Rabu, 01 Mei 2019

05.17 -

Luk 11:15-26

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Jumat, 12 Oktober 2018: Hari Biasa XXVII - Tahun B/II (Hijau)
Bacaan: Gal 3:7-14; Mzm 111:1-2, 3-4, 5-6; Luk 11:15-26

Jumat, 11 Oktober 2019: Hari Biasa XXVII - Tahun C/I (Hijau)
Bacaan: Yl 1:13-15; 2:1-2; Mzm 9:2-3, 6, 16, 8-9; Luk 11:15-26


Tetapi ada di antara mereka yang berkata: "Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan." Ada pula yang meminta suatu tanda dari sorga kepada-Nya, untuk mencobai Dia. 

Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: (1) "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata, bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Jadi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Sebab itu merekalah yang akan menjadi hakimmu. Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.

Apabila seorang yang kuat dan yang lengkap bersenjata menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya. Tetapi jika seorang yang lebih kuat dari padanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata, yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya.

Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan."

"Apabila roh jahat keluar dari manusia, ia pun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian, dan karena ia tidak mendapatnya, ia berkata: (2) Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu bersih tersapu dan rapi teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya, dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk dari pada keadaannya semula."


Renungan


1. Roh jahat selalu kembali untuk menggoda

Kita mengalami betapa tidak mudahnya bertobat. Setiap kali kita membersihkan diri dari segala dosa melalui sakramen rekonsiliasi, kita selalu saja jatuh ke dalam dosa. Lagi, lagi dan lagi. 

Ya memang begitulah. Roh jahat akan selalu kembali kepada kita untuk menggoda dan membuat kita kembali jatuh dalam dosa.

Hal ini terjadi pada orang yang rajin membersihkan diri dengan mengaku dosa, apalagi bagi yang tidak pernah atau jarang mengaku dosa. Oleh karena itu, justru karena kita menyadari bahwa roh jahat selalu ingin masuk ke dalam pikiran dan perasaan kita sehingga kita mudah sekali berbuat dosa dalam perkataan dan tindakan, maka kita harus semakin sering dan tekun membersihkan diri. Bukan sebaliknya.

Kita tidak boleh berpikir: buat apa mengaku dosa kalau toh berbuat dosa lagi. Kalau kita berpikir begitu, itu sama artinya kita berpikir: buat apa mandi kalau toh badan kita kotor lagi.

Dengan pengakuan dosa, kita tidak hanya mendapatkan pengampunan atas dosa-dosa kita tetapi juga mendapatkan tenaga dan kuasa untuk mengusir setan yang senantiasa ingin menggoda dan menaklukkan kita.


2. Berpikir positif

(1) Melalui peristiwa ini, Yesus mengajak orang-orang itu untuk berpikir positif dan logis serta terbuka. 

2) Saat kita lemah, kita mudah untuk berpikir negatif tentang sesama atau dengan mudah menghakimi sesama tanpa alasan yang jelas. Ini pertanda bahwa hidup kita dikuasai oleh iblis.

Melalui doa, Ekaristi dan mendengarkan Sabda-Nya, kita hidup dan berada bersama Yesus. Saat berada bersama Yesus, kita dimampukan untuk memaknai hidup secara positif lewat pikiran, perkataan dan perbuatan, untuk menerima sesama apa adanya, kekurangan dan kelebihannya sebagai berKat.

05.01 -

Luk 11:27-28

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Sabtu, 13 Oktober 2018: Hari Biasa XXVII - Tahun B/II (Hijau)
Bacaan: Gal 3:22-29; Mzm 105:2-3, 4-6, 6-7; Luk 11:27-28

Sabtu, 12 Oktober 2019: Hari Biasa XXVII - Tahun C/I (Hijau)
Bacaan: Yl 3:12-21; Mzm 97:1-2, 5-6, 11-12; Luk 11:27-28


Ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya: "Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau." Tetapi Ia berkata: (*) "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya."


Renungan


1. Apakah Yesus menyangkal Maria?

Tidak! Yesus ingin mengajarkan bahwa barangsiapa yang melakukan kehendak Bapa-Nya adalah anggota keluarga-Nya dalam Allah. 

Yesus mengatakan bahwa Bunda Maria pertama-tama adalah seseorang yang melakukan kehendak Allah Bapa. Oleh ketaatannya ini, Tuhan Yesus Sang Juru Selamat dapat datang ke dunia menjadi manusia dan tinggal di tengah- tengah kita (Yoh 1:14). Ketaatannya tidak terlepas dengan sifat kerendahan hatinya (Luk 1: 38 - aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu).

Tuhan telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia (Luk 1:48). Nubuat ini akan terpenuhi jika seseorang meneladani Bunda Maria dan setiap kali mendoakan doa Salam Maria.


2. Kebahagiaan sejati

(*) Inilah yang perlu dicari oleh manusia, mencari kebahagiaan sejati dalam sabda Allah. Sabda Allah itu harus memenuhi hati sedemikian rupa, sehingga tidak memberi kesempatan bagi roh jahat untuk berdiam di dalamnya dan menguasainya.

[Yak 1:21 》Firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu].

Kebahagiaan sejati adalah soal kedekatan kita pada Tuhan serta bagaimana kita mau mendengarkan suara-Nya dan bukan suara dunia. Kalau ada kebahagiaan yang sejati, mengapa terkadang kita masih mengejar kebahagiaan yang sementara?

04.50 -

Mrk 10:17-30

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Minggu, 14 Oktober 2018: Hari Minggu Biasa XXVIII - Tahun B/II (Hijau)
Bacaan: Keb 7:7-11; Mzm 90:12-13, 14-15, 16-17; Ibr 4:12-13; Mrk 10:17-30


Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"

Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorang pun yang baik selain dari pada Allah saja. Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!"

Lalu kata orang itu kepada-Nya: "Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku." Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: (1) "Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."

Mendengar perkataan itu (2) ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya. Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah."

Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: "Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."

Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?" Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah."


Renungan


1. Cita-cita rohani: hidup kekal

(1, 2) Yesus memberikan kepadanya tantangan baru: sebuah cara dan pilihan hidup yang lebih mendalam, bukan hanya sekedar melaksanakan hukum dan peraturan. Kekayaannya telah menghambatnya untuk meraih cita-cita rohaninya (hidup kekal). Ia gagal menjadi pengikut Yesus yang mengantarnya kepada keselamatan.

Hidup yang kekal (= hidup sepenuh-penuhnya) diberikan kepada setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus (Kamus Alkitab; Yoh 3:16, 36); mengenal Tuhan, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah diutus-Nya (Yoh 17:3).

Yesus sungguh menaruh kasih pada kita. Dia tidak mau kita gagal untuk mencapai hidup kekal. Orang-orang yang hidup bersama Yesus sebetulnya sudah mengalami indahnya hidup kekal itu, bukan hanya nanti setelah kematian, tetapi sejak sekarang di dunia ini.

Tuhan Yesus memberkati.


04.38 -

Maafkan istriku ... aku terlambat jatuh cinta padamu

Rumah masih ramai setelah pulang dari pemakaman, kepalaku masih pusing karena tak bisa menahan tangis melihat jasad terakhir istriku dimasukkan ke liang lahat. 

Aku makin tak bisa menahan airmata saat melihat anak-anak menangis memandangi tanah yang menimbun ibu mereka. Lama aku diam di pemakaman, mengingat kembali saat istriku masih ada. 

Aku ingat semua dosaku, kesalahanku, mulut kasarku, ketidak pedulianku, bahkan yang paling aku ingat membiarkan dia berpikir sendiri tentang keuangan keluarga. 

Aku pikir saat di pemakaman adalah momen tersedih yang aku alami sepanjang hidupku, ternyata itu belum apa-apa. Banyak kepiluan lain yang membuatku hancur. 

Putriku yang berusia 5 tahun beberapa kali berlari ke kamar sambil memanggil ibunya. Sepertinya dia lupa bahwa ibunya telah tiada. Kemudian ia keluar lagi dengan wajah kecewa. Malam berlalu tanpa aku bisa melelapkan mata sedetikpun. Rasanya rumah ini sunyi dan hampa. 

Hingga tibalah hari yang membuat aku amat sedih. Yaitu hari ketika anak-anak mulai masuk sekolah. 

Pagi itu mereka semua sudah bangun, aku kebingungan, anak-anakku juga seperti bingung mau berbuat apa. 

Biasanya pagi kami selalu dibangunkan, disuruh mandi dan berdoa, disiapkan pakaian, dibuatkan sarapan dan kami berangkat dalam keadaan rapi dan perut yang sudah kenyang. 

Hari ini kami hanya terdiam. Aku menyuruh anak-anak melihat makanan di kulkas tapi yang ada hanya bahan mentah. Rumah yang biasanya rapi nampak berantakan. Aku pergi membeli sarapan untuk kami berempat. Saat membayar aku kaget uang 50 ribu tanpa kembalian. Padahal selama ini aku memberi uang 50 ribu kepada istriku cukup untuk makan kami sampai malam. 

Kadang-kadang aku marah-marah kalau dia minta tambahan. Aku bawa sarapan pulang dan anak-anak sudah menunggu di meja makan. Sudah jam 7.30 biasanya mereka sudah diantar ke sekolah semuanya diantar istriku berbarengan, sementara aku baru pulang beli sarapan. Dalam hati kalau terlambat semoga dimaklumi karna habis kemalangan. Aku makin merasa kacau saat jam sudah menuju jam 8 dan anak-anak belum diantar semua. 

Aku benar-benar kehilangan seorang dewa dalam rumah kami. Inikah yang selama ini dilakukan istriku? Mengapa aku selalu menganggap dia tak ada kerjaan. Selalu menganggap sepele pekerjaan seorang ibu?

Aku masih linglung ditempat kerja. Masih banyak teman-teman yang menghampiri mengucapkan belasungkawa. Hingga aku ditelpon oleh walikelas anak ku yang masih TK katanya anak-anak udah pulang tapi belum ada yang jemput, aku minta ijin pergi menjemput anak dan jam 12 anakku yang no 2 juga menelpon minta dijemput karna udah pulang. 

Selama ini aku tak tau satupun jadwal mereka. Aku hanya bekerja dan tak peduli dengan itu semua. Anakku yang besar pulang jam 2 artinya aku tak bisa kembali ke tempat kerja. 

Sampai di sekolah anakku, aku masih melihat di depan sekolah masih ada bekas darah saat istriku kecelakaan 3 hari lalu, kecelakaan yang serta merta merenggut nyawanya saat menjemput anak sulungku. 

Sampai di rumah anak-anak nampak kelaparan. Ternyata aku tak tau manajemen waktu sehebat almarhumah istriku. 

Aku harus ke warung makan lagi untuk pergi membeli makan siang. Begitupun nantinya makan malam. Sehingga tidak kurang dari 200 ribu sampai malam. Aku berpikir ini baru 1 hari, bagaimana kalau 1 bulan. Gajiku tidak akan cukup untuk kami berempat. 

Ya Tuhan. Indah sekali caramu menegurku. Begitu kacaunya hidupku tanpa istriku, keuangan makin amburadul, anak-anak tak terurus, makanan favoritku tidak ada lagi. Rumah dan tanaman seperti hilang aura karna tak ada yang merawat dan membersihkan. 

Aku masih sempat merasa wanita di luaran lebih cantik dari istriku. Andai aku bisa menebus apapun yang telah aku lakukan kepada istriku selama ini. Aku ingin memperbaikinya. Aku ingin membantunya, menyayanginya sepenuh hati dan tak akan pernah berkata kasar kepadanya. 

Dia begitu lelah setiap hari, tapi sepulang kerja aku masih sering membentaknya. Saat dia minta tambahan belanja aku berkata kasar kepadanya. Dia saat aku jadikan istri, rela berpisah dengan anggota keluarga besarnya, hidup susah payah dan sederhana denganku.

Maafkan aku istriku, andai aku bisa menebus semua kesalahanku, satu hari saja tanpamu kami seperti anak ayam kehilangan induknya. Berserakan. 

Saat berdoa aku kembali menangis sejadi-jadinya. Andai bisa kutebus, aku ingin menebus meski dengan nyawaku. Aku mau dia yang hidup menjaga anak-anak dan biarlah aku yang menghadap-Mu. Ini sangat berat bagiku apalagi bagi anak-anakku. Demikian doa tengah malamku.

Jujur selama ini aku tak dekat dengan anak-anak. Mereka selalu sama ibunya. Aku hanyalah kerja, pulang, tidur dan kerja lagi. Aku tak tau apa-apa tentang urusan anak dan rumah. 

Istriku, aku berdoa semoga lelahmu jadi ibadah, semoga semua yang kau lakukan untuk kami membawamu ke surga, semoga engkau bahagia di alammu. 

Kali ini aku benar-benar menangis tersedu-sedu sambil membayangkan wajahmu. Kau tak pernah mengeluh dengan pekerjaanmu, kau tak pernah meminta sesuatu yang aku tak sanggup membelinya. Kau jalani semua dengan sabar dan aku merasa belakangan jarang memperhatikanmu. Jarang bertanya bagaimana anak-anak kita, jarang bertanya bagaimana hari-harimu.

Kekasih hatiku. Mengapa aku jatuh cinta padamu justru setelah engkau tiada. Tidak akan ada yang menggantikan dirimu dihatiku. Mengapa rasa cinta ku padamu menggebu-gebu saat dirimu sudah berada dipusara. 

Maafkan aku istriku.

Biasanya kita baru menyadari arti keberadaan orang yang kita cintai ... disaat dia tak lagi ada bersama kita

03.38 -

Luk 11:29-32

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Rabu, 21 Februari 2018: Hari Biasa Pekan I Prapaskah - Tahun B/II (Ungu)
Bacaan: Yun 3:1-10; Mzm 51:3-4, 12-13, 18-19; Luk 11:29-32

Senin, 15 Oktober 2018: PW St. Teresa dari Avila, Perawan dan Pujangga Gereja - Tahun B/II (Putih)
Bacaan: Gal 4:22-24, 26-27, 31 – 5:1; Mzm 113:1-2, 3-4, 5a, 6-7; Luk 11:29-32

Senin, 14 Oktober 2019: Hari Biasa XXVIII - Tahun C/I (Hijau)
Bacaan: Rm 1:1-7; Mzm 98:1, 2-3ab, 3cd-4; Luk 11:29-32


Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus: (2A) "Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. (3) Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain (1) tanda nabi Yunus.

Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah (2B) Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo!

Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!"


Renungan


1. Bertobatlah, Kerajaan Allah sudah dekat

(1) Pada zaman nabi Yunus, orang-orang Niniwe bertingkah tidak baik. Maka Tuhan mengutus nabi Yunus untuk menyampaikan pesan kepada orang-orang Niniwe, bahwa dalam waktu empat puluh hari jika Niniwe tidak bertobat maka Niniwe akan dihancurkan. Apa yang terjadi selanjutnya, Niniwe berpuasa dan akhirnya bertobat.

(2AB) Mereka telah berulangkali melihat tindakan Yesus mulai dari membuat mujizat sampai meyembuhkan orang yang sakit. Tapi sepertinya mereka belum percaya juga karena itu.

Tuhan Yesus ingin menjadikan dirinya tanda bagi dunia bahwa kerajaan Allah sudah datang. Namun Kita seringkali menjadikan diri kita orang yang kurang percaya. Kita cenderung menuntut tanda yang dapat ditangkap oleh indra.

Mari kita mengubah sikap kita mulai dengan hal-hal kecil. Kita dapat mulai sikap percaya kita dengan percaya pada Tuhan yakni dengan cara percaya bahwa Ia senantiasa hadir dalam orang-orang disekitar kita terutama yang membutuhkan.


2. Kesombongan rohani

Orang-orang Farisi dan ahli Taurat menuntut tanda-tanda dan mukjizat untuk memuaskan keingintahuan mereka. Mereka hanya ingin menyaksikan keajaiban dan mengaguminya semata; tanpa kemauan dan kesungguhan untuk mengakui, percaya, dan berserah kepada karya Ilahi.

Mereka tidak pernah membuka mata hati mereka sehingga mukjizat sebesar apapun tidak membuat mereka bertobat. Oleh karena itu, Yesus membandingkan mereka dengan penduduk Niniwe.

Mereka yang begitu jahat saja dapat dengan mudah mengakui kesalahan mereka dan berbalik kepada Allah saat mendengarkan seruan Yunus; sedangkan orang-orang Farisi dan ahli Taurat ini tidak.

Mereka adalah orang-orang yang diperbudak oleh kesombongan rohani; merasa paling benar; merasa menjadi orang-orang pilihan dan merasa lebih suci dari orang lain.

Saat seorang manusia menempatkan dirinya lebih dari sesamanya, ia dikuasai oleh dosa kesombongan. Ia merasa bahwa dirinya tidak sama dengan orang lain: entah ia merasa lebih beruntung atau lebih baik. Ia harus bertobat, menyadari dan mengakui bahwa kerahiman Allahlah yang memungkinkan ia dapat menikmati semua kelebihan itu.


3. Janji-Nya, ya dan amin

(3, 2B) Kehadiran Yesus dianggap belum menjadi tanda keselamatan bagi orang-orang sezaman-Nya. Padahal, Yesus telah memproklamirkan Kerajaan Allah, Dia telah melakukan banyak tanda dan mujizat dengan cara menyembuhkan orang sakit, menghibur orang yang menderita bahkan membangkitkan orang mati.

Tanda paling mulia dan besar bagi manusia adalah peristiwa salib dan kebangkitan-Nya. Tidak ada tanda yang lebih besar selain itu. Sekarang ini, masih banyak orang yang tidak percaya kepada Yesus karena tidak mengalami kehadiran-Nya dalam seluruh peristiwa hidup sehari-hari.

Padahal, bagi kita orang beriman, kita percaya bahwa Yesus selalu menyertai sampai akhir zaman. Jangan takut! Janji itu bukanlah janji kosong, tetapi Yesus akan selalu memeluk dan menyertai kita dalam kehidupan kita setiap saat sampai akhir zaman.

03.27 -

Luk 11:42-46

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya
 

Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Rabu, 17 Oktober 2018: Pw St. Ignasius dari Antiokhia, Uskup, Martir - Tahun B/II (Merah)
Bacaan: Gal 5:18-25; Mzm 1:1-2, 3, 4, 6; Luk 11:42-46; Ruybs.


Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab (1) kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.

Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab (2) kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar. Celakalah kamu, sebab (3) kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya."

Seorang dari antara ahli-ahli Taurat itu menjawab dan berkata kepada-Nya: "Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga." Tetapi Ia menjawab: "Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun.


Renungan


1. Jangan jadi munafik

Munafik itu bukan cacat keturunan, tetapi berkembang pada diri pribadi orang yang bersangkutan sendiri karena faktor dari luar yang macam-macam coraknya. Munafik sering diakibatkan karena pendidikan yang fanatik, dapat terjadi karena pergaulan dengan lingkungan, dimana orang-orang menjunjung tinggi tata-lahir dari aturan dan hidup keagamaan.

(1) Kesalahan dalam memilih prioritas nilai, artinya yang tambahan dijadikan pokok dan yang penting dijalankan malahan diabaikan. (2) Sikap sombong. (3) Suka berpura-pura dan suka menyembunyikan kejelekan dengan pura-pura suci atau mengenakan atribut pimpinan agama.

Kalau orang membiasakan diri dengan ibadat yang ritual, basa-basi dan melaksanakan aturan demi aturan. Serta tidak berpegang teguh pada firman Tuhan, maka yang muncul adalah kemunafikan. Kemunafikan tidak hanya menimpa diri perorangan, tetapi juga dalam komunitas, dalam kelompok atau lingkungan. Marilah kita renungan teguran Tuhan pada hari ini.

Tuhan Yesus memberkati.


02.57 -

Ef 4:1-6

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Jumat, 26 Oktober 2018:Hari Biasa XXIX  - Tahun B/II (Hijau)
Bacaan: Ef 4:1-6; Mzm 24:1-2, 3-4ab, 5-6; Luk 12:54-59


Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.

Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, (*) satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.


Renungan


1. Gereja yang mempersatukan

Di gereja, masing-masing kita memiliki latar belakang yang begitu berbeda: keluarga kita berbeda, warna kulit, asal-usul (suku), profesi, pendidikan dan hobi, namun kita bisa berkumpul dan (*) dipersatukan dalam satu ikatan keluarga Kerajaan Allah karena Darah Kristus dan Injil.

Tugas kita adalah mempertahankan persatuan dan kesatuan di antara jemaat agar gereja tetap menjadi tempat yang hangat. Hal itu akan terwujud apabila tiap jemaat memiliki kesadaran akan dirinya, bahwa mereka bukanlah tamu atau orang asing, melainkan kawan sewarga dalam keluarga Allah (Ef 2:19). Jadi, tidak perlu adanya rayuan atau paksaan untuk mengajak terlibat dan beraktivitas di gereja.

Ini adalah kesempatan untuk menunjukkan kasih tanpa pandang bulu bukan dalam ucapan saja, tetapi dalam perbuatan nyata.Akhirnya, gereja bisa menjadi kesaksian dan juga sarana yang efektif untuk menjangkau jiwa-jiwa!

Tuhan Yesus memberkati.