Selasa, 29 Desember 2015

19.40 -

2 Sam 24:2, 9-17

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya



Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)



Penanggalan liturgi

Rabu, 5 Februari 2014: Pw S Agata Perawan-Martir - Tahun A/II (Merah)
Bacaan: 2 Sam 24:2, 9-17; Mzm 32:1-2, 5, 6,7; Mrk 6:1-6; RUybs.



1. Dosa Sosial


Bangkitlah pula murka Tuhan terhadap orang Israel; Ia menghasut Daud melawan mereka, firman-Nya: "Pergilah, hitunglah orang Israel dan orang Yehuda."


Lalu Yoab memberitahukan kepada raja hasil pendaftaran rakyat. Orang Israel ada delapan ratus ribu orang perangnya yang dapat memegang pedang; dan orang Yehuda ada lima ratus ribu.

Tetapi (1) berdebar-debarlah hati Daud, setelah ia menghitung rakyat, lalu berkatalah Daud kepada Tuhan: "Aku telah sangat berdosa karena melakukan hal ini; maka sekarang, Tuhan, jauhkanlah kiranya kesalahan hamba-Mu, sebab perbuatanku itu sangat bodoh." 

Setelah Daud bangun dari pada waktu pagi, datanglah firman Tuhan kepada nabi Gad, pelihat Daud, demikian: "Pergilah, katakanlah kepada Daud: Beginilah firman Tuhan: tiga perkara Kuhadapkan kepadamu; pilihlah salah satu dari padanya, maka Aku akan melakukannya kepadamu." 

Kemudian datanglah Gad kepada Daud, memberitahukan kepadanya dengan berkata kepadanya: (2) "Akan datangkah menimpa engkau tiga tahun kelaparan di negerimu? Atau maukah engkau melarikan diri tiga bulan lamanya dari hadapan lawanmu, sedang mereka itu mengejar engkau? Atau, akan adakah tiga hari penyakit sampar di negerimu? Maka sekarang, pikirkanlah dan timbanglah, jawab apa yang harus kusampaikan kepada Yang mengutus aku." 

Lalu berkatalah Daud kepada Gad: "Sangat susah hatiku, biarlah kiranya kita jatuh ke dalam tangan Tuhan, sebab besar kasih sayang-Nya; tetapi janganlah aku jatuh ke dalam tangan manusia." 

Jadi Tuhan mendatangkan penyakit sampar kepada orang Israel dari pagi hari sampai waktu yang ditetapkan, maka matilah dari antara bangsa itu, dari Dan sampai Bersyeba, tujuh puluh ribu orang.

Ketika malaikat mengacungkan tangannya ke Yerusalem untuk memusnahkannya, maka (3) menyesallah Tuhan karena malapetaka itu, lalu Ia berfirman kepada malaikat yang mendatangkan kemusnahan kepada bangsa itu: "Cukup! Turunkanlah sekarang tanganmu itu." 

Pada waktu itu malaikat Tuhan itu ada dekat tempat pengirikan Arauna, orang Yebus. Dan berkatalah Daud kepada Tuhan, ketika dilihatnya malaikat yang tengah memusnahkan bangsa itu, demikian: "Sesungguhnya, aku telah berdosa, dan aku telah membuat kesalahan, tetapi domba-domba ini, apakah yang dilakukan mereka? Biarlah kiranya tangan-Mu menimpa aku dan kaum keluargaku." 

Renungan:

(1) Tanpa sadar Daud melakukan dosa, yaitu: mengandalkan kekuatannya sendiri, tidak mengandalkan dan menaruh harapannya pada Tuhan (Yer 17:5-8; Bdk.  Hak 7)

Dosa membuat manusia menjadi teman dalam kejahatan dan membiarkan keserakahan, kekerasan, dan ketidakadilan merajalela di antara mereka. 



(2) Di tengah masyarakat, dosa-dosa itu mengakibatkan situasi dan institusi yang bertentangan dengan kebaikan Allah. "Struktur dosa" adalah ungkapan dan hasil dosa pribadi. Mereka menggoda kurban-kurbannya, supaya ikut melakukan yang jahat. Dalam arti analog mereka merupakan "dosa sosial" (KGK 1869).



(3) Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi Berbahagialah manusia, yang dosanya tidak diperhitungkan Tuhan.



Tuhan Yesus memberkati.

03.53 -

Mrk 5:21-43

Sarapan Pagi
Agar Jiwa Kita Disegarkan Oleh-Nya


Firman yang tertanam di dalam hatimu,
yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
(Yak 1:21)



Penanggalan liturgi

Selasa, 4 Februari 2014: Hari Biasa IV - Tahun A/II (Hijau)
Bacaan: 2 Sam 18:9-10, 14b,25-25a,30-19:3; Mzm 86:1-2, 3-4, 5-6; Mrk 5:21-43

Minggu, 1 Juli 2018: Hari Minggu Biasa XIII - Tahun B/II (Hijau)
Bacaan: Keb 1:13-15; 2:23-24; Mzm 30:2, 4, 5-6, 11, 12a, 13b; 2 Kor 8:7, 9, 13-15; Mrk 5:21-43


1. Tanpa iman, tidak ada mujizat

Sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sedang Ia berada di tepi danau, datanglah (1) seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, (A) tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan memohon dengan sangat kepada-Nya: "Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, (B) datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup."

Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya. Adalah di situ (2) seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan. Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk.

Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya. Sebab katanya: (E) "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh." Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya.

Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa (F) ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: "Siapa yang menjamah jubah-Ku?" Murid-murid-Nya menjawab: "Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?"

Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya.

Maka kata-Nya kepada perempuan itu: (G) "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!

Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: (C) "Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?" Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: (D) "Jangan takut, percaya saja!"

Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorang pun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus. Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring.

Sesudah Ia masuk Ia berkata kepada orang-orang itu: "Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!" Tetapi mereka menertawakan Dia. Maka diusir-Nya semua orang itu, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu dan mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu.

Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya: "Talita kum," yang berarti: "Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!" Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub. Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorang pun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan.

Renungan:

Iman membuat pemiliknya kreatif dalam Tuhan. Kebenaran ini tampak dalam 2 kisah ini.

(1, A) Meskipun memiliki kedudukan tinggi dan terpandang, Yairus mau merendahkan diri. (B) Permintaan ini mengungkapkan harapan yang amat besar pada Yesus. (C) Meskipun keluarganya memiliki reaksi yang negatif dan pesimis, namun dia tetap percaya perkataan Yesus (D).

(2, E, F) Energi positif perempuan tersebut ditangkap oleh energi ilahi Yesus. Energi ilahi Yesus adalah kekuatan yang menyembuhkan sebagai mana Ia tegaskan (G).

Tanpa iman, Yesus tidak akan membuat mujizat bagi mereka. Pertemuan iman manusia dan rahmat Allah menghasilkan keselamatan. Dalam warta hari ini keselamatan berupa kesembuhan.

Tuhan Yesus memberkati.


2. Iman hanya mungkin dalam persekutuan umat beriman

Seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan. Sesudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya.

Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya. Kata-Nya kepada perempuan itu: "Imanmu telah menyembuhkan engkau."

Renungan:

Iman adalah satu perbuatan pribadi: jawaban bebas manusia atas undangan Allah yang mewahyukan Diri. 

Tetapi iman bukanlah satu perbuatan yang terisolir. Tidak ada seorang pun dapat percaya untuk dirinya sendiri, sebagaimana juga tidak ada seorang yang dapat hidup untuk dirinya sendiri. 

Tidak ada seorang yang memberikan iman kepada diri sendiri, sebagaimana juga tidak ada seorang pun yang memberi kehidupan kepada diri sendiri. Yang percaya menerima kepercayaan dari orang lain; ia harus melanjutkannya kepada orang lain. 

Cinta kita kepada Yesus dan kepada sesama mendorong kita supaya berbicara kepada orang lain mengenai iman kita. 

Dengan demikian, setiap orang yang percaya adalah anggota dalam jalinan rantai besar orang-orang beriman (KGK 166). 

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibr 11:1). 

Tuhan Yesus memberkati.

Senin, 28 Desember 2015

Santa Teresa Avila



Santa Teresa Avila dilahirkan tanggal 28 Maret 1515 di Avila. Ayah dari kakeknya adalah seorang Yahudi yang kemudian menjadi Kristen. 

Ayahnya bernama Alonzo de Cepeda, adalah orang yang sangat saleh dan mempunyai perpustakaan yang baik berisi buku-buku rohani dan riwayat orang kudus dll. Ibunya bernama Beatrix de Ahumada, adalah seorang yang baik, namun satu kegemarannya yaitu membaca cerita-cerita novel dan roman. 

Pada masa kecilnya Teresa sangat dipengaruhi kesalehan keluarganya. Salah satu pengalamannya yaitu: ketika ia berusia 7 tahun, dengan dipenuhi oleh semangat untuk menyenangkan hati Yesus dengan menjadi martir, dia melarikan diri dari rumah bersama dengan saudaranya Rodrigo ke negeri orang Moor, ... dia ingin masuk sorga dan pada hematnya, cara yang termudah untuk itu adalah dengan mati. 

Namun rencananya itu gagal karena diketahui oleh keluarganya. Selain itu, ia suka membuat “pertapaan” di halaman rumahnya dan tinggal di sana, meditasi merenungkan tentang kebenaran ilahi dan devosi kepada Bunda Maria. Ia sangat terkesan oleh ide kekekalan, maka dia sering mengulang-ulang kata “untuk selama-lamanya, untuk selama-lamanya”.

Pada masa remajanya, pada usia sekitar 12 tahun, dia mulai tertarik akan hal-hal duniawi, maka ia kehilangan kesalehannya. Dia mulai tertarik pada novel, roman, dan persahabatan-persahabatan profan, baik dengan sepupu maupun dengan teman-teman lainnya.

Pada usia sekitar 13 tahun ibunya meninggal. Pada suatu hari ia berdoa di depan patung Bunda Maria dan ia mengatakan kepada Bunda Maria bahwa Bunda Maria sekarang menjadi ibunya. 

Selanjutnya Teresa semakin tertarik kepada dunia dan tak seorangpun dapat menahannya. Ayahnya tidak tahu harus berbuat apa. Maka ia dikirim ke asrama yang dikelola para suster St. Agustinus. Dan ia tinggal 18 bulan di sana. 

Ia terkesan pada salah seorang suster (Dona Maria Briceno, seorang pendoa yang saleh) dan timbul keinginan dalam hatinya untuk menjadi suster. 

Ia terpaksa meninggalkan asrama ini karena jatuh sakit. Untuk perawatan, dia dihantar ke rumah pamannya. Di sini ia membaca buku “Surat-surat Santo Hironimus”. Buku itu besar pengaruhnya padanya dan mendorongnya untuk masuk biara. Maka ketika ia sembuh, ia memutuskan untuk masuk biara. 

Ayahnya semula tidak menyetujuinya, tetapi Teresa pergi juga dan masuk biara Encarnacion (Biara Penjelmaan). Ia memilih biara ini karena salah seorang anggota keluarganya ada di sana dan karena kehidupan di biara ini lebih ringan daripada di biara Agustinus. Hal ini terjadi pada tanggal 2 November 1535.

Tahun 1537 ia mengikrarkan kaul pertamanya. Pada awal hidup religiusnya dia sangat cermat terhadap regula dan peraturan-peraturan dalam biara dan ia terlalu serius sehingga beberapa bulan kemudian ia jatuh sakit. Sekali lagi ia dibawa ke rumah pamannya untuk perawatan. 

Selama berada di tempat ini, paman yang baik dan saleh ini, memberikannya sebuah buku berjudul “Alfabet Rohani Ketiga” karangan Francesco de Osuna. Dari buku ini dia belajar mengenai doa batin dan meditasi. 

Keadaannya semakin memburuk dan dia berada dalam keadaan koma selama 4 hari. Semua orang mengira bahwa ia sudah mati dan sudah mempersiapkan pemakaman. 

Hanya ayahnya saja yang tidak percaya bahwa ia mati dan walaupun matanya sudah ditutup dengan malam, ayahnya tetap tidak mengijinkan pemakamannya. Ia sadar dari keadaan koma ini namun dia menjadi invalid dan lumpuh selama 8 bulan. Sesudah 8 bulan ini ia masih lumpuh sebagian tubuhnya. 

Ketika ia berdoa kepada St. Yosef, dia memperoleh kesembuhan. Sesudah dibebaskan dari penyakitnya, dia kembali ke biara dan melanjutkan hidup religiusnya. 

Selama hidupnya kesehatannya tetap agak rapuh, terutama ia sering mengalami sakit kepala dan sakit pada punggungnya.

Kembali ke biara, dia mengalami sakit rohani yang lama. Ia menjadi religius yang “suam-suam kuku” dan sering timbul pertentangan batin dalam memilih antara Tuhan dan dunia. 

Problem ini dialaminya selama kurang lebih 18 tahun. Ia menulis: “Sering selama beberapa tahun saya gelisah dan berharap agar waktu doa cepat berlalu dan begitu sedih hatiku bila harus mulai berdoa sehingga saya harus mengumpulkan segala keberanian.” 

Menurut Romo Efrem kesulitannya terutama disebabkan karena kekeliruan dalam teknik doa. Ia tidak menyadari bahwa budinya, atau imajinasinya dan perasaan dapat mengembara, selagi jiwa pada tahap yang lebih mendalam, dapat tinggal tenang dalam kontemplasi yang tak terselami. 

Problem ini kemudian berakhir dengan suatu pengalaman yang mendalam yang dirasakannya ketika memandang suatu patung Yesus yang Tersalib. Dia sangat sedih melihat-Nya dalam keadaan seperti itu karena patung itu dengan baik sekali mengungkapkan apa yang Dia derita bagi kita. 

Teresa sadar betapa dia kurang berterima kasih pada-Nya atas luka-luka yang diderita-Nya, sehingga hatinya terasa hancur. Sambil memohon agar Dia menguatkannya sekali untuk seterusnya supaya dia tidak menyedihkan-Nya Teresa bersujud di hadapan-ya dengan air mata berderai. 

Selanjutnya ia berkata: “Tentang peristiwa dengan patung ini, rasanya saya mendapat lebih banyak lagi, karena saya tidak percaya pada diriku sendiri, dan meletakkan segala harapanku pada Tuhan. Rasanya waktu itu saya berkata bahwa saya tidak akan beranjak dari situ sampai Dia berkenan memberikan apa yang saya mohonkan pada-Nya. Saya yakin bahwa ini menguntungkan bagiku, karena sejak saat itu saya terus berkembang.”

Kemudian, sekali lagi waktu membaca “Pengakuan St. Agustinus”, yaitu pada bab di mana St. Agustinus berbicara tentang pertobatannya dan bagaimana dia mendengar suara itu dalam kebun, rasanya itu adalah pengalamannya sendiri; bahwa dia yang dipanggil Tuhan. 

Dia merasa perlunya bertobat karena dia seorang berdosa. Maka ia memutuskan untuk berpaling kepada Tuhan. 

“Untuk waktu yang lama saya terbawa dalam tangisan dan merasakan kesedihan dan kelelahan yang mendalam. Rasanya, jiwaku mendapat kekuatan yang besar dari Yang Mahakuasa dan bahwa Ia telah mendengar jeritan doaku dan kasihan melihat kesedihanku”. 

Mulailah timbul keinginan untuk melewatkan lebih banyak waktu bersama-Nya. Saya mulai menghindari kesempatan berbuat dosa, karena kalau ini dihindari, maka saya kembali mencintai-Nya. 

Dari pengalaman ini ia belajar menanggalkan segala keyakinan diri sendiri dan meletakkannya di dalam tangan Tuhan. Tahun 1554 dia mengalami suatu pengalaman Allah yang kemudian dikenal sebagai pengalaman pertobatan yang definitif. Tahun ini sangat penting baginya dan bertolak dari pengalaman ini masa hidupnya dapat dibagi menjadi tiga masa yaitu:

1. Tahun 1515-1554: disebut masa asketis, di mana ia mengadakan perjalanan rohani. Masa ini ditandai oleh usaha yang terus-menerus untuk berkembang dalam hidup rohani, disertai jatuh bangun dan kegagalan, kelemahan, masa bersemangat dan saat-saat keheningan.

2. Tahun 1554-1562: disebut masa mistik di mana ia mengalami perkembangan yang mantab dan kemajuan yang terus-menerus dalam kesucian. Ia memulai mengalami pengalaman-pengalaman mistik. Ia sudah tertarik kedalam pengalaman kontemplasi yang mendalam. 

Peristiwa-peristiwa yang dialami adalah: dia berakar dalam Kristus, Kristus menjadi pusat hidupnya. Ia berkembang dalam hubungan yang mendalam dengan Kristus. Kenyataan ini mempunyai dampak dalam hidupnya sehari-hari. 

Dahulu dia adalah seorang yang ekstrovert maka ia suka pergi keluar, senang berada di tengah orang-orang, dan orang lainpun senang akan kehadirannya. 

Karena itu dia mempunyai banyak teman dan pada masa pertobatannya ini terasa sebagai suatu kelemahan, karena kalau misalnya dia diundang temannya, dia pergi juga, ia selalu berusaha berkenan kepada teman-temannya. 

Tetapi hubungannya yang mendalam dengan Kristus membebaskannya dari segala kelekatannya pada manusia. 

Sesudah pertobatannya ini dia hanya dapat membina persahabatan yang mendalam dengan orang-orang yang menghayati hidup doa, dan hamba-hamba Tuhan.

3. Masa Ekstatik: 1562-1572: Selama masa ini St. Teresa mengalami banyak pengalaman mistik yang supernatural seperti visium, ekstase dll. 

Diantaranya: hatinya/jantungnya ditembusi panah: dia melihat seorang serafim datang dengan anak panah dan hatinya ditembusi panah itu. 

Hatinya terluka oleh cinta. Ini terlihat pada tubuhnya (tanda lahiriah) pada waktu orang memeriksa jantungnya sesudah kematiannya. 

Ia mengalami banyak pencobaan dan kesulitan: ia tidak mengerti, dibenci dan mengalami pemurnian yang luar biasa. Ia merasakan kerinduan yang besar untuk melayani Tuhan, jadi ia melibatkan diri dalam kerasulan atau pelayanan di luar biara. Ia memadukan doa kontemplasi dan komitmen pada sesama. 

Baginya doa yang sejati bukan saja tidak dapat dipisahkan dari komitmen, tetapi justru dijalankan dengan mempraktekkan cinta kasih. 

Dia mengalami bahwa seseorang dapat menjadi kontemplatif yang besar sekaligus merasul. Dia menemukan bahwa Martha dan Maria dapat berjalan bersama. Dalam hidupnya ia sungguh sangat sibuk tetapi dia juga bersatu dengan Tuhan. Ia selalu menyisihkan waktu untuk Tuhan dan sungguh-sungguh bersama Tuhan.

Tahun 1560: timbul dalam pikirannya gagasan untuk mengadakan reformasi dalam Ordo Karmel. Gagasan ini diawali dengan visiun tentang neraka, di mana dia melihat jiwa-jiwa masuk neraka.

Suatu ketika St. Teresa Avila dibawa oleh Tuhan dalam suatu pengalaman rohani, dalam sebuah visium, diperlihatkan neraka oleh Yesus dan ditunjukkan “itulah sebetulnya tempat yang disediakan bagimu jika engkau tidak bertobat.” 

Lalu St. Teresa menyadari semua itu dan pengalaman itu membuat dia rendah hati untuk seumur hidupnya karena setiap kali teringat kembali akan pengalaman itu begitu mengerikan. Dia sadar akan mendapat hukuman kalau tidak bertobat. 

Dengan demikian ia merasa telah diselamatkan oleh Tuhan dan diampuni dosa-dosanya, ia sadar akan kelemahan dan kerapuhannya menjadikan dia tetap rendah hati.

Dia merasa bahwa kehidupan biara sangat santai dan ini membuat Teresa ingin mengadakan pembaharuan. Tahun 1562: Biara Reformasi Pertama didirikan di Avila dengan nama: Biara St. Joseph. 

Dalam perjalanan dari Biara Penjelmaan ke biara St. Joseph, dengan tak berkasut St. Teresa, masuk ke dalam ruangan di bawah tanah di gereja San Vincente di mana dia berdoa di depan tempat suci yang diterangi cahaya lilin dari La Virgen de Soterrama. 

Sejak saat itu ia tidak lagi memakai nama Dona Teresa de Caped Y Ahumada melainkan Teresa de Jesus. Pada mulanya dia hanya mempunyai satu keinginan yaitu memulai hanya satu biara dan hidup betul-betul sebagai religius dan mati.

Tahun 1566 ia menerima kunjungan Romo F. Alonso Maldonado seorang Fransiskan yang bekerja sebagai misionaris di Amerika Selatan. 

Romo ini menceritakan tentang pengalamannya sebagai misionaris dan bahwa ribuan orang Indian masih menyembah berhala dan mereka mati tanpa dibaptis. St. Teresa tidak bisa percaya dan memutuskan “saya harus berbuat sesuatu”. 

Peristiwa lain yang dialaminya yaitu kunjungan Jendral Ordo Karmel di biara St. Joseph. Beliau sangat senang dan meminta agar St. Teresa mendirikan biara-biara lain dan juga memberi izin untuk membuka biara bagi para imam.

Tahun 1567 ia mendirikan biara Karmel Reformasi kedua di Medina del Campo. Sesudah itu, ia mengelilingi Spanyol dan mendirikan 15 biara dalam sisa hidupnya.

Tahun 1568 pembaharuan/reformasi meluas ke biara para imam dan ia bekerjasama dengan St. Yohanes dari Salib. Waktu itu St. Yohanes dari Salib, seorang imam muda, berusia 25 tahun baru menerima tahbisan imamat dan ia mempersembahkan misa pertama di Medina del Campo. 

Ia bertemu dengan St. Teresa yang berusia 52 tahun dan pertemuan ini berlanjut dengan kerjasama dalam reformasi ordo Karmel.

Tahun 1571 St. Teresa diangkat menjadi priorin di Biara Penjelmaan oleh Pemimpinnya. Para suster biara ini tidak senang, dan ada yang berseru-seru sambil menyuruhnya pergi. 

Suasana menjadi tegang dan St. Teresa mengambil patung Bunda Maria dan berkata: “Dialah yang akan menjadi pimpinan kalian, bukan saya.” Akhirnya mereka menerimanya dan mengasihinya.

Sejak tahun 1575 St. Teresa menghadapi banyak pertentangan dan kesukaran karena pejabat mau menekan pembaharuan tetapi perjuangannya tidak sia-sia karena pada tahun 1580, reformasi St. Teresa mendapat pengakuan resmi dari Roma dan menjadi propinsi terpisah Ordo Karmel dengan nama Ordo Karmel Tak Berkasut (OCD).

Tahun 1582 Misionaris Karmel Pertama diutus ke Congo. Tetapi misi ini gagal, mereka meninggal di tengah jalan, namun impian St. Teresa telah terpenuhi. St. Teresa berada di Alba de Tormes untuk mendirikan biara lagi. Karena keadaan fisik yang lemah dan terlalu payah, ia meninggal dunia pada tanggal 4 Oktober 1582. 

Menjelang kematiannya ia mengucapkan 3 kalimat yang dalam arti tertentu merupakan ringkasan hidup rohaninya, yaitu: 

1. Sudah tibalah saatnya Tuhanku, mempelaiku, untuk bertemu dengan Dikau dari muka ke muka.

2. Jangan menolak aku. Hati yang remuk redam tidak akan Kau tolak (jadi sampai akhir hidupnya, ia menyadari bahwa ia seorang pendosa, ia sadar bahwa ia telah menyia-nyiakan banyak rahmat Tuhan).

3. “Saya mati sebagai Putri Gereja” - ini mengungkapkan rasa memiliki, atau bahwa ia adalah bagian dari Gereja

Ia dibeatifikasi oleh Paus Paulus V pada tanggal 24 April 1614 dan dikanonisasi oleh Paus Gregorius XV pada tanggal 12 Maret 1622. Ia dinyatakan sebagai Doktor Gereja pada tanggal 27 September 1970 oleh Paus Paulus VI. Ia diangkat menjadi Santa Pelindung orang sakit. Pestanya diperingati setiap tanggal 15 Oktober.

(Sumber: Warta KPI TL No.121/V/2014 » Renungan KPI TL Tgl 6 Februari 2014, Bapak Effendy; Doa menurut St. Teresa Avila, Sr. Angelica P. Karm).

Rabu, 16 Desember 2015

Kriteria Seorang Diberi Gelar Santo/Santa

Secara umum, mereka yang diberi gelar Santo/Santa adalah mereka yang hidupnya ditandai oleh pelaksanaan kebajikan yang mencapai titik heroik, dan kekudusan mereka ini harus dapat dibuktikan oleh argumen-argumen dan disertai juga oleh mujizat-mujizat dari Tuhan yang diperoleh melalui perantaraan doa orang kudus itu. Hal ini penting untuk membuktikan bahwa ia adalah benar sahabat Allah.


Maka proses kanonisasi dan beatifikasi bukan proses ‘pembuatan’ seseorang menjadi Santo/santa, namun hanya merupakan deklarasi bahwa orang itu adalah orang yang hidup kudus bahkan sejak sebelum proses kanonisasi dimulai.

Proses penentuan pernyataan seseorang menjadi Santo/Santa dalam Gereja Katolik memakan waktu yang panjang dan memerlukan bukti yang kuat berupa mujizat-mujizat yang harus ada, bahkan setelah orang tersebut sudah meninggal, untuk membuktikan bahwa Allah berkenan kepada perantaraan doa orang tersebut.

Sebenarnya bukan uskup atau Paus yang menentukan seseorang menjadi kudus, apalagi ‘membuat’ seseorang menjadi Santo/Santa.

Paus hanya menyatakan seseorang menjadi Santa/Santo setelah melalui proses penyelidikan panjang.

Prosesnya itu sendiri melibatkan banyak orang, dan harus dibuktikan dengan mujizat (minimal 2), dan mujizatnya pun harus diperiksa secara objektif oleh dokter yang ahli. 

Proses kanonisasi bukan sesuatu yang mudah, umumnya memakan waktu bertahun-tahun. 

Namun justru dalam proses itulah terlihat apakah sungguh Tuhan berkenan menyatakan seseorang tersebut sebagai orang kudus-Nya, melalui mujizat-mujizat yang disyaratkan terjadi pada saat orang itu telah bertahun-tahun meninggal dunia, yaitu melalui permohonan doa syafaat orang kudus tersebut.

Secara garis besar, prosesnya adalah sebagai berikut:

Servant of God (Hamba Allah): Proses yang dimulai di level keuskupan. Uskup (atau ordinaris) bukan menentukan, tetapi membuka kesempatan penyelidikan ‘calon’ para kudus itu, yaitu dalam hal kebajikannya, sebagai respons dari permohonan kaum beriman.

Penyelidikan umumnya dilakukan setelah lima tahun orang tersebut meninggal dunia, walaupun untuk kasus tertentu, Paus dapat mempercepat proses ini, seperti dalam kasus Ibu Teresa dan Paus Yohanes Paulus II.

Setelah informasi lengkap, uskup mempresentasikannya kepada Roman Curia, lalu kemudian ditunjuk seorang postulator (umumnya dari kongregasi- jika itu dari kalangan religius) untuk sungguh-sungguh menyelidiki informasi selanjutnya tentang kehidupan sang Servant of God/ hamba Allah ini.

Declaration ‘Non Cultus’ (Pernyataan tak ada tahyul): Pada suatu saat dapat diizinkan untuk memeriksa jenazah sang Servant of God, dan pernyataan bahwa tidak adanya tahyul/pemujaan yang ditujukan pada sang pelayan Tuhan ini.

Venerable/Heroic in Virtue (Yang Terhormat/Heroik dalam kebajikan) : Setelah segala informasi yang diperlukan terkumpul, Bapa Paus mengumumkan teladan kebajikan dari pelayan Tuhan ini (yaitu yang berhubungan kebajikan ilahi dengan iman, pengharapan dan kasih, dan juga kebajikan pokok, yaitu, kebijaksanaan, keadilan, keberanian, dan pengendalian diri, hingga sampai pada tingkat yang heroik.

Pada saat ini dapat dicetak kartu doa yang dibagikan pada umat, sehingga umat dapat memohon doa perantaraan mereka, mohon agar mujizat dapat diperoleh dari perantaraan doa mereka, sebagai tanda persetujuan Tuhan, untuk menyatakan pelayan Tuhan tersebut sebagai orang kudus.

Blessed (Yang Terberkati): Beatifikasi adalah pernyataan dari Gereja yang menyatakan bahwa kita dapat percaya bahwa sang pelayan Tuhan tersebut berada di sorga.

Tahap berikutnya tergantung dari apakah ia seorang martir, atau bukan. Jika martir, tidak diperlukan mujizat lebih lanjut, namun jika non-martir, maka diperlukan sebuah mujizat melalui doa yang ditujukan dengan perantaraan sang Venerable ini, untuk membuktikan bahwa ia benar-benar telah berada di Sorga, dan Tuhan menjawab doa syafaatnya dengan memberikan mujizat.

Sekarang ini yang dapat dianggap mujizat yang termudah adalah yang melibatkan: 1) pasien yang sakit, 2) yang tidak diketahui bagaimana cara penyembuhannya, 3) doa ditujukan agar Venerable mendoakan kesembuhan pasien, 4) pasien tersebut disembuhkan, 5) Kesembuhannya spontan, instan/ pada saat itu, menyeluruh, dan “lasting“/ tidak berubah, 6) dokter tidak dapat menjelaskan penjelasan normal.

Kanonisasi adalah pernyataan dari Gereja, bahwa sang Santa/Santo tersebut telah berada di Sorga, dan memandang Allah dalam Beatific Vision.

Para orang kudus (Santo/Santa) adalah orang-orang yang semasa hidupnya meneladani Kristus sampai ke titik yang heroik, demikian pula martir, yang bahkan mencontoh Kristus sampai kepada menyerahkan hidupnya demi iman mereka kepada Kristus.

Oleh karena itulah, maka gelar Santa- Santo dan martir itu dapat dikatakan diperoleh karena hubungan mereka dengan Kristus, dan yang telah menerima kepenuhan misteri Paska Kristus, yaitu wafat, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke Sorga.

Para nabi pada Perjanjian Lama memang dapat juga disebut sebagai orang kudus, namun memang secara obyektif dapat diakui bahwa karena mereka hidup sebelum Kristus, maka mereka tidak mengalami kepenuhan misteri Paska Kristus.

Dan karena maksudnya para kudus itu adalah untuk menjadi teladan bagi kita dalam hal kekudusan setelah kita dibaptis, maka banyak orang Katolik mengambil nama Baptis dari para orang kudus itu, yang kekudusannya telah diakui sebagai buah dari hidup mereka di dalam Kristus, setelah mereka [para kudus itu] dibaptis di dalam Kristus.

Dengan memilih nama seorang Santo/Santa sebagai nama Baptis/Pelindung, maka artinya kita memohon agar Santo/Santa itu berdoa bagi kita agar kitapun dapat bertumbuh di dalam kekudusan, dan dilindungi dari pengaruh kejahatan.

Maka Santa/Santo Pelindung itu bukan untuk menyaingi Allah sebagai Pelindung (Yes 1:24; Mzm 31:2; 62:7) dan Perisai kita (Mzm 3:3).

Allah tetaplah sebagai Pelindung kita, namun Ia melibatkan para orang kudus-Nya untuk melindungi kita dengan doa-doa mereka. Maka peran mereka melindungi kita hanya dimungkinkan oleh Allah.

Prinsip persekutuan orang kudus inilah yang membedakan pengertian Pengantaraan, antara pemahaman Protestan dengan Katolik.

Bagi umat Protestan, Yesus adalah satu-satunya Pengantara, dan pengantaraan-Nya ini bersifat eksklusif. Sedang bagi Gereja Katolik, Pengantaraan Kristus yang satu-satunya (1 Tim 2:5) ini bersifat inklusif, yaitu melibatkan juga orang-orang kudus-Nya, sebab semua orang kudus itu adalah kawan sekerja Allah (1 Kor 3:9).

Bahwa seorang yang kudus, dapat mendoakan sesamanya (berdoa syafaat) bagi sesamanya (1 Tim 2:1), dan Tuhan dapat mengabulkan doa ini yang dipanjatkan atas Pengantaraan Yesus.

Maka, pengantaraan orang kudus ini hanya mungkin karena Pengantaraan Kristus, dan bergantung dari Pengantaraan-Nya.

Jadi pengantaraan ataupun perlindungan orang kudus ini harus selalu dilihat sebagai kesatuan dengan perlindungan Kristus: selalu mendukung dan selalu bersama dengan Pengantaraan dan Perlindungan dari Tuhan Yesus.

Oleh karena di sorga yang ada adalah persekutuan para orang kudus dengan Kristus sebagai Kepala, maka Gereja Katolik percaya bahwa Pengantaraan Kristus melibatkan pengantaraan para kudus sebagai anggota-anggota-Nya, dan bahwa pengantara anggota-anggota-Nya dapat diberikan karena kesatuan mereka yang sempurna dengan Kristus.

Kalau ada yang bertanya, kalau mereka-pun tergantung pada Pengantaraan Yesus, mengapa kita berdoa mohon perantaraan mereka?

Jawabnya, memang kita tidak harus berdoa memohon pengantaraan mereka, namun jika kita melakukannya, itu berguna bagi kita sendiri, karena itu melatih kita untuk bertumbuh dalam kerendahan hati.

Karena kita melihat kepada para orang kudus itu sebagai teladan, agar kita terpacu untuk hidup seperti mereka.

Ini seperti layaknya adik kelas yang belajar dari kakak kelas/ atau mereka yang sudah lebih dahulu lulus.

Kita bisa belajar langsung dari dosen/profesor kita, tetapi bisa juga disamping belajar dari dosen, kita belajar dari kakak kelas.

Tidak ada keharusan kita belajar dari kakak kelas, namun tentu baik bagi yang mau melakukannya, karena akan sangat banyak manfaatnya.

(Sumber: Kriteria Seorang Diberi Gelar Santo/Santa, katolisitas.org).


Santo Andreas



Pada awalnya, Andreas adalah murid Yohanes Pembaptis. Setelah mendengar perkataan Yohanes tentang “Anak domba Allah” ia lalu mengikuti Yesus. 

Perjumpaan dengan Yesus dan pengalaman bersama-Nya membuat Andreas tidak menyimpan kegembiraan ini untuk dirinya sendiri, namun ia segera membagikan pengalamannya kepada Simon, saudaranya, katanya: “Kami telah menemukan Mesias (artinya Kristus).” Lalu ia membawa Simon kepada Yesus (Yoh 1:35-44).

Andreas adalah saksi atas mujizat-mujizat yang dilakukan Yesus, salah satunya adalah penggandaan roti dan ikan (Yoh 6:11-13). Ia juga hadir saat perjamuan malam terakhir, saat Yesus menampakkan diri sesudah kebangkitan-Nya, saat Yesus naik ke Surga, dan saat Pentekosta.

Memenuhi amanat Sang Guru, para murid menyebar ke segala bangsa untuk mewartakan Injil. Rasul Andreas menyebarkan agama Kristen di Scythia, Epirus, Hellas, Kapadokia, Galatia, Bithynia, Byzantium, Thrace, Makedonia, Thessaly, dan Achaia. 

Menurut tradisi Gereja, dia memulai misinya di Provinsi Vithynia dan Pontus di bagian tepi selatan Laut Hitam. Kemudian menuju Kota Byzantium dan mendirikan gereja Kristen di sana, mentahbiskan uskup Byzantium yang pertama, Stachys.

Contoh kelembutan hati Andreas, kuasa doanya dan perbuatan baiknya (membawa seseorang mengenal Tuhan Yesus secara pribadi)

· Ada seorang tua yang datang kepadanya dan menceritakan bahwa telah puluhan tahun hidup dalam dosa. Andreas menangis ketika mendengar bahwa orang tua itu tidak mampu membebaskan dirinya dari kelemahan ini. Katanya: “Aku tidak akan makan daging sebelum orang itu diselamatkan.” 

Setelah lima hari berpuasa, terdengar suatu suara: “Tuhan akan mengabulkan doamu, dengan kerjasama dari si orang tua itu, yang ikut berpuasa selama enam bulan.” Setelah berpuasa selama enam bulan, orang tua itu dibebaskan dari kelemahannya dan kembali merasakan damai Tuhan.

· Atas desakan para penyembah berhala, Aeges, prokonsul Roma memaksa orang-orang Kristen untuk menyembah berhala. 

Andreas menjelaskan kepada Aeges: “Hanya Tuhanlah yang patut disembah. Kristuslah putra Allah yang telah datang ke dunia untuk menyelamatkan semua manusia. Semua penyembahan berhala memurkakan Tuhan.” 

Kata Aeges: “Karena kesia-siaan yang diwartakan-Nya, maka Yesus harus menanggung akibatnya: harus menderita sengsara dan disalibkan.” 

Andreas menyanggah perkataan itu, katanya: “Yesus disalibkan bukan secara terpaksa, tapi Dia dengan sukarela menderita dan disalibkan demi keselamatan kita. Salib adalah suatu misteri yang sangat agung.” 

Mendengar penjelasan itu, Aeges marah dan memerintahkan untuk menyalibkan Andreas. 

Andreas dengan gembira mendatangi kayu salibnya. Saat dari jauh dilihat kayu salibnya, dia memberi salam: “Salam hai Salib Suci, engkau yang telah disucikan oleh tubuh Tuhanku, dan dihiasi oleh tungkai dan lengan-Nya bagai permata yang mahal. Aku datang kepadamu dengan bersorak gembira. 

Terimalah aku dengan gembira di tanganmu. O kayu salib yang baik, yang telah menerima keindahan dari tangan Tuhan; telah lama aku mengasihimu dan medambakanmu: sekarang engkau telah kutemukan dan engkau siap menerima kerinduan jiwaku; terimalah aku di tanganmu, ambillah aku dari antara manusia, dan hantarlah aku ke Tuhanku; agar Dia yang telah menebusku di atasmu, berkenan menerimaku melalui dirimu.”

Andreas bahagia karena boleh semakin serupa dengan Kristus, Guru-Nya. Dia menanggalkan jubahnya dan memberikannya kepada para algojonya. 

Mereka lalu mengikat dia dengan posisi kepala di bawah pada kayu salib yang berbentuk huruf X. Atas perintah Aeges mereka tidak memakukan dia agar penderitaannya lebih lama. 

Di sana dia bergantung selama dua hari dengan tetap berkotbah kepada kerumunan orang yang datang melihatnya. Dari salibnya, langit dilihatnya dengan gembira sebagai surga di mana dia akan bertemu dengan Tuhan. 

Atas desakan banyak orang maka Aeges dan beberapa orang datang kepadanya untuk membebaskannya. Namun Andreas menolaknya. 

Karena doanya, tangan orang-orang yang hendak membuka ikatannya menjadi lemas, tak bertenaga. Andreas tidak ingin turun dari salib dalam keadaan hidup. Dia mohon agar jiwanya boleh melayang kepada Sang Sumber Kebahagiaan. 

Pada saat itu dari langit muncullah suatu sinar yang sangat terang menyelimuti dirinya selama setengah jam sehingga tak seorangpun bisa melihatnya. 

Ketika sinar itu hilang, jiwa sang Rasul Suci melayang bersatu dengan Tuhan yang dicinta dan dirindukannya. Jenasahnya diturunkan dari salib dan dimakamkan oleh Maximila dan uskup Stratoklis. 

Dengan segera banyak orang berdatangan ke makamnya. Menyadari bahwa orang yang dibunuhnya sesungguhnya benar-benar seorang utusan Tuhan yang suci, Aeges akhirnya bunuh diri.

Jika kita merenungkan hidup rasul suci ini, maka ada begitu banyak teladan yang dia berikan. Namun secara singkat, kita bisa katakan bahwa seluruh hidupnya sejak perjumpaannya dengan Yesus adalah suatu sorak kegembiraan: “Kami telah menemukan Mesias!”. 

Teriakannya mengajak kita untuk merefleksi diri: “Benarkah kita sudah mengenali Yesus sebagai Mesias dalam hidup kita? Seberapa jauh perjumpaan kita dengan Kristus, Sang Mesias, mengubah hidup kita? Seberapa jauh perjumpaan ini menggemakan sorak kegembiraan dalam hati kita? Dan seberapa jauh sorak ini memancar keluar dari diri kita?” 

Teladan sang rasul suci mengajarkan kita untuk senantiasa mengantar sesama kepada Sang Mesias, juga pada saat-saat di mana kita hanya mempunyai lima roti dan dua ikan.

(Sumber: Warta KPI TL No.115/XI/2013 » www. Carmelia. net).

Santa Theresia Lisiuex



Theresia di lahirkan di Alencon, Prancis, pada tanggal 2 Januari 1873. Ketika berusia 4 tahun ibunya meninggal, ini merupakan goncangan batin yang menyebabkan dia sangat peka, over sensitif, tidak dapat bergaul dengan orang di luar keluarganya sendiri dan menderita pelbagai ketegangan jiwa selama hampir 10 tahun. 



Ketika berumur 14 tahun, dalam sekejap mata Tuhan menganugerahkan kekuatan batin. Ia terus maju di jalan hidup yang “baru” ini, yang bermuara ke dalam arus cinta kasih yang tak terbendung lagi, menjadi penyerahan total kepada Tuhan dan sesama dalam hidup membiara di Biara Karmel di Lisieux. 



Ketika berumur 21 tahun ia sudah sampai kepada penemuan “Jalan Kecil”nya yang kemudian tersohor itu, dimana cinta kasih, kepercayaan kepada Tuhan dan penyerahan diri secara total dihayati sepenuhnya. Meninggal dunia 30 September 1897. 

St. Theresia hanya menekankan kesederhanaan ajaran Injil dan menjauhkan kita dari kebingungan karena cara yang berbelit-belit, intelektualisme yang sukar (membuang matematika dari dalam iman). 

Marilah kita mencurigai pengetahuan yang kita miliki, pandangan, teori dan metode-metode kita. Jika semua itu memberikan suatu rasa harga diri, perasaan memiliki suatu hikmat, hendaknya itu dikesampingkan. Mungkin di situ ada banyak penipuan diri dan pandangan-pandangan yang keliru.

Penderitaan sebagai sarana yang penting untuk membimbing manusia, supaya mencintai Dia, merasa bahagia dalam mencintai Dia, guna lebih memuliakan Cinta yang penuh Belas Kasih. 

Kesabaran adalah akar dan pemeliharaan kerendahan hati, senantiasa diuji oleh penderitaan-penderitaan. 

Kasih adalah asal mula dari segala-galanya dan merupakan tujuan akhir kesempurnaan dan kekudusan. 

Kekudusan tidak terdapat dalam perbuatan, melainkan sikap hati yang membawa kita ke dalam tangan Tuhan, dengan rendah hati dan kecil, menyadari kelemahan kita dan percaya penuh akan kebaikan Ke-Bapaan-Nya. 

Kerendahan hati sejati adalah mengarahkan mata, pandangan jiwa, keluar dari diri sendiri (melupakan/menganggap diri sendiri tidak berarti apa-apa). 

Kepercayaan adalah kunci “Jalan Kecil” untuk menjaga keseimbangan jiwa yang menghasilkan mujizat. 

Kerendahan hati dan kepercayaan adalah garis penghubung antara hidup mistik, di mana tindakan ilahi secara definitif mulai menguasai yang manusiawi, membawa jiwa kepada kesadaran akan tidak berartinya di hadapan Tuhan. 

Jika jiwa secara radikal mengesampingkan dirinya kepada Roh Kudus, menyerahkan diri kepada Roh Tuhan, maka mulai suatu hidup ilahi yang benar-benar, memasuki jalan kekudusan. 

Kerendahan hati tanpa kepercayaan akan menjadi sikap pengecut/putus asa. 

Kepercayaan tanpa kerendahan hati akan menjadi sikap sok dan gegabah. 

Penyangkalan diri (karya Roh Kudus - yang menghasilkan, yang merealisirnya dalam diri kita) adalah sikap jiwa yang sama sekali tidak hidup bagi diri sendiri, sikap tulus dan tetap, keputusan yang bertujuan memalingkan jiwa dari kecenderungan kodratinya yang mau menjadikan dirinya sendiri sebagai pusat hidupnya, suatu niat yang tertuju pada: tidak memikirkan diri sendiri, mau mengesampingkan diri sendiri (mengarahkan hati kepada Tuhan dengan melepaskan diri sendiri). 

Sekian banyak orang membaca Injil, namun tidak menemukan apa-apa di dalamnya, akibatnya sama sekali tidak tersentuh. Karena mencari di situ sesuatu yang tidak ada (mendekatinya secara intelektuil, mencari ide-ide/pikiran-pikiran baru), sedangkan yang ada diabaikan.

Santa Theresia Kanak-Kanak Yesus adalah seorang kudus yang mencurahkan pengalamannya tentang Kitab Suci, Kristologi, Eslesiologi, Mariologi (dituangkan dalam Konsili Vatikan II). 

Ajaran-ajarannya menunjukan kebenaran fundamental dan universal telah memukau dan mempengaruhi tokoh-tokoh besar dunia dari pelbagai agama, bangsa dan profesi (Paus, teolog, psikolog, politikus, artis, atlet, pekerja sosial, dan banyak kalangan lain). 

Kendati dia tidak pernah keliling dunia, hidup dan pengaruhnya telah menjelajah dunia, sebelum era globalisasi muncul. 

23 April 1923 Theresia dinyatakan seorang Beata, oleh Paus Pius XI, yang menyebutnya : “Bintang masa jabatannya” 

Oleh karena banyaknya rahmat yang diperoleh berkat perantara Theresia, maka peraturan gereja yang menentukan bahwa seseorang baru dapat dinyatakan sebagai seorang beato/a sesudah 50 tahun meninggalnya, tidak berlaku bagi kasus ini. 

17 Mei 1925, Paus Pius XI, DI Gereja St Petrus di Roma, menyatakan Theresia sebagai seorang “Santa” dengan gelar “orang kudus terbesar jaman modern” 

Sebagai Sabda Allah yang turun ke dunia untuk menunjukkan kepada manusia jalan kecil kanak-kanak. Sabda Allah harus diresapkan dalam hati dan kemudian diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, karena Kitab Suci selalu “up to date”. Ia senantiasa baru setiap pagi bagaikan sang surya dan segar laksana sekuntum bunga. Yesus dan amanatnya merupakan suatu kenyataan dan suatu rencana yang selalu berlaku. 

14 Desember 1927, Paus Pius XI mengangkat Theresia sebagai “Pelindung semua missionaris dan tanah misi di seluruh dunia”, seperti St. Fransiskus Xaverius. 

3 Mei 1944, Paus Pius XII mengangkat Theresia sebagai “Pelindung negara Perancis”, sama seperti St. Joan of Arc. 

19 Oktober 1997, Paus Yohanes Paulus II , memberi gelar Pujangga Gereja (meskipun tidak pernah kuliah/membuat penelitian ilmiah). 

Ia menjadi pewarta kasih Allah, agar kita berani menaruh seluruh harapan akan kasih kerahiman Tuhan dengan dasar iman ( kita diselamatkan berkat rahmat Tuhan).

Sekelumit teladan yang Theresia Lisieux berikan: 

Ketika sakit ia pernah kurang sabar terhadap seorang suster yang secara tidak bijaksana meminta sesuatu kepadanya. Katanya kepada suster lain, “Saya senang sekali, bahwa dia telah melihat ketidak sempurnaanku. Saya merasa dikuatkan oleh pikiran bahwa suster tadi sudah melihat aku kurang kebajikan, aku gembira melihat diriku sebagaimana adanya”. 

Kesabaran adalah akar dan pemeliharaan kerendahan hati. 

- Ada seorang suster dalam komunitas dalam segala macam hal menjengkelkan (tingkah laku, kata-kata, dan wataknya). Karena tidak mau menyerah kepada perasaan antipati terhadapnya. 

Setiap kali berpapasan dengan dia, saya berdoa dan mempersembahkan kepada Allah segala jasa dan kebaikannya (tak ada seorang seniman “Tuhan” pun yang tidak gembira bila karyanya dipuji orang); sedapat mungkin juga menyumbangkan jasa dan berusaha seramah mungkin tersenyum. 

Pada suatu hari dengan sangat ramahnya dia memandang seraya bertanya, “Apakah yang menyebabkan Anda terpikat pada diriku. Setiap kali Anda melihat saya, Anda tersenyum?” 

Saya menjawab bahwa saya tersenyum kepadanya karena senang melihat dia ( “Akh, apa yang memikat hatiku adalah Yesus dalam lubuk hatinya... Yesus sendiri yang membuat semua kepahitan jadi manis). Karena cinta terhadap sesama terletak pada perbuatan dan bukan perasaan. 

- Saya mengerti bahwa salah seorang suster keliru membawa lampunya, padahal sangat dibutuhkan. Daripada bersedih, saya malahan senang dapat merasakan kemiskinan bukan hanya terletak dalam melepaskan sesuatu yang menyenangkan tetapi juga barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dengan demikian batinku diterangi, sementara secara lahir duduk dalam gelap. 

- Theresia sering mengalami rasa kantuk dan tertidur waktu berdoa bersama, karena badannya lemah, sering kurang tidur waktu malam, sehingga saat doa dijadikan sebagai ganti rugi. Namun ia berjuang terus menerus, maka perlahan-lahan dalam dirinya muncul sikap menyerahkan diri, menjadi rendah hati dan penuh pengharapan. 

Beranikah kita memegang tangan Yesus dalam perjalanan hidup kita? Dengan sikap seperti anak kecil: tidak selalu melihat, namun percaya penuh, dan berjalan dengan tak gentar dalam situasi yang belum tentu menyenangkan. 

Gereja Katolik mempunyai banyak mutiara yang sangat berharga, dilupakan begitu saja. Marilah kita menggali kekayaan Gereja Katolik, agar hidup iman kita lebih diperkaya.

Pesta St. Theresia Lisieux 1 Oktober

(Sumber: Warta KPI TL No. 01/V/2004 dan No. 02/VI/2004).

Artikel terkait

Senin, 14 Desember 2015