Tampilkan postingan dengan label SP Lukas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SP Lukas. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Desember 2019

23.25 -

Luk 24:35-48

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Kamis, 5 April 2018: Hari Kamis dalam Oktaf Paskah - Tahun B/II (Putih)
Bacaan: Kis 3:11-26; Mzm 8:2a, 5, 6-7, 8-9; Luk 24:35-48


Minggu, 15 April 2018: Hari Minggu Paskah III - Tahun B/II (Putih)
Bacaan: Kis 3:13-15, 17-19; Mzm 4:2, 4, 7, 9; 1 Yoh 2:1-5a; Luk 24:35-48


Lalu (1) kedua orang itupun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.

Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, (3) Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: "Damai sejahtera bagi kamu!"

Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu?

Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku." Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka.

Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka: "Adakah padamu makanan di sini?" Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng. Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka.

Ia berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur."

Lalu (2) Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini.


Renungan


1. Allah beserta kita

(1) Pengalaman perjumpaan dengan Yesus yang telah bangkit mengubah hati dan pikiran mereka menjadi manusia baru. Pengalaman iman akan Paskah inilah yang membuat mereka kembali ke komunitas dan hidup dalam semangat berbagi kasih.

(2) Mereka sekarang mengerti secara baru akan arti firman dan ajaran Yesus tentang diri-Nya. Dulu mereka pikir Yesus akan memimpin mereka keluar dari penjajahan orang Romawi saat itu. 

Akan tetapi, kenyataannya Yesus malah ditangkap dan dihukum mati. Rupanya pemahaman yang salah mempengaruhi kepercayaan mereka sehingga mereka melakukan tindakan yang salah dengan meninggalkan Yerusalem.

Akhirnya, Yesus yang bangkit diyakini bukan hanya sebagai Mahakuasa dan Mahakasih tetapi sebagai (3) Allah yang Mahahadir. Ia secara nyata hadir sungguh dalam komunitas para murid dengan membawa shalom, damai sejahtera-Nya.

Jadi, sebagai murid Kristus kita harus menyadari dan percaya bahwa Dia adalah Imanuel, Allah beserta kita. Yesus selalu hadir di setiap persekutuan orang-orang yang percaya pada-Nya. Yesus selalu hadir di setiap saat kita bercakap-cakap dan bertukar pikiran mengenai Dia. Yesus selalu hadir bagi setiap orang yang memanggil nama-Nya dalam doa terutama dalam Ekaristi Kudus. Bahkan, Dia rela berjalan bersama dengan kita saat suka maupun duka.


2. Jadilah pendamping dan pembimbing bagi sesama

Kisah Emaus menjadi kisah yang kaya makna. Setidaknya kita dapat menemukan bagaimana Yesus yang bangkit tidak membiarkan murid-murid-Nya mencari jalan lain, tetapi mendampingi dan membimbing kedua murid dari Emaus: mulai dari menemari mereka berjalan, menjawab kebingungan mereka dan membuat mata mereka terbuka sendirinya untuk melihat kehadiran-Nya.

Para murid Emaus yang mengalami kematian karena kematian Yesus, kini mengalami kebangkitan Yesus dalam hidup mereka. Dengan segera mereka kembali ke Yerusalem.

Pengalaman Emaus menjadi inspirasi bagi kita juga untuk mendampingi saudara-saudara kita yang mengalami keterpurukan atau mengalami kematian dalam hidup. Kadang diperlukan kesabaran untuk menemani, mendengarkan, berdialog, mengalami kebersamaan sampai pada suatu saat mata mereka terbuka dan mengalami “kebangkitan” dalam hidup mereka.



Sabtu, 28 Desember 2019

22.03 -

Luk 12:54-59

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Jumat, 25 Oktober 2019: Hari Biasa XXIX - Tahun C/I (Hijau)
Bacaan: Rm 7:18-25a; Mzm 119:66, 68, 76, 77, 93, 94; Luk 12:54-59


Yesus berkata pula kepada orang banyak: (*) "Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi.

Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini. Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar?

Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara.

Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas."


Renungan


1. Beranikah kita menyuarakan kebenaran?

(*) Tanda-tanda alam mengajarkan kepada kita tentang kebenaran. Alam tidak pernah menipu kita. Kalau kita hidup dan tinggal dekat dengan alam, mengapa kita tidak meneladan kebenarannya?

Kita tahu yang benar, tetapi tidak melakukan yang benar. Kita tahu yang salah, tetapi tidak menghindarinya. Apa yang kita ketahui dan apa yang kita perbuat berbeda. Beranikah kita menyuarakan kebenaran sebagaimana kita ketahui dan tidak menutup-nutupinya? Katakan ya jika ya dan katakan tidak jika tidak. Selebihnya berasal dari si jahat (Mat 5:37).


20.16 -

Luk 13:31-35

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Kamis, 31 Oktober 2019: Hari Biasa XXX - Tahun C/I (Hijau)
Bacaan: Rm 8:31b-39; Mzm 109:21-22, 26-27, 30-31; Luk 13:31-35


Pada waktu itu datanglah beberapa orang Farisi dan berkata kepada Yesus: (1) "Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau."

Jawab Yesus kepada mereka: "Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai. Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem.

(3) Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! (2) Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.

Sesungguhnya rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kamu tidak akan melihat Aku lagi hingga pada saat kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!"


Renungan


1. Konsisten dan berani menghadapi tantangan

(1) Yesus menerima peringatan terbuka akan bahaya yang mengancamnya, namun Dia tidak takut, Dia tetap fokus pada agenda-Nya (2).

(3) Yerusalem tempat kebanggaan orang Yahudi, tetapi menjadi pusat perlawanan terhadap utusan Allah. Keluhan ini bukan ungkapan kekecewaan tetapi ungkapan rasa sedih mendalam atas nasib yang akan menimpa Yerusalem dan penduduknya.

Kita seringkali tergoda untuk bermain aman, berkompromi, dan "menyembunyikan" kebenaran demi kenyamanan diri. Hari ini Tuhan menantang kita untuk juga konsisten dan berani menghadapi tantangan dalam karya pelayanan kita.


04.36 -

Luk 20:27-38

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Minggu, 10 November 2019: Hari Minggu Biasa XXXII - Tahun C/I (Hijau)
Bacaan: 2 Mak 7:1-2, 9-14; Mzm 17:1, 5-6, 8b, 15; 2 Tes 2:16 - 3:5; Luk 20:27-38


Maka datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: "Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati sedang isterinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. 

(1A) Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati dengan tidak meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itu pun mati. 

Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia."

Jawab Yesus kepada mereka: (1B) "Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi (2A) mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan.

Sebab (2B) mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan.

Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.


Renungan


1. Kebangkitan sesudah kematian

(1AB) Hukum KEWAJIBAN PERKAWINAN IPAR 》 apabila orang-orang yang bersaudara tinggal bersama-sama dan seorang dari pada mereka mati dengan tidak meninggalkan anak laki-laki, maka janganlah isteri orang yang mati itu kawin dengan orang di luar lingkungan keluarganya; saudara suaminya haruslah menghampiri dia dan mengambil dia menjadi isterinya (Ul 25:5).

(2AB) Salah satu pertanyaan manusia dalam peziarahan di dunia ini ialah tentang hidup sesudah kematian. Kebenaran tentang kebangkitan itu bersumber pada pewahyuan Diri Allah sendiri sebagai ALLAH ORANG HIDUP dan bukan Allah orang mati (Mat 22:32). Kebenaran itulah yang diwarisi sejak Abraham, Bapa kaum beriman.

Dalam terang iman Kristiani, Gereja menegaskan adanya kebangkitan sesudah kematian. Dalam Kredo (Aku Percaya) pada kalimat bagian akhir merumuskan kebangkitan badan dan kehidupan kekal. Ini suatu pernyataan iman yang dalam.

Dalam Kitab Suci dan Katekismus Gereja Katolik (KGK 997-1004) menulis demikian, "Bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati? Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Tetapi ANDAIKATA KRISTUS TIDAK DIBANGKITKAN, MAKA SIA-SIALAH pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal (1 Kor 15:12-14, 20).

Mereka yang telah BERBUAT BAIK akan keluar dan BANGKIT UNTUK HIDUP YANG KEKAL, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum (Yoh 5:29).

Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali? Allah memberikan kepadanya suatu tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya. Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, YANG DIBANGKITKAN adalah TUBUH ROHANIAH (1 Kor 15:35, 38, 44).


00.07 -

Luk 19:45-48

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Jumat, 22 November 2019: Peringatan St. Sesilia, Perawan dan Martir - Tahun C/I (Merah
Bacaan: 1 Mak 4:36-37, 52-59; MT 1 Taw 29:10, 11abc, 11d-12a, 12bcd; Luk 19:45-48; RUybs.


Lalu (*) Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun." 

Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia, tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.


Renungan


1. Yesus menyucikan Gereja-Nya

(*) Dalam peristiwa itu, apa yang diinginkan Yesus? Ia menghendaki agar Bait Suci disucikan dan dimurnikan.

Yesus menyucikan Gereja-Nya, dengan: “Memandikannya dengan air dan firman (Ef 5: 26-27). Jadi, hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus (1 Ptr 1:14-16).

Marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah (2 Kor 7:1 ).


Jumat, 27 Desember 2019

21.49 -

Luk 23:35-43

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Minggu, 24 November 2019: HR Kristus Raja Alam Semesta - Tahun C/I (Putih)
Bacaan: 2 Sam 5:1-3; Mzm 122:1-2, 4-5; Kol 1:12-20; Luk 23:35-43


Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya: "Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah." 

Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur asam kepada-Nya dan berkata: (1A) "Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!" Ada juga tulisan di atas kepala-Nya: (1B) "Inilah raja orang Yahudi". 

Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: "Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!" Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: "Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah."

Lalu ia berkata: (2) "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja." Kata Yesus kepadanya: (3) "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus."


Renungan


1. Tuhan Yesus Raja Semesta Alam

(1AB) Ungkapan "Raja" di ayat ini adalah suatu hinaan yang menyakitkan, mau menyatakan bahwa Yesus tidak memiliki kuasa apapun.

(2) Penjahat ini melihat dan memaknai Yesus yang disalib sebagai Raja dengan pengertian berbeda. Ia mengakui Yesus sebagai Raja dengan pengertian bahwa Yesus memiliki kekuatan dan kekuasaan yang mampu menyelamatkan jiwa. Ia menyadari betul bahwa sebagai Raja, kekuasaan yang terbesar yang dimiliki Yesus adalah kasih. Itulah sebabnya ia memohon belas kasih Yesus dan memiliki pengharapan bahwa Yesus mampu menyelamatkan jiwanya, jiwa seorang pendosa. Pengharapannya tidak sia-sia, karena Yesus mengabulkan keinginannya (3).

Sebutan Raja Semesta bagi Yesus yang kita rayakan hari ini. membawa kita akan kesadaran, bahwa kita patut memuji dan menyembah Yesus karena Dia memiliki hati yang terbuka untuk menerima kita dan menyelamatkan jiwa kita dari kematian kekal. 


20.14 -

Luk 21:1-4

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Senin, 25 November 2019: Hari Biasa XXXIV - Tahun C/I (Hijau)
Bacaan: Dan 1:1-6, 8-20; MT Dan 3:52, 53, 54, 55, 56; Luk 21:1-4


Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. 

Lalu Ia berkata: (*) "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya."


Renungan


1. Kerelaan untuk memberi

(*) Tuhan tidak menghakimi orang kaya dan mendukung orang yang miskin. Menjadi kaya adalah hak semua orang yang dimulai lewat usaha dan kerja keras. Sebaliknya orang miskin juga tak jarang dimulai oleh kemalasan diri sendiri.

Dalam ayat ini Yesus hendak menekankan kerelaan untuk memberi melampaui kondisi seseorang yang berkelimpahan atau berkekurangan.

Apa yang kita miliki adalah pemberian Tuhan. Kita tidak memiliki hak apa-apa, apalagi untuk mempertahankan dan menggenggam mati semua yang kita miliki. Apa yang kita miliki entah sedikit atau banyak pada akhirnya harus kita persembahkan kepada Tuhan. Semangat janda miskin adalah semangat bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Mari kita lakukan sekarang juga.


Kamis, 26 Desember 2019

05.12 -

Luk 1:57-66

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Senin, 23 Desember 2019: Hari Biasa Adven IV - Tahun A/II (Ungu)
Bacaan: Mal 3:1-4; 4:5-6; Mzm 25:4bc-5ab, 8-9, 10, 14; Luk 1:57-66


Kemudian genaplah bulannya bagi (1) Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. 

Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya, tetapi ibunya berkata: "Jangan, ia harus dinamai Yohanes." Kata mereka kepadanya: "Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian."

Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: (2A) "Namanya adalah Yohanes." Dan mereka pun heran semuanya. 

Dan (2B) seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah. Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea.

Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: "Menjadi apakah anak ini nanti?" Sebab tangan Tuhan menyertai dia.


Renungan


1. Ketika kita mau berserah pada-Nya

(1) Zakharia dan Elisabet tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya (Luk 1:5, 7). Allah adalah penguasa hidup dan matinya manusia, maka Ia dapat menyatakan kuasa-Nya yang melampaui daya pikir manusia atas hukum biologisnya.

(2AB) Zakharia menjadi bisu karena tidak percaya (Luk 1:20). Di sini terbukti bahwa, perpaduan antara iman dan kesetiaan, kesabaran dan pengorbanan, dapat mendatangkan hal-hal yang "ajaib" dalam hidup, mendapatkan ganjaran yang luhur dan suci dari Allah.

Dalam hidup ini, sering kita mengalami kehidupan yang dapat membuat iman, kesetiaan, kesabaran dan daya korban kita menjadi luntur. Ingatlah! Ketika kita mau berserah pada-Nya, percayalah bahwa Allah tidak pernah membiarkan kita berjuang dan menanggung beban hidup kita sendirian, Dia juga ikut menanggung beban hidup kita.


Minggu, 03 November 2019

13.50 -

Luk 4:24-30

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Senin, 5 Maret 2018: Hari Biasa Pekan III Prapaskah - Tahun B/II (Ungu)
Bacaan: 2 Raj 5:1-15a; Mzm 42:2, 3; 43:3, 4; Luk 4:24-30


Dan kata-Nya lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar:

Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon.

Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorangpun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu."

Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. Mereka bangun, lalu (*) menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.


Renungan


1. Sikap berterima kasih dan bersyukur

(*) Orang-orang yang telah kenal Yesus pada masa kecil-Nya tidak percaya bahwa Yesus adalah Penyelamat Dunia yang mereka dambakan kedatangan-Nya, bahkan ketika Ia tampil di bait Allah untuk menyatakan Jati Diri-Nya, mereka berkata “Bukankah Ia ini anak Yusuf”, dan kemudian mengusir-Nya

Pengalaman berterima kasih dan bersyukur dalam keluarga akan menjadi modal dan kekuatan yang handal untuk senantiasa bersyukur dan berterima kasih kepada siapapun dan dimanapun.

Barangsiapa tidak mampu mengasihi, menghormati dan menghargai mereka yang setiap hari hidup atau bekerja bersama, maka sikap terhadap yang lain dan jauh pasti akan menindas atau melecehkan.

Sebaliknya barangsiapa mampu mengasihi, menghormati dan menghargai mereka yang setiap hari hidup atau bekerja bersama, maka terhadap yang lain/jauh pasti akan melayani, membahagiakan dan menyelamatkan

Masing-masing dari kita dapat hidup, tumbuh dan berkembang sebagaimana adanya pada saat ini karena jasa, kebaikan dan kasih mereka yang setiap hari hidup atau bekerja bersama dengan kita.

Maka hendaknya dengan mereka yang setiap hari hidup atau bekerja bersama, kita senantiasa bersikap ‘berterima kasih dan bersyukur’, sehingga dalam hidup atau bekerja bersama kita dapat saling melayani, membahagiakan dan menyelamatkan.