Tampilkan postingan dengan label *Panggilan Allah*. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *Panggilan Allah*. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Mei 2020

Kita mampu melayani dengan tulus apabila ada damai sejahtera dan sukacita di hati kita



Paulus datang juga ke Derbe dan ke Listra. Di situ ada seorang murid bernama Timotius; ibunya adalah seorang Yahudi dan telah menjadi percaya, sedangkan ayahnya seorang Yunani. Timotius ini dikenal baik oleh saudara-saudara di Listra dan di Ikonium, dan Paulus mau, supaya dia menyertainya dalam perjalanan. Paulus menyuruh menyunatkan dia karena orang-orang Yahudi di daerah itu, sebab setiap orang tahu bahwa bapanya adalah orang Yunani. 

Dalam perjalanan keliling dari kota ke kota Paulus dan Silas menyampaikan keputusan-keputusan yang diambil para rasul dan para penatua di Yerusalem dengan pesan, supaya jemaat-jemaat menurutinya. Demikianlah jemaat-jemaat diteguhkan dalam iman dan makin lama makin bertambah besar jumlahnya. 

Mereka melintasi tanah Frigia dan tanah Galatia, karena Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia. Dan setibanya di Misia mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia, tetapi Roh Kudus tidak mengizinkan mereka. Setelah melintasi Misia, mereka sampai di Troas. 

Pada malam harinya tampaklah oleh Paulus suatu penglihatan: ada seorang Makedonia berdiri di situ dan berseru kepadanya, katanya: "Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami!" Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan, bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana (Kis 16:1-10). 


Sejak dibaptis, kita adalah kawan sekerja Allah (1 Kor 3:9). Ketika kita diutus menjadi kawan sekerja Allah, Allah juga memberikan teman sekerja untuk Kerajaan Allah (Kol 4:11) yang kelihatan. 

Oleh karena itu Tuhan mengutus kita berdua-dua (Mrk 6:7) untuk melayani-Nya. Adapun tujuannya ialah kalau ada yang jatuh, yang seorang dapat mengangkat temannya (Pkh 4:9-10). Jadi, kita perlu bekerja sama dengan orang lain yang mempunyai beban dan iman yang sama. 

Kita seringkali mendengar tentang Kerajaan Allah, namun kita tidak tahu definisinya. Mari kita tengok sejenak di Kamus Alkitab dan Kitab Suci 

I. Kamus Alkitab » Kerajaan Allah artinya Allah sendiri yang tampil sebagai Raja dalam kemuliaan dan keperkasaan untuk menyelamatkan dan memberi perlindungan untuk membebaskan dunia secara total dari kuasa kejahatan, bukan untuk menghukum atau membalas (Mzm 145:11-13; Rm 5:14-15; 1 Tim 1:15; Yoh 3:16-17). 

II. 1 Kor 4:20 » Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa

Kapan kita menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kita (Kis 1:8). Kapan Roh Kudus dikaruniakan pada kita? Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia (Yoh 14:23). Pada saat kita mentaati Dia (Kis 5:32). 

Jadi, karunia Roh Kudus dibagi-bagikan-Nya menurut kehendak-Nya (Ibr 2:4). Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh (Mrk 16:17-18). 

III. Rm 14:17 » Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal (C) kebenaran, (B) damai sejahtera dan (A) sukacita oleh Roh Kudus

(IIIA) Mother Teresa mengatakan bahwa: Sukacita itu buah Roh Kudus (Gal 5:22) dan tanda yang jelas bahwa Kerajaan Allah ada di dalam kita (Rm 14:17). Sukacita datang dari (1) kemurahan hati (2) penyangkalan diri (3) kesatuan yang mendalam dengan Allah

(IIIA1) kemurahan hati » tanda orang yang bermurah hati: tidak menghakimi, tidak menghukum, mau mengampuni dan mau memberi (Luk 6:36-38). 

(IIIA2) penyangkalan diri » seseorang baru bisa melakukan penyangkalan diri (Luk 9:23 » menyangkal diri, memikul salib setiap hari dan mengikuti-Nya) apabila telah memperoleh damai sejahtera yang berasal dari Allah (Yoh 14:27). 

(IIIB) Bagamana caranya untuk mendapatkan damai yang berasal dari Allah? Jika kita hidup dalam kebenaran (Mat 5:37 » Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat). 

Ketika kita mengetahui kebenaran, kebenaran itu akan memerdekakan kita (Yoh 8:32). Jadi, di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya (Yes 32:17). 

Berkat damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal (Flp 4:7) inilah yang memampukan kita untuk melakukan kehendak-Nya, hidup berpadanan dengan Injil Kristus (Flp 1:27) (Tit 3:1-2 » tunduk pada pemerintah (Rm 13:1) dan orang-orang yang berkuasa (Ef 5:22-24), taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik (Ef 2:10), selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang (Luk 6:36-38 » bermurah hati dengan cara tidak menghakimi, tidak menghukum, mau mengampuni dan mau memberi). 

(IIIC) Kata Pilatus kepada-Nya: "Apakah kebenaran itu? (Yoh 18:38a). Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku (Yoh 14:6). 

Dasar pernyataan ini: Firman itu adalah Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita (Yoh 1:1, 14). Jadi, Firman kebenaran yaitu Injil keselamatan (Ef 1:13; Kol 1:5; Yoh 17:17; Mzm 119:160). 

Perkataan Tuhan kita Yesus Kristus adalah perkataan sehat (1 Tim 6:3). Jika kita berpegang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran yang sehat, maka kita akan sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran itu dan sanggup meyakinkan penentang-penentang kita (Tit 1:9). 

(IIIA3) kesatuan yang mendalam dengan Allah » Jika seorang mengasihi Allah, ia akan menuruti firman-Nya. Janji-Nya: dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia (Yoh 14:23). Jadi, pada saat kita mentaati Dia (Kis 5:32), tubuh kita adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kita (1 Kor 6:19). 

Jadi, kita punya teman sekerja yang tidak kelihatan, yaitu Roh Kudus, Ia akan mengajarkan segala sesuatu kepada kita dan akan mengingatkan kita akan semua yang telah Yesus katakan kepada kita (Yoh 14:26), Ia juga memberitakan hal-hal yang akan datang (Yoh 16:13). 

Oleh karena itu, kita harus peka dalam melakukan setiap pelayanan yang sudah kita pikirkan dan rencanakan dengan baik. Sekiranya rencana kita tidak sesuai dengan kehendak dan rencana Tuhan maka kita harus rela untuk menunda atau merubah rencana kita untuk disesuaikan dengan rencana Tuhan yang pasti lebih baik dan sempurna (Yes. 55:8-9). 

Paulus adalah kawan sekerja Allah (Kis 9:15). Timotius dan Silas adalah teman sekerja untuk Kerajaan Allah bagi Paulus (Kis 16:1-10). Demikian pula dengan saya, saya diutus oleh-Nya dan saya pun mempunyai teman sekerja untuk Kerajaan Allah. Tujuan mempunyai teman sekerja untuk Kerajaan Allah: saling mendoakan dan saling berbagi pengalaman rohani (Flp 4:3). 

Ketika saya ke rumah P, tiba-tiba P berkata: "Aku mendapat hikmat kamu harus makan empedu ikan." Keesokan harinya saya makan empedu ikan karena saya yakin bahwa empedu ikan itu dapat menyembuhkan mata saya yang sedang sakit. 

Sungguh luar biasa hasilnya, setelah saya makan, tubuh saya terasa lentur kembali, otot-otot yang kaku menjadi normal kembali. Cairan empedu yang tercecer di piring kecil, saya oleskan juga di kelopak mata, mata saya langsung terasa nyaman, tidak terasa tegang lagi. 

Sebelum makan empedu ikan tersebut saya berdoa dan mendapatkan hikmat agar memberikan "jantung dan hati ikan" tersebut ke teman saya (S) yang sedang sakit herpes dan tidak sembuh-sembuh meskipun sudah berobat ke berbagai dokter. 

Saya langsung meluncur ke rumahnya memberikan "jantung dan hati ikan" tersebut. S berdoa sambil membakar jantung dan hati ikan tersebut. Karena baunya harum, kucing-kucing yang berada di rumahnya berisik. Karena doanya tidak khusuk maka S tidak mengalami kesembuhan secara sempurna. 

Jadi, empedu, jantung dan hati ikan adalah obat mujarab. Empedu diurapkan pada orang yang matanya kena bintik-bintik putih, niscaya bintik-bintik itupun hanya tinggal ditiupi saja lalu sembuh pulalah orang itu. Jantung dan hati ikan diasapkan di depan laki-laki atau perempuan yang kerasukan setan atau roh jahat. Lalu segenap gangguan lenyap dari padanya dan tidak tinggal lagi padanya untuk selama-lamanya (Tob 6:4, 8-9). Namun, harus diingat bahwa “tidak semua adalah baik bagi setiap orang” (Sir 37:28). 

Ketika saya ke rumah P, tiba-tiba P berkata: "Besok kamu harus ke Misa Pagi. Sesudah misa kamu minta berkat pada pastornya, siapapun dia kamu harus minta berkat khusus." Saya melaksanakan apa yang dikatakan oleh Bu Phang. Sesudah misa, saya kejar pastornya dan meminta berkat padanya. Sungguh luar biasa, seluruh tubuh saya yang sakit dipulihkannya seperti sediakala. 

Pada hari Jumat saya hendak menghadiri sebuah pemberkatan ruko. Di tengah jalan, saya melihat rombongan orang lingkungan yang berjalan kaki. Salah satu diantara mereka, ada seorang anak yang berjalan aneh, kakinya meliuk-liuk dalam pandangan saya Sesampainya di ruko yang dituju, saya bertanya pada anak tersebut (X): "Apakah kamu jatuh?" Jawabnya: "Tidak." 

Keesokan harinya, saya menitipkan anak saya pada M, karena saya harus hadir pada kursus teologi. Di tempat M saya berjumpa lagi dengan X, dia dalam keadaan panas badannya. Berbekal teori yang ada, saya memijat X. Puji Tuhan, panas X dapat turun. 

Namun, tangan kiri saya tidak dapat digerakkan seperti stoke. Meskipun keadaan tangan saya seperti itu, saya masih dimampukan menggendong anak saya yang masih berumur dua tahun sambil menyetir sepeda motor meluncur ke rumah D untuk minta dukungan doa. Sesudah didoakan saya juga diberi minyak urapan untuk dioleskan pada tangan kiri saya. Puji Tuhan, dalam waktu tiga hari tangan kiri saya disembuhkan oleh-Nya. Dengan berjalannya waktu saya baru tahu bahwa kelahiran X karena memintanya pada orang pintar. 

Hal ini saya ceritakan pada teman sekerja lainnya yang biasa melayani doa pelepasan. Dia lalu memberitahukan pada saya cara melayani yang benar. Maklumlah, waktu itu saya belum mengerti bahwa si jahat tidak senang jika ada anak Tuhan yang diselamatkan. Oleh karena itu janganlah tinggalkan persekutuan. Karena melalui persekutuan kita memperoleh kekuatan dan peneguhan. 

Dari pengalaman di atas, saya sungguh bersyukur karena berada di dalam persekutuan dengan Gereja Katolik. Karena ajaran Gereja Katolik menjawab pertanyaan yang paling mendasar dalam hidup saya (II). Pertanyaan-pertanyaan ini hanya bisa dijawab dengan memuaskan jika saya punya keterbukaan hati terhadap rahmat Tuhan, menerima apa yang dinyatakan Yesus melalui Gereja yang mendirikan-Nya. 

Sakramen tidak dilaksanakan oleh kesucian manusia yang memberi atau menerima (Sakramen), tetapi oleh kekuasaan Allah (Tomas Aqu, s.th, 3, 68, 8). Pada saat Sakramen dirayakan sesuai dengan maksud Gereja, bekerjalah di dalam dia dan oleh dia kekuasaan Kristus dan Roh-Nya, tidak bergantung pada kekudusan pribadi pemberi. buah-buah Sakramen juga bergantung pada sikap hati orang yang menerimanya (KGK 1128). 

Pada dasarnya Kristus sendiri yang mendatangkan keselamatan dengan perantaraan pelayan yang ditahbis dan bekerja melalui dia. Ketidaklayakannya tidak dapat menghalang-halangi Kristus untuk bertindak (KGK 1584). 

Saya juga bersyukur dipanggil Tuhan dalam sebuah grup Pujian Penyembahan melalui Line voice call. Melalui grup ini saya bisa belajar memuji dan menyembah Tuhan, caranya sederhana: teks lagu saya copas dan saya kirimkan ke HP yang lainnya, lalu saya mengikuti lagu yang dinyanyikan. Bahkan saya juga pernah mengalami kuasa penyembuhan, saat saya meng-iman-i Sabda Pengetahuan bahwa Tuhan menjamah lutut saya (II). 

Marilah kita mengejar kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus sehingga kita dimampukan melakukan tugas perutusan sesuai dengan kehendak-Nya. 

(Sumber: Renungan GPM, Suliani).

Senin, 23 Maret 2020

Menjadi pelayan yang dahsyat



Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia (Yoh 3:17). Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia (Kis10:38). Makanan-Nya ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus-Nya dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh 4:34; Mat 26:39). 

Ketika orang beriman digabungkan kepada Gereja oleh Pembaptisan, mereka menerima meterai sakramental, yang "menugaskan mereka untuk menghormati Allah secara Kristen" (LG 11). Meterai Pembaptisan menyanggupkan dan mewajibkan orang Kristen, agar melayani Allah dengan mengambil bagian secara aktif dalam liturgi Gereja yang kudus dan menjalankan imamat semua orang Kristen melalui kesaksian hidup kudus dan cinta penuh semangat (Bdk. LG 10) (KGK 1273). 

Jika kita ingin menjadi pelayan yang dahsyat, kita harus melekat pada pokok anggur yang benar (Yoh 15:1-8), kita harus berjalan di jalan yang sama yang dilalui Kristus, yaitu: mengosongkan diri-Nya sendiri, merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati (Flp 2:7-8). 


Namun seringkali tanpa sadar kita melayani Tuhan hanya karena kewajiban saja (melayani pekerjaan Tuhan, disibukkan dengan begitu banyak aktivitas dan rutinitas pelayanan, menyelesaikan list-list pekerjaan pelayanan), buahnya: tubuh dan jiwa lelah; tidak ada tanda kekudusan dalam hidup mereka (Rm 14:17 » kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus), yang ada hanyalah iri hati (Yak 4:2) atau membanggakan diri (1 Kor 1:12). 

Jika kita melayani Tuhan (mengerjakan apa yang Tuhan mau untuk kita kerjakan, melakukan segala sesuatu demi kemuliaan-Nya (1 Kor 10:31; Kol 3:17, 23), maka pelayanan itu akan menghasilkan Buah Roh (KGK 1832 » 1. Kasih 2. Sukacita 3. Damai sejahtera 4. Kesabaran 5. Kemurahan 6. Kebaikan 7. Kesetiaan 8. Kelemahlembutan 9. Penguasaan diri 10. Kerendahan Hati 11. Kesederhanaan 12. Kemurnian) Kita bisa menjadi surat Kristus (2 Kor 3:3) sehingga kita dapat memperkenalkan Bapa kepada dunia

Jadi, pelayanan yang tulus hanya bisa lahir dari pengalaman iman. Semangatnya berkobar-kobar untuk melayani bersumber dari pengalamannya akan Allah yang telah mengubah dan menyembuhkannya (St Theresia Lisieux). 

(Sumber: Warta KPI TL No. 179/III/2020 » Renungan KPI TL Tgl 27 Juni 2019, Romo Korinus Budaya, SVD).

Selasa, 17 Desember 2019

Kau telah memilihku



Waktu saya kelas tiga SD, ada seorang teman ibu saya (X) yang tinggal di Pucang Jajar, mau menitipkan pianonya karena dia merasa sayang jika piano tersebut rusak akibat dari banjir selutut, katanya: "Jika ada yang berminat membeli piano tersebut, piano tersebut saya jual." 

Karena ibu saya tidak berjiwa pedagang, maka piano tersebut tetap berada di rumah saya. Pada suatu hari tiba-tiba saya tertarik untuk membuka piano tersebut dan tanpa sadar jari-jemari tangan saya menekan tuts piano. 

Melihat ulah saya, ibu saya bertanya: "Grace, apakah kamu mau mama belikan piano itu?" Saya langsung meng-iya-kan. Setelah itu ibu saya berunding dengan ayah saya, mereka memutuskan membeli piano tersebut, bahkan saya dileskan. Jadi, saya les piano sejak kelas tiga SD. Ketika SMA saya mulai memberi les piano. 

Saya mempunyai adik yang menderita sakit asma. Suatu hari asmanya kumat hingga coma (tidak sadar dalam waktu panjang yang disebabkan oleh penyakit atau cedera). Oleh karena itu kami sekeluarga berencana menjual rumah di Pucang Adi dan pindah ke daerah yang sirkulasi udaranya lebih baik. Harapan kami, sepulang dari Rumah Sakit adik saya bisa bernafas lebih lega. 

Namun rencana manusia berbeda dengan rencana Tuhan. Ternyata adik saya meninggal setelah coma lima bulan, bahkan ayah saya juga meninggal sebelum adik saya meninggal. Rumah sudah terjual, mau tidak mau saya dan ibu saya harus pindah ke rumah baru di Rungkut Asri. 

Proses yang kami alami sungguh berat, namun kami beroleh kekuatan yang luar biasa karena Tuhan mengutus malaikat-malaikat-Nya, baik yang bersayap maupun yang tidak bersayap sehingga kami bisa melewati masa yang pahit itu. 

Di Gereja Gembala Yang Baik saya berjumpa dengan teman kuliah saya, dia bertanya kenapa saya ke gereja ini. Lalu saya menceritakan bahwa saya baru saja pindah rumah ke Rungkut. Katanya: "Kalau gitu, tiap Minggu pagi datang ke rumahku ya ..." Ternyata setiap Minggu pagi ada pertemuan sel KTM (suatu kelompok kecil yang mempunyai jalinan yang erat di antara anggotanya saling menguatkan melalui puji-pujian, doa, pengajaran dan sharing. Tak hanya itu, persaudaraan dalam kelompok sel pun makin dirasakan melalui saling mendoakan kebutuhan satu sama lain). 

Pertama kali ketika mendengar sharing teman-teman sel, saya merasa aneh karena hal-hal yang biasa saja kok disharingkan, misalnya: saya bersyukur, tadi pagi bisa melihat matahari bersinar, mendengar suara burung berkicau dan merasakan hembusan angin yang sejuk. Pada waktu itu saya berpikir "sharing" harus yang spektakuler. 

Atas permintaan teman-teman maka saya mulai belajar mengiringi lagu-lagu dengan keyboard kecil saat pertemuan sel. 

Di tempat kuliah saya bertemu dengan seorang teman yang juga mengajak bergabung dengan komunitasnya, yaitu PD Nasaret, waktu itu pembimbingnya Ibu Sugiato dan Bapak Donny Vincent. Di Persekutuan Doa ini saya disuruh melatih anak muda cara bermain musik drum dan keyboard. Awal mulanya mereka tidak tahu musik sehingga suaranya gaduh karena asal main saja. 

Karena saya sudah mahir bermain piano, maka saya melamar menjadi pianis jam-jaman di hotel-hotel berbintang lima. Namun, lamaran saya ditolak. Lalu saya bertanya pada Tuhan dalam doa: "Tuhan, untuk apa semua ilmu ini?" Dengan berjalannya waktu saya mengetahui bahwa Tuhan tidak memanggil saya dalam dunia sekuler namun ilmu saya untuk melayani-Nya di persekutuan-persekutuan doa hingga saat ini. 

Selesai kuliah saya bekerja di pabrik sesuai dengan studi saya, teknik kimia. Suatu saat, tiba-tiba terpikir untuk mengajukan resign (berhenti bekerja) karena saya tidak mau menghabiskan waktu saya sampai usia lima puluh kima tahun baru, pensiun dan baru mengerjakan sesuatu yang saya sukai. 

Lalu saya berdoa: "Tuhan, kalau Engkau mengizinkan aku berhenti bekerja dari pabrik ini, berilah aku tempat untuk mengajar musik." Sungguh luar biasa penyertaan Tuhan, saya diterima mengajar di sekolah musik Purwacaraka. 

Suatu saat saya bertemu dengan teman SMA, setelah selesai kuliah saya bekerja di Surabaya, dia bekerja di luar pulau. Kami berpacaran jarak jauh melalui telpon (interlokal, belum ada video call waktu itu). Karena mahal diongkos, kami memutuskan untuk segera menikah. 

Beberapa bulan sebelum menikah dia pindah kerja di Surabaya. Ketika mengetahui bahwa hampir setiap hari saya pelayanan musik dari PD ke PD, dia protes, katanya: "Apakah setelah menikah, aku setiap hari ditinggal seorang diri di rumah?" Jawab saya: " Ya tidak. Waktunya akan kuatur sehingga kita bisa tetap bersama-sama." 

Setelah menikah, saya tidak boleh melakukan apapun yang bersifat rohani. Saya benar-benar berada di persimpangan jalan, di satu sisi jiwa saya rindu bersekutu dengan Tuhan yang tidak kelihatan, di sisi yang lain setiap hari saya melihat suami saya yang marah jika saya datang ke persekutuan. 

Setiap hari Senin, saat ada pertemuan sel pasutri HSM, saya selalu diajak jalan-jalan ke mall. Pada awal mulanya saya senang, namun lama-kelamaan jiwa saya terasa kering. Mengalami hal ini saya tidak berputus asa, saya terus berdoa dan mohon dukungan doa juga dari teman-teman di sel. 

Kadangkala saya tidak kuat memendam kerinduan ini, saya tetap datang ke sel meskipun harus menghadapi kemarahan suami saya. Di dalam pertemuan saya duduk sambil menangis, semua teman tidak ada yang bertanya karena mereka sudah tahu persoalan yang saya hadapi. 

Suatu hari pekerjaan suami saya jatuh sampai minus, waktu itu saya masih kerja. Saya berkata: “Tuhan jawaban doanya kok seperti ini? Suami saya sebagai tulang punggung, jika tidak ada kerjaan, saya juga ikut susah." Jawab-Nya: "Itulah jalan satu-satunya untuk memprosesnya." 

Akhirnya saya mengerti rancangan-Nya, maka saya memohon kekuatan-Nya dan bimbingan-Nya agar dapat mengajak suami saya datang ke sel pasutri. Puji Tuhan, dia akhirnya mau datang ke sel. Saya langsung menghubungi teman-teman di sel, saya katakan: "Suamiku mau datang ke sel, jangan sambut dia dengan heboh, sambutlah biasa saja agar dia tidak malu." 

Setelah beberapa kali mengikuti pertemuan sel, saya bertanya bagaimana perasaannya. Katanya: "Yang punya masalah bukan kita saja, ternyata semua orang punya masalah." 

Saya menjawab: "Ya. Komunitas kaum beriman adalah tempat pertemuan para sahabat Yesus, memperdalam iman melalui pengajaran-pengajaran Gereja, saling berbagi kegembiraan dan penderitaan dan memberi kesaksian sehingga jiwa kita dikuatkan dalam menjalani kehidupan yang berat ini sampai akhir. Jadi, itulah yang membedakan orang yang mempunyai Tuhan. Kalau kita punya Tuhan Yesus, kita punya pengharapan. Meskipun masalah berat, Tuhan akan memberikan kekuatan pada kita." 

Suatu hari suami saya mengajak ke doa lingkungan. Karena sering datang ke doa lingkungan, akhirnya suatu hari dia dipilih menjadi ketua lingkungan. Saya mendukungnya. Karena di Gereja Roh Kudus ada KEP, sebagai ketua lingkungan mau tidak mau ya harus mau ikut KEP. 

Sejak mengikuti KEP, setiap bangun tidur dia langsung berdoa, membaca Kitab Suci dan merenungkannya serta mencatat sharing kehidupannya di buku. Dengan berjalannya waktu, imannya mulai bertumbuh. 

Jika ada masalah, sekarang dia tidak hidup dalam ketakutan lagi, karena dia tahu bahwa Allah memberikan kepadanya bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban (2 Tim 1:7). Sekarang dia percaya bahwa Tuhan lebih besar dari pada masalah yang dihadapinya. 

Ketika Tuhan memberikan sebuah misi, Dia selalu memasukkan kita ke dalam sebuah proses, sebuah proses pemurnian, sebuah proses kebijakan, sebuah proses ketaatan, sebuah proses doa (Paus Fransiskus). 

Rumah ibu saya sering dipakai sebagai tempat persekutuan doa atau doa lingkungan. Sesudah selesai pertemuan tersebut, seringkali pembantu ibu saya (M) bercerita tentang kebaikan Tuhan yang dia dengar ketika menyajikan makanan atau minuman ke para tamu. 

Kalau ada suatu masalah, M bercerita bahwa dia selalu berdoa kepada Tuhan Yesus. Suatu hari saya bertanya padanya: "Kamu bukan beragama Katolik, mengapa berdoa pada Tuhan Yesus?" Jawabnya: "Non, saya sudah mendengar sharing dalam persekutuan doa bahwa Tuhan Yesus selalu menolong pada setiap orang yang percaya pada-Nya. Karena saya buta huruf tidak bisa membaca Alkitab, maka saya mendengar dari kotbah-kotbah di radio ketika memasak. Dari situ saya tahu bahwa Tuhan Yesus sungguh amat baik, Dia selalu memberi jalan keluar secara ajaib, pertolongan-Nya tidak pernah terlambat." 

Setiap gajian M hanya mengambil sebagian kecil saja, sisanya dititipkan pada saya. Meskipun saya sebagai tuannya, saya rela membuat pembukuan. Ketika tubuh M sudah tidak kuat bekerja lagi, maka saya menyarankannya untuk pulang ke desanya dan saya berjanji untuk memberi uang pensiunan padanya karena M sudah empat puluh tahun lebih telah bekerja pada ibu saya, dia bekerja sejak saya berumur dua tahun. 

Ketika saya pulangkan, sisa uang yang ada pada saya tidak diambilnya, katanya: "Non, sisa uang gajian saya tolong disimpankan. Jika saya membutuhkan, saya akan menghubungi Non." 

Suatu hari M menelpon saya dan mengatakan bahwa sakit jantungnya semakin parah dan dia ingin segera dibaptis secara Katolik. Begitu mendengar kabar itu, saya langsung mencari alamat Gereja di Cepu lewat internet untuk menanyakan nomer telpon ketua lingkungan di mana M tinggal. 

Kata ketua lingkungannya: "Saya tidak keberatan sama sekali untuk melayani pembaptisan M. Tetapi mohon ditanyakan keluarganya, apakah keluarganya bersedia diadakan upacara secara Katolik saat M meninggal?” 

Lalu saya menelpon M. Ternyata adik M dan anaknya tidak menyetujui M dibaptis secara Katolik. Saya katakan: “Jangan sedih M, berkatalah pada Tuhan Yesus, ‘Tuhan Yesus, aku mau mengikuti-Mu, namun aku tidak boleh dibaptis oleh keluargaku. Tolong Tuhan Yesus kalau saatku tiba tolong jemputlah aku bersama Bunda Maria’. Tuhan Yesus itu mengerti kalau kamu rindu mau mengikuti-Nya.” 

Tgl 25 desember 2018 saya menelpon M untuk mengucapkan selamat Natal. Setelah selesai menelpon, saya berdoa agar Tuhan Yesus beserta Bunda Maria menjemput M. Keesokan harinya adik M melaporkan bahwa pagi ini M sarapan pagi dan minum teh, sekarang tidur nyenyak. Setelah diperiksa dokter ternyata sudah meninggal. Mendengar kabar itu saya berdoa: “Tuhan terima kasih, Engkau dan Bunda Maria telah menjemput M dalam keadaan damai.” 

Dari dua peristiwa di atas, saya merefleksikan beberapa hal: 

Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu (Yoh 15:16). Tuhan memanggil kita dengan berbagai macam cara, ada yang dipanggil sejak bayi, mendapatkan warisan iman dari orang tuanya; ada yang bersekolah di sekolah Katolik, lalu tertarik dengan ajaran Katolik dan minta dibaptis secara Katolik; ada yang awal mulanya dari pada tidak ada kegiatan di kost lalu mengikuti temannya ke gereja atau ke persekutuan, setelah menerima benih firman yang ditaburkan, hatinya tertarik untuk dibaptis secara Katolik dll. 

Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. ... Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya. Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah (Ibr 12:6-8, 11-12). 

Didikan yang keras adalah bagi orang yang meninggalkan jalan yang benar, dan siapa benci kepada teguran akan mati (Ams 15:10). 

Bergembiralah ketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu - yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api -- sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya (1 Ptr 1:6-7). 

Jadi, ketika kita sudah dipilih Tuhan, kita dimurnikan supaya kita layak dipakai oleh-Nya. Kita dipersiapkan untuk maju perang setiap hari di batin kita melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara (Ef 6:12). 

Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya (Ams 16:9). Tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik (2 Tim 3:17). Ia yang memulai pekerjaan yang baik, akan meneruskannya sampai pada akhirnya (Flp 1:6). 

Orang tua saya tidak pernah berpikir untuk membelikan piano buat saya. Gara-gara piano tersebut dititipkan ... akhirnya dibeli. Kalau sudah waktunya diutus, Allah sendiri menuntun di mana harus berkarya. Buktinya: saya bekerja di pabrik sesuai dengan ijasah saya, namun tanpa sadar saya dituntunnya bekerja sesuai dengan panggilan saya, yaitu sebagai guru musik dan melayani-Nya di bidang pujian penyembahan. Kalau semua itu bukan karena rencana Tuhan, maka semuanya itu tidak akan terjadi. 

Penderitaan akan merobek jiwa, jika kita tetap bertahan sampai pada kesudahannya akan diselamatkan (Ams 27:9; Mat 24:13). Oleh sebab kita memerlukan ketekunan, supaya sesudah kita melakukan kehendak Allah, kita memperoleh apa yang dijanjikan itu (Ibr 10:36). Berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia (1 Kor 15:58). 

Tuhan tidak ingin anak-anak yang dipilih-Nya mundur dari melayani-Nya. Berkat penyertaan-Nya, sekarang saya ke "sel" berdua dengan suami saya. Jika saya berhalangan datang, dia datang sendiri karena sudah ada kesadaran untuk hidup dalam komunitas. 

Firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya (Yes 55:11). Siapa memperhatikan firman akan mendapat kebaikan, dan berbahagialah orang yang percaya kepada Tuhan (Ams 16:20) 

(Sumber: Warta KPI TL No. 176/XII/2019 » Renungan KPI TL Tgl 14 November 2019, Ibu Gracia Halim).

Sabtu, 23 Maret 2019

Mau melayani

Sebagai pribadi yang beriman dewasa, Maria mau melayani sesama karena ia mempunyai kepekaan pada kebutuhan sesama dan berani bertindak sesuai dengan imannya

Marilah kita belajar dari Yoh 2:1-11:

[1-5] Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu. Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: (1) "Mereka kehabisan anggur." Kata Yesus kepadanya: "Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba." Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: (2) "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!"

» Sebagai seorang yang beriman dewasa, ibu Yesus peka pada kebutuhan sesama (1). Meskipun permohonannya ditolak, ia tetap sabar dan berani bertindak (2). 

[6-10] Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung. Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: "Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air." Dan (3) mereka pun mengisinya sampai penuh. Lalu kata Yesus kepada mereka: "Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta." Lalu mereka pun membawanya. Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu - dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya - ia memanggil mempelai laki-laki, dan berkata kepadanya: "Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang."

» (3) Pelayan yang taat pada perintah-Nya akan menjadi bagian dari mujizat dan mendapat pengertian akan pekerjaan Allah (Am 3:7; Yoh 15:15).

[11] Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.

» Bagi mereka yang memahaminya dalam iman, tanda ini merujuk kepada identitas Yesus sebagai Mesias yang akan membawa kepenuhan janji Allah bagi umat-Nya.

(Sumber: Warta KPI TL No. 166/II/2019 » Bersama Bunda Maria, menjadi semakin dewasa dalam iman, Pendalaman iman bulan Rosario 2018).

Jumat, 04 Januari 2019

Kisah misionaris yang mengalami kepahitan terhadap Tuhan




Pada tahun 1921 ada 2 pasang Suami Istri dari Stockholm (Swedia) menjawab panggilan Tuhan untuk melayani misi Penginjilan di Afrika. 

Kedua pasang Suami Istri ini menyerahkan hidupnya untuk mengabarkan Injil dalam suatu Kebaktian Pengutusan Injil. Mereka terbeban untuk melayani Negara Belgian Kongo yang sekarang bernama Zaire. 

Mereka adalah David Flood dan isterinya Svea. Serta Joel Erickson dan isterinya Bertha.

Setelah tiba di Zaire mereka melapor ke kantor Misi setempat. Lalu dengan menggunakan parang mereka membuka jalan melalui hutan pedalaman yang dipenuhi nyamuk Malaria. 

David dan Svea membawa Anaknya David Jr yang masih berumur 2 Tahun. Dalam perjalanan, David Jr. terkena penyakit malaria. Namun mereka pantang menyerah dan rela mati untuk Pekerjaan Injil. 

Tiba di tengah Hutan mereka menemukan sebuah Desa di pedalaman. Namun ... penduduk desa tidak mengijinkan mereka memasuki desanya. "Tak boleh ada orang kulit putih yang boleh masuk ke desa. Dewa-dewa kami akan marah" demikian kata penduduk desa itu.

Di desa N’dolera itu mereka di tentang habis oleh Kepala Suku yang khawatir kehadiran orang-orang putih ini membuat dewa-dewa setempat murka. 

Jadi di dirikan lah sebuah pondok dari lumpur kira-kira 750 Meter di luar desa. Karena tidak menemukan desa lain, mereka akhirnya terpaksa tinggal di hutan dekat desa tersebut. 

Setelah beberapa bulan tinggal di tempat itu, mereka menderita kesepian dan kekurangan gizi. Selain itu, mereka juga jarang mendapat kesempatan untuk berhubungan dengan penduduk desa. 

Setelah 6 Bulan berlalu Keluarga Erickson memutuskan untuk kembali ke kantor Misi. Namun ... keluarga Flood memilih untuk tetap tinggal. Apalagi karena saat itu Svea baru hamil dan sedang menderita malaria yang cukup buruk. Di samping itu David juga menginginkan agar anaknya lahir di Afrika. Ia sudah bertekad memberikan hidupnya untuk melayani di tempat tersebut.

Selama beberapa bulan Svea mencoba bertahan melawan demamnya yang semakin memburuk. Namun di tengah keadaan seperti itu ia masih menyediakan waktunya untuk melakukan bimbingan rohani kepada seorang anak kecil penduduk asli dari desa tersebut. 

Anak kecil itu lah satu-satunya kontak dengan penduduk lokal yang di ijinkan menjual telur dan daging ayam seminggu 2 kali dan di sambut dengan senang hati dibimbing kepada Kristus.

Dapat dikatakan anak kecil itu adalah satu-satunya hasil pelayanan Injil melalui Keluarga Flood ini. Saat Svea melayaninya, anak kecil ini hanya tersenyum kepadanya. 

Penyakit malaria yang di derita Svea semakin memburuk sampai ia hanya bisa berbaring saja. Tapi bersyukur bayi perempuannya berhasil lahir dengan selamat tidak kurang suatu apa. 

Namun ... Svea tidak mampu bertahan. Seminggu kemudian keadaannya semakin sangat buruk dan menjelang kepergiannya ia berbisik kepada David, "Berikan nama Aina pada anak kita" lalu ia meninggal. 

David sangat terpukul dengan kematian Istrinya. Ia membuat peti mati untuk Svea lalu menguburkannya. Saat ia berdiri di samping kuburan, ia memandang pada anak laki-lakinya sambil mendengar tangis bayi perempuannya dari dalam gubuk yang terbuat dari lumpur. 

Timbul kekecewaan yang sangat dalam di hatinya. Dengan emosi yang tidak terkontrol David berseru marah: "Tuhan mengapa Kau ijinkan hal ini terjadi? Bukankah kami datang kemari untuk memberikan hidup kami dan melayani Engkau?! Istriku yang cantik dan pandai sekarang telah tiada. Anak sulungku kini baru berumur 3 Tahun dan nyaris tidak terurus, apalagi si kecil yang baru lahir. Setahun lebih kami ada di hutan ini dan kami hanya memenangkan seorang anak kecil yang bahkan mungkin belum cukup memahami berita Injil yang kami ceritakan. Kau telah mengecewakan Aku, Tuhan. Betapa sia-sianya hidupku!"

Kemudian David kembali ke kantor Misi Afrika. Saat itu David bertemu lagi dengan Keluarga Erickson. David berteriak dengan penuh kejengkelan: "Saya akan kembali ke Swedia! Saya tidak mampu lagi mengurus anak ini. Saya ingin titipkan bayi perempuanku kepadamu." Kemudian David memberikan Aina kepada Keluarga Erickson untuk dibesarkan. 

Sepanjang perjalanan ke Stockholm, David Flood berdiri di atas dek Kapal. Ia merasa sangat kesal kepada Tuhan. Ia menceritakan kepada semua orang tentang pengalaman pahitnya bahwa ia telah mengorbankan segalanya tetapi berakhir dengan kekecewaan. Ia yakin bahwa ia sudah berlaku setia tetapi Tuhan membalas hal itu dengan cara tidak memperdulikannya.

Setelah tiba di Stockholm, David Flood memutuskan untuk memulai usaha di bidang import. Ia mengingatkan semua orang untuk tidak menyebut nama Tuhan di depannya. Jika mereka melakukan itu, segera ia naik pitam dan marah. David akhirnya terjatuh pada kebiasaan minum minuman keras. 

Tidak lama setelah David Flood meninggalkan Afrika, pasangan suami-istri Erickson yang merawat Aina meninggal karena di racun oleh Kepala Suku dari daerah di mana mereka layani. 

Selanjutnya si kecil Aina di asuh oleh Arthur dan Anna Berg. Keluarga ini membawa Aina ke sebuah desa yang bernama Masisi, Utara Kongo. Di sana Aina dipanggil "Aggie". Si kecil Aggie segera belajar bahasa Swahili dan bermain dengan anak-anak Kongo. 

Pada saat-saat sendirian Aggie sering bermain dengan khayalan. Ia sering membayangkan bahwa ia memiliki 4 saudara laki-laki dan 1 saudara perempuan. Dan ia memberi nama kepada masing-masing saudara khayalannya.

Kadang-kadang ia menyediakan meja untuk bercakap-cakap dengan saudara khayalannya. Dalam khayalannya ia melihat bahwa saudara perempuannya selalu memandang dirinya. Keluarga Berg akhirnya kembali ke Amerika dan menetap di Minneapolis. 

Saat Aggie beranjak dewasa ia mendapat kiriman majalah Kristen dengan berbahasa Swedia di kotak suratnya. Saat ia melihat sebuah halaman di majalah tersebut ia terhenti kaget karena foto-foto yang ada di majalah tersebut. 

Ada sebuah kuburan primitif dengan Salib Putih dan di Salib tertulis nama Svea Flood. Aggie pun spontan beranjak ke mobilnya dan pergi menemui seseorang yang bisa menerjemahkan artikel berbahasa Swedia tersebut. 

Kemudian Penterjemah membacakan dengan ringkas bahwa dulu ada pasangan suami isteri misionaris yang datang ke Afrika dan memperkenalkan Yesus kepada seorang bocah laki-laki. 

Suami-isteri ini dikaruniai seorang anak perempuan tapi ibunya meninggal dunia setelah beberapa hari. Namun melalui anak kecil yang pernah di bimbing Svea Flood Tuhan telah menyelamatkan 600 Orang Zaire. 

Ketika si bocah tersebut beranjak dewasa ia mendirikan sekolah di desanya tersebut dan oleh semangat belas kasihan Kristus yang ia peroleh dari Svea kini ia telah menjadi Pemimpin dari Gereja Pentakosta di Zaire dan memimpin 110.000 Orang-orang Kristen di Zaire. 

Sejak itu Aggie pun berusaha mencari tahu keberadaan Ayahnya.
Tapi sia-sia. Aggie menikah dengan Dewey Hurst yang kemudian menjadi Presiden dari Sekolah Alkitab Northwest Bible College. 

Sampai saat itu Aggie tidak mengetahui bahwa ayahnya telah menikah lagi dan telah mempunyai 5 orang anak, 4 putra dan 1 putri (tepat seperti khayalan Aggie). 

Suatu ketika ... Sekolah Alkitab memberikan tiket pada Aggie dan suaminya untuk pergi ke Swedia. Ini merupakan kesempatan bagi Aggie untuk mencari ayahnya. 

Saat tiba di London, Aggie dan suaminya berjalan kaki di dekat Royal Albert Hall. Di tengah jalan mereka melihat ada suatu pertemuan Penginjilan. Lalu mereka masuk dan mendengarkan seorang Pengkotbah kulit hitam yang sedang bersaksi bahwa Tuhan sedang melakukan perkara besar di Zaire. Hati Aggie terperanjat.

Setelah selesai acara ia mendekati Pengkotbah itu dan bertanya, "Pernahkah Anda mengetahui pasangan Penginjil yang bernama David dan Svea Flood?" 

Pengkotbah kulit hitam ini menjawab, "Ya, Svea adalah orang yang membimbing saya kepada Tuhan waktu saya masih anak-anak. Mereka memiliki bayi perempuan tetapi saya tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang." 

Aggie segera berseru : "Sayalah bayi perempuan itu. Saya adalah Aggie - Aina."

Mendengar seruan itu Ruhigita Ndagora si Pengkotbah kulit hitam itu segera menggenggam Tangan Aggie dan memeluk sambil menangis dengan sukacita. Aggie tidak percaya bahwa orang ini adalah bocah yang dilayani ibunya. 

Ia bertumbuh menjadi seorang Penginjil yang melayani Bangsanya.
Pekerjaan Tuhan berkembang pesat dengan 110.000 Orang Kristen, 32 Pos penginjilan, beberapa Sekolah Alkitab dan sebuah Rumah Sakit dengan 120 tempat tidur.

Esok harinya Aggie meneruskan perjalanan ke Stockholm. Berita telah tersebar luas bahwa mereka akan datang. Setibanya di hotel ke-3 saudaranya telah menunggu mereka di sana dan akhirnya Aggie mengetahui bahwa ia benar-benar memiliki saudara 5 orang. 

Ia bertanya kepada mereka: "Dimana David kakakku?" Mereka menunjuk seorang laki-laki yang duduk sendirian di lobi. David Jr adalah Pria yang nampak kering lesu dan berambut Putih. Seperti Ayahnya, ia pun di penuhi oleh kekecewaan dan kepahitan hidup yang berantakan karena alkohol. 

Ketika Aggie bertanya tentang kabar ayahnya, David Jr. menjadi marah. Ternyata ... semua saudaranya membenci ayahnya dan sudah bertahun-tahun tidak membicarakan ayahnya. 

Aggie bertanya: "Bagaimana dengan saudara perempuanku?" Tak lama kemudian saudara perempuannya datang ke hotel dan memeluk Aggie serta berkata: "Sepanjang hidupku aku telah merindukanmu. Biasanya aku membuka peta dunia dan menaruh sebuah mobil mainan yang berjalan di atasnya, seolah-olah aku sedang mengendarai mobil itu untuk mencarimu ke mana-mana."

Saudara Perempuannya juga telah menjauhi ayahnya tetapi ia berjanji untuk membantu Aggie bertemu ayahnya. Lalu mereka memasuki sebuah bangunan tidak terawat. Setelah mengetuk pintu datanglah seorang wanita dan mempersilahkan mereka masuk. 

Di dalam ruangan itu penuh dengan botol minuman. Di sudut ruangan nampak seorang terbaring di ranjang kecil, yaitu ayahnya yang dulunya seorang Penginjil. Ia berumur 73 Tahun. Menderita diabetes, stroke dan katarak yang menutupi kedua matanya. 

Aggie jatuh di sisi ayahnya dan menangis, "Ayah... aku adalah si kecil yang kau tinggalkan di Afrika."

Sesaat ... orang tua itu menoleh dan memandangnya. Airmata membasahi matanya. Ia menjawab, "Aku tak pernah bermaksud membuangmu. Aku hanya tidak mampu untuk mengasuhnya lagi".

Aggie menjawab, "Tidak apa-apa ayah. Tuhan telah memelihara Aku." Tiba-tiba wajah ayahnya menjadi gelap, "Tuhan tidak memeliharamu!" ia pun mengamuk. "Tuhan telah menghancurkan seluruh keluarga kita! Tuhan membawa kita ke Afrika lalu meninggalkan kita. Tidak ada 1 pun hasil di sana. Semuanya sia-sia!" 

Aggie kemudian menceritakan pertemuannya dengan seorang Pengkotbah kulit hitam dan bagaimana perkembangan Penginjilan di Zaire. Penginjil itulah si anak kecil yang dahulu pernah dilayani oleh ayah dan ibunya. 

"Sekarang semua orang mengenal anak kecil si Pengkotbah itu. Kisahnya telah di muat di semua Surat Kabar".

Saat itulah ... Roh Kudus turun ke atas David Flood. Ia sadar. Dan tidak sanggup menahan airmata. Lalu bertobat. Tak lama setelah pertemuan itu David Flood meninggal. Tetapi Tuhan telah memulihkan semuanya, kepahitan hatinya dan kekecewaannya.

Pesan ini ditujukan kepada semua orang yang merasa bahwa ia berhak untuk marah kepada Tuhan

Mungkin awalnya di mata David Flood, ia dan istrinya telah gagal sebagai seorang misionaris. Namun ... jerih payah di dalam Tuhan tidak pernah sia-sia. 

Terbukti ... bahwa belas kasihan dan keperdulian yang disertai pemberitaan Injil terhadap 1 orang melahirkan 600 orang yang bertobat dan di-muridkan. 

Beberapa tahun kemudian Aggie dan suami mengunjungi desa N’dolera tersebut. Disambut riuh rendah penuh sukacita. Mereka berziarah ke kubur Svea Flood. 

Aggie berlutut mengucap syukur di sana dan Pendeta setempat membacakan 2 ayat berikut :

Yohanes 12:24 Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya jikalau Biji Gandum tidak jatuh ke dalam Tanah dan Mati, ia tetap 1 Biji saja.
Tetapi jika ia Mati, ia akan menghasilkan banyak Buah.

Mazmur 126:5 Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan Airmata, akan menuai dengan bersorai-sorai.

[Dikutip dari buku Aggie Hurst: The Inspiring Story of A Girl Without A Country]


Minggu, 16 Desember 2018

Kisah artis Hollywood memilih menjadi biarawati



Dolores Hart, gadis yang menolak Elvis Presley

Dolores Hart di cium untuk pertama kalinya oleh seorang pria dalam usia 18 tahun. Bukan dicium oleh sembarang pria, melainkan oleh Elvis Presley. Pada saat itu, ia turut berperan dalam film Loving You bersama dengan Elvis. Setelah adegan ciuman tersebut, Elvis jatuh cinta kepada Dolores. Sehingga Elvis mengajak Dolores untuk turut main film lagi dalam film berikutnya, King Creole. Elvis juga pernah mencoba merayunya, agar dia bersedia menjadi istrinya, tetapi Dolores menolak.

Bukan hanya sekali itu saja Dolores beradu peran dalam film, dengan pria-pria papan atas yang hebat-hebat. Dia pernah berakting bersama Robert Wagner, George Hamilton, maupun Montgomery Clift , tetapi tidak ada satupun yang bisa membuat dia tertarik.

Pada tahun 1961, ia turut bermain dalam film Francis of AssisiDi situ ia memerankan Santa Klara dari Asisi, putri seorang bangsawan yang kaya raya, tetapi memilih untuk hidup dalam kemiskinan dan mengabdikan dirinya untuk jadi pengikut Santo Fransiskus Asisi.

Pada saat pembuatan film tersebut di Roma, Dolores bertemu dengan Paus Yohanes XXII. Di situ ia memperkenalkan dirinya kepada Paus, “Saya adalah Dolores yang memerankan Klara”. Paus menjawab dengan lembut dalam bahasa Itali : “Tu sei Chiara” = Tidak, Anda adalah Klara.

Ucapan dari Paus tersebut mempengaruhi dirinya sedemikian rupa, seakan-akan ia mendapat panggilan untuk mengabdikan dirinya buat Tuhan.

Oleh sebab itulah ia memilih judul "The Ear of the Heart, An Actress’ Journey From Hollywood to Holy Vows" sebagai judul dari otobiographinya.

Dua tahun kemudian, setelah ia merampungkan film terakhirnya, “Come Fly With Me”, dalam usia 24 tahun ia meninggalkan kariernya sebagai bintang filmIa memilih untuk menjadi biarawati dan hidup dalam kesederhanaan.

Bahkan penawaran terakhir yang ia dapatkan untuk menjadi partner dalam film bersama Marlon Brando, ditolaknya. Pada saat itu Dolores Hart merupakan pemain film dengan honor tertinggi. Maka tidaklah heran apabila Dolores Hart sering disamakan dengan Grace Kelly.

Bukan saja dari segi kecantikkannya, tetapi juga kepiawaiannya dalam bermain film. Grace Kelly meninggalkan dunia perfilman untuk menjadi ratu di Monaco, sedangkan Dolores mengabdikan dirinya menjadi biarawati.

Dengan menjadi seorang biarawati, Dolores memilih bukannya untuk dilayani melainkan untuk melayani dan hidup dalam penuh kesederhanaan.

Di tahun 1970 ia melakukan sumpahnya yang terakhir (kaul kekal) untuk menjadi suster dengan nama Mother Dolores.

Hingga kini ia masih sering ditanya kenapa ia memilih Tuhan daripada Elvis? Ia menjawab ringan, "God is bigger than Elvis.”

Untuk ini telah dibuatkan film dokumenter mengenai Mother Dolores dengan judul tersebut diatas. Film ini pernah dinominasikan sebagai pemenang Oscar.

Di samping itu masih saja banyak orang yang tetap penasaran untuk mengetahui bagaimana rasanya dicium untuk pertama kalinya oleh Elvis ? 

Ia menjawab, "Itu hanya pengalaman tidak lebih dari 15 detik saja dari kehidupan saya, jadi tidak ada istimewanya yang perlu dikenang." 

Dolores Hart yang memilih untuk menjadi mempelai Kristus daripada mempelai Elvis.

Selasa, 06 Juni 2017

Allah telah memanggil kita

Aku telah memilih kamu dari dunia (Yoh 15:19). Kamu yang telah dipanggil menjadi milik Kristus, dijadikan orang-orang kudusdisucikan, dikuduskan, dibenarkan, dimuliakan-Nya dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita (1 Kor 1:2; 1 Kor 6:11; Rm 8:30; 1:6-7 6).

Kamu telah dipanggil, bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal (1 Tim 6:11-12).

Allah memanggil kamu bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus (1 Tes 4:7). Kamu telah dipanggil untuk merdeka. Janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih (Gal 5:13).

Untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat dan memberkati (1 Ptr 3:9). Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap (Yoh 15:16).

Tradisi Gereja menyebutkan ada dua belas buah Roh (KGK 1832): 1. Kasih 2. Sukacita 3. Damai sejahtera 4. Kesabaran 5. Kemurahan 6. Kebaikan 7. Kesetiaan 8. Kelemahlembutan 9. Penguasaan diri 10. Kerendahan hati 11. Kesederhanaan. 12. Kemurnian.

Jika kamu berbuat baik dan harus menderita, itu adalah kasih karunia pada Allah. Karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya (1Ptr 2:20-21).

Sebab itu aku menasihatkan kamu, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu (Ef 4:1).

Senin, 03 April 2017

Belajar dari Ahok


 Lima karakteristik pemimpin bukan bos 

Pemimpin beda dengan Bos. Kalau Bos bercirikan: banyak bicara, memegang kendali, memerintah, bekerja untuknya, menyalahkan, menjaga jarak. 

Sementara, pemimpin bercirikan: banyak mendengarkan, memegang komitmen, challenge, bekerja bersama; bertanggung jawab; menjaga hubungan.

Bagi Jakarta, Ahok bukan Bos melainkan Pemimpin. 

Ahok membantu mengembangkan kompetensi bawahannya. Ahok membantu memperbaiki kinerja bawahannya yang kurang memuaskan. Ahok membantu mendiagnosa permasalahan kinerja bawahannya. Ahok membina hubungan kerja yang produktif dengan bawahannya. Ahok meningkatkan kinerja dan produktivitas bawahannya.

Sedikitnya, ada lima karakteristik sebagai penanda, apakah anda termasuk Pemimpin bukan Bos:

1) Positif

a. Tugas anda bukan melakukan koreksi kesalahan, mencari kesalahan atau menyalahkan. 

b. Fungsi anda adalah untuk mengembangkan produktifitas bawahan/anggota dengan cara melakukan kepemimpinan yang mendorong kinerja unggul .

2) Supportive

a. Tugas anda sebagai Pemimpin adalah untuk membantu bawahan/anggota Anda mendapatkan apa yang mereka butuhkan guna menuntaskan pekerjaan dengan baik. 

b. Kebutuhan ini dapat mencakup kebutuhan fasilitas kerja, waktu Anda untuk berdiskusi, ataupun berupa instruksi kerja yang jelas. 

3) Goal Oriented

a. Sampaikan tugas-tugas yang Anda berikan dengan sasaran yang jelas dan terukur. 

b. Komunikasikan tugas dan sasaran tersebut kepada setiap bawahan/anggota agar mereka tahu apa yang diharapkan darinya. 

4) Fokus

a. Pemimpin yang baik bersifat spesifik dan fokus. 

b. Fokus pada tindakan yang hendak diperbaiki kualitasnya, dan spesifik ketika merancang solusi untuk meningkatkan kinerja.

5) Penuh Perhatian

Pemimpin yang baik memberikan perhatian (care) dan peduli terhadap segenap tantangan yang tengah dihadapi bawahan/anggotanya.

Ia senantiasa melibatkan diri bersama-sama dengan bawahan/anggota untuk merumuskan tindakan pengembangan terbaik yang diperlukan para bawahan/anggota-nya.

Sulit kah mempraktekkannya? Menurut saya, tidak. Ahok telah melakukannya dan sukses. Anda juga pasti bisa. Selamat mempraktekkannya.


Kepemimpinan transformasional Ahok

Dalam perspektif Kepemimpinan transformasional, membedah sepak terjang Ahok membenahi Jakarta, amatlah menarik. 

Kepemimpinan Transformasional saya artikan sebagai proses untuk merubah dan mentransformasikan individu dan lingkungan dimana Ia berada agar mau berubah dan meningkatkan kualiatas hidup diri dan lingkungannya. 

Didalamnya melibatkan motif dan pemenuhan kebutuhan serta penghargaan terhadap masyarakat dan para bawahannya. Sampai disini, maka, Ahok saya kategorikan sebagai Transformational Leader. Sedikitnya ada delapan variabel amatan saya:

1. Ahok memiliki visi yang kuat

Ahok, bagi Jakarta masa kini dan masa depan memiliki kepercayaan yang kuat tentang bagaimana suatu organisasi dan masyarakat harus berjalan dengan baik serta mampu mentransformasikan visi dan misinya ke seluruh masyarakat Jakarta. 

Dengan demikian visi dan misi dari Ahok itu akan menjadi visi dan misi bersama dari seluruh bawahan dan masyarakat seluruhnya. 

Dalam total quality community, visi dan misi ini akan mencakup suatu transformasi dari masyarakat yang masih menganut nilai-nilai tradisional rendah kualitas hidup menuju komitmen total terhadap peningkatan kualitas kehidupan modern. Menuju Jakarta World Class City, contohnya.

2. Ahok memiliki peta untuk tindakan (map for action)

Ahok bagi masyarakat Jakarta masa kini dan masa depan harus mengetahui bagaimana menerjemahkan impian mereka yang telah dirumuskan dalam visi dan misi itu menjadi kenyataan. 

Mereka dapat secara efektif merencanakan bagaimana mencapai visi dan misi yang telah disepakati bersama oleh seluruh anggota masyarakat itu. 

3. Ahok memiliki kerangka untuk visi (frame for the vision) 

Ahok bagi masyarakat Jakarta masa kini dan masa depan mampu menyusun visi dan misi ke dalam suatu gambar atau kerangka yang jelas yang secara kuat menggabungkan visi dan misi itu dengan nilai-nilai religius tanpa membeda-bedakan agama dan kepercayaan beserta adat-istiadat yang diyakini oleh seluruh anggota masyarakat Jakarta yang beragam itu. Membangun kualitas keimanan dan infrastruktur rohani masyarakat Jakarta yang berbeda iman dengannya, sebagai contoh.

4. Ahok memiliki kepercayaan diri (self confidence) 

Ahok bagi masyarakat Jakarta masa kini dan masa depan memiliki kepercayaan diri yang tinggi serta selalu bersikap optimis dan tidak kehilangan akal dalam menghadapi suatu masalah. Jangan hanya menjadi “anak manis yang pendiam dan penurut” dari kekuatan pemodal, apalagi hanya menjadi “boneka” bagi kepentingan politik (parlemen, mialnya) dan kekuasaan belaka. Kasus reklamasi, sumber waras, kalijodo, kampong pulo dan beberapa contoh lainnya, adalah bukti nyata.

5. Ahok berani mengambil risiko (risk taking) 

Ahok bagi masyarakat Jakarta masa kini dan masa depan berani mengambil risiko dalam merealisasikan visi dan misi mereka yang telah ditansformasikan menjadi visi dan misi bersama dari seluruh anggota masyarakat Jakarta itu. 

Ahok menginginkan perubahan-perubahan pendekatan berupa ide-ide baru, praktek-praktek baru, cara-cara baru dalam memecahkan masalah kemiskinan yang ada selama 71 tahun terakhir ini (sejak Jakarta terbentuk pada 17 Agustus 1945). 

Memindahkan sekian ribu orang ke tempat yang baru dengan gaya hidup baru. Dari hidup bersesakkan secara horizontal merubahnya menjadi secara vertikal dalam rumah susun dengan habit yang sama sekali baru tapi hidup jauh lebih berkualitas, sebagai contohnya. 

6. Ahok memiliki gaya pribadi inspirasional 

Ahok bagi masyarakat Jakarta masa kini dan masa depan memiliki daya magnit pribadi yang kuat sehingga membuat pengikut-pengikutnya (masyarakat Jakarta) merasa dekat kepada si pemimpin itu. 

Dengan demikian Ahok dapat memotivasi masyarakat menuju peningkatan kinerja dan kualitas kehidupan yang lebih baik. Menerima secara langsung maupun tidak langsung keluhan masyarakat. Baik yag datang ke Balaikota maupun saluran-saluran teknologi informasi seperti aplikasi clue, misalnya.

7. Ahok memiliki kemampuan merangsang usaha-usaha individual

Ahok bagi masyarakat Jakarta masa kini dan masa depan memiliki kemampuan mengidentifikasi potensi daerah Jakarta yang ada, baik potensi sumber daya alam maupun potensi sumber daya manusia Jakarta, yang kemudian merangsang dan membantu masyarakat Jakarta itu secara intelektual agar berkembang untuk mencapai visi dan misi yang telah disepakati bersama. 

Contoh, memberikan modal kerja dan jaminan sosial lainnya kepada masyarakat yang direlokasinya.

8. Ahok memiliki memampuan mengidentifikasi 

Memiliki kemampuan mengidentifikasi manfaat-manfaat yang diperoleh apabila mengikuti visi dan misi yang telah disepakati bersama itu. Ahok bagi masyarakat Jakarta masa kini dan masa depan mampu secara langsung menunjukkan penghargaan dan pengakuan atas keberhasilan apabila tercapai kemajuan dalam masyarakat sesuai dengan visi dan misi yang telah disepakati bersama itu. 

Contoh, program-program subsidi yang berpihak pada rakyat kecil dan program yang merujuk kepada keadilan social lainnya.

Dari berbagai karakteristik Ahok yang kelihatan sangat ideal dan teoritis di atas, maka saya merangkumnya kedalam bahasa awam, bahwa Pemimpin = Pemimpi + N, sehingga seorang Ahok bagi Jakarta masa kini dan masa depan yang diharapkan adalah: 

Sebagai Pemimpi, memiliki visi dan misi yang sangat jelas untuk mewujudkan manusia dan masyarakat Jakarta yang mandiri, maju dan sejahtera lahir dan batin secara adil dan merata. 

Memiliki N = Niat (nyatakan impian agar terwujud) dengan mentransformasikan Visi dan Misi ke dalam program-program strategik dan rencana-rencana aksi (Action Plan) bagi pembangunan Jakarta. 

Memiliki KASIH (Kehendak Allah Selalu Indah Harinya), berpengharapan, dan ber-iman (bersedia menjadikan Allah Nakhoda) hanya kepada Tuhan. 

Kebanyakan pemimpin yang ada sekarang tidak takut kepada Tuhan sehingga terus-menerus mempraktekkan hal-hal yang dilarang Tuhan seperti korupsi, kolusi, nepotisme.



Membangun kepercayaan diri

Pemimpin berintegritas memiliki ‘keterpercayaan diri’. Ia pemimpin yang dipercaya pengikutnya. Keterpercayaan diri’ dapat dibangun. 

Sedikitnya ada enam langkah membangunnya

Saya menyebutnya langkah JEMPOL:

J=Jarkoni. Ujar Iso Nglakoni Iso. Bisa mengucapkan bisa menerapkannya. Satunya kata dan perbuatan.

E=Empati. Satu rasa satu hati satu aksi dengan rakyat.

M=Materi. Membuat jarak dengan hal-hal yang bersifat materi. Fokus pada pelayanan jangan pada kekayaan duniawi.

P=Pintar. Gemar dan rakus membaca. Haus akan pengetahuan baru. Senantiasa mencari tugas-tugas menantang.

O=Objektif. Mampu menunjukkan perlakukan yang adil kepada semua orang. Katakan benar atas benar, salah atas salah.

L=Lugas. Memilki penilaian yang baik tentang berbagai persoalan, dan menggunakannya untuk membuat keputusan yang terbaik pada waktu yang tepat.

Selamat membangun keterpercayaan diri menjadi pemimpin yang berintegritas. Ahok telah melakukannya. Kita...?

EARS

Kepemimpinan ‘mendengar’ jauh lebih baik dari kepemimpinan ‘memerintah’. Sebab, ada tertulis: ‘Barang siapa bertelinga untuk mendengar hendaklah ia mendengar’.

Pemimpin sibuk berkotbah tidak punya waktu banyak mendengarkan umatnya. Padahal, Tuhan telah memberikan sebuah lidah, namun dua telinga, sehingga kita mendengarkan dua kali lipat lebih banyak daripada berbicara

Pemimpin yang ‘mendengar’, hendaknya membangun komitmen atasnya. 

Saya menyebutnya EARS:

E=Empati. Menempatkan diri pada masalah umat. 

Cobalah pakai sepatunya. 

A=Ability. Mampu mendengarkan beban terberat umat. 

Umat yang membagikan beban akan merasa ringan. 

R=Respond. Tanggapi umat. Beri masukan, nasihat dan dorongan. 

Bangkitkan sikap positif umat

S=Silent. Biasakanlah berdiam diri dan memasang telinga 

untuk mendengarkan persoalan umat. 



Pemimpin 3B = Bagan 319

Ketika melakukan eksegesis Yeremia 17:7-8, bertahun lalu, saya menemukan bahwa:

Pemimpin yang diibaratkan sebagai pohon yang ditanam ditepian air, haruslah berakar ke air dan daun nya bertumbuh rindang serta menghasilkan buah.

Berakar-bertumbuh-berbuah adalah tiga kata kerja kunci untuk memahami dan membangun 19 karakter kepemimpinan unggul

Saya menyebutnya membangun BAGAN 319.

Berakar:
1) Tegas; 2) Pemberani; 3) Kuat; 4) Waspada; 5) Jujur; 6) Cermat.

Bertumbuh:
7) Melayani; 8) Bersahabat; 9) Percaya Diri; 10) Humoris; 11) Adil; 12) Inspiratif.

Berbuah:
13) Visioner; 14) Persuasif; 15) Pantang Menyerah; 16) Inisiator; 17) Tepat Janji; 18) Bersyukur; 19) Rela Berkorban.

Ahok telah membangun karakter kepemimpinan unggul. Kita…?


*

Bersyukur 

Seorang Pemimpin hendaknya memiliki Karakter Bersyukur dalam dirinya. Karakter Bersyukur adalah: Bersikap pengucapan syukur, berterima kasih, memimpin dalam penuh pujian kepada Tuhan. 

Seluruh kehidupan kepemimpinannya adalah bentuk pengucapan syukur semata. Karena sebagai anak Tuhan yang diberi tugas memimpin, Ia adalah orang yang sudah diurapi dan memegang kendali kepemimpinan. Karenanya, selayaknya memimpin dengan ‘bersyukur’

“Sejak sekolah dasar kita sudah jadi pemimpin. Namun semakin berkembang, semakin kita menyadari bahwa kepemimpinan adalah proses pengembangan diri sepanjang hayat dikandung badan. 

Bukan dari pelatihan satu dua hari diluar kota. Membangun komitmen kepemimpinan adalah perjalanan seumur hidup, bukan bepergian singkat.”

(Reinhard Samah Kansil)