Rabu, 01 Mei 2019

02.40 -

Mrk 10:46-52

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Minggu, 28 Oktober 2018: Hari Minggu Biasa XXX - Tahun B/II (Hijau)
Bacaan: Yer 31:7-9; Mzm 126:1-2ab, 2cd-3, 4-5, 6; Ibr 5:1-6; Mrk 10:46-52


Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerikho. Dan ketika Yesus keluar dari Yerikho, bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong, ada seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, anak Timeus, duduk di pinggir jalan.

(1A) Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" (1B) Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak Daud, kasihanilah aku!"

Lalu (2A) Yesus berhenti dan berkata: "Panggillah dia!" Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya: "Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau." Lalu ia menanggalkan jubahnya, ia segera berdiri dan pergi mendapatkan Yesus.

Tanya Yesus kepadanya: (2B) "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang buta itu: "Rabuni, supaya aku dapat melihat!" Lalu kata Yesus kepadanya: "Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!" Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.


Renungan


1. Perjumpaan yang indah

Disekitar kita ada cukup banyak orang yang sebenarnya membutuhkan bantuan. Ada yang membutuhkan makanan, bantuan dana untuk biaya sekolah, pekerjaan, kesembuhan dari penyakit, dukungan doa-doa kita dan lain sebagainya. Namun seringkali terjadi, kita tidak bertindak untuk mengulurkan tangan.

(1A) Bartimeus mendengar tentang Yesus dan Karya-Nya. Dia ingin disembuhkan dan percaya Tuhan Yesus dapat menyembuhkan dia. (1B) Apakah Bartimeus menyerah? Tidak! Dia sadar karena dirinya buta, dia harus berteriak dengan lantang agar Tuhan Yesus mendengarnya. Dia tidak mau keadaannya menjadi penghalang bagi dirinya untuk mencari Tuhan.

(2AB) Yesus mampu mendengar adanya sebuah seruan minta tolong dari Bartimeus, salah seorang pengemis. Ia mau berhenti, mengajaknya bercakap-cakap untuk mengetahui harapan Bartimeus dan mengabulkannya.

Perjumpaan Yesus dan Bartimeus ini sungguh indah. Kisah perjumpaan Sang Penolong dengan orang yang hendak ditolong-Nya. Semoga kita juga memiliki hati yang penuh kasih sehingga berani menawarkan bantuan kepada yang membutuhkan , meski bantuan itu sekecil apapun.

Tuhan Yesus memberkati.


02.20 -

2 Mak 12:43-45

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)
  

Penanggalan liturgi

Jumat, 2 November 2018: Pengenangan arwah semua orang beriman - Tahun B/II (Ungu)
Bacaan: 2 Mak 12:43-45; Mzm 130:1-2, 3-4, 5-6a, 6-7, 8; 1 Kor 15:12-34; Yoh 6:37-40


Kemudian dikumpulkannya uang di tengah-tengah pasukan. Lebih kurang dua ribu dirham perak dikirimkannya ke Yerusalem untuk mempersembahkan korban penghapus dosa. Ini sungguh suatu perbuatan yang sangat baik dan tepat, oleh karena Yudas memikirkan kebangkitan. Sebab jika tidak menaruh harapan bahwa orang-orang yang gugur itu akan bangkit, niscaya percuma dan hampalah mendoakan orang-orang mati.

Lagipula Yudas ingat bahwa tersedialah pahala yang amat indah bagi sekalian orang yang meninggal dengan saleh. Ini sungguh suatu pikiran yang mursid dan saleh. Dari sebab itu maka disuruhnyalah (*) mengadakan korban penebus salah untuk semua orang yang sudah mati itu, supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka.


Renungan


1. Mendoakan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal

(*) Sudah sejak zaman dahulu Gereja menghargai peringatan akan orang-orang mati dan membawakan doa dan terutama kurban Ekaristi untuk mereka, supaya mereka disucikan dan dapat memandang Allah dalam kebahagiaan. Gereja juga menganjurkan amal, indulgensi, dan karya penitensi demi orang-orang mati.

"Baiklah kita membantu mereka dan mengenangkan mereka. Kalau anak-anak Ayub saja telah disucikan oleh kurban yang dibawakan oleh bapanya (Bdk. Ayb 1:5), bagaimana kita dapat meragukan bahwa persembahan kita membawa hiburan untuk orang-orang mati? Jangan kita bimbang untuk membantu orang-orang mati dan mempersembahkan doa untuk mereka" (Yohanes Krisostomus, hom. in 1 Cor 41,5) (KGK 1032).

Prinsip dasar ajaran Gereja Katolik untuk mendoakan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal adalah adanya Persekutuan Orang Kudus yang tidak terputuskan oleh maut (Rm 8:38-39), kita mengamalkan kasih kepada mereka yang sangat membutuhkannya.

Betapa indahnya pengajaran ini! Kita semua disatukan oleh kasih Kristus: kita yang masih hidup dapat mendoakan jiwa-jiwa yang berada di Api Penyucian, dan jika kelak mereka sampai di sorga, merekalah yang mendoakan kita agar juga sampai ke sorga.


2. Persekutuan Para Kudus

Gereja Katolik mengajarkan, bahwa persekutuan Gereja kita terdiri dari tiga bagian yang tak terpisahkan: Gereja Pejuang (kita di dunia, yang setiap hari berjuang demi keselamatan kita), Gereja Menderita (jiwa-jiwa di Api Penyucian, tidak lagi dapat berdoa untuk dirinya sendiri) dan Gereja Jaya (para malaikat dan para kudus di sorga). Persekutuan ini membentuk Tubuh Mistik Kristus dan saling bekerja sama dalam mempertahankan fondamen Gereja.

Jika kita, Gereja Pejuang, lalai berdoa bagi jiwa-jiwa para saudara kita di Api Penyucian (Gereja Menderita), berarti kita ikut melemahkan fondamen Gereja. Karena itu, Gereja tak henti-hentinya mendorong umat beriman untuk mempersembahkan doa-doa dan Misa Kudus bagi jiwa-jiwa yang telah meninggal dunia. 

Mendoakan arwah orang beriman termasuk perbuatan mulia. Namun, janganlah terpengaruh kebiasaan tradisi leluhur, setelah mendoakan arwah keluarganya, sekalian minta kepada arwah keluarganya itu supaya memberi rejeki dan melindungi mereka yang hidup, apalagi arwah tersebut adalah orangtuanya. Ingatlah! Segala sesuatu yang kita minta kepada arwah atau roh lainnya yang bukan Roh Allah adalah perbuatan yang dilarang dan dikategorikan: Berhala! (Yes 8:19).

Percayalah, berkat belas kasih Tuhan, doa-doa kita itu punya daya dan makna bagi mereka yang kita doakan. Jika yang kita doakan sudah berada di Gereja Jaya, doa kita tidak sia-sia karena doa kita akan dialihkan kepada arwah lain, yang tidak ada yang mendoakan. Ketika mereka telah terbebas dari penderitaan dan menikmati sukacita sorgawi, mereka tidak melupakan/tak henti-hentinya berdoa bagi kita yang telah mendoakannya.

02.11 -

Luk 14:1, 7-11

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Sabtu, 3 November 2018: Hari Biasa XXX - Tahun B/II (Hijau)
Bacaan: Flp 1:18b-26; Mzm 42:2, 3, 5bcd; Luk 14:1, 7-11


Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: "Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu, supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah.


Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."


Renungan


1. Kerendahan hati datang dari mana?

Pada dasarnya, kita semua suka dipuji dan dihormati. Tidak ada manusia yang tidak ingin diberi penghargaan. Yang jadi masalah, adalah kita mengambil kehormatan yang bukan milik kita, melainkan milik Tuhan. 

Yesus tahu, bahwa mayoritas orang gila hormat, maka Dia mengajarkan perumpamaan ini agar kita bisa saling melayani satu sama lain dengan rendah hati.

KERENDAHAN HATI DATANG DARI

(1) KESADARAN BAHWA KITA INI KECIL, BUKAN SIAPA-SIAPA. Semakin seseorang merasa cukup pintar, dia tidak akan belajar apa-apa lagi.

Seorang yang besar biasanya memakai ilmu padi dalam hidupnya, semakin berisi semakin merunduk. Semakin dia tahu, semakin dia merasa tidak perlu sok tahu. Semakin dia kaya, dia malah semakin merasa makin jadi bukan siapa-siapa. Semakin dia berkuasa, makin dia terbeban untuk melayani orang di bawahnya.

(2) KETIKA KITA MENGENAL KESEMPURNAAN. Orang yang rendah hati tahu bahwa di atas dia masih ada yang lebih sempurna lagi.

Kita akan makin rendah hati jika kita memandang Allah yang sempurna dan besar itu, yang memberi kita kemampuan.

Tuhan Yesus memberkati.


1 Kor 3:9b-11, 16-17

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)
  

Penanggalan liturgi

Jumat, 9 November 2018: Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran - Tahun B/II (Putih)
Bacaan: Yeh 47:1-2, 8-9, 12; Mzm 46:2-3, 5-6, 8-9; 1 Kor 3:9b-11, 16-17; Yoh 2:13-22


Kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah. Sesuai dengan kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.

Tidak tahukah kamu, bahwa (*) kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu.


Renungan


1. Kita adalah Bait Allah

Kita harus menjadi bait Allah yang sejati dan hidup. Pada saat kelahiran kita yang pertama, kita adalah bejana-bejana kutukan Allah; dilahirkan kembali, kita menjadi bejana-bejana belas kasih-Nya. Kelahiran kita yang pertama membawa kematian bagi kita, sedangkan kelahiran kita yang kedua memulihkan diri kita kepada kehidupan (Santo Caesarius dari Arles).

Allah ingin masuk ke dalam jiwa kita. Ia menginginkan agar jiwa kita tidak berada dalam kegelapan, tetapi terang pekerjaan-pekerjaan baik bercahaya dalam diri kita. Jadi, janganlah merusak bait Allah yang hidup dalam diri kita dengan noda-noda dosa.

Tuhan Yesus memberkati.


00.24 -

Flp 4:10-19

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Sabtu, 10 November 2018: Pw St. Leo Agung, Paus, Pujangga - Tahun B/II (Putih)
Bacaan: Flp 4:10-19; Mzm 112:1-2, 5-6, 8a, 9; Luk 16:9-15


Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu.

Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab (2) aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. (3) Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. (1) Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

Namun baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku. Kamu sendiri tahu juga, hai orang-orang Filipi; pada waktu aku baru mulai mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari Makedonia, tidak ada satu jemaat pun yang mengadakan perhitungan hutang dan piutang dengan aku selain dari pada kamu.

Karena di Tesalonika pun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku. Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu.

Kini aku telah menerima semua yang perlu dari padamu, malahan lebih dari pada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah. Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.


Renungan


1. Lebih dari seorang pemenang

(1) Pernyataan Paulus ini sangat luar biasa, ia lebih dari seorang pemenang. Ia dapat melakukan segala perkara melalui kuasa Tuhan. Sebelum kita mengenal Tuhan, kita hidup dalam kekalahan, hidup tanpa kuasa.

Ciri orang yang bergantung pada Tuhan (2), mampu menerima situasi apa adanya. Manusia yang mencukupkan diri akan tahu bagaimana bergantung kepada Tuhan, tidak bergantung pada keadaan eksternal, sehingga di dalam hatinya akan tenang, stabil secara emosional.

Hati yang mencukupkan diri tidak muncul secara alami ketika kita lahir, tetapi harus dipelajari. Berlawanan dengan sifat alami manusia, yaitu: tamak.

(3) Tuhan menggunakan dua situasi yang berbeda ini untuk mengetahui respon kita (kemurnian hati kita). Jika kita dapat menggunakan sikap yang tepat dalam menghadapi kekurangan, maka itu akan membantu pertumbuhan kehidupan rohani kita. Jika kita tetap bergantung kepada Tuhan secara terus menerus pada saat kekurangan, hubungan kita dengan Tuhan akan semakin dalam.

Tuhan Yesus memberkati.


00.13 -

Mrk 12:38-44

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Sabtu, 9 Juni 2018: PW Hati Tersuci Santa Perawan Maria - Tahun B/II (Putih)


Bacaan: 2 Tim 4:1-8; Mzm 71:8-9, 14-15a, 16-17, 22; Mrk 12:38-44; atau Yes 6:9-11; MT 1 Sam 2:1, 4-5, 6-7, 7abcd; R 1a; Luk 2:41-51)

Minggu, 11 November 2018: Hari Minggu Biasa XXXII - Tahun B/II (Hijau)
Bacaan: 1 Raj 17:10-16; Mzm 146:7, 8-9a, 9bc-10; Ibr 9:24-28; Mrk 12:38-44


Dalam pengajaran-Nya Yesus berkata: (1) "Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan, yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat."

Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan (2A) dua peser, yaitu satu duit.

Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini (2B) memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya."


Renungan


1. Semangat keagamaan yang mendalam

(1) Yesus menunjukkan bahwa gelar keagamaan, atribut keagamaan dan tindakan saleh keagamaan hendaknya dilakukan dengan semangat yang benar. Jangan hanya dipermukaan saja, atau hanya supaya tidak dicap sebagai ateis, kafir dan tidak beragama.

Bahkan jangan sampai gelar keagamaan, identitas keagamaan dan tindak keagamaan diungkapkan sebagai bentuk gila hormat. Ini adalah bentuk keserakahan yang muncul dalam hidup keagamaan.

(2AB) Yesus menunjukkan semangat keagamaan yang mendalam. Janda miskin ini tidak malu dengan kemiskinannya. Ia tidak menunggu kaya dan banyak harta dalam memberi persembahan. Sungguh suatu tindakan keagamaan yang mengagumkan


2. Cinta - berani berkurban

Yesus memuji janda miskin, yang sekalipun menyumbang sedikit, namun ia memberikan dengan ketulusan hati, seluruh nafkahnya. Janda miskin ini dipuji karena ia mendermakan kekayaan yang sedikit itu dengan seluruh hatinya, tanpa memikirkan apapun selain keikhlasan hati.

Kita juga dipanggil untuk belajar dari janda miskin tersebut. Berani dengan ikhlas tanpa pamrih berkurban menyerahkan sebagian dari apa yang kita miliki untuk kepentingan sesama, itulah panggilan mulia yang hendak kita hidupi. Jumlah kecil yang dikurbankan lebih berharga dari jumlah besar yang tanpa disertai kurban. Cinta adalah keberanian untuk berkurban tanpa menuntut imbalan.


00.03 -

Luk 17:1-6

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Senin, 12 November 2018: Pw St. Yosafat, Uskup, Martir - Tahun B/II (Merah)
Bacaan: Tit 1:1-9; Mzm 24:1-2, 3-4ab, 5-6; Luk 17:1-6; Ruybs.

Senin, 11 November 2019: Peringatan St. Martinus dari Tours, Uskup - Tahun C/I (Putih)
Bacaan: Keb 2:1-7; Mzm 139:1-3, 4-6, 7-8, 9-10; Luk 17:1-6; RUybs


Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini.

Jagalah dirimu! (*) Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, (1) ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia." Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: (2) "Tambahkanlah iman kami!"

Jawab Tuhan: "Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu."


Renungan


1. Pentingnya iman

Yesus mengingatkan para murid-Nya akan nilai penting pengampunan. Salah satu aspek penting dari pengampunan yang disampaikan-Nya adalah (1) memberi kesempatan. Pengampunan bukan hanya memberikan maaf, tetapi juga kesediaan menerima kembali dan memberi kesempatan untuk memperbaiki diri.

Tentu saja ini adalah hal yang sulit. Oleh karena itu permintaan mereka sangat tepat (2). Pengampunan hanya bisa diberikan bila manusia membuka diri untuk dipenuhi oleh kebijaksanaan Allah. Keterbukaan itulah yang kita sebut iman.


2. Tegorlah dan ampunilah

Kita mudah sekali menghakimi orang yang bersalah dan berdosa ketimbang menegor dengan kasih, apalagi mengampuni. Menghakimi tidak memberikan jalan keluar yang baik.

(*) Dengan menegor, menerima dan mengampuni saudara yang datang menyesali perbuatannya secara tidak langsung kita telah turut mengambil bagian dalam karya keselamatan. Artinya kita sudah menjalankan misi Yesus untuk menyelamatkan sesama kita.