Senin, 14 Desember 2015

Santo Juan Diego




Ada seorang duda tanpa anak dari suku Aztec yang bernama Cuauhtlatoatzin (artinya “Elang Bernyanyi”; nama baptisnya Juan Diego), dia setiap pagi berjalan sendirian ke gereja. 

Sepulang dari Misa Kudus, dia selalu mengunjungi rumah pamannya, Juan Bernardino untuk mengurusi pamannya yang sudah tua renta dan menengok pula tanaman di kebun pamannya.

Pada tanggal 9 Desember 1531, di Sabtu pagi yang dingin itu Juan Diego menghentikan langkahnya ketika dia mendengar suara kicauan burung di bukit kecil yang tandus (Tepeyac), di mana dulunya berdiri sebuah kuil bagi Dewi yang dipuja oleh suku Aztec. Dia merasa heran ketika mendengar suara itu, karena biasanya pada musim dingin burung-burung sudah berimigrasi ke wilayah yang lebih hangat. 

Tiba-tiba suara itu terhenti dan terdengarlah suara seorang wanita memanggil-manggil namanya: "Juan! Juan Diego!"

Panggilan itu membuatnya berlari ke puncak bukit, dan di sana dilihatnya seorang gadis Meksiko muda yang berusia sekitar 14 tahun dengan kilauan keemasan yang terpancar dari sekujur tubuhnya dari kepala sampai ke kaki. 

Gadis itu berkata: "Juan, anakku yang paling kecil mungil, hendak kemana engkau pergi?" Juan menjawab, "Bunda dan puteri, aku sedang bergegas ke Tlaltelolco untuk menghadiri Misa Kudus dan mendengarkan Injil."

Gadis itu berkata: "Puteraku yang baik, aku mengasihimu. Aku ingin engkau tahu siapa aku. Akulah Perawan Maria yang tak bercela, Bunda dari Allah yang benar, yang melalui-Nya segala sesuatu hidup … Aku menginginkan sebuah gereja di tempat ini, di mana aku akan menunjukkan belaskasihku kepada kaummu dan kepada semua orang yang dengan tulus hati meminta pertolonganku dalam kerja dan kesulitan mereka. Di sini, aku akan melihat air mata mereka. Aku akan menghibur mereka dan mereka akan merasakan kedamaian. Oleh karena itu sekarang pergilah ke Tenochtitlan (= Kota Meksiko) dan katakan kepada Bapa Uskup, semua yang telah kamu lihat dan dengarkan." 

Ketika mendengar perkataan itu, Juan Diego langsung menjatuhkan diri berlutut di kaki Bunda Maria sambil berkata: "Bunda yang mulia, aku akan melakukan apapun yang engkau titahkan kepadaku!" 

Sembari berlari-lari menuruni bukit, terpikirkan olehnya bahwa apa yang diminta oleh Bunda Maria bukanlah suatu perkara kecil. 

Pertama-tama jarak yang ditempuh sekitar 8 km cukup melelahkan bagi seorang yang sudah berusia 57 tahun. Selain itu, terpikir juga kemungkinan yang akan dilakukan para tentara dan tukang pukul Spanyol ketika melihat dirinya orang miskin. Dan dia sama sekali tidak tahu dimana letaknya tempat tinggal Bapa Uskup. 

Setelah melalui berbagai kesulitan, akhirnya Juan berhasil menemukan tempat tinggal Bapa Uskup. Di sana dia diperlakukan secara kasar oleh para pelayan, namun akhirnya dia diperbolehkan masuk ke dalam untuk menemui Bapa Uskup. 

Bapa Uskup terkesan oleh ketulusan dan kerendahan-hatinya ketika mendengarkan kisah yang dituturkan oleh Juan lewat seorang penterjemah. 

Dia juga menanyakan sejumlah pertanyaan kepada Juan. Pesan itu sulit untuk diterima akal sehat, tetapi dia mengatakan bahwa akan memikirkannya dan akan melanjutkan percakapan nantinya.

Hari sudah malam ketika Juan mencapai tanah tandus di bukit di mana dia melihat Bunda Maria menampakkan dirinya. Dia sangat lelah dan lapar karena telah berpuasa sejak matahari terbenam sehari sebelumnya. Dia juga sangat sedih karena misinya gagal. 

Setelah mendaki bukit itu, dia terkejut ketika melihat Bunda Maria berada di sana sedang menunggunya. Dia berlutut dan berkata: "Bunda dan Ratu yang baik, aku telah melakukan titahmu. Aku memberitahukan kepada Bapa Uskup tentang segala hal yang telah kulihat dan kudengar di sini. Dia mendengarkan, dan menanyakan banyak pertanyaan, tetapi aku yakin bahwa beliau tidak percaya segala hal yang kukatakan. Dia berpendapat bahwa aku telah salah sangka tentang keinginanmu untuk membangun sebuah gereja di sini, dan bahkan tentang siapa sebenarnya yang aku lihat dan bercakap-cakap di sini. Dia berbaik hati memberi ijin kepadaku untuk menemuinya kembali, tetapi aku khawatir bahwa aku tidak bisa berbuat lebih jauh. Aku tidak layak menerima kepercayaanmu dengan pesan yang penting itu. Mohon kirim orang lain yang lebih layak, karena aku bukan siapa-siapa. Maafkan keterus-teranganku dalam menasihatimu." 

Perawan Maria berkata: "Dengarkan putera mungilku. Ada banyak orang lain yang bisa aku kirim, tetapi engkaulah yang aku pilih untuk menjalankan tugas ini. Maka esok pagi berangkatlah kembali menemui Bapa Uskup. Katakanlah kepadanya bahwa Perawan Maria-lah yang mengirim engkau, dan ulangi permintaanku untuk mendirikan sebuah gereja di tempat ini."

Jawab Juan: "Aku akan melakukannya dengan rela. Tetapi aku khawatir Bapa Uskup tidak akan senang melihat aku kembali secepat ini. Dan kalaupun dia senang, dia mungkin tetap saja tidak akan percaya bahwa engkaulah sungguh-sungguh yang mengutus aku. Tetapi aku adalah pelayanmu dan akan menuruti segala kehendakmu. Esok aku akan kembali ke sini untuk memberitahukan hasil kunjunganku yang kedua kalinya. Bunda yang mulia, beristirahatlah sampai nanti."

Pada hari berikutnya, Juan bangun pagi-pagi sekali pergi ke Misa Kudus. Setelah Misa selesai dia melanjutkan perjalanan ke kota Meksiko. Sesampainya di sana, dia langsung diperbolehkan menemui Bapa Uskup. 

Bapa Uskup sangat terkejut ketika melihatnya datang kembali begitu cepat. Agaknya sorga telah memenuhi pikiran sang Uskup, sehingga dia mulai percaya bahwa Juan tidak salah paham ataupun membuat-buat cerita ini. 

Karena tidak ingin menimbulkan kesan bahwa dia mempertanyakan motivasi Bunda Sorgawi maka dia meminta Juan untuk menyampaikan kepada Bunda Maria bahwa dia dengan rendah hati meminta suatu tanda yang akan menjadi bukti bahwa sungguh-sungguh Bunda Maria sendirilah yang membuat permohonan ini. Juan merasa lega hatinya karena kali ini dia mendapat suatu kemajuan karena dia tidak segera dikirim pulang.

Setibanya di bukit Tepeyac, dilihatnya Bunda Maria sedang menunggunya. Lalu dia segera berlutut dan mengatakan kepadanya bahwa Bapa Uskup telah menemuinya dan mendengarkan ceritanya dengan sabar, tetapi dia meminta sebuah tanda sebelum gereja dibangun. 

Dengan kesabaran seorang ibu, Bunda Maria berkata: "Baiklah, putera kecilnya. Kembalilah besok saat menjelang fajar. Aku akan memberimu suatu tanda baginya. Engkau telah mendapat banyak kesulitan karena permintaanku, dan aku akan memberimu upah oleh karenanya. Pergilah dalam damai dan beristirahatlah."

Bukannya pulang ke rumah, Juan langsung pergi menemui pamannya. Dia terkejut setibanya di sana, karena mendapatkan pamannya terinfeksi penyakit demam yang menular dan mematikan. 

Dia tidak beristirahat, sepanjang malam itu, siang hari berikutnya, dan malam hari berikutnya, Juan menunggui sang paman di samping ranjangnya. 

Pada hari Selasa pagi, kondisi pamannya makin memburuk dan dia memintanya untuk memanggil seorang imam supaya dia dapat menerima Sakramen Pengurapan orang sakit. 

Sesungguhnya Juan tidak ingin meninggalkan pamannya sendirian meregang maut, tetapi dia menyadari bahwa mungkin inilah satu-satunya jalan yang bisa dilakukan bagi pamannya. Maka dia pergi ke Tlaltelcolco hendak memanggil imam.

Untuk pergi ke Tlaltelcolco, dia harus memutari wilayah bukit Tepeyac. Karena dia telah melihat Bunda Maria di sisi Barat, maka kali ini dia akan pergi melintasi sisi Timur dengan harapan Bunda Maria tidak melihatnya sehingga waktunya tidak tertunda untuk memanggil imam. 

Baru saja akan melintasi sisi Timur, tiba-tiba dilihatnya Bunda Maria menuruni bukit dan bertanya: "Puteraku yang mungil, ada masalah apa?" Jawabnya: "Bunda! Mengapa engkau bangun begitu pagi-pagi sekali? Apakah engkau baik-baik saja? Maafkan aku. Pamanku menjelang ajal karena demam cocolistle dan memintaku untuk memanggil seorang imam untuk memberikan Sakramen Pengurapan kepadanya. Bukan janji kosong belaka yang kuucapkan bahwa aku akan menemuimu kemarin pagi dan membawa tanda yang akan engkau berikan kepada Bapa Uskup. Tetapi pamanku sakit keras." 

Dengan tersenyum Bunda Maria menjawab, "Puteraku yang mungil. Jangan khawatir dan terbeban. Bukankah aku ini adalah ibumu? Tidakkah engkau berada dalam perlindunganku? Pamanmu tidak akan meninggal saat ini. Pada saat ini juga kesehatannya telah pulih. Tidak ada gunanya engkau melanjutkan perjalananmu, dan dengan hati damai engkau bisa melakukan permintaanku. Pergilah ke puncak bukit; potonglah bunga-bunga yang tumbuh di sana dan bawalah kepadaku." 

Pikirnya: “Bunga-bunga? Tidak mungkin ada bunga-bunga yang tumbuh pada saat ini di akhir tahun di bukit yang dingin beku itu! Tidak mungkin juga kesehatan pamannya bisa pulih dalam sekejap.” 

Juan tidak lagi bertanya-tanya, dia langsung naik ke puncak bukit mengikuti petunjuk Bunda Maria. Di atas puncak bukit dilihatnya suatu pemandangan yang tidak dapat dipercaya, di sana dilihatnya bunga-bunga mawar Kastilian dari Spanyol. 

Lalu dia memotong tangkai bunga-bunga tersebut dan diletakkannya di dalam tilma (= mantol kasar yang dipakai suku Indian di Mexico, di bagian depannya seringkali digunakan untuk membawa benda-benda) yang dipakainya untuk melindungi dari angin dingin. 

Bunda Maria tidak puas dengan cara bunga-bunga tersebut diletakkan di dalam tilma maka dengan cermatnya dia mengatur setiap tangkai bunga dengan kedua tangannya, dan kemudian menyimpulkan kedua ujung tilma supaya isinya tidak tumpah. 

Lalu dia berkata, "Engkau lihat, putera kecil, ini adalah tanda yang aku kirim kepada Bapa Uskup. Katakan kepadanya bahwa sekarang dia mendapatkan tanda yang dimintanya, maka dia harus membangun gereja yang kuminta di atas tempat ini. Jangan biarkan orang lain melihatnya kecuali dirinya melihat apa yang engkau bawa. Peganglah kedua sisinya sampai engkau tiba di hadapannya dan selesai menceritakan tentang bagaimana aku mencegat engkau dalam perjalananmu memanggil seorang imam untuk memberikan Sakramen Pengurapan kepada pamanmu, dan betapa aku meyakinkanmu bahwa dia telah pulih sepenuhnya dan selanjutnya mengirimmu ke atas bukit untuk memotong bunga-bunga mawar ini, dan aku sendiri yang mengaturnya seperti ini. Ingatlah, puteraku yang mungil, bahwa engkau adalah dutaku yang kupercaya, dan kali ini Bapa Uskup akan pasti percaya apa yang engkau ceritakan kepadanya."

Dengan memegang erat-erat bawaannya yang berharga, Juan tiba di tempat tinggal Bapa Uskup. Meskipun dia berusaha menyembunyikan apa yang dibawanya, tetapi wangi mawar sorgawi yang menyengat memenuhi udara disekitarnya. 

Para pelayan sangat ingin tahu akan apa yang dibawanya, maka mereka mendesaknya untuk memberitahukan apa yang ada di balik tilmanya. 

Ketika para pelayan menyentuh mawar-mawar tersebut, mereka berubah rupa dan lenyap. 

Keributan yang ditimbulkannya membuat Bapa Uskup datang bergegas untuk melihat apa yang terjadi. Melihat Juan kembali begitu cepatnya dia segera menyuruh Juan untuk masuk ke ruangannya bersama-sama beberapa pengurus rumah tangga Bapa Uskup. 

Berdiri di hadapan Bapa Uskup, dia tidak berani berlutut karena khawatir bunga-bunganya akan tumpah ke luar sebelum dia selesai menceritakan kisahnya seperti yang telah diperintahkan oleh Bunda Maria. 

Juan kembali menceritakan apa yang telah dilihatnya dan didengarnya. Setelah dia selesai bercerita, dia membuka simpul-simpul pada tilmanya dan menumpahkan bunga-bunga yang telah diatur secara hati-hati tersebut ke atas lantai. 

Hanya dalam waktu beberapa detik, Bapa Uskup bangkit dari kursinya dan berlutut di depan kaki Juan. Juan berpikir: "Apa-apaan ini?"

Tetapi bukan dia yang membuat Bapa Uskup dan orang-orang itu berlutut, tetapi Bunda Maria telah menyatakan rupanya dalam gambar yang muncul pada tilma yang dikenakan oleh Juan Diego. 

Gambar yang muncul secara mujijat pada tilma Juan Diego adalah rupa Maria yang sama persis ketika dia menampakan dirinya kepada Juan Diego. 

Dengan penuh hormat, Bapa Uskup membawa gambar tersebut ke kapel pribadinya dan menggantung tilma tersebut di dinding di dekat altar di mana banyak orang berdoa dan takjub selama berjam-jam. 

Pada hari berikutnya gambar Bunda Maria dibawa dalam suatu prosesi yang gegap gempita ke katedral di mana banyak orang datang melihat dan berdoa di hadapannya. 

Berita tersebut tersebar dengan cepat dan beribu-ribu orang menunggu berjam-jam untuk mendapat kesempatan melihat secara sekilas mujijat ini. Sementara seisi kota merayakan hal itu, Bapa Uskup berangkat ke tempat penampakan itu lalu memberkati tanah itu dan dia segera membangun sebuah gereja di sana.

Sekembalinya Juan di kampungnya, dia melihat pamannya sedang menikmati sinar matahari di depan rumahnya, sehat seperti sediakala. Pamannya berlari-lari menyongsongnya dan berkata: “Ketika aku sangat lemah, minumpun aku sudah tidak mampu lagi, aku merasa kematian sudah diambang pintu. Tiba-tiba seluruh ruangan dipenuhi oleh seberkas cahaya, dan muncullah seorang gadis muda yang sangat cantik, dia mengatakan bahwa aku akan sembuh, dia juga mengatakan bahwa telah mencegatmu untuk mengutusnya mengirimkan gambar dirinya kepada Bapa Uskup. Dia berkeinginan supaya gambar dirinya disebut dengan sebutan ‘Maria Guadalupe’. Setelah dia pergi, aku merasakan sehat seperti sediakala.”

Juan Diego wafat pada tanggal 30 Mei 1548 dalam usia 74 tahun. Paus Yohanes Paulus II memuji Juan Diego karena imannya yang bersahaja, yang senantiasa terpelihara oleh ajaran agama. Paus menetapkannya sebagai teladan kerendahan hati bagi kita semua. 

Juan Diego ditetapkan sebagai “beato” pada tanggal 9 April 1990; sebagai “santo” pada tanggal 31 Juli 2002 oleh Paus Yohanes Paulus II.

Gambar Bunda Maria dari Guadalupe yang muncul secara mujijat tersebut telah menjadi sasaran berbagai penelitian ilmiah. 

Pertama-tama patut diketahui bahwa tilma itu terbuat dari serat kasar kaktus yang tidak tahan lama dan semestinya sudah hancur dalam kurun waktu sekitar 20 tahunan. Akan tetapi tilma yang bergambar Bunda Maria tersebut umurnya sudah nyaris 500 tahun dan kondisinya masih utuh. 

Meskipun sekarang dipamerkan dibalik kaca, akan tetapi sepanjang ratusan tahun tilma tersebut dipamerkan secara terbuka, bahkan ada saat-saat di mana tilma itu dipamerkan di dekat jendela. 

Tidak seorangpun bisa menjelaskan bagaimana gambar yang begitu mendetail bisa "dilukis" pada sehelai kain yang anyamannya kasar. 

Bagian mata, khususnya pada pupil mata dan warnanya, sangat mendetail sehingga seolah-olah merupakan sebuah foto. Tidak seorang ahlipun bisa menyebutkan zat warna/cat apa yang dipakai untuk membuat gambar tersebut. Bahan yang dipakai tidak diketahui asal-usulnya dan hasil analisa kimia juga membingungkan para ahli.

Belum lama ini, riset fotografi NASA (badan luar angkasa Amerika Serikat) menyatakan bahwa pada bagian mata, tidak hanya warna dan pupil yang tampak nyata, tetapi ada juga pantulan refleksinya. 

Pada pantulan refleksi itu bisa dilihat gambar orang-orang yang sedang berlutut, sebagian tampak adalah orang-orang suku Indian, Juan Diego, Juan Gonzalez - penerjemah, dan Uskup Zumarraga. 

Lebih jauh lagi pantulan refleksi ini muncul dengan cara sedemikian rupa sehingga cocok sepenuhnya seperti layaknya pantulan yang ada pada mata manusia sungguhan. Riset juga menunjukkan eksistensi saluran dan pembuluh kapiler darah pada mata. 

Ini adalah suatu hal yang tidak mungkin dilakukan oleh artis seniman manapun juga. Tidak mungkin orang bisa melukis sedetail ini, pada bahan yang sekasar itu, dan dengan warna-warni yang tak seorangpun tahu terbuat dari bahan apa. 

Kalau hal-hal di atas belum cukup mengejutkan, para ahli astronomi Perancis telah menyatakan bahwa letak bintang-bintang pada mantel Bunda Maria yang berwarna hijau, cocok sepenuhnya dengan letak konstelasi bintang-bintang di atas langit Meksiko pada bulan Desember 1531!

Di atas semua itu, mujijat yang terbesar dari penampakannya bukanlah penguatan dari ilmu pengetahuan. Mujijat yang terbesar adalah bahwa Maria begitu mengasihi Puteranya, dan para anak-anak spiritualnya di dunia, sehingga dia memilih seorang Indian yang sederhana untuk mewartakan kabar keselamatan kepada satu benua, dan dengan demikian, membawa berjuta-juta rakyat asli benua Amerika ke dalam iman Katolik. 

Kalaupun suatu waktu tilma Bunda Maria dari Guadalupe lapuk dimakan jaman, mujijat pertobatan jutaan penduduk asli Amerika yang masuk Katolik akan selalu bersama-sama dengan kita, sampai ke akhir jaman.

Lukisan Santa Perawan Maria dari Guadalupe kini ditempatkan di Basilika Santa Perawan Maria dari Guadalupe di Mexico City yang didirikan pada tahun 1977. Pada tanggal 12 Desember, Gereja merayakan pesta Santa Maria dari Guadalupe.

(Sumber: Warta KPI TL No. 93/I/2012 » © www.gerejakatolik.net - Santa Maria dari Guadalupe, diterjemahkan oleh Jeffry Komala dari artikel bhs.Inggris).

Sabtu, 12 Desember 2015

Jumat, 11 Desember 2015

20.37 -

Sakramen-sakramen





Agama Kristiani adalah salah satu agama wahyu, artinya agama yang berdasarkan wahyu/Kitab Suci.



Walaupun demikian agama Kristiani bukan suatu ‘agama kitab’, di mana kita hanya membaca tentang karya-karya Allah di masa lampau; sebab melalui sakramen-sakramen (tanda-tanda iman) dan liturgi (perayaan ibadat, pewartaan injil-injil cintakasih – KGK 1070) Allah terus-menerus menghadirkan rahmat-Nya yang menyelamatkan.


Liturgi dan sakramen adalah pintu masuk kita ke dalam sejarah keselamatan.


Ibadat bukanlah doa pribadi/perorangan, melainkan sebagai doa Gereja sebagai umat Allah; merupakan doa dari, bagi dan bersama Gereja yang ada di seluruh dunia, dan mempunyai pengaruh yang sangat dalam bagi hidup manusia. Inilah perbedaan yang nyata dengan doa-doa lingkungan yang tidak bersama seluruh Gereja.

Liturgi bukan satu-satunya kegiatan Gereja. Sebab sebelum manusia dapat mengikuti Liturgi, ia perlu dipanggil untuk beriman dan bertobat.

Oleh karena itu Gereja mewartakan berita keselamatan kepada kaum tak beriman, supaya semua orang mengenal satu-satu-Nya Allah yang sejati dan Yesus Kristus yang diutus-Nya, lalu bertobat dari jalan hidup mereka seraya menjalankan ulah tapa (Yoh 17:3; Luk 24:27; Kis 2:38).

Umat beriman pun wajib mewartakan iman dan pertobatan; selain itu harus menyiapkan mereka untuk menerima sakramen-sakramen, mengajar mereka mengamalkan segala sesuatu yang telah diperintahkan oleh Kristus (Mat 28:20) (SC 9).




Dalam peradaban-peradaban kuno, perjanjian adalah suatu persetujuan yang diadakan dengan khidmat, yang menciptakan suatu hubungan keluarga (perkawinan, adopsi seorang anak).

Bila suatu keluarga menyambut seorang anggota baru, kedua pihak akan meresmikan perjanjian itu dengan mengucapkan sumpah, dengan mengadakan perjamuan bersama dan dengan mempersembahkan suatu kurban. 

Secara berkala kedua pihak dapat mengulangi sumpah itu, bersamaan dengan perjamuan serta kurban, untuk membarui ikatan perjanjian.

Dengan cara itulah, Allah mengadakan perjanjian-Nya dengan Musa, suatu perjanjian yang diperbarui setiap tahun dalam perjamuan Paskah (seder).

Aturan ini tidak berakhir dengan penebusan kita oleh Yesus Kristus, karena para rasul-Nya disuruh membarui perjanjian dengan Allah dengan cara yang sama (Perbuatlah ini ... menjadi peringatan akan Aku – 1 Kor 11:25).

Sejak dahulu kala umat Kristiani biasanya menyebut perbuatan ini dengan istilah Latin ‘sacramentum’ (sumpah).

Kedua Perjanjian yang termuat dalam Kitab Suci merupakan satu kesatuan; dan keseluruhan Kitab Suci bersatu tak terpisahkan dengan detail-detail kecil kehidupan Gereja dewasa ini.

Jadi, dalam kesaksian Gereja awal dan dalam praktik paroki-paroki kita dewasa ini – kita melihat sumpah-sumpah dari Perjanjian Lama terungkap dan terpenuhi dalam sacramentum Perjanjian Baru, dengan tuntunan Roh Kudus, telah mengantar kita kepada saat-saat khusus rahmat sakramental ini.

Banyak orang Katolik tidak mempunyai pengertian yang mendalam tentang apa arti sakramen-sakramen itu, sehingga memandang sakramen-sakramen itu sebagai upacara-upacara Gereja belaka/sebagai ritualisme primitif.

Sakramen-sakramen adalah tanda-tanda (kata-kata dan tindakan) yang dapat ditangkap oleh pancaindera, yang terjangkau untuk kodrat manusia. Berkat karya Kristus dan kuasa Roh Kudus, mereka menghasilkan rahmat yang mereka tandakan (KGK 1084). 

Dengan pencurahan Roh Kudus menampilkan satu era baru dalam ‘penyampaian misteri’, di mana Kristus menghadirkan dan menyampaikan karya keselamatan-Nya melalui liturgi Gereja-Nya.

Dalam era Gereja ini, Kristus hidup dan bertindak dalam dan bersama Gereja-Nya melalui Sakramen-sakramen.

Sakramen tidak dilaksanakan oleh kesucian manusia yang memberi atau menerima (Sakramen), tetapi oleh kekuasaan Allah (Tomas Aqu, s.th, 3, 68, 8). Pada saat Sakramen dirayakan sesuai dengan maksud Gereja, bekerjalah di dalam dia dan oleh dia kekuasaan Kristus dan Roh-Nya, tidak bergantung pada kekudusan pribadi pemberi. buah-buah Sakramen juga bergantung pada sikap hati orang yang menerimanya (KGK 1128).

Dengan kekuatan-Nya Ia hadir dalam Sakramen-sakramen, sehingga bila ada orang yang membaptis, Kristus sendirilah yang membaptis. Ia hadir dalam Sabda-Nya, sebab Ia sendiri bersabda bila Kitab Suci dibacakan dalam Gereja (KGK 1088).

Apa yang terjadi jika sakramen-sakramen yang mengalir dari Kitab Suci terpotong? Maka pengertian dan penghargaan yang lebih dalam terhadap misteri-misteri sakramen-sakramen akan mengering, seperti air di sungai yang terputus dari sumbernya.

Ada perbedaan amat besar antara PL dan PB, antara bayangan dan kenyataan (Ibr 10:1), antara tanda dan sakramen.

Sakramen-sakramen itu begitu berkuasa dan selalu efektif, karena sakramen-sakramen telah didirikan dan dikuasakan oleh Yesus (KGK 1127). Karena Allah menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran (1 Tim 2:4).

Sakramen-sakramen dalam konteks sejarah keselamatan, masing-masing terdiri dari tiga bagian pokok:

1. Memakai Kitab Suci sebagai lensa untuk melihat bagaimana misteri sakramen dihadirkan dalam situasi nyata kehidupan sehari-hari kita.

Liturgi tidak hanya mengingatkan kita peristiwa-peristiwa yang menyelamatkan, tetapi menghadirkannya juga. Di dalam setiap perayaan terjadi curahan Roh Kudus yang membuat misteri yang terjadi hanya satu kali itu, menyata dalam waktu sekarang (KGK 1104).

Roh Kudus memungkinkan kemenangan Allah di masa lalu tersedia bagi kita pada saat ini.

“Oleh kekuasaan-Nya untuk mengubah, Roh Kudus menghadirkan misteri Kristus di sini dan kini (KGK 1092).

2. Menempatkan sakramen dalam konteks PL, sebab ‘dalam ekonomi sakramental Roh Kudus memenuhi apa yang sudah dilambangkan dalam PL’ (KGK 1093).

3. Memandang sakramen-sakramen dalam terang hidup dan kematian Yesus. ‘Dengan membaca ulang ini dalam Roh Kebenaran, maka mulai dengan Kristus, arti pralambang-pralambang itu dibuka (KGK 1094) – seharusnya kita mampu melihat hubungan antara PL dan PB.

Oleh karena itu, seperti Kristus diutus oleh Bapa, begitu pula Ia mengutus para Rasul yang dipenuhi Roh Kudus ... untuk mewujudkan karya keselamatan yang mereka wartakan itu melalui Korban dan sakramen-sakramen, sebagai pusat seluruh hidup liturgis. 

Untuk melaksanakan karya sebesar itu, Kristus mendampingi Gereja-Nya, terutama dalam kegiatan-kegiatan liturgi (SC 6, 7).

Dalam Liturgi di dunia ini kita ikut mencicipi Liturgi Sorgawi, yang dirayakan di kota suci Yerusalem, tujuan peziarahan kita. Di sana Kristus duduk di sisi kanan Allah, sebagai pelayan tempat tersuci dan kemah yang sejati (Why 21:2; Kol 3:1; Ibr 8:2) (SC 8).

Sakramen adalah tanda-tanda tampak dari hal-hal yang tidak tampak yang menguduskan manusia (St. Thomas Aquino).



1. Sakramen Baptis: pintu gerbang sakramen-sakramen, yang perlu untuk keselamatan, entah diterima secara nyata atau setidak-tidaknya dalam kerinduan, dengan mana manusia dibebaskan dari dosa, dilahirkan kembali sebagai anak-anak Allah serta digabungkan dengan Gereja setelah dijadikan serupa dengan Kristus oleh meterai yang tak terhapuskan, hanya dapat diterimakan secara sah dengan pembasuhan air bersama rumus kata-kata yang diwajibkan (Kan 849).

Air sebagai lambang seperti pedang bermata dua: di satu pihak air memberi hidup dan kesuburan; di pihak lain air merupakan kekuatan yang merusakkan, yang dapat menenggelamkan seluruh kehidupan.

Arti air pembaptisan 
Melambangkan kematian, perbuatan daging dan segala dosa. Segi Pembaptisan ini dilambangkan dalam PL oleh kekuatan untuk merusakkan yang dilihat dalam air bah dan dalam air Laut Merah. Pembaptisan menghanyutkan dosa-dosa kita seperti Laut Merah telah menghanyutkan tentara Firaun. 

Melambangkan hidup baru. Seperti Roh hadir dalam penciptaan dunia serta dalam pembaptisan Yesus, demikian pula, pada saat Pembaptisan kita, Roh Kudus datang atas diri kita, sehingga kita menjadi ciptaan baru; mengambil bagian dalam kodrat ilahi; karena tubuh kita adalah bait Roh Kudus (2 Kor 5:17; 2 Ptr 1:4; 1 Kor 6:19; KGK 1262, 1265). 

Baptisan ... untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah oleh kebangkitan Yesus Kristus (1 Ptr 3:21)



2. Sakramen Penguatan: yang memberikan meterai dan dengan mana orang-orang yang telah dibaptis melanjutkan perjalanan inisiasi kristiani dan diperkaya dengan anugerah Roh Kudus serta dipersatukan lebih sempurna dengan Gereja, menguatkan dan semakin mewajibkan mereka untuk dengan kata dan perbuatan menjadi saksi-saksi Kristus, menyebarkan dan membela iman (Kan 879).

Tanda sakramen ini adalah pengurapan dengan minyak suci, yang bernama krisma. Pengurapan ini menjelaskan nama ‘Kristen’ yang berarti ‘terurapi’ dan disimpulkan dari Kristus sendiri, yang ‘Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa’ (Kis 10:38; KGK 1289).

Tanpa rahmat Allah kita tidak mampu mengikuti Yesus serta meneladan perbuatan-Nya. Yesus Kristus diurapi oleh Bapa dengan Roh Kudus dan dijadikan ‘imam, nabi, dan raja’.

Seluruh umat mengambil bagian dalam ketiga jabatan Kristus ini, dan bertanggung jawab untuk perutusan dan pelayanan yang keluar darinya (KGK 783).

Oleh penerimaan Krisma dengan rahmat-rahmatnya kita seharusnya mendapat keberanian untuk memberi kesaksian tentang Yesus di depan semua orang, dengan membagi-bagi iman kita sebagai suatu tindakan kasih bagi orang lain dan juga sebagai tindakan kasih bagi Allah.


Hal ini berarti bahwa Bapa telah mempercayakan kepada kita suatu misi di mana kita meneladan Putra oleh kekuatan Roh (KGK 1294).




3. Sakramen Ekaristi: sakramen yang terluhur, di mana Kristus Tuhan sendiri dihadirkan, dikurbankan dan disantap, dan dengan mana Gereja selalu hidup berkembang.

Kurban Ekaristi, kenangan wafat serta kebangkitan Tuhan Yesus, di mana Kurban salib diabadikan sepanjang masa, adalah puncak seluruh ibadat dan kehidupan kristiani serta sumber yang menandakan dan menghasilkan kesatuan umat Allah serta menyempurnakan pembangunan tubuh Kristus.

Sedangkan sakramen-sakramen lainnya dan segala karya kerasulan gerejawi berhubungan erat dengan Ekaristi Mahakudus serta diarahkan kepadanya).

Perayaan Ekaristi adalah tindakan Kristus sendiri dan Gereja, di mana Kristus Tuhan, dengan pelayanan iman, mempersembahkan Diri-Nya yang hadir nyata dalam warna roti dan anggur kepada Allah Bapa, serta memberikan Diri sebagai rejeki rohani kepada umat beriman yang diikut sertakan dalam persembahan-Nya. Dalam Perjamuan Ekaristi umat Allah dihimpun menjadi satu (Kan 897 - 899).


Komuni Kudus harus kita terima dengan hormat dan kasih yang besar (1 Kor 11:27-28). Itulah salah satu alasan bagi Gereja untuk mengajak kita sering memanfaatkan Sakramen Rekonsiliasi/tobat.
4. Sakramen Tobat - dalam Sakramen tobat umat beriman mengakukan dosa-dosanya kepada pelayan yang legitim (tertahbis dan tidak ada dalam halangan), menyesal atas dosa-dosa itu serta berniat untuk memperbaiki diri, memperoleh ampun dari Allah atas dosa-dosa yang telah dilakukannya sesudah dibaptis lewat absolusi yang diberikan oleh pelayan sakramen itu, sekaligus mereka diperdamaikan kembali dengan gereja yang dilukai dengan perbuatan dosa mereka (Kan 959).

Dosa adalah terutama pelanggaran terhadap Allah, pemutusan persekutuan dengan Dia (KGK 1440).

Dosa mengeraskan hati kita, memperbudak kita dan membuat kita terpisah dan terpotong dari apa yang sebenarnya diinginkan hati kita, ialah Allah sendiri.

Seluruh pelayanan Yesus dipusatkan pada pengampunan dosa. Nama-Nya sendiri sudah menyatakan-Nya sebagai Dia ‘yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka (Mat 1:21).

Terdorong oleh belaskasihan-Nya, Allah telah memberikan Sakramen Renkonsiliasi/tobat kepada Gereja untuk memulihkan persatuan kita dengan-Nya dan untuk menyembuhkan kita dari dosa.

Panggilan bertobat ini pertama-tama merupakan panggilan untuk mengubah hati (metanoia) serta bertobat dalam batin.

Tobat batin ialah mengarahkan seluruh hidup kita secara radikal kembali kepada Allah, berpaling kepada Allah dengan segenap hati, mengakhiri dosa, membelakangi kejahatan, dengan keengganan terhadap perbuatan dosa yang telah kita lakukan (KGK 1431).



5. Sakramen Pengurapan Orang sakit - dengan mana menyerahkan umat beriman yang sakit berbahaya kepada Tuhan yang menderita serta dimuliakan, agar Ia meringankan dan menyelamatkan mereka, diberikan dengan mengurapi mereka dengan minyak serta mengucapkan kata-kata yang ditetapkan dalam buku-buku liturgi (Kan 998).

Dengan membebaskan orang-orang tertentu dari kemalangan dunia berupa kelaparan, ketidakadilan, penyakit dan kematian, Yesus melakukan tanda-tanda yang menunjukkan bahwa Dialah Mesias.

Walaupun demikian, Ia tidak datang untuk menghapuskan segala kemalangan di dunia ini, tetapi untuk membebaskan manusia dari perbudakan yang paling berat, dosa, yang menghalangi dalam panggilannya sebagai anak-anak Allah dan menyebabkan berbagai macam bentuk perbudakan manusia (KGK 549).

Sakramen Pengurapan Orang Sakit mendapatkan rahmat, yang membawa penyembuhan serta penguatan jasmani dan rohani. Namun kadang-kadang Tuhan memanggil kita untuk mengambil bagian dalam sengsara-Nya yang lebih penuh.

Oleh penderitaan dan wafat-Nya di salib, Kristus telah memberi makna baru kepada penderitaan: selanjutnya penderitaan dapat membuat kita lebih serupa dengan-Nya dan mempersatukan kita dengan sengsara-Nya yang menyelamatkan (KGK 1505).


6. Sakramen Imamat - dengan sakramen imamat (meliputi episkopat, presbiterat dan diakonat) menurut ketetapan ilahi beberapa orang beriman diangkat menjadi pelayan-pelayan rohani, dengan ditandai oleh meterai yang tak terhapus, yakni dikuduskan dan ditugaskan untuk selaku pribadi Kristus Sang Kepala, menurut tingkatan masing-masing, menggembalakan umat Allah dengan melaksanakan tugas-tugas mengajar, menguduskan dan memimpin (Kan 1008-1009).

Ada 3 tingkat tahbisan: 
1. Episkopat (Uskup). 
2. Presbiterat (Imam). 
3. Diakonat (Diakon). 

Selama sejarah keselamatan, umat Allah selalu mempunyai imam-imam sebagai pengantara Allah dan manusia. Para imam mempersembahkan kurban-kurban untuk pemulihan-pemulihan dosa umat dan memimpin ibadat.

Imamat jabatan atau hierarkis para Uskup dan imam dan imamat bersama semua orang beriman ‘atas caranya yang khas mengambil bagian dalam imamat Kristus dan ‘diarahkan satu kepada yang lain’, walaupun berbeda dalam kodratnya (LG 10; KGK 1547). 

Imamat bersama umat beriman terlaksana dalam pengembangan rahmat Pembaptisan; dalam penghayatan iman, harapan dan cinta; dalam hidup sesuai dengan Roh Kudus. 

Imamat jabatan itu ada untuk melayani imamat bersama ini. Ia adalah salah satu sarana, yang olehnya Kristus secara berkesinambungan membangun dan membimbing Gereja-Nya. Oleh karena itu, ia diterimakan oleh suatu Sakramen Tahbisan.



7. Sakramen Perkawinan - dengan perjanjian perkawinan pria dan wanita membentuk antara mereka kebersamaan seluruh hidup; dari sifat kodratinya perjanjian itu terarah pada kesejahteraan suami-istri serta kelahiran dan pendidikan anak; oleh Kristus Tuhan perjanjian perkawinan antara orang-orang yang dibaptis diangkat ke martabat Sakramen (Kan 1055).

Bagi mereka yang terpanggil untuk menerima Sakramen Perkawinan, seharusnya memperbarui dedikasinya, untuk menghayati panggilannya dalam perkawinan itu dengan sepenuh-penuhnya.

Perjanjian antara dua mempelai dipadukan dengan perjanjian Allah dengan manusia: ‘Cinta kasih sejati suami istri ditampung dalam cinta ilahi (KGK 1639).

Setiap perkawinan seharusnya menjadi gambaran konkret dari hubungan kasih Kristus dengan mempelai-Nya, Gereja (Bdk Ef 5:32).

Oleh karena itu, kasih Kristus bagi Gereja dan kasih Gereja bagi Kristus merupakan contoh bagi pasangan suami istri.

Perkawinan menyediakan pelajaran-pelajaran dalam hal kasih-mengasihi yang perlu kita renungkan untuk memperdalam keinginan serta kemampuan kita untuk mengasihi Allah.

Kalau kita gagal mencintai pasangan hidup kita, ini merupakan tanda bahwa kita juga gagal mencintai Allah.

Pengajaran Kitab Suci yang kaya tentang perkawinan tidak melulu ditujukan bagi mereka yang terpanggil untuk hidup sebagai suami istri.

Semua orang Kristiani, baik secara perseorangan maupun sebagai warga Gereja, terpanggil untuk menjadi mempelai wanita bagi Kristus (KGK 1617).

Aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus (2 Kor 11:2)

(Sumber: Warta KPI TL No. 42/X/2007 » Sakramen dalam Kitab Suci kehadiran sejarah keselamatan, Tim Gray; Dokumen Konsili Vatikan II; KGK; Kitab Hukum Kanonik).

Senin, 07 Desember 2015

Sabda Tritunggal

Sabda Tuhan yang menjelma menjadi manusia (Yoh 1:14) tidak datang dengan sendirinya, tetapi dari persekutuan Trinitas: Bapa, Putra dan Roh Kudus.

Peristiwa pembaptisan Yesus (Mat 3:16-17) adalah deklarasi persekutuan Tritunggal Mahakudus. Ada Yesus sang Putera yang hidup dalam sejarah, ada Roh Kudus yang turun dalam rupa burung merpati dan ada Bapa yang bersabda dari langit: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepadaNya-lah Aku berkenan.”

Menyelami Sabda Tuhan menjadi penting karena dari sumber ini kita mengalami kehadiran tiga pribadi Tritunggal yang masing-masing tampil dengan perannya yang unik.

Empat pokok yang harus direnungkan secara lebih mendalam dalam melaksanakan perintah Yesus untuk menjabarkan cinta kepada Tritunggal dalam pelayanan kepada sesama manusia seumur hidup.

1. Dalam diri Allah Bapa kita menemukan sabda revelasi, Tuhan yang mewahyukan diri kepada umat manusia.

Sejak manusia pertama jatuh ke dalam dosa (Kej 3:1-7), Tuhan memang menjatuhkan hukuman tetapi tidak melupakan mereka (Bdk. Kej 4:26; 6:13-21). 

Tuhan mau menyelamatkan manusia yang tercipta menurut gambaran-Nya. Karena manusia tidak selalu mengenal Tuhan, Ia mengirim utusannya untuk menolong manusia agar melihat dan menyadari kehadiran-Nya (melalui nabi-nabi, hakim-hakim, raja-raja dsb.).

2. Dalam diri Putera kita mengenal sabda inkarnasi, Tuhan menjadi manusia dan hidup dalam sejarah. 

Hadirnya Yesus mengubah pola komunikasi diri Allah. Dalam Pejanjian Lama kita senantiasa membaca “Allah bernubuat”. Dalam Perjanjian Baru Yesus selalu berkata kepadamu... – memakai cara-cara manusia agar dapat memahami besarnya cinta Allah itu. Perubahan yang begitu radikal dalam komunikasi diri Allah ini menunjukkan solidaritas Allah terhadap manusia.

3. Dalam diri Roh Kudus kita mengenal sabda animatif, Tuhan menginspirasi manusia untuk meneruskan karya penyelamatan. 

Mengakhiri perutusan-Nya di dunia, Yesus meneguhkan para murid dengan menjanjikan kedatangan Sang Penghibur (Yoh 14:26), yang meneguhkan untuk meneruskan pewartaan (Kis 2:1-41). 

Kehadiran Roh Kudus menandakan Allah menghargai proses pendewasaan iman umat-Nya (dapat bekerja sendiri tanpa kehadiran Yesus secara fisik, hanya membutuhkan seorang inspirator).

4. Mengenal Allah, mengalami kehadiran Putera dan menerima inspirasi Roh Kudus tidak akan menghasilkan apapun kalau manusia tidak mempunyai komitmen pelayanan. 

Manusia yang telah diperbaharui mengenal sabda profetis – Tuhan mendarmabaktikan diri dalam pelayanan kepada mereka yang membutuhkan. Pelayanan tidak hanya sekedar ungkapan kemanusiaan, tetapi penjabaran langsung cinta Allah kepada umat manusia. Iman tanpa perbuatan adalah mati (Yak 2:26). 

(Warta KPI TL No. 09/I/2005; Sumber: Sabda Tritunggal dan Jawaban Manusia, Berjalan Bersama Sang Sabda 2005).

Jumat, 04 Desember 2015

20.10 -

Warta KPI TL Edisi Terbaru




Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan Tuhan, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya. Karena Tuhan memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti ayah kepada anak yang disayanginya (Ams 3:11-12)






Hidup rohani orang beriman memerlukan sarana rohani berupa Kitab Suci, buku doa, rosario, nyanyian, dan buku bacaan rohani.

Buku bacaan rohani dapat berperan sebagai pembentuk kehidupan rohani seseorang dalam peziarahan hidupnya. Pembentukan kehidupan rohani terjadi lewat perjumpaan secara kontemplatif dengan pribadi-pribadi lain yang kaya pengalaman-pengalaman rohani.

Berkat bacaan rohani perspektif hidup orang dapat diperdalam, dipertajam, dan diolah menjadi lebih matang. Orang yang rajin memanfaatkan sarana ini mampu membebaskan diri dari suasana hidup yang monoton dan membosankan karena banyak inspirasi rohani dapat digali sehingga hidup menjadi lebih kreatif (St. Ignatius Loyola).


Siapapun yang telah menemukan Kristus harus menuntun yang lain kepada-Nya. Kegembiraan yang besar tidak bisa disimpan untuk diri sendiri, ia harus dibagikan (Paus Benediktus XVI).



kirimkan ke
pengagum.pengikut.blogspot.com