Selasa, 17 Juli 2018

04.43 -

Jiwa



KELUHURAN JIWA

Kalau kita perhatikan, aktivitas harian kita lebih banyak menarik kita untuk mengurusi berbagai keperluan tubuh kita. Alhasil, konsentrasi kita lebih banyak terpusat pada tubuh dan melupakan hal yang lebih halus, yaitu JIWA kita.

Teresa Avila mengingatkan supaya kita tidak melupakan JIWA. Melalui jiwa itulah kita dianugerahi banyak rahmat yang memungkinkan kita semakin dekat dengan Allah. Bahkan seperti apa yang digambarkan Teresa, JIWA yang murni bisa menjadi Firdaus bagi Allah.

Mari selalu mengingat, mengenal dan merawat jiwa kita masing-masing.






JIWA PUNYA PEMBANTU?

Teresa Avila mengingatkan bahwa kita memiliki pembantu-pembantu jiwa, yaitu PANCA INDERA dan DAYA-DAYA BATIN kita. Mereka sangat mempengaruhi gerakan kita dalam mengenal dan merawat jiwa. Kalau mereka bertentangan dengan arah yang seharusnya, maka kita akan mengalami banyak kesulitan untuk maju. Sebaliknya, jika mereka bergerak sejalan, seia sekata, maka gerak maju kita ke kedalaman jiwa akan semakin baik.

PANCA INDERA, sudah sangat jelas lekat dalam tubuh kita dan bisa kita rasakan sendiri apa fungsinya. Panca indera membantu jiwa menemukan keluhurannya, ketika fungsinya diarahkan untuk mendukungnya, yaitu mencari dan menemukan hal-hal yang sesuai arah jiwa menuju Allah. 

Misalnya, mata digunakan untuk melihat keindahan Allah, telinga dipakai untuk mendengar merdunya Firman Allah, hidung digunakan untuk membaui kekudusan Allah, kulit digunakan untuk merasakan kehadiran Allah, mulut digunakan untuk mengatakan kata-kata ilahi. 

Sebaliknya, panca indra akan menjadi penghambat bahkan halangan, ketika dipakai untuk mencari dan menemukan hal-hal yang menjauhkan jiwa dari arah semestinya.

DAYA-DAYA BATIN, merupakan hal-hal yang lebih halus namun memiliki kekuatan yang bisa mempengaruhi gerak jiwa untuk mendekat atau menjauh dari Allah

Daya-daya batin itu adalah DAYA INGAT (memori), DAYA PIKIR (intelek), DAYA KEHENDAK (keinginan). Daya ingat ini memiliki kekuatan untuk menahan kesan-kesan dan ingatan. Daya pikir memiliki kekuatan untuk memaknai dan memahami sesuatu. Daya kehendak memiliki kekuatan untuk mendambakan atau menginginkan. Bisa dibayangkan bagaimana nasib jiwa, jika kekuatan-kekuatan ini tidak sejalan dan saling mengunggulkan dirinya. 

Maka Teresa mengingatkan supaya kita pun berusaha mengenali gerakan daya-daya batin ini dan menyelaraskannya supaya membantu kita mencapai pusat relung jiwa kita.

Mari bersama-sama terus menyadari fungsi pancaindera dan daya-daya batin, yang bisa membelokkan kita dan bertentangan dengan arah hidup kita. Tetapi sekaligus juga bisa mendukung dan memperkuat perjalanan kita menuju kepada Allah. Semoga kita semakin mampu menyelaraskan fungsi pancaindera dan daya-daya batin kita sesuai dengan kehendak Allah.





KEINGINAN SETAN TERHADAP JIWA

Rupanya ada KEKUATAN LAIN YANG IKUT BERMAIN dalam perjuangan kita mengenali dan merawat jiwa. Kekuatan itu adalah setan sendiri. Mereka tidak suka terhadap jiwa-jiwa yang mau berkembang dan maju dalam hidup rohani. Mereka tidak ingin jiwa semakin mendekat kepada Allah.

Teresa Avila menegaskan bahwa setan bermaksud jahat dengan menempatkan bala pasukannya di setiap ruang jiwa, untuk MENGHALANGI JIWA BERGERAK MAJU ke ruang terdalam. Lebih fatal lagi, mereka berusaha untuk menarik kita keluar, sehingga kita tak mengenali lagi keluhuran jiwa kita. 

Bisa dibayangkan, ketika kita enggan mengenali keluhuran jiwa kita dan enggan untuk merawatnya, setan bersorak gembira karena ini adalah kesempatan baginya. Dia akan berusaha mempergunakan keengganan kita ini untuk menarik kita pelan-pelan ke luar area jiwa kita. 

Kita yang semula sudah memiliki perkembangan hidup rohani yang baik, bisa terseret keluar jalur hingga tak sudi lagi memperhatikan hidup rohani kita.

Teresa Avila juga menggambarkan setan seperti kikir yang halus, MENGIKIS KESEIMBANGAN HIDUP ROHANI. Misalnya, dia membisikkan kepada seseorang untuk melakukan latihan rohani secara berlebihan, contohnya berpuasa dan menyiksa tubuh secara berlebihan sehingga merusak kesehatan tubuh. Padahal kita juga mesti menghormati kesehatan tubuh kita. 

Misalnya lagi, setan mendorong seseorang melakukan aktivitas rohani yang cukup banyak dan menjadikannya sebagai ukuran kesucian. Sehingga orang lain yang tidak melakukan aktivitas rohani sebanyak yang dikerjakannya, dinilai rendah dan dilihat bukan apa-apa. Mulailah ditanamkan bibit-bibit kesombongan rohani.

Setan juga bergerak aktif untuk MENDINGINKAN DAN MEMATIKAN CINTA TERHADAP SESAMA. Dengan memunculkan dan menumbuhkan kesombongan rohani, setan berusaha menghancurkan relasi kasih dalam komunitas dan sesama orang beriman. Kesombongan rohani bisa memunculkan dorongan untuk melihat dan menilai buruk apa yang dikerjakan orang lain. 

Ini akan membuat hati kita tidak tenang dan tidak damai, karena konsentrasi kita jadi lebih banyak mengamati orang lain dan mencari-cari kemungkinan adanya hal-hal yang bisa dinilai buruk dari orang lain. Demikian juga orang lain didekat kita, akan selalu merasa tidak nyaman, karena perilaku kita tersebut. Akhirnya terjadilah friksi, terbentuklah tirai pemisah, yang lama-lama akan menghancurkan komunitas. Itulah yang diinginkan setan, sehingga kita tak jadi maju dalam hidup rohani.

Sadar bahwa kita seringkali belum mampu melawan pengaruh kekuatan setan ini, Teresa Avila menasihati kita supaya mohon perlindungan Tuhan sendiri dan juga meminta bantuan Bunda Maria serta orang-orang kudus supaya turut berdoa bagi jiwa kita dan supaya berperang melawan setan untuk kemenangan jiwa kita. 

Semoga kita mendapatkan belas kasih dan perlindungan Allah dan bantuan doa Bunda Maria serta orang-orang kudus di Sorga dalam perjuangan melawan dan menentang pengaruh di jahat.

(Sumber: Suara Karmel).

Selasa, 10 Juli 2018

20.20 -

Gereja Katolik cuma hati? Serius?



Mengapa ibadat Katolik dilakukan dengan gerak tubuh? Sebab, manusia diciptakan Tuhan lengkap: segi rohani dan jasmani. Karena itu, segi jasmani tak kalah penting dari segi rohani. Pesan utama (masih): Libatkan tubuhmu (bersama hatimu) ketika berdoa.

Beberapa umat Katolik mengatakan bahwa dalam hal beribadat “yang penting hati”. Pendapat itu benar? Setengah benar, nilainya 5 dari 10. Yang penting pertama-tama hati. Namun, tak berarti segi jasmani tak penting. 

Kalau jasmani tak penting, coba datang ke Misa hanya dengan hati tanpa raga. Bisa? Berdoa dan bernyanyilah hanya dengan roh. Bisa? Sambut dan santaplah tubuh Kristus hanya dengan hati. Bisa? Tak bisa! Tuhan datang dengan “tubuh-Nya”, “jasmani-Nya”. Kita pun mau datang dengan jasmani kita.

Mulailah berpikir benar dalam hal beribadat: “yang penting hati dan raga”. Keduanya tak bisa dipisahkan dalam hal beribadat. 

Karena itu, pakaian pantas itu penting, sikap tubuh juga. Keduanya hal jasmani, penting dalam hal beribadat, khususnya Misa. Setelah baca ini, timbangkan: “Apa pakaikanku layak? Apa sikap tubuhku pantas?” Barangkali masih ada yang menyanggah: “Yang penting hati!” Cuma hati? Serius? Kalau begitu, hadirlah di Misa tanpa badan jasmani; kan yang penting hati.

(Rev. D. Y. Istimoer Bayu Ajie).

20.07 -

Mulut emas



Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib (Mzm 105:2)

Setiap hari kita pasti menggunakan mulut kita. Namun, apakah yang keluar dari mulut kita? Yang baik, benar, dan dapat membangun diri sendiri dan orang lain? Ataukah, yang buruk dan dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain? 

Tuhan menciptakan mulut untuk kebaikantidak untuk menebarkan duri atau racun yang mematikan diri sendiri dan orang lain. 

Melalui mulut kita dapat mengeluarkan kata-kata pujian, peneguhan, penghargaan, terimakasih, penyesalan, maaf-memaafkan, meminta tolong, penghiburan, dan lain-lain untuk membawa kebaikan dan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. 

Lebih daripada itu, Tuhan ingin agar kita menguduskan setiap ungkapan yang keluar dari mulut kita, yaitu dengan bernyanyi dan bermazmur bagi Dia, dan membicarakan segala karya Tuhan yang ajaib dalam hidup kita. 

Tuhan ingin agar kita memiliki 'mulut emas' sehingga orang lain mengenal kemahakuasaan, kemahaagungan, dan kemaharahiman Tuhan, sehingga mereka dengan segenap hati memuji dan memuliakan Tuhan serta menyerahkan diri kepada Tuhan. 

Sudahkah kita menggunakan mulut kita untuk membawa kekudusan pada diri kita sendiri dan orang lain? Apakah nama dan karya Tuhan yang senantiasa terungkap dari mulut kita? Sungguhkah kita memuliakan Tuhan ketika kita bernyanyi dan bermazmur?

Minggu, 08 Juli 2018

21.54 -

Bagaimana cara mengalahkan iri hati?



Iri hati
mungkin ini adalah dosa yang paling unik diantara segala dosa yang ada. Mengapa? Karena iri hati adalah dosa yang tidak memberikan kenikmatan sama sekali

Biasanya, dosa akan memberikan kenikmatan-kenikmatan sementara, tetapi iri hati tidak. Hawa nafsu memberikan kenikmatan seksual yang menggairahkan, kerakusan memberikan kenikmatan dan kesenangan dari banyaknya harta yang dimiliki, dan kesombongan memberikan perasaan senang akan diri sendiri karena merasa diri lebih baik dari yang lain. Tetapi bagaimana dengan iri hati? 

Iri hati malah hanya membuat diri kita tersiksa karena mengingini apa yang orang lain miliki. Namun entah mengapa, kita seringkali jatuh ke dalamnya.

Setiap orang dapat jatuh ke dalam iri hati - mau kaya atau miskin, sehat atau sakit, tua atau muda - semua orang dapat mengingini lebih dari apa yang dirinya sudah miliki. 

Iri hati adalah sebuah dosa yang dapat dengan mudah merengut rasa syukur dan rasa sukacita kita atas berkat-berkat Tuhan di dalam hidup kita. Dan seringkali, iri hati dapat memimpin kita menuju dosa-dosa lainnya. “Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat” (Yak 3:16).

Maka itu, iri hati bukanlah sebuah musuh yang dapat kita anggap remeh. Kita harus dapat membuang iri hati dari dalam kehidupan kita jika kita ingin menikmati berkat Tuhan secara sepenuhnya. Berikut adalah beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk mengalahkan iri hati di dalam diri kita: 

1. Berdoa untuk memiliki perasaan puas

“Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa.Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.” (Yakobus 4:2-3)

Kekeliruan yang seringkali terjadi, ketika kita mengingini apa yang orang lain miliki, kita malah berdoa kepada Tuhan untuk memberikan hal yang sama seperti yang orang lain itu miliki. Dimana seharusnya kita berdoa agar Tuhan mengajari kita untuk menjadi puas akan apa yang sudah kita miliki saat ini.

Kebenarannya, Tuhan tidak pernah menahan berkat-berkat-Nya darimu. Setiap orang memiliki berkat yang berbeda-beda. Orang yang membuatmu iri mungkin memiliki sesuatu yang tidak kamu miliki, tetapi sesungguhnya, kamu juga memiliki sesuatu yang orang itu tidak miliki. 

Kunci dari menghilangkan rasa iri hati bukanlah dengan mendapatkan apa yang kamu inginkan tersebut, melainkan bersyukur bahkan ketika kamu tidak mendapatkan apa yang kamu inginkan tersebut—menyadari bahwa kamu juga telah mendapatkan berkat-berkat yang unik dari Tuhan. 

2. Selidikilah dirimu akan adanya berhala

Untuk mengalahkan iri hati sepenuhnya, kita harus mencabutnya hingga ke akarnya. Dan sesungguhnya, seringkali hal-hal yang membuat kita iri adalah hal-hal yang sebenarnya merupakan berhala tersembunyi di hidup kita.

Jika kamu hidup dengan rasa iri hati akan harta orang lain, kemungkinan besar kamu secara tidak sadar telah menjadikan harta dunia sebagai berhalamu. Jika kamu hidup dengan rasa iri hati akan popularitas orang lain, kemungkinan besar kamu secara tidak sadar telah menjadikan popularitas sebagai berhalamu.

Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mzm 139:23-34)

Alkitab mengajak kita untuk berdoa dan meminta Tuhan menyelidiki hati kita. Seringkali sulit bagi kita untuk melihat akar dari dosa-dosa kita. Maka itu, kita harus senantiasa meminta pimpinan Tuhan dalam mengidentifikasinya dan mengalahkannya. Bertanyalah kepada Tuhan apakah masih ada tuhan-tuhan lain yang merengut takhta-Nya di dalam hatimu. Kebenarannya, semakin kita memiliki hubungan yang erat dengan Tuhan, akan semakin mudah bagi kita untuk menyadari dan melepaskan dosa-dosa kita, termasuk dosa iri hati. 

3. Letakkanlah pandanganmu pada Injil Kristus

Injil Kristus adalah kebenaran bahwa kita telah menerima keselamatan melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus yang begitu mengasihi kita. Jika kita mengetahui identitas kita di dalam Yesus Kristus dan menyadari seberapa berharganya yang kita miliki di dalam diri-Nya, tentu kita dapat lebih bersyukur di dalam setiap keadaan.

“Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:11-13)

Rasul Paulus mengatakan bahwa dia sudah menemukan kunci untuk merasa puas di dalam setiap keadaan, dan kunci itu adalah pengenalan akan Yesus Kristus. Bagi Paulus, Yesus bukanlah sekedar tambahan di dalam hidupnya yang membuat hidupnya menjadi sedikit lebih baik, melaikan Yesus adalah satu-satunya yang membuat hidupnya berharga. Sukacita dan rasa syukur Paulus di dalam hidupnya tidak lagi ditentukan oleh apa yang dia miliki dan apa yang tidak dia miliki, melainkan ditentukan oleh apa yang Yesus Kristus telah lakukan di atas kayu salib untuknya.

(Sumber: @gracedepth).

21.34 -

Mrk 6:1-6

Sarapan Pagi 
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu/
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Minggu, 8 Juli 2018: Hari Minggu Biasa XIV - Tahun B/II (Hijau)
Bacaan: Yeh 2:2-5; Mzm 123:1-2a, 2bcd, 3-4; 2 Kor 12:7-10; Mrk 6:1-6

Rabu, 6 Februari 2019: Pw St. Miki, imam, martir dkk - Tahun C/I (Merah
Bacaan: Ibr 12:4-7, 11-15; Mzm 103:1-2, 13-14, 17-18a; Mrk 6:1-6; RUybs.


Kemudian Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia. Pada hari Sabat Ia mulai (A1) mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar (A2) takjub ketika mendengar Dia dan mereka berkata: "Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? (B) Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya? (1) Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.

Maka Yesus berkata kepada mereka: (2) "Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya." Ia tidak dapat mengadakan satu mujizat pun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka. Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka. Lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar.



Renungan



1. Panggilan seorang nabi

(1) Orang-orang yang merasa mengenal Yesus dan keluarga-Nya menolak-Nya karena latar belakang-Nya. Mereka tidak menyadari bahwa kebenaran tidak ada kaitannya dengan asal-usul maupun latar belakang.

Tuhan Allah kita bisa menggunakan siapa saja untuk mengungkapkan kebenaran-Nya maupun ajaran-ajaran-Nya

Misalnya: MUSA » berdosa karena pernah membunuh (Kel 2:12). Meskipun demikian, Allah memilihnya untuk menyampaikan kebenaran-Nya dan memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. PAULUS » hidupnya penuh kekerasan dan dosa (Kis 8:3). Meskipun demikian, Allah memilihnya untuk menjadi rasul-Nya. Mereka pernah mengalami penolakan. Oleh karena itu benar apa yang dikatakan Yesus (2).

Karena pembaptisan, kita telah dijadikan imam, nabi dan raja oleh Tuhan. Tugas nabi adalah memberikan pengajaran, menyampaikan kebenaran Tuhan. Menjadi seorang nabi tanggung jawabnya memang berat, namun bersama Tuhan kita akan diberi kekuatan untuk menjalankan tugas perutusan tersebut.

Tuhan Yesus memberkati.


2. Hikmat Tuhan

(1, A1-2) Orang-orang Nazaret mestinya mencari tahu darimana datangnya hikmat dan bukan malah menolak Yesus. 

Hikmat ada dua jenis yaitu : hikmat Tuhan (Ams 2:6; Yak 3:17) dan hikmat manusia (Yak 3:15-16 》 dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan). 

Hikmat Tuhan jauh lebih sempurna dari pada hikmat manusia yang berdasarkan prinsip-prinsip dunia. 

(B) Bagaimana caranya kita memperoleh hikmat Tuhan? (1) Meminta hikmat dari Tuhan (Yak 1:5a). (2) Takut akan Tuhan (Ams 9:10). (3) Bersikap rendah hati (Ams 11:2b)

Apa manfaat dari hikmat Tuhan? (1) Hidup kita dituntun oleh Allah (Yoh 16:13;14:26). (2) Kita bisa mengetahui kehendak Allah (Rm 12:2).

Jadi sekarang kita mengerti bahwa hikmat Tuhan dapat menuntun pikiran kita sejalan dengan pikiran Tuhan sehingga pikiran kita hanya fokus pada Tuhan. 

Semoga kita umat kristiani belajar dan mau sadar diri bahwa kita memerlukan hikmat Tuhan supaya kita menjadi lebih bijaksana menjalani hidup ini dan supaya kita tidak mudah iri hati melihat orang lain lebih sukses daripada kesuksesan kita. 

Tuhan Yesus memberkati.







19.49 -

Mat 9:18-26

Sarapan Pagi 
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)


Penanggalan liturgi

Senin, 9 Juli 2018: Hari Biasa XIV - Tahun B/II (Hijau
Bacaan: Hos 2:13, 14b-15, 18-19; Mzm 145:2-3, 4-5, 6-7, 8-9; Mat 9:18-26


1. Sentuhan Kristus
dan iman akan sentuhan-Nya

Sementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata: "Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan (1A) letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup." Lalu Yesus pun bangunlah dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya.

Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya. Karena katanya dalam hatinya: (2A) "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh."

Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, (2B) imanmu telah menyelamatkan engkau." Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.

Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut, berkatalah Ia: "Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur." Tetapi mereka menertawakan Dia.

Setelah orang banyak itu diusir, Yesus masuk dan (1B) memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu. Maka tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu

Renungan:

(1A ) Imannya sederhana namun mantap. Imannya akan sentuhan Yesus Kristus memperoleh ganjarannya (1B).

(2A) Menunjukkan iman besar pada sentuhan Yesus Kristus yang menyembuhkan itu. Inilah tanggapan Yesus terhadap iman perempuan itu akan sentuhan-Nya (2B).

Dalam tindakan-tindakan Yesus yang menentukan itu kita melihat bahwa Dia sungguh ingin menyentuh orang-orang secara pribadi dan membawa rahmat dan belas kasih-Nya bagi mereka.

Inilah sebabnya mengapa Tuhan kita datang ke tengah dunia, agar iman kita dapat mencapai titik di mana kita dapat menyentuh Dia, agar kuasa-Nya dan kebaikan-Nya dapat keluar untuk menyentuh kita.

Selama hidup-Nya di tengah dunia, Yesus datang berkontak dengan orang-orang beriman lewat kehadiran-Nya secara fisik, sabda-Nya, tindakan-tindakan-Nya. Dia ingin dan merencanakan untuk melanjutkan kehadiran-Nya oleh sabda/kata-kata dan tindakan-tindakan-Nya.

Dalam sakramen-sakramen, Yesus melanjutkan sentuhan-sentuhan-Nya; lewat sabda dan tindakan-tindakan-Nya, sama seringnya dengan pendekatan kita kepada-Nya dalam iman.

Dalam Ekaristi Kudus, Kristus ada di tengah-tengah kita untuk menyentuh kita secara fisik, untuk memberi makan kepada kita dan membuat diri kita menjadi kudus. Dalam Sakramen Rekonsiliasi, kata-kata Yesus adalah untuk mengampuni dan menyembuhkan kita. Kita mendengar semua itu melalui seorang imam. Dalam Gereja-Nya, kuasa Yesus Kristus, sabda-Nya, tindakan-tindakan-Nya terus berlanjut untuk menyentuh kita.

Tuhan Yesus memberkati.




19.16 -

Respon dalam menghadapi orang yang suka mengkritik dan mengejek



Pernahkah kamu bertemu dengan seseorang yang selalu saja mengkritik atau mengejek apa saja yang kamu lakukan? Orang-orang seperti itu sangat menyebalkan bukan? Mereka seperti sengaja ingin membuat kita menjadi sedih, marah, dan bahkan menyimpan kepahitan. 

Tiga respon yang dapat kita berikan dalam menghadapi orang yang suka mengkritik dan mengejek:

1. Jangan memberikan respon apa-apa

Banyak yang suka bertanya kepada saya, “Apa yang harus saya lakukan kepada orang yang suka mengejek saya?” Jawaban saya kepada mereka biasanya adalah, “Diam saja, kamu tidak perlu menghiraukan orang tersebut.”

Ejekan dari orang-orang hanya dapat membuat kita menjadi sedih dan pahit hanya jika kita membiarkan ejekan-ejekan tersebut masuk ke dalam hati kita. Kita selalu memiliki pilihan, untuk menghiraukannya dan membiarkan ejekan-ejekan tersebut berbicara atas diri kita, atau tidak menghiraukannya dan lebih percaya akan apa yang Tuhan katakan atas diri kita. 

Lebih dari itu, semakin kita menghiraukan orang yang suka mengejek kita, semakin orang itu akan senang mengejek kita. Sedangkan, semakin kita tidak menghiraukan orang yang suka mengejek kita, semakin orang itu akan lelah dalam mengejek kita karena ejekan-ejekannya seperti tidak berdampak. 

“Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.” (1 Ptr 2:23)

Marilah kita mencontoh Yesus yang tidak membalas ejekan-ejekan orang lain, tetapi tetap tenang dan menyerahkan segala penghakiman kepada Allah Bapa yang mengadili dengan adil.

2. Merespon dengan hati-hati

“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah” (Yakobus 1:19).

Alkitab mengajarkan kita untuk lambat dalam berbicara tetapi cepat dalam mendengar. Mengapa? Karena kebenarannya, seringkali ada sebuah cerita di balik orang yang suka mengkritik dan mengejek. Seringkali mereka mengkritik dan mengejek orang lain bukan karena apa yang ada pada orang lain tersebut, melainkan karena apa yang ada pada diri mereka sendiri.

Ada sebuah kisah dimana seorang wanita menggedor pintu gereja dengan begitu keras sambil marah-marah. Ketika salah satu pengurus gereja keluar, wanita tersebut mencaci maki pengurus gereja tersebut - dia marah dengan mengatakan bahwa puji-pujian gereja terlalu berisik sehingga mengganggu ketenangannya. 

Pada awalnya, pengurus gereja tersebut meminta maaf kepada wanita tersebut jika gereja telah mengganggu ketenangannya. Namun entah mengapa, pengurus gereja ini merasa seperti ada bisikan di hatinya yang mengatakan bahwa itu bukanlah alasan sesungguhnya mengapa wanita itu marah-marah. Oleh karena itu, dia bertanya kepada wanita tersebut: “Apa alasan sesungguhnya kamu begitu marah? Kamu bisa menceritakannya kepadaku?”

Tiba-tiba air mata mengalir dengan begitu deras dari mata wanita tersebut. Dia mengaku bahwa sebenarnya gereja itu tidak salah, melainkan dia sedang sangat frustasi karena baru saja kehilangan anggota keluarganya, sehingga dia tidak dapat mengkontrol emosinya sendiri. 

Wanita itu meminta maaf kepada pengurus gereja tersebut dan berjanji tidak akan mengganggu mereka lagi. Pengurus gereja tersebut lalu memeluk wanita itu, menenangkannya, dan mendoakannya.

Jangan langsung mengambil konklusi bahwa orang-orang yang suka mengkritik atau mengejek adalah orang-orang jahat yang tidak memiliki hidup, tetapi coba cari tau akan alasan di balik perilaku mereka. Mungkin saja ada sebuah luka yang mendorong mereka dalam melakukan apa yang mereka lakukan. Janganlah membalas kritikan dengan kritikan atau ejekan dengan ejekan, tetapi balaslah dengan kasih

3. Selidiki dirimu mungkin saja mereka benar

Ketika orang lain mengkritikmu atau mengejekmu, jangan langsung berpikir mereka salah karena telah menindasmu. Tetapi, cobalah selidiki dirimu, apakah memang benar ada hal-hal yang kurang baik yang ada pada dirimu yang dapat kamu perbaiki.

Jika ada yang mengatakan gaya rambutmu terlalu kuno, mungkin sudah saatnya kamu mengganti model rambutmu menjadi sesuatu yang lebih bagus. Jika ada yang mengatakan bahwa caramu berpacaran terlalu posesif, mungkin sudah saatnya kamu berpacaran dengan lebih sehat tanpa terlalu posesif. Jika ada yang mengatakan kamu bodoh, mungkin sudah saatnya kamu belajar dengan lebih keras dan membuktikan bahwa kamu bukanlah seorang yang bodoh.

Intinya, kamu memiliki pilihan: Untuk membiarkan kritikan masuk ke dalam hidupmu sebagai penghancur, atau membiarkan kritikan masuk ke dalam hidupmu sebagai pembangun. Kebenarannya, apa yang musuhmu gunakan untuk menghancurkanmu dapat kamu gunakan untuk keuntunganmu. Berdoalah kepada Tuhan sehingga Dia memberikanmu hikmat dalam menghadapi setiap kritikan yang datang ke arahmu.

(Sumber: @gracedepth).