Rabu, 21 Juni 2017

18.47 -

Pilih mana: Percaya janji Tuhan atau kenyataan yang buruk?

2 Raj 6:17 Lalu berdoalah Elisa: “Ya Tuhan: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat.” Maka Tuhan membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa.

Pernahkah Anda berada di dalam sebuah situasi di mana Anda harus memilih antara mempercayai janji Tuhan yang belum kelihatan dan kenyataan pahit yang terlihat jelas dengan mata jasmani Anda?

Situasi di atas pernah dialami oleh bujang Elisa. Matanya melihat bahwa dia dan Elisa dikepung oleh tentara Aram. Menyelisik reaksinya pada ayat 15, “Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?” dapat saya pastikan bahwa sang bujang lebih mempercayai apa yang mata jasmaninya dia lihat daripada janji Tuhan di dalam hatinya.

Di sisi lain, Elisa juga di situ bersama sang bujang. Nyawa Elisa pun terancam seperti halnya sang bujang. Namun Elisa lebih mempercayai janji Tuhan yang ada di dalam hatinya, yang belum kelihatan, dibanding mempercayai mata jasmaninya.

Ayat 16 menuliskan pernyataan iman Elisa “Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka.” Hebat!

Teman, bagaimana dengan Anda? Mana yang lebih Anda percayai, janji Tuhan yang belum terlihat atau kenyataan yang terlihat?

Kalau Anda perhatikan cerita di atas, Elisa dan bujangnya ada di dalam satu kondisi yang sama, tetapi mereka mempercayai dua hal yang berbeda, sehingga menghasilkan dua respons yang berbeda.

Sang bujang mempercayai kenyataan buruk yang dilihat matanya dan hasilnya adalah ketakutan dan kekuatiran, sedangkan sang nabi mempercayai janji Tuhan dan mengabaikan kenyataan buruk yang dilihatnya. Hasilnya adalah iman dan mukjizat.

Saya mengerti bahwa situasi yang terjadi di dalam hidup kita tidak selalu indah. Saya pun mengalami hal tersebut. Namun Anda perlu ingat bahwa Anda memiliki Tuhan yang besar yang memberikan janji kekal bagi Anda.

Jika Anda percaya kepada janji Tuhan, justru di tengah hujan badai, Anda dapat melihat pelangi yang indah; di tengah kesesakan, Anda dapat melihat mukjizat dinyatakan.

Seperti nasihat Elisa kepada bujangnya, “Jangan takut …” Saya pun ingin mengatakan kepada Anda supaya jangan takut, karena yang menyertai Anda jauh lebih besar dari masalah yang Anda hadapi.

Peganglah janji Tuhan, dan mulai ucapkan harapan Anda, bukan ketakutan Anda.

(@mistermuryadi).

Senin, 19 Juni 2017

Ambisi oleh Allah



Hendaklah dicondongkan-Nya hati kita kepada-Nya untuk hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya. —1 Raj 8:58

Beberapa bulan lalu saya menerima e-mail yang mengundang saya bergabung dengan komunitas “orang-orang yang berambisi tinggi”.

Saya memutuskan untuk meneliti arti kata ambisi dan mendapati bahwa seseorang yang berambisi tinggi adalah orang yang sangat termotivasi untuk mencapai kesuksesan dan mau bekerja keras untuk mencapai tujuan-tujuannya.

Apakah baik menjadi orang yang berambisi tinggi? Inilah ujian yang tidak pernah salah: Apakah kita “[melakukan] semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1 Kor. 10:31)? Yang sering terjadi justru kita melakukan sesuatu untuk kemuliaan diri kita sendiri.

Setelah peristiwa air bah di zaman Nuh, sekelompok orang memutuskan untuk membangun sebuah menara demi mencari nama bagi diri mereka sendiri (Kej. 11:4).

Mereka ingin menjadi terkenal dan berusaha agar tidak terserak ke seluruh bumi. Namun, karena tidak melakukannya untuk kemuliaan Allah, mereka terjerumus pada ambisi yang salah.

Sebaliknya, saat Raja Salomo mendedikasikan tabut perjanjian dan Bait Allah yang baru selesai dibangun, ia berkata, “Aku telah mendirikan rumah ini untuk nama Tuhan” (1Raj. 8:20).

Lalu ia berdoa, “Hendaklah dicondongkan-Nya hati kita kepada-Nya untuk hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, dan untuk tetap mengikuti segala perintah-Nya” (ay.58).

Ketika hasrat terbesar kita adalah untuk memuliakan Allah dan hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, kita menjadi orang yang termotivasi untuk mengasihi dan melayani Yesus dengan pertolongan kuasa Roh Allah.

Kiranya kita berdoa seperti Salomo berdoa. Kiranya kita “berpaut kepada Tuhan, Allah kita, dengan sepenuh hati [kita] dan dengan hidup menurut segala ketetapan-Nya dan dengan tetap mengikuti segala perintah-Nya” (ay.61). — Keila Ochoa

Wawasan:

Sembari bekerja keras untuk mencapai tujuan-tujuan Anda, mintalah Allah memberi Anda hati yang rendah hati dan taat, yang sepenuhnya setia kepada-Nya.

Bapa, berilah aku kerinduan untuk menaati-Mu dan melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan-Mu.

Lakukan segala sesuatu untuk kemuliaan Allah.

(Our Daily Bread Ministries)

20.36 -

Apa yang dipikirkan, itulah yang akan terjadi

Yesus berkata: Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya." (Mat 21:22)

Yesus menjawab mereka: "Percayalah kepada Allah! Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya. Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu (Mrk 11:22-24)

Sungguh indah apa yang disabdakan oleh Yesus 

Dalam Injil Lukas, Yesus juga ber firman tentang hal *Percaya*

Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana." (Luk 1:45)

Salah satu kebahagiaan terbesar yang kita miliki adalah ketika kita dengan ikhlas ikut memikul kuk yang Tuhan ijinkan hadir dalam kehidupan kita, yaitu kerelaan menerima keputusan Allah tanpa pernah bertanya apalagi protes kepada-Nya."

Pikullah kuk yang Ku-pasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah harti dan jiwamu akan mendapat ketenangan (Mat 11:29)

Jika kita memikirkan bahagia, maka kita akan bahagia.
Jika kita berpikiran sedih, maka kita menjadi sedih.
Jika kita berpikiran gagal, kita menjadi gagal
Jika kita berpikiran sukses, maka kita niscaya sukses. 
Jika kita berpikiran sakit, kita juga menjadi sakit.
Jika kita berpikiran sehat, maka kita pun akan sehat. 


Inilah The Law of Attraction, Hukum Tarik Menarik, merupakan hukum yang berlaku di alam semesta. 

Anda adalah apa yang Anda pikirkan. 

Selalulah berpikir yang positif dan jangan pernah biarkan pikiran negatif membelenggu otak dan kehidupan kita. Jadi tetap semangat dan jangan pernah menyerah pada keadaan.

Bagian kita hanya 2, yaitu : 1. Berusaha optimal 2. Berdoa. 

Sedangkan selanjutnya itu bagian Tuhan yang akan digenapi dalam setiap kehidupan anak-anak-Nya yang percaya kepada-Nya dan mengasihi-Nya.

Yesus bersabda : Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana." (Luk 1:45)

Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; (Yoh 1:12)

..supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yoh 3:15-16)

Yesus juga berkata tentang salib kehidupan yang harus dipikul oleh setiap pengikut-Nya agar kita didapati layak sebagai murid Kristus

Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku (Mat 10:38)

Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku*, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku (Luk 9:23).

Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku ia tidak dapat menjadi murid-Ku (Luk 14:27).

Jangan pernah takut untuk memikul salib-Nya, karena jika Tuhan mengijinkan kita untuk ikut ambil bagian dalam setiap salib kehidupan berarti kita dipercaya oleh-Nya. Bayangkan dipercaya oleh Penguasa Langit dan Bumi wouwww luar biasa.

19.59 -

Rahasia mujizat

Ibrani 11:1 Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

Bini adalah seorang wanita yang sehari-harinya berjualan makanan di pasar untuk menghidupi keluarganya. Ia tinggal di desa Bejen, Kaliwungu, Semarang.

Suatu hari ia merasakan sakit di perut dan ketika ia meraba-raba perutnya, ia menemukan seperti ada yang mengganjal. Kemudian keluarganya mengantarnya ke RS di Solo yang fasilitasnya lebih lengkap.

Dari hasil USG, mereka mendapati bahwa ternyata ada tumor di perutnya. Namun ia tidak punya uang untuk biaya operasi. Ia pun pulang dan semakin hari perutnya membesar, seperti orang hamil 9 bulan.

Suatu malam, seorang misionaris Amerika yang sedang melayani di daerahnya, menengoknya. Denish memberitakan tentang jalan keselamatan yang hanya ada melalui Yesus Kristus dan bahwa kuasa-Nya yang ajaib dapat memberikan mujizat kesembuhan. Saat itu juga, Bini menerima Yesus dan mengimani kesembuhannya.

Esok paginya sekitar jam lima, ia buang air kecil. Air seninya hitam pekat seperti air kopi dengan bau menyengat. Perutnya yang besar lama-lama kempes. Saat ia mengecek kembali kondisinya di Rumah Sakit, tumornya sudah lenyap.

“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Ayat ini berbicara bahwa untuk memiliki iman, manusia tidak perlu melihat secara jasmani.

Iman lahir ketika kita berharap pada Tuhan. Walaupun secara manusia, apa yang kita harapkan tidak bisa terjadi, tetapi percayalah bahwa Tuhan sanggup.

Maka, seperti yang dialami Ibu Bini, iman kita akan menjadi kunci yang melepaskan kuasa Allah dan mendatangkan mujizat Tuhan.

Bukan hanya mengalami, bahkan iman dapat membuat kita dipakai Tuhan, seperti misionaris tersebut untuk melakukan mujizat-Nya.

Sebelum bisa mengalami kuasa mujizat atau dipakai Tuhan untuk melakukan mujizat, kita perlu memahami rahasia mujizat, yaitu: iman.

(Renungan Keluarga Allah)

19.46 -

Alasan untuk tersenyum



Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan (1 Tes 5:11).

Di tempat kerja, kata-kata penyemangat itu penting. Cara para karyawan berbicara kepada satu sama lain membawa pengaruh pada kepuasan pelanggan, laba perusahaan, dan penghargaan dari sesama rekan kerja.

Penelitian menunjukkan bahwa dalam sebuah tim yang bekerja paling efektif, para anggotanya saling memberikan dorongan positif enam kali lebih banyak daripada ungkapan ketidaksetujuan, pertentangan, dan bernada sarkastis.

Tim yang paling rendah produktivitasnya mempunyai anggota-anggota yang cenderung mengatakan komentar negatif tiga kali lipat lebih banyak daripada kata-kata dukungan.

Lewat pengalamannya, Paulus mempelajari pentingnya perkataan dalam membangun relasi dengan sesama dan mencapai tujuan.

Sebelum bertemu Kristus di jalan ke Damsyik, perkataan dan tindakannya membawa ketakutan pada para pengikut Yesus.

Namun pada waktu menulis surat Tesalonika, ia telah menjadi seorang pemberi semangat yang sangat baik karena Allah bekerja di dalam hatinya.

Sekarang lewat teladan hidupnya, ia mendorong para pembacanya untuk membangun semangat satu sama lain. Ia mengajarkan bagaimana mereka bisa menguatkan sesama dan mencerminkan kehadiran Roh Allah tanpa jatuh pada sanjungan yang berlebihan.

Paulus juga mengingatkan pembacanya tentang sumber dari penguatan itu. Dengan mempercayakan diri kita kepada Kristus yang begitu mengasihi kita hingga rela mati untuk kita, kita mempunyai alasan untuk menghibur, mengampuni, menginspirasi, dan mendorong satu sama lain dalam kasih (1Tes. 5:10-11).

Paulus menunjukkan bahwa dengan saling menasihati, kita semua akan ikut merasakan kesabaran dan kebaikan Allah. — Mart DeHaan

Bapa di surga, tolonglah kami agar dapat membuat orang lain mengecap belas kasih dan kebaikan yang selalu Engkau nyatakan kepada kami.

Tiada yang lebih baik daripada berusaha mendorong satu sama lain agar selalu memberi yang terbaik.

(Our Daily Bread Ministries)

Jangan mudah mengambil kesimpulan karena asumsi

Ada sepasang suami isteri ter-gesa² berlari menuju ke sekoci untuk menyelamatkan diri, pada saat terjadi kecelakaan yg menimpa sebuah kapal pesiar yang akan tenggelam.

Tetapi saat sampai di sana, mereka menyadari bahwa hanya ada tempat untuk satu orang yg tersisa. *Dengan segera sang suami melompat mendahului istrinya utk mendapatkan tempat itu, sementara sang istri hanya bisa menatap kepadanya sambil meneriakkan sebuah kalimat sebelum sekoci menjauh dan kapal itu benar² tenggelam.

Guru yang menceritakan kisah ini bertanya pada murid-muridnya, menurut kalian, apa yang sang istri itu teriakkan? Sebagian besar murid-murid itu menjawab: "Aku benci kamu, egois, nggak tanggung jawab, nggak tau malu."

Tapi ada seorang murid yang hanya diam saja, dan guru itu meminta murid yang diam itu menjawab. Kata si murid, "saya yakin si istri pasti berteriak ... Tolong jaga anak kita baik-baik."

Guru itu terkejut dan bertanya, "apa kamu sudah pernah dengar cerita ini sebelumnya?" Murid itu menggeleng, "belum, tapi itu yang dikatakan oleh ibu saya sebelum dia meninggal karena penyakit kronis."

Guru itu menatap seluruh kelas dan berkata, "Jawaban ini benar, kapal itu kemudian benar-benar tenggelam dan sang suami membawa pulang anak mereka sendirian.

Dan ber-tahun-tahun kemudian setelah sang suami meninggal, anak itu menemukan buku harian ayahnya, dia menemukan kenyataan bahwa saat orang tuanya naik kapal pesiar itu, mereka sudah mengetahui bahwa sang ibu menderita penyakit kanker ganas dan akan segera meninggal.

Karena itulah, di saat darurat itu, ayahnya memutuskan mengambil satu-satunya kesempatan untuk bertahan hidup. Dan dia menulis di buku harian itu, Betapa aku berharap untuk mati di bawah laut bersama denganmu, isteriku sayang, tapi demi anak kita, terpaksa dengan hati menangis membiarkan kamu tenggelam sendirian untuk selamanya di bawah sana.

Cerita itu selesai, dan seluruh kelas pun terdiam. Guru itu tahu bahwa murid-muridnya sekarang mengerti hikmah dari cerita tersebut, bahwa kebaikan dan kejahatan di dunia ini tidak sesederhana yang kita pikirkan, ada berbagai macam komplikasi dan alasan dibaliknya yang kadang sulit dimengerti.

Karena itulah jangan pernah melihat hanya luarnya saja dan kemudian langsung menghakimi, apalagi tanpa tahu apa-apa.

Mereka yang sering membayar untuk orang lain bukan berarti kaya, tapi karena lebih menghargai hubungan daripada uang.

Mereka yang bekerja tanpa ada yg menyuruh bukan karena bodoh, tapi karena lebih menghargai konsep tanggung jawab.

Mereka yang minta maaf duluan setelah bertengkar bukan karena bersalah, tapi karena lebih menghargai orang lain.

Mereka yang mengulurkan tangan untuk menolongmu bukan karena merasa berhutang, tapi karena menganggap kamu adalah saudara.

Mereka yang sering mengontakmu bukan karena tidak punya kesibukan, tapi karena kamu ada di dalam hatinya.

Jangan mudah mengambil kesimpulan karena asumsi (dugaan tanpa dasar).