Sabtu, 20 Juli 2019

07.00 -

Pembunuh potensi



Mahatma Gandi tertarik dengan Kristus, ia sudah membaca Injil sampai katam dan ia juga melakukan apa yang Injil katakan, tetapi ia tidak mau dibaptis karena ia melihat kehidupan sebagian orang Kristen tidak sesuai dengan Injil, katanya: "Yesus saya suka, Injil saya kerjakan. Tetapi saya tidak mau menjadi orang Kristen karena ada sebagian orang Kristen yang tidak melakukan apa yang dikatakan Yesus." Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga melakukannya? 

Seringkali orang-orang Kristen sendiri menjadi penghalang besar bagi orang-orang yang ingin mendekati KristusKarena kita seringkali berkotbah tentang injil yang tidak kita hayatiInilah alasan mendasar mengapa begitu banyak orang di dunia ini yang tidak percaya (Mother Teresa) .

Pengikut Kristus atau orang percaya, bukan otomatis sudah menjadi murid Kristus. Yesus selalu dikelilingi banyak orang, tetapi hanya 12 orang yang terpilih menjadi murid-Nya. Jadi apakah cukup kalau kita hanya menjadi seorang pengikut? Tidak, karena Tuhan Yesus sendiri memerintahkan semua orang menjadi murid-Nya dan juga memuridkan (Mat.28:19). 

Ciri-ciri seorang murid dan pengikut 

1. Pengikut menunggu, murid mencari (Mat 14:13-21 » pengikut: orang banyak itu duduk di rumput; murid: memberi makan, yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan; murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak. Seorang murid tidak menunggu diberkati Tuhan lebih dulu, tapi mau menjadi berkat lebih dahulu). 

2. Pengikut memikirkan diri sendiri, murid berproduksi (Luk.4:42-44 » pengikut: orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Mereka mau Yesus menjadi milik mereka sendiri. Menjadi murid bukanlah untuk ambisi ingin kaya, populer, dsb, tapi untuk berproduksi, yaitu memenangkam jiwa. 

3. Pengikut dibawa, murid dibuat. Untuk menghasilkan pengikut kristus, yang harus kita lakukan adalah membawa injil kepadanya (Rm 10:14-15 » diutus membawa kabar baik, memberitakan-Nya, mereka mendengar tentang Dia, mereka dapat percaya kepada Dia, mereka dapat berseru kepada-Nya). Tapi tantangan sebenarnya adalah apakah kita bisa tetap tinggal di dalam Dia (Yoh 15:4). Itulah yang akan menjadikan kita murid kristus atau sekedar pengikut. 

4. Pengikut mencari pujian, murid berkorban. Ketika dalam mengikut Kristus, kita masih melakukan sesuatu hanya dengan tujuan mencari pujian, maka kita masih dalam level pengikut. Sebaliknya, seorang murid menyadari jika saat ini ia bisa melayani, bahkan berkorban bagi kristus, itu adalah ucapan syukurnya atas Yesus yang telah berkorban lebih dulu untuknya. 

5. Pengikut bisa terjebak pada rutinitas dan tidak menyukai perubahan, murid menyukai perubahan (Yoh 6:60-69 » pengikut: perkataan ini keras – mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Dia karena Yesus tidak berbuat sesuai dengan harapan mereka. Ketika mereka sudah biasa hidup dalam sukacita karena berkat Allah yang melimpah, mereka bisa terguncang bahkan mundur ketika Allah melakukan perubahan dalam hidupnya. Murid: perkataan ini keras – kami telah percaya dan tahu, bahwa ..., tetap setia walaupun ...). 

6. Pengikut mencari dukungan, murid memberi mendukung. Fokus pengikut sering kali masih terbatas pada dirinya sendiri, ia mencari Yesus hanya karena ingin disembuhkan atau dilepaskan dari masalahnya. Tetapi, fokus seorang murid adalah tetap setia pada-Nya dan selalu terlibat dalam pelayanan yang ia lakukan bagi orang lain, bahkan ia rela meninggalkan sanak keluarganya untuk mengikuti Yesus. 

7. Pengikut berbicara di belakang, murid mencari solusi (Kis 61-7 » pengikut: bersungut-sungut, hanya menuntut dan ketika tidak puas lalu bicara di belakang. Tapi seorang murid mau proaktif mencari jalan keluar. Mengapa? Karena mereka merasa memiliki tanggung jawab dan dedikasi untuk kebaikan bersama. 

Kristus telah meninggalkan teladan bagi kitasupaya kita mengikuti jejak-NyaSeorang murid yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya, memberi teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataan kita, dalam tingkah laku kita, dalam kasih kita, dalam kesetiaan kita dan dalam kesucian kita, memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu (1 Ptr 2:21; Yoh 13:15; 1 Tim 4:12; Yes 50:4) 

Sejak dibaptis, kita menjadi milik Kristus dan kita harus menyalibkan daging dengan segala nafsu dan keinginannya (Gal 5:24; Luk 9:23 » harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku). 

Kristus adalah tuan dan kita hamba-Nya (Kol 3:24). Kita telah menjadi pelayan-Nya sesuai dengan pengerjaan kuasa-Nya (Ef 3:7; 1 Kor 7:22; Kol 1:25; Mat 25:15 » diberi talenta/potensi, masing-masing menurut kesanggupannya). 

Marilah kita belajar dari Gideon agar potensi kita tidak terbunuh sehingga rencana Tuhan dapat tergenapi dalam hidup kita

Orang Israel melakukan apa yang jahat di mata Tuhan; sebab itu Tuhan menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Median, tujuh tahun lamanya (Hak 6:1). 

[Hak 6:11-14] Malaikat Tuhan menampakkan diri kepada Gideon dan berfirman kepadanya, demikian: “Tuhan menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani.” Jawab Gideon kepada-Nya: "Ah, tuanku, jika Tuhan menyertai kami, mengapa semuanya ini menimpa kami? ... Lalu berpalinglah Tuhan kepadanya dan berfirman: "Pergilah dengan kekuatanmu ini dan selamatkanlah orang Israel dari cengkeraman orang Midian. Bukankah Aku mengutus engkau!"  

[Hak 8:18-21] Kemudian bertanyalah Gideon kepada Zebah dan Salmuna (raja-raja Median): "Di manakah orang-orang yang telah kamu bunuh di Tabor itu?" Jawab mereka: "Mereka itu serupa dengan engkau, sikap mereka masing-masing seperti anak raja." Lalu kata Gideon: "Saudara-saudarakulah itu, anak-anak ibuku! Demi Tuhan yang hidup, seandainya kamu membiarkan mereka hidup, aku tidak akan membunuh kamu." Katanya kepada Yeter, anak sulungnya: "Bangunlah, bunuhlah mereka." Tetapi orang muda itu tidak menghunus pedangnya, karena ia takut, sebab ia masih muda. Lalu kata Zebah dan Salmuna: "Bangunlah engkau sendiri dan paranglah kami, sebab seperti orangnya, demikian pula kekuatannya." Maka bangunlah Gideon, dibunuhnya Zebah dan Salmuna, kemudian diambilnya bulan-bulanan yang ada pada leher unta mereka . 

» Nama bukanlah hal yang sepele, dapat menunjukkan karakter/kepribadian seseorang. Jadi, “ada arti” yang terkandung di dalam nama seseorang. Gideon (pejuang yang tangguh); Zebah (korban); Salmuna (menarik diri dari perlindungan; Yeter (unggul). 

Gideon adalah pejuang yang tangguh, maka dia membunuh musuhnya, yaitu: Zebah dan Salmuna. 

Musuh yang pertama adalah: Zebah. Pembunuh potensi pertama, yaitu: hati yang tidak mau berkorban. Banyak orang yang mau melayani tetapi mereka tidak mau berjuang untuk memiliki karakter seorang hamba sehingga talenta/potensi mereka terbunuh oleh dirinya sendiri

Seorang hamba yang baik dan setia, tidak tawar hati ketika melayani tuannya karena batinnya dibaharui dari sehari ke sehari (2 Kor 4:1, 16). 

Ciri-ciri karakter hamba yang baik dan setia

1. Selalu siap sedia baik atau tidak baik waktunya (2 Tim 4:2; 2 Tim 2:4 » tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya). 

2. Selalu memperhatikan kepentingan orang lain (Flp 2:3-4; 1 Kor 10:33; Gal 6:10). 

3. Melakukan yang terbaik dengan apa yang dimilikinya (1 Ptr 4:10). 

4. Selalu setia pada pelayanannya, sekecil apapun tugas itu (Mat 25:23). 

5. Selalu rendah hati. 

Ketika kita mau mengambil komitmen untuk melayani, kita harus mau menjadi seorang hamba yang melayani dan melakukan segala sesuatunya hanya untuk kemuliaan Tuhan. Seorang hamba tidak memiliki kehendaknya sendiri, dia hanya tunduk dan mengerjakan kehendak tuannya. Jadi, apabila kita telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepada kita, hendaklah kita berkata: “Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan." (Luk 17:10). 

Musuh kedua adalah Salmuna. Pembunuh potensi kedua, yaitu: tidak ada penundukan diri. Allah membuat lembaga-lembaga, di mana setiap orang harus menundukkan diri kepada semua lembaga (1 Ptr 2:13-14), harus berpusatkan kepada Yesus Kristus sebagai Kepala dari segala sesuatu, pertama-tama taat kepada orang tua (Kol 3:20), taat kepada suami (Ef 5:24), taat kepada pemerintah (Tit 3:1) dll. 

Oleh karena penundukan diri adalah perintah Allah, maka dapat kita katakan bahwa penundukan diri itu merupakan bagian dari ibadah. Penundukan diri yang kita lakukan karena iman kepada Allah mengandung janji untuk hidup sekarang ini dan di hidup yang akan datang. Ketaatan kepada perintah Tuhan akan memberikan keuntungan besar jika kita melakukannya dengan setia (1 Tim 4:8). 

Penundukan diri menuntut penguasaan diri karena itu kita perlu sadar untuk merendahkan hati dan menguasai emosi kita untuk mengikuti apa yang telah ditetapkan oleh orang-orang yang berwenang di atas kita. Mungkin hal yang ditetapkan kepada kita tidak kita sukai karena berbeda dengan cara dan pemikiran kita, namun tetap harus kita lakukan sejauh hal itu tidak melanggar perintah Tuhan. Jadi, kita harus menyalibkan daging dengan segala nafsu dan keinginannya (Gal 5:24). 

Bila seseorang mau belajar menundukkan diri pada wewenang yang ada di atasnya, maka lama kelamaan hal ini akan membentuk hatinya menjadi hati yang taat (Yeh 11:19-20). 

Gideon hendak mengunggulkan Yeter, anak sulungnya (mempromosikannya sebagai pahlawan), namun perasaan takut telah membuatnya layu sebelum berkembang. Pembunuh potensi ketiga adalah perasaan takut. Hal ini terjadi karena “kurang percaya pada janji Tuhan, yang akan menyertainya” (Mat 8:26; 28:20). Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan (1 Yoh 4:18). 

Orang Kristen sejati adalah mereka yang memakai pikiran Kristus, hidup menurut Roh, mengasihi Allah dengan segenap hati dengan berani membayar harga untuk melakukan kehendak-Nya (1 Kor 2:16; Rm 8:5; Gal 5:16-25; Yoh 4:34; Flp 2:7-8). 

(Sumber: Warta KPI TL No. 171/VII/2019 » Renungan KPI TL Tgl ... 2019, Dra Yovita Baskoro, MM). 

Jumat, 19 Juli 2019

19.52 -

Peranan Bunda Maria di dalam Pembaharuan Karismatik



Masih banyak dijumpai pandangan-pandangan yang keliru tentang apa dan bagaimana Pembaharuan Karismatik Katolik. Di antaranya adalah masih adanya suara-suara yang mengatakan bahwa Pembaharuan Karismatik Katolik lebih mengarah ke iman Kristen yang lain. Tandanya adalah bahwa Pembaharuan Karismatik Katolik tidak mau berdoa melalui Bunda Maria. Pandangan ini sama sekali keliru. 

Seorang ahli Teologi yang khusus mendalami Mariologi, yaitu Stefani de Fiores, justru membuat satu tulisan khusus tentang bagaimana peranan Bunda Maria di dalam Pembaharuan Karismatik, dan tulisan ini dimasukkan dalam bukunya yang tebal tentang Mariologi: 

“Dari antara semua gerakan dalam Gereja Katolik yang menemukan kembali peran Maria dalam hidup yang injili atau dalam perjalanan hidup kristiani adalah Pembaharuan Karismatik.” 

Apakah artinya bahwa Maria adalah buah Pentakosta dan model kepenuhan dalam Roh Kudus? Marilah kita melihat 3 hal yang akan membawa kita sampai pada pengertian tersebut. 

1. Maria adalah tipe dari Gereja yang lahir dari Roh Kudus

Maria adalah model bagi Gereja di dalam hubungannya secara baru dengan Roh Kudus dalam usaha untuk sungguh menjadi seperti Kristus, bersatu dengan Dia. Ada persamaan di antara dua peristiwa Pentakosta ini, yaitu dalam struktur dan dinamikanya: 

- Kedatangan Roh Kudus 

Pentakosta untuk Bunda Maria: Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau (Luk. 1:26-37). 

Kisah Pentakosta para Rasul: Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, ... (Kis. 2:1-13). Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu (Kis 1:8). 

- Melakukan misi 

Maria: Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda (Luk 1:39). 

Para Rasul yang dipilih-Nya: Kamu akan menjadi saksi-Ku ... sampai ke ujung bumi. Kis 1:3, 8). 

- Adanya luapan kegembiraan 

Elisabet dan Yohanes Pembaptis dan Maria: Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana (Luk 1:40-45). 

Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia. ..." (Luk 1:46-55). 

Para Rasul: Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini. Orang-orang ini tidak mabuk seperti yang kamu sangka, karena hari baru pukul sembilan, tetapi itulah yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi Yoël: 

Akan terjadi pada hari-hari terakhir -- demikianlah firman Allah -- bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi. Juga ke atas hamba-hamba-Ku laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu dan mereka akan bernubuat. Dan Aku akan mengadakan mujizat-mujizat ... Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak ... (Kis 2:14-33). 

2. Maria adalah model utama bagi orang yang sudah mengalami Pencurahan Roh Kudus (hidup baru dalam Roh) 

Dari kisah pewartaan Kabar Gembira oleh Malaikat Gabriel kepada Maria, kita bisa melihat bahwa Maria adalah manusia pertama yang menerima karya Roh Kudus di dalam dirinya (Luk 1:35). Oleh karena fakta itulah, maka Maria disebut sebagai model utama bagi mereka yang menerima Pencurahan Roh. 

Berdasarkan pengertian teologis dari Kisah Para Rasul, Pentakosta adalah peristiwa pembaptisan dalam Roh Kudus (Kis. 1:5), yang kemudian di dalam Pembaharuan Karismatik disebut sebagai Pencurahan Roh. Perubahan sebutan ini sebenarnya adalah untuk menghindari kerancuan dengan realitas Sakramen Baptis, karena memang pembaptisan dalam Roh Kudus bukanlah Sakramen. 

3. Maria adalah model utama dari hidup karismatik (hidup dalam Roh) 

Maria, ibu Yesus adalah satu-satunya nama yang disebut-sebut ada bersama para Rasul pada waktu mereka bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama (Kis 1:14). Karunia berbahasa roh merupakan salah satu karunia yang mewarnai peristiwa Pentakosta: “Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya” (Kis 2:4). 

Terlebih lagi, karena Pentakosta yang dialami secara khusus oleh Bunda Maria sewaktu dia menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel, maka Maria disebut tipe pre-Pentakosta dalam karunia nubuat. Hal ini dapat dilihat melalui Fiat-nya, yaitu dalam Magnificat (Luk. 1:46-56), yang diucapkannya setelah Roh Kudus tercurah atas dirinya (Luk. 1:35) Dan karena adanya karunia nubuat inilah maka Maria diberi gelar nabiah dalam Tradisi Yunani dan Latin. 

Berdasarkan semua penjelasan di atas, dengan memakai istilah Karismatik zaman sekarang, kita dapat mengatakan bahwa memang Maria adalah orang Karismatik pertama. Artinya orang pertama yang sungguh mengalami kepenuhan dalam Roh Kudus. Oleh karena itu, sungguh tepatlah dan memang sudah seharusnya kalau dia dijadikan model atau teladan bagi orang-orang Karismatik. 

Senin, 08 Juli 2019

06.00 -

Kej 32:22-32

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yal 1:21)


Penanggalan liturgi

Selasa, 9 Juli 2019: Hari Biasa XIV - Tahun C/I (Hijau)
Bacaan: Kej 32:22-32; Mzm 17:1, 2-3, 6-7, 8b, 15; Mat 9:32-38


Pada malam itu Yakub bangun dan ia membawa kedua isterinya, kedua budaknya perempuan dan kesebelas anaknya, dan menyeberang di tempat penyeberangan sungai Yabok. Sesudah ia menyeberangkan mereka, ia menyeberangkan juga segala miliknya. 

Lalu (2A) tinggallah Yakub seorang diri. Dan (2B) seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing. Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga (3) sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu.

Lalu kata orang itu: "Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing." Sahut Yakub: "Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku."

Bertanyalah orang itu kepadanya: "Siapakah namamu?" Sahutnya: "Yakub." Lalu kata orang itu: "Namamu tidak akan disebutkan lagi (1) Yakub, tetapi (4) Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang." 

Bertanyalah Yakub: "Katakanlah juga namamu." Tetapi sahutnya: "Mengapa engkau menanyakan namaku?" Lalu diberkatinyalah Yakub di situ.

Yakub menamai tempat itu Pniel, sebab katanya: "Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong!" Lalu tampaklah kepadanya matahari terbit, ketika ia telah melewati Pniel; dan Yakub pincang karena pangkal pahanya.

Itulah sebabnya sampai sekarang orang Israel tidak memakan daging yang menutupi sendi pangkal paha, karena Dia telah memukul sendi pangkal paha Yakub, pada otot pangkal pahanya.


Renungan


1. Berkat - Tuhan tidak pernah menghalalkan cara apapun

(1) Nama YAKUB diberikan oleh orang tuanya karena dia memegang kaki kakaknya ketika lahir. Suatu SIFAT BAWAAN DARI LAHIR dimana dia TIDAK MAU BERJUANG untuk keluar lahir dari rahim ibunya, memanfaatkan orang lain, dan juga keinginan untuk memegang/mengambil kepunyaan kakaknya (Kej 25:26; Hos 12:3-4).

Dengan nama itu, ia tumbuh menjadi orang yang SUKA MENIPU dan menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan apa yang ia mau (Kej 27:36 - dua kali menipu Esau, kakaknya). Ada harga yang harus dibayar, dia sendiri DITIPU oleh orang yang lebih lihai, yakni Laban mertuanya (Kej 29:23 - HUKUM TABUR TUAI). 

(2AB) Pergumulan ini melambangkan suatu pergumulan doa, satu perjuangan iman yang dilakukan dalam kepercayaan untuk kesetiaan Allah, dalam kepastian, kemenangan yang dijanjikan kepada orang yang tabah (KGK 2592).

KETAKUTAN atas ancaman pembunuhan oleh Esau inilah yang mendorong Yakub untuk MEMOHON HIKMAT ALLAH. 

(3) Jawaban doanya. Mengapa Tuhan membuat KAKI Yakub CACAT SEUMUR HIDUP? Karena Tuhan tahu seberapa besar dendam hati Esau terhadap Yakub. Memang, secara jasmani tidak baik, tetapi ITU TERBAIK MENURUT KACAMATA ALLAH

Ketika ESAU melihat adiknya berjalan dengan terpincang-pincang dan sujud sampai ke tanah tujuh kali ... HATINYA MULAI LULUH, TIMBULLAH BELAS KASIHAN DI HATINYA sehingga dia berlari mendapatkan adiknya. Akhirnya ... TERJADILAH REKONSILIASI (Kej 33:3-4).

(4) Israel artinya bergumul melawan Allah dan manusia, dan menang. Dalam pergumulan doa, hatinya diubahkan sehingga mau merendahkan hati dengan mengambil jalan-Nya.

Ingatlah! DALAM MELAKSANAKAN KEHENDAK-NYA (Kej 25:23 - Dua bangsa ada dalam kandunganmu ... anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda), TUHAN TIDAK PERNAH MENGHALALKAN CARA APAPUN

Minggu, 07 Juli 2019

23.20 -

Pelangi kasih-Nya



Jumat sore (28 September 2018) saya ditelpon oleh anak saya (X) yang berada di Palu. Karena listrik dan jaringan telkomsel mati, maka X memohon kami untuk melihat keadaan Palu melalui TV, bagian mana saja yang kena gempa dan tsunami. Karena baterai hpnya habis (hp lainnya, yang XL), maka kami kehilangan kontak dengannya. Untuk keselamatan X, maka saya menghubungi komunitas saya untuk mohon dukungan doa. 

Suami saya memantau keadaan Palu melalui TV. Sebagai orang tua, kami merasa sangat sedih karena anak kami berada di kota Palu yang hancur akibat gempa, tsunami dan likuifaksi (pencairan tanah, tanah yang padat berubah wujud menjadi cairan sehingga kehilangan kekuatannya). 

Pada saat melihat deru dan gelora laut yang begitu dahsyat, semua orang ketakutan, termasuk saya karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, tetapi saya dikuatkan dengan janji-janji-Nya 

Allah berfirman: "Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, yang bersama-sama dengan kamu, turun-temurun, untuk selama-lamanya: Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi. 

Apabila kemudian Kudatangkan awan di atas bumi dan busur itu tampak di awan, maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku yang telah ada antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, segala yang bernyawa, sehingga segenap air tidak lagi menjadi air bah untuk memusnahkan segala yang hidup. Jika busur itu ada di awan, maka Aku akan melihatnya, sehingga Aku mengingat perjanjian-Ku yang kekal antara Allah dan segala makhluk yang hidup, segala makhluk yang ada di bumi." (Kej 9:12-16). 

Aku mengasihi engkau, akan melindungi engkau dari hari pencobaan, memagari dengan anugerah-Ku seperti perisai (Why 3:9-10; Mzm 5:13). 

[Istilah pelangi digambarkan seperti "busur seorang pemanah". Busur adalah senjata perang yang sangat ditakuti, karena dapat melukai lawan walaupun di tempat yang sangat jauh dan tersembunyi. 

Namun dalam kitab Kejadian ini disebutkan bahwa Allah sendiri meletakkan senjatanya seraya mengumumkan damai. Senjata perang diubah menjadi tanda perdamaian. Senjata yang seringkali melukai, membuat musuh takut, gentar dan bersembunyi, sekarang dipakai sebagai alat perdamaian sorga dan bumi.] 

Pikiran saya berkata seperti Nabi Yeremia, “Tuhan adalah bagianku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya. Tak berkesudahan kasih setia-Nya, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! (Rat 3:22-24). Namun sebagai manusia yang lemah, hati kecil saya masih ada perasaan kuatir. Beriman sepenuhnya tidaklah mudah. 

Minggu siang, X menelpon dan mengatakan bahwa akan dievakuasi ke Makassar. Mendengar kabar itu, seluruh syaraf saya yang terasa kaku langsung menjadi kendor dan mata saya tidak bisa dibuka lagi karena sangat mengantuk

Hari Seninnya, anak saya dipulangkan ke rumah. Semua karyawan diberi cuti selama seminggu agar dapat menenangkan diri dari trauma yang terjadi di Palu. 

Kami membayangkan anak kami kelaparan dan harus berebut pulang dengan naik herkules. Namun Tuhan memberikan padanya yang terbaik, yaitu 

1. Ia dapat makan (teman kantor saling berbagi dengan apa yang mereka punyai, ada rendang, nugget dll, dimakan bersama di depan kantor). 

2. Karena banyak karyawan kantor yang tidak bisa ikut ter-evakuasi naik herkules, maka mereka menghubungi kantor pusat, kebijaksanaan kantor pusat menyewa pesawat Garuda untuk mengevakuasi para karyawan dan keluarganya yang ada di Palu ke Makassar. 

[X tidak dapat ikut naik herkules karena yang didahulukan adalah ibu dan anak, wanita hamil dan orang sakit]. 

Kami sebagai orang tua sangat bersukacita karena Tuhan benar-benar telah memagari anak kami dengan anugerah-Nya. 

1. Minggu, 30 September 2018 kota Palu akan mengadakan HUT-nya. X dan teman-temannya mau mengikuti lari maraton. Karena sorenya ada acara perpisahan dengan orang kantor, maka tanda peserta dan kaosnya diambil siang hari pada waktu istirahat siang. 

2. Entah mengapa sesudah jam pulang kantor, X dan teman-temannya seperti dilupakan untuk segera berangkat ke Hotel Mercure Palu. 

Andaikata rencana X berjalan sesuai dengan rencananya, maka X hanya tinggal nama saja. Karena kedua tempat tersebut hancur lebur. 

Sebagai pengikut Kristus, kita diutus untuk mewartakan kabar baik (Rm 10:15). Namun seringkali tanpa sadar kita membawa kabar yang menakutkan seperti yang banyak dikotbahkan orang tentang Kitab Wahyu. 

Padahal Kitab Wahyu tidak ditulis untuk menakut-nakuti, atau menyebabkan ketegangan pada kita, melainkan untuk mewartakan kebahagiaan bagi kita (yang setia dalam iman) yang membacanya dan mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya (Why 1:3; 22:7). 

Ingatlah pada janji-Nya! Pelangi ada sesudah turunnya hujan. Penderitaan akan merobek jiwa. Maksud pencobaan untuk membuktikan kemurnian imanmu. Jika orang tetap bertahan sampai pada kesudahannya akan diselamatkan. Tujuan imanmu untuk keselamatan jiwamu (Ams 27:9; Mat 24:13; 1 Ptr 1:6-7, 9). 

Jadi, bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya (Mzm 136:1).

19.09 -

Kewajiban terhadap orang tua



Anak-anakku, dengarkanlah aku, bapamu, dan hendaklah berlaku sesuai dengan apa yang kamu dengar, supaya selamat. Memang Tuhan telah memuliakan bapa pada anak-anaknya, dan hak ibu atas para anaknya diteguhkan-Nya

Barangsiapa menghormati bapanya (1A) memulihkan dosa, dan siapa memuliakan ibunya serupa dengan orang yang mengumpulkan harta. Barangsiapa menghormati bapanya, ia sendiri (2) akan mendapat kesukaan pada anak-anaknya pula, dan (3A) apabila bersembahyang, niscaya doanya dikabulkan

Barangsiapa memuliakan bapanya (4) akan panjang umurnya, dan orang yang taat kepada Tuhan menenangkan ibunya serta melayani orang tuanya sebagai majikannya. 

Anakku, hormatilah bapamu, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan, supaya (3B) berkat dari padanya turun atas dirimu

Rumah tangga anak dikukuhkan oleh berkat bapa, tapi dasar-dasarnya dicabut oleh kutuk ibu

Jangan membanggakan nista bapamu. Memang nista bapa bukan kehormatan bagi dirimu! Sebaliknya kemuliaan seseorang terletak dalam menghormati bapanya, dan malu anak ialah ibu ternista. 

Anakku, tolonglah bapamu pada masa tuanya, jangan menyakiti hatinya di masa hidupnya. Pun pula kalau akalnya sudah berkurang hendaklah kaumaafkan, jangan menistakannya sewaktu engkau masih berdaya. Kebaikan yang ditunjukkan kepada bapa tidak sampai terlupa, melainkan dibilang (1B) sebagai pemulihan segala dosamu

Pada masa pencobaan engkau akan diingat oleh Tuhan, maka dosamu lenyap seperti air beku yang kena matahari. Serupa penghujat barangsiapa meninggalkan bapanya, dan terkutuklah oleh Tuhan orang yang mengerasi ibunya. (Sir 3:1-16)


Orang tua tidak takut miskin memberi nafkah pada anaknya saat membesarkan mereka. Tapi banyak anak sering takut kekurangan saat menanggung orang tuanya dimasa tuanya.

Lihat diri kita saat ini, sehebat apapun, suksespun setinggi langit, tapi tanpa doa restu orang tua yang membesarkan kita maka tidak akan ada ketenangan, keberkahan dan kebahagiaan dalam hidup.

Uang bisa dicari, ilmu bisa digali, jabatan bisa kita raih, tapi kesempatan untuk mengasihi orang tua takkan terulang kembali.

Satu ibu, bisa merawat 4 anaknya tapi 4 orang anak belum tentu bisa membahagiakan satu orang ibu. Satu ayah, bisa menghidupi 4 anaknya tapi 4 orang anak belum tentu dapat menghidupi satu orang ayah.

Sesekali tengoklah orang tuamu, tatap wajahnya ketika ia terlelap tidur, lihat kerutan di wajahnya, lihat rambutnya yang kini mulai memutih, lihat badannya, yang dulu tegap kini mulai membungkuk, semua telah berubah termakan waktu tapi tidak dengan kasih sayangnya.

Sudahkah kita membuatnya bahagia hari ini? Sudahkah kita membuatnya bangga hari ini? Sudahkah kita membuatnya tersenyum hari ini?

Tidak akan ada jasa yang mampu kita balas, tidak akan ada kebaikan yang mampu kita balas, semua begitu banyak, begitu tulus.

Hadiahkanlah Kebahagiaan untuk kedua orangtua kita atas segala pengorbanan dan kasih sayang yang telah mereka berikan. Perlakukanlah orang tuamu dengan penuh hormat maka rezekimu akan semakin diberkati.

07.28 -

Yoh 21:15-19

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


 Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)



Penanggalan liturgi

Jumat, 18 Mei 2918: Hari Biasa Pekan VII Paskah - Tahun B/II (Putih)
Bacaan: Kis 25:13-21; Mzm 203:1-2, 11-12, 19-20ab; Yoh 21:15-19


Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."

Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."

Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki."

Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku."


Renungan


1. Agape

Yesus menanyai Petrus sampai tiga kali: “Apakah engkau mengasihi Aku? Petrus bukannya marah, tetapi sedih sebab ia teringat sudah tiga kali pula ia menyangkal Yesus. 

Yesus mengulangi pertanyaannya bukan karena Yesus tidak tahu jawaban Petrus, tetapi ia mau Petrus sungguh-sungguh mencerna pertanyaan itu dan menjawabnya dengan sadar. Pertanyaan Yesus tidak sekedar apakah Petrus mencintai-Nya sebagai saudara (Philia), tetapi mencintai-Nya lebih dalam yaitu dengan cinta pengorbanan (Agape).

Tanda cinta Petrus itu memang pernah tampak. Ia pernah menghunus pedang melawan Malkhus yang mencoba menangkap Yesus. Ia pernah juga berkata rela mati untuk Yesus. Benarkah demikian? Yesus menantikan buktinya. 

Petrus akhirnya menjawab: “ Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau”. Benar, Petrus mengasihi Yesus sampai mati. Ia wafat dengan cara disalibkan, tapi tidak sama dengan Gurunya. Ia mau mati disalibkan dengan kepada kebawah .


07.00 -

Yoh 15:26-27; 16:12-15

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Minggu, 20 Mei 2018: Hari Raya Pentakosta - Tahun B/II (Merah)
Bacaan: Kis 2:1-11; Mzm 104:1ab, 24ac, 29bc, 30, 31, 34; Gal 5:16-25; Yoh 15:26-27; 16:12-15


(2) Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku.

Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. (1) Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. 

Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku. Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.


Renungan


1. Peranan Roh Kudus dalam hidup kita

Roh Kudus adalah Penasihat penuh kuasa, pengikat yang kudus antara Bapa dan Putra dan harapan bagi mereka yang bersedih. Pelindung bagi mereka yang membutuhkan. Roh Kudus juga menjadikan tubuh kita sebagai tempat tinggal-Nya (1 Kor 6:19). 

Kita patut berbangga dan bersyukur karena Tuhan mengasihi kita apa adanya. Ia mau tinggal di dalam tubuh kita yang fana supaya menjadi ilahi, tubuh kita yang lemah supaya menjadi kuat.

Roh Kudus bertugas untuk mengajar dan mengingatkan segala sesuatu yang sudah Tuhan Yesus ajarkan kepada kita. Tentang Kebenaran, Yesus berkata: "(1)." Perkataan Yesus ini menegaskan bahwa meskipun nantinya Dia sendiri tidak hadir secara fisik, tetapi Roh-Nya tetap ada dan menjiwai seluruh Gereja.

Tuhan Yesus sudah naik ke surga, tetapi Ia memiliki dua wakil yang akan memberi kesaksian tentang diri-Nya kepada dunia. Kedua wakil itu adalah Roh Kudus dan kita sebagai orang beriman (2).

St. Agustinus mengatakan bahwa Roh Kudus adalah pengikat yang kudus antara Bapa dan Putra. Dialah yang akan memberi kesaksian tentang Yesus Kristus. Kita juga dipanggil Yesus untuk ikut bersaksi tentang diri-Nya kepada dunia. Di sini Allah Bapa sekali lagi masuk dalam sejarah manusia. dengan menganugerahkan Roh-Nya supaya menginspirasikan manusia untuk meneruskan perutusan-Nya.