Minggu, 29 September 2019

20.59 -

Penyertaan Allah Tritunggal



Seorang Sarjana telah mencari pekerjaan selama hampir lima belas tahun. Tetapi sampai saat ini dia belum juga mendapatkan pekerjaan, bahkan sekarang ini uangnya pun tinggal 1 Dollar. Karena merasa lapar dia memutuskan untuk masuk restoran dan membeli makanan senilai 1 Dollar. 

Sebelum makan dia berdoa, tetapi ketika dia membuka matanya, dia melihat 3 orang penggemis kurus yang sangat lapar dan merekapun meminta makanan kepada pemuda tersebut. Karena pemuda ini memiliki belas kasihan terhadap 3 orang tersebut, maka dia pun memberikan semua makanannya, dan dia memutuskan untuk meninggalkan 3 orang tadi. 

Tetapi 3 orang tersebut berkata biarkanlah kami mendoakanmu, sebelum engkau pergi, dan 3 orang itu pun mendoakan pemuda tadi dan memberinya coin tua.

Setelah itu pemuda tersebut pergi ke tempat tinggalnya yaitu di kolong jembatan, dan membaringkan diri diatas koran, tetapi sebelum dia menggelar koran tersebut untuk di jadikan tikar, dia melihat iklan-iklan di koran tersebut, lalu membacanya. 

Salah satu  iklan tersebut tentang coin tua yang hilang Tahun 1955. Di situ di katakan bahwa siapa yang menemukan coin tersebut akan mendapatkan imbalan/hadiah senilai 10 juta Dollar. Dia memeriksa coin tua tersebut, ternyata memang sama seperti yang ada di iklan tersebut. 

Kemudian dia bergegas ke alamat yang tertera di koran tersebut, dan setelah di konfirmasi keaslian coin tersebut ternyata memang benar itu coin yang mereka cari, dan mereka pun mengeluarkan cek senilai 10 juta Dollar.

Pemuda tadi keluar dari kantor periklanan tadi dengan suka-cita, dia hendak menemui 3 pengemis tadi. Ketika dia bertanya kepada pelayan restoran, pelayan tersebut mengatakan bahwa mereka telah pergi dan menitipkan surat, lalu pemuda tersebut membukanya dan membacanya, di situ ada tertulis :

" Jangan takut akan hari esok, karena Kami Bertiga yang engkau beri makan, adalah : Allah Bapa, Allah Anak, dan Roh kudus, Kami selalu ada di setiap orang yang mendapat penderitaan, ketidak adilan, penindasan, akan tetapi walaupun demikian adanya mereka tetap setia pada perintah-Ku, Mereka tidak pernah berputus asa, Kami Bertiga selalu menyertai mereka sampai akhir zaman.

Ini adalah kisah nyata.

Janji-Nya: 

Yoh 14:23-26  » Jawab Yesus: "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia. ... Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.

Rm 8:26 » Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan).

19.39 -

Protestantisme: Sola Fide, Sola Scriptura, Sola Gratia, dan Predestinasi



Protestantisme awalnya merupakan suatu gerakan pembaharuan Gereja yang dilakukan oleh Martin Luther. Luther adalah seorang pastur Katolik dari ordo Santo Agustinus dan mengajar Kitab Suci di universitas Witenberg-Jerman. Ia seorang imam yang bersemangat dan saleh. Luther mendalami karya Agustinus terutama mengenai Teologi Rahmat. 

Puncak pencariannya akan Allah akhirnya sampai pada apa yang disebutnya sebagai “pengalaman menara.” Ia memprotes Simonisme (penjualan harta rohani yaitu sakramen pengakuan) yang dilakukan Gereja pada waktu itu untuk pembangunan Basilika St. Petrus di Roma. Gagasan terkenal waktu itu adalah “sekeping uang yang diletakan pada kotak persembahan maka satu jiwa diselamatkan.” 

Puncak protes Luther ketika ia menempelkan 95 dalil di depan pintu masuk universitas Witenberg. Protes Luther terhadap Gereja didukung oleh raja-raja di Jerman waktu itu yang tidak begitu senang terhadap Gereja Katolik. 

Gerakan pembaharuan ini akhirnya mengarah kepada perpisahan antara Gereja Katolik dan pengikut Luther yang melahirkan gereja-gereja Protestan. Gerakan ini dilanjutkan oleh tokoh-tokoh seperti John Calvin, Zwingli, Wesley, dan lain-lain. 

Ada empat pokok penting dalam teologi Luther yaitu: Sola Fide, Sola Scriptura, Sola Gratia dan ajaran tentang Predestinasi.

Sola Fide berarti “hanya iman.” Artinya manusia hanya bisa selamat melulu karena iman kepada Yesus Kristus, bukan karena perbuatan-perbuatannya sendiri. Dasar Kitab Suci dari gagasan ini terdapat dalam Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma 4:5; 5:1; 9:32; 11:6-7. Iman itu sendiri pada gilirannya adalah semata-mata kasih karunia Allah (Sola Gratia). Lalu ungkapan Sola Scriptura yang berarti “hanya Alkitab” mau mengatakan bahwa Alkitab adalah satu-satunya sumber penghayatan dan pengajaran iman. 

Ketiga ajaran ini mencerminkan perbedaan ajaran Protestan dan Katolik.

Menurut iman Katolik, kita memang dibenarkan Allah melulu karena iman bukan perbuatan kita, iman adalah anugerah semata. Namun begitu orang dibenarkan karena iman, orang juga dituntut untuk hidup sesuai dengan martabat Kristianinya. Orang Kristiani harus menghayati imannya dalam perbuatan atau tindakan yang nyata. 

Santo Yakobus mengatakan: “Iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati.” Lagi “iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong.” “Iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan iman menjadi sempurna” (Yak 2:21-22).

Akan tetapi di lain pihak perbuatan tanpa iman hanyalah kosong belaka. Setiap perbuatan orang Kristiani akan memiliki nilai kalau dilakukan dalam iman. Paulus juga mengatakan: “kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar" (Flp 2:12). 

Jadi, keselamatan manusia merupakan hasil kerja sama antara Allah dan manusia meskipun pada awal mulanya Allah yang memulai keselamatan dalam diri kita. 

Singkatnya dapat dikatakan bahwa meskipun Gereja Katolik mengakui iman adalah anugerah dari Allah, namun usaha (perbuatan) menusia sangat penting. 

Luther juga berpendapat bahwa kodrat manusia sama sekali telah dirusak oleh dosa asal, sehingga apa saja yang dilakukan manusia hanya dosa dan kebusukan belaka dan dengan demikian tidak memiliki nilai keselamatan.

Mengenai Sola Scriptura ajaran Katolik mengatakan bahwa selain Kitab Suci, Tradisi Suci juga merupakan sumber iman. Tradisi Suci merupakan bentuk Sabda Allah yang tidak dituliskan dalam kata-kata melainkan dihayati (sejak zaman para rasul hingga sekarang), dalam ibadat, ajaran, dan cara hidup Kristiani. 

Tradisi Suci tidak tertulis dalam Kitab Suci tetapi dihidupi dalam keseharian dalam penghayatan iman sebagai orang Kristiani.

Selain ketiga sola di atas perbedaan yang cukup tajam antara Protestan dan Katolik adalah mengenai ajaran “predestinasi.” 

Predestinasi berarti manusia sudah ditentukan untuk selamat atau dihukum (Misal: Yoh 17:12, Rm 8:28). 

Ajaran ini dianut oleh Luther, bagi dia jemaat Gereja adalah orang-orang pilihan Tuhan untuk diselamatkan. Sebaliknya orang lain yang tidak dipilih Tuhan akan binasa. (ajaran ini membuat pengikut Luther tidak kenal kompromi dengan agama lain).

Ajaran predestinasi memiliki konsekuesi yang cukup besar terhadap perbuatan manusia. Apapun yang dilakukan manusia, walaupun itu baik tidak mendatangkan keselamatan kalau ia bukan orang pilihan Allah. 

Demikian juga sebaliknya perbuatan jahat yang dilakukan oleh orang pilihan Allah tidak membatalkan keselamatan sebab sejak awal ia ditentukan untuk diselamatkan. Itu semua bertentangan dengan iman Gereja Katolik.

(Sumber : carmelia.net)

19.16 -

Apologetika



Apologetika atau apologetics adalah pembelaan keyakinan Kristiani mengenai Allah, Kristus, Gereja dan tujuan hidup umat manusia. 

Pembelaan ini dapat ditujukan kepada pemeluk agama lain, anggota komunitas Kristiani yang lain, warga komunitas sendiri yang ragu-ragu atau kepada orang beriman biasa yang ingin mengerti bahwa iman mereka dapat dipertanggungjawabkan.

Santo Petrus dalam suratnya yang pertama mengatakan: “Siap sedialah pada segala waktu untuk memberikan pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab tentang pengharapan yang ada padamu” (1Ptr 3:15). 

Dengan demikian apologetika berkaitan dengan teologi dasar, yaitu mengenai dasar-dasar iman Kristiani. 

Teologi Apologetika banyak dipakai oleh para bapa Gereja (abad II – abad VIII) untuk membela iman Kristiani terhadap serangan dari pihak bidat-bidat sesat pada zaman itu.

Tidak sedikit terjadi bahwa umat Katolik kita dewasa ini tidak mampu memberikan pertanggungan jawab terhadap berbagai persoalan iman yang sering ditanyakan baik oleh agama lain, Gereja lain, maupun oleh kalangan anggota Gereja sendiri. 

Selain itu, umat Katolik banyak diombang-ambing oleh berbagai ajaran bidat yang sebenarnya bukan ajaran Kristiani yang benar. 

Maka tujuan utama apologetika adalah memberi pertanggungan jawab dan membela ajaran Kristiani yang benar yang didasarkan pada Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium.

(Sumber : carmelia.net)

18.57 -

Peran Ayah dalam Keluarga Katolik



Peran seorang ayah dalam keluarga Katolik sangat penting. Coba tengok keluarga Nazareth. Yosep, meski mendapati Maria sudah mengandung dari Roh Kudus, ia tetap total menjadi seorang ayah.

Bagi Yosep, Tuhan yang datang memberitahu rencana-Nya melalui mimpi sudah cukup untuk membuatnya mengambil keputusan. Ia merawat Yesus hingga dewasa dan memulai karya-Nya.

Seorang ayah dalam keluarga Katolik mestinya mempunyai semangat yang sama. Semangat yang mau memberi diri demi keutuhan dan perkembangan keluarganya. Dengan begitu, keluarga kecilnya akan hidup dalam lindungan kasih Allah.

Mengingat peran ayah dalam keluarga Katolik yang sangat penting tersebut, seorang laki-laki mesti menyiapkan diri dengan sangat baik ketika ia memutuskan untuk menikah. Tidak main-main, ia harus membawa kegembiraan dalam keluarga kecilnya.

Maka Kitab Suci yang adalah Kabar Gembira dapat menjadi sumber inspirasi bagi seorang ayah dalam keluarga Katolik dalam mengemban tugas dan tanggung jawabnya.

Berikut ini adalah 5 ayat Kitab Suci yang darinya kita belajar dan melatih diri sebagai seorang calon ayah yang sukses.

1. Memberi contoh (3 Yoh 1: 4 » Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran)

Peran ayah dalam keluarga Katolik tak dipungkiri adalah memberi contoh. Ia harus bisa menjadi teladan bagi sanak keluarga dan seisi rumahnya. 

2. Memberi kasih sayang (Mzm 103:13 » Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.

Seorang ayah dalam keluarga harus bisa memancarkan kasih sayang kepada semua orang di sekitarnya. Kedewasaan seorang ayah terukur melalui kasih sayang yang ia perlihatkan dalam keluarga.

3. Menyediakan yang terbaik (Mat 7:9-11 » Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya)

Gambaran yang sangat indah tentang hati seorang ayah dalam keluarga Katolik. Di sana dikatakan bahwa seorang ayah adalah sosok yang selalu menyediakan roti dan ikan. Maka seorang ayah dalam keluarga mesti menyediakan yang terbaik buat anak-anak dan istrinya. Ia mesti mencukupi kebutuhan jasmani dan rohani mereka.

4. Seorang guru (Ams 4:1-2 » Dengarkanlah, hai anak-anak, didikan seorang ayah, dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian, karena aku memberikan ilmu yang baik kepadamu; janganlah meninggalkan petunjukku.

Seorang ayah mempunyai tugas untuk mengajarkan hal-hal baik kepada anak-anaknya.

5. Pewaris nilai-nilai kebajikan (Ams 20:7 » Orang benar yang bersih kelakuannya, berbahagialah keturunannya)

Dalam ilmu sosial kita diajarkan bahwa keluarga adalah pranata sosial pertama, di mana seorang anak belajar tentang nilai-nilai. Maka di situlah peran seorang ayah, yaitu mewariskan nilai-nilai yang baik dan benar kepada anak-anaknya.

(Sumber: Katolikpedia.id). 

18.39 -

Kasih Ibu



Suatu pagi di sebuah perkampungan miskin, tampak seorang ibu dengan penuh semangat sedang mengolah adonan untuk membuat tempe. Pekerjaan membuat dan menjual tempe telah digelutinya selama bertahun-tahun sepeninggal suaminya.

Saat membuat adonan, sesekali pikirannya menerawang pada sepucuk surat yang baru diterima dari putranya yang sedang menuntut ilmu di rantau orang. Dalam surat itu tertulis, "Bunda tercinta, dengan berat hati, ananda mohon maaf harus minta dikirim uang kuliah agar dapat mengikuti ujian akhir. Ananda mengerti bahwa bunda telah berkorban begitu banyak untuk ananda. Ananda berharap secepatnya menyelesaikan tugas belajar agar bisa menggantikan bunda memikul tanggung jawab keluarga dan membahagiakan bunda. Teriring salam sayang dari anakmu yang jauh".

Dua hari lagi adalah hari pasaran. Biasanya tempe hasil buatan si ibu di bawa ke pasar untuk dijual. Kali ini, tempe yang dibuat dalam jumlah yang lebih banyak dari biasanya, dengan harapan agar mendapatkan lebih banyak uang untuk dikirim ke anaknya.

Sehari menjelang hari pasar, hati dan pikiran si ibu panik karena tempe buatannya belum jadi, entah karena konsentrasi yang terganggu atau porsi tempe yang dibuat melebihi dari biasanya. Si ibu pun sibuk berdoa dengan khusuk di sela-sela waktu yang tersisa menjelang keberangkatannya ke pasar, memohon kepada Tuhan diberi mujizat agar tempenya siap di jual dalam keadaan jadi. Tetapi sampai tiba di pasar, tempenya masih belum jadi juga.

Sepanjang hari itu dagangannya tidak laku terjual. Si ibu tertunduk sedih, matanya berkaca-kaca membayangkan nasib anaknya yang bakal tidak bisa mengikuti ujian. Menjelang hari pasar usai, tiba-tiba datang seorang ibu berjalan dengan tergesa-gesa, "Bu, saya nyari tempe yang belum jadi, dari tadi nggak ada! Ibu tahu, saya harus cari ke mana?"

"Untuk apa, tempe belum jadi kok dicari?" tanya si penjual heran.

"Saya mau membeli untuk dikirim ke anak saya di luar kota, dia sedang ngidam tempe khas kota ini," kata ibu calon pembeli. Ibu penjual tempe ternganga mendengar kata-kata yang baru didengarnya, seakan tak percaya pada nasib baiknya, seolah tangan Tuhan memberi kemurahan kepadanya. Akhirnya, tempe dagangannya diborong habis tak bersisa. Dia begitu senang, bersyukur dan menambah keyakinan bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan diri umatnya selama manusia itu sendiri tidak putus asa dan tetap berjuang.

Ora et Labora. Memang, doa dan usaha harus seiring dan sejalan dalam perjalanan hidup setiap manusia. Doa dibutuhkan untuk mengingatkan kita agar senantiasa menapak langkah di jalan benar yang direstui oleh yang Maha Kuasa dan tetap mampu bersikap sabar, gigih dan ulet saat menghadapi segala macam halangan, rintangan dan cobaan, sekaligus mampu memelihara antusiasme dalam memperjuangkan apa yang telah kita tetapkan demi mewujudkan kesuksesan.

Sabtu, 28 September 2019

15.47 -

Bahaya karunia karismatik



Apakah Anda percaya pada mujizat? Suster Briege McKenna telah melakukannya. Sejak dia disembuhkan dari radang sendi yang melumpuhkan, dia telah melayani banyak orang sakit di seluruh dunia. Pada suatu hari saat hendak berdoa, ada seseorang yang datang minta tolong padanya untuk mendoakan saudaranya yang sedang sakit keras. Dalam keadaan bingung, dia lalu memutuskan untuk berdoa terlebih dahulu. 

Dalam doanya dia bertanya: “Tuhan, mengapa Engkau tidak mengizinkan aku pergi untuk mendoakan saat ini?” Jawab Tuhan dalam hatinya: “Siapa yang mengutusmu dan yang memberi kuasa? Sebelum kamu melayani, kamu harus terlebih dahulu menimba kekuatan pada-Ku seperti Yesus, Anak-Ku, Ia tidak berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya.” 

Ketika kita berdoa, Allah akan terus-menerus memasukkan spirit-Nya sehingga kita mempunyai keinginan seperti apa yang dikehendaki-Nya (Mzm 80:19; Flp 2:13; Rm 8:26-27). 

Ketika kita menerima kehendak Allah dalam setiap aspek kehidupan kita, kita menemukan bahwa Allah memberikan kita kekuatan, keberanian, dan martabat yang bergema sampai ke sorga. Hal ini bergema sampai ke sorga karena mereka tidak berada jauh darinya sorga segera berada di dalam hati kita (Mother Angelica). 


Marilah kita belajar dari Mat 7:21-23: 

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan (1) kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami (2A) bernubuat demi nama-Mu, dan (2B) mengusir setan demi nama-Mu, dan (2C) mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" 

» (1) Kehendak Allah adalah kebijaksanaan tertinggi. Oleh karena itu norma tertinggi di dalam kehidupan Kristiani adalah melakukan kehendak Allah. Yesus adalah teladan ketaatan dalam melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Ibr 10:7; Yoh 6:38; 4:34; Flp 2:8). 

Apa yang menjadi “hasrat” (keinginan/harapan yang kuat) Tuhan akan datang seiring dengan pengenalan atas kedaulatan Allah. Ketidakmampuan kita melakukan kehendak Tuhan (tidak taat), bukti kuat bahwa kita kurang mengenal Tuhan dengan benar. Jadi, antara melakukan kehendak Allah dan kehendak sendiri beti (beda tipis). 


(2ABC) Pelayanan karismatik mudah sekali mendapatkan penghargaan dari sesama manusia (Gal 1:10 » masih mau mencoba berkenan kepada manusia, bukanlah hamba Kristus). Oleh karena itu Yesus memberi peringatan keras agar kita tidak “gagal paham” dalam melakukan kehendak Allah. 

Akibat dari “gagal paham” ini menyebabkan kita tergelincir dalam dosa kesombongan, mencuri kemuliaan Tuhan sehingga kita tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Karunia Roh tidak bisa bergerak tanpa otoritas dari pemilik-Nya, yaitu Tuhan. 

Meskipun kita gagal paham dalam melakukan kehendak Allah, tetapi “mengapa mujizat masih terjadi?” Karena kamu minta sesuatu dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak (Yoh 14:13). 

Ingatlah! Kita hanyalah bejana tanah liat, kesanggupan kita adalah pekerjaan Allah. Ketika kita setia memikul tanggung jawab, giat selalu dalam pekerjaan Tuhan (senang dan rela ... oleh karena Kristus) maka “hukum alam” dipatahkan oleh-Nya (giat melakukan pekerjaan, tubuh akan mengalami kelelahan, namun ketika giat melakukan pekerjaan Tuhan, tubuh akan mengalami kebugaran). 

Kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kita (2 Kor 4:7; 2 Kor 3:5; Mat 25:23; 1 Kor 15:58; 2 Kor 12:10). Oleh karena itu janganlah ada kesombongan di hati ketika melayani dengan karunia karismatik, tetapi layanilah seorang akan yang lain oleh kasih (Gal 5:13). 

Jadi, apabila kita telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepada kita, hendaklah kita berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan." (Luk 17:10). 

Setiap orang awam, karena karunia-karunia yang diterimanya, menjadi saksi dan sarana hidup perutusan Gereja sendiri menurut ukuran anugerah Kristus (KGK 913).


(Sumber: Warta KPI TL No. 173/IX/2019 » Renungan KPI TL Tgl 22 Agustus 2019, Dra Yovita Baskoro, MM). 

15.43 -

Keikutsertaan awam dalam jabatan Kristus

[KGK 897] "Yang dimaksudkan dengan awam di sini adalah semua orang beriman kristiani kecuali mereka yang termasuk golongan imam atau status religius yang diakui dalam Gereja. Jadi kaum beriman kristiani, yang berkat Baptis telah menjadi anggota Tubuh Kristus, terhimpun menjadi Umat Allah, dengan cara mereka sendiri ikut mengemban tugas imamat, kenabian, dan rajawi Kristus, dan dengan demikian sesuai dengan kemampuan mereka melaksanakan perutusan segenap umat kristiani dalam Gereja dan dunia" (LG 31).



[KGK 898] "Berdasarkan panggilan mereka yang khas, kaum awam wajib mencari Kerajaan Allah, dengan mengurus hal-hal yang fana dan mengaturnya seturut kehendak Allah. Tugas mereka yang istimewa yakni: menyinari dan mengatur semua hal fana, yang erat-erat melibatkan mereka, sedemikian rupa, sehingga itu semua selalu terlaksana dan berkembang menurut kehendak Kristus, demi kemuliaan Sang Pencipta dan Penebus" (LG 31).

[KGK 899] Prakarsa para awam Kristen sangat dibutuhkan dalam usaha mencari sarana dan jalan, untuk meresapi keadaan-keadaan kemasyarakatan, politik, dan sosial ekonomi dengan tuntutan iman dan kehidupan Kristen. Tentu usaha ini termasuk kehidupan Gereja:

"Umat beriman atau lebih tepat lagi kaum awam, berdiri di garis terdepan kehidupan Gereja; melalui mereka Gereja adalah unsur kehidupan bagi masyarakat manusiawi. Oleh karena itu mereka, dan justru mereka, harus memiliki suatu keyakinan yang makin dalam, bahwa mereka tidak hanya termasuk dalam Gereja, tetapi merupakan Gereja, artinya, persekutuan kaum beriman di dunia di bawah bimbingan Paus sebagai kepala dan para Uskup yang bersatu dengan dia. Mereka adalah Gereja (Pius XII, Wejangan 20 Pebruari 1946, dikutip dalam CL 9).

[KGK 900] Kaum awam, seperti juga semua umat beriman, telah menerima dari Allah tugas kerasulan berkat Pembaptisan dan Penguatan; karena itu mereka mempunyai hak dan kewajiban, baik sendiri-sendiri maupun dalam persekutuan dengan orang lain, untuk berusaha supaya semua manusia di seluruh dunia mengenal dan menerima berita keselamatan ilahi. Kewajiban ini lebih mendesak lagi, apabila orang tertentu hanya melalui mereka dapat menerima Injil dan mengenal Kristus. Dalam persekutuan gerejani kegiatan mereka sekian penting, sehingga kerasulan pastor sering tidak dapat berkembang sepenuhnya tanpa mereka.

Keikutsertaan awam dalam jabatan Kristus sebagai imam

[KGK 901] Kaum awam sebagai "orang yang menyerahkan diri kepada Kristus dan diurapi dengan Roh Kudus, secara ajaib dipanggil dan disiapkan, supaya secara makin limpah menghasilkan buah Roh dalam diri mereka. Sebab semua karya, doa-doa dan usaha kerasulan mereka, hidup mereka selaku suami isteri dan dalam keluarga, jerih payah mereka sehari-hari, istirahat bagi jiwa dan badan mereka, bila dijalankan dalam Roh, bahkan beban-beban hidup bila ditanggung dengan sabar, menjadi kurban rohani, yang dengan perantaraan Yesus Kristus berkenan kepada Allah. Kurban itu dalam perayaan Ekaristi, bersama dengan persembahan tubuh Tuhan, penuh khidmat dipersembahkan kepada Bapa. Demikianlah para awam pun sebagai penyembah Allah, yang di mana-mana hidup dengan suci, membaktikan dunia kepada Allah" (LG 34) (Bdk. LG 10).

[KGK 902] Secara khusus orang-tua mengambil bagian dalam pelayanan pengudusan, "dengan hidup berkeluarga dalam semangat kristiani serta mengusahakan pendidikan kristiani anak-anak mereka" (CIC, can. 835 § 4).

[KGK 903] Kalau memenuhi semua persyaratan, para awam dapat dilantik untuk pelayanan tetap sebagai lektor atau akolit (Bdk. CIC, can. 230 §1). "Di mana kebutuhan Gereja memintanya, dan bila tidak ada pelayan-pelayan rohani, juga kaum awam meskipun bukan lektor atau akolit, dapat menjalankan beberapa tugas, yakni melakukan pelayanan sabda, memimpin doa-doa liturgis, memberikan permandian, dan membagikan Komuni Suci, menurut ketentuan-ketentuan hukum" (CIC, can. 230 § 3).

Keikutsertaan awam dalam jabatan Kristus sebagai nabi

[KGK 904] "Kristus Nabi Agung telah memaklumkan Kerajaan Bapa dengan kesaksian hidup maupun kekuatan sabda-Nya. Ia menunaikan tugas kenabian-Nya hingga penampakan kemuliaan sepenuhnya bukan saja melalui hierarki ... melainkan juga melalui para awam"(LG35).

"Pelajaran yang membawa pertobatan kepada iman ... dapat menjadi tugas setiap pengkotbah, malahan setiap orang beriman" (Tomas Aqu., s.th. 3,71,4, ad 3).

[KGK 905] Kaum awam melaksanakan tugasnya sebagai nabi juga melalui penginjilan, "yakni pewartaan Kristus, yang disampaikan dengan kesaksian hidup dan kata kata". Pewartaan yang dijalankan oleh kaum awam ini "memperoleh ciri yang khas dan daya guna yang istimewa justru karena dijalankan dalam keadaan-keadaan biasa dunia ini" (LG 35).

"Kerasulan semacam itu tidak hanya terdiri dari kesaksian hidup saja. Rasul yang sejati mencari kesempatan-kesempatan untuk mewartakan Kristus dengan kata-kata baik kepada mereka yang tidak beriman ... maupun kepada kaum beriman" (AA 6) (Bdk. AG 15).

[KGK 906] Awam beriman, yang mampu dan yang berpendidikan khusus, dapat juga turut bekerja dalam pelajaran katekese (Bdk. CIC, cann. 774; 776; 780), ilmu pengetahuan teologi, (Bdk. CIC, can. 229) demikian juga dalam kerasulan media komunikasi (Bdk. CIC, can. 823 §1).

[KGK 907] "Sesuai dengan pengetahuan, kompetensi, dan kedudukannya, mereka mempunyai hak, bahkan kadang-kadang juga kewajiban untuk menyampaikan kepada para gembala rohani pendapat mereka tentang hal-hal yang termasuk kesejahteraan Gereja dan untuk memberitahukannya kepada kaum beriman kristiani lainnya, tanpa mengurangi keutuhan iman serta kesusilaan dan sikap hormat terhadap para gembala, dan dengan memperhatikan manfaat umum serta martabat pribadi orang" (CIC, can. 212 §3).

Keikutsertaan awam dalam jabatan Kristus sebagai raja

[KGK 908] Oleh ketaatan-Nya sampai mati, (Bdk. Flp 2:8-9) Kristus telah memberi kepada murid-murid-Nya anugerah kebebasan rajawi, supaya mereka "dengan mengingkari diri serta hidup suci mengalahkan Kerajaan dosa dalam diri mereka sendiri" (LG 36).

"Barang siapa menaklukkan tubuhnya dan menjadi tuan atas jiwanya, tanpa membiarkan diri dibanjiri oleh nafsu-nafsu, ia dapat disebut raja, karena ia dapat menguasai pribadinya. Ia bebas dan tidak bergantung dan tidak membiarkan diri dikuasai oleh perhambaan dosa" (Ambrosius, psal. 118, 14,30).

[KGK 909] "Selain itu hendaklah kaum awam dengan kerjasama yang erat menyehatkan lembaga-lembaga dan kondisi-kondisi masyarakat, bila ada yang merangsang untuk berbuat dosa. Maksudnya yakni supaya itu semua disesuaikan dengan norma-norma keadilan, dan menunjang pengamalan keutamaan-keutamaan, bukan malahan merintanginya. Dengan demikian mereka meresapi kebudayaan dan kegiatan manusia dengan nilai moral" (LG 36).

[KGK 910] "Kaum awam dapat juga merasa dirinya terpanggil atau dapat dipanggil, untuk bekeja sama dengan para gembala mereka dalam melayani persekutuan gerejani, demi pertumbuhan dan kehidupan persekutuan itu. Dalam pada itu mereka dapat mengambil alih pelayanan yang sangat berbeda-beda, sesuai dengan rahmat dan karisma yang Tuhan anugerahkan kepada mereka (EN 73).

[KGK 911) Di dalam Gereja "orang-orang beriman kristiani awam dapat diikut-sertakan [dalam pelaksanaan kuasa yurisdiksi] menurut hukum" (CIC, can. 129 § 2). Misalnya mereka dapat mengambil bagian dalam konsili lokal (CIC, can. 443 § 4) dan sinode diosesan, (CIC, can. 463 §§ 1.2) menjadi anggota dewan pastoral, (CIC, cann. 511; 536) dapat turut serta dalam suatu tim pastoral paroki, CIC, can. 517 § 2) dapat turut bekerja dalam dewan keuangan (CIC, cann. 492 § 1; 536) dan menjadi anggota pengadilan gerejani (CIC, can. 1421 § 2).

[KGK 912] "Demi terlaksananya tata-keselamatan hendaklah kaum beriman belajar membedakan dengan cermat antara hak-hak dan kewajiban-kewajiban mereka selaku anggota Gereja, dan hak-hak serta kewajiban-kewajiban mereka sebagai anggota masyarakat manusia. Hendaklah mereka berusaha memperpadukan keduanya secara selaras, dengan mengingat, bahwa dalam perkara duniawi mana pun mereka wajib menganut suara hati kristiani. Sebab tiada tindakan manusiawi satu pun, juga dalam urusan-urusan duniawi, yang dapat dilepaskan dari kedaulatan Allah" (LG 36).

[KGK 913] "Demikianlah setiap orang awam, karena karunia-karunia yang diterimanya, menjadi saksi dan sarana hidup perutusan Gereja sendiri menurut ukuran anugerah Kristus (Ef4:7)" (LG 33).

(Sumber: Warta KPI TL No. 173/IX/2019 » KGK 897-913).