Tampilkan postingan dengan label *Padang gurun*. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *Padang gurun*. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Juni 2020

Kisah monyet dan angin



Alkisah, di sebuah hutan, tampak seekor monyet sedang bergelantungan atas pepohonan. Tak jauh dari sana, ada sekelompok angin yang sedang bertiup. Ada angin topan, ada angin ribut, serta ada angin badai. Ketiga jenis angin itu sedang adu mulut tentang siapa yang paling hebat di antara ketiganya.

Makin lama, perdebatan mereka makin seru. Maka, karena tak ada yang mengalah, mereka pun sepakat untuk saling adu kekuatan. Mereka lalu melihat sekelilingnya. Dan, tampaklah di dekat mereka monyet yang sedang asyik bergelantungan itu. Ketiga angin itu pun sepakat adu kuat dengan berusaha menjatuhkan monyet itu dari pohon.

Pertama adalah giliran angin topan. Ia pun segera bertiup pada monyet itu. Monyet yang ditiup angin topan, segera memeluk erat pohon yang digelayutinya. Makin kencang angin bertiup, makin kencang pula pegangan monyet pada pohon itu. Angin topan pun akhirnya menyerah, diiringi ejekan kedua angin lainnya.

Tiba giliran angin ribut. Dengan ribut, ia segera meniup monyet itu, seolah tak ingin memberi kesempatan monyet yang tadinya sedikit melonggarkan pegangan setelah angin topan berhenti meniup. Tapi, keributan yang ditimbulkan angin ditanggapi monyet dengan cara yang sama. Makin kencang bertiup, makin kencang pula pegangan monyet pada pohon besar nan kokoh yang seolah jadi pelindungnya.

Angin ribut pun menyerah. Terakhir, angin badai segera memperlihatkan kekuatannya. Dengan badai yang dimilikinya, ia segera meniup sekencang-kencangnya monyet itu. Tapi, lagi-lagi, sang monyet justru makin kencang berpegangan pada pohon besar yang bergoyang-goyang akibat tiupan angin badai. Monyet pun tak berhasil dijatuhkan oleh angin badai.

Maka, angin badai pun akhirnya juga menyerah. Ketiga angin itu ternyata tak cukup punya kekuatan yang bisa menjatuhkan monyet. Hingga, saat mereka membicarakan kehebatan monyet, datanglah angin sepoi. Angin kecil yang bertiup itu penasaran mengapa ketiga angin besar itu membicarakan kehebatan monyet yang tak berhasil mereka jatuhkan.

Mendengar kehebatan monyet itu, angin sepoi pun ingin mencoba kekuatannya. Tentu saja, ketiga angin besar itu menertawakannya. Sebab, angin yang sangat kencang saja tak berhasil menjatuhkan monyet, apalagi angin kecil sepertinya. Namun, angin sepoi tak memedulikan ejekan mereka. Ia segera menuju ke monyet dan meniupkan angin sejuknya.

Monyet yang mendapat tiupan angin sepoi rupanya merasa keenakan. Hawa sejuk yang bertiup membuatnya tertidur di salah satu dahan besar pohon. Tak lama, karena tertidur dengan posisi yang kurang pas, monyet langsung terjatuh. Pegangan kuat monyet yang melonggar karena tertidur mendapat tiupan angin sepoi menjadikan monyet kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

Melihat itu, ketiga angin besar yang sombong mengaku kalah. Angin sepoi yang kecil tapi menyejukkan itu rupanya justru berhasil membuat monyet takluk dan terjatuh dari pohon besar yang melindunginya. 

Jumat, 24 Januari 2020

Berjalan dalam proses Tuhan



Salah satu pertanyaan paling klasik yang diajukan oleh manusia adalah: "Apabila Tuhan itu begitu kasih, mengapa terjadi penderitaan di dalam hidupku? Padahal aku adalah anak-Nya." 

Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa hidup kita di dunia adalah sebuah bentuk kehidupan yang tanpa kesulitan, tetapi Tuhan Yesus menjanjikan bahwa kalau kita hidup di dalam Dia, maka kita bisa menjalani kesulitan apapun dengan damai sejahtera dan kuat hati karena Dia telah mengalahkan dunia (Yoh 16:33). 

Penderitaan itu bisa terjadi karena kesalahan sendiri (Yak 1:14-15 » tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut), membuka cela bagi Iblis (1 Ptr 5:8 » Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya; Kej 3:6 » Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya). 

Jebakan ini bertujuan mengantar banyak orang menuju pada kehancuran, baik tubuh maupun jiwanya. Misalnya: ingin akan makanan yang lezat sehingga sakit (Ams 23:3); mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya sehingga masuk penjara (Pkh 23:3). 

Akhirnya, tanpa sadar kita digiring pada jebakannya, yaitu “mengasihani diri sendiri” sehingga kita tidak yakin lagi bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Rm 8:28). 

Penderitaan itu bisa juga terjadi karena di-ijinkan Tuhan, untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak (Ul 8:2). Jadi, penderitaan itu adalah ujian, untuk membuktikan kemurnian iman (1 Ptr1:7; Ayb 23:10-12 » Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas. Kakiku tetap mengikuti jejak-Nya, aku menuruti jalan-Nya dan tidak menyimpang. Perintah dari bibir-Nya tidak kulanggar, dalam sanubariku kusimpan ucapan mulut-Nya). Misalnya: Ayub saleh dan jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Firman Tuhan kepada Iblis: "Nah, segala yang dipunyainya ada dalam kuasamu; hanya janganlah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya." (Ayb 1:1, 12). 

Bila saat ini kita sedang mengalami proses dari Tuhan jangan sekali-kali mengeluh dan kecewa kepada Tuhan, karena Dia tahu mana yang terbaik bagi kita, bukankah Tuhan Yesus pernah berkata, "Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah." (Yoh 15:2). 

Inilah maksud Tuhan membersihkan kita supaya kehidupan kita menjadi indah dan menghasilkan buah lebih banyak lagi. Bersyukurlah bila Tuhan masih memproses kita karena berarti Tuhan sedang mempersiapkan kita untuk menerima berkat-berkat-Nya yang baru. 

Proses membawa kita untuk belajar bagaimana menyangkal diri dan memikul salib, menjadi pelaku firman (Luk 9:23; Yak 1:22; Mzm 119:71 » Aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu). 

Semakin kita terus menikmati proses-proses dari Tuhan, semakin kita mengerti apa maunya Tuhan dalam hidup kita. Apa tujuan Tuhan dalam hidup kita? Ketika kita menikmati proses itu, Tuhan akan membawa kita naik menjadi kepala dan bukan menjadi ekor (Ul 28:13). 

Mereka yang hidup di dalam Tuhan Yesus akan selalu mendapatkan kekuatan, penghiburan dan kemampuan untuk menjalaninya, karena mengetahui ada tujuan yang indah di balik semua penderitaan tersebut: 

1. Untuk menarik kita semakin dekat kepada Tuhan 

Ketika kita berada dalam lembah kekelaman, ketika kita merasa ditinggalkan sendirian dan tidak ada siapapun yang mau menolong kita. Tiba-tiba hati kita terdorong untuk mendekat kepada Tuhan untuk mendapatkan kekuatan dan penghiburan dari-Nya (Rm 15:13; 2 Kor 1:3). Ia hadir untuk menyelamatkan kita yang remuk jiwanya (Mat 11:28; Mzm 34:19). 

Beban kehidupan atau penderitaan tidak dirancang oleh Tuhan untuk menghancurkan hidup kita tetapi untuk membawa kita kepada-Nya. Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian (2 Kor 7:10). Jadi, kita harus lebih taat kepada Bapa untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya (Ibr 12:9-10). 

2. Untuk membentuk karakter Kristus di dalam diri kita 

Karakter kita sebagai anak-anak Tuhan, tidak sama dengan karakter anak-anak dunia. Penderitaan yang kita hadapi, apabila diresponi sesuai dengan kebenaran firman Tuhan, sesuai dengan kehendak-Nya, akan membuat karakter kita semakin lebih baik, semakin serupa dengan karakter Kristus (Rm 5:3-4 » kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan). 

Jika kita teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala, mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (Ef 4:15, 13), dan kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar (2 Kor 3:18) . 

3. Untuk melatih kita meresponi kesulitan seperti Yesus 

Kristus pun telah menderita untuk kita dan telah meninggalkan teladan bagi kita, supaya kita mengikuti jejak-Nya. Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kita telah sembuh (1 Ptr 2:21-24). Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup (1 Yoh 2:6). 

Bagaimana cara yang benar dalam meresponi penderitaan? Selalu ingat bahwa “rancangan-Nya mengenai kita adalah damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepada kita hari depan yang penuh harapan.” (Yer 29:11). 

Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya. (Ibr 12:11). Jadi, mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kita (1 Tes 5:18). 

Ketika Tuhan sedang memproses, jangan keraskan hati (Mzm 95:7-11), jangan bersungut-sungut (1 Kor 10:9-10) dan tidak sabar (Ibr 6:15). Jika kita keluar dari proses yang Ia rancang bagi kita, itu sama dengan mengatakan tidak percaya akan rencana-Nya dan tidak beriman akan hasil yang lebih baik yang Ia telah sediakan bagi kita. Kalau sampai kita melakukannya, Tuhan tidak berkenan kepada kita (Ibr 10:38). Jadi, jangan keluar dari proses yang Ia lakukan di dalam hidup kita. Keluar atau 'lari' dari proses, justru akan menyebabkan lebih banyak lagi penderitaan dalam hidup kita. 

Sesungguhnya lama tidaknya proses itu sangat bergantung dari respons kita sendiri atau kesediaan kita dibentuk oleh Tuhan. 

Contoh: bangsa Israel harus mengalami pembentukan dari Tuhan dalam waktu yang sangat lama yaitu 40 tahun. Bagaimana mungkin? Apakah Tuhan tidak sanggup membentuk mereka dengan cepat? Bangsa Israel harus mengalami proses pembentukan yang lama oleh karena kesalahan mereka sendiri: tidak taat dan memberontak kepada Tuhan. Jadi akar masalahnya ada pada mereka sendiri. Bangsa Israel adalah bangsa yang keras hati (tegar tengkuk) padahal mereka telah melihat dan mengalami perbuatan-perbuatan ajaib Tuhan. Tidak hanya itu, mereka juga suka bersungut-sungut dan mengeluh. Dari mulut mereka tidak pernah keluar ucapan syukur. 

Ketika kita mau taat mengikuti proses Tuhan ini dengan benar hasilnya pasti akan luar biasa (Ayb 42:12-15 » Tuhan memberkati Ayub dalam hidupnya yang selanjutnya lebih dari pada dalam hidupnya yang dahulu). Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia (Yak 1:12). 

4. Untuk menyadarkan kita bahwa kasih-Nya lebih besar dari penderitaan kita 

Setiap kali kita menghadapi penderitaan, sadarilah bahwa kasih-Nya jauh melampaui apapun yang kita pernah dan sedang hadapi. Bukankah kalau kita tetap bisa bertahan sampai sekarang karena Tuhan-lah yang telah membawa kita keluar dari kesulitan demi kesulitan? "... sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku jadi sempurna." (2 Kor 12:9). 

Sadarilah proses hidup yang saat ini kita alami tidak pernah keluar dari garis penyertaan Tuhan (Mat 28:20; 1 Kor 10:13). Dia sungguh mengasihi kita, bila hari ini kita masih menerima teguran dan didikan, seharusnya kita bersyukur karena Tuhan mengasihi kita (Ibr 12:5-8 » Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak). 

Penderitaan tak akan pernah sepenuhnya lenyap dari kehidupan kita. Apabila kita menerimanya dengan penuh iman, kita beroleh kesempatan untuk ikut ambil bagian dalam penderitaan Yesus dan menunjukkan kasih kita kepada-Nya (St. Teresa Kalkuta). 

(Sumber: Warta KPI TL No. 177/I/2020 » Renungan KPI TL Tgl 12 Desember 2019, Dra Yovita Baskoro, MM).

Selasa, 31 Desember 2019

Ada gula ada semut

Kesepian dan kepahitan sering bergandengan dalam siklus kehidupan didunia ini, waktu kita naik temanpun datang, waktu kita turun merekapun lari dari hadapan kita (Ams 19:4 > Kekayaan menambah banyak sahabat, tetapi orang miskin ditinggalkan sahabatnya). 

Tidak salah pepatah mengatakan "ada gula ada semut" dikala hidup kita penuh gula semutpun datang berkerumun dalam kehidupan kita, namun tatkala gulanya habis semutpun pergi meninggalkan kita.

Setiap manusia tidak terlepas dari siklus kehidupan, waktu naik banyak orang yang datang mendekat, namun tatkala turun mereka akan pergi, lalu kita kesepian merasa ditinggalkan dalam kesendirian, padahal disaat itu mungkin kita sangat membutuhkan dukungan mereka.

Yesus sendiripun mengalami hal yang sama, ketika Dia melakukan banyak mujizat orang banyak datang berkerumun kepada-Nya, namun tatkala Dia ditangkap, diadili bahkan digantung diatas kayu salib semua orang lari dari pada-Nya (2 Tim 4:16 > Pada waktu pembelaanku yang pertama tidak seorang pun yang membantu aku, semuanya meninggalkan aku, kiranya hal itu jangan ditanggungkan atas mereka).

Rasul Pauluspun mengalami hal yang sama, dia telah malang melintang dalam melayani, telah berjasa besar dalam mengangkat teman, sahabat dan murid muridnya dari keterpurukan dan keterbelakangan, dari beban dan penderitaan, istilahnya rasul Paulus telah sangat berjasa bagi orang orang ini, namun tatkala dia sedang diadili mereka semua meninggalkannya.

Dalam keadaan demikian sebagai manusia; rasul Paulus bisa saja menjadi sakit hati dan kepahitan, lalu mengumpat mereka sambil mencaci maki, karena mereka tidak pernah membalas budi kebaikan yang telah dilakukan olehnya, namun sebagai murid Yesus yang sejati rasul Paulus sebaliknya mengatakan "kiranya hal itu jangan ditanggungkan atas mereka".

Tidak mudah memelihara hati seperti rasul Paulus, namun dia mampu melakukannya sebab dia sungguh sungguh mengerti akan tugas dan panggilannya sebagai murid Kristus (2 Tim 4:17-18 > Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya. Dengan demikian aku lepas dari mulut singa. Dan Tuhan akan melepaskan aku dari setiap usaha yang jahat. Dia akan menyelamatkan aku, sehingga aku masuk ke dalam Kerajaan-Nya di sorga. Bagi-Nyalah kemuliaan selama-lamanya! Amin).

Jumat, 27 Desember 2019

Joni, Joni please don't cry?



Pernah mendengar lagu: Joni, Joni please don't Cry? (https://youtu.be/I0fle64w2IU) Barangkali kita menyangka Joni d i sini adalah seorang pria.

Joni adalah seorang wanita, ia lahir 15 Oktober 1949. Ia merupakan seorang penyiar radio, penyanyi, pelukis, penulis lebih dari 40 buku, pendiri Joni and Friends Foundation yang banyak membantu para kaum cacat untuk kembali semangat dan bangkit menjadi manusia yang utuh yang bisa berkontribusi bagi banyak orang.

Joni lahir di Baltimore, Maryland, Amerika. Ia tumbuh sebagai seorang gadis remaja yang luar biasa. Ia menikmati masa remajanya dengan menaiki kuda, mendaki gunung, bermain tenis, berenang.

30 Juli 1967 ia terjun di Cheasepeake Bay untuk berenang, namun ia tidak menduga airnya saat itu sedang dangkal. Ia menghantam dasar pantai yang terdiri dari batu-batu keras. Ia menderita patah tulang punggung yang menyebabkan kelumpuhan total dari bahu ke bawah.

Selama 2 tahun direhabilitasi. Ia sangat marah, depresi, mau bunuh diri. Pada akhirnya ia menemukan jalan terang Tuhan dengan belajar melukis menggunakan giginya. Ia pun mulai menjual lukisannya. Dan singkat cerita ia menjadi orang yang sangat terkenal.

Ia mengucapkan kalimat yang sangat dahsyat: "Always remember: You can't live on yesterday's grace." Joni E Tada.

("Kita tidak akan dapat hidup dengan mengandalkan anugerah Tuhan yang kemarin.")

Karena itu sudah lewat. Kita patut bersyukur bahwa hari ini pun anugerah Tuhan datang pada kita.

Sebab itu dengan anugerah yang diberikan pada hari ini, mari kita berkarya sebaik-baiknya. Sebab kita tidak tahu apakah esok hari anugerah seperti hari ini akan datang kembali.

Berikut adalah doa Joni yang sangat terkenal. Biarlah doa ini menjadi doa kita di hari ini:

"God, I don't have the will, may I borrow Your will? God, I don't have strength, may I borrow Your strength? God, I don't have resources, may I borrow Your resources? And grace upon grace upon grace comes to me, and here I am."

("Tuhan, aku tidak punya tujuan; bolehkah aku meminjam tujuan-Mu? Tuhan, aku tidak mempunyai kekuatan; bolehkah aku meminjam kekuatan-Mu? Tuhan, aku tidak mempunyai sumber daya; bolehkah aku meminjam sumber daya-Mu? Dan dari satu anugerah ke satu anugerah yang datang padaku, dan inilah aku.")

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Rm 8:28).

Tetap semangat apapun keadaan kita. Meskipun manusia memvonis umur kita tinggal 10%, seakan tidak terlihat jalan kesembuhan, tetaplah percaya bahwa rencana Tuhan di atas rencana kita, jalan-Nya di atas jalan-jalan kita. Tetaplah percaya dan taat. Trust and obey. 

Apapun yang terjadi dalam hidup kita, masalah kehidupan yang tak kunjung reda, penyakit mematikan yang tak bisa disembuhkan, masalah keuangan, masalah keluarga dll, Meskipun saat ini kita merasa semua masih gelap seakan Tuhan jauh, percayalah Tuhan sedang merenda suatu rencana yang indah dalam hidup kita. Rencana-Nya tak pernah gagal dari dulu sampai selama-lamanya.

(Sumber: beridengankasih.blogspot.com).

Selasa, 02 Juli 2019

Tujuan penderitaan - untuk mendatangkan kebaikan bagi kita



Penderitaan merobek jiwa (Ams 27:9). Ketika kita mengalami penderitaan, ada beraneka ragam pertanyaan dalam pikiran: “Mengapa sejak menjadi orang Kristen, hidupku justru lebih sering mengalami penderitaan? Jika Allah mengasihi aku, mengapa Dia membiarkan semua ini terjadi? Apakah Allah tidak peduli padaku?” 

Marilah kita belajar dari Ibr 12:4-11

(B1) Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah. Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena (B2) Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak." 

Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, (B5) jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang. 

Selanjutnya: (A) dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada (B) Bapa segala roh, (1) supaya kita boleh hidup? Sebab mereka (A1) mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi (B4) Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, (2) supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya

Memang (B3) tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian (3) ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya. 

» (A, A1) Adakalanya orangtua harus bertindak tegas, dan kalau perlu mendidik anaknya bila mereka mulai memberontak atau keluar jalur. Orangtua yang mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya (Ams 13:24) agar ia memiliki karakter yang baik seperti yang mereka harapkan. Tongkat didikan akan mengusir kebodohan dan menyelamatkan nyawanya (Ams 22:15; 23:13-14). 

(B, B1-5) Begitu pula dalam kehidupan rohani, apabila melakukan kesalahan atau dosa, sebagai anak-anak-Nya yang dikasihi-Nya, kita pun harus mau ditegor dan dihajar (Why 3:19). 

Sebelum kita menerima katekese, kita menjadi lemah dan putus asa ketika menghadapi penderitaan. Namun, setelah kita menerima katekese, diterangi oleh Roh (KGK 1216) maka kita tahu bahwa “perjalanan iman seorang Kristiani diawali lewat penerimaan Sakramen Baptis. Melalui Sakramen ini, menyanggupkan kita hidup dan bekerja di bawah dorongan Roh Kudus; menyanggupkan kita percaya kepada Allah, berharap kepada-Nya, dan mencintai-Nya (mempunyai kebajikan ilahi: iman, harapan dan kasih – 1 Kor 13:13) (KGK 1266). Jadi, pembaptisan memberikan kehidupan rahmat Kristus (KGK 405). 

St. Yohanes Salib menerangkan jika Allah menerangi kita dengan Terang-Nya seperti ruangan tanpa lampu yang menyala tetap dalam keadaan gelap dan mengira ruangan tersebut “bersih” tetapi setelah lampu dinyalakan maka kelihatan seluruh keadaan ruangan dengan kotoran-kotorannya, debu-debu dan sebagainya. Jika Allah mencurahkan rahmat-Nya ke dalam hati kita melalui pengalaman kasih Allah itu sekaligus menunjukkan kedosaan kita, itulah sebabnya pengalaman Allah dalam Pencurahan Roh Kudus membawa orang kepada pertobatan. Dari satu pihak melalui pengalaman kasih itu disadarkan akan dosa-dosa yang besar dan banyak sehingga bertobat dan mengalami kasih Allah yang melampaui segala pengertiannya

Jika kita berjalan dengan Yesus, terang dunia (Yoh 8:12), maka kita akan merasa mual melihat diri kita sendiri, karena kelakuan jahat dan perbuatan-perbuatan tidak baik kita (Yeh 36:31). 

Pertobatan mendorong pendosa untuk menerima segala sesuatu dengan rela hati: di dalam hatinya ada penyesalan, di mulutnya ada pengakuan, di dalam tindakannya ada kerendahan hati yang mendalam atau penitensi yang menghasilkan buah" (Catech. R. 2,5,21) (Bdk. Konsili Trente: DS 1673) (KGK 1450). 

Sesudah kita menerima terang, kita banyak menderita. Kita dapat bertahan dalam perjuangan yang berat karena kita tahu bahwa kita memiliki harta yang indah, harta yang lebih baik dan yang lebih menetap sifatnya, yaitu Roh Kudus yang diam di dalam kita. Oleh karena Roh Kudus, kita bisa menerima penderitaan dengan sukacita (Ibr 10:32, 34; 2 Tim 1:14; Rm 14:17). 

Tuhan adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia. Adalah baik menanti dengan diam pertolongan Tuhan. Oleh sebab itu aku akan berharap: Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! "Tuhan adalah bagianku," kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya (Rat 3:21-26). 

Jadi, Penderitaan adalah rahmat yang besar. Melalui penderitaan jiwa menyatukan diri dengan Penyelamat. Dalam penderitaan cinta mengkristal. Makin besar penderitaan, cinta semakin bersih. Dan jiwa yang disucikan oleh kesulitan menjadi rendah hati (Santa Faustina). 

Tuhan akan mendidik kita sedemikian rupa agar kita dapat tetap berada di dalam rencana-Nya. Dia akan terus-menerus mendisiplinkan kita bukan hanya berdasarkan apa yang Dia pandang baik, melainkan juga apa yang mendatangkan kebaikan bagi kita (Rm 8:28). 

Apa saja kebaikan yang Tuhan pikirkan pada saat Dia mendidik kita

(1) Hidup » mempunyai kualitas kehidupan kekal (Yoh 17:3 » mengenal Allah yang benar dan mengenal Yesus Kristus yang diutus-Nya) sehingga kita dapat memikirkan perkara yang di atas, dan mengumpulkan harta di sorga (Kol 3:2; Mat 6:20). 

(2Beroleh bagian kekudusan-Nya » Tujuan Tuhan menciptakan kita untuk kemuliaan-Nya (Yes 43:7; Rm 11:36). Ketika kita telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, bersama Roh Kudus, kita dimampukan untuk melakukan segala sesuatu demi kemuliaan-Nya (1 Kor 10:31; Kol 3:17, 23) sehingga kehidupan kita dapat menggenapi rencana-Nya, yaitu kehidupan kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya (Kol 3:9-10; 2 Kor 3:18).

(3) Menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai » Firman itu adalah Allah (Yoh 1:1); Allah dan segala firman-Nya adalah kebenaran (2 Sam 7:28; Yoh 17:17). Damai sejahtera yang diberikan-Nya tidak seperti yang diberikan oleh dunia (Yoh 14:27). Ketika kita menjadi pelaku firman, kebenaran itu akan memelihara hati dan pikiran kita sehingga akan tumbuh damai sejahtera-Nya yang melampaui segala akal (Yak 1:22; Flp 4:7; Yes 32:17). 

Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia (Yak 1:12). Jadi, janganlah kita melepas kepercayaan kita, supaya sesudah kita melakukan kehendak Allah, kita memperoleh apa yang dijanjikan itu (Ibr 10:35-36).

Senin, 20 Mei 2019

Sulit bukan berarti tidak bisa



Harold Russell adalah seorang prajurit AS yang mengalami kecelakaan saat perang dunia II. Kecelakaan itu membuat Russell kehilangan kakinya. Awalnya Russell putus asa, merasa jadi orang gagal dan kehilangan semangat hidup.

Saat keluar rumah sakit, atasannya mengatakan sesuatu yg terdengar aneh baginya, "ada satu hal yang harus kamu ingat: Kamu bukanlah orang pincang, tetapi kamu hanya difabel."

Dalam hati ia berkata, "apa bedanya pincang dan difabel?" Namun ketika ia membuka kamus dan mencari arti dua kata itu, terkejutlah ia bahwa dua kata yang sering di anggap sama itu ternyata berbeda jauh.

Pincang artinya tidak dapat melakukan sesuatu dengan sempurna, sedangkan difabel yang merupakan singkatan dari different ability artinya kemampuan melakukan sesuatu dengan cara berbeda.

Memang halangan tersebut cukup menyulitkan, lebih sulit, tapi masih bisa!

Akhirnya Russell justru menjadi bintang Holywood, mendapatkan peran penting dalam film The Best Years of Our Lives, dan memenangkan 2 penghargaan.

Halangan dan tantangan mungkin selalu ada, namun ingatlah bahwa sulit bukan berarti tidak bisaBanyak penderita cacat yang harus berjuang keras untuk bisa bersaing dengan mereka yang normal. Mereka mengalami lebih sulit, tapi masih bisa! Bahkan mereka jauh lebih hebat dari orang normal!

Asalkan ada kemauan, keuletan dan kesungguhan hati, tak ada halangan apapun yang menghentikan kita.

Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga (Ams 12:27).

Kamis, 13 Desember 2018

Menganalisa suatu masalah




Foto ini adalah "nyata", Anda akan menemukan batu menggantung di udara. Ini adalah satu foto, bukan dua foto dan tidak ada yang perlu dinaikkan atau dipegang. "Coba telepon Anda dibalik" , maka Anda akan menemukan bahwa batu itu berada di tepi sungai.

Pesan dari gambar ini: kadangkala kita melihat suatu masalah hanya dari satu sudut pandang saja, ketika kita mau melihat dari "beberapa sudut pandang lainnya maka kita akan temukan jawaban dari sebuah masalah".


Sabtu, 03 November 2018

Ukiran yang tercoreng




Raja Inggris menugaskan seorang arsitek terkenal yang bernama Christofer Ramm untuk membangun kembali gereja St. Paul yang terbakar. Lalu gereja yang megah itu dipakai oleh Pangeran Charles untuk melangsungkan pernikahannya. 

Ukiran yang besar dan bagus dipasang kira-kira 8 m tingginya dari tanah. Ada seseorang yang mengukir salah satu hiasan dinding tersebut. Setelah selesai mengukir, ia memandang hasil ukirannya sambil berjalan setapak demi setapak mundur. Tanpa disadarinya ia berada di ujung papan pembatas tempat tertinggi dari gereja itu. 

Seorang temannya (X) melihat posisi berdiri yang amat berbahaya itu maka dia mengambil kuas temannya yang sedang mengapur dinding dan merusak hasil ukiran tersebut. 

Si pengukir amat marah dan langsung menghampiri X dan ingin memukulnya. Tetapi X menunjuk tempat si pengukir itu berdiri. Akhirnya si pengukir sadar bahwa X sedang berusaha menyelamatkannya. 

Demikian juga dengan Tuhan kita, seringkali cara Tuhan melawan logika dan cara pikir manusia. Kadang-kadang Dia 'merusak' gambaran yang kita idam-idamkan, mengambil orang yang kita cintai dan memberikan hal-hal yang sulit dalam hidup kita, tetapi justru itu adalah cara Tuhan yang terbaik. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 162/X/2018 » Renungan KPI TL Tgl 23 Agustus 2018, Dra Yovita Baskoro, MM).

Jumat, 28 September 2018

Ikan dan kura-kura



Seekor ikan bertanya kepada Kura-kura: "Mengapa setiap kali kamu mengalami masalah selalu bersembunyi, masuk ke dalam cangkangmu?"

Kura-kura menjawab: “Apa penting pertanyaan itu aku jawab?”

Ikan berkata: “Semua mahluk di perairan ini mempertanyakan sifatmu yang selalu bersembunyi jika ada masalah!"

Kura-kura berkata: "Komentar orang lain apakah penting? Aku tidak menghindar, aku tidak lari dari kenyataan, aku hanya mencari suasana yang lebih damai di dalam cangkangku."

Ikan bertanya lagi: "Tetapi apakah kamu tidak peduli selalu jadi bahan pembicaraan?"

Kura-kura menjawab: "Inilah alasan mengapa aku lebih panjang umur dari pada kalian. Kalian terlalu sibuk mengurusi kehidupanku sampai kalian lupa siapa diri kalian, kalian terlalu sibuk memperhatikan diriku sampai kalian lupa siapa diri kalian."

Dalam hidup ini kita sendiri yang menentukan pilihan, berbuat-lah yang terbaik dan biarkan-lah orang lain mau berkomentar apapun.

Orang yang menyukaimu tetap akan membenarkanmu sekalipun kamu keliru, sebaliknya "orang yang membencimu selalu akan menyalahkanmu sekalipun kamu benar"

Berapa banyak waktumu terbuang hanya untuk mengurusi kehidupan orang lain sehingga kamu lupa pada dirimu sendiri kapan harus makan dan istirahat.

Sayangi dirimu dengan lebih peduli pada urusanmu sendiri sebab engkau akan menjadi orang yang selalu kekurangan saat kamu selalu ingin tau urusan orang lain.

Semoga kita jangan terkecoh dengan apa yang orang katakan, Jadilah diri kita sendiri, jadilah pribadi yang baik dan terus-meneruslah berbuat baik.

Kamis, 26 Juli 2018

Kemenangan yang memberi kemenangan



Kemenangan yang diberikan Kristus kepada kita bukan hanya kemenangan atas maut tapi juga atas dosa yang menguasai kita. Kemenangan-Nya telah menjadikan kita ciptaan baru sehingga kita memiliki identitas baru dalam Kristus.

Oleh karena itu sekarang kita tidak perlu lagi memegang konsep diri yang salah atau selalu kalah terhadap dosa dan terus-menerus mengalami ketakutan dan kecemasan yang salah. 

Kita sekarang mampu menghadapi kesulitan hidup yang datang menerpa kita karena kita memiliki kuasa kemenangan-Nya. Hidup kita yang baru sekarang ini adalah hidup dalam kemenangan-Nya!

"Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita." (Rm 8:37-39)

Kapankah Kristus mendapatkan kemenangan-Nya? Banyak orang menjawab: pada waktu Ia bangkit. Jawaban itu kurang tepat, sebab Kolose 2:14-15 mengatakan, "dengan menghapus surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib: Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka."

Jadi, ayat di atas menyatakan bahwa sebenarnya Yesus sudah mendapat kemenangan-Nya di atas salib. Cuma kemenangan itu belum terlihat secara kasat mata. Kebangkitan-Nya menyatakannya secara jelas.

Kebangkitan Kristus adalah keunikan kekristenan dibandingkan dengan agama lainnya. Kristus telah bangkit tidak mati lagi. Kristus telah menang! Oleh karena itu perjuangan umat Tuhan bukanlah perjuangan untuk meraih kemenangan; tetapi perjuangan dari kemenangan atas segala dosa dan Setan yang sudah diperoleh oleh Yesus ketika Ia berada di atas salib dan melalui kebangkitan-Nya (Yoh 12:31; Kol 2:15; Why 12:11).

Kemenangan-Nya memberi kita kemenangan atas beberapa hal yang penting, yaitu:

1. Kemenangan atas maut (1 Kor 15:54b-57 » "Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu? Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.").

Maut adalah musuh manusia yang terbesar. Maut tidak dapat dikalahkan oleh: kekayaan, kekuataan fisik, dan kepandaian otak. Ketiga hal itu biasanya digunakan oleh manusia untuk mempertahankan dan mengembangkan hidup mereka. Namun, ketika maut datang, kekayaan manusia tidak dapat menyuapnya; kekuatan fisik tidak dapat mengalahkannya; dan kepandaian otak tidak dapat menaklukkannya. Sungguh, maut merupakan musuh manusia yang paling menakutkan.

Tetapi, Yesus sudah mengalahkannya di atas salib. Tuhan sudah mengalahkan maut, apakah itu berarti bahwa setiap orang beriman tidak akan mengalami maut lagi? Umat Tuhan pada suatu saat tetap akan mengalami kematian, namun konsep tentang kematian itu sudah berubah. Maut tidak lagi sebagai hal yang menakutkan, namun sebagai "pintu gerbang" menuju kemuliaan kekal.

Firman Tuhan menyebut orang percaya yang meninggal sebagai "tertidur", seperti yang tertulis di dalam 1 Tes 4:13, "Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal (KJV: "concerning them which are asleep"), supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan" (Bdk. 1 Tes 4:14 dengan Why 14:13).

Orang biasa selalu berambisi untuk menyingkirkan dan memusnahkan musuhnya. Orang pintar mampu mengubah musuh menjadi teman yang membawa berkat. Orang pandai dapat mengubah sampah menjadi pupuk; dapat mengubah besi rongsokan menjadi mobil yang mahal.

Tuhan Yesus belum menyingkirkan maut; namun Ia mengubah maut menjadi sesuatu yang berguna bagi umat-Nya, yakni menjadi "pintu gerbang" menuju kemuliaan kekal.

Oleh karena itulah rasul Paulus berkata, "Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan." (Flp 1:21).

2. Kemenangan atas konsep diri yang salah.

Setelah maut, musuh terbesar kedua bagi manusia adalah diri sendiri. Masyarakat menjadi kacau jika setiap pribadi tidak dapat mengontrol dirinya. 

Orang yang suka membuat masalah di dalam masyarakat maupun di gereja adalah orang yang mempunyai masalah di dalam diri sendiri yang belum dapat diselesaikannya. Mereka yang tidak mempunyai rasa aman di dalam diri akan mudah tersinggung dengan perkataan orang lain yang secara obyektif tidaklah menyerang mereka.

Rasul Paulus menceritakan tentang ambisinya pada masa lalu. Ia beranggapan bahwa dengan menganiaya jemaat Tuhan ia sedang beribadah kepada-Nya (Flp 3:6). Blaise Pascal pernah berkata, "Kejahatan terkeji yang pernah terjadi dalam sejarah adalah kejahatan yang dilakukan atas nama agama." Sebagian orang menggunakan nama Allah, sebagai otoritas tertinggi untuk dimanipulir guna mendukung ambisinya sendiri.

Paulus menceritakan bagaimana pada masa lalu ia membangun harga dirinya dengan hal-hal yang secara lahiriah dapat dibanggakan, "Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal- hal lahiriah, aku lebih lagi: disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat." (Flp 3:4b-6).

Namun sayangnya, apa yang dahulu ia banggakan telah membuat Tuhan sangat merasa malu dan bersedih hati. Apa yang ia anggap mulia, dihadapan Tuhan sama dengan "sampah" (ayat 8b, cat.: dalam bahasa aslinya adalah "kotoran manusia"). Apa yang dahulu ia anggap benar, dihadapan Tuhan sebenarnya salah belaka (ayat 9).

Setelah mengenal Yesus sebagai Juruselamat, ambisi Paulus berubah, seperti yang tertulis di dalam Flp 3:10-11, "Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati."

Jadi, Paulus mengalami perubahan dalam "konsep nilai"-nya. Konsep nilai berkaitan dengan sesuatu yang dianggap paling berharga di dalam kehidupan seseorang. Segala hal boleh dikorbankan demi sesuatu/seseorang yang dianggap paling berharga.

Bagaimana dengan konsep nilai Anda? Falsafah Komunis mengatakan, "Satu-satunya yang bernilai adalah materi." Ada banyak orang berkata, "Yang paling bernilai adalah uang." Kaum hedonis berkata, "Yang terpenting adalah kenikmatan." Bagaimana dengan falsafah hidup orang Kristen? "The only value is truth" (yang paling bernilai adalah kebenaran). Seperti Tuhan Yesus pernah berkata, "Kuduskanlah mereka dalam kebenaran, firman-Mu adalah kebenaran." (Yoh 17:17)

Kebenaran jangan dijual (untuk mendapatkan sesuatu), namun kebenaran harus dibeli (yang lain boleh dikorbankan demi kebenaran, Ams 23:23).

3. Kemenangan atas segala tantangan dan kesulitan.

Apakah umat Tuhan bisa hidup bebas dari segala tantangan dan kesulitan? Tidak! Justru melalui tantangan dan kesulitan yang dialami akan terbuktilah kemenangan yang dari Tuhan bagi umat-Nya. Seorang pemenang adalah dia yang telah mengalahkan segala kesulitan dan tantangan di dalam hidupnya. 

Jikalau tidak ada kesulitan, menang atas apaFirman Tuhan tidak mengajar kita untuk lari dari kesulitan. Jikalau hal itu dikehendaki Tuhan, mintalah hikmat dan kekuatan daripada-Nya untuk menaklukkan segala kesulitan, Rasul Paulus menuliskan firman Tuhan yang dialaminya sendiri di dalam pelayanannya, "Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita

Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: "Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan." Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita." (Rm 8:34-37)

Semua umat Tuhan mengamini bahwa Allah adalah maha kuasa. Seringkali kemaha-kuasaan-Nya diartikan sebagai Allah yang mampu mengubah semua situasi-kondisi yang sulit dalam hidup kita. Kita lupa, bahwa Allah yang maha kuasa juga mampu mengubah sikap hati kita terhadap kesulitan yang sedang dihadapi.

Pada waktu Yesus berada di Taman Getsemani, Ia minta jikalau boleh, cawan kepahitan itu dilalukan daripada-Nya. Tetapi Bapa-Nya di Sorga tetap menghendaki Yesus meminum cawan itu. Bapa mengirim seorang malaikat untuk memberi kekuatan kepada-Nya (Luk 22:43).

Salib itu tetap harus dipikul, namun sikap hati manusia Yesus telah diubah dan dikuatkan. Hasil-nya, Yesus dapat tegak berdiri untuk menghadapi salib dengan sikap hati yang tangguh (Bdk. Yoh 18:4-8).

Dalam bukunya "Harmagedon", Billy Graham pernah menuliskan kata-kata sebagai berikut, "Alkitab dan sejarah Gereja menunjukkan bahwa jalan keluar dari Allah bagi penderitaan umat-Nya tidak selalu berarti bebas dari penderitaan itu sendiri, melainkan kuasa untuk dapat bertahan dalam penderitaan."

Apa arti "lebih dari pemenang" (Rm 8:37)? Seorang pelari maraton sudah jauh melebihi lawan-lawannya dan sampai di garis finish, para penonton memberikan tepuk tangan untuk kemenangannya. Namun, tiba-tiba ia mempunyai ide. Ia melihat semua lawannya masih jauh tertinggal di belakang. Maka dengan kekuatan yang masih ada, ia mengambil ancang-ancang untuk lari sprint. Ia memutari satu lingkaran lagi dan sampai ke garis finish. Semua penonton berdiri, memberikan tepuk tangan, dan mengelu-elukannya. Pelari itu telah muncul sebagai "lebih dari pemenang".

Yesus sewaktu disalibkan dan dalam keadaan sangat menderita, Dia masih bisa berdoa untuk pengampunan bagi orang-orang yang menyalibkan-Nya. Juga, Ia masih memperhatikan ibunda-Nya Maria. Dia meminta Yohanes, salah satu murid-Nya untuk memperhatikan Maria (Luk 23:34; Yoh 19:26-27). Yesus menjadi Tokoh yang lebih dari pemenang.

Sejumlah besar pujian yang terkenal digubah pada saat pengarangnya sedang mengalami tantangan dan cobaan yang begitu berat.

Charlotte Elliot telah mengubah lagu "Sebagai-mana Adaku" ("Just As I Am", tahun 1836) pada waktu ia mengalami cacat tubuh dan tak berdaya.

H.G. Spafford mengubah lagu "Nyamanlah Jiwaku" ("It is Well with My Soul") pada waktu musibah secara beruntun menimpa hidup dan keluarganya. Perusahaannya mengalami pailit, lalu kedua anaknya meninggal dunia dalam suatu musibah karam kapal.

Fanny Crosby menggubah ribuan lagu pujian dalam keadaan buta selama puluhan tahun sampai ia meninggal dunia. Ia masih berusia 3 tahun pada waktu penyakit mata menyerangnya.

Louis Pasteur menderita epilepsi dan lumpuh sebelah. Namun, penyakitnya itu malah mendorong dia untuk mengadakan riset di laboratoriumnya, sampai ia menemukan teori Pasteurisasi yang sangat berguna di dalam dunia medis sampai saat ini.

Dalam segala kesulitan yang dialami oleh orang-orang tersebut di atas, mereka tidak mengeluh kepada Tuhan, tetapi malah mengarang syair-syair, lagu-lagu yang membangun, serta hasil riset yang telah menjadi berkat bagi jutaan orang. Mereka telah keluar sebagai "lebih dari pemenang".

4. Kemenangan atas perasaan takut yang keliru.

Dosa telah memutar-balikkan banyak hal: yang manusia harus takuti, malah jadi berani sekali; yang manusia harus berani, malah jadi sangat takut.Seharusnya, manusia takut kepada Allah dan berani kepada Setan; manusia harus berani mengatakan kebenaran dan takut untuk berkata dusta. Namun, orang berdosa bersikap sangat berani menentang Allah dan takut kepada Setan. Dosa telah membuat banyak orang takut berkata benar dan berani berdusta.

Sebelum Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya, mereka bersikap sangat takut, seperti yang tertulis di dalam Yoh 20:19a, "Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu, berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi."

Namun, setelah dipenuhi Roh Kudus, sikap mereka berubah total. Mereka berani menyampaikan kebenaran walaupun menghadapi ancaman penganiayaan, seperti yang tertulis di dalam Kisah Rasul 4:13, "Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus."

Rasa takut yang keliru seringkali dipakai Iblis untuk melumpuhkan dinamika hidup kristiani. Banyak orang Kristen tidak berani bersaksi karena mereka sudah kalah sebelum bertanding. Mereka takut kalau-kalau orang lain tersinggung atau marah. Iblis sering memakai "psychology of fear" (psikologi rasa takut) untuk memadamkan semangat pelayanan di dalam diri umat-Nya.

Seorang petinju pasti akan kalah apabila ia pada waktu dipertemukan dengan lawannya dan di hadapan wasit tidak berani menatap mata lawannya. Biarlah kita berdoa seperti yang didoakan oleh para murid Tuhan, "Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu. Ulurkanlah tangan-Mu untuk menyembuhkan orang, dan adakanlah tanda-tanda dan mujizat-mujizat oleh nama Yesus. Hamba-Mu yang kudus. Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani." (Kis 4:29-31).

Beberapa tahun yang lalu di harian "Kompas" pernah ditulis satu hasil survey di Eropa. Banyak remaja putra Eropa sudah melakukan hubungan seks sebelum nikah pada waktu usia mereka sekitar 17 tahun 3 bulan. Sedangkan bagi remaja putri, banyak yang telah melakukan hubungan seks pada usia sekitar 17 tahun 6 bulan. Hubungan seks sebelum nikah telah menjadi standard yang dibanggakan di dalam kelompok mereka. Sayangnya, apa yang mereka banggakan ternyata membuat Tuhan merasa malu dan marah.

5. Kemenangan untuk hidup memuliakan Tuhan.

"Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu." (1 Kor 15:17).

Benarlah ayat itu. Jikalau Yesus telah dibangkitkan, maka percumalah manusia yang berusaha untuk hidup benar, sebab Yesus Sang Kebenaran ternyata mengakhiri hidup-Nya di atas salib. Ia diperlakukan secara tidak adil oleh manusia yang berdosa. Jikalau Yesus tidak dibangkitkan, maka kebenaran dikalahkan oleh dusta. Tetapi puji Tuhan, Yesus bangkit! Berarti: ada pengharapan bagi manusia yang ingin hidup benar dan mau memuliakan nama Tuhan.

Kehidupan manusia Yesus adalah sangat mulia. Usia-Nya hanya pendek saja, yakni 33 1/2 tahun. Sebagian orang Amerika berkata, "Life begins from forty" (hidup dimulai sejak umur 40 tahun).

Usia Yesus 6 1/2 tahun lebih muda dari kerinduan orang Amerika. Umur Yesus juga paling pendek jika dibandingkan dengan para pendiri agama/ filsafat lainnya. Laotze berusia lebih dari 100 tahun, Sidharta Gautama 80 tahun, Socrates 68 tahun, dan Mohammad 64 tahun.

Walaupun pendek usia-Nya, tetapi Yesus sudah mengisi setiap saat dalam hidup-Nya dengan hal-hal yang memuliakan Bapa-Nya di Sorga.

Hal ini dapat kita ketahui dari Yoh 17:4, "Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya." Ayat ini merupakan bagian dari doa Tuhan Yesus sebelum Ia disalibkan. Jadi, hidup Yesus lebih menekankan pada segi kualitas (mutu hidup) dan bukan kuantitas (panjang umur).

Hendaklah hidup setiap umat Tuhan juga demikian. Masalah panjang umur bukanlah hal yang terpenting, tetapi bagaimana seseorang menggunakan setiap waktu dalam hidupnya, apakah dengan hal-hal yang berkenan di hadapan Tuhan, ataukah hanya memuaskan hawa nafsu dan ambisi pribadi? Mutu hidup lebih dipentingkan di dalam kekristenan.

6. Kemenangan untuk Gereja-Nya.

Tuhan Yesus pernah berkata kepada Rasul Petrus dan para murid-Nya yang lain, "Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus (Yun: Petros) dan di atas batu karang (Yun.: Petra) ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan dapat menguasainya." (Mat 16:18)

Apakah maksudnya "batu karang" (Petra) di sini? Itu bukanlah diri Petrus (Petros), tetapi pengakuan Petrus tentang Yesus yakni: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" (Mat 16:16). Di atas pengakuan itulah gereja Tuhan didirikan; dan alam maut tidak akan dapat menguasainya. Maut adalah musuh yang terbesar dalam hidup manusia. Musuh yang terbesar itu tak dapat menguasai gereja Tuhan sebab didirikan di atas pengakuan "Yesus, Sang Mesias, Anak Allah yang hidup".

Tidak ada suatu kuasapun yang bisa menghancurkan gereja Tuhan. Gedung gereja bisa dihancurkan, tetapi bukan persekutuan umat Tuhan. Ini terbukti di dalam sejarah gereja Tuhan di RRC. Selama beberapa puluh tahun Komunisme, di bawah pemerintahan Mao Tse Tung, menganiaya banyak umat Tuhan. Mereka hanya bisa menutup pintu-pintu gedung gereja, tetapi tidak berdaya menghancurkan persekutuan umat Tuhan.

Sebelum Komunisme berkuasa, jumlah orang Kristen di RRC kurang dari 1 juta orang. Namun, setelah Mao Tse Tung meninggal dunia, pemerintah RRC mulai bersikap agak lunak terhadap agama-agama. Ternyata mereka mendapati jumlah orang Kristen yang berbakti "di bawah tanah" sudah mencapai sekitar 70 juta orang.

Sebagian umat Tuhan merindukan agar kekristenan dapat menjadi agama mayoritas di dunia ini. Mereka berpikir alangkah indahnya apabila orang Kristen menjadi mayoritas di dunia ini. Ijin untuk mendirikan gedung gereja tidak diperlukan lagi; dan berbagai kemudahan akan diperoleh oleh orang-orang Kristen.

Pernahkah itu terjadi? Pernah, yakni pada abad ke-4, pada masa pemerintahan kaisar Romawi yang bernama Constantine Agung (280-337 M). Pada tahun 312, sang kaisar menyerang Itali dan mengalahkan Maxentius, seorang musuh besarnya, di jembatan Milvian dekat kota Roma. Sebelum pertempuran berlangsung, Constantine berkata bahwa ia melihat suatu tanda dari Allahnya orang Kristen di langit. Tanda itu menyatakan, bahwa ia pasti menang.

Menurutnya, tanda itu adalah singkatan dalam bahasa Yunani untuk nama Kristus. Kemudian, tanda itu dilukiskan di setiap perisai prajuritnya. Setelah kemenangannya itu, Constantine menjadikan agama Kristen sebagai agama negara. Dia pun menjadi seorang Kristen. Banyak gedung pengadilan Romawi yang diubah menjadi gedung gereja.

Semua negara yang ditundukkan oleh kaisar Romawi harus "di-kristen-kan", sehingga terjadi baptisan masal. Banyak orang yang dibaptis tidak mengerti akan ajaran firman Tuhan. Mereka menjadi Kristen oleh karena diharuskan oleh perintah sang Kaisar. Para pemimpin gereja adalah orang-orang yang diangkat oleh pemerintah. Mereka memiliki kekuasaan yang besar dan kedudukan yang "empuk".

Akibatnya, banyak praktek duniawi masuk ke dalam gereja. Sinkretisme (percampuran agama Kristen dengan kepercayaan kafir) terjadi di dalam kehidupan gerejawi dan umat-Nya. Di dalam sejarah gereja, jaman sejak Constantine sampai beberapa abad selanjutnya dikenal dengan sebutan "dark ages" (abad-abad kegelapan). Terlalu banyak orang menyebut diri Kristen tetapi hanya "Kristen KTP", demikian pula dengan para pemimpin gereja. Jadi, ironis sekali ... jaman dimana Kekristenan menjadi mayoritas justru disebut sebagai "dark ages".

Sebaliknya, di tempat di mana umat Tuhan dianiaya; mereka hanya kelompok minoritas, di situlah terdapat gereja-gereja yang hidup. Di situlah hadirat Tuhan dinyatakan di tengah-tengah kehidupan umat-Nya. Di situlah terjadi banyak manifestasi kemuliaan Allah.

Jadi, janganlah takut terhadap segala tantangan dan aniaya. Takutlah jikalau Tuhan tidak diberikan tempat yang semesti-nya di Gereja-Nya. Seperti yang tertulis di dalam Wahyu 3:20, "Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku."

Ayat ini bukan ditujukan kepada orang-orang non-Kristen, tetapi kepada gereja Tuhan di Laodikia yang sudah suam-suam (Why 3:16). Tuhan Yesus yang seharusnya menjadi Kepala Gereja, tetapi Ia dibiarkan berada di luar pintu gereja.

(Sumber: Kematian, Kebangkitan dan Kenaikan Yesus ke Sorga, Dr. Roby Setiawan).