Minggu, 05 Januari 2020

Kej 1:4

[KGK 299] Karena Allah mencipta dengan kebijaksanaan, maka ciptaan itu teratur: "Akan tetapi segala-galanya telah Kauatur menurut ukuran, jumlah, dan timbangan" (Keb 11:20). 

Dalam Sabda abadi dan melalui Sabda abadi, "gambar Allah yang tidak kelihatan" itu (Kol 1:15), terjadilah ciptaan. Ciptaan ditentukan untuk manusia, yang adalah citra Allah (Kej 1:26); ia yang dipanggil untuk hubungan pribadi dengan Allah, disapanya. 

Apa yang Allah katakan kepada kita melalui ciptaan-Nya (Mzm 19:2-5), dapat diketahui oleh akal budi kita, yang mengambil bagian dalam cahaya budi ilahi, walaupun bukan tanpa susah payah yang besar dan hanya dalam satu sikap yang rendah hati dan khidmat terhadap pencipta dan karya-Nya (Ayb 42:3). 

Karena ciptaan itu berasal dari kebaikan Allah, maka ia mengambil bagian dalam kebaikan itu "Allah melihat bahwa semuanya itu baik ... baik sekali" (Kej 1:4, 10, 12, 18, 21, 31). 

Ciptaan dikehendaki oleh Allah sebagai hadiah kepada manusia, sebagai warisan, yang ditentukan untuknya dan dipercayakan kepadanya. Untuk itu Gereja berulang kali harus membela bahwa ciptaan, termasuk dunia jasmani, itu baik (DS 286; 455-463; 800; 1333; 3002).



Kej 1:3

[KGK 298*] Karena Allah dapat mencipta dari ketidakadaan, dapatlah Ia oleh Roh Kudus memberikan kepada para pendosa kehidupan jiwa, dengan menciptakan hati yang murni di dalam mereka (Mzm 51:12), dan memberikan kehidupan badan kepada yang meninggal, dengan membangkitkan badan itu, karena Ia adalah "Allah yang menghidupkan orang mati dan menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada" (Rm 4:17). Dan karena Ia mampu memancarkan cahaya dari kegelapan melalui Sabda-Nya (Kej 1:3), Ia juga dapat menganugerahkan cahaya iman kepada mereka yang tidak mengenal-Nya (2 Kor 4:6).

[KGK 1375#] Kristus hadir di dalam Sakramen Ekaristi oleh perubahan roti dan anggur menjadi tubuh dan darah-Nya

Bapa-bapa Gereja menekankan dengan tegas iman Gereja, bahwa Sabda Kristus dan kuasa Roh Kudus bekerja begitu kuat, sehingga mereka dapat melaksanakan perubahan ini. Santo Yohanes Krisostomus menjelaskan:

"Bukan manusia yang menyebabkan bahwa bahan persembahan menjadi tubuh dan darah Kristus, melainkan Kristus sendiri yang telah disalibkan untuk kita. Imam yang mewakili Kristus, mengucapkan kata-kata ini, tetapi daya kerjanya dan rahmat datang dari Allah. Inilah tubuh-Ku, demikian ia berkata. Kata-kata ini mengubah bahan persembahan itu" (prod. Jud. 1,6).

[KGK 992#] Allah mewahyukan kepada umat-Nya tentang kebangkitan dari antara orang mati langkah demi langkah

Harapan akan kebangkitan badan dari orang-orang yang telah meninggal, muncul sebagai akibat dari iman akan satu Allah, yang menciptakan seluruh manusia dengan jiwa dan badan. Juga Pencipta langit dan bumi memegang teguh dan dengan setia akan perjanjian-Nya kepada Abraham dan keturunannya. Sambil memandang kedua kenyataan ini, mulailah iman akan Kebangkitan menyata.

Dalam mati syahidnya orang Makabe menyatakan: "Raja alam semesta membangkitkan kami untuk kehidupan kekal, karena kami mati demi hukum-hukum-Nya" (2 Mak 7:9). "Sungguh baiklah berpulang oleh tangan manusia dengan harapan yang dianugerahkan Allah sendiri, bahwa kami akan dibangkitkan kembali olehnya" (2 Mak 7:14) (2 Mak 7:29; Dan 12:1-13).


Kej 1:2

[KGK 243*] Sebelum Paskah-Nya, Yesus menjanjikan seorang "Penghibur [paraklet] yang lain": Roh Kudus. Ia sudah bekerja waktu penciptaan (Kej 1:2) dan telah "bersabda melalui para nabi" (pengakuan iman Nisea-Konstantinopel). Ia akan ada bersama murid-murid-Nya dan dalam mereka (Yoh 14:17), mengajarkan mereka (Yoh 14:26. dan "membimbing mereka supaya mengenal seluruh kebenaran" (Yoh 16:13). Dengan demikian Roh Kudus diwahyukan bersama Yesus dan Bapa sebagai satu Pribadi ilahi yang lain.

[KGK 683#] "Tidak ada seorang pun yang dapat mengaku: Yesus adalah Tuhan, selain oleh Roh Kudus" (1 Kor 12:3). Allah mengirim "Roh Putera-Nya dalam hati kita, Roh, yang berseru: Abba, Bapa" (Gal 4:6). Pengertian iman ini hanya mungkin dalam Roh Kudus. 

Supaya bisa berhubungan dengan Kristus, lebih dahulu orang harus disentuh oleh Roh Kudus. Ia datang menemui kita dan membangkitkan iman dalam kita. Oleh Sakramen iman pertama, yakni Pembaptisan, kehidupan yang berasal dari Bapa dan yang dianugerahkan kepada kita dalam Putera, dilanjutkan kepada kita, atas cara yang sangat mendalam dan pribadi, di dalam Gereja melalui Roh Kudus:"

Pembaptisan memberi rahmat kepada kita, supaya kita dilahirkan kembali dalam Allah Bapa oleh Putera dan dalam Roh Kudus

Mereka yang memiliki Roh Allah, dibawa kepada Sabda, artinya kepada Putera; tetapi Putera memperkenalkan mereka kepada Bapa, dan Bapa menganugerahkan kepada mereka kebakaan. Jadi, tidak mungkin melihat Putera Allah tanpa Roh, dan mendekati Bapa tanpa Putera, karena pengetahuan tentang Bapa adalah Putera, dan pengetahuan tentang Allah Putera terjadi dalam Roh Kudus" (Ireneus, dem. 7).

[KGK 2780#] Kita dapat menyapa Allah sebagai "Bapa", karena Putera-Nya yang menjadi manusia telah mewahyukan-Nya kepada kita dan karena Roh-Nya memperkenalkan-Nya kepada kita. Kita percaya, bahwa Yesus adalah Kristus dan bahwa kita dilahirkan dari Allah (1 Yoh 5:1). Dengan demikian Roh Putera mengikutsertakan kita dalam hubungan pribadi Putera dengan Bapa-Nya (Yoh 1:1). Manusia tidak dapat membayangkan itu, malaikat tidak dapat menduganya.

[KGK 687] "Tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah" (1 Kor 2:11). Roh yang mewahyukan Allah itu, membuat kita mengenal Kristus, Sabda-Nya yang hidup; tetapi ia tidak berbicara tentang diri-Nya sendiri. la, yang "bersabda melalui para nabi", membuat kita mendengarkan Sabda Bapa. Tetapi kita tidak mendengarkan Dia sendiri. 

Kita hanya mendengarkan Dia secara tidak langsung, bila ia mewahyukan Sabda kepada kita dan mempersiapkan kita, menerima-Nya dalam iman. Roh kebenaran, yang "mengungkapkan" Kristus bagi kita, tidak berbicara "dari diri-Nya sendiri" (Yoh 16:13). 

Sikap rendah hati yang ilahi ini menjelaskan, mengapa "dunia tidak dapat menerima-Nya, karena ia tidak melihat-Nya dan tidak mengenal-Nya", sedangkan mereka yang percaya kepada Kristus mengenal-Nya, karena Ia menyertai mereka (Yoh 14:17).


[KGK 703*] Oleh firman dan napas Allah muncullah keberadaan dan kehidupan setiap makhluk (Mzm 33:6; 104:30; Kej 1:2; 2:7; Pkh 3:20-21; Yeh 37:10):

"Pantaslah bagi Roh Kudus untuk memerintah, menyucikan, dan menjiwai ciptaan, karena Ia adalah Allah yang sama hakikat-Nya dengan Bapa dan Putera ... Pantaslah Ia berkuasa atas kehidupan, karena Ia Allah, maka Ia mempertahankan ciptaan oleh Putera dalam Bapa" (Liturgi Bisantin, Tropar dalam lbadah Malam pada hari-hari Minggu nada kedua).


[KGK 291#] "Pada mulanya adalah Sabda... dan Sabda itu adalah Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan" (Yoh 1:1-3). 

Perjanjian Baru mewahyukan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu oleh Sabda, Putera-Nya yang kekasih. "Di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu yang ada di sorga dan yang ada di bumi... segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia adalah terlebih dahulu dari segala sesuatu, dan segala sesuatu ada di dalam Dia" (Kol 1:16-17). Iman Gereja memberikan juga kesaksian mengenai karya cipta Roh Kudus: Dialah yang "menghidupkan" (Syahadat Nisea-Konstantinopel), "Roh Pencipta" ("Veni, Creator Spiritus"), "sumber segala kebaikan" (Liturgi Bisantin).


[KGK 1218*] Sejak awal dunia, air - makhluk yang sederhana, tetapi mengagumkan ini - adalah sumber kehidupan dan kesuburan. Menurut Kitab Suci ia seakan-akan dinaungi oleh Roh Kudus (Kej 1:2):

"Sudah sejak awal ciptaan Roh melayang-layang di atas air dan memberi kekuatan kepadanya, supaya menyelamatkan dan menguduskan" (MR, Malam Paska 42: Pemberkatan air pembaptisan).


[KGK 344#] Antara semua makhluk terdapat suatu solidaritas, karena semua mereka mempunyai Pencipta yang sama, dan semua mereka diarahkan kepada kemuliaan-Nya.

Terpujilah Engkau, Tuhanku, dengan sekalian makhluk-Mu terutama tuanku saudara Surya, dia itu siang dan menerangi dengan pancarannya. Dia itu elok dan bersinar dengan teramat cerahnya, pembawa lambang-Mu, sang Mahaluhur.

Terpujilah Engkau Tuhanku karena saudari Air, besar gunanya, merendah, mulia, dan murni.

Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena saudari kami, Ibu Pertiwi, penyuap dan pengasuh kami, penghasil buah-buahan, bunga beraneka-warna dan hijau-hijauan.

Puji dan muliakanlah Tuhanku, beri syukur kepada-Nya, abdilah Dia dengan kerendahan hati besar.
(Fransiskus dari Assisi, Gita Sang Surya)

[KGK 694#] Air. Dalam upacara Pembaptisan air adalah lambang tindakan Roh Kudus, karena sesudah menyerukan Roh Kudus, air menjadi tanda sakramental yang berdaya guna bagi kelahiran kembali

Seperti pada kelahiran kita yang pertama kita tumbuh dalam air ketuban, maka air Pembaptisan adalah tanda bahwa kelahiran kita untuk kehidupan ilahi, dianugerahkan kepada kita dalam Roh Kudus. "Dibaptis dalam satu Roh", kita juga "diberi minum dari satu Roh" (1 Kor 12:13). 

Jadi Roh dalam pribadi-Nya adalah air yang menghidupkan, yang mengalir (Yoh 19:34; 1 Yoh 5:8) dari Kristus yang disalibkan dan yang memberi kita kehidupan abadi (Yoh 4:10-14; 7:38; Kel 17:1-6; Yes 55:1; Za 14:8; 1 Kor 10:4; Why 21:6; 22:17).

Kej 2-3

[KGK 292*] Kesatuan yang tidak terpisahkan dari karya cipta Putera dan Roh dengan karya cipta Bapa dipratandai dalam Perjanjian Lama (Mzm 33:6; 104:30; Kej 1:2-3), diwahyukan dalam Perjanjian Baru, dan akhirnya diucapkan secara jelas dalam peraturan iman Gereja: "Hanya satu adalah Allah dan Pencipta ... Ialah Bapa, Ialah Pencipta, Ialah pengasal, pembentuk, yang oleh Diri sendiri, artinya oleh Sabda-Nya dan kebijaksanaan-Nya... mengadakan segala sesuatu" (Ireneus, haer, 2,30,9). "Oleh Putera dan Roh" yang seakan-akan adalah "tangan-Nya" (ibid, 4,20, 1). Ciptaan adalah karya bersama Tritunggal Maha Kudus.

[KGK 699#]. Tangan. Yesus menyembuhkan orang sakit (Mrk 6:5; 8:23) dan memberkati anak-anak kecil (Mrk 10:16), dengan meletakkan tangan ke atas mereka. Atas nama-Nya para Rasul melakukan yang sama (Mrk 16:18; Kis 5:12; 14:3). 

Melalui peletakkan tangan para Rasul, Roh Kudus diberikan (Kis 8:17-19; 13:3; 19:6). Surat kepada umat Ibrani memasukkan peletakkan tangan dalam "unsur-unsur pokok" ajarannya (Ibr 6:2). Dalam epiklese sakramentalnya, Gereja mempertahankan tanda pencurahan Roh Kudus ini yang mampu mengerjakan segala sesuatu.

[KGK 257#] "O Cahaya yang membahagiakan, Tritunggal dan Kesatuan asli" (LH Madah "O lux beata, Trinitas"). Allah adalah kebahagiaan abadi, kehidupan yang tidak dapat mati, cahaya yang tidak pernah pudar. Allah adalah cinta: Bapa, Putera, dan Roh Kudus

Karena kehendak bebas, Allah hendak menyampaikan kemuliaan kehidupan-Nya yang bahagia

Inilah "keputusan belas kasihan" (Ef 1:9), yang telah Ia ambil dalam Putera kekasih-Nya sebelum penciptaan dunia. "Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya" (Ef 1:5), artinya "menjadi serupa dengan gambaran anak-Nya" (Rm 8:29), berkat "Roh yang menjadikan kamu anak Allah" (Rm 8:15). Rencana ini adalah "kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita sebelum permulaan zaman" (2 Tim 1:9) dan yang langsung berasal dari cinta Trinitaris. Rencana itu dilaksanakan dalam karya penciptaan, dalam seluruh sejarah keselamatan setelah manusia berdosa, dalam pengutusan-pengutusan Putera dan Roh Kudus yang dilanjutkan dalam pengutusan Gereja (AG 2-9).


Kej 1:1

[KGK 268*] Dari sifat-sifat Allah hanya kemaha-kuasaan yang disebut dalam simbolum; mengakui kemaha-kuasaan itu, mempunyai arti besar bagi kehidupan kita. Kita percaya bahwa kekuasaan itu menyangkut segala sesuatu, karena Allah yang menciptakan segala sesuatu (Kej 1:1; Yoh 1:3), juga memimpin segala sesuatu dan sanggup melakukan segala sesuatu. Kita percaya juga bahwa kuasa itu penuh cinta, karena Allah adalah Bapa kita (Mat 6:9); selanjutnya, bahwa ia penuh rahasia, karena hanya iman mampu menangkapnya, meskipun ia menyatakan "kekuatannya dalam kelemahan" (2 Kor 12:9) (1 Kor 1:18).


[KGK 279] "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi" (Kej 1:1). Kitab Suci dibuka dengan kata-kata yang meriah ini. Pengakuan iman mengambil alih kata-kata ini, dengan mengakui Allah, Bapa yang maha kuasa itu, sebagai "Pencipta langit dan bumi", yang menciptakan "segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan". Pertama sekali kita akan berbicara tentang Pencipta, lalu tentang penciptaan, dan akhirnya tentang kejatuhan dalam dosa dan bagaimana Yesus Kristus Putera Allah mengangkat kita lagi dari dosa oleh kedatangan-Nya.


[KGK 280] Penciptaan adalah "awal tata keselamatan", "awal sejarah keselamatan" (DCG 51) yang berpuncak pada Kristus

Sebaliknya misteri Kristus adalah terang misteri penciptaan yang menentukan; ia menyingkap tujuan, untuk apa Allah menciptakan "pada mulanya... langit dan bumi" (Kej 1:1). Sejak awal Allah telah memikirkan kemuliaan ciptaan baru di dalam Kristus (Rm 8:18-23).

[KGK 288#] Dengan demikian wahyu mengenai penciptaan tidak dapat dipisahkan dari wahyu dan pelaksanaan perjanjian, yang diadakan Allah yang Esa dengan bangsa-Nya. Penciptaan diwahyukan sebagai langkah pertama menuju perjanjian ini, sebagai bukti pertama dan universal dari cinta Allah yang maha kuasa (Kej 15:5, Yer 33:19-26). 

Kebenaran penciptaan juga muncul semakin jelas dalam pesan para nabi (Yes 44:24), dalam doa mazmur (Mzm 104) dan dalam liturgi serta amsal (Ams 8:22-31) bangsa terpilih.

[KGK 1043#] Kitab Suci melukiskan pembaharuan yang penuh rahasia itu, yang akan mengubah umat manusia dan dunia, sebagai "langit yang baru dan bumi yang baru" (2 Ptr 3:13) (Why 21:1). Pada waktu itu keputusan Allah, untuk "mempersatukan di dalam Kristus sebagai kepala segala sesuatu, baik yang di surga maupun yang di bumi" (Ef 1:10), akan dilaksanakan secara definitif.


[KGK 290] "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi" (Kej 1:1). Tiga hal dinyatakan dalam kata-kata Kitab Suci yang pertama ini: Allah yang abadi menciptakan segala sesuatu yang ada di luar-Nya; hanya Ia sendiri adalah pencipta (kata kerja ibrani "bara" selalu mempunyai Allah sebagai subyek): segala sesuatu yang ada - "langit dan bumi" - bergantung dari Allah, yang memberi keberadaannya.


[KGK 326#] Dalam Kitab Suci pasangan kata "langit dan bumi" berarti segala sesuatu yang ada: seluruh ciptaan. Ia menyebut juga ikatan yang dalam ciptaan sekaligus mempersatukan dan membedakan langit dan bumi: "Bumi" ialah dunia manusia (Mzm 115:16); "langit" atau "surga" dapat berarti cakrawala (Mzm 19:2), tetapi juga "tempat" Allah yang sebenarnya karena Ia adalah "Bapa kita di surga" (Mat 5:16) (Mzm 115:16) - dan sebagai akibatnya surga adalah kemuliaan definitif. Akhirnya perkataan "surga" berarti "tempat" makhluk-makhluk rohani, malaikat-malaikat, yang mengelilingi Allah.



Kej 1:1-24

[KGK 337] Allah sendiri telah menciptakan dunia yang kelihatan ini dengan segala kekayaannya, keaneka-ragamannya, susunannya. Kitab Suci menggambarkan karya penciptaan secara simbolis sebagai satu rentetan "enam hari kerja" ilahi, yang ditutup dengan "istirahat" pada hari ketujuh (Kej 1:1-2:4). 

Berhubungan dengan penciptaan Kitab Suci mengajarkan kebenaran-kebenaran yang Allah wahyukan demi keselamatan kita (DV 11) dan yang mendorong orang, "mengakui makna sedalam-dalamnya, nilai serta tujuan segenap alam tercipta yakni: demi kemuliaan Allah" (LG 36).