Tampilkan postingan dengan label *Sukacita*. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *Sukacita*. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 September 2018

07.18 -

Kepuasan tidaklah ditentukan oleh keadaan



“Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu. Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.

Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:10-13)

Bagi kalian yang belum tau, saya sebenarnya dulu memiliki hobby Bboy (breakdance). Saya mengikuti sesi latihan Bboy seminggu dua kali dan menonton puluhan video Bboy setiap hari. Meningkatkan kemampuan saya dan memenangkan sebuah kejuaran Bboy adalah satu-satunya tujuan saya dulu. 

Namun selama tiga tahun pertama saya bekerja keras di dalam Bboy, saya belum berhasil-berhasil memenangkan satu pun pertandingan. Oleh karena itu, saya sangat ingin menang. Memenangkan pertandingan Bboy adalah sesuatu yang saya pikir akan memberikan kebahagiaan yang paling luar biasa untuk saya dulu. 

Singkat cerita, satu tahun setelahnya, saya akhirnya berhasil memenangkan sebuah pertandingan Bboy. Saya mendapatkan piala yang sangat besar, sebuah medali, dan sejumlah uang di dalam amplop. 

Banyak dari teman saya yang memberikan selamat kepada saya melalui sosial media. Saya begitu senang dan saya berkata kepada diri saya bahwa hari tersebut merupakan hari paling bahagia di hidup saya.

Sudah tujuh tahun berlalu sejak hari kemenangan saya itu, dan kemarin saya baru melihat piala saya kembali di dalam sebuah lemari rumah yang sudah tidak pernah dipakai. Piala tersebut sudah sangat berdebu, dan sepertinya sudah tidak ada yang peduli dengan piala tersebut, termasuk diri saya sendiri. 

Menurut saya sangatlah lucu, sesuatu yang dulunya saya pikir akan memberikan kebahagiaan paling luar biasa di dalam hidup saya, kini menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja dan tidak memberikan saya kebahagiaan sama sekali.

Bukankah ini yang sering terjadi di dalam kehidupan kita? Kita menghabiskan begitu banyak waktu dalam berusaha mendapatkan apa yang kita percaya akan memberikan kebahagiaan tertinggi. Mungkin sesuatu tersebut adalah uang, kemenangan, penerimaan, jabatan, popularitas, atau seks. 

Namun entah mengapa, setelah kita mendapatkannya, kita hanya merasa senang untuk sementara. Dimana setelah berjalannya waktu, itu semua menjadi terasa sia-sia dan tidak lagi membahagiakan. Kita menemukan diri kita masih merasa kosong, dan kita merasa ada hal lain lagi yang kita butuhkan untuk memberikan kebahagiaan yang kita inginkan. 

Beberapa tahun yang lalu, saya mendengar kabar tentang seorang artis terkenal yang melakukan bunuh diri. Banyak yang bertanya-tanya, “Mengapa dia melakukan bunuh diri? Bukankah dia sudah memiliki uang, popularitas, dan hal-hal lain yang merupakan the American Dream?”

Setelah saya membaca banyak artikel yang membahas tentang kematiannya, saya menemukan bahwa alasan dari dia mencabut nyawanya sendiri adalah karena dia merasa dirinya tidak dapat menemukan kebahagiaan—dia berpikir dia sudah mendapatkan segalanya yang dapat membuatnya bahagia, tetapi ternyata menemukan dirinya masih belum menemukan kebahagiaan yang dia butuhkan. Dalam kata lain, dia tidak tahu bagaimana cara mengisi lubang yang ada di dalam hatinya.

Pada renungan hari ini, kita ingin belajar tentang yang namanya menemukan kepuasan. Pada Filipi 4:10-13, Rasul Paulus sedang di penjara di mana Dia mengatakan bahwa Dia telah menemukan rahasia untuk menjadi puas di dalam setiap keadaan. 

Yang uniknya, Rasul Paulus mengatakan bahwa dia menemukan rahasia menjadi puas bukan ketika dia mendapatkan rumah bagus, memenangkan sebuah kejuaraan, atau pun menerima penghargaan dari raja—melainkan ketika dia sedang di penjara.

Satu hal yang dapat kita pelajari adalah kepuasan bukanlah sesuatu yang didasari oleh keadaan. Kamu dapat berada di posisi yang kelihatannya memiliki segalanya tetapi merasa tidak puas, tetapi kamu juga dapat berada di posisi yang kelihatannya tidak memiliki apa-apa tetapi merasa puas. 

Masalah-masalah yang Rasul Paulus hadapi waktu itu bukanlah masalah-masalah ringan, melainkan masalah-masalah yang sangat berat. Dia disiksa secara fisik, disiksa secara mental, dilemparkan ke dalam penjara, terus diancam akan dibunuh, dan lain-lain. 

Namun entah mengapa, dia tetap dapat bersukacita dan bahkan menguatkan teman-temannya yang memiliki keadaan hidup yang jauh lebih baik dari dirinya. Dia bahkan menulis empat dari kitab perjanjian baru dari dalam penjara. 

Bagaimana dia mampu memiliki kekuatan yang begitu luar biasa ini? Darimanakah sumber sukacita dan sumber perasaan puas yang dimiliki olehnya?

Kunci dari merasa puas di dalam setiap keadaan menurut Rasul Paulus adalah pengenalan akan Kristus. Rasul Paulus mengatakan pada Filipi 4:7, “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” 

Rasul Paulus ingin mengatakan, “Tentu masalah-masalah yang saya hadapi tidaklah masuk akal, tetapi damai dari Yesus Kristus lebih tidak masuk akal lagi.”

Saya yakin banyak diantara kalian yang hingga hari ini kesulitan untuk menemukan perasaan puas di dalam hidup oleh karena keadaan kalian. Saya ingin mengingatkan bahwa jika kalian tidak dapat bahagia hari ini, kalian tidak akan dapat bahagia di hari-hari esok. Kebahagiaan dan kepuasan sejati bukanlah sesuatu yang didasari oleh keadaan kita, melainkan oleh isi hati kita

Jika kamu memiliki pengenalan sejati akan Yesus Kristus yang telah mengasihimu, mengampunimu, dan menyelamatkanmu, saya berani jamin, kamu pasti akan menemukan kebahagiaan, ketenangan, dan kepuasan yang tidak masuk akal yang kamu cari-cari selama ini.

“You never know what is enough unless you know what is more than enough”—William Blake

(Sumber: @gracedepth)

Senin, 19 Juni 2017

19.46 -

Alasan untuk tersenyum



Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan (1 Tes 5:11).

Di tempat kerja, kata-kata penyemangat itu penting. Cara para karyawan berbicara kepada satu sama lain membawa pengaruh pada kepuasan pelanggan, laba perusahaan, dan penghargaan dari sesama rekan kerja.

Penelitian menunjukkan bahwa dalam sebuah tim yang bekerja paling efektif, para anggotanya saling memberikan dorongan positif enam kali lebih banyak daripada ungkapan ketidaksetujuan, pertentangan, dan bernada sarkastis.

Tim yang paling rendah produktivitasnya mempunyai anggota-anggota yang cenderung mengatakan komentar negatif tiga kali lipat lebih banyak daripada kata-kata dukungan.

Lewat pengalamannya, Paulus mempelajari pentingnya perkataan dalam membangun relasi dengan sesama dan mencapai tujuan.

Sebelum bertemu Kristus di jalan ke Damsyik, perkataan dan tindakannya membawa ketakutan pada para pengikut Yesus.

Namun pada waktu menulis surat Tesalonika, ia telah menjadi seorang pemberi semangat yang sangat baik karena Allah bekerja di dalam hatinya.

Sekarang lewat teladan hidupnya, ia mendorong para pembacanya untuk membangun semangat satu sama lain. Ia mengajarkan bagaimana mereka bisa menguatkan sesama dan mencerminkan kehadiran Roh Allah tanpa jatuh pada sanjungan yang berlebihan.

Paulus juga mengingatkan pembacanya tentang sumber dari penguatan itu. Dengan mempercayakan diri kita kepada Kristus yang begitu mengasihi kita hingga rela mati untuk kita, kita mempunyai alasan untuk menghibur, mengampuni, menginspirasi, dan mendorong satu sama lain dalam kasih (1Tes. 5:10-11).

Paulus menunjukkan bahwa dengan saling menasihati, kita semua akan ikut merasakan kesabaran dan kebaikan Allah. — Mart DeHaan

Bapa di surga, tolonglah kami agar dapat membuat orang lain mengecap belas kasih dan kebaikan yang selalu Engkau nyatakan kepada kami.

Tiada yang lebih baik daripada berusaha mendorong satu sama lain agar selalu memberi yang terbaik.

(Our Daily Bread Ministries)

Senin, 27 Maret 2017

01.00 -

Sudahkah hatiku bersukacita menantikan Tuhan?



"Wow, Romonya pake baju pink!" begitu gumamku dalam hati. Aku ingat, demikianlah reaksi spontanku sekian tahun yang lalu, saat pertama kalinya aku menjadi "ngeh" akan perayaan Minggu Gaudete, hari ini. 

Memasuki minggu ketiga masa Adven, memang warna pink digunakan sebagai warna liturgi, untuk menandai sukacita bahwa kita telah sampai di pertengahan masa penantian ini. Hari kelahiran Tuhan Yesus, Juru Selamat kita, telah semakin dekat. 

Bersama seluruh Gereja, kita serukan Antifon Pembuka, "Bersukacitalah selalu dalam Tuhan. Sekali lagi kukatakan, bersukacitalah! Sebab Tuhan sudah dekat!"


Bersukacitalah. Itulah pesan sabda Tuhan pada hari ini. Nabi Yesaya mengingatkan kepada kita, bahwa kalau kita memiliki Roh Tuhan dalam diri kita, maka kita akan dapat mewartakan kabar baik tentang Dia (Yes 61:1). 

Betapa cocoknya pesan ini dengan apa yang disampaikan oleh Paus Fransiskus tentang sukacita Injil: "Sukacita Injil mengisi hati dan hidup semua orang yang berjumpa dengan Yesus. Mereka yang menerima tawaran keselamatan-Nya dibebaskan dari dosa, dukacita, kekosongan hati dan kesepian. Dengan Kristus, sukacita terus menerus lahir secara baru." (Evangelii Gaudium, 1). 

Maka tak mengherankan bahwa secara khusus di masa Adven ini Gereja mengajak kita untuk bertobat, agar kita dapat dibebaskan dari dosa yang memisahkan kita dari Tuhan sehingga mengakibatkan dukacita dan kekosongan hati

Dengan bertobat, kita dapat kembali bersukacita, karena Roh Tuhan kembali tinggal di dalam diri kita dan memperbaharui kita. Maka seperti Nabi Yesaya, kita pun akan dapat bersukaria di dalam Tuhan, dan jiwa kita bersorak-sorai karena-Nya.

Demikianlah Tuhan akan menumbuhkan kebenaran dan puji-pujian (Yes 61:10-11), karena rahmat pengampunan-Nya menjadikan kita orang-orang yang dibenarkan dan dimampukan untuk memuji-muji Dia tanpa pamrih.

Mazmur hari ini yang diambil dari Nyanyian Pujian Maria, mengajarkan kepada kita agar kita dapat memuji Tuhan dengan hati yang tulus. Tidak pakai prinsip "ada udang di balik batu", atau memuji Tuhan untuk maksud agar permohonan kita dikabulkan. Bukan. 

Kita memuji Tuhan karena memang ingin memuji kebaikan-Nya, karena Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepada kita. 

Di salah satu homilinya tahun lalu, Paus Fransiskus pernah berkata dengan jenaka, kurang lebih demikian, "Wajah cemberut tidak dapat mewartakan Yesus ... Bagaimana kita mewartakan Injil kalau kita murung?... Tanpa sukacita, kita tidak bisa menjadi bebas, kita menjadi budak dari penderitaan-penderitaan kita. 

Kita tidak bisa memajukan Injil dengan perilaku yang penuh kesedihan. Seringkali orang-orang Kristen berperilaku seolah-olah mereka sedang pergi ke sebuah prosesi pemakaman daripada memuji Allah, bukan? 

Padahal sukacita berasal dari pujian, seperti halnya pujian Maria kepada Allah. Dan bagaimana kita memuji Allah? Kita memuji-Nya dengan ungkapan yang keluar dari hati kita, "secara sukarela, seperti anugerah yang Dia berikan ini adalah sukarela..." Ini mendorong kita kepada sebuah pemeriksaan batin yang jujur: bagaimana kita berdoa kepada Allah, dengan sukarela atau terpaksa? 

Paus Fransiskus kembali bertanya, "Kalian yang hadir di Misa, apakah kalian memuji Allah atau apakah kalian hanya mengajukan permohonan kepada Allah? Apakah kalian memuji Allah? 

Jika kalian tidak memuji Allah, kalian tidak akan pernah tahu rasa tanpa pamrih, dari menghabiskan waktu untuk memuji Allah. Misa [akan terasa] panjang dan lama! 

Tetapi jika kalian datang dengan sikap sukacita, sikap memuji Allah ini, Misa itu indah! Inilah yang akan terjadi dalam kekekalan: memberikan pujian kepada Allah! Dan itu tidak akan membosankan: ini indah! Sukacita ini membuat kita bebas." (Homili, 31 Mei 2013).

Betapa pesan Paus ini menjadi sangat pas untuk kita renungkan di hari Minggu Gaudete'Sukacita' ini. 

Marilah kita, bersama Bunda Maria, memuji Tuhan dan bersukacita karena Allah, Juruselamat kita! (Luk 1:46-47) Kita perlu memohon rahmat Tuhan, agar Ia memampukan kita untuk senantiasa bersukacita, berdoa dan mengucap syukur (1Tes 5:16-17). 

Kita pun perlu belajar dari Bunda Maria, agar kita dapat memuji Tuhan bukan karena pamrih, namun karena cinta. Didorong rasa cinta kepada Allah, semoga kita dapat selalu datang kepada-Nya dengan hati bersyukur dan memuji Dia atas segala kebaikan-Nya. 

Semoga dengan demikian, kita dapat menjadi saksi Kristus dan mewartakan Dia, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Yohanes Pembaptis: Ia telah mempersiapkan jalan bagi Tuhan, dan memperoleh kepenuhan sukacita (Yoh 1:7, 23; 3:29).

Mengikuti anjuran Paus Fransiskus, marilah kita berdoa, "Bunda Maria, doakanlah kami agar Putera-Mu Yesus berkenan memberikan rahmat sukacita kepada kami. Semoga dengan demikian, kami dapat memuji Tuhan dengan doa pujian yang tanpa pamrih. Karena Dia, Sang Juru Selamat yang kami nantikan, layak menerima pujian, selalu dan selamanya."

(Sumber: Warta KPI TL No.128/XII/2014 » Sudahkah Hatiku Bersukacita Menantikan Tuhan?, katolisitas.org).

Jumat, 03 Maret 2017

05.07 -

Kebahagiaan



Kebahagiaan bukanlah berdasarkan atas apa yang saudara miliki; namun berdasarkan pilihan yang saudara ambil dalam memandang hidup ini. Masalah hati.

Jika hati kita merasa bahagia karena kita percaya di dalam Tuhan yang Maha Kasih, maka kita akan cenderung untuk melepaskan pandangan kita dari masalah yang ada. 

Namun jika kita mengikuti keinginan kita atau tenggelam dalam masalah kita (besar/kecil), pandangan kita akan tertutup sehingga tidak bisa melihat rencana Allah bagi kita.

Keluhan yang terus menerus adalah balasan yang sangat menyedihkan atas semua kenyamanan yang kita nikmati (Benyamin Franklin).

Kebahagiaan adalah kebiasaan - mulailah mengembangkannya (Elbert Hubbard).


(Sumber: Warta KPI TL No. 16/VIII/2005).




Kebahagiaan itu mirip seperti Oksigen, ketersediaannya di bumi ini sangat berlimpah, bahkan selalu tersedia.

Apabila seseorang mengalami kesulitan menghirup oksigen, pasti bukan karena oksigennya sudah langka, melainkan karena telah terjadinya gangguan di dalam sistem pernapasannya.

Demikian pula, jika kita kesulitan untuk berbahagia, pasti bukan karena persediaan kebahagiaan sudah langka, tapi karena telah terjadinya gangguan di dalam pribadi atau rohani kita.

Langkah Pertama untuk menikmati kebahagiaanbelajar mencukupkan diri dalam segala keadaan dan berhenti mem-bandingkan diri dengan orang lain!

Orang yang selalu bersyukur adalah orang yang bisa menikmati keindahan dunia dan arti kebahagiaan hidup.

Syukuri yang telah di miliki, bukan malah membandingkan dengan apa yang tidak kita miliki, agar kebahagiaan selalu mengisi kehidupan.

Kapankah kebahagiaan akan di dapatkan, kalau  kita hanya selalu memikirkan apa yang belum ada, tapi mengabaikan apa yang sudah kita miliki? 

Jadilah pribadi yang selalu bersyukur dengan berkat yang sudah kita miliki. Ciptakanlah rasa damai dalam hati, agar kita bisa membahagiakan diri kita sendiri.

Bukan kejadian yg membuat kita bahagia atau tidak. Kita harus memilih di antara keduanya.

Kemarin sudah berlalu, esok belum tiba, kita hanya punya 1 hari, yaitu hari ini. Jangan sesali ketidak bahagiaan yang di alami, tapi buat sekarang bahagia, agar kelak tidak menyesali ketidak bahagiaan hari ini.

Separuh dari dunia salah menebak arah dalam berburu kebahagiaan. Mereka pikir kebahagiaan itu isinya adalah memiliki, mengambil, dan dilayani. Padahal kebahagiaan adalah saat bisa memberi dan melayani.


“Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.” (Kol 3:15).



Kebahagiaan bukan terletak pada: kesenangan, uang, ketidak-percayaan, kemegahan dalam kuasa politik, kemegahan di bidang kemiliteran, kedudukan dan kemasyhuran.

Hanya di dalam Kristus. “Hatimu akan bergembira dan tidak ada seorangpun yang dapat merampas kebahagiaanmu dari padamu”.

Ada damai sejahtera : Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu (Yoh 14:27).
Ada penghiburan : Janganlah gelisah dan gentar hatimu (Yoh 14:27)
Ada persekutuan : Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau (Ibr 13:15)
Ada kehidupan: Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal (Yoh 3:36)

(Sumber: Warta KPI TL No. 02/VI/2004).



Kebahagiaan orang Kristen

Sabda bahagia mengungkapkan arti keberadaan manusia. Tujuan akhir perbuatan manusia: kebahagian di dalam Allah

Allah memberi panggilan ini kepada setiap manusia secara pribadi, tetapi juga kepada seluruh Gereja, kepada umat, yakni mereka yang telah menerima janji dan hidup darinya dalam iman (KGK 1719).

Kebahagiaan sejati tidak terletak dalam kekayaan dan kemakmuran, tidak dalam ketenaran dan kekuasaan, juga tidak dalam karya manusia – bagaimanapun juga nilainya tidak seperti ilmu pengetahuan, teknik dan kesenian – dan juga tidak dalam salah satu makhluk, tetapi hanya di dalam Allah, sumber segala yang baik dan segala cinta kasih.

Semua orang yang bertekuk lutut di depan kekayaan: manusia, kebanyakan orang, menyembahnya secara naluriah

Mereka mengukur kebahagiaan menurut kekayaan, dan menurut kekayaan mereka mengukur juga nilai seseorang … semuanya itu berasal dari keyakinan bahwa dengan kekayaan orang bisa beroleh segala sesuatu

Kekayaan salah satu berhala dewasa ini, dan selanjutnya kesohorankemasyhuran, kenyataan bahwa seseorang dikenal dan disanjung dunia telah dianggap sebagai sesuatu hal yang baik dalam dirinya sendiri, atau kebaikan tertinggi, satu obyek untuk dihormati (J.H. Newman).

Dekalog, kotbah di bukit, dan ajaran para Rasul menunjukkan kepada kita jalan menuju Kerajaan Sorga. Kita berjalan di jalan ini langkah demi langkah, dalam pelaksanaan tugas kita sehari-hari, ditopang oleh rahmat Roh Kudus. Oleh karya Sabda Kristus, lama-kelamaan kita menghasilkan buah di dalam Gereja demi kemuliaan Allah (KGK 1723).

Firman adalah AllahFirman yang tertanam di dalam hatimu yang berkuasa menyelamatkan jiwamu (Yoh 1:1; Yak 1:21)

Hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengarkan untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya ia akan berbahagia oleh perbuatannya.

(Sumber: Warta KPI TL No.118/II/2014).


Pada suatu acara seminar yang dihadiri oleh sekitar 50 peserta. Tiba-tiba sang Motivator berhenti berkata-kata dan mulai memberikan balon kepada masing-masing peserta. 

Dan kepada mereka masing-masing diminta untuk menulis namanya di balon tersebut dengan menggunakan spidol. Kemudian semua balon dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam ruangan lain.

Sekarang semua peserta disuruh masuk ke ruangan itu dan diminta untuk menemukan balon yang telah ditulis nama mereka, dan diberi waktu 5 menit. 

Semua orang panik mencari nama mereka, bertabrakan satu sama lain, mendorong dan berebut dengan orang lain disekitarnya sehingga terjadi kekacauan. Waktu lima menit sudah usai, tidak ada seorang pun yang bisa menemukan balon mereka sendiri.

Sekarang masing-masing diminta untuk secara acak mengambil sembarang balon dan memberikannya kepada orang yang namanya tertulis di atasnya. 
Dalam beberapa menit semua orang punya balon mereka sendiri. 

Akhirnya sang Motivator berkata: “Kejadian yang baru terjadi ini mirip dan sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Semua orang sibuk mencari kebahagiaan untuk diri sendiri (mirip dengan mencari balon mereka sendiri) dan banyak yang gagal

Mereka baru berhasil mendapatkannya ketika mereka memberikan kebahagiaan kepada orang lain (memberikan balon kepada pemiliknya).

Berilah kebahagiaan kepada orang lain, maka anda akan mendapatkan kebahagiaan anda sendiri.

(Sumber: Warta KPI TL No.127/XI/2014).

Rabu, 25 Januari 2017

06.16 -

Belajar dari pohon bambu



Kebahagiaan merupakan dambaan semua orang pada jaman ini. Dari anak kecil sampai orang lanjut usia, semua mendambakan kebahagiaan. Maka hampir semua kegiatan manusia ditujukan untuk mencapai kebahagiaan itu, dan sedapat mungkin menghindari penderitaan. 

Di sini terlihat bahwa kebahagiaan itu seumpama magnet yang menarik dan mengikat manusia. Kerasnya tarikan magnet kebahagiaan tersebut ternyata tidak semuanya membuahkan kebahagiaan bagi manusia melainkan sebaliknya, malahan membuat penderitaan hidup. Kalau mental dan iman kita tidak tangguh dan mendalam, lalu kita menjadi stres, bahkan meningkat menjadi depresi atau bunuh diri.


Ketika hidup kita masih dikuasai oleh dunia, kita akan mengejar kebahagiaan sementara (membeli rumah yang bagus, mobil yang mewah, penampilan diri yang trendy, baju dan sepatu yang modis, jabatan pekerjaan yang menjanjikan, gaji yang menarik dsb). 

Tetapi ketika iman kita semakin bertumbuh dewasa, orientasi kebahagiaan hidup harus berubah, yakni mengarah kepada kebahagiaan sejati.

Marilah kita belajar dari pohon bambu:

Pohon bambu berakar kuat ke dalam. Ini mengajarkan kepada kita, kalau mau menggapai kebahagiaan sejati maka carilah sumber-sumber kebahagiaan yang dari dalam, seperti iman kepada Tuhan yang mendalam, rasa syukur akan berkat-berkat yang kita terima dari-Nya, rasa cinta terhadap orang-orang di sekitar kita, persahabatan dengan kehidupan di sekitar kita.

Bambu adalah jenis pohon yang selalu segar disegala musim, kendati tidak berbunga dan berbuah. 

Hal ini berbeda dengan kebahagiaan yang dikejar kebanyakan orang jaman ini, yang hanya segar bila kehidupannya berbunga dan membuahkan sesuatu yang menguntungkan seperti jabatan, uang, populeritas, harga diri dsb. Sementara kalau usaha kita tidak membuahkan sesuatu lalu kita kecewa atau menderita. 

Pohon bambu itu semakin tinggi akan semakin merunduk. Bandingkan dengan kehidupan masyarakat kita sekarang ini, orang semakin tinggi jabatannya semakin banyak hartanya akan semakin merasa kekurangan terus. Semestinya ketika kita mengalami kesuksesan hidup, kita harus bersikap rendah hati dihadapan Tuhan dan sesama.

Pohon bambu di tengah-tengah berongga/kosong. Dalam hal ini diharapkan kita juga berusaha mengosongkan diri, menciptakan keheningan agar rahmat Tuhan memenuhi hati kita, agar kita mampu mengenal kehendak dan kehadiran Tuhan dalam hidup kita. 

Kalau hati kita selalu dipenuhi ego, keinginan-keinginan, kebencian, keserakahan, permusuhan dan persaingan, maka tidak ada lagi tempat untuk menerima rahmat Tuhan, sehingga hidup kita juga akan jauh dari rahmat-Nya.

(Sumber: Warta KPI TL No.100/VIII/2012 » Erka edisi XIV Tahun II Juni 2010 - Memimpin Diri Untuk Menggapai Kebahagiaan Sejati, Sr. Marta MASF).




Rabu, 05 Oktober 2016

18.34 -

Roh sukacita




Tuhan adalah sebuah pribadi yang selalu bersukacita. Karena roh sukacitalah maka di sorga Dia bersendagurau, mengolok-olok kita (Mzm 2:4 - tertawa karena kebodohan kita). 

Dan setiap orang yang mendengar karya-Nya pun ikut tertawa (Kej 18:11-13; 21:6 – Abraham dan Sara telah tua dan lanjut umurnya dan Sara telah mati haid... akan melahirkan anak) 


Yesus pun memiliki roh sukacita, sehingga Dia selalu bersyukur setiap saat (Luk 10:21). 



Karena roh sukacitalah, maka Dia berkeliling untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan (Mat 4:23). Dan anak-anak pun selalu mengikuti-Nya ke manapun Dia pergi (Luk 18:15-17).



Orang-orang percaya selalu tertawa/bersukacita karena hatinya melimpah dengan pekara-pekara ilahi (Ayb 8:20-21; 42; Rm 14:17Kerajaan Allah bukan soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus).

Demikian pula dengan para murid-murid-Nya, meskipun mereka menderita penghinaan oleh karena Yesus, dianiaya, berkali-kali didera, dilemparkan ke ruang penjara yang paling dalam dan kaki mereka dipasung, mereka tetap gembira dan penuh dengan sukacita (Kis 5:41; 13:52).

Sukacita bukan soal tempramen manusia tapi soal roh sukacita.

Orang-orang pilihan seperti ilmu padi, semakin berisi semakin menunduk, semakin banyak pengetahuan semakin tidak banyak bicara (diam); mempunyai penguasaan diri yang tinggi dan memiliki kerendahan hati

Hanya orang-orang pilihan yang dapat melakukan ini 

- Selalu ada sukacita.
- Selalu optimis dan berpikir positif; melihat suatu masalah dengan kacamata Allah.
- Selalu bergembira atas petunjuk-petunjuk-Nya melebihi segala harta; melakukan firman Tuhan dengan setia (Mzm 119:14).

Orang-orang benar bersukacita, beria-ria di hadapan Tuhan, bergembira dan bersukacita (Mzm 68:4; Gal 2:16).

Mengapa ada juga murid-murid Yesus yang tidak dapat bersukacita senantiasa? Karena mereka tawar hati pada masa kesesakan (Ams 24:10), sehingga mereka tidak bisa merasakan kasih Allah dalam hidupnya

Akibatnya, kekuatan mereka kecil/patah semangat (Ams 24:10; Yes 65:14) dan matanya juga menjadi kabur (Ayb 17:7; Rat 5:17). Akhirnya ... mereka selalu pesimis dan sulit untuk memiliki pikiran positif dalam kehidupan ini 

Hal ini terjadi karena 

1. Makan makanan rohani yang tidak sehat, sering jajan.

2. Tidak dapat mencerna makanan rohani dengan baik, sehingga sering salah lihat dan dengar

Misalnya: “ikut Yesus pasti diberkati” - Memang Yesus datang supaya kita mempunyai hidup dalam segala kelimpahan (Yoh 10:10), tetapi semuanya itu ada syaratnya, yaitu: 

harus menyangkal diri, memikul salib setiap hari dan mengikuti teladan Yesus (Luk 9:23); 

Yesus adalah pokok anggur yang benar, kita adalah ranting-ranting-Nya. Jika kita tidak berbuah, kita akan dipotongnya, dibersihkannya agar kita lebih banyak berbuah (Yoh 15:2). 

Jadi, mohonlah rahmat agar senantiasa memiliki hati yang rela untuk diproses dan dibentuk oleh Allah, agar dapat bersukacita dalam segala keadaan.

Orang yang suka bernyanyi mayoritas mempunyai roh sukacita sehingga matanya selalu berseri-seri, cukup mendapatkan air mata bahagia dan air mata sukacita. 

Orang menangis dapat disebabkan oleh sukacita/terharu, atau karena dukacita/sedih. Kedua air mata ini ada bedanya.

Menangis karena sukacita/terharu (air mata obat): tubuh akan menghasilkan hormon endofrin, yang akan membuat tubuh sehat.

Menangis karena dukacita/sedih (air mata racun): ada ikatan-ikatan kromosom yang terputus sehingga makin lama tubuh kita kehilangan kekuatan.

Marilah kita belajar dari Musa, Daud dan Paulus:

Musa seorang yang lembut hati (Bil 12:3), dia mempunyai roh sukacita (Kel 15; Ul 32; Why 15:3) sehingga dengan kesabaran dapat memimpin suatu bangsa yang tegar tengkuk (suka mengeluh, suka menuntut, memberontak – Kel 32:9). 

Umurnya seratus duapuluh tahun ketika ia mati; matanya belum kabur dan kekuatannya belum hilang (Ul 34:7).

Tuhan mengutus Nabi Samuel kepada Isai. Ia menguduskan Isai dan anak-anaknya yang laki-laki dan mengundang mereka ke upacara pengorbanan itu. Sebagai anak bungsu, Daud diperlakukan tidak adil dan selalu ditolak oleh keluarganya (semua diundang ke upacara pengorbanan, justru dia harus ke ladang untuk menggembalakan kambing domba – 1 Sam 16:5, 11; sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku ... - Mzm 27:10). 

Meskipun demikian, hatinya tidak menyimpan kepahitan dan dukacita. Hal ini dapat dilihat dari wajahnya kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok (1 Sam 16:12). 

Daud dipulihkan dari dosanya, fitnahannya dan kemiskinan sehingga mati di dalam kemuliaan dan kekayaan (1 Taw 29:26-28).

Sebagai pelayan Tuhan, Paulus sering berada di penjara, didera di luar batas, kerap kali dalam bahaya maut. Tetapi dia bersabar dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran sehingga senantiasa bersukacita (2 Kor 6:3-10; 11:23-33). 

Roh sukacitalah yang membuat dia berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah sehingga terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua (Kis 16:24-26; Mzm 22:4).

Tuhan tidak akan memakai kita, jika kita tidak mempunyai roh sukacita seperti Saul. Jadi, marilah kita belajar kehidupan sorga yang selalu bersukacita, bersama para malaikat dan orang kudus di sorga bernyanyi haleluya sehingga sukacita selalu mengalir terus dan dapat dirasakan oleh orang-orang di sekitar kita. 

Semua orang yang mencintai keselamatan, mencari Tuhan dengan bergembira dan bersukacita (Mzm 40:16-17).

(Sumber: Warta KPI TL No. 70/II/2010 » Renungan KPI TL tgl 28 Januari 2010, Dra Yovita Baskoro, MM).




03.01 -

Dukacita diubah Yesus menjadi sukacita

Anugerah yang diberikan pada setiap gereja berbeda-beda. Di Gereja Katolik diberikan anugerah dalam Sakramen Ekaristi. Pada saat perayaan Ekaristi: roti yang tak beragi diubah menjadi Tubuh Kristus dan anggur diubah menjadi Darah Kristus. 

Jadi, pada saat perayaan Ekaristi janganlah kita menganggap hal itu sebagai rutinitas saja, tetapi bukalah pintu gerbang hati sehingga Tuhan dapat menjamah hati kita. Karena Tubuh Kristus (daging) mampu membangkitkan orang mati dan Darah-Nya mampu menahirkan kenajisan dosa-dosa kita. 

Jika kita mengimani dengan sungguh-sungguh pada saat perayaan Ekaristi, maka Tuhan mampu mengubah kehidupan kita, kita akan dipulihkan-Nya dari kekecewaan dan keputus-asaan, baik dari sakit-penyakit kita, pekerjaan kita maupun yang lainnya. 

Sehingga kehidupan kita akan diubahkan-Nya menjadi kudus dan penuh pengharapan (semua persoalan ada jalan keluar/dipulihkan). Dan akhirnya ... sukacita selalu mengalir tiada hentinya.

Jika kita menyumbat aliran sukacita dengan berkata: “Tak mungkin hal ini terjadi/Mengapa begini, tidak begitu Tuhan? dll” Maka sukacita itu tidak dapat berbuah sukacita.

Marilah kita belajar dari Luk 7:11-17

Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Naim. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. 

» Kota Naim artinya adalah sukacita yang mengalir; sebuah desa yang letaknya ± 10 km dari Nazaret, merupakan kota perbatasan antara Galilea dan Samaria. 

Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. 

 » Ada dua rombongan yang sangat berbeda

1. Rombongan Yesus memasuki kota Naim dengan penuh semangat dan sukacita. Karena mereka banyak menyaksikan mujizat (orang sakit, orang lumpuh disembuhkan dll.), mereka melihat itu sebagai suatu pertolongan Tuhan. 

2. Rombongan Janda ke luar dari kota Naim dengan dukacita. Rombongan ini menuju ke kuburan, menuju maut.

Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: “Jangan menangis.” 

» Mengapa Tuhan tergerak hati-Nya? Tuhan tidak tahan melihat kesedihan janda ini. Karena adat istiadat orang Yahudi: jika seorang janda kehilangan anaknya, maka harta peninggalan suaminya harus diwariskan kepada saudara laki-laki dari suaminya (kehilangan anak dan harta bendanya). 

Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan ketika para pengusung berhenti, Ia berkata: “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang ... memuliakan Allah... Allah telah melawat umat-Nya. 

» Adat istiadat orang Yahudi: jika berpapasan dengan jenazah, rombongan lain harus berhenti untuk memberi jalan bagi rombongan jenazah; mereka tidak boleh menyentuh jenazah, karena hal itu itu akan membuatnya najis. 

Yesus justru melanggar hukum Taurat (Im 19:16), Dia menyentuh jenazah itu. Hal ini tidak najis bagi-Nya, karena Dia adalah Allah yang Mahakudus, justru dengan sentuhan-Nya, semuanya ditahirkan/menjadi kudus

Dalam perjumpaan ini, Yesus mengubah air mata dukacita menjadi sukacita.

Peristiwa di Naim ini masih berlangsung sampai saat ini, jika kita mau membuka pintu gerbang hati kita untuk dijamah-Nya. Yesus yang sama juga mampu membangkitkan kita saat ini. Dia akan memberi jalan ke luar setiap permasalahan yang kita hadapi sehingga sukacita selalu mengalir dan mengalir.

(Sumber: Warta KPI TL No. 70/II/2010 » Renungan KPI TL Tgl 4 Februari 2010, Dra Yovita Baskoro, MM).



Sabtu, 27 Februari 2016

00.30 -

Apakah yang dimaksud dengan kebahagiaan kekal?

Kebahagiaan kekal adalah memandang Allah dan digabungkan dalam kebahagiaan-Nya [KGK 1720-1724].

Dalam Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus. adalah kehidupan sukacita dan persekutuan kasih tiada henti.

Dimasukkan ke dalamnya kita akan mengalami kebahagiaan tanpa batas yang melampaui pemahaman manusiawi.

Kebahagiaan kekal adalah karunia Allah yang murni karena kita tidak bisa memahami kedalaman dan kebesarannya.

Allah ingin kita mengambil keputusan untuk secara bebas memilih dan mengasihi-Nya melebihi segala sesuatu, berbuat baik dan menghindari kejahatan dengan segenap kemampuan Youcat No. 52, 156-158

(Sumber: Youcat No. 285)

Jumat, 26 Februari 2016

23.15 -

Mengapa Sabda Bahagia itu penting?

Mereka yang merindukan Kerajaan Allah berpegang ajaran Yesus: Sabda Bahagia [1716-1717, 1725-1726].

Sejak Abraham, Allah berjanji kepada umat-Nya.

Yesus adalah pemenuhan janji itu.

Ia menjadikan manusia bagian dari rencana dan tujuan hidup-Nya: Anak Allah menjadi miskin sehingga untuk berbagi kemiskinan dengan kita. Ia brergembira dengan orang yang bersukacita dan menangis dengan mereka yang menangis (Rm 12:15).

Ia tidak membalas kekerasan, tetapi memberikan pipi lainnya setelah ditampar pipi satunya (Mat 5:39).

Ia berbelas kasih, membuat damai, dan menunjukkan kepada kita jalan pasti ke sorga.

(Sumber: Youcat No. 284). 

23.08 -

Apa saja Sabda Bahagia?

Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.


Berbahagialah orang yang berdukacita karena mereka akan dihibur.



Berbahagialah orang yang lemah lembut karena mereka akan memiliki bumi.



Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran karena mereka akan dipuaskan.



Berbahagialah orang yang murah hatinya karena mereka akan beroleh kemurahan.



Berbahagialah orang yang suci hatinya karena mereka akan melihat Allah.



Berbahagialah orang yang membawa damai karena mereka akan disebut anak-anak Allah.



Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.



Berbahagialah kamu jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.



Bersukacita dan bergembiralah karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu (Mat 5:3-12).



(Sumber: Youcat No. 283)

19.58 -

Bagaimana cara mendapatkan kebahagiaan menurut Kitab Suci?

Kita akan bahagia dengan cara mempercayai kata-kata Yesus dalam Sabda Bahagia [1716-1717].


Injil adalah janji kebahagiaan bagi semua orang yang ingin berjalan di jalan Tuhan. Terutama dalam Sabda Bahagia (Mat 5:3-12).



Yesus telah mengatakan kepada kita secara khusus bahwa anugerah kekal (Anugerah) ada dalam cara kita mengikuti teladan-Nya dan mencari damai dengan mengikuti hati yang murni.



(Sumber: Youcat No. 282).


19.50 -

Mengapa kita merindukan kebahagiaan?

Allah telah menempatkan di dalam hati kita suatu kerinduan tak terbatas akan kebahagiaan yang tidak dapat dipuaskan oleh apa pun selain Allah sendiri.


Semua kepuasan duniawi hanyalah gambaran dari kebahagiaan kekal. Di atas segalanya, kita harus menuju Allah [KGK 1718-1719, 1725]



(Sumber: Youcat No. 281» Youcat No. 1-3


Kamis, 05 November 2015

20.31 -

Dua Kantong yang Berbeda

Setiap hari kita pasti mengalami kejadian yang baik dan yang tidak baik. Agar kita bisa menikmati kebahagiaan dan ketenangan di dalam hidup, kita harus mempunyai dua buah kantong

Setiap mengalami kejadian, kita tulis di sebuah kertas, digulung kecil, kemudian dimasukkan ke dalamnya



1. Kantong yang terdapat lubang di bawahnya: semua yang membuat hati kita terluka, abaikan dan jangan pedulikan. Misalnya: kata-kata kotor/makian/sindiran                     yang merendahkan/gosip/penolakan/perlakuan yang kasar/ketidakadilan. 

Karena memelihara pikiran-pikiran jahat dan segala sesuatu yang menyakitkan hati, hanya akan membuat kita tidak bisa menikmati kebahagiaan hidup. Jiwa kita menjadi tertekan dan tidak ada gairah menjalani kehidupan. 

2. Kantong yang tidak terdapat lubang: semua yang menggembirakan/indah/benar/menyukakan hati dan bermanfaat. Misalnya: kata-kata yang membangun/kebaikan hati serta perhatian/pujian yang diberikan/dukungan materi maupun moril.

Pada malam hari, ketika kita mengeluarkan semua yang ada di dalam kantong yang tidak berlubang, membaca dan menikmati hal-hal indah yang sudah diperoleh sepanjang hari itu. Kemudian kita merogoh kantong yang ada lubangnya, tetapi kita tidak menemukan sesuatu. 

Maka kita dapat tertawa dan tetap bersukacita karena di kantong tersebut tidak ada sesuatu yang dapat merusak hati dan jiwa kita.

Itulah yang seharusnya kita lakukan. Menyimpan semua yang baik di kantong yang tidak berlubang, sehingga tidak ada satu pun dari yang baik itu hilang dari hidup kita. 

Sebaliknya simpanlah semua yang buruk di kantong yang berlubang, di mana yang buruk itu akan ‘jatuh’ dan tidak dapat kita ingat lagi. 

Namun sayang sekali, begitu banyak di antara kita melakukannya dengan terbalik. Menyimpan semua yang baik di kantong yang berlubang, dan apa yang tidak baik di kantong yang tidak berlubang. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 41/IX/2007; Dua Kantong yang Berbeda, Mansor November 2006 No. 104 Tahun IX).

Jumat, 30 Oktober 2015

19.46 -

Belajar penderitaan dan sukacita yang sempurna



Pada suatu musim dingin Fransiskus Asisi berjalan kembali ke biara Santa Malaikat bersama Bruder Leo dan ia bertanya kepadanya: “Bruder, coba katakan sukacita apa yang paling indah bagi kita saat tiba di biara nanti!”

Jawab Bruder Leo: “Ya... penjaga pintu menyambut kita dan mengajak kita duduk dekat perapian untuk memanaskan diri.”

Fransiskus kecewa dengan jawaban itu: “Bukan jawaban itu yang saya inginkan, coba cari jawaban yang lain!”

Jawab Bruder Leo: “Ya... saat yang paling indah Bruder menghidangkan sop hangat bagi kita.” Tetapi Fransiskus belum puas dengan jawaban itu.

“Demi Tuhan, Francis, katakan sukacita apa yang sempurna itu?” Jawab Franciskus: “Sukacita yang sempurna adalah apabila kita tiba di biara dalam keadaan basah kuyub, beku, kedinginan, berlumuran lumpur serta kelaparan, lalu pada saat kita menekan bel pintu penjaga membuka jendela kecil sambil berkata: ‘Siapakah kalian?’ 

Lalu kami menjawab: ‘Kami saudara-saudaramu’, lalu Bruder berkata: ‘Kalian pembohong/penipu yang selalu menyesatkan orang, pergilah jauh-jauh!’ Dan dia membiarkan kita berdiri di tengah-tengah hujan salju yang dingin dan kelaparan hingga malam tiba. 

Sukacitanya adalah kita dapat menahan semua penderitaan dan perlakuan kasar itu dengan sabar tanpa mengomeli penjaga itu dan Tuhan memakai orang itu untuk menguji kita, itu baru sukacita yang sempurna.”

Kemudian Fransiskus melanjutkan lagi: “Lalu kita mengulangi lagi mengetuk pintu. Penjaganya datang dan marah-marah sambil memukuli kita dengan tongkat sehingga tubuh kita penuh luka-luka serta melemparkan kita ke lumpur salju sambil berkata: ‘Pergi sana ke penampungan orang-orang miskin!’

Bila kita dapat bertahan terhadap semua tekanan Iblis dengan penuh sukacita dan kesabaran sambil mengingat bahwa Yesus sendiri juga pernah menderita seperti itu. Itulah sukacita yang sempurna. 

Bruder Leo saudaraku, kemampuan untuk menderita cemohan/penghinaan/kekerasan demi kasih kita kepada Yesus adalah karunia yang luarbiasa yang melampaui semua karunia Roh Kudus yang diberikan kepada teman-teman.”

(Sumber: Warta No. 36/IV/2007; Renungan KPI TL Tgl 1 Maret 2007,  Dra Yovita Baskoro, MM).

Kamis, 22 Oktober 2015

23.30 -

Hidup Penuh Keceriaan



Bagaimana caranya setiap peristiwa dapat memunculkan keceriaan kita/menghadirkan wajah cantik Allah di tengah kesibukan kita di mana pun berada?



Syaratnya:

1.Kesediaan untuk tersenyum dan tertawa.

Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang (Ams 17:22).

Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat (Ams 15:13).

Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang bergembira hatinya selalu berpesta (Ams 15:15).

2.Kontak mata dengan orang disekitarnya.

Mata yang bersinar-sinar menyukakan hati, dan kabar yang baik menyegarkan tulang (Ams 15:30).

3.Saling mendukung (memberi stimulus).

4. Letakkan semua jabatan/profesi

5. Belajar dari kegembiraan anak-anak. Contoh lagu: ‘Senyum dan muka gembira ... angkat tangan ... pujilah Dia ... berputar badan kita ... senyum gembira ...’

Hidup penuh keceriaan 

Filosofi 1 - Gerakan menciptakan perasaan sebagaimana perasaan menciptakan gerakan. Ekspresi wajah bisa membangkitkan berbagai emosi.

Ketika gerak ada perasaan senang – otomatis memikirkan perasaan senang (aliran darah lebih lancar dan tubuh rileks).

Hari-hariku berlalu dengan cepat ... bila aku berpikir ... melupakan keluh kesahku, mengubah air mukaku, dan bergembira (Ayb 9:25-27).

Aku tersenyum kepada mereka ketika mereka putus asa, dan seri mukaku tidak dapat disuramkan mereka (Ayb 29:24).

Kalau kita ingin menghayati wajah cantik Allah, awalnya pura-pura tidak apa-apa (Matius – pemungut cukai) karena kemauan dia mau berubah menjadi lebih baik.

Filosofi 2 - Bersyukurlah dan nikmati hidup (1 Kor 1:4) – jika kita ingin berubah, bersyukurlah dengan apa yang kamu punya sehingga hidup penuh keceriaan – karena anugerah-Nya selalu diberikan berlimpah, karena hal itu bisa menjadi kesaksian hidup untuk orang lain.

... tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya (Pkh 3:22)

Filosofi 3 - The More You Give, The More You Get – apakah saat kita berbagi kegembiraan ada yang berkurang dari kita?

Kebutuhan emosional manusia: perhatian, diterima apa adanya, dimengerti, penghargaan 

Berikanlah pujian ... dapat senyum dan tawa batin.
Berikan maaf ... dapatkan ketenangan dan kedamaian.

Filosofi 4 - Temukan sumbernya saudara tidak akan kehabisan - senyum sebagai tanda kemurahan hati dan cinta; tanda cinta Allah.

Bergembiralah karena Tuhan; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu (Mzm 37:4)

... tidak ingat akan penderitaannya, karena kegembiraan ... Semua itu Kukatakan supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku (Yoh 16:20-22, 33).

(Sumber: Warta No. 33/I/2007; Renungan KPI TL Tgl 1 Desember 2006, Bpk Ambrosius Bata).