Tampilkan postingan dengan label *Doa*. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *Doa*. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Mei 2020

17.17 -

Berdoa dan bersilih bagi bangsa dan dunia



Dalam Kitab Kejadian ada kisah menarik tentang doa syafaat Abraham untuk Sodom. Saat itu Tuhan hendak menghukum dan melenyapkan penduduk kota Sodom karena dosa-dosa mereka (Kej 18:20-33). 

Abraham memberanikan diri berdiri di hadapan Tuhan dan berkata: “Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik? Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah Engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidakkah Engkau mengampuninya karena kelima puluh orang benar yang ada di dalamnya itu? Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?” 

Tuhan berfirman: “Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka.” Dialog ini kemudian berlanjut dan berlanjut. Akhirnya, jika ada sepuluh orang benar saja di kota Sodom, Tuhan tidak akan memunahkan kota ini. 

Dari perikop Kitab Suci di atas, kita bisa melihat bahwa dosa penduduk kota Sodom mendatangkan bencana yang merupakan hukuman Tuhan. Jika kita refleksikan, di jaman kita ... juga di negeri kita ... ada banyak bencana dan ada banyak dosa dan kejahatan. Namun, sayang, tidak banyak orang yang menghubungkan keduanya. 

Umumnya, orang memandang bencana hanya sebagai gejala alam atau peristiwa biasa dan sama sekali tidak dapat terdengar pesan ilahi dibaliknya yang mengajak untuk bertobat. Padahal, tidak ada satu pun “kebetulan” di mata Tuhan. Bahkan, tak satu helai rambut pun jatuh karena “kebetulan” bagi Dia. Tuhan sendiri menghendaki agar kita membaca tanda-tanda jaman (Mat 16:3). 

Seperti Abraham, kita juga dipanggil untuk berdoa bagi dunia, bagi bangsa dan negara, bagi keselamatan jiwa-jiwa. Pedulikah kita ... dalam sehari berapa kali kita berusaha berdoa atau bersilih untuk itu? Kepedulian akan keselamatan jiwa-jiwa merupakan salah satu kepribadian kristiani yang dewasa

Sebenarnya dasar kepedulian kita bukanlah hanya kasih kita kepada mereka, tetapi terlebih lagi kasih kita pada Kristus. Orang yang mengasihi Kristus akan mengasihi apa yang dikasihi-Nya. Orang yang mengasihi Kristus akan mengasihi sesamanya. Kasih itu peduli, kasih itu melibatkan diri (walaupun tidak secara konkrit, tetapi bisa melalui doa, dll). 

Kita bisa berdoa bagi keselamatan jiwa-jiwa, tidak hanya secara khusus saat kita duduk manis dalam gereja, tetapi juga dengan mempersembahkan semua yang kita lakukan (entah itu doa, puasa, penyangkalan diri, ataupun aktivitas-aktivitas kita lainnya kepada Yesus untuk keselamatan jiwa-jiwa). 

Contoh konkritnya: jika kita sedang berjalan, kita bisa katakan kepada Yesus dalam hati: “Untuk-Mu, Yesus setiap langkah-ku, untuk keselamatan jiwa-jiwa.” Atau, sebelum memulai suatu pekerjaan, kita bisa berdoa kecil: “Tuhan, kupersembahkan untuk-Mu pekerjaan ini, untuk pertobatan para pendosa, pertobatanku, pertobatan keluargaku, ...” Masih banyak contoh lainnya. 

Jika dipersembahkan kepada Yesus, maka semua yang kita lakukan itu (asal bukan dosa) mempunyai nilai (membawa rahmat) bagi keselamatan jiwa-jiwa. Sayang khan jika hanya karena kita lupa mempersembahkan aktivitas kita kepada Yesus, maka satu jiwa tak tertolong dan tercebur ke dalam api neraka? 

(Sumber: Hidup dalam Roh September-Oktober 2009 Tahun XIII, Sr Maria Andrea, P.Karm).

15.51 -

Hadirat Allah dalam kehidupan kita




Ada satu hal yang menjadikan hidup kita indah dan berarti, yaitu persahabatan yang mesra dengan Allah. Tanpa itu segalanya akan menjadi kosong, sebaliknya persahabatan tersebut akan menjadikan hidup kita sungguh-sungguh indah. Persahabatan ini adalah karunia Allah yang telah mengasihi kita lebih dahulu (1 Yoh 4:10). 

St. Teresa Avila mendefinisikan doa sebagai suatu persahabatan dengan Allah, komunikasi dengan dua orang sahabat. Karena itu, doa tidak pernah berliku-liku, melainkan sederhana, dan akan menjadi semakin sederhana. Doa yang sederhana ini dapat menghantar kita kepada kontemplasi, yakni memandang Allah dengan penuh cinta dan kekaguman

Dalam doa ini kita lebih banyak mencintai dari pada banyak berpikir, seperti dikatakan St. Teresa Avila, “Jika kalian ingin maju di jalan doa ini dan mencapai ruang yang dirindukan jiwamu, hal yang terpenting bukanlah banyak berpikir, melainkan banyak mencintai. Jadi, kita harus melakukan apa saja yang mendorong kita untuk mencintai.” 

St. Teresa Avila mengatakan tentang kehadiran ilahi: “Ingatlah bagaimana St. Agustinus menceritakan kepada kita bahwa, setelah mencari Tuhan di mana-mana, ia menemukan Tuhan di dalam dirinya sendiri. Bukanlah soal kecil bagi kita yang sering melantur untuk memahami kebenaran ini dan menemukan bahwa untuk berbicara dengan Bapa kekal kita dan menikmati kehadiran-Nya, kita tidak perlu pergi ke sorga maupun berbicara dengan suara keras. Bisikan yang paling halus pun terdengar. Dia begitu dekat. Kita tidak perlu sayap untuk mencari-Nya. Kita hanya harus tinggal sendirian dan memandang Dia yang hadir di dalam kita. Kita harus berbicara kepada-Nya dengan sangat rendah hati, meminta kepada-Nya yang kita butuhkan seperti kita meminta kepada seorang ayah, menceritakan kepada-Nya masalah-masalah kita, dan memohon Dia menyelesaikannya. Siapa yang dapat menutup diri seperti ini dalam sorga kecil jiwanya, di mana tinggal Pencipta sorga dan bumi, dan telah membangun kebiasaan untuk tidak melihat apa pun atau tinggal di mana pun yang dapat mengalihkan perhatian mereka, boleh merasa yakin bahwa mereka sedang berjalan di jalan yang sangat tepat dan tidak akan gagal meminum air kehidupan.” 

Apakah sebetulnya yang dimaksud dengan hidup di hadirat Allah? Hidup di hadirat Allah berarti senantiasa menyadari kehadiran Allah, berusaha mengarahkan hati dan pikiran selalu kepada Tuhan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Beata Elisabeth dari Trinitas, hati kita adalah tempat kediaman Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Kapan pun dan di mana pun, Ia tidak pernah meninggalkan kita. Beata Elisabeth dari Trinitas ini mencapai kekudusannya dengan jalan senantiasa menyadari kehadiran Allah yang bersemayan di hatinya. 

Beata Elisabeth dari Trinitas, seorang Biarawati Karmel, menjadi besar di hadapan Allah, karena dengan tekun dan serius menghayati misteri kehadiran Allah Tritunggal. Usahanya yang utama ialah senantiasa hidup dalam hadirat Allah dan menyadari kehadiran itu setiap saat dalam segala aktivitas dan karyanya sehari-hari. Ia membiarkan diri dipenuhi oleh kehadiran Allah tersebut. Ia hidup dalam persatuan dengan Allah yang selalu hadir itu dan dengan demikian menemukan sorga di dunia ini, karena sesungguhnya sorga bukan lain daripada persatuan dengan Allah dalam cintakasih (Yoh 17: 3 » Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus). Sorga ialah melihat Allah Tritunggal Mahakudus atau Trinitas dari muka ke muka (1 Kor 13:12). 

Misteri Trinitas adalah misteri terbesar agama Kristen. Karena kehadiran Trinitas ini, kita menjadi kenisah Allah (Yoh 14:23; 1 Kor 6:19). 

Hidup di hadirat Allah berarti hidup dalam kesucian yang besar, “demikian ungkap Br. Laurence dari Kebangkitan, seorang Karmelit yang hidup di sekitar abad ke-16. 

Jadi, setiap orang Kristen dipanggil kepada kekudusan, yaitu persatuan cinta kasih dengan Allah sendiri, maka manusia perlu menjalin hubungan pribadi dengan Allah. Allah yang telah lebih dahulu memanggil manusia untuk memasuki persekutuan dengan Dia. Dari pihak manusia dibutuhkan keterbukaan hati dan jawaban untuk menggenapi panggilan Tuhan tersebut

Yesus merupakan teladan dalam hal ini. Yesus senantiasa hidup di hadirat Bapa dalam suatu hidup cintakasih, penyerahan diri serta pelayanan, dalam doa yang tak kunjung putus. Tuhan tidak hanya minta kepada kita untuk berdoa pada saat tertentu saja, tetapi supaya kita hidup di hadirat-Nya dalam doa yang tak kunjung putus (Luk 18:1). 

Untuk menemukan Allah dan ajaran-ajaran-Nya orang diajak untuk memberikan hatinya kepada Allah. Hati adalah pusat kepribadian manusia, inti terdalam dalam manusia. Hati adalah tempat pertemuan antara Allah dan manusia. 

Masalah hidup di hadirat Allah dalam doa yang tak kunjung putus itu tidak terletak pada soal tempat, pekerjaan yang dihadapi, atau soal kondisi fisik tertentu, tetapi yang menjadi soal adalah apakah orang masuk ke dalam lubuk hatinya dan menemukan Allah di dalam hati, kapan pun dan di mana pun mereka berada. Jadi, hati adalah pusat manusia di mana manusia berkontak dengan sumber kehidupan, yaitu Allah sendiri

Kita dapat berjumpa dengan Allah, sahabat jiwa kita yang paling agung, melalui doa batin, Doa Yesus, Sakramen-sakramen, Kitab Suci, dalam kehidupan sehari-hari dalam iman, harapan dan kasih

Kita dapat hidup di hadirat Allah melalui doa batin, doa yang tak kunjung putus. “Doa batin adalah doa seorang anak Allah, doa seorang pendosa yang sudah diampuni dan yang menghendaki agar menerima cinta kasih, dengannya ia dicintai dan membalasnya dengan cinta kasih yang lebih besar lagi (Luk 7:36-50; 19:1-10). Tetapi ia mengetahui bahwa cinta kasih balasannya itu berasal dari Roh Kudus, yang mencurahkannya ke dalam hatinya. Karena segala-galanya adalah rahmat Allah. Doa batin adalah penyerahan yang rendah hati dan miskin kepada Bapa penuh cinta, dalam persatuan yang semakin dalam dengan Putera kekasih-Nya” (KGK 2712). 

Untuk bisa tinggal di hadirat Allah, kita perlu melatih diri. Doa Yesus sepanjang hari adalah salah satu cara untuk dapat selalu hidup di hadirat Allah. Selain itu, kita juga bisa membiasakan diri bercakap-cakap dengan rendah hati, namun penuh cinta kepada Dia di segala waktu; terlebih saat dalam godaan, penderitaan, kekeringan, kecemasan, bahkan ketika kita tidak setia dan berdosa

Dengan hati dan pikiran yang selalu terarah kepada Tuhan, kita membuat seluruh keberadaan kita menjadi sebuah percakapan kecil dengan Allah; suatu komunikasi yang lahir dari hati yang murni dan sederhana. Hati kita pun akan menjadi lebih lepas bebas dan damai, tidak lagi terbeban dengan berbagai masalah hidup

Doa batin tidak lain dari suatu pergaulan yang sangat ramah, di mana kita seringkali berbicara seorang diri dengan Dia, tentang siapa, kita tahu bahwa Ia mencintai kita” (St. Teresa Avila). Bagaimana mungkin kita dapat berdoa terus menerus? Berdoa itu sederhana, seperti bernafas

Cara untuk tetap berhubungan dengan Allah adalah dengan cara menghirup dan menghembuskan nafas, dengan mengucapkan sebuah kata atau kalimat pendek. Misalnya “Yesus” atau “Tuhan Yesus, kasihanilah aku, orang berdosa ini”. Orang sering menyebutnya dengan doa nama atau doa Yesus. Doa Yesus ini termasuk doa batin. Doa ini dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. 

Pada dasarnya seorang pendoa adalah seorang yang selalu hidup di hadirat Allah, berkomunikasi terus-menerus dengan Allah yang dicintainya melebihi segala sesuatu

Dasar doa Yesus adalah hadir dalam hadirat Allah seperti kata Injil, “Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat 6:6). 

Setiap orang Kristen melalui Sakramen Baptis dijadikan anak-anak Allah oleh Yesus Kristus dan dengan kuasa Roh Kudus yang menguduskan. Hidup orang Kristen sebagai anak-anak Allah berkembang dan mencapai kepenuhannya dalam hubungan yang mesra dengan Bapa

Kita dapat berjumpa dengan Allah dalam Sakramen Mahakudus. Betapa indahnya saat kita memandang Allah dan membiarkan Allah memandang kita. Saat-saat berada di hadapan Sakramen Mahakudus, atau ketika kita menerima Komuni, kita dipersatukan secara mesra dengan Allah

Dalam keheningan, kita dapat merasakan kebaikan, kelembutan, kekuatan, kegembiraan, damai, belaskasih, keindahan, keagungan, kasih-Nya kepada kita. Pandangan Yesus membersihkan hati kita. Cahaya wajah-Nya menyinari mata hati kita dan membiarkan kita melihat segala-galanya dalam sinar kebenaran dan belaskasih-Nya terhadap semua orang

Kontemplasi memandang misteri kehidupan Kristus dan dengan demikian memperoleh pengertian batin mengenai Tuhan untuk mencintai-Nya dan mengikuti-Nya dengan lebih baik lagi

St. Yohanes salib menggambarkan kontemplasi itu sebagai suatu perhatian penuh kasih kepada Allah. Kontemplasi berasal dari kata ‘contemplare’, yang artinya memandang. Di sini seolah-olah jiwa memandang Allah tanpa gagasan-gagasan. Memang akal budi dan kehendak juga diikutsertakan, tetapi tidak terlalu aktif, hanya membantu menyadari kehadiran Allah. Jiwa kita lebih terarah kepada Allah. Ini sekaligus merupakan aktivitas tertinggi manusia, tetapi jiwa mengalami pasivitas. 

Kita juga dapat berjumpa dengan Allah melalui Sakramen Tobat. Di hadapan Allah yang Maha segalanya, kita sadar akan kelemahan dan keterbatasan kita. Kita dibawa kepada kesadaran akan ketergantungan kita kepada-Nya. Dalam kerendahan hati kita datang kepada Allah sebagai Pencipta, Penebus, dan Pengudus. Kita memohon ampun atas segala kelalaian kita. Rahmat Allah memanggil kita untuk bertobat, menyesali dosa dan kesalahan kita, serta memohon pengampunan dan belas kasihan-Nya. Pengakuan dosa melalui Sakramen Tobat membersihkan hati kita

Doa batin ialah mendengarkan Sabda Allah. Mendengarkan ini bukanlah pasif, melainkan suatu ketaatan iman, dalamnya hamba menerima tugas tanpa syarat dan anak setuju dengan penuh cinta. Ia mengambil bagian dalam "Ya" Putera yang telah menjadi hamba, dan dalam "Fiat" hamba Tuhan yang rendah hati (KGK 2716). 

Doa batin ialah berdiam diri. Ialah "lambang dunia yang akan datang" (Ishak dari Ninive, tract. myst.66) dan "cinta kasih yang tidak banyak kata" (Yohanes dari Salib). Dalam doa batin tidak dibutuhkan kata-kata yang panjang lebar; kata-kata adalah seumpama ranting-ranting kering yang dimakan api cinta kasih. Dalam suasana diam yang tidak dapat ditahan manusia "lahiriah", Bapa menyampaikan kepada kita Sabda-Nya yang menjadi manusia, yang menderita untuk kita, yang mati dan bangkit lagi; Roh keputeraan memungkinkan kita mengambil bagian dalam doa Yesus (KGK 2717). 

Doa adalah mengangkat hati kepada Allah, berbicara kepada-Nya dalam situasi apapun, baik dalam doa maupun hidup sehari-hari kebajikan-kebajikan teologal (iman, harapan dan cinta kasih) mempunyai tempat yang sangat penting. Bahkan, boleh dikatakan hanya kebajikan-kebajikan telogal itu yang mampu menghubungkan kita secara langsung dengan Allah

Iman adalah jawabanyakepada Allah. Beriman berarti percaya dengan segenap hati dan menyerahkan diri kepada Allah. Iman ini membawa orang kepada hubungan pribadi dengan Allah. Manusia yang beriman berusaha untuk mengenal dan melaksanakan kehendak Allah. “Orang benar akan hidup oleh iman” (Rm 1:17). 

St. Theresia dari Liseux mengalami cobaan-cobaan berat dalam hal iman. Misalnya, ibunya meninggal dunia, kakak-kakaknya masuk biara, ayahnya menderita sakit jiwa, ia sendiri pernah menderita penyakit aneh, mengalami kegersangan dalam doa, kegelapan iman karena setan menggoda bahwa tidak ada sorga, dan penderitaan dari sesama suster dalam biara, penderitaan menghadapi pimpinan yang keras, penderitaan karena penyakit fisik yang dideritanya. 

Dalam menghadapi semuanya itu, iman dan penyerahan diri Theresia semakin berkembang kepada Allah. Harapan Theresia dikuatkan karena dia merindukan keabadian, dia merindukan sorga. Untuk mencapai sorga, orang harus banyak menyangkal diri. Penderitaan dan kurban-kurban ditanggung dengan sabar dan penuh cinta oleh Theresia, sebab penderitaan di dunia ini tidak ada artinya dibandingkan dengan kemuliaan yang disediakan Allah bagi mereka yang mengasihi Dia (Rm 1:18). Theresia Lisieux juga berkembang dalam cintakasih kepada Allah dan sesama, sebab dia menyadari panggilannya adalah cintakasih

Melalui kebajikan iman, harapan, dan cintakasih, St. Theresia Lisieux mencapai persatuan dengan Allah. St. Yohanes Salib, hidup dalam iman, harapan dan cintakasih berarti berjalan dalam suatu kegelapan. Iman adalah kegelapan, dan berjalan dalam pengharapan juga adalah kegelapan. St. Gregorius dari Nyssa mengungkapkan hal yang hampir sama, hanya dia mengungkapkannya dengan kata-kata paradoks, “Allah berdiam dalam awan gelap yang maha cerah.” Paradoks-paradoks seperti ini hanya bisa dijangkau lewat kebajikan-kebajikan teologal saja. 

Tuhanlah yang de facto karena belas-kasih-Nya menyesuaikan diri dengan kondisi kita. Melalui iman, sebetulnya Ia sedikit meredam kecerahan cahaya-Nya sendiri. Sebab, kalau orang melihat terang Allah, dia bisa menjadi buta. Dia membawa kita melalui dorongan-dorongan kasih kepada-Nya karena hati kita lemah dan perlu waktu lama untuk perlahan-lahan dikuatkan supaya kita menerima curahan cinta-Nya. Kalau langsung, manusia tidak akan tahan dan bisa mati. Jadi, hanya diberikan sedikit demi sedikit sehingga lama-lama bisa menerima lebih banyak

Perlahan-lahan juga iman akan berkembang dan bersatu dengan cintakasih. Dan, menurut St. Ignatius dari Antiokia, “Persatuan iman dan cintakasih itulah Tuhan.” Artinya, bila orang didorong cinta yang diterangi iman maka dia akan menemukan Allah sendiri

Di kemudian hari, St. Yohanes Salib juga mengatakan bahwa untuk mendaki gunung Tuhan, orang harus ganti baju. Istilahnya ‘menyamar’. Dalam bukunya Mendaki Gunung Karmel, ia menegaskan bahwa supaya jiwa dapat mendaki gunung itu, ia harus berganti pakaian. Itu melambangkan perubahan cara ada yang mendalam. Dia harus menerima suatu cara untuk mengerti Allah di dalam Allah dan meninggalkan cara lama tentang pengertian yang berasal dari manusia sendiri. 

Demikian pula, dia harus memakai suatu cinta yang baru tentang Allah di dalam Allah. Arrtinya, bukan lagi manusia mencintai Allah dengan cinta yang kecil, melainkan mencintai dalam Allah dengan cinta Allah sendiri.karena itu jiwa harus dilepaskan dari kelekatan-kelekatan yang lama, cara mencintai yang manusiawi itu. 

“Pendek kata, kebajikan teologal itu dipandang sebagai suatu rangkaian yang membuat manusia dapat berjalan kepada Allah, digambarkan oleh ketiga kebajikan itu dengan warna-warna. Ada tiga warna utama: putih, hijau dan merah. Putih lambang iman. Hijau lambang pengharapan. Dan merah lambang cinta kasih

Dengan memakai pakaian tiga warna ini, dia bukan saja berkenan kepada Sang Kekasih, sampai kepada Sang Sahabat, menyenangkan hati Allah, tetapi dia juga akan terlindung dari ketiga musuhnya (yaitu: dunia, daging, dan setan). Melalui itu semua dia tersembunyi dari musuh-musuhnya.” 

“Suatu malam yang gelap, aku keluar dari rumahku tanpa seorang pun yang tahu.” Di sini jiwa menyamar dengan mengenakan pakaian iman, harapan, dan kasih sehingga dia tidak dikenal oleh musuh-musuhnya. Dengan itu, jiwa bisa mendaki puncak gunung kesempurnaan dengan ringan. 

Pada St. Yohanes Salib kita juga melihat bahwa apa yang membantunya mendaki gunung itu sekaligus juga memberikan jaminan bahwa dia akan mencapai tujuannya. Di puncak Gunung Karmel, di mana terjadi persatuan dengan Allah, hanya ada iman, harapan dan kasih saja. Meskipun belum melihat Allah dari muka ke muka, tetapi toh dia sudah melihat semuanya lewat tirai yang begitu tipis, sehingga dia seolah-olah sudah melihat Allah. Semuanya menjadi jelas, sudah menjelang fajar, sehingga orang secara samar-samar melihat dunia yang akan datang. Imannya menjadi begitu cerah, meskipun belum sempurna. Pengharapannya menjadi tidak terbatas dan kasihnya pun berkobar-kobar

Inilah iman, harapan, dan cinta kasih yang mulai mengungkapkan kepada kita wajah Tuhan sendiri dengan cara yang hidup. Walaupun belum melihat kemuliaan Allah secara penuh, itu saja sudah begitu membahagiakan. Apalagi kalau nanti orang boleh melihat Dia dari muka ke muka. 

(Sumber: Hidup dalam Roh Juli-Agustus 2010 Tahun XIV, Sr. Maria Yoanita, P.Karm) 


Senin, 23 Maret 2020

22.00 -

Sikap seekor unta



Setiap pagi, unta akan berlutut di depan tuannya, untuk mengambil beban yang akan dibawanya sepanjang hari dan saat malam tiba, ia akan kembali berlutut agar tuannya bisa mengambil beban dari punggungnya Itulah sikap seekor unta kepada tuannya. 

Begitulah seharusnya kita. Berlutut memulai hari sebelum mengangkat beban yang harus kita tanggung sepanjang hari. Dan saat malam tiba, kita kembali berlutut untuk menyerahkan semua beban dalam hidup kita. 

Percayalah saat kita berlutut, menyerahkan seluruh pergumulan kita kepada-Nya, Dia peduli. Hatimu yang hancur, Dia-pun merasakan. Bahkan setetes air matamu, Dia-pun memperhitungkannya. Jadi, janganlah menyerah dan putus asa, tetap semangat dan terus berjuang dalam hidup ini. Karena saat kita "mengangkat" tangan, itulah saat Tuhan bertindak dan "turun" tangan.

(Sumber: Warta KPI TL No. 179/III/2020).

21.53 -

Kekuatan doa



Seorang wanita datang ke sebuah toko dan meminta bahan makanan agar dapat dimasak untuk anak-anaknya. Si pemilik toko bertanya kepadanya berapa uang yang dimilikinya. Wanita itu menjawab: "Suamiku tewas dalam perang, aku tidak punya apa-apa untuk diberikan kecuali doa." Si pemilik toko tersebut menjawab dengan ketus: "Tuliskan doa itu!" 

Wanita tersebut mengeluarkan secarik kertas dari dompetnya dan menyodorkan kepadanya, katanya: "Aku menulis ini kemarin malam seraya menjaga bayiku yang sakit." Si pemilik toko dengan kasar mengambil kertas itu dan menaruhnya di sisi timbangan kunonya. Ia berkata: "Aku akan memberimu bahan pangan seberat bobot kertas ini."

Betapa terperanjatnya dia, tatkala ia menaruh sepotong roti di sisi lain dari timbangan tersebut, timbangan itu tidak bergerak sedikitpun. Ia menambahkan sebongkah keju dan sepotong daging, namun timbangan itu tetap tidak bergeming. Akhirnya karena ia sudah menaruh begitu banyak bahan pangan, timbangan itu sudah tidak dapat memuat apa-apa lagi. Ia menyodorkan sebuah kantong kepada wanita itu dan berkata: "Anda harus memasukkannya sendiri ke dalam kantong itu."

Wanita itu pergi dengan air mata sukacita. Si pemilik toko baru tahu bahwa timbangannya rusak tepat di saat dia menaruh kertas doa wanita tersebut. Karena penasaran, iapun membaca apa yang ditulis wanita tersebut: " Tuhan, berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya." (Mat 6:11).

Kekuatan doa sanggup untuk melakukan sesuatu yang luar biasa dan mengerjakan perkara-perkara yang terlihat mustahil. Jadi, janganlah pernah menyerah dalam pergumulanmu. Mujizat akan terjadi selama kita tetap berdoa dan percaya ( Luk 18 : 7).

(Sumber: Warta KPI TL No. 179/III/2020).

21.51 -

Kuasa doa orang benar




Kata “Doa” memang sangat akrab terdengar di telinga kita sebagai orang percaya, namun ironisnya belum semua orang Kristen menjadikan doa sebagai bagian dari gaya hidupnya sehari-hari. Doa lebih berkesan sebagai bentuk kegiatan yang membosankan dan menghabiskan waktu. Sehingga seringkali mereka melewatkan/mengesampingkan doa dalam aktivitas sehari-hari. 

Kalaupun berdoa, hanya 3 (tiga) doa yang paling sering dilakukan yaitu doa pagi, doa makan dan doa sebelum tidur yang masing-masing hanya menghabiskan waktu sekitar 5 menit saja! Padahal, doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya (Yak 5:16). 

3 kuasa doa orang benar

1. Doa orang benar menyentuh Sorga 

Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujan pun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumi pun mengeluarkan buahnya (Yak 5:17-18). 

Doa orang benar didengar-Nya (Ams 15:29). Mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong. Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka Tuhan mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya (Mzm 34:16, 18). 

Sesungguhnya, tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu (Yes59:1). 

2. Doa orang benar mengubahkan hidup 

Yabes lebih dimuliakan dari pada saudara-saudaranya; nama Yabes itu diberi ibunya kepadanya sebab katanya: "Aku telah melahirkan dia dengan kesakitan." Yabes berseru kepada Allah Israel, katanya: "Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku, dan kiranya tangan-Mu menyertai aku, dan melindungi aku dari pada malapetaka, sehingga kesakitan tidak menimpa aku!" Dan Allah mengabulkan permintaannya itu (1 Taw 4:9-10). 

Kalau doa Yabes mendatangkan kuasa untuk mengubahkan hidupnya, demikian juga dengan doa Anda! Saat keadaan dalam hidupmu sepertinya tidak sebagaimana yang Tuhan janjikan, berdoalah! Saat bisnismu dan keluargamu tidak berjalan sesuai dengan harapanmu, berdoalah! Saat lingkungan tempat tinggalmu, orang-orang yang engkau kenal dan kasihi belum mengenal Tuhan Yesus, berdoalah! 

3. Doa orang benar menjangkau dunia 

Aku mau menceritakan tentang ketetapan Tuhan; Ia berkata kepadaku: "Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini. Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu (Mzm 2:7-8). 

Secara fisik, mungkin kita tidak dapat menjangkau seluruh dunia dan menjadikan semua bangsa murid Tuhan Yesus seperti amanat agung-Nya (Mrk 1:15). Tetapi melalui doa kita dapat menggerakkan hati Tuhan untuk menyatakan kuasa-Nya bagi seluruh dunia. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 179/III/2020 » Renungan KPI Tgl 5 Desember 2019, Ibu Jane Hanjaya).

Jumat, 27 Desember 2019

17.22 -

Doa tanpa tindakan adalah sia-sia



Pada suatu malam yang sangat dingin, seorang pemuda duduk di dekat perapian di rumahnya untuk menghangatkan badan. 

Saat pandangannya menatap jendela rumahnya, dilihatnya seorang kakek sedang berjalan di tengah salju yang putih. Sang pemuda kemudian berpikir, “Ah malangnya kakek itu, dia harus berjalan di tengah badai salju seperti ini. Baiklah aku akan mendoakan dia saja agar dapat tempat berteduh.” 

Pemuda itu lalu berdoa kepada Tuhan : “Tuhan bantulah agar orang tua di depan rumahku ini mendapatkan tempat untuk berteduh. Kasihan Tuhan dia kedinginan.”

Ketika si pemuda mengakhiri doanya dilihatnya sang kakek berjalan mendekati rumahnya dan diapun sempat mendengar suara rintihan sang kakek yang kedinginan ketika sang kakek bersandar di dekat jendela rumahnya. 

Mendengar itu sang pemuda berdoa lagi kepada Tuhan. “Tuhan lihatlah sang kakek di luar rumah itu. Kasihan sekali dia Tuhan, biarlah engkau membantunya agar dia tidak kedinginan lagi. Bantulah agar dia mendapatkan tempat berteduh yang hangat.” Setelah itu si pemuda pun tidur lelap. 

Keesokan harinya si pemuda terbangun karena suara gaduh masyarakat sekitarnya. Dia pun keluar rumah dan menemukan sang kakek telah meninggal bersandar di dekat jendela rumahnya.

Si pemuda kemudian berdoa lagi kepada Tuhan. “Tuhan mengapa engkau membiarkan kakek itu meninggal kedinginan padahal aku sudah mendoakannya agar dia selamat.” 

Tuhan pun menjawab si pemuda itu. “Aku mendengar doamu hai pemuda. Aku sudah membimbing kakek itu agar mendekati rumahmu. Akan tetapi engkau tak menghiraukannya bahkan ketika kakek itu merintih di depan jendela rumahmu.

 Marilah kita belajar dari Nehemia:

[Neh 1:1-11] Riwayat Nehemia bin Hakhalya. Pada bulan Kislew tahun kedua puluh, ketika aku ada di puri Susan,datanglah Hanani, salah seorang dari saudara-saudaraku dengan beberapa orang dari Yehuda. (1) Aku menanyakan mereka tentang orang-orang Yahudi yang terluput, yang terhindar dari penawanan dan tentang Yerusalem.

Kata mereka kepadaku: "Orang-orang yang masih tinggal di daerah sana, yang terhindar dari penawanan, ada dalam kesukaran besar dan dalam keadaan tercela. Tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar."

Ketika kudengar berita ini, duduklah (2) aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit, kataku: (3A) "Ya, Tuhan, Allah semesta langit, Allah yang maha besar dan dahsyat, yang berpegang pada perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan tetap mengikuti perintah-perintah-Nya, (3B) berilah telinga-Mu dan bukalah mata-Mu dan dengarkanlah doa hamba-Mu yang sekarang kupanjatkan ke hadirat-Mu siang dan malam bagi orang Israel,

(3C) hamba-hamba-Mu itu, dengan mengaku segala dosa yang kami orang Israel telah lakukan terhadap-Mu. Juga aku dan kaum keluargaku telah berbuat dosa. Kami telah sangat bersalah terhadap-Mu dan tidak mengikuti perintah-perintah, ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan yang telah Kauperintahkan kepada Musa, hamba-Mu itu.

(3D) Ingatlah akan firman yang Kaupesan kepada Musa, hamba-Mu itu, yakni: Bila kamu berubah setia, kamu akan Kucerai-beraikan di antara bangsa-bangsa. Tetapi, bila kamu berbalik kepada-Ku dan tetap mengikuti perintah-perintah-Ku serta melakukannya, maka sekalipun orang-orang buanganmu ada di ujung langit, akan Kukumpulkan mereka kembali dan Kubawa ke tempat yang telah Kupilih untuk membuat nama-Ku diam di sana. Bukankah mereka ini hamba-hamba-Mu dan umat-Mu yang telah Kaubebaskan dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan tangan-Mu yang kuat?

(3E) Ya, Tuhan, berilah telinga kepada doa hamba-Mu ini dan kepada doa hamba-hamba-Mu yang rela takut akan nama-Mu, dan biarlah hamba-Mu berhasil hari ini dan mendapat belas kasihan dari orang ini." Ketika itu aku ini juru minuman raja.

[Neh 2:1-12] Pada bulan Nisan tahun kedua puluh pemerintahan raja Artahsasta, ketika menjadi tugasku untuk menyediakan anggur, aku mengangkat anggur dan menyampaikannya kepada raja. Karena aku kelihatan sedih, yang memang belum pernah terjadi di hadapan raja, bertanyalah ia kepadaku: "Mengapa mukamu muram, walaupun engkau tidak sakit? Engkau tentu sedih hati." Lalu aku menjadi sangat takut.

Jawabku kepada raja: "Hiduplah raja untuk selamanya! Bagaimana mukaku tidak akan muram, kalau kota, tempat pekuburan nenek moyangku, telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya habis dimakan api?"

Lalu kata raja kepadaku: "Jadi, apa yang kauinginkan?" Maka (3F) aku berdoa kepada Allah semesta langit, kemudian jawabku kepada raja: "Jika raja menganggap baik dan berkenan kepada hambamu ini, (3G) utuslah aku ke Yehuda, ke kota pekuburan nenek moyangku, supaya aku membangunnya kembali."

Lalu bertanyalah raja kepadaku, sedang permaisuri duduk di sampingnya: "Berapa lama engkau dalam perjalanan, dan bilakah engkau kembali?" Dan raja berkenan mengutus aku, sesudah aku menyebut suatu jangka waktu kepadanya. Berkatalah aku kepada raja: "Jika raja menganggap baik, berikanlah aku surat-surat bagi bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat, supaya mereka memperbolehkan aku lalu sampai aku tiba di Yehuda. Pula sepucuk surat bagi Asaf, pengawas taman raja, supaya dia memberikan aku kayu untuk memasang balok-balok pada pintu-pintu gerbang di benteng Bait Suci, untuk tembok kota dan untuk rumah yang akan kudiami." Dan (3I) raja mengabulkan permintaanku itu, karena tangan Allahku yang murah melindungi aku. Maka datanglah aku kepada bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat dan menyerahkan kepada mereka surat-surat raja. Dan raja menyuruh panglima-panglima perang dan orang-orang berkuda menyertai aku.

Ketika Sanbalat, orang Horon, dan Tobia, orang Amon, pelayan itu, mendengar hal itu, mereka sangat kesal karena ada orang yang datang mengusahakan kesejahteraan orang Israel.

Maka tibalah aku di Yerusalem. Sesudah tiga hari aku di sana, bangunlah aku pada malam hari bersama-sama beberapa orang saja yang menyertai aku. Aku tidak beritahukan kepada siapa pun (3H) rencana yang akan kulakukan untuk Yerusalem, yang diberikan Allahku dalam hatiku. Juga tak ada lain binatang kepadaku kecuali yang kutunggangi.

» Empat karakteristik pendoa syafaat yang baik

1. Harus pro-aktif dalam mencari informasi doa yang jelas.

(1) Nehemia tidak menunggu informasi diberikan, tetapi ia mempunyai kepekaan dan mengambil inisiatif untuk bertanya. Ini bukan pertanyaan basa-basi, tetapi ia memang rindu akan informasi yang benar tentang keadaan bangsanya untuk kemudian mendoakannya.

Informasi doa yang jelas, penting sekali dalam berdoa syafaat. Hal ini penting agar kita dapat berdoa dengan sungguh-sungguh sesuai dengan fakta. Jadi, jangan tunggu orang datang minta didoakan, tetapi cari informasi tentang apa yang dapat kita doakan baginya.

2. Memiliki empati terhadap orang yang didoakan

Nehemia adalah seorang Yahudi yang hidup di pembuangan. Pada tahun kedua puluh pemerintahan Artahsasta I (445 SM), ia sangat dipercaya oleh raja menjadi juru minuman raja (mencoba minuman yang akan diminum oleh raja, apakah minuman itu beracun atau tidak). Jadi jabatan itu merupakan jabatan yang menentukan hidup matinya seorang raja. 

Meskipun Nehemia memiliki jabatan yang tinggi, namun ia peduli dan berempati kepada saudara-saudara sebangsanya dan terhadap bangsanya. Rasa ikut memiliki inilah yang mendorong Nehemia untuk berdoa dengan sungguh-sungguh bagi bangsanya.

Bagaimana halnya dengan kita? Apakah kita dapat ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain dalam berbagai permasalahan mereka? Mungkin mereka mengalami dukacita, dapatkah kita menyelami perasaan mereka? Mungkin mereka mengalami krisis dalam kehidupan rumah tangganya, dapatkan kita merasakan pergumulan mereka? Mungkin juga mereka sedang bergumul keras akan apa yang bisa mereka makan besok pagi, dapatkah kita merasakan pergumulan mereka? Masih ada begitu banyak macam pergumulan yang lain, dapatkah kita ikut merasakannya? 

Mungkin ada saudara yang berkata, "Ah ... yang penting kan saya sudah berdoa bagi mereka. Bukankah itu cukup?" Pertanyaan balik, "Apakah Anda dapat berdoa dengan kesungguhan hati jika Anda tidak merasakan apa sebenarnya yang dirasakan oleh orang yang kita doakan?"

Marilah kita belajar untuk berempati terhadap orang yang kita doakan. Dengan demikian kita dapat berdoa dengan sungguh-sungguh untuk mereka dan kita menjadi seorang pendoa syafaat yang baik.

3. Memilikikonsep doayang benar

Rangkaian kata-kata doa Nehemia diawali dengan pujian bagi Tuhan (3A). Setelah itu dilanjutkan dengan permohonan agar Tuhan mendengar doanya (3B). Kemudian mengaku dosa di hadapan Tuhan, dosa nenek moyangnya, dosa bangsanya dan dosanya sendiri (3C).

Apakah di muka bumi ini ada orang benar? Tidak ada. Jika kita saling mengaku dosa kita dan saling mendoakan, maka Tuhan akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan sangat besar kuasanya (Yak 5:16; 1 Yoh 1:9). Jadi, pengakuan dosa merupakan hal yang sangat penting dalam doa kita. Dalam doa Bapa Kami, diajarkannya juga memasukkan hal pengakuan dosa dan pengampunan dosa. 

Nehemia memegang janji Tuhan, dalam segala permohonan doanya ia berdoa dilandaskan atas janji Tuhan, ia tidak meminta yang berlebihan dari yang dijanjikan Tuhan (3D). Di akhir doanya, dengan rendah hati Nehemia memohon kepada Tuhan untuk mengabulkan doanya (3E). Nehemia terus-menerus berdoa bagi bangsanya (3F).

Bagaimana halnya dengan kita? Seringkali kita datang kepada Tuhan dengan dosa atau kesalahan yang belum kita bereskan, kita membawa shopping list yang panjang, memaksa Tuhan untuk mengabulkan permohonan kita. Ini konsep doa yang tidak benar, bukan kehendak Tuhan yang jadi, melainkan kehendak kita yang jadi. 

4. Siap untuk menjadi jawaban atas doanya sendiri jika Tuhan menghendaki

Dalam doanya Nehemia mendapatkan satu keyakinan bahwa dia dipakai oleh Tuhan sebagai jawaban atas doanya sendiri (3GH). Permintaan itu kecil kemungkinannya untuk dikabulkan. Namun ternyata permintaannya dikabulkan karena tangan Allah yang murah menyertainya (3I). 

Ini berarti setiap kita berdoa bagi orang lain, bagi kesulitan orang lain, kita harus siap menjadi jawaban atas doa kita sendiri manakala Tuhan menghendaki. Mungkin kita berdoa bagi penginjilan di pedalaman. Kita harus siap jika Tuhan menghendaki kita sendiri untuk pergi. Jika kita berdoa untuk orang yang kekurangan, kita harus siap jika Tuhan menghendaki kita sendiri sebagai saluran berkat bagi orang tersebut.


Minggu, 27 Oktober 2019

21.45 -

Doa yang penuh kuasa



Doa Pagi
(didoakan sesudah bangun tidur)

Hati Yesus yang Mahakudus, aku menyerahkan diriku pada hati-Mu yang Mahakudus pada hari ini.
Kuasailah seluruh kepribadianku, ubahlah aku menjadi seperti Engkau.
Jadikan tanganku tangan-Mu, kakiku kaki-Mu, hatiku hati-Mu
Ijinkanlah aku melihat dengan mata-Mu, mendengar dengan telinga-Mu, berkata-kata dengan bibir-Mu, mengasihi dengan hati-Mu, memahami dengan pikiran-Mu. melayani dengan kehendak-Mu dan mengabdikan seluruh kepribadianku.
Jadikan aku serupa dengan Engkau.

Hati Yesus yang Mahakudus, utuslah Roh Kudus-Mu untuk mengajar aku mengasihi-Mu dan hidup melalui Engkau, dalam Engkau dan untuk Engkau.
Datanglah Roh Kudus, jadikan tubuhku bait-Mu.
Datanglah dan tinggallah dalam selamanya. 

Beri aku kasih terdalam kepada Hati Yesus yang Mahakudus untuk dapat melayani Dia dengan segenap hati, jiwa, pikiran, dan kekuatanku.
Kuasai seluruh kemampuan, tubuh dan jiwaku. 
Berilah aku seluruh kebajikan, perkaya imanku, kuatkan harapanku, tingkatkan keyakinanku dan kobarkan kasihku.
Berilah aku ketujuh karunia, buah, kebahagiaan-Mu sepenuhnya.
Trinitas yang Mahakudus, jadikanlah jiwaku bait-Mu yang kudus. Amin.

(doakan Bapa Kami 1x dan Salam Maria 3x)

Doa Malam 
(didoakan sebelum tidur)

Tuhan Yesus melalui kuasa Roh Kudus hadirlah pada masa laluku sementara aku tidur.
Sembuhkanlah segala luka batin yang pernah kualami, luka karena kurang kasih dari orang tua dan sesama, luka karena pengkhianatan, luka karena penolakan, luka karena pelecehan, luka karena penghinaan.

Biarlah dengan darah-Mu ya Tuhan Yesus, Engkau jadikan aku utuh kembali, semua hubungan persaudaraan yang sudah rusak dengan keluargaku maupun dengan saudaraku, sembuhkanlah ya Tuhan Yesus dari segala ketakutan, kecemasam, kegelisahan, keputusasaan, sembuhkanlah aku ya Tuhan Yesus.

Hadirlah Engkau ya Tuhan Yesus supaya aku bisa mengampuni diriku sendiri dan mengampuni sesamaku, mengampuni situasi yang menyakitkan. Bantulah aku ya Tuhan Yesus supaya aku dapat mengambil akar pahit yang ada dalam hidupku dan isilah hatiku dengan kasih-Mu dalam tidurku malam ini. Terima kasih Tuhan Yesus, berkatilah aku dalam tidurku. Amin.


(doakan Bapa Kami 1 x dan Salam Maria 3x)

Jumat, 18 Oktober 2019

20.51 -

Doa rosario untuk kesehatan tubuh, jiwa dan roh

 


Pembuka - persiapan 

Carilah tempat yang nyaman, tidak bising, tidak terlalu dingin, tidak terlalu panas. Kenakan pakaian yang hangat, nyaman, dan tidak terlalu ketat. Kacamata, jam tangan, atau aksesoris bisa dilepas, dan HP dinonaktifkan. 

Doa dilakukan sambil duduk di kursi atau bersila di atas tikar/karpet. Usahakan agar setelah memilih cara duduk yang nyaman, pertahankan sampai doa rosario selesai, punggung tegak. Doa diucapkan dengan mengeluarkan suara dan berirama. Tidak perlu keras dan tidak dilakukan dengan tergesa-gesa. 


Gunakan pernafasan perut (Tarik nafas panjang melalui hidung dengan menggembungkan perut, kemudian keluarkan dengan cepat melalui mulut (huh ...) dengan mengempiskan perut, seolah-olah membuang segala kejengkelan, ganjalan, kemarahan, kegelisahan, dan hal-hal yang mengganggu pikiran dan perasaan. 

Tanda salib (Dalam nama Bapa dan Putra, dan Roh Kudus. Amin. 

Doa penyerahan 

Bapa, kuserahkan kepada diri-Mu, berbuatlah sekehendak-Mu atas diriku. 
Apapun yang Kau perbuat atas diriku akan kuterima dengan senang hati. 
Aku bersedia menanggung segala-galanya, asal kehendak-Mu terlaksana di dalam diriku dan di dalam segala makhluk. Itulah Tuhan yang kuharapkan, tiada yang lain. 
Kupertaruhkan jiwaku demi nama-Mu. 
Kuserahkan hidupku kepada-Mu dengan segenap hati dan penuh cinta, sebab aku mencintai-Mu. 
Sebagai tanda bukti cintaku kuserahkan diriku dan kupersembahkan hidupku tanpa syarat ke dalam tangan-Mu. 
Aku percaya kepada-Mu dengan kepercayaan yang tiada batasnya, sebab Engkau adalah Bapaku. Amin (Charles de Foucauld). 

Bacaan renungan (Luk 18:35-43 » Yesus menyembuhkan seorang buta dari Yerikho) 

Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. Waktu orang itu mendengar orang banyak lewat, ia bertanya: "Apa itu?" Kata orang kepadanya: "Yesus orang Nazaret lewat." Lalu ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" 

Maka mereka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak Daud, kasihanilah aku!" Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Dan ketika ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya: "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang itu: "Tuhan, supaya aku dapat melihat!" 

Lalu kata Yesus kepadanya: "Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!" Dan seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah. 

Aku percaya ... 
Kemuliaan ... 
Bapa Kami ... 

Salam, Putri Allah Bapa. Salam Maria ... 
Salam, Bunda Allah Putra. Salam Maria ... 
Salam, Mempelai Allah Roh Kudus. Salam Maria ... 
Kemuliaan. 

Misteri sehat 1 

Yesus bertanya: “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu? Jawablah dalam hati: “Tuhan, supaya paru-paruku semakin sehat.” 

Sambil tutup mata, rasakanlah Tuhan Yesus yang hadir dan sedang menjamah paru-paru Anda. Tersenyumlah kepada paru-paru Anda. Lakukanlah 1 menit atau secukupnya. Rasakanlah paru-paru Anda yang semakin bersih, segar dan sehat. 

Bapa Kami ... 
Salam Maria ... (10 kali) 
Kemuliaan ... 
... hening sejenak ... 

Misteri sehat 2 

Yesus bertanya: “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu? Jawablah dalam hati: “Tuhan, supaya ginjalku semakin sehat.” 

Sambil tutup mata, rasakanlah Tuhan Yesus yang hadir dan sedang menjamah ginjal Anda. Tersenyumlah kepada ginjal Anda. Lakukanlah 1 menit atau secukupnya. Rasakanlah ginjal Anda yang semakin bersih, segar dan sehat. 

Bapa Kami ... 
Salam Maria ... (10 kali) 
Kemuliaan ... 
... hening sejenak ... 

Misteri sehat 3 

Yesus bertanya: “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu? Jawablah dalam hati: “Tuhan, supaya hatiku semakin sehat.” 

Sambil tutup mata, rasakanlah Tuhan Yesus yang hadir dan sedang menjamah hati Anda. Tersenyumlah kepada hati Anda. Lakukanlah 1 menit atau secukupnya. Rasakanlah hati Anda yang semakin bersih, segar dan sehat. 

Bapa Kami ... 
Salam Maria ... (10 kali) 
Kemuliaan ... 
... hening sejenak ... 

Misteri sehat 4 

Yesus bertanya: “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu? Jawablah dalam hati: “Tuhan, supaya jantungku semakin sehat.” 

Sambil tutup mata, rasakanlah Tuhan Yesus yang hadir dan sedang menjamah jantung Anda. Tersenyumlah kepada jantung Anda. Lakukanlah 1 menit atau secukupnya. Rasakanlah jantung Anda yang semakin bersih, segar dan sehat. 

Bapa Kami ... 
Salam Maria ... (10 kali) 
Kemuliaan ... 
... hening sejenak ... 

Misteri sehat 5 

Yesus bertanya: “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu? Jawablah dalam hati: “Tuhan, supaya limpaku semakin sehat.” 

Sambil tutup mata, rasakanlah Tuhan Yesus yang hadir dan sedang menjamah limpa Anda. Tersenyumlah kepada limpa Anda. Lakukanlah 1 menit atau secukupnya. Rasakanlah limpa Anda yang semakin bersih, segar dan sehat. 

Bapa Kami ... 
Salam Maria ... (10 kali) 
Kemuliaan ... 
... hening sejenak ... 

Doa penyerahan diri

Ya Tuhanku dan Allahku, ambillah segala yang menjauhkan aku daripada-Mu. 
Ya Tuhanku dan Allahku, berilah aku segala yang kuperlukan untuk menemui Engkau. 
Ya Tuhan dan Allahku, terimalah diriku dan jadikanlah aku milik-Mu. 
Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin. 

PenutupRelaksasi 

Berbaringlah di tempat yang rata, bisa dengan menggunakan bantal yang tidak terlalu tebal atau jika duduk dengan punggung lurus. Kaki diluruskan dan tidak tegang. 

Bila dilakukan di depan Sakramen Mahakudus atau patung Bunda Maria, posisi kepala mengarah ke tempat suci itu dan kaki mengarah menjauhinya. Kedua tangan di samping badan dengan kedua telapak tangan terbuka ke atas. Tutuplah mata. 

Sambil terus berbaring atau duduk, tutuplah mata berdoalah Ye ... sus ...(dengan menggunakan pernafasan perut) dan rasakanlah sinar kasih dari Tuhan Yesus yang menerangi tubuh kita memgenai kepala dan tembus sampai kaki. Rasakanlah sinar kasih Tuhan yang membersihkan tubuh, jiwa dan roh kita. Rasakanlah, jiwa dan roh kita yang semakin bersih, semakin segar dan semakin sehat. 

Jika ada rasa sensasi (gatal,hangat, kesemutan, dll), nikmatilah. Karena itu adalah cara Tuhan menyembuhkan tubuh, jiwa dan roh kita. 


Senyum-dalam (inner smile







Senyum dapat menghilangkan emosi-emosi negatif dan meningkatkan emosi-emosi positif yang pada akhirnya bermanfaat untuk menyehatkan tubuh 


Cara yang mudah dan dapat kita lakukan adalah dengan memberi senyum-dalam (inner smile) kepada organ-organ mayor tubuh kita. Meskipun hanya organ-organ mayor yang kita beri senyum-dalam, namun efek positif senyum-dalam akan berpengaruh juga ke organ-organ lain yang terkait dengan organ mayor tersebut

Lima unsur (organ mayor


Paru-paru 

Organ minor terkait: kulit dan usus besar 
Indera terkait: peraba (kulit), penciuman (hidung) 
Emosi negatif: kesedihan, depresi 
Emosi positif: kebijaksanaan, mengalah, murah hati, tanpa pamrih, keberanian 
Gangguan fisik: pernafasan, kekurangan oksigen dalam darah, konstipasi 

Ginjal 

Organ minor terkait: kandung kemih 
Indera terkait: pendengaran (telinga) 
Emosi negatif: ketakutan, dendam, tidak mau mengampuni 
Emosi positif: kebaikan, cekatan, waspada, tenang 
Gangguan fisik: kehilangan energi seksual, kehilangan semangat hidup, ketidak teraturan sistem syaraf, tubuh menjadi asam, gangguan perut, kanker, gagal ginjal, tekanan darah tinggi 


Hati 

Organ minor terkait: kandung empedu 
Indera terkait: penglihatan (mata) 
Emosi negatif: kemarahan, frustasi, iri hati, kekecewaan 
Emosi positif: keramahan, suka berbuat kebaikan, pemaaf 
Gangguan fisik: semakin banyak kolestrol, produksi getah bening tidak seimbang, darah terhambat di hati, mengurangi detoksifikasi tubuh 


Jantung 

Organ minor terkait: usus kecil 
Indera terkait: pengecap (lidah), kemanpuan berbicara 
Emosi negatif: arogansi, kebencian, keluh kesah, ketidak sabaran 
Emosi positif: sukacita, hormat, cinta, kebahagiaan 
Gangguan fisik: gangguan jantung, tekanan darah tinggi, nyeri dada, daya tahan tubuh turun 


Limpa 

Organ minor terkait: pankreas, lambung 
Indera terkait: pencernaan (mulut) 
Emosi negatif: kekuatiran, kecemasan, tak percaya diri, terlalu banyak berpikir 
Emosi positif: keseimbangan, keterbukaan, adil, ketenangan pikiran dan perilaku