Rabu, 29 Maret 2017

06.01 -

Anak ayam yang bodoh

Suatu ketika ada seekor anak ayam yang suka berkelana di pekarangan, mencari makanan. Kepadanya sudah beberapa kali diperingatkan agar tidak berkelana terlalu jauh. Mengapa? 

Karena burung elang suka datang menyambar anak-anak ayam. Begitu percaya diri anak ayam itu sehingga ia meremehkan peringatan itu dan terus saja berkelana ke segala penjuru.

Pada suatu hari, seekor elang yang sedang kelaparan mengintai anak ayam mungil itu dan menukik tajam ke arahnya. Melihat elang itu, sang induk ayam berteriak memberi pertanda agar semua anak ayam berlindung di bawah naungan sayapnya. 

Semua anak ayam melejit ke arah induknya, mencari perlindungan, kecuali anak ayam yang masih mengembara kian kemari mencari makanan. 

Elang itu menukik ke dekat anak ayam itu. Cakarnya dengan lembut mencengkram anak ayam itu dan membawanya terbang.

Sambil mencengkram anak ayam itu kuat-kuat, namun lembut, sang elang mengudara ke tempat tinggalnya di atas gunung. Tidak menyadari dirinya dibawa terbang oleh seekor elang, anak ayam itu berpikir bahwa akhirnya ia dapat terbang juga. 

Ketika anak ayam itu sedang mencari makanan di tempat baru, sang elang mematuk dan membutakan mata si anak ayam dengan patuknya yang keras dan tajam. Sewaktu anak ayam itu tertatih-tatih ke sana ke mari, sang elang segera memakannya, potong demi potong.

Iblis dengan liciknya dan dengan begitu halus menipu orang yang menjauh dari hadirat Allah, sehingga orang itu mengira dirinya baik-baik saja dan bahkan masih menikmati berkat dari Allah. 

Karena kehidupan rohaninya sudah dibutakan dan sudah menjadi gelap, orang itu akan lebih jauh lagi terpikat oleh segala macam kejahatan (terus-menerus hidup dalam dosa dan memberontak terhadap Allah).

(Sumber: Warta KPI TL No. 19/XI/2005).

Excorcisme

Pengusiran Setan merupakan bagian tak terpisahkan dari pewartaan Yesus mengenai Kerajaan Allah, khususnya dalam mujizat penyembuhan, kasih dan perhatian Allah itu ternyatakan (Iman Katolik hal 235). Segala mujizat pembebasan dari kuasa jahat hendaknya membawa orang semakin tergantung dan dekat dengan Allah.

Tradisi Gereja memahami Setan sebagai penyebab timbulnya kejahatan yang menghantar manusia kepada dosa (1 Yoh 5:17). 

Setiap manusia lahir dalam keadaan dosa, tidak berdasarkan kesalahan sendiri melainkan karena dosa asal (dosa Adam).

Pada permulaan jaman Gereja Awali setiap orang beriman (yang dipenuhi Roh Kudus) dapat melakukan doa untuk pengusiran setan (Mrk 16:17).

Sejarah exorcisme membentang dari Gereja Perdana sampai Vatikan I. Umat tidak banyak mengenal exorcisme karena Vatikan II menghapus upacara exorcisme yang pernah ada dalam Rituale Romanum (tahun 1614 yang kemudian direvisi tahun 1952).

Jenis-jenis exorcisme:

1. Exorcisme resmi - hanya dapat dilakukan oleh imam-imam tertentu yang ditunjuk uskup – imam yang saleh (setia dan rendah hati), bijaksana tak tercela hidupnya, harus yang sudah berumur dan dihormati karena kualitas moralnya.

2. Exorcisme pribadi (doa pembebasan) – dapat dilakukan oleh setiap orang percaya, melalui sakramen pembaptisan, setiap orang Kristen menerima imamat umum, sehingga dengan imamat umum itu juga dapat melayani. 

Jadi exorcisme pribadi ini bukan penemuan dewasa ini, tetapi sejak dulu ada, tetapi seolah-olah untuk beberapa waktu lamanya dilupakan. 

Dengan munculnya pembaharuan hidup dalam Roh (pembaharuan karismatik), setan yang sembunyi-sembunyi, sehingga bahkan dianggap tidak ada. Tetapi sekarang oleh kuasa Roh Kudus dipaksa menyatakan dirinya, sehingga ada konfrontasi dengan kuasa Roh Kudus.

Exorcisme pribadi adalah sah bagi semua orang, terutama para imam, dan tidak diperlukan ijin khusus dari uskup untuk hal itu (Marc, Institutiones Morales Alphonsiane, Vol. 1, hal. 622, 1927).

Sama sekali tidak ada larangan bagi umat awam untuk melakukan exorcisme pribadi (Prummer, Theologia Moralis, Vol. 2, hal. 363).

Banyak orang berpikir mengenai artinya penderitaan: Mengapa manusia harus menderita dan mengalami akibat dari pengaruh jahat?

Penderitaan harus dilihat dari dua segi (Kushner):

1. Terkait dengan hukum alam – tidak mengenal kekecualian, juga bagi yang baik. 

2. Terkait dengan kebebasan manusia untuk saling mencelakakan (saling menipu, merampok, melukai, merugikan dan sejenisnya).

Tuhan hanya dapat menyaksikan dengan rasa iba dan prihatin akan tingkah laku manusia yang semacam itu.

Hidup di dalam Allah membuat segala hal yang jahat, termasuk Setan, bertekuk lutut di kaki kita dan memungkinkan kita mampu menginjak-injak segala kecenderungan jahat kita serta membawa kita kepada penghayatan martabat sebagai citra dan putra-putri Allah.

Dalam menghadapi Setan, mau tidak mau kita harus mengakui adalah “hamba-hamba yang tidak berguna” ( Luk 17:10, ketaatan iman) yang menyerahkan diri secara total dan sukarela kepada Allah, sumber segala ciptaan. Apa pun alasannya kita mengandalkan kemampuan kita sendiri, kita akan jatuh di dalam dosa dan kebinasaan. Lihat saja dalam hidup kita banyak

“Orang yang berguru” (dengan kekuatan magis) mengalami banyak kesulitan dalam kematiannya. Apapun yang ia andalkan tidak dapat menyelamatkan dirinya di dunia akhirat.

Keyakinan akan Roh Kudus membuat kita hidup dalam penghayatan iman Kristen sejati, sehingga segala guna-guna, ilmu sihir, santet dan sejenisnya tidak mampu menembus ruang batin kita. 

Kita menjadi manusia yang bebas dalam iman dan tidak terjerat di dalam segala bentuk niat dan prasangka jahat serta segala aplikasinya dalam peziarahan menuju kehidupan kekal.

Daya Roh Kudus tampak dan terus berkarya dalam komunitas kasih di mana ada persahabatan sejati, damai, kemurahan hati, persatuan, belas kasih, kesabaran, kesetiaan, kelemahlembutan, pengampunan, pengertian dan penguasaan diri. Maka, di sanalah Roh Kudus sedang berkarya dan hadir “sebab dari buahnya pohon itu dikenal” (Mat 12:33).

(Sumber: Warta KPI TL No. 19/XI/2005 » Exorcisme Dalam Gereja, HDR Juli-Agustus 2004)







Bila saat ini kita masih hidup dalam dosa, bertobatlah!

Bukankah Yesus datang untuk pendamai segala dosa seluruh dunia.



(1 Yoh 2:2)

01.44 -

Takhyul dan iman Kristen

Takhyul adalah suatu kepercayaan yang tidak berdasarkan akal sehat dan kebenaran

Ketika seseorang Kristen percaya pada takhyul

- Tidak percaya pada Tuhan dan Firman-Nya secara pribadi. 
- Menandakan suksesnya pekerjaan iblis sebagai penipu ulung. 

Percayakan saudara dengan tanda-tanda demikian

- telapak tangan gatal » “nggak tahu ni, kok tiba-tiba …” » mau dapat rejeki nomplok. 

- Kening berkedut » pertanda akan segera mendapat uang/kebahagiaan. 

- Menggantung padi, kelapa, kain merah di bumbungan rumah » agar murah rejeki. 

- Jangan tinggal di rumah tusuk sate » akan selalu mengalami kesialan/ usaha macet. 

Jangan tertipu oleh Iblis yang sengaja merekayasa seolah-olah berkat yang kita terima datang dari takhyul dan bukan dari Tuhan sehingga kita tidak pernah mengucap syukur atas setiap berkat yang kita terima. 

Ya … kalau orang Kristen memang tidak percaya begituan … toh tidak ada salahnya untuk diikuti. Sekilas nasihat itu ada benarnya, tetapi sebenarnya menyesatkan. Sebagai anak-anak Allah, justru kitalah yang seharusnya menjadi terang bagi mereka, bukan kita yang mengikuti mereka masuk ke dalam kegelapan. 

- Cermin yang pecah » sebagai pertanda buruk. 

- Angka 4 (shi = mati) » dipercayai mempunyai kuasa yang dapat membawa kematian/kerugian. 

- Jangan berfoto bertiga » salah satunya akan cepat meninggal. 

Larangan untuk memotong hewan saat istri sedang hamil » agar anak yang dilahirkan tidak cacat/ mempunyai tanda seperti sayatan senjata tajam. 

Jangan menggunting kuku di malam hari » menyumpahi orang yang dikasihi cepat mati. 

Menabrak kucing sampai mati » dalam waktu dekat akan mengalami kecelakaan. 

Membawa gunting kecil waktu hamil agar anak yang dikandung tidak diganggu roh jahat. 

Dengan percaya akan pengaruh atau kuasa dari waktu-waktu atau hari-hari tertentu (Gal 4:10-11) maka sebenarnya kita sedang berkata bahwa Tuhan Yesus mempunyai kuasa yang tidak terlalu besar atau terbatas sehingga perlu dibantu dengan melihat hari-hari yang baik. 

Semua hari adalah baik dan hari-hari diciptakan oleh Tuhan untuk kebaikan manusia bukan untuk mencelakakan manusia. 

Penghormatan kepada orang tua memang harus dilakukan tetapi bukan berarti harus menuruti setiap perkataan orang tua sekalipun bertentangan dengan Firman Tuhan.

Ada pula suatu bentuk takhyul yang tersamar seolah-olah hal itu sesuatu yang rohani, yaitu kepercayaan akan adanya kuasa di dalam benda yang digunakan di dalam ibadah, seperti Alkitab/salib. 

Banyak orang Kristen yang menggantungkan salib di rumahnya dengan kepercayaan Iblis akan takut terhadap salib itu! 

Ketahuilah, Iblis tidak pernah takut terhadap sepotong kayu yang berbentuk salib, ia hanya takut kepada Tuhan Yesus dan kuasa-Nya. 

Ada juga orang Kristen yang menganggap Alkitab itu jimat, sehingga ia menaruh Alkitab di laci uangnya agar uangnya tidak hilang (penangkal tuyul). 

Hal ini merupakan suatu bentuk kepercayaan yang salah. Praktek yang beranggapan bahwa kuasa Tuhan berada di dalam benda-benda ibadah adalah sama dengan praktek dukun-dukun yang mengisi benda-benda tertentu dengan ilmu-ilmu atau kuasa-kuasa tertentu (Kis 17:24), misalnya cincin, jimat, kepala kambing/sapi dll.

Setiap kejadian yang terjadi di dunia ini tidak dapat dijadikan dasar untuk membenarkan sesuatu. Segala yang terjadi di kolong langit ini perlu diuji kebenarannya dengan Firman Tuhan, karena hanya Firman Tuhanlah kebenaran sejati yang dapat menyaring kesesatan

Bahkan Iblis membuat menjadi kenyataan kepercayaan kita yang salah itu agar kita semakin mempercayainya. Ingat semua tergantung dari ucapan kita! 

Orang yang jauh dari Allah menjadi lahan subur bagi Setan untuk menaburkan benih-benih kejahatan yang membawa orang tersebut ke dalam api neraka bersama malaikat jurang maut (Why 9:11).

Bila diperhatikan dengan seksama apa yang mendorong seseorang untuk taat mempercayai dan melakukan takhyul tertentu, sebenarnya adalah karena ketakutan

Takut sial, takut rezekinya tidak ada, takut mati, takut diganggu setan, takut persoalannya berkepanjangan, takut tidak mendapat jodoh dan berbagai macam ketakutan lainnya. 

Ketakutan bukanlah masalah kejiwaan atau hal yang biasa-biasa saja, roh itulah yang bekerja dibalik takhyul. Ketakutan membuat kita tidak bisa mengambil sikap yang bijaksana (tepat pada waktunya) – tidak lagi mampu memandang sesuatu secara netral.

Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan, kasih dan ketertiban (2 Tim 1:7).

Orang yang diikat roh ketakutan hidupnya akan dikendalikan oleh rasa takut itu sendiri - bermula dari kejadian sehari-hari yang dialami (dari pengalaman-pengalaman traumatis, pertumbuhan masa kecil dengan pengawasan yang sangat ketat, mengalami kegagalan yang beruntun, dll.), kemudian ketakutan itu mengambil alih kendali hidup kita selanjutnya. 

Jika kita masih terikat oleh suatu ketakutan yang pernah tertanam dalam jiwa kita, ketahuilah bahwa kita membutuhkan kelepasan di dalam nama Tuhan Yesus. Dengan mempercayai takhyul akan menghambat pertumbuhan iman – bisa membawa kepada kematian rohani.

Jika aku menaruh kepercayaan kepada …maka hal itu juga menjadi kejahatan … karena Allah yang di atas telah kuingkari ( Ayb 31: 24, 28).

(Sumber: Warta KPI TL No. 19/XI/2005 » Takhyul dan iman Kristen, Mansor No. 83 tahun VII Feb 2005)

Setan

Selama dekade terakhir, dalam Gereja berkembang paham rasionalisme yang berlebihan, sehingga eksesistensi roh jahat kurang disadari bahkan diragukan. Tentunya hal ini merupakan ekses (karena dianggap tidak ada) roh jahat bekerja secara bebas dan merajalela. 

Dan ada juga ekses yang justru melebih-lebihkan keberadaan roh jahat (melihat setan di mana-mana). Oleh karena itu menghadapi realitas kehadiran roh jahat perlu sikap seimbang dan kebijaksanaan (discerment = pembedaan roh).

Umat beriman kristiani yang mendengar pengalaman setanik (berjumpa dengan kuasa jahat, entah apa namanya) dalam hidup bermasyarakat selalu saling bertanya, “Setan itu ada atau nggak sih?” 

Setan bukanlah sekedar omong kosong melainkan kenyataan hidup manusia dengan segala ciptaan yang dijadikan Allah.

Kapankah Setan tercipta dan dari manakah makhluk supranatural itu berasal merupakan pertanyaan manusia segala zaman.

Di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa (Kol 1:16).

Gereja mengajar bahwa malaikat yang jatuh (Setan/Iblis) pada mulanya adalah malaikat baik yang diciptakan Allah, tetapi mereka menjadi jahat karena kesalahannya sendiri (Konsili Lateran IV, 1215; KGK 391).

Dalam sejarah penciptaan, Allah membuat segalanya baik adanya dan “Allah melihat bahwa semuanya itu baik” (Kej 1:10, 12, 18, 21, 25). Begitu pula Allah menciptakan malaikat-malaikat-Nya baik adanya (patuh dan taat pada Allah). 

Setan adalah seorang malaikat berdosa, yang diusir dari keberadaannya yang semula. Meskipun demikian, ia masih memiliki kuasa dan kemuliaan dari sifat malaikatnya. Manusia dan segala peristiwa tidak berdaya di hadapan kuasa rohani ini, tetapi roh-roh jahat gemetar ketakutan di hadapan Allah dan putra-Nya (Yak 2:19). 

Namun peristiwa jatuhnya para malaikat ini tidak mengurangi hakikatnya sebagai malaikat, sehingga ia tetap berada di hadirat Allah (Ayb 1:6).

Kejahatan sendiri tidaklah diciptakan oleh Allah, tetapi kejahatan yang disebut dosa itu adalah pilihan bebas ciptaan Allah.

Banyak orang tidak menyadari bahwa Setan sebenarnya bekerja dalam dosa mereka. Yang ada dalam pikiran sering kali “yang penting gue enak!” tanpa memperhatikan bahwa hidup kita ada di tangan Tuhan: masanya tujuh puluh tahun dan jika kuat, delapan puluh tahun (Mzm 90:10).

Walaupun secara kodrat, roh jahat lebih kuat dari manusiatetapi harus disadari bahwa ia tidak berdaya bila berhadapan dengan Allah

Tidak bisa dipungkiri, walaupun di tengah-tengah jaman yang dikatakan modern ini dan ditengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang luar biasa, manusia dewasa ini banyak yang tidak mengetahui tujuan hidupnya, sehingga dunia dengan pelbagai kesemarakannya menawarkan gaya hidup dengan isme-isme tertentu, seperti gaya hidup yang hedonisme, materialisme dan konsumerisme. 

Akan tetapi semua itu tidak memuaskan hati manusia. Sesungguhnya dalam hati manusia yang terdalam ada suatu kerinduan yang mendasar, yaitu kerinduan akan Allah

Akan tetapi dalam pencariannya manusia tidak selalu menemukan Allah, bahkan tidak jarang disesatkan dari tujuan hidupnya.

Disinilah dapat dilihat peranan si jahat yang selalu berusaha menjauhkan manusia dari tujuan hidupnya, berusaha menjauhkan manusia dari Allah, bahkan bila mungkin ia akan berusaha sekuat tenaga agar manusia kehilangan keselamatan jiwanya. 

Tujuan akhir setan ialah menghancurkan Kerajaan Allah. Setan juga bekerja dalam hidup individu-individu, baik orang Kristen maupun bukan. Dia ingin menghancurkan dan mengubah manusia sebagai makhluk yang diciptakan sesuai dengan citra Sang Pencipta. Maka dari itu dia menghadapkan manusia pada tekanan emosional, mental, spiritual.

Maka Setan melawan Allah di mana-mana dengan menggunakan bermacam-macam senjata. Dia berjuang tanpa mengenal belas kasihan dan seringkali memakai hal-hal yang baik dalam senjatanya. Kitab Suci memperingatkan bahwa Setan sering datang menyamar sebagai malaikat terang (2 Kor 11:14).

Peperangan rohani ini berkobar dalam peristiwa-peristiwa dunia (politik, krisis internasional, sebab-sebab penderitaan manusia, perang, rasisme, kelaparan, kejahatan, kemiskinan, penyakit). 

Setan juga bekerja secara halus untuk mengguncangkan ketertiban sosial, seringkali dengan menggunakan individu-individu yang berkehendak baik dan gerakan-gerakan populer untuk menghancurkan dunia. 

Rencana Setan bahkan mempengaruhi Tubuh Kristus, menyebabkan perpecahan dan kelemahan di dalam Gereja.

Sebagai umat beriman, kita pun tidak pernah lepas dari pengaruh Setan dalam hidup kita sehari-hari, karena kita selalu cenderung menikmati dosa dan jatuh dalam dosa yang sama - kuasa Setan mencengkram hidup manusia dalam pelbagai cara yang sering kali tidak kita sadari. 

Kualitas iman yang ala kadarnya menjadi lahan subur bagi Setan untuk mengepakkan sayapnya agar “kerajaan Iblis” menjadi semakin luas.

Setan sudah memegang “ekor” kita sejak kita dilahirkan, karena saat itu kita sudah menerima dosa asal. 

Oleh sebab itu dalam pembaptisan, kuasa Setan dilenyapkan dan orang yang dibaptis menjadi manusia baru. Namun, Setan selalu mencari kesempatan agar kita mau menjadi pengikutnya.

Ciptaan Allah yang paling unggul dari segala makhluk di bumi adalah manusia. Kehendak bebas, akal budi, hidup batin dan keterbatasan diri menjadi bagian hakiki hidup manusia - yang menjadi arena bagi Setan untuk melawan Allah. 

Setan sebagaipenguasa dunia” (1 Yoh 5:19) dan menunggu waktu yang tepat untuk memulai lagi karyanya

Setan selalu menjumpai manusia dalam pelbagai cara, dari cara yang halus (melalui keputusan dan pergumulan batin) sampai yang vulgar (Setan menampakkan dirinya pada seseorang).

Setan lahir dalam hidup kita saat kitamengikuti jalan dunia ini”. Saat seperti inilah yang memungkinkan kita menjadi pendurhaka” atau “pekerja para Iblis – perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat palsu” ( 2 Tes 2:9), bahkan mampu membuat pelbagai tipu daya jahat yang menyeret orang kepada lorong neraka. Iblis telah mempersiapkan suatu lorong bawah tanah di bawah tempat kita berjalan menuju Allah. Ia berharap suatu saat kita dapat terpana olehnya dan jatuh ke lorong itu untuk menghantar kita menuju Neraka.

Salah satu kebutuhan terbesar Gereja ialah perlindungan terhadap kejahatan yang disebut Iblis. Kejahatan bukanlah hanya kekurangan akan sesuatu hal (absentia boni), melainkan suatu kekuatan yang aktif, suatu makhluk hidup, yang bersifat rohani, yang menyesatkan. Suatu realita yang dahsyat, misterius dan mengerikan…(Paus Paulus VI dalam audiensi umum tanggal 15 November 1972).

Tindakan Setan secara langsung dilakukan dengan menggunakan tubuh manusia, yaitu kerasukan (Mat 8:28, 9:32, 11:18, 12:22, 15:22 dsb) dan menggerakkan hidup batin manusia ke arah kecenderungan duniawi (perbuatan-perbuatan daging – Gal 5:19-21).

Dalam tradisi Gereja dibedakan taraf-taraf kerasukan dalam menguasai hidup manusia

1. obsessio (obsideo, mengurung, menguasai, mengikat, mengintai) – menguasai manusia dengan cara membuat pikiran sesat. Pikiran tidak terkontrol mengalir dalam arus kejahatan. Pertimbangan moral dan suara hati nurani tidak terdengar lagi

Pikiran obsesif, sering absurd, tetapi manusia sendiri tidak mampu melepaskannya walaupun senantiasa menyusahkan, menyiksa dan membuat hidup dalam keadaan sangat lelah, sering kali membawa orang untuk bunuh diri. 

2. oppressio (opprimo, menindih, melemaskan, menghancurkan, memegang kuat-kuat tak melepaskan) – pelbagai siksaan fisik yang mengerikan berbentuk penderitaan, kesakitan sporadis, tidak umum, menyangkut kesehatan badan – gerak dan perasaan – dan relasi dengan orang lain. 

Misalnya orang yang tiba-tiba sakit dan tidak terdeteksi secara medis. Hal ini bisa terjadi karena kuasa jahat itu dengan kehendaknya sendiri langsung menyiksa orang yang bersangkutan; ada orang tertentu (misalnya dukun) yang memanfaatkan roh jahat untuk menyiksa seseorang yang dituju. 

3. infestatio (infesto, merusak, menyerang, menjadikan tidak aman) – mengikat kebebasan manusia untuk bertindak sesuai dengan keinginannya, tetapi juga merusak tubuh dengan cara yang tidak dikehendaki manusia

4. posessio (possideo, memiliki, menguasai, menempati) merupakan bentuk kerasukan paling berat yang berakibat dengan kehadiran Setan di dalam tubuh manusia. 

Walaupun gejala kehadiran itu tidak nampak terus-menerus. Bisa muncul reaksi yang kuat sekali, sering menampakkan kekuatan fisik yang luar biasa, pengetahuan akan hal-hal yang tersembunyi dan akan pikiran orang lain, mengungkapkan kebencian yang luar biasa terhadap semua yang suci, ketidakmampuan untuk berdoa dan gejala yang lainnya. 

Setan mencari-cari kesempatan untuk membuat manusia secara bebas memilih hidup bersama Setan (tidak ada unsur paksaan).

Sedikit saja kita memberi kesempatan, sedikit demi sedikit kita dihanyutkan dalam kegelapan sehingga hampir tidak kita rasakan dan sadari

Segala sesuatu yang menyesatkan dan bertekun dalam kejahatan (Mat 13:41) 

Apa yang keluar dari hati kita, yaitu: pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan (Mrk 7:21-22). 

Pikiran yang terkutuk, yaitu: kelaliman, kejahatan, keserakahan, kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat, kefasikan, pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua, tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan (Rm 1:29-31). 

Mendukakan Roh Kudus, yaitu: dengan segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, fitnah, segala kejahatan dan perkataan kotor (Ef 4:29-31; Kol 3:8). 

Menjadi hamba berbagai-bagai nafsu dan keinginan (Tit 3:3), terlalu cinta uang ( 1 Tim 6:10) – dimana hartamu berada, disitulah hatimu berada ( Mat 6:21; Luk 12:34). 

Perbuatan-perbuatan daging, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dsb. (Gal 5:19-21). 

Ada beberapa ungkapan yang membuat kita tidak dapat diserang Setan 

1. Menghayati ucapan bahagia (Mat 5:1-12; Luk 6:20-23). 

Iman akan berkembang bila orang mau hidup di dalam ucapan bahagiayang diwartakan Yesus (Mat 3-10). Karena itu, berjaga-jagalah! Berdirilah teguh dalam iman! 

2, Menjadi garam dan terang dunia (Mat 5:13-16). 

3. Membangun keadilan (Mat 7:1-5; Luk 6:27-36, 41-42). 

4. Hidup yang benar dalam memberi sedekah, berdoa, berpuasa (Mat 6:1-18). 

5. Menghindari ajaran sesat (Mat 7:15-23). 

6. Hati-hati terhadap perceraian (Mat 19:1-12; Mrk 10:1-2), karena yang sudah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia (Mat 19:6; Mrk 10:9). 

7. Melepas apa yang paling berharga dalam hati yang mengesampingkan Allah (Mat 19:16-26; Mrk 10:17-27, Luk 18:18-27). 

8. Menghindari hal-hal yang munafik (Mat 23:1-36; Mrk 12:38-40; Luk 11:37-54; Luk 20:45-47) 

9. Hidup dalam buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Gal 5:22-23). 

10. Hidup dalam cinta kasih terhadap Tuhan dan sesama (Mrk 30-31). 

Pengaruh Setan dalam pergulatan batin adalah berdusta (Yoh 8:44), menyombongkan diri, pemfitnah, berontak terhadap orang tua, tidak tahu berterima kasih, tidak memperdulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang lain, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, berlagak tahu, dan lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah (2 Tim 3:2-4). 

Berjuang melawan Setan berarti berjuang untuk hidup menghayati diri sebagai citra Allah.

Nama-nama Setan 
1. Diabolos - menguasai manusia dengan rupa-rupa muslihat dan kejahatan (Kis 13:10), menggunakan amarah sebagai kesempatan untuk menjatuhkan martabat manusia sebagai anak Allah ( Ef 4:26-27), sombong ( 1 Tim 3:6-7), yang tidak berbuat kebenaran (1 Yoh 3:10). 

2. Satanas (biasanya diterjemahkan “Iblis”) - lebih dilihat sebagai malaikat kegelapan yang jatuh ke bumi, mempunyai kerajaannya sendiri yang didiami sekutunya. 

Ia mengambil firman yang ditaburkan Allah dalam diri kita (Mrk 4:15), membelemggu hingga jatuh sakit (Luk 13:16), menguasai kita dengan mendustai Roh Kudus (Kis 5:3), menggodai orang yang saling menjauhi karena tak tahan bertarak – menahan hawa nafsu (1 Kor 7:5), menyamar sebagai malaikat terang ( 2 Kor 11:14), mencegah perutusan (1 Tes 2:18), mendatangkan pendurhaka disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mukjizat palsu (2 Tes 2:9), menghujat kebenaran Allah ( 1 Tim 1:20) dan menyesatkan (1 Tim 5:15). 

3. Daimon - kekuatan gelap yang menguasai/merasuki seseorang dan menyebabkan kesakitan jasmaniah, dikaitkan dengan roh roh kenajisan/tidak murni (1 Tes 2:3), roh yang membisukan ( Mrk 9:17) dan roh tenung (Kis 16:16). 

4. Beelzebul – penghuni surgawi yang hidup di kuil-kuil. 

5. Legion – roh kenajisan. 

6. Belial – mereka yang mempunyai sifat jahat untuk menghancurkan. 
 7. Apollion – malaikat jurang maut. 

Orang yang jiwanya dipengaruhi Setan membuat tubuhnya malas melakukan kebaikan dan kebenaran.

Cara-cara menanggulangi kerja roh-roh jahat dengan mengenakan perlengkapan senjata Allah (Ef 6:10-20): 

1. Kebenaran – perlengkapan senjata paling utama. 

Setan menggoda dengan memberikan tipu daya mengenai Allah tidak mencintai kita/kita orang yang tidak berharga, bahkan sesama kita tidak mencintai kita dan dunia luar melawan kita. 

2. Keadilan – baju zirah dari perlengkapan senjata Allah. Kita hidup dengan adil bila menyerah kepada perintah-perintah Allah. 


3. Iman – perisai iman adalah sumber kuasa kita melawan Setan. 

Kepercayaan kita akan kuasa, kebijaksanaan dan kewibawaan Allah mengatasi kuasa Setan. Kita tidak bisa melawan Setan dengan kekuatan sendiri. 

4. Sabda Allah – pedang orang Kristen. 

Bila Setan mengganggu kita dengan suatu godaan, kita bisa menemukan kebenaran ilahi dalam Kitab Suci mengenai wilayah kita yang diserang Setan. 

Komunitas Kristianisumber kekuatan melawan setan. Suatu Komunitas Kristiani melindungi kita melalui discerment yang dilakukan sesama kita, karena kita sendiri tidak bisa melihat kerohanian kita dengan jelas. 

Saat kamu sering kali berkumpul, kekuatan Setan dihancurkan. Dan bahaya dari Setan dilarutkan dalam harmoni imanmu - surat St. Ignatius dari Antiokia kepada umat di Efesus ( 50-107).


(Sumber: Warta KPI TL No. 19/XI/2005 » Setan Menurut Orang Katolik, Stefanus Pranjana; Menanggulangi Kerja Roh-roh Jahat, Vacare Deo edisi no. 45 Maret 2002).





Meng-iman-i dan menghormati Yesus dalam Sakramen Mahakudus



Sebagai orang Katolik kita hendaknya menyembah dan menghormati Yesus dalam Sakramen Mahakudus dengan penuh iman, bahwa Dia yang hadir dalam rupa roti dan anggur yang sudah dikonsekrir itu benar-benar adalah Yesus sendiri. 

Yesus yang adalah Tuhan dan Allah kita yang hadir dengan segala ke–Allahan dan kemanusiaan-Nya. 

Gereja Katolik menyembah Ekaristi tidak hanya selama Misa Kudus, tetapi juga di luar perayaan Misa. Kita menyimpan Hosti yang telah dikonsekrir dengan perhatian besar – disimpan di dalam tabernakel di Gereja-Gereja Katolik, umat yang masuk di dalam Gereja berlutut dan menyembah Yesus yang bersemayan di sana.



Sebagai orang Katolik kita patut bersyukur atas iman yang dianugerahkan kepada kita, bila kita dapat mengimani Yesus dalam Sakramen Maha Kudus tanpa ragu-ragu. 


Sebab tidak semua orang dianugerahi iman yang tanpa ragu-ragu untuk mempercayai kehadiran Yesus dalam Sakramen Mahakudus.

Devosi kepada Ekaristi atau penyembahan kepada Sakramen Maha Kudus merupakan devosi yang paling luhur dan utama dalam Gereja Katolik, karena sasaran utama devosi ini adalah Allah sendiri.

(Sumber: Warta KPI TL No. 17/IX/2005).

Kuasa transformasi Ekaristi



Tuhan telah menyediakan bagi kita rahmat-rahmat yang begitu melimpah. Kalau kita sadari kuasa rahmat ini lewat pelbagai saluran pastilah hidup kita akan menjadi lain.

Tiga saluran utama rahmat dengan pelbagai bentuknya

1. Doa

Segala bentuk doa; doa pujian dan doa syukur, baik doa pribadi maupun doa komuniter. Melalui doa-doa ini, rahmat Allah mengalir kepada kita. 

2. Latihan kebajikan

Pelbagai macam kebajikan bila kita jalankan akan merupakan sarana-sarana istimewa untuk mendatangkan rahmat Allah, khususnya kebajikan-kebajikan teologal: iman, harapan dan kasih, dan juga kebajikan moral. 

3. Sakramen-sakramen

Ada tujuh sakramen yang memberikan rahmat sesuai sifat sakramen (direncanakan Tuhan untuk manusia sesuai kebutuhan), yang utama adalah sakramen Ekaristi. Merupakan sakramen istimewa, karena merupakan sumber rahmat yang paling besar. Kita menerima sumber rahmat itu sendiri – berjumpa dengan Allah secara pribadi dalam kodratnya sebagai manusia dan sebagai Allah. 

Allah yang mendorong kita untuk menerima rahmat itu. Walaupun Allah memberikan kebebasan kepada manusia. Rahmat itu diberikan bila kita mengambil bagian dalam Ekaristi dan menerima Tubuh Kristus. Disitulah terdapat potensi energi ilahi untuk mengubah kita.

Kita harus menyadari bahwa persatuan yang terjadi dalam Ekaristi merupakan persatuan yang timbal balik (Yoh 6:56). Bila kita menjawab himbauan Yesus, ada banyak hal besar terjadi terhadap badan, jiwa dan pikiran kita. 

Jiwa kita akan diangkat pada Allah, sehingga pikiran kita cerah dan emosi tenang dan semua kebaikan, semua rahmat-rahmat ini tadi dapat dilaksanakan dalam konteks perjamuan Tuhan (Misa/perayaan Ekaristi).

Tetapi sayang, kebanyakan orang tidak memberikan jawaban/kurang menghargai pemberian Tuhan ini. Karena itu kita kehilangan kuasa Allah yang memperbaharui segalanya (menyumbat/menghambat karya Allah dalam diri kita).

(Sumber: Warta KPI TL No. 17/IX/2005).