Senin, 23 Maret 2020

22.05 -

Kasih yang sempurna



Kasih level dunia: kasih melihat situasi dan kondisi, menguntungkan “oke”, merugikan “no”. Kasih jenis ini selalu mengecewakan, membuat jiwa terluka (Mat 5:46-47 » memberi salam kepada saudara-saudaranya saja; mengasihi orang yang mengasihinya). 

Kasih level Allah: kasih tanpa melihat situasi dan kondisi. Kasih jenis ini selalu memberi bagai air mengalir dan tiada pernah berhenti (Mat 5:45 » Bapa yang di sorga menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar; Rm 5:8 » Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa). 

Kasih Allah yang sempurna ini menjadi inspirasi terciptanya laguSentuh hatiku” ciptaan Jason Chang. Lagu ini merupakan refleksi hidup yang diilhami oleh kisah seorang gadis, sahabat sekolahnya (X: berusia 13 tahun, SMP kelas 1). 

Ketika sedang makan siang, tiba-tiba X datang. Sambil menahan air mata, X menceritakan keadaan dirinya yang sedang hamil, yang menghamilinya adalah ayahnya sendiri. Dia meminta saya menemaninya ketika dia berbicara dengan ibunya. 

Sesampai di rumah X menumpahkan seluruh isi hatinya kepada ibunya. Ibunya berkata sambil menangis: "Jangan gugurkan kandungan ini, anak ini tidak bersalah apa-apa. Kita akan lewati bersama-sama, kita akan besarkan anak ini bersama-sama." Untuk menutupi aib keluarga, X berhenti sekolah. 

Seringkali saya menengoknya, saya melihat X kadang-kadang menangis dan tertawa sendiri. Dia mengalami depresi berat karena hidup sendirian di sebuah kamar yang gelap, dipisahkan dari lingkungan luar. 

Kadangkala X mengambil garpu atau pisau dan menusuki kepala dan perutnya. Dengan kejadian itu, ibunya terpaksa memindahkan anak perempuan satu-satunya itu ke sebuah perkebunan ayahnya. X dipasung dalam sebuah pondok kecil, dia hidup dengan seorang pembantu. 

Suatu hari rantai besi yang membelenggu tangan dan kaki X terlepas, karena rantai itu sudah tiga belas tahun dipakai, sudah tua dan usang. Setelah belenggu itu terlepas, X menyadari apa yang terjadi, lalu dia berlari mencari pisau dan mengangkat pisau itu ke atas sambil berteriak: "Tuhan, tidak ada yang peduli dengan hidupku, masa depanku sudah hancur. Aku mau mati saja. Tuhan, tolonglah aku ... ampunilah aku." 

Tiba-tiba tangan kanan X yang memegang pisau itu seolah-olah ada yang menahannya. Terdengarlah langkah-langkah kaki mendekatinya, lalu memeluknya dengan kasih

Ketika X dipeluk, dia meronta-ronta sambil berteriak: "Tuhan, Engkau kejam, selama ini Engkau berada di mana? Apakah Engkau tidak pernah sayang kepadaku. Kalau Engkau sayang kepadaku, mengapa hal ini Kau ijinkan terjadi dalam hidupku?" 

Ketika emosi dan tangisnya mulai me-reda, X baru menyadari bahwa Tuhan begitu peduli kepadanya, dia melihat Tuhan juga ikut menangis sambil berkata: "Aku sangat mengasihimu, Aku mengampunimu." 

Lalu X membersihkan tubuhnya dan pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah dia melihat ayahnya dalam keadaan lumpuh total

Ketika X berkata kepada ayahnya, ayahnya hanya diam saja, menangis dan menatapnya dengan tajam seolah-olah berkata: "Maafkan ayah, perbuatan terkutuk itu ayah lakukan tanpa sadar karena ayah dalam keadaan mabuk setelah pulang dari sebuah acara." 

Ayah X mengalami lumpuh total karena perasaan bersalah yang luar biasa terhadap X. Setelah X dimampukan Tuhan untuk mengampuni, maka terjadilah pemulihan di keluarganya. Tiga bulan kemudian ayahnya meninggal. 

Selain itu, anak yang dikandung X dalam keadaan sehat, meskipun dilahirkan pada usia 8 bulan dan ditolong oleh seorang dukun beranak. Jadi, pertemuan secara pribadi dengan Tuhan, membawa perubahan hidup seseorang. 

Kisah nyata ini saya ceritakan atas persetujuan X. Melalui kisah ini saya mengetahui bahwa Tuhan tidak pernah mengijinkan maut menjemput nyawa ayahnya sampai anaknya pulang mengampuni dan Tuhan memulihkan segala sesuatunya. 

Marilah kita belajar dari 1 Yoh 4:7-21

Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab (1) kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. 

(3) Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita

Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. (2) Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita

Demikianlah kita ketahui, bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita: Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam Roh-Nya. Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia. 

Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah. Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia. 

Dalam hal inilah (4A) kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini. (4B) Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. 

(5) Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya

» (1) Allah sumber kasih yang sempurna 

Ketika ayah saya masuk penjara, dunia terasa kiamat karena dalam pergaulan saya sangat dilecehkan, mereka berkata: “Sorry ya ... kami tidak mau bergaul dengan kamu karena kamu anak penjahat.” Di usia lima belas tahun saya sudah menjadi obyek penderita sehingga saya mengalami luka batin. Akibatnya saya menjadi remaja yang selalu mencari perhatian orang, saya menjadi pengemis kasih, haus perhatian dan kasih sayang

Di usia yang kedua puluh, saya adalah seorang pemuda yang sukses di “bisnis seniman”, saya sudah mempunyai mobil sendiri. Saat itu saya menjadi obyek yang menguntungkan dunia. Suatu ketika saya mengenal kasih Allah yang sempurna. Oleh karena itu saya mulai belajar mengasihi dunia dengan level kasih Allah, meskipun sulit luar biasa. 

(2) Allah dikenal dari kasih 

Ketika saya masih berusia 33 tahun, saya diajak pelayanan ke Surabaya oleh seorang pengajar dari SEP karena saya lulusan terbaik tahun 1993 di Jakarta. Ketika saya bertemu dengan seorang pengusaha yang keren, saya langsung menginjilinya seperti iklan coca cola, di mana dan kapan saja. Ternyata, orang tersebut marah kepada saya. Hal ini saya sharingkan pada pangajar saya. Beliau langsung menasehati saya dan mengatakan bahwa cara saya meng-injili itu salah. 

Katanya: “Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Tetapi orang lain bisa merasakan efek kehadiran Allah ketika kita mengasihi orang tersebut. Kasih Allah dapat kita andaikan seperti listrik. Listrik tidak dapat kita lihat secara kasat mata, namun efeknya dapat kita rasakan. Misalnya: lampu menyala sehingga ruangan menjadi terang, mikrofon menyala sehingga orang lain dapat mendengar suara dengan jelas meskipun jarak pendengar dan pembicara berjauhan.” Sejak saat itu saya tidak menginjili seperti iklan coca-cola. 

Menjelang menikah, pacar saya belajar membuat kue dengan ibu saya. Karena jam tujuh malam saya harus memberikan renungan di suatu tempat, maka jam lima saya mengantarkannya pulang. Ketika melewati lapangan sepak bola di Cengkareng, saya melihat ada seseorang yang terkapar di lapangan tersebut. Dalam batin saya, saya ingin segera kabur. Namun ada seseorang yang menghentikan mobil saya dan memohon saya untuk mengantarkan korban ke rumah sakit. Antara bingung dan takut korban tersebut meninggal ... tiba-tiba di hati saya timbul perasaan belas kasihan dan saya meng-iya-kan untuk mengantarnya ke rumah sakit. Orang tersebut bertanya: “Bapa orang Kristen ya ... orang Kristen selalu mempunyai kasih.” 

3. Kasih Allah yang sempurna berpuncak di Golgota 

Di rumah saya tergantung empat lukisan. Suatu hari saya kedatangan panitia pembangunan gereja, salah satu dari mereka memohon agar saya mau merelakan melelang lukisan yang saya punyai tersebut. Saya menolak ide tersebut, saya katakan bahwa lukisan tersebut akan saya jual untuk membiayai kuliah anak saya. 

Sebelum mereka pulang, ada yang berbisik dengan halus: “Bapak kan pelayanan. Cobalah berdoa, discermentlah! Apakah Tuhan mengijinkan lukisan tersebut untuk membantu membangun gereja atau untuk biaya kuliah anak bapak?” 

Sesudah seminggu saya berdoa, tiba-tiba saya teringat lagu “Sentuh hatiku”. Lalu saya berdoa: “Tuhan sentuh hatiku ubah hatiku yang egois ini menjadi baru. Terjadilah padaku sesuai dengan kehendak-Mu. Aku percaya masa depan anak-anakku ada didalam tangan-Mu. Amin” 

Karena saya pelukisnya, maka pada waktu pelelangan saya harus hadir untuk presentasi lukisan tersebut. Saat lukisan itu terjual lima ratus juta rupiah, air mata saya berlinang-linang. Di sinilah saya baru merasakan kebenaran kata Yesus, “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima” (Kis 20:35). 

Jadi, kita harus mencintai Tuhan dan sesama sampai terluka seperti yang dikatakan Mother Teresa. Bukankah Tuhan Yesus telah memberi teladan waktu di Golgota? 

(4AB) Kasih Allah yang sempurna mengalahkan ketakutan 

Saya mempunyai seorang istri dan tiga anak putri. Sebagai suami dan seorang ayah yang bertanggung jawab pada keluarga pasti punya perasaan kuatir dan takut ketika panitia pembangunan gereja mengusulkan untuk merelakan melelang lukisan yang ada pada saya. Maklumlah, saya hanyalah pelukis dan pekerja full timer di gereja yang bukan mengikuti teologi “kemakmuran”. 

Pada saat kedua perasaan ini menghinggapi jiwa saya, saya bernyanyi “Kasih yang sempurna telah kuterima dari-Mu ... Tak kan Kau biarkan. Aku melangkah hanya sendirian. Kau selalu ada bagiku. Sebab Kau bapaku, Bapa yang kekal.” 

Sungguh luar biasa perasaan negatif itu menyingkir dari jiwa saya. Dan dengan berjalannya waktu ketiga putri saya lulus menjadi sarjana tanpa mengalami hambatan apapun. Jadi, bernyanyi dengan baik sama dengan berdoa dua kali (St. Agustinus). 

(5) Kasih Allah yang sempurna baru mencapai tujuannya bila kita saling mengasihi 

Di Palestina ada dua laut. Keduanya sangat berbeda yang satu dinamakan laut Galilea yakni sebuah danau yang luas dengan air yang jernih dan bisa diminum. Ikan dan manusia berenang dalam danau tersebut. Danau itu juga dikelilingi oleh ladang dan kebun hijau. Banyak orang mendirikan rumah disekitarnya. 

Laut yang lain dinamakan laut mati, dan sesuai dengan namanya segala sesuatu yang ada di dalamnya mati. Airnya sangat asin sehingga kita bisa sakit bila meminumnya. Tak seorang pun ingin tinggal di sekitar danau ini karena baunya yang tidak sedap. 

Jadi yang menarik, ada satu sungai yang mengalir ke keduanya tapi apa yang membuat keduanya berbeda? Bedanya adalah danau yang satu menerima dan memberi, sedangkan yang satunya menerima dan menyimpan. 

Sungai Yordan mengalir ke danau Galilea dan meneruskannya ke danau lainnya untuk dimanfaatkannya. Sungai Yordan kemudian mengalir ke laut mati, namun tidak pernah ke luar lagi. Laut mati secara egois menyimpan air sungai Yordan bagi dirinya sendiri. 

Sebuah kasih selalu memberi, bagai air mengalir dan tiada pernah berhenti. Semakin kita mengasihi, iman kita semakin bertumbuh. Jika kasih itu tidak mengalir, maka iman kita mati, tidak berguna bagi Tuhan maupun sesama. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 179/III/2020 » Renungan KPI TL Tgl 11 Juni 2015 Bapak Leonardi).

22.00 -

Sikap seekor unta



Setiap pagi, unta akan berlutut di depan tuannya, untuk mengambil beban yang akan dibawanya sepanjang hari dan saat malam tiba, ia akan kembali berlutut agar tuannya bisa mengambil beban dari punggungnya Itulah sikap seekor unta kepada tuannya. 

Begitulah seharusnya kita. Berlutut memulai hari sebelum mengangkat beban yang harus kita tanggung sepanjang hari. Dan saat malam tiba, kita kembali berlutut untuk menyerahkan semua beban dalam hidup kita. 

Percayalah saat kita berlutut, menyerahkan seluruh pergumulan kita kepada-Nya, Dia peduli. Hatimu yang hancur, Dia-pun merasakan. Bahkan setetes air matamu, Dia-pun memperhitungkannya. Jadi, janganlah menyerah dan putus asa, tetap semangat dan terus berjuang dalam hidup ini. Karena saat kita "mengangkat" tangan, itulah saat Tuhan bertindak dan "turun" tangan.

(Sumber: Warta KPI TL No. 179/III/2020).

21.53 -

Kekuatan doa



Seorang wanita datang ke sebuah toko dan meminta bahan makanan agar dapat dimasak untuk anak-anaknya. Si pemilik toko bertanya kepadanya berapa uang yang dimilikinya. Wanita itu menjawab: "Suamiku tewas dalam perang, aku tidak punya apa-apa untuk diberikan kecuali doa." Si pemilik toko tersebut menjawab dengan ketus: "Tuliskan doa itu!" 

Wanita tersebut mengeluarkan secarik kertas dari dompetnya dan menyodorkan kepadanya, katanya: "Aku menulis ini kemarin malam seraya menjaga bayiku yang sakit." Si pemilik toko dengan kasar mengambil kertas itu dan menaruhnya di sisi timbangan kunonya. Ia berkata: "Aku akan memberimu bahan pangan seberat bobot kertas ini."

Betapa terperanjatnya dia, tatkala ia menaruh sepotong roti di sisi lain dari timbangan tersebut, timbangan itu tidak bergerak sedikitpun. Ia menambahkan sebongkah keju dan sepotong daging, namun timbangan itu tetap tidak bergeming. Akhirnya karena ia sudah menaruh begitu banyak bahan pangan, timbangan itu sudah tidak dapat memuat apa-apa lagi. Ia menyodorkan sebuah kantong kepada wanita itu dan berkata: "Anda harus memasukkannya sendiri ke dalam kantong itu."

Wanita itu pergi dengan air mata sukacita. Si pemilik toko baru tahu bahwa timbangannya rusak tepat di saat dia menaruh kertas doa wanita tersebut. Karena penasaran, iapun membaca apa yang ditulis wanita tersebut: " Tuhan, berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya." (Mat 6:11).

Kekuatan doa sanggup untuk melakukan sesuatu yang luar biasa dan mengerjakan perkara-perkara yang terlihat mustahil. Jadi, janganlah pernah menyerah dalam pergumulanmu. Mujizat akan terjadi selama kita tetap berdoa dan percaya ( Luk 18 : 7).

(Sumber: Warta KPI TL No. 179/III/2020).

21.51 -

Kuasa doa orang benar




Kata “Doa” memang sangat akrab terdengar di telinga kita sebagai orang percaya, namun ironisnya belum semua orang Kristen menjadikan doa sebagai bagian dari gaya hidupnya sehari-hari. Doa lebih berkesan sebagai bentuk kegiatan yang membosankan dan menghabiskan waktu. Sehingga seringkali mereka melewatkan/mengesampingkan doa dalam aktivitas sehari-hari. 

Kalaupun berdoa, hanya 3 (tiga) doa yang paling sering dilakukan yaitu doa pagi, doa makan dan doa sebelum tidur yang masing-masing hanya menghabiskan waktu sekitar 5 menit saja! Padahal, doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya (Yak 5:16). 

3 kuasa doa orang benar

1. Doa orang benar menyentuh Sorga 

Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujan pun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumi pun mengeluarkan buahnya (Yak 5:17-18). 

Doa orang benar didengar-Nya (Ams 15:29). Mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong. Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka Tuhan mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya (Mzm 34:16, 18). 

Sesungguhnya, tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu (Yes59:1). 

2. Doa orang benar mengubahkan hidup 

Yabes lebih dimuliakan dari pada saudara-saudaranya; nama Yabes itu diberi ibunya kepadanya sebab katanya: "Aku telah melahirkan dia dengan kesakitan." Yabes berseru kepada Allah Israel, katanya: "Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku, dan kiranya tangan-Mu menyertai aku, dan melindungi aku dari pada malapetaka, sehingga kesakitan tidak menimpa aku!" Dan Allah mengabulkan permintaannya itu (1 Taw 4:9-10). 

Kalau doa Yabes mendatangkan kuasa untuk mengubahkan hidupnya, demikian juga dengan doa Anda! Saat keadaan dalam hidupmu sepertinya tidak sebagaimana yang Tuhan janjikan, berdoalah! Saat bisnismu dan keluargamu tidak berjalan sesuai dengan harapanmu, berdoalah! Saat lingkungan tempat tinggalmu, orang-orang yang engkau kenal dan kasihi belum mengenal Tuhan Yesus, berdoalah! 

3. Doa orang benar menjangkau dunia 

Aku mau menceritakan tentang ketetapan Tuhan; Ia berkata kepadaku: "Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini. Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu (Mzm 2:7-8). 

Secara fisik, mungkin kita tidak dapat menjangkau seluruh dunia dan menjadikan semua bangsa murid Tuhan Yesus seperti amanat agung-Nya (Mrk 1:15). Tetapi melalui doa kita dapat menggerakkan hati Tuhan untuk menyatakan kuasa-Nya bagi seluruh dunia. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 179/III/2020 » Renungan KPI Tgl 5 Desember 2019, Ibu Jane Hanjaya).

Pakaian robek

Suatu hari Zacky mengalami kecelakaan mobil yang tidak parah, dia hanya mengalami luka terkilir. Ketika membawa mobilnya yang rusak ke bengkel, tiba-tiba ia sadar bahwa rumah orang tuanya tidak jauh dari bengkel tersebut. Karena sudah cukup lama tidak menjenguk mereka maka dia mampir ke rumah orang tuanya dan menginap semalam. 

Keesokan harinya saat akan pulang, Zacky melihat pakaiannya yang robek telah dijahit oleh ibunya. Melihat hal tersebut hatinya sedikit tersentuh dan bergumam: “Uangku banyak, nanti dibuang saja sampai dirumah.” Namun, karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya, ia mengenakan pakaian yang ditambal ibunya itu dan pergi ke berbagai jamuan. Bahkan berhasil mencapai kesepakatan bisnis besar yang sudah lama ditunggu-tunggunya. Sesampainya di rumah ia baru menyadari masih mengenakan pakaian yang ditambal ibunya, kemudian dilepasnya pakaian itu dan dibuangnya ke tong sampah. 

Keesokan paginya, bisnis yang dibicarakan kemarin secara resmi ditanda tangani. Klien bertanya kepadanya: “Mengapa pakaian tambal yang anda kenakan kemarin itu tidak dipakai lagi hari ini?” “O pakaian itu dicuci", sahutnya tersenyum malu. 

Klien besarnya itu menepuk pundaknya dan berkata: “Anda mungkin tidak tahu, kami mendatangani kontrak dengan Anda karena melihat tambalan kecil pada pakaian yang Anda kenakan. Dari pakaian itu, kami dapat menilai bahwa Anda adalah orang yang sederhana dan pekerja keras . Bagi kami sosok orang yang sederhana dan pekerja keras itu jelas merupakan mitra terbaik." 

Sesampai di rumah, Zacky mencari pakaian tambal itu dari tong sampah, ia mencucinya dan digantung disudut lemari yang tidak menyolok, siapa tahu nanti berguna gumannya. 

Saat hendak berangkat bekerja, ada dua orang polisi yang mengingatkannya agar berhati-hati, katanya: “Seminggu yang lalu, kami menangkap kawanan penculik salah satu klien Anda. Pada saat kami introgasi, mereka mengaku bahwa awalnya ingin menculik Anda. Namun, ketika melihat Anda mengenakan pakaian yang ditambal, mereka menduga Anda tidak sekaya yang dibayangkannya. Maka mereka berubah haluan menculik salah satu klien Anda. Mereka berpikir tidak mungkin seorang pengusaha kaya memakai pakaian yang ditambal.” 

Perasaan Zacky bergejolak tak menentu setelah mendengar keterangan polisi, tak disangka tambalan yang tak terduga itu telah menyelematkan nyawanya. Setelah polisi pergi Zacky segera mengambil pakaian itu ia mengelus jahitan dipakaiannya sambil membayangkan wajah ibunya dan tanpa bisa ditahan ia pun menangis seperti anak kecil .

Jumat, 24 Januari 2020

Berjalan dalam proses Tuhan



Salah satu pertanyaan paling klasik yang diajukan oleh manusia adalah: "Apabila Tuhan itu begitu kasih, mengapa terjadi penderitaan di dalam hidupku? Padahal aku adalah anak-Nya." 

Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa hidup kita di dunia adalah sebuah bentuk kehidupan yang tanpa kesulitan, tetapi Tuhan Yesus menjanjikan bahwa kalau kita hidup di dalam Dia, maka kita bisa menjalani kesulitan apapun dengan damai sejahtera dan kuat hati karena Dia telah mengalahkan dunia (Yoh 16:33). 

Penderitaan itu bisa terjadi karena kesalahan sendiri (Yak 1:14-15 » tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut), membuka cela bagi Iblis (1 Ptr 5:8 » Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya; Kej 3:6 » Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya). 

Jebakan ini bertujuan mengantar banyak orang menuju pada kehancuran, baik tubuh maupun jiwanya. Misalnya: ingin akan makanan yang lezat sehingga sakit (Ams 23:3); mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya sehingga masuk penjara (Pkh 23:3). 

Akhirnya, tanpa sadar kita digiring pada jebakannya, yaitu “mengasihani diri sendiri” sehingga kita tidak yakin lagi bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Rm 8:28). 

Penderitaan itu bisa juga terjadi karena di-ijinkan Tuhan, untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak (Ul 8:2). Jadi, penderitaan itu adalah ujian, untuk membuktikan kemurnian iman (1 Ptr1:7; Ayb 23:10-12 » Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas. Kakiku tetap mengikuti jejak-Nya, aku menuruti jalan-Nya dan tidak menyimpang. Perintah dari bibir-Nya tidak kulanggar, dalam sanubariku kusimpan ucapan mulut-Nya). Misalnya: Ayub saleh dan jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Firman Tuhan kepada Iblis: "Nah, segala yang dipunyainya ada dalam kuasamu; hanya janganlah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya." (Ayb 1:1, 12). 

Bila saat ini kita sedang mengalami proses dari Tuhan jangan sekali-kali mengeluh dan kecewa kepada Tuhan, karena Dia tahu mana yang terbaik bagi kita, bukankah Tuhan Yesus pernah berkata, "Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah." (Yoh 15:2). 

Inilah maksud Tuhan membersihkan kita supaya kehidupan kita menjadi indah dan menghasilkan buah lebih banyak lagi. Bersyukurlah bila Tuhan masih memproses kita karena berarti Tuhan sedang mempersiapkan kita untuk menerima berkat-berkat-Nya yang baru. 

Proses membawa kita untuk belajar bagaimana menyangkal diri dan memikul salib, menjadi pelaku firman (Luk 9:23; Yak 1:22; Mzm 119:71 » Aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu). 

Semakin kita terus menikmati proses-proses dari Tuhan, semakin kita mengerti apa maunya Tuhan dalam hidup kita. Apa tujuan Tuhan dalam hidup kita? Ketika kita menikmati proses itu, Tuhan akan membawa kita naik menjadi kepala dan bukan menjadi ekor (Ul 28:13). 

Mereka yang hidup di dalam Tuhan Yesus akan selalu mendapatkan kekuatan, penghiburan dan kemampuan untuk menjalaninya, karena mengetahui ada tujuan yang indah di balik semua penderitaan tersebut: 

1. Untuk menarik kita semakin dekat kepada Tuhan 

Ketika kita berada dalam lembah kekelaman, ketika kita merasa ditinggalkan sendirian dan tidak ada siapapun yang mau menolong kita. Tiba-tiba hati kita terdorong untuk mendekat kepada Tuhan untuk mendapatkan kekuatan dan penghiburan dari-Nya (Rm 15:13; 2 Kor 1:3). Ia hadir untuk menyelamatkan kita yang remuk jiwanya (Mat 11:28; Mzm 34:19). 

Beban kehidupan atau penderitaan tidak dirancang oleh Tuhan untuk menghancurkan hidup kita tetapi untuk membawa kita kepada-Nya. Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian (2 Kor 7:10). Jadi, kita harus lebih taat kepada Bapa untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya (Ibr 12:9-10). 

2. Untuk membentuk karakter Kristus di dalam diri kita 

Karakter kita sebagai anak-anak Tuhan, tidak sama dengan karakter anak-anak dunia. Penderitaan yang kita hadapi, apabila diresponi sesuai dengan kebenaran firman Tuhan, sesuai dengan kehendak-Nya, akan membuat karakter kita semakin lebih baik, semakin serupa dengan karakter Kristus (Rm 5:3-4 » kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan). 

Jika kita teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala, mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (Ef 4:15, 13), dan kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar (2 Kor 3:18) . 

3. Untuk melatih kita meresponi kesulitan seperti Yesus 

Kristus pun telah menderita untuk kita dan telah meninggalkan teladan bagi kita, supaya kita mengikuti jejak-Nya. Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kita telah sembuh (1 Ptr 2:21-24). Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup (1 Yoh 2:6). 

Bagaimana cara yang benar dalam meresponi penderitaan? Selalu ingat bahwa “rancangan-Nya mengenai kita adalah damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepada kita hari depan yang penuh harapan.” (Yer 29:11). 

Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya. (Ibr 12:11). Jadi, mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kita (1 Tes 5:18). 

Ketika Tuhan sedang memproses, jangan keraskan hati (Mzm 95:7-11), jangan bersungut-sungut (1 Kor 10:9-10) dan tidak sabar (Ibr 6:15). Jika kita keluar dari proses yang Ia rancang bagi kita, itu sama dengan mengatakan tidak percaya akan rencana-Nya dan tidak beriman akan hasil yang lebih baik yang Ia telah sediakan bagi kita. Kalau sampai kita melakukannya, Tuhan tidak berkenan kepada kita (Ibr 10:38). Jadi, jangan keluar dari proses yang Ia lakukan di dalam hidup kita. Keluar atau 'lari' dari proses, justru akan menyebabkan lebih banyak lagi penderitaan dalam hidup kita. 

Sesungguhnya lama tidaknya proses itu sangat bergantung dari respons kita sendiri atau kesediaan kita dibentuk oleh Tuhan. 

Contoh: bangsa Israel harus mengalami pembentukan dari Tuhan dalam waktu yang sangat lama yaitu 40 tahun. Bagaimana mungkin? Apakah Tuhan tidak sanggup membentuk mereka dengan cepat? Bangsa Israel harus mengalami proses pembentukan yang lama oleh karena kesalahan mereka sendiri: tidak taat dan memberontak kepada Tuhan. Jadi akar masalahnya ada pada mereka sendiri. Bangsa Israel adalah bangsa yang keras hati (tegar tengkuk) padahal mereka telah melihat dan mengalami perbuatan-perbuatan ajaib Tuhan. Tidak hanya itu, mereka juga suka bersungut-sungut dan mengeluh. Dari mulut mereka tidak pernah keluar ucapan syukur. 

Ketika kita mau taat mengikuti proses Tuhan ini dengan benar hasilnya pasti akan luar biasa (Ayb 42:12-15 » Tuhan memberkati Ayub dalam hidupnya yang selanjutnya lebih dari pada dalam hidupnya yang dahulu). Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia (Yak 1:12). 

4. Untuk menyadarkan kita bahwa kasih-Nya lebih besar dari penderitaan kita 

Setiap kali kita menghadapi penderitaan, sadarilah bahwa kasih-Nya jauh melampaui apapun yang kita pernah dan sedang hadapi. Bukankah kalau kita tetap bisa bertahan sampai sekarang karena Tuhan-lah yang telah membawa kita keluar dari kesulitan demi kesulitan? "... sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku jadi sempurna." (2 Kor 12:9). 

Sadarilah proses hidup yang saat ini kita alami tidak pernah keluar dari garis penyertaan Tuhan (Mat 28:20; 1 Kor 10:13). Dia sungguh mengasihi kita, bila hari ini kita masih menerima teguran dan didikan, seharusnya kita bersyukur karena Tuhan mengasihi kita (Ibr 12:5-8 » Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak). 

Penderitaan tak akan pernah sepenuhnya lenyap dari kehidupan kita. Apabila kita menerimanya dengan penuh iman, kita beroleh kesempatan untuk ikut ambil bagian dalam penderitaan Yesus dan menunjukkan kasih kita kepada-Nya (St. Teresa Kalkuta). 

(Sumber: Warta KPI TL No. 177/I/2020 » Renungan KPI TL Tgl 12 Desember 2019, Dra Yovita Baskoro, MM).

Mata yang tertuju pada Yesus



Apakah kita rindu mempunyai kehidupan yang luar biasa? Apakah kita rindu mengalami Kerajaan Allah? 

[Kamus Alkitab » Pemerintahan Alah sebagai Raja yang hendak melaksanakan di sorga maupun di bumi. Dengan kedatangan Yesus Kerajaan Allah sudah dekat (Mat 4:17), bahkan berada "di antara kamu" (Luk 17:21); 1 Kor 4:20 » Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa; Yoh 1:12 » diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; Rm 14:17 Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus]. 

Syarat untuk naik ke level yang lebih tinggi dalam kehidupan rohani dan dapat membawa jiwa-jiwa kepada-Nya: 

1. Kita harus menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia (Ibr 12:1-2). 

Pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah. Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. Oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita. Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil (1 Kor 1: 18, 24, 30, 21) . 

Oleh karena “iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus (Rm 10:17) maka firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu (Yak 1:21). 

2. Membangun relasi dengan Tuhan melalui doa dan membaca/mendengarkan firman Tuhan. Ketika kita membangun relasi dengan-Nya, kita akan tahu kehendak-Nya (1 Tim 2:4 » semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran). Ketika kita menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus (Flp 2:5), maka kita dapat berjalan sesuai dengan panggilan kita, yaitu: memperoleh berkat dan memberkati (1 Ptr 3:9) 

Mata Tuhan sedang tertuju kepada kita, Dia hendak mengajar dan menunjukkan kepada kita jalan yang harus kita tempuh; Dia hendak memberi nasihat (Mzm 32:8), agar kita bisa dipakai sebagai alat-Nya untuk menyatakan kasih dan kuasa-Nya kepada dunia. 

Respon kita: Kita memandang kepada Tuhan, Allah kita, sampai Ia mengasihani kita (Mzm 123:1-2), mata kita memandang terus ke depan dan tatapan mata kita tetap ke muka. Menempuh jalan yang rata dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri, menjauhkanlah kaki kita dari kejahatan (Ams 4:25-27). 

Ada dua jenis mata dalam memandang kehidupan: 

1. Mata lalat » tidak tertarik pada harum dan keindahan bunga. Orang jahat tidak tertarik pada hal-hal yang baik, sebaliknya bila ada hal-hal yang jahat, menyakitkan, gosip, bohong, permusuhan, mereka menjadi begitu bersemangat untuk menyebarkannya tanpa berpikir panjang. 

2. Mata lebah » tidak tertarik pada kotoran. Orang baik tidak tertarik dan tidak mau merespon akan hal-hal yang buruk, menyakiti, isu yang tak jelas, semua yang berbau kejahatan, yang sekalipun nampak sekilas baik dan benar. 

Apa yang dipikirkan menghasilkan apa yang dilihat, dan apa yang dilihat akan menghasilkan apa yang diperoleh. Hidup ini sangat tergantung dengan hati dan pikiran. Jika hati dan pikiran selalu negatif, maka apa saja yang dilihat akan selalu negatif dan hasilnya adalah penderitaan, sakit hati, kecewa dan iri hati. 

Ingin bahagia? Mulailah dengan hati dan pikiran yang selalu positif, maka apa saja yang dilihat akan selalu positif dan hasilnya adalah kebahagiaan, sukacita, dan damai sejahtera. 

Jika kita seperti lebah yang menghasilkan madu, maka orang-orang disekeliling kita juga akan mencicipi manisnya madu. Tapi jika kita seperti lalat, maka kuman yang kita tebarkan juga akan mencelakakan orang lain. 

Ketika kita menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus (Flp 2:5), maka kita juga mempunyai mata lebah seperti Yesus, tidak mengingat masa lalu yang kelam dari seseorang, sehingga orang tersebut bertobat dari dosanya, ia diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran seperti Maria (Yoh 12:3; Luk 7:37-38; 1 Tim 2:4). 

Ada dua hal yang penting yang harus kita lakukan agar mata kita senantiasa tertuju kepada Tuhan: 

1. Jangan padamkan kasih 

Seperti halnya sepasang kekasih yang dipenuhi oleh hasrat cinta, maka mata mereka saling memandang. Ini adalah suatu moment yang sangat mengesankan dan membuat keintiman di antara mereka akan semakin dalam. 

Demikian juga antara kita dengan Tuhan, hasrat kita akan Tuhan membuat kita semakin dekat dengan Tuhan dan akan membuat kita semakin haus dan lapar akan kebenaran, sehingga kita dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Rm12:2). 

2. Fokus pada tujuan 

Apa yang membuat Allah berkenan kepada Yesus? (Mat 3:17; 17:5). Karena mata Yesus tertuju kepada Bapa, Ia melakukan kehendak Bapa yang mengutus-Nya dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak (Yoh 4:34; 5:19). 

Ketika mata kita terus tertuju kepada Tuhan maka pewahyuan demi pewahyuan akan terus mengalir mempertajam visi, membuat kita semakin mengenal pribadi-Nya, tuntunan Tuhan semakin jelas kepada kita sehingga kita bisa melakukan seperti yang Yesus lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu (Yoh 14:12) 

Jadi, orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah (Yes 40:31). 

(Sumber: Warta KPI TL No. 177/I/2020 » Renungan KPI TL Tgl 28 November 2019, Dra Yovita Baskoro, MM).