Jumat, 30 Oktober 2015

Santa Anna dan Santo Yoakim



Kisah kehidupan Anna (rahmat/karunia) dan Yoakim (persiapan bagi Tuhan) tidak diceritakan di dalam Injil tetapi diperoleh dari sebuah cerita apokrif.

Keduanya dikenal sebagai keturunan Raja Daud yang setia menjalankan kewajiban-kewajiban agamanya serta dengan ikhlas mengasihi dan mengabdi kepada Allah dan sesamanya. Oleh karena itu keduanya layak di hadapan Allah untuk turut serta dalam karya keselamatan Allah.



Anggapan umum masyarakat Yahudi pada waktu itu – jika seseorang tidak dapat menghasilkan keturunan itu sebagai kutukan Allah atas dirinya. 



Setiap tahun, Anna bersama Yoakim suaminya berziarah ke Bait Allah Yerusalem untuk berdoa. Ia berjanji, kalau Tuhan menganugerahkan anak kepadanya, maka anak itu akan dipersembahkan kembali kepada Tuhan



Syukurlah suatu hari malaikat Tuhan mengunjungi Anna yang sudah lanjut usia itu membawa warta gembira ini: “Tuhan berkenan mendengarkan doa ibu! Ibu akan melahirkan seorang anak perempuan, yang akan membawa sukacita besar bagi seluruh dunia!” Setelah genap waktunya, lahirlah seorang anak wanita yang manis yang diberi nama Maria.

Pesta Santa Anna dan Santo Yoakim, orang tua Santa Perawan Maria: 26 Juli

Santa Anna pelindung kaum ibu, khususnya yang sedang hamil dan sibuk mengurusi keluarganya.

(Sumber: Warta KPI TL No. 35/III/2007; Orang Kudus Sepanjang Tahun, Mgr. Nicolaas Martinus Schneiders, CICM).




Santo Yusuf




Darah kebangsawanan Yusuf mengalir dari Raja Daud leluhurnya (Mat 1:20). Ia seorang bangsawan yang tulus hati, rela berkorban dan taat pada kehendak Allah untuk menerima Maria sebagai istrinya serta mendampingi Maria dalam membesarkan Yesus, Putra Allah yang menjadi manusia. 


Kesucian, kesalehan dan kesederhanaannya terlihat di dalam pekerjaannya sebagai seorang tukang kayu, dan cara hidupnya yang biasa-biasa saja di dalam masyarakat (Mat 13:55).



Dalam pribadi Yusuf, pekerjaan tangan memperoleh suatu dimensi ilahi. Kerja meningkatkan harkat dan martabat manusia sebagai ciptaan Allah dan memungkinkan manusia turut serta di dalam karya penciptaan dan penyelamatan Allah. 



Sri Paus Pius IX (1846-1878) pada tanggal 8 Desember 1870 menetapkan Yusuf sebagai pelindung Gereja Universal

Dalam litani Santo Yusuf, Yusuf dilukiskan sebagai pelindung bagi para buruh/karyawan, keluarga, para perawan, orang-orang sakit dan orang-orang yang telah meninggal, dihormati sebagai tokoh dan kehidupan rohani, pelindung para fakir miskin, para penguasa, bapa-bapa keluarga, imam-imam dan kaum religius serta pelindung para peziarah.

Pada tahun 1937, Sri Paus Pius XI (1922-1939) mengangkat Santo Yusuf sebagai pelindung perjuangan Gereja melawan komunisme ateistik. Pada abad ke delapan dan kesembilan, tanggal 19 Maret ditentukan sebagai Hari Raya utama Santo Yusuf. 

Pada tahun 1955, Sri Paus Pius XII (1939-1958) memaklumkan pesta Santo Yusuf Pekerja yang dirayakan pada tanggal 1 Mei. 

Pesta ini menekankan martabat pekerjaan dan keteladanan Santo Yusuf sebagai seorang pekerja dan untuk menyatakan kembali keikutsertaan Gereja dalam karya penyelamatan Allah.


Pada tahun 1961, Sri Paus Yohanes XX111 (1958-1963) memilih Yusuf sebagai pelindung sorgawi Konsili Vatikan II. Nama Yusuf mulai dimasukkan dalam Kanon Misa pada tahun 1962.

Pesta Santo Yusuf, Suami Maria: 19 Maret

Pesta Santo Yusuf Pekerja, Pelindung para Karyawan: 1 Mei

(Sumber: Warta KPI TL No. 35/III/2007; Orang Kudus Sepanjang Tahun, Mgr. Nicolaas Martinus Schneiders, CICM).

04.41 -

Silsilah Yesus Kristus

Kehamilan terjadi akibat adanya persetubuhan yaitu pertemuan antara sel sperma laki-laki dan sel telur perempuan. Begitu ada persetubuhan, maka sel telur mengalami proses fertilisasi/pembuahan dan terjadilah kehidupan dalam rahim perempuan dan darah terbentuk dalam janin itu. 

Janin mengembangkan darahnya sendiri setelah adanya pembuahan dari sel sperma laki-laki. Garis darah itu berasal dari laki-laki. Kalau tidak ada laki-laki yang terlibat, maka tidak ada darah bagi si janin. Oleh karena itu, kita sering melihat bahwa pada umumnya manusia menyebutkan keturunannya berdasarkan garis laki-laki. 

Ketika bayi mulai bertumbuh dalam rahim, bayi dipisahkan dari ibunya dengan placenta. Darah sang ibu hanya berada di luar placenta dan melalui proses osmosis, segala nutrisi penting dan oksigen masuk ke dalam aliran darah sang bayi. Darah sang ibu sendiri tidak masuk ke dalam placenta dan bersikulasi kembali ke seluruh tubuh sang ibu. 

Jadi kesimpulannya sang bayi menerima nutrisi dan oksigen dari darah sang ibu tapi tidak menerima satu tetes darahpun dari sang ibu.

***
Hidup manusia ada di dalam darahnya (Im 17:11). Darah merupakan zat yang sangat unik – sesungguhnya adalah jaringan hidup yang perlu bersikulasi, memerlukan udara (Oksigen). Kalau darah tidak bersikulasi, maka kita akan mati.

Tubuh Adam dengan cairan darah yang siap menjadi hidup setelah dihembuskan nafas hidup oleh Allah (Kej 2:7). Jadi kehidupan Allah itu dimasukkan ke dalam darah manusia sehingga manusia berada dalam taraf yang sama yaitu menjadi makhluk roh (Yer 37:14); karena Allah itu Roh sumber hidup (2 Kor 3:17).

Adam diciptakan Allah untuk hidup kekal, tetapi karena dosa mencemari darahnya ia hidup hanya 930 tahun (mungkin kita berpikir 930 tahun terlalu lama, tapi dibanding dengan kekekalan angka itu tidak ada artinya).

Manusia pertama Adam menjadi makhluk hidup berasal dari debu tanah – yang alamiah. Semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam. Adam yang terakhir menjadi roh yang menghidupkan berasal dari sorga – yang rohaniah. Semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus (1 Kor 15:45-49, 22).

Ada dosa dalam darah manusia. Manusia dikatakan berdosa bukan karena perbuatannya tapi karena sifat hakikinya. Perbuatan dosa itu hanyalah manifestasi dari keberadaan manusia yang berdosa.

***
Kalau Yesus pun dilahirkan melalui persetubuhan antara Yusuf dan Maria, maka Dia menjadi sama dengan kita semua, orang berdosa tidak dapat menebus manusia karena darah manusia sudah mengandung kematian. Hanya orang yang tidak berdosa yang dapat menebus orang berdosa.

Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang? (Luk 6:39).

***
Kata malaikat Gabriel kepada Maria: “Jangan takut, hai Maria sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan merlahirkan seorang anak laki-laki ... Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepadanya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakup sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan … Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kau lahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah (Luk 1:30- 35).

Bagaimana janin bisa terbentuk dalam rahim perawan Maria? Maria menyimpan firman Tuhan seperti yang malaikat Gabriel sampaikan bahwa ia akan mengandung. Maria percaya dan ia membuahi firman Tuhan (Firman telah menjadi daging yaitu janin yang ada di rahim Maria – Yoh 1:14).

Jadi darimana Yesus menerima darah-Nya berhubung tidak ada persetubuhan yang terjadi? Hanya ada satu tempat darah-Nya berasal yaitu dari sorga. 

Apa yang ada dari dunia ini sudah terpolusi dosa, sedangkan apa yang dari sorga adalah kudus dan tidak berdosa.

Yesus datang bukanlah membawa agama yang mengajarkan cara berbuat baik untuk menuju sorga. Yang Ia bawa adalah hidup-Nya dan Ia menawarkan hidup itu lewat darah-Nya. Oleh karena itulah, Ia rela disalib supaya darah-Nya bisa menggenangi bumi ini dengan hidup-Nya. 

Keselamatan itu hanya terbuka bagi orang yang mau menerima-Nya. Tapi barangsiapa yang menolak-Nya, mereka tetap berada dalam kematian meskipun secara lahiriah hidup.

Dipemandangan Allah, kita itu menerima tranfusi darah Yesus bila kita menerima-Nya sebagai Juruselamat – bukan tranfusi secara fisik melainkan secara roh

Iblis tidak bisa menuduh lagi saudara sebagai orang berdosa karena yang membenarkan saudara itu bukan perbuatan baik melainkan darah Yesus.

... perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku (1 Kor 11:25)

***

Silsilah dalam Kitab Matius dimulai dari Abraham sampai Daud, sedang Kitab Lukas dimulai dari Adam sampai Daud, maka silsilah terpecah menjadi dua antara anak-anak Daud, yaitu Natan (Luk 3:31) dan Salomo (Mat 1:6). 

Kemudian baik Matius maupun Lukas sama-sama menyebutkan Yusuf (Mat 1:16; Luk 3:23) sebagai anak Natan dan Salomo. Padahal, dari silsilah Natan akan melahirkan Maria dan dari silsilah Salomo akan melahirkan Yusuf. 

Pada umumnya, pencatatan silsilah dalam Alkitab itu didasarkan atas garis keturunan dari pihak laki, sehingga nama Maria tidak terlalu penting ditulis dalam garis silsilah. Nama Yusuf dipakai karena dianggap sebagai kepala keluarga. Bila kita gabungkan silsilah dalam Matius dan Lukas, maka kedua-duanya saling melengkapi - tidaklah menunjukkan perbedaan.

Yusuf bukanlah ayah secara biologis dari Yesus (menurut anggapan orang – Luk 3:23), karena Yekhonya (nenek moyang Yusuf) sudah dikutuk Tuhan (seorang pun dari keturunannya tidak akan berhasil duduk di atas takhta Daud – Yer 22:28-30). Jadi melalui garis Marialah, Matius mencatat Yesus mewarisi takhta Daud.

(Sumber: Warta KPI TL No. 35/III/2007; Silsilah Yesus Kristus, Jamahan edisi 110/X/Oktober 2006; Keajaiban Kelahiran-Nya, Jamahan edisi 88/VIII/Desember 2004 + edisi 89/IX/Januari 2005).





04.20 -

Pemulihan Hubungan Suami Istri

Dosa pertama kali dimulai ketika Hawa dicobai, mengambil peran terbalik (bukan sebagai penolong tetapi sebagai pemimpin) - memimpin perjalanan, menghadapi mara bahaya ular dengan tipu muslihatnya, mengambil keputusan dan Adam mengikuti keputusan itu. Peran terbalik ini besar sekali bahayanya


Ketika Hawa berdosa, Tuhan minta pertanggung jawaban Adam (Rm 5:14). Karena Tuhan memberikan firman itu kepada Adam, jadi tugas Adam harus mengerti kebenaran firman dan mengajarkan pada keluarganya.

Ketika manusia jatuh di dalam dosa, ada tiga hubungan yang rusak:

1. Hubungan manusia dengan Allah.
2. Hubungan manusia dengan manusia.
3. Hubungan manusia dengan alam – karena Tuhan mengutuk bumi. 

Dosa membuat tanah bahkan manusia dikutuk oleh Allah – ‘terkutuklah tanah; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu … dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu’ (Kej 3:17-18), contoh: 

Seorang yang pintar waktu sekolah tapi sukar sekali dapat pekerjaan.
Ada orang yang biasa-biasa saja tapi sukses luar biasa.
Ada yang pandai teologianya/punya pengertian banyak Kitab Suci tapi Tuhan tidak pakai dipelayanan.
Ada orang yang sederhana yang nggak perlu belajar tapi Tuhan pakai secara luar biasa.
Ada yang orang buka usaha gagal, ganti usaha jenis lainnya gagal lagi.
Dikeluarkan/tidak cocok dengan atasannya.
Ada juga yang kerja tapi tabungannya bocor (uang banyak, pengeluaran banyak karena penyakit, ditipu orang, kecurian dll.)

Setelah dosa masuk dalam pernikahan maka Allah mengutuk bahwa ‘perempuan akan birahi kepada suaminya’ bukan romantis tapi cenderung kudeta dalam rumah tangganya (pemberontak/penggonggong/penodong), berusaha untuk menguasai suaminya, cenderung berada di atas suaminya (Kej 3:16). Sehingga muncul begitu banyak gender/emansipasi dan mereka melupakan bahwa Tuhan menetapkan perempuan sepadan - bukan di atas/di bawah.

Secara hukum rohani dengan kelahiran baru kita sudah bebas dari kutuk-kutuk tapi ada yang perlu kita bebaskan yaitu ‘tabiat’ (lahir dari pikiran kita) melakukan perubahan pola pikir/paradigma pikiran ini dengan kebenaran-kebenaran firman Tuhan. 

Tugas laki-laki

Menjadi imam – memberikan pemahaman/pengertian terhadap kebenaran firman Tuhan dalam keluarganya.

Harus berada di hadirat Allah sebagai sumber kepuasannya – sehingga tahu visi yang ditaruh dihidupnya dan Tuhan akan memberkati segala usahanya (kutuk ekonomi akan terhapus dalam belenggu keluarga itu).

Laki-laki yang selalu di hadirat Allah dalam mengambil keputusan bisnis/ekonomi selalu mengambil keputusan benar karena ‘selalu tanya Tuhan, mampu mendengar ketika Tuhan berbicara, tahu tawaran yang baik/super tidak baik yang ujungnya tidak baik’. Ada di hadirat Allah otomatis ada damai sejahtera dan ada begitu banyak berkat yang Tuhan sediakan.

Laki-laki yang tidak mempunyai kepuasan di hadirat Allah, tidak bisa merasakan kepuasan di bidang lainnya misalnya: bisnis, sex - hatinya jahat di mata allah.

Dalam zaman modern ini, istri yang lebih tahu masalah firman.

Pemulihan keluarga terjadi jika suami kembali ke taman Eden dengan satu tujuan untuk mengasihi dan mencintai Allah, bukan untuk mendapat berkat – jadi ubahlah pola pikir (metanoia).

Syaratnya:

1. Harus selalu berada di Taman Eden (tempat kemuliaan/di titik hadirat Allah – aura Allah ke luar dalam kehidupannya), istri akan tunduk dengan sukacita tanpa terpaksa/takut pada dosa.

2. Mengusahkan taman Eden.

3. Mengambil keputusan.

4. Bertanggung jawab penuh terhadap rohani keluarganya.

5. Harus memiliki tujuan – mempengaruhi prilaku.

Pemulihan hubungan suami istri artinya kembali ke keadaan yang semulakembali ke rancangan Allah. Istri tunduk kepada suami dalam segala sesuatu (taat seperti ketaatan seorang tentara militer - tanpa protes).…suami mengasihi istrinya… (Ef 5:22-28). 

Pelayanan istri yang nomer satu sebagai penolong suami. Istri boleh tidak tunduk bila suami mengajar untuk berbuat dosa. Menikah seharusnya saling mengasihi sehingga mampu mematahkan kutuk-kutuk itu.

(Sumber: Warta KPI TL No. 34/II/2007; Renungan KPI TL Tgl 14 Desember 2006, Dra Yovita Baskoro, MM).

04.09 -

Hukum Penuaian

Banyak anak-anak Tuhan yang tidak bisa menerima penggenapan janji Allah dalam kehidupannya, karena mereka tidak mengerti hukum-hukum Allah.

Jika kita mengerti hukum-hukum penuaian dan menggunakannya, maka hukum ini menghasilkan tuaian dalam kehidupan kita.

Tuaian kita bergantung kepada

- Sorga yang terbuka – bawalah seluruh persembahan ... Aku membuka tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berlimpahan (Mal 3:10). Apabila ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila ia menutup, tidak ada yang bisa membukanya (Yes 22:22; Why3:7).

- Kehidupan yang saleh – harus memiliki hati seorang hamba.

- Pemberian yang murah hati – berilah dan kamu akan diberi ... Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu (Luk 6:38).

- Waspada dengan tipu daya iblis.

Ada 12 hukum Tuhan tentang penuaian

1. Harus menanam benih 

Pemberian kita tidak dapat berlipat ganda menjadi suatu tuaian kecuali kita menaburnya – ‘biji ... (gandum, kacang, jagung dll. - benih jasmani/benih keuangan) jatuh ke dalam tanah dan mati ... akan menghasilkan banyak buah’ (Yoh 12:24).

2. Harus menganggap benih yang ditabur tidak berguna (memberi tidak mempunyai perhitungan dalam pikiran/tidak boleh pamrih dengan Tuhan). 

Contoh: ‘Aku tidak mau mempersembahkan kepada Tuhan Allahku, korban bakaran dengan tidak membayar apa-apa (2 Sam 24:24) – Daud tahu bahwa korban persembahan yang dia tidak bayar, tidak akan membawa peningkatan dalam hidupnya. 

Orang-orang Kristen seringkali membuat kesalahan dalam memberi karena pakai syarat-syarat tertentu dalam hati/pikiran mereka, 

Contoh: banyak orang membeli buku-buku/kaset-kaset rohani dan berpikir akan menuai secara keuangan dari uang yang mereka bayarkan untuk barang itu (padahal membeli untuk keperluan pribadi). 

Membeli sesuatu tidaklah sama dengan memberikan persembahan, contoh: seorang petani tidak dapat menuai padi jika menanam nasi.

3. Harus menanam apa yang kita harapkan untuk dituai

Benih yang kita tabur selalu menentukan jenis tuaian yang kita tuai – ‘apa yang ditabur... itu juga yang akan dituainya’ (Gal 6:7).

Tidak peduli bagaimana besarnya kebutuhan kita/bagaimana tulusnya kita dalam melayani, jika ingin mengalami tuaian keuangan, kita harus mematuhi hukum ini – berilah dan kamu akan diberi ... Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu (Luk 6:38).

4. Menentukan ukuran tuaian, ketika kita menabur benih

Tuaian tergantung taburan - ‘menabur sedikit ... menuai sedikit, menabur banyak...menuai banyak’ (2 Kor 9:6).

Tuhan menginginkan kelimpahan dalam hidup kita, sehingga kita dapat memenuhi semua keperluan kita dan dengan sukacita memberkati dan orang lain yang memerlukan. 

Karena kita adalah milik Kristus, kita adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah – ‘Aku akan memberkati engkau ... dan engkau akan menjadi berkat ... olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat (Gal 3:29; Kej 12:2-3).

5. Tanam benih di tanah yang baik (Mat 13:18)

Bagaimana kita mengenali tanah yang baik?

- Jangan takut menyelidiki sendiri (dibutuhkan relasi dengan Tuhan).

- Ciri khas yang jelas dalam setiap pelayanan yang tanahnya baik adalah para pemimpinnya dengan segenap kekuatan akan mencoba melaksanakan ‘visi’ khusus yang Allah berikan di dalam kehidupan mereka.

- Tuhan memberikan pengurapan pada setiap kita untuk mengerti di mana seharusnya kita menabur.

Dengan pengurapan yang diberikan Tuhan, kita mampu membedakan tanah yang baik – ‘kamu telah beroleh pengurapan dari yang kudus dan dengan demikian kamu mengetahui semuanya (1 Yoh 2:20).

Jangan pernah memberi kepada suatu pelayanan, jika hati kita tidak ada damai sejahtera dalam memberi, karena hal itu tidak akan menghasilkan buah

6. Selalu menunggu suatu periode waktu antara menanam dan menuai (ada waktu antara menanam dan menuai)

... apabila sudah datang waktunya kita akan menuai (Gal 6:9). Seumpama orang yang menabur benih di tanah. Lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu (Mrk 4:26-27). 

Faktor kunci untuk menuai tuaian adalah iman dan kesabaran - ... menjadi penurut-penurut oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah (Ibr 6:12/10:36).

Ketika menggerutu/ada kata-kata kebimbangan akan segera mengubah hasil akhir dari tuaian kita/sudah membatalkan tuaian.

7. Memelihara tunas untuk tuaian yang baik

Seorang petani tidak hanya duduk dan menunggu tuaiannya, tetapi dengan hati-hati dia merawat dan melindungi tunas-tunasnya.

Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri (1 Kor 3:8).

8. Taburlah selaluuntukukuran tuaian jangandariukuran tuaian

Petani pada masa paceklik harus menanam lebih banyak. Sehingga tuaiannya akan cukup banyak untuk memenuhi kebutuhannya yang meningkat.

Sayangnya banyak orang Kristen tidak mengetahui hukum pertanian yang dasar ini – kecenderungan manusia secara natural adalah memberi menurut keuangan mereka/jika tuaian mereka sebelumnya besar, mereka memberikan persembahan besar/jika tuaian mereka sebelumnya kecil, mereka memberikan persembahan yang kecil.

Jika tuaian masa lalu tidak cukup dan pekerjaan Tuhan meminta kita melakukannya, kita mungkin tidak menanam dengan cukup. Jika kita ingin mempunyai lebih dan ingin mampu melakukan pekerjaan Tuhan lebih lagi, kita harus mulai menanam lebih daripada sebelumnya.

9. Pengeluaran selalu paling besar pada waktu penuaian

Pada waktu tuaian matang, petani harus menggaji pekerja-pekerja untuk melakukan tuaian – Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya (Mat 20:1).

Kalau kita sudah menabur dan belum menerima tuaian, bertanyalah pada Tuhan. Karena sebagai seorang Kristen yang sudah lahir baru, Tuhan akan melengkapi kita secara supranatural dengan urapan (kemampuan untuk mengetahui hal-hal yang berasal dari Tuhan); sehingga membuat kita mampu mendengar perintah-perintah-Nya (mengerti di mana seharusnya kita menabur, kapan waktunya membuat persembahan yang melepas tuaian, seberapa besarnya persembahan).

10. Sebagian tuaian adalah untuk ditabur kembali 

Bagian yang terpenting dari setiap tuaian, bukanlah bagian yang ditanam, tapi bagian yang disisihkan untuk ditanam.

Tuaian itu dapat kita nikmati berulang-ulang sepanjang kita punya hikmat untuk setiap waktu menanam kembali sebagian.

11.  Sebagian dari setiap tuaian adalah milik kita untuk disimpan 

Allah sanggup melimpahkan ... supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berlebihan... (2 Kor 9:8).

12. Tuaian kita merupakan mujizat

Tuaian selalu memerlukan campur tangan Allah. Berdoalah dengan iman, jagalah hatimu terhadap keragu-raguan - supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu (Yoh 15:16).

Untuk tuaian keuangan yang berhasil, kita harus mempersiapkan empat area dari pemeliharaan tuaian:

- Harus memberi di dalam pelayanan - ... apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit (Mal 3:10).

Tidak akan ada tuaian, baik di dunia natural maupun di alam supranatural tanpa Sorga yang terbuka. Sorga yang tertutup akan menghentikan semua penambahan.

- Harus menempatkan Tuhan dan gaya hidup Ilahi di tempat yang pertama (ilustrasi gelas kehidupan) – ‘Carilah Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkkannya kepadamu (Mat 6:33).

- Harus memberikan diri kepada penginjilan dunia

Tuhan memberikan kuasa untuk berkelimpahan kepada mereka yang memberikan diri untuk menegakkan berkat perjanjian-Nya (Kej 12:2-3). 

Sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikhrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu (Ul 8:18).

Kita harus memberikan diri untuk menjadi berkat lewat membagikan Injil Yesus Kristus dan memenuhi kebutuhan dari orang yang terhilang, yang lapar, yang telanjang dan yang tunawisma.

- Harus mengenali penipuan Iblis (mencobai, menuduh, dan menipu)

Yang paling menghancurkan adalah penipuan oleh pemasukkan kekayaan yang tiba-tiba akan menghentikan proses tuaian – tipu daya kekayaan menyebabkan orang menjadi tidak berbuah (Mat 13:22). 

Ketika kekayaan bertambah, kita tidak boleh menghabiskan untuk keperluan diri sendiri, tetapi penambahan itu untuk kemuliaan Tuhan

Pencobaan ini merupakan daerah berbahaya yang paling nyata dalam perjalanan kita penyediaan yang berlimpah dari Allah. Kamu berdoa tetapi tidak menerima apa-apa..., sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu (Yak 4:3).

Uang merupakan perlindungan, jangan jadikan uang itu berhala di dalam kehidupan kita (Perlindungan hikmat adalah seperti perlindungan uangPkh 7:12)

(Sumber: Warta KPI TL No. 34/II/2007).

Gelas Kehidupan

Gelas lambang bejana kehidupan; batu besarTuhan; batu lebih kecilkeluarga; batu krikilpekerjaan/apa yang ada di muka bumi; pasirkesenangan/hobi.

Allah memberi kebebasan pada manusia untuk mengisi kehidupannya.

Kalau gelas diisi batu besar dan batu yang lebih kecil, masih dapat diisi batu kerikil, gelas diguncang-guncangkan masih dapat diisi pasir (memasuki celah-celah lubang antara krikil-krikil tersebut).

Demikian juga kehidupan kita - kalau kehidupan kita pertama kali kita isi dengan Tuhan – keluarga – pekerjaan (waktu kerja kena gesekan) – kesenangan (ada konflik dengan diri kita).

Sedang kalau gelas diisi batu kerikil, lalu diguncang-guncangkan pasir masih bisa masuk, sedangkan batu besar dan batu yang lebih kecil tidak dapat masuk.

Demikian juga dengan kehidupan kita - kalau kehidupan kita dipenuhi dengan kerja aja terus dan kesenangan, maka Tuhan dan keluarga tidak bisa masuk (ada di rumah tapi tidak mengerti perasaan suami/istri/anak-anaknya).

Karena sayangnya Tuhan dengan jiwa kita, maka Tuhan mengambil hobi/kesenangan kita seperti tukang periuk membentuk tanah liat dengan adanya sakit, tidak bisa jalan jalan dan bekerja ... akhirnya pekerjaan hilang.

Ketika kita berada di titik nol (kosong), baru ingat menempatkan Tuhan dan gaya hidup Ilahi di tempat yang pertama. Maka isilah kehidupan dengan yang benar.

Kalau kita mau hidup berlimpah carilah dulu kerajaan-Nya maka semuanya akan ditambahkan karena kekudusan itu di mulai di keluarga.

(Sumber: Warta KPI TL No. 34/II/2007; Renungan KPI TL Tgl 18 Januari 2007, Dra Yovita Baskoro, MM).

Kemunduran Rohani

Strategi iblis di dalam menyeret dan menggoda manusia ke dalam dosa perlahan-lahan tapi pasti … sehingga menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja dalam kehidupannya, yang pada akhirnya … terlambat dan menyesal seperti ilustrasi kodok (lih. 7 Dosa Pokok).


Ciri-ciri kemunduran rohani:


Mengabaikan perkara-perkara rohani - terjadi tidak hanya karena kita berbuat dosa yang besar seperti berzinah/membunuh/mencuri hak orang lain, tetapi terjadi ketika kita suam-suam kuku/ala kadarnya/tidak menghargai anugerah keselamatan yang Tuhan berikan (Why 3:16); misalnya: doa ala kadarnya/berdoa tidak menyenangkan Tuhan karena kerakusan hati, kalau diajak bicara tentang Tuhan kurang berminat, tidak tertarik melayani sesamanya (tidak ketaatan pasif). 

Banyak orang hanyut terbawa oleh arus duniawi yang menggoda, saking hanyutnya terbawa arus sehingga tanpa dia sadari sudah semakin jauh dari Tuhan; maka kita harus lebih teliti memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut di bawa arus (Ibr 2:1). 

Contoh: orang yang berenang di tepi pantai. Saking asyiknya berenang, lama-lama semakin ke tengah … semakin nyaman, tetapi tanpa sadar dia sudah berada sangat jauh dari tepi pantai. Terkadang kita tidak terlalu peduli dengan sikap rohani ketika hidup di zona kenyamanan/seringkali masa bodoh/acuh tak acuh perkara rohani - kalau Tuhan menganugerahkan kesehatan dan berkat jasmani.

Seharusnya: Pikirkanlah perkara di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama Kristus di dalam Allah (Kol 3:2-3) - belajar memahami dan mengenal Allah, mencintai Allah dengan tulus bukan karena apa yang Tuhan punya; melayani sesama dan Tuhan – memikirkan perkara rohani bukan duniawi.

Marilah kita hargai anugerah Allah yang sangat luar biasa yang Dia berikan dengan korban darah/nyawa/harga diri/mau menghinakan diri sebagai manusia, sedang kita adalah debu yang tidak berguna tetapi sering kita lupa diri merasa hebat terhadap anugerah keselamatan yang sudah Tuhan berikan.

Mengeraskan hati dalam kegeraman (bersungut-sungut/mengeluh) karena tipu daya dosa (Ibr 3:8, 12-13) - jangan pernah cari pembenaran dalam hidup, karena semua orang berdosa/bersalah pada Tuhan. 

Kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin (Mat 24:12), makin bertambahnya kedurhakaan, sehingga Tuhan tidak bisa mencurahkan perkara-perkara rohani.

Marilah kita mengampuni, jangan mengeraskan hati/sibuk menghitung-hitung kesalahan orang lain.

Tidak meningkatkan menu rohani - lamban dalam mendengar … karena itu perhatikan cara kamu mendengar (Ibr 5:11-14; Luk 8:17). Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh untuk menambahkan pada imanmu kebajikanpengetahuan penguasaan diriketekunankesalehan kasih akan saudara-saudara dan semua orang (2 Ptr 1:5-7).

Begitu banyak orang yang suka firman Tuhan yang encer-encer seperti susu (hal-hal ringan, sederhana, lucu-lucu - tidak memahami ajaran kebenaran), tetapi begitu masuk pengajaran firman (makanan keras) mereka mengatakan membosankan.

Malas beribadah (Ibr 10:23-25

Jangan sampai kita beribadah tapi hati kita tidak ada getaran kasih Allah, mis: menyanyi tidak merasa urapan Tuhan, berdoa tidak merasa senang jadi anak-Nya, ketika mendengar kotbah yang disampaikan ngantuk/mengangguk-angguk meskipun tidak diminta/tertarik pada anak kecil/mengobrol. 

Dalam pertemuan-pertemuan ibadah ketika kita mendengarkan kesaksian orang berarti ‘transfer spirit dari orang-orang yang lebih dekat kepada Tuhan’.

(Sumber: Warta KPI TL No. 34/II/2007; Renungan KPI TL Tgl 11 Januari 2007, Dra Yovita Baskoro, MM).