Sabtu, 28 September 2019

Panggilan umum kepada kesucian

Dalam LG 40 diuraikan bahwa “Para pengikut Kristus dipanggil oleh Allah bukan berdasarkan perbuatan mereka, melainkan berdasarkan rencana dan rahmat-Nya. Mereka dibenarkan dalam Tuhan Yesus, dan dalam baptis iman sungguh-sungguh dijadikan anak-anak Allah dan ikut serta dalam kodrat ilahi, maka sungguh menjadi suci. Maka dengan bantuan Allah mereka wajib mempertahankan dan mengembangkan dalam hidup mereka kesucian yang telah mereka terima (Ef 5:3 » sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus). 

Sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran; dan supaya menghasilkan buah Roh lainnya (KGK 1832: 1. Kasih 2. Sukacita 3. Damai sejahtera 4. Kesabaran 5. Kemurahan 6. Kebaikan 7. Kesetiaan 8. Kelemahlembutan 9. Penguasaan diri 10. Kerendahan Hati 11. Kesederhanaan 12. Kemurnian). 

Jadi, semua orang Kristiani, bagaimanapun status atau corak hidup mereka, dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup kristiani dan kesempurnaan cinta kasih. Dengan kesucian itu juga dalam masyarakat di dunia ini cara hidup menjadi lebih manusiawi. 

Untuk memperoleh kesempurnaan itu hendaklah kaum beriman mengerahkan tenaga yang mereka terima menurut ukuran yang dikaruniakan oleh Kristus, supaya dengan mengikuti jejak-Nya dan menyerupai citra-Nya, dengan melaksanakan kehendak Bapa dalam segalanya, mereka dengan segenap jiwa membaktikan diri kepada kemuliaan Allah dan pengabdian terhadap sesama. Begitulah kesucian Umat Allah akan bertumbuh dan menghasilkan buah berlimpah.

Sumber: Warta KPI TL No. 173/IX/2019 » Konsili Vatikan II LG 40). 

15.38 -

Amanat Agung



Kerinduan Allah akan dunia ini: setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh 3:16; Yoh 17:3 » Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus). 

Oleh karena itu Juruselamat memerintahkan kita untuk menjalankan “Amanat Agung-Nya” (Mrk 16:15-20; Mat 28:19-20 » Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil ... jadikanlah semua bangsa murid-Ku ... ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. ... Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman dan Ia turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya). Misi adalah perintah bukan pilihan. 

Kegagalan untuk pergi melakukan misi adalah sama dengan kegagalan untuk taat. Kita tidak dituntut untuk bisa/mampu melainkan untuk pergi dengan rela, karena Dia sendiri (melalui Roh Kudus) akan memperlengkapi dan juga menyertai kita sampai akhir jaman. 

Kamu dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya (Kol 1:21-23). Jadi, kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus (1 Ptr 1:18-19). 

Oleh karena itu kamu telah berhutang pada-Nya (Rm 13:8 » berhutang kasih). Artinya hutang terbesar orang percaya adalah menyatakan kasih terhadap sesama), maka memberitakan Injil adalah keharusan (1 Kor 9:16), untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya (Rm 1:1, 5). 

Jadi, tidak ada hal lain yang lebih besar untuk ‘membalas’ kebaikan Allah selain melaksanakan pekabaran Injil sehingga orang lain juga dapat mengalami keselamatan yang sama. Tidak ada pelayanan yang terlalu kecil atau pengorbanan yang terlalu besar apabila dilakukan untuk kemuliaan Tuhan. 

Dalam pengalaman penginjilan yang dilakukan oleh Paulus, ia berkata bahwa kasih Kristuslah yang menguasai dan mendorongnya untuk memberitakan Injil, sehingga ia rela mengorbankan miliknya bahkan memberikan dirinya bagi mereka yang dilayaninya (2 Kor 5:14; 12:15). 

Kasih Kristus terhadap orang-orang berdosa adalah kasih yang memberi diri demi keselamatan orang yang dikasihi (Yohanes 15:13). Jadi, jika kita mengasihi Allah dan kasihnya tinggal di dalam kita, pastilah kita juga terdorong untuk menyatakan kasih yang sama kepada orang-orang terhilang. 

Satu jiwa yang bisa kita persembahkan kepada Tuhan, baunya seperti wangi-wangian dupa narwastu. 

Krisis orang berdosa (perikop di bawah ini berbicara tentang dosa kelalaian) yang mendorong kita untuk pergi kepada mereka dan menceritakan Kabar Baik padanya agar mereka tidak kehilangan nyawanya untuk selamanya. Jadi, krisis dalam hidup saat ini ada kaitannya dengan kehidupan yang akan datang. 

Sebagai gambaran: Jika kita melihat orang yang terjebak dalam bahaya dan butuh pertolongan dan kita dapat memberi pertolongan, maka kita tidak perlu lagi bertanya mengapa harus pergi, melainkan kita harus bergegas untuk pergi memberikan pertolongan. 

[Luk 16:19-31] "Ada (1A) seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Dan ada (2A) seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. 

Kemudian (2B) matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. (1B) Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan (2C) Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab (1C) aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.

Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa (1D) engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan (2D) Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. 

Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini. 

Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu. Jawab orang itu: Tidak, Bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. 

Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati." 


» (1A-D; 2A-D) Kisah tentang orang kaya dan Lazarus memberikan gambaran keadaan manusia sesudah kematian. Jiwa manusia dihakimi Allah untuk segala perbuatannya.

(1A-D) Orang kaya ini melakukan dosa kelalaian, hatinya begitu tertutup pada hartanya sampai-sampai ia buta untuk menunjukkan belas kasih pada orang menderita.

[Kis 8:26-38] Kemudian berkatalah seorang malaikat Tuhan kepada Filipus, katanya: "Bangunlah dan berangkatlah ke sebelah selatan, menurut jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza." Jalan itu jalan yang sunyi. Lalu berangkatlah Filipus. Adalah seorang Etiopia, seorang sida-sida, pembesar dan kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, yang pergi ke Yerusalem untuk beribadah. Sekarang orang itu sedang dalam perjalanan pulang dan duduk dalam keretanya sambil membaca kitab nabi Yesaya. 

Lalu kata Roh kepada Filipus: "Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu!" Filipus segera ke situ dan mendengar sida-sida itu sedang membaca kitab nabi Yesaya. Kata Filipus: "Mengertikah tuan apa yang tuan baca itu?" Jawabnya: "Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?" Lalu ia meminta Filipus naik dan duduk di sampingnya. 

Nas yang dibacanya itu berbunyi seperti berikut: Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya. Dalam kehinaan-Nya berlangsunglah hukuman-Nya; siapakah yang akan menceriterakan asal usul-Nya? Sebab nyawa-Nya diambil dari bumi. 

Maka kata sida-sida itu kepada Filipus: "Aku bertanya kepadamu, tentang siapakah nabi berkata demikian? Tentang dirinya sendiri atau tentang orang lain?" Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya. 

Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: "Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?" [Sahut Filipus: "Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh." Jawabnya: "Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah."]. Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia. 

» Mengajar adalah menjelaskan kepada mereka apa yang terkandung dalam Alkitab, yakni: berita keselamatan bagi orang yang akan binasa karena dosa. Allah menugaskan seseorang yang akan menuntun atau mengajar orang-orang terhilang tentang kebenaran dari firman Allah, yakni bagaimana caranya untuk diselamatkan. 

Bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!" (Rm 10:14-15). 

Gereja tidak akan bertumbuh dan berkembang jika tidak menjadi gereja yang misionaris. Jadi, untuk merealisasikan tugas memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus, gereja harus mengirim misionaris ke berbagai penjuru dunia dan harus merubah caranya dalam pewartaan, yaitu melalui kotbah yang menarik. 

Kaum awam, semua umat beriman, telah menerima dari Allah tugas kerasulan berkat Pembaptisan dan Penguatan; karena itu mereka mempunyai hak dan kewajiban, baik sendiri-sendiri maupun dalam persekutuan dengan orang lain, untuk berusaha supaya semua manusia di seluruh dunia mengenal dan menerima berita keselamatan ilahi. Kewajiban ini lebih mendesak lagi, apabila orang tertentu hanya melalui mereka dapat menerima Injil dan mengenal Kristus. Dalam persekutuan gerejani kegiatan mereka demikian penting, sehingga kerasulan pastor sering tidak dapat berkembang sepenuhnya tanpa mereka (KGK 900). 

Jadi, orang-orang beriman harus bersaksi di mana pun Allah telah menempatkannya, baik secara pribadi (non lembaga - tidak ada penugasan formal dari gereja) maupun secara lembaga misi. 

Memiliki keberanian dan semangat untuk bersaksi adalah baik, tetapi jika tidak didukung dengan cara hidup yang baik dan benar maka hal itu menjadi tidak berarti. Bagaimana mungkin mereka percaya dengan kesaksian kita jika cara hidup kita berbeda atau bertolak-belakang dengan apa yang kita katakan dan yakini. Dalam tugas menjadi saksi bagi mereka yang terhilang, kita harus menunjukkan kepada mereka bahwa kita mengetahui jalan keselamatan. Dua hal diatas harus berjalan berdampingan atau berjalan dengan keseimbangan.

(Sumber: Warta KPI TL No. 173/IX/2019).

Selasa, 24 September 2019

06.51 -

Keluarga sebagai komunitas ber-‘iman’





Sejak kecil saya sudah tertarik untuk menjadi seorang imam. Oleh karena itu saya bersekolah di SMP Seminari Mertoyudan Jawa Tengah. Setelah ditahbiskan menjadi imam, saya di tempatkan di Rumah Retret Pratista Cisarua Bandung. 


Ayah saya bekerja sebagai TNI Angkatan Udara dan ibu saya bekerja sebagai bidan di Rumah Sakit. Karena hidup keluarga kami serba pas-pasan, maka kami tidak mempunyai pembantu, sepulang kerja ibu langsung membersihkan rumah tanpa bersungut-sungut. 

Suatu hari sepulang kerja, ayah melihat rumah masih berantakan dan melihat ibu yang sedang hamil anak ketiga menenangkan tangisan anaknya yang kedua. Ayah langsung mengambil alih tugas ibu tanpa bersungut-sungut. Di sini saya melihat teladan kehidupan orang tua yang saling mengasihi. 

Sejak kecil kami dididik untuk bertanggungjawab terhadap tugas yang telah ditetapkan, bagian saya adalah menimba air di sumur. Suatu hari ibu sakit, maka segala tanggungjawab yang biasa ibu lakukan diambil alih oleh ayah tanpa bersungut-sungut. Meskipun keluarga saya hidup tidak dalam kelimpahan, tetapi seluruh keluarga saling bekerja sama membereskan rumah dengan sukacita. 



Ayah selalu naik sepeda ke mana saja, kalau ditanya kenapa tidak naik sepeda motor, beliau mengatakan bahwa lebih enak naik sepeda karena bisa menikmati angin sejuk yang berhembus. Di sini saya melihat teladan iman yang luar biasa, yaitu dapat bersyukur meskipun menurut pandangan dunia “ini adalah penderitaan”. 


Karena ayah hanya mempunyai satu sepeda, maka saya dan adik saya naik angkot ketika ke gereja. Kami bertemu di gereja dan selalu duduk sederet di bangku urutan ke dua. Pada saat itu ongkos angkot Rp 25, ayah memberi saya hanya Rp 50 untuk ongkos bolak balik dari rumah ke gereja, untuk saya dan satu adik saya. Ketika saya protes, ayah berkata: “Ya, adikmu kamu pangku to ...”. Ketika adik saya yang nomer tiga mulai agak besar, saya dan kedua adik saya naik angkot. Ketika saya hanya diberi Rp 100, saya protes lagi, ayah berkata: “Ya, adikmu kamu pangku to ...”. Akhirnya, saya memangku kedua adik saya sehingga ada sisa uang Rp 50, uang tersebut saya ambil Rp 25 dan sisanya saya berikan kedua adik saya sebagai imbalan untuk tutup mulut. 



Saya sekolah tidak pernah dibekali uang, tetapi membawa bekal dari rumah dan membawa air minum yang banyak, ketika lapar minum yang banyak. Jika pinsil sudah pendek, pinsil tersebut disambung dengan kertas yang digulung. Kemiskinan itu membuat kami kreatif. 



Meskipun demikian, jika ada acara kumpul keluarga di Muntilan, ayah selalu mengajak jalan keponakannya ke Borobudur. Kami naik angkot dengan cara saling memangku seperti biasanya dan makan soto semangkok berdua, kami semua merasa bersukacita. Di sinilah saya belajar bahwa “lebih berbahagia memberi dari pada menerima”. 


Di rumah kami ada peraturan, hari Sabtu sore baru boleh nonton televisi. Suatu hari sepulang kerja ayah marah-marah (mungkin karena sangat lelah dan ada banyak masalah di tempat kerja) karena melihat anak-anaknya sedang tertawa-tawa menonton Woody Woodpecker yang lucu. Katanya: “Eko, kamu anak nomer satu, bukan memberikan contoh yang baik buat adik-adikmu. Matikan TV, ambil buku, dan belajar!” Ketika ibu mengingatkan bahwa hari ini adalah hari Sabtu, ayah menyesal telah marah pada saat yang tidak tepat. Namun hati saya saat itu terluka, karena ayah bisa toleransi di tempat kerja tetapi tidak terhadap anaknya. 


Meskipun hidup keluarga kami pas-pasan, tetapi ada suatu kebiasaan baik dalam keluarga kami untuk selalu menjamu tamu. Kalau tidak ada makanan di rumah, bagian saya yang hutang ke warung, setelah tamu pulang, ibu yang membayarnya. Saya sangat senang apabila tamunya adalah pastor Belanda, karena ibu selalu menghidangkan kopi dan kue kastengel. Saat itu saya berdoa dalam hati agar dapat remah-remahnya, namun saya gigit jari ketika ibu membungkus kue tersebut untuk dibawa pulang oleh pastor, karena beliau menyukai kue kastengel. 


Suatu hari ada tamu, tanpa sengaja tangan anaknya menyentuh gelas sehingga gelas pecah. Reaksi ibu: “Tidak apa-apa ...” Dengan anak orang lain ibu bisa toleransi, namun dengan anaknya sendiri mendidik begitu keras. Kalau saya berbuat salah selalu dihukumnya, kalau saya berbuat benar tidak pernah dipuji. Akibatnya, saya merasa tidak dicintai. 



Saya pun pernah merasakan jatuh cinta. Pada saat pimpinan tahu, beliau memanggil dan berkata: “... kamu mau tetap tinggal di biara atau putuskan!” Akhirnya saya memutuskan pacar saya, karena saya lebih mengikuti panggilan hidup saya, yaitu menjadi imam. Jadi, hidup itu adalah kesempatan untuk memilih. 



Saya juga pernah dikirim ke Philipina untuk mengenyam pendidikan di CEFAM (Central Family Ministry) di dalam bidang Konseling Keluarga. Sebelum bekerja sebagai konselor keluarga, saya mengikuti retret. Pada sesi melepaskan pengampunan, dalam doa saya disuruh membayangkan “ayah meninggal” » tidak ada perasaan sedih, tetapi saya hanya mengatakan “selamat jalan”. Tetapi ketika membayangkan “ibu meninggal” » saya menangis karena saya sangat menyayanginya. 

Melihat ada yang tidak beres dalam kehidupan saya, pembimbing saya mengharuskan untuk rekonsiliasi dengan ayah. Hidup yang paling berat ketika saya harus mengampuni ayah saya. Karena taat pada pimpinan dan ingin sembuh dari luka batin saya maka saya segera menelpon ayah, namun ayah menolaknya karena ada acara di Gereja. Meskipun ditolak, saya tidak merasa putus asa. Karena saya tahu Ayah adalah seorang yang selalu taat dan menghormati pada pimpinan, maka saya menelponnya lagi dengan mengatakan bahwa “Ini Romo Eko.” Akhirnya kami membuat kesepakatan untuk bertemu. 

Ketika saya pulang ke rumah, seluruh keluarga berkumpul dan berbincang-bincang seperti biasanya. Tiba-tiba terlontar kata dari adik saya: “Ayah terlalu keras pada kakak.” Ketika mendengar itu, ayah menyadari kesalahannya, dan bercerita tentang masa kecilnya. Ternyata ayah keras karena mendapatkan didikan yang keras dari kakek saya. 

Pada hari itu terjadilah rekonsiliasi seluruh keluarga. Ketika saya memeluk ayah, ayah berkata: “Ini adalah pelukan yang sangat berkesan, yang pernah saya rasakan.” Sejak hari itu kami sekeluarga belajar untuk saling mengerti dan mempunyai kebiasaan baru, yaitu saling berpelukan jika bertemu. Bahkan saat berfoto, ibu tidak malu-malu lagi memeluk ayah erat-erat. Ketika ditanya mengapa ibu memeluk ayah erat-erat, katanya” Lebih baik memeluk sekarang daripada saat sudah menjadi dingin.” 



Berkat rahmat Allah, terjadilah perubahan dalam diri saya, saya sekarang bukan lagi “pastor yang mempunyai karakter yang keras”. Berkat rekonsiliasi, saya bisa berdamai dengan diri sendiri sehingga tidak ada lagi penghalang bagi saya untuk melaksanakan “Amanat Agung-Nya”. Sejak rekonsiliasi, ketika melaksanakan tugas perutusan saya tidak pernah ja-im (jaga image) lagi ketika hendak tertawa, ya tertawa lepas. Ini adalah buah Roh sukacita yang sejati. 




Penderitaan akan merobek jiwa (Ams 27:9). Maksud  pencobaan untuk membuktikan kemurnian iman kita.  Tujuan iman  untuk keselamatan jiwa kita (1 Ptr 1:6-7, 9). Semua waktu pergumulan, sebenarnya kita sedang menumbuhkan akar-akar iman kita. Hari-hari yang baik memberi kebahagiaan, hari-hari yang kurang baik memberi pengalaman. 


Jadi, penderitaan apapun yang kita alami harus ada pengucapan syukur yang benar-benar ke luar dalam hati, maka cawan itu bukan lagi cawan kesengsaraan tetapi diubah menjadi cawan berkat.


Di dalam keluarga, saya belajar hidup dalam iman. Bagi saya, kesukaran dan penderitaan adalah kebanggaan (Mzm 90:10), karena kami sekeluarga tetap bersukacita meskipun mengalaminya masalah. Justru melalui kesukaran dan penderitaan, kami sekeluarga dapat bersaksi bahwa penyertaan Allah sungguh luar biasa, pertolongan-Nya tidak pernah terlambat. 

Jalan menuju kekudusan terdiri dari langkah-langkah kecil dalam doa, berkorban dan melayani orang lain. 

[Baca juga: Keluargaku penuh rahmat atau penuh kutuk? ; Luka batin]



Kebahagiaan sejati di dalam Kristus bukan hanya milik para imam, biarawan, biarawati, namun juga milik kita yang hidup berkeluarga. Namun pengertian ‘kebahagiaan’ dan ‘cinta kasih’ menurut Tuhan tidak sama dengan pengertian menurut dunia. Tuhan menginginkan kebahagiaan kekal, sedangkan dunia, kebahagiaan sesaat. Tuhan menghendaki kita mengasihi secara total, sedangkan kita umumnya cukup berpuas diri dengan cinta ’sebagian’ saja. 

Mungkin Tuhan tahu bahwa tanpa contoh, kita tidak akan dapat mengasihi seturut kehendak-Nya, sehingga Ia mengutus Putera-Nya, Tuhan Yesus, untuk memberitahukan kepada kita bagaimana caranya mengasihi, supaya kita benar- benar dapat sampai kepada kebahagiaan yang Tuhan rencanakan bagi kita. 

Melalui teladan Yesus, kita mengetahui seperti apakah cinta sejati, yaitu cinta yang memberikan diri sehabis-habisnya kepada orang yang dikasihi, seperti apa yang telah dilakukan Yesus kepada setiap kita. Yesus ingin agar kitapun dapat mengasihi seperti ini. Jadi, Allah Bapa memanggil kita untuk hidup di dalam persekutuan dengan Kristus (1 Kor 1:9). Oleh karena itu, melalui Baptisan, Tuhan menggabungkan kita dengan kehidupan ilahi-Nya sendiri, sehingga kita dapat memiliki kasih seperti kasih-Nya. 

Menjadi seorang yang beriman, adalah panggilan dan sebuah kesempatan. Seringkali kita tidak mengambil kesempatan itu sebagai sebuah kesempatan. Yang kita lihat hanyalah masalah demi masalah. Mengapa? Masalah itu terjadi karena tidak sesuai dengan keinginan kita. 

Demikian pula dalam kehidupan dalam berkeluarga. “Keluarga bukanlah sebuah masalah; keluarga yang pertama dan terutama adalah kesempatan” (Paus Fransiskus). Kesempatan apa? Kesempatan menjadi bijaksana, dengan mengikuti jejak-Nya, melaksanakan kehendak Bapa dalam segalanya, dengan segenap jiwa membaktikan diri kepada kemuliaan Allah dan pengabdian terhadap sesama supaya menghasilkan buah Roh (KGK 1832) (LG 40). 



Apakah yang dapat menguduskan dalam sebuah perkawinan? Kesetiaan suami dan istri dalam melakukan tugas sehari-hari dalam membesarkan anak-anak mereka dengan cinta yang sangat besar, tanpa pernah kehilangan senyum mereka. 

Seorang istri mengawali harinya dengan mengurus segala keperluan suami dan anaknya sebelum pergi beraktivitas (ke kantor, ke sekolah). Seorang suami bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jadi, kesetiaan menjalankan tugas sesuai panggilan itu menguduskan. 




Panggilan hidup perkawinan dalam terang iman 

[Kej 2:18-25] Tuhan Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan (1A) penolong baginya, yang sepadan dengan dia." Lalu Tuhan Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu. Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia (1B) tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia. 

Lalu Tuhan Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, (2) Tuhan Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil Tuhan Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu: (3) "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki." 

Sebab itu (4A) seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, (4B) sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka (5) keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu. 

[Mat 19:6] Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, (4C) apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." 

» (1AB, 2) Sejak awal mula Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan sepadan (artinya sejajar), di sini tumbuh saling menghormati. (3, 4A) Dalam hidup perkawinan sangat penting “seorang laki-laki meninggalkan ayah dan ibunya”, padahal tempat itu adalah tempat yang paling nyaman dan aman untuk berlindung. Tempat itu harus ditinggalkan untuk “memberikan kenyamanan dan perlindungan kepada pasangannya”. 

(4B) Kelahiran menjadikan sedarah » tidak bisa memilih. Perkawinan menjadi sedaging » bisa memilih. (4C) Perkawinan bukan hanya rencana kita, tetapi juga rencana Allah. Jadi, sejak awal mula, Allah menghendaki agar perkawinan menjadi tak terceraikan (KGK 2382, Mat 5: 31-32; 19-3-9; Mrk 10: 9; Luk 16:18; 1 Kor 7: 10- 11). Perceraian menghina perjanjian keselamatan, satu pelanggaran berat terhadap hukum moral kodrat (KGK 2384). 

Kesetiaan suami istri dibutuhkan demi kebaikan perkembangan anak- anak. Kita tak memerlukan studi yang rumit untuk melihat kenyataan bahwa anak-anak yang orang tuanya bercerai/berpisah, akan mengalami luka batin yang mendalam, dan ini sering memberikan dampak negatif bagi kepribadian mereka. Ada yang menjadi pribadi yang membenci lawan jenis, mudah menjadi pemurung dan tidak percaya diri, atau menjadi pemarah, agresif dan penuh curiga, atau aneka sifat negatif lainnya. Rahmat Tuhan sungguh diperlukan untuk menolong anak- anak ini mengatasi pengaruh luka batin yang terjadi akibat perpisahan orang tuanya. 



Mengapa sepasang sejoli mau kawin? Karena mereka jatuh cinta. Mengapa rumah tangganya kemudian bahagia? Apakah karena jatuh cinta? Bukan! Tapi karena mereka terus membangun cinta. Jatuh cinta itu gampang, 10 menit juga bisa. Tapi membangun cinta itu susah sekali, perlu waktu seumur hidup. 

Mengapa jatuh cinta gampang? Karena saat itu kita buta, bisu dan tuli terhadap keburukan pasangan kita. Tapi saat memasuki perkawinan, tak ada yang bisa ditutupi lagi. Dengan interaksi selama 24 jam per hari, 7 hari dalam seminggu, semua belang tersingkap. (5) Oleh karena itu belajarlah terbuka satu sama lain sehingga tidak gagal paham dalam menghadapi suatu masalah. 

Cinta yang sebenarnya adalah tindakan berdasarkan cinta meskipun kita tidak merasa mencintai. Cinta adalah sebuah tindakan positif yang tidak ditentukan oleh perasaan melainkan oleh kehendak; tekad untuk mengembangkan diri dengan tujuan memelihara pertumbuhan rohani sendiri atau rohani orang lain. Jatuh cinta bukanlah perluasan diri tapi keadaan dimana dinding ego kita runtuh sementara (M. Scott Peck, MD). 

Sebagian orang mencintai dengan cinta yang mementingkan diri sendiri, mudah berubah-ubah dan cinta diri seorang anak yang egois: sebuah cinta yang tak terpuaskan yang berteriak atau menangis ketika gagal mendapatkan apa yang ia inginkan. Kadang-kadang yang lain mencintai dengan cinta remaja yang ditandai dengan: permusuhan, kritik pahit dan suka menyalahkan orang lain, terjebak dalam emosi dan fantasi mereka sendiri. Orang-orang seperti itu mengharapkan orang lain mengisi kekosongan mereka dan memenuhi setiap keinginan mereka (Amoris Laetitia art 239). 

Cinta yang mementingkan diri sendiri terjadi karena gagal paham mengartikan kata “aku cinta padamu”. (1) Pemahaman makna cinta lebih banyak diartikan sebagai “aku ingin memilikimu”, bukan “aku ingin di sampingmu selalu untuk melindungimu, melayanimu dan berkorban untukmu”. (2) “Cinta” lebih banyak diartikan sebagai “perhatian dan kasih sayang” bukan “pengorbanan dan pelayanan, perlindungan dan rasa aman dan hubungan seksual”. 

Akibat dari gagal paham mengartikan kata “aku cinta padamu” maka ada banyak “hidup perkawinan yang tidak dewasa”. Buahnya adalah “cinta eksklusif” dan terjadi pengekangan (kamu milikku, kamu tidak boleh kemana-mana jika tidak bersamaku). Akhirnya mereka tidak lagi merasakan indahnya hidup bersama dalam keluarga. 

Hubungan suami istri yang sesuai dengan rencana Allah adalah hubungan yang sampai kepada persatuan rohani di dalam Tuhan. Dengan kata lain, tanpa hubungan persatuan rohani, hubungan suami-istri tidak akan sampai pada kepenuhannya, sehingga mudah tergoyahkan. 



Perkawinan Katolik adalah perkawinan yang hidup dalam Roh (berpusat pada Kristus; fokus perhatiannya pada doa, firman dan sakramen) sehingga menghasilkan buah Roh (KGK 1832: 1. Kasih 2. Sukacita 3. Damai sejahtera 4. Kesabaran 5. Kemurahan 6. Kebaikan 7. Kesetiaan 8. Kelemahlembutan 9. Penguasaan diri 10. Kerendahan hati 11. Kesederhanaan 12. Kemurnian). Perkawinan sebagai sakramen adalah tanda kehadiran Tuhan. 

Jika Tuhan Yesus menjadi pusat dalam hubungan suami dan istri, maka mereka akan menempatkan kehendak-Nya di atas kehendak mereka sendiri, saling menghargai dan menghormati sehingga mereka memancarkan iman yang hidup dalam perbuatan kasih, baik kepada pasangan mereka maupun kepada anak- anak mereka. Kasih tidak sama dengan perasaan. Kasih itu bukanlah perasaan tapi tindakan dan suatu komitmen untuk tetap mengasihi sampai akhir. 

Kasih itu sifatnya memancar keluar, kasih itu memberi, dan menginginkan yang terbaik bagi orang yang dikasihi. Inilah prinsip kasih yang diajarkan oleh Tuhan. Dengan kasih semacam inilah kita seharusnya mengasihi Tuhan dan sesama kita, terutama anggota keluarga kita yang paling kecil dan lemah. 

Di dalam Kristuslah, “pasangan suami istri dikuatkan untuk memikul salib dan mengikuti Dia, untuk kembali bangun jika mereka jatuh, untuk saling mengampuni, untuk saling menanggung beban (Gal 6:2), dan untuk saling merendahkan diri seorang kepada yang lain demi penghormatan mereka kepada Kristus (Ef 5:21) dan saling mengasihi dalam cinta yang mesra, subur dan adikodrati. 

Dengan kasih (1 Kor 13: 4-7), kita dapat selalu menemukan kebaikan di dalam diri pasangan kita, dan membangun rasa saling pengertian dengannya, sehingga kita tidak mudah konflik ketika ada masalah dalam rumah tangga. 


Oleh karena itu, kita harus menempatkan Kristus sebagai pusat kehidupan kita, kita harus berjalan bersama-Nya dan berada di jalur-Nya, kita harus berusaha memandang pasangan kita dengan cara pandang Kristus, yaitu dengan kasih. Jadi, tujuan perkawinan bukanlah berpikiran sama, tetapi berpikir bersama. 

Pasangan yang tepat adalah yang dapat melengkapi kekurangan kita, bukan yang sama seperti kita. Meskipun kita telah kawin dengan orang yang benar (tepat), tetapi kalau kita memperlakukan pasangan kita secara keliru, maka akhirnya akan mendapatkan pasangan yang keliru. Jadi, tidak cukup hanya kawin dengan orang yang tepat, tetapi jadilah pasangan yang tepat, yang memperlakukan pasangan kita dengan tepat pula.

Kasih itu ramah. Kasih itu tidak suka membuat orang lain menderita. Kasih itu tidak berlaku kasar dalam kata-kata dan tindakan. Untuk pertemuan yang penuh kasih dibutuhkan “tatapan penuh kasih”, yang berarti tidak banyak memikirkan keterbatasan orang lain. Jadi, orang yang mengasihi mampu mengucapkan kata yang menyemangati, yang menghibur, yang menguatkan (Mat 15:28; Luk 7:50; Mat 14:27). 

Kasih itu tanpa kemarahan. Ketika seseorang marah, sesungguhnya batinnya dijerat dan dikuasai oleh Iblis (2 Tim 2:26). Reaksi yang benar adalah memberkati dengan cara mengampuninya karena dia tidak tahu apa yang diperbuatnya (1 Ptr 3:9; Luk 23:34). 

Kasih itu menutupi segala sesuatu. Kasih itu bersikap diam “terhadap keburukan yang mungkin ada pada orang lain”. Keluarga tidak ada sempurna. Ketidak sempurnaan pasangan untuk menguduskan hidup kita (1 Kor 7:14). 




Perkawinan adalah anugerah atau musibah 

Kebahagiaan dalam sebuah perkawinan tidak tumbuh dengan sendirinya, melainkan harus diupayakan. Ingatlah! Perkawinan bukanlah tanaman bunga mekar harum semerbak yang sudah jadi, tetapi adalah sebuah lahan kosong yang harus digarap bersama-sama. 

Ketika ketidak-sepadanan ini muncul, maka terjadilah “pelarian”, ada yang mencari TIM/WIL/PIL, ada yang “lebih giat pelayanan di gereja atau masyarakat” (Ingatlah! Panggilan ayah atau ibu, yang pertama dan terutama adalah menghidupi keluarga, bukan di gereja atau masyarakat. Pesan Paulus kepada Timotius: “Seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus ...? ... dapat bersaksi dengan leluasa.” (1 Tim 3:1-13). Pelayanan adalah buah dari sukacita dalam hidup berkeluarga), bahkan ada yang akhirnya “lebih mencintai hobi atau ciptaan lainnya”. 

Komentar Paus Fransiskus mengenai kisah penciptaan: Pertama, kita melihat laki-laki, yang sangat ingin mencari “penolong yang sepadan, yang mampu mengusir kesendiriannya yang menggelisahkannya dan yang tidak dapat ditenangkan oleh kedekatannya dengan binatang-binatang dan seluruh ciptaan (Amoris Laetitia art 12). 

Ketika tidak menjumpai penolong yang sepadan, maka timbullah konflik dengan pasangan. Janganlah kita menggantikan pasangan kita dengan hobi atau binatang. Hal ini tidak akan menyelesaikan masalah, namun akan menimbulkan masalah lainnya yang lebih berat. Karena mereka tidak bisa menggantikan peran dari suami atau istri. Jadi, kata “penolong yang sepadan” adalah kunci dalam perkawinan. 

Ketika ketidak-sepadanan ini muncul (ada strata dalam perkawinan), maka ego-lah yang akan berbicara terlebih dahulu, akhirnya suami atau istri akan menunjukkan kehebatannya masing-masing sehingga terjadi konflik dalam rumah tangga, yang tidak dapat dihindarkan. 


Berdasarkan survey, penyebab konflik dalam hidup perkawinan akibat dari: 

1. Pribadi pasangan (berubah): suami » dulu melindungi, sekarang minta dilindungi; istri » dulu seorang yang tenang, sekarang cerewetnya luar biasa. 



Masalah dalam pernikahan biasanya timbul karena kita tidak memahami perbedaan antara pria dan wanita. Kebutuhan seorang suami: sex, istri sebagai sahabat, rumah yang rapi, istri yang menarik, saling menghargai. Kebutuhan seorang istri: kasih sayang dan penghargaan, diajak bicara, jujur dan terbuka, keuangan yang cukup, komitmen terhadap keluarga. 

Dosa yang merusak perkawinan. Suami: tidak berfungsi menjadi pemimpin dengan baik, akibatnya saling melukai; gagal menjadikan istri nomer satu dalam hidupnya; membandingkan istri dengan wanita lain; kurang disiplin mengontrol emosi dan kebiasaan buruk; gagal memuji hal-hal kecil dari istri; menolak pendapat istri: tidak pernah minta maaf. Istri: tidak menghargai suami sebagai otoritas; gagal menundukkan diri kepada suami; gagal menampilkan kecakapan manusia batiniah; gagal menunjukan rasa syukur kepada suami. 

Perbaikilah apa yang bisa diperbaiki sekarang sebelum terlambat. Cintailah pasangan yang telah Tuhan pilih untukmu! Belaian tangan suami adalah emas bagi istri. Senyum manis sang istri adalah permata bagi suami. Kesetiaan suami adalah mahkota bagi istri. Keceriaan istri adalah sabuk di pinggang suami. 

Di belakang suami sukses selalu ada istri yang hebat. Dalam pandangan masa kini, istri tidak lagi hanya dilihat sebagai faktor pelengkap saja, melainkan sebagai pondasi kuat yang mendukung keberhasilan suami dalam meraih seluruh mimpi, menjadi faktor penentu kesuksesan suami di masa depan. Karena dia menjadi penolong yang tak pernah menyerah. 

Jadi, kebahagiaan perkawinan membutuhkan perjuangan yang tidak kenal lelah, dan membutuhkan kehadiran dan pertolongan Tuhan. Berbahagialah mereka yang benar-benar menikmati hidup rumah tangga yang rukun dan damai, meskipun itu harus diperoleh dengan cucuran air mata. 

Ingat! Kepala keluarga yang berhasil dalam keluarga maka keberhasilan yang lain akan mengikuti. Kepala keluarga yang gagal dalam keluarga maka kegagalan lain akan mengikuti. 


2. Keuangan 

Kebutuhan hidup di zaman digital mendorong orang untuk bekerja keras mencari penghasilan yang mencukupi kebutuhan, maka pasangan suami istri bekerja dengan alasan itu, bahkan mereka “rela” berpisah dengan pasangan untuk mencari nafkah di kota lain. Hal ini menyebabkan mereka mempunyai kesempatan bertemu sangat terbatas, baik dengan pasangan maupun dengan anak-anak. 



Masalah pun akan timbul ketika suami istri bekerja dan gaji istri lebih besar dari suaminya, suaminya merasa minder karena tak dihargai penghasilannya, sementara istri merasa di atas sehingga jadi sombong dan tak menghormati suami. 

Seorang ibu dalam keluarga ibarat jantung bagi tubuh. Ibu juga memompakan kehidupan, spirit, harapan kepada anggota keluarganya. Oleh karena itu menjadi ibu sebenarnya suatu anugerah yang sangat mulia melebihi karier puncak manapun. Wanita yang melakukan segalanya karena cinta mengetahui tujuan dari semua pekerjaannya bukan semata-mata untuk mendapat pujian keluarga tetapi terlebih untuk menyenangkan hati Tuhan (1 Kor 10:31). 

Meskipun dianggap remeh di mata orang lain (tidak mempunyai karier, tidak mempunyai penghasilan sendiri, kerjanya hanya mengurus rumah tangga, menemani anak belajar, mengantar dan menjemput anak sekolah/kegiatan lainnya), ia dapat menjadi kudus dihadapan Tuhan melalui peranannya (1 Tim 2:15 » perempuan akan diselamatkan karena melahirkan anak, asal ia bertekun dalam iman dan kasih dan pengudusan dengan segala kesederhanaan). 

[Baca juga: Menjadi kekasih Tuhan dan kekasih suami]


Ketika ayah atau ibu lebih mementingkan karir, ia tidak bisa mendapatkan cinta keluarganya. Pada saat anak sudah bisa mandiri, ia akan membalas apa yang ayah atau ibunya taburkan pada masa kecilnya, sehingga ayah atau ibunya akan nelongso (menderita) pada masa tuanya. Kalau lebih mementingkan keluarga, kemungkinan besar karirnya berkurang, dan pendapatannya pas-pasan. Hal inipun akan menimbulkan masalah. Jadi, hidup berkeluarga adalah kesempatan untuk belajar bijaksana dalam menentukan pilihan. 

Jika harta adalah tujuan, kita kehilangan sahabat dan Allah (Am 8:4-7). Jika harta adalah sarana, kita mendapat sahabat dan Allah (Luk 16:1-13). Maka kita harus cerdik menguasai harta, bukan dikuasai oleh harta. Kecerdikan ini mulai dengan sikap setia, jujur dan bisa dipercaya dalam perkara-perkara kecil. 

3. Orang ketiga (keluarga besar: mertua, ipar dll. atau TIM/WIL/PIL). 

Mertua tidak boleh campur tangan dalam semua persoalan keluarga, kecuali membantu dalam masalah keuangan, membantu dalam pendidikan dan pengasuhan anak (jika ada kesepakatan dari anak dan menantunya). 



Banyak orang mengira bahwa pria selingkuh dan meninggalkan istrinya untuk wanita yang lebih seksi atau lebih cantik. Sementara wanita akan meninggalkan suaminya demi pria yang lebih mapan. Namun, penelitian menemukan bukan hanya itu alasan utama seseorang berselingkuh. 

Jika pasangan kurang kedekatan emosional, maka resikonya lama-kelamaan pasangan dapat menjadi kurang menghargai keberadaan satu sama lain. Kurangnya rasa penghargaan inilah yang kemudian menjadi salah satu kunci utama pria membangun kedekatan emosional dengan orang lain yang bisa memberinya penghargaan. Jadi, ketika ada PIL (Pria Idaman Lain), jangan diminum, cukuplah suami sebagai obat; ketika ada WIL (Wanita Idaman Lain), jangan dituruti, cukuplah isteri sebagai pelabuhan hati. 

4. Anak-anak 

Orang tua dipanggil oleh Allah untuk semakin menghayati panggilannya sebagai ayah dan ibu, melalui kehadiran anak-anak. Peran orang tua tidak dapat digantikan, tidak dapat sepenuhnya didelegasikan kepada orang lain karena tugas pertama dan utama mereka adalah mendidik anak-anaknya “bagaimana caranya hidup menjadi orang yang baik” terutama dalam hal iman dan kebajikan-kebajikan Kristiani. 

Dari keluargalah anak-anak pertama-tama harus belajar tentang otoritas Allah yang memimpin mereka dengan kasih. Artinya, orang tua memberi koreksi jika anak berbuat salah, namun tidak dengan cara marah, tetapi dengan kelemahlembutan. Setelah mengkoreksi anak, orang tua perlu merangkul anak kembali, dan anak perlu diberitahu bahwa koreksi tersebut diberikan demi kebaikan anak itu sendiri. Dengan demikian anak belajar tentang nilai- nilai kehidupan yang mendasar, yaitu tentang keadilan dan kasih. 



Kadangkala mendidik anak-anak terasa berat, namun ketika kita menyertakan Kristus dalam mendidik mereka, maka kita akan disadarkan Tuhan bahwa anak-anak adalah berKat yang semakin mempererat ikatan kasih suami istri. 

Melalui kehadiran anak-anak, Tuhan membentuk orang tua mereka untuk menjadi semakin serupa dengan Dia, menjadi pribadi yang mengasihi, yang mau memberikan diri secara total dan tanpa syarat. 

Mahkota keluarga adalah kelahiran anak- anak dan pendidikan mereka menjadi anak- anak yang mengasihi Tuhan dan sesama. Jadi, anak adalah berkat, bukan beban. 

5. Lain-lain (perkawinan campur, beda suku, jenjang pendidikan) 



Tidak ada keluarga jatuh dari surga yang terbentuk sempurna dan dikemas sekali dan bagi semua; namun membutuhkan perkembangan tahap demi tahap dalam kemampuannya untuk mencintai (Amoris Laetitia art 325). 

Tidak ada keluarga yang sempurna. Kita tidak punya orang tua yang sempurna, kita tidak sempurna, tidak menikah dengan orang yang sempurna, kita juga tidak memiliki anak yang sempurna. Kita memiliki keluhan tentang satu sama lain. Kita kecewa dengan satu sama lain. Oleh karena itu, tidak ada perkawinan yang sehat atau keluarga yang sehat tanpa pengampunan. 

Jika kita tidak mau mengampuni, maka kita tidak akan memiliki ketenangan jiwa dan persekutuan dengan Allah. Jadi, pengampunan itu sangat penting untuk kesehatan emosional kita dan kelangsungan hidup spiritual. Tanpa pengampunan, keluarga menjadi sebuah teater konflik dan benteng keluhan. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 173/IX/2019 » Seminar keluarga Tgl 17 September 2019, Rm Eko Wahyu, OSC).