Tampilkan postingan dengan label *Kasih*. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *Kasih*. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Maret 2020

22.05 -

Kasih yang sempurna



Kasih level dunia: kasih melihat situasi dan kondisi, menguntungkan “oke”, merugikan “no”. Kasih jenis ini selalu mengecewakan, membuat jiwa terluka (Mat 5:46-47 » memberi salam kepada saudara-saudaranya saja; mengasihi orang yang mengasihinya). 

Kasih level Allah: kasih tanpa melihat situasi dan kondisi. Kasih jenis ini selalu memberi bagai air mengalir dan tiada pernah berhenti (Mat 5:45 » Bapa yang di sorga menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar; Rm 5:8 » Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa). 

Kasih Allah yang sempurna ini menjadi inspirasi terciptanya laguSentuh hatiku” ciptaan Jason Chang. Lagu ini merupakan refleksi hidup yang diilhami oleh kisah seorang gadis, sahabat sekolahnya (X: berusia 13 tahun, SMP kelas 1). 

Ketika sedang makan siang, tiba-tiba X datang. Sambil menahan air mata, X menceritakan keadaan dirinya yang sedang hamil, yang menghamilinya adalah ayahnya sendiri. Dia meminta saya menemaninya ketika dia berbicara dengan ibunya. 

Sesampai di rumah X menumpahkan seluruh isi hatinya kepada ibunya. Ibunya berkata sambil menangis: "Jangan gugurkan kandungan ini, anak ini tidak bersalah apa-apa. Kita akan lewati bersama-sama, kita akan besarkan anak ini bersama-sama." Untuk menutupi aib keluarga, X berhenti sekolah. 

Seringkali saya menengoknya, saya melihat X kadang-kadang menangis dan tertawa sendiri. Dia mengalami depresi berat karena hidup sendirian di sebuah kamar yang gelap, dipisahkan dari lingkungan luar. 

Kadangkala X mengambil garpu atau pisau dan menusuki kepala dan perutnya. Dengan kejadian itu, ibunya terpaksa memindahkan anak perempuan satu-satunya itu ke sebuah perkebunan ayahnya. X dipasung dalam sebuah pondok kecil, dia hidup dengan seorang pembantu. 

Suatu hari rantai besi yang membelenggu tangan dan kaki X terlepas, karena rantai itu sudah tiga belas tahun dipakai, sudah tua dan usang. Setelah belenggu itu terlepas, X menyadari apa yang terjadi, lalu dia berlari mencari pisau dan mengangkat pisau itu ke atas sambil berteriak: "Tuhan, tidak ada yang peduli dengan hidupku, masa depanku sudah hancur. Aku mau mati saja. Tuhan, tolonglah aku ... ampunilah aku." 

Tiba-tiba tangan kanan X yang memegang pisau itu seolah-olah ada yang menahannya. Terdengarlah langkah-langkah kaki mendekatinya, lalu memeluknya dengan kasih

Ketika X dipeluk, dia meronta-ronta sambil berteriak: "Tuhan, Engkau kejam, selama ini Engkau berada di mana? Apakah Engkau tidak pernah sayang kepadaku. Kalau Engkau sayang kepadaku, mengapa hal ini Kau ijinkan terjadi dalam hidupku?" 

Ketika emosi dan tangisnya mulai me-reda, X baru menyadari bahwa Tuhan begitu peduli kepadanya, dia melihat Tuhan juga ikut menangis sambil berkata: "Aku sangat mengasihimu, Aku mengampunimu." 

Lalu X membersihkan tubuhnya dan pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah dia melihat ayahnya dalam keadaan lumpuh total

Ketika X berkata kepada ayahnya, ayahnya hanya diam saja, menangis dan menatapnya dengan tajam seolah-olah berkata: "Maafkan ayah, perbuatan terkutuk itu ayah lakukan tanpa sadar karena ayah dalam keadaan mabuk setelah pulang dari sebuah acara." 

Ayah X mengalami lumpuh total karena perasaan bersalah yang luar biasa terhadap X. Setelah X dimampukan Tuhan untuk mengampuni, maka terjadilah pemulihan di keluarganya. Tiga bulan kemudian ayahnya meninggal. 

Selain itu, anak yang dikandung X dalam keadaan sehat, meskipun dilahirkan pada usia 8 bulan dan ditolong oleh seorang dukun beranak. Jadi, pertemuan secara pribadi dengan Tuhan, membawa perubahan hidup seseorang. 

Kisah nyata ini saya ceritakan atas persetujuan X. Melalui kisah ini saya mengetahui bahwa Tuhan tidak pernah mengijinkan maut menjemput nyawa ayahnya sampai anaknya pulang mengampuni dan Tuhan memulihkan segala sesuatunya. 

Marilah kita belajar dari 1 Yoh 4:7-21

Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab (1) kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. 

(3) Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita

Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. (2) Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita

Demikianlah kita ketahui, bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita: Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam Roh-Nya. Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia. 

Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah. Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia. 

Dalam hal inilah (4A) kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini. (4B) Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. 

(5) Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya

» (1) Allah sumber kasih yang sempurna 

Ketika ayah saya masuk penjara, dunia terasa kiamat karena dalam pergaulan saya sangat dilecehkan, mereka berkata: “Sorry ya ... kami tidak mau bergaul dengan kamu karena kamu anak penjahat.” Di usia lima belas tahun saya sudah menjadi obyek penderita sehingga saya mengalami luka batin. Akibatnya saya menjadi remaja yang selalu mencari perhatian orang, saya menjadi pengemis kasih, haus perhatian dan kasih sayang

Di usia yang kedua puluh, saya adalah seorang pemuda yang sukses di “bisnis seniman”, saya sudah mempunyai mobil sendiri. Saat itu saya menjadi obyek yang menguntungkan dunia. Suatu ketika saya mengenal kasih Allah yang sempurna. Oleh karena itu saya mulai belajar mengasihi dunia dengan level kasih Allah, meskipun sulit luar biasa. 

(2) Allah dikenal dari kasih 

Ketika saya masih berusia 33 tahun, saya diajak pelayanan ke Surabaya oleh seorang pengajar dari SEP karena saya lulusan terbaik tahun 1993 di Jakarta. Ketika saya bertemu dengan seorang pengusaha yang keren, saya langsung menginjilinya seperti iklan coca cola, di mana dan kapan saja. Ternyata, orang tersebut marah kepada saya. Hal ini saya sharingkan pada pangajar saya. Beliau langsung menasehati saya dan mengatakan bahwa cara saya meng-injili itu salah. 

Katanya: “Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Tetapi orang lain bisa merasakan efek kehadiran Allah ketika kita mengasihi orang tersebut. Kasih Allah dapat kita andaikan seperti listrik. Listrik tidak dapat kita lihat secara kasat mata, namun efeknya dapat kita rasakan. Misalnya: lampu menyala sehingga ruangan menjadi terang, mikrofon menyala sehingga orang lain dapat mendengar suara dengan jelas meskipun jarak pendengar dan pembicara berjauhan.” Sejak saat itu saya tidak menginjili seperti iklan coca-cola. 

Menjelang menikah, pacar saya belajar membuat kue dengan ibu saya. Karena jam tujuh malam saya harus memberikan renungan di suatu tempat, maka jam lima saya mengantarkannya pulang. Ketika melewati lapangan sepak bola di Cengkareng, saya melihat ada seseorang yang terkapar di lapangan tersebut. Dalam batin saya, saya ingin segera kabur. Namun ada seseorang yang menghentikan mobil saya dan memohon saya untuk mengantarkan korban ke rumah sakit. Antara bingung dan takut korban tersebut meninggal ... tiba-tiba di hati saya timbul perasaan belas kasihan dan saya meng-iya-kan untuk mengantarnya ke rumah sakit. Orang tersebut bertanya: “Bapa orang Kristen ya ... orang Kristen selalu mempunyai kasih.” 

3. Kasih Allah yang sempurna berpuncak di Golgota 

Di rumah saya tergantung empat lukisan. Suatu hari saya kedatangan panitia pembangunan gereja, salah satu dari mereka memohon agar saya mau merelakan melelang lukisan yang saya punyai tersebut. Saya menolak ide tersebut, saya katakan bahwa lukisan tersebut akan saya jual untuk membiayai kuliah anak saya. 

Sebelum mereka pulang, ada yang berbisik dengan halus: “Bapak kan pelayanan. Cobalah berdoa, discermentlah! Apakah Tuhan mengijinkan lukisan tersebut untuk membantu membangun gereja atau untuk biaya kuliah anak bapak?” 

Sesudah seminggu saya berdoa, tiba-tiba saya teringat lagu “Sentuh hatiku”. Lalu saya berdoa: “Tuhan sentuh hatiku ubah hatiku yang egois ini menjadi baru. Terjadilah padaku sesuai dengan kehendak-Mu. Aku percaya masa depan anak-anakku ada didalam tangan-Mu. Amin” 

Karena saya pelukisnya, maka pada waktu pelelangan saya harus hadir untuk presentasi lukisan tersebut. Saat lukisan itu terjual lima ratus juta rupiah, air mata saya berlinang-linang. Di sinilah saya baru merasakan kebenaran kata Yesus, “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima” (Kis 20:35). 

Jadi, kita harus mencintai Tuhan dan sesama sampai terluka seperti yang dikatakan Mother Teresa. Bukankah Tuhan Yesus telah memberi teladan waktu di Golgota? 

(4AB) Kasih Allah yang sempurna mengalahkan ketakutan 

Saya mempunyai seorang istri dan tiga anak putri. Sebagai suami dan seorang ayah yang bertanggung jawab pada keluarga pasti punya perasaan kuatir dan takut ketika panitia pembangunan gereja mengusulkan untuk merelakan melelang lukisan yang ada pada saya. Maklumlah, saya hanyalah pelukis dan pekerja full timer di gereja yang bukan mengikuti teologi “kemakmuran”. 

Pada saat kedua perasaan ini menghinggapi jiwa saya, saya bernyanyi “Kasih yang sempurna telah kuterima dari-Mu ... Tak kan Kau biarkan. Aku melangkah hanya sendirian. Kau selalu ada bagiku. Sebab Kau bapaku, Bapa yang kekal.” 

Sungguh luar biasa perasaan negatif itu menyingkir dari jiwa saya. Dan dengan berjalannya waktu ketiga putri saya lulus menjadi sarjana tanpa mengalami hambatan apapun. Jadi, bernyanyi dengan baik sama dengan berdoa dua kali (St. Agustinus). 

(5) Kasih Allah yang sempurna baru mencapai tujuannya bila kita saling mengasihi 

Di Palestina ada dua laut. Keduanya sangat berbeda yang satu dinamakan laut Galilea yakni sebuah danau yang luas dengan air yang jernih dan bisa diminum. Ikan dan manusia berenang dalam danau tersebut. Danau itu juga dikelilingi oleh ladang dan kebun hijau. Banyak orang mendirikan rumah disekitarnya. 

Laut yang lain dinamakan laut mati, dan sesuai dengan namanya segala sesuatu yang ada di dalamnya mati. Airnya sangat asin sehingga kita bisa sakit bila meminumnya. Tak seorang pun ingin tinggal di sekitar danau ini karena baunya yang tidak sedap. 

Jadi yang menarik, ada satu sungai yang mengalir ke keduanya tapi apa yang membuat keduanya berbeda? Bedanya adalah danau yang satu menerima dan memberi, sedangkan yang satunya menerima dan menyimpan. 

Sungai Yordan mengalir ke danau Galilea dan meneruskannya ke danau lainnya untuk dimanfaatkannya. Sungai Yordan kemudian mengalir ke laut mati, namun tidak pernah ke luar lagi. Laut mati secara egois menyimpan air sungai Yordan bagi dirinya sendiri. 

Sebuah kasih selalu memberi, bagai air mengalir dan tiada pernah berhenti. Semakin kita mengasihi, iman kita semakin bertumbuh. Jika kasih itu tidak mengalir, maka iman kita mati, tidak berguna bagi Tuhan maupun sesama. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 179/III/2020 » Renungan KPI TL Tgl 11 Juni 2015 Bapak Leonardi).

Jumat, 26 April 2019

06.19 -

Kasih yang mengalahkan perselisihan

Membaca Kej 33 air mata kita bisa meleleh. Kita bisa melihat bagaimana kalau Tuhan sudah campur tangan dalam kehidupan kita, semuanya bisa terjadi. 

Bayangkan, kebencian bertahun-tahun, amarah yang sudah dipendam sedemikian lamanya dan hampir meledak, permusuhan antar saudara kandung yang pernah tinggal di rahim yang sama pada saat yang bersamaan, kekecewaan dan sakit hati* yang sudah meradang, serta ketakutan dan rasa bersalah yang sudah membebani sekian lamanya, kini berakhir indah.

Yakub dan Esau saling bertemu, saling merendahkan diri, menyingkirkan ego masing-masing, menyadari berkat masing-masing serta saling memaafkan. 

"Tetapi Esau berlari mendapatkan Yakub, didekapnya dia, dipeluk lehernya dan diciumnya dia, lalu bertangis-tangisanlah mereka." (Kej 33:4).

Yuk kita baca lebih dalam proses rekonsiliasi Esau dan Yakub.

Mudah-mudahan energi nya menular pada diri kita, keluarga dan Gereja kita dan juga di masyarakat dan bangsa kita. 

TAHAP 1: Semua bermula dari Yakub (pihak yang merasa bersalah) meminta maaf kepada Esau (pihak yang merasa tersakiti). 

Tidak penting mencari siapa yang bersalah, siapa yang benar, menunggu siapa yang harus duluan minta maaf. Di tahap awal ini dibutuhkan pribadi yang berani meminta maaf

Tidak perlu ditambah embel-embel seperti: sebetulnya itu hanya salah paham, tidak sengaja, gara-gara pihak lawan yang mulai duluan memulai, pihak lawan juga salah, dan sejenisnya. Buang jauh-jauh ego kita yang melulu merasa paling benar, yang lain yang salah.

Langkah ini sangat penting sebab kalau tidak ada pihak yang memulai menyadari kekeliruan dan minta maaf atas kesalahan yang membuat pihak lain meradang, maka rekonsiliasi tidak akan pernah terjadi. 

TAHAP 2: Perhatikan baik-baik dalam kisah, baik Esau maupun Yakub belajar dari kesalahan masing-masing

Di kisah ini Esau sangat luar biasa hebat, tampak sekali dia banyak berubah. Ketika Yakub berusaha mendesaknya menerima persembahan (hewan ternak) yang begitu banyak, Esau berkata: "Aku mempunyai banyak, adikku; peganglah apa yang ada padamu." (Kej 33:9).

Artinya, Esau belajar dari pengalaman pahit dan kemarahannya. Esau bergulat bertahun-tahun untuk berdamai dengan dirinya sendiri dan akhirnya *dia mampu melihat dirinya sendiri juga diberkati oleh Allah.* 

Ini yang membuat dia tidak iri lagi dengan berkat yang diterima Yakub. 

Esau belajar banyak hal bahwa setiap orang punya berkat dan rejekinya masing-masing. Demikian juga hal nya Yakub, dia juga menyadari hidupnya juga penuh berkat melimpah. 

TAHAP 3: Tahap terakhir adalah *UNDERSTANDING* (PENGERTIAN). 

Baik Esau maupun Yakub membuka lembaran baru, hidup bersama dalam rasa damai yang sesungguhnya. Baik Esau maupun Yakub juga tidak mengungkit-ungkit masa lalu mereka. Mereka tidak pernah membahas konflik yang pernah terjadi di antara mereka. 

Esau tidak menuntut Yakub untuk minta maaf. Tetapi Esau *bisa mengerti dari tindakan kasih dan kerendahan hati yang dibuat adiknya di Kej 33 ini adalah sebuah permohonan maaf yang sangat tulus. 

Demikianpun tidak ada kata "aku mengampunimu" yang keluar dari Esau. Tetapi dari tindakan dan kasih yang ditunjukkan Esau, Yakub bisa mengerti dengan jelas bahwa kakaknya telah memaafkan dirinya.

Kadang tingkah laku, perbuatan, perubahan ke arah yang baik, sikap kita, jauh lebih berbicara dibanding sekedar kata-kata

Konflik, kesalahpahaman, kekecewaan, rasa marah antar anggota keluarga, teman, sahabat telah sedemikian menyakiti dan menghancurkan satu sama lain.

Keluarga yang seharusnya didasari oleh kasih persaudaraan kini tidak lagi merasakan cinta, damai, dan persaudaraan sepanjang hidupnya. 

Hidup ini begitu singkat. Selagi kita masih punya waktu, penuhi diri kita oleh kasih, persahabatan dan persaudaraan bukan oleh kebencian, permusuhan dan dendam.

Kuncinya: pengampunan.

(RD Josep Susanto)

03.42 -

Bayi kembar Kyrie dan Brielle



Brielle dan Kyrie lahir 12 minggu sebelum tanggal jatuh tempo (Prematur), sehingga Membutuhkan perawatan intensif. Mereka ditempatkan di inkubator terpisah.

Kyrie mulai menambah berat badan dan kesehatannya mulai stabil. Tapi Brielle, lahir hanya 2 lbs , mengalami kesulitan bernapas, masalah jantung dan komplikasi lainnya. Dia tidak ada harapan untuk dapat hidup.

Perawat yang merawat mereka berdua, melakukan semua yang bisa dia lakukan untuk membuat kesehatan Brielle lebih baik , tapi tidak ada yang dia bisa lakukan lagi untuk membantunya. 

Dengan tidak ada lagi yang harus dilakukan, perawat yang merawat mereka berdua memutuskan untuk menempatkan kedua bayi itu di inkubator yang sama.

Dia meninggalkan bayi kembar itu untuk tidur, dan ketika dia kembali, dia menemukan sebuah pemandangan yang tidak bisa dia percayai. 

Dia memanggil semua perawat dan dokter, dan inilah yang mereka lihat. Saat Brielle semakin dekat dengan saudara perempuannya, Kyrie melingkarkan lengan kecilnya. Dia seolah memeluk dan mendukung saudaranya. 

Sejak saat itu, pernapasan dan detak jantung Brielle menjadi stabil dan kesehatannya menjadi normal.

Bagikan foto itu untuk menunjukkan kepada dunia bagaimana caranya cinta dan kasih sayang yang lembut bisa menyelamatkan.

Rabu, 20 Maret 2019

07.18 -

Kasih yang bersumber dari kasih Allah




Ayah saya tidak mau mengikuti agama Kristen karena pernah mempunyai pengalaman pahit (kecewa, luka batin) dengan orang Kristen. Namun saya merindukan keselamatan jiwa ayah saya, maka saya menawarinya untuk dibaptis secara Katolik, tetapi beliau menolaknya. Katanya: “Kalau papa dibaptis, maka papa harus pergi ke gereja. Siapa yang jaga toko?” 

Pada saat beliau sakit keras, saya tidak dapat mendampinginya terus-menerus karena saya harus menjaga toko. Saya tahu bahwa Allah dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang saya doakan atau pikirkan (Ef 3:20), kasih-Nya sungguh tak terbatas. Oleh karena itu saya tidak menghakimi karakternya yang keras tetapi setiap hari saya berdoa agar “kasih Allah mengalir dalam hidup ayah saya”. 

Sungguh luar biasa, bagaikan batu yang sifatnya keras ditetesi air yang sifatnya lembut secara terus-menerus, maka batu itu akan pecah. Demikian juga dengan hati ayah saya yang keras, berkat kasih-Nya yang selalu mengalir maka beliau menjadi terbuka terhadap kasih Allah

Akhirnya ... pada saat romo menanyakan padanya: “Apakah bapak mau dibaptis?” Jawabnya: “Mau.” Sungguh luar biasa karya Allah, ayah saya mau dibaptis, terlebih lagi malam hari sebelum romo datang, tiba-tiba beliau memanggil sopir untuk mengembalikan alat sembahyang ke klenteng. 

Orang yang mau terbuka (menanggapi) kasih Allah ini (1 Ptr 3:9 » berbalik dan bertobat; Yoh 6:40 » percaya kepada-Nya) akan diselamatkan (1 Tim 2:4). 

Seringkali orang-orang Kristen sendiri menjadi penghalang besar bagi orang-orang yang ingin mendekati Kristus. Karena kita seringkali berkotbah tentang injil yang tidak kita hayatiInilah alasan mendasar mengapa begitu banyak orang di dunia ini yang tidak percaya (Mother Teresa). 

Marilah kita belajar dari 1 Yoh 4:7-21

Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan (2E) setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih

Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa (1B) Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. 

Inilah kasih itu: (2A) Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah (1C) mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. 

Saudara-saudaraku yang kekasih, (2C) jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan (3A) kasih-Nya sempurna di dalam kita

Demikianlah kita ketahui, bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita: (4) Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam Roh-Nya

Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa (1A) Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia. Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah. Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dalam hal inilah (3B) kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini. 

Di dalam kasih tidak ada ketakutan: (3C) kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. 

(2B) Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena (2F) barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: (2D) Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya

» Semua orang telah berbuat dosa (Rm 5:12). Oleh karena itu Allah berinisiatif menunjukkan kasih-Nya kepada kita ketika kita masih berdosa (1ABC; Rm 5:8; Luk 15:11-32 » Perumpamaan tentang anak yang hilang). 

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia (Yoh 3:16-17). Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa (1 Tim 1:15). 

(2A-2F) Ada seorang anak kecil ingin memberikan hadiah ulang tahun pada ayahnya, namun ia tidak mempunyai uang. Sebagai ayah yang peka dapat melihat kegelisahan dan kerinduan anaknya. Maka pada saat anaknya tidur, sang ayah menaruh selembar uang seratus ribu di meja sebelah tempat tidur anaknya. Begitu bangun tidur, anak tersebut kaget dan bersukacita karena kerinduannya untuk memberi hadiah ulang tahun ayahnya terkabul. 

Ketika hadiah itu diberikan kepada ayahnya, ayahnya bersukacita dan berterima kasih karena anaknya ingat hari ulang tahunnya dan berterima kasih juga atas hadiah tersebut. 

Ada banyak pandangan yang keliru tentang kasih: kalau kita berbuat baik, kita baru dikasihi Allah; ada budi, ada balas. Kasih Allah tidak membedakan orang (Kis 10:34; Mat 5:45 » menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar). (4) Kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita (Rm 5:5). 

Sebagai seorang Kristiani, kita harus menyadari kebenaran Kristiani ini: Allah mengasihi kita bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi (1) karena rahmat-Nya (Tit 3:5; 2 Tim 3:17 » tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik). Namun, kerahiman-Nya juga (2) memperhitungkan jasa-jasa perbuatan yang benar (3 Yoh 1:6; Tob 4:8-9 » memberi sedekah melepaskan dari maut, dengan jalan itu kita timbun simpanan bagi diri kita untuk masa darurat). 

Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu berhubungan dengan kebajikan ini, yaitu cinta kasih (Mat 22:37-39 » Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri). 

Untuk mengasihi, tidak bisa dipisahkan kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama (Luk 10:27), kalau mengasihi Allah, ya harus mengasihi sesama, kalau mengasihi sesama ya membutuhkan kasih Allah terlebih dulu

Dua perintah ini sangatlah penting dan harus kita lakukan, namun urutannya harus kita perhatikan, jangan terbalik. Mengapa? 

1. Tuhan tidak ingin kita memiliki berhala di dalam hidup kita. Lagi pula, Dia tahu bahwa Dia-lah satu-satunya yang dapat memuaskan jiwa manusia. Sesungguhnya tidak ada satu pun manusia yang dapat memuaskan jiwa manusia lain. Setiap manusia sangat amat membutuhkan hubungan dengan Tuhan. 

2. Tuhan adalah Kasih (1 Yoh 47-21). Artinya, seorang manusia tidak dapat sungguh-sungguh mengasihi manusia lain sebelum ia memiliki hubungan dengan Kasih Sejati (Tuhan). Jadi, manusia harus melekat kepada Tuhan terlebih dahulu, barulah ia dapat menyalurkan kasih yang sesungguhnya kepada sesamanya

Kalau kita sudah merasakan kasih Allah, maka kita akan banyak berbicara tentang kasih seperti St. Yohanes Rasul (Yoh 13:23; 19:26; 20:2; 21:7, 20 » murid yang dikasihi Yesus). Pengalaman kasih yang mendalam ini (Yoh 13:23 » bersandar dekat kepada-Nya, di sebelah kanan-Nya) meluap sehingga pengalaman ini tampak dalam tulisannya (Injil dan surat-suratnya). 

Bila seseorang semakin bertumbuh dalam pengenalan akan kasih Allah, maka cara pandang, cara pikir, dan nilai-nilai kehidupannya berubah karena ia sadar bahwa hati Allah lebih lembut dari hati ibu manapun, Dia mengasihinya dengan kasih yang kekal (Yes 49:15; Yer 31:3), (3ABC) kasih Allah sempurna di dalam kita sehingga tidak ada lagi perasaan takut dalam hidup sehingga kita dimampukan untuk melaksanakan perintah-Nya (Mat 5:44 » Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu). 

Karena telah lebih dulu mengalami belas kasih Allah, maka seseorang tidak mau menghakimi orang lain; membagikan kasih kepada sesama dengan tulus, tanpa menuntut balas; tidak mencari penghargaan/penghormatan dari manusia (tidak takut apa kata orang). Jadi, hatinya meluap dengan ucapan syukur dan terima kasih dan melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan Allah (Kol 3:17; 1 Kor 10:31). 

(Sumber: Warta KPI TL No. 167/III/2019 » Renungan KPI TL Tgl 21 Februari 2019, Bapak Effendy). 

Selasa, 15 Januari 2019

18.16 -

Sukacita kunjungan Bunda Maria kepada Elisabet sebagai teladan kasih



Kasih adalah kebajikan ilahi, dengannya kita mengasihi Allah di atas segala-galanya demi diri-Nya sendiri dan karena kasih kepada Allah kita mengasihi sesama seperti diri kita sendiri (KGK 1822). . 

Yesus membuat kasih menjadi suatu perintah baru (Bdk. Yoh 13:43). Karena Ia mengasihi orang-orang-Nya "sampai pada kesudahannya" (Yoh 13:1), Ia menyatakan kasih yang Ia terima dari Bapa-Nya. Melalui kasih satu sama lain para murid mencontoh kasih Yesus, yang mereka terima dari Dia. Karena itu Yesus berkata: Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu" (Yoh 15:9). Dan juga: "Inilah perintah-Ku: yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu" (Yoh 15:12) (KGK 1823). . 

Sebagai buah roh dan penyempurnaan hukum, kasih mematuhi perintah-perintah Allah dan Kristus. "Tinggallah di dalam kasih-Ku! Jikalau kamu menurut perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku" (Yoh 15:9-10) (Mat 22:40; Rm 13:8-10) (KGK 1824). 

Kristus telah wafat karena kasih terhadap kita, ketika kita masih "musuh" (Rm 5:10). Tuhan menghendaki agar kita mengasihi musuh-musuh kita menurut teladan-Nya (Mat 5:44), menunjukkan diri kita sebagai sesama kepada orang yang terasing (Luk 10:27-37), dan mengasihi anak-anak (Mrk 9:37) dan kaum miskin (Mat 25:40, 45). 

Santo Paulus melukiskan gambaran mengenai kasih yang tidak ada tandingannya: Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri: Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu" (1 Kor 13:4-7) (KGK 1825) . 

Rasul juga mengatakan: sekalipun aku memiliki segala sesuatu dan sanggup melaksanakan segala sesuatu, "tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna". Dan sekalipun aku mempunyai segala keistimewaan, pelayanan, dan juga kebajikan "tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku" (1 Kor 13:1-4). Kasih melebihi segala kebajikan. Ia adalah kebajikan ilahi yang paling utama: "Demikianlah tinggal ketiga hal ini yaitu iman, harapan, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih" (1 Kor 13:13) (KGK 1826). . 

Pelaksanaan semua kebajikan ini dijiwai dan digerakkan oleh kasih. Inilah "pengikat yang menyatukan dan menyempumakan" (Kol 3:14); ia adalah pembentuk kebajikan; ia menentukan dan mengatur kebajikan-kebajikan; kasih Kristen mengamankan dan memurnikan kekuatan kasih manusiawi kita. Ia meninggikannya sampai kepada kesempurnaan adikodrati, kepada kasih ilahi (KGK 1827). . 

Kehidupan moral yang dijiwai oleh kasih memberi kepada orang Kristen kebebasan anak-anak Allah. Di depan Allah ia tidak lagi bersikap sebagai seorang hamba dengan ketakutan yang merendahkan dan juga bukan sebagai seorang buruh harian yang ingin dibayar, melainkan sebagai seorang anak, yang memberi jawaban kepada kasih dari Dia, yang "lebih dahulu mengasihi kita" (1 Yoh 4:19). 

"Atau kita berpaling dari yang jahat, karena takut akan siksa, berarti kita bersikap sebagai seorang hamba. Atau kita ingat akan upah dan menjalankan perintah-perintah, karena keuntungan yang mengalir darinya; kita lalu menyerupai buruh harian. Atau kita taat demi kebaikan itu sendiri dan karena kasih kepada Dia, yang telah memberi hukum kepada kita... kita lalu bersikap sebagai putera-putera" (Basilius, reg. fus. prol. 3) (KGK 1828). . 

Buah kasih adalah kegembiraan, perdamaian, dan kerahiman; kasih menghendaki kemurahan hati dan teguran persaudaraan; ia adalah perhatian; ia ingin memberi dan menerima; ia tanpa pamrih dan murah hati; ia adalah persahabatan dan persekutuan

"Penyempurnaan seluruh pekerjaan kita adalah kasih. Itulah tujuan yang karenanya kita berlari kepadanya, kita bergegas dan di dalamnya kita akan mengasoh, kalau kita telah mencapainya" (Agustinus, ep. Jo. 10,4) (KGK 1829). 

Senyum satu sama lain, senyum pada istri Anda, tersenyum pada suami Anda, tersenyum pada anak-anak Anda, tidak peduli siapa dia, ini akan membantu Anda tumbuh dalam kasih yang lebih besar satu sama lain (Mother Teresa) 

Iman sebagai rahmat Allah memberikan kepada umat kerinduan atau harapan untuk bersatu dengan Allah dalam hidup kekal. Cara mewujudkan kerinduan atau harapan akan hidup kekal adalah kasih. Iman dan harapan disempurnakan dalam kasih kepada Allah. Dan kasih kepada Allah yang tidak kelihatan diwujud nyatakan dengan mengasihi sesama yang kelihatan. Dengan demikian sesama dapat mengalami kasih dari Allah melalui kita

Kasih kepada Allah selalu menggerakkan untuk menjumpai sesama yang dikasihi. Agar dapat menjumpai sesama yang dikasihi, kita hendaknya berani keluar dari diri sendiri dan berani berkurban dengan tulus. Perjumpaan dengan sesama sebagai wujud kasih kepada Allah selalu melahirkam sukacita

Marilah kita belajar dari Lukas 1:5-45, 56

[5-25] Zakharia dan Elisabet adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat. Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya. ... malaikat itu berkata kepada Zakharia: (1) "Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu. Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan ... ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya; ...menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya." 

Beberapa lama kemudian Elisabet, isterinya, mengandung dan (3C) selama lima bulan ia tidak menampakkan diri, katanya: "Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang." 

[26-37] Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria

Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." ... Kata malaikat itu kepadanya: (2) "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." 

Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" Jawab malaikat itu kepadanya: (4A) "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, (3A) Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil." 

Kata Maria: (4B) "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia 

[39-45] (3B) Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. 

Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, (5A) melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan (5B) Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana." 

[56] Dan (3D) Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. 

» (1, 2) Malaikat membuka kesempatan terjadinya perjumpaan antara Maria dan Elisabet. Mereka sama-sama mengalami misteri Allah, sama-sama tidak mengerti apa yang terjadi, tetapi mereka meng-amin-i perkataan malaikat Gabriel dengan iman. Menurut kaca mata dunia, mereka sama-sama mengalami “aib”. 

(3A) Malaikat memberi tahu Maria tentang berkat yang telah dilimpahkan kepada sanaknya, Elisabet. (3BCD) Perjalanan Maria yang mengunjungi Elisabet merupakan proses perjalanan batin mewujudkan kasih dan ketaatan Maria pada kehendak Allah. Sebagai seorang yang beriman, Maria hendak mencari peneguhan dan ingin berbagi berkat dengan sanaknya, Elisabet. 

(4AB) Bunda Maria adalah teladan iman kita semua. Orang beriman selalu menyediakan diri dengan tulus agar kehendak Allah terjadi dalam dirinya. 

Berkat bimbingan Roh Kudus, Maria bertumbuh menjadihamba Tuhanyang rendah hati. Meskipun Maria telah mengandung Mesias, ia tidak merasa bahwa dirinya lebih tinggi dari Elisabet, ia mau meninggalkan semua urusannya guna mengurus hal yang lebih besar, yaitu: memberi peneguhan dan memberkati sanaknya, Elisabet. Perjumpaan mereka adalah perjumpaan yang saling meneguhkan, saling memberkati sehingga dukacita mereka diringankan, sukacita mereka digandakan

(5A) Meskipun Yohanes masih dalam rahim, perjumpaan ini membuatnya bersukacita, karena ia tahu bahwa Maria membawa Yesus dalam rahimnya

(5B) Ada kekuatan Roh Kudus dalam diri Maria, sehingga salamnya mengaktifkan Roh Kudus yang ada dalam diri Elisabet. Berkat Roh Kudus, Elisabet bernubuat dan memuji Maria

Kita semua juga orang terberkati, yang sering kali tidak mengerti misteri Allah dalam hidup kita. Oleh karena itu, kita harus hidup dalam persekutuan orang beriman agar kita bisa saling berbagi pengalaman iman dan saling memberi peneguhan agar dukacita kita diringankan, sukacita kita digandakan. 

Jadi, sebagai murid Kristus kita harus belajar dari Bunda Maria yang selalu membawa Tuhan Yesus dalam dirinya, berani keluar dari dirinya dan kenyamanan diri, berani meninggalkan kesibukan dan urusan-urusan sendiri, berkurban waktu dan tenaga, memberikan sukacita. Semua itu merupakan buah kasih yang selalu di bawa dalam diri Bunda Maria. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 165/I/2019 » Menantikan kedatangan Tuhan dengan iman yang dewasa, ibadat adven 2018). 

Kamis, 27 Desember 2018

17.21 -

Cinta kasih - KV II

c) CINTA KASIH

55. Mengapa cinta kasih merupakan pokok agama Kristen?

Tuhan, Yang memelihara semua orang sebagai Bapa, menghendaki agar semua manusia membentuk satu keluarga dan memperlakukan satu sama lain sebagai saudara. Sebab, semua orang diciptakan menurut citra Allah, Yang menjadikan "semua bangsa manusia dari satu orang untuk mendiami seluruh muka bumi" (Kis 17:26). Tambah lagi, semua orang dipanggil untuk tujuan yang satu dan sama, yaitu Tuhan sendiri.

Oleh sebab itu, cinta kepada Allah dan kepada sesama manusia adalah perintah pertama dan terutama. Kitab Suci mengajarkan kepada kita, bahwa cinta kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari cinta kepada sesama: "... kalau pun ada perintah lain, perintah itu tercakup dalam sabda ini: Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri. 

Jadi, kepenuhan hukum adalah cinta kasih." (Rm 13:9-10; bdk. 1 Yoh 4:20). Hal ini terbukti sangat penting bagi manusia, yang makin hari makin bergantung satu sama lain, dan juga bagi dunia yang makin hari makin dipersatukan. (GD 24 a dan b)


56. Apa hubungan antara cinta akan Tuhan dan sesama manusia?

Karya-karya cinta kasih dikehendaki Kristus Tuhan menjadi tanda pengenal pengutusannya sebagai Mesias (bdk. Mat 11:4-5). 

Perintah tertinggi dalam Hukum adalah mencintai Allah dengan seluruh hati dan mencintai sesama seperti diri sendiri (bdk. Mat 22:37-40). Perintah untuk mencintai sesama manusia dijadikan Kristus sebagai perintah-Nya yang khas dan diperkaya oleh-Nya dengan makna baru.

Kristus menghendaki bahwa Ia sendiri dan saudara-saudara-Nya: menjadi sasaran cintakasih yang sama; Ia berfirman: "Tiap kali kamu melakukannya untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu melakukannya untuk Aku." (Mat 25:40) 

Sebab, dengan mengambil kodrat manusia, Kristus menghimpun seluruh umat manusia dalam suatu kesetiakawanan adikodrati, sehingga menjadi satu keluarga yang bersatu dengan-Nya. Dan sebagai tanda pengenal murid-murid-Nya, Ia pancangkan cinta kasih dengan berkata: "Semua orang akan mengenal kamu sebagai murid-murid-Ku, jikalau kamu saling mengasihi." (Yoh 13:35) (KA 8 a)


57. Mengapa cinta kasih merupakan keutamaan yang dikaruniakan oleh Tuhan?

"Tuhan ialah Cinta kasih dan yang tinggal dalam cinta kasih, tinggal dalam Tuhan dan Tuhan di dalam dia." (1 Yoh 4:16). 


Tuhan mencurahkan cinta kasih-Nya ke dalam hati kita dengan pengantaraan Roh Kudus. Yang dianugerahkan kepada kita (Rm 5:5). Oleh karena itu, anugerah pertama dan yang paling perlu ialah cinta kasih, dengannya kita mencintai Tuhan lebih daripada segala sesuatu dan mencintai sesama demi Dia.

Supaya cinta kasih bertumbuh dan berbuah di dalam jiwa bagai benih yang baik, maka setiap orang beriman
 harus mendengar dengan rela sabda ilahi dan dengan bantuan rahmat-Nya memenuhi kehendak Allah dalam tindakan-tindakannya. Mereka harus berperan serta dalam Sakramen-sakramen, terutama Ekaristi dan juga dalam ibadat-ibadat lain. Mereka harus berdoa dengan tabah menyangkal diri, memberi pelayanan persaudaraan yang aktif dan melaksanakan segala keutamaan. 

Sebab cinta kasih adalah sabuk kesempurnaan dan pemenuhan hukum ilahi (Kol 3:14; Rm 13:10). Cinta ilahi ini menuntun serta menjiwai semua cara untuk menjadi suci dan memungkinkan cara-cara itu dapat berhasil. Maka murid sejati Kristus ditandai dengan cinta kasih, baik kepada Tuhan maupun kepada sesama. (G 42 a)



58. Manakah kesaksian cinta Kristiani yang paling mulia?


Yesus, Allah-Putera, menunjukkan cinta kasih-Nya dengan memberikan nyawa-Nya demi kita. Oleh karena itu tak seorang pun mempunyai cinta kasih yang lebih besar daripada dia yang menyerahkan nyawanya untuk Kristus dan untuk saudara-saudara-Nya (Bdk. 1 Yoh 3:16; Yoh 15:13).

Memberikan kesaksian paling mulia tentang cinta kasih di hadapan semua orang, terutama di hadapan para penindas, sudah sejak abad-abad pertama merupakan panggilan beberapa orang Kristen. Dengan mati sebagai martir murid menyerupai Guru. Yang menerima kematian dengan rela demi keselamatan dunia. Kematian itu juga menjadi murid selaras dengan-Nya dalam menumpahkan darah. 

Maka dari itu mati sebagai martir dianggap oleh Gereja sebagai satu anugerah yang luhur dan bukti cinta kasih yang paling unggul. Walaupun anugerah ini diberikan kepada sedikit orang, namun semua orang beriman harus bersedia mengakui Kristus di depan manusia dan mengikuti Dia pada jalan salib di tengah-tengah penindasan yang tidak pernah absen dari Gereja. (G 42 a)


Selasa, 25 Desember 2018

17.46 -

Relationship



Apa dasar relationshipmu? Love atau Lust? Cinta atau hawa nafsu?

Sebelum kita memulai renungan hari ini, saya ingin kita semua membaca 2 Sam 13:1-16. Ini mungkin akan menjadi salah satu kisah teraneh yang akan pernah kalian baca di Alkitab, tetapi Tuhan ingin memberikan sebuah pelajaran yang sangat penting kepada setiap dari kita melaluinya. Jadi jangan lupa baca 2 Sam 13:1-16 dulu sebelum lanjut.

Saya ingin memulai renungan hari ini dengan sebuah ilustrasi. Apakah kalian pernah meminum coca-cola kalengan menggunakan sedotan? Sedotannya bergerak terus kan? Sedotannya seperti ingin melompat keluar kan? Bagaimana jika saya memberitahukan sebuah life-hack kepada kalian:


Jadi ternyata selama ini, pada kaleng coca-cola (dan kaleng-kaleng soda lainnya) ada sebuah fitur untuk menahan sedotan agar sedotan itu tidak bergerak kesana dan kesini. Saya yakin kebanyakan dari kita tidak mengetahui fungsi tersebut sebelumnya. Lucu bukan? Kita sudah beratus-ratus kali minum minuman kaleng seperti Fanta, Pepsi, Coca-cola, dan lain-lain, tetapi kita tidak pernah mengetahui fungsi itu sebelumnya.

Begitu pula dengan hal relationship. Kebanyakan dari kita telah melihatnya atau bahkan merasakannya. Kita seringkali berpikir bahwa kita mengerti segalanya yang perlu kita ketahui dari relationship. Namun padahal, banyak orang yang melewati fungsi sesungguhnya dari relationship; maka itu banyak yang memiliki relationship yang tidak berjalan dengan baik dan yang akhirnya berakhir pada kehancuran.

Masalah terbesar di dalam relationship adalah kebanyakan orang mengatakan “I’m in Love,” padahal sebenarnya mereka mengatakan “I’m in Lust.” Jadi apa perbedaan dari Love dengan Lust?

Lust (hawa nafsu) adalah menggunakan seseorang sebagai alat untuk memuaskan hawa nafsu sendiri. Lust adalah berpikir, “Tujuan-mu adalah untuk memuaskan diri-ku.” Ini adalah sebuah pegangan yang salah dalam relationship bukan? Dimana relationship seharusnya memiliki tujuan untuk membangun satu sama lain, dan bukan malah memuaskan nafsu satu sama lain.

Sekarang kita ingin melihat sedikit deskripsi dari Love (kasih) menurut Alkitab:

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.” (1 Kor 13:4-7)

Love adalah tentang memberi, sedangkan Lust adalah tentang mengambil


Seperti melalui kisah yang kita baca di 2 Sam 13 tadi, Amnon merasa dirinya sangat mengasihi Tamar. Dia tidak dapat berhenti memikirkan Tamar. Maka itu, Amnon meminta Tamar untuk menemuinya. Setelah Tamar datang ke kamarnya, Amnon memaksa Tamar untuk tidur dengannya - dia berpikir bahwa dia menginginkan Tamar karena dia begitu cinta dengan Tamar. 

Namun ternyata, setelah itu, Amnon malah membenci Tamar- ”Kemudian timbullah kebencian yang sangat besar pada Amnon terhadap gadis itu, bahkan lebih besar benci yang dirasanya kepada gadis itu dari pada cinta yang dirasanya sebelumnya. Lalu Amnon berkata kepadanya: “Bangunlah, enyahlah!” (2 Sam 13:15)

Aneh bukan? Amnon yang awalnya seperti sangat mengasihi dan mengingini Tamar, tiba-tiba berubah jadi membenci Tamar. Dan Alkitab bahkan mengatakan bahwa kebenciannya melebihi kasihnya yang sebelumnya. Bukankah ini yang seringkali terjadi di dalam relationship yang dimiliki oleh orang-orang dunia?

Berapa banyak pasangan yang awal masuk relationship kelihatan sangat sweet dan tidak dapat terpisahkan, tetapi setelah beberapa tahun, mereka tiba-tiba berubah menjadi dua orang yang saling membenci satu sama lain. 


Berapa banyak orang-orang yang masuk ke dalam pernikahan dan memutuskan untuk tinggal bersama, tetapi pada akhirnya bercerai dan tidak ingin melihat satu sama lain lagi selamanya. Dari ‘sangat mengasihi’ berubah menjadi ‘sangat benci.’ Mengapa ini bisa terjadi?

Kebenarannya adalah: Mungkin saja ‘kasih’ yang mereka anggap kasih itu, sebenarnya bukanlah kasih, melainkan nafsu. Mungkin saja yang sebenarnya dimiliki oleh mereka bukanlah LOVE yang dideskripsikan oleh Rasul Paulus di 1 Kor 13, melainkan LUST.

Yohanes 3:16 mengatakan, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yesus mengatakan bahwa karena Tuhan begitu mengasihi kita, Dia MEMBERI. Mengasihi adalah tentang memberi, bukan mengambil.

Jika di dalam relationship-mu, yang kamu inginkan adalah mengambil, mengambil, dan mengambil - saya berani jamin, relationship-mu tidak akan berjalan dengan lancar dan pada akhirnya akan berakhir pada kehancuran. 


Namun, jika di dalam relationship-mu, yang kamu inginkan adalah memberi, memberi, dan memberi - saya yakin relationship-mu akan berjalan lebih baik dan kemungkinan besar akan bertahan.

Jika relationship kita sebenarnya didasari oleh LUST, relationship kita pasti nantinya akan runtuh. Tetapi jika relationship kita sebenarnya didasari oleh LOVE, relationship kita pasti nantinya akan bertahan.

Relationship yang benar bukanlah tentang dua orang yang berharap akan dipuaskan satu dengan yang lain, melainkan relationship yang benar adalah tentang dua orang yang saling memberi yang terbaik kepada satu sama lain.


Yang mampu memuaskan kita di dalam hidup bukanlah pasangan kita! Melainkan hanya Tuhan! Jika kamu masih bersikeras meminta kepuasan dari pasanganmu, maka Goodluck, semoga kamu berhasil. Saya hanya dapat mengingatkan bahwa tidak ada yang dapat memuaskan di dalam hidup kecuali Tuhan. 


Jika dirimu sudah dipenuhi dan dipuaskan oleh Tuhan, barulah kamu juga dapat memberikan kasih yang sesungguhnya kepada pasanganmu. Semakin dekat hubunganmu dengan Tuhan, semakin kamu dapat mengasihi pasanganmu dengan unconditional love, semakin kamu dapat memberi tanpa meminta imbalan, dan semakin kamu dapat menghargai relationship kamu.

Ketika dunia mengatakan LOVE, yang mereka maksudkan adalah LUST. Tetapi ketika Tuhan mengatakan LOVE, yang Tuhan maksudkan adalah unconditional love—mengasihi sebagaimana Dia telah mengasihi kita. Kasih yang memberi, kasih yang tidak meminta imbalan, dan kasih yang bertahan hingga akhir.



Nafsu terasa seperti cinta sampai tiba saatnya untuk berkorban. Keinginan cinta adalah memberi, tetapi keinginan nafsu adalah mengambil.


3 mentalitas untuk memiliki relationship yang benar

Jika kita membaca Alkitab, kita akan menemukan hikmat-hikmat yang sangat luar biasa dan yang sangat mampu mengubah hidup kita. Maka itu sangatlah penting untuk membaca Alkitab setiap hari jika kita ingin memiliki hidup yang lebih baik

Dan sebenarnya, pelajaran-pelajaran dari Alkitab bukan hanya berguna untuk kehidupan personal kita, melainkan juga sangat berguna untuk kehidupan relationship setiap dari kita. 

Setelah membaca Alkitab, saya mendapatkan tiga pelajaran penting yang menurut saya sangatlah berguna untuk kehidupan relationship setiap dari kita. Berikut adalah tiga mentalitas yang harus kita miliki di dalam relationship:

1. Memberi dan bukan mengambil

“Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (Kisa 20:35)

Permasalahan yang kebanyakan pasangan miliki adalah, mereka berpikir relationship adalah tentang, “Kamu sekarang adalah milikku, sehingga kamu harus memberikanku yang terbaik.” Padahal seharusnya relationship adalah tentang, “Aku sekarang adalah milikmu, sehingga aku akan memberikanmu yang terbaik.”

Ingatlah apa yang Tuhan sering katakan tentang kasih. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan (memberi) Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16). Kasih adalah tentang memberi.

Relationship yang bertahan bukanlah relationship yang berisikan dua orang yang saling meminta, meminta, dan meminta; melainkan, relationship yang bertahan adalah relationship yang berisikan dua orang yang saling memberi, memberi, dan memberi. 

Percaya deh, kalimat “lebih berbahagia memberi daripada menerima” bukanlah sekedar sebuah kalimat cantik yang bisa kita post di Instagram, melainkan merupakan pegangan hidup yang dapat sungguh-sungguh membuat hidup kita menjadi lebih baik.

2. Tuhan dan bukan hawa nafsu

Yang sudah berada di dalam relationship, ayo coba cek - dasar, alasan, dan tujuan relationship kamu apa sih? Apakah Tuhan? Ataukah hawa nafsu?

Ingatlah bahwa Tuhan tidak akan memberkati dan tidak akan menyertai hubungan yang dikuasai oleh hawa nafsu. Jika kita memiliki relationship yang dikuasai oleh hawa nafsu dan bukan Tuhan, tentu pada akhirnya kita hanya akan bertemu dengan kehancuran. 

Banyak relationship yang pada akhirnya hancur karena dasar, alasan, dan tujuannya salah. Jika kamu ingin memiliki relationship yang mampu bertahan hingga akhir, kamu harus membangunnya pada fondasi yang tepat, yaitu fondasi yang dinamakan Tuhan. Lebih dari itu, kamu juga harus berjalan menuju tujuan yang tepat pula, yaitu tujuan yang dinamakan memuliakan Tuhan.

“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam RELATIONSHIP-MU. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga RELATIONSHIP-MU tidak berbuah, jikalau RELATIONSHIP-MU tidak tinggal di dalam Aku.

Akulah pokok anggur dan RELATIONSHIP-MUlah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku RELATIONSHIP-MUtidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.” (Yohanes 15:4-6) 

3. Kasih karunia dan bukan hukum Taurat

Hukum taurat mengatakan bahwa hukuman akan datang bila kesalahan dilakukan. Tetapi kasih karunia mengatakan bahwa pengampunan tersedia bahkan ketika kesalahan dilakukan. Relationship yang baik adalah relationship yang memegang kasih karunia dan bukan hukum taurat.

Tentu ketika pasangan kita melakukan kesalahan, kita memiliki hak untuk marah. Namun, jangan sampai kita malah menghujat, memukul, dan menghukum. Ketika pasangan kita melakukan kesalahan, lebih baik kita mengoreksi dengan baik-baik (di dalam kasih). Seperti yang saya suka katakan: “Penghakiman tidak pernah dapat mengubah apa-apa, tetapi kasih dapat mengubah segalanya.”

“Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” (Yoh 3:17)

Ingatlah bahwa Tuhan Yesus pun menyelamatkan kita bukan dengan penghakiman, melainkan dengan kasih. Maka itu, selamatkanlah juga relationshipmu bukan dengan penghakiman, melainkan dengan kasih.


Relationship goals pengikut Kristus

Saya yakin setiap dari kita sudah sering mendengar atau mengatakan sebutan relationship goals. Relationship goals biasanya kita tujukan kepada sebuah pasangan yang kelihatannya sweet banget, lengket banget, atau cocok banget. 

Namun, melalui pengalaman saya, saya menemukan banyak sekali pasangan-pasangan yang dulunya pernah disebut-sebut sebagai relationship goals malah akhirnya berakhir tragis. Mereka yang dulunya terlihat sweet, lengket, dan cocok, kini malah terlihat sebagai dua orang yang sudah tidak mengenal satu sama lain. 

Apa yang terjadi? Jadi apakah relationship seperti itukah yang kita ingin sebut sebagai relationship goals kita? Sebuah relationship yang hanya terlihat mengasikkan di awal tetapi berakhir dalam kehancuran?

Pada renungan hari ini, kita ingin belajar akan apa yang dinamakan relationship goals sejati. Bukan relationship goals yang sering dibicarakan oleh dunia, melainkan relationship goals yang sering dibicarakan di Alkitab. Jadi seperti apakah relationship goals yang benar menurut Alkitab? Untuk mengetahuinya, kita harus terlebih dahulu membahas tentang kasih yang benar.

Alkitab mengatakan bahwa hal terpenting yang harus kita miliki adalah kasih. Kasih yang Alkitab bicarakan ini bukanlah kasih yang bersyarat seperti yang dunia miliki, melainkan kasih yang tidak bersyarat seperti yang Tuhan miliki.


“Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian. Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak.

Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.” (Lukas 6:33-35)

Dunia mungkin mengajak kita untuk berbuat baik hanya kepada orang yang berbuat baik kepada kita; namun Tuhan mengajak kita untuk berbuat baik juga kepada orang yang berbuat jahat kepada kita. 

Dunia mungkin mengajak kita untuk hanya mengampuni orang yang mampu menebus kesalahannya; namun Tuhan mengajak kita untuk juga mengampuni orang yang kelihatannya tidak layak sama sekali untuk diampuni. 

Dunia mungkin mengajak kita untuk hanya memberi kepada orang yang mampu membalas pemberian kita; namun Tuhan mengajak kita untuk juga memberi kepada orang yang tidak mampu memberikan apa-apa kepada kita.

Ini lah kasih yang harus kita pegang di dalam relationship kita, kasih yang tidak bersyarat - kasih yang tidak ditentukan oleh performa yang dikasihi, melainkan kasih yang ditentukan oleh komitmen yang mengasihi.

Kebenarannya, sewaktu-waktu pasangan kita pasti akan gagal memenuhi ekspektasi kita, dan sewaktu-waktu kita pun pasti akan gagal memenuhi ekspektasi pasangan kita. Dan ketika hal ini terjadi, kasih bersyarat tidak akan mampu mempertahankan relationship yang ada. Namun, kasih yang tidak bersyarat pasti mampu mempertahankannya.

Ketika kasih yang bersyarat mengatakan, “Aku sudah tidak mengasihimu karena . . . “

Kasih yang tidak bersyarat mengatakan, “Aku tetap mengasihimu meskipun . . . “

Ini lah kasih yang Tuhan selalu bicarakan dan kasih yang Tuhan telah demonstrasikan kepada kita. “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kitaketika kita masih berdosa” (Rm 5:8). Dalam kata lain, Tuhan mengasihi kita, bahkan ketika kita tidak layak mendapatkan kasih-Nya sama sekali.

Dan seperti ini lah kasih yang Tuhan ingin agar kita miliki dan kita berikan kepada pasangan kita. “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh 15:12). Relationship goals yang tepat adalah sebuah relationship yang memiliki kasih yang tidak bersyarat seperti yang diajarkan oleh Tuhan.

Relationship goals yang tepat adalah relationship yang memiliki Tuhan sebagai pusatnya.

Relationship yang tepat adalah relationship antara dua orang yang mengasihi Tuhan, dimana Tuhan adalah kepala relationshipnya. Ini sangatlah penting, karena jika relationship tidak dipimpin oleh Tuhan, berarti ada hal lain yang memimpinnya; dan biasanya hal lain ini adalah hawa nafsu. Dan kita semua tahu bahwa hawa nafsu tidak akan pernah dapat mempertahankan relationship yang sehat, melainkan hanya akan menjadi parasit yang merengut habis kesehatan dari sebuah relationship.

Satu-satunya cara agar sebuah relationship dapat bertahan dengan sehat adalah jika Tuhan yang memimpin relationship tersebut. Alkitab mengatakan berkali-kali bahwa Tuhan adalah kasih. Maka itu, tidak mungkin ada sebuah pasangan yang dapat sungguh-sungguh mengasihi sesama dengan benar jika Yesus bukanlah kepala dari relationship mereka.

Berikut adalah hal-hal yang sebuah pasangan dapat lakukan agar relationshipnya terus berjalan di bawah pimpinan Tuhan:

- Berdoa dan membaca Alkitab bersama sebelum tidur.

- Mendoakan satu sama lain agar dapat lebih dekat dengan Tuhan.

- Mengingatkan satu sama lain untuk terus mengikuti ajaran Tuhan.

Kebenarannya, seseorang yang sudah mengenal Tuhanmengasihi Tuhan, dan menjadikan Tuhan sebagai pusat dari hidupnyapasti akan memiliki pemikiran dan sikap hati yang benar di dalam relationship


Dia tidak akan mencari kepuasan dari pasangannya, melainkan sudah menemukan kepuasan dari Tuhan. Sehingga, dia juga dapat mengasihi pasangannya dengan kasih yang meluap dan sejati yang telah dia miliki dari Tuhan. Maka itu, sangat penting untuk terus melibatkan Tuhan di dalam relationship kalian.

(Sumber: @gracedepth)