Senin, 19 September 2016

Aku kecewa dengan Tuhan



Saya mulai kecewa dengan Tuhan, saya mulai mengurangi porsi kegiatan-kegiatan yang dulu aktif saya lakukan. Saya mulai takut bersaksi di hadapan banyak orang karena pada kenyataannya hidup anggota keluarga saya tidak sebaik yang orang lain duga.



Saya mulai menutup buku catatan pelayanan saya dan mengurung diri dari kegiatan-kegiatan kerohanian beberapa waktu hingga saya disadarkan bahwa tugas saya adalah melakukan yang terbaik dan Allah yang berhak memutuskan segalanya. Yang pasti terbaik untuk saya dan keluarga saya.

Perlahan saya mulai berani kembali berdiri dan melangkah lagi dengan iman. Percaya, bahwa Tuhan tidak memakai orang benar, melainkan orang bersalah sebagai perpanjangan tangan-Nya.

Ada satu peristiwa yang membuat saya terpuruk, peristiwa itu menorehkan derita mendalam yang pada saat itu tidak bisa saya terima. Saya menjadi rendah diri karena sebagai seorang pembawa firman renungan dan pujian orang sudah melekat pada saya sebagai orang yang tampaknya tanpa cela. Tapi kenyataannya dalam perjalanannya, Tuhan "ijinkan" ujian itu terjadi pada keluarga kami.

Saya sendiri protes kepada Tuhan kenapa Tuhan tidak selamatkan salah satu keluarga saya dari kehancuran yang lebih dalam. Kenapa Tuhan pakai saya untuk menjadi berkat bagi banyak orang, tetapi Tuhan tidak menyayangi keluarga saya, mengapa Tuhan "membiarkan" semua itu terjadi? Mengapa?

Ada sebuah titik yang menyadarkan saya, ketika itu almarhum Bapa Uskup Mgr. Pujasumarta memanggil saya, menanyakan mengapa saya tidak lagi menulis renungan harian dan tidak aktif "melayani".

Terdiam sejenak saya mengemukakan alasan dan saat itu dalam hening berdua bersama beliau mengatakan bahwa beliau yang hidup hampir 24 jam hanya melayani Tuhan dan menggembalakan umat, tetapi Tuhan tidak berikan sehat melainkan menderita kanker stadium 4.

Saya di kapel Keuskupan menatap mata beliau dan berlinangan air mata. Saya sujud kepada Tuhan dan mohon pengampunan bahwa apa yang saya lakukan adalah sesuatu yang salah. 

Kesadaran yang berhikmat itu membawa saya memahami bahwa melayani Tuhan harus tanpa pamrih dan tanpa tujuan apapun. Dan melayani Tuhan bukan jaminan hidup kita seperti berjalan di jalur by pass yang bebas tanpa hambatan. Bersama Tuhan masalah tidak menjadi lebih kecil, tapi jalan keluar menjadi jalan besar.

(Sumber: Warta KPI TL No.137/IX/2016 » Renungan Anne Avante).




23.23 -

Kuasa getaran doa




Dua buah garputala (A & B) dihadap-hadapkan. Seorang siswa diminta untuk memukul garputala A. Sementara siswa lainnya mengamati apa yang terjadi dengan garputala B. 

Saat itu saya sangat takjub. Bagaimana tidak, 2 garputala terpisah beberapa cm saling menggetarkan. Garputala A yang dipukul akan bergetar, sekaligus menggetarkan garputala B.

Yang lebih mengesankan, saat jumlah garputala ditambah. Bunyinya saling menguat dan terdengar semakin keras. 

Seluruh siswa, termasuk saya bertanya-tanya, mengapa hal ini bisa terjadi? Guru sains menjelaskan bahwa garputala A & B itu bisa saling menggetarkan, karena keduanya memiliki frekuensi sama. Semakin banyak garputala (dengan frekuensi sama), makin keras bunyi yang dihasilkan

Penjelasan sang guru bertahun-tahun lalu itu memotivasi utk menyelidiki lebih jauh. Hasilnya:

Oh ... ternyata tidak hanya garputala, namun seluruh isi alam semesta ini akan saling menggetarkan, bila memiliki frekuensi sama. Ya ... seluruh isi alam semesta, apa pun dan siapa pun.

Bila kamu berpikir positif/berniat baik, maka kamu akan mengirim pikiran positif/niat baik ini ke seantero semesta. Kamu akan menggetarkan pikiran baik/niat baik lainnya yang ada di sudut mana pun di alam ini.

Sebaliknya, bila kamu berpikir negatif/berniat jahat, maka kamu akan mengirim pikiran negatif /niat jahat ini ke seantero semesta. Kamu akan menggetarkan pikiran negatif/niat jahat lainnya yang ada di sudut mana pun di alam ini.

Itulah mengapa saat kamu berpikir positif/berniat baik, kamu akan dijumpai/didekati oleh orang yg berpikiran sama dengan kamu dan akan didekat dan didoakan oleh para malaikat terang.

Sebaliknya, saat kamu berpikir negatif/berniat jahat, kamu akan dijumpai dan didekati oleh iblis, setan dan para pengikutnya.

Begitulah hukum saling getar. Hukum ini yang dimanfaatkan para pelaku santet, guna-guna dan semacamnya. Tapi tenang, selama frekuensi kamu tidak sama dengan frekuensi penyantet, maka kamu tidak bisa disantet.

Inilah yg perlu diketahui tentang doa: berdoalah yang baik-baik, agar kamu menggetarkan yang baik juga.

Namun, ada hal tambahan mengenai doa ini. Begini ... berapa banyak kamu berdoa seperti ini, “Tuhan … berilah saya ini … berilah saya itu ... dsb.” Saya yakin banyak diantara kamu yang berdoa seperti itu, hanya untuk saya ...

Doa seperti itu tak salah, tapi terlalu sedikit yang digetarkan! Maksudnya? Kamu jangan terlalu banyak berdoa untuk dirimu sendiri. Karena kalau kamu berdoa untuk diri sendiri, maka kamu tak pernah menggetarkan sesuatu ke seseorang di luar sana.

Ubahlah doamu! Berdoalah buat kedua orangtuamu, kerabat, sahabat, teman dan tetanggamu. Kirimkanlah doa-doa kepada orang orang disekitarmu, komunitasmu, lingkungan kerja, tempat tinggal, kumpulanmu dan kepada siapa pun, dikenal maupun tidak.

Kamu tau apa yg terjadi? Semua akan bergetar dan saling resonasi menguatkan. Dan berita baiknya, bila kamu berdoa bukan untuk dirimu, tapi berdoa untuk orang lain adalah kamu didoakan kembali oleh para malaikat terang.

Begitu kamu ubah doamu untuk orang lain tanpa sepengetahuan orangnya maka doamu akan bergetar kembali kepadamu.

Maka tidak bisa dibayangkan kalau kita semua saling mendoakan yang baik buat siapa pun, buat kota, buat negeri kita dsb, maka alam semesta ini akan dipenuhi dan diliputi gelombang frekuensi yang baik. Doa adalah sumber kekuatan.

(Sumber: Warta KPI TL No.137/IX/2016).

23.12 -

Berdoa tak kunjung putus



Di antara anugerah-anugerah yang diberikan oleh Roh Kudus kepada kaum beriman terdapat doa, khususnya doa tak kunjung putus yang juga dianjurkan oleh Santo Paulus (1 Tes 5:17).


Cara berdoa ini merupakan harta sangat berharga dari spiritualitas Kristen Timur. Dasar-dasar doa tersebut sudah dikenal dan dipraktekkan oleh pertapa di padang gurun pada abad 4.

"Doa Yesus" terutama disebarluaskan oleh para pengikut "hesikhasme", yaitu suatu aliran spiritualitas, yang memusatkan perhatiannya pada "hesikhia" ( = diam, kesunyian, ketenangan lahir batin) sebagai sarana untuk menyelam ke dalam doa batin.

Hesikhasme mengalami masa kejayaannya terutama dalam abad 14, tetapi sampai di zaman sekarang pun hesikhasme masih besar pengaruhnya. Pengaruh hesikhasme antara lain disebarluaskan oleh sebuah buku yang dikenal dengan nama "Philokalia" (kumpulan kutipan-kutipan naskah para bapa tentang doa).

Marilah kita mengenal "doa Yesus" dari kisah seorang pengembara Rusia (X)

Aku adalah seorang pengembara, kekayaanku sebuah pundi-pundi yang kubawa di punggungku, kadang-kadang berisi roti kering dan sebuah Kitab Suci di saku.

Pada suatu hari Minggu ke-24 sesudah Pentekosta, aku pergi ke gereja mau doa. Dalam liturgi kudus dibacakan surat Santo Paulus kepada umat Tesalonika. Di situ terdapat kata-kata: "Berdoalah selalu (1 Tes 5:17). Kalimat itu terpaku pada pikiranku.

Aku mulai memikirkan bagaimana itu mungkin: berdoa selalu. Sebab manusia kan masih harus mengurus banyak hal lain untuk mendapatkan nafkah.

Kubuka Kitab Suciku dan kucari kalimat itu. Dengan mata kepala sendiri kubaca kalimat yang kudengar di gereja, yaitu kita harus selalu dan di mana-mana berdoa "dalam roh" (Ef 6:18). Kupikirkannya lama, tetapi aku tak dapat menemukan pemecahannya.

Apa yang harus kulakukan? Di mana dapat kutemukan orang yang dapat menjelaskan ini? Aku akan mengunjungi semua gereja yang pengkotbahnya terkenal.

Keputusanku langsung kulaksanakan. Maka kudengar banyak kotbah bagus tentang doa. Tetapi yang diberikannya hanya garis-garis umum saja: apa arti doa, bagaimana pentingnya dan apa buahnya. Tak seorang pun menjelaskan cara mengadakan kemajuan dalam doa.

Memang aku pernah mendengar kotbah tentang doa "dalam roh", tentang doa yang tak kunjung putus. Tetapi tidak diberikan sarana untuk mencapai doa itu. Di mana pun juga tak kutemukan uraian yang kurindukan. Akhirnya usahaku kuhentikan. Aku tidak mendengarkan kotbah lagi. Kucari jalan lain.

Dengan bantuan Allah, aku mencari seorang bijaksana yang berpengalaman, yang dari penghayatan pribadi dapat menunjukkan bagaimana aku dapat mencapai cara berdoa yang sangat menarik hatiku.

Maka aku menjelajah ke mana-mana sampai lama, sambil membaca Kitab Suci terus menerus. Di mana-mana kutanyakan apakah dekat situ barangkali ada seorang pembimbing rohani yang bijaksana dan suci.

Pada suatu hari aku diberi tahu, bahwa di suatu tempat ada seorang pria yang sejak beberapa waktu memusatkan segala perhatian dan tenaganya untuk keselamatan jiwanya. Ia mempunyai kapel sendiri dan tidak pernah meninggalkan pekarangannya. Ia berdoa sepanjang hari dan membaca buku-buku rohani tanpa kunjung putus. Aku pergi ke sana bertemu dengan dia.

Katanya: "Berdoa batin terus menerus berarti bahwa hati merindukan Allah tanpa kunjung putus. Untuk dapat maju dalam karya luhur ini, kita harus kerap minta kepada Allah supaya Ia mengajar kita berdoa. Berdoalah saja yang banyak dan giat; doa itu sendiri akan mengajar anda bagaimana dia dapat berlangsung tanpa kunjung putus. Tetapi untuk itu diperlukan waktu."

Aku meneruskan perjalanan sambil merenungkan uraian pria tadi, tetapi persoalannya tidak menjadi jelas bagiku. Keinginanku untuk memahami barang sedikit tentang hal itu meletihkan aku demikian rupa, sehingga malam hari aku tidak dapat tidur karenanya.

Setelah menempuh jarak sekurang-kurangnya 120 km, aku sampai pada sebuah kota yang besar. Di situ ada biara. Pemimpin biara itu sangat baik, saleh dan suka menerima tamu. Aku berkunjung padanya dan minta nasihat tentang cara menyelamatkan jiwaku. Katanya: "Penuhi perintah-perintah Allah, berdoalah kepada Allah, dan engkau akan selamat."

Aku merasa sedih karena tidak dapat memahami sedikit pun penjelasan pemimpin biara tersebut. Untuk menghibur diri, aku sering membaca Kitab Suci.

Lima hari aku mengembara melalui jalan raya. Sesudah senja aku bertemu dengan seorang rahib tua.

Rahib itu membuat tanda salib dan berkata: "Syukur kepada Allah, saudaraku, sebab Ia telah membangkitkan dalam dirimu keinginan kuat sekali akan memahami doa batin. Pandanglah ini sebagai panggilan Allah dan tenanglah. Yakinlah, bahwa engkau dicoba supaya dapat menerima kehendak Allah.

Engkau diberi tahu, bahwa cahaya sorgawi doa batin yang tak kunjung putus tidak dapat kita peroleh dengan hikmat duniawi atau dengan keinginan dangkal akan pengertian. Cahaya sorgawi doa batin itu diperoleh orang yang miskin dan bersikap sederhana, jika mereka sungguh mempraktikkannya. Maka tidaklah mengherankan bahwa sampai sekarang engkau tidak mengerti sedikit pun juga tentang doa ini dan tentang cara kita dapat mempraktikkannya tanpa kunjung putus.

Tentang doa memang sudah banyak dikatakan, diajarkan dan ditulis. Tetapi pandangan-pandangan yang diwartakan tentang doa sebagian besar didasarkan atas pemikiran otak dan hikmat kodrati semata-mata, bukannya atas pengalaman doa.

Orang menyelidiki sifat-sifat doa, bukan hakikatnya. Orang menguraikan perlunya doa, dayanya, buah-buahnya, dan apa saja yang harus menyertainya: kerajinan, semangat, kehangatan hati, kemurnian pikiran, perdamaian dengan musuh, kerendahan hati, kesadaran dosa dan masih banyak lagi.

Tentang arti doa yang sesungguhnya dan cara mempelajarinya sekarang jarang sekali didapatkan jawaban yang memuaskan. Padahal menurut hematku soal-soal inilah yang paling biasa dan paling penting. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini memang diperlukan pengertian lebih mendalam dan bukan hanya ilmu melulu.

Yang lebih parah ialah bahwa hikmat duniawi yang gila mencoba mengukur hikmat ilahi dengan ukuran manusiawi. Banyak orang mengira, bahwa perbuatan baik dan berbagai persiapan lainnya begitu saja dapat membuat kita siap untuk doa samadi. Padahal sebetulnya keadaan justru terbalik.

Melebihi segala-galanya, doa kontemplatiflah yang menghasilkan perbuatan baik dan keutamaan. Orang memandang hasil dan buah doa sebagai saran dan jalan ke arah doa. Dengan demikian orang menilai rendah kekuatan doa. Santo Paulus berkata: "Pertama-tama kunasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang" (1 Tim 2:1).

Tentu saja orang Kristen harus juga melakukan perbuatan baik, dan tidak hanya sedikit, tetapi lebih-lebih ia harus berdoa, sebab tanpa doa (1) ia tak dapat melakukan sesuatu pun yang baik, entah itu apa. Tanpa doa (2) ia tak dapat menemukan jalan menuju Allah, (3) tak dapat pengertian tentang kebenaran, (4) tak dapat menyalibkan diri bersama hawa nafsu dan keinginan-keinginannya. Tanpa doa (5) ia tak dapat melihat cahaya Kristus terbit dalam hatinya, (6) ia tak dapat bahagia bersatu dengan Allah. Semuanya ini tidak mungkin terjadi jika tidak selalu didahului oleh lebih banyak doa.

Namun begitu kesempurnaan doa itu tidak berada di tangan kita. Santo Paulus berkata: "Kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa" (Rm 8:26). Jadi, banyak berdoa dan selalu berdoa itu dianjurkan kepada kita sebagai suatu jalan untuk mencapai kemurnian doa, ibu segala kebaikan rohani.

Santo Ishak dari Siria pernah berkata: "Ambillah hati ibunya, maka ia akan menyerahkan kepadamu anak-anaknya juga." Kuasailah dulu doa, sekaligus anda akan memperoleh semua keutamaan lainnya.

Tetapi kalau orang tidak mempunyai pengalaman pribadi dalam hal ini, dan juga tidak mengenal ajaran para bapa kudus, ia tidak dapat mengerti banyak tentang doa, apalagi membicarakannya."

Ia berkata lagi: "Berdoa terus menerus dalam batin kepada Yesus berarti menyerukan nama-Nya yang kudus terus menerus tanpa kunjung putus, menyerukannya dengan mulut, dengan roh dan dengan hati, menyadari kehadiran-Nya yang tetap dan mohon bantuan rahmat-Nya dalam segala kesibukan kita, selalu dan di mana-mana, bahkan waktu tidur.

Serukanlah kepada Allah itu dirumuskan begini: "Tuhan Yesus Kristus, kasihanilah aku." Barangsiapa membiasakan diri dengan doa ini akan mendapatkan banyak penghiburan di dalamnya. Ia akan merasa terdorong untuk mengulang-ulanginya terus-menerus, sehingga ia tak tahan tanpa doa itu. Akhirnya ia akan merasa doa itu timbul dari batinnya dengan sendirinya. 

Mengertikan saudara sekarang yang dimaksud dengan berdoa selalu?" "Ya, Rama," jawabku terharu, "mohon penjelasan juga, bagaimana saya dapat membiasakan diri dengan doa itu."

"Bacalah saja buku ini," katanya, " namanya Philiokalia. Dalam buku ini dimuat tulisan lengkap dan terperinci tentang doa batin yang tak kunjung putus menurut ajaran dua puluh lima bapa kudus. Seluruh buku ini memancarkan demikian banyak hikmat dan kesucian sehingga dapat dipandang sebagai buku pegangan paling baik tentang hidup kontemplatif dan rohani."

"Kalau begitu adakah buku ini lebih luhur dan lebih kudus daripada Kitab Suci?" Tanyaku. "Tentu saja tidak. Tetapi dalam buku ini terdapat uraian-uraian sederhana tentang hal-hal yang di dalam Kitab Suci diwahyukan penuh misteri sehingga tak dapat dipahami oleh budi kita yang buta.

Matahari itu benda yang paling terang dan paling bersinar, meskipun begitu kita tidak dapat menatapnya dengan mata telanjang. Untuk dapat memandangnya kita harus mempunyai sebuah kaca istimewa yang berjuta kali lebih kecil dan lebih gelap daripada matahari.

Tetapi dengan pertolongan kaca itu kita dapat dengan aman memandang dan mengagumi matahari dengan segala kecemerlangannya.

Kitab Suci itu matahari yang menyilaukan, sedangkan buku ini, "Philokalia" ialah sebuah kaca yang dapat kita pergunakan untuk mempelajari bintang siang yang indah itu."

Selama satu pekan seluruh tenaga kukerahkan untuk belajar berdoa tanpa kunjung putus dengan cara yang diajarkan rahib tadi. Mula-mula semuanya berjalan lancar tetapi lambat laun doa itu mulai melelahkan. Aku menjadi mengantuk dan banyak pikiran seperti awan tebal menyelubungi budiku. Aku sedih sekali, lalu aku menghadap rahibku untuk memberitahukan keadaanku.

Ia menerima aku dengan ramah, katanya: "Saudaraku, inilah perang yang diumumkan oleh kerajaan kegelapan melawan engkau. Tidak ada yang lebih mereka takuti daripada hati kita yang bersamadi.

Oleh karena itu mereka berusaha mati-matian untuk menghalanginya. Mereka mau mendesak supaya engkau membatalkan niatmu untuk belajar berdoa. Tetapi mereka tidak dapat berbuat lebih daripada yang diizinkan Allah, dan Allah mengizinkan sesuatu yang perlu bagi kesejahteraanmu.

Rupanya kerendahan hatimu masih perlu diuji: barangkali masih terlalu pagi bagimu untuk diizinkan masuk ke taraf yang paling tinggi. Ada bahaya engkau jatuh ke dalam keserakahan rohani. Akan kubacakan anjuran buku kita untuk keadaan seperti ini."

Ia membuka ajaran bahagia Nicephorus dan membaca: "Jika sesudah berusaha keras engkau tidak berhasil menguasai hati menurut ajaran yang diberikan, lakukanlah anjuranku ini dan dengan bantuan Allah akan kaudapatkan yang kaucari.

Daya pengucapan kata terletak dalam tenggorokan. Singkirkan semua kata lain yang timbul (engkau bisa ini kalau memang mau) dan ulangi saja tanpa kunjung putus: "Tuhan Yesus Kristus, kasihanilah aku." Paksakan dirimu. Kalau engkau berhasil sebentar, hatimu akan terbuka bagi doa. Ini kami ketahui dari pengalaman."

"Inilah ajaran para bapa kudus," kata rahib itu. "Jadi mulailah sekarang mentaati perintah ini dengan kepercayaan yang tulus dan secara lisan mengulangi doa kepada Yesus sebanyak mungkin. Ini tasbihku. Bawalah ini dan ucapkan doa ini tiga ribu kali sehari. Entah engkau berdiri atau duduk, entah berjalan atau berbaring, berdoalah selalu: "Tuhan Yesus Kristus, kasihanilah aku." Ulangi dengan tenang tanpa tergesa-gesa. Allah akan menolong dan engkau akan mencapai tujuan yang mau kaukejar, yaitu: berdoa dalam hati tanpa kunjung putus."

Kuterima dengan senang hati petunjuknya. Perintahnya kujalankan dengan seksama. Hari hari pertama tidak begitu mudah, tetapi kemudian menjadi lebih mudah, bahkan lebih menyenangkan. Begitu aku berhenti, kurasa keinginan untuk berdoa lagi, dan ini kulakukan keluar dari diriku dan dengan senang hati, tanpa harus memaksa diri.

Hal ini kukatakan kepada rahib, dan ia menyuruhku mengucapkan doa ini 6.000 kali sehari, katanya: "Tenang-tenang saja. Cobalah mengucapkan doa yang ditentukan, dan Allah akan memberimu rahmat-Nya."

Pada hari kesebelas kuceritakan keadaanku. Mendengar itu rahib berkata: "Sekarang engkau sudah terbiasa mendoakan itu. Pertahankan kebiasaan itu dan tingkatkanlah. Jangan membuang waktu sedikitpun, dan hari ini mulailah mengucapkan doa kepada Yesus itu 120.000 kali setiap hari."

Nasihat itu kulakukan. Pada mulanya aku merasa lelah, rahang dan lidahku seakan-akan menjadi kaku, tenggorokanku juga sakit, demikian pun ibu jari kanan yang kupakai untuk menghitung mata tasbih. Akhirnya seluruh tangan dan lengan sampai bahu merasa sakit. Ini tidak menyenangkan sama sekali, meskipun begitu kupaksa diriku untuk terus. Lima hari aku bertekun mengucapkan doa 12.000 kali, dan karena terbiasa, aku juga dapat menikmatinya.

Pada suatu pagi aku seolah-olah dibangunkan oleh doaku. Aku mau melakukan doa pagi seperti biasa, tetapi lidahku tidak mau mengucapkannya dengan lancar. Seluruh keinginanku terpusatkan pada satu hal saja, yaitu mendoakan doa Yesus. Begitu aku memulainya, aku merasa bahagia dan kuat.

Sekarang bibir dan lidahku mengucapkan kata-kata dengan sendirinya, tanpa perlu kuurus. Sepanjang hari aku berada dalam keadaan gembira sekali. Aku merasa dilepaskan dari segalanya dan seperti hidup di dunia lain.

Sesudah itu aku berkunjung lagi pada rahib dan memberikan laporan panjang lebar tentang semua yang kualami. Ia mendengarkan dan kemudian berkata: "Bersyukurlah kepada Allah sepenuh hati, sebab Ia telah memberi engkau keinginan dan anugerah doa. Engkau menerimanya berkat usaha dan semangat sebanyak itu.

Jika Allah berkenan memberi anugerah doa yang berdikari, aktif dan rohani, jika Allah membersihkan dari segala kelekatan terhadap hal-hal indrawi! Ini sungguh keadaan yang tak bisa dilukiskan, dan barangsiapa mencapai tarap samadi mistik ini, di dunia ini sudah menikmati prarasa kegembiraan firdaus. Inilah kebahagiaan yang disediakan bagi orang yang mencari Allah dengan hati sederhana dan penuh kasih.

Mulai sekarang engkau kuizinkan mengulangi doamu berapa kali saja menurut kemampuan dan kehendakmu. Selama engkau berjaga, gunakanlah semua waktumu untuk menyerukan nama suci Yesus Kristus tanpa menghitung berapa kali.

Tundukkan dirimu dengan rendah hati kepada yang akan diatur oleh Allah terhadap dirimu, dan percayakan kepada bantuan-Nya. Aku percaya bahwa Allah sekarang tidak akan meninggalkan dikau, melainkan akan menunjukkan kepadamu jalan yang tepat."

Sesuai dengan nasihat ini, seluruh waktu kulewatkan dengan berdoa terus-menerus kepada Yesus Kristus, dan hatiku mengalami kedamaian yang mendalam. Malam hari aku kerap mimpi sedang berdoa. Siang hari, jika aku bertemu dengan orang-orang, mereka semua tampaknya kukasihi seperti saudara dekat.

Batinku sekarang mulai mendengarkan doaku, dan kadang-kadang dalam hatiku kurasa kehangatan yang menyenangkan. Jika aku pergi ke gereja, doa-doa ibadat yang panjang kurasa singkat, dan aku tidak merasa bosan seperti dulu.

Karena rahibku sudah wafat, sekarang tidak ada lagi orang yang mengajar aku. Oleh karena itu pikirku aku akan membeli buku "Philokalia", supaya aku dapat melanjutkan mempelajari doa batin.

Semenjak itu aku terus mengembara dan selalu mengucapkan doa Yesus. Tak ada sesuatu pun di dunia ini yang kusukai dan kunikmati melebihi doa itu.

Kadang-kadang aku berjalan lebih dari 40 km sehari, dan aku hampir-hampir tidak menyadarinya. Yang kuketahui hanyalah bahwa aku berdoa.

Bila aku menggigil kedinginan, kuulang-ulangi doaku dengan semangat lebih besar, dan aku merasa dihangatkan olehnya.

Bila aku merasa lapar, kuserukan nama Yesus lebih kerap, dan aku lupa bahwa aku ingin makan.

Bila kurasa sakit punggung, lengan dan kakiku, kudengarkan kata-kata doaku, dan aku tidak lagi merasa berat dalam deritaku.

Bila seseorang menyusahkan aku, aku tinggal memikirkan betapa manis doa Yesus, dan kulupakan sama sekali luka hatiku.

Seolah-olah aku tak merasa apa-apa lagi: tiada urusan, tiada kedinginan, tiada hasrat untuk ini atau itu, sendirian sama sekali. Segala harapanku terpusat pada doa, berdoa tanpa kunjung putus dan kalau ini kulakukan hatiku penuh kegembiraan.

Beberapa waktu kemudian kusadari bahwa doaku seperti dengan sendirinya meresap dari bibir ke dalam hati. Seakan-akan pada tiap denyutan jantung hatiku dengan sendirinya mengulang-ulang kata-kata doaku. Sekarang kuhentikan pengucapan doaku, dan aku mulai mendengarkan dan memperhatikan kata-kata yang dibisikkan hatiku.

Aku merasa dibebaskan dari segala macam tekanan. Aku sadar akan kasihku yang berkobar-kobar kepada Yesus Kristus dan kepada seluruh ciptaan Allah. Mataku penuh air mata karena bersyukur bahwa Allah demikian murah hati terhadap aku, orang berdosa.

Budiku yang lemah diterangi demikian melimpah sehingga aku memahami hal-hal yang dulu tidak berani kuimpikan.

Kadang-kadang seluruh pribadiku diresapi oleh rasa kehangatan hati yang menyenangkan sehingga aku terharu menyadari kehadiran Allah di mana-mana.

Menyerukan nama Yesus Kristus sudah cukup untuk menghantar aku ke dalam kegembiraan yang besar. Aku sekarang mengerti apa yang dimaksud dengan kata-kata: "Kerajaan Allah ada di dalam dirimu" (Luk 17:21).

Semua pengalaman ini mengajar aku, bahwa doa batin menghasilkan banyak buah: kasih Allah yang manis, kedamaian batin, larutan roh, kemurnian pikiran, ingat akan Allah tanpa kunjung putus; merasa badannya sendiri lebih ringan dan lebih kuat, seluruh pribadi diresapi rasa bahagia, tidak lagi menghiraukan lagi rasa sakit atau kegelisahan, budi menjadi lebih jernih, memahami Kitab Suci, mengenali bahasa ciptaan, meninggalkan kesia-siaan, mendapatkan pengertian baru tentang inti kesucian dan hidup rohani, merasa pasti akan dekat-Nya Allah dan akan kasih Allah terhadap kita semua.

Allah menghendaki bahwa kita datang pada-Nya seperti anak datang pada Bapanya, bahkan kita hidup baik karena cinta dan hormat kepada-Nya, bahwa kita menempatkan kebahagiaan kita dalam persatuan kita dengan Dia, yaitu dalam persatuan hati dan roh yang melimpahkan berkat.

Meskipun kita menyiksa diri sebanyak-banyaknya, kita tidak menempatkan Allah dalam hati kita dan doa Yesus pada bibir kita; pikiran kita tidak akan tenang dan kita akan selalu menghadapi kemungkinan besar untuk jatuh lagi ke dalam dosa.

Di sini dalam kesunyian kita mempunyai kesempatan baik untuk melakukan doa itu, dan kita pasti akan menikmati damai. Pikiran-pikiran melawan iman pasti tidak akan memasuki kita lagi, dan iman yang sejati akan mewahyukan diri kepada kita, jika kita belajar mengasihi Yesus Kristus dengan cara itu.

Hati kita akan mengalami kegembiraan dan kebahagiaan demikian besar, sehingga kita akan tertegun karenanya. Tak akan ada lagi sesuatu pun yang menekan ataupun menghalangi kita dalam kehidupan suci seperti itu.

Doa batin itu dapat dicapai tiap orang. Tidak ada lain yang diperlukan kecuali membiarkan diri tenggelam ke dalam hatinya dan lebih kerap menyerukan nama Yesus Kristus yang mulia. Maka akan tampaklah cahaya batin itu dan semuanya menjadi sederhana. Bahkan beberapa rahasia kerajaan Allah dapat dipahami orang dalam sinar cahaya itu.

Barangsiapa sudah mencapai doa sejati dan kasih sejati tidak lagi membedakan orang yang benar dengan orang yang jahat; ia mencintai semuanya dan tidak mengadili seorang pun juga, seperti juga Allah mengirimkan matahari dan hujan-Nya baik bagi yang benar maupun yang jahat tanpa membeda-bedakannya (Niketas Stethatos dalam Philokalia).

Karya roh, doa batin, kontemplasi, semua sarana untuk mengangkat hati, ini semua tidak boleh kita simpan dalam hati kita saja. Kita harus berusaha jangan sampai ini semua dilupakan, dengan menuliskannya atau mewartakannya secara lisan, demi kasih kita kepada semua orang dan demi keselamatan mereka.

(Sumber: Warta KPI TL No.137/IX/2016 » Renungan KPI TL Tgl 4 Agustus 2016, Dra Yovita Baskoro, MM).




Jumat, 09 September 2016

Santa Monika & Santo Agustinus

 



Monika adalah seorang ibu teladan. Iman dan cara hidupnya yang terpuji patut dicontoh oleh ibu-ibu Kristen terutama mereka yang anaknya tersesat oleh berbagai ajaran dan bujukan dunia yang menyesatkan.



Monika, seorang penganut agama Kristen yang taat dan saleh. Ketika berusia 20 tahun, dia menikah dengan Patrisius, seorang penyembah berhala.



Dalam kehidupannya, Monika mengalami tekanan batin yang hebat akibat ulah suami dan anaknya. Pengaruh suaminya begitu besar terhadap diri anaknya, sehingga anaknya belum juga dibaptis menjadi Kristen meskipun ia sudah besar. 

Selain itu suaminya selalu mencemoohkan dan menertawakan usaha kerasnya dalam mendidik Agustinus (menanamkan benih iman Kristen), agar menjadi seorang pemuda yang luhur budinya.

Semua itu ditanggungnya dengan sabar sambil tekun berdoa untuk memohon campur tangan Tuhan. Bertahun-tahun lamanya tidak ada tanda apa pun bahwa doanya dikabulkan Tuhan.

Baru pada saat-saat terakhir hidupnya, Patrisius bertobat dan minta dibaptis. Monika sungguh bahagia mengalami rahmat Tuhan pada saat-saat kritis hidup suaminya.

Ketika itu Agustinus berusia 18 tahun dan sedang menempuh pendidikannya di kota Kargo. Cara hidupnya semakin menggelisahkan hati ibunya karena telah meninggalkan imannya dan memeluk agama Manikeisme yang sesat itu

Lebih dari itu, di luar perkawinannya yang sah, ia hidup dengan seorang wanita hingga melahirkan seorang anak

Untuk menghindarkan diri dari keluhan ibunya, Agustinus pergi ke Italia. Namun ia sama sekali tidak luput dari doa dan air mata ibunya.

Monika berlari minta bantuan kepada seorang uskup. Kepadanya uskup itu berkata: “Pergilah kepada Tuhan! Sebagaimana engkau hidup, demikian pula anakmu, yang baginya telah kaucurahkan begitu banyak air mata dan doa permohonan, tidak akan binasa. Tuhan akan mengembalikannya kepadamu.” 

Nasehat pelipur lara itu tidak dapat menentramkan batinnya. Ia tidak tega membiarkan anaknya lari menjauhi dia, sehingga ia menyusul anaknya ke Italia. Di sana ia menyertai anaknya di Roma maupun di Milano.

Di Milano, Monika berkenalan dengan Uskup Ambrosius. Akhirnya oleh teladan dan bimbingan Ambrosius, Agustinus bertobat dan bertekad untuk hidup hanya bagi Allah dan sesamanya. Saat itu bagi Monika merupakan puncak dari segala kebahagiaan hidupnya

Inilah satu-satunya alasan Monika hidup sedikit lebih lama lagi, yaitu “dia ingin melihat anaknya menjadi orang Kristen sebelum menghembuskan nafasnya.”

Hal itu telah dikabulkan Allah, bahkan lebih dari itu, Allah telah menggerakkan anaknya untuk mempersembahkan dirinya sama sekali kepada-Nya dalam pengabdian yang tulus kepada-Nya.


Agustinus adalah bapa Gereja Purba yang terkenal. Ia lahir di Tagaste, sebuah kota kecil di Afrika Utara, tidak jauh dari Hippo (sekarang: Souk-Ahras), pada tanggal 13 November 354.

Meskipun Agustinus memiliki seorang ibu yang saleh dan taat kepada Tuhan, tetapi pengaruh ayahnya dan daya tarik dunia lebih kuat mempengaruhinya. Ia tumbuh menjadi seorang anak yang sangat pandai dan berbakat, tetapi Tuhan sama sekali tidak ada dalam kamus kehidupannya.

Ketika ayahnya melihat bakat dan kepandaian anaknya, ia mendorong anaknya untuk belajar supaya kelak dapat menjadi orang yang termasyur. Akan tetapi ia belajar hanya karena terpaksa, sehingga seringkali Agustinus tidak mematuhi perintah orang tua dan gurunya. Itu semua karena Agustinus lebih menyukai pertunjukan, permainan, dan teater

Dalam pelajarannya Agustinus sangat menyukai bahasa Latin, dan puisi-puisi Latin. Pada mulanya Agustinus belajar di kotanya sendiri, kemudian ayahnya mengirim dia untuk belajar ke Madaura, di mana ia belajar bahasa, puisi, dan retorika

Ketika ia berusia 16 tahun, ayahnya menyuruh ia untuk kembali ke Tagaste dan merencanakan untuk mengirimnya belajar di Carthage. 

Pada awal usianya yang ke 17, Agustinus belajar ke Carthage. Dengan mudah ia mendapat tempat yang terbaik di sekolahnya. Akan tetapi motivasinya adalah kesombongan dan ambisi.

Meskipun ayahnya meninggal pada tahun 371, Agustinus tetap melanjutkan studinya di Carthage. Pada masa-masa itu Agustinus berada dalam pencarian kebenaran di dalam kehidupannya

Ketika berumur 20 tahun, ia mendengar seorang guru berbicara mengenai sebuah buku karangan Aristoteles. Ia sangat tertarik dan berusaha untuk mengertinya tanpa bimbingan seorang guru. Akan tetapi buku tersebut hanya membawa dia kepada pengenalan akan Tuhan sebagai suatu substansia.

Tidak lama setelah itu, ia jatuh dalam aliran Manikeisme, suatu aliran keagamaan dari Persia yang mengajarkan bahwa semua barang material adalah buruk. Dia mengikuti aliran ini selama delapan hingga sembilan tahun lamanya. 

Minatnya pada aliran ini berakhir ketika ia menyaksikan kebodohan Faustus, seorang pengajar Manikeisme. Selanjutnya selama beberapa tahun, ia meragukan semua kebenaran agama-agama.

Agustinus tekun membaca segala buku ilmiah yang dapat diperolehnya, dan ia juga mengunjungi orang yang cerdik pandai serta belajar dari mereka. Sehingga akhirnya ia menjadi seorang mahaguru yang terkenal

Banyak orang Roma datang berbondong-bondong hanya untuk mendengarkan kuliah dan pidatonya. Namun pada saat itu Agustinus masih hidup dalam kekafiran dan belum mengenal Tuhan. 

Di luar perkawinannya yang sah, ia hidup dengan seorang wanita hingga melahirkan seorang anak yang bernama Adeodatus yang meninggal pada usia muda.

Meskipun demikian hati Agustinus terus bergejolak dan tidak tentram, hatinya terus gelisah karena ada sesuatu yang belum ia ketahui. Mengetahui tentang hal tersebut, maka ibunya terus berdoa agar anaknya tersebut mau bertobat dan menjadi pengikut Kristus.

Suatu ketika di Milano, Agustinus bertemu dengan Uskup Ambrosius, seorang bekas gubernur yang saleh

Ketika menyaksikan cara hidup para biarawan yang mengikuti suatu disiplin hidup yang baik dan membahagiakan. Mereka bijaksana, ramah dan saling mengasihi. 

Hatinya tersentuh dan mulailah ia merenung: “Apakah yang mendasari hidup mereka? Injilkah yang menjiwai hidup mereka?” 

Kecuali itu, ia sering mendengar kotbah-kotbah Uskup Ambrosius dan tertarik pada semua ajarannya. Semuanya itu kembali menyadarkan dia akan nasehat-nasehat ibunya tatkala ia masih di Tagaste. 

Agustinus rindu untuk membaca Kitab Suci, tetapi terbentur pada kesederhanaan bentuknya. 

Suatu hari, ia mendengar suara ajaib seorang anak: “Ambillah dan bacalah!” Tanpa banyak berpikir, ia segera menjamah Kitab Injil itu, membukanya dan membaca: “Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.” (Rm 13:13-14).

Akhirnya Agustinus yang telah banyak mendalami filsafat itu terbuka pikirannya dan melihat kebenaran sejati. Ia kemudian bertobat dan dibaptis pada usia 32 tahun. 

Yang paling berbahagia karena pertobatan Agustinus tentulah ibunya yang selama ini tidak jemu-jemu mendoakannya. Namun tidak lama kemudian sesudah Agustinus dibaptis, tujuh bulan sesudah Agustinus dibaptis, bunda tercinta meninggalkan putranya dengan tenang dan kembali kepada Bapa di sorga.

Setelah ibunya meninggal, Agustinus kembali ke Afrika. Agustinus yang telah bertobat kini memulai suatu kehidupan yang baru. Ia dengan setia mengikuti ajaran Yesus dan melakukan perintah-perintahNya dengan sungguh-sungguh.

Kemudian di tanah kelahirannya ini ia ditahbiskan mejadi seorang imam

Pada usia 41 tahun, Agustinus diangkat menjadi uskup Hippo. Menyadari akan besarnya rahmat Tuhan yang telah ia terima, maka ia mengungkapkan rasa syukurnya dalam bentuk nyanyian dan menulis sejumlah buku.

Tak terbilang banyaknya orang berdosa yang bertobat karena membaca tulisan-tulisannya. Tulisan-tulisannya meliputi 113 buah buku, 218 buah surat dan 500 buah kotbah. 

Tulisan-tulisannya itu hingga kini dianggap oleh para filsafat dan teologi sebagai sumber penting dari pengetahuan rohani. Semua kebenaran iman Kristen diuraikan secara tepat dan mendalam sehingga mampu menggerakkan hati orang.

Agustinus meninggal dengan tenang pada tanggal 28 Agustus 430, pada usia 76 tahun.

Hal-hal yang dapat diteladani berdasarkan regula dan pengalaman hidup St. Agustinus:

* Cinta akan Tuhan dan sesama

Dalam hidup sehari-hari hendaklah kita saling menghargai, tidak menyombongkan diri, tetapi menerima satu dengan yang lain apa adanya.

Yang paling utama seturut firman Tuhan adalah cintakasih terhadap Tuhan dan sesama; saling melayani dengan kasih dan bukannya saling menjatuhkan dengan kesombongan; kesatuan hati di antara sesama saudara dan bersama-sama berjuang mencapai tujuan akhir hidup kita yaitu persatuan dengan Allah.

* Doa

Dalam doa kita akan bertemu dengan Tuhan secara pribadi, kita masuk ke dalam hubungan yang mesra dengan Tuhan. Segala sesuatu dapat kita serahkan kepada Tuhan melalui doa. Doa bukan hanya ketika kita pergi ke gereja atau persekutuan doa. 

Namun kita juga harus menyediakan waktu khusus secara pribadi untuk berdiam diri bersama Tuhan dalam doa. Bahkan dalam segala situasi dan aktifitas kita kita juga dapat mendaraskan doa-doa kita kepada Tuhan. 

Doa tidak dibatasi ruang dan waktu, doa tak lain adalah nafas hidup kita, tanpa doa kita takkan dapat mengenal Tuhan secara mendalam dan takkan dapat mengalami kehadiran Tuhan yang hidup.

* Sikap tidak berlebih-lebihan dan penyangkalan diri

Janganlah bersikap berlebihan dengan memperlakukan teman yang satu lebih baik daripada yang lain. Apalagi jika kita membedakan mereka berdasarkan hal-hal tertentu. Keinginan daging akan membawa kita jatuh ke dalam dosa. 

Salah satu penyangkalan diri yang didasari oleh cintakasih adalah dengan mau menerima dan mengerti sesama saudara apa adanya dan memperlakukan mereka sesuai dengan karakter mereka. 

Jika ada teman kita yang menyulitkan dan menjengkelkan, maka inilah saat yang tepat untuk melatih penyangkalan diri dengan tetap menerima dia serta mengasihi dia seperti kepada yang lainnya. Dalam hal ini kita akan merasakan suatu kedamaian ketika berhasil menjalankannya. 

* Sikap saling memaafkan

Dalam kehidupan bersama dengan orang lain perselisihan mungkin sekali terjadi karena adanya perbedaan karakter satu dengan yang lain. 

Namun sedapat mungkin kita mencoba menghindari perselisihan itu. Jika hal tersebut tidak dihindarkan maka akan dapat menimbulkan kemarahan yang mengarah pada kebenciaan, mengakibatkan perpecahan, menjadikan jiwa seorang pembunuh (1 Yoh 3:15).

Meskipun saudara kita kerapkali tergoda untuk marah tetaplah segera memaafkan siapapun yang menyakiti hati kita. 

Hindarilah kata-kata kasar dan jagalah mulut kita. Meskipun seluruh ilmu pengetahuan mengizinkan engkau berbicara kasar untuk menyelesaikan permasalahan, serta merasa tidak terlalu kasar dalam mengungkapkan sesuatu, engkau tetap harus meminta maaf kepada saudara yang engkau sakiti untuk melatih kerendahan hati. 

Selain itu haruslah memohon pengampunan dari Tuhan yang mengetahui semua yang terjadi dengan kesungguhan kasih yang mungkin terjadi untuk mengubah kekerasan yang tidak semestinya. Disamping itu melatih kita untuk mencintai orang lain secara rohani bukan secara duniawi. 

* Keterbukaan terhadap kuasa Allah

Tanpa suatu sikap yang terbuka secara total kepada rahmat Tuhan, tidak mungkin Tuhan melakukan suatu perubahan yang demikian luar biasa.

Dengan keterbukaan itu maka Allah pun dapat mengubah kehidupan kita, menyempurnakan kelemahan kita.

* Pertobatan yang sejati

Suatu dosa seringkali menawarkan kenikmatan untuk membuat kita jatuh dalam godaannya. Dan dosa yang seringkali kita lakukan biasanya akan mengikat kita untuk melakukan dosa yang sama.

Ketika melakukan pertobatan sejati, maka Allah tidak tinggal diam. Allah memberikan rahmat sehingga menguatkannya untuk menolak setiap godaan yang ada.

* Kerendahan hati

St Agustinus adalah seorang yang sangat pandai, dan karena itu pula ia menjadi seorang mahaguru. Namun ketika Allah mulai menyentuh hatinya, ia dengan segera menanggapi rahmat Tuhan tersebut dengan hati yang terbuka dan dengan kerendahan hati. 

Ia menyadari bahwa di hadapan Tuhan segala kepandaiannya tidak berarti apa-apa. Sehingga ketika ia datang kepada Tuhan, ia tidak datang dengan penuh kebanggaan diri atas prestasi yang telah ia capai atau dengan pengetahuan dan kepandaiannya. 

Akan tetapi ia datang ke hadapan Tuhan dengan suatu kesadaran bahwa di hadapan Tuhan ia begitu kecil dan tidak berarti apa-apa, bahkan ia hanyalah seorang pendosa.

Inilah karya Tuhan yang begitu besar, yang telah mengubah seorang pendosa menjadi seorang kudus yang ternama.

Peringatan Santa Monika: 27 Agustus
Peringatan Santo Agustinus: 28 Agustus.

(Sumber: Warta KPI TL No. 64/VIII/2009 » Orang Kudus Sepanjang Tahun, Mgr. Nicolaas Martinus Schneiders, CICM; Santo Agustinus, Vacare Deo Edisi VI/Tahun VIII/2006).

[Baca juga: Misteri Allah Tritunggal

21.27 -

Hidup beriman

Pada saat saya diundang rapat rekoleksi di lingkungan, rasanya malas untuk datang, karena tanggal tersebut berbenturan dengan rapat rekoleksi BIAK.

Lalu ketua lingkungan memberitahu bahwa rapat itu juga membicarakan Pramupas jenjang pertama. Di sini saya senang sekali dapat menghindar dari tanggungjawab ... tapi ketua lingkungan berkata: “Kalau gitu ditunda ae, wong sing rapat cuma orang tujuh.” Lalu saya menitipkan lembaran dari Pramupas yang harus diisi di rumah.


Tujuan yang ingin dicapai melalui 2 kegiatan (Pra Mupas dan Mupas) yang merupakan kesatuan proses adalah menggali pengalaman iman umat, merenungkan sabda Tuhan dan menemukan Ardas (Arah Dasar) Keuskupan Surabaya dimasa depan. 

Sebelum Pramupas jenjang pertama, saya beserta ketua lingkungan mengikuti sosialisasi Pramupas. Syarat mengikuti Pramupas (Musyawarah Pastoral): semua orang yang ada di pertemuan jenjang pertama di tingkat lingkungan/kelompok kecil harus membahas pertanyan-pertanyaan di lembar Pramupas di rumah, pada pertemuan secara bergiliran mensharingkan pengalaman hidupnya. 

Dan Pramupas jenjang kedua di tingkat paroki/induk kelompok harus diwakili oleh dua orang yang mengikuti Pramupas jenjang tingkat pertama.

Salah satu pertanyaan Pramupas: Bagaimana perasaan anda menjadi pengurus?

Banyak jawaban yang lesu. Tetapi ada satu Bapak berkata: “Saya merasa senang jadi pengurus. Karena di sini saya dapat sharing, saling menguatkan. Dengan kita menjadi pengurus, kita tahu sampai di mana kita berkarya bekerjasama dengan Roh Kudus. Ya... memang nggak enak jadi pengurus. Karena banyak umat yang menanggapi sesuatu setengah-setengah.”

Selama ini saya berpikir bahwa jiwa yang lelah hanya dapat disegarkan kembali melalui suatu retret besar. Ternyata pikiran saya itu salah. 

Karena di pertemuan yang hanya dihadiri 7 orang, suasananya dapat hidup, masing-masing yang hadir mensharingkan pengalaman hidupnya, sehingga jiwa saya juga disegarkan kembali oleh Tuhan. 

Agar hidup menggereja dapat berjalan dengan benar, hidup beriman itu harus terus dipelihara dengan cara berbagi waktu, pikiran, uang dll. Jadi dalam hidup menggereja, kita harus belajar memandang segala sesuatu bukan hanya diri sendiri saja, tetapi juga harus belajar memandang sesuatu dari sudut pandang orang lain.

(Sumber: Warta KPI TL No. 63/VII/2009).




Penyertaan Tuhan

Pada hari Minggu di bulan April yang lalu, anak kedua saya mengajak saya ke Gereja Santa Maria tak bercela, karena dia ingin mengakses internet secara gratis di cafe, di area wifi. Sambil menunggu anak saya, saya membeli buku rosario pembebasan dan membacanya sampai tuntas.


Pada saat itu hujan turun deras disertai angin kencang. Pohon-pohon terombang-ambing tertiup angin ke kanan dan ke kiri. Saya takut pohon itu tumbang dan menimpa mobil saya, karena mobil saya parkir di bawah pohon. Tetapi puji Tuhan hal itu tidak terjadi.

Ketika hujan mulai reda, kami putuskan untuk pulang. Ternyata jalan di depan gereja sudah penuh air, alias banjir. Sepanjang perjalanan pulang saya dan anak saya berdoa terus berharap mobil yang dipakai itu tidak mogok. Karena air sudah menutupi ban mobil, tanpa sadar saya berdoa rosario pembebasan “Tuhan kasihanilah kami...Tuhan bebaskanlah kami dari mogok.” 

Terlebih-lebih lagi di depan Sampurna, jalan Kali Rungkut. Mobil-mobil di sana jalannya merambat. Saya berdoa semakin kencang agar tidak ada satupun mobil di depan yang mogok. 

Tiba-tiba saya teringat peristiwa Petrus berjalan di atas air. Lalu saya mengimani bahwa Tuhan juga akan memampukan saya dan mobil saya berjalan di atas air seperti Petrus. 

Di depan saya ada sebuah mobil sedan, saya berharap mobil tersebut segera minggir, sehingga saya dapat cepat sampai di rumah dengan selamat, terhindar dari banjir. Puji Tuhan, Tuhan mengabulkan doa saya. 

Tetapi sebagai manusia biasa, saya masih merasa kurang puas dengan adanya satu mobil yang minggir. Saya masih berharap lagi agar mobil box yang menghalangi pandangan di depan saya juga minggir. Lagi-lagi Tuhan mengabulkan doa saya. 

Tetapi ketika mobil box itu benar-benar minggir, saya justru merasakan ketakutan luar biasa melihat air begitu tinggi, pembatas jalan pun tidak kelihatan, seperti berada di tengah lautan. Di sinilah saya menyadari bahwa saya kurang sabar dalam menanti pertolongan-Nya secara tuntas. Lalu saya memohon ampun kepada-Nya.

Akhirnya kami dapat sampai di rumah tanpa mengalami hambatan apapun juga. Saya bersyukur atas penyertaan Tuhan yang ajaib, Dia benar-benar menyelamatkan dan membebaskan kami dari mogok. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 62/VI/2009

05.23 -

Bileam

Balak, Raja Moab mengirim utasan kepada Bileam, untuk memanggil dia, dengan pesan: “datanglah dan kutuk bangsa Israel itu bagiku. Sebab aku tahu: siapa yang kauberkati, dia beroleh berkat, dan siapa yang kaukutuk, dia kena kutuk.”- karunia kuasa perkataan

Lalu berkatalah Bileam kepada mereka: “Bermalamlah di sini pada malam ini, maka aku akan memberi jawab kepadamu, sesuai dengan apa yang difirmankan Tuhan kepadaku.” 



Kemudian datanglah Allah kepada Billeam serta berfirman: “Janganlah engkau pergi bersama-sama dengan mereka, janganlah engkau mengutuk bangsa Israel itu, sebab mereka telah diberkati.”

Bangunlah Bileam lalu berkata kepada pemuka-pemuka Balak: “Pulanglah ke negerimu, sebab Tuhan tidak mengizinkan aku pergi bersama-sama dengan kamu.” 

Balak mengutus pula pemuka-pemuka lebih banyak dan lebih terhormat dari yang pertama. Setelah mereka sampai kepada Bileam, berkatalah mereka kepadanya: “... aku akan memberi upahmu sangat banyak, dan apa pun yang kauminta dari padaku, aku akan mengabulkannya. Datanglah dan serapahlah bangsa Israel bagiku.” 

Oleh sebab itu, baiklah kamu pun tinggal di sini malam ini, supaya aku tahu, apakah pula yang akan difirmankan Tuhan kepadaku. Datanglah Allah kepada Bileam pada waktu malam serta berfirman kepadanya: “Jikalau orang-orang itu memang sudah datang untuk memanggil engkau, bangunlah, pergilah bersama-sama dengan mereka, tetapi hanya apa yang akan Kufirmankan kepadamu harus kaulakukan.” 

Lalu bangunlah Bileam pada waktu pagi, dipelanainya keledainya dan pergi bersama-sama dengan pemuka-pemuka Moab. 

Tetapi bangkitlah murka Allah ketika ia pergi, dan berdirilah Malaikat Tuhan di jalan sebagai lawannya

Ketika keledai itu melihat Malaikat Tuhan dengan pedang terhunus di tangan-Nya, menyimpanglah keledai itu dari jalan dan masuk ke ladang

Ketika keledai itu melihat Malaikat Tuhan ditekankannya dirinya ke tembok, sehingga kaki Bileam terhimpit tembok

Ketika keledai itu melihat Malaikat Tuhan meniaraplah keledai itu dengan Bileam masih di atasnya. Maka bangkitlah amarah Bileam, lalu dipukulnyalah keledai itu dengan tongkat

Ketika itu Tuhan membuka mulut keledai itu, sehingga ia berkata kepada Bileam: “Apakah yang kulakukan kepadamu, sampai engkau memukul aku tiga kali?” 

Kemudian Tuhan menyingkapkan mata Bileam; dilihatnya Malaikat Tuhan dengan pedang terhunus di tangan-Nya berdiri di jalan, lalu berlututlah ia dan sujud. 

Berfirmanlah Malaikat Tuhan kepadanya: “... Aku keluar sebagai lawanmu, sebab jalan ini pada pemandangan-Ku menuju kepada kebinasan... 

Lalu berkatalah Bileam kepada Malaikat Tuhan: “Aku telah berdosa ... jika hal itu jahat di mata-Mu, aku mau pulang. 



Tetapi Malaikat Tuhan berfirman kepada Bileam: “Pergilah bersama-sama dengan orang-orang itu, tetapi hanyalah perkataan yang akan Kukatakan kepadamu harus kaukatakan.”... untuk menyerapah musuhku aku memanggil engkau, tetapi sebaliknya sampai tiga kali engkau memberkati mereka (Bil 22-24).


Bileam suka menerima upah untuk perbuatan-perbuatan yang jahat. Tetapi Bileam beroleh peringatan keras untuk kejahatannya, sebab keledai beban yang bisu berbicara dengan suara manusia dan mencegah kebebalan nabi itu. Celakalah mereka, oleh sebab upah, menceburkan diri ke dalam kesesatan Bileam (2 Ptr 15-16; Yud 1:11).



(Sumber: Warta KPI TL No. 63/VII/2009 » Renungan KPI TL 11 Juni 2009, Dra Yovita Baskoro, MM)