyalah kandungannya, tetapi Rahel mandul (Kej 29:31) 

»  Inilah keadilan Tuhan.

Lea mengandung, lalu melahirkan ..., katanya: “Sesungguhnya Tuhan telah memperhatikan kesengsaraanku; sekarang tentunya aku akan dicintai oleh suamiku.”, 

“Sesungguhnya, Tuhan telah mendengar aku tidak dicintai, lalu diberikanNya pula anak ini kepadaku.” , 

“Sekali ini suamiku akan lebih erat kepadaku, karena aku telah melahirkan tiga anak laki-laki baginya.” (Kej 29:32-34) 

» Lea rela berkorban untuk mendapatkan cinta Yakub dengan adanya anak, tetapi sampai tutup mata, ternyata dia tidak pernah mendapatkan cinta Yakub. Jadi, cinta tak dapat dipaksakan.

Kata Rahel kepada Lea: “Berilah aku beberapa buah dudidam yang didapat oleh anakmu itu.” Jawab Lea kepadanya: “Apakah belum cukup bagimu mengambil suamiku? Sekarang pula mau mengambil lagi buah dudidam anakku?” 

Kata Rahel: “Kalau begitu biarlah ia tidur dengan engkau pada malam ini sebagai ganti buah dudidam anakmu itu.” 

Ketika Yakub pada waktu petang datang dari padang, pergilah Lea mendapatkannya, sambil berkata: “Engkau harus singgah kepadaku malam ini, sebab engkau telah kusewa dengan buah dudidam anakku.” Sebab itu tidurlah Yakup dengan Lea pada malam itu 

» Menurut adat kebiasaan mereka, buah dudidam yang dimakan dapat menyuburkan kandungan. Demi cinta Rahel rela berkorban, menukarkan suaminya dengan buah dudidam agar dia bisa hamil. 

Berkatalah Yakub kepada Laban: “Izinkanlah aku pulang ke tempat kelahiranku dan ke negeriku. Berikanlah istri-istriku dan anak-anakku, yang menjadi upahku selama aku bekerja padamu...” 

Tetapi Laban berkata kepadanya: “Sekiranya aku mendapat kasihmu! Telah nyata kepadaku, bahwa Tuhan memberkati aku karena engkau.” Lagi katanya: “ Tentukan upahmu yang harus kubayar, maka aku akan memberikannya.”

“Shalom” yang diawali pada awal pertemuan (Kej 29:6-14) berubah menjadi permusuhan. Puncaknya tercapai ketika Yakub bersama anak istrinya melarikan diri dari Laban untuk kembali ke Tanah Terjanji (Kej 31). 

Di sini sekali lagi kita menyaksikan bahwa Allah berkarya secara sembunyi lewat peristiwa-peristiwa duniawi demi terlaksananya rencana keselamatan-Nya, yakni keturunan Abraham akan berlimpah dan akan mewarisi Tanah Terjanji.

Hikmahnya bagi kita:

* Sekalipun Allah memberkati kita, Allah akan memangkas ranting-ranting kelemahan kita. Misalnya: kita sombong, maka Allah juga mengirim orang sombong pada kita, untuk mendidik dan mengajar kita.

* Seringkali terjadi konflik antara kebebasan pribadi dan tuntutan adat.

* Seringkali perempuan tidak boleh bersuara (mengungkapkan pikiran dan perasaan mereka).

* Tak ada cinta yang berjalan mulus. Cinta dan pengkhianatan adalah dua sisi yang selalu muncul dalam kehidupan manusia. Cinta membuat orang rela berkorban dan berjuang untuk mendapatkannya meski dikhianati sesama termasuk untuk dapat mengalami cinta-Nya.

* Seringkali tidak disadari manusia bahwa Allah terlibat dalam cinta. Ingatlah! Allah adalah cinta (1 Yoh 4:16).

* Mempunyai istri lebih dari satu, pasti lebih banyak menghadapi konflik dalam kehidupan.

* Jika Tuhan memberkati seseorang (A), dan kedatangannya disambut dengan baik oleh orang lain (B), maka B pun akan mendapat berkat berlimpah.

* Seringkali pihak kedua meng-eksploitasi dari segi ekonomi, karena ingin situasi itu tidak berubah. 

Marilah kita semakin memahami cinta dan kehendak-Nya, sehingga kita semakin berani menerima panggilan untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan terhadap sesama lewat peristiwa-peristiwa kehidupan.


Yakub menyuruh utusannya berjalan lebih dahulu mendapatkan Esau, kakaknya. Ia memerintahkan kepada mereka: “Beginilah kamu katakan kepada tuanku, kepada Esau: Beginilah kata hambamu Yakup: Aku telah tinggal pada Laban sebagai orang asing dan diam di situ selama ini. Aku telah mempunyai lembu sapi, keledai dan kambing domba, budak laki-laki dan perempuan, dan aku menyuruh memberitahukan hal ini kepada tuanku, supaya aku mendapat kasihmu.” 

Kemudian pulanglah para utusan itu kepada Yakup dan berkata: “Kami telah sampai kepada kakakmu, kepada Esau, dan iapun sedang di jalan menemui engkau, diiringi oleh empat ratus orang.” 

Lalu sangat takutlah Yakub dan merasa sesak hati; maka dibaginyalah orang-orangnya yang bersama-sama dengan dia, kambing dombanya, lembu sapi dan untanya menjadi dua pasukan. 

Sebab pikirnya: “ Jika Esau datang menyerang pasukan yang satu, sehingga terpukul kalah, maka pasukan yang tinggal akan terluput.” 

Kemudian berkatalah Yakup: “Ya Allah nenekku Abraham dan Allah ayahku Ishak, ya Tuhan, yang telah berfirman kepadaku: Pulanglah ke negerimu serta kepada sanak saudaramu dan Aku akan berbuat baik kepadamu – sekali-kali aku tidak layak untuk menerima segala kasih dan kesetiaan yang Engkau tunjukkan kepada hamba-Mu ini, sebab aku membawa hanya tongkatku ini waktu aku menyeberangi sungai Yordan ini, tetapi sekarang telah menjadi dua pasukan. 

Lepaskanlah kiranya aku dari tangan kakakku, dari tangan Esau, sebab aku takut kepadanya jangan-jangan ia datang membunuh aku, juga ibu-ibu dengan anak-anaknya. 

Bukankah Engkau telah berfirman: Tentu Aku akan berbuat baik kepadamu dan menjadikan keturunanmu sebagai pasir di laut, yang karena banyaknya tidak dapat dihitung.” 

Lalu bermalamlah ia di sana pada malam itu. Kemudian diambilnyalah dari apa yang ada padanya suatu persembahan untuk Esau, kakaknya, yaitu... Persembahan itu dihantarkan lebih dahulu, tetapi ia sendiri bermalam pada malam itu di tempat perkemahannya 

» Ketika mau berjumpa dengan Esau, Yakub sangat kaya. Meskipun disertai malaikat-malaikat Allah (Kej 32:1-2), Yakub tidak menggunakan kekuatannya sendiri dalam menghadapi masalah besar yang akan dihadapinya, tetapi dia datang pada Tuhan dan menagih janji-janji-Nya. 

Dalam doanya Yakup mendapat hikmat, yaitu: memperlakukan Esau sebagai tuannya dan menganggap dirinya sebagai hamba; mengirim persembahan, memperlakukan Esau sebagaimana layaknya tuan; meskipun diberkati secara luar biasa, tidak ada kesombongan di hatinya.

Sesudah Yakub menyeberangkan kedua istrinya, kedua budaknya perempuan dan kesebelas anaknya, ia menyeberangkan juga segala miliknya. 

Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajat menyingsing 

» Berdoa semalam-malaman sampai menang atas rencana Allah dalam kehidupannya. Bahaya dan ketakutan yang dialami Yakub atas ancaman pembunuhan oleh Esau inilah yang mendorong dia untuk berada sendirian sehingga dia bisa berpikir lebih tenang dan memperoleh kekuatan.

Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakup, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu. 

Lalu kata orang itu: “Biarlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing,” Sahut Yakub: “Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku.” 

Bertanyalah orang itu kepadanya: “Siapakah namamu?” Sahutnya: “Yakub.” Lalu kata orang itu: “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia dan engkau menang.” ... Lalu diberkatilah Yakub di situ 

 » “Serangan” Allah terhadapnya merupakan suatu cara Allah menjawab doanya (Kej 32:9-12). Allah datang sebagai manusia, lambang Perjanjian Lama masuk Perjanjian Baru, bahwa Allah akan menyelamatkan dunia ini di dalam Yesus, Allah yang turun dan menjelma menjadi manusia.

Yakubpun melayangkan pandangannya, lalu dilihatnya Esau datang. Ia sendiri berjalan di depan kedua istrinya, kedua budak perempuan beserta anak-anaknya dan ia sujud sampai ke tanah tujuh kali, hingga ia sampai ke dekat kakaknya itu. 

Tetapi Esau berlari mendapatkan dia, didekapnya dia, dipeluknya lehernya dan diciumnya dia, lalu bertangis-tangisanlah mereka 

» Yakub tahu watak kakaknya, maka ia memohon bantuan Tuhan ketika menghadapinya. Jawaban doanya ... sendi pangkal pahanya terpelecok. 

Mengapa Tuhan membuat kaki Yakub cacat seumur hidup? Karena Tuhan tahu seberapa besar dendam hati Esau terhadap Yakub. Memang, secara jasmani tidak baik, tetapi itu terbaik menurut kacamata Allah. 

Ketika Esau melihat adiknya berjalan dengan terpincang-pincang dan sujud sampai ke tanah tujuh kali ... hatinya mulai luluh, timbullah belas kasihan di hatinya sehingga dia berlari mendapatkan adiknya. Akhirnya ... terjadilah rekonsiliasi.

Berkatalah Esau: “Apakah maksudmu dengan seluruh pasukan, yang telah bertemu aku tadi?” Jawabnya: “Untuk mendapat kasih tuanku.” 
» Akhirnya Esau sadar dan mengakui adiknya yang berhak mendapat berkat kesulungan.

Tetapi kata Esau: “Aku mempunyai banyak, adikku; peganglah apa yang ada padamu 

» Ketika Esau berjumpa dengan Yakub, Esaupun telah diberkati karena dia berusaha bersungguh-sungguh dalam mencari berkat (kerja keras - Kej 27:39-40).

Tetapi kata Yakub: “Janganlah kiranya demikian; jikalau aku telah mendapat kasihmu, terimalah persembahanku ini dari tanganku, karena memang melihat mukamu adalah bagiku serasa melihat wajah Allah, dan engkaupun berkenan menyambut aku. 

Terimalah kiranya pemberian tanda salamku sebab Allah telah memberi karunia kepadaku dan akupun mempunyai segala-galanya.” Lalu dibujuk-bujuknya Esau, sehingga diterimanya.

Hikmahnya bagi kita:

* Dalam menghadapi suatu masalah, janganlah mengandalkan kekuatan diri sendiri. Memohonlah pada Tuhan.

* Meskipun jawaban Tuhan tidak sesuai dengan harapan kita, terimalah saja. Karena dibalik hal itu, ada suatu rencana Tuhan yang indah bagi kita.

* Berkat atau panggilan yang telah dianugerahkan kepada kita harus tetap diperjuangkan. Realisasi berkat (janji) tidak hanya bergantung pada Allah, tapi juga pada perjuangan manusia secara proaktif, ulet mencarinya. 

* Tuhan selalu memberkati orang yang berjuang.

Marilah kita berjuang mencontoh keuletan Yakub dalam merealisasi janji Allah, dengan selalu mengandalkan kekuatan Allah. Akan tetapi dengan cara yang berkenan kepada Allah.

(Sumber: Warta KPI TL No. 66/X/2009 » Renungan KPI TL tgl 10 dan 17 September 2009, Dra Yovita Baskoro, MM).