Tampilkan postingan dengan label *Kebangkitan*. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *Kebangkitan*. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 April 2019

19.50 -

Berkat kuasa kebangkitan menjadi pemenang



Apa yang keluar dari mulut (ucapan) berasal dari hati (Mat 7:20-23). Ucapan iman keluar melalui hati yang beriman (Rm 10:17 » Iman timbul dari pendengaran oleh firman Kristus; Yak 1:21 » Firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu; 2 Kor 4:13 » memiliki roh iman : percaya, berkata-kata). 

Jika Allah dipihak kita, Dia memberikan kepada kita roh yang membangkitkan kekuatan (Rm 8:31; 2 Tim 1:7 - iman kebangkitan). iman itulah yang memberi kemenangan, mengalahkan dunia (1 Yoh 5:4). Iman adalah dasar kehidupan rohani

Daud mau menempatkan dirinya sebagai murid Tuhan yang baik (Yes 50:4). Ia tidak hanya meminta untuk diajar tentang jalan Tuhan, tetapi juga untuk melakukan kehendak Tuhan (Mzm 18:33-35; 71:17, 5; 86:11; 143:10 » mau diajar dan mau belajar). Itulah sebabnya ia mempunyai kepercayaan kepada Allah sejak masa mudanya (Mzm 25:2; 31:7; 55:24; 56:4-5; 71:5-6; 143:8). 

Bilamana kita mau diajar dan mau belajar, maka kehidupan kita akan dilengkapi sehingga dapat melakukan perbuatan-perbuatan yang baik, yang berkenan kepada Allah. 

Marilah kita belajar dari Daud (1 Sam 17:1-52): 

Orang Filistin mengumpulkan tentaranya untuk berperang; mereka berkumpul di Sokho yang di tanah Yehuda dan berkemah antara Sokho dan Azeka di Efes-Damim. Saul dan orang-orang Israel juga berkumpul dan berkemah di Lembah Tarbantin; mereka mengatur barisan perangnya berhadapan dengan orang Filistin. Orang Filistin berdiri di bukit sebelah sini dan orang Israel berdiri di bukit sebelah sana, dan lembah ada di antara mereka. 

Lalu tampillah keluar seorang (C) pendekar dari tentara orang Filistin. Namanya Goliat, dari Gat. Tingginya enam hasta sejengkal. Ketopong tembaga ada di kepalanya, dan ia memakai baju zirah yang bersisik; berat baju zirah ini lima ribu syikal tembaga. Dia memakai penutup kaki dari tembaga, dan di bahunya ia memanggul lembing tembaga. Gagang tombaknya seperti pesa tukang tenun, dan mata tombaknya itu enam ratus syikal besi beratnya. Dan seorang pembawa perisai berjalan di depannya. 

Ia berdiri dan berseru kepada barisan Israel, katanya kepada mereka: (D) "Mengapa kamu keluar untuk mengatur barisan perangmu? Bukankah aku seorang Filistin dan kamu adalah hamba Saul? Pilihlah bagimu seorang, dan biarlah ia turun mendapatkan daku. Jika ia dapat berperang melawan aku dan mengalahkan aku, maka kami akan menjadi hambamu; tetapi jika aku dapat mengungguli dia dan mengalahkannya, maka kamu akan menjadi hamba kami dan takluk kepada kami." Pula kata orang Filistin itu: "Aku menantang hari ini barisan Israel; berikanlah kepadaku seorang, supaya kami berperang seorang lawan seorang." 

Ketika (F1) Saul dan segenap orang Israel mendengar perkataan orang Filistin itu, maka cemaslah hati mereka dan sangat ketakutan

Daud adalah anak seorang dari Efrata, dari Betlehem-Yehuda, yang bernama Isai. Isai mempunyai delapan anak laki-laki. Pada zaman Saul orang itu telah tua dan lanjut usianya. Ketiga anak Isai yang besar-besar telah pergi berperang mengikuti Saul; nama ketiga anaknya yang pergi berperang itu ialah Eliab, anak sulung, anak yang kedua ialah Abinadab, dan anak yang ketiga adalah Syama. Daudlah yang bungsu. Jadi ketiga anak yang besar-besar itu pergi mengikuti Saul. Tetapi Daud selalu pulang dari pada Saul untuk menggembalakan domba ayahnya di Betlehem. Orang Filistin itu maju mendekat pada pagi hari dan pada petang hari. Demikianlah ia tampil ke depan (E) empat puluh hari lamanya

Isai berkata kepada Daud, anaknya: "Ambillah untuk kakak-kakakmu bertih gandum ini seefa dan roti yang sepuluh ini; bawalah cepat-cepat ke perkemahan, kepada kakak-kakakmu. Dan baiklah sampaikan keju yang sepuluh ini kepada kepala pasukan seribu. Tengoklah apakah kakak-kakakmu selamat dan bawalah pulang suatu tanda dari mereka. (B) Saul dan mereka itu dan semua orang Israel ada di Lembah Tarbantin tengah berperang melawan orang Filistin." 

Lalu Daud bangun pagi-pagi, ditinggalkannyalah kambing dombanya pada seorang penjaga, lalu mengangkat muatan dan pergi, seperti yang diperintahkan Isai kepadanya. Sampailah ia ke perkemahan, ketika tentara keluar untuk mengatur barisannya dan mengangkat sorak perang. Orang Israel dan orang Filistin itu mengatur barisannya, barisan berhadapan dengan barisan. Lalu Daud menurunkan barang-barangnya dan meninggalkannya di tangan penjaga barang-barang tentara. Berlari-larilah Daud ke tempat barisan; sesampai di sana, bertanyalah ia kepada kakak-kakaknya apakah mereka selamat. 

Sedang ia berbicara dengan mereka, tampillah maju pendekar itu. Namanya Goliat, orang Filistin dari Gat, dari barisan orang Filistin. Ia mengucapkan kata-kata yang tadi juga, dan Daud mendengarnya. Ketika (F2) semua orang Israel melihat orang itu, larilah mereka dari padanya dengan sangat ketakutan

Berkatalah orang-orang Israel itu: "Sudahkah kamu lihat orang yang maju itu? Sesungguhnya ia maju untuk mencemoohkan orang Israel! Orang yang mengalahkan dia akan dianugerahi raja kekayaan yang besar, raja akan memberikan anaknya yang perempuan kepadanya dan kaum keluarganya akan dibebaskannya dari pajak di Israel." 

Lalu berkatalah Daud kepada orang-orang yang berdiri di dekatnya: "Apakah yang akan dilakukan kepada orang yang mengalahkan orang Filistin itu dan yang menghindarkan cemooh dari Israel? Siapakah (A) orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari pada (K1) Allah yang hidup?" 

Rakyat itu pun menjawabnya dengan perkataan tadi: "Begitulah akan dilakukan kepada orang yang mengalahkan dia." 

Ketika (I) Eliab, kakaknya yang tertua, mendengar perkataan Daud kepada orang-orang itu, bangkitlah amarah Eliab kepada Daud sambil berkata: "Mengapa engkau datang? Dan pada siapakah kautinggalkan kambing domba yang dua tiga ekor itu di padang gurun? Aku kenal sifat pemberanimu dan kejahatan hatimu: engkau datang ke mari dengan maksud melihat pertempuran." Tetapi jawab Daud: "Apa yang telah kuperbuat? Hanya bertanya saja!" Lalu berpalinglah ia dari padanya kepada orang lain dan menanyakan yang sama. Dan rakyat memberi jawab kepadanya seperti tadi. 

(H) Terdengarlah kepada orang perkataan yang diucapkan oleh Daud, lalu diberitahukanlah kepada Saul. Dan Saul menyuruh memanggil dia. 

Berkatalah Daud kepada Saul: (G1) "Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu." 

Tetapi (J) Saul berkata kepada Daud: "Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit." 

Tetapi (G2) Daud berkata kepada Saul: "Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya. Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada (K2) Allah yang hidup." Pula kata Daud: (K3) "Tuhan yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu." Kata Saul kepada Daud: "Pergilah! Tuhan menyertai engkau." 

Lalu (N) Saul mengenakan baju perangnya kepada Daud, ditaruhnya ketopong tembaga di kepalanya dan dikenakannya baju zirah kepadanya. Lalu Daud mengikatkan pedangnya di luar baju perangnya, kemudian ia berikhtiar berjalan, sebab belum pernah dicobanya. Maka berkatalah Daud kepada Saul: "Aku tidak dapat berjalan dengan memakai ini, sebab belum pernah aku mencobanya." Kemudian ia menanggalkannya

Lalu (O) Daud mengambil tongkatnya di tangannya, dipilihnya dari dasar sungai lima batu yang licin dan ditaruhnya dalam kantung gembala yang dibawanya, yakni tempat batu-batu, sedang umbannya dipegangnya di tangannya. Demikianlah ia mendekati orang Filistin itu. 

Orang Filistin itu kian dekat menghampiri Daud dan di depannya orang yang membawa perisainya. Ketika orang Filistin itu menujukan pandangnya ke arah Daud serta melihat dia, dihinanya Daud itu karena ia masih muda, kemerah-merahan dan elok parasnya

Orang Filistin itu berkata kepada Daud: "Anjingkah aku, maka engkau mendatangi aku dengan tongkat?" Lalu demi para allahnya orang Filistin itu mengutuki Daud. Pula orang Filistin itu berkata kepada Daud: "Hadapilah aku, maka aku akan memberikan dagingmu kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang di padang." 

Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: (G3) "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi (K4) aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam, (K5) Allah segala barisan Israel yang kautantang itu. Hari ini juga (K6) Tuhan akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhmu; hari ini juga aku akan memberikan mayatmu dan mayat tentara orang Filistin kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang liar, (L) supaya seluruh bumi tahu, bahwa (K7) Israel mempunyai Allah, dan (M) supaya segenap jemaah ini tahu, bahwa (K8) Tuhan menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab (K9) di tangan Tuhanlah pertempuran dan Ia pun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami." 

Ketika orang Filistin itu bergerak maju untuk menemui Daud, maka segeralah Daud berlari ke barisan musuh untuk menemui orang Filistin itu; lalu (O) Daud memasukkan tangannya dalam kantungnya, diambilnyalah sebuah batu dari dalamnya, diumbannya, maka kenalah dahi orang Filistin itu, sehingga batu itu terbenam ke dalam dahinya, dan terjerumuslah ia dengan mukanya ke tanah. Demikianlah Daud mengalahkan orang Filistin itu dengan umban dan batu; ia mengalahkan orang Filistin itu dan membunuhnya, tanpa pedang di tangan. Daud berlari mendapatkan orang Filistin itu, lalu berdiri di sebelahnya; diambilnyalah pedangnya, dihunusnya dari sarungnya, lalu menghabisi dia. Dipancungnyalah kepalanya dengan pedang itu. Ketika orang-orang Filistin melihat, bahwa pahlawan mereka telah mati, maka larilah mereka. 

(G4) Maka bangkitlah orang-orang Israel dan Yehuda, mereka bersorak-sorak lalu mengejar orang-orang Filistin sampai dekat Gat dan sampai pintu gerbang Ekron. Dan orang-orang yang terbunuh dari orang Filistin bergelimpangan di jalan ke Saaraim, sampai Gat dan sampai Ekron. 

» (A) Orang Filistin berasal dari keturunan Ham (Kej 19:14; 1 Taw 1:12). (B) Bangsa ini sering dipakai Allah untukmencobaiorang Israel (Hak 3:1-2). Nama “Ham” berarti panas. Dan inilah sifat hawa nafsu. Bangsa Filistin menjadi lambang dari kedagingan atau hawa nafsu

(C) Nama Goliat berarti: orang buangan. Goliat, pahlawan Filistin menggambarkan pimpinan dari daging atau hawa nafsu, yaitu menuju kepada kehancuran atau penawanan oleh Iblis. 

Perlengkapan perang Goliat terdiri dari dua jenis logam: Tembaga menggambarkan penghukuman Allah (Ul 28:23). Besi menggambarkan kekerasan (Dan 2:40-41). 

Tujuan dari perkerjaan daging atau hawa nafsu, yang dikobarkan oleh Iblis adalah supaya kita menerima penghukuman dan kekerasan-Nya (Rm 11:22 » Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh (dalam dosa), tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamu pun akan dipotong juga). Itulah sebabnya daging selalu berusaha menaklukkan roh kita. 

[Gal 5:17] Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging - karena keduanya bertentangan - sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. 

[Rm 8:13] Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup

(D) Siapa yang dikalahkan orang, ia adalah hamba orang itu (2 Ptr 2:19). apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran? Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu. Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran (Rm 6:16-18). 

(E) 40 angka “masa pencobaan” (Ul 8:2; Kis 13:18). Kita semua akan mengalami “masa ujian”, apakah kita hidup menurut daging ataukah menurut Roh? (Rm 8:13). 

Ini merupakan tantangan bagi kita. Menuruti daging/hawa nafsu dengan segala kesenangannya dan kemudian kita diperhamba dosa atau mengalahkan/mematikan keinginan daging itu dan menang terhadap dosa. 

[Kol 3:5-6] Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah. 

Hal “takut” (F1-2 » Saul) dan “berani” (G1-3 » Daud) adalah persoalan roh, dan hal ini berhubungan dengan iman. Bilamana kita lebih berpaut kepada suara Allah barulah kita akan mendapat kemenangan dalam peperangan iman. 

[Baca jugaGaya hidup Kristiani dalam kuasa kebangkitanBelajar dari kesalahan Saul]


Iman yang bertumbuh dalam roh manusia dapat mempengaruhi roh manusia lainnya (G4 – cemas dan sangat ketakutan » bangkit). Jadi pengaruh roh pada seseorang dapat menular kepada orang lain: roh dapat dialihkan (transferable). 

Bilamana mulut kita dipergunakan dengan baik (Ams 21:23 » memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran), dengan mengucapkan kata-kata baik atau perkataan iman, maka hal itu akan memberikan bimbingan dan pengarahan ke jalan yang benar, yang akan menuju kepada kehidupan kekal (Ams 10:11, 21 » Mulut orang benar adalah sumber kehidupan. Bibir orang benar menggembalakan banyak orang). 

(H) Ucapan Daud inilah, yang membawanya ke hadapan raja Saul (Ams 16:13 » Bibir yang benar dikenan raja, dan orang yang berbicara jujur dikasihi-Nya). Daud bukan hanya pandai bicara (1 Sam 16:18), tetapi apa yang dikatakan Daud adalah perkataan benar, bahwa Israel adalah umat dari Allah yang hidup. 

Untuk memperoleh kemenangan atas musuh yang sebenarnya, Daud harus lebih dahulu menang atas musuh tersamar (Eliab dan Saul): 

(I) Eliab » Bilamana kita berdiri di atas iman, seringkali kita mengalami keritikan pedas, bukan dari orang-orang di luar Tuhan, tetapi justru dari saudara-saudara seiman yang mempunyai hati cemburu (ini adalah jalan salib). 

(J) Saulmemberikan saran yang melemahkan iman dan menakut-nakuti (tidak mungkin » mustahil secara akal manusia; engkau masih muda » engkau kurang pengalaman; dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit » musuhmu hebat, berpengalaman). 

Ucapan ini diucapkan oleh pimpinan yang tidak lagi bersandar sepenuhnya pada Allah yang hidup, tetapi memakai pengalamannya sebagai ukuran dan itu bukan ukuran iman. Kedengarannya untuk kebaikan/keselamatan, tetapi hal-hal semacam ini dapat menjadi hambatan bagi mereka yang lemah imannya. 

[I] (K1-9) Daud memiliki roh iman, percaya akan janji Allah (2 Kor 4:13; 2 Tim 4:17-18; Ibr 11:6). Perkataan iman hanya dapat diucapkan oleh seseorang yang mempunyai roh iman, dan kita hanya memilikiroh imanbilamana firman Tuhan yang adalah Roh itu diam dalam roh kita (Yak 1:21 » firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu). Itulah sebabnya Daud tidak membesarkan kemampuan musuh tetapi lebih memusatkan pikirannya kepada Allah (9x). 

Ucapan Daud yang dikatakan dengan iman 

1. (K4) Goliat melawan Daud dengan perlengkapan perang. Daud ingat janji Tuhan: Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman. Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau. Daud yakin bahwa Allah ada di pihaknya, Allah berperang baginya. Jadi, ia tidak takut dengan apa yang dilakukan oleh manusia, ia percaya bahwa Tuhan adalah Penolongnya (Mat 28:20; Rm 8:31b; Ibr 13:5b-6). 

2. (L) Daud rindu Allah yang disembahnya itu dikenal dan dihargai oleh orang dunia, maka ia memberi kesaksian bahwa Allah Israel adalah Allah yang benar (Yoh 3:33; 17:3) 

3. (M) Daud ingin menyadarkan jemaat bahwa “jangan ada orang yang memegahkan diri. Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, itu bukan hasil pekerjaanmu tetapi pemberian Allah (Ef 2:8-9). 

[II] (G2) Daud mempunyai iman kebangkitan (2 Tim 1:7 » Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban), maka ia berani memberikan nyawanya. Ia percaya bahwa berada di pihak Allah pasti menang (Rm 8:31), karena peperangan ini adalah “perangnya Tuhan”, Allahlah yang menjadi Panglima perangnya. Inilah yang juga diminta Tuhan bagi kita yang mau mengikuti jalan-Nya (Mat 16:24-25 menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Aku). 

(K3) Pengalaman iman yang lalu akan menunjang kita dalam menghadapi persoalan yang akan datang yang lebih besar. Pengalaman kelepasan yang lalu menjadi modal untuk meyakini kelepasan yang akan datang (2 Tim 4:17-18). Kadang-kadang Allah memang mengizinkan pencobaan datang menimpa anak-anak Tuhan, supaya mereka mempunyai pengalaman iman bersama Tuhan, sehingga mereka nantinya mampu menghadapi pencobaan yang lebih besar (1 Kor 10:13) . 

Bilamana seseorang berpaut kepada Allah dan janji-janji-Nya dengan iman kebangkitan, maka cara dan perlengkapan yang dipakai adalah pekara sekunder. Allah dapat memakai apa saja yang ada pada kita asalkan kita bersandar pada kemampuan-Nya

(C) Goliat, musuh sesungguhnya 

(N) Perlengkapan yang diberikan oleh raja Saul itu memang baik, tetapi hal itu bukanlah suatu jaminan yang pasti untuk memperoleh kemenangan. 

Demikian juga dengan segala pengetahuan yang kita terima dari manusia, semuanya itu adalah pelengkap bukanlah yang utama dalam menghadapi peperangan rohani (peperangan iman). 

(O) Apa yang ada pada kita (Kel 4:2), bilamana diserahkan ke tangan Allah (mempunyai roh iman dan iman kebangkitan), akan memampukan kita melakukan pekara-pekara yang besar di luar kemampuan kita secara biasa

Secara matematika, Goliat lebih unggul dalam segalanya (tingginya 2,97 m; pendekar dan prajurit sejak muda; pakaian: baju zirah bersisik beratnya 56,7 kg, ketopong tembaga, penutup kaki tembaga, senjata: lembing/tombak tembaga (berat mata tombak: 6,8 kg), perisai, dan pedang) dari pada Daud (masih muda dan gembala domba; senjata: tongkat, lima batu licin, umban (= ketapel identik dengan mainan anak-anak, asal mulanya digunakan untuk berburu bahkan digunakan untuk berperang pada jaman Romawi). 

Goliat diduga menderita acromegaly (gangguan kelenjar pituitari yang menyebabkan tubuh menghasilkan hormon pertumbuhan yang berlebihan. Selain menyebabkan tubuh tumbuh dengan besar, orang yang menderita gangguan langka ini juga terancam menderita tumor otak). 

Goliat meremehkan Daud. Tubuh Goliat terlalu besar sehingga gerakannya lambat, selain itu dia tidak mampu beradaptasi karena matanya rabun sehingga tidak bisa melihat musuhnya mendekat. Daud diberi hikmat oleh Tuhan karena segala sesuatunya selalu mengandalkan Tuhan. 

Sekalipun sekarang ini kita harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan, bergembiralah. Karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus. Karena iman, kita dipelihara dalam kekuatan Allah kepada suatu hidup yang penuh pengharapan (1 Ptr 1:3-6). 

(Sumber: Warta KPI TL No. 168/IV/2019).

17.50 -

Gaya hidup Kristiani dalam kuasa kebangkitan



Pada saat dibaptis katekumen dicelupkan ke dalam air. Hal ini melambangkan dimakamkannya katekumen ke dalam kematian Kristus (dikuburkan di dalam air), dari mana ia keluar melalui kebangkitan bersama Dia (Bdk. Rm. 6:3-4; Kol 2:12) sebagai "ciptaan baru" (2 Kor 5:17; Gal 6:15) (kelahiran kembali ini, pembaharuan ini dikerjakan oleh Roh Kudus" (Tit 3:5). 

Pembaptisan adalah anugerah Allah yang paling indah dan paling mulia. Pada saat itu kita mendapatkan: anugerah (diberikan kepada mereka yang tidak membawa apa-apa), rahmat (diberikan kepada orang yang bersalah), pengurapan (seperti orang yang diurapi, kudus dan rajawi) dan meterai (melindungi kita dan merupakan tanda kekuasaan Allah). 

Siapa yang menerima pelajaran [katekese] ini, diterangi oleh Roh" (Yustinus, apol. 1,61,12). Karena di dalam Pembaptisan ia telah menerima Sabda, "terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang" (Yoh 1:9), maka orang yang dibaptis itu, setelah "menerima terang" (Ibr 10:32) menjadi putera "terang" (1 Tes 5:5), ya malah menjadi "terang" itu sendiri (Ef 5:8) (KGK 1214-1216). 

Jadi, sejak kita dibaptis, kuasa kebangkitan (kuasa Roh Kudus) yang ada dalam Kristus diwariskan menjadi milik kita. Artinya, Tuhan mau kuasa kebangkitan itu nyata menjadi pengalaman hidup kita sehari-hari. 

Ciri gaya hidup orang yang telah mengalami kuasa kebangkitan

1. Menjadikan Yesus sebagai tujuan hidupnya 

Sering kali kita kecewa, putus asa, dan stres. Itu karena Yesus bukan tujuan utama dalam hidup, tetapi sebaliknya perkara-perkara dunia ini semata yang menjadi tujuan. Apa yang menjadi tujuan hidup kita sangat penting, karena hal itu akan menentukan kualitas pelayanan dan masa depan kita. 

Allah telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan. Jadi, persekutuan dengan Tuhan jerih payah kita tidak sia-sia (1 Kor. 15:57-58). Oleh karena itu carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya (Mat 6:33); Carilah dan pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi, matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi (Kol 3:1-4) sehingga kita menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus (Flp 2:5). 

2. Menjadikan Yesus sebagai fokus penyembahan 

Para rohaniwan yang besar bukanlah pusat penyembahan kita, tetapi Yesus adalah Tuhan yang hidup, yang harus menjadi pusat penyembahan orang percaya, hanya Dia yang layak menerima pujian dan hormat (Why 4:11). 

3. Menjadikan Yesus sebagai pusat pengharapan 

Situasi dan keadaan dunia yang kita hadapi hari-hari ini tidak menentu dan selalu berubah-ubah, namun jangan takut dan cemas karena Yesus adalah pengharapan bagi orang percaya, yang setiap saat siap sedia menolong tatkala kita berseru kepada-Nya (1 Ptr 1:3-6 » Hidup penuh pengharapan akan dipelihara dalam kekuatan Allah karena iman, bergembira ketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan dan menantikan keselamatan yang telah tersedia). 

4. Menjadikan Yesus pusat pemberitaan 

Tuhan Yesuslah yang harus kita perbincangkan dalam dunia yang gelap ini (1 Kor 9:16 » aku memberitakan Injil ... itu adalah keharusan bagiku). Jadi, jangan percakapkan kekurangan orang lain, itu hanya menghabiskan waktu dan energi semata. Mari percakapkan Yesus yang penuh berkat dan cinta itu kepada setiap pribadi, agar suatu saat nanti setiap lutut akan bertelut dan setiap lidah akan mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa. 

Ketahuilah bahwa kita semua adalah saksi Tuhan, jangan terjebak dengan masalah-masalah pribadi dan rutinitas yang hanya menghambat kita untuk pergi menjangkau jiwa-jiwa yang belum terjangkau. 

Apakah yang harus dilakukan agar hidup dalam kuasa kebangkitan

1. Berkomunikasi dengan Roh Kudus, membuat kita hidup dalam otoritas ilahi. Roh Kudus yang ada di dalam diri kita, merupakan ekspresi dari kuasa kebangkitan

Sebelum kita menerima Roh Kudus, kita seperti seorang yang dibebani dengan umur dan kelemahan, tetapi jika Roh Kudus datang ke dalam kita, kita dibuat muda, indah dan penuh dengan energi (St. Yohanes Krisostomus). 

Roh Kudus sungguh-sungguh bersemayan di dalam jiwa kita dengan cinta yang tak terlukiskan ketika kita dibaptis. Dia selalu bersama kita sepanjang segala abad. Allah menyiapkan jiwa kita agar pantas menjadi Bait/Kenisah Roh Kudus, dengan cara memberikan malaikat pelindung pada setiap orang, dia melindungi sejak kita dilahirkan sampai kita menghadap Bapa di sorga. Kuasa kebangkitan Kristus selalu menghidupkan pengharapan baru dan membuat kita bisa bangkit kembali (Ams 24:16 » Tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali). 

Jika kita berbuat dosa yang melawan Roh Kudus (keputusasaan, kesombongan, sikap tidak mau bertobat, sifat membandel, melawan kebenaran, iri hati terhadap kemajuan rohani orang lain), maka Dia akan meninggalkan kita. Dan sebagai ganti-Nya datang setan dan dia mengisi jiwa yang mulia dengan kecurangan yang mengerikan dan sampah neraka. 

Roh Kudus adalah sahabat yang paling agung, paling benar, paling baik, paling lembut. Dia adalah sahabat yang dapat dan mau memberikan kepada mereka apa yang didambakan oleh semua orang (kedamaian, kebahagiaan dan kegembiraan). Dia selalu ingin mencurahkan karunia dan rahmat-Nya kepada kita. 

Karunia dan rahmat itu tidak membuat hidup kita sedih atau tegang. Tetapi jiwa kita dipenuhi dengan kedamaian, kegembiraan, dan penghiburan yang tidak kita rasakan sebelumnya. Apa yang sebelumnya sulit bagi kita sekarang menjadi mudah dan menyenangkan. Dia menerangi, menguatkan kita; Dia memungkinkan kita mengenal Allah. 

[Baca juga: Roh Kudus sahabat yang paling agung]

2. Hidup oleh roh dan berjalan dipimpin oleh Roh 

Jika kita meminta penyertaan-Nya, maka Tuhan memperkenalkan jalan-jalan-Nya sehingga kita mengenal-Nya seperti Musa (Kel 33:13; Ibr 3:2 » pengikut setia). Jika kita tidak hidup menurut ketetapan-ketetapan-Nya, kita hanya melihat perbuatan-perbuatan-Nya seperti orang Israel (Yeh 20:13 » pengagum) (Mzm 103:7).

[Baca juga:  Pengagum atau pengikutkah engkau?]

Ciri-ciri orang yang hidupnya tidak dipimpin oleh Roh (Gal 5:16 – hidupnya dikuasai oleh kedagingan): 

1. Hanya memikirkan keuntungan diri sendiri. tanpa peduli dengan beban dan perasaan orang lain maupun Tuhan. 

2. Aktif kegiatan di luar. tetapi di dalamnya kosong; aktifitas pelayanannya tidak sebanding dengan aktifitas di dalamnya. Orang kristen yang rohnya baik pasti aktif melayani Allah secara pribadi, mampu berlutut bagi diri sendiri maupun orang lain. mampu mengampuni ketika hatinya terluka. 

3. Buta rohaninya, tidak bisa membedakan mana hal yang terpenting, hal yang bisa di nomer duakan dalam kehidupan rohani dan hal-hal yang rutin. 

Semua kebaikan dan kerinduan kita untuk berdoa bukan berasal dari daging kita tetapi berasal dari Roh Allah yang menarik hati dan menggerakan semangat kita (Kid 1:4; Hag 1:14). Ketika kita berdoa, Allah akan terus-menerus memasukkan spirit-Nya sehingga kita mempunyai keinginan seperti apa yang dikehendaki-Nya (Mzm 80:19; Flp 2:13; Rm 8:26-27). 

[Baca juga: Doa mengatasi kedagingan

3. Mengandalkan hikmat dan kekuatan Roh Kudus 

Karunia Hikmat membuat orang mengenal dan mengecap betapa sedapnya Tuhan dan hal-hal adikodrati (memandang Allah dan hal-hal ilahi). Oleh karena itu mintalah kepada Allah supaya Ia memberikan Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar supaya mata hati kita terang, agar kita mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya. Betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya (Ef 1:17-19) 

Kebangkitan Kristus memberikan kita keselamatan sekaligus kuasa untuk menjalani hidup ini sebagai pemenang. Inilah dahsyatnya kuasa kebangkitan Kristus yang bekerja dalam diri kita. Separah apapun keadaan yang kita hadapi saat ini, bahkan ketika segala sesuatunya seolah-olah sudahmati”, Yesus dengan kuasa kebangkitan-Nya sanggup memulihkan keadaan kita, sehingga kita dapat menjalani hidup sesuai dengan rencana Tuhan dan hidup dalam kelimpahan kasih karunia-Nya

Marilah kita merindukan untuk mengenal-Nya dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana kita menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya kita akhirnya beroleh kebangkitan seperti rasul Paulus (Flp 3:10-11).

(Sumber: Warta KPI TL No. 168/IV/2019 » Renungan KPI TL Tgl 11 April 2019, Dra Yovita Baskoro, MM). 

Senin, 02 Juli 2018

01.20 -

Dapatkah kita menjadi Kristen tanpa percaya pada kebangkitan Kristus?

Tidak. “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami” (1 Kor 15:14 (KGK 631, 638, 651). 

Para murid, yang sebelumnya kehilangan semua harapan, berkat karya Roh Kudus percaya akan kebangkitan Yesus karena mereka melihat Dia dalam keadaan yang berbeda setelah kematian-Nya, berbicara dengan Dia, dan mengalami Dia hidup (KGK 640-644, 656). 

Peristiwa Paskah yang berlangsung di Yerusalem pada tahun ke 30 bukanlah cerita yang dibuat-buat. Setelah kematian Yesus, sebagian murid melarikan diri, yang lain mengurung diri di belakang pintu-pintu yang terkunci. 

Berkat Roh Kudus dan dalam perjumpaan mereka dengan Kristus yang telah bangkitlah yang membebaskan mereka dari kelumpuhan dan menumbuhkan iman akan Yesus Kristus sebagai Tuhan atas kehidupan dan kematian. 

(Sumber: Warta KPI TL No.156/IV/2018 » Youcat 104).

Minggu, 26 Maret 2017

19.24 -

Paska terindah dalam hidupku



Aku tidak akan pernah melupakan Paska tahun 1946. Saat itu, aku masih berumur 14 tahun, adikku Ocy berumur 12 tahun dan kakakku Darlene 16 tahun. Kami tinggal bersama mama. 

Meskipun hidup kami pas-pasan, kami berempat tahu apa yang kami lakukan. Papaku meninggal 5 tahun sebelumnya, meninggalkan mama seorang diri dengan 7 anak yang masih sekolah. Pada tahun 1946 itu, kakak-kakakku perempuan telah menikah dan kakak-kakakku yang laki-laki sudah meninggalkan rumah.

Sebulan sebelum Paska, pendeta di gereja kami mengumumkan bahwa akan ada persembahan khusus Paska yang akan diberikan kepada sebuah keluarga miskin. Dia meminta jemaatnya, tentu termasuk kami berempat, untuk menghemat uang dan menyisihkannya untuk persembahan. 

Sesampainya di rumah, kami berempat mendiskusikan tentang apa yang bisa kami perbuat. Kami memutuskan untuk membeli 50 pound kentang untuk persediaan makanan selama 1 bulan. Ini berarti menghemat uang belanja kami sebesar $20 dan dapat kami sisihkan untuk persembahan Paska itu.

Lalu kami berpikir, apabila kami menggunakan lampu sehemat mungkin dan tidak mendengarkan radio, kami juga dapat menghemat bayaran listrik untuk bulan itu. 

Darlene akan bekerja membersihkan rumah dan halaman orang lain sebanyak mungkin bulan itu, lalu Ocy dan aku menjadi pengasuh anak (baby-sitter) bagi sebanyak mungkin keluarga yang kami dapat temui. 

Untuk setiap 15 sen uang, kami dapat membeli beberapa gulung benang katun yang cukup untuk membuat 3 buah gantungan pot, lalu dijual seharga $1 per biji. Dari penjualan gantungan pot itu, kami menghasilkan uang sebanyak $20.

Bulan itu merupakan bulan terbaik yang kami alami. Setiap hari kami menghitung berapa jumlah uang yang dapat kami sisihkan. 

Setiap malam, dalam kegelapan, kami membicarakan tentang keluarga miskin yang akan menikmati persembahan uang dari gereja. Ada sekitar 80 jemaat yang beribadah di gereja kami, jadi kami membayangkan berapapun jumlah uang yang kami persembahkan, total persembahan dari seluruh jemaat pastilah 20 kali lebih besar dari jumlah uang yang dapat kami persembahkan. Selain itu, setiap Minggu Pendeta selalu mengingatkan jemaatnya tentang persembahan Paska tersebut.

Sehari sebelum Paska, Ocy dan aku pergi ke toko bahan makanan untuk menukarkan seluruh uang koin kami dan manajer toko itu memberi kami uang kertas $20 sejumlah 3 lembar dan selembar $10. 

Kami berlarian sepanjang jalan menuju rumah untuk menunjukkan lembaran-lembaran uang kertas itu pada mama dan Darlene. Kami belum pernah memiliki uang sebanyak itu sebelumnya. 

Malam itu kami berempat sangat bersukacita sehingga sulit bagi kami untuk memejamkan mata. Kami bahkan tidak peduli bahwa kami tidak punya baju baru untuk Paska; yang penting kami akan mempersembahkan uang jerih payah kami sebanyak $70 sebagai persembahan Paska. Kami sungguh tidak sabar menunggu untuk segera sampai di gereja!

Hujan mewarnai hari Minggu Paska pagi itu. Kami tidak memiliki payung padahal jarak gereja dengan rumah kami lebih dari 1 mil. Tapi hal itu tidak menjadi masalah bagi kami berempat. 

Ketika sampai di gereja sekujur badan kami basah kuyub. Darlene memanfaatkan potongan kardus bekas untuk menutupi sepatu usangnya yang mulai menganga. Tapi karena hujan, kardus itu hancur dan kakinya menjadi basah. Meskipun begitu, kami berempat duduk di gereja dengan perasaan sangat bangga.

Kami duduk di barisan kedua dari depan. Aku mendengar beberapa remaja membicarakan tentang anak-anak keluarga Smith yang memakai baju-baju lama. 

Tapi walaupun aku memandang remaja-remaja itu berpakaian baju-baju baru, namun aku tetap merasa kaya. Ketika waktu persembahan tiba, mama memasukkan $10, dan masing-masing kami memasukkan $20. Saat berjalan pulang seusai ibadah, kami terus bernyanyi. 

Saat makan siang, mama memberi kejutan. Dia telah membeli selusin telur dan kami boleh menikmati telur-telur Paska kami dengan kentang-kentang goreng!

Saat menjelang sore, kami lihat Pak Pendeta berkunjung ke rumah kami. Mama membukakan pintu dan berbicara dengannya sebentar. Lalu, Mama masuk kembali ke rumah dengan sebuah amplop di tangannya. 

Kami bertanya apakah isi amplop itu, tapi mama tidak memberi jawaban. Mama membuka amplop itu dan didalamnya terdapat sejumlah uang, 3 lembar uang $20, selembar uang $10, dan 17 lembar uang $1. Mama memasukkan kembali uang itu ke dalam amplop. Tak sepatah katapun diucapkannya, kami hanya terpekur memandangi lantai. Perasaan kami yang semula seperti seorang milioner, kini terhempas menjadi seperti orang papa yang sangat miskin.

Selama ini kami telah hidup sebagai anak-anak yang bahagia dan kami sering merasa kasihan dengan anak-anak yang tidak memiliki orang tua seperti kami, atau yang tidak mempunyai rumah yang penuh dengan saudara laki-laki dan perempuan serta sering dikunjungi anak-anak lain. 

Walaupun kami tidak memiliki cukup sendok dan garpu untuk masing-masing kami, namun justru menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk berharap siapa yang akan mendapat garpu atau sendok yang lengkap malam itu. Dua pisau makan yang kami punyai harus kami pakai secara bergiliran.

Aku tahu bahwa keluargaku tidak memiliki banyak barang seperti yang dimiliki keluarga lain, tetapi aku tidak pernah berpikir bahwa kami adalah keluarga miskin. Tapi, Paska tahun itu sungguh menyadarkan kami bahwa ternyata kami termasuk keluarga yang paling miskin di gereja kami.

Aku sangat tidak suka dikatakan miskin. Tapi ketika aku melihat baju dan sepatu yang kupakai, hal ini membuatku merasa tidak lagi ingin pergi ke gereja. Setiap jemaat pastilah sudah tahu bahwa kami adalah keluarga miskin! Aku juga berpikir tentang sekolah. Saat itu aku ada di SMA kelas 1 dan meraih ranking 1 di antara 100 murid yang ada. 

Tapi apakah teman-teman di sekolah juga mengetahui bahwa aku termasuk orang miskin? Ingin rasanya aku memutuskan untuk keluar dari sekolah karena toh aku telah menyelesaikan SMP dan telah memenuhi batas wajib belajar yang ditentukan aturan hukum yang berlaku saat itu.

Kami duduk dan diam sepanjang sisa hari Minggu itu. Ketika hari menjadi gelap, kami semua langsung pergi tidur. Sepanjang minggu itu kami bertiga pergi ke sekolah dan langsung pulang ke rumah. Tidak ada selera untuk bercanda dan berbicara sama sekali. 

Ketika hari Sabtu tiba, mama menanyakan apa yang ingin kami lakukan dengan uang persembahan itu. Apa yang kira-kira akan dilakukan orang miskin bila mendapatkan uang? Kami tidak tahu, karena selama ini kami tidak pernah merasa bahwa kami orang miskin.

Kami bertiga sebenarnya tidak ingin pergi ke gereja hari Minggu itu, tapi mama berkata bahwa kami harus tetap beribadah. Meskipun matahari bersinar cerah, tapi kami sama sekali tidak berbicara sepanjang perjalanan ke gereja. Mama mulai menyanyikan sebuah pujian, tapi tak satupun dari kami yang turut menyanyi dan mama hanya menyanyikan satu bait saja. 

Ada seorang misionaris yang datang berkotbah di gereja kami Minggu itu. Dia menceritakan tentang bagaimana gereja-gereja di Afrika dibangun dengan menggunakan batu bata yang dikeringkan dengan tenaga matahari dan gereja-gereja itu masih membutuhkan uang untuk membuat atap-atap gereja. 

Misionaris ini mengatakan bahwa uang sebesar $100 akan cukup untuk membuat atap gereja mereka. Pendeta gereja kami menghimbau, "Dapatkah kita memberi persembahan untuk menolong orang-orang di Afrika untuk membangun atap gereja mereka di sana?"

Kami saling berpandangan dan untuk pertama kalinya sepanjang minggu itu, kami tersenyum. Mama dengan cepat mengambil amplop uang dari dompetnya. Dia memberikannya pada Darlene, lalu Darlene memberikannya padaku, dan langsung kuberikan ke Ocy, dan Ocy meletakkannya di kantong persembahan. 

Ketika persembahan itu dihitung, majelis mengumumkan bahwa jumlah semua persembahan yang terkumpul adalah "$100 lebih sedikit". 

Misionaris itu sungguh bersuka cita. Dia tidak menyangka akan mendapat persembahan yang begitu besar dari gereja yang kecil ini. 

Misionaris itu berkata, "Pasti ada orang-orang kaya di gereja ini." Perkataan itu menyentuh kami! Kamilah yang mempersembahkan $87 dari total persembahan "$100 lebih sedikit" tadi! Bukankah misionaris itu yang mengatakan bahwa kami kaya? 

Sejak saat itu, aku tidak pernah merasa miskin lagi. Aku selalu ingat betapa kayanya aku karena memiliki Yesus dalam hidupku.

(Sumber: Warta KPI TL No.127/XI/2014 » misi.sabda.org/paskah_terindah_dalam_hidupk).

Selasa, 24 Januari 2017

20.19 -

Buah pengalaman paskah



Cara hidup yang dihayati dan ditampilkan oleh jemaat perdana sungguh menarik. Dalam Kisah Para Rasul diceriterakan bahwa “kumpulan orang yang telah percaya akan Yesus sehati dan sejiwa”. 

Tanda bahwa mereka sehati sejiwa adalah mereka selalu membagikan apa yang mereka miliki kepada orang lain. Mereka tidak hidup untuk diri mereka masing-masing. Mereka belajar hidup untuk orang lain. Tidak hanya itu, mereka memusatkan hidupnya kepada Kristus dalam bimbingan para rasul.

Ekspresi hidup beriman yang ditampilkan oleh jemaat perdana adalah buah pengalaman paskah. Karena percaya pada Kristus yang bangkit, hidup mereka diubah dari cara hidup yang lama yang hanya suka memikirkan dirinya sendiri menjadi lebih suka memperhatikan orang lain seperti Kristus memperhatikan dan mengasihi mereka. 

Hidup mereka diubah dari sikap bersandar pada diri sendiri menjadi bersandar pada Kristus yang bangkit.

Cara hidup jemaat perdana ini adalah cara hidup kita sebagai orang Kristiani. Dengan hidup sebagai mana layaknya seorang Kristiani, maka kita akan menuntun orang kepada Kristus. Ini tidak gampang! karena itu, kita perlu memohon agar kita dilahirkan kembali dalam Roh oleh Kristus! 

(Sumber: Warta KPI TL No.141/I/2017 » Renungan Rm. Bastian, CM)

Selasa, 26 April 2016

21.17 -

Kebangkitan Kristus memberi harapan

Ketika saya bertugas di Milan, saya melihat seorang ibu yang penuh semangat bekerja di pastoran. Pagi-pagi buta dia sudah membersihkan pastoran, mencuci pakaian dan menyiapkan makanan untuk para romo yang tinggal di sana. 

Suatu hari saya bertanya: “Ibu, bekerja di sini digaji berapa sebulan?” Jawabnya: “Saya bekerja di sini atas kemauan saya sendiri, saya tidak digaji.” Mendengar jawaban tersebut saya terkejut. 


Lalu dia melanjutkan ceritanya: “Dulu saya seorang yang membenci Tuhan, saya jahat sekali dan tidak mau ke gereja. Ketika suami saya meninggal, saya pikir saya akan melarat karena saya tidak mempunyai suatu pekerjaan. Ternyata Tuhan begitu peduli dalam kehidupan saya, saya diberi-Nya jalan keluar sehingga tidak kekurangan sesuatu apapun. Kristus telah membangkitkan jiwa saya. Hal inilah yang membuka mata saya untuk kembali ke Kristus dan bekerja demi kemuliaan-Nya.”

Paskah, kebangkitan Kristus telah benar-benar dirasakan oleh ibu di atas sehingga pola pikirnya berubah, dari perasaan putus asa menjadi penuh harapan dalam kehidupannya.

Kebangkitan Kristus membuat sukacita. Akan tetapi ada banyak orang Kristen yang imannya terguncang karena diserang oleh pihak lain, mereka mengatakah bahwa Yesus tidak pernah bangkit. Hal ini terjadi sejak gereja awali (Mat 28:13-15 - tersiar cerita tentang Yesus yang jenazahnya dicuri murid-murid-Nya ketika malam) sampai sekarang (dengan ditemukannya kubur Yesus, Injil Tomas, Injil Barnabas, silsilah Maria Magdalena dll.).

Ketika ada ajaran sesat, gereja mengadakan konsili. Tujuan konsili untuk menegaskan kembali ajaran Gereja yang sudah berakar sebelumnya. Jadi, yang ditetapkan dalam konsili merupakan peneguhan ataupun penjabaran ajaran yang sudah ada, dan bukannya menciptakan ajaran baru.

Jika kita mempelajari sejarah Gereja, kita akan semakin menyadari bahwa Tuhan Yesus sendiri menjaga Gereja-Nya: sebab setiap kali Gerejadiserangoleh ajaran yang sesat, Allah mengangkat Santo/Santa yang dipakai-Nya untuk meneguhkan ajaran yang benar dan Yesus memberkati para penerus rasul dalam konsili-konsili untuk menegaskan kembali kesetiaan ajaran Gereja terhadap pengajaran Yesus kepada para Rasul.

Konsili menghasilkan Magisterium (Wewenang Mengajar) Gereja.

Iman tidak pernah mengecewakan
Allah selalu menjawab iman yang mempertanyakan,
Bahkan ketika Ia tidak menjawab
Seperti yang diharapkan secara manusiawi oleh orang beriman.
(Adrienne von Speyr)

Jadi, ajaran Gereja Katolik menjawab pertanyaan yang paling mendasar dalam hidup kita. Pertanyaan-pertanyaan hanya bisa dijawab dengan memuaskan jika kita punya keterbukaan hati terhadap rahmat Tuhan, menerima apa yang dinyatakan Yesus melalui Gereja yang didirikan-Nya.

Untuk beriman kita perlu bukti, iman tanpa bukti tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Firman itu adalah Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita (Yoh 1:1, 14). Allah itu Roh (Yoh 4:24 » tidak kelihatan). 

Iman timbul dari pendengaran dan pendengaran oleh firman Kristus (Rm 10:17). Masih banyak tanda-tanda yang dibuat Yesus yang tidak tercatat dalam kitab ini. Tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya (Yoh 20:30-31; kitab » ada yang dilihat).

Jika Kristus tidak bangkitkan,
maka sia-sialah kepercayaan kamu.
(1 Kor 15:17)

Segala pekerjaan yang telah dilakukan dengan jerih payah, berlelah-lelah dengan hikmat, pengetahuan dan kecakapan ... harus meninggalkan bahagiannya kepada orang yang tidak berlelah-lelah untuk itu. Ini kesia-siaan dan kemalangan besar (Pkh 2:11, 21).

Nasib semua orang sama: baik orang yang benar maupun orang yang fasik, orang yang baik maupun orang yang jahat, orang yang tahir maupun orang yang najis, orang yang mempersembahkan korban maupun yang tidak mempersembahkan korban, mereka menuju alam orang mati (Pkh 9:1-3).

Mengapa Pengkotbah mengatakan “semuanya sia-sia”? Karena dia tidak pernah tahu ada kebangkitan orang mati.

Mengapa kebangkitan sangat penting? Sebab selama ini tidak ada gagasan tentang kebangkitan, tidak ada orang mati seperti Kristus dinyatakan bangkit. Tidak ada.

Marilah kita belajar dari Yoh 20:19-29

Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!”

Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.

Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.”

Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”

Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ.

Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: “Kami telah melihat Tuhan!” Tetapi Tomas berkata kepada mereka: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.”

» Para murid kecewa pada Yesus, karena mereka mengharapkan Yesus sebagai pembebas bangsa Israel, ternyata Yesus mati disalib. Meskipun demikian mereka tetap hidup dalam komunitas sehingga mengalami kebangkitan Kristus

Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!”

Kemudian Ia berkata kepada Tomas: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.”

Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!” 

Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya.”

» Paskah dirayakan selama delapan hari (Oktaf Paskah). Sejak tahun 2000 Paus Yohanes Paulus II menetapkan Hari Minggu Paskah II menjadi Hari Minggu Kerahiman Ilahi

Tomas tidak berada dalam komunitas sehingga dia tidak mengalami Kristus yang bangkit. Jadi, janganlah pernah meninggalkan komunitas, berdoa sendiri di rumah, tidak lagi ke gereja atau tidak ikut persekutuan umat beriman. Belajarlah pada pengalaman gereja awali, orang-orang percaya berkumpul dan Roh Kudus melawat mereka ketika mereka berdoa bersama (Kis 2:1-13).

Paskah adalah suatu peralihan dari dunia lama ke dunia baru, habis gelap terbitlah terang, ada sesuatu yang baru yang lain.

Serdadu-serdadu membawa Yesus ke dalam istana, yaitu gedung pengadilan, dan memanggil seluruh pasukan berkumpul. Mereka mengenakan jubah ungu kepada-Nya, menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya. Kemudian mereka mulai memberi hormat kepada-Nya, katanya: “Salam, hai raja orang Yahudi!”

Mereka memukul kepala-Nya dengan buluh, dan meludahi-Nya dan berlutut menyembah-Nya. Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah ungu itu dari pada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya (Mrk 15:16-20a).

Kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat mati-Nya demikian, berkatalah ia: "Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!” (Mrk 15:39),

» Kristus dihina dan dicaci maki bukan diam bodoh, tetapi mampu membuka mata orang yang menyiksa-Nya melihat bahwa Dia adalah sungguh Anak Allah.

Bagaimana caranya melihat Yesus yang bangkit dalam diri sesama kita?

Karena takut Petrus menyangkal Yesus (Mat 26:69-75) » bangkit dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka: “...” (Kis 2:14-36; 3:12-26; 4:1-22).

Sementara itu berkobar-kobar hati Saulus untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar, dan meminta surat kuasa dari padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.

Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” Jawab Saulus: “Siapakah Engkau, Tuhan?” Kata-Nya: “Akulah Yesus yang kauaniaya itu.” (Kis 9:1-5).

Setibanya di Yerusalem Saulus mencoba menggabungkan diri kepada murid-murid, tetapi semuanya takut kepadanya, karena mereka tidak dapat percaya, bahwa ia juga seorang murid.

Tetapi Barnabas menerima dia dan membawanya kepada rasul-rasul dan menceritakan kepada mereka, bagaimana Saulus melihat Tuhan di tengah jalan dan bahwa Tuhan berbicara dengan dia dan bagaimana keberaniannya mengajar di Damsyik dalam nama Yesus (Kis 9:26-27).

» Syarat seseorang disebut rasul: (1) menjadi saksi kebangkitan Yesus dari antara orang mati. (2) Diberi tugas oleh Tuhan untuk pewartaan misionaris, agar dengan pewartaan Injil membangkitkan iman dan mempersatukan para beriman dalam satu jemaat (Gal 1:15-17; 1 Kor 9:1-2; 15:7-11; 2 Kor 10:13-16).

Barnabas melihat perubahan hidup Paulus. Perubahan hidup ini terjadi setelah Pulus melihat Yesus yang bangkit.

Pemberitaan Kristus yang disalibkan,
untuk orang Yahudi suatu batu sandungan
dan untuk orang bukan Yahudi suatu kebodohan,
tetapi untuk mereka yang dipanggil,
Kristus 
adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.
(1 Kor 1:23-24)

Jika kita mau dihina, dicaci maki dan diolok-olok sampai mati, tetapi tidak membuat orang lain sadar bahwa kita ini benar-benar seperti Yesus, maka kita baru menjadi orang bodoh yang mau diinjak-injak, belum mampu membuka sesuatu yang baru kepadanya.

Ingatlah! Tujuan penderitaan untuk mengetahui apa yang ada di dalam hati kita, apakah kita berpegang pada perintah-Nya atau tidak. Untuk membuat kita mengerti bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan Tuhan (Ul 8:2-3).

Kita tahu bahwa Kristus bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi; maut tidak berkuasa lagi atas Dia (Rm 6:9). Jika kita percaya Yesus sudah bangkit, maka kita punya pengharapan. Jadi, sebagai manusia baru, kita harus berani mengatakan: “Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu? (1 Kor 15:55). 

Dengan cara ini kita tidak berfokus pada hal-hal yang negatif, tetapi bisa memikirkan semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji (Flp 4:8).

(Sumber: Warta KPI TL No.132/IV/2016 » Renungan KPI TL Tgl 7 April 2016, Bapak Edwin Pascalis).

Jumat, 30 Oktober 2015

20.53 -

Kuasa Kebangkitan



Lewat peristiwa Paskah, Yesus ingin berbicara:

Tidak akan pernah ada kemuliaan yang Allah janjikan - sebelum kita berani melewati kehinaan.


Tidak akan pernah ada peninggian - sebelum kita berani dibawa turun ke dasar jurang yang paling dalam. Kalau mau jadi yang terbesar ‘milikilah hati seorang hamba (jadilah pelayan – harus berjuang). 



Tidak akan pernah ada kehidupan - sebelum kita berani melewati kematian daging (berani mengalami direndahkan sampai dasar yang paling bawah sampai habis semua kedagingan/ambisi kita).


Hal ini tidak mungkin dilakukan oleh usaha manusia sendiri, karena semua ini hanya anugerah Allah semata-mata.


Peristiwa Paskah seharusnya memberikan makna kehidupan baru di dalam hidup setiap anak-anak Tuhan dan membawa kuasa kebangkitan di dalam hidupnya; pergumulan masih tetap ada, tetapi ada suka cita di dalam menjalani kehidupannya.

Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera... meskipun di padang gurun (Yes 32:16-17).

Kalau kita mau dipakai Tuhan secara luar biasa (mempunyai kuasa kebangkitan), janganlah kuatir akan kehidupanmu karena sorga akan memback up seluruh kehidupan kita, asal kita ‘mau radikal dalam mengikuti Yesus’. Karena Tuhanlah yang semata-mata mengangkat dan meninggikan kita, bukan karena kita banyak talenta/kepandaian/sistem/promosi. Misalnya: Fery - anak seorang tukang becak dapat menjadi juara pada AFI I.

Semua yang ingin kita terima harus melewati kematian. Jadi jangan izinkan tekanan/kesuksesan menghancurkan janji Tuhan di dalam hidup kita. Ingatlah Yesus mati hanya tiga hari dan membawa akibat yang luar biasa, artinya: penderitaan/pergumulan/masalah ekonomi itu hanya sementara saja.

(Sumber: Warta KPI TL No. 37/V/2007; Renungan KPI TL Tgl 19 April 2007, Dra Yovita Baskoro, MM).