Tampilkan postingan dengan label *Pengikut Kristus*. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *Pengikut Kristus*. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Maret 2020

Lahir untuk bahagia dalam Tuhan



Bhutan merupakan negara di Asia Tengah yang walaupun pendapatan perkapita dan kemampuan ekonominya rata-rata namun mempunyai indeks kebahagiaan tertinggi di Asia dan kedelapan terbesar dunia. Masyarakat Bhutan menikmati kesedehanaan hidup mereka walaupun tidak memiliki hal-hal yang dipandang universal sebagai sumber kebahagiaan seperti mobil mewah, uang ataupun rumah. Kebahagiaan mereka berasal dari komunitas yang sehat, kesenjangan sosial yang rendah, alam yang asri dan keseimbangan kehidupan rohani. 

Terinsiprasi dari negara Bhutan, maka James Illien, staf ahli di PBB membujuk Majelis Umum PBB untuk menetapkan “International Day of Happiness”. Akhirnya PBB menetapkannya pada tanggal 20 Maret. Hari kebahagiaan internasional ini merupakan hari besar di kalender PBB guna meningkatkan kesadaran warga dunia untuk mengingat dan merayakan arti dari kebahagiaan. 

Sukacita adalah tanda yang paling tidak bisa salah dari keberadaan Tuhan (Pierre Teilhard de Chardin).

Apakah yang menjadi kebahagiaan kita? Mungkin secara spontan kita akan mengatakan: “saya bahagia kalau punya banyak uang, bisa makan yang enak, punya pasangan yang keren, punya kedudukan dan pendidikan yang tinggi, kesehatan yang prima, dan penampilan yang “ok”. Benarkah kebahagiaan kita dapat dicapai dengan hal-hal tersebut di atas? Tidak! Ini adalah kebahagiaan yang semu, ini hanyalah “kesenangan” karena semua keinginan hati kita terpenuhi. 

Kesenangan itu pada dasarnya adalah “janji” yang diberikan oleh sesuatu, barang atau pengalaman tertentu, yakni situasi emosional spontan yang dirasakan orang ketika mendapatkan sesuatu itu. Di situ ada perasaan nikmat dan kepuasan tertentu, tetapi kesenangan itu melekat pada benda atau hal yang memberi kesenangan itu. Jika benda atau hal itu tidak ada lagi, maka kesenangannya juga hilang. Itu seperti permen karet yang manis sebentar, lalu hilang. Karena itulah mengapa setelah kehilangan kesenangan yang satu, orang harus mengejar kesenangan yang lain. Inilah mengapa kemudian muncul hedonisme, hidup untuk mengejar kesenangan. 

Di tengah iklim hedonisme dan konsumerisme, kita harus menumbuhkan kesederhaanaan hidup tertentu dan menolak tuntutan yang menggelisahkan dari masyarakat konsumeris yang membuat kita merasa miskin dan tidak merasa puas. 

Ingatlah! Kesenangan ini sifatnya hanya sementara dan terbatas. Ini adalah perasaan puas yang palsu, akhirnya kita menjadi budak, kita tidak akan pernah puas, kita terdorong untuk mencari lebih dan lebih banyak lagi, misalnya makan » kenyang, beberapa saat kemudian lapar lagi. 

Tidak semua kesenangan adalah sesuatu yang baik, makanan yang lezat adalah hidangan yang menipu, menyebabkan sakit-penyakit (Ams 23:3). Mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka (1 Tim 6:9-10). Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya (Pkh 5:9). 

Hidup sederhana, bukan berarti tidak memiliki harta/uang dan atribut-atribut dunia tetapi kita tidak melekat dengan ... (Mat 5:3 » Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga). 

Kesederhanaan dapat diwujudkan bila seseorang memiliki kerinduan menyenangkan Tuhan dalam segala-galanya (Kol 3:17, 23 » Segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita. Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia). Pola hidup sederhana sebagai orang beriman, akan memampukan menggapai kedamaian batin. 

Tuhan memelihara orang-orang sederhana; aku sudah lemah, tetapi diselamatkan-Nya aku (Mzm 116:6). 

Sementara sukacita itu berbeda! Sukacita pertama-tama bukanlah janji, melainkan buah Roh (Gal 5:22-23). Buah tidak datang dari permulaan, melainkan di akhir. Sukacita adalah akhir dari sebuah perjalanan, buah dari pedagogi hidup batin yang lama, serius dan mendalam. Ia adalah jumlah atau hasil dari semua sikap dan keutamaan-keutamaan kristen yang kita pilih dan kita hayati. 

Sukacita atau kegembiraan bukan berarti hidup dari tertawa ke tertawa. Bukan itu! Sukacita bukanlah pertama-tama hiburan. Sukacita Kristen adalah kedamaian, yakni kedamaian yang berakar dari dalam hati, hanya bisa diberikan oleh Tuhan. Orang beriman percaya bahwa sukacita sejati hanya bisa datang dari atas, yakni Tuhan (Yoh 14:27 » Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu). 

Jalan kegembiraan harus dipelajari, salah satunya dibangun dengan rasa humor. Kemampuan untuk berhumor akan membantu kita bergerak ke masa depan, terlepas dari ketakutan dan kekecewaan. Mampu tertawa dan menertawakan sesuatu, orang lain dan diri sendiri - secara mendalam adalah manusiawi. Ini adalah sikap “dekat dengan rahmat”. Rasa humor di sini tercermin dalam kemampuan dengan baik dan melihat sesuatu secara relatif, tidak kaku dan memutlakkan segala sesuatu. Lalu juga sambil bersikap realistis seseorang mampu menerangi orang lain “dengan semangat positif dan penuh harapan”. Ini adalah kemampuan untuk “berironi terhadap diri sendiri” untuk mengatasi godaan narsisme. 

[Baca jugaHidup penuh keceriaan

Kegembiraan bukanlah kesenangan sesaat: itu adalah hal lain! Sukacita sejati tidak datang dari berbagai hal, dari memiliki. Tidak! Ini lahir dari perjumpaan, hubungan dengan orang lain, lahir dari perasaan diterima, dipahami dan dicintai, dan ini bukan untuk sesaat, tetapi karena yang lain sebagai pribadi. Kebahagiaan bukan berapa banyak jumlah yang yang engkau miliki tetapi berapa banyak orang yang ada di sekelilingmu yang mengasihi dan menciptakan kenangan yang indah bagimu. Jadi, bahagia bukanlah ditentukan oleh segala sesuatu yang kita peroleh tetapi adalah oleh rasa syukur kita atas apa yang sudah kita peroleh. 

Orang Kristen adalah manusia sukacita. Karena mereka dipanggil untuk mengalami hidup sukacita melalui Injil, warta gembira (KGK 2763; Yes 12:6 » Berserulah dan bersorak-sorailah, sebab Allah di tengah-tengahmu!; Luk 10:21 » Bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus; Luk 1:47 » Hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku. Hanya orang yang bersukacita dan gembira yang bisa menjadi pewarta kabar gembira. 

Sabda bahagia sesuai dengan kerinduan kodrati akan kebahagiaan. Kerinduan ini berasal dari Allah. Ia telah meletakkannya di dalam hati manusia, supaya menarik mereka kepada diri-Nya, karena hanya Allah dapat memenuhinya: "Pastilah kita semua hendak hidup bahagia, dan dalam umat Tuhan tidak ada seorang pun yang tidak setuju dengan rumus ini, malahan sebelum ia selesai diucapkan" (Agustinus, Mor.eccl. 1, 3, 4). 

"Dengan cara mana aku mencari Engkau, ya Tuhan? Karena kalau aku mencari Engkau, Allahku, aku mencari kehidupan bahagia. aku hendak mencari Engkau, supaya jiwaku hidup. Karena tubuhku hidup dalam jiwaku, dan jiwaku hidup dalam Engkau" (Agustinus, conf. 10, 290) (KGK 1718). 

Sabda bahagia menuntut dari kita keputusan-keputusan penting yang ada hubungannya dengan kekayaan duniawi. Mereka membersihkan hati kita dan mengajarkan kita mencintai Allah di atas segala sesuatu (KGK 1728). 

Hukum baru, hukum Injil adalah bentuk duniawi yang sempurna dari hukum ilahi yang kodrati dan yang diwahyukan. Itulah karya Kristus dan dinyatakan terutama dalam kotbah di bukit. Ia adalah juga karya Roh Kudus dan melalui Dia menjadi hukum batin dari kasih: "Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel.... Aku akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku" (Ibr 8:8-10) (Yer 31:31-34) (KGK 1965). 

Hukum baru adalah rahmat Roh Kudus yang dianugerahkan kepada umat beriman melalui iman akan Kristus. Ia bekerja melalui kasih; dengan bantuan kotbah Tuhan di bukit, ia mengajarkan kita apa yang harus kita lakukan dan memberi kepada kita rahmat melalui Sakramen-sakramen, supaya kita benar-benar melakukannya juga. 

"Siapa yang hendak merenungkan dengan khidmat dan dengan cerdas tentang kotbah yang Tuhan kita sampaikan di atas bukit seperti yang kita baca dalam Injil Matius, tentu akan menemukan di dalamnya hukum dasar kehidupan Kristen secara sempurna. Kotbah ini mencakup semua perintah yang ditentukan untuk mengarahkan kehidupan Kristen" (Agustinus, serm.Dom. 1,1) (KGK 1966). 

Hukum Injil memenuhi, melebihi, dan menyempurnakan hukum lama. Janji-janjinya dipenuhi oleh sabda bahagia Kerajaan sorga, dan perintah-perintahnya melalui pembaharuan hati, asal segala tindakan (KGK 1984). Jadi, Kotbah di bukit adalah pedoman hidup kepada kita (KGK 2764; Mat 5-7). 

Sabda Bahagia mencerminkan wajah Yesus Kristus dan cinta kasih-Nya. Mereka menunjukkan panggilan umat beriman, diikutsertakan di dalam sengsara dan kebangkitan-Nya; mereka menampilkan perbuatan dan sikap yang mewarnai kehidupan Kristen; mereka merupakan janji-janji yang tidak disangka-sangka, yang meneguhkan harapan di dalam kesulitan; mereka menyatakan berkat dan ganjaran, yang murid-murid sudah miliki secara rahasia (KGK 1717). 

Sabda bahagia menunjukkan kepada kita tujuan akhir, yang untuknya Allah telah memanggil kita: Kerajaan Sorga, memandang Allah, mengambil bagian dalam kodrat ilahi, kehidupan abadi, pengangkatan sebagai anak Allah, dan perhentian di dalam Allah (KGK 1726). 

Hukum baru adalah hukum kasih, rahmat dan kebebasan (KGK 1985). 

Kata “Gereja” memiliki arti “mereka yang dipanggil keluar” untuk membangun persekutuan dan selanjutnya untuk mewartakan. Maka sukacita orang Kristen tidak mungkin terjadi tanpa keluar dari diri sendiri, dari kepentingan dan urusan sendiri, keluar untuk membangun persekutuan hidup dan menjadi pewarta kabar baik. 

Gereja adalah kumpulan orang percaya yang dipanggil keluar dari dunia dan dikuduskan bagi Tuhan. Itulah sebabnya orang percaya disebut sebagai orang-orang kudus, yang dipanggil untuk melakukan pekerjaan yang baik, yang kudus (Rm 1:7; Tit 2:14). 

Sukacita harus juga dihayati dalam kerja dan istirahat. Saat diutus Bapa di bumi Yesus sangat sibuk melakukan pekerjaan untuk Kerajaan Allah. Tuhan memberikan teladan dengan bekerja (Kej 1; Yoh 5:17 » Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga) dan juga beristirahat (Kej 2:2). 

Menurut tradisi Kristen, pekerjaan adalah sebuah misi (Kej 2:15 » untuk mengusahakan dan memelihara). Jadi, pekerjaan bukan tentang sekedar melakukan sesuatu untuk uang, tetapi tentang bekerja sama dengan karya penebusan Kristus dalam merawat orang lain dan bumi. Contoh: seorang suami atau ayah bekerja untuk kelangsungan hidup istri dan anak-anaknya. Petani bekerja menanam padi untuk kelangsungan hidup dirinya sendiri maupun orang lain. Dengan demikian, orang akan bahagia dalam bekerja, karena tahu apa yang dilakukannya itu penuh makna. Jadi, hidup ini akan memiliki maknanya, jika kita bisa melayani dan berkorban bagi orang lain. 

Jadi, bekerja bukan hanya bekerja, tetapi pada saat kita bekerja sebenarnya kita sedang melayani Kristus sebagai Tuan (Kol 3:23-24 » Apa pun juga yang kamu perbuat (1 Kor 10:31 » makan, minum, atau melakukan sesuatu yang lain), perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya). 

Tuhan ingin agar manusia tidak senantiasa terikat pada pekerjaan tetapi juga harus beristirahat. Beristirahat berarti kita masuk dalam perhentian dan mengalami persekutuan dengan Tuhan, melalui doa dan persekutuan dengan sesama, melalui persaudaraan. 

Keberhasilan dalam bekerja maupun pelayanan harus bermuara pada keheningan (Mrk 6:30 -31 » beristirahat). Kesunyian inilah yang membawa kita bertemu dengan Allah, sumber segala kasih karunia (1 Ptr 5:10). Melalui persatuan dengan Bapa, kita mempunyai yang energi besar untuk melayani dengan sukacita (2 Kor 13:11). 

Jalan menuju sukacita tak jarang dipersulit oleh cobaan dan kegagalan hidup yang mengarah pada keputusasaan. Doa adalah kehidupan hati yang baru (akan mengubah sesuatu atau mengubah hati kita). Kita harus sering mengenang Allah, daripada bernafas. Puncak doa Kristen, karena kedalamannya dan lamanya (KGK 2697). 

Doa adalah anugerah rahmat dan satu jawaban dari pihak kita. Doa berarti berjuang melawan kita sendiri dan melawan tipu muslihat penggoda yang melakukan segala-galanya untuk mencegah manusia dari doa, dari persatuan dengan Allah. Jadi, “perjuangan rohani” orang Kristen tidak bisa dipisahkan dari perjuangan doa (KGK 2725). 

Doa adalah kemenangan atas kesepian dan keputusasaan (KGK 2744 » yang tidak mungkin menjadi mungkin, yang berat menjadi ringan). Oleh karena itu pakailah perlengkapan rohani, seluruh perlengkapan senjata Allah supaya kita dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis dan dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu (Ef 6:10-20). 

Di tengah kemajuan dunia yang luar biasa sekarang ini, kita menjumpai dunia yang semakin miskin sukacita dan belas kasih. Hal ini juga terjadi pada sebagian orang Kristen. Mengapa? Karena mereka tidak mengenali karunia-karunia Allah sehingga mereka tidak mampu berterima kasih atas karunia-karunia tersebut. 

Sukacita memampukan kita untuk bisa melihat hadiah dari Tuhan yang kita terima setiap hari, keajaiban dan keindahan hidup dalam hal-hal besar dan kecil yang mengisi hari-hari kita. Dalam hal ini sukacita membuat orang menjadi tangguh dan mampu bersyukur (Flp 4:11 » Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan). Contoh: Santo Fransiskus dari Asisi, dapat tergerak untuk berterima kasih di depan sepotong roti keras, atau memuji Allah dengan gembira hanya atas angin yang membelai wajahnya. 

Hidup dengan sukacita adalah “kemampuan untuk merasakan yang esensial” dengan ketenangan dan untuk berbagi apa yang dimiliki, memperbarui “setiap hari keajaiban untuk kebaikan segala sesuatu, tanpa membebani diri kita sendiri dalam konsumerisme yang buram dan rakus. Hati yang tahu melihat apa yang baik, tahu bagaimana harus berterima kasih dan memuji, adalah hati yang tahu bagaimana bersukacita. 

Jika doa kita otentik, kehidupan kita akan diubah dalam terang belaskasih. Belaskasih bukan hanya tindakan Bapa, belaskasih menjadi kriteria untuk memastikan siapa anak-anak-Nya yang sejati. Jalan sukacita adalah jalan belaslasih. Jadi, siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukan dengan sukacita (Rm 12:8). 

Oleh karena itu, hendaklah hidup kita berpadanan dengan Injil Kristus (Flp 1:27), yaitu: murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." "Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; (1) ampunilah dan kamu akan diampuni. (2) Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu (Luk 6:36-38). 

Jadi, kemurahan hati memiliki dua segi: 

1. Mengampuni sampai tujuh puluh kali tujuh kali (Mat 18:21-22). 

Akar dari bersukacita adalah memahami bahwa kita diampuni Tuhan (Zef 3:14-15 » Bersorak-sorailah, bertempik-soraklah! Bersukacitalah dan beria-rialah dengan segenap hati! Tuhan telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atasmu, telah menebas binasa musuhmu. Tuhan, ada di antaramu; engkau tidak akan takut kepada malapetaka lagi). 

Sukacita atau kebahagiaan itu berkaitan dengan pengampunan, dengan tindakan memaafkan dan meminta maaf. Sebab dalam hati yang penuh amarah dan dendam tidak ada tempat untuk kebahagiaan. Orang yang tidak memaafkan pada dasarnya menyakiti dirinya terlebih dahulu. 

Benci itu menimbulkan kesedihan. Dan kesedihan pada dasarnya bersifat destruktif, bisa membuat orang bertindak jahat dan merusak. Orang-orang seperti itu benar-benar merupakan musuh perdamaian, mereka tidak pernah bahagia (Mat 5:9 » Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah). Dunia gosip, yang dihuni oleh orang-orang yang berperilaku buruk dan merusak, tidak membawa perdamaian. 

Banyak situasi peperangan yang tak berkesudahan di dunia kita. Apa yang sering menjadi penyebabnya? Kesalahpahaman. Oleh karena itu kita harus belajar menghormati mereka dan terlibat dalam dialog dengan mereka yang berpikir berbeda, menghargai mereka terlebih dahulu sebagai pribadi manusia daripada membuat penilaian mendasar terhadap mereka karena cara mereka berpikir. Menciptakan damai sungguh tidak mudah, menuntut keterbukaan pikiran dan hati yang besar. 

Langkah pertama sukacita yaitu kedamaian yang datang dari mempercayakan diri sepenuhnya kepada Tuhan (Rat 3:24 "Tuhan adalah bagianku," kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya). 

Orang yang telah percaya pada Allah akan memahami kebenaran, dan yang setia dalam kasih akan tinggal pada-Nya. Sebab kasih setia dan belas kasihan menjadi bagian orang-orang pilihan-Nya (Keb 3:9). Kalau seseorang mengasihi kebenaran, maka kebajikan adalah hasil jerih payah kebijaksanaan. Sebab ia mengajarkan menahan diri dan berhati-hati, keadilan dan keberanian; dari pada semuanya itu tidak ada sesuatupun dalam kehidupan yang lebih berguna bagi manusia (Keb 8:7). 

Ini adalah “kegembiraan adikodrati” yang tidak dapat dihancurkan atau diubah (Yoh 16:20-22 » Dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. Sekarang kamu diliputi dukacita ... hatimu akan bergembira dan tidak seorang pun yang dapat merampas kegembiraan itu dari padamu). Kegembiraan ini sifatnya selalu tetap, sebagai secercah cahaya yang datang dari kepastian bahwa “tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! (Rat 3:22-23). 

2. Memberi menurut kerelaan hati (2 Kor 9:7; Kis 20:35 » Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima). Ini adalah jalan yang ditunjukkan Tuhan, yang nampak seolah-olah bertentangan (berlawanan) dengan pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran. 

Kita harus mengatakan kebenaran ini: hidup Kristen bukan hanya satu pesta besar. Sama sekali tidak! Kita sering menangis: saat kita sakit, ketika kita memiliki masalah dengan keluarga atau komunitas, ketika tidak dapat membayar angsuran dan gaji tidak sampai akhir bulan. Begitu banyak masalah yang kita hadapi. Tetapi Yesus memberi tahu kepada kita: “Jangan takut!” 

Dalam hidup ada saat salib, ada saat-saat gelap yang membuat kita seolah-olah ditinggalkan oleh Tuhan. Ingatlah! Saat itu waktunya kita belajar dalam keheningan untuk menyerahkan diri ke dalam tangan Tuhan. 

Buah keheningan adalah doa. Buah doa adalah iman. Buah iman adalah cinta. Buah cinta adalah pelayanan. Buah pelayanan adalah damai (Mother Teresa). 


Tuhan menginginkan kebahagiaan anak-anak-Nya di muka bumi ini. Namun, mengapa masih ada banyak orang yang bersedih? Karena mereka belum mengenal Allah yang benar. Mereka tidak menyadari bahwa dijerat dan diikat pada kehendak Iblis (2 Tim 2:26). 

Akibatnya, tanpa berpikir ditarik dan menghambakan diri kepada allah-allah yang pada hakekatnya bukan Allah. Roh perzinahan ada di antara mereka (1 Kor 12:2; Gal 4:8; Hos 5:4). Pikirannya sia-sia (Ef 4:17 » terlalu memikirkan dirinya sendiri, tidak ada lagi ruang bagi orang lain, mereka menjadi tahanan dari pikiran negatif dan “komplikasi tanpa akhir” sehingga tidak akan menikmati “kegembiraan manis” cinta) dan hidup dalam rupa-rupa hawa nafsu, keinginan, kemabukan, pesta pora, perjamuan minum dan penyembahan berhala yang terlarang (1 Ptr 4:3; Kol 3:5; 1 Yoh 2:16). Oleh karena itu Tuhan “ingin kita menjadi positif”, sederhana dalam menikmati hal-hal kecil setiap hari. 

(Sumber:Warta KPI TL No. 178/II/2020 » Seminar Lahir untuk bahagia dalam Tuhan, Rm Ignasius Budiono, O.Carm).

Identitas kehidupan

 


Pembaptisan tidak hanya membersihkan dari semua dosa, tetapi serentak menjadikan orang yang baru dibaptis suatu "ciptaan baru" (2 Kor 5:17), seorang anak angkat Allah (Gal 4:5-7); ia "mengambil bagian dalam kodrat ilahi" (2 Ptr 1:4), adalah anggota Kristus (1 Kor 6:15; 12:27), "ahli waris" bersama Dia (Rm 8:17) dan kenisah Roh Kudus (1 Kor 6:19) (KGK 1265). 

Tritunggal Mahakudus menganugerahkan kepada yang dibaptis rahmat pengudusan, rahmat pembenaran, yang 

- menyanggupkan dia oleh kebajikan-kebajikan ilahi, supaya percaya kepada Allah, berharap kepada-Nya, dan mencintai-Nya

- menyanggupkan dia oleh anugerah-anugerah Roh Kudus, supaya hidup dan bekerja di bawah dorongan Roh Kudus

- menyanggupkan dia oleh kebajikan-kebajikan susila, supaya bertumbuh dalam kebaikan. Dengan demikian, berakarlah seluruh organisme kehidupan adikodrati seorang Kristen di dalam Pembaptisan kudus (KGK 1266). 

Orang yang dibaptis telah "dilahirkan kembali menjadi anak-anak Allah, mereka wajib mengakui di muka orang-orang iman, yang telah mereka terima dari Allah melalui Gereja" (LG 11) serta untuk mengambil bagian dalam kegiatan apostolik dan misioner umat Allah (Bdk. LG 17; AG 17; 23) (KGK 1270). 

Orang yang dibaptis menjadi serupa dengan Kristuskarena melalui Pembaptisan ia digabungkan bersama Kristus (KGK 1272; Rm 8:29).

Saya hampir mati ketika batok kepala saya terbuka. Berkat kebaikan-Nya, maka saya dibangunkan oleh-Nya. Tuhan itu Mahabaik, jika kita hidup menurut jalan-Nya (Yoh 14:6 » Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku; Yer 29:11 » Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan). 

Pengalaman dikasihi Allah, membuat saya bertobat dari pemberontakan saya (karena saya dikucilkan sebagai orang Katolik). Kehadiran Allah ini membuat saya tidak peduli lagi dengan kritikan. Misalnya: tampang saya brewokan, dianggap teroris. Bagi saya, yang lebih penting memperlihatkan identitas saya sebagai seorang Katolik (tanda kesaksian), yaitu: seluruh hidup saya sama seperti Dia yang kudus (1 Ptr 1:15-16). 

Sesudah ditahbiskan menjadi seorang imam, saya diutus oleh Jenderal ke Argentina. Namun, visa saya ditolak untuk pergi ke tanah misi tersebut. Oleh karena itu Jendral menyuruh saya membuat surat ke dua. 

Karena saya ingin mempunyai kepribadian seperti Yesus (Yoh 4:34; 5:19-24; 19:30 » melakukan kehendak-Nya dan menyelesaikan pekerjaan-Nya, maka saya sengaja berdoa (Tuhan, berilah tempat yang paling sulit bagi saya, agar saya berani menjadi saksi-Mu. Berilah tempat orang yang paling membenci saya, agar saya bisa menghargai setiap doa yang dipanjatkan lewat diri saya) dan memilih dua tempat yang sulit yaitu: Amazon dan Filipina Utara. 

Syukur kepada Allah, akhirnya saya ditempatkan di Filipina Utara. Tempat ini benar-benar sangat sulit secara geografis maupun finansial. Justru di tempat yang sulit inilah saya belajar menghayati kehidupan sebagai pengikut Kristus yang sejati, yaitu: menyangkal diri dan memikul salib setiap hari dan mengikuti-Nya (Luk 9:23), belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan (Flp 4:11; Luk 3:8, 14) karena uang sakunya hanya diberi dua belas juta setahun. 

Karena saya tahu identitas saya sebagai seorang imam, maka jika ada seseorang yang datang menghadap saya, ia pasti membutuhkan sarana imamat saya, maka saya selalu siap dengan stola dan minyak urapan. Meskipun tidak ada seorang pun yang menghargai pelayanan saya, saya belajar untuk tidak marah. 

Bagi saya, yang penting saya melayani sesuai dengan kehendak-Nya, saya percaya bahwa Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil saya dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan saya, sesudah saya menderita seketika lamanya (1 Ptr 5:10). 

Jadi, kekristenan bukanlah sekedar liturgi keagamaan, melainkan suatu hubungan karib dengan Tuhan, pengalaman hidup pribadi seseorang bersama Tuhan hari lepas hari. Hal inilah yang ditegaskan Tuhan kepada Nikedemus: “Sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Tanpa kelahiran baru, pekara rohani apapun yang kita kerjakan takkan lebih dari sekedar kegiatan agamawi atau rutinitas. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 179/III/2020 » Renungan KPI TL Tgl 7 Novermber 2019 Romo Heru Kurniawan, SVD).

Selasa, 17 Desember 2019

Tinggal di dalam Kristus



Ketika berumur empat puluh tahun, nenek saya pernah menderita kanker ganas, namun beliau tetap aktif dalam grup tarinya dan aktif juga dalam berbagai kegiatan gereja. Pada waktu merayakan pesta ulang tahun yang kesembilan puluh, beliau menari bersama teman-temannya. Kami cucu-cucunya deg degan (ketakutan) ketika melihat nenek menari, tetapi beliau menari dengan lincahnya. 

Meskipun sudah berusia lanjut, nenek masih tetap mengirim makanan ke paroki bahkan suka berbagi botok alur ke tetangga. Beliau suka naik becak mengunjungi rumah teman-temannya, bahkan yang berada di panti jompo pun dikunjunginya. 

Meskipun sudah berusia sembilan puluh lima tahun, beliau tetap merawat wajahnya dan menata rambutnya sendiri. Suatu hari, sesudah memakai make up dan mengeset rambutnya, beliau terjatuh dan kepalanya mengalami pendarahan. Kami membawanya ke Rumah Sakit, namun keesokan harinya beliau meninggal. 

Sebagai cucunya, saya percaya bahwa nenek saya tahu tujuan hidupnya. Oleh karena itu beliau selalu tinggal di dalam Kristus sehingga mempunyai suatu kekuatan yang luar biasa dalam hidup ini. 

Marilah kita belajar dari Yoh 15:1-16: 

"Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang (1A) tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang (2A) berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah (2C) bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. 

Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu (1B) tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. 

Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa (3B) tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. 

(4B) Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku." 

"Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu (3A) menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. 

Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. 

(4A) Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. 

Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi (2B) Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, (4C) supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. 

» (1AB, 2A) Kita masuk kategori yang mana? (2BC) Sesungguhnya, pembaptisan membersihkan kita dari semua dosa (ketika menerima Sakramen Baptis). Tritunggal Mahakudus menganugerahkan rahmat pengudusan, rahmat pembenaran, yang menyanggupkan percaya kepada Allah, berharap kepada-Nya, dan mencintai-Nya; hidup dan bekerja di bawah dorongan Roh Kudus; bertumbuh dalam kebaikan (KGK 1265-1266). 

(3AB) Seringkali kita mengira dengan “mengikuti Kristus” maka segala masalah, baik itu masalah keluarga, keuangan atau sakit penyakit akan terbebas dengan sendirinya oleh karena Kristus. Tidak! 

Yang dimaksud dalam perikop ini adalah adanya “relasi” dengan Kristus (tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia), maka kita akan terhubung dengan Kristus secara terus-menerus seperti “colokan listrik” pada alat-alat elektronik sehingga dapat digunakan sesuai dengan fungsinya. 

Allah adalah kasih (1 Yoh 4:8, 16). Ketika kita tinggal dalam kasih-Nya, maka karakter Kristus akan tertrasfer kepada kita sehingga hidup kita menghasilkan buah Roh (KGK 1832: 1. Kasih 2. Sukacita 3. Damai sejahtera 4. Kesabaran 5. Kemurahan 6. Kebaikan 7. Kesetiaan 8. Kelemahlembutan 9. Penguasaan diri 10. Kerendahan Hati 11. Kesederhanaan 12. Kemurnian). 

Oleh karena itu kita harus berusaha untuk menambahkan kepada iman: 1. kebajikan (menggenapi rancangan Tuhan untuk hidup dengan menjunjung tinggi nilai-nilai moral) 2. pengetahuan (mempelajari firman Tuhan untuk memperoleh hikmat guna melawan kepalsuan) 3. penguasaan diri (mengagungkan Tuhan begitu rupa, sehingga kita memilih untuk berperilaku saleh) 4. ketekunan (memiliki sikap penuh pengharapan, bahkan di masa-masa yang sulit, karena kita percaya pada sifat Tuhan) 5. kesalehan (menghormati Tuhan di setiap hubungan dengan sesama dalam hidup kita) 6. kasih akan saudara-saudara (menunjukkan perhatian yang hangat terhadap saudara seiman), dan (7) kasih akan semua orang (rela berkorban demi kebaikan sesama) (2 Ptr 1: 5-7) sehingga kita bisa menjadi “surat Kristus” di dalam hati manusia (2 Kor 3:3). Maksudnya, kita bisa mengasihi sesama kita, menjadi Kristus kecil, yang memberi pengaruh positif pada sesama kita. 

Ada seorang gadis (X) yang diajak pacarnya (Y) untuk berhubungan intim. Karena sangat mencintai pacarnya, maka X menyetujuinya. X tidak menyangka kalau Y lagi bertaruh hanya untuk membuktikan bahwa betapa hebatnya dia di muka teman-temannya, telah berhasil merebut hati dan keperawanannya. Ketika video hubungan mereka tersebar luas, X sangat depresi, dia malu untuk kuliah dan ada juga keinginan untuk bunuh diri. 

X mempunyai dua sahabat A dan B. A dengan setia membawanya ke dokter untuk mengobati depresinya. Kadangkala peristiwa itu dapat dilupakan, kadangkala tidak. Jika teringat peristiwa itu, X ingin bunuh diri dengan cara minum semua obat dokter. 

B mengajak X pindah kost. Ketika B tidak ada kegiatan kuliah, dia menemaninya, mengajaknya berbincang-bincang, makan bersama, mengingatkan mandi dll. Ketika liburan semesteran, B mengajak X untuk pindah kost ke luar kota agar X memulai hidup baru lagi di kota yang tidak ada seorang pun yang mengetahui masa lalunya. Setiap liburan B mengunjungi X. Dengan berjalannya waktu, masa gelap itu dapat dilupakan dan X memperoleh hidupnya kembali, keceriannya kembali seperti semula. 

Siapa yang tinggal dengan X? B, B adalah sahabat sejati, dia selalu menyertai X dan membawa pengaruh positif dalam kehidupan sehingga sukacitanya menjadi penuh. X melihat kasih Tuhan melalui kehidupan B. Jadi, B adalah Yesus kecil bagi X. 

Ada seorang guru yang mengajak murid-muridnya untuk memberikan sebuah pita sebagai tanda penghargaan buat orang lain. 

Sepulang sekolah, salah satu muridnya (C) memberikan pita tersebut kepada kakak kelasnya (D), eksekutif muda yang sangat dikaguminya, katanya: “Kak, saya merasa bangga boleh mengenal kakak. Keberhasilan kakak menjadi inspirasi hidupku. Berikan pita ini pada orang lain sebagai tanda penghargaan.” 

Dengan hati berbunga-bunga karena dikagumi, D memberikan pita tersebut kepada bosnya (E), katanya: “Bos, saya merasa bangga menjadi bawahanmu. Berkat bimbinganmu, saya bisa menjadi eksekutif muda. Engkau telah menjadi inspirasi hidupku. Berikan pita ini pada orang lain sebagai tanda penghargaan.” 

Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba E teringat akan anak satu-satunya yang suka membantah, tindakannya menjengkelkan dan gagal sekolah. Sesampainya di rumah, E memberikan pita tersebut kepada anaknya (F) sambil memeluknya, E berkata: “Anakku, engkau adalah satu-satunya harta papa yang sangat berharga. Papa sangat mengasihimu.” 

Sambil berderai air mata F menyerahkan sepucuk surat pada E, katanya: “Andaikata papa tidak memberikan penghargaan pada saat ini. Malam ini aku merencanakan bunuh diri, karena aku merasa tak seorangpun yang sungguh-sungguh peduli padaku, termasuk papa. Aku berpikir bahwa papa tidak akan merasa kehilangan. Ternyata hidupku sangat berharga di mata papa.” 

Bilamana kita dikatakan tinggal di dalam Yesus? Bila kita merasakan kehadiran Yesus ketika berada dalam kegiatan-kegiatan liturgis. Ia hadir dalam kurban misa, baik dalam pribadi pelayan, karena yang sekarang mempersembahkan diri melalui pelayanan imam sama saja dengan Dia yang ketika itu mengurbankan Diri di kayu salib, maupun terutama dalam (kedua) rupa Ekaristi. Dengan kekuatan-Nya Ia hadir dalam Sakramen-Sakramen sekian rupa, sehingga bila ada orang yang membaptis, Kristus sendirilah yang membaptis. Ia hadir dalam Sabda-Nya, sebab Ia sendiri bersabda bila Kitab Suci dibacakan dalam Gereja. Akhirnya Ia hadir, sementara Gereja memohon dan bermazmur, karena Ia sendiri berjanji: bila dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situlah Aku berada di antara mereka (Mat 18:20 » komunitas kaum beriman)" (SC 7) (KGK 1088). Kita berbicara dengan-Nya bila berdoa; kita mendengarkan-Nya bila membaca amanat-amanat ilahi (KGK 2653). Semua firman-Nya adalah kebenaran dan menguduskan (Yoh 17:17; Mzm 105:42). 

(4ABC) Yesus adalah Imanuel, yang berarti Allah menyertai kita (Mat 1:23). Janji-Nya: Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman (Mat 28:20). Jika kita tinggal di dalam kasih-Nya maka kita akan mendapat bonus-Nya. 

Kadangkala hidup kita seperti HP yang kehabisan kuota atau tidak dapat terhubung dengan sinyal wifi sehingga karakter Kristus tidak nampak lagi dalam kehidupan kita. Koneksi putus-nyambung ini akibat dari pengaruh dunia sehingga pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik (1 Kor 15:33). 

Akibat dari koneksi yang putus-nyambung ini, manusia lama dan kelakuannya yang pingsan bangkit kembali ketika jiwanya mengalami tekanan hidup (Yer 17:5 » Mengandalkan manusia, mengandalkan kekuatannya sendiri; Ayb 36:13 » Hatinya menyimpan kemarahan; Yud 1:16; Mzm 10:7; Ams 15:28 » Menggerutu dan mengeluh tentang nasibnya, mulutnya penuh dengan sumpah serapah, mencurahkan hal-hal yang jahat, mengeluarkan perkataan-perkataan yang bukan-bukan). 

Jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang (Ibr 12:15). Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat. Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu. Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka (Ibr 10:24-27). 

(Sumber: Warta KPI TL No. 176/XII/2019 » Renungan KPI TL Tgl 21 November 2019, Ibu Kristina).

Rabu, 15 Mei 2019

Penyangkalan diri



Jika kita ingin berjalan bersama dengan seseorang maka harus ada penguasaan diri (penyangkalan diri) agar kita bisa mencapai tujuan, jalur dan kecepatan sesuai dengan kesepakatan bersama. 

Terlebih lagi ketika kita memutuskan untuk berjalan bersama dengan Tuhan, kita harus berjalan di jalan yang sama yang dilalui Kristus, yaitu: (A) mengosongkan diri-Nya sendiri, (B) merendahkan diri-Nya dan (C) taat sampai mati (Flp 2:7-8; Mat 26:39; Yoh 4:34 » Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya).

Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus (I) menyangkal dirinya, (II) memikul salibnya setiap hari dan (III) mengikut Aku (Luk 9:23). Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku (Mat 10:38; Luk 14:27). 

Hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus (1 Ptr 1:15-16). 



Inti penyangkalan diri Kristiani 

(I, A) Mengakui kebergantungan kita kepada Allah, karena itu kita menyerahkan hak dan otoritas diri kita sepenuhnya kepada Allah (2 Kor 4:7 » kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kita; memampukan kita untuk mengakui bahwa kita hanya-lah penatalayan Tuhan (orang yang bertugas sebagai “pengelola). 

Penyangkalan diri Ini adalah suatu tindakan yang tidak mudah, karena keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging sehingga tanpa sadar kita sering melakukan apa yang kita anggap gampang dan menguntungkan kita, tanpa mempertimbangkan apa yang sebenarnya diinginkan oleh Tuhan dalam kehidupan kita (Gal 5:17). 

Alasan Tuhan mengatakan mengasihi-Nya sebagai hukum yang terutama dan yang pertama dan mengasihi sesama manusia sebagai hukum yang kedua (Mat 22:37-39) karena 

(1) Tuhan tidak ingin kita memiliki berhala di hidup kita. Lagi pula, Dia tahu bahwa Dia lah satu-satunya yang dapat memuaskan jiwa manusia. Sesungguhnya tidak ada satu pun manusia yang dapat memuaskan jiwa manusia lain. Setiap manusia sangat amat membutuhkan hubungan dengan Tuhan. 

(2) Tuhan adalah kasih. Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita (1 Yoh 4:8, 16; 4:19) Artinya, seorang manusia tidak dapat sungguh-sungguh mengasihi manusia lain sebelum ia memiliki hubungan dengan Kasih Sejati (Tuhan). Jadi, manusia harus melekat kepada Tuhan terlebih dahulu, barulah ia dapat menyalurkan kasih yang sesungguhnya kepada sesamanya. 

Jadi, kesetiaan kita pada Allah harus di-atas semua keterikatan alami yang lebih rendah dari keterikatan kita kepada Allah (Luk 14:26-27 » orang tua, pasangan hidup, anak-anak, saudara). 

(II, B) Dalam menyangkal diri, kita harus bertempur dengan diri kita sendiri dalam menaklukkan dosa, melibatkan pertobatan yang terus-menerus, seumur hidup (2 Kor 4:10 » Kita senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kita, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kita). 

Dosa bukan melulu melanggar perintah Allah, namun lebih serius dari itu, dosa menolak dan menghina cinta Allah; memalingkan diri dari Allah, mengarahkan diri pada ciptaan (Thomas Aquinas). 

Iblis dapat menggunakan hal yang kecil, yang kurang kita perhatikan untuk membuat celah yang akhirnya dapat menjadi jalan masuk bagi dosa besar (St. Teresa Avila). 

Nasihat dari seorang bapa padang gurun: “Pukullah ular sebelum dia masuk ke dalam gua, karena jika kau biarkan masuk maka engkau akan kesulitan untuk menemukannya dan tiba-tiba engkau akan dipagut dan teracuni oleh bisanya yang mematikan. 

Jadilah seorang penjaga pintu bagi hatimu dan jangan membiarkan begitu saja sebuah pikiran masuk sebelum kamu tanyai. Tanyailah setiap pikiran satu persatu dan katakan padanya: “Kamu ini adalah seorang dari kami atau seorang lawan kami?” Jika ia salah seorang dari kamu, ia akan memenuhimu dengan kebahagiaan. Namun, jika ia antek musuh, ia akan mengisimu dengan kemarahan atau membangkitkan nafsumu (Evagrius Ponticus). 

Dosa yang dibiarkan bertumbuh dan berkembang dalam diri kita, suatu hari akan merintangi kita dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita (Ibr 12:1). Oleh karena itu jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan (Ams 4:23). 

(III, C) Meneguhkan maksud Allah yang mulia dalam diri kita

Visi Allah: Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia (Yoh 3:16-17; 1 Tim 1:15). Ia adalah pendamaian untuk dosa seluruh dunia (1 Yoh 2:2). 

Misi Allah dalam hidup kita: memulihkan gambar Allah yang rusak dalam diri kita. Oleh karena itu kita harus menyangkal diri terus-menerus, yang didasari oleh kebenaran dan kasih kepada Allah, sehingga kita dapat menjadi sempurna, sama seperti Bapa kita yang di sorga adalah sempurna (Mat 5:48). Jadi, kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan (Ibr 12:14). 



Orang Kristen, tak pernah sendiri tetapi selalu dalam komunitas umat beriman dari segala jaman dan segala tempat (Cardinal Walter Kasper). 

Oleh karena itu kita harus hidup dalam komunitas rohani agar iman kita mengalami pertumbuhan (Ibr 10:25, 24; Kis 2:41-47), jiwa kita dibersihkan oleh firman yang kita dengar (Yoh 15:3) dan jiwa kita juga dikuatkan oleh kesaksian saudara-saudara seiman (Why 12:10-11) sehingga kita benar-benar percaya bahwa Allah sungguh-sungguh mengasihi kita (Yoh 3:16). 

Komunitas adalah tempat pertemuan para sahabat Yesus, memperdalam iman melalui pengajaran-pengajaran Gereja, saling berbagi kegembiraan dan penderitaan dan memberi kesaksian sehingga jiwa kita dikuatkan dalam menjalani kehidupan yang berat ini sampai akhir. 

SA - satu dalam suka, jika sahabat bersukacita maka kita juga turut bersukacita, tidak ada alasan untuk iri hati; HA - hadir dalam duka, jika sahabat mengalami kesesakan, kita harus hadir bersama-sama; BAT - berjabat tangan, kita harus selalu mendoakan sahabat kita. 



Penyangkalan diri juga melibatkan kerendahan hati, yang menjadi dasar dari pertobatan dan spiritualitas Katolik. Penyangkalan diri adalah menempatkan dogma dan dokrin yang ditetapkan oleh Gereja Katolik lebih tinggi daripada interpretasi pribadi. 

Dari mana asalnya kerendahan hati? Untuk mengetahui asal kerendahan hati, kita harus menerima kebenaran yang paling mendasar ini (KGK 356-358. 397-405, 410, 540, 2852-2853): 

Tuhan menciptakan manusia karena cinta, ia diciptakan menurut citra Allah, dalam mata Allah ia lebih bernilai daripada segala makhluk. Diciptakan dalam keadaan kekudusan, manusia ditentukan supaya "di-ilahi-kan" sepenuhnya oleh Allah dalam kemuliaan

Tujuan Tuhan menciptakan kita untuk kemuliaan-Nya. Bagi Allah, kemulianan-Nya lebih penting daripada apapun (Rm 11:36 » Segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya; Yes 43:7 » semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan). 

Setan "adalah pembunuh manusia sejak semula ... ia pendusta dan asal segala dusta" (Yoh 8:44). Dialah "si ular tua yang bernama iblis, yang menyesatkan seluruh dunia" (Why 12:9). Melalui dia dosa dan kematian masuk ke dalam dunia. 

Digoda oleh setan, manusia membiarkan kepercayaan akan Penciptanya mati (Kej 3:1-11) di dalam hatinya, menyalah-gunakan kebebasannya dan tidak mematuhi perintah Allah. Di situlah terletak dosa pertama manusia (Rm 5:19). 

Akibatnya kehilangan rahmat kekudusan asli (Rm 3:23), keselarasan yang mereka miliki berkat keadilan asli, sudah rusak; kekuasaan kemampuan-kemampuan rohani dari jiwa atas badan, sudah dipatahkan (Kej 3:7); kesatuan antara pria dan wanita mengalami ketegangan (Kej 3:11-13); hubungan mereka ditandai dengan keinginan dan nafsu untuk berkuasa. Juga keselarasan dengan ciptaan rusak: ciptaan kelihatan menjadi asing dan bermusuhan dengan manusia (Kej 3:17.19). 

Manusia kehilangan kekudusan asli, namun kodrat manusiawi tidak rusak sama sekali, tetapi hanya dilukai dalam kekuatan alaminya. Ia takluk kepada kelemahan pikiran, kesengsaraan dan kekuasaan maut dan condong kepada dosa; kecondongan kepada yang jahat ini dinamakan "concupiscentia". Maut memasuki sejarah umat manusia (Rm 5:12). Dosa merupakan kematian jiwa. Sesudah itu tiap dosa merupakan ketidak-taatan kepada Allah dan kekurangan kepercayaan akan kebaikan-Nya

Sesudah jatuh, manusia tidak dibiarkan Allah. Sebaliknya, Allah memanggil dia (Kej 3:9). dan memberitahukan kepadanya atas cara yang penuh rahasia (Kej. 3:15). Allah sebegitu prihatin dengan keselamatannya, sehingga Ia tidak menyayangi Putera-Nya yang tunggal untuk dia. 

Pada saat Yesus menerima kematian dengan sukarela guna memberikan kehidupan-Nya kepada kita, kemenangan diperoleh atas "penguasa dunia" (Yoh 14:30) satu kali untuk selama-lamanya. Itulah pengadilan atas dunia ini, dan penguasa dunia ini "dilemparkan ke luar" (Yoh 12:31). 



Pembaptisan memberikan kehidupan rahmat Kristus, ia menghapus dosa asal dan mengarahkan manusia kepada Allah lagi (KGK 1279 » manusia menjadi anak angkat Allah), tetapi akibat untuk kodrat, yang sudah diperlemah tinggal dalam manusia dan mengharuskan dia untuk berjuang secara rohani. 

Sejak dibaptis ada peperangan rohani dalam kehidupan kita. Karena kita milik Kristus Yesus, kita harus berjuang menaklukkan dosa kita (Gal 5:24 » menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya,) dengan cara memisahkan diri dari dunia (2 Kor 6:17-18; 1 Yoh 2:16 » semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa). 

Berkat menerima katekese, diterangi Roh (KGK 1216) maka pada saat berdoa dan memeriksa batin dengan merenungkan perbuatan kita, kita akan disadarkan bahwa betapa besar kasih Allah kepada kita, dan betapa banyak dosa yang telah kita perbuat melawan Dia

Ketika kita berdoa, Allah akan terus-menerus memasukkan spirit-Nya sehingga kita mempunyai keinginan seperti apa yang dikehendaki-Nya (Mzm 80:19; Flp 2:13; Rm 8:26-27). Ketika kita menerima kehendak Allah dalam setiap aspek kehidupan kita, kita menemukan bahwa Allah memberikan kita kekuatan, keberanian, dan martabat yang bergema sampai ke sorga (Mother Angelica). 

Dosa-dosa kita dahulu dapat berguna bagi pengudusan kita. karena dengan mengingatnya kita dapat menjadi lebih rendah hati dan lebih berterima-kasih atas belaskasih Allah yang begitu besar pada kita meskipun seringkali kita menyakiti-Nya. Di saat itulah kita menyadari bahwa kita hanyalah ciptaan, tidak bisa melakukan apa-apa di luar rahmat Tuhan (Yoh 15:8). 

Jadi, kerendahan hati adalah hasil dari pengenalan akan diri sendiri dan akan Tuhan sehingga menghapuskan semua penghalang untuk menerima rahmat Tuhan. Kerendahan hati bukan kebajikan yang terbesar, namun hanya merupakan sarana untuk mencapai kesempurnaan kasih kepada Tuhan dan sesama



Melalui komunitas, kita dapat bertahan melawan tipu muslihat iblis (Ef 6:11) karena kita mengenal semua senjata perlengkapan Allah (Ef 6:14-17). 

Senjata pertahanan 

1. Ikat pinggang kebenaran 

Kita harus mengenakan ikat pinggang kebenaran (kejujuran, ketulusan hati, keterbukaan, dan keterus terangan), mengikatkannya sedemikan rupa pada pinggang kita, sehingga segala kemunafikan dan kepura-puraan tidak lagi mengganggu gerak-gerik langkah kita dan kita tidak terhalang lagi untuk melakukan kehendak Allah. 

Segala jalan Tuhan adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya (Mzm 25:10). 

Penyangkalan diri akan membawa kita kepada kebebasan, karena mengetahui kebenaran akan membebaskan kita (Yoh 8:32). Dengan kebebasan yang benar ini, maka kita akan semakin mengikuti perintah Tuhan dengan lebih mudah dan lebih siap (1 Yoh 5:3 » Perintah-perintah-Nya itu tidak berat), karena mengikuti perintah Allah telah menjadi karakter atau menjadi bagian dan kebiasaan dari jiwa kita

2. Baju zirah keadilan 

Baju zirah untuk melindungi bagian dada, secara rohani artinya: hati. Fungsi baju zirah untuk melindungi hati. Jadi, suatu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan iman, sangat diperlukan untuk melindungi hati (Flp 3:9; Ams 4:23). 

Jika kita mengenakan baju zirah kebenaran yang berasal dari diri sendiri, iblis akan menemukan banyak titik kelemahan pada kebenaran tersebut (2 Kor 5:21). Dengan demikian ia akan sering berhasil menembusnya dengan serangan-serangan yang dilancarkannya untuk melukai hati kita 

Baju zirah iman dan kasih (1 Tes 5:8), iman bekerja oleh kasih (Gal 5:6). Artinya: iman yang berfungsi karena kasih yang hidup. Ia akan melindungi hati kita terhadap segala serangan dan usaha iblis untuk menembus ke dalam bagian yang vital dari kehidupan kita. 

Kasih itu melindungi kita terhadap segala yang negatif seperti kebencian, dendam, kepahitan, kekecewaan dan keputus asaan yang dapat merusak hati dan menghancurkan kehidupan kita. 

Cinta kuat seperti maut ... nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api Tuhan! Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya (Kid 8:6-7). 

3. Kasut yang siap untuk memberitakan Injil 

Kasut diikat sampai betis, dia menutup bagian penting dari perlengkapan seorang prajurit sehingga memampukannya untuk berjalan dengan cepat dan menempuh jarak yang cukup jauh. 

Kasut memberikan mobilitas kepadanya sehingga seorang prajurit akan selalu siap untuk memenuhi panggilan dari komandannya, berada di manapun dan kapanpun ia dibutuhkan dalam pertempuran. 

Kita harus siap sedia memberitakan firman baik atau tidak baik waktunya (2 Tim 4:2). Orang-orang yang menerima Injil akan merasakan damai sejahtera dalam hati dan pikiran. Kita tidak mungkin menularkan damai sejahtera kepada orang lain apabila kita sendiri tidak memilikinya. 

4. Perisai iman 

Perisai memberikan perlindungan menyeluruh. Perisai adalah iman akan perlindungan yang disediakan untuk kita dan semua orang yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Kita perlu menaikkan perisai iman agar mendapatkan perlindungan dan pemeliharaan Tuhan yang seutuhnya (akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat). 

Apabila kita mulai menimbulkan masalah bagi iblis, sudah pasti ia akan balik menyerang kita. Pertama-tama ia mungkin menyerang pikiran, hati, tubuh, dan keuangan kita; jika serangannya terhadap kita tidak mempan, maka ia mulai menyerang orang-orang orang-orang yang paling dekat dengan kita. 

Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman. Orang benar akan hidup oleh iman (Rm 1:16-17). 

5. Ketopong keselamatan 

Ketopong = topi baja sebagai pengaman untuk melindungi kepala (pikiran). Jika terluka di bagian kepala, maka kita tidak akan mampu untuk mempergunakan segala perlengkapan senjata yang ada. Jadi, kita harus berketopongkan pengharapan (1 Tes 5:8). 

Pengharapan adalah suatu sikap optimis yang selalu memilih untuk melihat sisi yang terbaik: tidak mau mengalah terhadap depresi, keragu-raguan dan sikap mengasihani diri sendiri (Rm 8:28, 24; Ibr 6:17-20; 10:23). 

Kristus adalah pengharapan dan kemuliaan. Tanpa Kristus tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia (Kol 1:27; Ef 2:12) 

6. Pedang roh yaitu firman Allah (dalam bahasa Yunani artinya “rhema”), dapat juga dipakai sebagai senjata penyerangan, tetapi belum mampu untuk menghancurkan benteng-benteng pertahanan. 

Tanpa pedang, kita tidak mempunyai senjata untuk mengusir iblis. Dari mulut Yesus ke luar pedang tajam bermata dua; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran kita (Why 1:16; Ibr 4:12). 

Buku Alkitab yang tercetak sama sekali tidak menimbulkan ancaman bagi iblis. Tetapi apabila kita mengucapkannya dengan iman melalui mulut kita, maka firman itu akan berubah menjadi pedang roh

Jika kita memegang dan mengayunkan pedang itu maka Roh Kudus akan memberi kuasa dan hikmat dalam pemakaiannya. Oleh karena itu kita perlu benar-benar mengenal Alkitab dan penafsirannya yang benar, supaya kita dapat melawan cobaan iblis. 

Bagian tubuh yang tidak terlindungi adalah punggung. Jadi, jangan pernah memperlihatkan punggung pada iblis (membalikkan badan, menyerah kalah) dan mengatakan “saya sudah capai dan tidak tahan lagi, saya mau berhenti.” 

Hal ini akan memberi kesempatan kepada iblis untuk menyerang kita dari belakang. Kita tidak dapat melindungi punggung kita sendiri, maka sebagai laskar Kristus, kita harus mencontoh tentara Romawi. Ketika mereka bertempur, mereka selalu saling bahu-membahu merapatkan barisan untuk melindungi punggung mereka (membuat pagar betis). 

Senjata-senjata pertahanan itu belum cukup untuk menghancurkan benteng-benteng pertahanan. Untuk benar-benar berhasil dalam peperangan rohani, kita harus terus melakukan penyerangan dengan kuasa Allah agar dapat meruntuhkan benteng-benteng yang dibangun oleh Iblis; untuk mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kita juga harus menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus (2 Kor 10:4-5). 

Jika gereja/umat Allah tetap pada posisi bertahan, maka Kerajaan Iblis tidak akan pernah tumbang, meskipun Yesus sudah melucuti semua senjata mereka. 

Senjata penyerangan. Selain pedang roh, ada 4 senjata rohani utama untuk melakukan penyerangan. 

1. Doa 

Doa seperti peluru kendali antar benua, dengan peluru itu kita dapat menembaki benteng-benteng pertahanan iblis di manapun benteng itu berada; menembus ke langit dan memungkinkan campur tangan para malaikat (Dan 10:12 » Aku diutus kepadamu ... aku datang karena perkataanmu itu). 

Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya (Luk 18:1-8; Kis 12:1-7). Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya (Ef 6:18), supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah (Mat 26:41). 

2. Puji-pujian 

Setiap melody diciptakan oleh Tuhan untuk menggerakkan bumi, membuat harmoni dan membuat sebuah sistem di bumi. Puji-pujian yang memasyurkan perbuatan Allah (mengandung campur tangan Allah yang supranatural) akan naik melintasi langit, mencapai tahta Allah sehingga dapat membangkitkan rasa takut akan Allah dan menimbulkan kegentaran, terutama pada musuh kita; dapat membungkam suara Iblis yang selalu mendakwa kita siang dan malam di hadapan Allah (Why 12:10). 

Permainan musik dan puji-pujian yang diurapi mempunyai kuasa yang dahsyat untuk mengubah hati dan memecahkan gendang telinga si jahat sehingga mereka tidak dapat berkomunikasi dengan pemimpinnya. Apalagi permainan musik dan puji-pujian itu juga disertai dengan firman Tuhan (Mzm 149:6). 

Mulut - merupakan sarana utama untuk mengeluarkan senjata rohani melawan Kerajaan Iblis. Bayi-bayi dan anak-anak (Mat 21:15-16) - menggambarkan orang-orang yang hanya dapat bersandar kepada kekuatan Allah. 

3. Pemberitaan firman Tuhan 

Firman itu adalah Allah (Yoh 1:1). Iman timbul dari pendengaran oleh firman Kristus (Rm 10:17). Firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu (Yak 1:21). 

Jika kita memberitakan firman dengan tekun dan berani - dengan tidak memperdulikan kecaman yang terjadi karena tidak semua orang senang mendengar kebenaran (Kis 19:8-20), seumpama batu yang dilempar ke kolam sehingga menimbulkan riak-riak gelombang

Hasilnya: peneguhan secara supranatural, melalui mujizat-mujizat; roh-roh jahat terbongkar kegiatannya dan berhasil diusir keluar; cengkraman ajaran sesat atas seluruh kota dapat dipatahkan. 

Jika kita tidak membaca firman Tuhan, kita tidak akan kuat menghadapi godaan dunia ini. Firman Tuhan adalah sumber kekuatan bagi hidup orang-orang Kristen. Bagaimana kita dapat mengikuti jalan-Nya Tuhan di dalam hidup kita, jika kita bahkan tidak mendengarkan arahan-Nya di dalam keseharian kita? Jadi, berilah makanan pada jiwa kita dengan makanan yang tepat setiap hari, yaitu ajaran sehat (1 Tim 6:3 » perkataan Tuhan kita Yesus Kristus). 

4. Kesaksian 

Kesaksian merupakan bagian yang terpenting dari strategi Yesus untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia (Kis 1:8) - untuk memenangkan jiwa-jiwa

Seringkali terjadi salah pengertian antara bersaksi dan berkotbah, kedua-duanya berhubungan dengan firman Tuhan, hanya pendekatannya dari sudut yang berbeda. 

Berkotbah - menyampaikan kebenaran firman Tuhan secara langsung. Bersaksi - berbicara mengenai sesuatu hal yang kita alami sendiri sehubungan dengan firman Tuhan; tujuannya untuk meneguhkan kebenaran firman Tuhan. 

Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita (2 Tim 1: 7-8). 

Ada hal penting yang diungkapkan dalam firman Tuhan berkenan dengan “Darah Yesus” 

Di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa ... (Ef 1:7). 

Darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa (1 Yoh 1:7) » disucikan secara rohani. 

Kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti diselamatkan dari murka Allah (Rm 5:9); Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah (2 Kor 5:21). 

Yesus menguduskan umat-Nya dengan darah-Nya sendiri (Ibr 13:12) » dikuduskan berarti dijadikan kudus/suci, dipisahkan/dikhususkan bagi Allah. 

Berkat sarana rohani (berdoa, menyanyikan puji-pujian, membaca Kitab Suci, membaca bacaan rohani) perspektif hidup orang dapat diperdalam, dipertajam, dan diolah menjadi lebih matang sehingga menjadi manusia baru. 

Apabila kita tidak hidup dalam komunitas (Yes 30:1 » yang memasuki suatu persekutuan, yang bukan oleh dorongan Roh-Ku, sehingga dosa mereka bertambah-tambah) dan tidak menggunakan sarana rohani setiap hari, maka manusia lama kita akan bangkit kembali dan tanpa sadar hidup kita menjadi serupa dengan dunia ini

Hal ini terjadi karena kita dijerat dan diikat oleh Iblis pada kehendaknya, sehingga kita hidup dalam kejahilan: tidak taat, sesat, menjadi hamba berbagai-bagai nafsu dan keinginan, hidup dalam kejahatan dan kedengkian, keji, saling membenci (Rm 12:2; 2 Tim 2:26; Tit 3:3). 



Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, maka Allah menyiapkan jiwa kita agar pantas menjadi Bait/Kenisah Roh Kudus, dengan cara memberikan malaikat pelindung pada setiap orang beriman, ia mendampingi kita sebagai pelindung dan gembala sejak kita dilahirkan sampai kita menghadap Bapa di sorga. 

Malaikat tidak memberi penyesalan kepada jiwa, tetapi menunjukkan sumber penyesalan itu (St. Bonaventura). Akhirnya ... kita akan merasa mual melihat diri kita sendiri karena kesalahan-kesalahan kita dan perbuatan-perbuatan kita yang keji (Yeh 36:31). 

Berkat bimbingan Roh Kudus, kita disadarkan bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah. Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah (Yak 4:4). 



Kehidupan ini adalah sebuah sekolah bagi jiwa kita, sebuah media pembelajaran bagi jiwa kita untuk boleh bertumbuh di dalam Tuhan. Orang yang bertumbuh di dalam Tuhan, ia tahu apa yang Tuhan kehendaki

Ayah kita mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya (Ibr 12:5-10). 

Sejak dibaptis, kita telah menerima Roh yang menjadikan kita anak Allah (Rm 8:15-16). Roh mematikan perbuatan-perbuatan tubuh (Rm 8:13) sehingga kita dapat memikirkan perkara yang di atas bukan yang di bumi (Kol 3:2-5). Jika kita menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus (2 Kor 10:5), maka pembaharuan budi dapat membedakan kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Rm 12:2). 

Kita hidup, tetapi bukan lagi kita sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam kita. Dan hidup kita yang kita hidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi kita dan menyerahkan diri-Nya untuk kita (Gal 2:20). 

Jadi, perjalanan hidup di dunia merupakan pergumulan untuk memperoleh pengesahan sebagai anak oleh Bapa di sorga. Saat tertindas itu sangat baik untuk mendidik jiwa kita supaya kita belajar ketetapan-ketetapan-Nya (Mzm 119:71). 

Beban kehidupan atau penderitaan tidak dirancang oleh Tuhan untuk menghancurkan hidup kita tetapi untuk membawa kita kepada-Nya. Jadi, kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya (Ibr 12:9-10). 

Pada saat mengalami hal yang tidak menyenangkan, kita adalah murid, gurunya adalah orang yang melakukan itu. Jadi dalam kehidupan ini selalu ada proses saling belajar-mengajar (Ams 27:17). 

Misalnya: ada dua orang sahabat (A dan B) membangun suatu bisnis. Dalam bisnis itu A menipu B, tentunya B akan sangat kecewa dengan A, karena A yang sangat dipercayainya menipunya. 

B adalah "murid", yang sedang menjalani kurikulum yang namanya "sabar", gurunya adalah A. B adalah "guru" untuk kurikulum "komitman" bagi A, karena A tidak bisa pegang komitmen. 

B menuntut A ke pengadilan, karena hendak mengajari A, sahabatnya pentingnya "komitmen". Tetapi jika B meng-iklaskan » "Ya sudahlah, saya ditipu tidak apa-apa", proses pembelajaran itu tidak tuntas, karena A tidak mendapat pelajaran

Kalau B sudah tuntas menjalankan "kurikulum sabar" dan dan A belum tuntas menjalankan peran "kurikulum komitmen". Maka suatu saat A akan mengalami "remidi", mengalami hal yang sama ditempat yang lain. 

Hal ini disebut "Hukum tabur tuai" dalam hukum Kristiani. Tujuan dari peraturan kehidupan ini bukan untuk menghukum tetapi bertujuan "menyadarkan" orang dari kesalahannya

Jika kita mau menjadi manusia yang rendah hati, maka kita akan menyadari bahwa setiap orang yang kita jumpai dalam kehidupan kita adalah "guru" yang baik bagi jiwa kita. Pelajarilah peristiwa itu ... Kalau kita bisa melakukan hal ini, maka kita bisa melihat diri kita yang sebenarnya ... (ternyata aku ini sombong, aku egois, aku mau menang sendiri dll.). 

Dalam sekolah kehidupan ada tingkatan yang berbeda-beda pada setiap anak-anak Tuhan, ada anak kecil secara rohani, tidak memahami ajaran tentang kebenaran, ada juga orang-orang dewasa rohani yang mempunyai pancaindra yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat (Ibr 5:12-15). 

Dalam sekolah kehidupan kepala sekolahnya adalah Tuhan Yesus, gurunya adalah Roh Kudus, dan kita adalah murid-murid dari sekolah kehidupan. 

Untuk lulus dari sekolah kehidupan, kita sudah diberikan kunci jawabannya, yaitu harus hidup sama seperti Kristus hidup (Yoh 4:34; Mrk 14:36 » melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya). 

Menjalankan sekolah kehidupan, ibarat kita sedang menabur benih kehidupan dan kita akan menuainya di dalam kekekalan. Oleh karena itu kita harus memperhatikannya dengan serius apa yang firman Tuhan katakan (Gal 6:7-8 - Menabur dalam roh, hidup menurut kehendak Allah). 

Masuk sekolah kehidupan adalah kewajiban (1 Tim 6:12 » pertandingan iman; 1 Kor 9:24-27 » menguasai dirinya dalam segala hal). Penyangkal diri berarti menemukan rancangan Allah di dalam hidup kita. Tanpa penyangkalan diri yang penuh, semua aktifitas agama akan kehilangan maknanya

Tujuan pendidikan tersebut adalah anak-anak Tuhan memiliki kecerdasan roh. Kecerdasan roh artinya kemampuan berpikir seperti Allah berpikir (Flp 2:5 » menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus). 

Jika kita mengembangkan diri sesuai dengan kehendak-Nya maka kita akan bertumbuh dalam keserupaan dengan Kristus, yaitu memiliki karakter ilahi dan buah Roh (KGK 1832: 1. Kasih 2. Sukacita 3. Damai sejahtera 4. Kesabaran 5. Kemurahan 6. Kebaikan 7. Kesetiaan 8. Kelemahlembutan 9. Penguasaan diri 10. Kerendahan Hati 11. Kesederhanaan 12. Kemurnian). 

Barangsiapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini (Why 2:7 » makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah; Why 2:11 » tidak menderita apa-apa oleh kematian yang kedua; Why 2:17 » manna yang tersembunyi; batu putih, yang di atasnya tertulis nama baru, yang tidak diketahui oleh siapa pun, selain oleh yang menerimanya; Why 2:26-28 » kuasa atas bangsa-bangsa, bintang timur; Why 3:5 » dikenakan pakaian putih; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya; Why 3:12 » sokoguru di dalam Bait Suci Allah; Why 3:21 » Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya) dan Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi anak-Ku (Why 21:7). Jadi, tujuan akhir dari sekolah kehidupan adalah agar kita layak dan pantas menjadi anak Bapa di sorga



Berkat bimbingan Roh Kudus, kita disadarkan bahwa kekayaan dan harta benda dan kuasa adalah karunia Allah (Pkh 5:18). 

Kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya (2 Kor 3:18) jika kita melakukan setiap perbuatan baik, apapun juga dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia, untuk kemuliaan-Nya (2 Tim 3:17; 1 Kor 10:31; Kol 3:23) sehingga kita semua adalah surat Kristus, mencerminkan kemuliaan Tuhan (2 Kor 3:3). Saya pensil kecil ditangan Allah yang sedang menulis, yang mengirim surat cinta pada dunia (Mother Teresa). 

Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia (Yak 1:12). 

Oleh karena itu, marilah kita selalu berada di tengah-tengah komunitas agar kita dapat saling bahu-membahu dalam menghadapi penyerangan musuh yang bukan berasal dari darah dan daging sehingga kita dimampukan untuk menyangkal diri dan memikul salib setiap hari dan mengikuti-Nya. 

(Sumber:  Warta KPI TL No. 169/V/2019 » Renungan KPI TL Tgl 25 April 2019, 2 & 9 Mei 2019, Dra Yovita Baskoro, MM).