Senin, 26 Agustus 2019

00.10 -

Yesus tersenyum padaku



Ini cerita tentang Elisabeth Sutedja: cantik, pinter, kaya, lulusan ITB, Harvard cum laude, jadi Presiden marketing di Boeing, hidup seperti presiden. Tiba-tiba masuk biara. 

Salah satu cerita Elisabeth yang pernah dia bagikan

Salah satu yang selalu aku sampaikan di doa pagi: “Tuhan, berilah aku kesempatan hari ini berbagi kasih.” Tuhan selalu mengabulkan. Ada saja yang bisa aku lakukan: bantu menyeberangkan orang tua, mendamaikan anak-anak tengkar, bantu tetangga membereskan kebun, menyapa orang-orang yang kujumpai. Selain hal-hal biasa, Tuhan kadang-kadang memberi kesempatan luar biasa. 

Pada tanggal 20 Desember 2012, Setelah misa pagi di Gereja St Anthony, biasanya aku pulang, tapi pagi itu aku jalan kaki mengambil jalan lain lewat Fenway Park, taman besar-indah di pusat Boston, ingin menikmati pagi-sandwich di satu kios. 

Saat itu musim dingin, suhu minus 10° C. Semalam salju turun lebat, tebalnya di taman 15 cm.

Sedang menikmati sandwich, pemandanganku ke gazebo di taman. Aku melihat wanita tua memandang ke arahku, seolah ingin menarikku. Wanita itu berusia sekitar 60 tahunan, wajahnya putih penuh dengan kerut dan pakaiannya sangat sederhana.

Aku tanya penjual makanan, apakah dia kenal wanita itu. Jawabnya, "Tidak, aku belum pernah melihatnya" Aku membeli sepotong sandwich dengan segelas susu panas dan membawanya ke gazebo.

"Hai ... Saya Elisabeth Sutedja" sapaku mengulurkan tangan kanankuDia diam tak menjawab dan tak menerima uluran tanganku. Matanya tajam memandang sandwich dan susu panas yang aku bawa. “Maukah kamu bergabung denganku?” kataku sambil menyerahkan sandwich dan susu panas kepadanya. Dengan cepat dia mengambilnya dan menyantapnya dengan lahap. Nampaknya dia sudah lapar sekali. 

Selesai makan, dia mulai memandang dan mengamatiku. Pandangannya terarah ke Rosario kecil yang kupakai di pergelangan tangan kiriku. "Kristen?" Tanyanya. "Ya ... Katolik." jawabku. "Sial!" Katanya keras sambil mencibirkan bibirnya. "Kenapa sial?" Tanyaku. "Aku tidak percaya pada Tuhan!" Jawabnya. "Kenapa kamu tidak percaya?" Tanyaku lagi. "Tidak ada Tuhan!" Jawab jawabnya tegas. "Ada Tuhan!" Kataku halus. "Buktikan" pintanya. 

Aku memutar otak, cari cara buktikan Tuhan itu ada. Aku berdoa "Yesus tolong aku" Dan Yesus menolong. 



Aku perhatikan tangan dan tubuhnya menggigil. Dia pasti sangat kedinginan! Aku lepaskan mantel tebal yang aku pakai sambil berkata: "Ini untukmu" kataku sambil mengenakan mantel itu pada tubuhnya. Dia diam, matanya kini memandangku dengan sayu. Aku lihat air matanya menetes keluar. Aku merasa iba, aku peluk dia, dia menangis keras. "Kenapa kamu melakukan ini?" Tanyanya sambil menangis. 

Yesus adalah Tuhan. Dia tahu kamu kedinginan. Jadi Dia memintaku untuk memberikan mantel ini padamu! ”Jawabku. 

Matanya berlinang air sambil meminta meraba mukaku sambil berkata pelan: "Kamu benar-benar seorang malaikat. Anda memberi saya makanan ketika saya lapar. Lalu Anda memberi saya mantel Anda ketika saya kedinginan!" Aku kaget ... Bagaimana dia dapat mengucapkan kata-kata indah itu?

Sesuatu terjadi pada diriku! Aku merasakan sukacita yang sungguh besar! Aku merasa Yesus tersenyum padaku! Aku berjalan pulang tanpa mengenakan mantel, namun aku tak merasakan dingin samasekali

Apakah kita siap menjadi Elisabeth-elisabeth yang lain?


Minggu, 25 Agustus 2019

23.50 -

Nama baik

Ada seorang gadis yang hamil di luar nikahKarena takut sang pacar dianiaya oleh ayahnya, si gadis memberitahu keluarganya, bahwa biksu dari kelenteng dekat rumahnyalah yang menghamili dia.

Akhirnya keluarga ini bersama penduduk desa mendatangi si biksu dan memarahinya habis-habisan. Mencaci maki dan meminta si biksu menerima anak tersebut. 

Si biksu hanya terdiam tanpa menjawab. Kata-kata yang keluar dari mulutnya hanya, "Oh begitu. Baiklah" 

Kemudian anak itu diterimanya. Sejak hari itu, biksu ini berusaha meminta susu dan menggunakan sedikit uangnya untuk kehidupan si anak ini.

Berita ini menyebar dengan cepat dan pamor biksu ini semakin buruk. Akibatnya makin banyak orang membenci biksu ini.

Hari demi hari lewat. Gadis /ibu si anak hidup dalam kegelisahan karena merasa bersalah. Dia merasakan siksaan batin selama 1 tahun. Akhirnya si gadis mengakui bahwa ayah dari anak itu bukan si biksu.

Keluarga ini kemudian mendatangi si biksu. Si biksu terlihat sangat kurus. Sedangkan anak kecilnya terlihat sehat dan gemuk. Keluarga ini meminta maaf dan dan meminta kembali anak tersebut. Biksu hanya tersenyum dan berkata, "Oh begitu ya. Baiklah"

Keluarga ini bingung dan bertanya "maaf anda telah kami rugikan sampai seperti ini, kenapa anda masih sebaik ini pada kami? Nama baik anda rusak oleh kami. Kenapa saat itu anda tidak membela diri?"

Biksu tersenyum dan menjawab "Sebagai seorang biksu, saya tidak seharusnya terlalu memperdulikan hal seperti itu. "Nama baik ... Apalah artinya buat kami? Diejek dan di fitnah juga tidak masalah, kalau dengan menjaga anak itu, aku bisa meringankan beban si gadis dan menyelamatkan 1 nyawa. Bukankah saya sudah berbuat baik? Lagipula kalaupun saya berusaha membenarkan diri saya, tidak banyak orang yang akan percaya. Karena itu untuk apa menyusahkan diri sendiri dan hidup dibawah perkataan orang lain?"

Mereka semua terdiam. Dan biksu ini melanjutkan: "Seseorang jikalau dari awal percaya, dia akan tetap percaya kita. Kalau dari awal dia tidak percaya. Kita berusaha sekeras apapun dia tidak akan percaya. Bukankah lebih baik aku diam dan tidak perlu membela diriku? Manusia yang berpikir negatif itu akan selalu menghakimi kita. Saat kita berbuat baik, kita dibilang punya tujuan tertentu. Saat kita salah, mereka hanya akan menambah garam pada luka. Tapi toh setelah semuanya lewat, hasil dari perjuangan kita yang mereka lihat. Karena itu biarlah kita selalu berbuat baik. Dan biarlah waktu yang membuktikan. Apakah kita benar-benar baik, atau hanya pura-pura baik.

"Saat kita menanam padi. Rumput selalu ikut tumbuh disana. Tapi saat menanam rumput. Tidak pernah ada padi disana."

Lihatlah mereka yang mengaku beragama, tapi jika perkataan dan perbuatannya masih menyakiti orang lain, maka ada yang salah dengan caranya beragama.

Karena agama apa pun mengajarkan untuk saling mengasihi satu sama lain, bukan mencaci, menghina dan membenci...

23.25 -

Ketika agama kehilangan Tuhan



Dulu agama menghancurkan berhala. Kini agama jadi berhala. Tak kenal Tuhannya, yang penting agamanya.

Dulu orang berhenti membunuh karena agama. Sekarang orang _saling membunuh karena agama.

Dulu orang saling mengasihi karena beragama. Kini orang saling membenci karena beragama.

Agama tak pernah berubah ajarannya dari dulu, Tuhannya pun tak pernah berubah dari dulu. Lalu yang berubah apanya? Manusianya?

Dulu orang belajar agama sebagai modal untuk mempelajari ilmu lainnya. Sekarang orang malas belajar ilmu lainnya, maunya belajar agama saja.

Dulu pemimpin agama dipilih berdasarkan kepintarannya, yang paling cerdas diantara orang-orang lainnya. Sekarang orang yang paling dungu yang tidak bisa bersaing dengan orang-orang lainnya, dikirim untuk belajar jadi pemimpin agama.

Dulu para siswa diajarkan untuk harus belajar giat dan berdoa untuk bisa menempuh ujian. Sekarang siswa malas belajar, tapi sesaat sebelum ujian berdoa paling kencang, karena diajarkan pemimpin agamanya untuk berdoa supaya lulus.

Dulu agama mempererat hubungan manusia dengan Tuhan. Sekarang manusia jauh dari Tuhan karena terlalu sibuk dengan urusan-urusan agama.

Dulu agama ditempuh untuk mencari wajah Tuhan. Sekarang agama ditempuh untuk cari muka di hadapan Tuhan.

Esensi beragama telah dilupakan. Agama kini hanya komoditi yang menguntungkan pelaku bisnis berbasis agama, karena semua yang berbau agama telah didewa-dewakan, takkan pernah dianggap salah, tak pernah ditolak, dan jadi keperluan pokok melebihi sandang, pangan, papan. Agama jadi hobi, tren, dan bahkan pelarian karena tak tahu lagi mesti mengerjakan apa.

Agama kini diperTuhankan, sedang Tuhan itu sendiri dikesampingkan. Agama dulu memuja Tuhan. Agama kini menghujat Tuhan. Nama Tuhan dijual, diperdagangkan, dijaminkan, dijadikan murahan, oleh orang-orang yang merusak, membunuh, sambil meneriakkan nama Tuhan.

Tuhan mana yang mengajarkan untuk membunuh? Tuhan mana yang mengajarkan untuk membenci? Tapi manusia membunuh, membenci, mengintimidasi, merusak, sambil dengan bangga meneriakkan nama Tuhan, berpikir bahwa Tuhan sedang disenangkan ketika ia menumpahkan darah manusia lainnya.

Agama dijadikan senjata untuk menghabisi manusia lainnya. Dan tanpa disadari manusia sedang merusak reputasi Tuhan, dan sedang mengubur Tuhan dalam-dalam di balik gundukan ayat-ayat dan aturan agama.

(Gus Mus)

20.40 -

Penghargaan Tuhan atas kesetiaan

Alkitab membuat daftar beberapa “mahkota” yang akan dianugerahkan bagi kita, orang-orang yang percaya untuk kesetiaan kita kepada Tuhan Yesus. 

1. Mahkota kehidupan 

Mahkota ini dikaruniakan kepada para martir (Why 2:10 » Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan). 

2. Mahkota kemuliaan 

Mahkota ini dikaruniakan kepada para gembala (1 Ptr 5:2-4 » Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu. Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu). 

3. Mahkota kemegahan 

Mahkota ini dikaruniakan kepada para pemenang jiwa-jiwa (1 Tes 2:19 » Siapakah pengharapan kami atau sukacita kami atau mahkota kemegahan kami di hadapan Yesus, Tuhan kita, pada waktu kedatangan-Nya, kalau bukan kamu? Sungguh, kamulah kemuliaan kami dan sukacita kami). 

4. Mahkota yang abadi 

Mahkota ini dikaruniakan kepada para pemenang, para kudus (1 Kor 9:25-27 » Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak). 

5. Mahkota kebenaran 

Mahkota ini dikaruniakan kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya (2 Tim 4:8 » Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya). 

Janji-Nya “ya dan amin” – kejarlah selagi masih diberi kesempatan dan lakukanlah yang terbaik. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 172/VIII/2019 » @lannygabriella 11082019).

20.38 -

Berdoa Examen Ignasian



Kesibukan bisa membuat kehidupan rohani menjadi kering dan tidak bermakna, sehingga makin sulit menyadari kehadiran Allah dalam hidup kita. Akibatnya, berbagai pilihan hidup bisa menjadi tidak selaras dengan kehendak-Nya. Apakah di tengah kesibukan, kita masih dapat membangun relasi dengan Allah

Terkadang doa kita menjadi kering, kita mengalami kebingungan dan bertanya-tanya kepada Tuhan apa yang harus dikatakan pada-Nya? Ada sebuah model doa yang dapat membantu kita menghindari efek-efek buruk kesibukan dan menumbuhkan relasi personal dengan Allah. Doa itu dikenal dengan nama Examen, diperkenalkan oleh St. Ignasius Loyola dalam Latihan Rohani. Melalui doa ini kita melakukan pencarian tanpa akhir dan melakukan persekutuan yang lebih dalam dengan Tuhan, yang memberikan sukacita dan kesegaran terus-menerus untuk kehidupan spiritual kita

Bagi Ignatius Loyola, Allah tidak hanya ditemukan dalam Kitab Suci, Sakramen, Liturgi, dan lainnya, melainkan juga dalam ciptaan-Nya, dalam sejarah umat manusia dan dalam diri sesama manusia. Allah dapat menunjukkan diri-Nya secara langsung ataupun tidak langsung, yaitu dalam tanda di sekitar kita. 

Examen merupakan sebuah doa, bukan sekedar evaluasi dan refleksi diri, tetapi salah satu sarana untuk mencermati gerak roh yang terjadi di dalam diri kita setiap hari (Examen Conscientiae = pemeriksaan kesadaran, pemeriksaan suara hati/batin, apakah senantiasa berjalan bersama Tuhan atau secara sengaja menolak untuk berjalan bersama Tuhan). 

Melalui pemeriksaan ini, kita diajak untuk menyadari bahwa hidup ini adalah anugerah dari Tuhan, menyadari kehadiran serta karya-Nya di dalam setiap pengalaman tersebut. Dengan demikian, kita terbantu untuk selalu menemukan Allah dan kehendak-Nya setiap hari dalam segala hal

Mengingat pentingnya pemeriksaan kesadaran bagi hidup kita, Ignatius Loyola menganjurkan supaya kita melakukannya dua kali dalam sehari (sekali pada siang hari/tengah hari dan sekali pada malam hari/sebelum tidur). Pagi hari, membuat niat berwaspada terhadap dosa atau kekurangan khusus yang ingin diperbaiki, di mana pada pagi hari, memohon rahmat yang dikehendaki kepada Allah untuk mengingat tentang dosa dan menghindari di waktu selanjutnya. Di akhir hari, kita harus mencatat berapa kali jatuh ke dalam dosa. 

Lima langkah mempraktekkan Examen Conscientiae (5 R » Relish, Request, Review, Repent, Renewal): 

Sebelum menjalani Examen Conscientiae kita mempersiapkan hati dan pikiran kita dengan berbagai cara, antara lain: berdoa formal yang pendek (Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan)/mengucapkan nama Tritunggal (Bapa, Putera dan Roh Kudus) dengan pelan dan lembut sehingga diri kita bersatu dengan-Nya/mempersiapkan diri dengan bacaan-bacaan singkat Alkitab dan merasakan kita bersatu dengan-Nya melalui bacaan/ayat singkat dari Alkitab yang dibaca. 

1. Mengucap syukur (Relish). 

Dalam setiap saat pada setiap harinya, Allah melimpahkan banyak rahmat-Nya bagi kita. Apa pun yang kita alami merupakan rahmat yang patut disyukuri. Menurut St. Ignatius Loyola, rahmat Tuhan tidak hanya terbatas pada hal-hal rohani seperti ketenangan batin dalam doa, tetapi juga ketika bersyukur atas realitas yang dialami dalam peziarahan hidup. 

Mengenali rahmat dan kasih Tuhan dengan bersyukur adalah inti keseluruhan hubungan kita dengan Tuhan. Mengucap syukur di awal examen, mempersiapkan diri kita untuk bersyukur atas segala hal yang baik yang telah Allah sediakan bagi kita. 

2. Memohon rahmat (Request) 

Usaha manusiawi, tanpa rahmat Tuhan dapat mengurangi rasa dalam mencecap buah pengalaman harian. Kita memohon rahmat pemahaman yang membuka jalan mencapai rahmat kebebasan dan pemahaman mendalam akan karya Tuhan yang konkret. 

Kita berdoa memohon rahmat Allah agar Roh Kudus menolong kita untuk mengenali diri kita sendiri dengan terbuka dan jujur dan melepaskan diri dari dosa. Kita bertanya tentang apa yang telah kita lakukan? Dorongan-dorongan apa yang telah membuat kita melakukannya? Apakah hal itu berasal dari yang baik atau yang jahat? Bagaimanakah perasaan-perasaan kita sekarang? Dari mana perasaan-perasaan tersebut berasal? 

3. Melihat kembali (Review) 

Setiap hari Allah memanggil kita untuk berbagi kasih dan kedamaian dengan sesama di sekitar kita. Bagaimana kita melewati waktu demi waktu dalam hidup kita hari ini? Di manakah Allah telah bekerja hari ini dalam kehidupanku? Di manakah aku bekerja sama dengan Allah pada hari ini? 

Dalam tahap ini, kita mencoba menarik keluar pengalaman atau peristiwa yang kita alami untuk melakukan pemeriksaan batin, untuk menemukan Allah dalam segala hal. Kuingat pengalaman yang mengesankan, membahagiakan, memberikan semangat, menghibur. Juga pengalaman yang menyusahkan, menyedihkan, menggelisahkan, dan membuatku kering. Meneliti gerakan-gerakan, dorongan yang muncul dalam pengalaman tersebut. Bagaimana gerakan Roh Baik dan roh jahat atau diriku sendiri dalam pengalaman itu? Gerakan itu membawaku kemana? Lebih mendekatkan atau menjauhkan kepada Allah? Mengapa? Bagaimana tanggapanku terhadap gerakan itu? Apakah aku puas? Bagaimana aku sampai mengikuti gerakan-gerakan itu? Bagaimana perasaanku

Dengan melihat kembali perjalanan hidup kita setiap harinya, kita bisa menyadari perbedaan-perbedaan antara kebaikan dan kasih Allah dengan kelemahan-kelemahan kita yang menjauhkan kita dari kebaikan dan kasih-Nya. 

4. Diriku yang rapuh dan kerahiman Allah (Repent) 

Seringkali kita tidak menghargai rahmat dan kasih Allah yang dilimpahkan-Nya kepada kita. Melalui Examen Conscientiae, kita berjumpa dengan kelemahan dan dosa-dosa kita, namun kita juga diundang untuk mengagumi sekaligus bersyukur bahwa meskipun kita berdosa Allah tetap mengasihi kita. Oleh karena itu, kita perlu mengakui segala dosa dan kelemahan kita dan memohonkan rahmat pengampunan-Nya

Maka sudah layak dan pantas kita melakukan yang terbaik yang masih bisa kita lakukan bagi-Nya dengan menjadi saluran rahmat dan berkat bagi sesama. Kita baru bisa menerima dan mengampuni orang lain, ketika merasa diterima dan di­ampun-i oleh Allah

5. Perbaharui diri (Renewal) 

Dalam tahap ini, kita memohon rahmat dan pertolongan Allah untuk menjernihkan perasaan dan pikiran kita untuk mengetahui apa yang Tuhan mau dalam hidup kita. Dengan demikian, hendaknya kita membangun sebuah niat untuk memperbaiki hidup kita dengan membangun semangat untuk bangkit kembali, mengarahkan diri untuk perbaikan yang nyata pada hidup kita di hari selanjutnya. 

Sesudah kita melakukan tahap-tahap Eksamen, ada banyak cara untuk menutup Eksamen tersebut, yakni dengan (1) berdoa doa pujian secara singkat sebelum mengakhiri Eksamen, (2) mengulang beberapa waktu doa Kemuliaan dan (3) mengucapkan syukur kepada Tuhan karena Eksamen berlangsung dengan baik. (4) menulis kembali (journaling) pengalaman apa yang kita pikirkan selama Eksamen tadi. Berlatih menulis akan membantu kita untuk mengerti pengalaman itu lebih mendalam daripada hanya memikirkannya saja. Tulisan yang dibuat juga bisa menjadi bahan refleksi spiritual seseorang di masa esok, merefleksikan dengan cara membacanya dan berguna bagi orang lain. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 172/VIII/2019 » Renungan KPI TL Tgl 18 Juli 2019, Dra Yovita Baskoro, MM). 



20.28 -

Doa-doa harian Ordo Fransiskan


Santo Fransiskus dari Asisi mengajak kita agar senantiasa berdoa: memuji dan memuliakan Tuhan, menyembah dan bersyukur kepada-Nya, memohon ampun dan berkat-Nya di manapun kita berada. 

Berikut ini adalah doa-doa yang dapat kita pakai setiap hari, sendiri maupun bersama dalam keluarga. 

1. Doa kami menyembah Engkau (doa sederhana ini diucapkan ketika memulai setiap ibadat) 

Kami menyembah Engkau Yesus Kristus di sini dan di setiap gereja-Mu di seluruh dunia dan kami memuji Engkau, sebab Engkau telah menebus dunia dengan salib-Mu yang suci. 

2. Doa Salib (untuk mengenang sengsara Tuhan diucapkan sambil berlutut, tangan diangkat, telapak tangan dibuka): 

1 X Bapa Kami 
1 X Salam Maria 
1 X Kemuliaan 

(diulang sebanyak 5 X, doa ini dapat dibuka dan ditutup dengan doa “Doa kami menyembah Engkau ...”). 

3. Ofisi ilahi/Ibadat Harian (Ofisi ini tadinya dipakai untuk para Fransiskan yang tidak bisa membaca, sedangkan para Fransiskan yang bisa membaca tetap pakai “Ibadat Harian”. Sekarang ofisi Fransiskan ini dipakai untuk yang tidak bisa ikut doa bersama di biara, misalnya karena pekerjaan atau dalam perjalanan. Dapat diucapkan ditempat manapun, sesuai dengan kesibukan masing masing, dapat juga diucapkan dalam hati, bila keadaan tidak memungkinkan). 

Ibadat Pagi / Laudes (antara pk 05.00 - 07.00) 

Tanda Salib 
Doa “Kami menyembah Engkau ...” 
1 X Aku Percaya 
5 X Bapa Kami 
1 X Kemuliaan 
Tanda Salib 
Doa “Kami menyembah Engkau ...” 

Ibadat Siang (antara pk 09.00-16.00). 

Doa ini dapat diucapkan dalam tiga kesempatan antara : 
Pukul 09.00 - 10.00 (Tertia) 
Pukul 11.00 - 12.00 (Sexta) 
Pukul 14.00 - 15.00 (Nona) 

Tanda Salib 
Doa “Kami menyembah Engkau ...” 
1 X Aku Percaya 
7 X Bapa Kami 
1 X Kemuliaan 
Tanda Salib 
Doa “Kami menyembah Engkau ...” 

Ibadat Sore/Vesperae (antara pk 17.00 - 20.00) 

Tanda Salib 
Doa “Kami menyembah Engkau ...” 
1 X Aku Percaya 
12 X Bapa Kami 
1 X Kemuliaan 
Tanda Salib 
Doa “Kami menyembah Engkau ...” 

Ibadat Penutup / Completorium (menjelang tidur atau setelah pk 21.00). 

Tanda Salib 
Doa “Kami menyembah Engkau ...” 
1 X Aku Percaya 
7 X Bapa Kami 
1 X Kemuliaan 
Tanda Salib 
Doa “Kami menyembah Engkau ...” 

Ibadat Bacaan/Matutinum 

Tanda Salib 
Doa Kami menyembah Engkau ...” 
1 X Aku Percaya 
24 X Bapa Kami 
1 X Kemuliaan 
Tanda Salib 
Doa “Kami menyembah Engkau ... 

4. Doa waktu melayat (atau kapan saja, untuk orang meninggal) 

Tanda Salib 
Doa “Kami Menyembah Engkau ...” 
7 X Bapa Kami 
Tuhan berilah dia (mereka) istirahat yang kekal 
Tanda Salib 
Doa “Kami menyembah Engkau ...” 

5. Doa mohon ampun atas dosa-dosa (diucapkan setiap hari) 

Tanda Salib 
Doa “Kami menyembah Engkau ...” 
3 X Bapa Kami 
Tanda Salib 
Doa Kami menyembah Engkau ...” 

(Sumber: Warta KPI TL No. 172/VIII/2019 » Renungan KPI TL Tgl 16 Mei 2019, Dra Yovita Baskoro, MM).