Jumat, 03 Januari 2020

04.25 -

Mrk 15:1-39

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Minggu, 25 Maret 2018: Hari Minggu Palma, Mengenang Sengsara Yesus - Tahun B/II (Merah)
Bacaan Perarakan: Mrk 11:1-10 atau Yoh 12:12-16; Yes 59:4-7; Mzm 22:8-9, 17-18a, 19-29, 23-24; Flp 2:6-11; Mrk 14:1 - 15:47 (Mrk 15:1-39)


Pagi-pagi benar imam-imam kepala bersama tua-tua dan ahli-ahli Taurat dan seluruh Mahkamah Agama sudah bulat mupakatnya. Mereka membelenggu Yesus lalu membawa-Nya dan menyerahkan-Nya kepada Pilatus.

Pilatus bertanya kepada-Nya: "Engkaukah raja orang Yahudi?" Jawab Yesus: "Engkau sendiri mengatakannya." Lalu imam-imam kepala mengajukan banyak tuduhan terhadap Dia.

Pilatus bertanya pula kepada-Nya, katanya: "Tidakkah Engkau memberi jawab? Lihatlah betapa banyaknya tuduhan mereka terhadap Engkau!" Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawab lagi, sehingga Pilatus merasa heran.

Telah menjadi kebiasaan untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu menurut permintaan orang banyak. Dan pada waktu itu adalah seorang yang bernama (2) Barabas sedang dipenjarakan bersama beberapa orang pemberontak lainnya. Mereka telah melakukan pembunuhan dalam pemberontakan.

Maka datanglah orang banyak dan meminta supaya sekarang kebiasaan itu diikuti juga. Pilatus menjawab mereka dan bertanya: "Apakah kamu menghendaki supaya kubebaskan raja orang Yahudi ini?" Ia memang mengetahui, bahwa imam-imam kepala telah menyerahkan Yesus karena (3B) dengki.

Tetapi imam-imam kepala (3A) menghasut orang banyak untuk meminta supaya Barabaslah yang dibebaskannya bagi mereka. Pilatus sekali lagi menjawab dan bertanya kepada mereka: "Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan orang yang kamu sebut raja orang Yahudi ini?" Maka mereka berteriak lagi, katanya: "Salibkanlah Dia!"

Lalu Pilatus berkata kepada mereka: "Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?" Namun mereka makin keras berteriak: "Salibkanlah Dia!" Dan oleh karena Pilatus ingin memuaskan hati orang banyak itu, ia membebaskan Barabas bagi mereka. Tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan.

Kemudian serdadu-serdadu membawa Yesus ke dalam istana, yaitu gedung pengadilan, dan memanggil seluruh pasukan berkumpul. Mereka mengenakan jubah ungu kepada-Nya, menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya.

Kemudian mereka mulai memberi hormat kepada-Nya, katanya: "Salam, hai raja orang Yahudi!" Mereka memukul kepala-Nya dengan buluh, dan meludahi-Nya dan berlutut menyembah-Nya.

Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah ungu itu dari pada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya. Kemudian Yesus dibawa ke luar untuk disalibkan.

Pada waktu itu lewat seorang yang bernama Simon, orang Kirene, ayah Aleksander dan Rufus, yang baru datang dari luar kota, dan orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus.

Mereka membawa Yesus ke tempat yang bernama Golgota, yang berarti: Tempat Tengkorak. Lalu mereka memberi anggur bercampur mur kepada-Nya, tetapi Ia menolaknya.

Kemudian mereka menyalibkan Dia, lalu mereka membagi pakaian-Nya dengan membuang undi atasnya untuk menentukan bagian masing-masing.

Hari jam sembilan ketika Ia disalibkan. Dan alasan mengapa Ia dihukum disebut pada tulisan yang terpasang di situ: "Raja orang Yahudi". Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kanan-Nya dan seorang di sebelah kiri-Nya.

Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia, dan sambil menggelengkan kepala mereka berkata: "Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, turunlah dari salib itu dan selamatkan diri-Mu!"

Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli Taurat (3C) mengolok-olokkan Dia di antara mereka sendiri dan mereka berkata: "Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Baiklah Mesias, Raja Israel itu, turun dari salib itu, supaya kita lihat dan percaya." Bahkan kedua orang yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela Dia juga.

Pada jam dua belas, kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai jam tiga. Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eloi, Eloi, lama sabakhtani?", yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?

Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata: "Lihat, Ia memanggil Elia." Maka datanglah seorang dengan bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum serta berkata: "Baiklah kita tunggu dan melihat apakah Elia datang untuk menurunkan Dia."

Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawa-Nya. Ketika itu tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah. Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat mati-Nya demikian, berkatalah ia: (1) "Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!"

Sekalipun kepala pasukan bukanlah seorang beriman tapi ketika ia mengamati gerak-gerik Yesus, hati dan intuisinya yang jernih sebagai manusia membuatnya mampu menemukan kehadiran Allah dalam diri Yesus. Pengakuannya: "(1)."


Renungan


1. Berkat kejernihan hati

Sebuah pengakuan yang sangat menggetarkan dan istimewa; istimewa karena keluar dari mulut seorang yang tidak mengenal Allah. Kematian Kristus telah mengantarnya pada iman akan Allah. Ini hanya mungkin terjadi berkat kejernihan hati.

Hal yang sebaliknya terjadi pada (3ABC) para imam kepala, ahli Taurat dan orang Farisi. Iri dan dengki telah membutakan hati mereka sehingga kebaikan apa pun yang telah dilakukan oleh Yesus sama sekali tidak menyentuh hati mereka. Jadi, hati mereka telah dikuasai oleh penyakit batin ini, yang membuat mereka tidak mampu melihat kehadiran Allah dalam diri Yesus.

Dengan meminta pembebasan Barabas yang adalah seorang penjahat (2), secara alam bawah sadar mereka mengakui bahwa mereka adalah satu golongan dengan Barabas.

Untuk itu, marilah kita membersihkan hati kita dari segala penyakit iri dan dengki sehingga misteri kematian Yesus boleh mengantar kita untuk melihat kehadiran Allah dalam setiap peristiwa dalam diri sesama.


1 Yoh 2:22-28

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Kamis, 2 Januari 2020: Peringatan St. Basilius Agung dan St. Gregorius dari Nazianze - Tahun A/II (Putih)
Bacaan: 1 Yoh 2:22-28; Mzm 98:1, 2-3ab, 3cd-4; Yoh 1:19-28; RUybs.


Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang ANTIKRISTUS akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir. Memang mereka BERASAL DARI ANTARA KITA, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita (1 Yoh 2:18-19). 

Siapakah PENDUSTA itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah ANTIKRISTUS, yaitu dia yang MENYANGKAL baik BAPA maupun ANAK. Sebab barangsiapa menyangkal Anak, ia juga tidak memiliki Bapa. Barangsiapa mengaku Anak, ia juga memiliki Bapa. Dan kamu, apa yang telah kamu dengar dari mulanya, itu harus tetap tinggal di dalam kamu. Jika apa yang telah kamu dengar dari mulanya itu tetap tinggal di dalam kamu, maka kamu akan tetap tinggal di dalam Anak dan di dalam Bapa. 

Dan inilah janji yang telah dijanjikan-Nya sendiri kepada kita, yaitu hidup yang kekal. Semua itu kutulis kepadamu, yaitu mengenai orang-orang yang BERUSAHA MENYESATKAN kamu. 

Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu — dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta — dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.

Maka sekarang, anak-anakku, TINGGALLAH DI DALAM KRISTUS, SUPAYA apabila Ia menyatakan diri-Nya, KITA BEROLEH KEBERANIAN PERCAYA percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya. 


Renungan


1. Waspadalah penyesatan

Iblis menyamar sebagai malaikat Terang, pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Mereka adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus, mereka datang memberitakan Yesus atau Injil yang lain (2 Kor 11:4, 13-15). 

Jadi, waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Aku sudah mengatakannya terlebih dahulu kepadamu. Karena banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang TIDAK MENGAKU, bahwa YESUS KRISTUS telah datang sebagai manusia.

Mereka akan muncul mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga (Mat 24:4-5, 24-252 Yoh 1:7). 


1 Yoh 2:29 - 3-6

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)



Penanggalan liturgi

Jumat, 3 Januari 2020: Hari Biasa Masa Natal - Tahun A/II (Putih)
Bacaan: 1 Yoh 2:29 - 3-6; Mzm 98:1, 3cd-4, 5-6; Yoh 1:29-34


Jikalau kamu tahu, bahwa Ia adalah benar, kamu harus tahu juga, bahwa setiap orang, yang berbuat kebenaran, lahir dari pada-Nya.

Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga (1) kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia. 

Saudara-saudaraku yang kekasih, (2) sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci. 

Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah. 

Dan kamu tahu, bahwa Ia telah menyatakan diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa. 

Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia.


Renungan


1. Bukti sebagai anak-anak Allah

(1, 2) Kita yang berdosa sebenarnya tidak layak menerima kasih-Nya yang sedemikian besar, namun dalam ketidaklayakkan itulah Ia mengangkat kita menjadi anak-anak-Nya.

Jadi, perubahan status menjadi anak-anak Allah sama sekali bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus
(Tit 3:5; 2 Tim 1:9).

Apakah perubahan status ini mengubah kasih kita kepada Tuhan, dulu mengasihi dunia dan diri sendiri kini mengasihi Dia? Bisa ya, bisa juga tidak! Perubahan status yang hanya melekat kepada pemberian-Nya, tidak akan mengubah hidup kita. Sebaliknya perubahan status yang dialami karena melekat pada Allah akan mengubah hidup kita.

Pengakuan sebagai anak-anak Allah membutuhkan bukti dari hidup seorang Kristen, sungguhkah ia hidup untuk mengasihi Allah yang terwujud konkrit dalam kasihnya kepada sesama. Di dalam dirinya terpancar kebenaran dan kasih Allah karena ia berasal dari Allah.


Rabu, 01 Januari 2020

02.43 -

Mrk 16:1-8

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Sabtu, 31 Maret 2018: Sabtu Suci - Tahun B/II (Putih)
Bacaan: Kej 1:1 - 2:2 (Kej. 1:1, 26-31a); Mzm. 104:1-2a, 5-6, 10, 12, 13-14, 24, 35c atau Mzm 33:4-5, 6-7, 12-13, 20, 22; Kej. 22:1-18 (Kej 22:1 - 2, 9a, 10-13, 15-18); Mzm 16:5, 8, 9-10, 11; Kel 14:15 - 15:1; MT Kel 15:1-2, 3-4, 5-6, 17-18; Yes 54:5-18; Mzm 30:2, 4, 5-6, 11, 12a, 13b; Yes 55:1-11; MT Yes. 12:2-3, 4bcd, 5-6; Bar 3:9-15, 32 - 4:4; Mzm 19:8, 9, 10, 11; Yeh 36:16-17a, 18-28; Mzm 42:3, 5bcd; Mzm 43:3.4; Kalau ada baptisan: MT Yes 12:2-3, 4bcd, 5-6 atau Mzm 51:12-13, 14-15, 18-19; Rm 6:3-11; Mzm 118:1-2, 16ab-17, 22-23; Mrk 16:1-8


Setelah lewat hari Sabat, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus. Dan pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu, setelah matahari terbit, pergilah mereka ke kubur.

Mereka berkata seorang kepada yang lain: "Siapa yang akan menggulingkan batu itu bagi kita dari pintu kubur?" Tetapi ketika mereka melihat dari dekat, tampaklah, batu yang memang sangat besar itu sudah terguling.

Lalu mereka masuk ke dalam kubur dan mereka melihat seorang muda yang memakai jubah putih duduk di sebelah kanan. Merekapun sangat terkejut, tetapi orang muda itu berkata kepada mereka: "Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia. Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu."

Lalu mereka keluar dan lari meninggalkan kubur itu, sebab gentar dan dahsyat menimpa mereka. Mereka tidak mengatakan apa-apa kepada siapapun juga karena takut. Dengan singkat mereka sampaikan semua pesan itu kepada Petrus dan teman-temannya. Sesudah itu Yesus sendiri dengan perantaraan murid-murid-Nya memberitakan dari Timur ke Barat berita yang kudus dan tak terbinasakan tentang keselamatan yang kekal itu.


Renungan


1. Jadilah saksi Kristus

Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus serta Salome adalah saksi dari kebangkitan-Nya, ketakutan menjadi reaksi awal mereka, apa yang mereka saksikan tentang makam yang kosong itu menjadi ketakutan tersendiri untuk mengatakan peristiwa ini kepada yang lain.

Peristiwa kebangkitan adalah peristiwa yang luarbiasa dalam kehidupan. Yesus sebagai yang sulung telah bangkit dan mengalahkan maut. Maut telah Ia hancurkan dan dalam kemenangan-Nya itu Ia menyertai perjuangan manusia di dunia ini.

Perjumpaan kita secara pribadi dengan Yesus hendaknya juga terwujud dalam kesaksian hidup kita. Ingatlah! Peristiwa Agung dan Suci ini adalah perayaan besar iman kita, yang harus kita wartakan agar seluruh manusia di dunia ini merasakan damai, sukacita dan kasih Allah.

Selasa, 31 Desember 2019

23.16 -

Yoh 20:11-18

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Selasa, 3 April 2018: Hari Selasa dalam Oktaf Paskah - Tahun B/II (Putih)
Bacaan: Kis 2:36-41; Mzm 33:4-5, 18-19, 20, 22; Yoh 20:11-18


Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring.

Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab Maria kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan."

Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan (1) melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus.

Kata Yesus kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya."

Kata Yesus kepadanya: (2) "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru. Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudaraKu dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu."

Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: "Aku telah melihat Tuhan!" dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.


Renungan


1. Kehadiran yang bermakna

(1) Maria Magdalena merasa begitu kehilangan sosok penting dalam hidupnya, yaitu Pribadi yang mengubah hidupnya, air mata itu pun mengaburkan pandangannya untuk segera mengenal Yesus. Kesedihan hatinya itu menutupi hatinya untuk mengenal Yesus yang berjumpa dengannya.

Hal ini mau mengatakan bahwa Yesus adalah pribadi yang begitu menarik dan penuh kasih, menyelamatkan dan menghidupkan, membersihkan dan mengangkat manusia dari kubangan dosa.

(2) Sapaan Yesus kepada Maria Magdalena, membuat Yesus segera dikenalinya. Perjumpaan itu menjadi perjumpaan yang penuh dengan sukacita, menguatkan hati untuk semakin teguh percaya kepada-Nya.

Kita tentu menginginkan kehidupan yang harmonis, damai dan tentram. Keinginan kita itu tidak akan tercapai jika kehadiran kita hanya mendatangkan luka dan air mata bagi orang-orang yang ada di sekitar kita.

Sebagai murid Tuhan, kita dipanggil untuk menjadi berarti bagi sesama kita. Menjadi berarti adalah sebuah panggilan untuk menjadi seperti Yesus yang penuh cinta. Apakah kehadiran dan keberadaan kita itu berarti bagi orang lain di sekitar kita?


Ada gula ada semut

Kesepian dan kepahitan sering bergandengan dalam siklus kehidupan didunia ini, waktu kita naik temanpun datang, waktu kita turun merekapun lari dari hadapan kita (Ams 19:4 > Kekayaan menambah banyak sahabat, tetapi orang miskin ditinggalkan sahabatnya). 

Tidak salah pepatah mengatakan "ada gula ada semut" dikala hidup kita penuh gula semutpun datang berkerumun dalam kehidupan kita, namun tatkala gulanya habis semutpun pergi meninggalkan kita.

Setiap manusia tidak terlepas dari siklus kehidupan, waktu naik banyak orang yang datang mendekat, namun tatkala turun mereka akan pergi, lalu kita kesepian merasa ditinggalkan dalam kesendirian, padahal disaat itu mungkin kita sangat membutuhkan dukungan mereka.

Yesus sendiripun mengalami hal yang sama, ketika Dia melakukan banyak mujizat orang banyak datang berkerumun kepada-Nya, namun tatkala Dia ditangkap, diadili bahkan digantung diatas kayu salib semua orang lari dari pada-Nya (2 Tim 4:16 > Pada waktu pembelaanku yang pertama tidak seorang pun yang membantu aku, semuanya meninggalkan aku, kiranya hal itu jangan ditanggungkan atas mereka).

Rasul Pauluspun mengalami hal yang sama, dia telah malang melintang dalam melayani, telah berjasa besar dalam mengangkat teman, sahabat dan murid muridnya dari keterpurukan dan keterbelakangan, dari beban dan penderitaan, istilahnya rasul Paulus telah sangat berjasa bagi orang orang ini, namun tatkala dia sedang diadili mereka semua meninggalkannya.

Dalam keadaan demikian sebagai manusia; rasul Paulus bisa saja menjadi sakit hati dan kepahitan, lalu mengumpat mereka sambil mencaci maki, karena mereka tidak pernah membalas budi kebaikan yang telah dilakukan olehnya, namun sebagai murid Yesus yang sejati rasul Paulus sebaliknya mengatakan "kiranya hal itu jangan ditanggungkan atas mereka".

Tidak mudah memelihara hati seperti rasul Paulus, namun dia mampu melakukannya sebab dia sungguh sungguh mengerti akan tugas dan panggilannya sebagai murid Kristus (2 Tim 4:17-18 > Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya. Dengan demikian aku lepas dari mulut singa. Dan Tuhan akan melepaskan aku dari setiap usaha yang jahat. Dia akan menyelamatkan aku, sehingga aku masuk ke dalam Kerajaan-Nya di sorga. Bagi-Nyalah kemuliaan selama-lamanya! Amin).

20.31 -

Yoh 3:16-21

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Rabu, 11 April 2018: PW St. Stanislaus, Uskup dan Martir - Tahun B/II (Merah)
Bacaan: Kis 5:17-26; Mzm 34:2-3, 4-5, 6-7, 8-9; Yoh 3:16-21; RUybs


Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Sebab (*) Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.

Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.

Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.

Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah."


Renungan


Tuhan datang bukan untuk menghukum

Allah itu Mahabaik. Dia menciptakan manusia dalam keadaan baik, bahkan sungguh amat baik (Kej 2:26-31).

Dia memanggil setiap manusia yang telah ternoda dosa untuk terus membarui diri. Manusia diajak menjadi sempurna sebagaimana Bapa adalah sempurna (Mat 5:48).

Namun, kadang manusia TIDAK TAAT dan JATUH DALAM KESALAHAN dan DOSA. Saat itulah manusia MERASA TIDAK AMAN SEKALIGUS TIDAK NYAMAN. Dia seakan berada di bawah hukuman Tuhan.

Padahal, (*) Tuhan datang bukan untuk menghukum, melainkan untuk mengasihi dan menghapus segala dosa supaya manusia beroleh keselamatan.