Selasa, 08 Mei 2018

19.02 -

Apakah benar Maria diangkat ke surga?



Paus Pius XII dalam Konstitusi apostolik "Munificentissimus"_ tanggal 01 November 1950 memaklumkan bahwa setelah menyelesaikan tugasnya di dunia, Maria diangkat memasuki kemuliaan di surga beserta badan dan jiwanya

Teks Kitab Suci yang menegaskan Santa Perawan Maria diangkat ke surga, dapat ditemukan dalam Kitab Wahyu, "Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya" (Wahyu 12:1).

Konstitusi Dogmatis tentang Gereja dari Konsili Vatikan Kedua mengajarkan, "Akhirnya Perawan tak bernoda, yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat melalui kemuliaan di surga beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Putra-Nya, Tuan di atas segala tuan, yang telah mengalahkan dosa dan maut. (LG.59).

Seandainya Maria dimakamkan di suatu tempat di dunia ini, pastilah ada makamnya. Kita mengetahui lokasi di mana Yesus dilahirkan, lokasi penyaliban, lokasi Yesus naik ke surga, serta banyak tempat-tempat penting lainnya yang berhubungan dengan kehidupan Kristus. Kita dapat mengenali tempat-tempat tersebut karena saudara-saudara kita dari Gereja Perdana meneruskan informasi tersebut kepada kita melalui Tradisi. Reliqui jemaat gereja perdana serta reliqui keduabelas rasul masih ada, demikian juga reliqui Kristus seperti Kain Kafan Turin dan potongan-potongan kayu dari Satu Kristus yang asli.

Seandainya saja Bunda Maria mempunyai makam, tentulah makamnya akan dihargai serta dihormati oleh gereja. Hal ini memperkuat keyakinan orang katolik bahwa Maria secara mulia diangkat ke surga badan dan jiwanya.

(Sumber: 31 Hari Lebih Dekat Kepada Maria, Penerbit Yayasan Pustaka Nusatama, hlm. 26-28).


Minggu, 06 Mei 2018

21.52 -

Manusia


Hanya di dalam Allahmanusia dapat menemukan kehidupan dan kebahagiaan (KGK 1057).




Penciptaan dunia dan manusia

Misteri penciptaan

Kerinduan akan Allah

Menghargai sisi misteri orang lain

Imago dei

Citra Allah

Manusia itu diciptakan secitra dengan Allah

Manusia menurut gambar dan rupa Kita


Mutu kehidupan

Konsep manusia dalam Perjanjian Lama

Kesejatian hidup

Manusia terdiri dari tubuh, jiwa dan roh

Perbarui dirimu

Tipe yang mana

Penyerahan jiwa


Hidup dalam ketenangan

Kemuliaan bagi Tuhan

Peristiwa Taborisasi

Manusia baru

Empati

Belenggu kekayaan materi

Mata jahat dan mata baik

Dengan menyadari kerapuhan diriku Tuhan sungguh hadir

Kekuasaan

Kehendak bebas manusia

Lima kebutuhan dasar psykis manusia








Jadilah dirimu sendiri














Docat



Katekismus Gereja Katolik



Youcat


Apakah alasan orang Kristen menghargai martabat manusia?

Apakah Allah membimbing dunia dan hidupku?

Apakah kebebasan itu dan apa tujuannya?

Bagaimana seharusnya manusia memperlakukan binatang dan sesama ciptaan lainnya?






Orang Kristen sejati adalah mereka yang memakai pikiran Kristushidup menurut Rohmengasihi Allah dengan segenap hati dengan berani membayar harga untuk melakukan kehendak-Nya (1 Kor 2:16; Rm 8:5; Gal 5:16-25; Yoh 4:34; Flp 2:7-8).

Bagaimana kita dapat mengubah tubuh kita menjadi persembahan? Janganlah matamu memandang sesuatu yang jahatjanganlah lidahmu mengucapkan kata-kata yang tak pantasjanganlah tanganmu melakukan dosamaka kamu telah mempersembahkan kurban (St. Yohanes Krisostomus).

Keramahan adalah jiwa dari pergaulan yang baik dan karena itu membuat pergaulan menjadi bukan hanya bergunamelainkan juga menyenangkan (DBSV. V, 89).







kirimkan ke
pengagum.pengikut.blogspot.com


Senin, 23 April 2018

00.40 -

Melakukan silih

Bunda Maria dalam penampakannya di Fatima, menunjukkan kepada Lucia, Yashinta dan Francisco neraka yang sangat mengerikan, dan meminta mereka melakukan banyak silih untuk menyelamatkan jiwa-jiwa para pendosa agar tidak masuk neraka. Ketiga anak kecil itu memanfaatkan semua kesempatan yang ada untuk melakukan silih bagi jiwa-jiwa; mereka berpuasa, banyak berdoa, bahkan rela menyiksa diri dengan mengikatkan tali rami yang kaku di pinggang mereka. 

Seorang biarawati dalam biara St. Theresia dari Avila, menyadari pentingnya melakukan silih atas dosa dan tidak pernah menyia-nyiakan setiap kesempatan untuk memperolehnya. Ketika biarawati itu meninggal, St. Theresia sangat terkejut melihat jiwa biarawati tersebut langsung naik menuju sorga tanpa melalui api penyucian

Karena biarawati tersebut tampaknya biasa-biasa saja, St. Theresia bertanya kepada Yesus apa sebabnya jiwa biarawati tersebut dapat langsung menuju sorga. Yesus menjawab bahwa itu semua karena semua silih yang dengan setia dilakukannya, sang biarawati telah membayar lunas semua hutang dosanya kepada Tuhan, sehingga jiwanya bersih dan tak bernoda pada saat kematiannya

Silih (reparation) merupakan konsep teologis dalam iman Kristiani yang berkaitan dengan penebusan dan keadilan. Manusia telah jatuh dalam dosa, tetapi melalui inkarnasi, sengsara dan wafat-Nya, Yesus telah menyilih dosa umat manusia. Ia telah menebus dan memulihkan harkat manusia seperti semula. 

Karena Dosa Asal, manusia cenderung berbuat dosa daripada melakukan yang baik (concupiscentia). Setiap dosa melukai jiwa kita dengan membuatnya lebih sulit untuk menghindarkan diri dari perbuatan dosa yang sama di waktu mendatang. 

Bahkan setelah kita bertobat, kita masih harus mengatasi kecenderungan ini dengan melakukan silih. Para kudus memahami hal ini dengan baik sekali; mereka seringkali melakukan matiraga atau silih agar dapat lebih menguasai keinginan-keinginan mereka

Dengan ketaatan yang dilakukan dengan sukarela untuk menderita dan wafat di kayu salib, Yesus Kristus menebus ketidaktaatan dan dosa kita. Dengan demikian Ia membuat silih terhadap keagungan Tuhan yang telah terganggu oleh kekejaman manusia ciptaan-Nya. Kita dikembalikan kepada kondisi rahmat melalui jasa kematian Kristus. 

Rahmat itu memampukan kita untuk menambahkan/menggabungkankan doa-doa kita, perbuatan baik kita, dan pencobaan yang kita alami, kepada segala yang dialami oleh Kristus, seperti dikatakan oleh Rasul Paulus: “menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.” (Kol 1:24). 

Oleh karena itu kita dapat membuat silih demi keadilan Tuhan, bagi pelanggaran dosa kita sendiri, dan dengan adanya persekutuan para kudus yang tergabung dalam Tubuh Mistik Kristus, kita sebagai sesama anggota Kristus, dapat juga membuat silih bagi dosa-dosa sesama kita. 

Misa Kudus, yaitu penghadiran kembali akan kurban Yesus oleh kuasa Roh Kudus, dipersembahkan untuk membuat silih dosa umat manusia. Ekaristi itu dipersembahkan juga untuk pengampunan dosa orang-orang hidup dan mati (in reparation for the sins of the living and the dead) dan untuk memperoleh karunia rohani dan jasmani dari Tuhan (KGK 1414). 

Dengan demikian, dengan mengambil bagian di dalam kurban Ekaristi, kita mengambil pula bagian dalam kurban silih yang dilakukan Kristus demi menebus dosa umat manusia. Oleh karena itu, kita yang tergabung dalam Tubuh Mistik Kristus dapat juga mempersembahkan kepada Tuhan doa-doa silih, baik bagi pengampunan dosa-dosa kita sendiri, maupun bagi pengampunan dosa sesama, di dunia maupun di api penyucian, dan semuanya ini tentu mengambil sumber dari jasa pengorbanan Kristus. 

Dengan melakukan silih, kita dapat memperoleh banyak manfaat

- Memperoleh rahmat pengampunan dan pertobatan bagi diri sendiri dan orang lain 

- Melatih sikap lepas-bebas. Semakin meningkatkan penguasaan diri, melepaskan manusia jasmaniah kita dari godaan kenikmatan dan keserakahan dunia, dan semakin menguatkan manusia batiniah kita. 

- Dengan menyangkal diri dan melakukan silih, roh kita akan semakin peka akan kehendak Allah, dan semakin dikuatkan untuk melakukan hanya apa yang Allah kehendaki, bukan yang kita kehendaki. 

- Melakukan silih seperti puasa dan matiraga memperkuat iman harapan dan kasih kita, sehingga kita dapat lebih kuat dalam berperang mengalahkan musuh abadi kita yaitu si jahat. Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa (Mat 17:21) 

Silih dapat dilakukan dengan bermacam cara

1. Dengan perbuatan: melakukan kewajiban kita ‘seperti untuk Tuhan’ (Kol 3:23), dan menanggung pencobaan-pencobaan hidup dengan rela, mengangkat hati dengan penuh percaya dan rendah hati kepada Tuhan, dan menyerukan – bahkan jika hanya dalam batin – seruan-seruan saleh (misalnya dengan Doa Yesus, “Yesus aku mengasihi-Mu”, “Bunda Maria, doakanlah kami”, dsbnya). 

2. Dengan doa silih: dapat dilakukan kapan saja, namun jika ingin dikaitkan dengan devosi tertentu, dapat dilakukan secara khusus setiap hari Jumat sepanjang tahun (yang bertepatan dengan hari wafat Kristus), terutama pada setiap hari Jumat pertama setiap bulan, seperti yang dikatakan Kristus dalam wahyu pribadi St. Margaret Alacoque, tentang devosi kepada Hati Kudus Yesus. 

Doa silih yang paling sempurna adalah Misa Kudus, selanjutnya adalah adorasi Sakramen Mahakudus, doa novena Hati Kudus Yesus, doa Koronka Kerahiman Ilahi, Doa Rosario, maupun doa- doa lainnya yang intinya mempersembahkan hidup kita dan doa pujian kepada Tuhan demi pengampunan dosa kita maupun dosa sesama kita. 

3. Dengan berkurban: dengan semangat iman dan belas kasihan memberikan diri atau harta milik untuk melayani sesama yang membutuhkan 

Dengan pantang dan puasa : dengan semangat silih secara sukarela menjauhkan diri dari segala sesuatu yang disenangi (matiraga). 

(Sumber: holytrinitycarmel.com).

Ambisi yang salah

Pada dasarnya memiliki ambisi itu bagus selama masih bisa dikendalikan dengan baik. Jika tidak, ambisi tersebut akan menghasilkan sikap ambisius. Ambisi yang positif mendorong seseorang untuk menghasilkan karya yang lebih baik dan meraih prestasi lebih baik dari sebelumnya. 

Sebaliknya, ambisi yang negatif adalah ambisi yang tidak sebanding dengan potensi yang dimilikinya sehingga seseorang akan menempuh segala cara untuk mewujudkan ambisinya itu. 

Di balik ambisi yang negatif, seseorang tak mau kalah dengan orang lain, ingin memperoleh popularitas, ingin memperoleh pujian dari dunia, ingin memperoleh kedudukan yang tinggi dengan kekuatan sendiri dan sebagainya. 

Kalau ambisi sudah melampaui kehendak Tuhan dan sudah keluar dari jalur firman Tuhan, ambisi ini tidak benar dan akan mendatangkan kehancuran. Tuhan mengatakan, "Masakan engkau mencari hal-hal yang besar bagimu sendiri?" (Yer 45:5a). 

Tuhan tidak senang terhadap orang-orang yang memiliki ambisi untuk mencari hal-hal yang besar bagi dirinya sendiri hal ini akan mendatangkan dosa, karena orang yang mencari hal-hal bagi dirinya senidiri tentu tak mau disaingi oleh orang lain sehingga timbullah iri hati, kebencian dan fitnah. 

Pula tidak menutup kemungkinan bahwa dia ingin menjatuhkan lawannya dengan berbagai usaha yang konkrit maupun secara tidak langsung. Maka kita harus dapat membedakan antara ambisi dan kehendak Tuhan. 

Kehendak dan rencana Tuhan dalam setiap hidup orang percaya akan terjadi tanpa suatu ambisi. Kalau Tuhan merencanakan tak seorang pun dapat menggagalkannya. Namun jika Tuhan merendahkan kita, siapa pula sanggup menghalangi Dia? Begitu juga jika Tuhan yang mengangkat kita, siapa gerangan yang mampu menahan kehendak-Nya atas kita? 

Kedudukan tinggi, popularitas atau kelimpahan tak perlu dikejar dengan ambisi! Asal kita hidup seturut kehendak Tuhan, berkat-Nya tersedia untuk kita! 

(Sumber: Renungan Harian Air Hidup).

Selasa, 26 Desember 2017

19.17 -

3 Cara untuk menang melawan godaan dosa



Di dalam hidup ini, kita akan selalu digoda oleh berbagai macam godaan. Mau kita masih muda atau sudah tua, mau kita seorang pelajar atau seorang pendeta, kita pasti akan menghadapi yang namanya godaan dosa. 

Seringkali kita tidak ingin jatuh ke dalam dosa tersebut, tetapi kita malah menemukan diri kita terus menerus jatuh ke dalamnya. Kita ingin dapat setia kepada Tuhan, tetapi rasanya sangat sulit untuk melawan godaan-godaan dosa ini.

Tetapi sesungguhnya, Tuhan sudah menyediakan kita perlengkapan untuk mengalahkan dosa-dosa kita, hanya saja seringkali kita menolak untuk menggunakan perlengkapan yang Tuhan sudah beri tersebut, maka itu kita tidak kuat menghadapi godaan-godaan dosa.

Alkitab seringkali mengatakan tentang JATUH ke dalam pencobaan, tetapi Alkitab tidak pernah sekali pun mengatakan JATUH ke dalam kebenaran. 

Sangat mudah untuk terpleset ke dalam dosa, tetapi kita tidak dapat terpleset masuk ke dalam kebenaran. Kebenaran adalah sesuatu yang harus kita masuki dengan berjalan ke dalamnya

Ranting-ranting anggur yang melepaskan diri dari pokok anggurnya pada akhirnya akan mati, maka itu kita harus kembali menyambungkan diri kita ke pokok anggur kita yang memberikan hidup - kita harus kembali melekatkan diri kita kepada Tuhan. 

Tiga hal yang dapat kita lakukan untuk kembali kepada Tuhan dan mengalahkan godaan-godaan dosa di dalam hidup kita.

1. Berdoa

Pada Matius 26:41, Tuhan mengatakan kepada murid-murid-Nya untuk berdoa agar tidak jatuh ke dalam pencobaan. Lebih dari itu, Yesus juga mengajarkan kepada murid-murid-Nya untuk berdoa kepada Tuhan dalam menghadapi cobaan-cobaan dunia ini dalam Doa Bapa Kami. 

Maka itu sangatlah penting untuk kita terus berdoa meminta kekuatan dari Tuhan. Seseorang yang tidak rajin berdoa dan tidak rajin meminta bimbingan Tuhan di dalam hidupnya, tidak mungkin kuat melawan godaan-godaan iblis. 

Daging kita memang lemah, tetapi sesungguhnya Roh Allah di dalam kita itu kuat. Berdoalah kepada Tuhan dan mintalah kekuatan dari-Nya. 

2. Pembacaan Alkitab

Jangan mengatakan Tuhan tidak menolong kita jika Alkitab kita masih tertutup. Mazmur 119:9 dalam Bahasa Inggris mengatakan: “How can a young man keep his way pure? By keeping it according to Your word.”

Firman Tuhan adalah pelita bagi kaki kita. Firman Tuhan-lah yang dapat memimpin kita berjalan di jalan kebenaran

Banyak orang Kristen yang ke gereja setiap Minggu, tetapi tidak pernah membaca firman Tuhan di dalam kesehariannya, dan ini adalah alasan mengapa banyak orang Kristen terus menerus jatuh ke dalam dosa. Mereka tidak bertumbuh di dalam firman Tuhan

Jika kita tidak membaca firman Tuhan, kita tidak akan kuat menghadapi godaan dunia ini. 

Firman Tuhan adalah sumber kekuatan bagi hidup orang-orang Kristen. Bagaimana kita dapat mengikuti jalan-Nya Tuhan di dalam hidup kita, jika kita bahkan tidak mendengarkan arahan-Nya di dalam keseharian kita? 

Kita akan lebih mengikuti jalannya media dan orang-orang dunia di sekitar kita. Beri makan-lah jiwa kita dengan makanan yang tepat setiap hari, yaitu pendengaran akan firman Tuhan.

3. Komunitas yang baik

“Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik” (1 Korintus 15:33). 

Salah satu alasan kita kesulitan keluar dari dosa-dosa kita mungkin bersumber dari kelompok bermain kita. Jika kita ingin berhenti menggunakan narkoba, langkah awal yang harus kita lakukan adalah untuk berhenti berkumpul di tengah-tengah orang yang suka menggunakan narkoba. 

Langkah kedua adalah untuk berkumpul dengan kelompok orang-orang yang sungguh mengasihi kita dan menginginkan kita untuk mengalahkan adiksi-adiksi jahat tersebut.

Kita memiliki dua kelompok bermain, kelompok bermain gereja dan kelompok bermain non-gereja. Jujur saja, ketika kita membicarakan soal relationship, dua kelompok ini akan memiliki pandangan yang berbeda 180 drajat. 

Jika kita hanya mendengarkan tips-tips dari kelompok bermain kita yang non-gereja, kita mungkin tidak akan memiliki pandangan yang benar akan relationship dan relationship kita mungkin akan didasari oleh hawa nafsu. 

Tetapi karena kita juga sering bergaul dengan orang-orang gereja, kita mendapatkan masukan-masukan yang benar tentang relationship dan kita kini mengerti bagaimana cara membina relationship yang setia dan didasari oleh cinta kasih benar yang berasal dari Tuhan kita.

Maka itu, komunitas yang baik sangatlah penting.

“You show me your friends, and I’ll show you your future!”

Jangan pernah menyerah, dan terus lekatkanlah dirimu kepada Tuhan. Sesungguhnya Tuhan selalu dekat denganmu, dan Dia selalu menunggumu untuk kembali kepada-Nya

Dia adalah sumber kekuatan kita, Dia adalah sumber pengharapan kita, dan Dia adalah sumber kasih sejati di dalam hidup kita. Janganlah pilih dosa-dosa kita, tetapi pilihlah Yesus Sang Juruselamat-kita!

(Sumber: Grace Depth)

Mana yang lebih kamu cintai? Pemberian-nya / Pemberi-nya?



Pada suatu ketika, ada seorang anak SMP bernama Ben. Pada natal tahun ini, mama-nya Ben memberikannya sebuah PS4. Ben sangat senang oleh karena hadiah yang ia terima tersebut. Dia membanggakan PS4 itu kepada teman-temannya, dan dia memainkan PS4 itu setiap hari. 

Namun, Ben begitu mencintai PS4 miliknya, hingga dia melupakan ulang tahun mama-nya, tidak mau pergi makan keluar bersama mama-nya, dan marah setiap kali mama-nya mengajak dia mengobrol ketika dia bermain. 

Akhirnya, mama-nya Ben mengambil PS4 itu kembali dan melarang Ben untuk memainkannya. Ben menjadi sangat marah. Dia membanting pintu kamarnya ke depan mama-nya dan dia berteriak: “AKU BENCI MAMA!”

Sangat keterlaluan bukan anak bernama Ben ini? Dia lebih mencintai PS4 pemberian mama-nya dibandingkan mama-nya yang telah memberikan PS4 itu kepadanya. Dia melupakan sang pemberi oleh karena pemberian yang telah dia terima. 

Namun sesungguhnya, seringkali kita juga melakukan hal yang sama seperti Ben. Kita lupa dengan siapa pemberi dan penyedia di dalam hidup ini - kita lebih mencintai pemberian-pemberian Tuhan dibandingkan Tuhan sang pemberi itu sendiri. 

Kita seringkali bekerja, pacaran, bermain game selama berjam-jam, tetapi kita lupa untuk menghabiskan waktu untuk bersyukur kepada-Nya atas semua yang sudah Dia berikan kepada kita. 

Kita tidak mau menghabiskan waktu untuk bersekutu dengan-Nya di dalam doa dan pembacaan firman-Nya di dalam keseharian hidup kita. Dan kita seringkali marah dan mengatakan bahwa Dia jahat ketika pemberian dari-Nya Dia ambil kembali. 

Apakah kamu mencintai Tuhan? Atau hanya pemberian-pemberian-Nya? Jika semua yang Dia berikan kepadamu, Dia minta kembali, apakah kamu akan tetap mencintai-Nya?

Apakah cintamu kepada-Nya ditentukan oleh pemberian-pemberian-Nya untukmu? Ataukah cintamu kepada-Nya didasari oleh siapa Dia sesungguhnya?

Saya percaya setiap dari kita tidak ingin menjadi mama-nya Ben. Ketika kita memberikan sebuah pemberian sebagai tanda kasih untuk seseorang, kita tidak ingin orang itu malah lebih mencintai pemberian kita daripada kita sendiri yang telah memberikannya itu. 

Sama hal-nya dengan Tuhan, Dia memberikanmu begitu banyak hal-hal baik di dunia ini untuk kamu dapat menikmatinya, tetapi Dia tidak ingin kamu sampai lupa akan Dia sang pemberi pemberian-pemberian itu.

Tuhan mengatakan bahwa perintah yang pertama dan paling utama adalah: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Mat 22:37).

Yang Tuhan inginkan dari kita adalah hati kita. Jangan sampai pemberian dari Tuhan malah merengut hatimu darinya - jangan sampai pemberian Tuhan malah menjadi sebuah berhala di dalam hidupmu

Sesungguhnya, Tuhan adalah seorang Bapa yang selalu menyediakan untuk kita, seorang Teman yang selalu ada di sisi kita, seorang Juruselamat yang menyerahkan diri-Nya untuk kita, dan sebuah Harta yang jauh melebihi segalanya di dunia ini. 

Jangan sampai kita melewatkan hal yang paling berharga yang kita miliki! Jangan sampai kita melupakan harta terbesar di dalam hidup kita! Jangan sampai kita lupa dengan Tuhan Allah sang sumber sukacita sejati!

“Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa” (Mazmur 16:11).

(Sumber: Grace Depth).