Ayahnya marah besar lalu memukul dan menguncinya di dalam sebuah kamar. Ibunya jatuh kasihan lalu membebaskan dia dari kurungan itu.
Setelah dibebaskan ibunya, ia kembali ke gereja San Damian. Ayahnya mengikuti dia ke sana, memukulnya sambil memaksanya mengembalikan uang hasil penjualan kain itu.
Dengan tenang ia mengatakan bahwa uang itu sudah diberikan kepada orang-orang miskin. Ia juga tidak mau kembali lagi ke rumah meskipun ayahnya menyeret pulang.
Ayahnya tidak berdaya lalu minta bantuan Uskup Asisi untuk membujuk Fransiskus agar mengembalikan uang itu. Fransiskus patuh pada Uskup.
Di hadapan Uskup Asisi, ia melucuti pakaian yang dikenakannya sambil mengatakan bahwa pakaian-pakaian itu pun milik ayahnya.
Dan sejak itu hanya Tuhan-lah yang menjadi ayahnya. Sang Uskup memberikan kepadanya sehelai mantel dan sebuah ikat pinggang. Inilah pakaian para gembala domba dari Umbria, yang kemudian menjadi pakaian para biara Fransiskus.
Fransiskus tidak kecut apalagi sedih hati dengan semua yang terjadi atas dirinya. Ia bahkan dengan bangga berkata: ”Nah sekarang barulah aku dapat berdoa sungguh-sungguh.” Dan sejak itu ia menjual segala harta kekayaannya dan memberikannya kepada orang miskin.
Sehari-hari ia mengemis sambil berkotbah kepada orang-orang yang ada di sekitar gereja San Damiano. Ia menolong orang-orang miskin dan penderita lepra dengan uang yang diperolehnya setiap hari. Ia sendiri hidup miskin.
Kalau ia berbicara tentang nasehat-nasehat Injil, ia menggunakan bahasa lagu-lagu cinta yang populer dan bahasa-bahasa puitis. Ia sendiri rajin menyusun puisi-puisi dan selalu membacakannya keras-keras kalau ia berjalan-jalan.
Ia disebut orang sekitar dengan nama ”Poverello” (= lelaki miskin). Cara hidupnya, yang miskin tetapi selalu gembira dan penuh cinta kepada orang-orang miskin dan sakit, menarik minat banyak pemuda.
Pada tahun 1209, ada tiga orang bergabung bersamanya: Bernadus Guantevale, seorang pedagang kaya; Petrus Katana, seorang pegawai, dan Giles, seorang yang sederhana dan bijak.
Harta benda mereka dipakai untuk melayani kaum miskin dan orang-orang sakit. Bersama dengan tiga orang itu, Fransiskus membentuk sebuah komunitas persaudaraan yang kemudian berkembang menjadi sebuah ”Ordo Saudara-saudara Dina” atau ”Ordo Fransiskan”.
Klara, seorang gadis Asisi meninggalkan rumahnya dan bergabung juga bersamanya. Bagi Klara dan kawan-kawannya, Fransiskus mendirikan sebuah perkumpulan khusus. Itulah awal dari ”Kongregasi Suster-suster Fransiskan” atau ”Ordo Kedua Fransiskan”.
Fransiskus ditahbiskan menjadi diakon, dia tidak mau ditahbiskan menjadi imam karena dia mau tetap menjadi diakon sampai mati.
Lebih dari orang-orang lain, Fransiskus berusaha hidup menyerupai Kristus. Ia menekankan kemiskinan absolut bagi para pengikutnya waktu itu. Sebagai tambahan pada kaul kemiskinan, kemurnian dan ketaatan, ia menekankan juga penghayatan semangat cinta persaudaraan, dan kesederhanaan hidup. Ordo Benediktin yang sudah lama berdiri memberi mereka sebidang tanah.
Demi sahnya komunitas yang dibentuknya, dan aturan hidup yang disusunnya, ia berangkat ke Roma pada tahun 1210 untuk minta restu dari Sri Paus Innosensius III (1198-1216).
Mulanya Sri Paus menolak. Tetapi pada suatu malam dalam mimpinya, Paus melihat tembok-tembok Basilik Santo Yohanes Lateran terguncang dan Fransiskus sendiri menopangnya dengan bahunya. Pada waktu pagi, Paus langsung memberikan restu kepada Fransiskus tanpa banyak bicara.
Lagi-lagi Ordo Benediktin menunjukkan perhatiannya kepada Fransiskus dan kawan-kawannya. Kapela Maria Ratu para Malaikat di Portiuncula, milik rahib Benediktin, kira-kira dua mil jauhnya dari kota Asisi, diserahkan kepada Fransiskus oleh Abbas Ordo Benediktin. Fransiskus gembira sekali. Ia mulai mendirikan pondok-pondok kecil dari kayu di sekitar kapela itu sebagai tempat tinggal mereka yang pertama.
Kemudian Chiusi, seorang tuan tanah di daerah itu memberikan kepadanya sebidang tanah di atas bukit La Verna, di bilangan bukit-bukit Tuscan. La Verna kemudian dijadikan tempat berdoa dan meditasi.
Semangat kerasulannya mulai membara dari hari ke hari. Dalam hatinya mulai tumbuh keinginan besar untuk mempertobatkan orang-orang Muslim di belahan dunia Timur.
Ia mulai menyusun rencana perjalanan ke Timur. Pada musim gugur tahun 1212, ia bersama seorang kawannya berangkat ke Syria.
Tetapi nasib sial menghadang mereka di tengah perjalanan, kapal yang mereka tumpangi karam dan mereka terpaksa kembali lagi ke Italia. Tetapi ia tidak putus asa. Ia mencoba lagi dan kali ini ia mau pergi ke Maroko melalui Spanyol.
Tetapi sekali lagi niatnya tidak bisa terlaksana karena ia jatuh sakit. Pada bulan Juni 1219, ia sekali lagi berangkat ke belahan dunia Timur bersama 12 orang temannya. Mereka mendarat di Damaieta, delta sungai Nil, Mesir. Di sana mereka menggabungkan diri dengan pasukan Perang Salib yang berkemah di sana.
Nasib sial menimpa dirinya lagi. Ia ditawan oleh Sultan Mesir. Saat itu menjadi suatu peluang baik bagi dirinya untuk berbicara dengan Sultan Islam itu. Sebagai tawanan ia minta izin untuk berbicara dengan Sultan Mesir. Ia berharap dengan pertemuan dan pembicaran dengan Sultan, ia dapat mempertobatkannya.
Sultan menerima dia dengan baik sesuai adat sopan santun ketimuran. Namun pertemuan itu sia-sia saja. Sultan tidak bertobat dan menyuruhnya pulang kepada teman-temannya di perkemahan setelah mendengarkan kotbahnya.
Setelah beberapa lama berada di Tanah Suci, Fransiskus dipanggil pulang oleh komunitasnya. Selama beberapa tahun, ia berusaha menyempurnakan aturan hidup komunitasnya.
Selain itu ia mendirikan lagi ”Ordo Ketiga Fransiskan”. Ordo ini dikhususkan bagi umat awam yang ingin mengikuti cara hidup dan ajarannya sambil tetap mengemban tugas sebagai bapa-ibu keluarga atau tugas-tugas lain di dalam masyarakat.
Para anggotanya diwajibkan juga untuk mengikrarkan kaul kemiskinan dan kesucian hidup. Kelompok ini lazim disebut kelompok ”Tertier”. Tugas pokok mereka ialah melakukan perbuatan-perbuatan baik di dalam keluarga dan masyarakat dan mengikuti cara hidup Fransiskan tanpa menarik diri dari dunia.
Ordo Fransiskan ini berkembang dengan pesat dan menakjubkan. Dalam waktu relatif singkat komunitas Fransiskan bertambah banyak jumlahnya di Italia, Spanyol, Jerman dan Hungaria.
Pada tahun 1219 anggotanya sudah 5000 orang. Melihat perkembangan yang menggembirakan ini maka pada tahun 1222, Paus Honorius III (1216-1227) secara resmi mengakui komunitas religius Fransiskan berserta aturan hidupnya.
Pada tahun 1223, Fransiskus merayakan Natal di daerah Greccio. Upacara malam Natal diselenggarakan di luar gereja. Dia menghidupkan kembali gua Betlehem dengan gambar-gambar sebesar badan. Penghormatan kepada Kanak-kanak Yesus yang sudah menjadi suatu kebiasaan Gereja dipopulerkan oleh Fransiskus bersama para pengikutnya.
Pada umur 43 tahun ketika sedang berdoa di bukit La Verna sekonyong-konyong Fransiskus merasa sakit di badannya dan muncul luka-luka seperti Yesus di kaki dan tangannya serta lambungnya (stigmata). Luka-luka itu tidak pernah hilang sehingga menjadi sumber rasa sakit dan kelemahan tubuhnya. Semenjak peristiwa ajaib itu, Fransiskus mulai mengenakan sepatu dan menyembunyikan tangan-tangannya di balik jubahnya.
Lama kelamaan kesehatannya semakin menurun dan pandangannya mulai kabur. Dalam kondisi ini, ia menyusun karyanya yang besar ”Gita Sang Surya”.
Ia diminta untuk mendamaikan Uskup dengan Penguasa Asisi yang sedang bertikai. Untuk itu ia menganjurkan agar perdamaian itu dilakukan di halaman istana uskup bersama beberapa imam dan pegawai kota. Ia sendiri tidak ikut serta dalam pertemuan itu. Namun ia mengutus dua orang rekannya ke sana dengan instruksi untuk menyanyikan lagu ”Gita Sang Surya”, yang telah ia tambahi dengan satu bagian tentang ’keindahan saling mengampuni’
Ketika mendengar nyanyian yang dibawakan dengan begitu indah oleh dua orang biarawan Fransiskan itu, Uskup dan penguasa Asisi itu langsung berdamai tanpa banyak bicara.
Menjelang tahun-tahun terakhir hidupnya, ia mengundurkan diri. Sebab, di antara saudara-saudaranya seordo terjadilah selisih paham mengenai penghayatan hidup miskin seperti yang dicintai dan dihayatinya sendiri.
Pada tanggal 3 Oktober 1226 dalam umur 44 tahun, Fransiskus meninggal dunia di kapela Portiuncula. Dua tahun berikutnya, ia langsung dinyatakan ’kudus’ oleh Gereja.
Fransiskus sudah berada pada puncak perjalanan pertobatannya. Semuanya sudah ditinggalkannya, dan sekarang ia berdiri menengadah kepada Allah semata-mata. Tidak ada hal lain yang perlu dikerjakan lagi selain memuja dan memuji Dia. Seluruh dirinya terentang dan terarah kepada-Nya semata-mata. Dalam sikap yang ”murni” itu, indra batiniahnya juga semakin jernih dan tajam. Ia menangkap nyanyian dan puja-pujian semua makhluk, dan ia pun mengajak mereka untuk bersama-sama memuji Sang Pencipta.
Fransiskus dikagumi orang-orang sezamannya bahkan hingga kini, karena berbagai karunia yang luar biasa yang dimilikinya. Ia dijuluki ”Sahabat alam semesta” karena cintanya yang besar dan dalam terhadap ciptaan Tuhan.
Semua ciptaan menggerakkan jiwanya untuk bersyukur kepada Tuhan dan memuliakan keagungan-Nya. Seluruh alam raya beserta isinya benar-benar berdamai dengan Fransiskus. Ia dapat berbincang-bincang dengan semua ciptaan seperti layaknya dengan manusia. Semua disapanya sebagai saudara.
Dengan meninggalkan segalanya demi Allah, dengan hati murni Fransiskus menemukan segalanya sebagai saudara ... dan dia minta agar semua saudaranya mempelajari isi dan arti segala yang ditulis dalam aturan hidup ini demi keselamatan jiwa.
Inilah sebagian kecil spiritualitas dan aturan hidup yang dibuatnya.
* Penghormatan kepada Ekaristi dan kepada firman Tuhan merupakan salah satu pokok yang penting. Keduanya erat berhubungan satu sama lain. Baik dalam Ekaristi maupun dalam firman Tuhan, Tuhan hadir secara ”badani”.
* Allah dan Putra Allah, begitu merendahkan diri-Nya, sampai Ia menyembunyikan diri di dalam rupa roti yang kecil, untuk keselamatan kita. Maka pandanglah perendahan diri Allah itu dan curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya. Rendahkanlah dirimu, agar kamu diinggikan oleh-Nya. Karena itu janganlah menahan sesuatu pun yang ada padamu bagi dirimu sendiri, agar kamu seutuh-utuhnya diterima oleh Dia, yang memberikan diri-Nya seutuhnya bagi kamu.
* Tidak seorang pun dapat diselamatkan, selain oleh Firman kudus serta darah Tuhan kita Yesus Kristus, yang disampaikan, diwartakan dan dihidangkan oleh para rohaniawan.
* Hidup itu pada dasarnya haruslah merupakan persaudaraan injili, yang hanya bisa dijamin dan dimungkinkan oleh kemiskinan dan kerendahan.
Karena yang mau diwujudkan adalah Kerajaan Allah, maka status kita adalah “hamba Allah” – dituntut rasa tanggungjawab penuh untuk terus-menerus mencari dan melaksanakan kehendak Allah atau tuntutan kerajaan-Nya.
Perwujudan kerajaan Allah hanya mungkin bila roh daging (= egoisme, kesombongan, kebanggaan sia-sia, iri hati, kerakusan, hati beku, kepala batu) dicabut dan diganti dengan Roh Tuhan; terus menerus menjalankan pertobatan, senantiasa membelakangi dunia dan mengarahkan diri sepenuhnya kepada Allah.
* Hanya dengan menghambakan diri dalam satu sikap kemiskinan hati yang mendalam, persaudaraan kristen bisa dibentuk.
Miskin dalam roh – memberikan gambaran orang yang menilai diri sendiri tidak berarti, sehingga tidak tersinggung rasa kehormatannya oleh perkataan atau perbuatan orang lain (Mat 5:3).
* Di hadapan Allah (Penderma Agung), manusia adalah pengemis kecil yang hanya harus terus menadahkan tangan untuk menerima.
* Arti religius ketaatan adalah bersedia menanggung perlakuan apa saja, asal itu sejalan dengan kehendak Allah.
* Hendaklah kita melindungi diri terhadap kebijaksanaan dunia ini dan terhadap kecerdikan daging; sebab roh daging (kecenderungan menjadikan diri sendiri sebagai pusat segalanya) menghendaki dan banyak berusaha untuk berbicara tetapi sedikit berbuat; dan yang dikejarnya bukanlah hidup keagamaan dan kekudusan rohaniah-batiniah, tetapi yang dikehendaki dan diinginkannya ialah hidup keagamaan dan kekudusan yang lahiriah tampak di mata orang.
Roh Tuhan mengusahakan kerendahan dan kesabaran serta ketentraman hati yang sejati, murni dan sederhana.
* Semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, dilatihnya dengan deraan cemeti dan penyakit serta dengan roh keremukredaman, sebagaimana Tuhan berfirman: Aku menegur dan menghajar mereka yang Kukasihi (Kis 13:48; Why 3:19).
* Mengasihi bukan dengan perkataan atau lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran (Yak 2:18; 1 Yoh 3:18).
Orang yang benar-benar mengasihi musuhnya ialah dia yang tidak sedih karena kelaliman yang dibuat musuh terhadap dirinya; tetapi demi cintakasih Allah ia tersiksa hatinya karena dosa dalam jiwa musuhnya (Mat 5:44).
Orang yang secara tidak adil mendatangkan kesusahan, impitan, malu dan kelaliman, penderitaan dan siksaan, kemartiran dan kematian atas diri kita, mereka itulah sahabat-sahabat kita. Mereka itu harus kita kasihi sungguh-sungguh sebab justru karena hal-hal yang mereka timpakan atas diri kita, kita memperoleh hidup yang kekal (Mat 5:44; 1 Ptr 2:21).
* Orang yang makan dari pohon pengetahuan tentang yang baik, ialah ia yang menganggap kehendaknya sebagai miliknya sendiri (selalu berusaha menimbun milik untuk diri sendiri; mempertahankan kehendak sendiri sebagai harta milik yang begitu disayangi, sehingga tidak dilepaskan. Sikap ini merupakan kesombongan dan keserakahan yang menghalangi turun tangan Allah) dan menyombongkan diri atas apa yang baik, yang diucapkan dan dikerjakan Tuhan di dalam dirinya; dengan demikian karena bujukan setan dan pelanggaran perintah, buah itu menjadi buah pengetahuan tentang yang jahat. Karena itu, patutlah ia menanggung hukuman.
* Seorang hamba Allah, yang tidak gusar dan gelisah karena orang lain, benar-benar hidup tanpa milik (bebas dari semua kelekatan pada diri sendiri, dan dari sikap menganggap diri mempunyai ”hak” untuk mengadili orang lain).
Gusar dan gelisah merupakan tanda bahwa orang merasa diri lebih bersih, lebih sempurna, lebih ”kaya” daripada orang lain.
Orang yang gelisah karena kehilangan jabatan sebagai pemimpin – mengumpulkan bagi dirinya kekayaan yang membahayakan jiwa.
Orang yang gelisah dan gusar karena dosa orang lain – menimbun kesalahan untuk dirinya sendiri.
* Hendaklah kita sungguh-sungguh waspada terhadap kelicikan dan kecerdikan setan, yang menginginkan agar orang tidak mengarahkan akal budi dan hatinya kepada Allah. Sambil berkeliling dia ingin merebut hati manusia dengan berkedok suatu upah atau pertolongan, dan ingin melenyapkan dan mengimpit firman dan perintah Tuhan dari ingatan manusia. Ia mau membutakan hati manusia dengan urusan dan kesibukan duniawi lalu menetap di sana, sebagaimana Tuhan berfirman (Mat 12:43; Luk 11:24; Mat 12:44; Luk 11:26).
* Banyak orang cenderung untuk mempersalahkan setan atau sesama kalau mereka jatuh dalam dosa atau mengalami kelaliman. Padahal tidak demikian; sebab orang mempunyai musuh dalam wilayah kekuasaannya sendiri, yaitu badan (kecenderungan yang rendah/egoisme), yang menyebabkan ia jatuh dalam dosa.
* Pengkotbah, pendoa maupun pekerja, entah rohaniwan entah awam, agar berusaha merendahkan diri dalam segalanya; tidak memegahkan diri, tidak berpuas-puas diri, dan tidak meninggikan diri dalam batin atas perkataan dan perbuatan baik, bahkan atas kebaikan mana pun yang dikerjakan atau dikatakan dan dilaksanakan oleh Allah sewaktu-waktu dalam diri mereka atau melalui mereka – janganlah bersukacita karena roh-roh itu takhluk kepadamu (Luk 10:20).
* Janganlah melihat dosa orang lain yang kecil, tetapi hendaklah merenungkan dosanya sendiri dengan hati yang pahit pedih (Mat 7:3; Luk 6:41).
* Satu-satunya yang dapat dibanggakan manusia ialah kelemahan-kelemahannya sendiri serta usaha memikul salib suci Tuhan kita Yesus Kristus setiap hari.
* Mereka yang melakukan pertobatan, maka mereka menjadi anak-anak Bapa Sorgawi yang karya-Nya mereka laksanakan; dan menjadi mempelai (bila jiwa yang setia disatukan dengan Tuhan kita Yesus Kristus oleh Roh Kudus); menjadi saudara bagi-Nya (bila kita melaksanakan kehendak Bapa yang ada di sorga); menjadi ibu Tuhan kita Yesus Kristus (bila kita mengandung Dia di dalam hati dan tubuh kita karena kasih ilahi dan karena suara hati yang murni dan jernih. Kita melahirkan Dia melalui karya yang suci, yang harus bercahaya bagi orang lain sebagai contoh).
Mereka yang tidak melakukan pertobatan, dan tidak menyambut tubuh dan darah Tuhan kita Yesus Kristus, tetapi malah melakukan cacat-cela dan dosa-dosa, dan berjalan menuruti suara hati yang buruk serta keinginan dagingnya yang jahat, serta tidak menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Tuhan, dan secara badaniah menjadi budak dunia ini, budak keinginan daging dan kecenderungan duniawi serta kekhawatiran hidup ini: mereka itu telah dikuasai oleh setan, mereka menjadi anak-anaknya dan mengerjakan pekerjaannya. Mereka itu buta karena tidak melihat cahaya yang sejati, Tuhan kita Yesus Kristus. Mereka tidak mempunyai kebijaksanaan rohani ... mereka melihat apa yang jahat, mengetahui dan melakukannya dengan sengaja, dan dengan sadar mencelakakan jiwa. Bila seseorang mati dalam dosa yang jahat tanpa pertobatan dan pemulihan ... maka setan merebut jiwanya dari tubuhnya.
Lakukanlah pertobatan dan hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan (Mat 3:2; Luk 3:8).
Tiga patah kata pesan terakhir Fransiskus:
1. Kasih persaudaraan
2. Kemiskinan
3. Kekatolikan yang diungkapkan dalam ketaatan para anggota hirarki Gereja.
Fransiskus adalah orang kudus besar yang dikagumi Gereja dan seluruh umat hingga kini. Kebesarannya terletak pada dua hal berikut: kegembiraannya dalam hidup yang sederhana, menderita lapar dan sakit, dan pada cintanya yang merangkul seluruh ciptaan.
Ketika Gereja menjadi lemah dan sakit karena tergiur dengan kekayaan dan kekuasaan duniawi, Fransiskus menunjukkan kembali kekayaan iman Kristen dengan menghayati sungguh-sungguh nasehat-nasehat dan cita-cita Injil yang asli: kerendahan hati, kemiskinan dan cinta.
Peringatan Santo Fransiskus Asisi: 4 Oktober