Tampilkan postingan dengan label *Kebaikan*. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *Kebaikan*. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Juli 2020

04.07 -

Apa arti Allah bagi tindakan kita?

Jika Allah adalah pencipta seluruh semesta, Ia jugalah tolok ukur dari segala sesuatu yang ada. Semua tindakan diukurkan pada Allah dan rencana-Nya. inilah cara bagaimana kita dapat mengetahui perbuatan yang baik. 

Singkatnya: Allah menulis DNA kehidupan kita; kita bebas memilih, mengikuti petunjuk, yang Ia jadikan sebagai bagian dari diri kita, sehingga kita memenuhi potensi yang Allah anugerahkan kepada kita. 

Apa yang Allah inginkan bagi kita dan atas kita adalah norma dan aturan dari hidup yang baik dan benar. Dengan solidaritas, umat Kristen bertindak karena Allah lebih dulu memperlakukan mereka dengan penuh kasih. 

(Sumber: Docat 3 » Kompendium ASG 20, 25, 26; KGK 1694).

Jumat, 22 Mei 2020

08.16 -

Kebaikan Tuhan dalam kehidupan



Di awal tahun 2020, dunia digegerkan dengan kemunculan virus Corona yang kemudian dikenal dengan nama COVID-19. Bermula dari Wuhan, Tiongkok, dalam dua bulan, virus ini dengan cepat menyebar ke lebih dari 32 negara. Puluhan ribu orang terinfeksi dan ribuan orang meninggal akibatnya. Karena kejadian luar biasa ini, WHO menetapkan COVID-19 sebagai wabah global

Dengan situasi pandemi ini, hidup kita banyak mengalami perubahan. Biasanya jika berjumpa dengan keluarga atau sahabat, kita langsung berjabat tangan atau cipika-cipiki, sekarang ada perasaan takut sehingga menjaga jarak (social distancing), memakai masker dan hand sanitizer untuk menjaga kebersihan. Hal ini menyebabkan ketidak nyamanan dalam kehidupan

[wabah (KBBI) » penyakit menular yang berjangkit dengan cepat, menyerang sejumlah besar orang di daerah yang luas; pandemi (KBBI) » wabah yang berjangkit serentak di mana-mana, meliputi daerah geografis yang luas] 

Bahkan untuk mencegah penyebaran penyakit atau terkontaminasi diadakan (1) PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), yaitu pembatasan jam keluar rumah. Di Balikpapan jalan-jalan ditutup pada jam-jam tertentu, jalan-jalan dibuka antara jam empat sampai jam sembilan pagi, antara jam tiga sore sampai jam delapan malam sehingga kehidupan kota tidak mengalami sukacita lagi. (2) WFH (Work From Home). Biasanya, di kantor saya penuh dengan semangat/motivasi/inovasi, namun dengan kondisi seperti ini kemungkinan kantor saya juga akan mengalami kesulitan untuk bertahan jika pandemi ini tidak segera berakhir. Ini sungguh-sungguh menimbulkan kekuatiran dan ketakutan. 

Menghadapi situasi seperti ini bagaimanakah sikap anak Tuhan? Hendaknya kita berhikmat, jangan sampai kita kehilangan iman, kehilangan pengharapan akan kuasa Allah. Tetaplah tekun berdoa, membaca Kitab Suci dan memuji dan menyembah-Nya lebih dan lebih dalam lagi agar memperoleh kekuatan yang berasal dari-Nya. Jangan masukkan “Virus Fideisme” atau kabar negatif ke dalam pikiran kita, tetapi perkatakanlah firman iman secara benar (Rm 10:8). 

Saat saya harus stay home karena pandemi ini, saya belajar percaya bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Rm 8:28). Saat ini saya merasakan berkat Tuhan yang lainnya, yaitu: saya semakin dekat dengan istri dan anak-anak, saya mempunyai kesempatan mengajarkan pada anak-anak untuk mempunyai sikap peduli. Ada satu rahmat lagi, kami lebih menghargai Ekaristi. Ekaristi adalah embun yang menyejukkan hati. 

Biasanya kami sekeluarga berdoa malam bersama. Sejak adanya pandemi ini, kami sekeluarga dapat mengikuti pujian dan penyembahan melalui Line voice di sebuah komunitas. Melalui pujian penyembahan ini, saya memperoleh kekuatan baru untuk menghadapi masa depan yang masih belum pasti ini. 

Marilah kita belajar dari Yoh 20:19-23

Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu (2A) berkumpullah (1) murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka (5A) takut kepada orang-orang Yahudi. 

Pada waktu itu (2B) datanglah (3A) Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!" Dan sesudah berkata demikian, (3B) Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu (5B) bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga (4A) sekarang Aku mengutus kamu." Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: (4B) "Terimalah Roh Kudus. " 

» (1) Menghadapi pandemi Corona seringkali kita seperti murid-murid Yesus, takut keluar rumah, takut bangkrut, takut di PHK, takut kelaparan. (2AB) Karena hanya fokus pada masalah, tidak mencari Allah (Ayb 35:10) maka kehadiran-Nya tidak kita sadari (Mat 18:20 » Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka). Ingatlah! Tuhan Yesus menyertai kita senantiasa sampai kepada akhir zaman (Mat 28:20). 

(3AB) Apa makna dari penampakan ini? (Yesus berdiri dan menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya). Luka-luka itu bukti pengorbanan-Nya (Mat 1:21), bukti kasih-Nya (Yes 30:18; Yoh 15:13). Lebih dari itu, luka-luka itu menunjukkan ketaatan-Nya pada kehendak Bapa (Ibr 5:8). 

(4AB) Misi murid adalah meneruskan misi Yesus dari Bapa. Misi tersebut adalah membawa kabar baik bagi keselamatan dunia ini. (5AB) Roh Kudus akan mengubah ketakutan menjadi keberanian dan keterbukaan, menjadi utusan yang disertai oleh wibawa sang pengutus sendiri. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 181/V/2020 » Renungan KPI TL – ONLINE Tgl 30 April 2020, Bapak Charlie).

Senin, 26 Agustus 2019

00.10 -

Yesus tersenyum padaku



Ini cerita tentang Elisabeth Sutedja: cantik, pinter, kaya, lulusan ITB, Harvard cum laude, jadi Presiden marketing di Boeing, hidup seperti presiden. Tiba-tiba masuk biara. 

Salah satu cerita Elisabeth yang pernah dia bagikan

Salah satu yang selalu aku sampaikan di doa pagi: “Tuhan, berilah aku kesempatan hari ini berbagi kasih.” Tuhan selalu mengabulkan. Ada saja yang bisa aku lakukan: bantu menyeberangkan orang tua, mendamaikan anak-anak tengkar, bantu tetangga membereskan kebun, menyapa orang-orang yang kujumpai. Selain hal-hal biasa, Tuhan kadang-kadang memberi kesempatan luar biasa. 

Pada tanggal 20 Desember 2012, Setelah misa pagi di Gereja St Anthony, biasanya aku pulang, tapi pagi itu aku jalan kaki mengambil jalan lain lewat Fenway Park, taman besar-indah di pusat Boston, ingin menikmati pagi-sandwich di satu kios. 

Saat itu musim dingin, suhu minus 10° C. Semalam salju turun lebat, tebalnya di taman 15 cm.

Sedang menikmati sandwich, pemandanganku ke gazebo di taman. Aku melihat wanita tua memandang ke arahku, seolah ingin menarikku. Wanita itu berusia sekitar 60 tahunan, wajahnya putih penuh dengan kerut dan pakaiannya sangat sederhana.

Aku tanya penjual makanan, apakah dia kenal wanita itu. Jawabnya, "Tidak, aku belum pernah melihatnya" Aku membeli sepotong sandwich dengan segelas susu panas dan membawanya ke gazebo.

"Hai ... Saya Elisabeth Sutedja" sapaku mengulurkan tangan kanankuDia diam tak menjawab dan tak menerima uluran tanganku. Matanya tajam memandang sandwich dan susu panas yang aku bawa. “Maukah kamu bergabung denganku?” kataku sambil menyerahkan sandwich dan susu panas kepadanya. Dengan cepat dia mengambilnya dan menyantapnya dengan lahap. Nampaknya dia sudah lapar sekali. 

Selesai makan, dia mulai memandang dan mengamatiku. Pandangannya terarah ke Rosario kecil yang kupakai di pergelangan tangan kiriku. "Kristen?" Tanyanya. "Ya ... Katolik." jawabku. "Sial!" Katanya keras sambil mencibirkan bibirnya. "Kenapa sial?" Tanyaku. "Aku tidak percaya pada Tuhan!" Jawabnya. "Kenapa kamu tidak percaya?" Tanyaku lagi. "Tidak ada Tuhan!" Jawab jawabnya tegas. "Ada Tuhan!" Kataku halus. "Buktikan" pintanya. 

Aku memutar otak, cari cara buktikan Tuhan itu ada. Aku berdoa "Yesus tolong aku" Dan Yesus menolong. 



Aku perhatikan tangan dan tubuhnya menggigil. Dia pasti sangat kedinginan! Aku lepaskan mantel tebal yang aku pakai sambil berkata: "Ini untukmu" kataku sambil mengenakan mantel itu pada tubuhnya. Dia diam, matanya kini memandangku dengan sayu. Aku lihat air matanya menetes keluar. Aku merasa iba, aku peluk dia, dia menangis keras. "Kenapa kamu melakukan ini?" Tanyanya sambil menangis. 

Yesus adalah Tuhan. Dia tahu kamu kedinginan. Jadi Dia memintaku untuk memberikan mantel ini padamu! ”Jawabku. 

Matanya berlinang air sambil meminta meraba mukaku sambil berkata pelan: "Kamu benar-benar seorang malaikat. Anda memberi saya makanan ketika saya lapar. Lalu Anda memberi saya mantel Anda ketika saya kedinginan!" Aku kaget ... Bagaimana dia dapat mengucapkan kata-kata indah itu?

Sesuatu terjadi pada diriku! Aku merasakan sukacita yang sungguh besar! Aku merasa Yesus tersenyum padaku! Aku berjalan pulang tanpa mengenakan mantel, namun aku tak merasakan dingin samasekali

Apakah kita siap menjadi Elisabeth-elisabeth yang lain?


Minggu, 25 Agustus 2019

23.50 -

Nama baik

Ada seorang gadis yang hamil di luar nikahKarena takut sang pacar dianiaya oleh ayahnya, si gadis memberitahu keluarganya, bahwa biksu dari kelenteng dekat rumahnyalah yang menghamili dia.

Akhirnya keluarga ini bersama penduduk desa mendatangi si biksu dan memarahinya habis-habisan. Mencaci maki dan meminta si biksu menerima anak tersebut. 

Si biksu hanya terdiam tanpa menjawab. Kata-kata yang keluar dari mulutnya hanya, "Oh begitu. Baiklah" 

Kemudian anak itu diterimanya. Sejak hari itu, biksu ini berusaha meminta susu dan menggunakan sedikit uangnya untuk kehidupan si anak ini.

Berita ini menyebar dengan cepat dan pamor biksu ini semakin buruk. Akibatnya makin banyak orang membenci biksu ini.

Hari demi hari lewat. Gadis /ibu si anak hidup dalam kegelisahan karena merasa bersalah. Dia merasakan siksaan batin selama 1 tahun. Akhirnya si gadis mengakui bahwa ayah dari anak itu bukan si biksu.

Keluarga ini kemudian mendatangi si biksu. Si biksu terlihat sangat kurus. Sedangkan anak kecilnya terlihat sehat dan gemuk. Keluarga ini meminta maaf dan dan meminta kembali anak tersebut. Biksu hanya tersenyum dan berkata, "Oh begitu ya. Baiklah"

Keluarga ini bingung dan bertanya "maaf anda telah kami rugikan sampai seperti ini, kenapa anda masih sebaik ini pada kami? Nama baik anda rusak oleh kami. Kenapa saat itu anda tidak membela diri?"

Biksu tersenyum dan menjawab "Sebagai seorang biksu, saya tidak seharusnya terlalu memperdulikan hal seperti itu. "Nama baik ... Apalah artinya buat kami? Diejek dan di fitnah juga tidak masalah, kalau dengan menjaga anak itu, aku bisa meringankan beban si gadis dan menyelamatkan 1 nyawa. Bukankah saya sudah berbuat baik? Lagipula kalaupun saya berusaha membenarkan diri saya, tidak banyak orang yang akan percaya. Karena itu untuk apa menyusahkan diri sendiri dan hidup dibawah perkataan orang lain?"

Mereka semua terdiam. Dan biksu ini melanjutkan: "Seseorang jikalau dari awal percaya, dia akan tetap percaya kita. Kalau dari awal dia tidak percaya. Kita berusaha sekeras apapun dia tidak akan percaya. Bukankah lebih baik aku diam dan tidak perlu membela diriku? Manusia yang berpikir negatif itu akan selalu menghakimi kita. Saat kita berbuat baik, kita dibilang punya tujuan tertentu. Saat kita salah, mereka hanya akan menambah garam pada luka. Tapi toh setelah semuanya lewat, hasil dari perjuangan kita yang mereka lihat. Karena itu biarlah kita selalu berbuat baik. Dan biarlah waktu yang membuktikan. Apakah kita benar-benar baik, atau hanya pura-pura baik.

"Saat kita menanam padi. Rumput selalu ikut tumbuh disana. Tapi saat menanam rumput. Tidak pernah ada padi disana."

Lihatlah mereka yang mengaku beragama, tapi jika perkataan dan perbuatannya masih menyakiti orang lain, maka ada yang salah dengan caranya beragama.

Karena agama apa pun mengajarkan untuk saling mengasihi satu sama lain, bukan mencaci, menghina dan membenci...

Jumat, 05 Juli 2019

18.10 -

Buah hidup yang baik



Meskipun kebaikan tidak dapat menyelamatkan manusia, namun kebaikan atau perbuatan yang baik akan memperoleh buah atau berakibat hal-hal yang positif dalam kehidupan seseorang yang melakukannya

Penderitaan dan kesesakan akan menimpa setiap orang yang hidup yang berbuat jahat, pertama-tama orang Yahudi dan juga orang Yunani, tetapi kemuliaan, kehormatan dan damai sejahtera akan diperoleh semua orang yang berbuat baik, pertama-tama orang Yahudi, dan juga orang Yunani (Rm 2:9-10).

Berdasarkan pemahaman ini, maka kita sebaiknya selama hidup di dunia ini berusaha untuk melakukan kebaikan yang sesuai dengan standar kebenaran firman Tuhan. 

Beberapa hal yang akan diperoleh orang baik:

1. Kemuliaan

Orang yang hidup baik dan benar akan memperoleh kemuliaan. Maksudnya adalah apabila kita hidup benar dan baik, maka setiap orang akan memujinya dan mendapat penghargaan dari orang lain dan dari Allah sendiri. 

Jika manusia memuji kita karena berbagai prestasi dan kesuksesan yang kita miliki, maka hal tersebut adalah hal yang biasa. 

Namun, jika kita dipuji oleh Allah, maka pujian itu merupakan sebuah bentuk pengakuan Allah atas kepatuhan kita melakukan firman Tuhan

Penghargaan yang Allah berikan kepada setiap orang yang patuh kepada perintah-Nya merupakan kemuliaan yang diberikan karena berkaitan dengan hidup orang tersebut dengan perbuatan baiknya.

2. Penghormatan

Kehidupan yang baik akan membangun sebuah wibawa dan teladan kehidupan yang kuat bagi orang-orang yang melihatnya sehingga muncul sebuah respek. 

Ada orang yang dihormati karena pangkat, jabatan dan kekayaan, namun penghormatan yang dilandaskan pada hal-hal tersebut bersifat sementara dan tidak dapat bertahan lama. 

Apabila kita dihormati karena hidup benar, maka penghormatan yang diberikan akan bersifat kuat dan mengikat. 

Para pemimpin yang dihormati karena jabatan atau pangkat akan selesai atau berhenti setelah pangkatnya berakhir. Para pemimpin yang dihormati karena kekayaannya akan selesai atau berhenti setelah kekayaannya habis. 

Tetapi seorang pemimpin yang dihormati karena kebaikannya akan tetap dihormati meski kekayaan, pangkat atau jabatannya berakhir. 

3. Damai sejahtera

Orang yang berbuat baik akan merasakan ketenangan dalam hidupnya, karena dirinya tidak dibebani oleh banyak hal, seperti: amarah, kebencian, hawa nafsu dan dendam. Kehidupan dari orang tersebut akan dikuasai oleh sukacita dan damai sejahtera dari Allah yang melampaui segala akal.

Orang-orang yang berbuat baik secara mental dan psikis akan mampu mengontrol emosinya sehingga dia akan menjalani dan menikmati kehidupan yang penuh sukacita.

Meskipun ada banyak masalah dan persoalan kehidupan yang dialami oleh orang yang berbuat baik, namun kekuatan damai sejahtera dari Allah yang melampaui segala akal itu akan memberi kesanggupan untuk tetap hidup dalam ketenangan dan damai.

Jumat, 04 Januari 2019

06.08 -

Kebaikan hati mengalahkan ilmu Fengshui


"Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu. Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya (1 Ptr 3:10-11).


Zhao Zi Hao seorang pengusaha sukses di China ... suatu ketika menghabiskan banyak uang membeli sebidang tanah di pinggiran kota dan membangun sebuah villa bertingkat tiga. 

Di dalamnya ada kolam renang yang mengesankan, dan sebatang pohon Lychee berusia seratus tahun di halaman belakang. Sebenarnya ... dia membeli properti itu hanya karena pohon ini. Istrinya suka sekali makan buah lychee.

Selama renovasi, teman-temannya mendesaknya untuk meminta pendapat master Fengshui.  Zhao Zi Hao tidak pernah percaya pada Fengshui namun cukup mengejutkan ketika dia setuju menghubungi seorang master Fengshui dari Hong Kong. 

Grand Master itu adalah Master Cao yang telah berpengalaman selama tiga puluh tahun dan sangat terkenal dalam dunia Fengshui. lalu Zhao Zi Hao mengantar sang Guru ke villanya di daerah pinggiran kota.

Sepanjang jalan ... ketika mobil di belakang mereka mencoba menyalip, Zhao Zi Hao memberi jalan. Master dengan tertawa berkomentar: "Big Boss Zhao, Anda benar-benar mengemudi dengan aman." 

Zhao Zhi Hao tertawa: "Biasanya orang yang menyalip memiliki beberapa masalah mendesak untuk diurus, jadi kita seharusnya tidak menahannya."

Sesampainya di sebuah kota kecil, jalan semakin sempit sehingga Zhao Zi Hao memperlambat jalan mobil. Seorang anak sambil tertawa tiba-tiba melesat keluar dari sebuah gang dan saat anak itu berlari melintasi jalan, Zao menghentikan laju mobilnya. 
Lalu dia terus menunggu sambil menatap ke gang ... seolah-olah sedang menunggu sesuatu. Dan betul saja ... tiba-tiba seorang anak lain melesat keluar, mengejar anak tadi yang di depannya.

Master Zao terkejut dan bertanya: "Bagaimana Anda tahu akan ada anak lain yang mengikuti?" Zhao Zi Hao mengangkat bahu: "Sebenarnya, anak-anak selalu mengejar satu sama lain dan tidak mungkin seorang anak berada dalam kegembiraan seperti itu tanpa teman bermain." 

Master Cao memberinya jempol besar dan tertawa terbahak-bahak: "Anda sangat perhatian sekali! "

Sesampainya di Villa, mereka turun dari mobil. Tiba-tiba sekitar 7 - 8 burung berterbangan dari halaman belakang. Melihat hal itu, Zhao berkata kepada Master Cao: "Jika Anda tidak keberatan, tolong tunggu sebentar."

"Ada apa?" Master Cao tercengang.

"Oh, tidak apa-apa hanya mungkin ada beberapa anak yang sedang mencuri lychee di halaman belakang. Jika kita masuk sekarang mungkin akan membuat mereka ketakutan, jangan mengambil risiko sehingga menyebabkan ada anak yang mungkin akan jatuh dari Pohon Lychee." Zhao menjawab dengan humor.

Master Cao terdiam beberapa saat sebelum berkata: "Sejujurnya ... rumah ini tidak memerlukan evaluasi Fengshui lagi."

Sekarang giliran Zhao yang terkejut: "Kenapa begitu?"

"Setiap tempat yang Anda miliki, secara alami telah menjadi properti dengan Fengshui yang paling baik dan menguntungkan." 

Kebaikan hati mengalahkan ilmu Fengshui

Bila pikiran dan kebaikan hati kita memprioritaskan kedamaian dan kebahagiaan orang lain, yang beruntung bukan hanya orang lain, tapi juga diri kita sendiri. Bila seseorang memiliki kebaikan hati dan memperhatikan orang lain setiap saat, maka orang ini secara tidak sadar telah menjadi orang suci.

Orang suci sebenarnya adalah orang yang selalu mendahulukan segala sesuatu untuk manfaat orang banyak sebelum menjadi tercerahkan.

Nah itu pendapat master Cao untuk orang yang memiliki kebaikan hati.

Rabu, 21 November 2018

04.59 -

Kisah sebuah garis

 1

 2

Seorang Guru membuat garis sepanjang 1m di papan tulis, lalu berkata : "Anak-anak, coba perpendek garis ini!"

Anak pertama maju ke depan, ia menghapus 20 cm dari garis itu menjadi 80 cm. Pak Guru mempersilakan anak ke 2. Iapun melakukan hal yang sama, sekarang garisnya tinggal 60 cm. Anak ke 3 dan ke 4 pun maju kedepan melakukan hal yang sama, hingga garis itu tinggal 20 cm.

Terakhir, seorang anak yang bijak maju kedepan. Ia tidak mengurangi garis yang sudah tinggal 20 cm, namun membuat garis baru sepanjang 120 cm, lebih panjang dari garis yang pertama

Sang Guru menepuk bahunya, "Kamu memang bijak, untuk membuat garis itu menjadi pendek, tak perlu menghapusnya, cukup membuat garis lain yang lebih panjang, maka garis pertama akan menjadi lebih pendek dengan sendirinya."

Pesan moralnya :
Untuk menjadi yang terbaik tak perlu menjatuhkan, menyingkirkan atau menjelekkan pihak lain. Cukup lakukan kebaikan yang lebih baik secara konsisten.

Biarkan waktu yang akan membuktikan kualitas kita

- Permata akan tetap bersinar meskipun terpendam dalam lumpur yang gelap pekat.

- Majulah tanpa menyingkirkan, naiklah tinggi tanpa menjatuhkan, jadilah baik tanpa harus menjelekkan dan jadilah benar tanpa harus menyalahkan orang lain.

Rabu, 14 November 2018

05.12 -

Tindakan kebaikan



Seperti ribuan remaja lainnya, Fiona sedang berusaha untuk mendapatkan pekerjaan. Dia sudah berusaha melamar ke sana ke mari namun belum berhasil. Hari ini dia mendapat panggilan untuk wawancara di sebuah pabrik.

Ia bergegas pergi menggunakan bis dan melihat ada beberapa gadis yang lebih cantik dan berpakaian lebih baik darinya. Mereka turun di pemberhentian yang sama. 

Dalam hati ia berkata, "Wah barangkali mereka juga ingin melamar pekerjaan yang sama denganku. Ya Tuhan, bantulah saya, keluarga saya membutuhkan uang dan saya butuh sekali pekerjaan ini"

Tepat pada saat itu, seorang wanita setengah umur turun dari bis, tiba-tiba ia tergelincir jatuh. Anak-anak gadis yang lain melirik kearahnya namun karena mereka takut ketinggalan jadwal wawancaranya mereka malahan mempercepat langkah mereka menjauh dari wanita malang tersebut. Wanita itu tampak pusing. Topi, kaca mata dan dompetnya tergeletak di kakinya. 

Fiona tanpa berpikir panjang langsung berlari membantu memunguti semua barang milik wanita itu, dan ia dengan tulus menuntun wanita tersebut berjalan bersamanya secara perlahan untuk mengantarkan wanita itu masuk ke kantornya.

Ketika berjalan menuju kantor, wanita itu bertanya apa pekerjaan Fiona yang mana ia bercerita bahwa ia datang ke pabrik tersebut untuk melamar pekerjaan. Setibanya di kantor, wanita itu berterima kasih atas kebaikan hati Fiona menolongnya dan Fiona pun diantar oleh satpam ke ruang meeting tempatnya menunggu proses wawancara, benar saja gadis-gadis cantik yang bertemu dengannya di bi situ sudah berduduk rapih disana. 

Setelah mengikuti beberapa prosedur, test dan pengisian formulir akhirnya Fiona diantar ke kantor manajer untuk menjalani proses wawancara terakhir dan ia sangat terkejut melihat wanita yang tadi pagi ditolongnya sedang duduk di sana.

Wanita itu berkata: "Saya sudah menunggumu. Lowongan yang tersedia adalah resepsionis. Seorang gadis cerdas yang penuh perhatian seperti Anda memenuhi syarat untuk pekerjaan itu." Fiona pun diterima bekerja di kantor Pabrik.

Setiap kebaikan yang walaupun dilakukan tanpa pamrih pasti akan menghasilkan kebaikan lainnya bagi diri kita. Mungkin tidak secara langsung namun bisa saja terjadi di masa mendatang ketika kita bahkan sudah melupakannya. Bisa juga pembalasan itu tidak datang pada saat kita masih hidup di dunia. Tapi Tuhan punya mata, ia akan melihat serta akan membalas semua kebaikan yang kita lakukan sekalipun pada orang-orang terkecil sekalipun.

Membuat tempat hidup kita menjadi lebih baik pun sesunguhnya adalah perbuatan baik, Dan itu akan membuat hidup kita lebih bahagia. Di dunia ini … yang terpenting sesungguhnya adalah bukan apa yang kita dapatkan dengan perbuatan baik kita. Tapi apa yang telah kita berikan.

Mengapa memberi itu demikian pentingnya? Sebab Kebahagiaan saat kita menerima itu hanya sementara. Sedangkan Kebahagiaan saat memberi akan terus menerus seumur hidup. Apalagi jika pemberian kita mampu membuat orang lain bahagia.

Apakah melakukan kebaikan itu harus sesuatu yang besar? Jawabannya kalau mampu silahkan, namun kebaikan itu sesungguhnya selalu bisa kita lakukan kepada siapa saja, kapan pun itu. 

Ketika kita memperhatikan orang-orang disekitar kita yang berkekurangan. Sesungguhnya banyak kesempatan bagi kita untuk berbuat kebaikan. Ketika kita berbelanja dengan di pasar dan kita melihat yang menjual sudah tua. Kita tidak menawar harga pun sesungguhnya adalah sebuah kebaikan. Ada banyak kebaikan yang bisa kita lakukan.

Berbuat kebaikan itu jangan dilihat sebagai sebuah “kebaikan”, itu haruslah menjadi sebuahkebiasaan”. Bukan karena Bisa tapi karena Biasa.

Berbuat baik itu jangan dilihat hitungannya ... sudah berapa banyak ya. Tapi lihatlah dari ketulusan hati kita. 

Berbuat kebaikan itu belum tentu baik menurut orang lain. Biarkanlah.

Berbuat kebaikan itu jangan ingin melihat hasilnya, prosesnya itu lebih penting, ada sebab, pasti ada akibat.

Sekalipun balasan itu tidak di dunia ini, tidak dari orang yang kita bantu, atau dari orang lain. Tapi balasan itu juga bisa datang dari Tuhan pada saat yang kita tidak pernah duga dan pikirkan. 

Jumat, 20 Juli 2018

14.14 -

Pesan alam




Kalau ingin "menangkap" ayam, "jangan dikejar" nanti kita akan lelah dan ayampun makin menjauh. Berikanlah ia beras dan makanan, nanti dengan mudah ia datang dengan rela.

Begitulah rejeki, "melangkahlah dengan baik, jangan terlalu kencang mengejar, ngotot memburu, nanti kita akan lelah tanpa hasil. Keluarkanlah sedekah, nanti "rezeki akan datang menghampir tepat waktu".

Kalau ingin "memelihara" kupu-kupu, jangan tangkap kupu-kupunyapasti ia akan terbang. Tetapi tanamlah bunga​, maka kupu-kupu akan datang sendiri dan membentangkan sayap-sayapnya yang indah. Bahkan bukan hanya kupu-kupu yang datang, tetapi kawanan yang lain juga datang: lebah, capung dan lainnya juga akan datang menambah warna warni keindahan.​

Sama halnya dalam kehidupan di dunia ini. ​Ketika kita menginginkan​ "kebahagiaan" dan "keberuntungan", tanamkan kebaikan demi kebaikan, kejujuran demi kejujuran, maka kebahagiaan dan keberuntungan akan datang karena dianugerahkan oleh Allah.
Oleh karena itu, selagi kita masih diberi hidup, mari kita membangun taman-taman bunga kita, bunga kebajikan dan bunga kejujuran .

Senin, 27 Maret 2017

08.15 -

Laut kehidupan dan kematian

Di Palestina ada dua laut. Keduanya sangat berbeda yang satu dinamakan laut Galilea yakni sebuah danau yang luas dengan air yang jernih dan bisa diminum. Ikan dan manusia berenang dalam danau tersebut. Danau itu juga dikelilingi oleh ladang dan kebun hijau. Banyak orang mendirikan rumah disekitarnya.

Laut yang lain dinamakan laut mati, dan sesuai dengan namanya segala sesuatu yang ada di dalamnya mati. Airnya sangat asin sehingga kita bisa sakit bila meminumnya. Tak seorang pun ingin tinggal di sekitar danau ini karena baunya yang tidak sedap.

Jadi yang menarik, ada satu sungai yang mengalir ke keduanya tapi apa yang membuat keduanya berbeda? Bedanya adalah danau yang satu menerima dan memberi, sedangkan yang satunya menerima dan menyimpan

Sungai Yordan mengalir ke danau Galilea dan meneruskannya ke danau lainnya untuk dimanfaatkannya.

Sungai Yordan kemudian mengalir ke laut mati, namun tidak pernah ke luar lagi. Laut mati secara egois menyimpan air sungai Yordan bagi dirinya sendiri.

… adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima … (Kis 20:35b)

(Sumber: Warta KPI TL No. 09/I/2005 » Laut kehidupan dan kematian, Vacare deo edisi November/Tahun V/2003).

Senin, 06 Maret 2017

19.31 -

Yesus tak punya tangan lagi di dunia ini



Ketika Bob Butler sedang bekerja di rumahnya, tiba-tiba dia mendengar jeritan panik dari seorang wanita yang berada di sebelah rumahnya. Ia menggulirkan kursi rodanya menuju rumah itu, tetapi semak-semak membuatnya tidak dapat masuk. Lalu ia turun dari kursi rodanya dan merangkak, pikirnya: “Aku harus ke sana, tidak peduli betapa sakitnya.”

Ketika Butler melihat seorang anak kecil (Stephanie Hanes, 3 tahun) tanpa lengan tercebur ke dalam kolam renang, dia langsung terjun ke dasar kolam dan membawanya naik, wajah anak itu membiru dan tidak ada denyut nadinya. 

Sementara ibu Stephanie menelpon para medis, Butler melakukan nafas buatan. Karena tak berdaya, maka ibu Stepanie menangis dan memeluk bahu Butler

Butler berkata: “Jangan kuatir, saya sudah menjadi tangannya untuk ke luar dari kolam renang. Sekarang saya juga menjadi paru-parunya.” 

Beberapa detik kemudian, Stephanie terbatuk-batuk dan mulai menangis. Sambil memeluk Stephanie, ibunya bertanya: “Bagaimana anda tahu bahwa anak saya baik-baik saja?” 

Jawab Butler: “Saya tidak tahu. Ketika kaki saya terkena ranjau di Vietnam tahun 1965, saya diseret oleh seorang gadis Vietnam. Dia berjuang menyeret saya ke desanya sambil berbisik dengan bahasa Inggris yang terpatah-patah, ‘Jangan kuatir, tidak apa-apa, anda dapat hidup. Saya akan menjadi kaki anda.’ Kata-kata itulah yang membawa harapan bagi jiwa saya dan saya ingin melakukan hal yang sama untuk Stephanie.”

(Sumber: Warta KPI TL No.120/IV/2014).

19.15 -

Rahasia kehidupan



Ada seorang buta sedang berjalan dengan tongkatnya di malam hari. Tangan kanannya memegang tongkat, sementara tangan kirinya membawa lampu. Pemandangan ini cukup mengherankan bagi seorang pria yang kebetulan melihatnya. 

 Supaya tidak penasaran, pria itu bertanya: “Mengapa anda berjalan membawa lampu?” Orang buta itu menjawab: “Sebagai penerangan.” 

Dengan heran pria itu bertanya lagi: “Tetapi, bukankah anda buta dan tidak bisa melihat jalan meski ada lampu penerangan?” 

Orang buta itu tersenyum sambil menjawab: “Meski saya tidak bisa melihat, orang lain melihatnya. Selain membuat jalanan menjadi terang, hal ini juga menghindarkan orang lain untuk tidak menabrak saya.”

Apa yang kita lakukan untuk orang lainsebenarnya kita sedang melakukan untuk diri kita sendiri.

(Sumber: Warta KPI TL No.120/IV/2014).

Minggu, 30 Oktober 2016

23.06 -

Berbuat baik




Suatu malam di sebuah kota di Philadelphia, sepasang suami-istri yang sudah tua masuk ke sebuah hotel kecil. Terjadilah percakapan antara tamu dan pengurus hotel.

Tamu: “Masih ada kamar untuk saya dan istri saya?”



Petugas: “Maaf, pak. Penuh semua. Di kota ini kebetulan ada tiga pertemuan besar, sehingga semua hotel penuh. Tetapi tidak mungkin saya menolak Bapak dan Ibu dan menyuruh pergi tengah malam begini, sementara di luar hujan dan badai. Kalau anda mau, anda boleh menginap di kamar saya. Akan saya bereskan kamar saya.”



Pagi harinya, ketika hendak membayar, tamu itu berkata: “Kamu seharusnya bukan menjadi pegawai biasa begini, melainkan menjadi manajer hotel besar bertaraf internasional. Mungkin saya akan membangun hotel tersebut dan kamu menjadi manajernya.” Si petugas tersenyum.



Dua tahun kemudian, ia seperti disambar petir ketika menerima undangan untuk datang ke New York dan menerima kunci hotel terkenal, tempat ia menjadi manajernya: Hotel Waldorf-Astoria. Pak Tua yang telah menginap di kamarnya ternyata tak lain adalah William Waldorf Astor, hartawan masyur itu.


(Sumber: Warta KPI TL No. 84/IV/2011 » Cerita Kecil Saja, Stephie Kleden-Beetz).

Senin, 10 Oktober 2016

18.42 -

Perbuatan baik




Suatu hari saya ada pelayanan di Surabaya. Untuk menghindari kemacetan di Jakarta, saya berangkat jam empat pagi. Sesampainya di airport, saya menunggu resto dibuka. Begitu resto dibuka, saya langsung masuk, memilih makanan dan membayarnya. Lalu saya memilih meja paling pojok supaya dapat melihat suasana di dalam resto itu. 

Tiba-tiba masuklah empat pemuda dengan penampilan acak-acakan, rambutnya gondrong, memakai anting-anting, bajunya tidak berlengan sehingga tangan yang penuh dengan tato kelihatan, celana jeansnya robek, suaranya besar. Suasananya begitu gaduh, seakan-akan para pengunjung yang lainnya tidak dianggap manusia. 



Melihat hal itu saya sedikit tegang karena takut terjadi sesuatu, maka langsung saya percepat makan saya. Pemuda itu duduk dengan kakinya diangkat ke kursi sambil makan sup buntut dan minum anggur. 



Tiba-tiba datanglah seorang anak kecil menyapa pemuda tersebut dengan sopan: “Selamat pagi om.” Tetapi pemuda itu tidak menjawabnya. 



“Boleh saya semir sepatunya om?” Jawab pemuda itu: “Kalau lu mau semir sepatu gua, berapa gua mesti bayar?” Jawab anak itu dengan sopan: “Terserah om.” 



Kata si pemuda lagi: “Kalau gua nggak bayar gimana? Jawab si anak: “Kalau om tega ya ndak apa-apa.” “Ya sudah, kerjain sepatu gua, tapi lu jangan copot sepatu gua.”


Dengan tenang, anak itu menurunkan kotak semirnya, kemudian dia jongkok dan mengambil saputangan putih bergaris biru yang bersih dan rapi dari kantongnya untuk membersihkan debu yang melekat di sepatu itu. 

Setelah selesai mengelap sepatu tersebut, saputangan itu dimasukkan lagi ke kantongnya, lalu dibukanya kaleng semir sepatu itu dan mulailah dia menggosok sepatu tersebut.

Pada waktu menggosok, dia melihat pemuda yang sedang menikmati sopnya. Tetapi begitu pemuda itu melihatnya, dia bekerja lagi. Ketika pemuda itu sedang menggigit empalnya, lagi-lagi anak itu melihatnya. 

Kemudian si pemuda bertanya: “Lu sudah sarapan apa belum? Biasanya lu sarapan jam berapa?” Jawabnya: “Belum. Ya tergantung om, kalau dapat uangnya siang ya siang, kalau sore ya sarapannya sore.”

Tiba-tiba pemuda itu diam lalu berkata: “Lu taruh semir dan sikat, cuci tangan. Lalu lu ambil makanan seperti yang gua makan , terserah lu mau makan apa.” 

Tetapi anak tersebut tidak langsung melakukannya, pikirnya: “Jangan-jangan saya makan lalu saya harus bayar sendiri.”

Pemuda itu sadar bahwa anak itu tidak berani melakukan perintahnya, lalu dia berteriak kepada pelayan: “Mas, tolong berikan makan dan minum apa saja yang dia mau, tulis di bon, gua yang bayar.”

Setelah diberi piring oleh pelayan, dia mengambil makanan sampai sepiring penuh. Lalu dia duduk di dekat kaki pemuda itu. Kata pemuda itu: “Ngapain lu makan di situ? Di depan gua ada kursi kosong.” Jawabnya: “Saya pilih di sana aja om.”

Dari tadi saya melihat seorang ibu dan seorang anak laki-laki yang memperhatikan anak tersebut di luar resto. Ketika anak tersebut makan, ibu itu langsung masuk resto dan marah-marah, katanya, “Berani-beraninya makan di sini, lu dapat uang dari mana? Siapa yang bayar lu?” Melihat kejadian itu pemuda itu bertanya: “Siapa itu?” Jawabnya: “Ibu saya.” 

Kata pemuda itu: “Gua yang bayar, ibu ambil makanan sekarang yang ibu mau, silahkan! Gua yang bayar.” Tanpa komentar ibu tersebut langsung mengambil makanan sepiring penuh seperti anaknya. 

Lalu saya melihat anak yang di luar itu juga masuk ke resto. Pada waktu anak itu melewati pemuda itu, dia ditanyai: “Ee ... Siapa lu?” Jawabnya: “Kakak dari tukang semir yang duduk di sana.” Kata pemuda itu: “Ayo lu juga makan.”

Pemuda itu berkata: “Bu, tambah lagi sampai kenyang, demikian pula dengan kedua anak ibu.” Jawabnya: “Sudah kenyang, tuan.” 

Ibu dan kedua anak itu mengucapkan terima kasih. Dan pemuda itu berkata lagi: “Bu, ambil lagi makanan untuk makan siang dan malam. Minuman botol kaleng ambil juga, gua yang bayar.” 

Setelah makan, kedua anak ini mendekati pemuda itu hendak menyelesaikan pekerjaannya. Tetapi pemuda itu berkata: “Nggak usah!” 

Dengan polos anak tersebut menjawabnya: “Sepatu sebelah mengkilap, sepatu sebelah nggak mengkilap.” Jawab pemuda itu: “Nih, gua kasih tahu, yang begitu itu namanya unik.” 

Akhirnya keluarga ini mengucapkan terima kasih, sambil membungkukkan badan mereka pamit. Tiba-tiba pemuda itu mengeluarkan dompet dan memberi masing-masing seratus ribu rupiah sambil berkata: “Terserah mau dibelikan apa, mau beli baju, sepatu, dll.” Setelah mereka pamit, pemuda itu melanjutkan lagi makannya dan kakinya dinaikkan lagi ke kursi.

Setelah selesai makan, saya mendekati pemuda itu dan menyapanya: “Selamat pagi. Saya Achsen GUMELAR..” Lalu saya langsung disapanya dengan sopan dan suaranya rendah: “Selamat pagi pak Gumelar, silahkan duduk.” 

Kata saya: “Saya tidak punya kalimat yang terbaik untuk mengganti kotbah anda, kotbah anda begitu luar biasa. Untuk agama yang saya imani, perbuatan baik itu hanya berasal dari Allah saja. Jadi, hanya orang-orang yang menghadirkan Allah, di mana Allah bertahta dalam dirinya, hanya dia yang berbuat baik. Sedangkan orang yang tidak berbuat baik bukan berasal dari Allah.” 

Lalu dia bertanya agama saya, maka saya menjawabnya bahwa saya beragama Katolik. Jawabnya: “Kami ada yang Katolik, Kristen Protestan tapi tidak pernah ke Gereja, sedang saya umat muslim tapi sudah lama tak pernah solat. Yang penting kami yang tidak pernah ke Gereja dan tidak pernah solat tapi kami hanya dapat melakukan perbuatan baik ini.”

Pemuda itu menarik nafas dalam-dalam sambil menceritakan kisah hidupnya: “Pak Gumelar, dulu saya seorang tukang semir sepatu. Kadang-kadang saya hanya minum air putih saja karena tidak mempunyai uang untuk membeli makanan. 

Pada suatu pagi, saya menuju terminal tanpa makan. Di tengah perjalananan ada sebuah rumah makan padang yang terang benderang, di sana ada seorang yang sedang makan sop daging dengan kakinya diangkat ke kursi. 

Ketika saya menawarkan jasa, dia menyetujui. Lalu saya kerjakan sepatunya dengan tanpa mencopotnya di atas kursi. Ketika dia menggigit empal, saya berharap ada satu suwir empal yang dia tinggalkan di piring dan ketika dia menghirup kuah sop, saya berpikir mudah-mudahan dia meninggalkan satu sendok kuah sop di piring. Tidak dibayarpun pekerjaan saya, tidak apa-apa. 

Tetapi sampai saya selesai menyemir sepatu itu, kuah sopnya bersih, empal gorengnya pun tidak ada tersisa, nasinya bersih. Setelah itu ongkos semir sepatu itu ditawar lagi, padahal sebelumnya sudah ada kesepakatan harga. 

Saya begitu kecewa, tanpa melihat uang yang dibayarkan, saya langsung pamit. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, saya menangis dan sesampainya di rumah saya langsung mengunci pintu dan mengunci kamar. Saya menangis dan saya berdoa: ‘Jika saya ada rejeki, saya akan memberi makan orang yang membutuhkannya.’ 

Ketika anak itu menengok saya untuk ketigakalinya. Saya diingatkan oleh Tuhan, sepertinya saya sebagai tukang semir sepatu yang datang kepada tuannya yang adalah saya yang sudah Tuhan bebaskan jadi tukang semir sepatu. 

Kami grup band, nanti malam kami akan manggung. Saya bahagia sekali dapat melakukan perbuatan baik ini. Memang kami yang tidak ke gereja dan tidak pernah solat, tetapi setiap honor yang kami terima dari penampilan kami, honor tersebut sebagian kami bagikan bagi mereka yang tidak bisa makan. 

Ketika saya berumur 14 tahun, ayah saya berlari lari dan berteriak menemui saya, katanya: ‘Cepat lu pulang, ibu lu sakit.’ Maka saya dan kawan saya segera berlari menuju rumah. 

Ternyata... saya melihat ibu saya mengerang-ngerang kesakitan berguling-gulung di lantai. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Meskipun badannya berat, saya menggendongnya ke puskesmas yang berjarak tiga kilometer. 

Sesampainya di puskesmas, diperiksa dokter. Ketika dokter tersebut memberi resep, saya bingung lagi karena tidak mempunyai uang untuk membeli obat. Sambil menangis kami membaringkan ibu saya di lantai, dia tiada hentinya mengerang kesakitan. 

Tanpa berkata apa pun, tiba-tiba kawan saya berlari. Berapa saat kemudian dia datang dengan membawa uang, katanya: ‘Mana resepnya, gua belikan di apotek.’ 

Dia langsung berlari untuk membeli obat di apotik. Setelah dia datang, obat tersebut di minumkan pada ibu saya. Beberapa saat kemudian ibu saya tertidur di lantai dengan tenang. Setelah itu kami bawa pulang dengan digendong. 

Beberapa hari kemudian, kawan saya berterus-terang mengatakan bahwa uang itu hasil nekad mencuri. Untung Tuhan melindungiku. 

Jika kami mendapat honor, sebagian honor itu juga kami bawa ke rumah sakit agar dapat membantu orang lain yang betul-betul tidak dapat membeli obat bagi keluarganya yang sakit. 

Pak Gumelar, doakan kami ya ... nanti malam kami tampil supaya ada bagian untuk mereka.” 

Lalu kami berdiri sambil berpelukan, saya berdoa: “Saat anda melihat empal yang digigit oleh seorang bapa yang sepatunya anda semir. Tuhan ada di mukamu, saat ini Tuhan hadir, mengatakan kepadamu ‘tenangkanlah hati dan jiwamu, Aku mengasihi engkau’. 

Dan saat engkau menggendong ibumu dengan menangis dan menjerit dan ibumu mengerang kesakitan, Tuhan turut berlari bersamamu, Dia yang memberikan kekuatan. Ayo terus lakukan, Aku ada di sana bersama engkau.”

Dalam suasana hening, tiba-tiba pemuda itu menjerit dan mengeluarkan tangisnya sehingga semua orang yang berada di resto itu kaget. Tanpa sadar saya pun ikut menangis. Lalu mereka satu-persatu saya peluk sambil berkata: “Selamat ya. .. Tuhan memberkati anda.” 

Lalu pemuda itu bertanya: “Kapan kita dapat ketemu lagi?” Jawab saya: “Pagi ini, paginya Tuhan. Kita tidak pernah berpikir apa-apa. Pagi ini saya tidak berpikir akan mendengar kotbah anda yang indah ini. Maka dunia tidak cukup lebar untuk kita tidak bertemu.” 

Begitu saya pamit, orang lain di resto itu juga berdiri memberi selamat pada mereka. 

Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah (2 Kor 1:3-4)

Jika kita menghadirkan Tuhan dengan perbuatan kasih, maka yang melihat dan mendengarkan akan terharu. Dan kasih yang sejati juga akan menular pada orang yang melihat dan mendengarkannya.

Marilah kita belajar dari 1 Yoh 4:7-10

Marilah kita saling mengasihi 

» ayat ini tidak mengajarkan teori mengasihi/berdebat mengenai makna kasih/tidak berdiskusi tentang kasih. Tetapi ayat ini mengajak kita melakukan kasih seperti Allah, tindakan seperti Allah, bukan teori yang hebat tapi langsung melakukannya. Ada kalimat yang terlaksanakan yang tidak terungkapkan, yang tidak tergantikan ungkapan yaitu perbuatan kasih. 

Kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah 

» Manusia menghitung dengan cermat tentang gejala-gejala alam yang ada, sehingga mereka meramalkan akan terjadi kiamat tahun 2012. 

Sebagai orang percaya, kita tidak perlu mempermasalahkan ramalan tersebut, karena 

1. Bukankah Yesus berkata: “... tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri.” (Mat 24:36). 

2. Yesus lahir atas nama kasih. Meskipun mengalami penderitaan sampai wajah-Nya tidak dapat dilihat, Yesus merasa hidupnya dibebaskan dan Dia dapat membebaskan, tidak tertekan sesuatu karena melakukan kasih. 

Jadi, bagi yang sudah mengasihi seperti Allah, kapan kiamat datang tidak menjadi masalah. Tetapi bagi yang belum melakukan kasih, boleh resah/gelisah/takut.

Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih 

» Gereja Katolik tidak pernah menakuti-nakuti umatnya mengenai akhir zaman, gereja Katolik hanya menjelaskan bahwa Allah mengasihi semua orang. Takutlah, gelisahlah jika sampai saat ini kita belum berbuat baik, karena itu yang akan membuat penderitaan kita pada hari pembalasan. 

Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya 

» Setiap orang dapat melakukan kasih sesuai dengan talenta dan kekayaannya. Orang yang tidak mampu pun Tuhan juga memberi kesempatan sesuai dengan kemampuannya (Luk 21:3-4). 

Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamai bagi dosa-dosa kita.

Tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik (2 Tim 3:17)

(Sumber: Warta KPI TL No. 77/IX/2010 » Renungan KPI TL tgl 17 Juni 2010, Bapak Achsen Gumelar).

Senin, 05 September 2016

22.02 -

Allah itu baik



Sejak penciptaan Allah selalu mendatangkan kebaikan (Kej 1:3,10, 12, 18, 21, 25). Lebih-lebih manusia, diciptakan sungguh amat baik (Kej 1:31). Tetapi kenyataannya kita tidak baik. Mengapa? 

Karena kita lepas dari kodrat kita, tidak mengikuti rencana-Nya, yaitu: kita tidak mengasihi Allah (Yoh 14:15); kita tidak memuji dan menyembah Allah dalam Roh dan kebenaran (Mzm 148, 150; Yoh 4:23-24).

Seringkali kita pergi ke gereja, tetapi pulang dari gereja tidak mengalami perubahan apa pun dalam kehidupan kita. Itu karena kesalahan kita. 

Kita tidak mempersiapkan hati dengan nyanyian syukur dan puji-pujian (Mzm 100:4). Meskipun kita sudah makan hosti yang sudah dikonseklir, Yesus berjalan terus di tengah gereja ... langsung ke luar meninggalkan kita, Yesus tidak mau bertemu dengan kita. Pada waktu pastor homili, kita juga tidak mau kalah, kita juga ikut homili. 

Dulu sebelum/sesudah Misa, generasi yang tua selalu rajin berdoa rosario, Santa Maria; sekarang berubah menjadi Santa Nokia – nggak ada hati lagi di sana. 

Sesuatu yang keluar dari fungsinya, tidak akan mendatangkan kebaikan, maka nilainya menjadi berkurang, bahkan mendatangkan kerusakan. 

Fungsi mic untuk menguatkan suara ketika berbicara. Tetapi jika mic yang berharga dua juta dipakai untuk ngulek lombok, maka akan sama nilainya dengan ulek-elek yang harganya lima ribu. Selain itu tidak berfungsi lagi. 

Pria diciptakan untuk menjadi kepala (Ef 5:23); wanita diciptakan untuk menjadi penolong/sebagai tiang doa (Kej 2:18). Jika pria/wanita keluar dari kodratnya, maka akan merusak dirinya dan anak-anaknya

Jika kita lepas dari kodrat kita, maka rencana Allah yang mendatangkan kebaikan tidak akan terjadi.

Mengasihi Allah bukan karena rajin setiap hari ke gereja, rajin mengikuti kegiatan rohani, siang malam mengurusi PD dll. tetapi menuruti segala perintah Allah (Yoh 14:15). Misalnya: melayani, mengampuni dll. Karena Yesus telah menetapkan kita untuk pergi dan menghasilkan buah dan buah itu tetap (Yoh 15:16).


Seringkali kita salah menyebut buah Roh (1 Kor 12:4; Gal 5:22-23 – kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri) menjadi buah-buah Roh 

Bedanya

Buah-buah – dalam satu keranjang ada jeruk, apel, duku (bermacam-macam buah). Jika kita nggak suka jeruk, bisa pilih apel; jika kita nggak suka apel bisa pilih duku. 

Buah - dalam satu keranjang hanya ada satu macam buah. Misalnya hanya apel. Apel itu ada yang rasanya manis, ada yang asam, ada yang segar (rasanya macam-macam), tidak bisa pilih. 

Sudahkah kita berbuah? Jika belum, ingatlah bahwa Yesus menetapkan kita untuk pergi dan menghasilkan buah dan buah itu tetap (Yoh 15:16). 

Artinya: kita harus keluar dari kenyamanan kita, harus berlari. Jika kita sudah bertemu Yesus, harus bertobat (ada perubahan cara pandang) dan ikut melayani

Mulailah berbuah, tinggalkan kebiasaan yang bertentangan dengan perintah-perintah-Nya (korupsi, gosip, terikat dengan TV dll.), pakailah paradigma baru. Maka janji Tuhan akan tergenapi.

Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Rm 8:28).

Marilah kita belajar dari Zakheus (Luk 19:1-10): 

Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Di situ ada seorang bernama (1) Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya

(2) Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ.

Ketika Yesus sampai ke tempat itu, (3) Ia melihat ke atas dan berkata:  "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu." Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa."

Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: (4) "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat."

Kata Yesus kepadanya: (5) "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."

» (1) Zakheus berarti "murni". Dia memang murni karena dimurnikan oleh Yesus Kristus. Dia seorang pendosa yang diubah oleh Yesus menjadi seorang kudus.

Zakheus seorang Yahudi, dianggap sebagai pengkhianat terhadap bangsanya sendiri, karena ia bekerja pada pemerintah Roma, bangsa penjajah. Dan amatlah umum pada masa itu, pemungut pajak, biasanya menarik pajak lebih dari yang ditentukan pemerintah Roma. Dengan kebiasaan itu, maka pemungut pajak sangat dibenci rakyat.

(2) Setelah mendengar dari orang banyak bahwa Yesus begitu baik, menyembuhkan, mengampuni orang berdosa. Maka ia menyadari perlunya berjumpa dengan Yesus. Maka Zakheus memutuskan untuk berlari mendahului orang banyak. Dengan bajunya yang mewah ia memanjat pohon, menunggu Yesus di posisi yang tidak enak. 

(3) Yesus dikelilingi banyak orang berdosa (ada yang pura-pura sok akrab, ada yang merangkul, ada yang pegang tangan-Nya, ada yang bertabrakan tubuhnya), tetapi Yesus diam saja. Ketika Dia merasakan ada hati yang rindu untuk datang pada-Nya, maka Dia berhenti berjalan dan mau menumpang di rumah Zakheus

Semua orang memandang rendah pada Zakheus, namun Yesus memandangnya dengan tatapan kasih. Semua orang memanggilnya dengan sebutan "pemungut cukai", namun Yesus menyapanya dengan sapaan kasih, memanggil namanya. 

(4) Secara hukum dengan menggantikan empat kali lipat sudahlah lebih dari cukup. Berkat sapaan kasih, Zakheus bertobat dengan melakukan silih, yaitu: melakukan yang melebihi hukum yang berlaku, lebih dari tingkat keadilan. 

(5) Setelah mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Yesus, Zakheus mengalami perubahan dan menghasilkan buah. Pertobatan yang sejati selalu menghasilkan keselamatan.

(Sumber: Warta KPI TL No. 57/I/2009 » Renungan KPI TL tgl 15 Januari 2009, Bapak Mikael Djatmiko).