Tampilkan postingan dengan label *Kitab Suci*. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *Kitab Suci*. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Maret 2020

19.33 -

Tali sipat



[Am 7:7-9] Inilah yang diperlihatkan-Nya kepadaku: Tampak Tuhan berdiri dekat sebuah tembok yang tegak lurus, dan di tangan-Nya ada tali sipat. Lalu berfirmanlah Tuhan kepadaku: "Apakah yang kaulihat, Amos?" Jawabku: "Tali sipat!" Berfirmanlah Tuhan: "Sesungguhnya, Aku akan menaruh tali sipat di tengah-tengah umat-Ku Israel; Aku tidak akan memaafkannya lagi. Bukit-bukit pengorbanan dari pada Ishak akan dilicin tandaskan dan tempat-tempat kudus Israel akan diruntuhkan, dan Aku akan bangkit melawan keluarga Yerobeam dengan pedang." 

Tali Sipat adalah alat ukur atau alat penimbang yang gunanya untuk melihat apakah sebuah bangunan tersebut tegak lurus atau tidak. Alat ini sangat penting karena akan membantu mata kita yang terbatas. 

Pada saat seorang tukang bangunan mendirikan sebuah tembok atau dinding, ia akan membentangkan benang untuk memastikan dinding yang sedang dibangun lurus. Ia membutuhkan seutas benang yang diberi beban supaya benang itu lurus. Gaya gravitasi akan menarik beban itu sehingga benang membentuk garis tegak lurus. Dengan mendekatkan benang, yang disebut sebagai tali sipat, itu ke dinding yang sedang dibangun, seorang tukang akan mengetahui apakah tembok itu tegak lurus atau tidak. Tanpa tali sipat, sangat sulit bagi tukang untuk membuat dinding yang lurus.

Allah menyatakan bahwa Dia akan menaruh tali sipat ditengah bangsa Israel, mengapa? Karena bangsa Israel sudah berlaku bengkok, dan Allah mau mereka menjadi sadar dan akhirnya menjadi lurus kembali. 

Tuhan menetapkan hidup kita sebagai bangunan rohani. Tuhan ingin bangunan hidup kita tegak lurus. Menurut Yesaya 28:17, tali sipat itu adalah kebenaran dan, dalam Yohanes 17:17, kebenaran adalah firman Tuhan. Kita harus selalu mendekatkan diri kepada kebenaran firman Tuhan sehingga kita mengerti apakah bangunan hidup kita tegak lurus atau tidak di hadapan Tuhan.

Bagi kita firman Tuhan adalah tali sipat yang akan mengukur apakah kita masih lurus dihadapan Tuhan atau tidak. Jangan pernah mengukur diri dengan ukuran diri sendiri karena hanya akan menghasilkan ukuran yang salah dan kompromi. Pakailah ukuran Allah, tali sipat Allah yaitu firman Tuhan. Mari kita senantiasa membawa bangunan hidup kita dekat dengan kebenaran firman Tuhan dan memastikan bangunan hidup kita tegak lurus di hadapan-Nya.

(Sumber: Warta KPI TL No. 177/I/2020).

Kamis, 21 November 2019

18.34 -

Singkirkanlah penghalang sabda-Mu



Tuhan menciptakan manusia karena cinta, ia diciptakan menurut citra Allah, dalam mata Allah ia lebih bernilai daripada segala makhluk. Diciptakan dalam keadaan kekudusan, manusia ditentukan supaya "di-ilahi-kan" sepenuhnya oleh Allah dalam kemuliaan. 

Tujuan Tuhan menciptakan kita untuk kemuliaan-Nya. Bagi Allah, kemulianan-Nya lebih penting daripada apapun (Rm 11:36 » Segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya; Yes 43:7 » semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan). 



Setan "adalah pembunuh manusia sejak semula ... ia pendusta dan asal segala dusta" (Yoh 8:44). Dialah "si ular tua yang bernama iblis, yang menyesatkan seluruh dunia" (Why 12:9). Melalui dia dosa dan kematian masuk ke dalam dunia. 

Digoda oleh setan, manusia membiarkan kepercayaan akan Penciptanya mati (Kej 3:1-11) di dalam hatinya, menyalah-gunakan kebebasannya dan tidak mematuhi perintah Allah. Di situlah terletak dosa pertama manusia (Rm 5:19). 

Sesudah jatuh, manusia tidak dibiarkan Allah. Sebaliknya, Allah memanggil dia (Kej 3:9) dan memberitahukan kepadanya atas cara yang penuh rahasia (Kej. 3:15). Allah sebegitu prihatin dengan keselamatannya sehingga Ia tidak menyayangi Putera-Nya yang tunggal untuk dia. 

Pada saat Yesus menerima kematian dengan sukarela guna memberikan kehidupan-Nya kepada kita, kemenangan diperoleh atas "penguasa dunia" (Yoh 14:30) satu kali untuk selama-lamanya. Itulah pengadilan atas dunia ini, dan penguasa dunia ini "dilemparkan ke luar" (Yoh 12:31). 

Tuhan adalah pribadi yang memegangrule of the game”, Dia mempunyai keadilan yang luar biasa, yang berjalan dalam aturan ilahi yang sangat ajaib. Dia kirimkan Anak-Nya yang tunggal untuk merampas segala kunci maut dan kunci kerajaan maut (Why 1:18). Sekarang semua itu bukan milik Setan lagi, tapi sudah menjadi milik Yesus, kemudian hak itu diberikan-Nya kepada Gereja-Nya. 

Tetapi Setan tidak mau taat hukum, katanya: “Kalau ada manusia yang tidak mengerti kebenaran ini, maka aku akan tetap memiliki hakku.” Karena tahu bahwa waktunya sudah singkat, maka dalam geramnya yang dahsyat dia menunggu waktu yang baik, mencari orang yang dapat ditelannya (Luk 4:13; 1 Ptr 5:8). 



Sungguhnya, secara legal Setan sudah dikalahkan oleh Yesus tetapi dia tidak mau menyerahkan hak kita. Oleh karena itu dia mengirim paket mautnya. Yang pertama kali diambilnya adalah damai sejahtera (Why 12:10, 12; 6:4). 

Kita dibuatnya kecewa dan marah pada orang tua, orang-orang yang kita cintai, pemimpin-pemimpin kita dan gereja kita. Emosi negatif ini adalah kendaraan yang sering dipakai setan sehingga mata rohani kita buta

Emosi negatif ini mengurangi jumlah endofin dan memperlambat aliran sel-sel darah putih memerangi penyakit. Dengan melepaskan sejumlah besar adrenalin ke dalam aliran darah, emosi negatif memberi sumbangan pada terjadinya stroke dan penyakit jantung. 

Akhirnya tanpa sadar kita digiring pada jebakannya, yaitu “mengasihani diri sendirisehingga kita tidak yakin lagi bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan (Rm 8:28). Pikiran kita pun dibawanya untuk berkhayal, “Lebih baik aku bunuh diri saja, toh tidak ada orang yang peduli samaku.” Jebakan ini bertujuan mengantar banyak orang menuju pada kehancuran, baik tubuh maupun jiwanya. 

Kita harus berhati-hati terhadap pesan negatif, ubahlah pesan itu dengan pesan yang positif, yang berasal dari ajaran sehat (1 Tim 6:3 » perkataan Tuhan Yesus Kristus). 

Firman itu adalah Allah (Yoh 1:1). Injil bukanlah injil manusia, tetapi adalah ajaran sehat yang disampaikan dengan kekuatan Roh Kudus (Gal 1:11; 1 Tim 1:10-11; 1 Tes 1:5); kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang percaya, di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman. Jadi, Injil mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa (Rm 1:16-17; 2 Tim 1:10). 

Oleh karena itu, membaca Alkitab secara teratur berarti memberi makanan bergizi kepada jiwa, sehingga kesehatan jiwa kita terjaga (Yak 1:21). Firman Tuhan yang hidup akan mengubah pola pikir kita yang pada umumnya dikuasai oleh kedagingan, sehingga kita lebih memilih hidup dipimpin oleh keinginan Roh. 

Akibat dari jebakan iblis, maka tidak ada lagi kerukunan baik dalam keluarga maupun dalam komunitas, yang ada hanyalah pertengkaran (Mzm 133:1-3; Luk 9:46; Ams 21:19; Kej 13:8). Meskipun mereka membangun mezbah doa, doa tersebut terhalang sehingga tidak memiliki kuasa lagi (Mat 18:20; 5:24). 

Ketahuilah bahwa orang yang suka melawan, sesungguhnya mereka tidak sadar bahwa telah dijerat dan diikat Iblis untuk melakukan kehendaknya

Jadi, hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak agar tidak menimbulkan pertengkaran, bersikaplah ramah terhadap semua orang, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntunnya, mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran (2 Tim 2:23-26). 

Jadi, jika saat ini kita sedang kecewa dan marah, masuklah dalam kamar dan berdoalah (Mat 6:6), serahkan diri kita kepada Tuhan (1 Ptr 5:7) dan imanilah janji-janji-Nya (Mat 24:35). 

Berbahagialah orang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan! Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil (Mzm 1:1-3; Yer 17:7). 

Gereja menasihati semua umat beriman Kristen dengan sungguh-sungguh, "agar dengan sering membaca Kitab Suci, mereka sampai kepada suatu pengetahuan yang unggul mengenai Kristus". Mereka harus selalu ingat, "bahwa doa harus menyertai pembacaan Kitab Suci, supaya terwujudlah wawancara antara Allah dan manusia. Sebab kita berbicara dengan-Nya bila berdoa; kita mendengarkan-Nya bila membaca amanat-amanat ilahi (Ambrosius, off. 1,88)" (DV 25) (KGK 2653). 

Ketika kita berdoa, Allah akan terus-menerus memasukkan spirit-Nya sehingga kita mempunyai keinginan seperti apa yang dikehendaki-Nya (Mzm 80:19; Flp 2:13; Rm 8:26-27). 

Jadi, kita tidak dapat mengubah kehendak Tuhan, tetapi kita dapat menemukan kehendak Tuhan (Sundar Singh). 

Ketika kita menerima kehendak Allah dalam setiap aspek kehidupan kita, kita menemukan bahwa Allah memberikan kita kekuatan, keberanian, dan martabat yang bergema sampai ke sorga (Mother Angelica). 

Jadi, masuklah dalam suatu persekutuan oleh dorongan-Nya, jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang (Yes 30:1; Ibr 12:15). 

Firman-Nya: "Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara (Yes 43:18-19). 



Singkirkan penghalang sabda-Mu, cairkanlah hatiku yang beku, dan bimbinglah kami di jalan-Mu. 

Yesus datang untuk memberitakan "Injil Kerajaan Allah" (Luk 4:43). Demikian juga para murid-Nya, diutus-Nya untuk menjalankan Amanat Agung-Nya (Luk 9:2; Mrk 16:15 » Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk) agar semakin banyak orang kembali kepada Allah. 

Namun, seringkali orang-orang Kristen sendiri menjadi penghalang besar bagi orang-orang yang ingin mendekati Kristus. Karena mereka seringkali berkotbah tentang injil yang tidak mereka hayati. Inilah alasan mendasar mengapa begitu banyak orang di dunia ini yang tidak percaya (Mother Teresa). 

Mahatma Gandi tertarik dengan Kristus, ia sudah membaca Injil sampai katam dan ia juga melakukan apa yang Injil katakan, tetapi ia tidak mau dibaptis karena ia melihat kehidupan sebagian orang Kristen tidak sesuai dengan Injil, katanya: "Yesus saya suka, Injil saya kerjakan. Tetapi saya tidak mau menjadi orang Kristen karena ada sebagian orang Kristen yang tidak melakukan apa yang dikatakan Yesus." Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga melakukannya? Mengapa mereka berbuat demikian? 



Yang pertama, karena mereka tidak pernah mengenal Allah secara pribadi melalui doa maupun membaca Kitab Suci. Akibatnya, mereka hanya melakukan kegiatan rohani, tanpa mempunyai kehidupan rohani sehingga mereka tidak tahu apa yang menjadi kehendak Allah. 

Ciri-ciri orang yang masih belum mengenal Allah: tanpa berpikir ditarik kepada berhala-berhala yang bisu, menghambakan diri kepada allah-allah yang pada hakekatnya bukan Allah. Roh perzinahan ada di antara mereka (1 Kor 12:2; Gal 4:8; Hos 5:4). Pikirannya sia-sia (Ef 4:17); hidup dalam rupa-rupa hawa nafsu, keinginan, kemabukan, pesta pora, perjamuan minum dan penyembahan berhala yang terlarang (1 Ptr 4:3; Kol 3:5 - segala sesuatu yang duniawi yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakan; 1 Yoh 2:16 - semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup). 

Jika kita tidak mengenal akan Allah yang benar, maka kita tidak berbeda dengan bangsa Israel. Misalnya, setiap Minggu kita pergi ke gereja, tetapi mulai Senin sampai Sabtu relasi kita dengan Tuhan baik dalam doa maupun perenungan firman tidak kita hidupi dengan baik. Di gereja tampak seperti orang suci, namun ketika tidak dilihat orang, kita sibuk menghambakan diri kepada dosa (tidak ada pertobatan dan perubahan di dalam hidup, hidup penuh dengan kemunafikan). Orang yang sudah pernah mengenal Allah justru lebih sulit bertobat daripada orang yang tidak mengenal Allah. Jadi, pengalaman dicintai oleh Kristus secara pribadi sangat penting bagi setiap orang agar dapat bertahan dalam pengabdian pada Yesus Kristus. 



Yang kedua, ada kerinduan mengenal Allah dengan berdoa dan membaca Kitab Suci, namun sarana untuk mengenal Allah itu tidak mengubah hatinya menjadi bijaksana, dia mengembangkan sikap ekslusif dan kaku dalam pewartaannya. Sesungguhnya, maksud hati pewarta ini sangat baik, agar semua pendengarnya dapat menghindari segala hal yang dapat menjauhkan dari Allah. Namun sikap ini menyebabkan para pendengarnya merasa tidak nyaman atau ketakutan. 

Ingatlah! Allah adalah kasih (1 Yoh 4:8, 16), Injil adalah Kabar Gembira. Hikmat dalam Kitab Suci sukar dipahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri (2 Ptr 3:15-16) 

Andaikata semua orang Kristen mau belajarajaran Gereja”dan mengerti kebenaran ini, maka mereka tidak akan masuk dalam jebakan Iblis tetapi mereka akan menikmati Kerajaan Allah di bumi ini

Kerajaan Allah: Pemerintahan Alah sebagai Raja yang hendak melaksanakan di sorga maupun di bumi. Dengan kedatangan Yesus Kerajaan Allah sudah dekat (Mat 4:17), bahkan berada "di antara kamu" (Luk 17:21) (Kamus Alkitab). 

Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa (1 Kor 4:20; Yoh 1:12 » diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya). 

Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh (Mrk 16:17-18). 

Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus (Rm 14:17). 

Jadi, pakailah bahasa kasih dalam mewartakan Kabar Gembira, yaitu dengan berkata-kata yang baik untuk membangun supaya mereka yang mendengarnya beroleh kasih karunia (Ef 4:29).

Yang ketiga, ada kerinduan mengenal Allah dengan berdoa dan membaca Kitab Suci, namun sarana untuk mengenal Allah itu tidak mengubah hati mereka menjadi bijaksana, karena jiwanya masih terluka secara emosional dan rohani, yang mengalami segala macam penolakan, yang menyimpan trauma-trauma yang tersembunyi jauh di dalam kehidupan mereka. Pengalaman ini melumpuhkannya dan membutakannya, pada akhirnya membuatnya putus asa



Firman Yesus menerangkan apa yang Ia kerjakan. Pekerjaan Yesus membuktikan kebenaran Firman-Nya. Kedua hal ini ada bersamaan dan saling menerangkan. Jadi, sabda tanpa karya dengan mudah dianggap omong kosong atau dalam istilah populis “gajah diblangkoni” (bisa kotbah ora bisa nglakoni). Demikian pula sebaliknya, karya tanpa sabda yang menerangkannya bisa saja membuat orang bingung dan salah paham (Mat 12:24, 28). 

Penampilan Yesus yang selalu berdimensi ganda ini memberikan inspirasi kepada kita bagaimana kita harus mewartakan Kabar Gembira. Tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata! Hidup konkret kita menjadi saksi yang efektif dari berita yang kita wartakan. 

Untuk menjalankan perutusan ini tidak mudah, oleh karena itu Yesus berdoa bagi kita: “Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran. Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran. Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. 

Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku. 

Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan (Yoh 17:1-26). 

Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalah engkau sudah insyaf, kuatkanlah saudara-saudaramu (Luk 22:32). 

Tuhan Yesus, kini aku mohon kepada-Mu, bantulah aku agar tetap dekat pada-Mu dengan hati berkobar, agar tetap gembira mengemban perutusan yang Engkau percayakan kepadaku: yakni melanjutkan kehadiran-Mu, dan menyebarkan berita gembira - Engkau telah bangkit! (Pater Carlo Maria Martini, SJ).

(Sumber: Warta KPI TL No. 175/XI/2019)

Kamis, 28 Maret 2019

18.34 -

Pesona Kitab Wahyu dan kunci untuk membukanya



Kitab Wahyu tidak ditulis untuk menakut-nakuti, atau menyebabkan ketegangan pada kita, melainkan untuk mewartakan kebahagiaan bagi kita yang membacakan dan mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya (Why 1:3; 22:7).

Kebahagiaan yang diwartakan Yohanes adalah kebahagiaan untuk orang-orang yang setia dalam iman. Ini adalah kebahagiaan abadi bersama Kristus yang bangkit. 

Kitab Daniel dan Kitab Wahyu adalah dua buku yang paling misterius dalam Alkitab

Penulisan Kitab Wahyu memakai sastra apokaliptik. Para penulis apokaliptik membuka mata dan telinga terhadap kejadian-kejadian dunia. Mereka tahu pasti bahwa umat beriman sedang berjuang menghadapi aneka kesulitan dan tantangan. Mereka ada bersama-sama dengan umat yang sedang menderita. Mereka bersuara dengan goresan pena dalam keheningan.

Mereka meyakini bahwa Allah tidak mungkin berdiam diri. Allah akan datang kembali membebaskan mereka dengan cara-cara luar biasa seperti pada zaman dahulu kala. Yohanes pun punya harapan yang sama.

Cirinya: (I) menggunakan tokoh (II) angka dan (III) lambang-lambang. Kisahnya sering menampilkan kehidupan surgawi, bumi, dan bawah bumi serta kehidupan masa depan.

(I) Tokoh

Peran pembantu hanya muncul pada saat-saat tertentu. Mereka datang dan pergi silih berganti. Ketika membaca Kitab Wahyu, kita akan berjumpa dengan penghuni yang biasa, tokoh-tokoh surgawi, tokoh-tokoh yang luar biasa, makhluk-makhluk dan tokoh-tokoh aneh yang menimbulkan rasa ingin tahu. Kita mencari bandingannya dengan sesuatu dari dunia nyata. Kita disibukkan oleh tokoh itu. Kesibukan semacam itu tidak perlu. Mengapa tidak perlu? Karena mereka hanyalah tokoh pembantu.

Dengan demikian, hanya ada satu yang perlu. Hanya ada satu tokoh utama. Dialah Yesus Kristus yang pernah wafat namun bangkit dan hidup

Yohanes mau berbicara tentang Yesus yang sama, yakni Yesus yang dibicarakan oleh pengarang Injil. Namun Yohanes lebih banyak merenungkan makna kematian dan kebangkitan Yesus untuk keselamatan seluruh umat manusia.

Jadi, mengapa kita membaca Kitab Wahyu? Apa sebenarnya sedang dicari? Jika jawaban kita adalah, "untuk mengenal Kristus secara lebih baik", maka kita sudah berada di jalur yang benar. Kristuslah yang memegang kunci ke dalam Kitab ini. Dalam Kitab Wahyu, Dia hadir dengan beragam gelar dan gambaran.

Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut (Why 1:17-18). Sejarah telah membuktikannya » kuasa dunia seakan-akan merajalela, tetapi akan tiba saatnya mereka tidak ada artinya. Tuhan telah menang atas kejahatan. Tuhan yang sama, yang sekarang kita ikuti, juga akan menang.

Di muka bumi tidak serorang pun yang pernah mengalami kejadian seperti yang dialami Yesus Sang Anak Manusia ini. Dia membesarkan hati kita. Dia meletakkan tangan-Nya supaya kita berani mengangkat muka di hadapan-Nya (Why 1:17). Dia Yang Mahakuasa berkenan menerima kita apa adanya. Inilah kabar gembira yang indah tiada tara.

Setiap tafsiran yang meninggalkan Dia (seturut dengan kehendak pribadi seringkali malah tidak mewartakan sukacita, tetapi menyebabkan rasa takut), pasti akan berujung pada jalan yang keliru (Yoh 20:31 » Semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya).

Oleh karena itu, kembalilah kepada ajaran Gereja agar kita tidak salah menafsirkan suatu perikop (2 Ptr 20-21 » Nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah).

(II) Arti angka

Turunan angka tiga. Angka tiga sendiri tidak pernah dipakai secara mutlak. Yang dipakai adalah turunannya. Rangkaian hitungan ketiga banyak digunakan, misalnya makhluk yang ketiga (Why 4:7), meterai yang ketiga (Why 6:5), malaikat yang ketiga (Why 8:10), dan sebagainya.

Yang juga menarik adalah penggunaan kata sifat sepertiga. Biasanya berkaitan dengan kerusakan dan bencana. Tetapi sang penulis hendak menunjukkan pengharapan. Bencana dan kerusakan menimpa hanya sepertiga bagian. Artinya, tidak semuanya hancur. Masih ada dua per tiga bagian yang berada dalam keadaan baik. Yang bertahan dalam situasi sulit, jauh lebih banyak. Sepertiga memang berkaitan dengan kabar buruk, dua pertiga yang lain adalah harapan yang baik

[Why 8:7-12] ... terbakarlah sepertiga dari bumi dan sepertiga dari pohon-pohon ... sepertiga dari laut itu menjadi darah, dan matilah sepertiga dari segala makhluk yang bernyawa di dalam laut dan binasalah sepertiga dari semua kapal. ... menimpa sepertiga dari sungai-sungai dan mata-mata air. ... sepertiga dari semua air menjadi apsintus, dan banyak orang mati karena air itu, sebab sudah menjadi pahit. ... terpukullah sepertiga dari matahari dan sepertiga dari bulan dan sepertiga dari bintang-bintang, sehingga sepertiga dari padanya menjadi gelap dan sepertiga dari siang hari tidak terang dan demikian juga malam hari.

Angka empat. Angka empat sering digunakan. Kita bertemu dengan "empat makhluk" (Why 4:6-8; 5:6, 8, 14; 6:1, 6; 7:11; 14:13; 15:7; 19:4). Ada juga "empat malaikat yang berdiri di empat penjuru bumi, yang menahan empat mata angin di bumi" (Why 7:1; 20:8). Kita tidak tahu jati diri empat makhluk itu. Hanya saja, mereka memainkan peranan penting atas nama seluruh manusia. Sementara, empat malaikat pada empat penjuru mata angin menunjukkan campur tangan malaikat yang berpengaruh pada seluruh bumi. Dari sini lalu terlihat bahwa angka empat hendak menunjukkan seluruh alam semesta dan manusia

Angka tujuh. Angka tujuh merupakan angka kunci. Yohanes akan sering menggunakannya sebagai semacam skema untuk karyanya. Surat ditujukan kepada tujuh jemaat di Asia Kecil, ada tujuh meterai yang harus dibuka dan tujuh sangkakala yang harus dibunyikan. Satu dari tujuh malaikat memegang tujuh cawan dengan tujuh malapetaka terakhir.

Dalam Perjanjian Lama, angka tujuh adalah angka sempurna dan penuh. Allah beristirahat pada hari ketujuh setelah penciptaan (Kej 1). Tuhan juga berfirman kepada Musa untuk membuat tujuh lampu di atas kandil (Kel 25:37). Seringkali "tujuh" menunjukkan sesuatu yang baik, sempurna, dan ideal.

Biarpun demikian, penulis Kitab Wahyu menggunakan angka tujuh itu sesuai dengan kebutuhannya. Dia juga menerapkannya untuk menceritakan hal-hal yang positif maupun negatif.

Dia bercerita tentang surat untuk tujuh jemaat di Asia Kecil, walaupun dia maksudkannya untuk seluruh Gereja pada zamannya

Ketika dia berbicara tentang tujuh Roh, sebenarnya dia memaksudkan satu Roh Yesus Kristus, dengan segala kepenuhan dan perwujudannya.

Ketika berbicara tentang tujuh sangkakala dan malapetaka, dia hendak mengatakan bahwa wabah-wabah dan bencana akan terjadi semua.

Angka dua belas. Dalam Perjanjian Lama, angka dua belas digunakan untuk menyebut dua belas anak Yakub (Kej 25:22b). Dari anak-anak Yakub ini lahirlah dua belas suku Israel (Kel 39:14). Angka dua belas ini lalu menjadi angka suci, karena angka ini angka umat Allah. Angka suci ini akan memainkan peranan penting dalam tata hidup umat Israel, khususnya dalam tata liturgi. Misalnya, permata pada busana liturgi Harun berjumlah dua belas menurut nama anak Israel (Kel 39:14).

Bagi Yesus dan para murid, angka dua belas juga merupakan angka yang penting. Yesus memilih dua belas rasul untuk menyertai-Nya (Mat 10:1-4; Mrk 3:13-19; Luk 6:12-16). Ketika Yesus menggandakan roti yang tersisa 12 bakul penuh (Mrk 6:43). Inilah angka umat Allah yang baru, yang terbentuk di sekitar Yesus. Mereka berkelimpahan bersama-Nya.

Yohanes begitu kreatif mengambil alih angka dua belas ini. Dia menggabungkan penggunaannya dari luar PL dan PB. 

Seorang perempuan yang bermahkotakan dua belas bintang (Why 12:1) adalah gambaran umat Allah yang sedang dianiaya, tetapi dilindungi Allah.

Dan temboknya besar lagi tinggi dan pintu gerbangnya dua belas buah; dan di atas pintu-pintu gerbang itu ada dua belas malaikat dan di atasnya tertulis nama kedua belas suku Israel. Di sebelah timur terdapat tiga pintu gerbang dan di sebelah utara tiga pintu gerbang dan di sebelah selatan tiga pintu gerbang dan di sebelah barat tiga pintu gerbang. Dan tembok kota itu mempunyai dua belas batu dasar dan di atasnya tertulis kedua belas nama kedua belas rasul Anak Domba itu (Why 21:12-14).

Dalam perjanjian Baru, umat Allah yang baru juga diumpamakan seperti seorang perempuan (Gal 4:26). Jadi, angka dua belas melambangkan seluruh umat Allah.

Angka seratus empat puluh empat. Jumlah ini mau menunjukkan jumlah besar umat Allah, mengatakan perihal kepenuhan. Suku Israel berjumlah dua belas. Jika masing-masing dari suku itu ada dua belas ribu (12 x 12 x 1000), maka dihasilkannya angka 144.000. Dengan ini, Yohanes mau mengatakan mengenai sejumlah besar umat Allah yang setia, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.

Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka (Why 7:9).

Begitu banyaknya mereka, sampai-sampai Yohanes tidak bisa menghitung lagi jumlah orang yang diselamatkan berkat darah Anak Domba.

Allah dalam Kitab Wahyu bukanlah Allah yang suka menghitung-hitung jumlah umat yang diselamatkan, 144.000 orang, tidak kurang dan tidak lebih. Allah dalam Kitab Wahyu adalah Allah Yang Mahabaik, yang menghendaki keselamatan semua orang. Allah telah berkorban sangat banyak demi menyelamatkan manusia yang dikasihi-Nya. Dengan demikian, bukan saatnya lagi merasa takut atau menakut-nakuti orang dengan jumlah 144.000 itu, sebab Kristus membuka jalan bagi setiap orang untuk kembali kepada Allah.

Konsili Vatikan II (LG 16) mengatakan bahwa "Rencana keselamatan juga merangkum mereka, yang mengakui Sang Pencipta; di antara mereka terutama kaum Muslim, yang menyatakan, bahwa mereka berpegang pada iman Abraham, dan bersama kita bersujud menyembah Allah yang tunggal dan maharahim, yang akan menghakimi manusia pada hari kiamat.

Pun dari umat lain, yang mencari Allah yang tak mereka kenal dalam bayangan dan gambaran, tidak jauhlah Allah, karena Ia memberi semua kehidupan dan nafas dan segalanya (Kis 17:25-28), dan sebagai Penyelamat menghendaki keselamatan semua orang (1 Tim 4).

Sebab mereka yang tidak mengenal Injil Kristus serta Gereja-Nya, tetapi dengan tulus hati mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melakukan kehendak-Nya yang mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal.

Penyelenggaraan ilahi juga tidak menolak memberi bantuan yang diperlukan untuk keselamatan kepada mereka, yang tanpa bersalah belum sampai kepada pengetahuan yang jelas tentang Allah, berkat rahmat ilahi berusaha menempuh hidup yang benar. Sebab apa pun yang baik dan benar, yang terdapat pada mereka, oleh Gereja dipandang sebagai persiapan Injil, dan sebagai kurnia Dia, yang menerangi setiap orang, supaya akhirnya memperoleh kehidupan.

Tetapi sering orang-orang, karena ditipu si Jahat, jatuh ke dalam pikiran-pikiran yang sesat, dan mengubah kebenaran Allah menjadi dusta, dengan lebih mengabdi ciptaan dari pada Sang Pencipta (Rm 1:21). Atau mereka hidup dan mati tanpa Allah di dunia ini dan menghadapi bahaya putus asa yang amat berat.

Maka dari itu, dengan mengingat perintah Tuhan: "Wartakanlah Injil kepada segala makhluk" (Mrk 16:15), Gereja dengan sungguh-sungguh berusaha mendukung misi-misi, untuk memajukan kemuliaan Allah dan keselamatan semua orang itu.

Angka ribuan. Secara umum, dalam Kitab Suci kita, angka ribuan tidak menyatakan jumlah tertentu secara pasti, seperti 'dua ribu orang berada di sebuah lapangan' itu menyatakan jumlah yang sangat banyak. Itu sama seperti kita mengatakan bahwa di langit ada sejuta bintang. Ini bukan berarti bintangnya berjumlah satu juta, melainkan sangat banyak dan tak terhitung.

Aku melihat dan mendengar suara banyak malaikat sekeliling takhta, makhluk-makhluk dan tua-tua itu; jumlah mereka berlaksa-laksa dan beribu-ribu laksa (Why 5:11). 

Kerajaan damai 1000 tahun. Kisah Kerajaan damai 1000 tahun ini sejatinya adalah sebuah kabar gembira. Hanya satu yang perlu, yaitu bahwa Kristus telah menang dan akan datang sebagai Raja yang berkuasa. Kuasa kejahatan tidak lagi sanggup bertahan dan berada di bawah kembali Sang Raja.

Sang Raja memperlakukan istimewa para saksi-Nya yang setia. Mereka telah begitu menderita, tetapi akan datang saatnya mereka akan berada bersama dengan Kristus yang diikutinya.

Mereka telah begitu jauh menempuh jalan-jalan Kristus, termasuk jalan derita, dan sekarang mereka tiba di surga mulia tempat Kristus berada. Bagi Sang Raja, segala perjuangan mereka tidaklah sia-sia.

Lalu kapan kerajaan 1000 tahun itu dimulai dan diakhiri? Kita kembali lagi ke dunia apokaliptik. Angka ribuan bukanlah hitungan matematika, melainkan angka lambang. Seribu tahun hanya mau menunjukkan angka waktu yang lama.

Biarpun demikian, ada baiknya mendengarkan renungan Santo Agustinus. Menurutnya, seribu tahun ini adalah jangka waktu antara inkarnasi Kristus Putra Allah dan kedatangan-Nya kembali di akhir zaman. Bentangan masa antara kedatangan pertama Tuhan dan kedatangan-Nya yang kedua, adalah masa Gereja.

Santo Agustinus melanjutkan bahwa kebangkitan pertama yang disebutkan di Wahyu 20:5 adalah kebangkitan karena pembaptisan. Oleh rahmat Allah yang diterima dalam pembaptisan, umat beriman mati terhadap dosa untuk bangkit dan hidup bersama Kristus (Rm 6:1-14). Umat beriman yang mati terhadap dosa lewat baptisan, dengan demikian, memperoleh anugerah yang sama dengan umat beriman yang setia, yang mengorbankan dirinya diterkam singa pada abad pertama.

Dalam masa Gereja ini, kegiatan setan dalam derajat tertentu terkekang. Dia tidak lagi kuat, seolah terikat. Kuasa setan tidak lagi berjaya dan manusia dapat menghindarinya.

Biarpun demikian, Santo Yohanes Vianney menasehati kita untuk berhati-hati, "Setan itu seperti anjing yang dirantai, yang mengancam dan membuat keributan, tetapi hanya menggigit mereka yang datang terlalu dekat dengannya."

Angka 666. Angka ini paling sering disalahartikan, seringkali ditampilkan dalam gambar-gambar misterius. Beberapa orang mengaitkan dengan setan dan antikristus.

Dan kepadanya diberikan kuasa untuk memberikan nyawa kepada patung binatang itu, sehingga patung binatang itu berbicara juga, dan bertindak begitu rupa, sehingga semua orang, yang tidak menyembah patung binatang itu, dibunuh. Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinyadan tidak seorang pun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya (Why 13:15-17).


Penulis Kitab Wahyu memakai gambaran "meterai" yang dulu digunakan oleh Nabi Yehezkiel (Yeh 9:6 » Semua orang yang ditandai dengan huruf T itu, jangan singgung!). Demikianlah, sekarang orang-orang yang memakai meterai Allah akan selamat. Orang-orang ini akan mengambil bagian dalam keselamatan yang diperoleh berkat Anak Domba.



Meterai Tuhan ("Dominicus character": Agustinus, ep. 98,5) adalah meterai yang dengannya Roh Kudus telah memeteraikan kita "untuk hari penyelamatan" (Ef 4:30) (Bdk. Ef 1:13-14; 2 Kor 1:21-22). "Pembaptisan adalah meterai kehidupan abadi" (Ireneus, dem. 3). Orang beriman, yang mempertahankan "meterai" sampai akhir, artinya setia kepada tuntutan yang diberikan bersama Pembaptisannya, dapat mati "ditandai dengan meterai iman" (MR, Doa Syukur Agung Romawi 97), dalam iman Pembaptisannya, dalam harapan akan memandang Allah yang membahagiakan - penyempurnaan iman - dan dalam harapan akan kebangkitan (KGK 1274).

Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam (Why 13:18).

Kitab Wahyu ditulis dengan bahasa Yunani, kemungkinan besar huruf-huruf yang dimaksud adalah aksara Yunani. Untuk diketahui, aksara-aksara Yunani (juga aksara Latin dan Ibrani) memiliki nilai angka. Pada masa lalu, orang menggunakan angka untuk menyebut nama seseorang. Para penulis apokaliptik sangat gemar menggunakan angka-angka untuk menyebut nama seseorang (semacam kode) untuk menunjukkan orang tertentu. Jemaat kala itu pasti mengenal dengan baik tokoh yang dimaksud.



(III) Lambang

Kita sebenarnya sudah terbiasa dengan lambang. Kalau kita naik kendaraan dan melihat tanda di pinggir jalan berupa gambar tempat tidur, kita segera tahu bahwa tidak jauh lagi akan ada sebuah rumah sakit. Kalau melihat gambar atap dengan salib di atasnya, jelas sebentar lagi kita akan melihat Gereja. Gambar dan lambang semacam itu sangat mudah kita pahami, karena kita memang terbiasa dengannya.

Persoalan kita sekarang adalah bagaimana mengerti gambar dan lambang yang dipakai Yohanes. Ada beberapa petunjuk yang bisa kita perhatikan.

1. lambang-lambang yang sifatnya umum

Yohanes menggunakan lambang-lambang yang mudah dikenali, sehingga lebih mudah ditafsirkan.

Pedang yang besar, yang diberikan kepada penunggang kuda merah padam (Why 6:4), menggambarkan penganiayaan yang dahsyat. Peristiwa kemartiran jemaat Kristen awal digambarkan dengan penumpahan darah orang-orang kudus dan para nabi (Why 16:6). Yesus Kristus yang dibunuh dan bangkit jaya dilambangkan dengan Anak Domba yang disembelih dan berkuasa (Why 5:12).

2. Mencermati isyarat tertentu yang dikatakan Yohanes.

- Dan mayat mereka akan terletak di atas jalan raya kota besar, yang secara rohani disebut Sodom dan Mesir, di mana juga Tuhan mere

Apakah Yohanes sedang mengatakan yang sebenarnya tentang Sodom dan Mesir? Jelas tidak! Dia mengatakan "secara rohani". Selain itu, Yesus juga tidak pernah disalibkan di Sodom dan Mesir, tetapi di Yerusalem.

- Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam (Why 13:18).

Jelas petunjuknya, yakni "yang penting adalah hikmat". Yohanes sedang mengarahkan pandangan mata pembacanya kepada "seorang manusia" pada zaman itu, seorang manusia yang dikenal oleh jemaatnya.

3. lambang-lambang dari dunia Perjanjian Lama

Sebagian besar gambaran yang dipakai oleh Yohanes berasal dari Perjanjian Lama. Dia menggunakan tokoh-tokoh dan aneka peristiwa dalam Perjanjian Lama, dan menerapkan semuanya dalam kisahnya (Anak Manusia, Anak Domba, pohon kehidupan, manna yang tersembunyi, empat makhluk, buku yang ditelan, dua saksi, naga dan binatang adalah beberapa contohnya. Peristiwa tulah untuk orang-orang Mesir dipakai juga untuk menggambarkan tulah yang ke luar saat sangkakala-sangkakala ditiup.

Pembaca tulisan Yohanes kala itu, yang masih memiliki latar belakang Yahudi, bisa dengan mudah memahami arti gambaran-gambaran dari dunia Perjanjian Lama. Mereka sudah akrab dengan tokoh dan peristiwa yang digunakan oleh Yohanes itu.

Jemaat-jemaat yang menerima surat Yohanes adalah jemaat yang nyata. Mereka sedang menghadapi kesulitan dan situasi yang menyakitkan. Mereka bukanlah jemaat yang serba sempurna. Mereka telah berusaha dan berjuang untuk setia. Akan tetapi, ada saat-saat di mana mereka jatuh pula. Yohanes berusaha menguatkan, menghibur sekaligus menegur mereka.


[Baca juga: (1) Jemaat Efesus ; (2) Jemaat Smirna ; (3) Jemaat Pergamus ; (4) Jemaat Tiatira ; (5) Jemaat Sardis ; (6) Jemaat Filadelfia ; (7) Jemaat Ladokia]

Dalam segala kesulitan masa lalu kita, nyatalah Allah tetap berkarya. Allah yang sama akan memberikan kekuatan dan rahmat kepada kita. Dia menyertai kita sekarang ini dan di masa depan. BersamaYohanes, kita mengimani bahwa Kristus yang jaya adalah tumpuan dan sandaran segala harapan pada saat ini dan di masa depan.

Marilah kita kenang kembali karya Allah dalam Kitab Suci. Kita bawa angan ke saat-saat kemenangan Kristus Yang Mahasuci. Dan yang lebih penting lagi, kita mengingat-ingat segala berkat dan rahmat Allah bagi hidup kita ini.

Jadi, tujuan utama Kitab Wahyu ditulis untuk mendukung umat yang sedang menderita. Dia mau menegur mereka yang tidak setia dan meneguhkan yang setia, agar semakin mengenal Kristus yang wafat dan bangkit sehingga berbahagia. Semoga kita bisa belajar sesuatu dari kekurangan dan kelebihan jemaat-jemaat di masa lalu.

Sebagai anggota Tubuh Kristus kita dipanggil untuk memperoleh berkat, hendaklah memberkati dengan saling menolong dan mendoakan (1 Ptr 3:9; Gal 6:2) dan dipanggil juga untuk menjadi rekan sekerja Allah dalam rencana keselamatan (1 Kor 3:9). Jadi, sebarkanlah iman Katolikmu sehingga dunia dapat dibawa kepada kebenaran-Nya. sebab, Kristuslah jalan dan kebenaran dan hidup (Yoh 14:6).

(Sumber: Pesona Kitab Wahyu, Iswadi Prayidno, Pr).

Rabu, 20 Maret 2019

06.03 -

Dengan kedatangan Yesus apa semuanya telah diwartakan, atau apakah pewahyuan terus berlanjut, bahkan setelah Dia?



Dalam Yesus Kristus, Allah sendiri hadir di dunia, Yesus adalah sabda terakhir Allah. Dengan mendengarkan Dia, seluruh umat manusia dari segala zaman, dapat mengenal siapa Allah dan mengetahui apa yang perlu bagi keselamatan mereka (KGK 66-67). 

Dalam Yesus Kristus, Wahyu Allah sudah lengkap dan sempurna. Untuk membuat wahyu dapat kita pahami, Roh Kudus membimbing kita lebih masuk lagi ke dalam kebenaran. Cahaya Allah menerangi dengan sangat kuat ke dalam hidup banyak pribadi sehingga mereka ‘melihat langit terbuka’ (Kis 7:56). 

Namun ‘pewahyuan pribaditidak menambahkan hal baru pada wahyu sempurna, Yesus Kristus. Kita tidak diwajibkan untuk mempercayai penampakan-penampakan atau wahyu-wahyu pribadi, tetapi wahyu-wahyu pribadi itu bisa membantu kita untuk mengetahui wahyu sempurna secara lebih baik. Kebenaran wahyu-wahyu pribadi itu telah diuji oleh Gereja. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 167/III/2019 » Youcat10).

Kamis, 27 Desember 2018

19.14 -

Kitab Suci - KV II

c) PENERUSAN WAHYU ILAHI DAN KITAB SUCI

28. Apakah Wahyu Ilahi diteruskan sampai kepada kita juga?

Dalam kebaikan-Nya Allah telah menetapkan, agar supaya apa yang Ia wahyukan demi keselamatan semua bangsa, harus tetap utuh sepanjang segala masa dan diteruskan kepada semua turunan. Sebab itu, Kristus Tuhan, Yang merupakan penyelesaian seluruh Wahyu Allah Yang Mahatinggi (bdk. 2 Kor 1:20 & 3:16-4:6), memerintahkan para Rasul, agar mewartakan Kabar Gembira (atau Injil). 


Kabar Gembira itu telah dijanjikan sebelumnya melalui para Nabi dan digenapi oleh pewartaan Kristus sendiri di muka umum. Kepada semua orang Kabar Gembira itu diwartakan sebagai sumber segala kebenaran yang menyelamatkan maupun sebagai ajaran kesusilaan. Dan dengan demikian anugerah-anugerah ilahi dibagikan kepada mereka.

Memang, tugas ini telah dilaksanakan dengan setia oleh para Rasul. Dengan pewartaan lisan, teladan hidup dan penetapan-penetapan para Rasul meneruskan apa yang mereka terima dari mulut Kristus sendiri, dari pergaulan serta karya-kary
a-Nya, begitu juga apa yang mereka pelajari dengan ilham Roh Kudus. Hal ini dilakukan juga oleh para Rasul dan murid-murid mereka, yang diilhami oleh Roh Kudus supaya mencatat warta keselamatan secara tertulis. (WI 7)

29. Bagaimana Wahyu Ilahi diteruskan kepada kita?

Pewartaan para Rasul, yang diungkapkan secara istimewa dalam Kitab-kitab yang diilhami, harus dipelihara dalam pergantian yang berkesinambungan sampai akhir jaman. Maka para Rasul meneruskan apa yang telah mereka terima itu. Mereka juga memperingatkan umat beriman, agar memegang teguh tradisi-tradisi yang telah mereka terima baik secara lisan maupun tertulis (bdk. 2 Tes 2:15), dan supaya berjuang demi iman yang pernah dikaruniakan kepada mereka (bdk. Yud 3).

Apa yang diteruskan para Rasul, mencakup segala sesuatu yang bermanfaat bagi Umat Allah untuk menguduskan hidup dan mengembangkan iman. Dengan demikian, di dalam ajaran, hidup dan ibadatnya. Gereja melestarikan segala sesuatu yang mencakup keberadaannya serta apa yang ia imani. Demikian juga Gereja menyampaikannya kepada semua angkatan. (WI 8 a)

30. Apa itu Tradisi Apostolik Gereja?

Tradisi yang berasal dari para Rasul berkembang terus dalam Gereja dengan bantuan Roh Kudus. Pengertian, baik mengenai kenyataan-kenyataan maupun mengenai kata-kata yang diturunkan, berkembang. 

Perkembangan itu terjadi berkat perenungan dan studi orang-orang beriman yang menelaah semuanya itu di dalam hati mereka (bdk. Luk 2:19 & 51), atau karena pemahaman yang lebih mendalam yang timbul dari pengalaman rohani mereka itu. 

Lagi pula Tradisi berkembang berkat pewartaan mereka, yang berdasarkan pergantian dalam jabatan uskup pasti telah menerima karisma kebenaran. Maklum, selama peredaran jaman, Gereja terus-menerus menuju kepenuhan kebenaran ilahi, sampai sabda-sabda ilahi menjadi kenyataan dalam Gereja itu. (WI 8 b)

31. Apa hubungan Tradisi dan Kitab Suci?

Melalui Tradisi seluruh daftar Kitab-kitab Suci diketahui Gereja, dan dalam Tradisi yang sama itu Kitab-kitab Suci dimengerti lebih mendalam serta terus-menerus diaktualisasikan. (WI 8 b)


32. Apakah Kitab Suci dan Tradisi itu satu dan sama?

Tradisi Suci dan Kitab Suci erat berhubungan satu sama lain dan saling mengambil bagian. Sebab, keduanya yang berasal dari sumber ilahi yang sama, seakan-akan bergabung menjadi satu dan mengarah ke tujuan yang sama juga.

Kitab Suci adalah penuturan Allah sejauh dituangkan ke dalam tulisan di bawah ilham Roh Ilahi. Sedangkan Tradisi Suci meneruskan sabda Allah secara utuh. Sabda ini dipercayakan oleh Kristus dan Roh Kudus kepada para Rasul dan kepada para pengganti mereka, agar dengan diterangi Roh Kebenaran dipelihara dengan setia, dijelaskan dan disebarluaskan di dalam pewartaan mereka.

Jadi, Gereja menimba kepastian mengenai segala sesuatu yang diwahyukan itu tidak hanya dari Kitab Suci saja. Oleh karena itu, kedua-duanya - baik Tradisi maupun Kitab Suci - harus diterima dan dijunjung tinggi dengan rasa patuh dan hormat yang sama. (WI 9, a dan b)
33. Bagaimana Tuhan mengilhami pengarang-pengarang Kitab Suci?


Untuk menyusun Kitab-kitab Suci Tuhan telah memilih manusia-manusia tertentu. Dengan memanfaatkan bakat dan tenaga mereka masing-masing, Tuhan mempergunakan mereka sedemikian rupa, sehingga mereka sebagai pengarang sungguh-sungguh mencatat semuanya dan tidak lebih daripada itu yang dikehendaki Tuhan. Sebenarnya Tuhanlah yang bertindak di dalam dan dengan pengantaraan mereka. (WI 11 a)


34. Mengapa Kitab-kitab Suci disebut 'kanonik'?

Berdasarkan iman para Rasul, Bunda Gereja menganggap semua Kitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru beserta semua bagiannya, sebagai suci dan kanonik. Kitab-kitab itu ditulis dengan diilhami Roh Kudus (bdk Yoh 20:31; 2 Tim 3:16; Ptr 1:19-21; 3:15-16). Maka Tuhanlah pengarang mereka, dan dengan ciri yang demikian itu diwariskan kepada Gereja. (WI 11 a)

35. Apakah Kitab Suci benar-benar mengandung sabda Allah tanpa kesalahan?

Segala sesuatu, yang dikemukakan oleh para penulis yang diilhami atau para hagiograf, harus dianggap sebagai dinyatakan oleh Roh Kudus (lih. pertanyaan 34). Maka karena itu harus diakui, bahwa dengan pasti, setia dan tanpa salah. Kitab Suci mengajarkan kebenaran yang ingin dituangkan Tuhan ke dalam Kitab Suci demi keselamatan kita. (WI 11 b)

36. Siapa yang dapat menafsirkan sabda Allah secara otentik?

Tugas menafsirkan sabda Allah secara otentik, baik yang tertulis maupun yang ditradisikan, dipercayakan hanya kepada _Kuasa Mengajar_ Gereja yang hidup. Wewenang ini dijalankan atas nama Yesus Kristus.

Kendati demikian, Kuasa Mengajar (Magisterium) itu tidak lebih tinggi daripada sabda Allah, melainkan mengabdi kepadanya. Kuasa itu juga tidak boleh mengajarkan lain dari apa yang diwariskan kepadanya. Sebab, sabda Allah didengarkannya dengan patuh dipeliharanya dengan khidmat dan dijelaskan dengan setia, berdasarkan penugasan ilahi dan bantuan Roh Kudus. (WI 10 a)

37. Bagaimana Kitab Suci seharusnya ditafsirkan?

Dalam Kitab Suci Tuhan berbicara melalui manusia dan secara manusiawi. Maka para penafsir Kitab Suci perlu menangkap apa yang hendak disampaikan Tuhan kepada kita. Untuk itu mereka harus menyelidiki dengan teliti, apa yang sebenarnya hendak dinyatakan oleh para penulis suci, dan apa yang sudah diungkapkan Tuhan dengan perantaraan kata-kata mereka itu.

Untuk melacak maksud para penulis suci, hendaknya diperhatikan antara lain jenis-jenis sastra. Sebab, kebenaran disajikan dan diungkapkan secara berbeda dalam jenis-jenis penuturan historis, profetis, puitis, atau lain lagi.

Selanjutnya, penafsir harus meneliti arti, yang ingin dan benar-benar diungkapkan penulis suci dalam situasi tertentu sesuai keadaan jaman dan kebudayaannya, dengan menggunakan jenis sastra yang lazim dipakai pada waktu itu. 

Untuk memahami dengan tepat apa yang hendak diungkapkan pengarang suci dan tulisannya, maka harus diperhatikan dengan baik cara berpikir, cara berbicara, dan bercerita yang biasa berlaku pada masa penulis suci itu; demikian pula cara dan bentuk pergaulan yang lazim antara manusia pada jaman itu.


Kitab Suci ditulis dalam Roh. Maka dalam Roh yang sama itu juga Kitab Suci harus dibaca dan ditafsirkan. Oleh karena itu untuk menggali arti naskah-naskah suci secara tepat, penting memperhatikan isi dan kesatuan seluruh Kitab SuciSelain itu, tradisi yang hidup dalam seluruh Gereja dan _analogi iman_ perlu diperhatikan pula. 

Adalah tugas para _ekseget_ untuk berpegang pada kaidah-kaidah tersebut, supaya memperoleh pengertian dan dapat menerangkan secara lebih mendalam arti Kitab Suci. Maksudnya, supaya seolah-olah sesudah dipersiapkan melalui studi, paham Gereja menjadi lebih matang, Semua hal sekitar penafsiran Kitab Suci itu akhirnya harus tunduk kepada penilaian Gereja, yang menjalankan perintah dan tugas ilahi untuk memelihara dan menafsirkan sabda Allah. (WI 12, a-e)

38. Bagian Kitab Suci mana yang paling istimewa?

Semua orang mengetahui, bahwa di antara semua Kitab yang termasuk Kitab Suci bahkan Perjanjian Baru, Kitab-kitab Injil selayaknya mendapat kedudukan istimewa. Sebab empat Kitab Injil merupakan kesaksian utama tentang hidup dan ajaran Sabda-Yang-Menjadi-Manusia, yakni Sang Penyelamat kita. (WI 18)

39. Bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap Kitab Suci?

Sama seperti Tubuh Tuhan sendiri, demikian pula Kitab-kitab Ilahi selalu Gereja hormati. Sebab, terutama di dalam Liturgi Kudus, Gereja tak putus-putusnya menerima dan menyajikan roti kehidupan kepada umat beriman, baik dalam sabda Allah maupun dari meja Tubuh Kristus. (WI 21)

40. Apakah perlu Kitab Suci sering dibaca?



Semoga dengan membaca dan mempelajari Kitab Suci "Sabda Allah menjalar dan dipermuliakan" (2 Tes 3:1), dan harta wahyu yang dipercayakan kepada Gereja itu semakin memenuhi hati manusia. Memang, kehidupan Gereja berkembang dengan sering merayakan misteri Ekaristi. Demikian juga dorongan baru dapat diharapkan bagi kehidupan rohani dari bertambahnya penghormatan terhadap sabda Tuhan, yang "tetap untuk selama-lamanya" (Yes 40:8; bdk. 1 Ptr 1:23-25). (WI 26)


41. Apakah Wahyu Kristiani merupakan wahyu terakhir yang tidak dapat disempurnakan lagi?

Tata penyelamatan Kristen, yakni Perjanjian Baru yang definitif, tidak pernah akan lenyap. Maka sia-sialah mengharapkan suatu wahyu resmi yang baru sebelum kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus dalam kemuliaan-Nya (bdk. 1 Tim 6:14; Tit 2:13). (WI 4 b)

42. Mengapa Gereja mewartakan Wahyu Ilahi kepada segala bangsa?

Gereja mewartakan kabar keselamatan kepada mereka yang belum percaya (akan Kristus), supaya semua manusia hanya mengenal Allah yang benar dan Yesus Kristus, yang diutus-Nya, dan supaya mereka bertobat dan berbalik dari jalan mereka (bdk. Yoh 17:3; Luk 24:27).

Gereja harus mewartakan iman dan tobat pula kepada mereka yang sudah beriman, lalu menyiapkan mereka untuk Sakramen-sakramen, Gereja wajib menegur mereka supaya menjalankan apa yang diperintahkan Kristus, mendorong mereka akan semua karya cinta kasih, kesalehan dan kerasulan. Sebab, dalam karya-karya ini semestinya menjadi jelas, bahwa walaupun bukan dari dunia ini orang Kristen toh merupakan terang dunia dan memuliakan Bapa di depan manusia. (L 9)
43. Apakah terdapat hubungan antara Kabar Keselamatan dan kebudayaan manusia dari waktu dan daerah yang berbeda-beda?

Antara Kabar Keselamatan dan kebudayaan manusia terdapat serba ragam hubungan. Sebab, Allah telah berbicara kepada umat-Nya menurut kebudayaan yang khas pada jaman yang berbeda-beda, sampai Ia mengungkapkan Diri sepenuhnya dalam Putera-Nya Yang menjadi manusia.

Demikian pula dalam peredaran sejarah, Gereja hidup dalam lingkungan yang berbeda-beda, menggunakan hasil-hasil berbagai lingkungan kebudayaan untuk mewartakan dan menerangkan amanat Kristus pada semua bangsa, untuk meneliti serta memahaminya lebih mendalam, dan untuk mengungkapkannya dengan lebih baik dalam ibadat maupun dalam kehidupan umat beriman yang beraneka ragam itu.

Gereja diutus ke semua bangsa dari zaman dan wilayah manapun Oleh karena itu Gereja tidak terikat secara eksklusif dan untuk selamanya pada bangsa, negara, adat-istiadat atau kebiasaan lama atau baru yang manapun juga. Gereja setia pada tradisinya sendiri, tetapi sekaligus sadar akan pengutusannya yang universal. Maka Gereja dapat menjalin hubungan dengan pelbagai bentuk kebudayaan yang memperkaya dua-duanya, baik Gereja maupun kebudayaan-kebudayaan. (GD 58, a dan b)