Tampilkan postingan dengan label *Manusia". Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *Manusia". Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Maret 2020

22.10 -

Engkau berharga di mata-Nya



Michael Jordan, berkulit hitam, lahir pada tahun 1963, di daerah kumuh Brooklyn, New York. Ia memiliki empat orang saudara, sementara upah ayahnya yang hanya sedikit tidak cukup untuk menafkahi keluarga. Semenjak kecil, ia melewati kehidupannya dalam lingkungan miskin dan penuh diskriminasi, hingga ia sama sekali tidak bisa melihat harapan masa depannya. 

Ketika ia berusia tiga belas tahun, ayahnya memberikan sehelai pakaian bekas kepadanya, “Menurutmu, berapa nilai pakaian ini?” Jordan menjawab, “Mungkin 1 dollar.” Ayahnya kembali berkata, “Bisakah dijual seharga 2 dollar? Jika engkau berhasil menjualnya, berarti telah membantu ayah dan ibumu.” Jordan menganggukkan kepalanya, “Saya akan mencobanya, tapi belum tentu bisa berhasil.” 

Dengan hati-hati dicucinya pakaian itu hingga bersih. Karena tidak ada setrika untuk melicinkan pakaian, maka ia meratakan pakaian dengan sikat di atas papan datar, kemudian dijemur sampai kering. Keesokan harinya, dibawanya pakaian itu ke stasiun bawah tanah yang ramai, ditawarkannya hingga lebih dari enam jam. Akhirnya Jordan berhasil menjual pakaian itu. Kini ia memegang lembaran uang 2 dollar dan berlarilah ia pulang. Setelah itu, setiap hari ia mencari pakaian bekas, lalu dirapikan kembali dan dijualnya di keramaian. 

Lebih dari sepuluh hari kemudian, ayahnya kembali menyerahkan sepotong pakaian bekas kepadanya, “Coba engkau pikirkan bagaimana caranya untuk menjual pakaian ini hingga seharga 20 dolar?” Kata Jordan, “Bagaimana mungkin? Pakaian ini paling tinggi nilainya hanya 2 dollar.” Ayahnya kembali memberikan inspirasi, “Mengapa engkau tidak mencobanya dulu? Pasti ada jalan.” 

Akhirnya, Jordan mendapatkan satu ide. Ia belajar melukis dari sepupunya, ia menggambar Donal Bebek yang lucu dan Mickey Mouse yang nakal pada pakaian itu. Lalu ia berusaha menjualnya di sebuah sekolah anak orang kaya. Tak lama kemudian seorang pengurus rumah tangga yang menjemput tuan kecilnya, membeli pakaian itu untuk tuan kecilnya. Tuan kecil itu yang berusia sepuluh tahun sangat menyukai pakaian itu, sehingga ia memberikan tip 5 dolar. Tentu saja 25 dollar adalah jumlah yang besar bagi Jordan, setara dengan satu bulan gaji dari ayahnya. 

Setibanya di rumah, ayahnya kembali memberikan selembar pakaian bekas kepadanya, “Apakah engkau mampu menjualnya kembali dengan harga 200 dolar?” Mata ayahnya tampak berbinar. 

Kali ini, Jordan menerima pakaian itu tanpa keraguan sedikit pun. Dua bulan kemudian kebetulan aktris film populer “Charlie Angels”, Farah Fawcett datang ke New York melakukan promo. Setelah konferensi pers, Jordan pun menerobos pihak keamanan untuk mencapai sisi Farah Fawcett dan meminta tanda tangannya di pakaian bekasnya. Ketika Fawcett melihat seorang anak yang polos meminta tanda tangannya, ia dengan senang hati membubuhkan tanda tangannya pada pakaian itu. 

Jordan pun berteriak dengan sangat gembira, “Ini adalah sehelai baju kaus yang telah ditandatangani oleh Miss Farah Fawcett, harga jualnya 200 dollar!” Ia pun melelang pakaian itu, hingga seorang pengusaha membelinya dengan harga 1.200 dollar. 

Sekembalinya ke rumah, ayahnya dengan meneteskan air mata haru berkata, “Tidak terbayangkan kalau engkau berhasil melakukannya. Anakku! Engkau sungguh hebat!” 

Malam itu, Jordan tidur bersama ayahnya dengan kaki bertemu kaki. Ayahnya bertanya, “Anakku, dari pengalaman menjual tiga helai pakaian yang sudah kau lakukan, apakah yang berhasil engkau pahami?” 

Jordan menjawab dengan rasa haru, “Selama kita mau berpikir dengan otak, pasti ada caranya.” Ayahnya menganggukkan kepala, kemudian menggelengkan kepala, “Yang engkau katakan tidak salah! Tapi bukan itu maksud ayah. Ayah hanya ingin memberitahumu bahwa sehelai pakaian bekas yang bernilai satu dolar juga bisa ditingkatkan nilainya, apalagi kita sebagai manusia yang hidup? Mungkin kita berkulit lebih gelap dan lebih miskin, tapi apa bedanya? Tergantung bagaimana kita mendayagunakan potensi yang ada dalam diri kita masing-masing.” 

Seketika dalam pikiran Jordan seakan ada matahari yang terbit. Bahkan sehelai pakaian bekas saja bisa ditingkatkan harkatnya, lalu apakah saya punya alasan untuk meremehkan diri sendiri? 

Sejak saat itu, dalam hal apapun, Michael Jordan merasa bahwa masa depannya indah dan penuh harapan. Dia mengasah potensinya hingga akhirnya dia menjadi salah seorang pemain basket terhebat di dunia ini dan menjadi salah seora ng atlet terkaya.

(Sumber: Warta KPI TL No. 179/III/2020).

Kamis, 07 November 2019

14.17 -

Bagaimana seharusnya manusia memperlakukan binatang dan sesama ciptaan lainnya?

Manusia harus menghormati Sang Pencipta dalam ciptaan-ciptaan lain. Peduli dan memperlakukan mereka dengan penuh tanggung jawab. Manusia, hewan-hewan, dan tumbuh-tumbuhan memiliki Pencipta yang sama, yang memanggil mereka menjadi makhluk hidup, atas dasar cinta kasih. Oleh karena itu, cinta kasih pada hewan adalah hal yang manusiawi. 

Meskipun manusia diperbolehkan untuk menggunakan dan memakan tumbuh-tumbuhan serta hewan, manusia tidak diizinkan untuk menyiksa hewan atau memeliharanya dalam kondisi yang tidak manusiawi. Hal itu melawan martabat penciptaan sama seperti eksploitasi bumi secara serampangan atas dasar keserakahan. 

(Sumber: Youcat 57). 

14.07 -

Apa alasan orang Kristen menghargai martabat manusia?

Setiap manusia, sejak awal kehidupannya di dalam rahim, memiliki martabat yang tidak dapat dirusak karena sejak kekal Allah menghendaki, mencintai, dan menebus. Manusia ditentukan untuk kebahagiaan kekal (KGK 1699-1715). 

Jika martabat manusia hanya dilihat berdasarkan keberhasilan dan prestasi pribadi, mereka yang lemah, sakit, atau tak berdaya tidak memiliki martabat. Orang Kristen percaya bahwa martabat manusia merupakan anugerah Allah sejak awal. Allah melihat pada setiap manusia dan mengasihinya seolah-olah dia adalah satu-satunya makhluk di dunia. Karena Allah memandang, bahkan hingga anak Adam yang paling kecil sekalipun memiliki nilai tak terbatas, yang dapat dirusak manusia lain. 

(Sumber: Youcat 280). 

Minggu, 25 Agustus 2019

19.25 -

Kerinduan akan Allah


[Kid 3:1-4] Di atas ranjangku pada malam hari kucari jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia. Aku hendak bangun dan berkeliling di kota; di jalan-jalan dan di lapangan-lapangan kucari dia, jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia. 

Aku ditemui peronda-peronda kota. "Apakah kamu melihat jantung hatiku?" Baru saja aku meninggalkan mereka, kutemui jantung hatiku; kupegang dan tak kulepaskan dia, sampai kubawa dia ke rumah ibuku, ke kamar orang yang melahirkan aku. 

» Kidung Agung menjadi kitab yang paling banyak diperdebatkan sepanjang sejarah. Pada awalnya, orang-orang Yahudi tidak bisa menerimanya begitu saja sebagai bagian dari Kitab Suci mereka. Perdebatan yang sama juga terjadi di antara orang-orang Kristen awal saat menerima kitab ini dalam kanon. Tidak diragukan lagi, salah satu sumber perdebatan yang utama adalah bahasaerotis” yang digunakannya. Bagaimana mungkin kitab yang bernuansapornografi” semacam itu bisa menjadi bagian dari Kitab Suci kita? 

Para nabi menggambarkan kasih Allah terhadap umat pilihan-Nya dengan gambaran suami-istri. Hal ini sudah ada pada zaman nabi Hosea. Selanjutnya, orang-orang Yahudi pada abad ke-2 Masehi juga menafsirkan Kidung Agung sebagai kiasan kasih Allah kepada Israel. 

Sementara itu, para pujangga Kristen juga menempuh jalan yang sama. Origenes memelopori tafsiran alegoris (kiasan) ini. Dia menggunakan kiasan perkawinan guna menggambarkan relasi antara Kristus dan Gereja-Nya

Jika Kidung Agung berbicara tentang anugerah Allah, yakni cinta kasih yang luhur dan mulia, maka tidak ada keberatan kitab ini menjadi bagian Kitab Suci kita. Bahasa cinta yang menyala-nyala, yang barangkali bernuansa erotika, hanyalah kekaguman seseorang pada kekasihnya yang sangat dicintainya. Bahasa cinta yang menyala-nyala itu gema dari bahasa cinta awali: “Inilah tulang dari tulangku dan daging dari dagingku.” (Kej 2:23). Itulah keajaiban cinta pertama. Manusia pertama terpesona melihat belahan jiwanya

Kerinduan akan Allah sudah terukir dalam hati manusia karena manusia diciptakan oleh Allah dan untuk Allah. Allah tidak henti-hentinya menarik dia kepada diri-Nya. Hanya dalam Allah manusia dapat menemukan kebenaran dan kebahagiaan yang dicarinya terus-menerus: 

"Makna paling luhur martabat manusia terletak pada panggilannya untuk memasuki persekutuan dengan Allah. Sudah sejak asal mulanya manusia diundang untuk berwawancara dengan Allah. Sebab manusia hanyalah hidup, karena ia diciptakan oleh Allah dalam cinta kasih-Nya, dan lestari hidup berkat cinta kasih-Nya. Dan manusia tidak sepenuhnya hidup menurut kebenaran, bila ia tidak dengan sukarela mengakui cinta kasih itu, serta menyerahkan diri kepada Penciptanya" (GS 19,1) (KGK 27). 

Oleh karena itu kita harus bersekutu dengan-Nya, kita berbicara dengan-Nya bila berdoa, kita mendengar-Nya bila kita membaca amanat-amanat ilahi (Ambrosius, KGK 2653). 

Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkaukarena hukum-hukum-Mu yang adil (Mzm 119:164).

Doa menghasilkan pengenalan diri. Mengenal diri dalam doa tidak terjadi di tingkat akal budi, melainkan dalam suatu perjumpaan yang menyentuh hati. Dalam tangisan kita disentuh dan dikuasai oleh Allah secara langsung

Air mata memulihkan kembali keseimbangan antara yang rohani dan jasmani, antara budi dan perasaan dan memulihkan kembali juga kesatuan di dalam diri manusia

Jadi, dalam hatinya manusia mengalami keutuhan, yang tidak terancam lagi oleh suatu rasa sakit, dan suatu kesukaan yang tidak dapat diganggu lagi oleh kekecewaan dan kegagalan. 

[Baca juga: Karunia air mata

Kerinduan berbicara mengenai “hati”, Allah merindukan penyembah-penyembah dalam roh dan kebenaran (Yoh 4:23). Kerinduan-Nya, manusia beribadah dengan hatinya bukan hanya memuliakan-Nya dengan mulut bibirnya saja (Yes 29:13; Mat 15:8). Jadi, jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan (Ams 4:23). 

Jika kita merindukan mempunyai tubuh yang sehat dan kuat, kita perlu makan makanan yang bergizi setiap hari. Demikian juga jika kita merindukan mempunyai jiwa dan roh yang sehat dan kuat, kita perlu makan makanan bergizi, yaitu ajaran sehat, perkataan Tuhan kita Yesus Kristus (1 Tim 6:3). 

Tuhan adalah kekuatan dan perisai kita, ketika kita tinggal pada pokok anggur yang benar maka jiwa dan roh kita akan sehat dan kuat sehingga kita akan dimampukan oleh-Nya memuji dan bersyukur sepanjang hari (Mzm 28:7; Yoh 15:4-5; Mzm 34:1; 44:9). 

Jadi, sebagai orang percaya kita harus memiliki kerinduan yang berbeda dengan orang-orang dunia pada umumnya. Kidung Agung ini merupakan cermin untuk berefleksi apakah kerinduan kita sama ketika akan beribadah setiap hari Minggu? Apakah perasaan hati kita biasa-biasa saja, menggerutu karena merasa kewajiban ke gereja? Ketika Misa berlangsung, apakah ada perasaan tidak nyaman ketika mendengar homili yang tidak sesuai dengan harapan kita dan mendengar koor yang nadanya kurang pas? Jika semua perasaan ini ada, berarti ada yang salah dalam kehidupan rohani kita. Seharusnya kita beribadah dengan penuh gairah dan bersyukur karena Allah telah menyelamatkan hidup kita. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 172/VIII/2019 » Renungan KPI TL Tgl 1 Agustus 2019, Dra Yovita Baskoro, MM).

Senin, 20 Mei 2019

18.58 -

Hidup dalam ketenangan

Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku (Mzm 62:6)

Sebagai orang percaya kita harus tetap tenang. Ketenangan bukanlah sebuah keadaan melainkan sebuah keputusan. Artinya seburuk apa pun situasi yang ada dan membuat hati tidak tenang kita dapat memutuskan agar tetap tenang. 

Mengapa kita harus tetap tenang dalam menjalani hari-hari yang sulit? Karena kita mempunyai Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kita dan pertolongan-Nya selalu tepat pada waktunya

Daud berkata, "Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti." (Mzm 46:2). Jadi tidak ada alasan untuk tidak tenang.

Hari-hari ini dunia sudah semakin kehilangan ketenangan. Orang yang kaya gelisah dan tidak tenang hidupnya karena memikirkan bagaimana cara menyimpan uang dan hartanya secara aman

Sebaliknya orang miskin juga tidak bisa tenang karena hari-harinya dipenuhi oleh rasa kuatir bagaimana memenuhi kebutuhan hidupnya. Kunci untuk hidup tenang adalah memiliki penyerahan diri penuh kepada Tuhan.

Dalam Yesaya 30:15 dikatakan, "Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu." (Yes 30:15).

Ternyata ketenangan dalam diri seseorang mendatangkan kekuatan yang luar biasa! Orang yang tenang dapat kuat menghadapi persoalan apa pun. Sebaliknya orang yang tidak tenang, pikirannya akan cenderung menuju ke arah negatif. Banyak keputusan-keputusan yang salah atau keliru kita buat ketika kondisi hati kita sedang tidak tenang.

Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa (1 Ptr 4:7b).

Bila kita tenang kita bisa berdoa dan banyak persoalan yang dapat kita selesaikan ketika kita berdoa. Sungguh, "Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatkanku." (Mzm 62:2). Artinya, ketenangan hanya kita dapatkan ketika kita hidup dan tinggal dekat Tuhan.

Mari kita jalani hari-hari kita dengan penuh penyerahan diri kepada Tuhan, sehingga kita tetap tenang di segala situasi!

18.13 -

Apakah kebebasan itu dan apa tujuannya?

Kebebasan adalah kemampuan yang diberikan Tuhan kepada manusia agar dapat bertindak sesuai dengan kehendak sendiri; pribadi yang bebas selalu bertindak tidak di bawah pengaruh orang lain (KGK 1730-1733, 1743-1744). 


Allah menciptakan kita sebagai ciptaan bebas dan Ia menghendaki kebebasan kita sehingga kita bisa memutuskan dengan sepenuh hati demi kebaikan, dan demi “kebaikan terbesar” demi Allah sendiri. Semakin kita melakukan apa yang baik, semakin kita menjadi bebas

(Sumber: Warta KPI TL No. 169/V/2019 » Youcat 286). 

Tetapi bukankah “kebebasan” juga berarti bisa memilih untuk melakukan yang jahat

Kejahatan hanya tampaknya saja menarik untuk dikejar, dan mengambil keputusan untuk melakukan kejahatan hanya tampaknya saja membuat kita bebas. Kejahatan tidak membuat kita bahagia tetapi menghalangi kita dari kebaikan yang sejati. Kejahatan membelenggu kita pada sesuatu yang sia-sia dan pada akhirnya menghancurkan kebebasan kita seluruhnya (KGK 1730-1733, 1743-1744). 

Kita melihat ini dalam kasus kecanduan: Seseorang menjual kebebasannya untuk sesuatu yang kelihatan baik baginya. Pada kenyataannya ia justru menjadi budak. 

Manusia menjadi makhluk paling bebas ketika ia selalu bisa berkata: “Ya” untuk yang baik; ketika tidak mengalami kecanduan, tidak mengalami paksaan, tidak mengalami belenggu, tidak memiliki kebiasaan buruk yang mampu mencegah dia memilih untuk melakukan yang benar dan baik. Keputusan untuk melakukan yang baik selalu merupakan keputusan menuju Allah. 

(Sumber: Warta KPI TL No. 169/V/2019 » Youcat 287).

Jumat, 03 Mei 2019

06.31 -

Perbarui dirimu



Dengan menjadi manusia, kita berdosa setiap hari, tetapi Santo Paulus menghibur kita dengan mengatakan ‘perbarui dirimu’ dari hari ke hari. Inilah yang kita lakukan dengan rumah-rumah: kita terus-menerus memperbaiki rumah ketika roboh. Kamu harus melakukan hal yang sama kepada dirimu sendiri.” (St. Yohanes Krisostomus) 

Selasa, 17 Juli 2018

04.49 -

Pengenalan diri terjadi dengan mengenal Tuhan



Beberapa kali Teresa Avila menekankan PENGENALAN DIRI. Rupanya dia ingin supaya setiap orang yang memperhatikan hidup rohani mereka, benar-benar mengenal siapa diri mereka, sungguh-sungguh mengenali jiwa mereka. 

Pengenalan diri ini adalah pijakan bagi setiap langkah kita dalam mengembangkan hidup rohani. Teresa Avila menyebutkan pengenalan diri secara sungguh-sungguh, tidak mungkin terjadi tanpa MENGENAL TUHAN.

Teresa mengambil contoh lebah yang bekerja memproduksi madu. Dalam memproduksi madu, tak selamanya lebah diam di sarangnya. Dia keluar dan menghisap bakal madu dari bunga-bunga yang didatanginya. 

Kita pun diajak untuk keluar dari kenyamanan kita, keluar dari rutinitas kita, keluar dari kesibukan kita terhadap diri sendiri, untuk MEMANDANG DAN MERASAKAN KEAGUNGAN TUHAN. 

Saat mengalami keagungan Tuhan itu, kita semakin menyadari betapa kecil dan tiada artinya diri kita. Saat mengalami betapa murni dan kudusnya Tuhan, kita semakin kenal betapa berdosa dan hinanya diri kita. Dengan mengalami kerendahan hati-Nya, semakin jelas kita mengenali diri sebagai pribadi yang kurang rendah hati.

Dengan mengalami keagungan Tuhan dan menempatkan diri di samping-Nya, bukan berarti kita diajak untuk lebih terpuruk melihat perbedaan yang demikian besar. Sebaliknya, kita diajak senantiasa memandang Tuhan, supaya memiliki KUALITAS DIRI dan HIDUP yang lebih sesuai dengan Allah sendiri.

Kita didorong untuk mengarahkan diri kepada Tuhan; semakin percaya diri, tidak cemas dan tidak takut dalam melangkah dan tetap bersemangat memperbaiki diri dengan bantuan rahmat Tuhan ke arah yang dikehendaki-Nya.

Semoga kita mampu mengalami kehadiran Allah yang agung dan semakin mengenali diri serta menerima rahmat kekuatan untuk terus-menerus memperbaiki diri.

(Sumber: Suara Karmel).

04.43 -

Jiwa



KELUHURAN JIWA

Kalau kita perhatikan, aktivitas harian kita lebih banyak menarik kita untuk mengurusi berbagai keperluan tubuh kita. Alhasil, konsentrasi kita lebih banyak terpusat pada tubuh dan melupakan hal yang lebih halus, yaitu JIWA kita.

Teresa Avila mengingatkan supaya kita tidak melupakan JIWA. Melalui jiwa itulah kita dianugerahi banyak rahmat yang memungkinkan kita semakin dekat dengan Allah. Bahkan seperti apa yang digambarkan Teresa, JIWA yang murni bisa menjadi Firdaus bagi Allah.

Mari selalu mengingat, mengenal dan merawat jiwa kita masing-masing.






JIWA PUNYA PEMBANTU?

Teresa Avila mengingatkan bahwa kita memiliki pembantu-pembantu jiwa, yaitu PANCA INDERA dan DAYA-DAYA BATIN kita. Mereka sangat mempengaruhi gerakan kita dalam mengenal dan merawat jiwa. Kalau mereka bertentangan dengan arah yang seharusnya, maka kita akan mengalami banyak kesulitan untuk maju. Sebaliknya, jika mereka bergerak sejalan, seia sekata, maka gerak maju kita ke kedalaman jiwa akan semakin baik.

PANCA INDERA, sudah sangat jelas lekat dalam tubuh kita dan bisa kita rasakan sendiri apa fungsinya. Panca indera membantu jiwa menemukan keluhurannya, ketika fungsinya diarahkan untuk mendukungnya, yaitu mencari dan menemukan hal-hal yang sesuai arah jiwa menuju Allah. 

Misalnya, mata digunakan untuk melihat keindahan Allah, telinga dipakai untuk mendengar merdunya Firman Allah, hidung digunakan untuk membaui kekudusan Allah, kulit digunakan untuk merasakan kehadiran Allah, mulut digunakan untuk mengatakan kata-kata ilahi. 

Sebaliknya, panca indra akan menjadi penghambat bahkan halangan, ketika dipakai untuk mencari dan menemukan hal-hal yang menjauhkan jiwa dari arah semestinya.

DAYA-DAYA BATIN, merupakan hal-hal yang lebih halus namun memiliki kekuatan yang bisa mempengaruhi gerak jiwa untuk mendekat atau menjauh dari Allah

Daya-daya batin itu adalah DAYA INGAT (memori), DAYA PIKIR (intelek), DAYA KEHENDAK (keinginan). Daya ingat ini memiliki kekuatan untuk menahan kesan-kesan dan ingatan. Daya pikir memiliki kekuatan untuk memaknai dan memahami sesuatu. Daya kehendak memiliki kekuatan untuk mendambakan atau menginginkan. Bisa dibayangkan bagaimana nasib jiwa, jika kekuatan-kekuatan ini tidak sejalan dan saling mengunggulkan dirinya. 

Maka Teresa mengingatkan supaya kita pun berusaha mengenali gerakan daya-daya batin ini dan menyelaraskannya supaya membantu kita mencapai pusat relung jiwa kita.

Mari bersama-sama terus menyadari fungsi pancaindera dan daya-daya batin, yang bisa membelokkan kita dan bertentangan dengan arah hidup kita. Tetapi sekaligus juga bisa mendukung dan memperkuat perjalanan kita menuju kepada Allah. Semoga kita semakin mampu menyelaraskan fungsi pancaindera dan daya-daya batin kita sesuai dengan kehendak Allah.





KEINGINAN SETAN TERHADAP JIWA

Rupanya ada KEKUATAN LAIN YANG IKUT BERMAIN dalam perjuangan kita mengenali dan merawat jiwa. Kekuatan itu adalah setan sendiri. Mereka tidak suka terhadap jiwa-jiwa yang mau berkembang dan maju dalam hidup rohani. Mereka tidak ingin jiwa semakin mendekat kepada Allah.

Teresa Avila menegaskan bahwa setan bermaksud jahat dengan menempatkan bala pasukannya di setiap ruang jiwa, untuk MENGHALANGI JIWA BERGERAK MAJU ke ruang terdalam. Lebih fatal lagi, mereka berusaha untuk menarik kita keluar, sehingga kita tak mengenali lagi keluhuran jiwa kita. 

Bisa dibayangkan, ketika kita enggan mengenali keluhuran jiwa kita dan enggan untuk merawatnya, setan bersorak gembira karena ini adalah kesempatan baginya. Dia akan berusaha mempergunakan keengganan kita ini untuk menarik kita pelan-pelan ke luar area jiwa kita. 

Kita yang semula sudah memiliki perkembangan hidup rohani yang baik, bisa terseret keluar jalur hingga tak sudi lagi memperhatikan hidup rohani kita.

Teresa Avila juga menggambarkan setan seperti kikir yang halus, MENGIKIS KESEIMBANGAN HIDUP ROHANI. Misalnya, dia membisikkan kepada seseorang untuk melakukan latihan rohani secara berlebihan, contohnya berpuasa dan menyiksa tubuh secara berlebihan sehingga merusak kesehatan tubuh. Padahal kita juga mesti menghormati kesehatan tubuh kita. 

Misalnya lagi, setan mendorong seseorang melakukan aktivitas rohani yang cukup banyak dan menjadikannya sebagai ukuran kesucian. Sehingga orang lain yang tidak melakukan aktivitas rohani sebanyak yang dikerjakannya, dinilai rendah dan dilihat bukan apa-apa. Mulailah ditanamkan bibit-bibit kesombongan rohani.

Setan juga bergerak aktif untuk MENDINGINKAN DAN MEMATIKAN CINTA TERHADAP SESAMA. Dengan memunculkan dan menumbuhkan kesombongan rohani, setan berusaha menghancurkan relasi kasih dalam komunitas dan sesama orang beriman. Kesombongan rohani bisa memunculkan dorongan untuk melihat dan menilai buruk apa yang dikerjakan orang lain. 

Ini akan membuat hati kita tidak tenang dan tidak damai, karena konsentrasi kita jadi lebih banyak mengamati orang lain dan mencari-cari kemungkinan adanya hal-hal yang bisa dinilai buruk dari orang lain. Demikian juga orang lain didekat kita, akan selalu merasa tidak nyaman, karena perilaku kita tersebut. Akhirnya terjadilah friksi, terbentuklah tirai pemisah, yang lama-lama akan menghancurkan komunitas. Itulah yang diinginkan setan, sehingga kita tak jadi maju dalam hidup rohani.

Sadar bahwa kita seringkali belum mampu melawan pengaruh kekuatan setan ini, Teresa Avila menasihati kita supaya mohon perlindungan Tuhan sendiri dan juga meminta bantuan Bunda Maria serta orang-orang kudus supaya turut berdoa bagi jiwa kita dan supaya berperang melawan setan untuk kemenangan jiwa kita. 

Semoga kita mendapatkan belas kasih dan perlindungan Allah dan bantuan doa Bunda Maria serta orang-orang kudus di Sorga dalam perjuangan melawan dan menentang pengaruh di jahat.

(Sumber: Suara Karmel).

Jumat, 06 Juli 2018

07.03 -

Empati



Hanya ada satu cara anda untuk bisa menjadi empati, terus isi hati anda dengan Tuhan, jika tangki bahan bakar anda kosong, maka anda tidak akan bisa berempati sama sekali, jadi pastikan anda terus menerus dipenuhi dengan Tuhan (IHT).

(1 Ptr 3:8) Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati,

Empati begitu penting sebab memenuhi dua kebutuhan terdalam kita, kebutuhan dasar untuk dipahami dan kebutuhan mendalam agar perasaan kita disetujui.

(Rm 12:15) Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis

Berempati lebih dari sekedar ucapan, melainkan turut merasakan, kita harus bersedia menangis bersama mereka yang berduka serta tertawa melihat orang yang bersukacita karena mengalami hal baik atau keberuntungan.

(Rm 12:17) Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! 

Ketika tersinggung sedikit saja kebanyakan orang memendam perasaannya, bahkan mencari kesempatan untuk membalasnya, sifat dan perangai seperti ini harus kita buang jauh jauh dari hidup kita.

(Rm 12:18) Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang

Hidup itu pilihan, segala keputusan dan hasil sebenarnya tergantung diri kita sendiri, ketika melangkah sesuai dengan ketetapan Tuhan, maka segala apa yang kita peroleh selalu baik dan indah.

(Rm 12:19) Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. 

Jika sampai tidak kuat menahan pergumulan karena aniaya orang lain, jangan membalasnya, tetapi berserahlah pada Tuhan, sebab pembelaan Tuhan selalu datang tepat waktunya

(Rm 12:20) Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya

Tetap tabur kebaikan dalam hidup kita, maka percayalah segala yang baik pasti menjadi milik kita.

(Rm 12:21) Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan! 


Filosofi orang Jepang mengenai "empati"

Hubungan antar manusia yg paling tinggi levelnya, yang terus diajarkan dari generasi ke generasi, diajarkan sejak balita dan menjadi kiblat orang Jepang adalah "Empati".

Empati atau mem-posisi-kan diri menjadi orang lain (memposisikan diri kita menjadi lawan bicara).

Kalau sedang ngomong sama orang tua, cobalah untuk menjadi orang tua yang sering "kebingungan" itu.

Sedang ngomong dengan "anak anda", maka jelmakan diri anda menjadi anak yang bandel.

Sedang ngomong ke Customer atau Downline, maka menjelmalah menjadi dia terlebih dulu.

Mau ngomong ke upline, sahabat, musuh, maka jadikanlah diri anda diri mereka terlebih dulu dan bila anda menjadi dia, "apa yang ingin Anda dengarkan?"

Kenapa dompet yang jatuh di kereta Jepang, kemungkinan besar akan balik ke pemiliknya? Karena yg menemukan langsung akan berpikir, bila uang di dompet ini saya ambil ... Jangan-jangan yang punya, tidak punya uang lagi, gajian baru bulan berikut nya, dia pasti akan bingung bayar hutang, bingung bayar listrik, bingung beli makan, nanti dia akan dimarahin istri, anak dia akan kelaparan atau dia akan mati karena perbuatan saya ini.

Ya, mereka selalu berpikir tentang Empati. Itulah makanya negaranya aman dan cepat maju karena sejak kecil sudah diajarkan Empati.

1. Yang ketahuan korupsi, bunuh diri karena malu.

2. Pejabat yang merasa gagal akan mundur, karena dia pakai kacamata rakyatnya.

3. Wanita pulang kerja malam hari terjamin keamanannya, karena para pria berpikir, gimana kalau itu adik, anak atau istri saya.

Milikilah ilmu orang Jepang.

Selasa, 04 April 2017

18.08 -

Manusia menurut gambar dan rupa Kita



[26] hari ke-enam, (1) Baiklah Kita (2) menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kitasupaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi. 

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."

Mengapa Allah menciptakan manusia paling akhir dari seluruh rangkaian penciptaan-Nya? Ia menciptakan manusia pada hari terakhir di mana segala sesuatu telah diciptakan karena manusia sangat berharga di mata-Nya lebih daripada ciptaan-ciptaan-Nya yang lain, Semua ini menunjukkan bahwa Allah sangat memperhatikan kebutuhan manusia, sejak manusia itu muncul pertama kali di bumi ini.

(1) Siapakah “Kita” yang diajak ikut serta oleh Tuhan ini? Mengapa pengarang memakai bentuk jamak “Kita” dan bukan bentuk tunggal “Aku”. 

Ada banyak tafsiran.

Menurut beberapa Bapa Gereja, “Kita” adalah ketiga Pribadi Tritunggal (Bapa, Putera, dan Roh Kudus). Tafsiran ini lazim di kalangan Gereja, dan masih banyak dipakai sampai sekarang untuk mendasari iman akan Tritunggal. 

Namun harus diakui bahwa pendasaran ini tentu tidak kuat. Mengapa? Ayat ini ditulis sekitar abad ke-6 SM oleh para imam Yahudi yang pasti belum mengenal konsep Tritunggal. Selain itu, sampai kini orang Yahudi, yang mempercayai teks ini sebagai Kitab Suci mereka, tidak percaya akan Tritunggal. Rasanya tidak masuk akal bahwa menulis sesuatu yang sama sekali tidak diketahui atau dipikirkannya. Karena itu tafsiran ini kini mulai ditinggalkan.

Kita” adalah Allah dan manusia. Jadi, ayat 26a harus dipahami dalam arti Allah mengajak manusia (“marilah Kita”) untuk ikut serta dalam penciptaan manusia. Tafsiran inilah yang tampaknya paling tepatdan kini diikuti oleh banyak penafsir modern.

Terhadap tafsiran seperti ini orang mungkin mengajukan keberatan berikut: bagaimana mungkin manusia yang belum ada sudah diajak ikut serta dalam menciptakan manusia

Jawabannya sederhana. Keberatan seperti itu muncul karena kita terbatas pada ruang dan waktu, sementara Allah tidak. Seperti Petrus dalam suratnya mengatakan: “Di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari (2 Ptr 3:8).

Keakuratan tafsiran ini tampak dari pemakaian kata kerja “asa” (membuat) pada ayat 26 dan “bara” (mencipta) ayat 27. 

(2) Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan (asa) manusia (adam) menurut gambar dan rupa Kita. Kata ‘asa’ yang berarti membuat atau menjadikan, dipakai bisa untuk Allah ataupun manusia sebagai subjek. 

Allah menyatakan rencana-Nya mengajak manusia untuk bekerja sama membuat manusia menurut gambar dan rupa Kita (Allah dan manusia). 

Manusia diciptakan setengah jadibelum sempurna sebagai manusiaartinya ia selalu dalam proses menjadi manusia sejatimanusia yang memiliki gambar dan rupa Allahmanusia yang ilahi dan insani.

Proses pengembangan diri ini merupakan perwujudan kreavitas manusia yang sejak semula direncanakan oleh Allah mewakili diri-Nya di dunia ini.

Jadi, rencana Allah sejak semula, sejak belum diciptakan, Allah sudah merencanakan manusia serupa dengan diri-Nyayaitu kreatif.

Manusia dianugerahi akal budi (reason) yang terdiri dari akal (intellect) dan kehendak (will). Akal budi inilah yang membuat manusia mempunyai kehendak bebas untuk berkata “ya” atau “tidak” terhadap Pencipta.

Gambar ini rusak bahkan hilang karena manusia berdosa (tidak terarah kepada Allah). Satu-satunya manusia sejatimanusia yang bebas dari dosa, ialah Yesus Kristus. Ia bukan saja memiliki gambar dan rupa manusia melainkan juga gambar Allah (Bdk. Kol 1:15; Yoh 14:9).

Jika seseorang mau mengetahui manusia sejati, ia harus melihat Yesus, sebab Dia mempunyai dua rupa: Dia sungguh Allah, sungguh manusia dan bukan manusia setengah jadi.

Jika seseorang mau menjadi manusia sejati seperti yang direncanakan oleh Allah, ia harus meneladani Yesusmenjadi serupa dengan-Nya (Rm 8:29).

Jika kita melihat Kristus maka tampak bahwa unsur utama Allah bukanlah akal budi melainkan kasih dan keterarahan total kepada Allah. Kasih-Nya begitu besar sampai Ia rela melayani dan menyerahkan nyawa-Nya untuk keselamatan manusia (Mrk 10:45; Yoh 15:13).

Seluruh hidupnya terarah kepada Allah dan Dia datang hanya untuk melakukan kehendak Allah (Yoh 4:34). Selain itu, Ia juga berkuasa penuh atas alam seperti Ia buktikan dalam meredakan badai, berjalan di atas air, dan menyembuhkan pelbagai macam penyakit.

Sudahkah hidup kita dalam kasih dan sepenuhnya terarah kepada Allah? Atau adakah kita lebih terarah kepada hal-hal duniawi seperti kekayaan dan kenikmatan jasmani?

Memiliki martabat sebagai citra Allah mengandaikan relasi yang dekat dengan Allah, seperti manusia dan gambarnya di cermin, atau seperti bapa dan anak.

Manusia menghadirkan Allah di dunia ini bukan karena sifat dan keunggulannya dibandingkan dengan ciptaan lain, melainkan kedekatannya dengan Allah.

Relasi yang dekat membuat manusia mengenal Allah dan memiliki gambaran yang benar tentang AllahPengenalan ini menjadi sumber pengenalan manusia akan dirinya.

Ketika mengenal Allah sebagai penciptamanusia mengenal dirinya sebagai ciptaan yang serupa dengan Allah.

Ketika relasi ini rusak dan manusia tidak lagi terarah kepada Allah serta menempatkan-Nya sebagai asal dan tujuan akhir hidupnya, bukan saja martabatnya terkoyak melainkan identitasnya.

Manusia mengalami krisis identitas, keterkoyakan dan keterbelahan kepribadian serta keterasingan diri. Hal yang demikian ini banyak dialami oleh manusia dewasa ini.

Mereka merasa seperti terputus dengan dirinya sendiri, orang lain dan Tuhan karena ruang spiritual dalam dirinya terkoyak.

[27] Maka Allah menciptakan (bara) manusia (adam) itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

Allah menciptakan adam. Apa yang dimaksud adam? Dari sudut etimologis, tampaknya kata Ibrani ‘adam’ dari akar kata ‘dm’ yang berarti merah. Hal ini mungkin merujuk ke warna kulit manusia yang kemerah-merahan ketika lahir. Selain itu, sepertinya juga ada permainan kata antara adam (manusia) dan adamah (tanah) yang menekankan bahwa manusia berasal dari tanah (Bdk. Kej 2:7).

Yang jelas, adam di sini bukanlah nama diri, melainkan kata benda umum yang berarti manusia (baik laki-laki maupun perempuan) atau kemanusiaan.

Kemudian pada Kej 2:22 ia digunakan dalam arti orang laki-laki yang dipertentangkan dengan perempuan, Hawa, namun dalam terjemahannya tetap dipakai kata manusia. Baru pada Kej 4:25 Adam mulai digunakan sebagai nama diri.

Ketika manusia (adam) diciptakan oleh Allah, manusia itu satu, karena dikatakan “menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia” 

Kemudian Allah membuat manusia yang satu ini menjadi jamak (mereka): “laki-laki (zakar) dan perempuan (neqebah) diciptakan-Nya mereka”.

Dipakainya kata zakar (jenis laki-laki/maskulinitas dan neqebah (jenis perempuan/feminitas) dan bukan is (orang laki-laki) dan issa (orang perempuan) mungkin mau menunjukkan bahwa kemanusiaan itu adalah perpaduan laki-laki (maskulinitas) dan perempuan (feminitas).

Manusia bukanlah perempuan semata-mata atau laki-laki saja. Setiap manusia memiliki dalam dirinya unsur feminitas dan maskulinitas. Itulah salah satu sebab mengapa ia kreatif.

Manusia adalah gambar Allah ketika mereka satu (tunggal “ia”), ketika ia merupakan persatuan antara laki-laki dan perempuan.

Perbedaan gender ini dimaksudkan untuk saling mengisi dan melengkapi agar manusia menjadi semakin kreatif

Ketika laki-laki dan perempuan ada dalam relasi yang harmonisada dalam kesatuanmereka semakin mendekati gambar Sang PenciptaKarena ketika laki-laki dan perempuan bersatu (bersetubuh) mereka kreatif (melahirkan anak) seperti Allah kreatif.

[28] Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "(1) Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan (3) taklukkanlah itu, (2) berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."

» Tuhan tidak saja menciptakan, tetapi memberikan kesempatan untuk bekerjasama dengan-Nya mewujudkan rencana-Nya (KGK 306). Kepada manusia diberikan kuasa untuk memenuhi dan menaklukkan bumi (Kej 1:26-28); mengambil bagian dalam karya penciptaan, dan mengusahakan keseimbangannya demi kebaikannya dan kebaikan sesama.

Manusia diundang untuk mengambil bagian dalam rencana Allah, melalui perbuatannya, doa-doanya maupun penderitaannya, dan dengan demikian menjadi “kawan sekerja Allah” (1 Kor 3:9, 1 Tes 3:2; Kol 4:11).

Menjadi penakluk bumi bukan dengan merusak bumisebab Tuhan memanggil manusia laki-laki dan perempuan untuk menjadi gambaran Allah yang menyayangi semua yang ada dan mengambil bagian dalam penyelenggaraan bagi ciptaan yang lain dan manusia bertanggungjawab atas bumi kepada Tuhan yang telah mempercayakannya kepadanya (KGK 373).

Kreativitas manusia tersirat dalam berkat yang diberikan kepadanya setelah ia diciptakan. Jadi Allah memberkati manusia agar ia berkembang biak, kreatif membuat anak dan berkuasa atas ciptaan lain.

(1) Mendapat anak adalah tanda berkat atau kasih Allah untuk manusia (Bdk Mzm 127:3). Setiap pasangan suami istri sepatutnya menerima dan menghidupi tanggung jawab atas anugerah itu, yakni tanggung jawab memberi hidup!

(2) Namun berkat untuk berkuasa atas ciptaan lain sering disalahartikan sebagai pembenaran tindak kekerasan manusia terhadap ciptaan lain. Merasa mendapat berkat khusus dari Allah manusia mengelola alam sewenang-wenang hingga merusak keseimbangan dan kelestarian alam.

(3) Memang sepintas berkat Allah agar manusia “menaklukkan” dan “menguasai” segala jenis binatang kedengarannya berbau kekerasan.

Marilah kita melihat konteks Kej 1:1-2:4a. Konteks ini berbicara tentang Allah sebagai Pencipta yang menciptakan semesta alam ini baik, indah, teratur, dan harmonis.

Adalah sangat tidak masuk akal bila pada puncak karya penciptaan-Nya, Ia memerintahkan manusia untuk memperlakukan dan mengelola alam semesta secara sewenang-wenang dan tidak bertanggung jawab.

Selain itu, berkuasa merupakan bentuk gambar Allah dalam diri manusia, karena itu dalam mengejawantahkannya manusia harus bercermin pada Allah.

Allah menunjukkan kekuasaan-Nya tanpa kekerasantanpa menghancurkan apa-apa. Bahkan kuasa kejahatan pun tidak dihancurkan-Nya, sebaliknya dari kejahatan Ia mampu melahirkan kebaikan.

Jadi, tidak ada alasan untuk mengartikan ayat ini sebagai hak manusia melakukan tindak kekerasan atas binatang dan ciptaan yang lainnya. 

Demikian gambar dan rupa Allah dalam diri manusia terlihat pertama-tama dalam kapasitas kreatif dan kuasa yang dimiliki manusia. Kapasitas ini ada terutama karena manusia memiliki akal budi. 

Dengan karya-karyanya yang kreatif manusia melanjutkan karya penciptaan Allahmencerminkan, dan mewakili Allah - Pencipta di bumi.

Ketika kekuasaan itu buah kreativitas manusia yang mencerminkan Allah di dunia, ia memperlihatkan sesuatu tentang Allahkasih, kemurahan hati dan kebaikan.

[29-30]. Berfirmanlah Allah: "Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu

Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya." 

Perbedaan pemberian makan ini menghindari konflik dengan kekerasan antara manusia dan binatang dalam memperebutkan makanan. Manusia juga tidak makan daging binatang sehingga tidak perlu melakukan kekerasan menyembelih dan mencurahkan darah binatang.

Baru setelah air bah, daging binatang boleh dimakan manusia (Kej 9:3-4). Alasannya? Karena pada saat itu tanah belum menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Jadi, boleh manusia makan daging binatang yang ada dalam bahtera.



(Sumber: Warta KPI TL No. No.143/III/2017 » Perempuan sumber dosa?, Dr Penka Yasua).

Rabu, 29 Maret 2017

06.11 -

Mata jahat atau mata baik

Hidup ini dibangun sebagian besar dari apa yang dilihat. Mata yang baik atau jahat itu tergantung dari apa yang boleh masuk, atau lebih tepat tergantung dari apa yang kita izinkan masuk dalam mata kita!


Mata yang baik ada kelepnya, sehingga yang jahat tidak bisa masuk! Mungkin satu kali dengan tidak sengaja masuk, bisa timbul keinginan dalam hati akan perkara-perkara yang dilihat satu kali itu! 

Tetapi orang yang tulus dan mau langsung membuang segala keinginan-keinginan yang salah itu, lalu menutup matanya dari hal-hal yang jahat itu supaya tidak melihat kedua kalinya

Iblis sering menipu dan menyesatkan, katanya: hanya melihat-lihat saja, tidak berbuat, tidak apa-apa (... tidak mau berhenti). Iblis masuk dan ia menjadi tawanan tanpa orang lain tahu. Hidup jadi gelap, Tuhan jadi hilang dari dirinya.

Daud selalu memandang Tuhan, bahkan ia rindu matanya dicelikkan supaya bisa melihat lebih banyak Taurat dan kemuliaan Tuhan (Mzm 119:18). 

Tetapi karena keinginan-keinginan yang timbul itu tidak dibuang, maka terdorong untuk berbuat pekara-pekara yang keji: mengambil istri anak buahnya sendiri yang setia dan loyal - Batsyeba; membunuh Uria - suami dari istri yang diambil ( 2 Sam 11).

Bagaimana mata kita? Baik atau jahat?


(Sumber: Warta KPI TL No. 18/X/2005 » Mata jahat atau mata baik, Tulang Elisa No. 59)