Tampilkan postingan dengan label *Kesetiaan*. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *Kesetiaan*. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Agustus 2019

20.40 -

Penghargaan Tuhan atas kesetiaan

Alkitab membuat daftar beberapa “mahkota” yang akan dianugerahkan bagi kita, orang-orang yang percaya untuk kesetiaan kita kepada Tuhan Yesus. 

1. Mahkota kehidupan 

Mahkota ini dikaruniakan kepada para martir (Why 2:10 » Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan). 

2. Mahkota kemuliaan 

Mahkota ini dikaruniakan kepada para gembala (1 Ptr 5:2-4 » Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu. Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu). 

3. Mahkota kemegahan 

Mahkota ini dikaruniakan kepada para pemenang jiwa-jiwa (1 Tes 2:19 » Siapakah pengharapan kami atau sukacita kami atau mahkota kemegahan kami di hadapan Yesus, Tuhan kita, pada waktu kedatangan-Nya, kalau bukan kamu? Sungguh, kamulah kemuliaan kami dan sukacita kami). 

4. Mahkota yang abadi 

Mahkota ini dikaruniakan kepada para pemenang, para kudus (1 Kor 9:25-27 » Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak). 

5. Mahkota kebenaran 

Mahkota ini dikaruniakan kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya (2 Tim 4:8 » Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya). 

Janji-Nya “ya dan amin” – kejarlah selagi masih diberi kesempatan dan lakukanlah yang terbaik. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 172/VIII/2019 » @lannygabriella 11082019).

Kamis, 18 April 2019

20.52 -

Belajar dari kesalahan Saul


 
Betapa pentingnya urapan Roh Kudus dalam kehidupan kita. Jika kita hanya berpegang pada firman Tuhan tanpa urapan Roh Kudus, mustahil kita bisa bertahan dalam pergumulan hidup. Sebab tidak ada kekuatan untuk melakukan firman sehingga akhirnya firman Tuhan hanya sekedar kita terima sebagai suatu pengetahuan saja. 

Demikian pula sebaliknya, ada urapan Roh Kudus (pembaptisan) tetapi tidak pernah menerima pelajaran [katekese], maka roh kita tidak diterangi oleh Roh Kudus sehingga firman yang kita dengar tidak tertanam di hati kita (KGK 1214-1216; Yak 1:21). 

Marilah kita belajar dari Saul (1 Sam 15): 

Berkatalah Samuel kepada Saul: "Aku telah diutus oleh Tuhan untuk mengurapi engkau menjadi raja atas Israel, umat-Nya; oleh sebab itu, dengarkanlah bunyi firman Tuhan. 

Beginilah firman Tuhan semesta alam: (A) Aku akan membalas apa yang dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek menghalang-halangi mereka, ketika orang Israel pergi dari Mesir. Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. (B1) Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai." 

Lalu Saul memanggil rakyat berkumpul dan memeriksa barisan mereka di Telaim: ada dua ratus ribu orang pasukan berjalan kaki dan sepuluh ribu orang Yehuda. Setelah Saul sampai ke kota orang Amalek, disuruhnyalah orang-orang menghadang di lembah. 

Berkatalah Saul kepada orang Keni: "Berangkatlah, menjauhlah, pergilah dari tengah-tengah orang Amalek, supaya jangan kulenyapkan kamu bersama-sama dengan mereka. Bukankah kamu telah menunjukkan persahabatanmu kepada semua orang Israel, ketika mereka pergi dari Mesir?" Sesudah itu menjauhlah orang Keni dari tengah-tengah orang Amalek. Lalu Saul memukul kalah orang Amalek mulai dari Hawila sampai ke Syur, yang di sebelah timur Mesir. Agag, raja orang Amalek, ditangkapnya hidup-hidup, tetapi segenap rakyatnya ditumpasnya dengan mata pedang. 

Tetapi Saul dan rakyat itu (1) menyelamatkan Agag dan (2A) kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga: tidak mau mereka menumpas semuanya itu. Tetapi segala hewan yang tidak berharga dan yang buruk, itulah yang ditumpas mereka. 

Lalu datanglah firman Tuhan kepada Samuel, demikian: "Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan (B2) Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku." Maka sakit hatilah Samuel dan ia berseru-seru kepada Tuhan semalam-malaman. 

Lalu Samuel bangun pagi-pagi untuk bertemu dengan Saul, tetapi diberitahukan kepada Samuel, demikian: "Saul telah ke Karmel tadi dan telah didirikannya baginya suatu tanda peringatan; kemudian ia balik dan mengambil jurusan ke Gilgal." 

Ketika Samuel sampai kepada Saul, berkatalah Saul kepadanya: "Diberkatilah kiranya engkau oleh Tuhan; (B3) aku telah melaksanakan firman Tuhan." Tetapi kata Samuel: "Kalau begitu apakah bunyi kambing domba, yang sampai ke telingaku, dan bunyi lembu-lembu yang kudengar itu?" 

Jawab Saul: "Semuanya itu dibawa dari pada orang Amalek, sebab rakyat menyelamatkan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dengan maksud untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan, Allahmu; tetapi selebihnya telah kami tumpas." 

Lalu berkatalah Samuel kepada Saul: "Sudahlah! Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang difirmankan Tuhan kepadaku tadi malam." Kata Saul kepadanya: "Katakanlah." Sesudah itu berkatalah Samuel: "Bukankah engkau, walaupun engkau kecil pada pemandanganmu sendiri, telah menjadi kepala atas suku-suku Israel? Dan bukankah Tuhan telah mengurapi engkau menjadi raja atas Israel? 

Tuhan telah menyuruh engkau pergi, dengan pesan: Pergilah, tumpaslah orang-orang berdosa itu, yakni orang Amalek, berperanglah melawan mereka sampai engkau membinasakan mereka. Mengapa engkau (B4) tidak mendengarkan suara Tuhan? Mengapa engkau mengambil jarahan dan melakukan apa yang jahat di mata Tuhan?" 

Lalu kata Saul kepada Samuel: (B5) "Aku memang mendengarkan suara Tuhan dan mengikuti jalan yang telah disuruh Tuhan kepadaku dan aku membawa Agag, raja orang Amalek, tetapi orang Amalek itu sendiri telah kutumpas. (B6) Tetapi rakyat mengambil dari jarahan itu (2B) kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dari yang dikhususkan untuk ditumpas itu, untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan, Allahmu, di Gilgal." 

Tetapi jawab Samuel: "Apakah Tuhan itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara Tuhan? Sesungguhnya, (B7) mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, (B8) memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. Sebab (B9) pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan (B10) kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman Tuhan, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja." 

Berkatalah Saul kepada Samuel: (C1) "Aku telah berdosa, sebab telah kulangkahi titah Tuhan dan perkataanmu; tetapi aku takut kepada rakyat, karena itu aku mengabulkan permintaan mereka. Maka sekarang, ampunilah kiranya dosaku; kembalilah bersama-sama dengan aku, maka aku akan sujud menyembah kepada Tuhan." 

Tetapi jawab Samuel kepada Saul: "Aku tidak akan kembali bersama-sama dengan engkau, sebab engkau telah menolak firman Tuhan; sebab itu Tuhan telah menolak engkau, sebagai raja atas Israel." 

Ketika Samuel berpaling hendak pergi, maka Saul memegang punca jubah Samuel, tetapi terkoyak. Kemudian berkatalah Samuel kepadanya: "Tuhan telah mengoyakkan dari padamu jabatan raja atas Israel pada hari ini dan telah memberikannya kepada orang lain yang lebih baik dari padamu. Lagi Sang Mulia dari Israel tidak berdusta dan Ia tidak tahu menyesal; sebab Ia bukan manusia yang harus menyesal." 

Tetapi kata Saul: (C2) "Aku telah berdosa; tetapi tunjukkanlah juga hormatmu kepadaku sekarang di depan para tua-tua bangsaku dan di depan orang Israel. Kembalilah bersama-sama dengan aku, maka aku akan sujud menyembah kepada Tuhan, Allahmu." Sesudah itu kembalilah Samuel mengikuti Saul. Dan Saul sujud menyembah kepada Tuhan. 

Lalu berkatalah Samuel: "Bawa ke mari Agag, raja Amalek itu." Dengan gembira Agag pergi kepadanya, sebab pikirnya: "Sesungguhnya, kepahitan maut telah lewat." Tetapi kata Samuel: "Seperti pedangmu membuat perempuan-perempuan kehilangan anak, demikianlah ibumu akan kehilangan anak di antara perempuan-perempuan." Sesudah itu Samuel mencincang Agag di hadapan Tuhan di Gilgal. 

Kemudian Samuel pergi ke Rama, tetapi Saul pergi ke rumahnya, di Gibea-Saul. Sampai hari matinya Samuel tidak melihat Saul lagi, tetapi Samuel berdukacita karena Saul. Dan Tuhan menyesal, karena Ia menjadikan Saul raja atas Israel. 

» (A) Di dalam Perjanjian Lama, Allah bekerja melalui satu bangsa pilihan Allah, yaitu bangsa Israel. Allah ingin menyatakan kepada bangsa-bangsa lain bahwa Allah orang Israel adalah Allah yang hidup dan berkuasa. 

(B1- B10) Sejak dahulu hingga sekarang, ketaatan adalah kunci untuk mendapatkan perkenan Allah. Bagi Tuhan: tidak melaksanakan firman-Nya/tidak mendengarkan suara-Nya, itu adalah melakukan apa yang jahat di mata-Nya (tidak beriman/tidak taat), sama dengan dosa bertenung dan menyembah berhala

(C1-2) Sifat dasar manusia: bersalah, tidak mau mengaku kesalahan dengan tulus tetapi berjuang menjaga harga dirinya dengan berdalih dan mencari kambing hitam. 

Ingatlah! Tuhan tidak pernah berkompromi dengan dosa. Tanpa ketaatan, segala yang kita lakukan untuk Allah menjadi tidak berkenan di mata-Nya. 

Saul tahu apa yang Tuhan inginkan tetapi jiwanya dikuasai oleh keadaan. Ia ingin mendapatkan simpati dan kehormatan dari rakyatnya dengan tindakan ketidaktaatannya kepada Allah, sehingga ia tidak memuliakan Tuhan dengan perbuatannya tetapi ia mencari kemuliaan bagi dirinya sendiri. 

(1) Sudah menjadi kebiasaan pada saat itu, ketika menang dalam peperangan melawan musuh raja dari pihak musuh tidak dibunuh tetapi dibawa berkeliling untuk dipertontonkan dan dipermalukan di hadapan rakyat banyak. Dengan melakukan hal ini, sang raja dari tuan rumah akan mendapat simpati dan penghormatan dari rakyatnya sendiri karena telah menangkap raja pihak musuh dan mengalahkan rakyatnya. 

(2AB) Sudah menjadi kebiasaan di Israel, ketika menang dalam peperangan melawan musuh, mereka mempersembahkan korban syukur kepada Allah karena Allah telah memimpin mereka. 

Tanpa ketaatan, seseorang tidak dapat menerima keselamatan yang telah dianugerahkan oleh Allah. Ketika kita percaya kepada Yesus Kristus, kita juga harus “taat” kepada firman dan kehendak-Nya. Oleh karena itu, iman dan ketaatan tidak dapat dipisahkan dalam Kekristenan. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 168/IV/2019). 

Senin, 27 Maret 2017

05.23 -

Kesetiaan

Setiap manusia tentunya sadar bahwa tidaklah mudah menyatukan dua orang yang berlatar belakang lingkungan berbeda (kepribadian, kebutuhan, tujuan).

Landasan utama kesetiaan suami-istri adalah kesetiaan Allah sendiri.

Allah yang kita imani adalah Allah yang setia memegang perjanjian (Ul 7:6). Allah setia dalam perkataan dan perbuatan (Mzm 145:13, 33:4). Tak pernah ingkar janji itu terungkap secara penuh dalam kasih Kristus kepada Israel Baru yang mengorbankan diri demi keselamatan sahabat-sahabatnya. Kasih-Nya kepada manusia adalah kasih yang permanen tak pernah ditarik kembali

Kesetiaan berbicara tentang keteguhan hati, kepatuhan/ketaatan sehingga dapat bersabar menanggung beban apapun yang datang dalam hidup.

Kasih Kristus secara total tanpa cadangan itu memberi petunjuk kepada suami-istri Kristen demikian juga.

Kiat untuk mempertahankan kesetiaan perkawinan

- Menghancurkan keegoisan/ketegaran hati (orang egois adalah orang yang hanya mementingkan diri sendiri dan kurang memperhatikan kepentingan bersama). 

- Menggeser pusat perhatian (amanat Yesus untuk meninggalkan ayah/ibu setelah memasuki lembaga perkawinan, pusat cinta dan perhatian suami/istri dan anak-anak yang dipercayakan Tuhan, bukan lagi terutama pada orang tua—bukan berarti tidak berbakti pada orang tua lagi) 
- Saling menghargai peran (lih. Pria sebagai imam dalam keluarga

- Mengandalkan Tuhan. 

Apa yang telah disatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia (Mat 19:6).

Marilah mengenal dan bersungguh mengenal Tuhan, sebab Aku menyukai kasih setia (Hos 6:3,6). 

(Sumber: Warta KPI TL No. 03/VII/2004).



Kamis, 23 Februari 2017

15.10 -

Kasih setia



Orang Israel diangkat menjadi anak, dan telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji. Rencana Allah tentang pemilihan-Nya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan-Nya (Rm 9:4, 11). 

Sebagai orang pilihan kadangkala berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Hal ini untuk membuktikan kemurnian iman kita sehingga kita memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya (1 Ptr 1:6-7).

Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan. Sebab .... ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan .... memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun (Yak 1:2-4).


Marilah kita belajar dari Kitab Rut 1-4:

[1:1-9a] Pada zaman para hakim memerintah ada kelaparan di tanah Israel. Lalu (1) pergilah seorang dari Betlehem-Yehuda beserta isterinya dan kedua anaknya laki-laki ke daerah Moab untuk menetap di sana sebagai orang asing.

Nama orang itu ialah Elimelekh, nama isterinya Naomi dan nama kedua anaknya Mahlon dan Kilyon, semuanya orang-orang Efrata dari Betlehem-Yehuda; dan setelah sampai ke daerah Moab, diamlah mereka di sana.

Kemudian (2) matilah Elimelekh, suami Naomi, sehingga perempuan itu tertinggal dengan kedua anaknya. (3) Keduanya mengambil perempuan Moab: yang pertama bernama Orpa, yang kedua bernama Rut; dan mereka diam di situ kira-kira sepuluh tahun lamanya. Lalu matilah juga keduanya, yakni Mahlon dan Kilyon, sehingga (4) perempuan itu kehilangan kedua anaknya dan suaminya.

Kemudian berkemaslah ia dengan kedua menantunya dan ia pulang dari daerah Moab, sebab di daerah Moab ia mendengar bahwa Tuhan telah memperhatikan umat-Nya dan memberikan makanan kepada mereka. Maka berangkatlah ia dari tempat tinggalnya itu, bersama-sama dengan kedua menantunya. 

Ketika mereka sedang di jalan untuk pulang ke tanah Yehuda, berkatalah Naomi kepada kedua menantunya itu: "Pergilah, pulanglah masing-masing ke rumah ibunya; Tuhan kiranya menunjukkan kasih-Nya kepadamu, seperti yang kamu tunjukkan kepada orang-orang yang telah mati itu dan kepadaku; kiranya atas karunia Tuhan kamu mendapat tempat perlindungan, masing-masing di rumah suaminya." 

» Sebagai bangsa pilihan, pasti umatnya bertekun dalam doa. Tetapi Tuhan mengizinkan terjadinya kelaparan hebat sehingga ada umat-Nya yang menetap di negara lain yang penuh dengan penyembahan berhala.

Penderitaan Naomi: (1) jiwanya benar-benar tersiksa oleh cara hidup orang-orang yang tak mengenal hukum (2 Ptr 2:7-8). (2) ditinggal mati suaminya. (3) Anak-anaknya menikah dengan bangsa yang tidak disukai Tuhan (Bil 25; Ul 23:3-4). (4) Bagi dunia, hidup Naomi betul-betul sangat menderita karena ditinggal mati oleh orang-orang yang dikasihinya.

Meskipun Naomi mengalami penderitaan di negeri asing, ia tidak kehilangan martabatnya. Buktinya, ia memperhatikan apa yang terbaik bagi kedua menantunya. 

[9b-10] Lalu diciumnyalah mereka, tetapi mereka menangis dengan suara keras dan berkata kepadanya: "Tidak, kami ikut dengan engkau pulang kepada bangsamu."

» Mengapa menantunya menangis? Karena Orpa dan Rut merasakan ikatan batin yang kuat dengan mertuanya; mertuanya selalu membimbing menantunya dengan tekun untuk beriman kepada Allah Israel dengan kesabaran dan kasih. Kasih timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas (1 Tim 1:5).

[11-13] Tetapi Naomi berkata: "Pulanglah, anak-anakku, mengapakah kamu turut dengan aku? Bukankah tidak akan ada lagi anak laki-laki yang kulahirkan untuk dijadikan suamimu nanti? Pulanglah, anak-anakku, pergilah, sebab sudah terlalu tua aku untuk bersuami. Seandainya pikirku: Ada harapan bagiku, dan sekalipun malam ini aku bersuami, bahkan sekalipun aku masih melahirkan anak laki-laki, masakan kamu menanti sampai mereka dewasa? Masakan karena itu kamu harus menahan diri dan tidak bersuami? Janganlah kiranya demikian, anak-anakku, bukankah jauh lebih pahit yang aku alami dari pada kamu, sebab tangan Tuhan teracung terhadap aku?"

» Naomi adalah mertua yang luar biasa pada menantunya, ia tidak mementingkan diri sendiri tetapi lebih mementingkan kehidupan menantunya. 

Dalam tradisi Israel: apabila orang-orang yang bersaudara tinggal bersama-sama dan seorang dari pada mereka mati dengan tidak meninggalkan anak laki-laki maka saudara suaminya haruslah menghampiri dia dan mengambil dia menjadi istrinya dan dengan demikian melakukan kewajiban perkawinan ipar (Ul 25:5-10 - Anak sulung yang nanti dilahirkan perempuan itu haruslah dianggap sebagai anak saudara yang sudah mati itu, supaya nama itu jangan terhapus dari antara orang Israel .

[14] Menangis pula mereka dengan suara keras, lalu Orpa mencium mertuanya itu minta diri, tetapi Rut tetap berpaut padanya.

» Orpa berpikir lebih rasional sehingga ia mengikuti nasehat mertuanya.

[15-17] Berkatalah Naomi: "Telah pulang iparmu kepada bangsanya dan kepada para allahnya; pulanglah mengikuti iparmu itu." Tetapi kata Rut: "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, aku pun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya Tuhan menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apa pun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!"

» Rut adalah menantu yang setia luar biasa pada mertuanya. Kedua perempuan ini adalah contoh menantu dan mertua yang saling mengasihi.

Sebagai umat Israel, Naomi mengakui Allah Israel serta menjalankan ajaran-ajarannya (lih. Mempertahankan iman Katolik di tengah badai zaman - Shema) sehingga Rut merasakan ada perbedaan antara kehidupannya yang dulu dan sekarang.

Selain itu Rut juga merasakan sesuatu yang lain yaitu pada saat mengalami pencobaan-pencobaan, dia masih mengalami damai sejahtera (Yoh 14:27). Hal ini terjadi karena Allah Israel yang setia memberikan jalan ke luar sehingga dia dapat menanggungnya (1 Kor 10:13) dan pada saat dia berseru kepada Allah Israel, Allah Israel menjawabnya dan memberitahukan hal-hal besar yang tidak terpahami (Yer 33:1).

Jika Tuhan menjadi sandaran kita, Dia akan melepaskan kita pada hari sial kita. Jadi, jika kita setia kepada Tuhan, maka Dia juga berlaku setia (Mzm 18:18-27).

[18-22] Ketika Naomi melihat, bahwa Rut berkeras untuk ikut bersama-sama dengan dia, berhentilah ia berkata-kata kepadanya. Dan berjalanlah keduanya sampai mereka tiba di Betlehem. Ketika mereka masuk ke Betlehem, gemparlah seluruh kota itu karena mereka, dan perempuan-perempuan berkata: "Naomikah itu?"

Tetapi ia berkata kepada mereka: "Janganlah sebutkan aku (5) Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku. (6) Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong Tuhan memulangkan aku. Mengapakah kamu menyebutkan aku Naomi, karena Tuhan telah naik saksi menentang aku dan Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku."

Demikianlah Naomi pulang bersama-sama dengan (7) Rut, perempuan Moab itu, menantunya, yang turut pulang dari daerah Moab. Dan sampailah mereka ke Betlehem pada permulaan musim menuai jelai.

» (5) Naomi artinya manis, menyenangkan; Mara artinya pahit. (6) Tuhan tidak pernah merancangkan kecelakaan pada umat-Nya, ini hanyalah perasaan Naomi saja. (7) Seluruh kota menyindirnya karena Naomi membawa perempuan asing yang tidak disukai Tuhan masuk ke dalam keluarganya.

[2:1-17] Naomi itu mempunyai (9A) seorang sanak dari pihak suaminya, seorang yang kaya raya dari kaum Elimelekh, namanya Boas.

Maka Rut, perempuan Moab itu, berkata kepada Naomi: "Biarkanlah aku pergi ke ladang memungut bulir-bulir jelai di belakang orang yang (9B) murah hati kepadaku." Dan sahut Naomi kepadanya: "Pergilah, anakku."

Pergilah ia, lalu sampai di ladang dan memungut jelai di belakang penyabit-penyabit; kebetulan ia berada di tanah milik Boas, yang berasal dari kaum Elimelekh.

» Ini adalah kebetulan ilahi (Rm 8:28 » Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah).

Lalu datanglah (8A) Boas dari Betlehem. Ia berkata kepada penyabit-penyabit itu: "Tuhan kiranya menyertai kamu." (8B) Jawab mereka kepadanya: "Tuhan kiranya memberkati tuan!"

Lalu kata Boas kepada bujangnya yang mengawasi penyabit-penyabit itu: "Dari manakah perempuan ini?"

Bujang yang mengawasi penyabit-penyabit itu menjawab: "Dia adalah seorang perempuan Moab, dia pulang bersama-sama dengan Naomi dari daerah Moab. Tadi ia berkata: Izinkanlah kiranya aku memungut dan mengumpulkan jelai dari antara berkas-berkas jelai ini di belakang penyabit-penyabit. Begitulah ia datang dan terus sibuk dari pagi sampai sekarang dan seketika pun ia tidak berhenti."

Sesudah itu berkatalah Boas kepada Rut: "Dengarlah dahulu, anakku! (9C) Tidak usah engkau pergi memungut jelai ke ladang lain dan tidak usah juga engkau pergi dari sini, tetapi tetaplah dekat pengerja-pengerjaku perempuan. Lihat saja ke ladang yang sedang disabit orang itu. Ikutilah perempuan-perempuan itu dari belakang. Sebab aku telah memesankan kepada pengerja-pengerja lelaki jangan mengganggu engkau. Jika engkau haus, pergilah ke tempayan-tempayan dan minumlah air yang dicedok oleh pengerja-pengerja itu."

Lalu sujudlah Rut menyembah dengan mukanya sampai ke tanah dan berkata kepadanya: "Mengapakah aku mendapat belas kasihan dari padamu, sehingga tuan memperhatikan aku, padahal aku ini seorang asing?"

Boas menjawab: "Telah dikabarkan orang kepadaku dengan lengkap segala sesuatu yang engkau lakukan kepada mertuamu sesudah suamimu mati, dan bagaimana engkau meninggalkan ibu bapamu dan tanah kelahiranmu serta pergi kepada suatu bangsa yang dahulu tidak engkau kenal. Tuhan kiranya membalas perbuatanmu itu, dan kepadamu kiranya dikaruniakan upahmu sepenuhnya oleh Tuhan, Allah Israel, yang di bawah sayap-Nya engkau datang berlindung."

Kemudian berkatalah Rut: "Memang aku mendapat belas kasihan dari padamu, ya tuanku, sebab tuan telah menghiburkan aku dan telah menenangkan hati hambamu ini, walaupun aku tidak sama seperti salah seorang hamba-hambamu perempuan."

Ketika sudah waktu makan, berkatalah Boas kepadanya: "Datanglah ke mari, (9E) makanlah roti ini dan celupkanlah suapmu ke dalam cuka ini." Lalu duduklah ia di sisi penyabit-penyabit itu, dan Boas mengunjukkan bertih gandum kepadanya; makanlah Rut sampai kenyang, bahkan ada sisanya.

Setelah ia bangun untuk memungut pula, maka Boas memerintahkan kepada pengerja-pengerjanya: "Dari antara berkas-berkas itu pun ia boleh memungut, janganlah ia diganggu; bahkan (9D) haruslah kamu dengan sengaja menarik sedikit-sedikit dari onggokan jelai itu untuk dia dan meninggalkannya, supaya dipungutnya; janganlah berlaku kasar terhadap dia."

Maka ia memungut di ladang sampai petang; lalu ia mengirik yang dipungutnya itu, dan ada kira-kira seefa jelai banyaknya.

» (8AB) Meskipun Boas kaya, tetapi ia selalu memberkati para karyawannya sehingga para karyawannya juga memberkatinya. 

(9A-E) Ada hukum di Israel: apabila menuai di ladang, lalu terlupa seberkas di ladang, janganlah mengambilnya kembali; itulah bagian orang asing, anak yatim dan janda (Ul 24:19-21). Hukum ini berasal dari Im 25:23 (Allah-lah pemilik tanah, bukan tuan tanah). Jadi, Manusia (dalam hal ini tuan tanah) hanyalah pengelola dari tanah yang dimiliki Allah.

Meskipun Boas kaya, tetapi ia bermurah hati bahkan memberikan perlindungan terhadap Rut karena ia memahami hukum di atas dan ia memiliki tanggungjawab moral terhadap janda.

[18-23] Diangkatnyalah itu, lalu masuklah ia ke kota. Ketika mertuanya melihat apa yang dipungutnya itu, dan ketika dikeluarkannya dan diberikannya kepada mertuanya sisa yang ada setelah kenyang itu, maka berkatalah mertuanya kepadanya: "Di mana engkau memungut dan di mana engkau bekerja hari ini? Diberkatilah kiranya orang yang telah memperhatikan engkau itu!"

Lalu diceritakannyalah kepada mertuanya itu pada siapa ia bekerja, katanya: "Nama orang pada siapa aku bekerja hari ini ialah Boas."

Sesudah itu berkatalah Naomi kepada menantunya: "Diberkatilah kiranya orang itu oleh Tuhan yang rela mengaruniakan kasih setia-Nya kepada orang-orang yang hidup dan yang mati." Lagi kata Naomi kepadanya: "Orang itu kaum kerabat kita, dialah salah seorang yang wajib menebus kita."

Lalu kata Rut, perempuan Moab itu: "Lagipula ia berkata kepadaku: Tetaplah dekat pengerja-pengerjaku sampai mereka menyelesaikan seluruh penyabitan ladangku."

Lalu berkatalah Naomi kepada Rut, menantunya itu: "Ya anakku, sebaiknya engkau keluar bersama-sama dengan pengerja-pengerjanya perempuan, supaya engkau jangan disusahi orang di ladang lain."

Demikianlah Rut tetap dekat pada pengerja-pengerja perempuan Boas untuk memungut, sampai musim menuai jelai dan musim menuai gandum telah berakhir. Dan selama itu ia tinggal pada mertuanya.

[3:1-6] Lalu Naomi, mertuanya itu, berkata kepadanya: "Anakku, apakah tidak ada baiknya jika aku mencari tempat perlindungan bagimu supaya engkau berbahagia? Maka sekarang, bukankah Boas, yang pengerja-pengerjanya perempuan telah kautemani itu, adalah sanak kita? Dia pada malam ini menampi jelai di tempat pengirikan; maka mandilah dan beruraplah, pakailah pakaian bagusmu dan pergilah ke tempat pengirikan itu. Tetapi janganlah engkau ketahuan kepada orang itu, sebelum ia selesai makan dan minum. Jika ia membaringkan diri tidur, haruslah engkau perhatikan baik-baik tempat ia berbaring; kemudian datanglah dekat, singkapkanlah selimut dari kakinya dan berbaringlah di sana. Maka ia akan memberitahukan kepadamu apa yang harus kaulakukan."

Lalu kata Rut kepadanya: "Segala yang engkau katakan itu akan kulakukan." Sesudah itu pergilah ia ke tempat pengirikan dan dilakukannyalah tepat seperti yang diperintahkan mertuanya kepadanya.

» Naomi memikirkan nasib menantunya yang setia. Untuk mewujudkan harapannya, maka ia mengatur strategi agar Rut dapat memohon pada Boas untuk bertindak sebagai penebus (Im 25:25).

[Im 25:25] Apabila saudaramu jatuh miskin, sehingga harus menjual sebagian dari miliknya, maka seorang kaumnya yang berhak menebus, yakni kaumnya yang terdekat harus datang dan menebus yang telah dijual saudaranya itu .

[7-18] Setelah Boas habis makan dan minum dan hatinya gembira, datanglah ia untuk membaringkan diri tidur pada ujung timbunan jelai itu. Kemudian datanglah perempuan itu dekat dengan diam-diam, (10) disingkapkannyalah selimut dari kaki Boas dan berbaringlah ia di situ. Pada waktu tengah malam dengan terkejut terjagalah orang itu, lalu meraba-raba ke sekelilingnya, dan ternyata ada seorang perempuan berbaring di sebelah kakinya.

Bertanyalah ia: "Siapakah engkau ini?" Jawabnya: (11) "Aku Rut, hambamu: kembangkanlah kiranya sayapmu melindungi hambamu ini, sebab engkaulah seorang kaum yang wajib menebus kami."

Lalu katanya: "Diberkatilah kiranya engkau oleh Tuhan, ya anakku! Sekarang engkau menunjukkan kasihmu lebih nyata lagi dari pada yang pertama kali itu, karena engkau tidak mengejar-ngejar orang-orang muda, baik yang miskin maupun yang kaya. Oleh sebab itu, anakku, janganlah takut; segala yang kaukatakan itu akan kulakukan kepadamu; sebab setiap orang dalam kota kami tahu, bahwa engkau seorang perempuan baik-baik. Maka sekarang, memang aku seorang kaum yang wajib menebus, tetapi walaupun demikian masih ada lagi seorang penebus, yang lebih dekat dari padaku. Tinggallah di sini malam ini; dan besok pagi, jika ia mau menebus engkau, baik, biarlah ia menebus; tetapi jika ia tidak suka menebus engkau, maka akulah yang akan menebus engkau, demi Tuhan yang hidup. Berbaring sajalah tidur sampai pagi."

Jadi berbaringlah ia tidur di sebelah kakinya sampai pagi; lalu bangunlah ia, sebelum orang dapat kenal-mengenal, sebab kata Boas: "Janganlah diketahui orang, bahwa seorang perempuan datang ke tempat pengirikan."

Lagi katanya: "Berikanlah selendang yang engkau pakai itu dan tadahkanlah itu." Lalu ditadahkannya selendang itu. Kemudian ditakarnyalah enam takar jelai ke dalam selendang itu. Sesudah itu pergilah Boas ke kota.

Setelah perempuan itu sampai kepada mertuanya, berkatalah mertuanya itu: "Bagaimana, anakku?" Lalu diceritakannyalah semua yang dilakukan orang itu kepadanya serta berkata: "Yang enam takar jelai ini diberikannya kepadaku, sebab katanya: Engkau tidak boleh pulang kepada mertuamu dengan tangan hampa."

Lalu (12) kata mertuanya itu: "Duduk sajalah menanti, anakku, sampai engkau mengetahui, bagaimana kesudahan perkara itu; sebab orang itu tidak akan berhenti, sebelum diselesaikannya perkara itu pada hari ini juga."

» (10) Boas adalah seorang laki-laki yang bermartabat, ia tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan. Ia terbangun karena kakinya kedinginaan (terkejut). Boas tidak merendahkan Rut tetapi ia memberkati, memuji, melindungi, dan taat pada hukum.

(11) Rut adalah seorang perempuan yang bermartabat, ia memakai bahasa simbolik dalam berkata-kata.

(12) Naomi tahu kapan harus bertindak, kapan harus berdiam. Ia bukan sekedar mengandalkan strateginya tetapi juga tunduk terhadap hukum.

[4:1-12] Boas telah pergi ke pintu gerbang dan duduk di sana. Kebetulan lewatlah penebus yang disebutkan Boas itu. Lalu berkatalah Boas: "Hai saudara, datanglah dahulu ke mari, duduklah di sini." Maka datanglah ia, lalu duduk. Kemudian dipilihnyalah sepuluh orang dari para tua-tua kota itu, dan berkata: "Duduklah kamu di sini." Maka duduklah mereka.

Lalu berkatalah ia kepada penebus itu: "Tanah milik kepunyaan saudara kita Elimelekh hendak dijual oleh Naomi, yang telah pulang dari daerah Moab. Jadi pikirku: baik juga hal itu kusampaikan kepadamu sebagai berikut: Belilah tanah itu di depan orang-orang yang duduk di sini dan di depan para tua-tua bangsa kita. Jika engkau mau menebusnya, tebuslah; tetapi jika engkau tidak mau menebusnya, beritahukanlah kepadaku, supaya aku tahu, sebab tidak ada orang yang dapat menebusnya kecuali engkau, dan sesudah engkau: aku." Lalu berkatalah ia: "Aku akan menebusnya."

Tetapi kata Boas: "Pada waktu engkau membeli tanah itu dari tangan Naomi, engkau memperoleh Rut juga, perempuan Moab, isteri orang yang telah mati itu, untuk menegakkan nama orang itu di atas milik pusakanya."

Lalu berkatalah penebus itu: "Jika demikian, aku ini tidak dapat menebusnya, sebab aku akan merusakkan milik pusakaku sendiri. Aku mengharap engkau menebus apa yang seharusnya aku tebus, sebab aku tidak dapat menebusnya."

Beginilah kebiasaan dahulu di Israel dalam hal menebus dan menukar: setiap kali orang hendak menguatkan sesuatu perkara, maka yang seorang menanggalkan kasutnya sebelah dan memberikannya kepada yang lain. Demikianlah caranya orang mensahkan perkara di Israel.

Lalu penebus itu berkata kepada Boas: "Engkau saja yang membelinya." Dan ditanggalkannyalah kasutnya.

Kemudian berkatalah Boas kepada para tua-tua dan kepada semua orang di situ: "Kamulah pada hari ini menjadi saksi, bahwa segala milik Elimelekh dan segala milik Kilyon dan Mahlon, aku beli dari tangan Naomi; juga Rut, perempuan Moab itu, isteri Mahlon, aku peroleh menjadi isteriku untuk menegakkan nama orang yang telah mati itu di atas milik pusakanya. Demikianlah nama orang itu tidak akan lenyap dari antara saudara-saudaranya dan dari antara warga kota. Kamulah pada hari ini menjadi saksi."

Dan seluruh orang banyak yang hadir di pintu gerbang, dan para tua-tua berkata: "Kamilah menjadi saksi. Tuhan kiranya membuat perempuan yang akan masuk ke rumahmu itu sama seperti Rahel dan Lea, yang keduanya telah membangunkan umat Israel. Biarlah engkau menjadi makmur di Efrata dan biarlah namamu termasyhur di Betlehem, keturunanmu kiranya menjadi seperti keturunan Peres yang dilahirkan Tamar bagi Yehuda oleh karena anak-anak yang akan diberikan Tuhan kepadamu dari perempuan muda ini!"

Lalu (13) Boas mengambil Rut dan perempuan itu menjadi isterinya dan dihampirinyalah dia. Maka atas karunia Tuhan perempuan itu mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki.

Sebab itu perempuan-perempuan berkata kepada Naomi: "Terpujilah Tuhan, yang telah rela menolong engkau pada hari ini dengan seorang penebus. Termasyhurlah kiranya nama anak itu di Israel. Dan dialah yang akan menyegarkan jiwamu dan memelihara engkau pada waktu rambutmu telah putih; sebab menantumu yang mengasihi engkau telah melahirkannya, perempuan yang lebih berharga bagimu dari tujuh anak laki-laki."

Dan Naomi mengambil anak itu serta meletakkannya pada pangkuannya dan dialah yang mengasuhnya.

Dan tetangga-tetangga perempuan memberi nama kepada anak itu, katanya: "Pada Naomi telah lahir seorang anak laki-laki"; lalu mereka menyebutkan namanya Obed. Dialah ayah Isai, ayah Daud.

Inilah keturunan Peres: Peres memperanakkan Hezron, Hezron memperanakkan Ram, Ram memperanakkan Aminadab, Aminadab memperanakkan Nahason, Nahason memperanakkan Salmon, Salmon memperanakkan Boas, Boas memperanakkan Obed, Obed memperanakkan Isai dan Isai memperanakkan Daud.

» (13) Boas adalah seseorang laki-laki yang bertanggung jawab dan menepati janjinya, dia menebus Rut, janda dari sanaknya yang jauh untuk melaksanakan kewajibannya.

Boas dan Rut adalah kakek dan nenek raja Daud. Karena kasih setianya, Rut dan keturunannya diberkati secara luar biasa sehingga namanya tercatat dalam silsilah Yesus Kristus (Mat 1:5). 

(Sumber: Warta KPI TL No.112/VIII/2013 » Renungan KPI TL tgl 23 Meii 2013, Rm Wayan, SVD; Warta KPI TL No.100/VIII/2012 » Renungan KPI TL tgl 21 Juni 2012, Bapak Donny Vincent).

Minggu, 19 Februari 2017

19.47 -

Taat dan setia



Ada seekor ikan kecil berdialog dengan ayahnya. “Papa, aku merasa bosan hidup seperti ini. Aku ingin pergi ke tempat yang jauh sekali.” “Papa akan cari kamu.” “Papa, aku ingin sembunyi di bawah dasar laut yang dalam di antara kerang-kerang dan teman-teman binatang laut.” “Papa akan tetap cari kamu.”

Ilustrasi di atas seringkali terjadi pada hidup kita, kita merasa bosan dengan kehidupan kita dan kita ingin hidup bebas dengan ingin menjadi tuan atas diri kita sendiri. 

Pada saat kita tidak lagi mengandalkan Tuhan dan tidak lagi tergantung kepada-Nya, justru kita menjadi hamba atau budak dari keinginan dan nafsu pribadi yang tidak terkendali

Ingatlah! Allah Bapa sangat mengasihi kita sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh 3:16). 

Jadi, keberadaan kita di Gereja Katolik bukan karena kehebatan kita tetapi karena Allah Bapa selalu mencari kita agar kita tidak menyimpang dari jalan-Nya. 

Marilah kita belajar Ibr 12:1-6

[1a] Kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita 

» Pembaptisan adalah dasar seluruh kehidupan Kristen, pintu masuk menuju kehidupan dalam roh dan menuju Sakramen-sakramen yang lain

Pembaptisan tidak hanya membersihkan dari semua dosa, tetapi serentak menjadikan orang yang baru dibaptis suatu “ciptaan baru” (2 Kor 5:17), seorang anak angkat Allah (Gal 4:5-7), ia “mengambil bagian dalam kodrat ilahi” (2 Ptr 1:4), adalah anggota Kristus (1 Kor 6:15; 12:27), “ahli waris” bersama Dia (Rm 8:17) dan kanisah Roh Kudus (1 Kor 6:19) (KGK 1213, 1265). 

Pembaptisan menandai warga Kristen dengan satu meterai rohani yang tidak dapat dihapuskan. Tanda ini tidak dihapuskan oleh dosa mana pun, meskipun dosa menghalang-halangi Pembaptisan untuk menghasilkan buah keselamatan (KGK 1272). 

Jadi, meterai baptisan tidak pernah hilang, yang hilang adalah hak bagi kita untuk masuk Kerajaan Allah dengan mudah

Saksi-saksi adalah orang-orang yang yang berada disekeliling kita, malaikat pelindung dan orang kudus yang namanya kita pakai untuk nama baptis.

[1b] Marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita 

» Dalam menghadapi suatu masalah, seringkali kita berkata: "Tuhan, kenapa masalah ini terjadi padaku." Ingatlah! Selama kita masih bernafas, hidup pasti punya masalah. Kalau yang tidak punya masalah tinggalnya di kavling 1x 2 m. 

Jadi, kita harus menanggalkan beban dan dosa yang merintangi kita untuk dapat menerima curahan rahmat Allah. Bertekuk lututlah di hadapan salib Kristus, sehingga dapat menemukan jalan ke luar dari setiap permasalahan.

[1c] Berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita 

» Hidup di dunia ini berat (Ayb 7) penuh dengan penderitaan karena pencobaan (Ibr 2:18; 1 Tim 6:9). Setiap orang yang mau mengikuti Yesus harus menyangkal diri (menanggalkan beban, meninggalkan dosa dan menyerahkan ke-aku-annya kepada Tuhan), memikul salibnya setiap hari dan mengikuti-Nya (Luk 9:23; Gal 2:20). 

Jadi, kita harus berlomba hidup dalam iman, mendekatkan diri untuk tetap setia agar bisa masuk di Kerajaan Sorga.

[2a] Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan 

» Dalam suatu perlombaan/pertandingan, seorang atlit tetap melanjutkan permainannya, tidak meninggalkan arena meskipun angka di papan score sudah menunjukkan ketinggalan angka. 

Demikian pula dengan kita, Walaupun kita jatuh bangun dalam perjalanan iman kita, kita harus tetap berfokus kepada Yesus, karena Dia adalah jalan dan kebenaran dan hidup." (Yoh 14:6). Tidak ada jalan lain yang dapat membawa kita kepada kesempurnaan, selain Yesus.

[2b] Dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia 

» Sebagai manusia 100%, Yesus merasa sedih dan gentar, kata-Nya: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya." 

Doa-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." (Mat 26:37-39). 

Maka seorang malaikat menampakkan diri kepada-Nya memberi kekuatan kepada-Nya (Luk 22:43). Dia tahu rencana Bapa dan melaksanakan. Sebagai anak-anak Allah yang sudah tahu firman Tuhan, seharusnya kita meneladan sikap Yesus ini.

[3] Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan (siksaan dan cercaan) yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa 

» sebagai manusia, jika tidak mempunyai kekuatan ilahi, kita tidak tahan menanggung siksaan dan cercaan

[5] Sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak." 

» Pada saat jalan kita mulai menyimpang ke kiri ke kanan, sebagai seorang Bapa yang baik, Tuhan menghajar kita dengan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan. Ia mendidik kita supaya kita bertekun dalam doa. Jika jalan hidup kita mulus, kita tidak lagi mengandalkan Tuhan dan kita tidak dapat merasa kebaikan Tuhan

Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya (Ams 13:24)

Ada seekor anjing yang begitu setia pada tuannya. Meskipun tuannya sudah meninggal, dia menunggunya di kuburan tuannya. Melihat hal itu, teman-teman tuannya membangun sebuah gubuk di atas makam tuannya.

Anjing dapat setia kepada tuannya. Mengapa manusia yang diciptakan menurut gambar-Nya dan Roh Allah ada padanya tetapi tidak dapat taat dan setia? Refleksikan hal ini! 

Marilah kita menempatkan Allah di atas segala-galanya, menyerahkan doa dan karya kita hanya dalam satu nama yang kita puji dan muliakan, yaitu Tuhan kita Yesus Kristus, Juruselamat kita sehingga iman kita semakin diperbaharui-Nya dan kita dapat tetap taat dan setia kepada Tuhan.

(Sumber: Warta KPI TL No.110/VI/2013 » Renungan KPI TL tgl 25 April 2013, Ibu Meidy).

Senin, 31 Oktober 2016

06.20 -

Aku belajar setia



Monika dilahirkan pada tahun 331 di Tagaste, Algeria, Afrika Utara dari keluarga Kristen yang taat. Leluhurnya bukan penduduk asli Afrika, tetapi perantauan dari Fenisia. 

Dia menikah dengan Patrisius, seorang pegawai tinggi pemerintahan kota. Mereka dikaruniai 3 orang Anak: Agustinus, Navigius dan Perpetua (yang kelak memimpin biara).



Patrisius seorang kafir. Ia bertabiat buruk, suka naik pitam dan sering menertawakan usaha keras Monika untuk mendidik Agustinus menjadi pemuda Kristiani. 



Meskipun demikian, Monika tidak pernah membantah ataupun bertengkar dengan suaminya. Tak henti-hentinya ia berdoa agar suami dan puteranya segera bertobat dan menerima Kristus.

Pada tahun 371 Patrisius meninggal. Mendekati ajalnya ia bertobat dan minta dibaptis. Bahkan ibu Patrisius pun juga dibaptis.

Sementara itu, Agustinus belum juga mau menjadi seorang Kristen. Meski tidak ada tanda-tanda bahwa doanya dikabulkan Tuhan, Monika dengan setia tetap berdoa untuk Agustinus dengan setiap kali air mata mengalir dari kedua matanya.

Tuhan mendengarkan keluh kesah Monika dan menguatkannya dengan suatu mimpi. Dalam mimpinya, Monika melihat dirinya sendiri berada di atas sebuah mistar dari kayu, kemudian datanglah seorang pemuda yang berseri-seri dan bercahaya wajahnya.

Pemuda itu bertanya: “Mengapa ibu bersedih? Apa yang menyebabkan ibu menangis setiap hari?” Monika menjawab bahwa ia sedih karena tidak tahan melihat kebinasaan Agustinus, puteranya. 

Maka pemuda itu mengajak Monika untuk melihat dengan seksama. Segeralah terlihat oleh Monika bahwa Agustinus ada bersamanya di atas mistar, “Di mana engkau berada, ia pun berada.”

Telah lama waktu berlalu sejak mimpinya itu, namun Agustinus masih juga hidup dalam dosa. Oleh karena itu Monika terus-menerus datang kepada Bapa Uskup memohon-mohon dan mendesak-desak dengan air mata bercucuran supaya Uskup mau menengok dan menasehati Agustinus. 

Lama-kelamaan Uskup menjadi bosan dan kehilangan kesabarannya sehingga ia berkata: “Pergilah, jangan menggangguku. Demi hidupmu tak mungkinlah binasa anak itu karena sekian banyak air matamu!

Mendengar itu, Monika amat gembira sebab ia percaya pada apa yang dikatakan Bapa Uskup bahwa Agustinus tidak mungkin binasa.

Berdoa dengan tidak jemu-jemu. Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya (Luk 18:1-8)

Pada tahun 383 Agustinus bersama Alypius, sahabatnya hendak berangkat ke Roma dan Milan untuk mengajar. Monika tidak setuju, karena pada waktu itu Roma buruk keadaannya. 

Di pantai menjelang keberangkatannya, Monika menawarkan hanya dua pilihan kepada Agustinus: pulang dengannya atau Monika ikut dengan Agustinus ke Italia. 

Dengan tipu dayanya Agustinus meninggalkan ibunya seorang diri di kapel Beato Cyprianus yang terletak di tepi pantai, sementara ia dan Alypius berlayar ke Italia.

Monika amat sedih, seorang diri ia menyusul Agustinus ke Italia. Penderitaan berat ditanggungnya terutama karena kapal yang ditumpanginya hampir karam karena badai. Tuhan menguatkan Monika dengan janji-Nya bahwa ia akan bertemu dengan puteranya sesampainya di Italia.

Sesampainya di Italia, Monika bersahabat baik dengan Uskup Ambrosius, Uskup kota Milan. Pelan-pelan dia mengajak Agustinus untuk menghadiri kotbah-kotbah Uskup Ambrosius. 

Akhirnya Agustinus mulai tertarik dengan kotbah dan ajaran-ajaran Uskup Ambrosius hingga akhirnya dibaptis.

Dua bulan kemudian, yaitu bulan Juni tahun 387, Agustinus, Alypius dan Monika berencana pulang kembali ke Tagaste, Afrika. 

Dalam perjalanan pulang mereka singgah di Ostia, di dekat muara sungai Tiber. Monika dan Agustinus berdua saja berdiri bersandar pada jendela rumah persinggahan mereka. Mereka terlibat dalam pembicaraan yang sangat menarik mengenai seperti apa kiranya kehidupan para kudus di sorga. 

Diliputi rasa bahagia yang amat sangat Monika berkata kepada Agustinus: “Anakku, bagiku tidak ada lagi yang dapat memukauku dalam kehidupan ini. Apa lagi yang dapat kuperbuat di dunia ini? Untuk apa aku di sini? Entahlah, tak ada lagi yang kuharapkan dari dunia ini. Ada satu hal saja yang tadinya masih membuat aku ingin tinggal cukup lama dalam kehidupan ini, yaitu melihat engkau menjadi Katolik sebelum aku mati. Keinginanku sudah dikabulkan secara melimpah dalam apa yang telah diberikan Allah kepadaku: Kulihat kau sudah meremehkan kebahagiaan dunia ini dan menjadi hamba-Nya. Apa yang kuperbuat lagi di sini?”

Lima hari kemudian Monika jatuh sakit. Kepada kedua putranya, Agustinus dan Navigius, Monika berpesan: “Yang kuminta kepada kalian hanyalah supaya kalian memperingati aku di altar Tuhan di mana saja kalian berada. Sebab aku telah melayani altar itu tanpa melewati satu hari pun.”

Pada hari yang kesembilan Monika wafat dalam usia 56 tahun.

Santa Monika dihormati sebagai pelindung ibu rumah tangga. Pestanya dirayakan setiap tanggal 27 Agustus. 

Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku (Luk 9:23)

Santa Monika adalah salah satu contoh teladan iman Katolik, dia belajar setia untuk menyangkal diri dan memanggul salibnya setiap hari … dia berdoa tak jemu-jemunya selama dua puluh tahun. Akhirnya dia memetik buahnya, yaitu keselamatan bagi orang-orang yang dikasihinya.

(Sumber: Warta KPI TL No. 85/V/2011 » Renungan KPI TL tgl 10 Maret 2011, Dra Yovita Baskoro, MM).