Sabtu, 23 Maret 2019

16.14 -

Sepercik api



Meskipun lidah kita itu kecil, namun ia dapat menyombongkan diri tentang hal-hal yang besar-besar. Bayangkan betapa besarnya hutan dapat dibakar oleh api yang sangat kecil! (Yak 3:5)

Pada suatu Minggu malam di bulan September, ketika sebagian besar orang sedang tidur, sepercik api tersulut di toko roti milik Thomas Farriner di Pudding Lane. 

Api dengan cepat merambat dari satu rumah ke rumah lain, dan London pun dilanda kebakaran besar pada tahun 1666. Lebih dari 70.000 orang kehilangan tempat tinggal akibat kebakaran yang memusnahkan 80 persen wilayah kota itu. Begitu dahsyat kehancuran yang berasal dari sepercik api!

Alkitab memperingatkan kita tentang api lain yang kecil tetapi juga bisa menghancurkan. Yang disorot oleh Yakobus adalah kehidupan dan hubungan seseorang dengan sesama, bukan bangunan. 

Ia menulis, “Begitu juga dengan lidah kita; meskipun lidah kita itu kecil, namun ia dapat menyombongkan diri tentang hal-hal yang besar-besar. Bayangkan betapa besarnya hutan dapat dibakar oleh api yang sangat kecil!” (Yak. 3:5).

Namun demikian, kata-kata kita juga dapat membangun sesama. Amsal 16:24 mengingatkan kita, “Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.” 

Rasul Paulus berkata, “Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang” (Kol. 4:6). 

Sebagaimana garam membuat makanan kita mempunyai rasa, kasih membuat perkataan kita berguna untuk membangun iman sesama.

Dengan pertolongan Roh Kudus, perkataan kita dapat menguatkan orang yang sedang terluka, orang yang rindu bertumbuh dalam iman, atau orang yang membutuhkan Juruselamat. Perkataan kita dapat memadamkan api dan bukan menyulutnya.

Wawasan:

Perkataan yang bodoh diumpamakan seperti “api yang menghanguskan” (Ams.16:27) dan senjata yang berbahaya, “panah api, panah dan maut” (Ams.26:17). 

Yesus berkata bahwa perkataan kita keluar dari hati dan menunjukkan apakah kita ini baik atau jahat. “Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya” (Luk.6:45). 

Bagaimana Anda dapat menggunakan perkataan yang menyenangkan Allah dan memberkati sesama? (Sim Kay Tee)

Tuhan, aku selalu membutuhkan pertolongan-Mu dalam ucapanku. Hari ini, tolonglah aku agar mengucapkan kata-kata yang membawa pengharapan dan penguatan untuk membangun iman sesamaku.

Akan seperti apakah perkataan kita hari ini?

(Sumber: Our Daily Bread Ministries).

Ikon



Sejumlah orang mempersalahkan kita karena menghormati gambar Juruselamat dan gambar Bunda kita, Maria, dan juga gambar orang-orang kudus serta hamba-hamba Kristus yang lain. 

Hendaknya mereka ingat bahwa pada awal mula Allah menciptakan manusia menurut gambar Allah sendiri (Kej 1:26). Karena itu, atas dasar apa kita menunjukkan hormat satu sama lain kalau tidak karena kita semua diciptakan menurut gambar Allah? 

Karena, seperti dikatakan oleh Santo Basilius yang dengan banyak cara menjelaskan hal-hal Ilahi, penghormatan yang diberikan kepada gambar melampaui bentuk lahiriahnya ... Mengapa umat Israel pada zaman Musa menghormati kemah suci (Kel 33:10)? 

Karena kemah suci itu merupakan gambaran dan lambang dari hal-hal surgawi, atau lebih tepat dari seluruh ciptaan? Dan Allah memang berkata kepada Musa, ‘Ingatlah, bahwa engkau harus membuat semuanya itu menurut contoh yang telah ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu’ (Kel 25:40). Juga, kerubim yang menaungi takhta kerahiman, bukankah buatan tangan manusia (Kel 25:18)? 

Tambahan pula, apa yang dihormati di dalam bait Allah di Yerusalem? Bukankah itu buatan tangan manusia dan dibentuk oleh keterampilan manusia (1 Raj 8)? ...

Karena belas kasih-Nya yang begitu besar, Allah menjadi manusia sejati demi keselamatan kita ... Dia hidup di dunia dan tinggal di antara manusia (Bar 3:38); Dia mengerjakan mujizat, menderita, disalibkan, wafat, bangkit lagi, dan kembali ke surga. 

Semua itu sungguh terjadi di suatu tempat dan disaksikan oleh manusia. Semua itu ditulis sebagai peringatan dan pengajaran bagi kita yang tidak hidup pada zaman itu, sehingga kita, meskipun tidak melihat, masih dapat — dengan mendengar dan percaya — memperoleh berkat dari Tuhan. 

Tetapi tidak setiap orang dapat membaca; juga tidak setiap orang memiliki waktu untuk membaca. Oleh karena itu, para Bapa Gereja memberikan persetujuan untuk menggambarkan peristiwa-peristiwa itu dalam bentuk gambar ... supaya gambar itu dapat menjadi kenangan yang padat mengenai peristiwa-peristiwa itu. 

Tanpa keraguan sedikit pun, sering terjadi, ketika kita tidak ingat akan sengsara Tuhan, tetapi menyaksikan gambar Kristus yang tersalib, tiba-tiba sengsara-Nya yang mendatangkan keselamatan itu muncul dalam ingatan kita, lalu kita bersujud serta menyembah bukan kepada sosok material itu tetapi kepada Dia yang ditampilkannya — 

demikian juga, kita tidak menghormati bahan-bahan yang digunakan untuk membuat Injil, atau bahan-bahan untuk membuat salib, tetapi menghormati apa yang disimbolkan oleh barang-barang itu ... Hal yang sama berlaku untuk Bunda Tuhan. Penghormatan yang kita berikan kepadanya kita tujukan kepada Dia yang telah mengambil daging dari dia ... Penghormatan yang diberikan kepada gambar kudus melampaui bentuk lahiriahnya (St. Yohanes dari Damaskus).

Hidup menurut kehendak Allah

Sejak pertama dunia diciptakan, semuanya itu baik (Kej 1:10, 12, 18, 21, 25), terlebih lagi saat manusia pertama diciptakan, sungguh amat baik (Kej 1:31). Allah menciptakan firdaus untuk manusia, supaya manusia hidup di dalamnya dengan bahagia (Kej 2:8-15). Hubungan antara Allah dan manusia pun amat mesra pada waktu itu (Kej 3:8). Itulah kehendak-Nya atau rancangan-Nya bagi kita, yaitu supaya kita hidup bahagia baik di dunia ini maupun di dunia yang akan datang. 

Oleh karena itu Yesus memberikan pedoman hidup (KGK 2764 – kotbah di bukit – Mat 5-7). Bila kita hidup sesuai dengan kehendak-Nya, maka kita akan hidup bahagia. Namun bagaimana kita dapat mengenali kehendak Allah itu? 

Kehendak Allah dapat dikenali melalui beberapa sumber: 

1. Firman Tuhan 

Firman itu adalah Allah, Firman itu telah menjadi manusia ... Anak Tunggal Bapa (Yoh 1:1, 14). Firman-Mu adalah kebenaran. Jika kamu mengetahui kebenaran maka kebenaran itu akan memerdekakan kamu (Yoh 17:17; 8:32). 

Semua firman Allah adalah murni (Ams 30:5), mengajarkan perkataan sehat yakni perkataan Tuhan kita Yesus Kristus (1 Tim 6:3; 2 Tim 1:13) yang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2 Tim 3:16-17) untuk pembaharuan di dalam roh dan pikiranmu, sehingga kamu mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat, dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Ef 4:23-24; Ibr 5:14; Rm 12:2; Flp 1:9-11). 

Sumber pertama dan terutama untuk mengenali kehendak Allah ialah firman Tuhan (Rm 2:17-18; Mzm 40:9). Namun manusia seringkali mengabaikan firman Tuhan sehingga hidupnya dipenuhi dengan segala kekacauan. Oleh karena itu perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat (Ef 5:15). 

Juruselamat kita menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran (1 Tim 2:3-4). Jadi, Tuhan menghendaki semua orang berbalik dan bertobat (1 Ptr 3:9), supaya setiap orang yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal (Yoh 6:40), diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran (1 Tim 2:4). 

(Baca juga: Warta KPI TL No. 165/I/2019 - Hidup kekal: mengenal Allah yang benar). 

Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku (Mzm 119:105). Jadi, akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu (Ams 3:6); tanamkanlah firman itu di dalam hatimu sehingga firman itu berkuasa menyelamatkan jiwamu (Yak 1:21). 

2. Ajaran Gereja 

Gereja didirikan oleh Tuhan Yesus sendiri dan dijiwai oleh Roh Kudus. Ia didirikan untuk mengajar dan membimbing para murid serta untuk menafsirkan firman Tuhan secara otentik, artinya secara tepat dan benar. Oleh sebab itu, dengan menerima ajaran Gereja, kita menerima ajaran Tuhan sendiri. Dengan mengikuti petunjuknya, kita mengikuti petunjuk Allah sendiri (Luk 10:16). 

3. Status hidup 

Status hidup Anda serta kewajiban yang mengalir daripadanya merupakan pancaran kehendak Allah. 

Allah menghendaki supaya suami dan istri saling mengasihi dengan segenap hati dan dengan setia. Ia menghendaki anak-anak mencintai dan menghormati orang tuanya dan orang tua mendidik anak-anaknya secara kristiani. 

Allah menghendaki agar seorang kepala keluarga bertanggungjawab terhadap kesejahteraan keluarganya dan hidup sebagai kepala keluarga dan bukan sebagai seorang biarawan. Misalnya: ia tidak dapat melalaikan keluarganya dengan dalih melayani Tuhan, atau seorang istri tidak mau melayani suami dan anak-anaknya karena mau melayani Tuhan. Kalau begitu apakah mereka tidak boleh melayani Tuhan? Boleh saja, dan bahkan wajib, namun caranya sesuai dengan status dan situasi hidupnya. 

Itulah sebabnya bila Anda mempunyai tanggungjawab yang macam-macam, semuanya itu bisa saling bertabrakan. Misalnya bila Anda ikut pelbagai macam kegiatan sekaligus, sehingga akhirnya bingung sendiri bagaimana caranya mengatur waktu. Oleh karena itu, Anda harus berani mengadakan prioritas dalam hidup anda. Anda harus mendahulukan apa yang harus didahulukan dan dengan demikian Anda sendiri tidak akan bingung. 

4. Tanda-tanda lahiriah 

Peristiwa atau kejadian yang Anda hadapi dan alami dapat menjadi petunjuk akan kehendak Allah bagi Anda. Perhatikan apa yang terjadi di sekitar Anda dan berdoalah, agar diberi hikmat untuk mengerti apa pesan Tuhan lewat segala peristiwa itu. Kita tahu, bahwa tidak ada peristiwa yang terjadi tanpa diketahui oleh Allah. Kita juga yakin, bahwa Allah dapat mengatur segala peristiwa atau kejadian sedemikian rupa, sehingga dari situ tampak jelas kehendak-Nya. 

Kadang-kadang kehendak Allah begitu jelas terlihat, baik lewat tanda dan peristiwa lahiriah yang disertai pengertian batin sehingga tidak ada keragu-raguan lagi. Namun, seringkali tidak jelas sehingga hanya dapat Anda ketahui bila Anda mengikuti bimbingan Roh Allah sendiri yang dilakukan-Nya lewat dorongan dan gerakan batin Anda. 

5. Tanda-tanda batin 

Tanda-tanda batin ini tertulis dalam batin kita sendiri oleh Roh Kudus (Yeh 36:26). Tanda-tanda itu dapat berupa sabda batin, penglihatan » jarang terjadi; rasa batin, kecenderungan batin yang datang dari Roh Kudus yang hadir dalam diri kita » yang lebih lazim terjadi. Melalui semua itu Roh mau menunjukkan kepada kita arah mana yang harus kita ambil dalam perjalanan hidup kita ini. 

Proses untuk mengenal kehendak Allah ini kadang-kadang juga disebut dengan istilah “penegasan rohani”. Beberapa pedoman praktis supaya dapat mengenali kehendak Allah lewat tanda-tanda batin. 

1. Pertama-tama siapkan batin Anda dalam doa, sehingga Anda mencapai suatu kerelaan untuk mengikuti kehendak Allah, apa pun itu, karena yakin bahwa itulah yang terbaik bagi Anda. Bila Anda telah rela dan siap mengambil keputusan sesuai dengan kehendak Allah, maka Anda dapat mengambil langkah berikutnya. 

2. Carilah informasi yang memadai tentang situasi, peristiwa, perkara, orang-orang yang terlibat dalam pilihan Anda. Pelajari dan pertimbangkan segala pro dan kontranya. Carilah juga tanda-tanda lahirilah. Segala sesuatu yang berlawanan dengan Kitab Suci, ajaran Gereja, dan status hidup Anda haruslah dianggap sebagai suatu godaan. 

3. Bawa persoalan Anda dengan segala pro dan kontranya kepada Yesus dalam doa. Berbicalah kepada Yesus seperti kepada seorang sahabat yang mengasihi Anda. Ceritakanlah kepada-Nya segala harapan dan kekuatiran Anda. Bertanyalah kepada-Nya bagaimana pandangan-Nya tentang hal itu dan mohonlah kepada-Nya agar membantu Anda mengambil keputusan yang tepat. 

4. Bacalah tanda-tanda batin. Ketika Anda berbicara dengan Tuhan dan lebih-lebih lagi ketika Anda diam di hadapan-Nya, Roh Allah berkarya di dalam diri Anda. Bila keputusan atau tindakan itu sesuai dengan kehendak Allah, maka Roh Kudus akan menimbulkan damai, terang, kasih, ketertarikan batin, dan hiburan. Melalui tanda-tanda positif itu Roh berkata, “Ya, itulah yang Kukehendaki.” 

Bila keputusan atau tindakan yang akan Anda ambil itu tidak sesuai dengan rencana Allah, maka Anda akan mengalami tanda-tanda yang negatif seperti ketidaktenangan, ketakutan, kegelapan, keseganan, dan rasa kehadiran Allah melenyap. Melalui tanda-tanda itu Roh mau berkata, “Bukan, ini bukan yang Kukehendaki.” 

5. Seringkali tanda-tanda batin itu digelapkan dan dikaburkan oleh perasaan-perasaan senang dan tidak senang, prasangka, ketakutan, ambisi, keinginan yang belum terpenuhi, tekanan sosial, dan godaan-godaan. Oleh karena itu Anda harus lebih dahulu berdoa untuk menyerah kepada kehendak Allah, sehingga mampu mengenali tanda-tanda tersebut. Lagipula kita harus bertekun dalam doa, supaya tanda-tanda tadi menjadi semakin jelas. 

6. Dalam menghadapi keputusan-keputusan penting, misalnya waktu harus menentukan panggilan hidup, ulangi doa itu berkali-kali. Dalam hal itu penting sekali menuliskan dan mencatat apa yang Anda alami dan rasakan waktu itu, baik yang positif maupun yang negatif, supaya sesudah itu Anda dapat memakainya untuk mengenali petunjuk Allah. 

Kalau pengalaman Anda terlihat menuju suatu arah secara konsisten, Anda dapat menarik kesimpulan dengan hati penuh damai ke mana arah yang dikehendaki Allah bagi Anda. Sebaliknya kalau pengalaman Anda agak kacau, tidak konsisten, itu tandanya Anda belum siap melakukan penegasan rohani tersebut, karena barangkali hati Anda belum siap melakukan apa yang dikehendaki Allah. Kalau demikian, berdoalah terus sampai Anda menemukan kesiapan dan kerelaan melakukan kehendak Allah, apapun itu. 

7. Sebelum mengambil keputusan penting baiklah Anda berkonsultasi dengan pimpinan Anda, dengan pembimbing atau orang lain yang lebih berpengalaman. 

Kehendak Allah adalah kebijaksanaan tertinggi. Oleh karena itu norma tertinggi di dalam kehidupan Kristiani adalah melakukan kehendak Allah. 

Yesus turun ke dunia untuk menjadi serupa dengan manusia dalam segala hal kecuali dalam hal dosa. Ini berarti bahwa Yesus pun mempunyai perasaan sebagai seorang manusia normal, mengalami ketakutan jika sedang menghadapi suatu masalah dan mengetahui bahwa dirinya akan mengalami penderitaan (Luk 22:42 » "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi). 

Didorong oleh ketakutan Yesus mengungkapkan doa-Nya kepada Bapa. Walaupun Ia adalah seorang Putera Allah, namun Ia telah melepaskan segala atribut ke-Allahan-Nya dan mau menjadi sama seperti manusia. Ia sadar bahwa sebagai seorang manusia, ia harus melakukan segala kehendak Bapa bagi diri-Nya.

Jadi, Yesus tahu bahwa kedatangan-Nya di dunia untuk satu tujuan, yaitu memberikan teladan ketaatan dalam melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Ibr 10:7; Yoh 6:38; 4:34; Flp 2:8). 

Ketaatan berhubungan dengan kehendak Allah 

1. Ketaatan berarti mati terhadap kehendak, tidak memikirkan kehendak pribadi. Kehendak Allah dinyatakan-Nya melalui banyak cara. 

Taat kepada peraturan-peraturan yang ada dalam komunitas, organisasi, kantor, atau kelompok-kelompok lain. Jika kita menjalankannya dengan sepenuh hati berarti kita telah taat kepada kehendak Bapa yang dinyatakan melalui peraturan-peraturan itu. 

Ketaatan kepada pimpinan juga merupakan ungkapan taat kepada kehendak Bapa, karena melalui pimpinan itu Bapa telah berbicara dan menyampaikan kehendak-Nya untuk diri kita masing-masing. Kita bukan taat kepada manusia tetapi dengan mata iman kita melihat Bapa yang berbicara melalui manusia itu (Ef 6:5-6 » Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah). 

2. Ketaatan juga berarti perwujudan dari kerendahan hati. Orang yang taat adalah orang yang rendah hati. Mengapa demikian? Contoh: jika seseorang menjadi anggota suatu komunitas, tentunya ia harus taat pada peraturan yang ditetapkan di dalamnya. Mungkin tidak semua peraturan itu sesuai dengan kehendaknya, tetapi jika seseorang itu mempunyai sikap yang rendah hati, maka ia akan melaksanakan semua peraturan yang ada dengan hati tulus, sebab ia tahu dan sadar bahwa melalui hal itu Bapa telah menyatakan kehendak-Nya. 

Apa yang telah ditetapkan dalam peraturan adalah untuk kebaikan setiap anggota komunitas dan kehendak Bapa selalu untuk mendatangkan kebaikan. 

3. Ketaatan merupakan juga suatu pengorbanan diri yang akan membawa kita kepada suatu jalan untuk mencapai kekudusan. 

Dengan menjadi taat, kita telah mengorbankan diri, membunuh kemauan sendiri, membunuh keangkuhan kita, dan menjadikan diri kita sebagai kurban bakaran yang harum bagi Allah. 

Yesus telah menjadi contoh dan teladan tentang pengorbanan diri (Ibr 5:8 » Sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya). Maukah kita berkorban (1 Ptr 3:17 » berbuat baik) untuk melaksanakan kehendak Bapa. 

Kehendak Bapa menuntut suatu pengorbanan diri kita, lakukanlah dengan sepenuh hati karena pada akhirnya hal yang tidak mengenakkan itu akan menjadi suatu hal yang sungguh baik dan indah bagi diri kita dan juga orang lain. 

4. Ketaatan melambangkan adanya suatu sikap kelepasan. Kelepasan ini merupakan suatu sikap yang membawa kita dapat semakin terbuka terhadap segala sesuatu yang dikehendaki Tuhan. Dengan sikap yang lepas bebas, tidak terikat atau lekat dengan suatu hal tertentu, maka kita dapat mempunyai hati yang terbuka untuk karya Tuhan dalam diri kita. 

Adam dan Hawa menjadi binasa ketika mereka tidak taat dan tak mampu lepas dari godaan keinginan daging. Sebaliknya ketaatan Yesus, kelepasan-Nya akan segala keinginan daging secara manusiawi telah membawa kita semua kepada keselamatan (Rm 5:19). 

Jadi, kehendak Bapa itu selalu berhubungan dengan orang lain, dengan keselamatan orang lain. Dengan kata lain kehendak Bapa berhubungan dengan cintakasih karena apa yang dikehendaki Bapa selalu mendatangkan kebaikan bagi setiap orang. Jika kita melakukannya berarti kita telah ikut berpartisipasi dalam mendatangkan kebaikan bagi orang lain, dan itulah tandanya cinta kasih. 

Kita tahu bahwa kehendak Bapa yang utama bagi kita adalah ‘mengasihi’. Dengan mempunyai kasih, maka hati kita akan selalu terbuka akan segala hal lain yang dikehendaki Bapa, dan itu akan lebih mudah kita jalankan dalam kehidupan kita sehari-hari. Orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya (1 Yoh 2:17).

(Sumber: Warta KPI TL No. 166/II/2019 » Hidup menurut kehendak Allah, Vacare Deo Edisi I/IX/2007; Ketaatan pada kehendak Bapa, HDR Maret-April 2007 Tahun XI). 

Mengikuti seluruh ajaran dan kehendak Tuhan

Kedewasaan selalu dikontraskan dengan sikap kekanak-kanakan. Seperti seorang anak kecil yang polos, kita harus taat pada semua perintah Allah dan menunjukkan sikap pasrah pada semua jalan yang ditunjukkan-Nya. 

Bunda Maria adalah teladan sempurna dari sikap itu. Dengan penuh iman, Bunda Maria menerima kabar dari malaikat Gabriel, mengunjungi Elisabet, sanaknya yang sangat jauh, lalu melakukan lagi perjalanan ke Betlehem, bahkan sampai ke Mesir. Bunda Maria selalu taat menjalaninya. Pernyataan Yesus yang terkesan menolaknya untuk bertemu (Luk 8:19-21) justru semakin menegaskan bahwa Bunda Maria menjadi teladan sempurna dari kedewasaan iman bukan karena hubungan biologis semata, tetapi karena kesetiaannya untuk mengikuti seluruh kehendak Bapa.

Marilah kita belajar dari Kis 1:12-14; 2:1-4: 

[1:12-14] Maka kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit yang disebut Bukit Zaitun, yang hanya seperjalanan Sabat jauhnya dari Yerusalem. Setelah mereka tiba di kota, naiklah mereka ke ruang atas, tempat mereka menumpang. Mereka itu ialah Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus bin Alfeus, dan Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus. Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus. 

» Doa adalah hubungan yang hidup anak-anak Allah dengan Bapanya yang tidak terhingga baiknya, bersama Putera-Nya Yesus Kristus dan dengan Roh Kudus. Dengan demikian, kehidupan doa berarti bahwa kita selalu berada dalam hadirat Allah (KGK 2565). 

Doa adalah satu prasyarat yang mutlak perlu untuk menghayati perintah-perintah Allah. Orang harus “selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu” (Luk 18:1; KGK 2098). Berdoalah setiap waktu di dalam Roh (Ef 6:18). Semangat yang tidak kenal lelah ini hanya dapat berasal dari cinta (KGK 2742). 

[2:1-4] Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu (1) bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka (2) lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. 

» Maria menjadi bunda orang-orang hidup. Dalam kedudukan itu ia bersama dengan keduabelasan “sehati bertekun dalam doa, ketika Roh Kudus pada pagi hari Pentakosta menyatakan awal “zaman terakhir” dengan memunculkan Gereja (KGK 726). 

(1) Yoh 3:8 - Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh. (2) Salah satu lambang Roh Kudus (KGK 696). 

Roh Kudus adalah Roh Cinta Kasih yang menenggelamkan kita ke dalam kasih ilahi yang tak bertepi sehingga kita mampu mengikuti seluruh ajaran dan kehendak Tuhan. Perintah-perintah-Nya tidak terasa berat karena Roh Kudus menyertai kita (Yoh 14:15; 1 Yoh 5:3).

(Sumber: Warta KPI TL No. 166/II/2019 » Bersama Bunda Maria, menjadi semakin dewasa dalam iman, Pendalaman iman bulan Rosario 2018). 

04.13 -

Rela memikul salib



Ada sebuah ungkapan yang beredar di masyarakat berbunyi demikian: Muda, foya-foya; tua, kaya raya; mati, masuk surga. Sebuah ungkapan modern yang menginginkan kebahagiaan terus-menerus, tanpa derita dan kekalahan, tanpa sakit dan kecemasan.

Justru Gereja Katolik memperingati “Hati Bunda Maria yang berduka” setiap tanggal 15 September. Melalui peringatan ini Bunda Maria mengajarkan pada kita bahwa kecemasan, kesengsaraan atau penderitaan, bukanlah hal yang harus kita hindari, tetapi harus kita hadapi. Santa Teresa dari Kalkuta mendapatkan ispirasi dari Bunda Maria yang selalu tersentuh oleh belas kasihan saat orang lain berada dalam kecemasan dan penderitaan.

Marilah kita belajar dari Yoh 19:25-27:

Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: (1) "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: (2) "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.

» Ketika Maria mengikuti jalan salib Putranya, nubuat Simeon terbukti (Luk 2:35 - suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri). Maria tentu menangis dan sangat menderita melihat anaknya yang tak bersalah dijadikan bersalah.

(1, 2) Sejak saat itu Maria menjadi Bunda bagi umat manusia. Umat manusia pun menghormatinya sebagai bundanya. Maria tetap menderita hingga saat ini ketika manusia masih jatuh dalam dosa. Meskipun demikian Bunda Maria tetap mendoakan umat manusia (Santa Maria Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati). Kedewasaan imannya menjadikan Bunda Maria selalu ingin berbela rasa dengan orang yang menghadapi masalah dalam hidupnya.

Bapa Suci Fransiskus mengatakan bahwa tidak ada keluarga yang sempurna. Tidak ada ayah yang sempurna, tidak ada ibu yang sempurna dan tidak ada anak yang sempurna. Situasi itu seringkali menimbulkan kesedihan mendalam, terutama ibu-ibu. 

Banyak ibu di dalam keluarga-keluarga saat ini mengalami duka akibat perbuatan anak dan suami. Mereka merasa disakiti dan dilecehkan. Tetapi kita tidak boleh punah dalam harapan. Kita harus rela untuk memanggul salib seperti teladan Bunda Maria. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 166/II/2019 » Bersama Bunda Maria, menjadi semakin dewasa dalam iman, Pendalaman iman bulan Rosario 2018).

Mau melayani

Sebagai pribadi yang beriman dewasa, Maria mau melayani sesama karena ia mempunyai kepekaan pada kebutuhan sesama dan berani bertindak sesuai dengan imannya. 

Marilah kita belajar dari Yoh 2:1-11:

[1-5] Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu. Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: (1) "Mereka kehabisan anggur." Kata Yesus kepadanya: "Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba." Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: (2) "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!"

» Sebagai seorang yang beriman dewasa, ibu Yesus peka pada kebutuhan sesama (1). Meskipun permohonannya ditolak, ia tetap sabar dan berani bertindak (2). 

[6-10] Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung. Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: "Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air." Dan (3) mereka pun mengisinya sampai penuh. Lalu kata Yesus kepada mereka: "Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta." Lalu mereka pun membawanya. Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu - dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya - ia memanggil mempelai laki-laki, dan berkata kepadanya: "Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang."

» (3) Pelayan yang taat pada perintah-Nya akan menjadi bagian dari mujizat dan mendapat pengertian akan pekerjaan Allah (Am 3:7; Yoh 15:15).

[11] Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.

» Bagi mereka yang memahaminya dalam iman, tanda ini merujuk kepada identitas Yesus sebagai Mesias yang akan membawa kepenuhan janji Allah bagi umat-Nya.

(Sumber: Warta KPI TL No. 166/II/2019 » Bersama Bunda Maria, menjadi semakin dewasa dalam iman, Pendalaman iman bulan Rosario 2018).

Memusatkan perhatian kepada Kristus

Sebagai pribadi yang beriman dewasa, Maria selalu membimbing dan menuntun Yesus dalam masa pertumbuhan-Nya. Meskipun ada perbedaan yang seringkali menimbulkan kesalahpahaman, ia selalu menempatkan Yesus sebagai pusat dari perhatiannya dengan mengesampingkan kebutuhan-kebutuhan diri sendiri. 

Marilah kita belajar dari Lukas 2:41-52: 

[41-42] Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu. 

» Tiga kali setahun setiap orang laki-laki Yahudi dewasa harus menghadap hadirat Tuhan di Yerusalem (Kel 23:14-17; 34:23; Ul 16:16). Namun tidak sedikit perempuan-perempuan saleh juga pergi ke Yerusalem (1 Sam 1:7). 

Persekutuan dalam hidup keluarga belum sempurna tanpa persekutuan dalam ibadah bersama. Maria menyadari hal ini. Oleh karena itu ia menemani Yusuf pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah. Peziarahan ke tempat suci seperti ini merupakan upaya untuk semakin belajar tentang iman. 

Yang lazim dilakukan oleh orang tua Yahudi pada waktu itu: 

- Ketika masih bayi hingga disapih diasuh oleh ibunya. 

- Sesudah disapih kemudian diasuh oleh ayahnya. Yusuf mempersiapkan Yesus sebaik-baiknya agar benar-benar dewasa secara fisik maupun secara rohani, maka ia memperhatikan bukan saja segi fisik (perkembangan dan kesehatan tubuh), melainkan juga kecerdasan (otak), pengolahan batin (perasaan dan emosi), rasa religious (agama) dan segi sosial. Maka Yusuf mengajari Yesus bukan hanya Hukum Taurat, tetapi juga melatih-Nya berpuasa dan mengajak-Nya ikut perayaan-perayaan di Yeusalem. 

- Pada usia dua belas tahun anak laki-laki Yahudi dinyatakan secara resmi sebagai anggota masyarakat dewasa melalui upacara inisiasi yang disebut Bar Mitzvah (artinya “anak ajaran Taurat”), maksudnya anak yang hidupnya diarahkan untuk mentaati Hukum Taurat. 

Sejak menerima upacara inisiasi anak bisa berperan penuh dalam jemaat, ambil bagian secara penuh dalam perayaan Paskah atau ibadat lainnya. Mereka bertanggungjawab penuh dalam mentaati Hukum Taurat, oleh karena itu, agar memahami Taurat dengan baik, mereka pun mulai diterima dalam sekolah Taurat. 

[43-45] Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya. Karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka. Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia. 

» Jarak dari Nazaret ke Yersalem cukup jauh, sekitar 150 km atau empat hari perjalanan. Biasanya dalam melakukan ziarah suci, penduduk sebuah desa pergi bersama-sama dalam suatu rombongan. Rombongan anak-anak paling depan, kemudian rombongan perempuan, disusul dengan rombongan laki-laki. 

Mereka akan bertemu di suatu tempat perhentian atau penginapan yang mereka sepakati. Berjalan dalam rombongan seperti ini sangat berguna bukan saja untuk perlindungan atau keamanan, melainkan juga memberi kenyamanan karena ada teman seperjalanan dan teman ngobrol yang membuat perjalanan jauh yang berat dan meletihkan menjadi kurang terasa. 

Terlebih bagi anak-anak, perjalanan ini merupakan kesempatan bagi mereka untuk bermain bersama, bersosialisasi, beradaptasi dengan lingkungan dan teman-teman seperjalanan. Mereka belajar bagaimana menghargai teman, melepaskan ego, peduli pada teman dan memperlakukan orang lain secara benar. Jadi, Yusuf mengajak Yesus untuk mengembangkan jiwa-Nya dalam segi sosial. 

Yusuf menyangka Yesus berada di rombongan anak-anak atau rombongan ibu-Nya, sedangkan Maria menyangka Yesus berada di rombongan anak-anak atau rombongan bapak-Nya. 

Komunikasi dalam keluarga sangat penting, tiada komunikasi dapat mengakibatkan salah pengertian yang berujung malapetaka. Memberikan keleluasaan kepada anak itu memang baik asalkan diiringi dengan komunikasi yang baik agar anak tidak lepas kendali. 

[46-47] Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya. 

» Di pelataran Bait Allah ada banyak kelompok sekolah Taurat, Ia berpindah-pindah dari satu kelompok ke kelompok lain. Begitu asyiknya sampai-sampai Ia lupa pulang dan tidak menyadari bahwa orang tua-Nya sudah pulang ke Nazaret. 

Sudah menjadi kebiasaan bahwa pada Hari Raya dan hari Sabat, Mahkamah Agung dan para alim ulama, yakni para nabi memberi pengajaran teks-teks Kitab Suci yang menunjukkan kehendak dan rencana Allah kepada para peziarah. Metode pengajaran yang dipakai umumnya dialog: peziarah bertanya dan mereka menjawab. Saat-saat itu dipakai Yesus untuk berdiskusi dengan ahli agama dan Kitab Suci. 

[48] Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: "Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau." 

» Maria menganggap apa yang Yesus perbuat tidak benar karena telah membuat orang tua-Nya cemas. Maria mengingatkan Yesus akan kewajiban-Nya terhadap Yusuf, bapa-Nya. Kata-kata Maria menunjukkan betapa mereka mencintai Yesus dan peduli pada-Nya. 

[49-52] Jawab-Nya kepada mereka: (1) "Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?" 

Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka. Lalu (3) Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan (2) ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya. Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia. 

» (1) Jawaban Yesus cukup mengejutkan, bahkan sangat mengecewakan. Namun sesungguhnya jawaban-Nya mengingatkan Maria akan kewajiban-Nya terhadap “Bapa-Nya”, yakni: Allah (Luk 1:35). 

(2) Berkat kerendahan hatinya (Luk 1:38 – Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan), Maria mampu menjadi pribadi yang reflektif, menyimpan semua misteri itu dalam hatinya dan merenungkannya dalam-dalam sembari terus berusaha menemukan rencana terindah Tuhan bagi dirinya dan Anaknya. 

Di hadapan misteri dan kenyataan yang membingungkannya, iman Maria terus dimurnikan dan kian menjadi suci karena menempatkan Tuhan sebagai pusat dari dirinya. 

(3) Sebagai anak mau mengalah kepada orang tua karena rasa hormat dan keinginan membahagiakan kedua orang tua-Nya. Sebelum memulai perutusan yang penuh dalam usia 30 tahun, Yesus hidup dan tinggal bersama Bunda Maria dan Bapak Yusuf. Masa-masa dalam asuhan bunda-Nya ini adalah masa-masa yang jauh lebih lama daripada pelayanan Yesus yang hanya tiga tahun. Walaupun masa yang amat panjang ini tidak tercatat dengan detail dalam Injil (Yoh 20:31), kita percaya bahwa masa-masa inilah yang menjadi dasar akan kedewasaan sikap dan iman Yesus dikemudian hari. 

Bersama Maria, marilah kita memurnikan hati kita dengan senantiasa merenungkan rencana Allah yang terindah dalam hidup kita setiap kali keadaan yang membingungkan, mengejutkan dan yang sulit kita mengerti menimpa kita. Bukannya kita lantas kecewa, mengumpat-umpat Tuhan, atau putus asa, tetapi pengalaman yang menyentak hati dan jiwa kita menjadi momentum pemurnian diri agar semakin selaras dengan kehendak Allah. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 166/II/2019 » Bersama Bunda Maria, menjadi semakin dewasa dalam iman, Pendalaman iman bulan Rosario 2018).