Selasa, 30 April 2019

21.33 -

Why 4:1-11

Sarapan Pagi
Agar Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Rabu, 21 November 2018: Pw Santa Perawan Maria dipersembahkan kepada Allah - Tahun B/II (Putih)
Bacaan: Why 4:1-11; Mzm 150:1-2, 3-4, 5-6; Luk 19:11-28; RU SP Maria


Kemudian dari pada itu aku melihat: Sesungguhnya, sebuah pintu terbuka di sorga dan suara yang dahulu yang telah kudengar, berkata kepadaku seperti bunyi sangkakala, katanya: Naiklah ke mari dan Aku akan menunjukkan kepadamu apa yang harus terjadi sesudah ini.

Segera aku dikuasai oleh Roh dan lihatlah, sebuah takhta terdiri di sorga, dan di takhta itu duduk Seorang. Dan Dia yang duduk di takhta itu nampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis; dan suatu pelangi melingkungi takhta itu gilang-gemilang bagaikan zamrud rupanya.

Dan sekeliling takhta itu ada dua puluh empat takhta, dan di takhta-takhta itu duduk dua puluh empat tua-tua, yang memakai pakaian putih dan mahkota emas di kepala mereka.

Dan dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh yang menderu, dan tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta itu: itulah ketujuh Roh Allah.

Dan di hadapan takhta itu ada lautan kaca bagaikan kristal; di tengah-tengah takhta itu dan di sekelilingnya ada empat makhluk penuh dengan mata, di sebelah muka dan di sebelah belakang.

Adapun makhluk yang pertama sama seperti singa, dan makhluk yang kedua sama seperti anak lembu, dan makhluk yang ketiga mempunyai muka seperti muka manusia, dan makhluk yang keempat sama seperti burung nasar yang sedang terbang.

Dan keempat makhluk itu masing-masing bersayap enam, sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh dengan mata, dan dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam: (*) "Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang."

Dan setiap kali makhluk-makhluk itu mempersembahkan puji-pujian, dan hormat dan ucapan syukur kepada Dia, yang duduk di atas takhta itu dan yang hidup sampai selama-lamanya, maka tersungkurlah kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya. Dan mereka melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu, sambil berkata:

"Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan."


Renungan


1. Pusat penyembahan

Siapa yang menjadi pusat penyembahan kita? Allah. Namun apakah kebenaran ini selalu kita hayati? Seberapa sering kita menjalankan ibadah dan penyembahan dengan sungguh-sungguh menyadari keagungan Allah sebagaimana yang dilihat Yohanes?

Penglihatan Yohanes menunjukkan Allah dalam kebesaran dan kemuliaan-Nya. Takhta Allah berada pada pusat penglihatan ini. Allah yang tidak terbatas digambarkan melalui beberapa hal: permata menunjukkan keagungan Allah dan pelangi mengingatkan kita akan anugerah dan kesetiaan-Nya, kilat dan guruh menunjukkan kehadiran Allah dalam kekudusan-Nya. Allah berdaulat dalam pemerintahan-Nya.

Allah berada di tempat tertinggi, di atas kekuasaan manusia. Kebenaran ini menjadi penghiburan bagi orang percaya yang mengalami penindasan di bawah kekuasaan Romawi pada masa Yohanes.

Dengan memandang keperkasaan Allah yang bertakhta sebagai Penguasa tertinggi, mereka beroleh kekuatan untuk bertekun dalam masa-masa yang sulit.

Keduapuluh empat tua-tua dapat ditafsirkan sebagai wakil semua orang percaya atau mungkin bagian dari jajaran para malaikat. Siapa pun mereka, yang menjadi fokus dalam teks ini adalah apa yang mereka lakukan, yakni menyembah Allah. Mereka mengakui bahwa otoritas yang mereka miliki berasal dari Allah.

Keempat makhluk mewakili seluruh ciptaan yang berada di hadapan kekudusan Allah.

Pengulangan perkataan "kudus" sebanyak tiga kali mengajar kita bahwa kekudusan Allah harus mendasari penyembahan kita. Apakah dalam penyembahan kita senantiasa takjub akan keagungan Allah? Ibadah tanpa ketakjuban akan keagungan Allah dan tanpa kesadaran akan kekudusan Allah adalah ibadah tak bernyawa. Kita harus sadar bahwa yang terutama dalam hidup adalah menyembah Allah dalam keagungan dan kekudusan-Nya.

Kita juga harus yakin bahwa Allah mengontrol segala sesuatu yang terjadi di dunia ini. Untuk itu kita perlu bertekun dalam perjalanan iman.

Tuhan Yesus memberkati.


20.54 -

Luk 19:41-44

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi


Kamis, 22 November 2018: Pw St. Sesilia, Perawan, Martir - Tahun B/II (Merah)
Bacaan: Why 5:1-10; Mzm 149:1-2, 3-4, 5-6a, 9b; Luk 19:41-44; RUybs.


Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, (*) Ia menangisinya, kata-Nya: "Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.

Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau."


Renungan


1. Empati Yesus

(*) Yesus telah menunjukkan kasih dan empati yang teramat besar bagi manusia. 

Sikap empati dan bela rasa yang ditunjukkan-Nya bukan sekedar menangisi kedosaan dan derita manusia, melainkan Ia sendiri menyerahkan hidup-Nya bagi penebusan manusia.

Belas kasih Yesus tiada batas menunjukkan kesempurnaan kasih Bapa yang telah mengutus-Nya. 

Melalui pengurbanan Tubuh dan Darah-Nya yang digambarkan seperti kurban sembelihan Anak – Domba, hidup kita dibersihkan dan diselamatkan. Oleh kurban salib-Nya kita ditebus dan diangkat menjadi orang pilihan Allah dan ikut memerintah bersama-Nya dalam suasana kasih dan kebahagiaan (Why 5:9-10 ).

Inilah arti tangisan Yesus saat menatap Yerusalem yang megah dan angkuh, yang tidak dimengerti dan peduli dengan apa yang perlu untuk damai sejahteranya, sebab mereka menolak keselamatan dalam diri Yesus.

Mungkin Yesus sejak beberapa hari ini mendekati kita juga menatap kita sambil menangis karena kita seringkali tidak, mengerti atau bahkan lalai mengusahakan apa yang perlu bagi keselamatan kita dan kebahagiaan sesama. 

Kita mungkin terlalu sibuk mengurus hal yang tidak penting dan terlalu fokus pada ambisi pribadi yang terselubung dalam aneka kesibukan kita. 

Mari kita kembali ke jalan yang benar dan menyelamatkan agar Yesus senantiasa
tersenyum.

Tuhan Yesus memberkati.



20.42 -

Why 10:8-11

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Jumat, 23 November 2018: Hari Biasa XXXIII - Tahun B/II (Hijau)
Bacaan: Why 10:8-11; Mzm 119:14, 24, 72, 103, 111, 131; Luk 19:45-48


Dan suara yang telah kudengar dari langit itu, berkata pula kepadaku, katanya: "Pergilah, ambillah gulungan kitab yang terbuka di tangan malaikat, yang berdiri di atas laut dan di atas bumi itu."

Lalu aku pergi kepada malaikat itu dan meminta kepadanya, supaya ia memberikan gulungan kitab itu kepadaku. Katanya kepadaku: "Ambillah dan makanlah dia; ia akan membuat perutmu terasa pahit, tetapi di dalam mulutmu ia akan terasa manis seperti madu." 

Lalu aku mengambil kitab itu dari tangan malaikat itu, dan memakannya: (2) di dalam mulutku ia terasa manis seperti madu, tetapi sesudah aku memakannya, (1) perutku menjadi pahit rasanya.


Renungan


1. Firman Tuhan adalah pil pahit yang menyembuhkan

(1) Pahit di perut. Bagian ini mengingatkan kita pada pil pahit berbalut lapisan gula. Dulu ada pil kina untuk mengobati sakit malaria. Obat ini pahit, tapi ampuh sekali untuk mengobati sakit malaria. Seandainya ditelan begitu saja maka banyak orang tidak akan mampu meminumnya, karena rasa pahit yang kuat, sehingga perlu dibalut dengan lapisan gula yang manis. 

Setelah masuk di perut, lapisan gula larut maka yang tersisa rasa pahitnya. Gula yang manis tidak menyembuhkan sakit malaria, tetapi kini yang pahitlah yang menyembuhkan. 

Penglihatan Yohanes tentang gulungan kitab yang berisi rahasia Tuhan seperti pil kina. Isinya pasti terasa pahit karena dunia sudah dipenuhi dosa, namun hanya itu yang dapat membawa kita memasuki langit baru dan bumi baru, hanya itu yang dapat menyembuhkan penyakit dunia ini sehingga ada damai sejahtera.

(2) Manis di lidah. Banyak orang menyukai rasa manis. Rasa manis di lidah juga membuat kita ingin terus menimatinya. Disatu sisi, begitulah seharusnya rahasia Tuhan. Ia menyapa kita melalui firman-Nya dengan manis sehingga pada saat firman disampaikan atau dinubuatkan orang akan merasa senang dan ingin terus menikmatinya; namun disisi lain firman Tuhan memang sering terasa pahit, karena kita sering merasa ditegur dan disalahkan, tetapi hasilnya akan mendatangkan hidup yang penuh damai sejahtera.

Jadi kalau kita menyampaikan firman Tuhan kepada orang lain, baik dengan kata maupun melalui perbuatan, haruslah terasa manis, karena firman Tuhan itu menguatkan, menyembuhkan, menghibur dan membawa damai sejahtera.

Tuhan Yesus memberkati.


20.28 -

Yoh 8:33b-37

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Minggu, 25 November 2018: Hari Raya Tuhan Kita Yesus Krtistus Raja Semesta Alam - Tahun B/II (Putih)
Bacaan: Dan 7:13-14; Mzm 93:1ab, 1c-2, 5; Why 1:5-8; Yoh 8:33b-37



Pilatus-Pilatus zaman sekarang?


Maka kembalilah Pilatus ke dalam gedung pengadilan, lalu memanggil Yesus dan bertanya kepada-Nya: "Engkau inikah raja orang Yahudi?"


Jawab Yesus: "Apakah engkau katakan hal itu dari hatimu sendiri, atau adakah orang lain yang mengatakannya kepadamu tentang Aku?"


Kata Pilatus: "Apakah aku seorang Yahudi? Bangsa-Mu sendiri dan imam-imam kepala yang telah menyerahkan Engkau kepadaku; apakah yang telah Engkau perbuat?"


Jawab Yesus: "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini."


Maka kata Pilatus kepada-Nya: "Jadi Engkau adalah raja?" Jawab Yesus: "Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku."


Renungan


Yesus sebagai terdakwa dan Pilatus sebagai pemegang kekuasaan atas nasib Yesus. Benarkah Pilatus adalah pemegang kekuasaan atas nasib Yesus? 

Pilatus memang adalah pemegang kekuasan saat itu, tetapi Pilatus sesungguhnya tidak memiliki kekuasaan. Mengapa? Karena pada akhirnya yang memutuskan nasib Yesus adalah orang-orang yang membenci Yesus. 

Pilatus melepaskan tanggung jawabnya! Pilatus tidak mau kehilangan wibawa dan kekuasaan. Pilatus membiarkan kejahatan menang atas kebenaran! Pilatus berbicara dengan Yesus secara personal, tetapi Pilatus tidak mendengarkan suara Yesus Sang Raja Kebenaran. Hati Pilatus tertutup karena ketakutan akan kehilangan jabatannya.

Berapa banyak Pilatus-Pilatus zaman sekarang? Banyak, ya sangat banyak. Pilatus adalah lambang manusia yang membunuh sesama demi kekuasaan, manusia yang menjual iman demi jabatan, manusia yang mengorbankan keluarga demi kenikmatan duniawinya, manusia yang melakukan korupsi demi kekayaan, manusia yang menjatuhkan teman sejawat demi naik pangkat. Manusia yang membiarkan hatinya dirajai kejahatan.

Bagaimana dengan Yesus? Yesus sang terdakwa adalah raja yang sesungguhnya. Raja yang mengorbankan diri demi keselamatan rakyatnya. Raja yang rela meninggalkan tahtanya demi membela rakyatnya yang tertawan. Raja yang tidak akan mengorbankan rakyatnya demi keselamatannya sendiri. Raja yang melepaskan jubah kebesarannya demi melidungi rakyatnya yang kedinginan. Raja yang memberi tubuh dan darahnya bagi rakyatnya yang kelaparan.

Yesus adalah sungguh-sungguh Raja bagi orang-orang yang membuka pintu hatinya. Kerajaan Allah ada dalam diri kita, tahtanya adalah hati kita dan Yesus adalah rajanya. 

Yesus adalah raja dalam segala pekerjaan kita, raja atas keluarga kita, raja atas kekuasaan kita, raja dalam segala kesuksesan kita, ya Yesuslah raja dalam seluruh hidup kita.

Siapapun kita dan apapun pekerjaan kita saat ini, semoga kita takut kepada Allah dan bukan pada manusia, sehingga kita bijak dalam mengambil keputusan, apalagi bila hal itu menyangkut nasib seseorang. 

Tuhan Yesus memberkati.


20.16 -

Why 14:1-3, 4b-5

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)
  

Penanggalan liturgi

Senin, 26 November 2018: Hari Biasa XXXIV - Tahun B/II (Hijau)
Bacaan: Why 14:1-3, 4b-5; Mzm 24:1-2, 3-4ab, 5-6; Luk 21:1-4


Dan aku melihat: sesungguhnya, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh empat ribu orang dan di dahi mereka tertulis nama-Nya dan nama Bapa-Nya.

Dan aku mendengar suatu suara dari langit bagaikan desau air bah dan bagaikan deru guruh yang dahsyat. Dan suara yang kudengar itu seperti bunyi pemain-pemain kecapi yang memetik kecapinya.

Mereka menyanyikan suatu (*) nyanyian baru di hadapan takhta dan di depan keempat makhluk dan tua-tua itu, dan tidak seorang pun yang dapat mempelajari nyanyian itu selain dari pada seratus empat puluh empat ribu orang yang telah ditebus dari bumi itu. 


Renungan


1. Nyanyian baru

Nyanyian adalah salah satu anugerah dalam hidup yang sudah dianggap biasa. Sebagai orang-orang yang telah diselamatkan, salah satu yang harus kita lakukan adalah memuji-Nya.

Nyanyian baru adalah ekspresi dari orang-orang yang memiliki pengalaman baru dengan Allah atas berkat dan pertobatan yang diterimanya. Nyanyian ini timbul dari hati yang baru, sikap yang baru, keadaan yang baru. 

Allah memberikan pembaruan dalam dimensi diri manusia, Dia membuat hal-hal yang baru, yaitu pemulihan yang membawa pada perkara-perkara yang indah, pengalaman-baru dengan Allah.

Tuhan Yesus memberkati.


20.07 -

Luk 21:5-11

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Selasa, 27 November 2018: Hari Biasa XXXIV - Tahun B/II (Hijau)
Bacaan: Why 14:14-20; Mzm 96:10, 11-12, 13; Luk 21:5-11


Ketika beberapa orang berbicara tentang Bait Allah dan mengagumi bangunan itu yang dihiasi dengan batu yang indah-indah dan dengan berbagai-bagai barang persembahan, berkatalah Yesus: "Apa yang kamu lihat di situ — akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan."

Dan murid-murid bertanya kepada Yesus, katanya: "Guru, bilamanakah itu akan terjadi? Dan apakah tandanya, kalau itu akan terjadi?"

Jawab-Nya: "Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Dia, dan: Saatnya sudah dekat. Janganlah kamu mengikuti mereka. Dan apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu terkejut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera."

Ia berkata kepada mereka: "Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan, dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan terjadi juga hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit.


Renungan


1. Kehadiran Yesus sebagai Hakim Agung

Kehancuran Yerusalem digambarkan sebagai kehancuran dunia di mana dunia akan mengalami kehancurannya dan ini menandakan akhir zaman.

Tanda-tanda akhir zaman memang sangat menakutkan bagi banyak orang. Keberadaan akhir zaman berarti hadirnya Tuhan untuk kedua kalinya. Kehadiran Yesus sebagai Hakim Agung adalah dalam rangka penggenapan, pembebasan, serta pengangkatan orang-orang yang percaya dan setia. 

Tuhan Yesus memberkati.


19.38 -

Luk 21:12-19

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Rabu, 28 November 2018: Hari Biasa XXXIV - Tahun B/II (Hijau)
Bacaan: Why 15:1-4, Mzm 98:1, 2-3ab, 7-8, 9; Luk 21:12-19


Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi.

Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu.

Dan kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi (*) tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu."


Renungan


1. Jaminan Tuhan

Penderitaan dan penganiayaan akan selalu menjadi bagian dalam sejarah umat manusia. Demikian juga dalam dinamika hidup beriman. Ada banyak tantangan dan hambatan yang sering kali dihadapi ketika seseorang hendak mengungkapkan imannya. 

‘Hambatan’ iman itu akan melemahkan kita sebagai orang beriman. Tantangan dan hambatan masih mungkin kita hindari atau hadapi. Namun apabila hal itu datang dari dalam lingkungan terdekat, keluarga misalnya, pasti akan jauh lebih sulit dan membutuhkan energi lebih besar.

Bagaimana kita menghadapi hal itu, sepenuhnya tergantung dari keputusan kita. Apakah kita akan tetap bertahan, juga tergantung bagaimana diri kita. Satu hal yang pasti adalah Yesus memberi jaminan (*) jika kita tetap bertahan.

Tuhan Yesus memberkati.