Senin, 27 Februari 2017

22.28 -

Iman dan karya



Manusia dipanggil dan dipilih Allah untuk melanjutkan karya penciptaan-Nya, menjadi teman sekerja-Nya dan Kerajaan-Nya (1 Kor 3:9; 1 Tes 3:2; Kol 4:11). 

Dia berkarya dalam dan melalui mereka, semua itu dan hanya itu yang dikehendaki-Nya. Mereka memakai kecakapannya dan kemampuannya, Allah-lah yang memberi inspirasi kepada mereka

Apabila manusia bekerja bersama-sama dengan Yesus dalam karya penebusan-Nya, ia membuktikan dirinya sebagai murid Kristus, karena kegiatannya hari demi hari memikul salibnya (Luk 9:23). 

Dengan demikian pekerjaan adalah satu kewajiban (2 Tes 3:10; 1 Tes 4:11), jika iman bersandar pada karya Allah, pekerjaan dapat menjadi sarana pengudusan dan dapat meresapi kenyataan duniawi dengan semangat Kristus (KGK 2427, 307; Bdk. 106; 2738; 1 Kor 10:31). 

Allah yang memulai pekerjaan yang baikakan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus (Flp 1:6)

Yesus melaksanakan segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Nya karena Dia meneladani Bapa-Nya yang bekerja sampai sekarang (Yoh 5:36; Yoh 5:17). 

Pekerjaan-Nya adalah mengajar dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan (Mat 4:23). Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah mendapatkan misi secara pribadi dari Tuhan? 

Penghalang untuk berkaryamalas, zona nyaman, tidak mengerti tugas perutusan.

Bapa di sorga merindukan memakai kita sebagai bejana kemuliaan-Nya. Bagaimana caranya agar hidup kita dipakai oleh TuhanMemiliki iman yang mampu melihat apa yang Tuhan kehendaki di dalam kehidupan kita

Sebelum kita memulai suatu karya, kita harus tahu tujuan hidup kita (lih. Hidup yang digerakkan oleh Tuhan) dan mengevaluasi hidup kita, kita harus tahu kekuatan kita (kita dapat segera mengambil kesempatan yang datang, karena kesempatan yang sama tidak akan datang untuk kedua kalinya) dan kelemahan kita (agar kita terhindar dari luka batin). 

Jika kita mau dipakai sebagai alat-Nya, kita juga harus suka, senang dan rela untuk dipotong ranting-ranting kita yang kering (7 akar dosa: (1) kesomBong (2) Kikir (3) caBul (4) Gelojoh (5) Iri hati (6) Malas (7) Marah) sehingga bejana tanah liat yang kita punyai, yang rapuh dan mudah retak dapat berkarya dengan benar dan maksimal. Hal ini terjadi bukan karena kehebatan kita, tetapi karena Kristus hadir dalam kehidupan kita. 

Orang yang mau dipakai Tuhan harus memiliki iman. Pertumbuhan iman tidak sama dengan pertumbuhan jasmani. Agar iman kita bertumbuh dengan baik dan benar, kita harus memberi jiwa kita makanan yang sehat, yaitu firman Allah

Karena iman didasarkan pada janji-janji Allah, maka kita harus berdoa dan membaca Kitab Suci secara teratur; merenungkan firman Tuhan dan mensharingkannya dalam keluarga/lingkungan

Iman adalah karunia Allah, berasal dalam hati (1 Kor 12:9; Rm 10:10a; Mrk 11:23-24); dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibr 11:1; Yoh 20:29; 2 Kor 5:7).

Iman adalah pekerjaan jiwa yang dengannya kita merasa pasti akan keberadaan dan kebenaran dari sesuatu yang tidak ada di depan kita sehingga tidak tampak bagi indra manusia

Tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada AllahIman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Tuhan (Ibr 11:6; Rm 10:17). 

Jika kita terlalu banyak mengandalkan akal budi, maka pertumbuhan rohani kita akan sulit bertumbuh

Jadi, kita harus mampu membangun kehidupan rohani yang sehat secara pribadi maupun keluarga, membangun kehidupan pekerjaan dan pelayanan secara seimbang agar tidak menjadi batu sandungan.

Jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baiktetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa (Yak 4:17)

Marilah kita mengambil bagian dalam Kerajaan Allah, dengan percaya kepada Allah sehingga kita dapat berkarya untuk melaksanakan Amanat Agung-Nya (Mrk 11:22; 16:15).

Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikuti Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa (Yoh 12:26).

(Sumber: Warta KPI TL No.115/XI/2013 » Renungan Hari Studi 2 Tgl 17 November 2013, ibu Yovita).

Kehidupan yang digerakkan oleh Tuhan




Ketika masih kecil Margaret Haughery sudah menjadi yatim piatu. Dia kemudian diangkat anak oleh sepasang pasutri muda, yang juga sama miskinnya dan baik hati seperti ayah ibunya. Dia tinggal dengan orang tua angkatnya sampai menikah.

Tidak beberapa lama kemudian, suami dan anaknya yang masih bayi meninggal sehingga dia harus menjalani kehidupan seorang diri dengan berbagai kepahitan hidup.

Meskipun demikian Margaret adalah seorang wanita yang kuat dan giat bekerja. Sepanjang hari dari pagi hingga petang dia bekerja di sebuah tempat penyucian baju, menyeterika pakaian tanpa mengeluh.

Karena berdekatan dengan sebuah jendela, maka dia sering mengamat-amati anak-anak panti asuhan yang sedang bermain-main, panti asuhan itu letaknya tidak seberapa jauh dari tempatnya bekerja.

Tidak berapa lama kemudian di kota itu terjangkit penyakit yang hebat sehingga banyak ayah dan ibu yang meninggal. Hal ini menyebabkan panti asuhan semakin penuh.

Di wajah anak-anak yatim piatu itu terpancar betapa mereka telah disakiti oleh kehidupan ini. Mereka sangat membutuhkan belaskasihan dari para sahabat, terutama dari kedua orangtua mereka.

Namun, mereka telah kehilangan sosok ayah dan ibu yang selama ini mereka jadikan pelindung, naungan, tempat mengadu saat menangis, dan tertawa saat mereka bahagia.

Melihat kenyataan ini, Margaret berpikir: “Apa yang bisa aku bantu? Anak-anak ini membutuhkan seorang sahabat. Kalau saja aku bisa menjadi sahabat yang baik bagi mereka, mereka pasti akan berbahagia.”

Margaret langsung menghadap pengelola panti asuhan dan memberitahukan bahwa dia akan memberikan sebagian upahnya dan sesudah pulang kerja akan bermain dengan anak-anak itu.

Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah (2 Kor 1:3-4)

Margaret bekerja lebih keras dari hari biasanya demi anak-anak yatim piatu yang sangat ia kasihi. Kasihnya yang begitu besar terhadap anak-anak yang terabaikan membuat semua pekerjaan yang dia lakukan terasa ringan dan menyenangkan.

Bekerjalah … tujuh tahun lamanya untuk mendapatkan … tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya pada … (Kej 29:20)

Dengan memberikan sebagian dari upahnya dia semakin diberkati sehingga dari hasil tabungannya dia bisa membeli dua ekor sapi perah dan sebuah kereta dorong.

Setiap hari dia mengantar susu ke pelanggannya dengan menggunakan kereta dorong. Sebelum pulang, dia menyempatkan diri untuk masuk ke hotel-hotel dan ke rumah-rumah mewah meminta sisa-sisa makanan untuk anak-anak yatim piatu yang kelaparan, dan sering itulah yang mereka makan di saat masa-masa sulit.

Baiklah orang bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan (Ef 4:28).

Margaret begitu trampil dan berhati-hati dalam mengelola usahanya. Setelah beberapa tahun kemudian, panti asuhan itu dibuatnya menjadi besar dan lebih bagus.

Meskipun setiap minggu dia menjadi donatur untuk panti asuhan itu, dia bisa juga membangun sebuah rumah untuk bayi yatim piatu dan menamakan rumah itu nama bayinya. Bahkan dia berhasil membuka sebuah pabrik roti.

Sulitnya hidup semakin sangat terasa ketika terjadi Perang Saudara Amerika yang sangat dahsyat pada saat itu. Dalam keadaan yang serba sulit, serba sakit dan menakutkan, Margaret tetap menjajakan roti-rotinya dengan kereta dorongnya.

Bahkan dia masih mempunyai cukup roti untuk dibagikan kepada para serdadu yang kelaparan di medan pertempuran, dan untuk bayi-bayi yang ada di panti asuhannya, selain yang dijual kepada para pelanggannya.

Mekipun banyak yang disumbangkan, dia tetap mempunyai penghasilan yang cukup dan bahkan lebih dari cukup. Hal itu terlihat setelah perang berhenti, dia membangun sebuah pabrik roti besar dengan mesin tenaga uap.

Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat luar biasa, namun selalu berkekurangan (Ams 11:24)

Bagi penduduk kota Orleans, Margaret adalah ibu bagi anak-anak yang tidak mempunyai ibu, dia merupakan sahabat bagi orang yang tidak mempunyai sahabat dan dia mempunyai kebijaksanaan yang lebih besar dari pada yang diajarkan oleh sekolah-sekolah. Itulah sebabnya dia dikenal oleh banyak orang, mulai dari kalangan atas hingga kalangan terbawah.

Dia selalu duduk di kantor dengan pintu yang terbuka dengan penampilan begitu sederhana, mengenakan gaun belacu, dengan sebuah syal kecil saat memberi saran kepada semua orang kaya dan miskin di kota itu sehingga mereka menemukan arti hidup yang sesungguhnya.

Ketika Margaret meninggal dunia, semua penduduk kota Orleans berduka. Sewaktu surat wasiatnya dibuka, ternyata seluruh kekayaannya dilimpahkan kepada berbagai panti asuhan di kota itu. Surat wasiat itu luar biasa, tidak ditandatangani tetapi ditandai dengan tanda salib karena dia adalah seorang yang buta huruf

Penduduk Orleans membuat patung Margaret Haughery, kata mereka: “Kami membuat patung Margaret Haughery agar semua orang dapat mengenalnya dan dapat meneladan kehidupannya.”

Margaret adalah teladan manusia yang penuh penderitaan dalam hidupnya tetapi dia selalu bergairah untuk hidup karena memiliki tujuan hidup yang mulia

Perhatikan dengan seksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakan waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan (Ef 5:15-17)

Ada banyak orang merasa bosan dengan kehidupannya karena setiap hari harus melakukan hal yang sama (bangun pagi, membuat sarapan, pergi ke pasar, mencuci baju, mengasuh anak dan bekerja). Hal ini terjadi karena dia hanya berputar-putar pada kegiatannya, tidak mengerti tujuan hidup yang Tuhan kehendaki. 

Hidup yang tidak pernah diuji adalah hidup yang sia-sia (Socrates - filsuf Yunani )

Orang yang sudah diubahkan menjadi manusia baru, memiliki kepekaan dengan apa yang terjadi dalam kehidupannya. Dia berusaha mengerti kehendak Tuhan dengan menguasai diri dalam segala hal, dia berlari-lari dengan tujuan yang jelas, mengakhiri pertandingan, mencapai garis akhir dan memperoleh mahkota yang abadi (1 Kor 9:24-27; Flp 3:14; 2 Tim 4:7). 

Tujuan Tuhan menciptakan manusia:

1. Untuk mengenal Allah

Jika kita sungguh-sungguh mengenal seseorang, maka kita akan tahu apa yang dipikirkannya, apa yang disukainya, dan apa yang diinginkannya.

Jadi, jika kita sungguh-sungguh mengenal Allah, maka kita juga akan

memiliki pikiran Kristus (1 Kor 2:16), melakukan kehendak Bapa (Yoh 4:34), yaitu: mengajar dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan serta mengadakan mujizat-mujizat (Yoh 5:17; Mat 4:23; Yoh 9:1-7; Mat 14:13-21).

* mengetahui kesukaan-Nya
- Kita memahami dan mengenal-Nya (Yer 9:24).
- Kita takut kepada nama-Nya (Mi 6:8-9).
- Kita beribadah dengan hormat (Ibr 12:28).
- Kita mengucap syukur dalam segala hal (1 Tes 5:18).

* mengetahui keinginan-Nya

- Kita melakukan perbuatan baik (Ef 2:10 - membawa seseorang mengenal Tuhan Yesus secara pribadi).

- Kita mengejar kekudusan (Ibr 12:14), kebenaran (Yer 22:15-16), kasih (1 Kor 14:1; Yoh 13:34; 1 Pet 1:22), belas kasihan (Mat 9:13; 12:7), damai, rendah hati, kesabaran, kelembutan, keadilan dan kesetiaan (Flp 4:8; Ams 21:3; 2 Tim 2:22; 1 Tim 6:11; Ef 4:2). 

- Kita saling mengampuni (Ef 4:32), membangun (Rm 14:19), menasehati (Rm 15:14; Ibr 3:13), menghibur (1 Tes 4:18), memperhatikan (1 Kor 12:25; Ibr 10:24), membantu (Ef 4:2), mendoakan (Yak 5:16), melayani (Gal 5:13; 1 Ptr 4:10), mendahului dalam memberi hormat (Rm 12:10), dan memberi tumpangan (1 Ptr 4:9). 

- Kita membangun Kerajaan Allah (Rm 14:17 - soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus; 1 Kor 4:20 – kuasa: (1) menjadi anak-anak Allah (Yoh 1:12) (2) untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit (Luk 9:1) (3) untuk menginjak ular dan kalajengking dan untuk menahan kekuatan musuh (Luk 10:19).

- Kita mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (Yoh 10:10).

- Semua orang berbalik dan bertobat (2 Pet 3:9).

- Menyelamatkan dunia (Yoh 12:47). 

2. Untuk mengasihi dan mencintai Allah 

Jika kita mengasihi dan mencintai seseorang, maka setiap saat kita memikirkannya dan kita akan melakukan sesuatu untuk menyenangkan hatinya.

Demikian pula seharusnya terhadap Allah. Jika kita sungguh-sungguh mengasihi-Nya, maka Dia bukan menyebut kita sebagai hamba tetapi menyebut kita sebagai sahabat-Nya, dan Dia akan memberitahukan segala sesuatu yang telah didengar-Nya dari Bapa-Nya (Yoh 15:14-15). Orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah (1 Kor 8:3).

3. Untuk melayani Dia

Ada seorang pemusik yang sangat miskin (X), berkat yang dia terima hanya cukup untuk membeli kebutuhan pokok dan membeli susu untuk anaknya. Dia ingin sekali membeli baju putih untuk pelayanan di hari Natal, tetapi dia tidak mempunyai uang. 

Pada suatu siang, dalam sebuah persekutuan ada seorang ibu yang mendekat padanya dan berkata: “Mas, pada waktu saya di toko, tiba-tiba saya teringat kamu dan Tuhan menggerakkan saya untuk membelikan baju putih ini.”

Lalu X membuka bungkusnya, katanya: “Terima kasih Bu, saya senang sekali dengan baju ini. Tentu harganya sangat mahal karena baju ini bermerek.”

Kata ibu itu: “Tuhan yang menggerakkan hati saya untuk memberikan baju itu pada kamu.” 

Sepulang dari persekutuan itu, X mampir di temannya yang jualan degan (A). Kata A: “Mas, minggu depan aku tutup.” Tanya X: “Kenapa?”

Jawab A: “Aku akan menikah di Nganjuk, tapi uangku sudah habis untuk mengurus di KUA. Padahal di tempatku kalau menikah harus memakai baju putih, celana panjang hitam dan kopiah, tapi aku sudah tidak punya uang lagi.”

Pada saat mendengar persoalan yang dihadapi A, terdengarlah suara di batin X: “Berikanlah baju itu kepada orang yang ada di depanmu.”

Kata X dalam hati: “Ini adalah suatu berkat yang sudah lama aku tunggu-tunggu. Apalagi ini masih baru.” Terjadilah peperangan di batin X, antara memberi baju yang di dalam tasnya, atau tidak.

 Lalu X mengambil sebuah keputusan, katanya: “Mas, ini ada sebuah baju yang mas perlukan. Ini juga baru diberi oleh seorang ibu, aku rasa kamu lebih memerlukan daripada aku. Ini buat kamu, kalau kamu mau celana panjang hitam, aku juga punya. Besok ya … aku bawakan, tetapi bekas lho …”

Kata A: “Kamu pasti orang Kristen, karena hanya orang Kristen yang melakukan itu. Aku tutup dua minggu. Setelah aku pulang, jangan lupa kamu kembali lagi ke sini, ajarkan aku siapa Tuhanmu yang kamu sembah.”

Karena X tahu bagaimana caranya mengelola apa yang ada di tangannya, maka dia sekarang diberkati Tuhan lebih dan lebih lagi sehingga dalam pelayanannya X memakai baju keren dan membawa keyboard, bukan lagi gitar dalam setiap pelayanannya.

Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang. Kamu adalah surat Kristus ditulis dengan Roh dari Allah yang hidup, Yaitu di dalam hati manusia (2 Kor 3:2-3)

Kekayaan, harta benda, kuasa adalah karunia Allah (Pkh 6:18; 1 Kor 4:7).

Sadarilah bahwa segala sesuatu berasal dari Allah, orang berdosa ditugaskan-Nya untuk menghimpun dan menimbun sesuatu yang kemudian harus diberikan kepada orang yang dikenan Allah (Pkh 2:26).

Jadi, apa yang kita punyai sebenarnya adalah pinjaman dari Allah, kita hanyalah pengelola bukan pemilik, jika semuanya itu bertambah, janganlah hatimu melekat padanya (Mzm, 62:11; Luk 18:18-23; Yes 22:15-16).

Setiap orang yang kepadanya banyak diberi dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut (Luk 12:48).

Tujuan hidup manusia untuk memuliakan Allah dan menikmati Allah (Westminster Shorte Catechism)

4. Tinggal berbahagia selamanya di sorga

Sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambar yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna seperti aku sendiri dikenal (1 Kor 13:12).

Jadi, pergunakan waktu yang sisa menurut kehendak Allah, jangan menuruti keinginan manusia (rupa-rupa hawa nafsu, keinginan, kemabukan, pesta pora, perjamuan minum dan penyembahan berhala) karena kita harus memberi pertanggungan jawab kepada Dia (1 Ptr 4:2-5).

Allah hanya meminjamkan bumi kepada kita pada waktu kita ada di sini. Bumi adalah milik Allah sebelum anda datang, Allah akan meminjamkannya kepada orang lain setelah anda meninggal. Anda hanya bisa menikmatinya sesaat. Pada akhir kehidupan anda di dunia, anda akan dievaluasi dan diberi upah sesuai dengan seberapa baik anda telah mengurus apa yang telah Allah percayakan kepada anda (Rick Warren).

Tubuh kita adalah bait Roh Kudus, kita telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Kita bukan lagi milik kita sendiri, tetapi kita adalah milik Kristus maka janganlah kita menjadi hamba manusia. Jadi, muliakanlah Allah dengan melakukan perbuatan baik bagi KerajaanNya (1 Kor 6:19-20; 1 Kor 7:23; Ef 2:10). 

(Sumber: Warta KPI TL No.115/XI/2013 » Renungan KPI TL tgl 3 Oktober 2013, Dra Yovita Baskoro, MM).

Di dalam kelemahan kita kuat



Ada banyak orang tidak mengerti tujuan Tuhan mengizinkan mereka mengalami sesuatu yang tidak nyaman dalam kehidupannya. Akhirnya mereka memberontak kepada Tuhan, bersungut-sungut, kecewa, marah dan menyesali keputusan Tuhan. 

Mereka tidak mau terlibat dalam pekerjaan Tuhan dengan alasan “hanya orang yang kuatlah yang dapat memberkati” (sehat, kaya, pandai, punya kuasa dll). Seharusnya kita bertanya kepada Tuhan, dibagian mana posisi kita dalam Tubuh Kristus. 

Tubuh tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota. Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya. 

Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberi penghormatan khusus, supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan (1 Kor 12:14- 25).

Kalau kita mengerti tujuan Allah bagi hidup kita, maka ketika kita mengalami kelemahan demi kelemahan, kita akan memiliki sikap suka, senang dan rela di dalam kelemahan … sehingga dalam kelemahan kita tetap dapat menjadi berkat bagi sesama.

Kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah. Kekuatan yang berlimpah-limpah berasal dari Allah. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa (2 Kor 3:5; 4:7-9).


Marilah kita belajar dari rasul Paulus (2 Kor 12:7-10):

[7] Supaya aku jangan meninggikan diri karena pernyataan-pernyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk mengocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri 

» Paulus adalah seorang Yahudi yang dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel, seorang ahli Taurat; sangat rajin memelihara adat istiadat (Kis 22:3; 5:34; Gal 1:14). 

Setelah bertobat, Allah telah menetapkannya untuk mengetahui kehendak-Nya, untuk melihat Yang Benar dan untuk mendengar suara yang keluar dari mulut-Nya (Kis 9:1-19 a; 22:14). 

Karena dia mempunyai banyak pengalaman rohani yang luar biasa, maka Tuhan tidak ingin dia menjadi sombong (Bdk. 1 Kor 8:1). 

Jadi, tujuan Tuhan mengizinkan suatu duri di dalam dagingnya agar (1) Paulus tetap tinggal dalam keseimbangan. 

[8-9a] Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”

 » Paulus mempunyai hubungan yang intim dengan Allah sehingga dia memupuk terus imannya dan mendapatkan konfirmasi atas pergumulannya. Tujuan Tuhan (2) Kuasa Allah menjadi sempurna, karena kuasa Kristus menaunginya. 

[9a] Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat (jadi berkat

 » Paulus mengerti tujuan Allah terhadap dirinya, dia berani bersyukur dalam kelemahannya dan dia berani berkata “suka, senang dan rela atas kelemahannya”. 

Hal inilah yang memampukan dia menjadi berkat bagi seluruh wilayah kekaisaran Romawi semasa hidupnya. Bahkan sampai hari ini dia juga menjadi berkat bagi orang percaya dengan 13 kitab yang ditulisnya. 

Paulus memberkati dengan cara 5 M, yaitu: (1) Memberitakan injil (2) Mengajar (3) Mengunjungi (4) Mengutus orang (5) Menyurati jemaat-jemaat Tuhan. 

(Sumber: Warta KPI TL No.115/XI/2013 » Renungan KPI TL Tgl 14 November 2013, Dra Yovita Baskoro, MM).


18.00 -

Tolle, Lege



Monika, seorang penganut agama Kristen yang taat dan saleh. Ketika berusia 20 tahun, dia menikah dengan Patrisius, seorang penyembah berhala. Selain itu suaminya selalu mencemoohkan dan menertawakan usaha kerasnya dalam mendidik Agustinus (menanamkan benih iman Kristen), agar menjadi seorang pemuda yang luhur budinya. Semua itu ditanggungnya dengan sabar sambil tekun berdoa untuk memohon campur tangan Tuhan.

Cara hidup Agustinus semakin menggelisahkan hati ibunya karena telah meninggalkan imannya dan memeluk agama Manikeisme yang sesat itu. Lebih dari itu, di luar perkawinannya yang sah, ia hidup dengan seorang wanita hingga melahirkan seorang anak (lih. 

Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik (1 Kor 15:33).

Agustinus berkunjung kepada Simplicianus, bapak rohani Ambrosius. Simplicianus menceritakan kepada Agustinus seluruh kisah pertobatan dari salah seorang yang bernama Victorinus, seorang yang terpandang dan berpengetahuan luas menjadi orang Kristen

Cerita itu cukup mengesankan sehingga Agustinus mendengarkan dengan sungguh-sungguh tiap kata yang diucapkannya. 

Sesudah pertemuannya dengan Simplicianus, Agustinus mulai berkobar semangatnya untuk menuruti teladannya, bahkan dia sering diantar oleh Alypius pergi ke Gereja setiap kali dapat meluangkan waktu.

Pada suatu ketika Pontisianus, seorang Kristen yang berpangkat tinggi dalam keluarga Kaisar dengan tak terduga-duga berkunjung kepada Agustinus.

Pada kunjungan itu, Pontisianus kebetulan melihat sebuah buku di atas meja. Ia mengambilnya, dan ia heran melihat bahwa buku itu mengandung surat-surat rasul Paulus. 

Agustinus menjelaskan bahwa ia sedang mempelajari tulisan Paulus dengan amat teliti. Lalu pembicaraan beralih ke topik lain. 

Pontisianus mulai menceritakan tentang Antonius, seorang rahib di Mesir yang telah berpulang tiga puluh tahun sebelumnya dengan meninggalkan beberapa murid yang bertambah terus jumlahnya dan pengaruhnya di dalam seluruh Gereja. 

Teristimewa pada kunjungan Pontisianus bersama Kaesar Trier di Garmania, mereka amat terpesona oleh kesaksian hidup membiara, mereka menjumpai beberapa rahib yang menjalani hidup dalam kesederhanaan dan kesucian. Mereka juga menemukan satu eksemplar tulisan tentang riwayat hidup Antonius. 

 Sambil membaca buku itu, mereka merasakan suatu ketidakpuasan dengan hal-hal duniawi dan mengalami panggilan mendalam untuk mengikuti teladan Antonius dalam kesucian hidupnya. 

Setelah Pontisianus menyelesaikan ceritanya, Agustinus berpaling ke dalam dirinya, katanya: “Ya Tuhan, Kaubalikkan aku kembali menatap diriku, Kautarik aku dari balik punggungku tempat yang kuambil supaya mataku tidak perlu menatapku. Demikianlah aku dirongrong dalam batinku, hatiku terguncang oleh rasa malu yang amat mengerikan.”

Sejak saat itu ia mulai menyadari bahwa pribadinya terbagi-bagiIa berniat untuk hidup suci, tetapi hawa nafsunya tidak terkendali, katanya: “Aku meraung-raung mengibakan. Berapa lama lagi? Berapa lama lagi? Besok, selalu besok. Mengapa tidak sekarang juga? Mengapa tidak langsung dihabiskan kekejianku?” 

Timbullah badai besar, sarat dengan hujan air mata yang lebat. Supaya air mata dan keluh kesah dapat kuumbar sampai habis, aku bangkit dan menjauh dari Alypius, sebab kesendirian menurutku lebih cocok untuk karya air mata. 

Aku menarik diri sampai cukup jauh. Maka terdengar olehku suara yang datang dari rumah tetangga, suara itu berkata dengan nada bernyanyi dan sering diulang-ulanginya: “Tolle, lege!” (Ambillah dan bacalah!).


Kubendung serangan air mataku dan aku bangkit, sebab kejadian itu kuanggap tak lain dari perintah Tuhan dan mendesak supaya kubuka kitab dan supaya kubaca apa yang kutemukan pada bab yang pertama-tama kutemui

Buku kupegang, kubuka dan kubaca dalam hati bab pertama yang kepergok mataku: “Marilah kita hidup sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya (Rm 13:13-14).

Dengan kata-kata terakhir nas itu, ada cahaya keselamatan tercurah ke dalam hatiku dan segala kegelapan keraguan menghilang.

Doa harus menyertai pembacaan Kitab Sucisupaya terwujudlah wawancara antara Allah dan manusiaSebab kita berbicara dengan-Nya bila berdoaKita mendengarkan-Nya bila membaca amanat-amanat ilahi (Ambrosius, KGK 2653)

Kitab Suci adalah buku utama orang Kristiani, yang bisa menjadi sarana perjumpaan dengan Tuhan, menjadi inspirasi dan pegangan hidup

Kitab Suci merupakan kumpulan buku yang ditulis oleh penulis suci dengan ilham dari Allah. Dengan mengetahui maksud penulis suci untuk umat pada jamannya, kita terlindung dari kebiasaan untuk mengartikan teks dengan semena-mena. Buku-buku tersebut berisi tulisan tentang wahyu Tuhan dan rencana keselamatan umat manusia. 

Agama Kristen adalah agamaSabdaAllah“bukan sabda yang ditulis dan bisu, melainkan Sabda yang menjadi manusia dan hidup” (Bernard, KGK 108)

Beberapa ratus tahun pertama adalah masa-masa penganiayaan terhadap umat Kristen. Para penguasa yang menindas Gereja Katolik menghancurkan segala hal yang menyangkut Kristenitas yang bisa mereka temukan. 

Selanjutnya, kaum pagan (non Kristen) juga secara berulang-ulang menyerang kota-kota dan perkampungan Kristen dan membakar dan menghancurkan gereja dan segala benda-benda religius yang dapat mereka temukan di sana. 

Lebih jauh lagi, mereka bahkan memaksa umat Kristen untuk menyerahkan kitab-kitab suci dibawah ancaman nyawa, lantas membakar kitab-kitab tersebut.

Sebelum pecahnya Reformasi Protestan, ada banyak versi-versi Alkitab yang beredar pada masa itu. Banyak diantaranya mengandung kesalahan-kesalahan yang disengaja, seperti kasus-kasus kaum heretic, pembangkang gereja yang berusaha mendukung dokrin-dokrin yang mereka ciptakan sendiri, dengan menuliskan Alkitab yang sudah diganti isinya. 

Ada juga kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja oleh karena faktor human error, mengingat pekerjaan menyalin Alkitab dilakukan dengan tulisan tangan, ayat demi ayat, yang sangat memakan waktu dan tenaga.

Setelah meletusnya Reformasi Protestan, pada Konsili Trente (tahun 1546) Gereja Katolik mensahkan Vulgate, versi latin dari Alkitab sebagai satu-satunya versi yang diakui secara sah yang diperbolehkan kepada umat Katolik. 

Meskipun Konsili Vatikan II sudah menganjurkan umat untuk sering membaca Kitab Suci, tetapi Kitab ini masih asing bagi kehidupan sebagian umat. 

Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena sebagian umat merasa lebih aman mengikuti ajaran para pastor atau para ahli, yang dianggap lebih tahu segala hal mengenai Kitab Suci. 

Alasan sebagian umat yang malas membaca Kitab Suci secara rutin

· Membuang waktu dan pikiran saja.
· Menjemukan dan ketinggalan zaman.
· Merasa kesulitan memahami ayat-ayat Kitab Suci.
· Takut salah menafsirkannya

Kitab Suci adalah “surat cinta Allahyang mencapai puncaknya pada diri Yesus Kristus

Sebagai orang Kristen, tentu akan lebih menyenangkan kalau kita mulai membaca tulisan-tulisan Injil, mengenal Yesus Kristus, lalu diikuti bagian lain Perjanjian Baru

Setelah itu kita membaca Perjanjian Lama dalam terang Yesus Kristus. Jika demikian, lalu kita bisa mengerti apa-apa yang ditulis dalam Perjanjian Baru, demikian juga sebaliknya.

Kesatuan kedua Perjanjian mengalir dari kesatuan rencana dan wahyu Allah. Perjanjian Lama mempersiapkan yang Baru, sedangkan yang Baru menyempurnakan yang Lama. Kedua-duanya saling menjelaskan (KGK 140).

Selubung itu masih tetap menyelubungi merekajika mereka membaca Perjanjian Lama tanpa disingkapkankarena hanya Kristus saja yang dapat menyingkapkannyaApabila hati seseorang berbalik kepada Tuhanmaka selubung itu diambil dari padanya (2 Kor 3:14-16)

Di dalam Kitab Suci Allah berbicara kepada manusia dengan cara manusia. Penafsir Kitab Suci harus menyelidiki dengan teliti, agar melihat, apa yang sebenarnya hendak dinyatakan para penulis suci, dan apa yang ingin diwahyukan Allah melalui kata-kata mereka.

Untuk melacak maksud para penulis suci, hendaknya diperhatikan situasi zaman dan kebudayaan mereka, jenis sastra yang biasa pada waktu itu, serta cara berpikir, berbicara, dan bercerita yang umumnya digunakan pada zaman teks tertentu ditulis. “Sebab dengan cara-cara yang berbeda-beda kebenaran dikemukakan dan diungkapkan dalam nas-nas yang dengan aneka cara bersifat historis, atau profetis, atau poetis, atau dengan jenis sastra lainnya” (DV 12,2). 

Kitab Suci ditulis dalam Roh Kudus dan harus dibaca dan ditafsirkan dalam Roh itu juga (DV 12, 3). 

Untuk penafsiran Kitab Suci sesuai dengan Roh, yang telah mengilhaminya, Konsili Vatikan II memberikan tiga kriteria:

1. Memperhatikan dengan seksamaisi dan kesatuan seluruh Kitab Suci” 

Kitab Suci adalah satu kesatuan atas dasar kesatuan rencana Allah yang pusat dan hatinya adalah Yesus Kristus. Sesudah sengsara-Nya Kitab Suci terbuka, agar mereka yang sekarang memahaminya, dapat mempertimbangkan dan membeda-bedakan, bagaimana nubuat-nubuat harus ditafsirkan (Tomas Aquinas).

2. Membaca Kitab Sucidalam terang tradisi hidup seluruh Gereja” 

Kitab Suci lebih dahulu ditulis di dalam hati Gereja daripada di atas pergamen (kertas dari kulit). Gereja menyimpan dalam tradisinya kenangan yang hidup akan Sabda Allah, dan Roh Kudus memberi kepadanya penafsiran rohani mengenai Kitab Suci … “menurut arti rohani yang dikaruniakan Roh kepada Gereja” (Origenes).

3. Memperhatikananalogi iman

Dengan “analogi iman” dimaksudkan hubungan kebenaran-kebenaran iman satu sama lain dan dalam rencana keseluruhan wahyu.

Kalau membaca Kitab Suci, carilah dan kamu akan menemukan dalam renungan; Kalau berdoa, ketuklah dan bagimu akan dibukakan melalui meditasi (KGK 2654)

(Sumber: Warta KPI TL No.114/X/2013 » Tolle et Lege, Iswadi Prayidno, Pr.; Agustinus Tahanan Tuhan, Mgr. P. van Diepen, OSA; KGK 109-114 ).

Minggu, 26 Februari 2017

21.52 -

Keluarga sarana menuju kesucian



Dalam keluarga perlu ada tata susunan relasi. Ada yang menjadi kepala dan ada yang menjadi tubuh. Meskipun ada perbedaan itu, pusat perhatian masing-masing keluarga, khususnya, bukanlah menunjukkan otoritasnya, melainkan merendahkan diri, melihat kepentingan orang lain lebih dari kepentingan sendiri. 

Jadi, kerendahan hati sangat penting dalam membangun keluarga Kristiani yang harmonis dan sesuai dengan kehendak Tuhan.

Iri hati merupakan satu dari bentuk gundah gulana, satu penolakan cinta kasihIri hari seringkali muncul dari kesombonganYang dibaptis harus berjuang melawannya dengan kebaikan hati, berusaha hidup dengan rendah hati (KGK 2540).

Marilah kita belajar dari Ef 5:21-6:3

[5:21] Rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus

» merendahkan diri tidak sama dengan menjadi rendah diri, melainkan rendah hati (takluk atau tunduk secara sukarela, menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri (Ef 2:3), terdorong oleh rasa hormat, kagum, dan cinta kepada Kristus).

[22-24] Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat, Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah istri kepada suami dalam segala sesuatu 

» Nasehat Paulus agar istri tunduk kepada suami sepertinya tidak relevan bahkan bertentangan dengan gagasan yang didengung-dengungkan dewasa ini (Gal 3:28). 

Gagasan kesamaan dan tunduk perlu dilihat dalam terang relasi yang terdapat dalam pribadi Allah Tritunggal, khususnya antara Bapa (Allah) dan Putra (Kristus). 

Kepala dari tiap-tiap laki-laki adalah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan kepala dari Kristus ialah Allah (1 Kor 11:3). 

Gambaran kepala di sini jelas menunjukkan tunduk-Nya Kristus pada Allah (1 Kor 15:28 – sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia). 

Tunduknya Kristus pada Allah hanyalah untuk menunjukkan perbedaan relasi di antara mereka, sedangkan masing-masing pribadi itu memiliki kodrat yang sama. 

Perbedaan, bahwa takluk-Nya Putra kepada Bapa, sama sekali tidak meniadakan kesamaan fundamental mereka. 

Oleh karena itu, persekutuan Allah Tritunggal patut menjadi model persekutuan semua anggota Gereja, khususnya persekutuan antara suami-istri dalam perkawinan. Suami dan istri tetap sama dan sederajat, meskipun suami adalah kepala istri

Ketertundukan di sini tidak menyangkal atau mengambil kebebasan yang sepenuhnya menjadi milik perempuan karena keluhurannya sebagai pribadi manusiawiistri juga tidak terikat untuk menaati setiap permintaan suaminya jika hal itu tidak sesuai dengan alasan yang benar atau keluhurannya sebagai istri … (Paus Pius XI, Casti connubii, 27). 

Bagaimana sesuatu yang transenden (hubungan Kristus dan jemaat) bisa dibandingkan dengan sesuatu yang manusiawi (relasi suami-isteri)? 

Sebuah analogi atau perbandingan selalu mengandung kesamaan, tetapi sekaligus juga perbedaan. 

Kesamaan: tunduknya jemaat Kepada Kristus dalam Gereja merupakan model untuk tunduknya istri kepada suami dalam keluarga besar. 

Perbedaan: Yesus dalam relasinya dengan jemaat lebih besar daripada peran suami terhadap istri. Yesus bukan saja menjadi kepala, melainkan juga penyelamat. 

[25] Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk (1) menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia (2) menempatkan jemaat di hadapan diriNya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi (3) supaya jemaat kudus dan tidak bercela 

» Model pertama: Kasih Kristus terhadap Gereja yang diungkapkan dengan pengorbanan Diri-Nya.

Mengasihi bukan soal cinta yang romantis (cinta yang berlandaskan keinginan yang muncul secara alami dan diungkapkan dengan hubungan suami-istri), melainkan agape (cinta yang lahir dari pilihan kehendak dan tidak tergantung pada layak tidaknya seseorang ataupun jawaban orang yang dicintainya). 

Meskipun lahir dari kehendak, agape melibatkan seluruh keberadaan manusia termasuk emosinya. 

Jadi, perintah “kasihilah istrimu” berarti hormati, hargai, peliharalah dia, bersikap mesralah terhadapnya dan carilah kebaikan-kebaikannya. Suami diminta menyangkal diri seperti ia meminta istri menyangkal dirinya dengan menundukkan diri di bawah suaminya. 

Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru sering membandingkan hubungan Tuhan dengan umat-Nya (Israel atau Gereja) seperti hubungan perkawinan (Yes 54:5; Hos 2:18). 

Dalam hubungan ini mempelai laki-laki sorgawi mengurbankan diri-Nya untuk tiga tujuan yang saling berkaitan

1. Menguduskan berarti memisahkan seseorang atau sesuatu apa yang profan dan mengkualifikasi orang atau obyek itu untuk Allah.

Cara yang dipakai ialah melalui baptisan (Kis 22:16; Tit 3:5-6; 1 Kor 6:11: Ibr 10:22), firman (Yoh 15:3; 17:7; Ef 1:13) dan pengakuan iman (Rm 10:9-10). 

2. Menurut kebiasaan kuno, upacara perkawinan dibuat dalam dua tahap

- pertunangan Pada saat itu kontrak ditandatangani dan sejak itu laki-laki dan perempuan sah secara hukum sebagai suami-istri. 

- Ada upacara memandikan mempelai perempuan dengan minyak wangi agar ia bersih sebersih mungkin dan cantik secantik mungkin (Yeh 16:8-14). 

Setelah itu mempelai perempuan dibawa ke rumah mempelai laki-laki dan diserahkan kepadanya. Sejak itu mereka mulai hidup bersama sebagai suami-istri. Setelah upacara persiapan ini, barulah perayaan pokoknya dimulai. 

Paulus membandingkan upacara memandikan yang mempersiapkan mempelai perempuan bersatu dengan mempelai laki-laki itu dengan upacara pembersihan umat Allah melalui baptis dan firman

Namun, ada yang istimewa di sini. Yang memandikan mempelai perempuan bukanlah pelayannya atau keluarganya seperti lazim itu, melainkan mempelai laki-laki itu sendiri

Dengan perbuatannya itu, mempelai laki-laki, yakni Kristus menempatkan diri-Nya di posisi yang lebih rendah (Bdk. Flp 2:6-8). 

Yesus membersihkan mempelai-Nya (jemaat) sehingga mereka bisa hadir di hadapan-Nya sebagai yang mulia, yang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu sehingga ia menjadi kudus dan tak bercela. 

Menurut Gereja, perayaan inti perkawinan setelah persiapan di atas akan terjadi di masa yang akan datang, ketika Kristus kembali untuk menyatakan mempelai-Nya sebagai milik-Nya (Why 19:9 – hari perkawinan Anak Domba).

[28-30] Demikian juga suami harus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi istrinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatnya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota-anggota tubuh-Nya 

» Model kedua: mengasihi istri sama seperti tubuh sendiri. Orang normal tidak akan membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatnya. 

Jadi, suami harus merawat istrinya seperti Kristus mengasuhnya dan merawatnya dengan sakramen-sakramen dan karunia Roh.

[31] Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat 

» Perkawinan disempurnakan dalam hubungan seksual, menyatukan suami-istri menjadi satu daging, satu tubuh (lih. [Ef 5:22-33; Tob 8:4-8] Teologi tubuh). Meskipun mereka tetap dua pribadi yang berbeda, keduanya kini berbagi satu hidup, membentuk satu keluarga. Allah mempersatukan mereka (Mrk 10:9). Karena itu sudah sepantasnya suami mencintai istri “seperti tubuhnya sendiri”.

[33] Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah istrimu seperti dirimu sendiri dan istri hendaklah menghormati suaminya

» perintah ini menggemakan perintah Yesus untuk mencintai sesama seperti diri sendiri (Mrk 12:31). Kata menghormati secara harafiah berarti “takut” namun takut dalam arti hormat dan mengagumi orang yang berada di atas kita. 

[6:1-3] Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu, ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi 

» Menaati di dalam Tuhan, sebagai ungkapan relasi dengan Yesus Kristus, merupakan bentuk takluk yang mencakup baik mendengarkan pengajaran maupun mengikuti perintah yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

Barangsiapa menghormati bapanya

1. memulihkan dosa.
2. ia sendiri akan mendapat kesukaan pada anak-anaknya pula. 
3. apabila bersembahyang niscaya doanya dikabulkan. 
4. baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan, supaya berkat dari padanya turun atas dirimu. 
5. kemuliaan seseorang terletak dalam menghormati bapanya. Orang yang taat kepada Tuhan menenangkan ibunya serta melayani orang tuanya sebagai majikannya. 

Jadi, tolonglah bapamu pada masa tuanya

1. jangan menyakiti hatinya di masa hidupnya. 
2. kalau akalnya sudah berkurang hendaklah kaumaafkan. 
3 jangan menistakannya sewaktu engkau masih berdaya. 

Barangsiapa memuliakan ibunya serupa dengan orang yang mengumpulkan harta. Barangsiapa memuliakan bapanya akan panjang umurnya (Sir 3:1-16).

(Sumber: Warta KPI TL No.114/X/2013 » Renungan KPI TL tgl 26 September 2013, Dra Yovita Baskoro, MM)





21.15 -

Keluarga yang bersekutu: Keluarga Kudus Nazaret



Keluarga dipanggil untuk melayani hal-hal jasmani sekaligus juga hal-hal rohani

Tiga tiang penyangga persatuan hidup berkeluarga adalah 

1. kasih
2. ketaatan kepada Allah dan sesama
3. memiliki kerendahan hati. 

Tiga pilar ini adalah nilai utama dari Injil.

Keluarga Kristen adalah tempat anak-anak menerima pewartaan pertama mengenai iman. Karena itu tepat sekali dinamakan “Gereja Rumah Tangga” satu persekutuan rahmat dan doa, satu sekolah untuk membina kebajikan-kebajikan manusia dan cinta kasih Kristen. (KGK 1666)

Marilah kita belajar dari Keluarga Kudus Nazaret (Luk 2:41-52)

[41-42] Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu 

» Tiga kali setahun setiap orang laki-laki Yahudi dewasa harus menghadap hadirat Tuhan di Yerusalem (Kel 23:14-17; 34:23; Ul 16:16). Namun tidak sedikit perempuan-perempuan saleh juga pergi ke Yerusalem (1 Sam 1:7). 

Persekutuan dalam hidup berkeluarga belum sempurna tanpa persekutuan dalam ibadah bersama. Maria menyadari hal ini, oleh karena itu dia menemani Yusuf pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah.

Yang lazim dilakukan oleh orang tua Yahudi pada waktu itu

- Ketika masih bayi hingga disapih, diasuh oleh ibunya.

- Sesudah disapih kemudian diasuh oleh ayahnya. Yusuf mempersiapkan Yesus sebaik-baiknya agar benar-benar dewasa secara fisik maupun secara rohani, maka dia memperhatikan bukan saja segi fisik (perkembangan dan kesehatan tubuh), melainkan juga kecerdasan (otak), pengolahan batin (perasaan dan emosi), rasa religious (agama), dan segi sosial. Maka Yusuf mengajari Yesus bukan hanya Hukum Taurat, tetapi juga melatih-Nya berpuasa dan mengajak-Nya ikut perayaan-perayaan di Yerusalem. 

Jarak dari Nazaret ke Yerusalem cukup jauh, sekitar 150 km atau empat hari perjalanan. Biasanya, dalam melakuan ziarah suci, penduduk sebuah desa pergi bersama-sama dalam suatu rombongan. Rombongan anak-anak paling depan, kemudian rombongan perempuan, disusul dengan rombongan laki-laki. 

Mereka akan bertemu di suatu tempat perhentian atau penginapan yang mereka sepakati. Berjalan dalam rombongan seperti ini sangat berguna bukan saja untuk perlindungan atau keamanan, melainkan juga memberi kenyamanan karena adanya teman seperjalanan dan teman ngobrol yang membuat perjalanan jauh yang berat dan meletihkan menjadi kurang terasa. 

Terlebih bagi anak-anak, perjalanan ini merupakan kesempatan bagi mereka untuk bermain bersama, bersosialisasi, beradaptasi dengan lingkungan dan teman-teman seperjalanan. 

Mereka belajar bagaimana menghargai teman, melepaskan ego, peduli pada teman dan memperlakukan orang lain secara benar. Jadi, Yusuf mengajak Yesus pergi ke Yerusalem untuk mengembangkan jiwa-Nya dalam segi sosial. 

- Pada usia dua belas tahun, anak laki-laki Yahudi dinyatakan secara resmi sebagai anggota masyarakat dewasa melalui upacara inisiasi yang disebut Bar Mitzvuah (artinya “anak ajaran Taurat”, maksudnya anak yang hidupnya diarahkan untuk mentaati Hukum Taurat). 

Sejak menerima upacara inisiasi, seorang anak bisa berperan penuh dalam jemaat, ambil bagian secara penuh dalam perayaan Paskah atau ibadat lainnya

Mereka bertanggung jawab penuh dalam mentaati Hukum Taurat, oleh karena itu, agar memahami Taurat dengan baik, mereka pun mulai diterima dalam sekolah Taurat.

[43-45] Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya. 

Karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka. 

Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia 

» Di pelataran Bait Allah ada banyak kelompok sekolah Taurat, Dia berpindah-pindah dari satu kelompok ke kelompok lain. Begitu asyiknya sampai-sampai Dia lupa pulang dan tidak menyadari bahwa orang tua-Nya sudah berangkat ke Nazaret. 

Yusuf menyangka Yesus berada di rombongan anak-anak atau rombongan ibu-Nya, sedangkan Maria menyangka Yesus berada di rombongan anak-anak atau rombongan bapak-Nya. 

Komunikasi dalam keluarga sangat penting, tiadanya komunikasi dapat mengakibatkan salah pengertian yang berujung pada malapetaka. Memberikan keleluasan kepada anak itu memang baik asalkan diiringi dengan komunikasi yang baik agar si anak tidak lepas kendali. 

[46-47] Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya 

» sudah menjadi kebiasaan bahwa pada hari raya dan hari Sabat, Mahkamah Agung dan para alim ulama, yakni para nabi memberi pengajaran teks-teks Kitab Suci yang menunjukkan kehendak dan rencana Allah kepada para peziarah. 

Metode pengajaran yang dipakai umumnya dialog: para peziarah bertanya dan mereka menjawab. Yesus bukan sekedar berada di antara para peziarah untuk mendengarkan pengajaran, melainkan juga aktif mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan memberikan jawaban yang cerdas. 

Hal ini terjadi karena Yesus datang ke dunia untuk melaksanakan kehendak Allah, oleh sebab itu Dia tahu apa yang menjadi kehendak Allah.

Yesus tidak menganut budaya instan, Ia menjalani hidup-Nya tahap demi tahap secara alami, pendidikan orang tua-Nya menjadi tempat persemaian cinta kepada Allah dan sesama

Sebelum menjadi pengkotbah, Dia menjadi pendengar yang baik. Sebelum menjadi pengajar, Dia menjadi murid yang belajar penuh minat. Sebelum menyampaikan hukum-hukum Allah, Dia menjadi murid yang benar-benar mencintai hukum Allah (Mzm 119:20). 

[48] Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.” 

» Maria menganggap apa yang Yesus perbuat tidak benar karena telah membuat orang tuanya cemas. Kata-kata Maria menunjukkan betapa mereka mencintai Yesus dan peduli pada-Nya

[49-50] Jawab-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka 

» Sepintas jawaban Yesus mencerminkan jawaban khas anak muda yang cerdas namun kurang berpikir panjang. Ketika Maria mengingatkan Dia akan kewajiban-Nya terhadap Yusuf, bapa-Nya, Yesus mengingatkan Maria akan kewajiban-Nya terhadap “Bapa-Ku”, yakni Allah. 

Apa yang dikatakan Yesus ini sulit dipahami. Ketidakmengertian ini biasa dialami oleh manusia ketika berhadapan dengan misteri keputraan ilahi Yesus.

[51a] Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka 

» Ketika Yesus tampil sebagai Anak Allah, Dia sering bersikap dan melakukan hal-hal yang mengherankan dan sulit dipahami. Namun, sebagai anak Yusuf, Dia selalu tampil sebagai anak yang penurut, taat, setia serta menghormati orang tua-Nya

[51b] Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya 

» Maria belum memahami apa yang dilakukan dan dikatakan Yesus. Namun, Maria cukup rendah hati untuk mengakui bahwa banyak hal tentang putranya, khususnya tentang keputraan ilahi-Nya, tidak mudah dipahami. 

Maria tidak berhenti pada apa yang terjadi, melainkan terarah ke masa depan karena dia sadar bahwa tidak segala sesuatu bisa dipahami serta merta. 

Jadi, “menyimpan semua perkara itu dalam hati” tidak identik dengan menerima begitu saja karena tidak mau repot, melainkan bergumul dengan misteri itu, sehingga hari demi hari makin memahami misteri itu

[52] Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia 

» Berkat hidup dalam kehangatan kasih sayang di tengah keluarga yang saleh. Dan pembinaan yang dilakukan oleh Yusuf sejak dini, secara bertahap, menyeluruh, dan berkesinambungan menghasilkan buah yang menggembirakan, yaitu membuat hati Yesus semakin peka dalam melihat dan memahami kebutuhan orang lain. 

Jadi, Yesus benar-benar telah bertumbuh secara fisik, pikiran, perasaan, dan kerohanian-Nya menjadi pribadi yang utuh dan menjadi berkat bagi sesama. 

Hikmat-Nya diperoleh bukan saja dari pengalaman hidup sehari-hari melainkan terutama karena keakraban-Nya dengan Tuhan, sumber hikmat. Berkat hikmat-Nya, Yesus tahu apa dan siapa yang menjadi prioritas hidup-Nya

(Sumber: Warta KPI TL No.114/X/2013 » Renungan KPI TL tgl 19 September 2013, Dra Yovita Baskoro, MM)