Tampilkan postingan dengan label *Karunia*. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *Karunia*. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Juni 2020

08.08 -

Karunia Sabda Pengetahuan dan Nubuat



Karunia sabda pengetahuan dan nubuat adalah karunia Roh Kudus yang sangat berharga dalam pelayanan. Karunia ini akan sangat membantu dalam pelayanan konseling, terutama pelayanan penyembuhan batin, pertobatan, pembebasan, penyembuhan fisik, dan juga dalam kebangunan rohani atau KRK dll. Seperti dalam 1 Kor 12: 8b: “… kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan.”

Melalui karunia ini Allah mengungkapkan suatu situasi khusus, yang sudah terjadi, atau apa yang sedang terjadi pada saat ini dalam sejarah hidup seseorang. 

Berkat pernyataan Allah itu, seseorang dapat menemukan akar persoalan, penyebab suatu kebekuan hati, dosa yang tersembunyi, atau pengetahuan suatu penyembuhan baik penyembuhan fisik maupun batin

Seringkali karunia ini dinyatakan lewat pikiran, berupa kata-kata, gambar/penglihatan (visiun), atau perasaan yang pasti (keyakinan). Kita memiliki kepastian tentang hal itu, walaupun kita tahu bahwa itu tidak berasal dari kita, tetapi dari Roh Kudus yang bekerja dalam diri kita. Contoh: pertobatan dan penyembuhan batin Wanita Samaria, oleh sabda pengetahuan Yesus.

Kisah Wanita Samaria (Yoh 4: 1-42)

Pada waktu panas terik dan suasana di sumur sudah sepi, Wanita Samaria pergi ke sumur Yakub untuk menimba air. Mungkin ia pernah beberapa kali pergi ke sumur pagi-pagi bersama wanita-wanita lain yang menimba air, tetapi wanita-wanita yang berjumpa dengannya, selalu menatapnya dengan sikap penuh curiga dan kejijikan. Hal ini tentu menyedihkan ketika ia sering mendengar orang-orang berbicara mengenai kehidupannya yang memalukan dan dia dikenal sebagai wanita pendosa, oleh sebab itu masyarakat sangat merendahkan dan menjauhi dia.

Pada siang terik itu, Yesus yang sangat letih oleh perjalanan, duduk di pinggir sumur. Wanita ini tak menyangka sebelumnya akan bertemu dengan Yesus. Di tepi Sumur Yakub itu Yesus dan wanita Samaria bercakap-cakap dari hati ke hati. Dari pembicaraan itu, Yesus menyingkapkan seluruh rahasia kehidupannya. Ia mengenal dan mengetahui kehidupan pribadinya yang terdalam.

“Kata Yesus kepadanya: ‘Pergilah, panggilah suamimu, dan datanglah ke sini.’ Kata perempuan itu: ‘Aku tidak punya suami.’ Kata Yesus kepadanya: ‘Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar.’ Kata perempuan itu, ‘Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi.’” (Yoh 4: 16-18, Sabda pengetahuan Yesus)

Yesus sungguh Seorang Pribadi yang mengagumkan. Dia penuh kasih, lemah-lembut, dan murah hati, walaupun Ia mengetahui dosa-dosa yang telah diperbuat Wanita itu, namun Ia memancarkan kerahiman Allah yang menghangatkan hatinya yang beku. Ia menerima wanita itu apa adanya dan mengasihinya sehingga Ia tidak ingin wanita itu binasa oleh dosa-dosanya. Yesus melihat dalam diri Wanita Samaria ini suatu potensi untuk berubah, suatu potensi untuk berkembang menjadi lebih baik. Yesus memberi kesempatan kepadanya untuk bertumbuh dalam kasih. Tidak seperti masyarakat yang seringkali memberi cap-cap yang mematikan. Yesus memberikan kasih-Nya yang tanpa syarat, maka Wanita Samaria itu terpesona oleh-Nya dan menanggapi kasih-Nya.

Perjumpaan pribadi dengan-Nya pada hari itu menjadi awal pertobatannya, mengubah hidupnya, menyembuhkan batinnya yang terluka, perjumpaan dengan Yesus di siang hari itu memberikan kehidupan baru kepadanya.

Karena sukacitanya, Wanita Samaria ini menceritakan kepada orang-orang sekampungnya bahwa ia telah bertemu dengan Mesias dan banyak orang menjadi percaya kepada-Nya Yoh 4: 29: “Mari, lihat. Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat…”

Yesus mengetahui masa lalu dan seluruh kehidupan wanita Samaria itu. Yesus membuka seluruh rahasia hidupnya melalui sabda pengetahuan. Yesus menunjukkan dosa-dosa, kebobrokan moral dan kehancuran yang dialami dalam hidupnya. Yesus menerangi hatinya, bahwa wanita itu membutuhkan pertobatan, pengampunan dan penyembuhan. Kasih dan rahmat selalu ada tetapi kadang-kadang kehancuran dalam diri seseorang terlalu berat, sehingga menghambat masuknya kasih Tuhan secara penuh

Sabda pengetahuan adalah karunia Allah yang dapat membawa keluar luka-luka batin, trauma-trauma yang tersembunyi dan perasaan-perasaan negatif kepada terang Kristus, untuk disembuhkan dan dipulihkan. 

Buah karunia sabda pengetahuan:

Wanita Samaria ini menanggapi kasih Yesus, sehingga ia mengalami kesembuhan, iman yang lebih mendalam, damai dan sukacita, pengalaman kasih Allah yang memperbaharui hidupnya, kekuatan dan penghiburan Roh Kudus yang melampaui segala sesuatu, memaklumkan Yesus sebagai Tuhan, memuji dan menyembah Allah.

Hal-hal umum tentang karunia sabda pengetahuan:

Karunia sabda pengetahuan membantu kita dalam pelayanan untuk membebaskan umat dari belenggu dosa, dan luka-luka batinnyaMenemukan akar masalah yang tersembunyi di hati umat-Nya. Merupakan diagnosa Tuhan, manusia melihat bagian luar tetapi Tuhan melihat hati, keberadaan manusia diketahui Tuhan lahir batin.

Sabda pengetahuan penting untuk pelayanan penyembuhan batin: manusia 90% terdiri dari alam bawah sadar, tidak diketahui apa yang terjadi di sana, terkubur di bawah sadar, tetapi Tuhan tahu dan dapat melacak serta memberitahu kepada kita apa yang terjadi dan apa yang dibutuhkan oleh orang itu, kita dibimbing untuk menemukan akar penyebab luka batin.

Karunia sabda pengetahuan erat kaitannya dengan karunia penyembuhan, amat mendukung untuk pelayanan penyembuhan, baik penyembuhan fisik maupun batin.

Sabda pengetahuan menyanggupkan pelayanan Yesus Kristus tersalur melalui kita, kita menjadi alat untuk menyalurkan kasih Tuhan.

Sabda pengetahuan mempunyai efek penginjilan: membawa banyak orang percaya kepada Yesus, Sang Juruselamat dunia.

Berbicara tentang sabda pengetahuan dan nubuat, mengingatkan pengalaman saya sewaktu mengikuti Retret Karunia Roh Kudus di Lembah Karmel setahun lalu. Dulunya saya sering mempunyai feeling (insting) yang kuat tentang sesuatu dan dengan selang waktu yang singkat sering terbukti kebenaran insting saya itu, tetapi saya sering bingung tentang arti dari insting tersebut. 

Saya disadarkan memiliki karunia sabda pengetahuan saat saya mengikuti pengarahan dari Suster sewaktu workshop karunia dalam retret. Pada waktu itu, peserta retret dibagi dalam kelompok dan diajak untuk membentuk satu lingkaran lalu kami saling mendoakan berdua-dua dengan meletakkan tangan pada orang di sebelah kanan saya. 

Orang yang saya doakan adalah seorang ibu yang tidak pernah saya kenal sebelumnya, dimana ibu itu terlihat muram dan menangis tersedu-sedu tanpa saya tahu penyebabnya. Kemudian, saya berdoa dalam hati dengan penuh kerinduan mau dipakai sebagai alat kecil Tuhan untuk menyampaikan sabda-Nya dan saya bertanya apa yang ingin Tuhan katakan pada ibu ini. 

Sewaktu saya masuk dalam keheningan dan mengarahkan diri pada Yesus, saya melihat dalam imaginasi iman bahwa ibu itu sedang marah-marah sambil menangis. Setelah itu, kami diajak untuk mensharingkan apa yang saya lihat tadi dengan orang yang saya doakan untuk menguji kebenarannya. 

Namun perlu diingat, bahwa cara penyampaian kita perlu bijaksana dan hati-hati dalam mengungkapkannya. Kemudian saya bertanya pada ibu itu: “Ibu, apakah ibu sedang marah dengan seseorang?” Lalu ibu itu menjawab: “Benar”. Kemudian saya berkata: “Tolong ampuni orang itu ya, Bu”. Lalu seketika ibu itu terlihat lebih tenang dan berhenti menangis, dia pelan-pelan menjawab: ”Iya, memang saya masih belum bisa mengampuninya”.

Hal serupa juga terjadi saat saya memperoleh karisma Nubuat. Dalam pertemuan sel khususnya saat sesudah senandung Bahasa Roh (saat hening), saya sering merasa terkagum sekaligus heran dengan teman-teman satu sel saya yang memiliki karunia bernubuat. Mereka dapat menyampaikan suatu pesan dengan kalimat yang cukup panjang terkadang berupa cuplikan ayat Kitab Suci yang membawa efek menenangkan ataupun menampar saya karena yang mereka sampaikan sesuai dengan kondisi saya saat itu. 

Awalnya saya menutup diri dengan berkata dalam hati bahwa saya tidak mungkin bisa seperti mereka. Suatu ketika, saya berada dalam pertemuan sel yang anggotanya cukup pasif dalam penyampaian nubuat ataupun sabda pengetahuan. Hal ini mendorong saya untuk berdoa kepada Tuhan agar Tuhan mau memakai saya jika Dia ingin menyampaikan Sabda-Nya. 

Dalam keheningan doa dalam sel, suatu kali saya melihat sebuah kata “Serahkanlah” dan seketika itu saya melihat kata-kata itu ditujukan untuk salah satu teman sel saya yang terlihat murung. Meskipun ada rasa ragu dan takut yang sering mengganggu, saya merasa ada dorongan kuat untuk menyampaikan hal itu. Kemudian dengan iman, saya berani melangkah untuk berkata-kata dengan tegas: “Serahkanlah kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Dialah yang memelihara kamu”. Setelah menyampaikan nubuat itu, barulah saya merasa sedikit lega. 

Saya menyadari bahwa hal itu sungguh berasal dari Tuhan ketika sesi sharing, teman saya yang ada dalam penglihatan saya tadi berkata: “Sewaktu kamu menyampaikan kalimat Serahkanlah kekuatiranmu pada Tuhan, saya merasakan ada kedamaian dalam hati karena memang sebelumnya saya sedang mengalami banyak kekuatiran dan ketakutan, Terima kasih ya”. 

Dan sharing dari teman saya tentang apa yang dia rasakan ini yang meneguhkan saya untuk menyadari karunia ini dan mau merindukannya untuk dipakai dalam membangun jemaat (dalam hal ini teman satu sel).

Bagaimana kita bisa mempersiapkan diri untuk menerima karunia ini? 
- Memupuk hubungan pribadi dengan Tuhan agar kita menjadi lebih peka.
- Membaca dan mempelajari buku mengenai karunia-karunia Roh Kudus, mendambakannya, juga mendengarkan sharing-sharing dari orang-orang yang sudah berpengalaman dalam karunia ini
- Berdoa mohon kepada Tuhan agar diberi karunia ini, serta berani bertindak atau melangkah dalam iman.

Rabu, 03 Juni 2020

05.29 -

Mengenali cinta, bakat, karunia dan misi Tuhan

Terhadap ORANG LAIN, kita sering IRI pada PRESTASINYA, CEMAS pada KEAKRABANNYA, GUNDAH pada KEMAMPUANNYA. Kata Yesus kepada Petrus, ITU BUKAN URUSANMU, tetapi kamu ikutlah Aku" (Yoh 21:20-25).

TUHAN MENCINTAI dan MENILAI KITA TANPA MEMBANDINGKAN dengan orang lain. Maka PERLU MENGENALI CINTA, BAKAT, KARUNIA, MISI KHAS yang DIBERIKAN TUHAN untuk kita masing-masing.

Apakah saya SUDAH MENSYUKURI KARUNIA dan MISI Tuhan untuk saya?

(Rm Handoko)

Kamis, 17 Oktober 2019

05.51 -

Menghidupi semangat kenabian sebagai murid Kristus yang memasyarakat



Kitab Yunus ditulis di Palestina sekitar abad V SM, saat orang-orang Yahudi masih memulihkan diri dari pembuangan Babel. Tahun 538 SM, Koresy, Raja Persia yang mengalahkan Babel, mengijinkan orang-orang Yahudi kembali ke Yerusalem untuk membangun kembali Bait Suci. 

Orang-orang Yahudi yang kembali ini yakin bahwa mereka telah menderita pembuangan karena ketidaksetiaan mereka kepada Tuhan

Sebagai akibatnya, mereka mengembangkan sikap ekslusif dan kaku dalam mentaati hukum Taurat sebagai warisan yang telah diberikan Allah kepada nenek moyang mereka. Mereka menghindari segala hal yang dapat menjauhkan mereka dari Tuhan

Berkat kasih-Nya, Allah tidak mau membiarkan Israel tanpa arah, apalagi tersesat. Saat Israel menyimpang dari jalan yang dikehendaki-Nya, bahkan meninggalkan perjanjian-Nya, Allah mengingatkan mereka. Ketika Israel dirundung kesedihan, Ia menghibur mereka; ketika umat kehilangan semangat, Ia membangkitkan semangat dan harapan mereka

Bagaimana Allah menyampaikan kehendak-Nya dan melakukan itu semua? Tentu saja Ia tidak langsung berbicara kepada mereka. Allah mengangkat orang-orang tertentu menjadi juru bicara. Mereka inilah yang kita kenal sebagai nabi. Nabi adalah utusan Allah di tengah umat untuk menyampaikan pesan-Nya kepada mereka. 

Jadi, nabi hadir sebagai bentuk penyertaan dan bimbingan Allah bagi umat-Nya. Tak jarang saat masih hidup dan berkarya para nabi mengalami penolakan, namun mereka mengatakan apa yang dikehendaki oleh Allah tanpa peduli apakah kata-katanya didengar atau tidak. 

Nabi mempersiapkan jalan bagi-Nya, untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka (Luk 1:76-77). 

Allah bisa memilih siapa saja yang dikehendaki menjadi utusan atau juru bicara-Nya menyampaikan firman Allah kepada manusia (Ul 18:18; Yer 1:9; Kel 4:14-17). Misalnya: Amos adalah peternak dan pemungut buah ara di hutan (Am 7:13), Yehezkiel dan Yeremia adalah golongan imam (Yeh 1:3; Yer 1:1). Yesaya berasal dari golongan atas dalam masyarakat (Yes 7:3). 

Mereka mengingatkan bahwa Allah tidak dapat dibodohi dengan agama dan ibadat formalitas atau institusional. Allah meminta keadilan dan kekudusan dari umat-Nya. Ia tidak bisa berbicara sesukanya, melainkan hanya menyampaikan apa yang dikehendaki Allah dan berbicara sejauh Allah menghendakinya. Kalau Allah tidak menghendaki seorang nabi berbicara, ia akan diam saja, sampai Allah mengutusnya untuk berbicara lagi (Am 3:8; Yes 8:11). 

Seorang nabi tidak boleh berdiam diri saat berhadapan dengan keprihatinan dan harapan masyarakat jika ia mau setia pada penghayatan iman kristianinya sebagai murid Kristus. 

Menghidupi semangat kenabian di tengah masyarakat berarti menghidupi panggilan dan perutusan sebagai murid. Itu berarti kita diundang untuk berani mewartakan dan mewujudkan kehendak Allah di tengah situasi dan persoalan kemiskinan, pluralitas agama serta budaya. 

Nabi sejati kerapkali tidak dengan mudah dan sukarela menerima panggilan itu (Yes 6:6-10). Tak jarang, panggilan kenabian bertentangan dengan kehendak pribadinya (Yer 1:4-10). Perasaan tak pantas atau tak mampu pun kerap dijumpai. 

Firman Allah disampaikan oleh para nabi dengan pelbagai cara. Cara yang paling umum adalah melalui bibir mereka dalam bentuk pewartaan lisan. Namun hidup para nabi pun dapat dipakai oleh Allah untuk menyampaikan kehendak-Nya (Yer 16:1-9; Hos 1:2). 


Panggilan kenabian Yunus 

Seseorang yang diperintahkan untuk pergi harus bergerak dan berjalan sesuai dengan perintah yang diberikan kepadanya. Ke mana pun kita lari dari hadapan-Nya, Allah Mahatahu (Mzm 139:7-10). Jadi, taat pada panggilan Tuhan adalah pilihan terbaik, apapun resikonya. Jika kita menyertakan Kristus, tugas yang berat menjadi berKat bagi orang lain. 

Marilah kita belajar dari Kitab Yun 1:1-17

(1) Datanglah firman Tuhan kepada Yunus bin Amitai, demikian: "Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena (23) kejahatannya telah sampai kepada-Ku." 

Tetapi (2A) Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan Tuhan; ia pergi ke Yafo dan mendapat di sana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan Tuhan

Tetapi (3) Tuhan menurunkan angin ribut ke laut, lalu terjadilah badai besar, sehingga kapal itu hampir-hampir terpukul hancur. (6A) Awak kapal menjadi takut, masing-masing berteriak-teriak kepada allahnya, dan mereka membuang ke dalam laut segala muatan kapal itu untuk meringankannya. Tetapi Yunus telah turun ke dalam ruang kapal yang paling bawah dan berbaring di situ, lalu tertidur dengan nyenyak. 

Datanglah nakhoda mendapatkannya sambil berkata: "Bagaimana mungkin engkau tidur begitu nyenyak? Bangunlah, berserulah kepada Allahmu, barangkali Allah itu akan mengindahkan kita, sehingga kita tidak binasa." 

Lalu berkatalah mereka satu sama lain: "Marilah kita buang undi, supaya kita mengetahui, karena siapa kita ditimpa oleh malapetaka ini." Mereka membuang undi dan Yunuslah yang kena undi. Berkatalah mereka kepadanya: "Beritahukan kepada kami, karena siapa kita ditimpa oleh malapetaka ini. Apa pekerjaanmu dan dari mana engkau datang, apa negerimu dan dari bangsa manakah engkau?" Sahutnya kepada mereka: "Aku seorang Ibrani; aku takut akan Tuhan, (5A) Allah yang empunya langit, yang telah menjadikan lautan dan daratan." 

Orang-orang itu menjadi sangat takut, lalu berkata kepadanya: "Apa yang telah kauperbuat?" - sebab orang-orang itu mengetahui, bahwa ia melarikan diri, jauh dari hadapan Tuhan. Hal itu telah diberitahukannya kepada mereka. 

Bertanyalah mereka: "Akan kami apakan engkau, supaya laut menjadi reda dan tidak menyerang kami lagi, sebab laut semakin bergelora." Sahutnya kepada mereka: (4) "Angkatlah aku, campakkanlah aku ke dalam laut, maka laut akan menjadi reda dan tidak menyerang kamu lagi. Sebab (5B) aku tahu, bahwa karena akulah badai besar ini menyerang kamu." 

Lalu berdayunglah orang-orang itu dengan sekuat tenaga untuk membawa kapal itu kembali ke darat, tetapi mereka tidak sanggup, sebab laut semakin bergelora menyerang mereka. Lalu (6B) berserulah mereka kepada Tuhan, katanya: "Ya Tuhan, janganlah kiranya Engkau biarkan kami binasa karena nyawa orang ini dan janganlah Engkau tanggungkan kepada kami darah orang yang tidak bersalah, sebab Engkau, (6C) Tuhan, telah berbuat seperti yang Kaukehendaki." Kemudian mereka mengangkat Yunus, lalu mencampakkannya ke dalam laut, dan (6D) laut berhenti mengamuk

(6E) Orang-orang itu menjadi sangat takut kepada Tuhan, lalu mempersembahkan korban sembelihan bagi Tuhan serta mengikrarkan nazar. Maka (20A) atas penentuan Tuhan datanglah seekor ikan besar yang menelan Yunus; dan (7A) Yunus tinggal di dalam perut ikan itu tiga hari tiga malam lamanya

» (1, 2A, 3) Akibat dari tidak-ketaatan, mengakibatkanmalapetakabagi dirinya sendiri maupun pada orang yang berada disekelilingnya. Tujuan badai bukan untuk membinasakan tetapi membuat manusia kembali kepada Allah dan bertobat

(4) Yunus bertanggungjawab atas ketidak taatannya. (5AB) Pengakuan iman Yunus. (6A-E) Allah dapat menggunakan ketidak-taatan dan kesaksian hidup untuk menarik orang-orang kepada iman dan kepada Allah (KGK 2044). Ketakutan ilahi inilah yang membuat mereka bertobat dan mengenal Allah yang benar

Ada ketakutan yang baik dan ada ketakutan yang tidak baik. Ketakutan yang bersumber pada keduniaan atau penderitaan fisik tidaklah baik, karena dapat membawanya kepada penderitaan abadi di neraka. Takut akan Tuhan adalah takut akan penghukuman Tuhan, takut bahwa dirinya akan terpisah dari Tuhan untuk selamanya di neraka. Ketakutan pada tahap ini membantu seseorang untuk membawanya kepada pertobatan awal

Dengan bertumbuhnya iman, takut akan penghukuman Tuhan akan berubah menjadi takut akan menyedihkan hati Tuhan, yang didasarkan atas kasih, seperti anak yang tidak ingin menyedihkan hati bapanya. 

Jadi, karunia takut akan Tuhan ini menyadarkan bahwa satu-satunya yang memisahkan seseorang dari Tuhan adalah dosa (Yes 59:2 » segala kejahatan. Kesadaran ini menuntunnya kepada kerendahan hati, membuatnya membenci dosa, menghindari dosa berat dan tidak mau melakukan dosa ringan) dan godaan duniawi (1 Yoh 2:16 » keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup. Kesadaran ini menuntunnya kepada penguasaan diri, belajar untuk membatasi diri dari kenikmatan duniawi). 

Karunia ini sangat penting dalam kehidupan kita, yang menjadikan kita anak-anak Allah yang dipenuhi Roh Kudus. Berkat karunia ini, kita menjadi seperti Kristus, yang berpartisipasi aktif dalam kehidupan Allah Tritunggal Maha Kudus

(Sumber: Renungan KPI TL Tgl 5 September 2019, Dra Yovita Baskoro, MM). 



Pergulatan iman Yunus 

Kesediaan menjawab tugas kenabian kerapkali diwarnai pergulatan akibat kelemahan manusiawi. Percaya kepada  Allah adalah sumber kekuatan dalam menjalankan perutusan kenabian

Marilah kita belajar dari Kitab Yunus 2:1-10

(8A) Berdoalah Yunus kepada Tuhan, Allahnya, dari dalam perut ikan itu, katanya: (9) "Dalam kesusahanku aku berseru kepada Tuhan, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku. 

Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, (10A) ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh (10B) arus air; segala (10C) gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku. Dan aku berkata: telah terusir aku dari hadapan mata-Mu. Mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus? Segala air telah mengepung aku, mengancam nyawaku; samudera raya merangkum aku; lumut lautan membelit kepalaku (10D) di dasar gunung-gunung. Aku tenggelam (10E) ke dasar bumi; pintunya terpalang di belakangku untuk selama-lamanya. Ketika itulah (8D) Engkau naikkan nyawaku dari dalam liang kubur, ya Tuhan, Allahku. 

(8B) Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada Tuhan, dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus. Mereka yang berpegang teguh pada berhala kesia-siaan, merekalah yang meninggalkan Dia, yang mengasihi mereka dengan setia. 

Tetapi aku, dengan (11) ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu; (8E) apa yang kunazarkan akan kubayar. (8C) Keselamatan adalah dari Tuhan!” Lalu berfirmanlah Tuhan kepada ikan itu, dan (7B) ikan itu pun memuntahkan Yunus ke darat. 

» (8A-E) Berada dalam perut ikan yang gelap gulita, Yunus mendapatkan kesempatan untuk berefleksi, ia menyadari kesalahannya dan merasakan kasih Allah yang tiada terukur, ia juga mempunyai iman, percaya bahwa Tuhan akan menyelamatkannya dengan cara yang ajaib, ia teringat akan nazarnya, lalu ia mengucapkan mazmur ratapan. 

Ciri mazmur ratapan: (9) diawali dengan seruan yang ditujukan kepada Tuhan. (10A-E) Keluhan akibat hidupnya terancam, ragam penderitaan dalam ungkapan simbolis yang menunjuk pada ancaman kematian. (11) Doa ini diakhiri dengan ungkapan kepercayaan dan syukur kepada Allah. Ucapan syukur adalah ekspresi iman yang tinggi dari seseorang. 

Bagi orang Israel, ratapan kepada Allah bukanlah tanda keputusasaan. Sebaliknya, ratapan dalam doa adalah tanda kepercayaan bahwa Tuhan adalah sumber keselamatan. Doa ini merupakan doa yang sejati, mencerminkan seluruh perasaan pribadi terdalam manusia

[Baca jugaIbadat Harian

Kata sandi untuk masuk ke pintu gerbang Tuhan adalah ucapan syukur. Dengan mengucap syukur, kita memiliki kunci untuk masuk ke dalam bait-Nya dan juga mengakses segala mujizat-Nya dalam hidup kita (Mzm 100:4). 

Di tempat paling kelam sekalipun, kehadiran Tuhan mendatangkan terang dan ketenangan (Mzm 23:4, 6 » Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku). 

Jika kita merenungkan kebenaran firman Tuhan dan semua yang telah Tuhan kerjakan dalam hidup ini, bibir kita takkan pernah berhenti berkata: “Tuhan itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun” (Mzm 100:5), dan “Bagaimana akan kubalas kepada Tuhan segala kebajikan-Nya kepadaku” (Mzm 116:12). 

Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu (1 Tes 5:18). Jadi, segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita (Kol 3:17). 

Ciri-ciri orang yang mampu mengucap syukur

1. Tetap memuji Tuhan dan berterima kasih kepada Tuhan baik dalam keadaan suka maupun dalam keadaan duka. Ucapan syukur adalah sikap hati yang menerima segala kedaulatan Allah, tercermin dalam perkataan dan sikap hidup yang memuliakan Allah. 

2. Tidak menuduh orang lain atau melempar kesalahan kepada orang lain atas kegagalan, penderitaan atau kesusahan yang dialaminya. 

3. Mau menerima semua keadaan walaupun hal itu tidak sesuai dengan keinginan, tidak sesuai dengan harapan maupun di luar dugaannya. Orang yang mau mengucap syukur adalah tanda dari pribadi yang kuat, karena ia menerima segala hal baik yang sesuai dengan harapannya maupun yang tidak sesuai dengan harapannya

(Sumber: Renungan KPI TL Tgl 12 September 2019, Dra Yovita Baskoro, MM). 


Buah kenabian Yunus 

Seorang nabi diutus untuk mewartakan kehendak Allah dan membawa orang lain kembali kepada Allah. Kehendak Allah adalah untuk menyelamatkan umat-Nya, bukan menghancurkannya. Setiap orang Kristiani dipanggil menjadi saksi pertobatan agar makin banyak orang kembali kepada Allah

Marilah kita belajar dari Kitab Yun 3:1-10

(12A) Datanglah firman Tuhan kepada Yunus untuk kedua kalinya, demikian: "Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu." 

(12B) Bersiaplah Yunus, lalu pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman Allah. Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya. Mulailah Yunus masuk ke dalam kota itu sehari perjalanan jauhnya, lalu berseru: (13) "Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan." 

(14A) Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung. Setelah sampai kabar itu kepada (14B) raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu. Lalu (14C) atas perintah raja dan para pembesarnya orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian: "Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air. Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari (2C) tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya. 

(15) Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa." 

Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka (16) menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Ia pun tidak jadi melakukannya

» (12AB) Meskipun Yunus pernah melarikan diri dari panggilan-Nya, Allah tetap panjang sabar terhadap Yunus, tetap konsisten memanggilnya sebagai nabi untuk Niniwe. Kali ini Yunus taat pada panggilannya. Jadi, sikap hamba Tuhan yang baik harus berkata: “Inilah aku, utuslah aku!” 

Naskah Alkitab seringkali diragukan oleh mereka yang bukan orang percaya, khususnya dalam Kitab Yunus. Ingatlah! “Kesaksian Kitab Suci mengakui dengan suara bulat: Pemeliharaan penyelenggaraan adalah konkret dan langsung; Ia peduli akan segala sesuatu dari kejadian yang paling kecil sampai kepada kejadian-kejadian besar yang membentuk sejarah dunia. Buku-buku suci dengan tegas menekankan kedaulatan Allah yang absolut dalam peredaran kejadian: "Allah kita di surga, Ia melakukan apa yang dikehendaki-Nya" (Mzm 115:3). Dan Kristuslah "yang membuka, dan tidak ada yang dapat menutup, yang menutup dan tidak ada yang dapat membuka" (Why 3:7). "Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi hanya keputusan Tuhanlah yang terlaksana" (Ams 19:21) (KGK 303, 305). 

Jadi, sejarah benar-benar telah membuktikan bahwa iman yang dimiliki oleh kekristenan bukanlah iman yang membabi buta, melainkan kebenaran yang telah diuji melalui kesaksian sejarah

Bukti: Yunus adalah tokoh sejarah yang benar-benar ada dan bukan mitos belaka. Ia adalah putra dari Amitai (1), seorang nabi kerajaan Utara Israel semasa pemerintahan Yerobeam II (2 Raj 14:25, 28). Pelayanannya sesudah masa pelayanan Elisa (2 Raj 13:14-19), bersamaan dengan masa pelayanan Amos (Am 1:1) dan diikuti oleh pelayanan Hosea (Hos 1:1). 

Kedaulatan Allah dapat mematahkan hukum alam: 3 » 6D; 7AB » dapat hidup dalam perut ikan selama 3 hari (Mat 12:40-41 » Injil Matius juga mencatatnya bahwa Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam); 21AD » pohon jarak tumbuh dalam satu malam, apalagi pertobatan Niniwe ini sulit dipercaya (14ABC). 

Dagon adalah dewa ikan yang paling banyak disembah di antara dewa-dewa Mesopotamia dan pesisir Timur Mediterania. Asam pencernaan di dalam perut ikan menyebabkan kulit, rambut dan pakaian Yunus menjadi putih. Pada saat ikan besar itu memuntahkan Yunus ke darat, para saksi mata berpikir bahwa Yunus yang keluar dari mulut ikan lebih hebat daripada dewa yang mereka sembah sehingga mereka langsung taat pada peringatan sederhana yang disampaikan oleh Yunus (13). 

Rancangan Allah adalah rancangan damai sejahtera untuk memberikan hari depan yang penuh harapan (Yer 29:11). Allah Bapa begitu peduli akan kebutuhan-kebutuhan terkecil anak-anak-Nya. Contoh: tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang (Luk 21:18; KGK 305). 

Jadi, firman Allah tidak mungkin gagal (Rm 9:6), pertobatan Niniwe sangat masuk akal jika dikaitkan dengan cara kemunculan Yunus yang luar biasa dari mulut ikan besar di pantai Mediterania serta populernya pemujaan Dagon di wilayah tersebut


(14ABC) Mau diutus untuk memperingatkan sehingga menghasilkan pertobatan skala besar. (15) Puncak pertobatan, berharap pada Allah

(16) Allah adalah Bapa yang pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Pada saat kita bertobat dari kejahatan kita, menyesal, merendahkan diri dengan mengoyakkan hati dan memperbaiki tingkah langkah dan perbuatan kita (berbalik kepada-Nya) maka Allah menyesal akan malapetaka yang diancamkan-Nya atas kita, Ia menyesal karena hukuman-Nya (Yl 2:13-14; Yer 26:13; 18:8; 2 Taw 34:27; 2 Sam 24:16: Kel 32:14). 

[Yer 18:7-10] Ada kalanya Aku berkata tentang suatu bangsa dan tentang suatu kerajaan bahwa Aku akan mencabut, merobohkan dan membinasakannya. Tetapi apabila bangsa yang terhadap siapa Aku berkata demikian telah bertobat dari kejahatannya, maka menyesallah Aku, bahwa Aku hendak menjatuhkan malapetaka yang Kurancangkan itu terhadap mereka. 

Ada kalanya Aku berkata tentang suatu bangsa dan tentang suatu kerajaan bahwa Aku akan membangun dan menanam mereka. Tetapi apabila mereka melakukan apa yang jahat di depan mata-Ku dan tidak mendengarkan suara-Ku, maka menyesallah Aku, bahwa Aku hendak mendatangkan keberuntungan yang Kujanjikan itu kepada mereka. 

Jadi, Tuhan berbelas kasih dan memberi pengampunan bagi yang bertobat (Kel 33:19; Rm 9:15 » Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati). 

Dalam Konsili Vatikan II (LG 16) dikatakan bahwa “Penyelamat menghendaki keselamatan semua orang (1 Tim 2:4). Mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta Gereja-Nya, tetapi dengan tulus hati mencari Allah, dan berkat rahmat-Nya berusaha melaksanakan kehendak-Nya yang mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal

Penyelenggaraan ilahi juga tidak menolak memberi bantuan yang diperlukan untuk keselamatan kepada mereka, yang tanpa bersalah belum sampai kepada pengetahuan yang jelas tentang Allah, namun berkat rahmat ilahi berusaha menempuh hidup yang benar. Sebab apapun yang baik dan benar, yang terdapat pada mereka, oleh Gereja dipandang sebagai persiapan Injil, dan sebagai kurnia Dia, yang menerangi setiap orang, supaya akhirnya memperoleh kehidupan. 

Tetapi sering orang-orang, karena ditipu oleh si jahat, jatuh ke dalam pikiran-pikiran sesat, dan mengubah kebenaran Allah menjadi dusta, dengan lebih mengabdi ciptaan dari pada Sang Pencipta (Rm 1:21, 25). Atau mereka hidup dan mati tanpa Allah di dunia ini dan menghadapi bahaya putus asa yang amat berat

Maka dari itu, dengan mengingat perintah Tuhan: “Wartakan Injil kepada segala makhluk” (Mrk 16:15), Gereja dengan sungguh-sungguh berusaha mendukung misi-misi, untuk memajukan kemuliaan Allah dan keselamatan semua orang


Marilah kita menyebarkan iman Katolik kita, agar seluruh dunia mengetahui kebenaran firman-Nya sehingga semakin banyak orang yang mengikuti jalan-Nya dan mereka juga memperoleh keselamatan yang kekal. 

(Sumber: Renungan KPI TL Tgl 19 September 2019, Dra Yovita Baskoro, MM). 



Kesadaran baru Yunus 

Panggilan Allah tidak dipengaruhi oleh hamba-Nya yang diutus-Nya, apalagi digagalkan untuk menyatakan karakter-Nya (18). Oleh karena itu Allah mendidik Yunus agar ia lebih mengerti kehendak-Nya (21A-D, 22). 

Marilah kita belajar dari Kitab Yun 4:1-11

Tetapi (19A) hal itu sangat mengesalkan hati (17) Yunus, lalu (19B) marahlah ia. Dan berdoalah ia kepada Tuhan, katanya: "Ya Tuhan, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka (2B) aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa (18) Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya. Jadi sekarang, ya Tuhan, (19C) cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup." Tetapi firman Tuhan: "Layakkah engkau marah?" 

(19D) Yunus telah keluar meninggalkan kota itu dan tinggal di sebelah timurnya. Ia mendirikan di situ sebuah pondok dan ia duduk di bawah naungannya menantikan apa yang akan terjadi atas kota itu

Lalu (20B) atas penentuan Tuhan Allah (21A) tumbuhlah sebatang pohon jarak melampaui kepala Yunus untuk menaunginya, (21B) agar ia terhibur dari pada kekesalan hatinya. (21C) Yunus sangat bersukacita karena pohon jarak itu. Tetapi keesokan harinya, ketika fajar menyingsing, (20C) atas penentuan Allah datanglah seekor ulat, yang menggerek pohon jarak itu, sehingga layu

Segera sesudah matahari terbit, maka (20D) atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: (19E) "Lebih baiklah aku mati dari pada hidup." 

Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: "Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?" Jawabnya: (19F) "Selayaknyalah aku marah sampai mati." 

Lalu Allah berfirman: "Engkau sayang kepada (21D) pohon jarak itu, yang untuknya sedikit pun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. (22) Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?" 

» (17) Nama Yunus berarti merpati. Dalam peradaban manusia, burung merpati dipakai sebagai lambang pembawa berita penting dan perdamaian

Namun, ironisnya, (2AB) Yunus berusaha melarikan diri ke Tarsis (dianggap sebagai tempat yang paling jauh atau “ujung dunia” pada masa itu; arahnya bertolak belakang dengan kota Niniwe, ibu kota kerajaan Asyur). 

(18) Kesadaran baru Yunus: Allah itu bukan hakim yang suka membalas kejahatan dengan hukuman yang setimpal melainkan pengasih dan penyayang (Ia ingin menolong semua orang, Ia ikut menderita bersama mereka yang menderita), panjang sabar (Ia tidak ingin menghukum orang fasik), berlimpah kasih setia (Ia baik hati dan mudah merasa iba), menyesal (Ia senang membatalkan rencana penghukuman-Nya ketika orang bertobat (Mzm 103:4; 111:4; 112:4; 145:8). 

(19A-F) Yunus tidak mengabdi pada kehendak Allah tetapi ia hanya mementingkan dirinya dan berusaha membenarkan dirinya (Rm 10:2-3 » giat bekerja untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar, tidak mengenal kebenaran Allah, tidak takluk kepada kebenaran Allah maka berusaha untuk mendirikan kebenarannya sendiri; 2 Ptr 1:5-9 » ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan). 

Meskipun Yunus adalah seorang nabi, namun ia menganggap kerajaan ini tidak layak untuk diselamatkan, karena mereka adalah salah satu musuh Israel yang sangat kejam (23; Nah 3:1; 3:4; 1:11 » kota penumpah darah, banyak persundalan, dursila). 

Yunus sangat kecewa dan putus asa ketika Allah memutuskan mengasihi orang-orang yang bertobat, yang berada di luar bangsanya. Hal ini terjadi karena ada perasaan iri hati di hatinya sehingga dia tidak mau mengampuni musuhnya, kasihnya kurang sempurna (Ezr 9:1-3; 10:10-14; Neh 13:23-30; Ef 4:32; Mat 5:43-45). 

Sebagai anak-anak Allah yang Mahatinggi baiklah kita mengerjakan bagian kita masing-masing, yaitu menjadi rekan sekerja Allah dalam rencana keselamatan (1 Kor 3:9) dan menjadipenjaga bagi saudara kita (Yeh 3:17; Kej 4:9) dimanapun dan kapanpun kita berada. 

[Yeh 3:17-21] Bilamana engkau mendengarkan sesuatu firman dari pada-Ku, peringatkanlah mereka atas nama-Ku. Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Engkau pasti dihukum mati! - dan engkau tidak memperingatkan dia atau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu dari hidupnya yang jahat, supaya ia tetap hidup, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu

Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu dan ia tidak berbalik dari kejahatannya dan dari hidupnya yang jahat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu

Jikalau seorang yang benar berbalik dari kebenarannya dan ia berbuat curang, dan Aku meletakkan batu sandungan di hadapannya, ia akan mati. Oleh karena engkau tidak memperingatkan dia, ia akan mati dalam dosanya dan perbuatan-perbuatan kebenaran yang dikerjakannya tidak akan diingat-ingat, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu

Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang yang benar itu supaya ia jangan berbuat dosa dan memang tidak berbuat dosa, ia akan tetap hidup, sebab ia mau menerima peringatan, dan engkau telah menyelamatkan nyawamu." 

Caranya: saling menolong dan mendoakan (Gal 6:2), memberitakan firman baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasehatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran (2 Tim 4:2). 

Jadi, apabila ada saudara kita yang berbuat dosa, tegorlah dia dengan penuh kasih (Mat 18:15), tuntunlah dia dengan sabar dan lemah lembut, mungkin Tuhan memberikan kesempatan padanya untuk bertobat dan memimpinnya sehingga dia mengenal kebenaran. Ingatkanlah dia, karena sesungguhnya dia tidak sadar ketika melakukan kehendak Iblis, sebab dia telah dijerat dan diikat olehnya (Luk 23:34; 2 Tim 2:25-26). 

(20A-D) Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Rm 8:28; 14:8 » Jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan). 

(21A-D) Tuhan melihat hati Yunus (1 Sam 16:7), maka sebagai Bapa yang baik menghiburnya (2 Kor 1:3 » Allah sumber segala penghiburan ... menghibur) dan menghajarnya (Ibr 12:10), agar umat-Nya juga mempunyai karakter seperti Diri-Nya, yaitu memikirkan orang lain dan nempunyai belas kasihan. 

(22) Tuhan hendak menyadarkan Yunus, kehendak-Nya adalah keselamatan bagi seluruh umat-Nya. Sedangkan kehendak Yunus adalah keselamatan bagi bangsanya saja



Ciri-ciri orang yang masih belum mengenal Allah, tanpa berpikir ditarik kepada berhala-berhala yang bisu, menghambakan diri kepada allah-allah yang pada hakekatnya bukan Allah. Roh perzinahan ada di antara mereka (1 Kor 12:2; Gal 4:8; Hos 5:4). Pikirannya sia-sia (Ef 4:17); hidup dalam rupa-rupa hawa nafsu, keinginan, kemabukan, pesta pora, perjamuan minum dan penyembahan berhala yang terlarang (1 Ptr 4:3; Kol 3:5 - segala sesuatu yang duniawi yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakan; 1 Yoh 2:16 - semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup). 

Jika kita tidak mengenal akan Allah yang benar, maka kita tidak berbeda dengan bangsa Israel. Misalnya, setiap Minggu kita pergi ke gereja, tetapi mulai Senin sampai Sabtu relasi kita dengan Tuhan baik dalam doa maupun perenungan firman tidak kita hidupi dengan baik. Di gereja tampak seperti orang suci, namun ketika tidak dilihat orang, kita sibuk menghambakan diri kepada dosa (tidak ada pertobatan dan perubahan di dalam hidup, hidup penuh dengan kemunafikan). Orang yang sudah pernah mengenal Allah justru lebih sulit bertobat daripada orang yang tidak mengenal Allah

Ciri-ciri orang yang mengenal Allah, yaitu menuruti perintah-perintah-Nya (1 Yoh 2:3), bertobat dengan segenap hati (Yer 24:7), saling mengasihi. Kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah (1 Yoh 4:7). 



Pertobatan ini tidak bertahan lama karena mereka tidak mendengar tentang Allah secara terus-menerus, akibatnya tanpa berpikir panjang mereka ditarik kembali kepada berhala-berhala, menghambakan diri kepada allah-allah yang pada hakekatnya bukan Allah sehingga mereka tidak lagi tidak berseru kepada Allah yang benar (Rm 10:14-15; 1 Kor 12:2; Gal 4:8; Hos 5:4). 

Pada tahun 612 Niniwe hancur (Nah 1:1-14; Zef 2:13 » Ucapan ilahi tentang Niniwe. Ia akan membinasakan Asyur, dan akan membuat Niniwe menjadi tempat yang sunyi sepi, kering seperti padang gurun. ... Tidak akan ada lagi keturunan dengan namamu. Dari rumah allahmu Aku akan melenyapkan patung pahatan dan patung tuangan; kuburmu akan Kusediakan, sebab engkau hina."). 

Niniwe artinya tidak diketahui. Kota ini ditemukan kembali pada abad ke-19 setelah 2.500 tahun menjadi misteri, terkubur di bawah sepasang bukit di sekitar Mosul, yang berada di negara Irak. Gundukan bukit ini dikenal dengan nama setempat sebagai “Kuyunjik” dan “Nabi Yunus”. Penemuan ini menjadi bukti yang luar biasa bagi keakuratan isi Alkitab

(Sumber: Renungan KPI TL Tgl 26 September 2019, Dra Yovita Baskoro, MM).

Sabtu, 28 September 2019

15.47 -

Bahaya karunia karismatik



Apakah Anda percaya pada mujizat? Suster Briege McKenna telah melakukannya. Sejak dia disembuhkan dari radang sendi yang melumpuhkan, dia telah melayani banyak orang sakit di seluruh dunia. Pada suatu hari saat hendak berdoa, ada seseorang yang datang minta tolong padanya untuk mendoakan saudaranya yang sedang sakit keras. Dalam keadaan bingung, dia lalu memutuskan untuk berdoa terlebih dahulu. 

Dalam doanya dia bertanya: “Tuhan, mengapa Engkau tidak mengizinkan aku pergi untuk mendoakan saat ini?” Jawab Tuhan dalam hatinya: “Siapa yang mengutusmu dan yang memberi kuasa? Sebelum kamu melayani, kamu harus terlebih dahulu menimba kekuatan pada-Ku seperti Yesus, Anak-Ku, Ia tidak berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya.” 

Ketika kita berdoa, Allah akan terus-menerus memasukkan spirit-Nya sehingga kita mempunyai keinginan seperti apa yang dikehendaki-Nya (Mzm 80:19; Flp 2:13; Rm 8:26-27). 

Ketika kita menerima kehendak Allah dalam setiap aspek kehidupan kita, kita menemukan bahwa Allah memberikan kita kekuatan, keberanian, dan martabat yang bergema sampai ke sorga. Hal ini bergema sampai ke sorga karena mereka tidak berada jauh darinya sorga segera berada di dalam hati kita (Mother Angelica). 


Marilah kita belajar dari Mat 7:21-23

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan (1) kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami (2A) bernubuat demi nama-Mu, dan (2B) mengusir setan demi nama-Mu, dan (2C) mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" 

» (1) Kehendak Allah adalah kebijaksanaan tertinggi. Oleh karena itu norma tertinggi di dalam kehidupan Kristiani adalah melakukan kehendak Allah. Yesus adalah teladan ketaatan dalam melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Ibr 10:7; Yoh 6:38; 4:34; Flp 2:8). 

Apa yang menjadi “hasrat” (keinginan/harapan yang kuat) Tuhan akan datang seiring dengan pengenalan atas kedaulatan Allah. Ketidakmampuan kita melakukan kehendak Tuhan (tidak taat), bukti kuat bahwa kita kurang mengenal Tuhan dengan benar. Jadi, antara melakukan kehendak Allah dan kehendak sendiri beti (beda tipis). 


(2ABC) Pelayanan karismatik mudah sekali mendapatkan penghargaan dari sesama manusia (Gal 1:10 » masih mau mencoba berkenan kepada manusia, bukanlah hamba Kristus). Oleh karena itu Yesus memberi peringatan keras agar kita tidak “gagal paham” dalam melakukan kehendak Allah. 

Akibat dari “gagal paham” ini menyebabkan kita tergelincir dalam dosa kesombongan, mencuri kemuliaan Tuhan sehingga kita tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Karunia Roh tidak bisa bergerak tanpa otoritas dari pemilik-Nya, yaitu Tuhan

Meskipun kita gagal paham dalam melakukan kehendak Allah, tetapi “mengapa mujizat masih terjadi?” Karena kamu minta sesuatu dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak (Yoh 14:13). 

Ingatlah! Kita hanyalah bejana tanah liat, kesanggupan kita adalah pekerjaan Allah. Ketika kita setia memikul tanggung jawab, giat selalu dalam pekerjaan Tuhan (senang dan rela ... oleh karena Kristus) maka “hukum alamdipatahkan oleh-Nya (giat melakukan pekerjaan, tubuh akan mengalami kelelahan, namun ketika giat melakukan pekerjaan Tuhan, tubuh akan mengalami kebugaran). 

Kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kita (2 Kor 4:7; 2 Kor 3:5; Mat 25:23; 1 Kor 15:58; 2 Kor 12:10). Oleh karena itu janganlah ada kesombongan di hati ketika melayani dengan karunia karismatik, tetapi layanilah seorang akan yang lain oleh kasih (Gal 5:13). 

Jadi, apabila kita telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepada kita, hendaklah kita berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan." (Luk 17:10). 

Setiap orang awam, karena karunia-karunia yang diterimanyamenjadi saksi dan sarana hidup perutusan Gereja sendiri menurut ukuran anugerah Kristus (KGK 913).


(Sumber: Warta KPI TL No. 173/IX/2019 » Renungan KPI TL Tgl 22 Agustus 2019, Dra Yovita Baskoro, MM). 

Sabtu, 20 Juli 2019

07.00 -

Pembunuh potensi



Mahatma Gandi tertarik dengan Kristus, ia sudah membaca Injil sampai katam dan ia juga melakukan apa yang Injil katakan, tetapi ia tidak mau dibaptis karena ia melihat kehidupan sebagian orang Kristen tidak sesuai dengan Injil, katanya: "Yesus saya suka, Injil saya kerjakan. Tetapi saya tidak mau menjadi orang Kristen karena ada sebagian orang Kristen yang tidak melakukan apa yang dikatakan Yesus." Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga melakukannya? 

Seringkali orang-orang Kristen sendiri menjadi penghalang besar bagi orang-orang yang ingin mendekati KristusKarena kita seringkali berkotbah tentang injil yang tidak kita hayatiInilah alasan mendasar mengapa begitu banyak orang di dunia ini yang tidak percaya (Mother Teresa) .

Pengikut Kristus atau orang percaya, bukan otomatis sudah menjadi murid Kristus. Yesus selalu dikelilingi banyak orang, tetapi hanya 12 orang yang terpilih menjadi murid-Nya. Jadi apakah cukup kalau kita hanya menjadi seorang pengikut? Tidak, karena Tuhan Yesus sendiri memerintahkan semua orang menjadi murid-Nya dan juga memuridkan (Mat.28:19). 

Ciri-ciri seorang murid dan pengikut 

1. Pengikut menunggu, murid mencari (Mat 14:13-21 » pengikut: orang banyak itu duduk di rumput; murid: memberi makan, yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan; murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak. Seorang murid tidak menunggu diberkati Tuhan lebih dulu, tapi mau menjadi berkat lebih dahulu). 

2. Pengikut memikirkan diri sendiri, murid berproduksi (Luk.4:42-44 » pengikut: orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Mereka mau Yesus menjadi milik mereka sendiri. Menjadi murid bukanlah untuk ambisi ingin kaya, populer, dsb, tapi untuk berproduksi, yaitu memenangkam jiwa. 

3. Pengikut dibawa, murid dibuat. Untuk menghasilkan pengikut kristus, yang harus kita lakukan adalah membawa injil kepadanya (Rm 10:14-15 » diutus membawa kabar baik, memberitakan-Nya, mereka mendengar tentang Dia, mereka dapat percaya kepada Dia, mereka dapat berseru kepada-Nya). Tapi tantangan sebenarnya adalah apakah kita bisa tetap tinggal di dalam Dia (Yoh 15:4). Itulah yang akan menjadikan kita murid kristus atau sekedar pengikut. 

4. Pengikut mencari pujian, murid berkorban. Ketika dalam mengikut Kristus, kita masih melakukan sesuatu hanya dengan tujuan mencari pujian, maka kita masih dalam level pengikut. Sebaliknya, seorang murid menyadari jika saat ini ia bisa melayani, bahkan berkorban bagi kristus, itu adalah ucapan syukurnya atas Yesus yang telah berkorban lebih dulu untuknya. 

5. Pengikut bisa terjebak pada rutinitas dan tidak menyukai perubahan, murid menyukai perubahan (Yoh 6:60-69 » pengikut: perkataan ini keras – mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Dia karena Yesus tidak berbuat sesuai dengan harapan mereka. Ketika mereka sudah biasa hidup dalam sukacita karena berkat Allah yang melimpah, mereka bisa terguncang bahkan mundur ketika Allah melakukan perubahan dalam hidupnya. Murid: perkataan ini keras – kami telah percaya dan tahu, bahwa ..., tetap setia walaupun ...). 

6. Pengikut mencari dukungan, murid memberi mendukung. Fokus pengikut sering kali masih terbatas pada dirinya sendiri, ia mencari Yesus hanya karena ingin disembuhkan atau dilepaskan dari masalahnya. Tetapi, fokus seorang murid adalah tetap setia pada-Nya dan selalu terlibat dalam pelayanan yang ia lakukan bagi orang lain, bahkan ia rela meninggalkan sanak keluarganya untuk mengikuti Yesus. 

7. Pengikut berbicara di belakang, murid mencari solusi (Kis 61-7 » pengikut: bersungut-sungut, hanya menuntut dan ketika tidak puas lalu bicara di belakang. Tapi seorang murid mau proaktif mencari jalan keluar. Mengapa? Karena mereka merasa memiliki tanggung jawab dan dedikasi untuk kebaikan bersama. 

Kristus telah meninggalkan teladan bagi kitasupaya kita mengikuti jejak-NyaSeorang murid yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya, memberi teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataan kita, dalam tingkah laku kita, dalam kasih kita, dalam kesetiaan kita dan dalam kesucian kita, memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu (1 Ptr 2:21; Yoh 13:15; 1 Tim 4:12; Yes 50:4) 

Sejak dibaptis, kita menjadi milik Kristus dan kita harus menyalibkan daging dengan segala nafsu dan keinginannya (Gal 5:24; Luk 9:23 » harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku). 

Kristus adalah tuan dan kita hamba-Nya (Kol 3:24). Kita telah menjadi pelayan-Nya sesuai dengan pengerjaan kuasa-Nya (Ef 3:7; 1 Kor 7:22; Kol 1:25; Mat 25:15 » diberi talenta/potensi, masing-masing menurut kesanggupannya). 

Marilah kita belajar dari Gideon agar potensi kita tidak terbunuh sehingga rencana Tuhan dapat tergenapi dalam hidup kita

Orang Israel melakukan apa yang jahat di mata Tuhan; sebab itu Tuhan menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Median, tujuh tahun lamanya (Hak 6:1). 

[Hak 6:11-14] Malaikat Tuhan menampakkan diri kepada Gideon dan berfirman kepadanya, demikian: “Tuhan menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani.” Jawab Gideon kepada-Nya: "Ah, tuanku, jika Tuhan menyertai kami, mengapa semuanya ini menimpa kami? ... Lalu berpalinglah Tuhan kepadanya dan berfirman: "Pergilah dengan kekuatanmu ini dan selamatkanlah orang Israel dari cengkeraman orang Midian. Bukankah Aku mengutus engkau!"  

[Hak 8:18-21] Kemudian bertanyalah Gideon kepada Zebah dan Salmuna (raja-raja Median): "Di manakah orang-orang yang telah kamu bunuh di Tabor itu?" Jawab mereka: "Mereka itu serupa dengan engkau, sikap mereka masing-masing seperti anak raja." Lalu kata Gideon: "Saudara-saudarakulah itu, anak-anak ibuku! Demi Tuhan yang hidup, seandainya kamu membiarkan mereka hidup, aku tidak akan membunuh kamu." Katanya kepada Yeter, anak sulungnya: "Bangunlah, bunuhlah mereka." Tetapi orang muda itu tidak menghunus pedangnya, karena ia takut, sebab ia masih muda. Lalu kata Zebah dan Salmuna: "Bangunlah engkau sendiri dan paranglah kami, sebab seperti orangnya, demikian pula kekuatannya." Maka bangunlah Gideon, dibunuhnya Zebah dan Salmuna, kemudian diambilnya bulan-bulanan yang ada pada leher unta mereka . 

» Nama bukanlah hal yang sepele, dapat menunjukkan karakter/kepribadian seseorang. Jadi, “ada arti” yang terkandung di dalam nama seseorang. Gideon (pejuang yang tangguh); Zebah (korban); Salmuna (menarik diri dari perlindungan; Yeter (unggul). 

Gideon adalah pejuang yang tangguh, maka dia membunuh musuhnya, yaitu: Zebah dan Salmuna. 

Musuh yang pertama adalah: Zebah. Pembunuh potensi pertama, yaitu: hati yang tidak mau berkorban. Banyak orang yang mau melayani tetapi mereka tidak mau berjuang untuk memiliki karakter seorang hamba sehingga talenta/potensi mereka terbunuh oleh dirinya sendiri

Seorang hamba yang baik dan setia, tidak tawar hati ketika melayani tuannya karena batinnya dibaharui dari sehari ke sehari (2 Kor 4:1, 16). 

Ciri-ciri karakter hamba yang baik dan setia

1. Selalu siap sedia baik atau tidak baik waktunya (2 Tim 4:2; 2 Tim 2:4 » tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya). 

2. Selalu memperhatikan kepentingan orang lain (Flp 2:3-4; 1 Kor 10:33; Gal 6:10). 

3. Melakukan yang terbaik dengan apa yang dimilikinya (1 Ptr 4:10). 

4. Selalu setia pada pelayanannya, sekecil apapun tugas itu (Mat 25:23). 

5. Selalu rendah hati. 

Ketika kita mau mengambil komitmen untuk melayani, kita harus mau menjadi seorang hamba yang melayani dan melakukan segala sesuatunya hanya untuk kemuliaan Tuhan. Seorang hamba tidak memiliki kehendaknya sendiri, dia hanya tunduk dan mengerjakan kehendak tuannya. Jadi, apabila kita telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepada kita, hendaklah kita berkata: “Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan." (Luk 17:10). 

Musuh kedua adalah Salmuna. Pembunuh potensi kedua, yaitu: tidak ada penundukan diri. Allah membuat lembaga-lembaga, di mana setiap orang harus menundukkan diri kepada semua lembaga (1 Ptr 2:13-14), harus berpusatkan kepada Yesus Kristus sebagai Kepala dari segala sesuatu, pertama-tama taat kepada orang tua (Kol 3:20), taat kepada suami (Ef 5:24), taat kepada pemerintah (Tit 3:1) dll. 

Oleh karena penundukan diri adalah perintah Allah, maka dapat kita katakan bahwa penundukan diri itu merupakan bagian dari ibadah. Penundukan diri yang kita lakukan karena iman kepada Allah mengandung janji untuk hidup sekarang ini dan di hidup yang akan datang. Ketaatan kepada perintah Tuhan akan memberikan keuntungan besar jika kita melakukannya dengan setia (1 Tim 4:8). 

Penundukan diri menuntut penguasaan diri karena itu kita perlu sadar untuk merendahkan hati dan menguasai emosi kita untuk mengikuti apa yang telah ditetapkan oleh orang-orang yang berwenang di atas kita. Mungkin hal yang ditetapkan kepada kita tidak kita sukai karena berbeda dengan cara dan pemikiran kita, namun tetap harus kita lakukan sejauh hal itu tidak melanggar perintah Tuhan. Jadi, kita harus menyalibkan daging dengan segala nafsu dan keinginannya (Gal 5:24). 

Bila seseorang mau belajar menundukkan diri pada wewenang yang ada di atasnya, maka lama kelamaan hal ini akan membentuk hatinya menjadi hati yang taat (Yeh 11:19-20). 

Gideon hendak mengunggulkan Yeter, anak sulungnya (mempromosikannya sebagai pahlawan), namun perasaan takut telah membuatnya layu sebelum berkembang. Pembunuh potensi ketiga adalah perasaan takut. Hal ini terjadi karena “kurang percaya pada janji Tuhan, yang akan menyertainya” (Mat 8:26; 28:20). Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan (1 Yoh 4:18). 

Orang Kristen sejati adalah mereka yang memakai pikiran Kristus, hidup menurut Roh, mengasihi Allah dengan segenap hati dengan berani membayar harga untuk melakukan kehendak-Nya (1 Kor 2:16; Rm 8:5; Gal 5:16-25; Yoh 4:34; Flp 2:7-8). 

(Sumber: Warta KPI TL No. 171/VII/2019 » Renungan KPI TL Tgl ... 2019, Dra Yovita Baskoro, MM).