Tampilkan postingan dengan label SP Yohanes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SP Yohanes. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Januari 2020

04.46 -

Yoh 8:31-42

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Rabu, 21 Maret 2018: Hari Biasa Pekan V Prapaskah - Tahun B/II (Ungu)
Bacaan: Dan 3:14-29, 24-25, 28; MT Dan 3:52, 53, 54, 55, 56; Yoh 8:31-42


Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." Jawab mereka: "Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?"

Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka."

"Aku tahu, bahwa kamu adalah keturunan Abraham, tetapi (*) kamu berusaha untuk membunuh Aku karena firman-Ku tidak beroleh tempat di dalam kamu. Apa yang Kulihat pada Bapa, itulah yang Kukatakan, dan demikian juga kamu perbuat tentang apa yang kamu dengar dari bapamu."

Jawab mereka kepada-Nya: "Bapa kami ialah Abraham." Kata Yesus kepada mereka: "Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham. Tetapi yang kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku; Aku, seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah; pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham. Kamu mengerjakan pekerjaan bapamu sendiri." Jawab mereka: "Kami tidak dilahirkan dari zinah. Bapa kami satu, yaitu Allah."

Kata Yesus kepada mereka: "Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.


Renungan


1. Siapakahbapakita sesungguhnya?

(*) Itu bukan pekerjaan kebenaran melainkan pekerjaan dosa. Mereka bukan anak-anak Allah karena kasih Allah tidak ada pada mereka. Jika mereka anak Allah, mereka pasti mengasihi Allah dan mengasihi Yesus.

Faktanya mereka memiliki tanda-tanda pekerjaan Iblis, yaitu kebencian, hasrat membunuh, dan mendustai diri sendiri. Mereka adalah anak-anak Iblis. Terlebih lagi, sesudah Yesus membukakan semua fakta ini mereka tetap tidak percaya dan tidak mendengarkan firman-Nya.

Menjadi Kristen berarti harus memercayakan diri penuh kepada Yesus yang diutus Allah untuk memerdekakan kita dari dosa. Berkeras pada keinginan, pengertian, dan cara kita sendiri membuktikan kita masih menjadi hamba dosa, milik Iblis. Siapa menjadi milik Yesus, pasti mengasihi Allah dan Yesus serta mau taat pada firman-Nya.

Siapakah “bapa” kita sesungguhnya, Allah atau Iblis, akan tampak dari perbuatan-perbuatan kita!


04.02 -

Yoh 10:31-42

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Jumat, 23 Maret 2018: Hari Biasa Pekan V Prapaskah - Tahun B/II (Ungu)
Bacaan: Yer 29:10-13; Mzm 18:2-3a, 3bc-4, 5-6, 7; Yoh 10:31-42


Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: "Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?"

Jawab orang-orang Yahudi itu: "Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah."

Kata Yesus kepada mereka: "Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah allah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan, masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah?

(*) Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa."

Sekali lagi mereka mencoba menangkap Dia, tetapi Ia luput dari tangan mereka. Kemudian Yesus pergi lagi ke seberang Yordan, ke tempat Yohanes membaptis dahulu, lalu Ia tinggal di situ.

Dan banyak orang datang kepada-Nya dan berkata: "Yohanes memang tidak membuat satu tanda pun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar." Dan banyak orang di situ percaya kepada-Nya.
 

Renungan


1. Roh Tuhan menggerakkan hati

Melakukan kehendak Bapa-Nya adalah makanan harian-Nya (Yoh 4:34). Karena itu Yesus berkata kepada mereka: “(*)." Dia meyakinkan para pendengar-Nya supaya melihat mujizat-mujizat yang dikerjakan-Nya itu sebagai bukti bahwa kekuatan dan kuasa Tuhan sungguh ada dan hidup dalam diri-Nya.

Mengapa orang tidak percaya pada Yesus Kristus? Karena mata hati imannya tertutup, sehingga tidak mampu melihat bahwa mujizat yang dibuat Yesus sesungguhnya berkat kuasa Tuhan yang ada di dalam diri-Nya. Mereka tidak melihat Tuhan yang bekerja dalam diri Yesus.

Satu pesan untuk kita bahwa kalau ada orang yang selalu berbuat banyak kebaikan, selalu berbelaskasihan kepada sesama, percayalah bahwa Roh Tuhanlah yang selalu menggerakkan hati orang itu. Percayalah kepada-nya bahwa Tuhan selalu bersemayam di dalam diri orang itu.


Selasa, 31 Desember 2019

23.16 -

Yoh 20:11-18

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Selasa, 3 April 2018: Hari Selasa dalam Oktaf Paskah - Tahun B/II (Putih)
Bacaan: Kis 2:36-41; Mzm 33:4-5, 18-19, 20, 22; Yoh 20:11-18


Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring.

Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab Maria kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan."

Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan (1) melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus.

Kata Yesus kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya."

Kata Yesus kepadanya: (2) "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru. Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudaraKu dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu."

Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: "Aku telah melihat Tuhan!" dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.


Renungan


1. Kehadiran yang bermakna

(1) Maria Magdalena merasa begitu kehilangan sosok penting dalam hidupnya, yaitu Pribadi yang mengubah hidupnya, air mata itu pun mengaburkan pandangannya untuk segera mengenal Yesus. Kesedihan hatinya itu menutupi hatinya untuk mengenal Yesus yang berjumpa dengannya.

Hal ini mau mengatakan bahwa Yesus adalah pribadi yang begitu menarik dan penuh kasih, menyelamatkan dan menghidupkan, membersihkan dan mengangkat manusia dari kubangan dosa.

(2) Sapaan Yesus kepada Maria Magdalena, membuat Yesus segera dikenalinya. Perjumpaan itu menjadi perjumpaan yang penuh dengan sukacita, menguatkan hati untuk semakin teguh percaya kepada-Nya.

Kita tentu menginginkan kehidupan yang harmonis, damai dan tentram. Keinginan kita itu tidak akan tercapai jika kehadiran kita hanya mendatangkan luka dan air mata bagi orang-orang yang ada di sekitar kita.

Sebagai murid Tuhan, kita dipanggil untuk menjadi berarti bagi sesama kita. Menjadi berarti adalah sebuah panggilan untuk menjadi seperti Yesus yang penuh cinta. Apakah kehadiran dan keberadaan kita itu berarti bagi orang lain di sekitar kita?


20.31 -

Yoh 3:16-21

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Rabu, 11 April 2018: PW St. Stanislaus, Uskup dan Martir - Tahun B/II (Merah)
Bacaan: Kis 5:17-26; Mzm 34:2-3, 4-5, 6-7, 8-9; Yoh 3:16-21; RUybs


Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Sebab (*) Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.

Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.

Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.

Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah."


Renungan


Tuhan datang bukan untuk menghukum

Allah itu Mahabaik. Dia menciptakan manusia dalam keadaan baik, bahkan sungguh amat baik (Kej 2:26-31).

Dia memanggil setiap manusia yang telah ternoda dosa untuk terus membarui diri. Manusia diajak menjadi sempurna sebagaimana Bapa adalah sempurna (Mat 5:48).

Namun, kadang manusia TIDAK TAAT dan JATUH DALAM KESALAHAN dan DOSA. Saat itulah manusia MERASA TIDAK AMAN SEKALIGUS TIDAK NYAMAN. Dia seakan berada di bawah hukuman Tuhan.

Padahal, (*) Tuhan datang bukan untuk menghukum, melainkan untuk mengasihi dan menghapus segala dosa supaya manusia beroleh keselamatan.


Senin, 30 Desember 2019

22.57 -

Yoh 6:30-35

Sarapan Pagi 
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Selasa, 17 April 2018: Hari Biasa Pekan III Paskah - Tahun B/II (Putih
Bacaan: Kis 7:51 - 8:1a; Mzm 31:3cd-4, 6ab, 7b, 8a, 17, 21ab; Yoh 6:30-35


Maka kata mereka kepada-Nya: "Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga."

Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia."

Maka kata mereka kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa." Kata Yesus kepada mereka: (*) "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.


Renungan


1. Makanan yang mengenyangkan secara rohani

(*) Sebagai roti dari sorga, Yesus merupakan santapan bagi kita. Yesus sebagai Firman yang hidup seharusnya menjadi ‘makanan rohani’ bagi kita, karena Firman itu tidak hanya mengenyangkan kita, tetapi juga menjadikan kita tidak haus lagi. 

Namun tidak semua orang dapat menerima apa yang disampaikan oleh Yesus. Hal ini terjadi karena godaan dunia, yang makin menjauhkan Yesus sebagai makanan rohani.

Agar hidup kita seimbang, hendaknya kita mencari makanan yang tidak binasa, yang dimaksudkan adalah makanan yang mengenyangkan secara rohani, dan bukan makanan secara jasmani semata.

Jadi, sebagai pengikut Kristus, hendaknya Firman itu terus ‘dikunyah’ sehingga akan menjadi inspirasi dan pegangan hidup kita, dan Yesus menjadi pusat hidup kita. Inilah semangat yang harus dimiliki oleh setiap dari kita. Tentu saja semuanya perlu proses sehingga makin hari makin mencintai Yesus Sang Firman yang menjadi roti hidup secara rohani.


22.38 -

Yoh 6:44-51

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Kamis, 19 April 2018: Hari Biasa Pekan III Paskah - Tahun B/II (Putih)
Bacaan: Kis 8:26-40; Mzm 66:8-9, 16-17, 20; Yoh 6:44-51


(1) Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.

Ada tertulis dalam kitab nabi-nabi: Dan mereka semua akan diajar oleh Allah. Dan setiap orang, yang telah mendengar dan menerima pengajaran dari Bapa, datang kepada-Ku.

Hal itu tidak berarti, bahwa ada orang yang telah melihat Bapa. Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal.

Akulah roti hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati.

(2) Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia."


Renungan


1. Roti Hidup

(1) Panggilan dasar kristiani berawal dari inisiatif Allah.

Unsur pertama dari iman ekaristik adalah misteri Allah, yaitu kasih yang Trinitaris. Dalam Ekaristi, Yesus tidak memberi kita suatu “barang”, tetapi diri-Nya sendiri. Dia memberikan tubuh-Nya sendiri dan mencurahkan darah-Nya sendiri kepada kita. Dengan demikian, Dia memberikan seluruh hidup-Nya kepada kita. Dia adalah Putra yang kekal, yang diberikan Bapa kepada kita.

(2) Yesus menunjukkan bahwa Dia adalah Roti Hidup yang diberikan oleh Bapa kepada umat manusia. Sekarang, pemberian itu kita terima melalui perayaan Ekaristi.

Sebagai orang Katolik, kita pantas bersyukur karena selalu diberi kesempatan untuk bisa bersatu dengan Yesus melalui Ekaristi. Maka, mari kita rayakan Ekaristi dengan penuh iman. Sebab disanalah kita diundang oleh Tuhan untuk keselamatan kita dan umat manusia lainnya.


22.24 -

Yoh 6:52-59

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Jumat, 20 April 2018: Hari Biasa Pekan III Paskah - Tahun B/II (Putih)
Bacaan: Kis 9:1-20; Mzm 117:1, 2; Yoh 6:52-59


Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: "Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan."

Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.

Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.

Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.bSama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.

Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya."


Renungan


1. Perlunya katekese

Mengapa orang-orang Yahudi tidak percaya kepada Yesus, Sang Roti Hidup? Mengapa mereka begitu sulit menerima bahwa Yesuslah Mesias? Karena mereka melihat dengan sudut panjang jasmani saja. Mereka hanya melihat Yesus sebagai salah seorang diantara mereka. Mereka tidak mampu melihat bahwa Yesus adalah tanda yang Allah berikan kepada mereka, bahwa Yesus adalah penggenapan dari nubuat para nabi.

Bagaimana agar orang dapat berubah dan menangkap arti yang lebih mendalam serta percaya kepada Yesus? Melalui Pembaptisan, orang mengalami kelahiran kembali dan mengalami pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus (Tit 3:5). Roh Kuduslah yang menerangi orang tersebut pada saat dia mengikuti pelajaran katekese (KGK 1213-1216).

Kita bersyukur bahwa kita dapat mengimani Yesus yang memberikan tubuh dan darah-Nya dalam perayaan Ekaristi. Mari kita bertekun di dalam-Nya agar kelak dapat merayakan perjamuan abadi dan kekal bersama Dia.


22.00 -

Yoh 10:11-18

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Minggu, 22 April 2018: Hari Minggu Paskah IV - Tahun B/II (Putih)
Bacaan: Kis 4:8-12; Mzm 118:1, 8-9, 21-23, 26, 28cd, 29; 1 Yoh 3:1-2; Yoh 10:11-18


Akulah gembala yang baik. (1) Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai beraikan domba-domba itu. Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu.

Akulah gembala yang baik dan (2) Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.

Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.

Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku."


Renungan 


1. Gembala yang baik: Mengasihi dan memperhatikan Domba

Pengorbanan Kristus di atas kayu salib bukti nyata Ia sangat mengasihi kita, sehingga diberikannya hidup-Nya bagi kita demi perlindungan dan keselamatan kita. Hal ini semakin menegaskan bahwa Ia adalah Gembala yang baik(1).

Sebagai domba-domba-Nya tidak ada perkara yang harus kita takutkan dan kuatirkan di dalam hidup ini karena segala yang kita perlukan telah dipersiapkan dan disediakan oleh Gembala kita. 

Dewasa ini dunia diliputi krisis di segala bidang; kesulitan demi kesulitan dialami banyak orang, tantangan dan ujian menghalangi perjalanan kita, namun kita harus yakin bahwa Tuhan ada di pihak kita karena kita adalah milik-Nya, domba-domba-Nya. 

Tuhan berkata: "(2)". Dia tahu benar masalah dan pergumulan kita, keberadaan kita di bawah pengawasan-Nya selalu. Jadi, Ia tahu ke mana Ia memimpin dan membimbing kita, Ia tahu padang rumput yang hijau, Ia tahu tempat di mana kita dapat beristirahat dan kapan kita merasa letih dan haus.

Janganlah takut akan lawan-lawan yang ada, karena Tuhan telah mempersiapkan dan menyediakan setiap kebutuhan kita di hadapan para lawan kita. Bahkan, tidak hanya menyediakan apa yang kita perlukan, Ia juga akan mengurapi kepala kita dengan minyak suci dari sorga, yaitu Roh Kudus yang penuh kuasa untuk menyertai dan menopang kita (Mzm 23).


21.48 -

Yoh 10:22-30

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Selasa, 24 April 2018: Hari Biasa Pekan IV Paskah - Tahun B/II (Putih)
Bacaan: Kis 11:19-26; Mzm 87:1-3, 4-5, 6-7; Yoh 10:22-30


Tidak lama kemudian tibalah hari raya Pentahbisan Bait Allah di Yerusalem; ketika itu musim dingin. Dan Yesus berjalan-jalan di Bait Allah, di serambi Salomo.

Maka orang-orang Yahudi mengelilingi Dia dan berkata kepada-Nya: "Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami."

Yesus menjawab mereka: "Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku, tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-ku. 

Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. (*) Aku dan Bapa adalah satu."


Renungan


1. Mengenal kehendak Allah

Orang-orang Yahudi sudah lelah berada di bawah penjajahan bangsa Romawi. Mereka amat menantikan hadirnya seorang Mesias yang akan membebaskan mereka dari penjajah Romawi itu. Namun jawaban yang keluar dari bibir Yesus adalah “(*).”

Jawaban Yesus tersebut sama artinya dengan mengatakan bahwa Diri-Nya adalah Allah. Karena jawaban Yesus ini, mereka bukan saja amat kecewa, tetapi juga tersinggung dan marah.

Seringkali pikiran manusia berbeda dengan pikiran Allah. Manusia memang tidak bisa dilarang untuk menjadi kecewa, namun dilain pihak manusia diundang untuk makin mengenal Allah sehingga makin mengenal kehendak-Nya atas diri kita.