Tampilkan postingan dengan label SP Markus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SP Markus. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Januari 2020

04.25 -

Mrk 15:1-39

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Minggu, 25 Maret 2018: Hari Minggu Palma, Mengenang Sengsara Yesus - Tahun B/II (Merah)
Bacaan Perarakan: Mrk 11:1-10 atau Yoh 12:12-16; Yes 59:4-7; Mzm 22:8-9, 17-18a, 19-29, 23-24; Flp 2:6-11; Mrk 14:1 - 15:47 (Mrk 15:1-39)


Pagi-pagi benar imam-imam kepala bersama tua-tua dan ahli-ahli Taurat dan seluruh Mahkamah Agama sudah bulat mupakatnya. Mereka membelenggu Yesus lalu membawa-Nya dan menyerahkan-Nya kepada Pilatus.

Pilatus bertanya kepada-Nya: "Engkaukah raja orang Yahudi?" Jawab Yesus: "Engkau sendiri mengatakannya." Lalu imam-imam kepala mengajukan banyak tuduhan terhadap Dia.

Pilatus bertanya pula kepada-Nya, katanya: "Tidakkah Engkau memberi jawab? Lihatlah betapa banyaknya tuduhan mereka terhadap Engkau!" Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawab lagi, sehingga Pilatus merasa heran.

Telah menjadi kebiasaan untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu menurut permintaan orang banyak. Dan pada waktu itu adalah seorang yang bernama (2) Barabas sedang dipenjarakan bersama beberapa orang pemberontak lainnya. Mereka telah melakukan pembunuhan dalam pemberontakan.

Maka datanglah orang banyak dan meminta supaya sekarang kebiasaan itu diikuti juga. Pilatus menjawab mereka dan bertanya: "Apakah kamu menghendaki supaya kubebaskan raja orang Yahudi ini?" Ia memang mengetahui, bahwa imam-imam kepala telah menyerahkan Yesus karena (3B) dengki.

Tetapi imam-imam kepala (3A) menghasut orang banyak untuk meminta supaya Barabaslah yang dibebaskannya bagi mereka. Pilatus sekali lagi menjawab dan bertanya kepada mereka: "Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan orang yang kamu sebut raja orang Yahudi ini?" Maka mereka berteriak lagi, katanya: "Salibkanlah Dia!"

Lalu Pilatus berkata kepada mereka: "Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?" Namun mereka makin keras berteriak: "Salibkanlah Dia!" Dan oleh karena Pilatus ingin memuaskan hati orang banyak itu, ia membebaskan Barabas bagi mereka. Tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan.

Kemudian serdadu-serdadu membawa Yesus ke dalam istana, yaitu gedung pengadilan, dan memanggil seluruh pasukan berkumpul. Mereka mengenakan jubah ungu kepada-Nya, menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya.

Kemudian mereka mulai memberi hormat kepada-Nya, katanya: "Salam, hai raja orang Yahudi!" Mereka memukul kepala-Nya dengan buluh, dan meludahi-Nya dan berlutut menyembah-Nya.

Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah ungu itu dari pada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya. Kemudian Yesus dibawa ke luar untuk disalibkan.

Pada waktu itu lewat seorang yang bernama Simon, orang Kirene, ayah Aleksander dan Rufus, yang baru datang dari luar kota, dan orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus.

Mereka membawa Yesus ke tempat yang bernama Golgota, yang berarti: Tempat Tengkorak. Lalu mereka memberi anggur bercampur mur kepada-Nya, tetapi Ia menolaknya.

Kemudian mereka menyalibkan Dia, lalu mereka membagi pakaian-Nya dengan membuang undi atasnya untuk menentukan bagian masing-masing.

Hari jam sembilan ketika Ia disalibkan. Dan alasan mengapa Ia dihukum disebut pada tulisan yang terpasang di situ: "Raja orang Yahudi". Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kanan-Nya dan seorang di sebelah kiri-Nya.

Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia, dan sambil menggelengkan kepala mereka berkata: "Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, turunlah dari salib itu dan selamatkan diri-Mu!"

Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli Taurat (3C) mengolok-olokkan Dia di antara mereka sendiri dan mereka berkata: "Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Baiklah Mesias, Raja Israel itu, turun dari salib itu, supaya kita lihat dan percaya." Bahkan kedua orang yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela Dia juga.

Pada jam dua belas, kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai jam tiga. Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eloi, Eloi, lama sabakhtani?", yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?

Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata: "Lihat, Ia memanggil Elia." Maka datanglah seorang dengan bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum serta berkata: "Baiklah kita tunggu dan melihat apakah Elia datang untuk menurunkan Dia."

Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawa-Nya. Ketika itu tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah. Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat mati-Nya demikian, berkatalah ia: (1) "Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!"

Sekalipun kepala pasukan bukanlah seorang beriman tapi ketika ia mengamati gerak-gerik Yesus, hati dan intuisinya yang jernih sebagai manusia membuatnya mampu menemukan kehadiran Allah dalam diri Yesus. Pengakuannya: "(1)."


Renungan


1. Berkat kejernihan hati

Sebuah pengakuan yang sangat menggetarkan dan istimewa; istimewa karena keluar dari mulut seorang yang tidak mengenal Allah. Kematian Kristus telah mengantarnya pada iman akan Allah. Ini hanya mungkin terjadi berkat kejernihan hati.

Hal yang sebaliknya terjadi pada (3ABC) para imam kepala, ahli Taurat dan orang Farisi. Iri dan dengki telah membutakan hati mereka sehingga kebaikan apa pun yang telah dilakukan oleh Yesus sama sekali tidak menyentuh hati mereka. Jadi, hati mereka telah dikuasai oleh penyakit batin ini, yang membuat mereka tidak mampu melihat kehadiran Allah dalam diri Yesus.

Dengan meminta pembebasan Barabas yang adalah seorang penjahat (2), secara alam bawah sadar mereka mengakui bahwa mereka adalah satu golongan dengan Barabas.

Untuk itu, marilah kita membersihkan hati kita dari segala penyakit iri dan dengki sehingga misteri kematian Yesus boleh mengantar kita untuk melihat kehadiran Allah dalam setiap peristiwa dalam diri sesama.


Rabu, 01 Januari 2020

02.43 -

Mrk 16:1-8

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Sabtu, 31 Maret 2018: Sabtu Suci - Tahun B/II (Putih)
Bacaan: Kej 1:1 - 2:2 (Kej. 1:1, 26-31a); Mzm. 104:1-2a, 5-6, 10, 12, 13-14, 24, 35c atau Mzm 33:4-5, 6-7, 12-13, 20, 22; Kej. 22:1-18 (Kej 22:1 - 2, 9a, 10-13, 15-18); Mzm 16:5, 8, 9-10, 11; Kel 14:15 - 15:1; MT Kel 15:1-2, 3-4, 5-6, 17-18; Yes 54:5-18; Mzm 30:2, 4, 5-6, 11, 12a, 13b; Yes 55:1-11; MT Yes. 12:2-3, 4bcd, 5-6; Bar 3:9-15, 32 - 4:4; Mzm 19:8, 9, 10, 11; Yeh 36:16-17a, 18-28; Mzm 42:3, 5bcd; Mzm 43:3.4; Kalau ada baptisan: MT Yes 12:2-3, 4bcd, 5-6 atau Mzm 51:12-13, 14-15, 18-19; Rm 6:3-11; Mzm 118:1-2, 16ab-17, 22-23; Mrk 16:1-8


Setelah lewat hari Sabat, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus. Dan pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu, setelah matahari terbit, pergilah mereka ke kubur.

Mereka berkata seorang kepada yang lain: "Siapa yang akan menggulingkan batu itu bagi kita dari pintu kubur?" Tetapi ketika mereka melihat dari dekat, tampaklah, batu yang memang sangat besar itu sudah terguling.

Lalu mereka masuk ke dalam kubur dan mereka melihat seorang muda yang memakai jubah putih duduk di sebelah kanan. Merekapun sangat terkejut, tetapi orang muda itu berkata kepada mereka: "Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia. Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu."

Lalu mereka keluar dan lari meninggalkan kubur itu, sebab gentar dan dahsyat menimpa mereka. Mereka tidak mengatakan apa-apa kepada siapapun juga karena takut. Dengan singkat mereka sampaikan semua pesan itu kepada Petrus dan teman-temannya. Sesudah itu Yesus sendiri dengan perantaraan murid-murid-Nya memberitakan dari Timur ke Barat berita yang kudus dan tak terbinasakan tentang keselamatan yang kekal itu.


Renungan


1. Jadilah saksi Kristus

Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus serta Salome adalah saksi dari kebangkitan-Nya, ketakutan menjadi reaksi awal mereka, apa yang mereka saksikan tentang makam yang kosong itu menjadi ketakutan tersendiri untuk mengatakan peristiwa ini kepada yang lain.

Peristiwa kebangkitan adalah peristiwa yang luarbiasa dalam kehidupan. Yesus sebagai yang sulung telah bangkit dan mengalahkan maut. Maut telah Ia hancurkan dan dalam kemenangan-Nya itu Ia menyertai perjuangan manusia di dunia ini.

Perjumpaan kita secara pribadi dengan Yesus hendaknya juga terwujud dalam kesaksian hidup kita. Ingatlah! Peristiwa Agung dan Suci ini adalah perayaan besar iman kita, yang harus kita wartakan agar seluruh manusia di dunia ini merasakan damai, sukacita dan kasih Allah.

Minggu, 29 Desember 2019

19.08 -

Mrk 7:24-30

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Kamis, 8 Februari 2018: Hari Biasa V - Tahun B/II (Hijau)
Bacaan: 1 Raj 11:4-13; Mzm 106:3-4, 35-36, 37, 40; Mrk 7:24-30


Lalu Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan.

Malah seorang ibu, yang anaknya perempuan kerasukan roh jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan tersungkur di depan kaki-Nya. Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya.

Lalu Yesus berkata kepadanya: "Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing."

Tetapi perempuan itu menjawab: "Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak."

Maka kata Yesus kepada perempuan itu: "Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu." Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah keluar.


Renungan


1. Karakter pemenang

Pada awalnya, Yesus seakan-akan menolak permintaannya. Tetapi karena imannya, ia begitu yakin bahwa Yesus nantinya membantu dan menolongnya. Oleh karena itu ia tetap bertahan dan berusaha hingga akhirnya ia mengalami berkat dari Tuhan. Keyakinan batin perempuan ini melahirkan sikap optimis di dalam dirinya bahwa Yesus pasti menolongnya.

Dalam hidup kita, kita sering bertemu dengan sejumlah persoalan kehidupan, entah masalah-masalah pribadi ataupun masalah-masalah keluarga. Kadang kala, kita merasa terbebani dengan semuanya itu, sehingga kita kurang begitu yakin dengan kemampuan kita dan bahkan tidak begitu yakin dengan masa depan kita.

Selain itu, setiap orang pastinya memiliki cita-cita dan mimpi untuk masa depan. Namun kadang kala, penderitaan dan beban hidup membuat kita ragu untuk terus berjalan.

Mulai saat ini, marilah kita tetap bertahan, berjuang dan berjalan berjalan dengan Tuhan, karena berjalan bersama-Nya kita akan memperoleh keyakinan batin dan optimisme iman bahwa segala penderitaan dan beban hidup pun akan berlalu. Bersama-Nya kita akan menjadi pemenang dalam kehidupan ini.


Minggu, 07 Juli 2019

06.51 -

Mrk 9:14-29

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Senin, 21 Mei 2018: Hari Biasa VII - Tahun B/II (Hijau)
Bacaan: Yak 3:13-18; Mzm 19:8, 9, 10, 15; 


Ketika Yesus, Petrus, Yakobus dan Yohanes kembali pada murid-murid lain, mereka melihat orang banyak mengerumuni murid-murid itu, dan beberapa ahli Taurat sedang mempersoalkan sesuatu dengan mereka.

Pada waktu orang banyak itu melihat Yesus, tercenganglah mereka semua dan bergegas menyambut Dia. Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Apa yang kamu persoalkan dengan mereka?"

Kata seorang dari orang banyak itu: "Guru, anakku ini kubawa kepada-Mu, karena ia kerasukan roh yang membisukan dia. Dan setiap kali roh itu menyerang dia, roh itu membantingkannya ke tanah; lalu mulutnya berbusa, giginya bekertakan dan tubuhnya menjadi kejang. (2A) Aku sudah meminta kepada murid-murid-Mu, supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat."

Maka kata Yesus kepada mereka: (2B) "Hai kamu angkatan yang tidak percaya, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!"

Lalu mereka membawanya kepada-Nya. Waktu roh itu melihat Yesus, anak itu segera digoncang-goncangnya, dan anak itu terpelanting ke tanah dan terguling-guling, sedang mulutnya berbusa.

Lalu Yesus bertanya kepada ayah anak itu: "Sudah berapa lama ia mengalami ini?" Jawabnya: "Sejak masa kecilnya. Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api ataupun ke dalam air untuk membinasakannya. Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami."

Jawab Yesus: "Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!" Segera ayah anak itu berteriak: "Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!"

Ketika Yesus melihat orang banyak makin datang berkerumun, Ia menegor roh jahat itu dengan keras, kata-Nya: (1) "Hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau, keluarlah dari pada anak ini dan jangan memasukinya lagi!" Lalu keluarlah roh itu sambil berteriak dan menggoncang-goncang anak itu dengan hebatnya. 

Anak itu kelihatannya seperti orang mati, sehingga banyak orang yang berkata: "Ia sudah mati." Tetapi Yesus memegang tangan anak itu dan membangunkannya, lalu ia bangkit sendiri.

Ketika Yesus sudah di rumah, dan murid-murid-Nya sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka: "Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?" Jawab-Nya kepada mereka: (2C) "Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa."


Renungan


1. Melalui doa, kuasa berdaya guna

(1) Dengan kuasa-Nya yang sangat kuat, Yesus mengusir roh itu. Darimana Yesus mendapat kuasa sebesar itu? Kuasa itu datang dari Allah Bapa.

(2ABC) Para murid tidak percaya akan kuasa yang diberikan Yesus. Selain itu mereka tidak mengembangkan kuasa itu lewat doa. Akibatnya, kuasa itu tidak berdaya guna.

Dalam kehidupan sehari-hari kita seringkali menyepelekan doa, padahal doa itu sangat penting. Doa dapat melepaskan manusia dari kelekatan hawa nafsu duniawi, dapat melindungi manusia dari serangan atau gangguan dari roh jahat. Bahkan dengan berdoa, kita dapat menolong sesama.


06.22 -

Mrk 9:38-40

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Rabu, 23 Mei 2018: Hari Biasa VII - Tahun B/II (Hijau)
Bacaan: Yak 4:13-17; Mzm 49:2-3, 6-7, 8-10, 11; Mrk 9:38-40


Kata Yohanes kepada Yesus: (1) "Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita."

Tetapi kata Yesus: (2) "Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorangpun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku. Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita."


Renungan


1. Orang yang rendah hati dapat menghargai karya orang lain

(1) Yang menggelisahkan Yohanes dari peristiwa itu bukanlah soal orang itu mengusir setan demi nama Yesus, tetapi karena orang yang melakukan itu bukan dari kelompok mereka. Mungkin Yohanes berharap Yesus menegur orang tersebut. 

(2) Yesus menegaskan bahwa Yohanes telah salah meresponi peristiwa tersebut. Bagi Yesus, lawan yang sebenarnya yang luput dari pengamatan Yohanes adalah iblis itu sendiri.

Yesus mengajarkan para murid untuk memiliki sikap rendah hati sebab hanya orang yang rendah hati akan dapat menghargai karya orang lain. Sikap seperti inilah yang harus kita miliki dalam hidup kita bersama agar tercipta harmoni.

Hanya dengan kerendahan hati, seseorang dapat dengan bijaksana menentukan mana yang sebenarnya lawan dan mana yang kawan. Tanpa kerendahan hati orang akan cenderung menjadikan sesamanya adalah lawan.


02.46 -

Mrk 9:41-50

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Kamis, 24 Mei 2018: Hari Biasa VII - Tahun B/II (Hijau)
Bacaan: Yak 5:1-6; Mzm 49:14-15ab, 15cd-16, 17-18, 19-29; Mrk 9:41-50


"Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut.

Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan;

Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka;

Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam.

Karena (1) setiap orang akan digarami dengan api. Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? (2) Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain."


Renungan


1. Menjaga kemurnian hidup

Garam adalah lambang kemurnian, putih, berasal dari air laut yang disinari matahari. Sehingga ungkapan "(1)" berarti setiap orang percaya harus melewati ujian pemurnian hidup. (2) Perintah untuk menjaga kemurnian hidup kita masing-masing.

Dengan tidak membiarkan diri sendiri menjadi batu sandungan bagi orang lain dan tidak membiarkan diri kita mudah tersandung oleh apa yang orang lakukan adalah kunci untuk kita bisa hidup berdamai dengan sesama. 

Termasuk ketika kita mencari persoalan dengan ingin meninggikan diri sendiri di antara teman-teman kita, dan ketika kita iri hati terhadap orang percaya lainnya yang mungkin lebih hebat dari kita, perbuatan-perbuatan demikian bisa menjadi batu sandungan dalam hidup kita bersama. Karena itu cara mujarab untuk menghindarinya adalah dengan tanggung jawab tiap orang menjaga kemurnian hidup.


02.37 -

Mrk 10:1-12

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Jumat, 25 Mei 2018: Hari Biasa VII - Tahun B/II (Hijau)
Bacaan: Yak 5:9-12; Mzm 103:1-2, 3-4, 8-9, 11-12; Mrk 10:1-12


Dari situ Yesus berangkat ke daerah Yudea dan ke daerah seberang sungai Yordan dan di situpun orang banyak datang mengerumuni Dia; dan seperti biasa Ia mengajar mereka pula.

Maka datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya: "Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?" Tetapi jawab-nya kepada mereka: "Apa perintah Musa kepada kamu?" Jawab mereka: "Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai."

Lalu kata Yesus kepada mereka: "Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu. Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah (*) mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."

Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya pula kepada Yesus tentang hal itu. Lalu kata-Nya kepada mereka: "Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah."


Renungan


1. Hidup perkawinan Kristiani

Perkawinan bukan sekedar keinginan manusiawi, tetapi ada campur tangan Ilahi. Perceraian bukanlah bagian dari rencana awali Allah bagi pria dan wanita dalam perkawinan (*). Inilah nilai-nilai iman Kristiani.

Hidup perkawinan harus dijaga dengan baik, terutama kita harus bekerjasama dengan rahmat Tuhan dan berusaha terus-menerus menghayati nilai-nilai iman Kristiani.

Sekiranya hidup perkawinan itu hanya dilihat dari kacamata manusiawi, tentu saja nilai perkawinan itu berdasarkan nilai-nilai manusia saja, hanya dilihat agar manusia tidak sendirian saja.

Hidup dalam perkawinan adalah salah satu sarana dalam mencapai kekudusan seseorang, agar manusia tidak jatuh dalam dosa yang lebih besar. Dengan kata lain, hidup dalam perkawinan merupakan kehendak Ilahi di mana pasangan itu harus hidup dalam kesetiaan baik dalam suka mau pun duka. Selain merupakan hidup dalam kesetiaan, ini juga merupakan pesan iman dan moral Kristiani.


02.24 -

Mrk 10:13-16

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


 Firman yang tertanam di dalam hatimu, 
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Sabtu, 26 Mei 2018: PW St. Filipus Neri, Imam - B/II (Putih)
Bacaan: Yak 5:13-20; Mzm 141:1-2, 3, 8; Mrk 10:13-16; RUybs


Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi (1) murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu.

Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: (2) "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya." Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka.


Renungan


1. Milikilah hati yang murni seperti anak-anak kecil

(1) Kalau kita berpikir secara rasional atau menggunakan akal sehat, apa yang dilakukan oleh para murid itu bisa dikategorikan benar. Karena anak-anak kecil itu akan mengganggu pelayanan Yesus, mereka suka rewel, ribut dan belum mengerti apa-apa.

(2) Kemarahan Yesus terhadap para murid, tentunya membuat heran banyak orang yang ada, bagaimana tidak, Yesus yang lemah lembut dan rendah hati itu marah.

Apa yang dipikirkan oleh para murid, ternyata tidak sejalan dengan apa yang Yesus kehendaki. Bagi Yesus, anak-anak kecil adalah gambar kepolosan, ketulusan dan kesucian, anak-anak belum mengenal dosa dan kejahatan.

Gambaran anak kecil ini juga dipakai Yesus untuk melukiskan Kerajaan Sorga. Sorga hanya diperuntukan bagi orang-orang yang suci dan murni hatinya sama seperti anak-anak kecil. Marikah kita memiliki hati yang suci seperti anak-anak kecil agar kita memperoleh Kerajaan Sorga.


00.14 -

Mrk 10:17-27

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Senin, 28 Mei 2018: Hari Biasa VIII - Tahun B/II (Hijau)
Bacaan: 1 Ptr 1:3-9; Mzm 111:1-2, 5-6, 9, 10c; Mrk 10:17-27


Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"

Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja. Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!"

Lalu kata orang itu kepada-Nya: "Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku." Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: "Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."

Mendengar perkataan itu (*) ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya. Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah."

Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: "Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."

Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?" Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah."


Renungan


1. Ciri murid Tuhan yang sejati

(*) Hati orang kaya itu baik, taat melaksanakan hukum Yahudi tetapi hartanya yang banyak itu telah mengeruhkan hatinya. Kekeruhan hati ini membuatnya lebih memilih harta dan berpisah dengan Yesus.

Uang dan harta adalah sarana kebahagiaan untuk semua orang dan itu adalah rahmat dari Tuhan, seharusnya, semakin seseorang memiliki banyak uang dan harta, semakin bebas ia melakukan kebaikan: mendekatkan diri kepada Allah dan menolong orang-orang yang membutuhkan.

Indikasi seorang murid Tuhan yang sejati, selain mengikuti-Nya tanpa syarat, juga harus berani melepaskan segalanya tanpa syarat, hidup dalam semangat berbagi dengan sesama. Ketimpangan sosial-ekonomi masa kini bukan karena Tuhan tidak peduli, tetapi karena kita yang tidak rela untuk berbagi.