Tampilkan postingan dengan label *Dosa*. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *Dosa*. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 April 2020

07.29 -

Bumi ini “rumah kita bersama”



Manusia bisa memberi kontribusi positif kepada perkembangan dunia, tetapi dia juga dapat menjadi sumber penyakit, penyebab penderitaan dan kemunduran. 

Bumi ini sedang menjerit karena segala kerusakan yang telah kita timpakan padanya, karena penggunaan dan penyalahgunaan kita yang tidak bertanggung jawab atas kekayaan yang telah diletakkan Allah di dalamnya. Kita berpikir bahwa kita adalah tuan dan penguasanya. 

Pada tahun 1971, Paus Paulus VI menilai masalah ekologis sebagaiakibat tragisaktivitas yang tak terkendali. Kemudian, Paus Paulus II memperingatkan bahwa manusia sering “tidak melihat makna lain dalam lingkungan alam daripada apa yang berguna untuk segera dipakai dan dikonsumsi”. Padahal, seharusnya manusia melihat makna bumi sesuai dengan maksud Allah saat Ia menciptakannya. Akhirnya, Paus Benediktus XVI mengingatkan bahwa dunia tidak dapat dianalisis dengan mengisolasi hanya satu aspeknya, karena alam inisatu dan tak terpisahkan”, mencakup lingkungan, kehidupan, seksualitas, keluarga dan hubungan sosial. 

Pernyataan Paus di atas menggemakan refleksi banyak ilmuwan, filsuf, teolog, dan kelompok-kelompok masyarakat. Di luar Gereja Katolik, Gereja-gereja dan komunitas-komunitas lain juga telah menyuarakan keprihatinan mereka atas rusaknya lingkungan hidup. 

Misalnya: menurut Patriak Bartolomeus, kejahatan terhadap alam adalah dosa terhadap Allah, perlu pertobatan ekologis. Oleh karena itu perlu perubahan sikap manusia. 

Santo Fransiskus dari Asisi adalah contoh unggul dalam melindungi pihak-pihak yang rentan, dalam suatu “ekologi integral”, yang dihayati dengan gembira. Dia telah menunjukkan kepedulian besar terhadap ciptaan Allah dan kaum miskin. Tanggapannya terhadap dunia di sekelilingnya jauh melebihi apresiasi intelektual atau perhitungan ekonomi, karena baginya setiap makhluk adalah seorang saudari yang bersatu dengannya oleh ikatan kasih sayang

Santo Fransiskus dari Asisi mengajak kita untuk memandang alam sebagai sebuahkitab yang sangat indah”. Di dalamnya Allah berbicara kepada kita dan memberi kita sekilas pandang tentang kebaikan-Nya yang tanpa batas. Bumi ini merupakanrumah kita bersama”, “saudari kita”, “ibu kita”. 

(Sumber: Intisari ajaran Paus Fransiskus: Laudato Si dan Amoris Laetitia, Al. Purwa Hadiwardoyo, MSF).

[Baca juga: Santo Fransiskus Asisi]

07.14 -

Dosa ekologis



Perayaan Paskah selalu ditandai dengan lilin Paskah dan pada setiap lilin Paskah selalu ditulis tahun ketika Paskah itu dirayakan. Oleh karena itu kita bisa bertanya, apa relevansi perayaan Paskah pada masa kita umat manusia pada umumnya dan bangsa Indonesia pada khususnya, yang sedang mengalami pandemi wabah virus Corona 19 ini. 

Ada berbagai pendapat yang berbeda-beda, salah satu pendapat yang menarik disampaikan dengan sangat hati-hati, masuk akal, akal budi kita, tetapi juga akal iman kita. Pendapatnya begini: bisa jadi, wabah adalah reaksi natural atas kesalahan manusia secara kolektif terhadap alam. Dalam bahasa iman, wabah antara lain disebabkan oleh dosa ekologis, yang dimaksudkan kira-kira begini: wabah muncul karena manusia telah merusak tatanan dan harmoni alam

Perusakan alam itu membuat alam tidak seimbang lagi dan ini mempunyai akibat yang sangat luas dan beragam. Misalnya: pemanasan bumi, perubahan iklim, polusi yang mengotori semua elemen alam di darat, di laut maupun di udara dan munculnya berbagai macam penyakit baru. Ketidak keseimbangan alam ini membuat tubuh manusia tidak seimbang pula, imunitas melemah sehingga manusia menjadi rentan terhadap wabah

Seharusnya alam memiliki caranya sendiri untuk meredam wabah, tetapi ketika nafsu keserakahan dan kesombongan manusia telah merusak alam, wabah tidak terbendung. Mengenai keserakahan manusia ini, Paus Fransiskus mengatakan: “Dengan keserakahannya, manusia akan menggantikan tempat Allah. Dengan demikian akhirnya, membangkitkan pemberontakan alam. Kita semua terlibat di dalam dosa terhadap harmoni alam, yang telah diciptakan Allah sebagai semua baik dan amat baik adanya. itulah yang disebut dosa ekologis.” 

Wabah menurut pendapat ini adalah isyarat alamiah bahwa manusia telah mengingkari jati dirinya sebagai citra Allah yang bertugas untuk menjaga harmoni alam, bukan merusaknya. Wabah menyadarkan bahwa manusia adalah ciptaan yang rapuh, yang tidak mungkin bertahan jika alam ciptaan lain dihancurkan

Kita bersyukur, karena ditengah-tengah pandemi wabah virus Corona 19 ini kita menyaksikan kerelaan berkorban, solideritas yang dahsyat dalam berbagai macam bentuknya, dalam bahasa iman: “tumbuhnya kerelaan berkorban”, tumbuhnya solideritas adalah Paskah yang nyata

Semoga semua yang baik, tidak berhenti ketika nanti wabah ini lewat. Tetapi kita juga masih tetap berharap, bahkan dituntut untuk merayakan Paskah yang lain, yakni Paskah Ekologis. Ketika kita dibebaskan dari dosa ekologi kolektif maupun pribadi, dibebaskan dari sikap tidak peduli terhadap alam atau bahkan nafsu merusak alam dan dianugerahkan kepada kita kekuatan untuk terus mewujudkan Paskah Ekologis itu. memulihkan alam yang rusak, merawat dan menjaganya sebagai Ibu Bumi, rahim kehidupan yang sejahtera. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 180/IV/2020 » Homili Minggu Paskah 2020, Kardinal Suharyo).

Jumat, 24 Januari 2020

20.27 -

Kebenaran yang memerdekakan



Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kebenaran memiliki 8 arti, beberapa diantaranya adalah: keadaan yang cocok dengan keadaan yang sesungguhnya, sesuatu yang sungguh-sungguh (benar-benar) ada, kejujuran. Arti kata benar adalah lurus (hati), tidak bohong, dapat dipercaya (cocok dengan keadaan sebenarnya); merdeka berarti: keadaan (hal) berdiri sendiri (bebas, lepas, tidak terjajah lagi, dsb), kebebasan

Barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya (Yak 1:25). 

Keinginan untuk mengenal kebenaran yang sejati membuat orang penasaran. Karenanya ketika Pilatus bertemu dengan Tuhan Yesus ia bertanya: "Apakah kebenaran itu?" (Yoh 18:38a). 

Dengan tegas Tuhan Yesus mengatakan bahwa "firman Allah adalah kebenaran" (Yoh 17:17). Firman itu adalah Allah, telah menjadi manusia (Yoh 1:1, 14). Dia datang ke dalam dunia ini, supaya memberi kesaksian tentang kebenaran. Dialah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui-Nya. Setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Nya." (Yoh 14:6; 18:37). 

Salah satu kebenaran firman adalah Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia (Ibr 9:28). 

Ketika kita sakit, kita tidak bisa memilih-milih obat yang harus kita minum. Demikian juga dengan kebenaran, kita tidak bisa memilih-milih kebenaran yang menyenangkan telinga kita saja. Jika kita memilih-pilih firman, kita tidak sungguh-sungguh tinggal dalam firman. Walaupun kebenaran itu seperti pil pahit, kita harus memakannya agar menyembuhkan kita

Kita tidak akan tahu kebenaran seperti apa, jika kita tidak tinggal di sana. Seperti kita tinggal satu rumah dengan orang lain, kita akan tahu kebiasaan-kebiasaan orang-orang yang tinggal bersama dengan kita. Saat kita tinggal bersama, ada kehidupan yang terjadi. Demikian juga jika kita hidup bersama kebenaran, maka akan ada kehidupan yang terjadi. 

Untuk merdeka, kita harus tahu apa itu kebenaran. Saat kita tahu kebenaran, cara pandang kita terhadap sesuatu akan sesuai dengan kebenaran. Jika kita tidak tahu kebenaran, kita akan dengan mudahnya menerima inputan-inputan dari dunia, yang kemudian kita rohanikan

Cara pandang kita menentukan arah hidup kita. Jika cara pandang kita salah, hidup kita akan diaktifkan pada suatu yang salah. Tapi jika cara pandang kita benar, hidup kita akan dibawa pada kebenaran. 

Bukti memiliki kemerdekaan sejati: tidak mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan melayani seorang akan yang lain oleh kasih (Gal 5:13); memiliki kerinduan (Flp 2:13 » ada kemauan) untuk menjadi kawan sekerja Allah (1 Kor 3:9). Kerinduan ini berasal dari Allah, untuk melakukan apa yang Tuhan kehendaki dan rancangkan sejak semula untuk kita lakukan. 

Ketika kita merespon kehendak Allah ini, maka Ia akan memberikan kemampuan (kesehatan, keuangan, talenta/karunia) dan memberikan kesempatan (waktu) untuk tujuan hidup yang kekal, yaitu untuk kemuliaan Tuhan (1 Kor 10:31; Kol 3:17, 23 » Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia). 

Marilah kita belajar dari Yoh 8:31-47

Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang (A1) percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu (A2) tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah (3) murid-Ku dan kamu akan (A3) mengetahui kebenaran, dan (A4) kebenaran itu akan memerdekakan kamu." 

Jawab mereka: "Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapa pun. (B1) Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?" 

Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang (7) berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. Jadi (A5) apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka." 

"Aku tahu, bahwa kamu adalah keturunan Abraham, tetapi kamu berusaha untuk membunuh Aku karena (B2) firman-Ku tidak beroleh tempat di dalam kamu. Apa yang Kulihat pada Bapa, itulah yang Kukatakan, dan demikian juga kamu perbuat tentang apa yang kamu dengar dari bapamu." 

Jawab mereka kepada-Nya: "Bapa kami ialah Abraham." Kata Yesus kepada mereka: "Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham. Tetapi yang kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku; Aku, seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah; pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham. Kamu mengerjakan pekerjaan bapamu sendiri." Jawab mereka: "Kami tidak dilahirkan dari zinah. Bapa kami satu, yaitu Allah." 

Kata Yesus kepada mereka: (2) "Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku. 

Apakah sebabnya kamu (B3) tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu (B4) tidak dapat menangkap firman-Ku. (5) Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan (6) bapa segala dusta

Tetapi karena Aku mengatakan kebenaran kepadamu, kamu tidak percaya kepada-Ku. Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku? Barangsiapa (1) berasal dari Allah, ia mendengarkan firman Allah; itulah sebabnya (4) kamu tidak mendengarkannya, karena kamu tidak berasal dari Allah." 

» (1-3) Murid Kristus: berasal dari Allah. (A1-3) Sebagai murid Kristus, diberikan pengetahuan akan kebenaran, dan kebenaran itu akan memberi dampak pada pikiran, perasaan dan kehendak kita sehingga kita senantiasa menjadikan firman sebagai dasar dan pondasi hidup kita (Mzm 119:105 » Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku). 

Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut (Rm 8:1-2). 

Akhirnya, (A4-5) kitamerdekadalam memutuskan segala sesuatu karena ada kejujuran didalamnya (Mat 5:37 » Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat). 

(4-7) Bukan murid Kristus: berasal dari Iblis, pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, berkata atas kehendaknya sendiri, bapa segala dusta. 

Seseorang yang seringkali berbuat jahat dan licik, mengatakan percaya tapi tidak hidup dalam firman, dia bukanlah murid Kristus. Ia datang kepada Tuhan, bertanya kepada-Nya, tetapi tidak meminta kebenaran, meminta pembenaran. (B1-B3) Firman itu seakan-akan bertentangan dengan akal dan pikirannya. 

Tuhan tidak mau kita hanya percaya saja (Yak 1:23 » mendengar firman saja dan tidak melakukannya), namun kita harus menghidupi kepercayaan kita. Jadi, jika kita ingin bertumbuh di dalam Tuhan, maka kita harus percaya terlebih dahulu, menerima dengan iman, baru mengalami mujizat Tuhan (Mat 21:22). 

Berikan tempat untuk kebenaran yang ada di hati, jangan hanya mendengar saja (Yak 1:21 » firman yang tertanam dalam hati kita, yang berkuasa menyelamatkan jiwa kita). Biarlah firman Tuhan bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2 Tim 3:16). Ingatlah! Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan (Gal 5:1). 

(Sumber: Warta KPI TL No. 177/I/2020 » Renungan KPI 15 Agustus TL 2019, Dra Yovita Baskoro, MM).

Jumat, 20 Desember 2019

04.48 -

Menertawakan = menghina



Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya, ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa (Pkh 3:14).

Seorang doktor sekaligus ahli psikologi mengatakan bahwa tertawa adalah baik untuk kesehatan kitaHal ini tidak perlu diragukan lagi, karena Alkitab sendiri mengatakan bahwa, ''Hati yang gembira adalah obat yang manjur." (Ams 17:22).

Namun Alkitab membedakan antara tertawa yang baik dan tertawa yang buruk. Penulis kitab Pengkotbah menyatakan bahwa bagi orang-orang yang tidak memiliki tempat bagi Allah di hatinya, tertawa tidak lebih berharga dari duri yang terbakar (Pkh 7:6). 

Tuhan mencela setiap lelucon atau gurauan yang meremehkan orang lainataupun gurauan yang menyakitkan hati orang lainKadang ada orang yang telah berdosa, dan orang itu dijadikan bahan gurauan. 

Dosa bukanlah hal yang patut ditertawakanJoe E. Brown adalah seorang bintang film kelas atas dan seorang komedian pada masa Perang Dunia II. Ketika menghibur pasukan Amerika di Pasifik Selatan, ia diminta oleh seorang prajurit untuk menceritakan beberapa ''lelucon kotor."

Ia menjawab, ''Anakku, seorang pelawak seperti saya hidup untuk tepuk tangan dan hal-hal yang lucu. Namun jika menceritakan sebuah lelucon kotor merupakan harga yang harus saya bayar untuk menghiburmu, saya tidak tertarik untuk hal itu. Saya tidak akan melakukan peran yang akan mempermalukan ibu saya, dan saya tidak akan pernah mau melakukannya."

Tertawa yang sehat memiliki nilai yang besar! Stop mentertawakan kekurangan orang lain. Stop mentertawakan kegagalan orang lain. Stop mentertawakan kelemahan orang lain. Stop mentertawakan kejatuhan orang lain. Menertawakan pribadi orang lain itu menghina!

'Siapa menghina sesamanya berbuat dosa, tetapi berbahagialah orang yang menaruh belas kasihan kepada orang yang menderita (Amsal 14:21).

Tuhan, berilah kami hati yang gembira. Dan tolong kami untuk berhikmat sehingga kami hanya akan tertawa untuk alasan yang benar dan tentang sesuatu yang benar.

Senin, 11 November 2019

15.14 -

Musuh kita yang sebenarnya



[2 Tim 2:22-26] Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.

Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran

sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran

dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya.

[Ef 6:12] karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.


Sadarlah sesungguhnya musuh kita bukanlah manusianya, namun roh jahat yang menguasai hidup manusia itu

Sebagai orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan Yesus jangan pernah menjadikan orang yang berbuat jahat atau yang berbuat dosa sebagai musuh. 

Kehidupan seseorang yang beriman kepada Tuhan Yesus tidak akan pernah menjadikan orang lain sebagai musuh tetapi sebagai saudara, kawan dan teman

Sebab kasih itu sifatnya merangkul dan bersahabat. Jikalau menjadikan orang lain musuh, berarti ada yang salah dalam diri seseorang

Musuh kita yang utama adalah roh-roh jahat yang menguasai hidup manusia bukan manusianya. Ini haruslah kita ingat. Jangan pernah membenci orang yang berbuat jahat dan berbuat kesalahan kepadamu. 

Sesungguhnya tatkala ia melakukan hal yang jahat, ia tidak mengerti dan mengetahui bahwa roh jahatlah yang menguasai hidupnya

Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengucapkan doa ini :
Lukas 23:34 (TB) Yesus berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." 

Manusia yang melakukan hal yang jahat dan berbuat dosa dan kesalahan terhadap kita sesungguhnya ia tidak tahu apa yang ia perbuat sebab Iblislah yang membutakan mata rohaninya sehingga ia tidak mengerti bahwa hidupnya telah dikuasai yang jahat

Tatkala ada orang yang suka menjelekkanmu, ada yang suka menjatuhkanmu, ada yang suka meremehkanmu, itulah sebenarnya ada roh jahat yang bekerja atas hidup manusia. Bagaimanakah respon kita menghadapi hal ini? 

Saat orang lain menjelekkanmu, maka rendahkanlah dirimu dan balaslah dengan memberkati dalam doa sehingga engkau tidak terpancing untuk menjelekkannya

Saat orang lain menjatuhkanmu, maka rendahkanlah dirimu dan berdoalah kepada Tuhan mohon belas kasihan Tuhan untuk dirimu dan orang yang menjatuhkanmu itu. Maka Tuhan sendirilah yang akan bertindak untuk meninggikanmu

Saat orang lain meremehkanmu, maka rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan dan akuilah bahwa memang engkau bodoh tanpa Tuhan yang pimpin hidupmu sehingga engkau pun tidak membalas meremehkan orang lain tetapi mendoakannya

Kenapa ada keluar perkataan yang jahat terhadap seseorangJawabannya karena hidupnya masih dikuasai kepahitan dan kebencian. Ia belum sepenuhnya memiliki kasih dan pengampunan itu. 

Saat Tuhan Yesus menguasai hidup seseorang maka ia akan dimampukan untuk mengasihi (tidak membalas yang jahat dengan jahat tetapi membalasnya dengan kebaikan) dan mengampuni (tidak menyimpan kesalahan orang lain).

Ingatlah! Jangan pernah memusuhi orang lain tetapi yang menjadi musuh kita sebenarnya adalah Iblis dan roh-roh jahat yang menguasai hidup manusia itu.

Kamis, 17 Oktober 2019

05.07 -

Diantara umat-Ku terdapat orang-orang fasik




Dalam Alkitab bahasa Indonesia kata 'fasik' dan 'jahat' dapat dipertukarkan. Pusat kejahatan ada dalam hati manusia (Mat 15:19; Mrk 7:20-22), dipupuk oleh iblis (1 Yoh 3:12); kejahatan hati terus bertambah-tambah (Kej 6:5) dan sifatnya menular dalam penjelmaannya. 

Mereka merencanakan kejahatan terhadap orang benar dan beriktiar membunuh, membunuh orang yang tak bersalah (Mzm 37:12, 32-33; 10:8), tidak menaruh belas kasihan kepada sesamanya (Mzm 28:3; Ams 21:10). 

Kata orang fasik itu dengan batang hidungnya ke atas: "Allah tidak menuntut! Tidak ada Allah!" Ia berkata dalam hatinya: "Aku takkan goyang. Aku tidak akan ditimpa malapetaka turun temurun." (Mzm 10:4-6). 

Hal inilah yang menyebabkan kita cemburu kalau melihat kemujuran orang-orang fasik dan semua orang yang tidak berlaku tidak setia (Yer 12:1). Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka; mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain, mereka menambah harta dan senang selamanya! (Mzm 73:3-12). 

Ingatlah! Orang fasik maupun hasil kefasikannya sama-sama dibenci oleh Allah (Keb 14:9). Harta benda yang diperoleh dengan kefasikan tidak berguna, penghasilan orang fasik membawa kerusakan, membawa kepada dosa (Ams 10:2, 16; 15:6). 

Akhirnya, tanpa sadar kita menuntut tentang keadilan kepada Tuhan: “Mereka menyalahgunakan kasih karunia Allah kita untuk melampiaskan hawa nafsu mereka, menyangkal satu-satunya Penguasa dan Tuhan kita, Yesus Kristus (Yud 1:4). Mengapa Engkau berdiam diri, apabila orang fasik menelan orang yang lebih benar dari dia (Hab 1:13), mereka meminjam dan tidak bayar kembali (Mzm 37:21), menerima hadiah suapan dari pundi-pundi untuk membelokkan jalan hukum (Ams 17:23), mulutnya membinasakan sesama manusia, hanya tahu tipu muslihat, mencurahkan hal-hal yang jahat, penuh dengan sumpah serapah, dengan tipu dan penindasan; di lidahnya ada kelaliman dan kejahatan (Ams 11:9; 10:32; 15:28; Mzm 10:7). Berapa lama lagi orang-orang fasik beria-ria?” (Mzm 94:3). 

Bicaramu kurang ajar tentang Aku. Kamu berkata: "Adalah sia-sia beribadah kepada Allah. Apakah untungnya kita memelihara apa yang harus dilakukan terhadap-Nya dan berjalan dengan pakaian berkabung di hadapan Tuhan semesta alam? Oleh sebab itu kita ini menyebut berbahagia orang-orang yang gegabah, bukan saja mujur orang-orang yang berbuat fasik itu, tetapi, mereka luput juga." (Mal 3:13-15). 

Menjelang akhir zaman akan tampil pengejek-pengejek yang hidup menuruti hawa nafsu kefasikan. Mereka adalah pemecah belah, hidupnya dikuasai hanya oleh keinginan-keinginan dunia dan hidup tanpa Roh Kudus (Yud 8-9).

Sesungguhnya, diantara umat-Ku terdapat orang-orang fasik yang memasang jaringnya; seperti penangkap burung mereka memasang perangkapnya, mereka menangkap manusia (Yer 5:26). Mereka menggerutu dan mengeluh tentang nasibnya, hidup menuruti hawa nafsunya, mulut mereka mengeluarkan perkataan-perkataan yang bukan-bukan dan menjilat orang untuk mendapatkan keuntungan (Yud 15-16). 

Kamu akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang fasik (Mal 3:18). Tuhan menjaga semua orang yang mengasihi-Nya, tetapi semua orang fasik akan dibinasakan-Nya (Mzm 145:20). 

Orang yang tak percaya terasing dari Allah karena tindak kejahatan mereka (Kol 1:21). Tapi orang yang bertumbuh dalam iman mengalahkan yang jahat: perisai iman ialah pertahanan yang teguh melawan semua serangan kejahatan (Ef 6:16). 

Jadi, jangan menjadi marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri kepada orang fasik. Karena tidak ada masa depan bagi penjahat, pelita orang fasik akan padam (Ams 24:19-20). 

Orang fasik meninggalkan Taurat (Mzm 119:53). Keselamatan menjauh dari orang-orang fasik, sebab ketetapan-ketetapan-Ku tidaklah mereka cari (Mzm 119:155). Rencana orang fasik akan diselidiki kelak, dan laporan tentang perkataannya sampai ke hadapan Tuhan, supaya pelanggaran-pelanggarannya dihukum (Keb 1:9). Malapetaka akan menimpanya, sebab mereka akan diperlakukan menurut perbuatannya sendiri (Yes 3:11). 

Orang-orang fasik adalah seperti laut yang berombak-ombak sebab tidak dapat tetap tenang, dan arusnya menimbulkan sampah dan lumpur, tidak ada damai sejahtera (Yes 57:20-21; 48:22), tidak akan beroleh kebahagiaan ... Karena ia tidak takut terhadap hadirat Allah (Pkh 8:13). 

Kepada orang fasik Allah berfirman: "Apakah urusanmu menyelidiki ketetapan-Ku, dan menyebut-nyebut perjanjian-Ku dengan mulutmu, padahal engkaulah yang membenci teguran, dan mengesampingkan firman-Ku

Jika engkau melihat pencuri, maka engkau berkawan dengan dia, dan bergaul dengan orang berzinah. Mulutmu kaubiarkan mengucapkan yang jahat, dan pada lidahmu melekat tipu daya. Engkau duduk, dan mengata-ngatai saudaramu, memfitnah anak ibumu. Itulah yang engkau lakukan, tetapi Aku berdiam diri; engkau menyangka, bahwa Aku ini sederajat dengan engkau. 

Aku akan menghukum engkau dan membawa perkara ini ke hadapanmu. Perhatikanlah ini, hai kamu yang melupakan Allah; supaya jangan Aku menerkam, dan tidak ada yang melepaskan." (Mzm 50:16-22). 

Orang fasik tertangkap dalam kejahatannya, dan terjerat dalam tali dosanya sendiri (Ams 5:22); Terjerat dalam perbuatan tangannya sendiri (Mzm 9:16). Orang-orang fasik menghunus pedang dan melentur busur mereka untuk merobohkan orang-orang sengsara dan orang-orang miskin, untuk membunuh orang-orang yang hidup jujur; tetapi pedang mereka menikam dada mereka sendiri, dan busur mereka dapat dipatahkan (Mzm 37:14-15). 

[Rm 1:18-32] Murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman. Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. 

Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. 

Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh. 

Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar. 

Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka. Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin. 

Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka. 

Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas: penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan. 

Mereka adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua, tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan. 

Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya. 

Mereka akan ditertawakan Tuhan, sebab Ia melihat bahwa harinya sudah dekat (Keb 4:18; Mzm 37:13), mereka akan binasa di hadapan Tuhan seperti asap hilang tertiup, seperti lilin meleleh di depan api (Mzm 68:2), masa depannya akan dilenyapkan (Mzm 37:34, 38). 

[Ams 4:1-27] Dengarkanlah, hai anak-anak, didikan seorang ayah, dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian, karena aku memberikan ilmu yang baik kepadamu; janganlah meninggalkan petunjukku. 

Karena ketika aku masih tinggal di rumah ayahku sebagai anak, lemah dan sebagai anak tunggal bagi ibuku, aku diajari ayahku, katanya kepadaku: "Biarlah hatimu memegang perkataanku; berpeganglah pada petunjuk-petunjukku, maka engkau akan hidup. Perolehlah hikmat, perolehlah pengertian, jangan lupa, dan jangan menyimpang dari perkataan mulutku. Janganlah meninggalkan hikmat itu, maka engkau akan dipeliharanya, kasihilah dia, maka engkau akan dijaganya

Permulaan hikmat ialah: perolehlah hikmat dan dengan segala yang kauperoleh perolehlah pengertian. Junjunglah dia, maka engkau akan ditinggikannya; engkau akan dijadikan terhormat, apabila engkau memeluknya. Ia akan mengenakan karangan bunga yang indah di kepalamu, mahkota yang indah akan dikaruniakannya kepadamu." 

Hai anakku, dengarkanlah dan terimalah perkataanku, supaya tahun hidupmu menjadi banyak. Aku mengajarkan jalan hikmat kepadamu, aku memimpin engkau di jalan yang lurus. Bila engkau berjalan langkahmu tidak akan terhambat, bila engkau berlari engkau tidak akan tersandung. Berpeganglah pada didikan, janganlah melepaskannya, peliharalah dia, karena dialah hidupmu. 

Janganlah menempuh jalan orang fasik, dan janganlah mengikuti jalan orang jahat. Jauhilah jalan itu, janganlah melaluinya, menyimpanglah dari padanya dan jalanlah terus. Karena mereka tidak dapat tidur, bila tidak berbuat jahat; kantuk mereka lenyap, bila mereka tidak membuat orang tersandung; karena mereka makan roti kefasikan, dan minum anggur kelaliman. 

Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari. Jalan orang fasik itu seperti kegelapan; mereka tidak tahu apa yang menyebabkan mereka tersandung

Hai anakku, perhatikanlah perkataanku, arahkanlah telingamu kepada ucapanku; janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di lubuk hatimu. Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka. 

Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. Buanglah mulut serong dari padamu dan jauhkanlah bibir yang dolak-dalik dari padamu. Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka. Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan. 

Hai orang-orang yang dikasihi Tuhan, bencilah kejahatan! Dia, yang memelihara nyawa orang-orang yang dikasihi-Nya, akan melepaskan mereka dari tangan orang-orang fasik (Mzm 97:10). 

[Yeh 18:21-24] Tetapi jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya dan berpegang pada segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, ia tidak akan mati. Segala durhaka yang dibuatnya tidak akan diingat-ingat lagi terhadap dia; ia akan hidup karena kebenaran yang dilakukannya. Apakah Aku berkenan kepada kematian orang fasik? demikianlah firman Tuhan Allah. Bukankah kepada pertobatannya supaya ia hidup? 

Jikalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan seperti segala kekejian yang dilakukan oleh orang fasik - apakah ia akan hidup? Segala kebenaran yang dilakukannya tidak akan diingat-ingat lagi. Ia harus mati karena ia berobah setia dan karena dosa yang dilakukannya. 

Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada Tuhan, maka Dia akan mengasihinya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya (Yes 55:7). 

(Sumber: Warta KPI TL 174/X/2019).

Senin, 20 Mei 2019

18.33 -

Pohon berduri



Di sebuah desa yg tenteram ada seorang pria yg menanam pohon berduri tepat di depan jalan menuju pintu masuk rumahnya. Sang Kepala desa sudah berulang kali memperingatkannya agar memotong pohon berduri itu. Setiap kali diingatkan, orang itu selalu mengatakan akan dipotong besok hari. Beberapa tahun berlalu, orang itupun bertambah tua tetapi pohon itu belum juga dipotong. 

Duri-duri itu tidak saja melukai orang yang melalui jalan tetapi juga melukai pemiliknya. Sang pemiliknya kini sangat ingin memotong pohon itu. Tetapi apa daya usianya sudah sangat tua. Ia pun sudah lemah hingga tidak mampu lagi untuk memotong pohon tersebut. 

Itulah sebuah perumpamaan. Di dalam hidup ini, kita juga sering kali melakukan hal yang sama, kita banyak sekali menanam pohon berduri di dalam diri kita, duri-duri itu tidak saja menusuk orang lain tetapi juga menusuk diri kita sendiri

Pohon duri dalam diri tersebut adalah kebencian, kemarahan, kesombongan, dan hal-hal negatif lainnya. Selagi masih kecil dan belum terlalu terlambat, tebanglah pohon duri tersebut sekarang juga.

(Sumber: Warta KPI TL No. 169/V/2019)

Jumat, 09 November 2018

04.13 -

Indulgensi



Ajaran mengenai indulgensi [penghapusan siksa dosa] dan penggunaannya di dalam Gereja terkait erat sekali dengan daya guna Sakramen Pengakuan.

Apakah Itu Indulgensi ?

"Indulgensi adalah penghapusan siksa-siksa temporal di depan Allah untuk dosa-dosa yang sudah diampuni. Warga beriman Kristen yang benar-benar siap menerimanya, di bawah persyaratan yang ditetapkan dengan jelas, memperolehnya dengan bantuan Gereja, yang sebagai pelayan penebusan membagi-bagikan dan memperuntukkan kekayaan pemulihan Kristus dan para kudus secara otoritatif"."

Ada indulgensi sebagian atau seluruhnya, bergantung dari apakah ia membebaskan dari siksa dosa temporal itu untuk sebagian atau seluruhnya." 

Indulgensi dapat diperuntukkan bagi orang hidup dan orang mati (Paulus VI, Konst. Ap. "Indulgentiarum doctrina" normae 1-3) (KGK 1471).

Indulgensi diberikan melalui Gereja, yang berkat wewenangnya untuk mengikat dan melepaskan yang diterimanya dari Yesus Kristus, membela warga Kristen yang bersangkutan dan memperuntukkan kepadanya kekayaan jasa-jasa Kristus dan para kudus, supaya ia dapat menerima dari Bapa yang mahabelas kasihan penghapusan siksa-siksa sementara yang harus ditanggung untuk dosa-dosanya. 

Dengan cara ini Gereja tidak hanya membantu warga Kristen ini, tetapi juga mengajaknya untuk melakukan karya-karya kesalehan, pertobatan, dan amal (Bdk. Paulus VI. Konst. Ap. "Indulgentiarum doctrina"8; Konsili Trente: DS 1835) (KGK 1478).

Oleh karena umat beriman yang telah meninggal yang masih berada pada jalan penyucian adalah juga anggota-anggota persekutuan para kudus ini, maka kita antara lain dapat membantu mereka dengan memperoleh indulgensi bagi mereka. Dengan demikian dihapuskan siksa dosa sementara para orang mati di dalam purgatorium [api penyucian] (KGK 1479).

(Sumber: KGK 1471, 1478-1479).



Kamis, 19 Juli 2018

18.19 -

Contoh dosa



 

Dosa - Sepuluh Perintah Allah

Perintah Pertama
1. Menyangkal atau meragukan iman.
2. Menggerutu pada Allah?\.
3. Putus asa dalam belas kasihan-Nya.
4. Melewatkan doa harian pribadi.
5. Pergi beribadah di tempat lain.
6. Berbicara menentang imam, Gereja, atau iman Katolik.
7. Pergi ke peramal.
8. Terlibat dengan okultisme (kuasa gelap).
9. Terlibat praktik takhyul.
10. Terlibat materialisme.
11. Memilih secara bebas untuk berbuat jahat.
12. Membaca buku yg bertentangan dengan iman.

Perintah kedua
1. Mengutuk dengan menggunakan nama Tuhan/Yesus.
2. Mengatakan pada orang lain: allah mengutukmu.
3. Mengutuk anak/istri/suami.
4. Mengutuk di depan anak kecil (sehingga memberi teladan buruk).
5. Bersumpah dengan terburu-buru.
6. Memprovokasi orang lain untuk mengutuk.
7. Tidak mencegah diriku sedapat mungkin untuk mengutuk.
8. Berbicara menentang orang kudus, praktik-praktik kesalehan.

Perintah Ketiga
1. Melewatkan Misa dan Hari Raya Wajib karena kesalahanku sendiri.
2. Melewatkan Hari Mainggu dan Hari Raya Wajib dengan aktivitas dosa.
3. Terlambat mengikuti Misa karena kesalahan sendiri.
4. Tidak berkonsentrasi ketika Misa.
5. Bekerja di hari Minggu / Hari Raya Wajib, walaupun sebenarnya tidak perlu.

Perintah Keempat
Untuk Anak
1. Tidak menaati mereka.
2. Membuat mereka marah.
3. Menggunakan kata-kata kasar yang menghina.
4. Menyia-nyiakan gaji yang kuperoleh yang seharusnya bisa kuberikan pada mereka.
5. Tidak mendukung (atau menopang kehidupan) mereka.
6. Memprovokasi saudara/i untuk melawan mereka.
7. Mengabaikan untuk mengabari mereka (jika terpisah jauh).Tidak mengirim bantuan.
8. Mengabaikan mereka dalam sakit dan pada waktu mati.

Untuk Suami/Ayah
1. Mendukakan atau menganiaya istri.
2. Menuduh istri.
3. Lalai menghidupi keluarga.
4. Memberi contoh buruk pada anakku.
5. Lalai mengkoreksi kesalahan anakku.
6. Lalai mengajarkan agama.
7. Ikut campur (tidak mendukung) terhadap panggilan religius yang mereka rasakan.

Untuk Istri
1. Tidak menaati suamiku
2. Menyebabkan anakku tidak menghormati ayah mereka.
3. Membicarakan kesalahan suamiku pada anak dan tetangga dengan tujuan tidak baik.
4. Lalai mengkoreksi kesalahan anakku.
5. Memberi contoh buruk pada anakku.
6. Lalai mengajarkan agama.
7. Ikut campur (tidak mendukung) terhadap panggilan religius yang mereka rasakan.

Perintah Kelima
1. Aku marah.
2. Aku menyebabkan orang lain marah.
3. Bertengkar atau beradu mulut (tidak dengan tujuan baik).
4. Menginginkan kematian orang lain.
5. Menyebarkan kebencian pada orang lain.
6. Menyetujui atau menggunakan alat kontrasepsi.
7. Menolak untuk berdamai dengan orang lain.
8. Lalai sehingga menyebabkan orang lain meninggal.
9. Membuat malu keluarga, sekolah, komunitas, atau Gereja.
10. Menyebarkan kabar bohong tentang orang lain.
11. Membuat orang lain berdosa dengan perkataan atau contoh hidup.
12. Menggunakan narkoba.

Perintah Keenam dan Kesembilan
1. Melakukan seks pranikah, termasuk oral seks.
2. Menikmati pikiran kotor.
3. Memiliki keinginan kotor.
4. Berbicara yang tidak senonoh.
5. Mengumbar dosa ketidakmurnian.
6. Menyanyikan atau mendengarkan lagu yang tidak senonoh.
7. Membaca buku atau tulisan yang tidak senonoh.
8. Berpenampilan tidak senonoh.
9. Menyimpan, mempertunjukan, atau melihat pornografi.
10. Pergi ke tempat yang menawarkan hiburan tidak senonoh.
11. Melakukan tindakan-tindakan senonoh.
12. Melakukan seks sesama jenis.
13.Melakukan tindakan senonoh seorang diri (melakukan masturbasi).

Perintah Ketujuh dan Kesepuluh
1. Mencuri barang.
2. Menimbulkan kerusakan barang, menipu perusahaan asuransi.
3. Mengambil uang dari pegawaiku.
4. Mencuri uang sekian namun hanya mengembalikan sekian, walau aku mampu.
5. Aku membuang-buang waktu dalam pekerjaan.
6. Mencelakakan orang lain dalam pekerjaan mereka.
7. Dengan sengaja melalaikan pembayaran rekening atau utang.
8. Memalsukan ukuran kuantitas.
9. Menipu mereka yang saya pekerjakan.
10. Tidak mendistribusikan upah pegawai dengan adil.
11. Menginginkan milik sesama secara tidak adil.

Perintah Kedelapan
1. Berkata bohong
2. Pembunuhan karakter dengan menyebar fitnah
3. Menimbulkan masalah dalam pergaulan
4. Dengan sengaja berbohong untuk menyakiti sesama
5. Membocorkan kesalahan orang lain, walaupun sebenarnya tidak perlu
6. Dengan sengaja melanggar janji
7. Memfitnah orang lain?
8. Mendorong orang yang melakukan fitnah
9. Gagal memperbaiki dosa perkataan

Dosa - Lima Perintah Gereja
1. Melalaikan pengakuan dosa minimal setahun sekali dan komuni pada Masa Paskah.
2. Melakukan pernikahan yang berlawanan dengan hukum Gereja.
3. Tidak mendukung Gereja, padahal mampu.
4. Tidak berpantang dan berpuasa pada hari yang ditentukan.
5. Menyebabkan orang lain tidak berpantang atau berpuasa.

Tujuh Dosa Pokok
1. Apa aku rakus?
2. Memiliki kebiasaan mabuk-mabukan.
3. Menyebabkan orang lain mabuk-mabukan.
4. Malas-malasan dalam latihan rohani.
5. Apa aku malas?
6. Apa aku iri?
7. Apakah aku ingin menikmati kesenangan-kesenangan yang melanggar kemurnian?
8. Apa aku terobsesi pada materi?
9. Apa aku terobsesi untuk balas dendam?
10. Apakah aku kurang rendah hati?

Empat Dosa yang Teriakannya Sampai ke Surga
1. Apa aku melakukan pembunuhan terncana (termasuk aborsi)?
2. Apa aku melakukan dosa sodom (hubungan sex yang tidak wajar)?
3. Apa aku menekan orang miskin?
4. Apa aku menahan upah pegawai/buruh?

Enam Dosa melawan Roh Kudus
1. Melakukan dosa dengan anggapan bahwa Allah pasti mengampuni.
2. Begitu putus asa sampai tidak percaya kerahiman Allah.
3. Menyerang atau mempertanyakan kebenaran yang sudah diketahui.
4. Iri hati akan keutamaan orang lain.
5. Enggan untuk menolak sesuatu (padahal diriku sudah tahu kalau itu dosa).

Sembilan cara membuat orang lain berdosa

1. Menasihati orang untuk berbuat dosa.
2. Memerintahkan orang untuk berdosa.
3. Menyetujui orang berbuat dosa.
4. Memprovokasi orang agar berdosa.
5. Memuji orang yang berbuat dosa.
6. Menutup mulut demi menyembunyikan dosa orang.
7. Terlibat aktif dalam dosa orang.
8. Diam saja apabila ada orang berbuat dosa.
9. Mencoba untuk merasionalisasi dosa yang akan dilakukan atau dilakukan orang.