Tampilkan postingan dengan label *Janji Tuhan*. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *Janji Tuhan*. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 April 2020

07.53 -

Perlindungan Allah



Fenomena yang sedang marak hari-hari ini adalah virus Covid 19. Ada cukup banyak orang yang menjadikan Mazmur 91 sebagai mantra, kita harus tahu bahwa Mazmur ini adalah firman Tuhan. Apa yang dimaksud dengan firman Tuhan? Firman Tuhan adalah Allah (Yoh 1:1; 1 Tim 6:3 » Perkataan Tuhan kita Yesus Kristus, perkataan sehat). Jadi, Mazmur 91 bukan mantra, kalau kita baca, pasti kita akan terhindar dari segala-galanya. 

Marilah kita belajar dari Mzm 91:1-16

Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada Tuhan: "Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, (3) Allahku, yang kupercayai." 

Sungguh, Dialah yang akan melepaskan engkau dari jerat penangkap burung, dari penyakit sampar yang busuk. Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung, kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok. Engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang, terhadap penyakit sampar yang berjalan di dalam gelap, terhadap penyakit menular yang mengamuk di waktu petang. 

Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu. Engkau hanya menontonnya dengan matamu sendiri dan melihat pembalasan terhadap orang-orang fasik. 

Sebab Tuhan ialah tempat perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kaubuat tempat perteduhanmu, malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu; sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. Mereka akan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepada batu. Singa dan ular tedung akan kaulangkahi, engkau akan menginjak anak singa dan ular naga. 

"Sungguh, (1) hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab (2) ia mengenal nama-Ku. Bila (4) ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya. Dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia, dan akan Kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari pada-Ku." 

» Perlindungan Allah tidak terjadi secara otomatis. Jika kita tidak melakukan bagian kita maka janji-Nya tidak tergenapi dalam hidup kita. 

Bagian kita adalah 

(1) Bukti bahwa jiwa kita melekat kepada-Nya: kita menuruti semua perintah-Nya (Mzm 63:9; 1 Yoh 5:3). Jadi, janganlah kita melekat dengan dunia (1 Yoh 2:15-16 » mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya, semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup). 

(2) Cara mengenal nama-Nya: membaca Kitab Suci mulai dari Kitab Kejadian sampai Kitab Wahyu. Jika sudah selesai membaca satu kali, hendaknya diulangi lagi sampai Tuhan memanggil kita pulang. Siapa yang melekat pada Taurat memperoleh kebijaksanaan (Sir 15:1). Karena kita sudah mengenal-Nya, maka kita berani percaya (3; Sir 33:3 » Orang yang berpengertian akan percaya pada hukum Taurat, dan Taurat adalah kepercayaannya sama seperti firman dari undi suci) dan berseru-seru kepada-Nya (4). 

Doa harus menyertai pembacaan Kitab Suci, supaya terwujudlah wawancara antara Allah dan manusiaSebab kita berbicara dengan-Nya bila berdoaKita mendengarkan-Nya bila membaca amanat-amanat ilahi (Ambrosius, KGK 2653). 

Ada banyak orang Kristen yang sombong, mereka tidak mau taat pada pemerintah untuk stay home dan memakai masker ketika berada di luar rumah. Mereka berpikir sudah beriman, dengan membaca Mazmur 91. Ingatlah! Kita harus tunduk pada pemerintah, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah (Rm 13:1). 

Jadi, jangan hanya satu hal yang dilakukan dan yang lain diabaikan (Mat 23:23). Beriman adalah taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik (Tit 3:1). Orang yang takut akan Tuhan tidak kena malapetaka, sebaliknya bahkan di dalam pencobaan ia terus diluputkan-Nya (Sir 33:1). 

(Sumber: Warta KPI TL No.180/IV/2020 » Renungan KPI TL Tgl 19 Maret 2020 - WA wabah Corona, Dra Yovita Baskoro, MM)

Jumat, 24 Januari 2020

20.36 -

Penyertaan Tuhan dalam perencanaan

Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan Tuhan yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga. Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah - sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur (Mzm 127:1-2). 

Marilah kita belajar dari Yakobus 4:13-17: 

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: (1A) "Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung", sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? (2) Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu." 

Tetapi sekarang (1B) kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah. Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa. 

» (1AB) Manusia berimajinasi sesuai dengan keinginan hatinya, nafsunya dan segala kenikmatan yang dunia tawarkan. Pedagang yang congkak ini adalah contoh orang yang mempunyai perencanaan yang bagus, namun ia tidak pernah meminta hikmat Tuhan dalam perencanaannya. 

Semua orang melakukan perencanaan, namun tidak semua orang mampu menyusun rencana secara efektif. Kita pun kerap mendengar perkataan ini, “Gagal merencanakan adalah merencanakan untuk gagal.” Jadi, perencanaan adalah persoalan yang penting, kita tidak bisa hidup hanya mengalir saja. Bagaimana hal ini dipandang dalam iman Kristen? 

Manusia menganggap segala sesuatu gampang karena mereka mempunyai kemampuan akademis, finansial dan kekuasaan. Tiga hal yang membuat manusia melupakan Tuhan dalam segala perencanaan sehingga cita-cita itu tidak tercapai dan banyak mengalami kekacauan. 

1. Kemampuan akademis 

Kemampuan pengetahuan untuk merealisasikan rencana dan rancangan itu juga baik, namun kita harus belajar dari apa yang terjadi ketika bangsa Israel mendirikan menara Babel sampai ke langit. Ketika kesombongan dan kecongkakkan merasuki hati bangsa Israel, mereka mengandalkan pengetahuan tentang kontruksi bangunan tanpa bertanya apakah Tuhan merestui cita-cita mereka itu atau tidak. Akhirnya rancangan terbesar dalam hidup mereka gagal total. Menara itu runtuh dan terjadi kekacauan bahasa, masing-masing pekerja tidak memahami bahasa teman sekerjanya. 

Jadi, janganlah melakukan sesuatu karena didorong kepentingan diri sendiri, atau untuk menyombongkan diri. Sebaliknya hendaklah kalian masing-masing dengan rendah hati menganggap orang lain lebih baik dari diri sendiri (Flp 2:3). 

2. Kemampuan Finansial 

Kekayaan adalah alasan manusia melupakan atau meninggalkan Tuhan. Mungkin dengan uang kita bisa membeli semua fasilitas dalam kehidupan ini, namun fasilitas itu belum tentu bisa dinikmatinya (Pkh 6:1-2). Justru karena harta yang melimpah, telah membutakan manusia dari kasih sayang. Jadi, mengandalkan kemampuan financial adalah salah, karena Tuhan tidak mau dirinya digantikan oleh apapun di dunia ini. 

3. Kemampuan Kekuasaan 

Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari Tuhan (Yes 31:1). 

Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan! (Yer 17:5). 

Jadi, kita harus bertanya terlebih dahulu dalam doa kepada Tuhan, apakah rencana yang ada dalam hati kita itu baik adanya. Pertimbangkan kerugian umat manusia akibat rencana itu, jika tidak mendatangkan damai sejahtera maka lebih baik kita menundanya. 

Jika mendatangkan keselamatan bagi banyak jiwa dan mendatangkan damai sejahtera tentu rancangan itu berkenan kepada Tuhan. Jadi, jangan melupakan Tuhan dalam setiap rencana kita. 

(2) “Uap” menggambarkan sesuatu yang tidak tinggal tetap, melainkan hanya hadir dalam hitungan detik, dan selanjutnya tidak kelihatan lagi. Maksudnya, kehidupan manusia itu datang dan pergi secara tidak terduga. Ada yang terlihat sehat, ternyata esoknya meninggal; ada yang sakit-sakitan, namun ajal tidak kunjung menjemput. Jadi, kita tidak boleh menyusun rencana secara congkak. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 177/I/2020 » Renungan KPI 8 Agustus TL 2019, Dra Yovita Baskoro, MM).

Minggu, 07 Juli 2019

23.20 -

Pelangi kasih-Nya



Jumat sore (28 September 2018) saya ditelpon oleh anak saya (X) yang berada di Palu. Karena listrik dan jaringan telkomsel mati, maka X memohon kami untuk melihat keadaan Palu melalui TV, bagian mana saja yang kena gempa dan tsunami. Karena baterai hpnya habis (hp lainnya, yang XL), maka kami kehilangan kontak dengannya. Untuk keselamatan X, maka saya menghubungi komunitas saya untuk mohon dukungan doa. 

Suami saya memantau keadaan Palu melalui TV. Sebagai orang tua, kami merasa sangat sedih karena anak kami berada di kota Palu yang hancur akibat gempa, tsunami dan likuifaksi (pencairan tanah, tanah yang padat berubah wujud menjadi cairan sehingga kehilangan kekuatannya). 

Pada saat melihat deru dan gelora laut yang begitu dahsyat, semua orang ketakutan, termasuk saya karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, tetapi saya dikuatkan dengan janji-janji-Nya 

Allah berfirman: "Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, yang bersama-sama dengan kamu, turun-temurun, untuk selama-lamanya: Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi. 

Apabila kemudian Kudatangkan awan di atas bumi dan busur itu tampak di awan, maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku yang telah ada antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, segala yang bernyawa, sehingga segenap air tidak lagi menjadi air bah untuk memusnahkan segala yang hidup. Jika busur itu ada di awan, maka Aku akan melihatnya, sehingga Aku mengingat perjanjian-Ku yang kekal antara Allah dan segala makhluk yang hidup, segala makhluk yang ada di bumi." (Kej 9:12-16). 

Aku mengasihi engkau, akan melindungi engkau dari hari pencobaan, memagari dengan anugerah-Ku seperti perisai (Why 3:9-10; Mzm 5:13). 

[Istilah pelangi digambarkan seperti "busur seorang pemanah". Busur adalah senjata perang yang sangat ditakuti, karena dapat melukai lawan walaupun di tempat yang sangat jauh dan tersembunyi. 

Namun dalam kitab Kejadian ini disebutkan bahwa Allah sendiri meletakkan senjatanya seraya mengumumkan damai. Senjata perang diubah menjadi tanda perdamaian. Senjata yang seringkali melukai, membuat musuh takut, gentar dan bersembunyi, sekarang dipakai sebagai alat perdamaian sorga dan bumi.] 

Pikiran saya berkata seperti Nabi Yeremia, “Tuhan adalah bagianku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya. Tak berkesudahan kasih setia-Nya, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! (Rat 3:22-24). Namun sebagai manusia yang lemah, hati kecil saya masih ada perasaan kuatir. Beriman sepenuhnya tidaklah mudah. 

Minggu siang, X menelpon dan mengatakan bahwa akan dievakuasi ke Makassar. Mendengar kabar itu, seluruh syaraf saya yang terasa kaku langsung menjadi kendor dan mata saya tidak bisa dibuka lagi karena sangat mengantuk

Hari Seninnya, anak saya dipulangkan ke rumah. Semua karyawan diberi cuti selama seminggu agar dapat menenangkan diri dari trauma yang terjadi di Palu. 

Kami membayangkan anak kami kelaparan dan harus berebut pulang dengan naik herkules. Namun Tuhan memberikan padanya yang terbaik, yaitu 

1. Ia dapat makan (teman kantor saling berbagi dengan apa yang mereka punyai, ada rendang, nugget dll, dimakan bersama di depan kantor). 

2. Karena banyak karyawan kantor yang tidak bisa ikut ter-evakuasi naik herkules, maka mereka menghubungi kantor pusat, kebijaksanaan kantor pusat menyewa pesawat Garuda untuk mengevakuasi para karyawan dan keluarganya yang ada di Palu ke Makassar. 

[X tidak dapat ikut naik herkules karena yang didahulukan adalah ibu dan anak, wanita hamil dan orang sakit]. 

Kami sebagai orang tua sangat bersukacita karena Tuhan benar-benar telah memagari anak kami dengan anugerah-Nya. 

1. Minggu, 30 September 2018 kota Palu akan mengadakan HUT-nya. X dan teman-temannya mau mengikuti lari maraton. Karena sorenya ada acara perpisahan dengan orang kantor, maka tanda peserta dan kaosnya diambil siang hari pada waktu istirahat siang. 

2. Entah mengapa sesudah jam pulang kantor, X dan teman-temannya seperti dilupakan untuk segera berangkat ke Hotel Mercure Palu. 

Andaikata rencana X berjalan sesuai dengan rencananya, maka X hanya tinggal nama saja. Karena kedua tempat tersebut hancur lebur. 

Sebagai pengikut Kristus, kita diutus untuk mewartakan kabar baik (Rm 10:15). Namun seringkali tanpa sadar kita membawa kabar yang menakutkan seperti yang banyak dikotbahkan orang tentang Kitab Wahyu. 

Padahal Kitab Wahyu tidak ditulis untuk menakut-nakuti, atau menyebabkan ketegangan pada kita, melainkan untuk mewartakan kebahagiaan bagi kita (yang setia dalam iman) yang membacanya dan mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya (Why 1:3; 22:7). 

Ingatlah pada janji-Nya! Pelangi ada sesudah turunnya hujan. Penderitaan akan merobek jiwa. Maksud pencobaan untuk membuktikan kemurnian imanmu. Jika orang tetap bertahan sampai pada kesudahannya akan diselamatkan. Tujuan imanmu untuk keselamatan jiwamu (Ams 27:9; Mat 24:13; 1 Ptr 1:6-7, 9). 

Jadi, bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya (Mzm 136:1).

Minggu, 05 Agustus 2018

03.27 -

Apa yang harus kita mengerti tentang menunggu janji Tuhan?





Abraham yang dijanjikan akan diberikan seorang anak oleh Tuhan. Abraham pertama kali menerima janji ini ketika dia berumur 75 tahun. Kejadian 5:1-6 berisikan bagaimana Tuhan menampakkan diri-Nya dan memberikan janji-Nya kepada Abraham:

“Kemudian datanglah firman Tuhan kepada Abram dalam suatu penglihatan: “Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar.” Abram menjawab: “Ya Tuhan Allah, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu.”

Lagi kata Abram: “Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku.” Tetapi datanglah firman Tuhan kepadanya, demikian: “Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu.”

Lalu Tuhan membawa Abram ke luar serta berfirman: “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.” Maka firman-Nya kepadanya: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” Lalu percayalah Abram kepada Tuhan, maka Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” 

Luar biasa sekali bukan jan
ji Tuhan kepada Abraham? Namun, jika kita melanjutkan kisah Abraham, kita akan menemukan bahwa setelah 20 tahun menunggu, Abraham tetap belum mendapatkan anak yang telah dijanjikan oleh Tuhan. Pada akhirnya, janji Tuhan baru sungguh ditepati ketika Abraham berumur 100 tahun.

Kisah Abraham ini mau mengajarkan kita tentang apa yang dinamakan percaya kepada Tuhan. Bukan sekedar percaya bahwa Tuhan itu nyata, melainkan lebih tentang percaya akan janji-Nya di dalam hidup kita. Satu hal yang haru kita mengerti adalah: Jika ada janji, berarti akan ada menunggu. Janji dan menunggu adalah sesuatu yang kita terima sebagai satu paket.

Tiga poin penting tentang apa yang harus kita mengerti dalam menunggu akan janji Tuhan.

1. Waktu kita tidaklah sama dengan waktu Tuhan

Jika kita ditanya akan kapan kita ingin agar janji Tuhan ditepati di dalam hidup kita, tentu kita pasti akan menjawab: “Sekarang.” Kita pasti ingin mendapatkan berkat dari Tuhan secepat mungkin, namun seringkali secepat mungkin bukanlah yang Tuhan kehendaki. Tuhan ingin mengajarkan sebuah pelajaran penting kepada kita melalui proses menunggu akan janji-Nya. 

Yang pertama adalah agar kita belajar bersabar, dan yang kedua adalah agar kita belajar untuk mempercayai-Nya di tengah-tengah proses menunggu

Kita harus mengerti bahwa akan selalu ada jarak antara kapan janji Tuhan diberikan dan kapan janji Tuhan ditepati. Janganlah berekspektasi akan terkabulnya janji yang luar biasa tanpa proses menunggu yang luar biasa. 

Kita harus selalu ingat bahwa memang benar Tuhan tidak pernah terlambat, tetapi Dia juga tidak pernah terlalu cepat. Jadi percayalah akan waktunya Tuhan. Dia sebenarnya memiliki maksud baik di dalam setiap rancangan-Nya.

2. Hanya karena janji Tuhan belum ditepati, bukan berarti Dia tidak akan menepati-Nya

Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: “Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?” (Kej 17:17)

Tetapi Allah berfirman: “Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.” (Kej 17:19) 

Sudah lebih dari dua puluh tahun menunggu dan janji Tuhan masih belum ditepati, Abraham pun mulai berpikir bahwa Tuhan adalah Tuhan yang PHP (pemberi harapan palsu). Tetapi, Tuhan membalas Abraham dengan mengatakan bahwa Dia bukanlah Tuhan yang PHP, Dia mengatakan bahwa Dia akan tetap memberikan anak perjanjian yang telah Dia janjikan.

Singkat cerita, anak perjanjian sungguh terlahir bagi Abraham, seorang anak yang akhirnya diberikan nama Ishak. Saya menemukan bahwa hanya karena janji Tuhan di dalam hidup kita belum ditepati hingga sekarang, bukan berarti Dia tidak akan menepatinya. Kita mungkin dapat berpikir bahwa Tuhan sudah terlambat dan janji-Nya sudah tidak dapat terjadi, tetapi sesungguhnya, Tuhan tidak pernah terlambat dan janji-Nya masih dapat terjadi bahkan ketika kelihatannya sudah mustahil untuk terjadi.

3. Janganlah membuat Ismail ketika telah dijanjikan Ishak

Jangan sampai kita menukar janji Tuhan untuk sesuatu yang lebih rendah hanya karena kita tidak sabar menunggu. Jika Tuhan telah menjanjikanmu seorang pasangan yang cinta Tuhan dan dapat membangunmu ke arah yang baik, janganlah malah berpacaran dengan seseorang yang beda agama dan hanya membuatmu berjalan ke arah yang buruk. Tetap bersabarlah menunggu yang tepat yang berasal dari Tuhan.

Jika Tuhan telah menjanjikanmu sebuah pekerjaan yang baik dan jujur, janganlah malah ikut bisnis yang tidak jujur. Tetap bersabarlah menunggu pekerjaan yang tepat dan jangan tergiur dengan pekerjaan-pekerjaan yang korup.

Teruslah menunggu dengan sabar, semuanya akan indah pada waktu-Nya. Tuhan tidaklah lupa akan janji-Nya kepadamu, Dia akan menepatinya pada waktu yang tepat.

(Sumber: @gracedepth).

Rabu, 21 Juni 2017

18.47 -

Pilih mana: Percaya janji Tuhan atau kenyataan yang buruk?

2 Raj 6:17 Lalu berdoalah Elisa: “Ya Tuhan: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat.” Maka Tuhan membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa.

Pernahkah Anda berada di dalam sebuah situasi di mana Anda harus memilih antara mempercayai janji Tuhan yang belum kelihatan dan kenyataan pahit yang terlihat jelas dengan mata jasmani Anda?

Situasi di atas pernah dialami oleh bujang Elisa. Matanya melihat bahwa dia dan Elisa dikepung oleh tentara Aram. Menyelisik reaksinya pada ayat 15, “Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?” dapat saya pastikan bahwa sang bujang lebih mempercayai apa yang mata jasmaninya dia lihat daripada janji Tuhan di dalam hatinya.

Di sisi lain, Elisa juga di situ bersama sang bujang. Nyawa Elisa pun terancam seperti halnya sang bujang. Namun Elisa lebih mempercayai janji Tuhan yang ada di dalam hatinya, yang belum kelihatan, dibanding mempercayai mata jasmaninya.

Ayat 16 menuliskan pernyataan iman Elisa “Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka.” Hebat!

Teman, bagaimana dengan Anda? Mana yang lebih Anda percayai, janji Tuhan yang belum terlihat atau kenyataan yang terlihat?

Kalau Anda perhatikan cerita di atas, Elisa dan bujangnya ada di dalam satu kondisi yang sama, tetapi mereka mempercayai dua hal yang berbeda, sehingga menghasilkan dua respons yang berbeda.

Sang bujang mempercayai kenyataan buruk yang dilihat matanya dan hasilnya adalah ketakutan dan kekuatiran, sedangkan sang nabi mempercayai janji Tuhan dan mengabaikan kenyataan buruk yang dilihatnya. Hasilnya adalah iman dan mukjizat.

Saya mengerti bahwa situasi yang terjadi di dalam hidup kita tidak selalu indah. Saya pun mengalami hal tersebut. Namun Anda perlu ingat bahwa Anda memiliki Tuhan yang besar yang memberikan janji kekal bagi Anda.

Jika Anda percaya kepada janji Tuhan, justru di tengah hujan badai, Anda dapat melihat pelangi yang indah; di tengah kesesakan, Anda dapat melihat mukjizat dinyatakan.

Seperti nasihat Elisa kepada bujangnya, “Jangan takut …” Saya pun ingin mengatakan kepada Anda supaya jangan takut, karena yang menyertai Anda jauh lebih besar dari masalah yang Anda hadapi.

Peganglah janji Tuhan, dan mulai ucapkan harapan Anda, bukan ketakutan Anda.

(@mistermuryadi).

Senin, 23 Januari 2017

22.38 -

Janji Tuhan



Hidup di desa selalu terjadi keakraban di antara tetangga, jika bertemu saling menyapa dengan ramah. Namun, suatu hari hati saya sakit dengan seorang ibu (X). Karena dari jarak jauh saya sudah tersenyum lebar tetapi ketika sudah dekat dia mencibir. Dalam hati saya berkata: "Awas ya, aku tidak akan menyapa kamu lagi"

Suatu hari saudara X meninggal, saya dihubungi untuk membantunya memandikan jenazah. Saya tidak segera menolongnya, karena hati saya masih menyimpan rasa marah padanya. Maka terjadi pergolakan dalam batin saya, sambil meneteskan air mata saya berdoa: “"Tuhan, lalukan cawan ini dari hadapanku.”

Tiba-tiba ketua stasi saya dan teman saya yang lagi berziarah ke gua Kerep juga menelpon saya agar membantu X memandikan jenazah dan keperluan lainnya.

Saya berdoa: "Tuhan apa yang harus saya lakukan?” Terdengar suara dalam batin saya: "Kamu harus pergi ke sana, mandikan jenazah itu!" Saya segera pergi ke rumah duka, sesampainya di sana saya kebingungan karena belum pernah memandikan jenazah.

Sepanjang memandikan jenazah, saya berdoa: “Tuhan Yesus tolong ...” Sungguh luar biasa hikmat-Nya sehingga saya dan beberapa anggota keluarganya dibimbing-Nya cara memandikan jenazah tersebut.

Selama dua hari saya juga dimampukan Tuhan untuk mau berbagi kasih pada X, sampai selesai pemakaman saudaranya. Sejak saat itu kami menjadi sahabat sampai sekarang.

Saya membuka toko spare part sepeda motor. Jika hasilnya sedikit saya tidak puas. Suatu hari saya ditegur oleh seorang hamba Tuhan: “Janganlah kamu menjadi hamba uang.” Mendengar perkataan itu saya protes. 

Kata hamba Tuhan itu lagi: “Meskipun hasilnya kecil, belajarlah bersyukur. Jangan mengasihani diri sendiri, yang penting kamu tidak punya hutang. Orang yang punya mobil mercy, hidupnya belum tentu ada damai sukacita. Seringkali hidupnya penuh kekuatiran dan pikiran mereka ‘Hari ini aku makan siapa, atau aku dimakan oleh siapa’. Setiap bertemu kamu, saya selalu melihat kamu bergembira. Jadi, bersyukurlah dalam segala hal dengan apa yang sudah kamu punyai.” 

Memang awalnya sangat sulit untuk mengucap syukur, karena manusia pada dasarnya sukanya melihat rumput tetangga yang lebih hijau.

Suatu hari saya diajak kerja sama dengan seorang teman baik saya (A), katanya: “Kamu yang memodali, aku yang mengerjakan. Kita bagi hasil.” Karena ingin cepat kaya, maka saya menyetujui memberi modal untuk suatu usaha tanpa perjanjian apapun. 

Lima bulan pertama pembukuan beres, namun bulan keenam hati saya hancur berkeping-keping karena saya tidak punya apa-apa lagi, uang tabungan saya habis karena ditipu A. Saya benar-benar tidak dapat mengampuninya.

Pembimbing rohani saya berkata: “Ampunilah A, Kalau kamu bisa mengampuni dia, percayalah Tuhan tidak akan membiarkanmu terlunta-lunta. Tuhan tidak akan meninggalkanmu.” 

Suatu hari saya bertemu A, saya sapa dia. Dia memeluk saya sambil menangis, dia mengatakan bahwa sekarang hidupnya susah, suaminya dipenjara, hidup anak tidak benar dan banyak orang yang mengejarnya karena hutang piutang. Saat itu saya tidak dapat membalas pelukannya karena hati saya masih dingin, pikiran saya berkata “itu hanya air mata buaya saja.”

Sejak pertemuan itu, hati saya ditegur oleh-Nya. Akhirnya, dengan bantuan rahmat Allah melalui Sakramen Tobat yang berkali-kali saya bisa mengampuninya.

Dalam pertemuan WKRI, saya mendengar gosip ibu-ibu: “Dulu, ibu itu ramah. Ketika masih jalan kaki, dia selalu menyapa dengan senyum ramah, namun ketika sudah punya sepeda motor, dia sombongnya setengah mati, tidak mau menyapa lagi. Mungkin, dia takut kita ikut menumpang motornya.”

Mendengar gosip tersebut, lalu saya merefleksikan hidup saya. Memang, segala sesuatu yang kita miliki adalah hanyalah titipan Tuhan. Jika Dia ingin mengambilnya, maka dalam sekejab mata saja akan hilang, seperti yang dialami Ayub. 

Kesombongan adalah hilangnya kerendahan hati, dosa yang sangat berbahaya, akar dari dosa-dosa yang lain; erat sekali kaitannya dengan pemberontakan dan karakter.

Dulu, fokus hidup saya hanya pada diri sendiri, keluarga, pekerjaan dan apa pun yang saya lakukan. Prinsip hidup saya “saya tidak jahat, saya tidak menyakiti, jangan membangunkan singa tidur!” Ternyata prinsip itu salah.

Sesudah saya aktif mengikuti SEP dan kegiatan rohani, serta mendapat bimbingan rohani dari almarhum Romo Haryo, maka saya disadarkan bahwa sebagai pengikut Kristus hidup harus direfleksikan dan hidup harus saling mengasihi. 

Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu ( 1 Kor 13:4-7).

Jadi, hidup dalam kasih adalah memiliki kepedulian kepada sesama (Mat 25:40 - orang-orang yang Tuhan tunjukkan kepada kita). Kasih dapat mengubah segala-galanya.

Marilah kita belajar dari Ibr 13:1-5

Peliharalah kasih persaudaraan!

» Untuk mendapatkan janji Tuhan. Syarat 1: memelihara kasih persaudaraan. Tuhan menginginkan kita saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat (Rm 12:9-10).

Kasih persaudaraan merupakan ratu segala kebajikan dan dasar segala kesatuan, harus benar-benar menjiwai kehidupan kita di mana dan kapan pun kita berada.

Namun dalam hidup ini tidak jarang kita akan menemui dan mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan atau bahkan mengecewakan. Bagaimana agar semua peristiwa hidup yang tampaknya buruk tidak menjadi sebuah kepahitan melainkan sebuah kemanisan untuk kita? 

Kasihlah yang dapat membuat manis segala penderitaan atau kesulitan kita. Dan kasih tersebut dapat diwujudkan dengan bersukacita dalam pengharapan, bersabar dalam kesengsaraan, dan bertekun dalam doa (Rm 12:12). Tuhan menghendaki kita menyatakan kasih kepada orang disekitar kita (Mat 25:40).

Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.

» memberi tumpangan kepada orang lain yang membutuhkan adalah salah satu wujud kasih persaudaraan

Ingatlah akan orang-orang hukuman, karena kamu sendiri juga adalah orang-orang hukuman. Dan ingatlah akan orang-orang yang diperlakukan sewenang-wenang, karena kamu sendiri juga masih hidup di dunia ini.

» ber-empati kepada orang-orang hukuman adalah salah satu wujud kasih persaudaraan.

Yang dimaksud orang hukuman, bukan hanya yang berada di penjara saja, akan tetapi termasuk juga orang-orang yang masih terbelenggu dengan keegoisannya sendiri, tidak peduli dengan keadaan orang lain.

Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.

Syarat 2 » Hidup kudus dan sempurna di hadapan Tuhan

Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus (1 Tes 4:7).

Kekudusan adalah suatu proses. Hal ini tidak dapat diraih dengan instant tetapi harus diperjuangkan seumur hidup. Bukankah firman Tuhan mengatakan bahwa "Tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali? (Ams 24:16). 

Ingatlah raja Daud, ketika diperingatkan atas dosa-dosanya, dia menyesal, bertobat dan mengaku atas dosa-dosanya sehingga Tuhan berkenan kepadanya (2 Sam 12:1-15; 1 Sam 13:14; Kis 13:36). 

Jadi, belajarlah untuk menyangkal diri, memikul salib setiap hari dan mengikuti Kristus (Luk 9:23). Tularkanlah virus ini kepada setiap orang yang kita jumpai, biarkanlah Allah yang memberikan pertumbuhan (Bdk. 1 Kor 3:7). 

Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. 

» Syarat 3: Mensyukuri apa yang sudah dimiliki. Orang yang mencintai uang tidak puas dengan uang, orang yang mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya (Pkh 5:10). Mereka tidak mengetahui bahwa Allah akan memenuhi segala keperluan kita menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus (Flp 4:19).

Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."

» Jika syarat-syarat di atas telah dipenuhi maka kita berhak mandapatkan janji Tuhan ini.

(Sumber: Warta KPI TL No.141/I/2017 » Renungan KPI TL Tgl 12 Januari 2017, ibu Feli Jonan).

Jumat, 04 November 2016

00.21 -

Janji-janji Allah dalam menghadapi ketakutan



Ketakutan adalah kekuatan yang paling merusak dan menghancurkan kehidupan manusia

Ketakutan yang muncul dalam pikiran dan perasaan seringkali tidak didasarkan pada fakta yang ada. Sebuah studi yang dilakukan University of Michigan mengungkapkan bahwa 60% ketakutan manusia sama sekali tidak berdasar dan tidak pernah menjadi kenyataan; 20% disebabkan oleh masa lalu yang sama sekali di luar kendali; 10% didasarkan pada hal-hal sepele. Dari sisanya 10%, hanya 5 % yang beralasan



Dari data penelitian ilmiah di atas kita bisa menarik kesimpulan sederhana bahwa ketakutan memang sungguh menyita energi kita. Ketika ketakutan bersemi, kita akhirnya mengurungkan semua tekad kita. Kita tidak bertindak apa-apa sehingga mimpi yang kita miliki hanya tinggal mimpi dan tidak pernah menjadi kenyataan.



Ketika rasa kuatir yang berlebihan muncul, sebenarnya kita mengimani bahwa hal-hal buruk akan terjadi dalam hidup kita.



Jika kita mencari Tuhan, Dia akan melepaskan kita dari kegentaran dan kita akan tinggal aman terlindung dari pada kedahsyatan malapetaka (Mzm 34:5; Ams 1:33). 


Jadi, ingatlah janji-janji Tuhan di bawah ini

Jangan takutAkulah perisaimu (Kej 15:1) … perisai keselamatan (Mzm 18:36). Tuhan Allah adalah matahari dan perisai … Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela (Mzm 84:12).

Setia kepada Allah atau kepada teman dapat membuat pihak lawan marah besar dan ingin membalas dendam. Ingat akan kemarahan mereka, kita menjadi kuatir. Sebab itu janganlah kita takut kepada manusia atau lalai mengandalkan kasih setia-Nya.

Jangan takut, sebab Aku menyertai engkau; Aku akan memberkati engkau (Kej 26:24).

Hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang (2 Tim 2:24). Andaikata ada orang yang iri hati hendak merebut kepunyaan kita yang sah, biarlah mereka memperolehnya! Karena di balik pertengkaran (=Esek – Kej 26:20) dan kebencian (=Sitna – Kej 26:21) ada kelapangan (=Rehobot – Kej 26:22). 

Jadi, belajarlah lemah lembut dan rendah hati seperti Yesus, karena orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah (Mat 11:29; Mzm 37:11).
*
Jangan takut pergi ke … (Kej 46:3).

Perintah Allah tegas kepada anak-anak-Nya, tapi pada saat bersamaan nampak bertentangan dengan kita tentang kehendak-Nya. Allah mungkin memilih tempat-tempat atau bangsa yang nampaknya mustahil bagi kita, sebagai kekecualian dalam perjalanan hidup kita, sampai langkah lain dipersiapkan. 

Kekecualian itu insidentil, tapi penting, namun bukanlah akhir dari segala-galanya (Kej 46:3-4 – Yakup; 1 Raj 17:9 - Elia). 

Di dunia ini tidak ada tempat yang lebih aman atau yang lebih enak, selain berada di sana dalam kehendak Allah. Tidak usah takut berada di sana!
*
Jangan takut, … kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud … (Kej 50:19-20).

Terkadang kita diperlakukan tidak adil secara menyedihkan oleh orang lain sampai pada suatu saat keadaan berbalik dan orang itu berada dalam kekuasaan kita. 

Itulah saatnya bagi kita untuk bermurah hati dan berbelas kasihan. Perbuatan mengampuni dan melupakan menunjukkan bahwa kita adalah pengikut-pengikut Tuhan Yesus yang berdoa: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Luk 23:34).
*
Jangan takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari Tuhan (Kel 14:13).

Pepatah mengatakan: “Gajah sama gajah berkelahi, pelanduk mati di tengah”. Berada di tengah bukanlah posisi yang tepat. Gambaran seperti itu sering terjadi di dalam sebuah organisasi.

Ketika situasi sedang gawat, saling melontarkan tuduhan dan celaan, bukannya berseru kepada Allah meminta nasihat dan keberanian. 

Bangkitlah! Siap sedialah melakukan perintah Allah! Tetaplah sabar, tenanglah sekalipun berada dalam ketegangan yang mendebarkanberkat-Nya akan dilimpahkan kepada anak-anak-Nya, yang mengandalkan-Nya

Dengan berdiri tetap kita akan melihat keselamatan dari Tuhan pada hari ini juga! Keadaan gawat diizinkan Allah terjadi supaya kita mengalami kesetiaan-Nya yang abadi. Sebab itu janganlah takut!
*
Jangan takut, sebab Allah telah datang dengan maksud mencoba kamu (Kel 20:20).

Sering Tuhan mengizinkan kekejaman dan kejahatan menimpa kita, supaya kita belajar berani percaya kepada-Nya; dengan demikian kita belajar menikmati pemeliharaan dan kasih setia Allah yang tak putus-putusnya dalam hidup kita

Rasa takut dapat timbul karena adanya peristiwa alam (Kel 20:18) atau orang-orang di sekitar kita (Yes 8:12), atau dari dalam hati kita sendiri (Ayb 3:25). Takutlah kepada Allah! (Yes 8:13). Jangan takut kepada siapa pun atau apa pun juga!
*
Janganlah memberontak kepada Tuhan, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu … (Bil 14:9).

Krisis-krisis besar seperti kesengsaraan dan marabahaya dapat menimpa hidup kita. Namun, semua itu dapat menyingkapkan apakah kita sungguh-sungguh berjalan dengan Tuhan dalam iman, atau dengan penglihatan; apakah kita digerakkan oleh kesetiaan atau ketakutan; apakah kita berjalan untuk memperoleh kemenangan besar bagi Allah atau kita kembali mengembara di padang gurun yang tak bertujuan dan penuh kesia-siaan. 

Allah mengajak kita untuk taat tanpa ragu kepada perintah-Nya, sekalipun jalan yang terbentang nampak suram dan menakutkan, dan teman-teman kita mulai lemah (Bil 14:6-10). 

Percaya berarti tidak takut, taat berarti tidak gentar akan rintangan atau perlawanan yang gigih.
*
Janganlah takut kepadanya, sebab Aku menyerahkan dia ke dalam tanganmu (Bil 21:34).

Pencobaan-pencobaan dapat semakin menyiksa dan berbagai kesulitan semakin menyedihkan, sementara kita mendekati akhir perjalanan hidup kita. 

Ingatlah! Kesengsaraan menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan (Rm 5:3-4). 

Sesungguhnya, Tuhan yang diam dalam kita lebih besar daripada segala pencobaan di dalam dunia! Allah telah berjanji akan menyertai kita setiap hari, bahkan pada akhirnya sebuah tempat kediaman dipersiapkan bagi kita (Bil 21:34; Mzm 136:19-24).
*
Janganlah lemah hatimu, janganlah takut, janganlah gentar (Ul 20:3).

Bagi orang Kristen hidup adalah peperangan melawan musuh sekaligus persekutuan dengan Allah. Musuh-musuh kita mungkin orang-orang yang berbahaya secara fisik dan mental, atau setan-setan yang keji. Dan dari segala segi, mereka kelihatan terlalu kuat bagi kita. 

Sebagai prajurit yang baik dari Kristus Yesus (2 Tim 2:3-4), kita harus disiplin, menanggung kerasnya kehidupan dan mengenakan perlengkapan senjata Allah (Ef 6:11-18). Tuhan tidak memberikan perlengkapan apa pun untuk mundur. Mahkota disediakan hanya bagi pemberani, bukan bagi pengecut.
*
Tuhan akan menyertaitidak akan membiarkantidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati (Ul 31:8).

Di sepanjang perjalanan yang lama di padang gurun, seringkali orang yang belum dewasa imannya bersungut-sungut kendati telah banyak mujizat yang telah dilakukan Allah bagi mereka

Melalui pemberontakan, kecaman dan ketidakpercayaan, orang yang lebih dewasa imannya belajar mengenal dan meresapi kenyataan ajaib janji Ilahi (Kel 33:14 – Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketentraman kepadamu); secara rahmani Allah telah menetapkan orang yang lebih dewasa imannya mengajar dan membantu yang lebih muda (Naomi – Rut; Elia – Elisa; Paulus – Timotius; Musa - Yosua). 

Sebab itu kita tidak perlu “takut dan patah hati” karena Tuhan tidak akan pernah lalai dengan janji-Nya.
*
Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab Tuhan, Allahmu, menyertai engkau, kemanapun engkau pergi (Yos 1: 9).

Praktik sangat berbeda dengan teori, sebenarnya itu tidak perlu terjadi jika dalil itu tepat, pelaksanaannya seharusnyalah menjamin terciptanya hasil yang sesuai. Ketika hendak memasuki pertempuran yang sebenarnya, kita membutuhkan jaminan dan dorongan baru dari Allah (Ul 31:8; Yos 1:2-3, 5-6). 

Untuk mengatasi tantangan yang lantang ini atau yang semacamnya, tersedia bagi kita Roh ketidaktakutan dan kesetiaan. 

Untuk tantangan-tantangan baru, ada keberanian yang diperbarui. Untuk pelayanan dengan bahaya yang tak diketahui sebelumnya, ada kekuatan yang kekal yang tidak akan mengecewakan. Untuk ketidakpastian, ada keberhasilan yang terjamin; untuk kemalangan, ada pengalaman ajaib; dan untuk kekurangan, ada kemakmuran. 

Semua sumber itu diwujudkan atas tiga syarat dasar: (1) renungkan firman Allah siang dan malam. (2) kuatkan dan teguhkanlah hatimu. (3) janganlah kecut dan tawar hati (Yos 1:8-9).
*
Janganlah takut dan janganlah tawar hati. Ketahuilah, Aku serahkan kepadamu … (Yos 8:1).

Kegagalan bukanlah akhir dari segala-galanya. Pelanggaran membuat kita gemetar ketika kita seharusnya berani seperti singa. Dosa membuat kita malu dan takut. 

Tetapi bila kesalahan sudah diakui (1 Yoh 1:9; Ams 28:13), kegagalan mulai dilupakan, kita menuju kepada iman yang baru dan kebebasan

Kita yang telah diampuni, namun masih dipenuhi keraguan dan rasa takut, taruhlah iman kita pada janji Allah yang pasti, bukan pada perasaan-perasaan kita. 

Iman tidak mempertimbangkan apa yang kelihatan, keadaan, kemustahilan dan ketidakmungkinan. Iman mengandalkan kesetiaan Allah; Allah yang setia menyucikan kita dari segala ketidakbenaran dan Ia setia mengalahkan semua musuh kita. Kalau begitu, mengapa harus takut?
*
Tinggallah padaku, jangan takut; sebab siapa yang ingin mencabut nyawamu, ia juga ingin mencabut nyawaku; di dekatku engkau aman (1 Sam 22:23).

Ada sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara (Ams 18:24); mereka masing-masing akan seperti tempat perteduhan terhadap angin dan tempat perlindungan terhadap angin ribut, seperti aliran-aliran air di tempat kering, seperti naungan batu yang besar, di tanah yang tandus (Yes 32:2). 

Seringkali Tuhan menyatakan persahabatan-Nya kepada kita melalui persekutuan dengan seseorang yang Ia pertemukan kepada kita, saat kita dalam kesesakan (1 Sam 22:20-23).

Kepada pengecut, kita dapat menjadi kekuatan; kepada yang ketakutan, benteng pertahanan; kepada yang kuatir, suatu jaminan; dan kepada penakut, seorang sahabat. Sahabat yang setia dapat melenyapkan ketakutan kita.
*
Jangan takut, sebab … tidak akan menangkap engkau (1 Sam 23:17).

Terkadang orang yang berkuasa bersikap tidak adil dan tak kenal ampun. Mereka dihantui pengalaman masa lalu, secara nyata atau khayali, dan biasanya berlebihan. Kebengisan mereka dilampiaskan kepada anak-anak musuh bebuyutannya, sehingga hati anak-anak itu resah dan kecut. 

Kita dapat membuang ketakutan kita setelah diterima dan diperlakukan sebagai sahabat, oleh seseorang yang mempertaruhkan nama dan nyawanya untuk menguatkan kita (1 Sam 23:14-28).
*
Janganlah kamu takut terhadap …; tinggallah di … dan takluklah kepada … maka keadaanmu akan lebih baik (2 Raj 25:24).

Menerima keputusan ilahi dengan sikap positif adalah salah satu disiplin tersukar dalam kehidupan ini. Jika kita mengeraskan hati terhadap keputusan Allah, itu akan merugikan diri kita sendiri, dan mungkin juga orang lain

Tapi jika kita merendahkan hati di bawah tangan Allah yang berkuasa, kita akan diampuni, dan dikasihi Allah. Jika kita mengakui pelanggaran kita, kita akan dibersihkan dari segala kesalahan kita. 

Orang yang percaya kepada Kristus janganlah sekali-kali kembali kepada sifat keduniawian (Yer 42:19; Ul 17:16 – Mesir melambangkan dunia), yang dari kungkungannya itu ia telah diselamatkan; tapi untuk itu ia harus bersedia dihajar (Ibr 12:11 – tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberi damai kepada mereka yang dilatih olehnya). 

Ada rahmat bagi orang yang lemah; kasih karunia bagi yang takut akan Tuhan, dan kehormatan bagi yang rendah hati.
*
Jangan takut … tetapi buatlah lebih dahulu bagiku … , kemudian barulah kaubuat bagimu … (1 Raj 17:3).

Tabiat alamiah manusia menentang penyerahan tanpa syarat. Hanya melalui kemalangan, kesesakan, dan ketidakberdayaan, kita mulai mengerti dengan mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepada kita (Mat 6:33), ini adalah pelajaran yang paling mengesankan, sekaligus sukar dilakukan. 

Hanya melalui ujian berat, kita dapat belajar bahwa asas dan janji Allah itu benar.
*
Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka (2 Raj 6:16).

Mata jasmani melihat keadaan, melihat bahaya dan kesukaran, melihat kecemasan. Mata iman melihat Juruselamat (Rm 8:31 – Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?), melihat kesukaran tetapi mengandalkan Allah (Mzm 3:5-7 – Tuhan menopangku, aku tidak takut kepada puluhan ribu orang yang siap mengepung aku), melihat malaikat sorga (Ibr 1:13-14 – malaikat adalah roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka yang harus memperoleh keselamatan).

Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Janganlah takut dan terkejut … karena yang menyertai kita lebih banyak dari pada yang menyertai dia (2 Taw 32:7).

Keberanian seorang pemimpin adalah dorongan yang besar bagi anak buahnya (2 Taw 32:7-8 - … yang menyertai dia adalah tangan manusia, tetapi yang menyertai kita adalah Tuhan, Allah kita, yang membantu kita dan melakukan peperangan kita).

Ketidaktakutan kita karena mengandalkan Allah, akan membesarkan hati dan membuat hati orang lain berani.
*
Dalam peperangan ini tidak usah kamu bertempur. Tinggallah berdiri di tempatmu, dan lihatlah bagaimana Tuhan memberikan kemenangan kepadamu. Janganlah takut dan terkejut. Majulah menghadapi mereka, Tuhan akan menyertai kamu (2 Taw 20:17).

Sering kita harus berhenti mengandalkan kekuatan kita, tapi percaya mutlak kepada Allah (2 Taw 20:15). Jaminan firman dan Roh itu adalah berakhirnya kekuatiran.
*
Sekalipun tentara berkemah mengepung aku, tidak takut hatiku; sekalipun timbul peperangan melawan aku, dalam hal inipun aku tetap percaya (Mzm 27:3).

Puji-pujian mazmur ini menggantikan segala kegelisahan (Mzm 27:1):

1 Tuhan adalah terangku » kegelapan sering menjadi awal dari mara bahaya dan ketakutan. Tapi jika seseorang mempunyai Terang Dunia, ia dapat berjalan dengan selamat dan aman. 

2 dan keselamatanku » Tangan Allah bukannya tidak perkasa sehingga tidak dapat menyelamatkan, atau telingaNya bukanlah berat mendengar sehingga Ia tidak dapat mendengar. Ia bangkit untuk menyelamatkan semua orang lemah di dunia.

3 Tuhan adalah benteng hidupku » Kita dikuatkan dan diteguhkan oleh Roh-Nya yang diam dalam hati kita (Ef 3:16).

4 terhadap siapakah aku harus gemetar? » Periksalah satu demi satu musuhmu dan ketakutanmu. Nilailah kekuasaan mereka dan taksirlah dengan seksama perlawanan mereka.

Tuhan yang Mahatinggi lebih berkuasa dari pada siapapun, bahkan dari mereka secara bersamaan. Dengan iman, kita beroleh kekuatan dalam kelemahan (Ibr 11:34), justru dalam kelemahanlah kuasa Tuhan menjadi sempurna (2 Kor 12:9).
*
Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut (Mzm 46:3).

Kita tidak perlu takut karena Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti (Mzm 26:2). 

Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup, maksudnya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya (Yoh 7:37-39).
*
Kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? (Mzm 56:5).

Siapa mendengarkan aku, ia akan tinggal dengan aman, terlindung dari pada kedahsyatan malapetaka (Ams 1:33). Takut kepada orang mendatangkan jerat, tetapi siapa percaya kepada Tuhan, dilindungi (Ams 29:25). Janganlah takut, karena Tuhanlah yang akan menjadi sandaranmu, dan akan menghindarkan kakimu dari jerat (Ams 3:25-26).
*
Ia tidak takut kepada kabar celaka, hatinya tetap, penuh kepercayaan kepada Tuhan (Mzm 112:7)

Betapa cepat situasi dalam kehidupan ini berubah! Bisa saja kita sedang menikmati persekutuan sambil minum-minum teh, tiba-tiba datang e-mail yang mengubah segala-galanya. Dering telepon terus-menerus dapat membangunkan kita dari tidur nyenyak, membuat kita gelisah dan kuatir. Tidak ada orang yang menelepon kita malam-malam kalau tidak ada kabar buruk.

Umat Tuhan tidak perlu takut, karena hidup kita ada dalam tangan Allah (Mzm 31:16). Tuhan adalah gembala kita karena itu kebajikan dan kemurahan mengikuti kita seumur hidup kita (Mzm 23:1, 6).

Rancangan-Nyadamai sejahtera” dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepada kita hari depan yang penuh harapan (Yer 29:11). Dia turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya (Rm 8:28).
*
Katakanlah kepada orang-orang yang tawar hati: “Kuatkanlah hati, janganlah takut! … (Yes 35:4).

Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih; Di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa (Kol 1:13).

Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus (Rm 14:17).

Dengan penyegaran Roh yang diam di hati kita, maka kehidupan kita yang suram dan gersang ini haruslah berbunga seperti bunga mawar. Oleh kuat kuasa Roh itu tangan yang lemah dikuatkan untuk melayani, dan mata yang buta oleh dosa dicelikkan untuk melihat kebajikan dan kemuliaan Allah (Yes 35:1-2). Roh Kudus adalah sumber sejati dari ketentraman dan pelayanan.
*
Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan (Yes 40:10).

Tidak ada firman Tuhan tentang jaminan yang lebih manis dan lebih kuat daripada ayat ini, ayat ini sebagai perlindungan terhadap kekuatiran dan ketidakpastian.

1 Aku menyertai engkau » walaupun kadang-kadang ditaklukkan oleh dukacita, tapi tetap yakin dan percaya akan kehadiran Tuhan.

2 Aku ini Allahmu » Allah kita bukanlah zat yang sangat halus, atau kekuatan yang tidak berpribadi. Ia adalah Pribadi yang dengan Dia, kita dapat mempunyai persekutuan yang intim dan mesra.

3 Aku akan meneguhkan » sebelum Pentakosta, para murid Tuhan Yesus lemah imannya, sekalipun mereka adalah pengikut Yesus yang setia. “Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu”, demikianlah janji Tuhan Yesus (Kis 1:8), dan Ia menjadi kekuatan mereka. Ia juga adalah kekuatan kita. 

4 Aku akan menolongmemegang engkau » perlindungan Allah (Mzm 37:24 – apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab Tuhan menopang tangannya).
*
Jangan takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku (Yes 43:1).

Melalui penebusan oleh Tuhan Yesus (Ef 1:7; Why 5:9), kita diselamatkan dan menjadi anak-anak Allah; dan nama kita tercantum dalam Kitab Kehidupan. Kita tidak perlu takut lagi sebab “kita kepunyaan-Nya”.

Kita dapat mengharapkan Allah senantiasa memelihara kita, sebab Ia berjanji “Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau.” (Yes 43:2).
*
Jangan takut …. Aku akan mencurahkan air ke atas tanah yang haus, dan hujan lebat ke atas tempat yang kering (Yes 44:2-3).

Kehausan ibarat kerinduan akan Allah yang tak terpuaskan (Mzm 63:2). 
*
Janganlah takut jika diaibkan oleh manusia dan janganlah terkejut jika dinista oleh mereka (Yes 51:7).

Sejarah mengumandangkan kesombongan orang-orang fasik yang membenci Tuhan dan anak-anak-Nya, dan bualan kosong mereka yang segera lenyap dan tak berarti. Kemenangan orang jahat hanya sejenak. Kita nampaknya terperosok ke dalam lubang, tapi pada akhirnya orang jahat itu sendiri yang terjerumus ke lubang galiannya sendiri (Mzm 57:5, 7; Est 7:10).

Ingatlah janji Tuhan ini “Akulah, Akulah yang menghibur kamu. Siapakah engkau maka engkau takut terhadap manusia yang memang akan mati? (Yes 51:12).
*
Jangan takut, sebab engkau tidak akan mendapat malu, dan janganlah merasa malu … (Yes 54:4). 

Kuatir akan dipermalukan adalah pengalaman yang sangat menyedihkan. Dipermalukan karena kelakuan kita yang tidak senonoh memang menyedihkan, tapi lebih parah lagi bila dipermalukan karena meragukan kesetiaan Allah.

Tuhan Maha Pengasih mempedulikan mereka yang putus asa, kesepian dan tak dikasihi; yang bersedih karena ditinggalkan, yatim dan janda; juga semua orang yang pada masa lalunya penuh kesedihan; sekarang penuh dukacita, dan masa depannya dilanda ketidakpastian. Kepada orang-orang macam itulah Tuhan memberi jaminan pasti 

1 Engkau akan melupakan malu keremajaanmu, dan tidak akan mengingat lagi aib kejandaanmu (Yes 54:4) » hari-hari kemarin dilupakan.

2 Setiap senjata yang ditempa terhadap engkau tidak akan berhasil, dan setiap orang yang melontarkan tuduhan melawan engkau dalam pengadilan, akan engkau buktikan salah (Yes 54:17) » hari ini disertai pelindungan-Nya.

3 Dalam kasih setia abadi, Aku telah mengasihani engkau. Semua anakmu akan menjadi murid Tuhan, dan besarlah kesejahteraan mereka (Yes 54:8, 13) » hari esok cerah dengan berkat-Nya.

Dengan janji dan pengharapan itu kita bersandar dengan penuh percaya kepada Penebus, yang menegaskan “Jangan takut, sebab engkau tidak akan mendapat malu!
*
Janganlah takutjanganlah gentarAku menyelamatkan engkau dari tempat jauh (Yer 30:10)

Hanya melalui penghukuman dan pengampunanlah orang berdosa diselamatkan. Bagi kegagalan ada pengampunan; bagi dosa ada keselamatan; bagi perbuatan salah ada pemulihan bagi yang menyesal (Mzm 130:3-4; Mzm 51:12, 14; Yer 46:27).
*
Janganlah takut …, sebab telah didengarkan perkataanmu sejak hari pertama engkau berniat untuk mendapat pengertian dan untuk merendahkan dirimu di hadapan Allahmu (Dan 10:12).

Banyak sekali setan dan roh jahat yang membenci Allah dan umat-Nya; suatu fakta yang menakutkan, namun yang tidak perlu ditakuti. Orang percaya diajak untuk mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah (Ef 6:1-18).

Bagi orang Kristen yang berada dalam kemelut ujian, tertundanya jawaban atas doa bukan berarti Tuhan tidak mempedulikan mereka. Kita malah harus bertekun dalam doa (Ibr 10:36).
*
Jangan takut, bersorak-soraklah dan bersukacitalah, sebab Tuhan telah melakukan perkara yang besar! (Yl 2:21).

Rahasia ketidaktakutan adalah suara hati yang bebas dari kutukan, yakin dan percaya kepada Allah yang setia pada janjiNya, dan kesukaan yang ceria

1 Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh. Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan (Yl 2:12-13)

» Awalnya adalah penyesalan yang benar, penyesalan yang sungguh-sungguh memberi kepastian akan pengampunan dosa dan kekuatan melayani.

2 Yang datang dari … (Yl 2:20)

» iman percaya bahwa Allah akan menjauhkan dari … Tujukanlah mata kita kepada Tuhan yang kekal, bukan pada musuh kita yang hanya manusia belaka.

3 Bersoraklah dan bersukacitalah, sebab Tuhan telah melakukan perkara besar (Yl 2:21)

» iman tidak perlu tahu bagaimana dan kapan atau melalui siapa jawaban doa itu akan datang; yang pasti doa itu akan dijawab! 
*
Roh-Ku tetap tinggal di tengah-tengahmu. Jangan takut! (Hag 2:6

Tuhan menegur dengan perantaraan nabi: “Perhatikanlah keadaanmu! Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang! Kamu mengharapkan banyak, tetapi hasilnya sedikit. Oleh karena apa? Oleh karena rumah-Ku yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri (Hag 1:5-6, 9).

Jadi, tidak ada alasan bagi kita untuk kuatir karena banyaknya musuh atau sumber penghasilan yang kurang mencukupi. Ketika kita bertanggung jawab dalam kewajiban kita dan mulai dengan segenap hati mentaati Allah, mungkin kesukaran-kesukaran nampak bertambah dan ketakberdayaan kita menyebabkan kegagalan tertentu. Dalam keadaan demikian Tuhan berfirman: “Roh-Ku tetap tinggal di tengah-tengahmu. Janganlah takut!” 
*
Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka (Mat 10:28).

Iblis berjalan keliling sama seperti singa mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya (1 Ptr 5:8-9). Jangan takut! Jiwa kita bernilai lebih tinggi daripada tubuh.

Kematian tubuh orang percaya adalah awal kekekalan bersama Juruselamat; dan kita akan memperoleh tubuh baru dalam kekekalan (Flp 3:20-21).
*
Janganlah kamu takut; sebab aku tahu … (Mat 28:5)

Apakah ketakutan dan kekuatiran kita berasal dari sumber alamiah atau supra-alami, orang Kristen tidak perlu takut karena kita adalah anak-anak Allah, baik sekarang maupun dalam kekekalan. Jadi, kita tidak usah kecut terhadap penyakit atau maut.
*
Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan … (Luk 5:10).

Bagi setiap orang yang menyesali dosa-dosanya, jangan takut! Tuhan Yesus datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang (Luk 19:10).

Bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya Kristus menyelamatkan kita (Tit 3:5). Jiwa yang sunguh-sungguh disentuh oleh Juruselamat akan menyadari dosa dan ketidaklayakannya (Luk 5:8; Yes 6:5).
*
Jangan takut, percaya saja … (Luk 8:50).

Kepada orang yang berduka di mana pun juga, Sang Juruselamat tetap berkata: “Jangan takut, percaya saja!” Percaya apa? Percaya bahwa Tuhan sanggup melakukannya. Sekalipun berada dalam gelap, janganlah meragukan apa yang Allah katakan dalam terang! Ingat! Tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah (Ibr 11:6). Mungkin akan datang penundaan demi menguji iman kita, tapi pertolongan dari sorga tidak akan datang terlambat.
*
Jangan takut! Engkau harus … oleh kasih karunia Allah, maka semua orang yang bersama-sama dengan engkau akan selamat karena engkau (Kis 27:24).

Allah adalah penolong bagi orang yang putus harapan. Mata-Nya tertuju kepada hamba-Nya, dan telinga-Nya terbuka terhadap jeritan hamba-Nya. Maka Dia mengutus malaikat-malaikat-Nya sehingga hamba-Nya dapat menasehati orang yang putus harapan dan orang tersebut mendapat keselamatan.
*
Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan Kerajaan itu (Luk 12:32).

Melalui iman yang menyelamatkan dalam Tuhan Yesus, kita dipindahkan ke dalam Kerajaan-Nya (Rm 14:17), kita memilikinya masa kini maupun pada masa yang akan datang. Karena itu kita dapat bernyanyi meski berada dalam kekelaman, menaikkan pujian sewaktu dianiaya, dan membalas yang jahat dengan yang baik. Kita mengasihi sesama sebagaimana Ia mengasihi kita, dan kita dapat berdiri teguh tidak goyah, dan giat selalu dalam pekerjaan Tuhan (1 Kor 15:58). 
*
Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban (2 Tim 1:7).

Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan (1 Yoh 4:18).

Sebagai ganti ketakutan, Allah telah memberikan kepada kita:

1 Roh kekuatan » kuat kuasa orang percaya untuk berdiri teguh dalam Tuhan terhadap segala kekuatan musuh. Sebab itu, lawan dan tolakkah ketakutan dengan kuasa firman. Dengan lemah lembut dan dengan pertimbangan yang tenggang hati, yang didorong oleh Roh Allah, kita mengasihi musuh kita, sehingga dengan demikian kita melucuti senjata mereka.

2 Roh kasih » kasih sayang yang lembut terhadap manusia.

3 Roh ketertiban » bukan fanatisme ataupun kedegilan, tetapi keputusan yang baik, pertimbangan dengan ketajaman berpikir, dan kebijaksanaan.
*
Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! (Why 2:10)

Kita adalah ahli waris (orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah), penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita (Rm 8:17-18).

Janganlah takut terhadap nyala api yang datang sebagai ujian karena Imam besar kita turut merasakan kelemahan-kelemahan kita dan Allah juga sumber segala penghiburan dalam segala penderitaan. Jadi, bersukacita, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus (1 Ptr 4:12-13; Ibr 4:15; 2 Kor 1:3-4). 
*
Tenanglah! Aku ini, jangan takut! (Mrk 6:50)

Badai itu bukanlah tanda kita tidak taat atau Tuhan meninggalkan kita. Sebaliknya, bahaya sering diizinkan menguji iman kita untuk menunjukkan kesetiaan-Nya.

Tidak akan ada badai yang dapat menakutkan atau cedera datang menimpa kecuali diperbolehkan oleh-Nya. Kita mungkin tidak dapat melihat Dia karena kegelapan dan bahaya, tapi Ia tidak pernah meninggalkan atau membiarkan kita! 

(Sumber: Warta KPI TL No. 89/IX/2011 » Jangan Takut, V. Raymond Edman).