Kamis, 27 Desember 2018

18.00 -

Harapan - KV II


b) HARAPAN

53. Apakah yang diharapkan orang beriman?


Allah Bapa menghendaki agar kita memandang dan mencintai Kristus, Saudara kita dalam semua orang, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Dengan demikian kita memberikan kesaksian tentang kebenaran dan menyampaikan misteri cinta kasih Bapa Surgawi kepada orang lain

Dengan demikian dalam hati manusia di seluruh dunia dibangkitkan harapan nyata, yang merupakan karunia Roh Kudus; yakni harapan bahwa pada suatu saat  mereka diterima di dalam ketenangan dan kebahagiaan sempurna, yaitu di tanah air yang bercahayakan kemuliaan ilahi. (GD 93 a)

54. Bukankah harapan akan dunia akhirat meremehkan pentingnya hidup di dunia ini?

Pentingnya tugas-tugas di dunia ini tidak dikurangi oleh harapan _eskatologis_; malah pelaksanaannya diperkuat oleh alasan-alasan yang baru. Akan tetapi jika landasan ilahi dari kehidupan abadi menghilang dan harapan akan kehidupan itu sirna, martabat manusia diperkosa secara kejam. Hal ini sering terbukti dewasa ini. Tambah lagi rahasia kehidupan dan kematian, kesalahan dan penderitaan tetap tanpa pemecahan, sehingga tidak jarang banyak orang terhempas ke dalam keputusasaan. (GD 21 c).


17.21 -

Cinta kasih - KV II

c) CINTA KASIH

55. Mengapa cinta kasih merupakan pokok agama Kristen?

Tuhan, Yang memelihara semua orang sebagai Bapa, menghendaki agar semua manusia membentuk satu keluarga dan memperlakukan satu sama lain sebagai saudara. Sebab, semua orang diciptakan menurut citra Allah, Yang menjadikan "semua bangsa manusia dari satu orang untuk mendiami seluruh muka bumi" (Kis 17:26). Tambah lagi, semua orang dipanggil untuk tujuan yang satu dan sama, yaitu Tuhan sendiri.

Oleh sebab itu, cinta kepada Allah dan kepada sesama manusia adalah perintah pertama dan terutama. Kitab Suci mengajarkan kepada kita, bahwa cinta kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari cinta kepada sesama: "... kalau pun ada perintah lain, perintah itu tercakup dalam sabda ini: Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri. 

Jadi, kepenuhan hukum adalah cinta kasih." (Rm 13:9-10; bdk. 1 Yoh 4:20). Hal ini terbukti sangat penting bagi manusia, yang makin hari makin bergantung satu sama lain, dan juga bagi dunia yang makin hari makin dipersatukan. (GD 24 a dan b)


56. Apa hubungan antara cinta akan Tuhan dan sesama manusia?

Karya-karya cinta kasih dikehendaki Kristus Tuhan menjadi tanda pengenal pengutusannya sebagai Mesias (bdk. Mat 11:4-5). 

Perintah tertinggi dalam Hukum adalah mencintai Allah dengan seluruh hati dan mencintai sesama seperti diri sendiri (bdk. Mat 22:37-40). Perintah untuk mencintai sesama manusia dijadikan Kristus sebagai perintah-Nya yang khas dan diperkaya oleh-Nya dengan makna baru.

Kristus menghendaki bahwa Ia sendiri dan saudara-saudara-Nya: menjadi sasaran cintakasih yang sama; Ia berfirman: "Tiap kali kamu melakukannya untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu melakukannya untuk Aku." (Mat 25:40) 

Sebab, dengan mengambil kodrat manusia, Kristus menghimpun seluruh umat manusia dalam suatu kesetiakawanan adikodrati, sehingga menjadi satu keluarga yang bersatu dengan-Nya. Dan sebagai tanda pengenal murid-murid-Nya, Ia pancangkan cinta kasih dengan berkata: "Semua orang akan mengenal kamu sebagai murid-murid-Ku, jikalau kamu saling mengasihi." (Yoh 13:35) (KA 8 a)


57. Mengapa cinta kasih merupakan keutamaan yang dikaruniakan oleh Tuhan?

"Tuhan ialah Cinta kasih dan yang tinggal dalam cinta kasih, tinggal dalam Tuhan dan Tuhan di dalam dia." (1 Yoh 4:16). 


Tuhan mencurahkan cinta kasih-Nya ke dalam hati kita dengan pengantaraan Roh Kudus. Yang dianugerahkan kepada kita (Rm 5:5). Oleh karena itu, anugerah pertama dan yang paling perlu ialah cinta kasih, dengannya kita mencintai Tuhan lebih daripada segala sesuatu dan mencintai sesama demi Dia.

Supaya cinta kasih bertumbuh dan berbuah di dalam jiwa bagai benih yang baik, maka setiap orang beriman
 harus mendengar dengan rela sabda ilahi dan dengan bantuan rahmat-Nya memenuhi kehendak Allah dalam tindakan-tindakannya. Mereka harus berperan serta dalam Sakramen-sakramen, terutama Ekaristi dan juga dalam ibadat-ibadat lain. Mereka harus berdoa dengan tabah menyangkal diri, memberi pelayanan persaudaraan yang aktif dan melaksanakan segala keutamaan. 

Sebab cinta kasih adalah sabuk kesempurnaan dan pemenuhan hukum ilahi (Kol 3:14; Rm 13:10). Cinta ilahi ini menuntun serta menjiwai semua cara untuk menjadi suci dan memungkinkan cara-cara itu dapat berhasil. Maka murid sejati Kristus ditandai dengan cinta kasih, baik kepada Tuhan maupun kepada sesama. (G 42 a)



58. Manakah kesaksian cinta Kristiani yang paling mulia?


Yesus, Allah-Putera, menunjukkan cinta kasih-Nya dengan memberikan nyawa-Nya demi kita. Oleh karena itu tak seorang pun mempunyai cinta kasih yang lebih besar daripada dia yang menyerahkan nyawanya untuk Kristus dan untuk saudara-saudara-Nya (Bdk. 1 Yoh 3:16; Yoh 15:13).

Memberikan kesaksian paling mulia tentang cinta kasih di hadapan semua orang, terutama di hadapan para penindas, sudah sejak abad-abad pertama merupakan panggilan beberapa orang Kristen. Dengan mati sebagai martir murid menyerupai Guru. Yang menerima kematian dengan rela demi keselamatan dunia. Kematian itu juga menjadi murid selaras dengan-Nya dalam menumpahkan darah. 

Maka dari itu mati sebagai martir dianggap oleh Gereja sebagai satu anugerah yang luhur dan bukti cinta kasih yang paling unggul. Walaupun anugerah ini diberikan kepada sedikit orang, namun semua orang beriman harus bersedia mengakui Kristus di depan manusia dan mengikuti Dia pada jalan salib di tengah-tengah penindasan yang tidak pernah absen dari Gereja. (G 42 a)


Selasa, 25 Desember 2018

19.13 -

Kasih karunia



Kamu dulunya ... tetapi Tuhan ... oleh kasih karunia

Efesus 2:1-3

“KAMU DAHULU sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka.

Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain.”

Siapa disini yang pernah bohong? Saya yakin setiap dari kalian pasti mengatakan “pernah” di dalam hati kalian - semua orang pasti pernah berbohong. 

Bagaimana dengan hawa nafsu? Pernahkah kalian melihat seseorang dengan hawa nafsu? Tuhan mengatakan bahwa dosa percabulan bukan hanya ketika kita melakukan hubungan seks dengan seseorang di luar pernikahan, melainkan juga ketika kita melihat orang lain dengan hasrat yang tidak benar. Maka itu semua orang juga pasti pernah melakukan dosa hawa nafsu

Setiap dari kita adalah seorang yang berdosa; ini adalah sebuah kebenaran yang setiap dari kita harus sadari. Alkitab mengatakan bahwa setiap dari kita dulunya dikuasai oleh dosa sehingga seharusnya menerima murka Tuhan. Jika kita tidak tau akan kebenaran bahwa kita berdosa, kita tidak akan tau bahwa kita sesungguhnya membutuhkan Juruselamat untuk menyelamatkan kita.

Rasul Paulus, seorang rasul Tuhan yang menulis sepertiga dari Alkitab perjanjian baru juga dulunya adalah hamba dosa. Dia bahkan mengakui bahwa dirinya adalah yang terjahat dari yang paling jahat - dia telah membunuh begitu banyak pengikut-pengikut Kristus. 

Tetapi Tuhan menemui Paulus di tengah perjalanannya ke Damsyik, bukan untuk menghancurkan Paulus, melainkan untuk membuka matanya, menunjukkan kasih karunia, dan menyelamatkannya

Efesus 2:4-7

“TETAPI TUHAN yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita–oleh kasih karunia kamu diselamatkan–dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga, supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus.”

Rasul Paulus DULUNYA adalah yang terburuk dari yang paling buruk, TETAPI TUHAN menyelamatkannya. Dan Tuhan bukan saja menyelamatkan Rasul Paulus, tetapi juga menyelamatkan kita. Kita yang DULUNYA dikuasai oleh belenggu dosa, kini telah dibebaskan oleh karena KASIH KARUNIA TUHAN. 

Efesus 2:8-9

“Sebab KARENA KASIH KARUNIA kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”

Kita diselamatkan bukan karena pekerjaan baik kita, bukan karena pelaksanaan agama kita, bukan karena kerja keras kita, bukan karena kedisiplinan kita, dan bukan karena kesempurnaan kita. Kita diselamatkan oleh karena KASIH KARUNIA dan KASIH KARUNIA SAJA!

Kalian ingat cerita perempuan yang ketauan berbuat zinah pada Yohanes 8? Menurut hukum Musa wanita ini seharusnya dirajam batu hingga mati. Semua orang sudah siap untuk melemparkan batu kepada perempuan ini. TETAPI TUHAN mengatakan: “Barangsiapa tidak berdosa silahkan lempar batu yang pertama.” 

Akhirnya semunya meninggalkan perempuan tersebut hingga tinggal tersisa Yesus dengan perempuan itu. Lalu Yesus mengatakan kepada perempuan itu: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

PEREMPUAN INI DULUNYA… TETAPI TUHAN… OLEH KASIH KARUNIA…

Kalian ingat perumpamaan yang diberikan Yesus tentang seorang anak yang meninggalkan ayahnya dan menghambur-hamburkan uangnya di dalam hawa nafsu dan pesta pora? 

Ketika dia sudah kehilangan segalanya, dia merasa dia sudah tidak akan diterima kembali oleh ayahnya; dimana sesungguhnya, ayahnya tidak pernah berhenti memikirkan tentang dirinya. Ayahnya setiap hari melirik keluar rumah dan berharap melihat anaknya berjalan pulang. Dan ketika akhirnya sang ayah melihat anaknya berjalan pulang, dia langsung berlari kepada anaknya, memeluknya, memakaikan jubahnya, dan mengadakan pesta untuk kepulangan anaknya. “Anak-ku yang terhilang sudah kembali pulang!”

ANAK INI DULUNYA… TETAPI TUHAN… OLEH KASIH KARUNIA… 

Kalian ingat dua penjahat yang berada di atas kayu salib bersama Yesus? Satu mengejek-ejek Yesus, tetapi yang satu lagi, dengan kesadaran bahwa dirinya tidak layak, hanya memohon Yesus untuk mengingat akan dirinya. Penjahat ini tidak sempat melakukan apa-apa untuk menebus semua kesalahannya - dia tidak sempat untuk memberi, dia tidak sempat untuk datang ke gereja, dan dia tidak sempat untuk menolong siapa pun. Kenyataan dia berada di atas kayu salib itu menunjukkan bahwa dia adalah seseorang yang penuh dengan kesalahan dan layak untuk dihukum mati.

TETAPI YESUS mengatakan kepadanya: “Hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”

PENJAHAT INI DULUNYA… TETAPI TUHAN… OLEH KASIH KARUNIA…

Kamu hari ini membaca tulisan ini bukan karena kebetulan, tetapi karena kasih karunia. Setiap dari kita DULUNYA adalah seorang yang dibelenggu oleh dosa-dosa kita, setiap dari kita seharusnya menerima murka Tuhan dan binasa di dalam neraka. 

TETAPI TUHAN mengirimkan Anak-Nya yang tunggal agar barangsiapa percaya kepada-Nya dapat diselamatkan. Dan keselamatan ini bukan datang oleh karena apa yang telah kita perbuat, melainkan oleh karena apa yang telah Yesus perbuat! KASIH KARUNIA adalah satu-satunya alasan kita diselamatkan!

Ketika kita berseru dan menyerahkan diri kita kepada Tuhan kita, Yesus Kristus, kita tidak menjadi versi yang lebih baik dari diri kita yang sebelumnya, melainkan kita menjadi ciptaan yang baru! Yang dulu telah berlalu, dan yang baru telah datang! Thank You JESUS!

“Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Rm 6:23).




Waspadalah akan dosa, dan bertumbuhlah di dalam pengenalan akan Tuhan

“Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, kamu telah mengetahui hal ini sebelumnya. Karena itu waspadalah, supaya kamu jangan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum, dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh. Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.” (2 Ptr 3:17-18)

Rasul Petrus mengatakan bahwa di dalam hidup ini, kita akan berjalan menuju antara dua hal ini: Bertumbuh dalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum atau bertumbuh dalam kasih karunia dan pengenalan akan Tuhan Yesus

Rasul Petrus tidak mengatakan bahwa pilihannya adalah antara bertumbuh di dalam Tuhan Yesus atau tidak bertumbuh sama sekali, melainkan bertumbuh di dalam Tuhan atau di dalam kesesatan. 

Banyak yang bertanya-tanya, “apa tandanya seseorang sungguh mengenal Tuhan?” Jawabannya tentu bukanlah seseorang yang tidak berdosa. Karena Alkitab mengatakan bahwa semua orang sesungguhnya berdosa - “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita” (1 Yoh 1:8). Maka jawaban tepatnya adalah: Seseorang yang mengenal Tuhan adalah seseorang yang bertumbuh di dalam kasih karunia dan pengenalan akan Tuhan Yesus.

Seseorang yang sudah lahir baru tetap akan memiliki dosa, karena kita semua masih tinggal di dunia ini. Tetapi seseorang yang lahir baru akan terus bertumbuh dalam kasih kepada Tuhan Yesus dan terus bertumbuh dalam kebencian kepada dosa-dosa. Seseorang yang sudah lahir baru tetap dapat jatuh sewaktu-waktu di dalam hidupnya, tetapi dia akan berdiri kembali dan berjalan lagi menuju Tuhan Yesus

Melalui pesan Rasul Petrus ini kita juga dapat belajar sebuah poin penting lain, yaitu: Kita dapat mengalahkan godaan dunia bukan dengan berusaha keras menggunakan kekuatan kita, melainkan dengan mengenal Tuhan Yesus lebih lagi

Kedisiplinanmu dan kerja kerasmu tidak akan menyelamatkanmu; keselamatan hanya ditemukan di dalam Dia yang sudah mengambil tempatmu di atas kayu salib itu! 

Kasih karunia-Nya adalah satu-satunya alasan kita dapat mengalahkan adiksi-adiksi jahat di dalam hidup kita, satu-satunya alasan kita dapat dibenarkan Allah Bapa, dan satu-satunya alasan kita dapat diselamatkan dari hukuman atas dosa-dosa kita.

All you need is Jesus! 

“Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.

Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.” (Ibrani 12:1-2).




3 Keindahan dari kasih karunia

“Aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman. Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan (2) iman dan kasih dalam Kristus Yesus. Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,” dan di antara mereka (1) akulah yang paling berdosa.

Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian (3) aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal. Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin.” (1 Tim 1:13-17)

Melalui pembacaan Firman kita hari ini, kita dapat belajar tiga hal tentang kasih karunia Tuhan:

1. Kasih karunia adalah bagi mereka yang berdosa

“Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,” dan di antara mereka akulah yang paling berdosa.”

Banyak orang yang suka bertanya kepada saya: “Ka, apakah Tuhan masih mau mengampuni saya, bahkan setelah saya melakukan begitu banyak dosa?” Banyak orang yang secara tidak sadar berpikir bahwa Tuhan datang ke dunia untuk mencari orang-orang benar, padahal sesungguhnya, Tuhan datang untuk mencari orang-orang berdosa.

“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mrk 2:17)

“Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” (Luk 19:10)

Kasih karunia bukanlah sesuatu yang diberikan kepada orang-orang yang layak mendapatkannya, melainkan sesuatu yang diberikan kepada orang-orang yang tidak layak mendapatkannya. Lagipula, sesungguhnya tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang layak mendapatkan kasih karunia Tuhan. Namun oleh karena kebaikan dan kasih Tuhan kepada manusia, Dia memberikan kasih karunia-Nya secara gratis - sehingga barangsiapa yang mau menerimanya dapat memperoleh kehidupan kekal di dalam-Nya.

2. Kasih karunia membuahkan iman dan kasih kepada Yesus

“Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus.”

Rasul Paulus mengatakan bahwa kasih karunia dari Tuhan lah yang akan membuahkan iman dan kasih kepada Yesus. Kita memiliki iman dan memiliki kasih kepada Yesus bukan karena kita begitu baik dan begitu hebat, melainkan karena kita telah terlebih dahulu menerima kasih karunia dari Tuhan. Kebenarannya, semakin kita menerima kasih karunia Tuhan dan menyadari keindahan kasih karunia itu, maka iman kita dan kasih kita kepada Yesus juga akan semakin bertumbuh.

Jangan sombong jika hidupmu lebih benar dari orang lain dan jangan putus asa jika hidupmu masih belum terlepas dari dosa. Rahasia dari kehidupan benar bukanlah berasal dari diri manusia itu sendiri, melainkan berasal dari kasih karunia Tuhan. Terus berdoa agar Tuhan menunjukkan kasih karunia-Nya lebih lagi di dalam kehidupanmu. Orang-orang yang memiliki iman dan kasih yang besar bukanlah mereka yang baik, melainkan mereka yang sadar bahwa Tuhan sangat baik.

3. Dari menerima kasih karunia, menjadi penyalur kasih karunia

“Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal.”

Tuhan tidak berencana agar kita hanya menjadi penerima kasih karunia, melainkan Dia berencana supaya kita juga bisa menjadi penyalur kasih karunia. Setelah kasih karunia mengubah hidup kita (seperti kasih karunia mengubah hidup Rasul Paulus), Tuhan ingin agar kita menunjukkan kepada dunia betapa luar biasa perubahan yang terjadi di dalam diri kita.

Bukan untuk menyombongkan diri … melainkan untuk memberikan kemuliaan bagi nama Tuhan.

Ketika orang melihat bagaimana hidupmu diubahkan:

Dulunya terjerat pornografi dan seks bebas, sekarang bebas dari hawa nafsu dan setia dengan pasangan…

Dulunya cepat marah dan suka membenci, sekarang jauh lebih sabar dan mau mengampuni…

Dulunya tidak pernah ke gereja, sekarang pelayanan di gereja…

Orang-orang pasti akan bertanya-tanya, “Kok bisa? Apa yang terjadi” Dan disanalah kamu dapat mengarahkan lampu sorot kepada Tuhan, “Ini bukan karena kehebatan atau kebaikan saya, melainkan ini semua adalah karena kasih karunia Tuhan.”


(Sumber: @gracedepth).

17.46 -

Relationship



Apa dasar relationshipmu? Love atau Lust? Cinta atau hawa nafsu?

Sebelum kita memulai renungan hari ini, saya ingin kita semua membaca 2 Sam 13:1-16. Ini mungkin akan menjadi salah satu kisah teraneh yang akan pernah kalian baca di Alkitab, tetapi Tuhan ingin memberikan sebuah pelajaran yang sangat penting kepada setiap dari kita melaluinya. Jadi jangan lupa baca 2 Sam 13:1-16 dulu sebelum lanjut.

Saya ingin memulai renungan hari ini dengan sebuah ilustrasi. Apakah kalian pernah meminum coca-cola kalengan menggunakan sedotan? Sedotannya bergerak terus kan? Sedotannya seperti ingin melompat keluar kan? Bagaimana jika saya memberitahukan sebuah life-hack kepada kalian:


Jadi ternyata selama ini, pada kaleng coca-cola (dan kaleng-kaleng soda lainnya) ada sebuah fitur untuk menahan sedotan agar sedotan itu tidak bergerak kesana dan kesini. Saya yakin kebanyakan dari kita tidak mengetahui fungsi tersebut sebelumnya. Lucu bukan? Kita sudah beratus-ratus kali minum minuman kaleng seperti Fanta, Pepsi, Coca-cola, dan lain-lain, tetapi kita tidak pernah mengetahui fungsi itu sebelumnya.

Begitu pula dengan hal relationship. Kebanyakan dari kita telah melihatnya atau bahkan merasakannya. Kita seringkali berpikir bahwa kita mengerti segalanya yang perlu kita ketahui dari relationship. Namun padahal, banyak orang yang melewati fungsi sesungguhnya dari relationship; maka itu banyak yang memiliki relationship yang tidak berjalan dengan baik dan yang akhirnya berakhir pada kehancuran.

Masalah terbesar di dalam relationship adalah kebanyakan orang mengatakan “I’m in Love,” padahal sebenarnya mereka mengatakan “I’m in Lust.” Jadi apa perbedaan dari Love dengan Lust?

Lust (hawa nafsu) adalah menggunakan seseorang sebagai alat untuk memuaskan hawa nafsu sendiri. Lust adalah berpikir, “Tujuan-mu adalah untuk memuaskan diri-ku.” Ini adalah sebuah pegangan yang salah dalam relationship bukan? Dimana relationship seharusnya memiliki tujuan untuk membangun satu sama lain, dan bukan malah memuaskan nafsu satu sama lain.

Sekarang kita ingin melihat sedikit deskripsi dari Love (kasih) menurut Alkitab:

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.” (1 Kor 13:4-7)

Love adalah tentang memberi, sedangkan Lust adalah tentang mengambil


Seperti melalui kisah yang kita baca di 2 Sam 13 tadi, Amnon merasa dirinya sangat mengasihi Tamar. Dia tidak dapat berhenti memikirkan Tamar. Maka itu, Amnon meminta Tamar untuk menemuinya. Setelah Tamar datang ke kamarnya, Amnon memaksa Tamar untuk tidur dengannya - dia berpikir bahwa dia menginginkan Tamar karena dia begitu cinta dengan Tamar. 

Namun ternyata, setelah itu, Amnon malah membenci Tamar- ”Kemudian timbullah kebencian yang sangat besar pada Amnon terhadap gadis itu, bahkan lebih besar benci yang dirasanya kepada gadis itu dari pada cinta yang dirasanya sebelumnya. Lalu Amnon berkata kepadanya: “Bangunlah, enyahlah!” (2 Sam 13:15)

Aneh bukan? Amnon yang awalnya seperti sangat mengasihi dan mengingini Tamar, tiba-tiba berubah jadi membenci Tamar. Dan Alkitab bahkan mengatakan bahwa kebenciannya melebihi kasihnya yang sebelumnya. Bukankah ini yang seringkali terjadi di dalam relationship yang dimiliki oleh orang-orang dunia?

Berapa banyak pasangan yang awal masuk relationship kelihatan sangat sweet dan tidak dapat terpisahkan, tetapi setelah beberapa tahun, mereka tiba-tiba berubah menjadi dua orang yang saling membenci satu sama lain. 


Berapa banyak orang-orang yang masuk ke dalam pernikahan dan memutuskan untuk tinggal bersama, tetapi pada akhirnya bercerai dan tidak ingin melihat satu sama lain lagi selamanya. Dari ‘sangat mengasihi’ berubah menjadi ‘sangat benci.’ Mengapa ini bisa terjadi?

Kebenarannya adalah: Mungkin saja ‘kasih’ yang mereka anggap kasih itu, sebenarnya bukanlah kasih, melainkan nafsu. Mungkin saja yang sebenarnya dimiliki oleh mereka bukanlah LOVE yang dideskripsikan oleh Rasul Paulus di 1 Kor 13, melainkan LUST.

Yohanes 3:16 mengatakan, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yesus mengatakan bahwa karena Tuhan begitu mengasihi kita, Dia MEMBERI. Mengasihi adalah tentang memberi, bukan mengambil.

Jika di dalam relationship-mu, yang kamu inginkan adalah mengambil, mengambil, dan mengambil - saya berani jamin, relationship-mu tidak akan berjalan dengan lancar dan pada akhirnya akan berakhir pada kehancuran. 


Namun, jika di dalam relationship-mu, yang kamu inginkan adalah memberi, memberi, dan memberi - saya yakin relationship-mu akan berjalan lebih baik dan kemungkinan besar akan bertahan.

Jika relationship kita sebenarnya didasari oleh LUST, relationship kita pasti nantinya akan runtuh. Tetapi jika relationship kita sebenarnya didasari oleh LOVE, relationship kita pasti nantinya akan bertahan.

Relationship yang benar bukanlah tentang dua orang yang berharap akan dipuaskan satu dengan yang lain, melainkan relationship yang benar adalah tentang dua orang yang saling memberi yang terbaik kepada satu sama lain.


Yang mampu memuaskan kita di dalam hidup bukanlah pasangan kita! Melainkan hanya Tuhan! Jika kamu masih bersikeras meminta kepuasan dari pasanganmu, maka Goodluck, semoga kamu berhasil. Saya hanya dapat mengingatkan bahwa tidak ada yang dapat memuaskan di dalam hidup kecuali Tuhan. 


Jika dirimu sudah dipenuhi dan dipuaskan oleh Tuhan, barulah kamu juga dapat memberikan kasih yang sesungguhnya kepada pasanganmu. Semakin dekat hubunganmu dengan Tuhan, semakin kamu dapat mengasihi pasanganmu dengan unconditional love, semakin kamu dapat memberi tanpa meminta imbalan, dan semakin kamu dapat menghargai relationship kamu.

Ketika dunia mengatakan LOVE, yang mereka maksudkan adalah LUST. Tetapi ketika Tuhan mengatakan LOVE, yang Tuhan maksudkan adalah unconditional love—mengasihi sebagaimana Dia telah mengasihi kita. Kasih yang memberi, kasih yang tidak meminta imbalan, dan kasih yang bertahan hingga akhir.



Nafsu terasa seperti cinta sampai tiba saatnya untuk berkorban. Keinginan cinta adalah memberi, tetapi keinginan nafsu adalah mengambil.


3 mentalitas untuk memiliki relationship yang benar

Jika kita membaca Alkitab, kita akan menemukan hikmat-hikmat yang sangat luar biasa dan yang sangat mampu mengubah hidup kita. Maka itu sangatlah penting untuk membaca Alkitab setiap hari jika kita ingin memiliki hidup yang lebih baik

Dan sebenarnya, pelajaran-pelajaran dari Alkitab bukan hanya berguna untuk kehidupan personal kita, melainkan juga sangat berguna untuk kehidupan relationship setiap dari kita. 

Setelah membaca Alkitab, saya mendapatkan tiga pelajaran penting yang menurut saya sangatlah berguna untuk kehidupan relationship setiap dari kita. Berikut adalah tiga mentalitas yang harus kita miliki di dalam relationship:

1. Memberi dan bukan mengambil

“Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (Kisa 20:35)

Permasalahan yang kebanyakan pasangan miliki adalah, mereka berpikir relationship adalah tentang, “Kamu sekarang adalah milikku, sehingga kamu harus memberikanku yang terbaik.” Padahal seharusnya relationship adalah tentang, “Aku sekarang adalah milikmu, sehingga aku akan memberikanmu yang terbaik.”

Ingatlah apa yang Tuhan sering katakan tentang kasih. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan (memberi) Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16). Kasih adalah tentang memberi.

Relationship yang bertahan bukanlah relationship yang berisikan dua orang yang saling meminta, meminta, dan meminta; melainkan, relationship yang bertahan adalah relationship yang berisikan dua orang yang saling memberi, memberi, dan memberi. 

Percaya deh, kalimat “lebih berbahagia memberi daripada menerima” bukanlah sekedar sebuah kalimat cantik yang bisa kita post di Instagram, melainkan merupakan pegangan hidup yang dapat sungguh-sungguh membuat hidup kita menjadi lebih baik.

2. Tuhan dan bukan hawa nafsu

Yang sudah berada di dalam relationship, ayo coba cek - dasar, alasan, dan tujuan relationship kamu apa sih? Apakah Tuhan? Ataukah hawa nafsu?

Ingatlah bahwa Tuhan tidak akan memberkati dan tidak akan menyertai hubungan yang dikuasai oleh hawa nafsu. Jika kita memiliki relationship yang dikuasai oleh hawa nafsu dan bukan Tuhan, tentu pada akhirnya kita hanya akan bertemu dengan kehancuran. 

Banyak relationship yang pada akhirnya hancur karena dasar, alasan, dan tujuannya salah. Jika kamu ingin memiliki relationship yang mampu bertahan hingga akhir, kamu harus membangunnya pada fondasi yang tepat, yaitu fondasi yang dinamakan Tuhan. Lebih dari itu, kamu juga harus berjalan menuju tujuan yang tepat pula, yaitu tujuan yang dinamakan memuliakan Tuhan.

“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam RELATIONSHIP-MU. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga RELATIONSHIP-MU tidak berbuah, jikalau RELATIONSHIP-MU tidak tinggal di dalam Aku.

Akulah pokok anggur dan RELATIONSHIP-MUlah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku RELATIONSHIP-MUtidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.” (Yohanes 15:4-6) 

3. Kasih karunia dan bukan hukum Taurat

Hukum taurat mengatakan bahwa hukuman akan datang bila kesalahan dilakukan. Tetapi kasih karunia mengatakan bahwa pengampunan tersedia bahkan ketika kesalahan dilakukan. Relationship yang baik adalah relationship yang memegang kasih karunia dan bukan hukum taurat.

Tentu ketika pasangan kita melakukan kesalahan, kita memiliki hak untuk marah. Namun, jangan sampai kita malah menghujat, memukul, dan menghukum. Ketika pasangan kita melakukan kesalahan, lebih baik kita mengoreksi dengan baik-baik (di dalam kasih). Seperti yang saya suka katakan: “Penghakiman tidak pernah dapat mengubah apa-apa, tetapi kasih dapat mengubah segalanya.”

“Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” (Yoh 3:17)

Ingatlah bahwa Tuhan Yesus pun menyelamatkan kita bukan dengan penghakiman, melainkan dengan kasih. Maka itu, selamatkanlah juga relationshipmu bukan dengan penghakiman, melainkan dengan kasih.


Relationship goals pengikut Kristus

Saya yakin setiap dari kita sudah sering mendengar atau mengatakan sebutan relationship goals. Relationship goals biasanya kita tujukan kepada sebuah pasangan yang kelihatannya sweet banget, lengket banget, atau cocok banget. 

Namun, melalui pengalaman saya, saya menemukan banyak sekali pasangan-pasangan yang dulunya pernah disebut-sebut sebagai relationship goals malah akhirnya berakhir tragis. Mereka yang dulunya terlihat sweet, lengket, dan cocok, kini malah terlihat sebagai dua orang yang sudah tidak mengenal satu sama lain. 

Apa yang terjadi? Jadi apakah relationship seperti itukah yang kita ingin sebut sebagai relationship goals kita? Sebuah relationship yang hanya terlihat mengasikkan di awal tetapi berakhir dalam kehancuran?

Pada renungan hari ini, kita ingin belajar akan apa yang dinamakan relationship goals sejati. Bukan relationship goals yang sering dibicarakan oleh dunia, melainkan relationship goals yang sering dibicarakan di Alkitab. Jadi seperti apakah relationship goals yang benar menurut Alkitab? Untuk mengetahuinya, kita harus terlebih dahulu membahas tentang kasih yang benar.

Alkitab mengatakan bahwa hal terpenting yang harus kita miliki adalah kasih. Kasih yang Alkitab bicarakan ini bukanlah kasih yang bersyarat seperti yang dunia miliki, melainkan kasih yang tidak bersyarat seperti yang Tuhan miliki.


“Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian. Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak.

Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.” (Lukas 6:33-35)

Dunia mungkin mengajak kita untuk berbuat baik hanya kepada orang yang berbuat baik kepada kita; namun Tuhan mengajak kita untuk berbuat baik juga kepada orang yang berbuat jahat kepada kita. 

Dunia mungkin mengajak kita untuk hanya mengampuni orang yang mampu menebus kesalahannya; namun Tuhan mengajak kita untuk juga mengampuni orang yang kelihatannya tidak layak sama sekali untuk diampuni. 

Dunia mungkin mengajak kita untuk hanya memberi kepada orang yang mampu membalas pemberian kita; namun Tuhan mengajak kita untuk juga memberi kepada orang yang tidak mampu memberikan apa-apa kepada kita.

Ini lah kasih yang harus kita pegang di dalam relationship kita, kasih yang tidak bersyarat - kasih yang tidak ditentukan oleh performa yang dikasihi, melainkan kasih yang ditentukan oleh komitmen yang mengasihi.

Kebenarannya, sewaktu-waktu pasangan kita pasti akan gagal memenuhi ekspektasi kita, dan sewaktu-waktu kita pun pasti akan gagal memenuhi ekspektasi pasangan kita. Dan ketika hal ini terjadi, kasih bersyarat tidak akan mampu mempertahankan relationship yang ada. Namun, kasih yang tidak bersyarat pasti mampu mempertahankannya.

Ketika kasih yang bersyarat mengatakan, “Aku sudah tidak mengasihimu karena . . . “

Kasih yang tidak bersyarat mengatakan, “Aku tetap mengasihimu meskipun . . . “

Ini lah kasih yang Tuhan selalu bicarakan dan kasih yang Tuhan telah demonstrasikan kepada kita. “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kitaketika kita masih berdosa” (Rm 5:8). Dalam kata lain, Tuhan mengasihi kita, bahkan ketika kita tidak layak mendapatkan kasih-Nya sama sekali.

Dan seperti ini lah kasih yang Tuhan ingin agar kita miliki dan kita berikan kepada pasangan kita. “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh 15:12). Relationship goals yang tepat adalah sebuah relationship yang memiliki kasih yang tidak bersyarat seperti yang diajarkan oleh Tuhan.

Relationship goals yang tepat adalah relationship yang memiliki Tuhan sebagai pusatnya.

Relationship yang tepat adalah relationship antara dua orang yang mengasihi Tuhan, dimana Tuhan adalah kepala relationshipnya. Ini sangatlah penting, karena jika relationship tidak dipimpin oleh Tuhan, berarti ada hal lain yang memimpinnya; dan biasanya hal lain ini adalah hawa nafsu. Dan kita semua tahu bahwa hawa nafsu tidak akan pernah dapat mempertahankan relationship yang sehat, melainkan hanya akan menjadi parasit yang merengut habis kesehatan dari sebuah relationship.

Satu-satunya cara agar sebuah relationship dapat bertahan dengan sehat adalah jika Tuhan yang memimpin relationship tersebut. Alkitab mengatakan berkali-kali bahwa Tuhan adalah kasih. Maka itu, tidak mungkin ada sebuah pasangan yang dapat sungguh-sungguh mengasihi sesama dengan benar jika Yesus bukanlah kepala dari relationship mereka.

Berikut adalah hal-hal yang sebuah pasangan dapat lakukan agar relationshipnya terus berjalan di bawah pimpinan Tuhan:

- Berdoa dan membaca Alkitab bersama sebelum tidur.

- Mendoakan satu sama lain agar dapat lebih dekat dengan Tuhan.

- Mengingatkan satu sama lain untuk terus mengikuti ajaran Tuhan.

Kebenarannya, seseorang yang sudah mengenal Tuhanmengasihi Tuhan, dan menjadikan Tuhan sebagai pusat dari hidupnyapasti akan memiliki pemikiran dan sikap hati yang benar di dalam relationship


Dia tidak akan mencari kepuasan dari pasangannya, melainkan sudah menemukan kepuasan dari Tuhan. Sehingga, dia juga dapat mengasihi pasangannya dengan kasih yang meluap dan sejati yang telah dia miliki dari Tuhan. Maka itu, sangat penting untuk terus melibatkan Tuhan di dalam relationship kalian.

(Sumber: @gracedepth)



Minggu, 16 Desember 2018

Kisah artis Hollywood memilih menjadi biarawati



Dolores Hart, gadis yang menolak Elvis Presley

Dolores Hart di cium untuk pertama kalinya oleh seorang pria dalam usia 18 tahun. Bukan dicium oleh sembarang pria, melainkan oleh Elvis Presley. Pada saat itu, ia turut berperan dalam film Loving You bersama dengan Elvis. Setelah adegan ciuman tersebut, Elvis jatuh cinta kepada Dolores. Sehingga Elvis mengajak Dolores untuk turut main film lagi dalam film berikutnya, King Creole. Elvis juga pernah mencoba merayunya, agar dia bersedia menjadi istrinya, tetapi Dolores menolak.

Bukan hanya sekali itu saja Dolores beradu peran dalam film, dengan pria-pria papan atas yang hebat-hebat. Dia pernah berakting bersama Robert Wagner, George Hamilton, maupun Montgomery Clift , tetapi tidak ada satupun yang bisa membuat dia tertarik.

Pada tahun 1961, ia turut bermain dalam film Francis of AssisiDi situ ia memerankan Santa Klara dari Asisi, putri seorang bangsawan yang kaya raya, tetapi memilih untuk hidup dalam kemiskinan dan mengabdikan dirinya untuk jadi pengikut Santo Fransiskus Asisi.

Pada saat pembuatan film tersebut di Roma, Dolores bertemu dengan Paus Yohanes XXII. Di situ ia memperkenalkan dirinya kepada Paus, “Saya adalah Dolores yang memerankan Klara”. Paus menjawab dengan lembut dalam bahasa Itali : “Tu sei Chiara” = Tidak, Anda adalah Klara.

Ucapan dari Paus tersebut mempengaruhi dirinya sedemikian rupa, seakan-akan ia mendapat panggilan untuk mengabdikan dirinya buat Tuhan.

Oleh sebab itulah ia memilih judul "The Ear of the Heart, An Actress’ Journey From Hollywood to Holy Vows" sebagai judul dari otobiographinya.

Dua tahun kemudian, setelah ia merampungkan film terakhirnya, “Come Fly With Me”, dalam usia 24 tahun ia meninggalkan kariernya sebagai bintang filmIa memilih untuk menjadi biarawati dan hidup dalam kesederhanaan.

Bahkan penawaran terakhir yang ia dapatkan untuk menjadi partner dalam film bersama Marlon Brando, ditolaknya. Pada saat itu Dolores Hart merupakan pemain film dengan honor tertinggi. Maka tidaklah heran apabila Dolores Hart sering disamakan dengan Grace Kelly.

Bukan saja dari segi kecantikkannya, tetapi juga kepiawaiannya dalam bermain film. Grace Kelly meninggalkan dunia perfilman untuk menjadi ratu di Monaco, sedangkan Dolores mengabdikan dirinya menjadi biarawati.

Dengan menjadi seorang biarawati, Dolores memilih bukannya untuk dilayani melainkan untuk melayani dan hidup dalam penuh kesederhanaan.

Di tahun 1970 ia melakukan sumpahnya yang terakhir (kaul kekal) untuk menjadi suster dengan nama Mother Dolores.

Hingga kini ia masih sering ditanya kenapa ia memilih Tuhan daripada Elvis? Ia menjawab ringan, "God is bigger than Elvis.”

Untuk ini telah dibuatkan film dokumenter mengenai Mother Dolores dengan judul tersebut diatas. Film ini pernah dinominasikan sebagai pemenang Oscar.

Di samping itu masih saja banyak orang yang tetap penasaran untuk mengetahui bagaimana rasanya dicium untuk pertama kalinya oleh Elvis ? 

Ia menjawab, "Itu hanya pengalaman tidak lebih dari 15 detik saja dari kehidupan saya, jadi tidak ada istimewanya yang perlu dikenang." 

Dolores Hart yang memilih untuk menjadi mempelai Kristus daripada mempelai Elvis.

Kamis, 13 Desember 2018

Menganalisa suatu masalah




Foto ini adalah "nyata", Anda akan menemukan batu menggantung di udara. Ini adalah satu foto, bukan dua foto dan tidak ada yang perlu dinaikkan atau dipegang. "Coba telepon Anda dibalik" , maka Anda akan menemukan bahwa batu itu berada di tepi sungai.

Pesan dari gambar ini: kadangkala kita melihat suatu masalah hanya dari satu sudut pandang saja, ketika kita mau melihat dari "beberapa sudut pandang lainnya maka kita akan temukan jawaban dari sebuah masalah".


Rabu, 12 Desember 2018

22.53 -

Doa melalui Santa Perawan dari Guadalupe




Santa Perawan dari Guadalupe, pelindung para janin, kami mohon doamu bagi setiap anak yang berisiko diaborsi.

Bantulah para calon orang tua untuk menyambut hadiah tak terhingga dari Allah berupa kehidupan anak-anak mereka.

Hiburlah orang tua yang telah kehilangan karunia itu akibat aborsi, dan menuntun mereka kepada pengampunan dan penyembuhan melalui Rahmat Ilahi Puteramu.

Ajarilah kami untuk menghargai dan merawat keluarga dan para sahabat sampai saat Tuhan memanggil mereka pulang.

Bantulah kami untuk tidak pernah melihat orang lain sebagai beban. 

Bimbinglah para pejabat publik kami untuk menjaga setiap kehidupan manusia melalui hukum yang adil.

Ilhamilah kami semua untuk mewujudkan iman kami ke dalam kehidupan publik, untuk berbicara bagi mereka yang tidak bisa bersuara.

Kami memohon ini dalam Nama Puteramu, Yesus Kristus, Sang Cinta dan Belas Kasih itu sendiri. Amin.